Home Blog Page 13998

Dovizioso Cedera Namun Tetap Ngotot

MIMOSAS – Andrea Dovizioso mengalami cedera setelah latihan motorkros awal bulan ini. Rekan setimnya Cal Crutchlow datang membela kritikan yang dialami Crutchlow.

Ya, Dovizioso harus berhadapan dengan kritikan, setelah mengalami cedera dengan menunggangi motorkros setelah balapan di MotoGP berakhir. Akibatnya, mantan pembalap Honda itu harus mengalami cedera tulang selangka.

Tapi, Dovizioso dikabarkan sudah dapat mengikuti tes yang berlangsung selama tiga hari di Sirkuit Sepang, Malaysia. Memang, hampir semua pembalap MotoGP, berlatih dengan menggunakan motorkros.

Tentu, apa yang dilakukan Dovizoso dkk ini mendapatkan kritikan pedas dari berbagai kalangan. “Kami adalah satu-satunya olahragawan di dunia ini, yang mana anda mendapatkan kritikan karena berlatih menggunakan motorkros. Padahal, itu adalah profesi kita,” kata Crutchlow.

“Kita tidak bisa mengendarai motor MotoGP kami setiap hari. Kami harus menunggangi motorkros karena anda harus mengendarai sebuah motor,” lanjut pembalap asal Amerika itu dilansir MCN, Sabtu (28/1).

Dovizioso bukan satu-satunya pembalap yang terjatuh dari motorkros. Sebelumnya, pembalap Nicky Hayden juga mengalami cedera gara-gara latihan dengan motor itu, setelah hari raya Natal berlangsung.

“Tidak ada olahraga pengganti untuk mengendarai dua roda,” tandas Doviszioso. (net/jpnn)

Media Jerman dan Italia Berperang

Tragedi Costa Concordia

ROMA – Perang kata-kata pecah antara dua media besar Eropa, Spiegel Online, Jerman versus majalah mingguan Italia, IL Giornale. Aksi saling serang itu timbul setelah Spiegel, dalam publikasinya berkata, “Sangat tidak mengejutkan bahwa seorang Italia berada di balik bencana Costa Concordia.” Dalam kolomnya, Jan Fleischhauer menulis.

“Apakah ada seorang yang tak percaya dengan fakta bahwa Kapten Costa Concordia adalah orang Italia? Bakal sulit untuk mengimajinasikan bahwa seorang Kapten Jerman atau Inggris akan melakukan manuver serupa lalu kabur.” “Kami orang Jerman, tidak akan membiarkan hal semacam itu terjadi, karena tak seperti Italia kami adalah sebuah ras.” Kontan Italia pun bereaksi. Meski respon terhadap kolom Felischhauer beragam, mulai dari kemarahan yang tertahan hingga lontaran kata-kata keras. Duta besar Italia untuk Jerman, Michele Valensise, mengirim tanggapan kepada artikel itu yang juga dipublikasikan oleh Spiegel Online. Bunyinya, “Dalam artikel ditulis oleh Jan Fleischhauer, berjudul ‘Italian-run driver’ (Sopir Italia yang kabur), saya sungguh terkejut dan terganggu. Tentu saya meyakini kebebasan mengkritik namun tema dalam artikel itu juga menghina Italia seolah seperti negara yang belum dibangun. Juga membuat saya ‘kagum’ harian bereputasi besar seperti Spiegel Online memberi ruang kepada pendapat yang begitu vulgar.

Namun pemimpin redaksi Il Giornale, AllesandroSalusti, bisajadiyang paling keras membalikkan tudingan itudenganheadline,“Kamimungkin punya Schettino tapi Anda memiliki Auschwitz (nama kamp konsentrasi di Austria).” Headline itu terbit pada 27 Januari lalu, yang juga bertepatan dengan Hari Peringatan Holokasus Nasional. Terlepas itu, Salusti sengaja memperdalam perbandingan.

“Kami telah membaca pidato Hitler bahwa Jerman adalah ras superior.

Namun mengingat itu di hari ini, dalam Hari Peringatan Holokaus, benar-benar cita rasa buruk. Benar, Italia bersalah terhadap 30 penumpang yang tewas akibat Schetiino.

Namun kalian Jerman, membunuh 6 juta orang.” “Tidak ada satu pun orang dari ras superior Jerman yang menyelamatkan korban. Tak seperti kami yang menyelamatkan4.200orang(jumlah penumpang dalam kapal), juga ratusan ribu Yahudi dalam Holokaus.

“Superioritas dan kecerdasan mereka adalah pemicu asli dua Perang Dunia, yang telah menghancurkan Eropa, dua kali. Mereka sesumbar, namun hanya pada September 2011 baru bisa berhenti membayar hutang kompensasi untuk Perang Dunia I. “Mereka butuh waktu 92 tahun, dansementaraitukamimembantumereka, pertamamembeladiri dari Uni Sovyet dan kemudian untuk membayartagihanunifikasiJerman.” Tapi tak semua warga Italia suka dengan pembelaan macam itu. SebagianwargajugamengecamSallusti di jejaring sosial. Seorang pembaca Italia dari Twitternya bahkan mengaku malu dengan artikel Sallusti.

Satu lagi menyebut ia sedang ‘kehilangan keyakinan’ sementara sejumlah lain menyebutnya ‘menjijikan’.

Di lain pihak, Costa Cruises, operator Costa Concordia, menawarkan kompensasi sebesar •11,000 atau sekitar Rp130 juta bagi korban selamat dari musibah kapal pesiar mewah itu. Tiap penumpang pun, tanpa ada penerapan batasan umur. – Meski demikian, uang ganti rugi itu tidak ditujukan bagi para awak kapal yang juga menjadi korban, seratusan penumpang yang terluka, atau keluarga yang kehilangan orang-orang terdekatnya pada peritiwa kelabu 13 Januari lalu.

