Home Blog Page 13955

Harus Menang demi Jaga Jarak

Aspac vs Pelita Jaya

KARENA Satria Muda (SM) berhasil mengalahkan Garuda kemarin (25/2), tertutup sudah peluang Aspac memuncaki klasemen Flexi NBL Indonesia. Apapun hasil yang diraih Aspac melawan Pelita Jaya (PJ) pada hari terakhir hari ini (26/2), SM akan tetap kukuh di puncak.

Jika Aspac menang, maka perolehan poin mereka akan sama 41 dengan SM. Namun, SM berhak atas peringkat yang lebih baik, karena mereka unggul head to head 2-0 setelah selalu menang dalam dua kali pertemuan dengan Aspac.

Meski tidak berpengaruh pada klasemen, Aspac akan tetap ngotot memburu kemenangan. Sebab, kemenangan akan membuat mereka terus menempel SM. Jika bisa terus menempel, sekali SM terpeleset, maka Aspac akan mengambil alih pimpinan klasemen. Sebagai catatan, pada seri kelima di Surabaya nanti, SM akan menghadapi CLS Knights yang selalu menang dalam dua pertemuan.

Tidak hanya Aspac yang butuh menang untuk menjaga jarak. (PJ) pun demikian. Dua kali kekalahan dari Muba Hangtuah dan Stadium membuat mereka semakin tertinggal dalam perebutan gelar juara musim reguler. PJ harus menebus dua kekalahan itu dengan mengalahkan tim-tim yang lebih kuat seperti Aspac.

Kemenangan atas Aspac juga akan mengembalikan kepercayaan diri para pemain PJ menyambut seri kelima. Sebab, selama seri keempat mereka hanya bisa menang melawan tim lemah seperti BSC dan Pacific.

“Kami siap menyambut game melawan Aspac. Performa yang turun akan coba kami perbaiki. Kami mencoba melupakan kekalahan melawan Muba dan Stadium. Saya yakin kami meningkat terus dan puncaknya di championship series nanti,” kata Kapten PJ Erick Sebayang.
Menurut pemain yang berposisi sebagai point guard tersebut, banyak pekerjaan rumah yang harus dibereskan timnya. Berkaca pada dua game awal, PJ harus memperbaiki rebound, meminimalisir turnover, dan mempertajam free throw kalau ingin menang. “Sebetulnya pas menang melawan Pacific sudah enak lagi mainnya. Semoga saja ini berlanjut,” kata Sebayang.

Sementara itu, Aspac berada dalam puncak kepercayaan diri setelah menggagalkan Muba Hangtuah untuk menyapu bersih semua pertandingan.Mereka begitu ngotot untuk menutup seri keempat dengan kemenangan setelah sebelumnya dikalahkan SM dengan skor telak 68-52 beberapa hari lalu.
Pelatih Tjetjep Firmansyah meminta pemainnya untuk serius. Sebab meski menuai hasil buruk, PJ bukan lawan sembarangan.(nur/ang/jpnn)
“Terpenting kami harus agresif dan bermain sama seperti mengalahkan Muba. Kalau kami fokus, game itu akan kami ambil,” tandasnya.

Janda Tewas Bakar Diri

LUBUK PAKAM- Akhir hidup Karmianti Br Saragih (45) warga Dusun VI Desa Naga Rejo Kecamatan Galang Deli Serdang begitu tragis. Janda anak dua itu nekat membakar diri di kediamannya, Jumat (24/2) pukul 14.30 WIB. Ia tewas dalam kondisi luka bakar.

Iformasi yang diterima Sumut Pos, Karmianti selama ini tinggal bersama adiknya yang sudah berkeluarga, Rina Br Saragih di Dusun VI Desa Naga Rejo Kecamatan Galang. Faktor ekonomi diduga membuat korban nekat membakat diri. Aksi serupa sebelumnya sudah pernah dicoba Karmianti namun tidak terlaksana dan diselamatkan adiknya.

Sebelum kejadian, Karmianti, tinggal sendiri di rumah tersebut. Sedang adiknya sudah pergi ke sawah. Tapi ketika ditemukan, Karminati ditemukan tewas dengan luka bakar.

Kapolsek Galang AKP Wahyuddin besama Kanit Reskrim Aiptu N Bangun ketika dikonfirmasi, Sabtu (25/2) mengakui adanya seorang janda anak dua ditemukan tewas diduga bakar diri, karena di dekat tubuh korban ditemukan satu buah mancis serta sabut kelapa yang sudah terbakar. (btr)
Selain itu tubuhnya bau minyak tanah.

