26.8 C
Medan
Monday, January 19, 2026
Home Blog Page 14058

RS Tembakau Deli Terindikasi Dijual

MEDAN- Mulai 1 Januari 2012, Rumah Sakit Tembakau Deli (RSTD) resmi ditutup. Hal ini sesuai keputusan Menteri BUMN yang dikeluarkan November lalu. Para pegawai dan karyawan menduga, rumah sakit ditutup untuk melunasi utang-piutang dana IDP (Iuran Dana Pegawai) sekitar Rp789.026.420.945.

Tidak hanya itu, di kalangan pegawai dan karyawan timbul pertanyaan, kemana dan dimana dana tersebut? Padahal, dana tersebut diambil dan dipotong dari gaji mereka setiap bulan selama masa kerja.

“RSTD memang tidak bisa dipungkiri akan resmi tutup awal Januari 2012 nanti dan kita para pegawai bisa menerima keputusan itu. Masalahnya, ada apa dengan penutupan ini?” kata seorang pegawai wanita, yang enggan namanya disebutkan, saat ditemui di RSTD, Kamis (29/12).

Yang menjadi tanda tanya lagi, ditegaskan wanita tersebut, kalau memang PTPN II tidak mempunyai uang, lalu kemana uang-uang tersebut. “Kemana dananya itu? Masalahnya, dana sebesar itu dipotong dari gaji kami sejak 2003 silam sampai November 2011. Jumlahnya besar itu, kemana semua uang yang ada di PTPN II ini selama ini. Kalau memang tidak ada uang, kenapa harus RSTD ini yang ditutup. Kalau memang ditutup, kami bisa terima. Bagaimana jika sebaliknya, rumah sakit ditutup untuk dijual,” paparnya.

Hal senada dikatakan pegawai lainnya. “Sewaktu ada pertemuan dengan Komisi E DPRD Sumut, pihak PTPN II hanya diwakilkan oleh pegawai saja. Padahal ini menyangkut nasib ribuan karyawan dan pegawai di RSTD ini. Dana itu bukan jumlah yang kecil, Bang,” ujar pria dengan baju putih garis-garis biru itu.

Menurutnya, PTPN II pasti mampu mengelola keuangan tapi ke mana semua uang tersebut raib. “Jumlahnya lumayan besar. Lalu kemana uang tersebut raibnya kalau bukan ditangan para pimpinan yang terhormat tersebut,” ucapnya.”Jangan main-main dengan uang orang susah dan bawahan seperti kami ini,” timpal pegawai lainnya.

Soal penutupan RSTD semakin jelas ketika Sumut Pos mencoba menyambangi  pimpinan rumah sakit, Dr Lili Syarief Hidayahsyah. Seorang pegawai menyambut dan mengatakan sang pimpinan sedang tak ditempat. Namun, dari amatan Sumut Pos, ada yang berbeda dari ruangan tersebut, meja pegawai yang tersedia tinggal satu. “Bapak sedang keluar. Meja-mejanya sedang diberes-beresi karena Januari 2012 nanti kan rumah sakit tutup,” terang pegawai tersebut.
Kadis Keuangan, Umum, dan SDM RS Tembakau Deli, Johni Sembiring SH saat ditanyai mengenai hal ini, mengaku, tidak tahu menahu. “Saya tidak saya masalah itu. Siapa yang bilang begitu, untuk lebih pastinya tanyakan ke Kantor Direksi PTPN II di Tanjung Morawa saja. Saya tidak bisa memberikan jawaban terkait hal itu,” ungkapnya.

Soal penutupan rumah sakit ini memang menjadi polemik yang menarik. Beberapa pegawai seolah berlomba mengeluarkan unek-uneknya. “Mau dibilang apa lagi kalau memang sudah begitu keputusan dari Bapak Menteri BUMN, maka akan kami terima. Masalahnya, akan dikemanakan nasib kami. Karena jika ini ditutup, kami akan mulai dari nol lagi dan lokasi tempat kami bekerja itu akan semakin jauh. Pertanyaannya, apakah para petinggi negara ini mengerti akan nasib orang bawahan seperti kami ini,” ujar wanita berjilbab coklat di Lantai I RSTD yang enggan namanya disebutkan.