Codacons, sebuah organisasi perlindungan konsumen, menyarankan agar para penumpang menolak tawaran itu. Kini, lembaga itu sedang mengumpulkan dukungan massa demi menuntut perusahaan memberi kompensasi sebesar •125,000 per orang. Seorang pengacara dari Amerika Serikat meminta para penumpang mengajukan gugatan di Negeri Paman Sam. “Orang harus diperlakukan sebagai individu. Setiap penumpang di kapal itu mengalami efek kecelakaan yang berbedabeda,” John Arthur Eaves, sang pengacara, menukas. Sementara itu, Fransesco Schettino, kapten kapal celaka itu, masih berada dalam tahanan rumah. Ia dituduh melakukan pembunuhan dan meninggalkan kapal.(bbs/jpnn)

Galaxi Superstar Menuju Korea

DEMAM K-POP DI MEDAN

Menjadi terkenal menjadi salah satu impian bagi siapa saja. Apalagi keterkenalan tersebut hingga mancanegara, maka berbagai usaha akan dilakukan untuk mewujudkan impian tersebut.

MEDAN- Ini juga yang ditunjukkan oleh para peserta Galaxy Superstar menjadi bintang Asia, dalam audisi. Sekitar 2000 peserta yang terdiri dari wanita dan pria mengikuti ajang pencarian bakat ini. Peserta rela mengantre di pelataran parkir Amaliun Food Court untukmenunjukkanbakatnyadalamtarik suara dan menari. “Tapi kalau bisa memainkan alat musik itu akan lebih dinilai,” ujar Programming Indosiar, Ayi Farid.

Ayi menjelaskan, bahwa ajang ini terbuka untuk umum, baik solo maupun duo, tidak harus group. “Bebas untuk siapa saja, tidak harus group kok,” ujar Ayi Sabtu (28/1).

Selain diikuti oleh berbagai kalangan, yang menarik dari ajang ini adalah hadiah yang akan diberikan oleh panitia. 10 pemenang nasional akan dibawa ke Korea untuk belajar lebih jelas tekhnik tari dan nyanyi K-Pop yang saat ini sedang melanda Indonesia. “10 pemenang akan ke Korea selama 6 bulan untuk belajar nanyi dan tari, karena ajang ini merupakan kerjasama dari 2 negara,” ungkap Ayi.

Sang konseptor, Yoon Kwon yang berasal dari Korea menyatakan bahwa ini adalah proyek pertama yang dilakukan oleh PT YS Media, perpanjangan tangan pihak Korea. “Dengan kerja sama ini, kita akan membawa sistem kerjakitauntukmenghasilkanartisdengan bakat yang alami,” ujar Yoon.

Saat ini yang menjadi fenomena dalam dunia tarik suara adalah kehadiran bintang K-Pop asal Korea yang berhasilmencuriperhatianmasyarakat dunia. Selainsuara, parabintanginijuga menjual penampilan mereka yang menonjolkan karekteristiknya. Menurut Yoon, untuk membuat ini bisa dikenal di dunia membutuhkan waktu 20 hingga 30 tahun. “Tidak mudah mengenalkan musik kita ke luar, salah satu yang kita tekankan adalah karekteristik dari artis tersebut,” tambah Yoon.

Yoon menegaskan, bahwa saat pemenang yang telah menempuh pelatihan di Korea akan tetap dikenal sebagai musik Indonesia, karena selama masa pelatihan di Korea, pemenang akan dikenali dengan karekteristiknya.

“Dikenal dimanapun tetap dianggap sebagai musik Indonesia. Selama ini, artis hanya dikasih lagu, tapi dia tidak tahu, apakah itu cocok atau tidak, nah ini lah yang bisa menghilangkan kualitas dari si artis tersebut,” ungkapnya.

Dengan mempelajari karakteristiknya, diharapkan nantinya pemenang siap untuk dikenal di seluruh Asia.

Setelah audisi yang dilakukan pada 28 dan 29 Januari, audisi selanjutnya akan dilakukan di Pardede Hall dengan juri dari Jakarta. “Nanti audisi selanjutnya di Pardede Hall, jurinya Pongki dan Rio Febrian,” tambah Ayi.

Indonesia merupakan proyek pertama kerjasama dalam pencarian bakat ini bersama PT YS Media, diharapkan dapat berhasil sehingga kerjasama ini dapat berkelanjutan. “Banyak sekali bakat alami yang dimiliki Indonesia, saya sudah 2 tahun tinggal disini, dan merasa mereka tidak memiliki wadah untuk bakatnya,” ujar Yoon. (ram)

Gatot Butuh RE Nainggolan

Ditanya Pencalonan, Chairuman Bilang ‘Alhamdulillah Ya…

MEDAN-Peluang Plt Gubsu Gatot Pujo Nugroho dalam pertarungan Pilgubsu tahun depan ditentukan keandalan pasangannya kelak. Jika hendak memperbesar peluang di kursi Sumut- 1, kader PKS ini idealnya bersanding dengan mantan Sekdaprovsu RE Nainggolan. Hanya saja peluang itu bisa saja terkunci manakala RE Nainggolan memutuskan maju ke kursi nomor satu. Analisis tersebut diutarakan Ketua Dewan Pembina Forum Tapanuli, Daulat Badragaz Manurung, pada wartawan Sabtu (28/1).

“Ini menurut kaca mata politik saya. Ini juga tergantung apakah RE Nainggolan bersedia menjadi orang nomor dua. Nah, sekarang ini tinggal lagi, apakah kedua tokoh ini mau berpasangan, atau tidak.

Apa sebabnya saya katakan kedua tokoh ini berpeluang cukup besar untuk menang, karena kedua orang ini sama-sama tokoh agama,” tegas Daulat menganalisis panasnya peta pertarungan politik di Sumut menyambut Pilgubsu tahun depan.

Dalam kacamatanya pasangan ‘’pengantin’’ ini dinilai sangat klop. Gatot yang saat ini menjabat Plt Gubsu pasti diusung partai bernafaskan Islam yang kental, sementara RE- akronim dari RE Nainggolan, adalah tokoh dominan dari komunitas Batak Kristen yang diterima baik berbagai kalangan di Sumut.

