Home Blog Page 13958

Ijeck kembali Pimpin HDCI Sumut

MEDAN-H Musa Rajeckshah atau biasa dipanggi Ijeck, kembali terpilih menjadi ketua Pengprov Harley Davidson Club Indonesia (HDCI) Sumatera Utara periode 2012-2015 setelah terpilih pada Musyawarah Daerah HDCI Sumut di Hotel Danau Toba Medan, Sabtu (4/2) kemarin.

Musda yang ini berjalan dengan singkat, karena semua anggota HDCI
Sumut sepakat memilih Ijeck kembali menjadi pemimpin organisasi pecinta sepada motor besar tersebut. Pimpinan sidang Toharuddin didampingi anggotanya A Tiong dan Faisal Nasution pun langsung mengetok palu, tanda Ijeck kembali memimpin Pengprov HDCI Sumut.

Usai terpilih, Ijeck pun mengucapkan terima kasih kepada semua anggota HDCI Sumut yang kembali mempercayakan dirinya kembali menjadi ketua organisasi hobby tersebut. “Saya tidak bisa bekerja sendiri, HDCI Sumut ini menjadi besar berkat kita semua,” ujarnya.

Ijeck berharap agar ke depan HDCI Sumut semakin besar dan bisa menjadi teladan di  tengah-tengah masyarakat. “Mari kita tunjukkan bahwa kita bersifat positif dengan tertib berlalulintas,” ajaknya.
Sebelumnya, Ijeck juga mengatakan, HDCI Sumut telah terpilih menjadi Korwil HDCI se-Sumatera. Bahkan, HDCI Sumut bakal menjadi tuan rumah pertama even “Sumatera Bike Rider” yang akan digelar 3-7 Oktober 2012 mendatang. Even ini merupakan pertama kali di gelar di Sumatera. “Kita berharap melalui even itu, HDCI se-Sumatera bakal lebih kompak lagi,” paparnya.
Ijeck ingin acara Sumatera Bike Week ini bisa lebih memperkenalkan potensi wisata yang ada, khususnya di Sumut. “Sekaligus juga untuk memperlihatkan bahwa kita komunitas pecinta Harley Davidson tetap kompak dan solid,” tandasnya.
Tambah Ijeck, selama ini HDCI Sumut mengutamakan kekeluargaan. Hal tersebut harus dipertahankan. Apalagi, saat ini HDCI Sumut telah beranggotakan 150 orang. “Melalui musda ini, kita berharap HDCI Sumut semakin baik dan semakin besar di masa datang,” pungkasnya.

Musda HDCI Sumut ini merupakan yang keempat kalinya setelah berdiri pada tahun 1995 silam. Namun, musda kali ini merupakan musda pertama yang digelar secara resmi.
Ketua Panitia Faisal A Nasution melaporkan, Musda HDCI ini diikuti oleh 150 orang. Melalui musda ini, organisasi tersebut diharapkan lebih
baik lagi. “Musda ini terlaksana berkat dukungan semua anggota HDCI,” ucapnya.

Usai terpilih, Ijeck juga ditunjuk menjadi formatur tunggal, langsung mengumumkan susunan pengurus HDCI Sumut Periode 2012-2015. (jun)

Warga Takut Tumpangi Lion Air

KASUS pilot Lion Air yang suka mengkonsumsi sabu-sabu membuat risau masyarakat yang sering mengunakan transportasi udara. Selain pilotnya berulang kali ditangkap memakai sabu, pesawat tersebut juga sering tergelincir.

H Irsal Fikri Ssos, warga Jalan STM Ujung salah satunya. “Bagaimana mau selamat kalau pilot menggunakan sabu-sabu. Saya jadi takut naik Lion Air,” kata pria yang mengaku hampir setiap 10 hari sekali harus menumpangi transportasi udara.

Dia mengakui, bila dihitung sudah lebih dari seribu kali menumpangi Lion Air Medan-Jakarta dan Jakarta Medan serta ke sejumlah daerah di Indonesia. Dengan kejadian ini, “Sekarang saya berpikir 100 kali untuk menumpangi pesawat Lion Air. Biar bayar mahal tapi dapat kenyamanan dan ketenangan,” ujarnya.

Pengusaha yang juga politisi PPP ini menyebutkan, manajemen sebaiknya menseleksi ulang pilot-nya agar jangan sampai ada didapati lagi pilot menggunakan sabu-sabu dan ecstasy.

“Selagi belum ada tes urine yang dilakukan secara independen, yakinlah calon penumpang akan semakin khawatir menumpangi Lion Air,” ungkapnya.

Terpisah, warga lainnya, Rachmad Nasution mengungkapkan keresahannya. “Bisa dibayangkan, ketika terbang saja 99 persen nyawa kita sudah dipasrahkan. Bila pilotnya pakai sabusabu, pastinya membuat rasa ngeri naik pesawat Lion Air. Bahaya kali pilotnya,” ucapnya.

Keengganan menaiki Lion Air juga menghinggapi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sumut. “Bila ada pilot yang menggunakan obat-obatan terlarang tersebut sebelum berangkat. Berarti, pilot tersebut tidak punya perasaan.

Pasalnya, dengan pengaruh obat-obatan tersebut nyawa penumpang sangat berbahaya dibuatnya,” bilang H. Fadly Nurzal, S Ag Ketua Fraksi PPP DPRD Sumut, tadi malam.

Dilanjutkan Ketua DPW PPP Sumut itu, seharusnya pihak maskpai penerbangan melakukan tes urin dan memeriksa kesehatan pilot secara berkala dalam frekwensi waktu yang pendek.

“Nah, bila dari hasil tes urin tersebut diketahui sang pilot menggunakan narkoba, berikan sanksi tegas seperti pemecatan,” terangnya.

Chaidir Ritongga, Ketua DPRD Sumut, melihat apa yang dilakukan seorang pilot dengan mengkonsumsi narkoba, pantas dihukum berat.

“Bayangkan saja, bila tiba-tiba seorang pilot itu play saat membawa pesawat. Bisa jatuh pesawatnya.

Akibatnya, ratusan nyawa penumpang tidak terselamatkan,” jelasnya.

Chaidir mengharapkan Departemen Perhubungan mengeluarkan peraturan kepada pilot untuk dilakukan pemeriksa kesehatan setiap minggunya. “Saya yakin dengan tujuan yang baik. Pihak Departemen Perhubungan pasti akan mengeluarkan peraturan tersebut,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua Komisi A DPRD Sumut, Isma Fadly Pulungan juga merasa ngeri naik Lion Air. “Jujur saya, saya jadi takut untuk menggunakan maskapai penerbangan Lion Air. Kalau seperti ini ulah pilot nya,” bilangnya.