Diterangkannya, ada apa semua ini dimana rumah sakit ini sendiri berdiri sekitar 116 tahun lalu dan menerima beberapa penghargaan. “Jika memang PTPN II kekurangan dana, kenapa harus rumah sakit yang ditutup? Mungkin akan bernasib asset-aset PTPN II lainnya akan dijual,” tuturnya.

Permohonan perhatian dari mereka kembali diutarakan dengan harapan bisa menjadi perhatian Menteri BUMN, Dahlan Iskan. “Mohon kepada Bapak Menteri BUMN Dahlan Iskan, untuk turun dan memperhatikan ini. Kalaulah ada orang yang bisa mempertemukan saya dengan Bapak Menteri BUMN Dahlan Iskan, akan saya ceritakan semua ini,” paparnya.

Seorang perawat, RNS (26), yang baru setahun bekerja juga menyayangkan kenyataan ini. “Saya heran, kenapa rumah sakit ini tutup padahal rumah sakit ini beroperasi penuh,” ujarnya.

Terkait beragam keluhan di atas, anggota Komisi E DPRD Sumut Zulkifli Husein, tampaknya tak ambil pusing. Baginya, jika memang RSTD mau ditutup dan dijual, itu adalah hak PTPN II. “Silakan saja. Karena itu adalah milik PTPN II,” katanya.

Namun politisi dari Partai Amanat Nasional (PAN) tersebut mengingatkan agar uang penjualan dari RSTD itu harus benar-benar disampaikan kepada para karyawan dan para pensiunan RSTD yang telah mengabdi selama puluhan tahun. (jon/ari)

November 2011 Jamaah Haji Tiba

Kaleidoskop 2011

1 November

Jembatan kereta api di kilometer 98+885 jurusan Medan-Rantauprapat ambruk dihantam banjir pukul 08.00 WIB. Jalur yang dilewati kereta api Sri Bilah ini akhirnya ditutup selama sebulann

4 November
Nurdin Muhammad Amin (42), warga Jalan Antareja, Kramat Jati, Bekasi, Jawa Barat ditangkap petugas officer in charge di Terminal Keberangkatan Domestik Bandara Polonia Medan, pukul 4.40 WIB. Warga keturunan Aceh ini membawa 7 kilogram sabu dan rencananya terbang ke Jakarta dengan pesawat Garuda Indonesia, GA 181, yang lepas landas pukul 05.52 WIB.

5 November
Perayaan Hari Raya Idul Adha 1432 H

7 November
Ruang Staf Setum (Sekretariat Umum) Polda Sumut di Jalan Medan-Tanjung Morawa Km 10,5 Medan terbakar pukul  08.30 WIB. Untuk membantu pemadaman api, tiga unit mobil dinas pemadam kebakaran Pemko Medan turun ke lokasi.

Tak ada korban jiwa, namun tiga unit komputer, satu televisi, dua AC, satu laptop, berkas-berkas dokumen dan surat-surat ikut terbakar.

9 November
Mantan anggota DPRD Tobasa, Marisi Tambunan dan pegawai Dinas Pertanian Jakarta Suroso (45), ditangkap dengan tuduhan menipu calon pegawai negeri sipil (CPNS) di Sumut periode 2009 dan 2010 senilai Rp15 miliar. Mereka dibekuk petugas Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Sumut dari dua kawasan berbeda di Jakarta.

12 November

  • Jamaah haji kloter 01 Debarkasi Medan tiba di Tanah Air pukul 00.35 WIB.
  • Boru Hutahaean yang menyamar sebagai pengantin pria menikah dengan Boru Sagala di Gereja HKI Parmaksian, Tobasa. Pernikahan sejenis terbongkar karena biaya pernikahan Rp5 juta belum dilunasi mempelai.