“Saya rasa saudara-saudara kita dari suku Jawa di Sumut akan mendukung Gatot Pujo Nugroho.

Begitu juga dengan RE yang relatif bisa diterima semua suku. Kolaborasi keduanya bisa mendominasi dalam memperoleh raihan suara,” ujar Daulat.

Menurut dia, selain itu sudah berpengalaman dalam birokrat Mantan Sekda Pempropsu itu juga dianggap pejabat yang bersih dari korupsi semasa bertugas.

“Saya rasa tokoh-tokoh batak akan mendukung pasangan ini. Tinggal lagi apakah mungkin kedua pasangan ini bisa bersanding seiring sejalan, mengingat tarik menarik dalam politik cukup kental,” ucap Daulat.

Di sisi lain, bila disandingkan, Daulat melihat kemungkinan akan ada ‘perebutan’ posisi bakal calon gubernur dan bakal calon wakil antara RE dan Gatot. Hal ini mengingat rivalitas sesama petarung politik dalam memperebutkan posisi Sumut 1 dan 2 yang tinggi belakangan ini.

“Kini tinggal pengertian sama-sama calon dan partai politik yang mendukung. Apakah mau menjadi orang nomor dua. Kalau kedua pasangan ini menginginkan orang nomor satu, maka peta pertarungan bisa berubah,” sebutnya. Yang pasti, Gatot pun tidak akan mau menempati posisi nomor dua, sementara RE juga getol didorong sebagian kalangan untuk merebut kursi nomor satu.

Sementara itu, langkah Chairuman Harahap untuk maju sebagai calon Gubernur Sumatera Utara (Cagubsu) belum dijawab secara gambalang, hanya saja keinginannya maju sudah mulai muncul dengan membeberkan sejumlah rencananyamemperbaikiSumut.“ Alhamdulillahya, kalau memang masuk dalam bursa Calon Gubsu.

Tapi itu masih terlalu dini, nanti diproses enam bulansebelumitu,” ujarpolitisiGolkaryangduduk sebagai anggota DPR RI saat ditemui di Hotel Madani, Medan, kemarin pagi.

Dia menyebut, keputusannya ada di September 2012 mendatang, sehingga tahapannya harus dilalui terlebih dahulu. Untuk melaluinya mesti diterima aspiras-aspirasi warga Sumut.

Tokoh yang pernah ingin maju, tapi terganjal perahu untuk pencalonan membeberkan, Sumut sejak dahulu merupakan wilayah yang kayasumberdayaalam(SDA) dangemukdarisisi luas wilayah, tapi hasilnya masih seperti ini saja.

Padahal, bila dibandingkan dengan Cina kemajuannya sangat pesat, seharusnya Sumut sudah bisa mengimbanginya.

Saat disinggung mengenai pencalonan Gubsu ditentukan Musyawarah Daerah Luar Biasa (Musda LB) Partai Golkar, Chairuman menganggap pelaksanaan Musda LB bukan merupakan kebutuhan mendesak, karena targetnya adalah Pemilu 2014. Tapi tetap tak melupakan Pilgubsu.

“Maksud saya Musda LB tidak begitu penting dan mendesak,” tegasnya.

Ungkapan itu ditanggapi oleh pengamat Plitik Sumut, Nuzirwan Lubis. Menurut dia, nada ungkapanChairumanmerupakannadamalu- malu sebagai seorang tokoh yang bakal maju. Hanya saja, Gus Irawan yang sudah secara terang-terangan hendak maju menunjukkan ke arah yang lebih cepat dan mengundang simpati banyak pihak. “Gus Irawan tetap bisa menyalip Chairuman,” ucapnya.

Dia membeberkan, kekuatan Gus Irawan bisa semakin kuat jika maju bersama Fadly Nurzal, kedua tokoh muda yang memiliki kemampuan dan secara kharismatik sudah mulai disukai warga.

Artinya, tingkat popularitas keduanya sudah cukup baik sebagai sosok yang bisa diandalkan menyaingi ketokohan lainnya.

Dosen USU ini mengakui, memang ketokohan populer lainnya ada pada RE Nainggolan, karena selama bertugas sebagai birokrat sudah menunjukkan sikap yang luar biasa dan jarang terlihat menyakiti bawahannya. (rud/ril)

Nasib Anas Tergantung TB Silalahi

JAKARTA- Penonaktifan petinggi partai di Partai Demokrat, termasuk ketua umum, tak terlepas dari peran penting Komite Pengawas. Lembaga semacam tim kecil penyidik di bawah Dewan Kehormatan itu dipimpin oleh TB Silalahi. Anggota Dewan Pembina sekaligus purnawirawan jenderal yang dikenal dekat dengan Susilo Bambang Yudhoyono.

Wasekjen DPP Partai Demokrat Saan Mustofa mengungkapkan, komite yang baru ditetapkan terbentuk pada Rakornas Demokrat di Bogor, Juli 2011 lalu, itu merupakan alat Dewan Kehormatan mengumpulkan semua fakta terkait kasus tertentu.

Fakta-fakta itulah yang akan dijadikan dasar Dewan Kehormatan menjatuhkan putusan.

Komite itu beranggotakan sembilan orang. Beberapa nama yang masuk diantaranya, Suaedy Marasabessy, Sumaryono, dan Cacuk Sudaryanto.

“Jadi, kami itu punya mekanisme tertentu mengganti pejabat partai yang terindikasi melakukan pelanggaran, ada mekanismenya,” kata Saan Mustofa, di sela acara diskusi, di Jakarta, kemarin (28/1).

Karenanya, pihaknya mempertanyakan adanya wacana pelengseran Anas sebagai ketua umum yang terus mengemuka belakangan ini. Sebagaimana yang diketahuinya, belum ada petinggi partai yang membicarakan nasib Anas dan penonaktifannya dari partai. “Tidak ada yang membicarakan apalagi sampai mengagendakan Anas harus nonaktif atau mundur,” tegasnya.