Kepolisian tidak dapat melanjutkan penyelidikan karena anak korban, Ridwan Barus yang tinggal di Lubukpakam membuat pernyataan bahwa ibunya murni bakar diri. (btr)

Mobil Pickup Digondol Maling

TEBING TINGGI- Juliansyah Saragih (40) pemilik Rumah Makan Restu ketiban sial. Mobil L-300 pickup BK 9098 NB miliknya digondol maling saat parkir di depan rumah makan tepatnya di Jalan Lintas Sumatera Tebing Tinggi-Asahan di Dusun VI,Desa Paya Pasir, Kecamatan Tebing Syahbandar, Kabupaten Serdang Bedagai, Sabtu (25/2) sekira pukul 05.00 WIB.

Akibat kejadian itu, Juliansyah menderita kerugian R103 juta . Peristiwa ini sudah dilaporkan korban ke Polres Tebing tinggi.

Pengakuan korban , malam itu ia mengantar orang tuanya berobat kerumah sakit. Setelah pulang ke rumah sekitar pukul 01.00 WIB mobilnya diparkirkannya di depan rumah. Juliansyah sempat meminta kepada tetangganya agar melihat-lihat mobilnya karena dirumahnya tidak ada garasi mobil.
“ Pagi harinya ketika hendak belanja, mobil saya sudah tidak ada di tempat, aku tanya kepada tetangga tidak ada yang tahu. Bahkan mereka tidak mendengar suara mobil hidup usai saya memarkirkan mobil malam itu,”ujar Juliansyah.

Juliansyah mengaku,nasib sial yang dialaminya dalam bulan ini terjadi secara beruntun. Mulai ayahnya yang terjatuh, hinga mobil yang dikreditnya itu pun hilang digondol maling.

Kejadian malam itu sangat tidak disangkanya, karena selama setahun setengah mobil diparkir di tempat itu tak pernah hilang. Baru kali ini terjadi.

Diapun sangat menyangkan dengan kehilangan mobil itu pasalnya surat-surat kenderaan seperti STNK ikut diambil pelaku didalam box mobil tersebut.
“ Malam itu biasanya aku jarang tertidur lelap, tetapi sial aku tertidur pulas hingga pagi. Kunci mobil memang kusimpan,tetapi pelaku berhasil mengambil mobil tanpa diketahui masyarakat sekitar dan anehnya lampu penerangan listrik ada, kenapa tidak ada orang yang tahu?” tanya Juliansyah sembari sedih.

Menerima informasi dari warga masyarakat tentang pencurian mobil, petugas Polres langsung turun kelokasi untuk melakukan olah tempat kejadian, kini masih meminta keterangan sejumlah saksi. “ Kini pelaku masih dalam lidik petugas,”jelas Kapolres melalui Kasub Humas, AKP Ngemat Surbakti.  (mag-3)

PSMS IPL Tahan Persiba

MEDAN- PSMS akhirnya berhasil mengakhiri paceklik poin setelah menahan imbang Persiba Bantul 2-2 di Stadion Sultan Agung Bantul, Sabtu (25/2) sore. Dua gol Jecky Pasarella berhasil membuat PSMS meraih satu poin di laga tandangnya.

Pergantian pemain depan di babak kedua efektif berbuah gol. Strategi pelatih PSMS Fabio Lopez memasukkan Rinaldo menggantikan Juanda Mayadi di babak kedua serta menukar Jecky ke kanan dan Rinaldo di sisi kiri berhasil.

Kendati seri, hasil positif itu disyukuri Fabio. Usai pertandingan, ia mengaku senang dengan satu poin yang diraih timnya. “Saya senang, karena pemain juga senang dengan hasil ini,” ungkapnya singkat.

Menurutnya, kali ini wasit Nopendri bekerja cukup baik. “Dari lima pertandingan tandang, baru kali ini wasit bekerja cukup berimbang mengambil keputusan,” tambah Fabio.

Sementara, asisten pelatih PSMS M Khaidir mengatakan, motivasi yang diberikan pelatih mengangkat moral Vagner Luis dkk untuk bermain lebih baik di babak kedua. “Kekalahan beruntun di laga tandang harus diperbaiki. Kita berharap tidak  gagal lagi karena besok (Hari ini, Red), tim akan pulang ke Medan,” tuturnya.

Menyoroti kinerja striker Julio Cesar Alcorse yang belum juga menemukan performa terbaik, Khaidir mengakui, hal tersebut terjadi karena kondisi pemain Argentina itu masih belum pulih 100 persen. “Dia baru cedera dan kondisinya belum pulih total. Itulah penyebabnya,” kata Khaidir lagi.
Untuk Jecky, sambungnya, kedatangan striker PSMS itu memang diharapkan bisa memecah kebuntuan di laga tandang.(saz)

Ingin Hidup Normal Walau tak Keluhkan Rasa Sakit

Tama, Enam Tahun dengan Lubang Anus di Perut

Enam tahun sudah, Riski Yudha Pratama (6) hidup dengan anus di perut. Walau pun demikian anak pasangan Rahmad Aliandi Siregar (32) dan istri, Yenni (32) warga Jalan Laksana, Dusun III, Desa Bintang Meriah, Batang Kuis, hidup seperti anak normal lainnya.