14 November
Pembangunan fly over Bandara Kualanamu memakan korban. Dua pekerja PT Hutama Karya (HK), Khaidir (53) warga Dusun Amal, Desa Aras Kabu, Kecamatan Beringin dan Erwin (24) warga Dusun I A, Desa Sido Urip, Kecamatan Beringin, Kabupaten Deli Serdang, tewas tertimpa tiang beton penyangga atau paku bumi. Peristiwa di Desa Aras Kabu, Kecamatan Beringin itu terjadi pukul 12.30 WIB.

23 November
Menteri Perdagangan RI Gita Irawan Wirjawan hadir di Kota Medan. Sebagai menteri perdagangan, Gita pun melakukan kunjungan ke pasar tradisional yang ada di ibu kota Sumatera Utara ini.

27 November
Sejarah baru bagi PSMS Medan sepanjang berdiri sejak tahun 1950. Dua tim PSMS bermain di dua lokasi berbeda dalam waktu yang hampir bersamaan, yakni di Stadion Utama Gelora Bung Karno dan Stadion Teladan Medan. Di Jakarta PSMS asuhan Raja Isa dikalahkan Persija dengan skor 4-5 melalui adu penalti atas Sriwijaya FC 0-3. Sementara di Medan, PSMS asuhan M Khaidir dikalahkan Persebaya dengan skor 1-2.

28 November
Program Toba Go Green dimulai. Launcing program penanaman 1 miliar pohon ini dipusatkan di Dusun Singgolong Desa Lintong Nihuta Kecamatan Tampahan Kabupaten Tobasa. Acara penanaman pohon secara simbolis dilakulan Pangdam I/BB Mayjen TNI Lodewijk F Paulus, Pangkostrad Letjen TNI AY Nasution, Plt Gubsu Gatot Pujo Nugroho, Kapoldasu Wisjnu Amat Sastro, Bupati Tobasa Kasmin Simanjuntak, Wali Kota Medan Rahudman Harahap, dan beberapa bupati Kabupaten yang berada di seputaran Danau Toba.

29 November
Kawanan perampok menggunakan senjata api (senpi) beraksi di siang hari di sebuah pabrik tepung di Jalan Sekolah, Keluruhan Purwodadi, Kecamatan Sunggal, Deli Serdang, pukul 11.30 WIB. Korbannya bernama Lini (26), pemilik pabrik tepung, warga Komplek Tomang Elok, Jalan Gatot Subroto, Medan. Pelaku tak berhasil menggasak uang korban karena ketahuan warga.

30 November
Tanah longsor di Kampung Barije, Kecamatan Majo, Nias Selatan, Sumatera Utara sekitar pukul 14.00 WIB. Jumlah korban simpang siur, tapi sempat dikabarkan korban meninggal 7 orang dan 30 orang lainnya hilang. (data Sumut Pos)

Rutan dan Lapas Tanjung Gusta Janji Bayar Tunggakan

PLN Tunda Pemutusan Arus

MEDAN-Dengan alasan keamanan dan berjanji akan membayar lunas tunggakan rekening listrik, PLN menunda pemutusan arus listrik terhadap Rumah Tahanan Negara (Rutan) dan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas IA Tanjunggusta Medan.

Pernyataan tersebut disampaikan Kepala PLN Unit Medan Helvetia Zainuddin. “Putusan itu (di Rutan dan Lapas) kita tunda dulu. Kita menunggu instruksi dari pimpinan, karena juga pihak terkait berjanji akan melunasi tunggakan rekening listrik yang dua bulan itu. Selain itu kita juga mempertimbangkan keamanan,” ujar Zainuddinn
Apakah ada kendala yang membuat PLN menunda langkah? “Kita tidak mempunyai kendala.Tinggal menunggu perintah dari pimpinan,” tambahnya.

Zainuddin juga mengatakan, bahwa pihaknya sudah melayangkan surat peringatan langsung pada Lapas dan Rutan, sebelum melakukan pemutusan arus listrik. “Surat peringatan sudah kita layangkan. Bahkan surat itu sudah diketahui mereka. Sejauh ini, mereka belum ada memberitahukan pada kita soal kapan pembayaran,” tegasnya.
“Tindakan pemutusan kita lakukan agar tidak ada kesan tebang pilih,” ujarnya.