Saan menambahkan, selain sejumlah kasus lain, Komisi Pengawas juga mengikuti perkembangan terakhir kasus yang masih juga marak jadi perbincangan public. Yaitu, kasus suap Wisma Atlet yang melibatkan mantan Bendahara Umum Partai Demokrat Nazaruddin. Beberapa nama petinggi partai menyusul ikut terseret namanya. Mulai dari Wasekjen Angelina Sondakh, Wabendum Mirwan Amir, Sekretaris Dewan Pembina Andi Mallarangeng, hingga terakhir Ketua Umum Anas Urbaningrum.

“Tentu ketika ada temuan yang jelas terhadap semua kader, pasti akan diproses. Termasuk jika itu ketua umum,” tandas politisi yang dikenal dekat dengan Anas tersebut.

Di tempat yang sama, Direktur Eksekutif Indobarometer Muhammad Qodari melihat, posisi Anas Urbaningrum masih belum aman. Kongres Luar Biasa (KLB) tetap bisa terlaksana kapanpun. Pasalnya sejumlah posisi strategis didominasi oleh kubu SBY.

Dia mengungkapkan salah satunya adalah komposisi di Majelis Tinggi. Majelis ini beranggotakan sembilan orang yang dipimpin langsung SBY sebagai ketua Dewan Pembina. Anggota lainnya yakni Wakil Ketua Dewan Pembina Marzuki Alie, Sekretaris Dewan Pembina Andi Mallarangeng, dan Ketua Umum Anas Urbaningrum. Ada pula Wakil Ketua Umum Max Sopacua, Wakil Ketua Umum Jhonny Allen, Sekjen Edhie Baskoro Yudhoyono, Direktur Eksekutif Partai Demokrat Toto Riyanto, dan bendahara umum yang posisinya masih kosong.

Qodari menyatakan, di lembaga partai yang memiliki kewenangan luar biasa itu orang yang dikenal dekat dengan SBY lebih dominan, yaitu sekitar 70 persen. Sisanya, baru orang dekat Anas. “Padahal, KLB bisa terjadi karena tiga hal, salah satunya usulan Majelis Tinggi ini,” tandasnya. Dia melanjutkan, faksi-faksi ini sesungguhnya adalah cerminan konflik yang masih tersisa pasca kompetisi di Kongres Demokrat 2010 lalu. “Dan, ini bisa meledak kapan saja,” imbuhnya.

Sebagaimana diketahui, pada kongres lalu, ada tiga calon ketua umum. Selain Anas Urbaningrum yang akhirnya terpilih, ada pula nama Marzuki Alie dan Andi Mallarangeng. Tentu sudah menjadi rahasia umum, SBY dan orang-orang dekatnya sebenarnya lebih menghendaki Andi Mallarangeng yang terpilih.

Namun demikian, potensi KLB atas usulan Majelis Tinggi itu dibantah oleh Saan Mustofa. Menurut dia, kewenangan strategis yang dimiliki Majelis Tinggi bukan diwilayah usulan penyelenggaraan KLB. Namun, menentukan kebijakan-kebijakan politik strategis, semisal penentuan capres/ cawapres yang akan diusung partai ataupun penentuan calon kepala daerah.

Sebab, di dalam ketentuan AD/ART, wewenang mengusulkan KLB memang tidak dimiliki Majelis Tinggi. Namun, terkait ketentuan mengenai Dewan Kehormatan, Majelis Tinggi memiliki peranan yang luar biasa. DK yang mengurusi persoalan etik organisasi itu harus melaporkan keputusan-keputusannya pada Majelis Tinggi. Selanjutnya, DPP harus menjalankan apapun keputusan Dewan Kehormatan.

(dyn/jpnn)

Kisah Tragis Bayi Satu Bulan Tewas di RSU Mitra Medika

8 Jam di ICU, Disuruh Teken Penyataan Lebih Dulu

Ibu muda itu menangis histeris begitu mengetahui buah hatinya Immanuel Pakpahan yang berusia satu bulan meregang nyawa di ruang ICU RSU Mitra Medika, Medan Deli. Mindo boru Hutabarat (32), ibu muda itu terus menyesali kelambanan pihak RS menangani anaknya. Satu lagi korban jatuh akibat pelayanan medis yang pilih kasih di negeri ini.

ROZI, Belawan

RAUT sedih dan duka bercampur kecewa tampak begitu jelas di wajah ibu dua anak ini. Bukan saja pilu lantaran ditinggal pergi putra keduanya itu, tapi juga marah lantaran anaknya terlambat ditangani tim dokter RS. Immanuel, putranya itu, yang mengidap penyakit kekurangan sel darah merah tidak mendapat penanganan semestinya selama lebih dari delapan jam. Kejadian naas itu terjadi pada Sabtu (28/1) kemarin. Satu lagi korban jatuh akibat ketidakberesan pelayanan medis di RS.

Kali ini Mindo menjadi korbannya.

Saat ditemui Sumut Pos, Mindo menuturkan penyakit Immanuel terungkap setelah dia dan Lomasi Pakpahan (34), suaminya, mengecek kondisi kesehatan sang anak di sebuah klinik di Jalan Sumatera, Belawan. Bermula dari kecurigaan terhadap anaknya yang terus-menerus menangis di rumah.

tangisan itu tak cuma beberapa jam, melainkan hingga beberapa hari. Sang bocah baru menangis bila tidur saja. Kasihan melihat anaknya yang lelah menangis, keduanya lantas membawa ke klinik terdekat. Setelah dicek, dokter klinik mendiagnosa Immanuel mengidap kekurangan sel darah merah. Dokter menyarankan sang bocah sesegera mungkin dibawa ke rumash sakit agar mendapat perawatan yang lebih intensif.

Pasangan suami-istri (pasutri) muda itu sempat kaget dengan diagnosa dokter. Namun perasaan khawatir atas keselamatan si buah hati mengalahkan rasa kaget tadi. Bermodal kartu Jamsostek, Jumat (27/1) sekitar pukul 15.30 Wib, pasutri yang berdomisili di Lingkungan 17 Kelurahan Pulo Sicanang, Belawan itu memboyong Immanuel ke RSU Mitra Medika.