Jhonson P Siahaan  –  Medan.

Sumut Pos, Sabtu (25/2) kemarin menyambangi rumah Riski Yudha Pratama di Jalan Laksana Dusun III Batang Kuis. Lokasinya persis berada di pojok gang kecil yang buntu. Rumahnya sangat sederhana. Berdinding batu yang dicat putih dan beratap seng. Saat itu Riski Yudha Pratama sedang bermain bersama adiknya, Tasya (4). “Silahkan, masuk ajah,” tutur ibu Riski, Yenni kepada wartawan koran ini.

Tidak ada perabot mewah di dalam ruang rumah itu. Hanya ada dua kursi plastik serta ambal coklat. “Kami biasanya memanggilnya Tama,” kata Yenni menyebut nama Riski Yudha Pratama saat menjelaskan panggilan anaknya itu.

Yanni mengawali ceritanya, Tama sekarang berusia enam tahun. Ia hidup dengan anus di perut kirinya. “Ia lahir dengan berat dan tinggi yang normal, hanya saja tidak memiliki anus,” kata Yanni yang saat itu mengenakan baju corak hijau.

Saat mengandung Tama, Yenni mengaku tidak mengalami firasat buruk. Tama dilahirkan di RS Mitra Husada, Pasar VIII, Tembung. Yenni sempat kaget karena anaknya lahir tanpa anus. “ Saat dioperasi Tama berusia dua hari. Tama itu anak saya yang pertama, adiknya Tasya lahir normal. Meskipun anus di perut Tama tak pernah mengeluh sampai sekarang,” sebut sang ibu.

Tama, sekarang sekolah di PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) Kantor Desa dekat tempat tinggal mereka sekarang.

Yenni sadar anaknya itu sekarang tumbuh besar. Ia ingin Tama memiliki anus yang normal. Sebenarnya dokter bisa mengoperasi kembali Tama, agar memiliki anus yang normal. Hanya saja untuk kembali mengoperasi Tama, orangtua Tama harus mengeluarkan uang yang banyak.

Suami Yenni yang berprofesi sebagai buruh bangunan yang berpenghasilan Rp50 ribu perhari itu, tidak mungkin memiliki uang untuk biaya operasi Tama. “Untuk operasi yang pertama saja di RSU Pirngadi kami memakai Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda). Kami tak bisa berbuat banyak karena penghasilan suami saya tak cukup. Sewa rumah saja Rp1,5 juta per tahun,” bebernya dengan raut wajah sedih.

Tama sekarang sudah mengetahui kelainan tubuh yang dimilikinya. “Setiap mau kami bawa berobat, Tama tak mau, ia takut dibawa ke rumah sakit,” jelasnya.

Menurut Yenni, Tama tak pernah mengeluh sedikit pun tentang sakit saat buang air besar (BAB) melalui perutnya itu. “ Tak ada kantungan kami buat karena Tama tak mau dipakai itu. Kami hanya pakai kain kasa membersihkannya dan menggunakan air putih. Lagian Tama tak pernah mengeluh sakit,” akunya.

Disela-sela sedang asik berbincang, Yenny, sang ibu memanggil Tama untuk duduk di sampingnya. Saat ditanya, Tama yang menggunakan baju dan celana warna merah ini menjawab sambil menebar senyuman.

“Kalau Tama mau buang air besar, Tama tak merasa sakit Om, Tama suka main bola dan kalau main bola, Tama tak merasa sakit Om,” akunya.
Sambil tersenyum Tama kembali berkata bahwa dirinya kuat makan dan minum dan tak ada sakit apa pun jika kekenyangan.

Tama dengan duduk bersilah ini menambahkan, dirinya baru merasa sakit kalau lubang pembuangan itu disenggol dan bersentuhan. “Tama merasa sakit saat teman Tama pernah menyenggol ini om. Kalau yang ini disentuh sakit om,” akunya sambil menunjukkan lubang anus di perutnya.

Dengan kondisi fisik yang tidak normal itu, Tama mengaku pernah menjadi bahan ejekan teman sekolah. Ada juga sampai ada yang menjahuinya. “Tama diejek kawan dan kawan bilang kentutnya Tama besar sekali om. Tama juga diejek dan dibilang lubang anus Tama tak ada. tapi Tama tetap saja bermain dengan kawan-kawan Tama yang mau bermain dengan Tama,” tuturnya.
Tama sebenarnya memiliki cita-cita seperti anak-anak lainnya.

” Tama ingin kalau sudah besar nanti mau menjadi pemin gitar om, dan Tama ingin seperti anak-anak yang lain,” tuturnya. (*)

Om, punya anus seperti yang lainnya. Kalau malam, Tama lebih suka tidur sama nenek Om,” akunya.