Hal yang sama dikatakan Manajer PT PLN (Persero) Cabang Medan Wahyu Bintoro. Kata Wahyu, ditundanya pemutusan listrik di Lapas Tanjung Gusta dan Rutan bukan karena pihak PLN pengecut, tapi lebih pada memberi toleransi. “Kami berikan toleransi hingga Januari. Jika waktu toleransi yang diberikan habis, kami langsung melakukan pemutusan listrik di dua lokasi itu, bahkan langsung dibongkar rampung. Kalau sudah dibongkar rampung dan sudah dilunasi tunggakan, Lapas dan Rutan Tanjung Gusta harus mendaftar sebagai pelanggan baru lagi,” tegas Wahyu.

Meski rencana Wahyu hendak memutuskan aliran di kedua tempat itu terbilang nekat, tapi Wahyu menganggap langkah yang dia tempuh bukan sebagai gertak sambal, apalagi gagahan. “Saya bukan mau gagah-gagahan, apalagi bermaksud cari muka dengan PLN Pusat. Sebab, saya targetkan agar tunggakkan listrik yang terjadi di wilayah kerja saya jumlahnya sedikit, walau tak bisa diangka nol,” tegas Wahyu.

Menariknya, PLN Pusat juga mendukung sikap PLN Medan. “Pak Wahyu Bintoro itu sudah cukup berani. Jadi tak perlu ada back up dari pusat. Sudah benar kok langkah Pak Wahyu itu,” ujar Bambang Dwiyanto, Manajer Senior Komunikasi Korporat PLN Pusat, kepada Sumut Pos di Jakarta, kemarin.

Lalu, bagaimana dengan keselamatan Wahyu Bintoro dan pegawai PLN lainnya? Setidaknya, ada ancaman yang diterima pihak PLN Medan. “Ancaman-ancaman seperti itu merupakan suatu dinamika bertugas. Saya percaya Pak Wahyu sudah punya strategi menghadapinya, sudah ada SOP-nya,” kata Bambang.

Dijelaskan Bambang, sebenarnya pemutusan aliran listrik merupakan tindakan wajar jika ada penunggakan. “Kalau nunggak, ya diputus, selain ada sanksi berupa denda keterlambatan,” ujarnya.

Dia membandingkan dengan pelanggan jaringan telepon, yang juga pasti akan diputus jika menunggak pembayaran. “Langganan koran saja juga diputus jika tidak membayar,” selorohnya.

Dikatakan Bambang, keberanian Wahyu tidak akan menjadi bagian dari penilaian kinerjanya. Yang dijadikan indikator penilaian terhadap kinerja pimpinan PLN di daerah, terangnya, antara lain adalah ada tidaknya tunggakan pembayaran oleh konsumen. “Kalau tunggakan besar, berarti kinerjanya kurang. Kalau tunggakan nol, berarti kinerjanya bagus,” kata Jubir PLN Pusat itu.

Seperti dijelaskan Wahyu Bintoro, tunggakan di Rutan dan Lapas Tanjung Gusta Rp224,2 juta. Rinciannya, di LP Klas I Tanjung Gusta sebesar Rp101,2 juta untuk tunggakan listrik selama dua bulan. Sedangkan di Rutan sebesar Rp123 juta. (rud/ila/sam)

Bob: Udahlah, Nggak Usah Dibuat Beritanya

Dituding tak Bayar Utang pada Anak Amiruddin

MEDAN-Kisruh Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) Medan, Syarif Armansyah Lubis alias Bob dengan Ketua DPRD Medan Amiruddin terus meruncing. Informasi terbaru, Bob bahkan dituding punya utang uang sebesar Rp70 juta dengan MI (32) dan utang barang terkait mobil Mercy yang dimiliki Bob.

“Banyak sekali utang Kadishub dengan si MI, itu terbukti dengan mobil Mercy yang digunakan si Bob tidak memiliki BPKB (Buku Pemilik Kendaraan Bermotor, Red),” kata sumber di jajaran Pemko Medan yang meminta namanya tidak disebutkan.