Harapannya tentu tak lain agar sang anak cepat ditangani tim dokter. “Sekitar pukul 4 sore kami sudah tiba di RS. Sehabis registrasi anak kami itu langsung dibawa ke ruangan gawat darurat untuk diperiksa. Kami memang berobat di situ pakai kartu Jamsostek,” ujar Mindo dengan suara yang terisak.

Tak lama kemudian Immanuel ditempatkan di ruang Instalasi Gawat darurat (IGD). Di kamar pertolongan pertama itu pula Immanuel sempat menjalani pemeriksaan awal. Lengannya dipasang selang infus dan bagian hidung dimasukkan selang oksigen. Sekitar dua jam berada di ruang UGD, Immanuel lantas dipindah ke ruangan ICU. Di ruang ICU ini pula kisah tragis yang menimpa Mindo dan suaminya bermula.

Mindo ingat betul pukul 18.00 WIB pada Sabtu (28/1) petang kemarin kondisi Immanuel masih stabil. ‘’Masih belum kritis,’’ katanya.

Hanya saja selama berada di ruangan ICU tak satu pun dokter datang dan memeriksa anaknya.

Pihak RSU Mitra Medika justru menyarankan Immanuel segera dilakukan transfusi darah karena kekurangan sel darah merah serta cairan di tubuh. Dua jam setelah ditempatkan di ruang ICU tiba-tiba kondisi Immanuel kritis.

Mindo kebingungan menyaksikan anaknya seolah-olah berada antara hidup dan mati.

Mindo bergegas mendatangi perawat jaga yang berada di pintu ruangan ICU. Dia meminta tim dokter segera datang dan melakukan transfusi darah terhadap anaknya.

‘’Saya katakan tolong anak saya. Kalau perlu biaya tambahan kami akan siapkan,” ujar Mindo mengulangi. Namun jawaban yang diterima Mindo justru mengejutkan. Pihak RSU Medistra meminta dia meneken surat pernyataan lebih dulu. Surat pernyataan itu dibuat mengingat biaya satu kantong darah di RS tidak cukup disubsidi Jamsostek. Satu kantong darah bernilai Rp295 ribu, sedangkan Jamsostek hanya menutupi Rp200 ribu. ‘’Saya kesal karena pihak RS mementingkan surat pernyataan ketimbang menolong nyawa anak saya lebih dulu,’’ ujarnya dengan suara meninggi.

‘’Saking kesalnya saya bilang ke perawat, tolong jangan sepelekan nyawa anak saya.

Kalau soal biaya transfusi darah, kami siap membayarnya. Tapi perawatnya cuma bilang iya dan mesti membuat surat pernyataan dulu,” ucapnya.

Capek berdebat dengan petugas medis yang berjaga, Mindo mengaku akhirnya cuma bisa pasrah. Dia ingat baru sekitar pukul 23.30 WIB baru ada dokter spesialis anak yang masuk ruangan ICU untuk mengambil sampel darah anaknya. Setelah mengecek sampel darah Immanuel, sang suami lantas disuruh pihak RS membeli darah golongan A positif di RSU Malahayati Medan. Mendengar itu Lomasi segera meluncur mengambil darah buat buah hatinya itu. Sayang usaha itu tak berhasil menyelamatkan si bayi. Saat hendak kembali ke RSU Medistra, ponsel Lomasi berdering. Suara di seberang, yang tak lain adalah istrinya, mengabarkan berita yang membuat kedua lututnya lemas.

‘’Saya dikabari anak kami sudah tiada. Kalau tak salah sekitar pukul 00.30 WIB. Saya nggak bisa menahan tangis lagi, kaki pun rasanya lemas semua,” cerita Lomasi.

Apa yang dikesalkan Lomasi dan istrinya adalah lambatnya penanganan pihak RSU Mitra Medika terhadap buah hatinya. Tempo delapan jam sejak keduanya membawa Immanuel ke RS adalah masa yang relatif cukup untuk menangani putranya tersebut. “Kenapa sampai kritis dulu baru dokternya datang dan disuruh ambil darah. Kenapa tidak dari sore hari.

Padahal saat masuk ruangan UGD sudah bisa diambil kesimpulan bahwa anak saya kekurangan sel darah merah dan harus dilakukan transfusi,” ujar Mindo kesal.

Kekecewaan Mindo dan Lomas yang kehilangan anak mereka hanya sepotong cerita getir dari ribuan kisah tragis yang dialami wong cilik di RS. Pihak RS seakan tak jera menerapkan manajemen pelayanan yang tidak prorakyat, dan memberikan pelayanan dalam kacamata kelas sosial. Yang bayar kontan didahulukan, yang pakai surat miskin atau Jamsostek jangan berharap cepat dalam pelayanan.

Begitu juga halnya RSU Mitra Medika yang dimintai konfirmasi atas kasus kematian Immanuel. Tak ada petugas yang berani mengeluarkan suara.

“Saya tak tahu soal itu, tanya saja sama petugas medis di ruang ICU,” tukas perawat di lantai tiga. Sumut Pos coba mengonfirmasi yang lain. Tapi hasilnya setali tiga uang: petugas di ICU juga bungkam seribu bahasa. Oh, malangnya jadi orang tak punya di negeri ini! (*)

Kasus Nazaruddin Bikin Limbung

PERKARA suap kasus wisma atlet yang melibatkan Muhammad Nazaruddin, yang menyeret nama sejumlah petinggi Partai Demokrat, sangat mempengaruhi persepsi publik terhadap partai yang kini sedang berkuasa itu. Isu yang belakangan terus menjadi santapan media massa ini, jika terus berlanjut, bakal mengancam eksistensi Demokrat.

Pengamat politik dari IndoBarometer, M Qodari, menyebut Demokrat sekarang pada level ‘lampu kuning’.

“Partai Demokrat sudah pada posisi lampu kuning. Jika terus  menerus, bisa menurunkan Partai Demokrat dari partai besar menjadi partai menengah,” ujar Qodari saat diskusi bertema ‘Demokrat Terguncang’ di Warung daun, Cikini, Jakarta, Sabtu (28/1).