Setelah selesai berbicara, lalu Tama pun berlalu bermain dengan adiknya, Tasya. Yenny mengatakan, dirinya baru pulang dari RSUP H Adam Malik, sehabis berobat jalan. “Rencananya Senin (27/2) lusa, Tama akan dioperasi di RSUP H Adam Malik. Tapi itu pun masih menunggu hasil laboratorium dari dokter dan kalau pun dilakukan operasi saya berharap operasi ini berjalan dengan lancar. Sejauh ini kami hanya membawa berobat jalan saja,” harapnya. (*)

Misi Raih Poin Penuh

PSMS ISL Tour Jawa-Papua

MEDAN-  PSMS sudah bertolak dari Medan melalui Bandara Polonia Medan, Sabtu (25/2) siang, sekira pukul 13.00 WIB menghadapi laga tour Jawa-Papua pada laga lanjutan kompetisi ISL.

Hingga 7 Maret mendatang, PSMS akan menghelat tiga laga tandang. Untuk perdana dijamu Persela Lamongan 28 Februari mendatang. Kemudian pada 3 Maret menghadapi Deltras Sidiarjo dan terakhir bentrok Persidafon Dafonsoro pada 7 Maret mendatang.

Sebelumnya, Badan Liga Indonesia (BLI) menunda laga PSMS kontra Persela di Stadion Surajaya Lamongan Minggu (29/1) lalu. Hal ini disebabkan stadion tersebut tak layak untuk diadakan pertandingan. Stadion alternatif pengganti yakni stadion milik Persegres Gresik juga tak diizinkan digunakan oleh pihak pengelolanya Petrokimia Gresik. Termasuk stadion alternatif lain, Stadion Manahan Solo yang akan dipergunakan untuk pertandingan Persis Solo di kompetisi IPL. Sementara stadion di Mojokerto sempat diusulkan namun ditolak BLI, karena tak memiliki fasilitas pencahayaan.

Saat ini, Pemkab Lamongan telah merenovasi stadion, sehingga laga bentrok PSMS yang tertunda telah dapat dilakoni kembali pada Selasa (28/2) mendatang. Menghadapi tim berjuluk Laskar Joko Tingkir ini, motivasi pemain semakin tinggi setelah menekuk Persiram Raja Ampat 1-0 dan menahan tim unggulan Sriwijaya FC tanpa gol pada partai kandang.

“Kami telah mematangkan persiapan juga mental anak-anak menghadapi laga tandang ke Jawa Timur dan Papua. Tantangan berat saat bertandang ke kandang lawan bukan hanya bagi PSMS. Tapi juga bagi tim-tim lain, karena atmosfer sepak bola Jawa sangat kental, sehingga membutuhkan persiapan yang cukup matang agar bisa memetik poin penuh,” jelas pelatih PSMS Suharto AD.

Menurut Suharto, Persela memiliki gelandang apik asal Argentina Gustavo Lopez. Pemain ini merupakan kreator ulung yang tak tergantikan bersama Sukadana yang kerap membangun tempo permainan. “Sedikit lengah maka akan membuat pertahanan kita mudah diterobos. Gustavo Lopez pemain yang harus diwaspadai sepanjang pertandingan,” tuturnya.

“Eksekusi bola-bola mati dari pemain Persela juga harus diwaspadai. Karena, Persela memiliki pemain dengan skill cukup merata dan mumpuni. Tak ada tawar-menawar, seluruh pemain harus meladeni permainan Persela, terutama disiplin mengawasi setiap pemain yang berpotensi membahayakan gawang kita,” tambah Suharto.

Dalam tour Jawa-Papua ini, Suharto mengatakan, PSMS membawa misi meraih poin penuh untuk mendongkrak posisi klasemen sementara. “Minimal bisa bercokol di 10 besar,” harapnya.

Dari data sebelumnya, manajemen PSMS menyatakan akan membawa 20 orang pemain. Namun, ternyata ditambah seorang pemain, jadi untuk laga tour Jawa-Papua PSMS memboyong 21 pemain. Termasuk stopper PSMS yang mendapat kartu merah Novi Handriawan dan gelandang PSMS yang terkena akumulasi kartu kuning Luis Pena.

Adapun ke-21 pemain yang berangkat yakni Markus Haris Maulana, Eddy Kurnia, Sasa Zecevic, Novi Handriawan, Wawan Widiantoro, Denny Rumba, Ledi Utomo, Rahmad, Ramadhan Syahputra, Eko Prasetyo, Anton Samba, Zulkarnaen, Alamsyah Nasution, Luis Alejandro Pena, Ikhyun Oh, Muhammad Antoni, Zainal Anwar, Osas Saha, Choi Dong Soo, Arie Priatna dan Yoseph Niko Ostanika. (saz)

Beda Nasib Andi dan Cheryl

Nasib mantan pasangan suami istri, Cheryl Ann Tweedy dan Ashley Cole kini berbeda 180 derajat. Saat nasib Ashley di Chelsea sedang terancam, mantan istrinya justru meroket di pentas hiburan.