Ketua YLKI Sumut, Abu Bakar Siddik, melihat manajemen Lion Air harus mendapat sanksi tegas dari otoritas penerbangan nasional. “Konsumen senang naik Lion Air karena Lion Air pesawatnya bagus, harga tiketnya murah dan menguasai lapangan. Peristiwa ini telah merusak citra baik Lion Air, mereka harus diberi sanksi tegas,” sebutnya.

Sementara itu, Kasi Angkutan Udara, Kelayakan Udara dan Pengoperasian Udara Otoritas Bandara Polonia Medan, Havandi Gusli mengaku, sudah melakukan pengawasan seperti biasanya terhadap para pilot ketika tiba di bandara.

“Setiap pilot yang tiba di bandara selalu kita periksa termasuk tas bawaannya melalui X-Ray yang diperiksa oleh petugas security bandara,” jelasnya.

Terkait pilot yang ditangkap di Surabaya, Havandi menuturkan, bahwa penangkapan itu terjadi di luar bandara. “Dari beberapa kasus terhadap para pilot, semuanya ditangkap di dalam hotel. Berarti ditangkapnya diluar bandara. Jadi itu tanggung jawab pihak kepolisian dalam hal ini untuk menyelidikinya dan pihak bandara sesuai dengan prosedurnya sudah melakukan pemeriksaan,” ucapnya. (ril/omi/jon)

Berita Terkait:

3 Pilot Lion Nyabu Sebelum Terbang

3 Pilot Lion Nyabu Sebelum Terbang

Kemenhub Siapkan Sanksi

JAKARTA- Pilot Lion Air kembali tertangkap basah mengkonsumsi sabu. Saiful Salam (44) ditangkap sekitar pukul 03.30 WIB di Hotel Garden Palace, Surabaya, di Kamar 2109, Sabtu (4/2) oleh tim Badan Narkotika Nasional (BNN). Ketika itu, ia tengah bermain kartu bersama tiga orang temannya.

Bersamanya, disita sabu dan alat isap sebagai barang bukti. Padahal ia dijadwalkan menerbangkan pesawat tujuan Surabaya–Makassar– Balikpapan–Surabaya pada pukul 06.00 WIB. Akibat kejadian ini Maskapai Lion Air pun terancam sanksi.

“Akan ada aturan yang ditegakkan untuk Lion Air,” jelas Dirjen Perhubungan Udara Herry Bhakti.

Herry belum bisa memastikan sanksi apa yang akan diberikan. Kemenhub masih akan melakukan pemeriksaan. Namun dia menegaskan operasi narkoba atas pilot-pilot ini memang kerjasama BNN dengan Kemenhub. “Ini untuk membersihkan airlines,” jelasnya.

Sang pilot sendiri dipastikan akan dicabut izin profesinya sebagai pilot.

Penangkapan ini merupakan hasil pengembangan kasus penangkapan pilot Lion, Hanum Adhyaksa, di Makassar bulan lalu. “Ini pengembangan kasus pertama. Dia mengaku ada yang lainnya,” kata Direktur Narkotika BNN, Benny Joshua Mamoto. Atas informasi Hanum, Benny bersama tujuh anggota BNN lantas menggerebek kapten pilot Lion Air rekan Hanum, yaitu Saiful Salam.

“Kami menangkap dia tadi subuh pukul 03.30 WIB di Hotel Grand Palace,” ujarnya. Dari tangannya disita 0,04 gram sabu dan alat pengisap alias bong. Di lokasi penangkapan, SS langsung dites urine. “Hasilnya positif,” kata Benny.

Kepala Humas BNN, Sumirat menyatakan Saiful Salam, sudah jadi incaran petugas BNN sejak sebulan lalu. “Sudah kami intai 3-4 minggu sebelumnya,” katanya.

Kini, Saiful sudah berada di Jakarta. Saiful tiba bersama tim BNN pukul 10.00 WIB tadi. “Sampai Jakarta sekitar jam 10-an,” kata Sumirat. Setelah itu Saiful diperiksa BNN. “Langsung melaksanakan pemeriksaan di BNN.” Ia menyatakan masih belum mengetahui jaringan narkoba di belakang sang pilot. “Jaringannya masih didalami,” kata Sumirat lagi.

Direktur Utama Maskapai Lion Air Edward Sirait mengaku kesulitan mengawasi pilot-pilotnya yang kecanduan narkotik dan obat berbahaya, seperti sabu-sabu. “Agak sulit untuk kami mengawasi mereka, segala macam imbauan sudah kami lakukan,” katanya saat dihubungi Tempo, Sabtu, 4 Februari 2012.

Edward menjelaskan kesulitan maskapainya itu menyangkut penangkapan beberapa pilot Lion Air yang mengkonsumsi sabu. “Beliau-beliau (menyebut para pilotnya) itu sudah dewasa dan mengerti hukum, tinggal kami yang memperkuat ketentuan awak pesawat,” kata Edward.

Maskapai sudah melakukan tes urine setiap enam bulan sekali. Karyawannya pun sudah mendapatkan informasi mengenai larangan tersebut.

“Tapi kami kan tidak mungkin mengawasi mereka setiap waktu,” ujar Edward. Soal sanksi dari Lion Air, Edward menyerahkannya kepada proses hukum. “Kami hormati proses hukum, yang penting jangan mencampur aduk urusan hukum dan kepegawaian,” katanya.

Saiful diduga mengkonsumsi sabu untuk menghapus rasa kantuk. Dokter RS Bhayangkara Polri yang biasa menangani pasien pengguna narkoba, Aisyah Dahlan memberikan penjelasan.

“Sekali mengkonsumsi sabu bisa terjaga hingga 24 jam,” ujarnya. Pada pertengahan bulan lalu, penerbang dari maskapai yang sama juga ditangkap oleh BNN ketika pesta sabu di Grand Clarion Hotel, Makassar, Sulawesi Selatan.

Dari pengembangan penangkapan inilah kasus kedua terungkap.

Sementara itu, penangkapan Pilot Lion Air Saiful Salam oleh BNN merupakan upaya membersihkan awak pesawat terbang dari jaringan narkotika. Pasalnya, pilot memiliki tugas besar menjaga keselamatan para penumpang saat menerbangkan pesawat sampai tujuan.