Menurut Qodary, kejayaan Demokrat dalam dua kali pemilu sebelumnya dibangun oleh citranya sebagai partai yang bersih, antikorupsi. Sosok SBY, dianggap relatif bersih. Iklan antikorupsi dengan bintang iklannya para petinggi Demokrat, antara lain Anas Urbaningrum, Andi Mallarangeng, dan Angelina Sondakh, menurut Qodary, akan dibandingkan publik dengan kenyataan sekarang. “Kasus Nazaruddin yang berawal dari suap Wafid Muharam, ternyata melibatkan nama-nama besar yang jadi bintang iklan itu,” kata Qodary.

“Posisi Demokrat berat dalam situasi seperti sekarang ini,” imbuhnya.

Potensi jebloknya Demokrat di pemilu 2014 juga disampaikan pengamat politik dari Carta Politica, Yunarto Wijaya. Pria yang biasa dipanggil Toto itu mengatakan, selain karena ada kasus hukum tersebut, masa depan suram Demokrat juga dipengaruhi tidak majunya lagi SBY sebagai capres di pilpres 2014, lantaran sudah dua kali masa jabatan.

Menurut Toto, sosok SBY sangat berpengaruh bagi perolehan suara PD di dua kali pemilu yang lalu. “Partai Demokrat akan mengalami degradasi karena SBY tak mencalonkan lagi. Jadi tidak semata-mata karena kasus Anas,” ujar Toto.

Menanggapi pandangan kedua pengamat itu, Wasekjen DPP PD, Saan Mustafa, merasa yakin publik tidak begitu terpengaruh dengan kasus Nazar. Buktinya, kata Saan, tingkat kepuasan publik terhadap kinerja pemerintahan SBY masih cukup baik. Di bidang pelayanan kesehatan dan pendidikan, kata Saan, tingkat kepuasan publik di atas 50 persen. Meski dia mengakui, di bidang hukum terjadi ketidakpuasan.

Padahal, lanjut Saan, bidang hukum tidak melulu menjadi kewenangan eksekutif. Untuk yang masih terkait dengan kewenangan eksekutif, seperti kasus Bank Century yang juga ditangani kejaksaan dan kepolisian, bisa jalan proses hukumnya. “Yang belum kan di KPK,” cetusnya. Dalam kasus dua pimpinan KPK Bibit-Chandra yang ditangani polisi, kata Saat, sikap SBY juga jelas yakni mengeluarkan deponering lewat Kejagung, agar posisi KPK tetap kuat.

Saan menuduh ada pihak lain yang sengaja mengulur-ulur kasus hukum agar posisi Demokrat terjepit, seperti kasus Century. “Ada yang sengaja kasus ini diperlambat agar Partai Demokrat tersandera. Patut dicurigai, mengangkat terus kasus-kasus ini untuk menyandera Partai Demokrat,” kata Saan. (sam)

Chris Paul Beli Rumah Mewah Avril Lavigne

LOS ANGELES-Bintang baru LA Clippers, Chris Paul, resmi menjadi pemilik rumah mewah di Bel Air Crest. Rumah itu dibeli dari penyanyi Avril Lavigne.

Awalnya Avril menjual dengan harga 9,5 juta dollar AS. Meskipun akhirnya pelantun “Sk8r Boy” ini sepakat menurunkan harga rumah mewahnya tersebut sehingga laku dijual dengan harga 8,5 juta dollar AS (setara Rp75 miliar).

Dikabarkan, Paul jatuh cinta dengan bangunan seluas 1.131,93 meter persegi tersebut. Bagaimana tidak, selain memiliki 8 kamar tidur, 10 kamar mandi, sebuah gudang anggur, 10 garasi mobil, gym, sauna, juga ruang tamu tertutup yang berada di pekarangan.

Proses pembelian rumah mewah itu sendiri konon tidaklah rumit dan tidak menggunakan makelar yang mengambil keuntungan. (net/jpnn)

Anggota TNI Tewas Lakalantas

LUBUK PAKAM-Seorang anggota TNI, Pratu Andika (24) tewas dalam kecelakaan di depan Kodim 0104 Deli Serdang Jalan Galang-Lubuk Pakam, Sabtu (28/ 1) sekitar pukul 14.20 WIB. Pria asal Padang Sumatera Barat itu terkapar tak berdaya di pinggir jalan raya dengan kondisi kepala remuk usai terjatuh dari atas sepeda motornya.

Peristiwa maut yang dialami anggota TNI AD itu terjadi saat Andika pulang dari Siantar menuju Medan bersama rekannya yang beriringan mengendarai sepeda motor Yamaha BK 6523 ABL. Mereka melaju dengan kecepatan yang tidak begitu kencang. Tiba di lokasi kejadian, dua unit sepeda motor datang dari arah yang sama menyalip kendaraan Andika. Dua kendaraan itu datang dengan kecepatan tinggi. Andika berada di tengah, diapit dua kendaraan itu. Kendaran yang ditunggangi Andika oleng tak terkendali. Korban terjatuh terpental ke aspal.

Kepala korban membentur aspal, helm yang dikenakannya pecah. Mengetahui peristiwa itu, rekan korban langsung melakukan pertolongan dengan menghentikan mobil pick up untuk membawa korban ke rumah sakit.

Luka yang dialami korban cukup parah mengakibatkan Andika tewas dalam perjalanan kerumah sakit.

Sementara itu, sepeda motor yang menyerempet Andika yang di sebut sebut berjenis Yamaha Scorpio, langsung melarikan diri. Pratu Andika dalam waktu dekat ini dikabarkan akan melangsungkan pernikahan.

Karena libur tugas, Andika ke Medan ingin menjumpai tunanganya yang baru datang dari Pekanbaru, namun ajal menjemput Andika.(btr)

Akrabi Kontroversi, Dikenang sebagai Petinju Terbesar

Muhammad Ali, Pengangkat Popularitas Tinju Profesional

Lebih dari tiga dekade Muhammad Ali melepaskan karir profesionalnya sebagai petinju. Pria yang memiliki nama lahir Cassius Marcellus Clay Jr itu kini sudah berusia 70 tahun. Meski demikian, kebesaran namanya di ring tinju dunia masih melegenda.