Ashley yang juga bek tim nasoinal Inggris itu disebut-sebut sebagai salah satu pemain senior The Blues yang membangkang kepada sang manajer, Andre Villas-Boas. Bek sayap kiri 31 tahun ini juga dianggap provokator sehingga pemilik The Blues, Roman Abramovich mengancam akan mendepaknya.
Selain Cole, dua pemain senior Chelsea lainnya Frank Lampard dan Michael Essien juga terlibat percekcokan dengan pelatih muda asal Portugal itu. AVB memang jarang memainkan mereka.

Di saat karier Cole sedang terancam, mantan istrinya, Cheryl justru semakin tenar. Selebriti cantik asal Inggris ini kian melebarkan sayapnya di Amerika Serikat. Setelah sempat menjadi juri program The X Factor, wanita 28 tahun itu kini merambah dunia layar lebar.

Seperti dikutip dari The Sun, Kamis 23 Februari 2012, Cheryl melakoni debut di film Hollywood berjudul ‘What To Expect When You’re Expecting’. Dalam film bergenre komedi tersebut, personel grup vokal Girls Aloud itu tampil sebagai cameo.

Seperti halnya di The X Factor, Cheryl juga berperan sebagai juri program pencari bakat di film ini. Di sebuah adegan, wanita kelahiran Newcastle itu mengomentari kemampuan bernyanyi Cameron Diaz, salah satu pemeran utama yang menjadi kontestan. Selain Cameron, film itu juga dibintangi penyanyi seksi Jennifer Lopez. Rencananya, film tersebut akan rilis di Inggris pada 23 Mei mendatang.

Cole dan Cheryl telah bercerai sejak September 2010. Perceraian itu dipicu oleh perselingkuhan Cole dengan beberapa wanita, di antaranya seorang penata rambut, Aimee Walton yang mengaku punya hubungan khusus dengan Cole pada Desember 2006.  (net/jpnn)

Foto Panas Khedira ke Pengadilan

WARTAWAN Tunisia yang menyiarkan ulang foto gelandang Real Madrid, Sami Khedira, yang merangkul kekasihnya yang tidak mengenakan busana, telah menjalani persidangan Kamis (23/2) lalu dengan tuduhan melanggar moralitas.

Nasreddine Ben Saida, editor surat kabar Ettounsia, menyiarkan foto tersebut, yang pertama kali dipublikasi pada majalah GQ edisi Jerman, pekan lalu.
“Ini merupakan insiden serius dan skandal sebenarnya untuk keadilan Tunisia,” kata pengacara Ben Saida, Khalied Krichi.
Pada foto tersebut, pesepak bola Jerman yang memiliki darah Tunisia tersebut mengenakan jas untuk acara makan malam dan merangkul kekasihnya, seorang foto model Jerman, Lena Gercke.

“Kami tidak mengharapkan perlakuan seperti ini kepada para pewarta, yang mengingatkan kembali pada praktek-praktek dari rezim sebelumnya yakni Zine El Abidine Ali,” tambah Krichi.

“Kami melawan publikasi foto seperti ini, yang menentang prinsip-prinsip Arab-Muslim, namun tidak perlu mengkriminalisasi aksi semacam itu.”
Ben Ali, presiden yang cukup lama menguasai Tunisia, digulingkan pada tahun lalu, menyusul pemberontakan yang dilakukan rakyat.
“Kami terkejut dengan pembukaan kasus ini di pengadilan Tunisia,” lanjut Krichi
Sang editor dituduh melakukan penyerangan moral dengan resiko mengganggu ketertiban umum, dan menghadapi hukuman enam bulan sampai enam tahun ditambah denda sebesar 79 dolar sampai 790 dolar jika dinyatakan bersalah.

Asosiasi Pers Tunisia menyerang penahanan Ben Saida, dengan mengatakan bahwa tindakan itu telah menekan kebebasan jurnalis dan pers. Khedira sendiri turut bereaksi terhadap penahanan Ben Saida, dan mengatakan kepada harian Jerman, Bild, bahwa dirinya menyesal terhadap apa yang terjadi. (net/jpnn)

Kobayashi Melejit, Vettel Terbaik

BARCELONA – Kejutan terus terjadi di tes kedua Formula One (F1) 2012. Setelah Pastor Maldonado, giliran pembalap Kamui Kobayashi yang menjadi pembalap tercepat di sesi pramusim.