“Jangan dilihat berapa banyak sabu yang kami sita, tapi lihat dampak yang diakibatkan jika sang pilot nyabu lantas menerbangkan pesawat, ini menyangkut nyawa orang banyak,” tegas Kepala BNNP Jawa Timur Kombes Jan De Fretes. (net/jpnn)

 

Daftar Pilot Lion Air Tertangkap Nyabu

  1. 4 Februari 2012
    Saiful Salam ditangkap tim BNN di Hotel Garden Palace kamar 2109, Surabaya pukul 03.30 WIB atas dugaan penggunaan dan kepemilikan sabu 0,04 gram. Saiful ditangkap saat bermain kartu bersama tiga pilot lainnya di kamar 2109 pada pukul 03.30 WIB. Hasil tes urine diketahui SS positif menggunakan sabu. Sementara hasil tes urine kepada tiga pilot lainnya adalah negatif.
  2. 10 Januari 2012
    BNN menangkap pilot Lion Air bernama Hanum Adhyaksa di sebuah kamar karaoke Gran Clarion Makassar, Sulsel. Di ruang karaoke itu, Hanum ditangkap bersama seorang kontraktor dan tiga teman wanitanya. Dari saku si pilot ditemukan satu kantong plastik sabu-sabu 0,9 gram.
  3. 6 April 2011
    Awak kabin Lion Air bernama Winnie Raditya juga pernah ketangkap karena kedapatan menyimpan sabu di pakaian dalamnya. Winnie ditangkap Polres Jakarta Pusat di kosannya di Karet, Tanah Abang.
  4. 13 Juni 2011
    Pilot Lion Air lainnya bernama Muhammad Nasri tertangkap basah tengah berpesta sabu bersama rekannya Husni THamrin (kopilot) dan Imron, di Apartemen The Colour, Modernlan, Kota Tangerang. Ia ditangkap atas kepemilikan dan penggunaan narkotika jenis sabu dan empat butir ekstasi.

Kasus Paluta, Propam Sidik Brimob

TAPSEL-Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Poldasu) terus melakukan penyelidikan terhadap kerusuhan dan mencari aktor intelektual kerusuhan di lahan perkebunan Dusun Kuta Parit Desa Sei Korang, Huta Raja, Padanglawas Utara (Paluta). Sedangkan personel Brimob yang berada di lokasi tengah diperiksa secara intensif oleh Seksi Profesi dan Pengamanan (Propam) Polres Tapsel.

Kepala Bidang Humas Polda Sumut Kombes Pol Raden Heru Prakoso saat dikonfirmasi, Sabtu (4/2) menuturkan, penyelidikan masih dilakukan Polres Tapanuli Selatan yang menangani kerusuhan antara warga Desa Batang Kumu, Kecamatan Tambusai, Kabupaten Rokan Hulu Riau dengan karyawan PT Mazuma Agro Indonesia (MAI) dan personel Brigade Mobil (Brimob) Polda Sumut Detasemen C Sipirok, yang terjadi Kamis (2/2) lalu. Penyelidikan dilakukan untuk mengungkap kerusuhan yang berakhir dengan 11 orang dari kedua belah pihak mengalami luka-luka itu.

“Penyelidikan masih dilakukan, untuk mengetahui apakah ada aktor intelektual atau pun provokator dibalik kerusuhan itu,” ungkap Heru.

Menurut Heru, jika adanya aktor intelektual atau pun provokasi dibalik kejadian ini, maka dapat diketahui yang memberikan respon bagi sekitar 200 warga Desa Batang Kumu, Kecamatan Tambusai, Kabupaten Rokan Hulu Riau untuk menyerang hingga 6 diantaranya tertembak personil Brimob yang melakukan pengamanan disana. Sedangkan, dua warga Desa Batang Kumu, Kecamatan Tambusai, Kabupaten Rokan Hulu Riau, yakni, Amunur Sitorus (48) dan Sukardi (57) keduanya warga Desa Bangun Jaya, diamankan Polres Tapsel saat kejadian tersebut berlangsung, belum diketahui apakah masih ditahan atau tidak.

“Saya belum tahu, apakah keduanya masih ditahan atau tidak. Mereka diamankan saat kejadian dan diperiksa. Kalau memang tidak terbukti keterlibatan mereka berdua, ya akan dilepaskan,” tuturnya.

Di sisi internal, terang mantan Wakil Direktur (Wadir) Lalu Lintas Polda Sumut itu, sudah dilakukan. Personil Brimob Detasemen C Sipirok, yang melakukan pengamanan disana, dimintai keterangannya.

Pemeriksaan tersebut, juga untuk memastikan apakah penembakan yang dilakukan sesuai prosedur tetap atau tidak. “Personil Brimob yang jaga disana dan saat kejadian ada 5 personil. Info yang saya terima, 4 personil sudah diperiksa,” jelasnya.

Seperti diketahui, peristiwa yang terjadi Kamis (2/2) lalu itu, berawal dari pemblokiran jalan oleh warga Desa Batang Kumu, Kecamatan Tambusai, Kabupaten Rokan Hulu Riau, sekitar 200 orang itu atas aktifitas yang dilakukan oleh karyawan PT MAI dengan menggunakan 2 unit alat berat. Warga protes aktifitas karena dilakukan diatas lahan yang yang masih disengketakan kedua belah pihak. Antara warga dan karyawan PT MAI pun terlibat pertengkaran, hingga kerusuhan tak dapat terelakan. Akibatnya, 6 warga tertembak peluru, sedangkan 2 petugas keamanan PT MAI dan 4 personil Brimob mengalami luka bacok. (gus)

Terjatuh, Isteri Anggota DPD RI Parlindungan Purba Meninggal Dunia

MEDAN- Istri Anggota DPD RI asal Sumut Parlindungan Purba, dr Maria Betty Sitanggang, Sp.KK meninggal dunia Sabtu (4/2) petang. Perempuan berusia 53 tahun itu dikabarkan sempat ditemukan di tangga tempat prakteknya di Komplek Griya Riatur Jalan Tengku Amir Hamzah. Diduga kuat Maria tewas akibat pendarahan di bagian kepala belakang.

Informasi yang dihimpun Sumut Pos di rumah duka Sabtu dini hari menyebutkan peristiwa naas itu terjadi sekitar pukul 17.00 WIB seusai Maria menangani pasiennya. Saat hendak naik tangga korban terpeleset. Menurut keterengan adik kandung Parlindungan Purba, dr Tuahman Purba, korban sempat dibawa ke RSU Sari Mutiara Namun sepuluh menit setelah dilakukan tindakan medis, Maria menghembuskan nafas terakhir.