Sumber ini kembali menekankan bukti utang itu tak lain adalah BPKB mobil tadi. “Bila sudah selesai pembayar utang tersebut, BPKB baru dikembalikan,” jelas sumber itu.

Selain itu, dikatakan sumber itu masih memiliki utang berupa uang pada MI nominalnya sekitar Rp70 juta. “Saya tidak tahu uang itu dari mana, yang jelas si Bob berutang kepada MI,” ucapnya.

Terkait hal itu, Bob tak gentar dan kembali menantang pihak Amiruddin untuk memberi bukti. “Kalau ada dibilang gitu, tunjukkan kuitansinya. Jangan asal cakap,” katanya.

Bagaimana dengan mengenai mobil Mercy miliknya, yang dikatakan juga merupakan utang Bob terhadap MI, sehingga sampai saat ini BPKB mobil tersebut masih ditahan MI? “Itu tak ada hubungannya sama saya. Itu sama Lulu, kawan orang itu,” jawabnya.

Namun anehnya, meskipun selalu bersikeras ketika dikonfirmasi mengenai kekisruhannya dengan pihak Ketua DPRD Medan Amiruddin tersebut, terkesan Syarif Bob melemah. “Udahlah, nggak usah lagi dibuat beritanya. Dia (Amiruddin, Red) mungkin waktu itu salah menyampaikan saja soal utang-utang itu. Nanti jadi panjang lagi,” keluhnya.

Sebelumnya, pihak Polsek Sunggal kembali menegaskan kalau kasus pelemparan rumah Bob adalah benar. Petugas juru periksa sudah melakukan pemeriksaan terhadap tiga saksi termasuk pelaku diketahui berinsial MI (32).
“Sudah kita periksa tiga orang termasuk pelaku,” ucap Kapolsekta Medan Sunggal AKP Budi Hendrawan, Rabu (28/12) siang.

Budi menceritakan, MI melakukan tindakkan tidak menyenangkan terhadap rumah tinggal Syarif Armansyah Lubis di Komplek Tasbih Medan dengan cara memukul pagar tembok. Namun, tembok tersebut kokoh sehingga tidak rusak. Tindakan tersebut dipergoki satpam komplek tersebut. “Dia dibawa petugas keamanan komplek Tasbi ke Polsek kita (Polsekta Medan Sunggal),” beber Budi.

Lalu, kenapa MI tidak ditahan? Budi menjawab, hal itu hanya tindakan kriminal ringan. “(Ancamannya, Red) cuma enam bulan kurungan penjara, ini tindakan kriminal ringan,” ujar Budi Sembari mengatakan kasus ini sudah sebulan ini terjadi.

Meski begitu, Budi mengatakan bahwa pihaknya akan terus melakukan pemeriksaan terhadap saksi. “Kita akan memanggil satu saksi lagi untuk kasus ini,” pungkasnya. (ari/adl/gus)

Pulang Sekolah, Cari Rumput Baru Berlatih

Nestapa Eriyanto, Il Capitano Terbaik AC Milan Junior Camp Day 2012

Eriyanto punya bakat bermain bola yang luar biasa. Sayang, karirnya meredup dan terancam mati karena impitan ekonomi. Bagaimana kisahnya?

DHIMAS GINANJAR, Sukabumi

Tidak banyak pemain sepak bola Indonesia yang merasakan rumput Stadion San Siro, Milan, Italia. Siapa sangka, kesempatan langka itu sudah dirasakan Eriyanto, bocah 15 tahun asal Nagrak, Sukabumi, Jawa Barat (Jabar).

Kenangan manis itu memang sudah setahun berlalu. Namun, Eriyanto tetap tidak bisa menyembunyikan senyumnya kalau mengingat kisah indah tersebut. Yakni, saat dia berhasil membawa tim Indonesia junior menjadi kampiun AC Milan Junior Camp Day. Indonesia menjadi jawara setelah mengalahkan tuan rumah Italia 1-0 lewat gol semata wayang David Nathan, 14.

“Tidak akan pernah terlupakan momen itu,” ujar Eriyanto kepada Jawa Pos (Grup Sumut Pos) yang menemuinya di Nagrak, Sukabumi. Masih dengan senyum yang terkembang, dia menceritakan bagaimana bangganya bisa membuat bendera Merah Putih berkibar di San Siro.