Dalam tes yang berlangsung di Barcelona, Spanyol, Jumat (24/2) waktu setempat, pembalap asal Jepang itu menjadi pembalap tercepat dengan membuat catatan waktu 1 menit 22.312 detik.

Kobayashi mengalahkan Maldonado, yang kali ini harus puas menempati peringkat kedua dengan tertinggal 0.249 detik dari Kobayashi. Sementara itu, Paul Di Resta berada di urutan ketiga dalam tes hari terakhir.

Performa kurang meyakinkan diperlihatkan dua pembalap dari dua pembalap besar. Jenson Button harus puas menempati peringkat empat, sedangkan Felipe Massa menduduki posisi kelima dengan membuat 1m23.563 detik.

Mark Webber juga tampil sangat buruk dalam tes terakhir ini. Pembalap Red Bull itu harus puas menempati peringkat keenam.
Meski waktu tercepat di Sirkuit Barcelona Spanyol ditempati Kobayashi, namun itu tak menghalangi  Sebastian Vettel menjadi atlet terbaik di negaranya, dan berhak atas penghargaan dari pemerintah Jerman.

Vettel dinobatkan menjadi atlet kehormatan Jerman dan disematkan pin perak daun Laurel, yang menjadi ciri khas Jerman dari sang Presiden, Horst Seehofer. Sang Presiden tak hanya kagum akan prestasi Vettel, tapi juga kepribadian sang jawara bertahan F1 yang tak pernah tinggi hati.
“Meskipun dia selalu teratas dengan banyak trofi yang diraihnya, Anda (Vettel) tetap membumi dan rendah hati,” tutur sang presiden. (net/jpnn)

Ratu Udik, Sahabatnya, dan Pena dari Rendra

Oleh: Riza Multazam Luthfy

Ia berpunca dari udik. Teman-temannya meruahnya Ratu Udik. Karena memang perangainya yang kekampung-kampungan. Tampang dan tingkahnya yang lugu, tak sanggup menyembunyikan tabiat orang desa. Ditambah lagi dengan kebutaannya dalam hal teknologi. Sehingga, suara-suara sumbang kerap ditenggak. Joni dan Fiko, adalah dua di antara mereka yang mencibirnya terang-terangan. Pasalnya, semua tugas ia tunaikan dengan menulisnya di atas kertas folio. Tak terkecuali, tugas berbentuk paper ataupun makalah.

atu Udik termasuk korban. Ya, tepatnya korban ketidaktahuan. Karena ketidaktahuannya, ia mengambil jurusan sastra. Sebuah jurusan, yang dalam benaknya, kelak mengirimnya menjadi seorang guru.

“Nduk. Besok kamu jadi guru, ya. Dulu emak ngebet jadi guru, tapi gak bisa. Enam hari setelah lulus SD, bapak langsung melamar emak”.
Pesan emaknya terpacak dalam-dalam. Sehingga ia berazam menjadi pengajar sekolah di kampungnya.

Kekecewaan menyergap. Ketika menginjak semester dua, Ratu Udik baru mafhum bahwa sebenarnya, bila bercita-cita guru, maka kudu bersila pada jurusan pendidikan. Bukan sastra Jerman. Makanya, ia agak heran, mengapa di jadwal kuliah, sama sekali tidak tercium mata kuliah yang berhubungan dengan pendidikan. Dan dugaannya selama ini, bahwa setiap sarjana bisa langsung jadi guru dan mengajar di sekolah, harus lekas-lekas disingkirkan. (Barangkali persangkaannya benar, menurut konteks masa lalu. Lulus SMP saja, boleh jadi guru. Namun sekarang, sarjana pendidikan kian membludak. Mereka saja terancam tidak mendapat jatah kursi guru, apalagi jebolan non-pendidikan).

Nasi terlanjur menjelma bubur. Penyesalan harus dihapuskan. Penyesalan yang berlarat-larat hanya akan menerbitkan penderitaan. Akhirnya, Ratu Udik nekat menyambung jalan yang kadung ia tempuh.

“Maaf, Mak. Bukan bermaksud mendurhakaimu. Aku akan menapaki jalan yang terlanjur kupilih. Sesulit apapun”
Bertukas-tukas batinnya bergumam.
***
Berawal dari tugas Pak Janu, dosen Pengantar Ilmu Sastra, ia berkenalan dengan puisi. Kenal dalam arti sesungguhnya. (Karena semasih belajar di SD, jika bertemu dengan halaman yang memuat puisi, Bu Nanik langsung melewatinya). Guna menggenapi tugas Pak Dosen, Ratu Udik menggarap puisi cinta. Ya, cinta. Tema yang sangat dekat dan akrab dengan remaja.
Dari tugas itu pula, ia mulai bergaul dengan dunia maya. Tulisan tangannya tentu tak akan berfaidah. Sebab, Pak Dosen bersedia menerima kalau puisi dioper melalui email.
“Rob, nanti habis kuliah tolong ajari aku ngirim email, ya!”
Katup bibirnya menghembuskan kalam itu kepada Robet. Untungnya, mahasiswa yang baru dua hari bertukar nama dengannya itu mengekor saja.
***
Bukanlah Ratu Udik anak orang berpunya serupa teman-temannya yang lain. Jamak kali ia mengutang kepada Dewi, kalau kiriman dari emak ludes. Parahnya lagi, jika tempo pemberesan uang semester tiba. Demi sekadar memungut uang, ia rela mengasongkan kerudung dan asesoris milik Bu Atin. Juga menunggu kios pulsa di sebelah kos.