Tuahman menyebutkan setibanya di rumah sakit, sang kakak sudah mengalami pendarahan di bagian belakang kepala.

Dari bagian telinga mengeluarkan darah. “Saya yang langsung menanganinya tadi. Tapi 10 menit saya tangani nyawa kakak saya tak tertolong lagi. Korban mengalami pembekuan darah di kepala,” ujarnya.

Tuahman menceritakan kronologis kejadian yang membawa maut petang itu.

Saat menaiki tangga Maria lupa memakai kaca mata yang membuatnya terjatuh.

Begitu tahu terjatuh sejumlah orang di tempat praktik Maria langsung melarikannya ke RSU Sari Mutiara.

Amatan wartawan di rumah duka, ratusan masyarakat, puluhan pejabat, dan rekan-rekan Parlindungan Purba langsung datang memadati kediaman orang tua Anggota DPD-RI asal Sumut itu. Saat itu politisi tersebut tak kuasa menahan sedih. Kedua pipinya basah karena air mata. Hingga kemarin malam Agus, putra satu-satunya yang tiba di ruang aula Yayasan Rumah Sakit Sari Mutiara di Jalan Bakti Luhur, tempat jenazah Maria disemayamkan.

Ketiga putrinya yang lain dikabarkan dalam perjalanan menuju Medan.

Maria meninggalkan seorang suami dan empat anak. (omi)

Kompleks Pasar Dipo Kisaran Kebakaran

KISARAN- Sedikitnya 500 kios di Pasar Inpres Kota Kisaran, Sabtu (4/2) pagi, musnah dilalap si jago merah.

Kepanikan dan histeria terlihat saat ratusan pedagang berusaha menyelamatkan barang dagangan mereka. Para pedagang saling berebut hingga membuat aparat kepolisian kewalahan untuk mengamankan barangbarang milik mereka.

Percikan api pertama kali terlihat dari kios yang berada di tengah pasar. Kencangnya tiupan angin dan banyaknya bahan mudah terbakar membuat api kian membesar hingga meluluhlantakkan ratusan kios lainnya.

Puluhan unit mobil pemadam kebakaran dikerahkan untuk memadamkan api. Delapan jam kemudian api baru bisa dipadamkan Dugaan sementara api berasal dari hubungan pendek arus listrik dari salah satu kios.

Di lokasi kejadian, para pedagang menerangkan api kali pertama terlihat dari bagian tengah komplek pasar. Hanya saja belum diketahui secara jelas sumber api.

“Ketepatan kami mau buka pajak. Karena masih pagi sekali, kami berniat cari sarapan dulu di dekat sekolah Dipo. Pas lewat naik motor, aku lihat api sudah membesar, arahnya dari tengah itu,” tukas Parmin, seorang pekerja di pasar sembari mengacungkan telunjuk ke bagian tengah pasar yang dilalap si jago merah. Setelah melihat api membakar kios, dalam hitungan menit ribuan warga dan pedagang langsung memadati ruas jalan yang mengeliling pasar di inti Kota Kisaran itu.

Para pedagang yang panik, sembari menangis terus mengguman dan mengumpat. Bahkan ada yang menyebutkan pasar sengaja dibakar untuk kepentingan oknum tertentu.

Salah seorang saksi mata, Indra mengatakan api pertama kali terlihat menyala dari salah satu kios di bagian tengah pasar. Kemudian api merambat ke ratusan kios penjual bahan kain, pakaian dan sembako.

“Tidak tahu pasti api dari kios milik siapa. Tetapi api terlihat pertama kali dari kios di bagian tengah pasar,” kata Indra di Kisaran yang berjarak sekitar 160 kilometer dari Medan, ibukota Sumut. Pemilik kios dan warga sekitar sempat berupaya memadamkan api, namun api terus menjalar ke kios lain. Sementara mobil petugas pemadam kebakaran belum tiba setelah 30 menit setelah api terlihat membesar. Akibatnya, ratusan kios tinggal puing. Sebagian besar pemilik kios tidak sempat menyelamatkan dagangannya.

Selain menghanguskan ratusan kios, enam unit mobil yang parkir di kawasan pasar ikut terbakar.

Untuk memadamkan api, Pemkab Asahan mengerahkan sedikitnya 6 unit mobil pemadam kebakaran, satu unit di antaranya terpaksa didatangkan dari Kota Tanjung Balai, sekitar 26 kilometer dari lokasi kebakaran.

Sementara itu, kelambanan dan minimnya pengetahuan petugas Pemadam Kebakaran soal teknis penanganan kebakaran membuat dua ruko yang bersebelahan dengan Pasar Dipo ikut terbakar. Bagus Mulyadi, salah seorang warga yang sejak pagi buta menyaksikan peristiwa kebakaran menilai, para petugas damkar tidak paham cara memadamkan api. “Kalau petugas profesional dan paham pasti api tak menjalar ke mana-mana hingga menghanguskan dua ruko,” sesalnya. David Simatupang, pemilik kios yang terbakar mengaku amat terkejut saat dihubungi rekannya sesama pedagang.

Pengurus Persatuan Pedagang Pajak Inpres Kisaran (P3IP) H Zulhit Nainggolan ketika ditemui menuturkan, pihaknya mencurigai kebakaran adanya unsur kesengajaan.

Pasalnya beberapa waktu lalu pihak Pemkab Asahan melalui Dinas Tata Kota meminta dukungan untuk pembangunan pajak. Sebagian pedagang ada yang menandatangani, tapi sebagian lagi menolak. P3IP sendiri mendukung rencana pembangunan pasar menjadi permanen.

Zulhit mengaku heran atas sikap Pemkab Asahan, sebab keberadaan P3IP dikesampingkan.

Padahal, P3IP memiliki badan hukum. “Mengapa mereka sepertinya tidak mengakui keberadaan kami?” tanya Zulhit. (ing/sus/sht/smg)

 

Tuhan, Tolong Kami…

Wadidjah histeris. Wanita paruh baya ini tak kuasa menahan kesedihannya. Bahkan, ia sempat nekat hendak menerobos kobaran api yang membakar kompleks Pajak Dipo Kisaran. Untungnya, aksi nekat wanita ini dihalang pedagang lainnya.