Selain mengantarkan Indonesia juara, Eriyanto dinobatkan sebagai kapten tim terbaik oleh ofisial AC Milan. Kepemimpinannya sejak awal kompetisi dan mampu membawa Indonesia juara menjadi nilai tambah jika dibandingkan dengan il capitano tim-tim lainnya. Nilai plus lainnya, meski menjadi pemain belakang, dia berhasil mencetak gol saat Merah Putih menang 3-1 atas tim gabungan Venezuela-Brazil.

Kisah manis Eriyanto berlanjut saat tiba di tanah air. Tim Indonesia mendapat kesempatan dijamu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Eri ‘sapaan akrab Eriyanto’ yang sempat putus sekolah saat SMP seakan mendapat cahaya terang di hidupnya. Ketika bertemu dengan Presiden SBY dan Menpora Andi Mallarangeng, dia dijanjikan bakal dibiayai sekolahnya.

Tapi, janji itu hanya sebatas pemanis mulut belaka. Setidaknya hingga kini. Tidak ada bantuan apa pun yang diterima Eri. Dia juga kembali harus bertarung dengan kemiskinan. “Saya memang dari keluarga tidak mampu. Bapak merawat kambing orang,” katanya.

Menyitir cerita film Garuda di Dadaku, Bayu sang pemeran utama harus memilih antara sekolah dan sepak bola. Nah, Eri dihadapkan pilihan serupa oleh orangtuanya. Pilihannya adalah sepak bola atau bekerja. Orangtuanya berharap agar Eri fokus membantu perekonomian keluarga. Titik!

Namun, Eri tidak bisa meninggalkan sepak bola. Siswa kelas XI SMA Negeri Nagrak itu tidak kehilangan akal. Agar orangtuanya tidak menghalangi hobinya bermain bola, Eri mencoba membagi waktu. Menggembala kambing tetap dia lakukan, tetapi sambil berlatih sepak bola.

“Pulang sekolah, cari rumput dulu baru latihan,” tandas penggemar klub Barcelona itu. Strategi itu berhasil. Setidaknya, orangtuanya tidak lagi memaksa Eri agar meninggalkan sepak bola.

Sebaliknya, orangtua Eri kini getol menyemangati sang putra untuk menjadi pemain bola yang andal. Mereka berharap, sang putra yang lahir 12 Maret 1996 itu menjadi striker alias penyerang. Harapan tersebut disampaikan lantaran posisi Eri yang sering bermain di belakang dianggap kurang menguntungkan.

Namun, Eri memberikan fakta lain. Meski menjadi pemain belakang, dia tetap bisa produktif mencetak gol. Dia pun berhasil membawa SSB Asmaras menjuarai kompetisi KONI Kabupaten Sukabumi (24/12). “Meski pemain belakang, saya menjadi top scorer dengan 15 gol,” katan pemain bertinggi 168 sentimeter itu.

Eri memang ngotot agar bisa terus bermain sepak bola. Bukan semata karena dia pernah bermain di San Siro dan menjadi kapten tim terbaik. Lebih dari itu, Eri tak ingin perjuangannya yang begitu panjang berakhir sia-sia karena ekonomi keluarga yang pas-pasan.

Eri mengenal sepak bola sejak kecil. Jangan dibayangkan dia menginjakkan kaki di lapangan dengan peralatan lengkap seperti sepatu dan kostum. “Tidak ada itu semua,” tuturnya.

Meski kakinya kerap terluka, dia tidak peduli. Kelas III SD adalah kali pertama dia mengikuti kompetisi sepak bola. Sejak saat itu, dia terus dibawa kalau ada turnamen meski sekelas antarkampung dan bermain tanpa sepatu. “Kelas VI SD saya baru mengenal sepatu bola,” kenangnya.

Saat masuk SMP, Eri bertemu mantan pemain sepak bola nasional Arif Hidayat yang mendirikan sekolah sepak bola (SSB). Dia diminta untuk fokus berlatih tanpa memikirkan biaya. Ketekunan itu berbuah. Belum setahun ikut SSB, Eri mengikuti AC Milan Junior Camp Day.