CLAY Jr, yang dilahirkan di Louisville, Ken tucky, Amerika Serikat (AS), 17 Janua ri 1942, meraih gelar juara dunia kelas berat kali pertama dengan cara mengesankan. Dia mengalahkan Sonny Liston dengan TKO pada ronde ketujuh dari 15 ronde di Florida, AS, 25 Februari 1964. Liston cedera leher sehingga meng undurkan diri dari pertandingan.

Saat merebut gelar juara dunia pertamanya itu Clay Jr berstatus underdog.

Liston adalah petinju yang ditakuti karena dikenal memiliki pukulan sangat keras sehingga lawannya bertumbangan di atas kanvas. Keberanian Clay Jr membuahkan hasil. Sebelum laga, dia sudah yakin akan menumbangkan Liston.

Clay Jr memiliki cara unik sebelum bertanding melawan Liston. Dalam sebuah kisah di biografinya disebutkan, dia mendatangi rumah tetangganya satu per satu. Dia ketuk pintu setiap rumah dan mengatakan bahwa dia segera menyandang status juara dunia sejati. Saat itu para tetangganya tentu saja heran. Clay Jr dianggap bercanda dan tidak waras.

Clay Jr menjadi juara dunia saat usianya masih 22 tahun. Itu sudah membuat tinju dunia geger. Belum usai keterkejutan itu, tiba-tiba dia menghadirkan kisah lain dengan memproklamasikan diri masuk agama Islam. Bukan cuma satu dua orang yang menjadi saksi Clay Jr masuk Islam. Dia melakukannya sesaat setelah mengalahkan Liston, masih di atas ring.

Dia mengucapkan dua kalimat syahadat di antara tepuk riuh penonton, kilatan lampu kamera dan di depan jutaan penonton televisi yang disiarkan di seluruh dunia. Sejurus kemudian dia mengumumkan nama barunya, yaitu Muhammad Ali.

’’Ini sesuai fitrahku sebagai manusia ciptaan Allah,’’ kata Ali saat ditanya alasan keputusannya memeluk Islam.

Simpati berdatangan, sama halnya dengan kebencian yang makin menjadi kepadanya. Pada 25 Mei 1965, Ali melakukan tanding ulang melawan Liston.

Pertandingan tersebut penuh kontroversi.

Pukulan Ali yang begitu cepat menimbulkan spekulasi di kalangan tinju yang menyebut pukulan Ali sebagai Phantom Punch. Pukulan itu begitu cepat, sehingga tidak tampak mengenai Liston yang roboh.

Banyak isu yang berkembang, termasuk suap dan ancaman orang-orang Nation of Islam (organisasi yang menjadi tempat Ali bergabung setelah memeluk Islam) terhadap Liston dan keluarganya. Tapi, Liston membantah semua itu dengan menyatakan pukulan Ali menghantamnya dengan keras.

Kontroversi kembali dilakukan Ali. Kali ini bukan di ring tinju.

Dia menolak mengikuti wajib militer pemerintah AS dalam menghadapi Perang Vietnam.

Akibat keputusan itu, Ali diskors oleh Komisi Tinju selama tiga tahun (1967-1970) dan gelarnya dicabut.

Ali kemudian dijebloskan ke penjara.

Bahkan, pada film yang mengisahkan dirinya, pemerintah AS memanggil untuk ikut wamil dengan menyebutkan nama lahirnya. Dia tak suka dengan hal itu. ’’Mulut besar’’ Ali kembali menumpahkan pernyataan kontroversial.

’’Saya tidak ada masalah dengan orang-orang Vietkong, dan tidak ada satu pun orang Vietkong yang memanggilku dengan sebutan Negro!’’ ujar Ali sekaligus sebagai tanda penolakan wamil. Dalam karir bertinjunya, Ali menjadi juara dunia di kelas berat versi WBA dan WBC.

Ali yang dinobatkan sebagai ”Petinju Terbesar Abad Ini” oleh BBC pada 1999, sempat datang ke Indonesia pada 20 Oktober 1973. Ali bertarung melawan Rudi Lubbers selama 12 ronde dalam pertandingan kelas berat tanpa gelar di Istora Senayan, Jakarta.

Oleh publik dan pers Indonesia, duel itu disebutkan sebagai ekshibisi. Namun, ternyata sebenarnya itu pertandingan resmi walau tidak memperebutkan gelar. Terakhir, Ali menginjakkan kaki di Indonesia pada 23 Oktober 1996. ’’Sebuah negara yang unik, di mana penduduknya sangat bersahabat dan selalu tersenyum kepada siapa pun,’’ tutur Ali.

Kini Ali tidak bisa lagi menari-nari dan beraksi seperti gaya khasnya saat bertanding. Parkinson menggerogoti tubuhnya sejak 1986. Meski penyakit itu belum ada obatnya, Ali tidak mau menyerah.

Dia bahkan sempat tampil sebagai pembawa obor saat Olimpiade Atlanta pada 1996. Saat itu jutaan penonton menahan haru melihat Ali yang perkasa, berjuang keras mengatasi getaran di tangannya untuk menyulut obor Olimpiade. (ady/c2/ko)

Berawal dari Kehilangan Sepeda

SEBUAH sepeda membawa Muhammad Ali menuju kebesaran namanya saat ini. Seandainya dia tidak kehilangan sepeda BMX, mungkin dunia tinju tidak melahirkan petinju terbaik pada abad ke-20.

Kisahnya bermula ketika Ali berusia 12 tahun. Sepeda yang baru dibelikan orang tuanya dicuri. Siapa yang menduga, kejadian tersebut membuat Ali kecil berkenalan dengan dunia tinju yang kemudian digelutinya hingga menjadi juara du nia tinju sejati.