”TUHAN tolongkami….Kemana lagi kami mau cari makan, Tuhan” Kenapa begitu berat cobaan ini” Allahu Akbar, Allahu Akbar!” teriak wanita beruban ini.

“Istigfar Kak, istigfar. Ini cobaan,” kata rekan-rekannya sesama pedagang.

Fatmi, rekan Wadidjah, kepada METRO menjelaskan, Ijah begitu terpukul dengan musibah tersebut. Pasalnya, kios tempat dia sehari-hari berdagang sembako untuk menghidupi anakanaknya hangus terbakar. Kata mereka, tak ada barang dagangan milik wanita itu sempat diselamatkan. Soalnya posisi kiosnya berada di tengah pasar, sehingga sulit dimasuki karena besarnya kobaran api.

“Habis semua,” tukasnya.

Dijelaskan pula, Ijah adalah janda dengan empat anak yang sehari-hari menggantungkan hidup keluarganya dari hasil berdagang di pasar tersebut.

Tak hanya Ijah, keluarga Nasution juga mengalami hal sama. Pedagang rempah-rempah ini terkulai lemas di emperan toko milik warga di Jalan Listrik. Nasution hanya bisa menatap dari kejauhan api terus membesar dan menghanguskan dua unit kios milik mereka.

Saat dicoba diwawancara, keluarga ini belum bisa memberikan jawaban karena masih shock.

“Udah dulu ya, maklumlah orang lagi kena musibah. Kasihan mereka. Padahal mereka lagi butuh uang, anaknya ada yang mau wisuda tahun ini,” tukas seorang wanita muda, yang tampak setia berada di dekat keluarga ini.

Pedagang lain, Muhammad Hudian alias Dian, warga Kelurahan Siumbutumbut, Kisaran Timur, mengaku hanya bisa pasrah. Pemilik dua unit kios yang selama ini digunakan istrinya berjulan kain, saat ditemui di lokasi kebakaran, tampak sedih. Kios dan seluruh barang dagangannya dilalap si jago merah.

“Saya nggak tau mau bilang apa. Saya pasrah aja lah. Padahal kios ini yang membantu perekonomian keluarga, termasuk menyekolahkan anak. Begitupun, saya harap Pemkab Asahan memberikan bantuan agar saya dan keluarga tertolong,” katanya dengan suara parau sambil memandangi kiosnya yang tinggal puingpuing.

Dian mengaku mengalami kerugian ratusan juta rupiah.

“Saya juga sudah bingung, bagaimana ini nantinya?” tanyanya sedih.

Hal yang sama diutarakan Linda, pemilik kios yang terbakar. Hingga tadi siang pukul 11.00 WIB, api belum bisa dipadamkan. (ing/van)

Nasib Anas Ditentukan di Sidang Angie

JAKARTA- Nama-nama di luar Angelina Sondakh yang kerap disebut-sebut tersangkut kasus suap wisma atlet untuk beberapa waktu dekat ini masih bisa bernafas lega. Pasalnya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengisyaratkan belum akan menetapkan tersangka baru hingga menunggu perkembangan persidangan dengan terdakwa Angie.

“Kami memang masih terus mengembangkan kasus ini Namun salah satu yang terpenting adalah menunggu fakta-fakta di persidangan,” kata Wakil KetuaKPKZulkarnaenkepada Jawa Pos (Grup SumutPos) kemarin(4/ 2). Menurut Zulkarnaen, KPK benar- benar memperhatikan secara detail perkembangan yang ada di persidangan.

Mantan koordinator staf ahli jaksa agung itu mengatakan bahwa di dalam persidangan, semua saksi memberikan keterangan di bawah sumpah dan bisa dipertimbangkan sebagai alat bukti. Memang selama ini, KPK cenderung menetapkan seorang tersangka berdasarkan pengembangan-pengembangan di persidangan.

Saat ditanya siapa saja yang nantinya layak dijadikan tersangka terlebih dulu, Zulkarnaen pun menolak diplomatis. “Saya tidak mau menyebut siapa-siapa orangnya.

Yang jelas kami bekerja secara akurat dan tidak semuanya bisa diungkapkan kepada public,” ucapnya.

Memang salah satu orang yang paling dekat sebagai tersangka baru adalah I Wayan Koster.

Salah satu indikasinya adalah politisi PDIP itu pada Jumat (3/2) lalu dicekal oleh KPK. Selain itu, dalam fakta-fakta di persidangan, Koster disebut-sebut “menadahi” uang Rp5 miliar dari Permai Grup di ruangannya.

Lutfi Ardiansyah, sopir Wakil Direktur Keuangan Permai Grup Yulianis dalam persidangan mengaku sebagai orang yang mengantar uang tersebut ke ruangan Koster dalam dua tahap. Yakni Rp 2 miliar dan Rp 3 miliar. Nah, setelah uang itu terkumpul di ruangan Koster, Angie pun segera merapat.

Menurut Mindo Rosalina Manulang dalam kesaksiannya di persidangan, Angie adalah orang yang minta Rp 5 miliar itu kepada pihak Permai Grup. Tujuannya adalah sebagai pelicin pembahasan anggaran proyek di Kemenpora.

Uang itu nantinya akan dibagi- bagikan kepada anggota banggar lainnya termasuk Koster.

Pengurus Fraksi Partai Demokrat juga disebut-sebut mendapat bagian. (kuh/dim/dim)

Silang Sengkarut Kantor Sementara

PERJUMPAAN di airport sebelum terbang ke Jakarta itu bagai membuka sedikit tabir soal ‘’gonjang- ganjing’’ cerita kepindahan 45 anggota DPRD Kota Medan ke kantor sementara. Herry awalnya sempat bingung kenapa masalah pindah kantor ini jadi berbuntut panjang. Entah bagaimana muncul kabar anggota Dewan segera menempati kantor baru yang wah di Palladium Mall, pusat perbelanjaan di seberang gedung DPRD. Wacana kepindahan kantor di tempat yang tak biasa itu mengundang penolakan keras dari publik dan sejumlah anggota Dewan sendiri. Herry bingung darimana usulan itu bermula. Hingga di pagi itu tanpa sengaja dia bertemu Sutejo, sang pengelola pusat perbelanjaan berlantai empat tersebut.