Dalam kegetiran hidup seperti itu, ia mencari tempat buat membocorkan perasaan. Dan ternyata puisi menjadi medium terbaik baginya. Saat mandi. Belajar. Melungguh di WC. Makan. Mau tidur. Bahkan ketika ngelindur pun semua syarat puisi. Tak ketinggalan pula ketika dosen berceramah.
“Daripada ngantuk. Kan lebih baik bikin puisi.”

Alasan yang kurang jitu, memang. Ketika kupingnya menangkap teguran dari dosen.
Hari-harinya, selain mengerjakan tugas kuliah, juga dipadati dengan memproduksi puisi. Dengan puisi, ia jelmakan rasa kesal pada Danu, yang kerap menyematkan permen karet di bajunya. Mendeskripsikan sebagian dosen yang minta ampun killer-nya. Juga kegalauannya tatkala menyambut tarikh penertiban utang.

Setelah puisi berhasil ditelurkan, Ratu Udik  menjemurnya di kamar kos. Makanya tak heran, bila ia selalu mengunci pintu kamar. Sebab, bila ibu kos memergoki dindingnya dijejali kertas, maka marahnya bisa tiga hari tiga malam.
Kebiasannya itu menggelinding sampai sekitar delapan bulan. Kemudian, atas saran Mbak Jeni, redaktur media kampus, ia mulai berani mempublikasikan karya. Berbekal pengetahuan mengirim email dari Robet, Ratu Udik menerbangkan puisi-puisinya ke beberapa media massa. Bahkan, tiap minggu, sembilan sampai sepuluh media massa diserang. Tentunya dengan puisi-puisi yang berbeda.

Jadwal mengirim karya ke media massa jatuh pada hari Jumat. Oleh dasar itulah, maka Kamisnya ia wajib berpuasa, agar bisa menyisihkan uang untuk online di internet.

***
Meski belum satu pun puisinya menyangkut, harapannya sukar tumbang. Perjuangan terus berlanjut. Dan ketika mengetahui bahwa para redaktur koran lebih terpikat dengan karya-karya orang lain, ia tak ambil pusing. Dalam pandangannya, menulis puisi dan mempublikasikannya merupakan keniscayaan. Sedangkan dimuatnya puisi di media massa adalah kebetulan.
Karena acapnya bertarung dengan media massa. Akhirnya pada pertengahan semester empat, beberapa puisinya termaktub di segelintir koran.
“Puisimu ada di Jabung Post, Mbak.”

Leni, adik semesternya, menenteng koran dan menunjukkannya kepada Ratu Udik.
Alamak. Meski baru termuat di koran daerah,  ia begitu bungah. Hatinya melonjak. Semangatnya bercabang-cabang. Rasa cintanya terhadap puisi kian menebal. Bahkan, sugesti yang baru terbangun yaitu apabila ia berbuat baik kepada puisi, maka puisi bakal membalas kebaikannya.
Atas dasar itulah, ia berhasrat mengangkat puisi sebagai sahabat.

***
“Qobiltu nikaahaha wa tazwijaha bi almahri almadzkuur”

Pernikahan kedua mempelai berjalan lancar. Selain mahar berupa cincin emas dan uang 6.000.000 rupiah, Robet juga mempersembahkan selembar kertas yang bertuliskan puisi. Ratih menatap lama dan mengeja puisi tersebut. Ia terhenyak lantas tertegun, sebab puisi itu sangat mirip, bahkan kembar, dengan puisi yang diciptanya tujuh tahun silam. Usut punya usut, ternyata Robet mengarsip karya pertama mantan Ratu Udik itu. Ia berkisah, bahwa sebelum melayangkan email ke alamat Pak Janu, terlebih dahulu ia menyimpannya ke dalam flashdisk. Ia menggembala puisi Ratih sebagaimana ia menggembala perasaannya. Dalam ingatan, masih terrekam jelas bagaimana ia harus bersitegang dengan satpam. Ia hampir diusir. Sebab, saban malam pembacaan puisinya kerap membangunkan pak RT.