Setelah sepedanya hilang, Cassius Marcellus Clay Jr (nama lahir Ali) melapor ke Joe Martin, seorang polisi. Tak disangka, Joe ternyata juga pelatih tinju. Clay Jr kemudian diajari bertinju agar bisa memukul si pencuri. Clay Jr begitu antusias.

Clay Jr giat berlatih tak cuma ingin menghajar si pencuri.

’’Mungkin juga karena aku ingin membalas perlakuan jahat teman-temanku yang berkulit putih,’’ katanya. Sejak kecil Clay Jr merasakan perbedaan perlakuan karena berkulit cokelat.

Karunia Allah untuk Clay Jr, berupa bakat serta otot yang kuat, memudahkan jalannya menjadi petinju kelas dunia.

Clay Jr memenangi pertandingan tinju pertamanya saat masih berusia 12 tahun. Lawannya dikalahkan dengan angka tipis. ’’Saya adalah yang terhebat. Saya akan menjadi juara dunia,’’ kata Ali seusai pertandingan.

Enam tahun berselang, keahlian bertinju Clay Jr bertambah.

Dia mengalahkan petinju-petinju tangguh di Olimpiade Roa, 1960. Anak Cassius Marcellus Clay Sr dan Odessa Grady Clay itu meraih medali emas kelas berat ringan.

Tak lama kemudian dia memulai debut sebagai petinju profesional dengan melawan Tunney Hunsaker. Clay Jr menang angka dalam pertarungan enam ronde tersebut. Sejak itu, prestasi demi prestasi dia raih dalam buku sejarah tinju dunia. (ady/c13/ko)

Ultah Bertiket Rp 9,1 Juta

LEGENDA tinju dunia Muhammad Ali merayakan ulang tahun yang ke-70 di kampung halamannya, Kentucky, Amerika Serikat, Senin (16/1). Selain merayakan ulang tahunnya, Ali kembali ke Kentucky untuk mendirikan Muhammad Ali Center (MAC).

Meski menderita parkinson, Ali tetap bersemangat saat merayakan ulang tahunnya di pusat kota Kentucky, Louisville, itu. Pesta ulang tahun Ali tersebut juga dijadikan ajang pengumpulan dana untuk mendirikan Muhammad Ali Center.

Rencananya, MAC adalah pusat budaya dan pendidikan serta menjadi museum tentang karir panjang Ali sebagai petinju, aktivis sosial, dan kemanusiaan.

Undangan yang hadir dalam perayaan ulang tahun Ali kali ini wajib menyumbang USD 1.000 atau sekitar Rp 9,1 juta sebagai tiket masuk. Dana itul akan digunakan untuk mendirikan MAC. Satu di antara sekian banyak tamu yang datang adalah mantan pelatih Ali, Angelo Dundee. Hadir pula di acara itu mantan juara dunia Lennox Lewis dan sejumlah selebriti Hollywood. (ady/c4/ko)

Momen Penting Karir Mohammad Ali

  •  17 Januari 1942: Lahir dengan nama Cassius Marcellus Clay Jr. Ayahnya, Cassius Marcellus Clay Sr, pelukis billboard (papan iklan) dan rambu lalu lintas. Ibunya, Odessa Grady Clay, seorang pencuci pakaian.
  • 1960: Meraih medali emas kelas berat ringan Olimpiade 1960 di Roma, Italia.
  • 29 Oktober 1960: Dalam debut di ring profesional, dia menang angka pada ronde keenam atas Tunney Hunsaker.
  • 25 Februari 1964: Merebut gelar juara dunia kelas berat dengan menang TKO pada ronde ketujuh atas Sonny Liston di Florida, AS.
  • Liston cedera leher sehingga mengundurkan diri dari pertandingan.
  • Setelah Menang atas Liston Clay memproklamasikan agama dan nama barunya menjadi Muhammad Ali. Dia masuk kelompok Nation of Islam (NOI) yang kontroversial. Dalam buku biografinya yang diluncurkan pada 2004, Ali mengaku tidak bergabung dengan NOI, tapi bergabung dengan jamaah Islam Sunni pada 1975.
  • 25 Mei 1965: Tanding ulang Ali melawan Liston yang penuh kontroversi. Pukulan Ali yang begitu cepat dijuluki phantom punch. Pukulan itu begitu cepat sehingga tidak tampak mengenai Liston yang roboh.
  • 1967–1970: Ali diskors komisi tinju karena menolak program wajib militer Pemerintah AS dalam perang Vietnam. Ungkapan Ali yang terkenal saat menolak wamil itu, ”Saya tidak ada masalah dengan orang-orang Vietkong dan tidak ada satu pun orang Vietkong yang memanggilku dengan sebutan Negro.”
  • Maret 1971: Ali kalah angka oleh Joe Frazier di New York dan harus menyerahkan gelarnya.
  • 30 Oktober 1974: Rumble in the Jungle. Ali merebut kembali gelar juara kelas berat WBC dan WBA setelah menumbangkan George Foreman di Kinsasha, Zaire, pada ronde kedelapan.
  • 1 Oktober 1975: Thrilla in Manila. Presiden Ferdinand Marcos memboyong pertandingan Ali versus Frazier III ke Manila, Filipina.
  • Ali menang TKO pada ronde ke-14 dalam pertandingan yang sangat seru dan menegangkan.
  • 15 September 1978: Ali mengalahkan Leon Spinks dengan angka pada ronde ke-15 di New Orleans. Ali mengukuhkan diri sebagai petinju pertama yang merebut gelar juara kelas berat tiga kali.
  • 6 September 1979: Ali mengundurkan diri dari tinju dan gelar dinyatakan kosong.
  • 2 Oktober 1980: Ali kembali ke ring tinju. Dia melawan bekas kawan latih tandingnya, Larry Holmes, yang menjadi juara dunia kelas berat dalam pertandingan yang berjudul The Last Hurrah.
  • Dalam pertandingan yang berat sebelah itu, Ali tidak berkutik. Ali menyerah dan mengundurkan diri pada ronde kesebelas. Holmes dinyatakan menang TKO.