‘’Pak Tejo juga bilang tak setuju Dewan pindah ke sana. Biayanya tak cukup menutupi sewa satu lantai. Itu belum termasuk beban listrik yang digunakan sekretariat dewan,’’ ujarnya. Sebagai orang yang tahu betul pengelolaan mall, Herry menerima alasan Sutejo dengan kalkulasi matematis. Hanya saja usulan kepindahan ke Paladium Mall itu Herry menilainya buah kecerobohan sekretariat DPRD (setwan). Versi Herry, pihak Paladium Mall tak mengajukan proposal untuk itu. ‘’Setwan saja yang bingung, katanya mereka sudah tawar beberapa tempat tapi ditolak semua. Jadinya muncul opsi pindah kantor ke mall,’’ dia menambahkan.

Adalah Fraksi Demokrat yang pertama kali mengecam kepindahan ‘’rumah rakyat’’ itu ke pusat perbelanjaan. ‘’Tak pantas saja. Kok anggota Dewan ngantor di mall? Itu kan identik tempat mewah Apa ada juga ruang tempat rakyat mengadu di situ?’’ tukas Herry saat ditemui Sumut Pos, Kamis (2/2). Semula tak seorang anggota Dewan menyangka. Rumor kepindahan ke mall itu bagai api menyambar bensin, bersambut sebegitu cepat. Justru tak kalah menarik sejumlah unsur pimpinan bereaksi amat keras lantaran informasi itu pecah di telinga mereka dengan tiba-tiba.

‘’Kami saja tak ada diajak diskusi, lho kok langsung main pindah ke mall?’’ ucap August Napitupulu, wakil ketua DPRD asal Fraksi PDI-P. Silangsengkarut cerita kepindahan ini bermula dari usulan renovasi gedung DPRD Kota Medan yang sudah dianggap kurang layak akibat faktor usia.

Rapat paripurna menyetujui pengguliran dana sebesar Rp38 miliar untuk merenovasi gedung Dewan yang sudah uzur. Biaya renovasi yang dilungsurkan dari Anggaran Penerimaan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Medan tahun 2012 itu sekaligus memuat mata anggaran berikutnya yakni biaya kantor sementara senilai Rp1 miliar.

Dalam waktu satu setengah tahun terhitung Maret tahun ini anggota DPRD Kota Medan akan mandah sementara waktu. Gedung lama di Jalan Kapten Maulana Lubis, persis di depan kantor Walikota Medan, segera direnovasi. Agaknya kantor baru nanti juga tak kalah mentereng dengan gedung ‘’sang kakak’’ di sebelahnya yang bersalin rupa lebih dulu. ‘’Memang layak diperbarui, sudah banyak juga yang bocor,’’ ungkap Herry.

“Tapi kami tegas jangan sampai berkantor di pusat perbelanjaan, itu tidak representatif untuk tempat bekerja.” Rumor kepindahan ke mall itu tak cuma direspons Herry. Anggota Dewan lain, Ferdinand Lumban Tobing asal Fraksi Partai Golkar ikut naik pitam mendengar informasi tersebut. Dengan enteng dia menyebut usulan itu sarat kepentingan oknum pimpinan dewan. Bahkan dia menduga keras ada praktik calo di situ. “Bagaimana mungkin mall dijadikan ruang kerja dewan?’’ katanya geram. Justru yang menjadi pertanyaan besar kenapa anggota Dewan dan sebagian unsur pimpinan tidak disertakan meninjau Paladium Mall pada Senin tanggal 16 Januari lalu. “Ada apa ini?” ujarnya.

Dia memperingatkan pemilihan kantor sementara tak boleh dilakukan sembarangan, harus melewati mekanisme tender sesuai aturan yang berlaku.

Pasalnya anggaran yang dicomot dari APBD itu mencapai Rp1 miliar. Jangan sampai asal tunjuk yang akhirnya membuat gaduh dan bermuara pada proses hukum. “Kita kan sama-sama tahu aturan. Anggaran di atas Rp100 juta itu harus tender, tender juga jangan formalitas tapi tender terbuka seperti yang diamanatkan Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah,” cetusnya.

Kegeraman serupa juga dirasakan August Napitupulu.

Sedari awal, misalnya, dia melihat ada indikasi ‘’main mata’’ oknum pimpinan Dewan dengan setwan. Kecurigaan itu lantaran ada semacam pemaksaan kehendak agar Paladium Mall dirancang menjadi kantor sementara. Sebagai salah satu unsur pimpinan dia tak terima survei ke mall itu tidak melibatkan dirinya dan unsur pimpinan lain.

“Saya dan pak Sabar tak disertakan. Ya wajar saja saya menduga mereka bermain,” ungkapnya. Ditanya alasan kenapa tak diajak, August mengaku tak tahu. “Saya juga heran kenapa saya tidak dilibatkan, malah diberitahu saja nggak,” ungkapnya kepada wartawan di ruang kerjanya.

Ditemui Sumut Pos di ruang kerjanya, Sabar Syamsurya Sitepu, wakil ketua DPRD asal Fraksi Partai Golkar, mengamini kecurigaan koleganya itu. Sependapat dengan August, mantan Plt Ketua DPRD Kotra Medan itu melihat pucuk pimpinan Dewan seolah-olah bermain tunggal dalam memutuskan kantor sementara tersebut. Sejatinya lokasi mana yang akan dipilih sebagai kantor sementara harus melewati proses yang tidak pendek. Ada rapat di unsur pimpinan, dibawa ke pimpinan fraksi, dan diputuskan oleh pimpinan Dewan sebagai keputusan bersama di rapat paripurna.

“Ini belum apa-apa sudah main tinggal saja. Saya curiga kenapa dia (Ketua DPRD, Red) dan sekretaris DPRD begitu bernafsu menyurvei Paladium Mall. Ini kan ada apaapanya,” cetus Sabar.

Hematnya, gedung Paladium Mall memang bukan tempat yang pas untuk kantor sementara Dewan. Selain satu areal dengan hotel dan bioskop, keberadaan juga akan kontradiktif dengan tugas anggota Dewan sebagai pengemban amanat rakyat, yang menjadikan kantornya juga sebagai rumah rakyat. ‘’Kami tak mau menjadi bahan tertawaan masyarakat,” ungkapnya. Tudingan ada ‘’kongkalikong’’ antara dirinya dan pimpinan Dewan, rupa-rupanya singgah di telinga OK Zulfi, sekretaris DPRD. Orang di balik layar yang mengurusi fasilitas anggota Dewan itu menolak mentahmentah kecurigaan yang mengarah kepada dirinya.