Sebulan seusai mengikat janji dengan Robet, Ratih dipercaya menjadi dosen sebuah kampus ternama di Malang. Sesungguhnya, kualifikasi akademiknya kurang memenuhi syarat. Akan tetapi, karena kredibilitasnya sebagai penyair sudah diakui. Terlebih, kualitasnya dalam berkarya begitu mumpuni. Maka ia pun dipinang sebagai tenaga pendidik di kampus. Ia diminta mengampu beberapa mata kuliah. Walakin, kepalanya menggeleng. Demi memelihara kualitas karya, ia hanya bersedia menggepit mata kuliah Sastra Indonesia.

Karena track-record-nya bagus, berulang kali Pak Rektor hendak mengangkatnya sebagai dekan fakultas sastra sekaligus mengantongi SK PNS. Namun, perempuan berjanggut pedang itu menangkis. Baginya, hal tersebut bakal memangkas waktunya dalam berkarya.
***

Hari berebut senja. Aroma obat-obatan berseliweran memadati ruangan.

Di sebelah kanannya, berdiri sang buah hati, suami, bapak, dan emak. Sedang di sebelah kiri ada sejumlah sanak famili dan tetangga.
Dari ke sekian pengunjung, Robet tampak paling tegang. Gerahamnya mengait. Betisnya menggigil. Dan pandangannya menerawang. Dalam situasi darurat seperti itu, ia agak menyesal, kenapa dulu Ratih menolak tawaran Pak Rektor. Jika bersedia, pastilah gajinya akan membantu meringankan biaya operasi. Biaya yang sukar ditanggung oleh lelaki yang cuma guru swasta. Mana penjualan bukunya seret. Siapa pula yang sudi membeli buku puisi, selain kalangan sastrawan sendiri. Belum lagi, puisi-puisi Ratih kian nyenyai nangkring di koran. Tak semisal masa emasnya dulu. Sebulan bisa nongkrong tujuh kali. Ya, maklumlah. Para redaktur mulai melirik penulis muda, yang jumlahnya seabrek. Dan pastilah mereka juga memerlukan eksistensi dan pengakuan.

Tujuh orang dokter bersiap-siap mengoperasi penyakit Ratih. Kanker yang hinggap di payudaranya selama setahun terakhir itu sudah saatnya dihabisi. Berada di atas ranjang, wajah Ratih amat tenang. Sepi dari kegelisahan. Giginya juga terbentang, menandakan tak ada secuilpun kesedihan. Padahal semua orang yang bersua di selingkarnya cukuplah cemas.
Sejurus kemudian, sebiji pena berkelebat dalam pikirannya. Ya, pena. Hanya pena. Bukan nasibnya yang gawat dan tinggal menunggu keajaiban. Pena yang diperoleh dari penyair besar Yogyakarta itu berloncatan dalam otak Ratih.
“Mas, tolong ambilkan pena keperekan yang ada di lemari.”

Ahai. Siapa yang mengira bahwa dalam kondisi genting demikian, Ratih malah ingin bermain  imajinasi. Siapa juga yang menduga kalau pena lusuh itu hendak dipakai memahat puisi. Padahal, dokter menyarankan untuk beristirahat total. Apalagi, karena sebentar lagi dioperasi, maka segala aktifitas, baik yang berhubungan dengan fisik maupun pikiran, harus dikucilkan.

Awalnya, Robet melarang. Ia amat kawatir dengan keadaan istrinya. Akan tetapi, karena keinginan Ratih urung dibendung, maka dibiarkan istrinya itu melancarkan hobinya; Mendekap dan memeluk erat sahabat. Ya, puisi adalah sahabat yang begitu lekat dan dekat dengan kehidupannya.

Jemari kanannya menari-nari di atas kertas. Tujuh bait dihasilkan. Sampai sini, tak ada sesuatu yang mencengangkan. Tiada hal yang istimewa. Semua berjalan biasa saja. Namun, selepas pena bergerak-gerak sepuluh menit. Tiba-tiba alat tulis itu menyembulkan cahaya. Merah. Ah, bukan. Sahihnya merah bercampur kuning. Semua mata terpaku. Segala yang hadir terpukau. Kepala mereka geleng-geleng, mengisyaratkan keheranan. Bagai amuba, cahaya tersebut terbelah, berganda, dan melahirkan rona lain; Biru, hijau, dan ungu. Usai menampilkan keindahan yang tiada tara, cahaya itu lekas menjalar ke tulang Ratih. Sehingga muka dan serata tubuhnya menjadi terang seperti neon yang baru saja dinyalakan.

Dan, wow. Mengetahui kondisi terbarunya, Pak Heru, kepala tim operasi, mengatakan bahwa operasi dibatalkan. Penyakit Ratih lenyap entah ke mana.

Yogyakarta, 2011
Catatan:
Qobiltu nikaahaha wa tazwijaha bi almahri almadzkuur = Akad yang diucapkan oleh pihak suami ketika menikah.