Kedatangan dia ke gedung Paladium Mall bersama Ketua DPRD Kota Medan Amiruddin sekadar mengecek apakah dinilai layak sebagai kantor sementara atau tidak. “Kami cuma mengecek saja kok. Ya kalau cocok langsung tender. Ini kan bagian dari upaya mencari. Masak cuma datang ke situ saja dibilang melobi,” ucapnya.

Hanya saja saat ditanyai darimana asal-muasal ide hingga gedung Paladium Mall masuk list kantor sementara, Ok terdiam sejenak. Dia minta soal itu tak perlu dibahas.

‘’Ya pokoknya ada usulan, saya hanya melihat pas atau tidak. Itu saja ya,’’ katanya. OK mengaku hingga sekarang sulit mencari kantor sementara Dewan yang cukup representatif. Setwan sempat mengontak Pemprovsu agar menggunakan aset yang sudah tidak terpakai. Namun belum ada jawaban. Skenario pemakaiannya juga sudah dipilih: sistem pinjam pakai atau sistem sewa. Hanya saja OK mengaku kesulitan mencari kantor sementara yang cukup menampung 50 anggota dewan dan 70 staf setwan. ‘’Saya putar otak terus mencari gedung kantor dengan lahan parkir dan ruang paripurna yang besar,” ucapnya. OK meminta upaya setwan mencari kantor sementara itu jangan dipahami secara sempit.

Setwan, menurutnya, punya kewajiban menyurvei tempat mana saja yang masuk list usulan kantor sementara selama dianggap logis.

“Kami mencari yang terbaik semaksimal mungkin,” ujarnya.

Di tempat lain, Amiruddin, pucuk pimpinan DPRD Kota Medan, yang dituding sejumlah koleganya ‘’bermain mata’’ dengan Sekwan dan pihak pengelola mall justru kelihatan tenang-tenang saja. Mengenakan setelan kemeja putih dilapis jas hitam, ditemui Sumut Pos sepekan lalu, Amiruddin membantah tidak ada permainan apa pun di balik survei dirinya dan Sekwan ke Paladium Mall.

Kepergian ke pusat perbelanjaan itu sekadar mencari tahu titik yang pas untuk dijadikan kantor sementara Dewan kelak. “Jangan karena beberapa orang yang dilibatkan terus dinilai ada permainan.

Kami kan sedang mencari gedung yang sesuai,” katanya. Mencari ternyata bukan soal gampang.

Setidaknya, menurut Amiruddin, hingga pekan ini belum ada gedung yang mampu memenuhi dua syarat sekaligus: parkir luas dan ruangan jumbo untuk rapat paripurna. “Semua itu kami lakukan untuk mengecek usulan saja. Tak ada kepentingan pribadi di situ. Jadi nggak ada permainan seperti yang disebutkan itu. Permainan apa? Kami saja pusing sampai sekarang,” kilahnya.

Belakangan, Amiruddin menginformasikan, pihaknya segera bertemu Plt Gubsu Gatot Pudjo Nugroho. Surat permintaan bertemu sudah dikirimkan ke bagian Sekreatariat dan Protokoler beberapa hari yang lalu.

“Ada satu lokasi yang kami bidik yaitu gedung kantor Gubsu di Jalan Pancing. Itu kan aset Pemprovsu,” ujarnya. Begitupun pemilihan kantor Gubsu di Jalan Pancing juga mengundang masalah soal lokasi wilayah. Kantor yang terletak di kabupaten Deli Serdang itu kurang afdol ditempati karena yang berkantor di situ adalah anggota DPRD Kota Medan. ‘’Kita menilainya seperti itu, makanya terakhir diarahkan agar Sekwan menyurvei gedung PT PELNI di jalan Krakatau Ujung dekat pintu tol Belmera,’’ ujar Herry Zulkarnain, Jumat (2/2).

Soal pencarian aset pemerintah sebagai kantor sementara sedari awal adalah opsi paling ideal. Sebagai ‘’rumah rakyat’’, Wakil Ketua DPRD Medan Ikhrimah Hamidy bersikeras anggota Dewan akan mengutamakan gedung bekas pemerintah, apakah milik Pemprovsu atau Pemko Medan, sebagai kantor sementara. “Ada unsur kepatutan dan hemat anggaran,” ucapnya. (valdesz/adlan)

Saling Curiga Ada Fee

USIA gedung DPRD Kota Medan sudah menginjak 35 tahun. Ini terhitung sejak ‘’rumah rakyat’’ itu diresmikan pada tahun 1976 oleh Amir Machmud, Menteri Dalam Negeri kala itu.

Gedung yang dibangun masa orde baru ini pun mulai tampak lapuk di sana-sini, dan anggota DPRD Kota Medan periode 2009-2014 berinisiatif merenovasinya hingga delapan lantai.

Lebih tinggi dari gedung ‘’sang kakak’’ di sebelahnya. Total anggaran yang digelontorkan mencapai Rp38 miliar.

Aktivitas renovasi tentulah makan waktu tak pendek. Sebelum bangunan lama dirobohkan, Sekretariat DPRD (setwan) mulai kasak-kusuk mencari kantor sementara agar para wakil rakyat bisa bekerja nyaman sembari menunggu gedung baru siap dioperasikan.

Anggarannya pun sudah disiapkan.

Tercatat angka Rp1 miliar yang diposkan di buku APBD tahun 2012 sebagai sewa kantor sementara.

Bila renovasi belum selesai tahun ini, maka tahun depan dianggarkan kembali. Sejumlah lokasi pun dibidik.

Awalnya setwan membidik komplek Pusat Pengembangan Guru-Guru Sekolah Teknik (P3GT) di Helvetia.

Tapi sayang Pemko Medan menolak.

Alasannya kompleks itu pun masih dalam tahap renovasi. Bangunan berikutnya yang diincar adalah gedung utama PT Bank Sumut di Jalan Imam Bonjol dan Uniland Building di Jalan MT Haryono.

Justru paling heboh adalah ketika melenting kabar pimpinan Dewan dan Sekretaris DPRD atau sekwan berjalan-jalan mengitari lantai empat Paladium Mall. Sejumlah pimpinan dan anggota Dewan pun berteriak. Selain tak diajak berunding, pemilihan pusat perbelanjaan dianggap mencederai moralitas anggota Dewan. ‘’Ah, itu kan cuma survei saja,’’ ungkap Ketua DPRD Kota Medan Amiruddin. Memang, saat survei dilakukan sejumlah unsur pimpinan sebetulnya tak sejalan. Buntutnya pimpinan fraksi pun malah menolak pembangunan dan pindah gedung.

Kian ruwet karena muncul saling curiga sesama anggota Dewan. Ada yang menuding unsur pimpinan Dewan mengantongi fee puluhan juta dari setiap pengelola gedung yang akan disewa. Hanya saja kecurigaan itu dinilai tak beralasan.

Pasalnya penunjukan kantor sementara Dewan diputuskan lewat tender terbuka.

“Keputusan sewa gedung itu diputuskan melalui tender.

Jadi bukan asal tunjuk,” kata Wakil Ketua DPRD Medan Ikhrimah Hamidy.

Ikhrimah mendorong Dewan berkantor di gedung milik pemerintah, apakah itu milik Pemko Medan, Pemprovsu atau Pemerintah Pusat.

‘’Yang mana saja asalkan punya pemerintah.

Ada 15 gedung yang masuk daftar,’’ katanya. Dia beralasan lebih hemat dan safety dari kepentingan siapapun.

Dari 15 bangunan itu yang getol diincar belakangan adalah gedung PT PELNI di Jalan Krakatau Ujung.

Kondisi bangunan secara teknis memenuhi kualifikasi, dan paling penting: ada ruangan besar dan parkir luas. Sekwan OK Zulfi mengiyakan gedung PT PELNI adalah salah satu target bakal kantor sementara Dewan. Bila sudah ada beberapa calon, dia meyakinkan, tender segera dibuka pada awal Maret 2012.

“Tender dimulai begitu ada lampu hijau penggunaan anggaran,” ujarnya.

Anggaran Rp1 miliar untuk pindah juga sudah dipilah-pilah oleh setwan.

Salah satunya biaya angkut barang yang diposkan Rp100 juta.

Disinggung sikap sejumlah anggota DPRD Medan yang malah menolak pembangunan, OK menyebutnya sebagai permainan politik belaka. “Anggaran sudah disahkan ya, nggak mungkin dibatalkan. Jadi pembangunan tetap berjalan dan diupayakan cepat selesai,” ucapnya.

OK optimistis tidak akan ada masalah soal pemindahan ke kantor sementara kelak. Sebab semuanya dilakukan transparan dan lewat proses tender. ‘’Pokoknya nggak usah khawatir,’’ ujar OK. Terus bagaimana bila tendernya juga ikut bermasalah? OK tertawa: ‘’Ah, jangan gitu lah, masak belum dilaksanakan sudah tanya masalah’’. (chairil/valdesz)

 

Kiper Chelsea Dukung De Gea

MALAM ini penjaga gawang Chelsea Peter Cech dan kiper Manchester United akan unjuk kemampuan untuk membuktikan siapa yang terhebat di antara keduanya.

Meski aroma persaingan begitu kental menyengat, tak membuat kipper Chelsea Peter Cech mengenyahkan solidaritasnya terhadap De Gea yang akhir-akhir ini mendapat sorotan tajam terkait penampilannya yang cenderung menurun.

De Gea dianggap tampil kurang memuaskan dan bermain buruk saat Manchester United disingkirkan Liverpool di babak keempat Piala FA. Posisinya sempat digantikan Ben Amos dan Anders Lindegaard.

“De Gea masih berusaha beradaptasi dengan gaya permainan di Inggris. Di Spanyol kalau ada pemain lawan yang berusaha mendekati kiper saat ada umpan lambung itu akan dianggap pelanggaran, tapi itu tidak terjadi di Inggris, jadi ia mungkin masih terkejut dengan situasi itu,” tuturnya pada Chelsea TV.

“Peraturan pelanggaran di Inggris memang sedikit berbeda dengan di Spanyol.

Saya mengetahui hal itu dari Torres dan beberapa kali menyaksikan pertandingan liga Spanyol. Di sana, kiper lebih dilindungi oleh wasit,” bilangnya.

“Saya bersimpati dengan situasi yang dihadapinya karena ia harus bisa beradaptasi dengan cepat.Saya pikir ia hanya perlu waktu untuk melakukannya, apalagi usianya masih muda. Itu bukan hal yang mudah, tapi ia pantas mendapatkan kesempatan lebih,” tuntas Ternyata bukan Cech saja yang bersimpati dengan nasib De Gea, sang pelatih Sir Alex Ferguson pun merasa yakin jika mantan kiper Atletico Madrid itu mampu tampil maksimal. (bbs/jpnn)

KSS Bank Sumut Capai 65 Ribu Debitur

BELAWAN- Kredit Sumut Sejahtera (KSS) Bank Sumut berkomitmen untuk terus memberdayakan perempuan pengusaha mikro. Komitmen ini terlihat dari penyaluran KSS yang terus meningkat dan telah mencapai 60.490 debitur yang tersebar di seluruh daerah di Sumatera Utara (Sumut).

“Komitmen Bank Sumut ini diharapkan akan membantu masyarakat Sumut terutama perempuan pengusaha mikro secara finansial.

Sebab, pemberdayaan perempuan ini akan mampu untuk membantu perekonomian keluarga sehingga tidak lagi hanya bersandar pada suami.

Karena itu, kita sangat mengharapkan jumlah debitur ini akan terus bertambah yang berarti akan semakin banyak juga keluarga yang terbantu,” ujar Dirut PT Bank Sumut Gus Irawan Pasaribu.

Gus Irawan mengatakan, sektor usaha mikro dan kecil berpotensi besar dalam menekan angka kemiskinan dan penyerapan tenaga kerja karena sifat usahanya yang padat karya.

“Dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat marginal inilah, produk pembiayaan tanpa agunan sangat diperlukan. Itu jugayangmenjadidasarBankSumut membuat program KSS,” ungkap Gus.

KSS merupakan kredit tanpa agunan yang diberikan secara berkelompok dalam jumlah 20- 30 orang, yang seluruh anggotanya merupakan kaum perempuan dari keluarga prasejahtera yang memiliki usaha mikro pada sektor perdagangan, industri rumah tangga dan sektor informal lainnya.

Dikatakan Gus, selama ini, sangat banyak masyarakat terutama perempuan kaum marginal yang sulit mendapat akses layanan pinjaman modal usaha dari perbankan sehingga akhirnya terjerat rentenir.

“Padahal ini justru membuat kehidupan mereka semakin sulit dan terpuruk dalam kubang kemiskinan. Realitas sosial inilah yang menggugah Bank Sumut untuk membuka akses pembiayaan melalui produk KSS,” ujarnya. (mag-17)