Kemiskinan sempat membuat Eri minder saat melakukan seleksi untuk regional Jakarta. Penyebabnya tentu saja anak-anak kaya yang memiliki peralatan lengkap dibandingkan dengan dia. Beruntung, perasaan minder itu tidak membuatnya gagal menyingkirkan seribu kontestan lain. Dia masuk sepuluh besar dan melanjutkan seleksi di Bali.
Posisi asli Eri adalah striker. Namun, situasi memaksanya menjadi pemain belakang. Hal itu terjadi ketika salah seorang rekannya mengalami cedera saat tim sudah berada di Italia. “Dia main di belakang dan kapten yang sebenarnya,” terang Eri.

Eri tidak pernah menyangka bahwa cedera tersebut justru berbuah manis. Pelatih Yeyen Tumena mempercayakan ban kapten kepada Eri meski harus menariknya untuk bermain lebih ke belakang. Sejak itu, penggemar Firman Utina itu lebih senang bermain di belakang ketimbang striker.

Sekarang dia mengaku sedang giat berlatih. Sebab, awal Januari nanti sudah menanti sebuah kompetisi lagi. Selain untuk menghadapi kompetisi, latihan itu dimaksudkan untuk ‘menebus’ dosa. Dia merasa sangat bersalah gagal menetap di Milan pasca junior camp. Penyebabnya, tim ofisial AC Milan mengatakan bahwa skill-nya harus diperbaiki. Menurut mereka, kemampuan Eri belum bisa menggeser anak-anak muda di tim junior AC Milan. “Mereka keberatan mengeluarkan satu anak di tim junior untuk saya,” terangnya.
Walau begitu, Eri masih bisa tersenyum. Penyebabnya, tidak ada angkatan dia di camp day 2010 yang berhasil masuk tim junior AC Milan. Baik dari Indonesia maupun tim internasional lainnya. Dia yakin, giat berlatih bakal membuat mimpinya menjadi seorang pemain bola profesional menjadi kenyataan. Api semangat itu tetap dia jaga.
Mimpinya saat ini adalah bergabung dengan klub Arema Malang. “Arema tim hebat. Mereka bisa bermain cepat. Saya ingin bermain di sana,” harapnya.
Meski demikian, Eri tidak akan jual mahal kalau ada tim yang berusaha memberikan pelatihan khusus kepada dirinya saat ini. Bekal pernah merumput di Italia dengan torehan medali emas diyakini mampu menjadi daya tawar tinggi baginya. “Sekarang belum ada klub liga Indonesia yang meberikan penawaran,” katanya. (*/c4/ca/jpnn)

Dahlan: Astaghfirullah, Itu Bahaya!

Dipinang 4 Partai Besar Jadi Capres dan Cawapres

Jakarta- Dahlan Iskan menolak namanya digadang-gadang sebagai capres dan cawapres. Dia menjelaskan, dirinya bekerja dengan tulus mengabdi untuk bangsa. Tidak pernah ada niatan politik untuk meraih jabatan apapun, termasuk capres atau cawapres.

“Astaghfirullah, itu bahaya!” kata Dahlan yang kini menjabat sebagai Menteri BUMN, Kamis (29/12). Dahlan tidak ingin isu-isu soal capres dan cawapres itu mengganggu kerjanya. Karena itu dia meminta tidak perlu dibesar-besarkan soal capres dan cawapres itu.

“Bisa-bisa orang mengira saya kerja keras karena ada maksud politik. Ini bahaya! Bisa merusak keikhlasan saya dalam pengabdian,” tegasnya.

Pengamat politik dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Ari Soedjito mengatakan, jika Dahlan gegabah mengambil langkah politik, justru akan terjadi pendangkalan terhadap modal-modal politik yang sudah digenggamnya.

“Karena di politik itu justru bisa terjadi pendangkalan reputasi dan capaian-capaian yang sudah diraih. Jika Pak Dahlan terjebak pada pragmatisme, maka terjadi pendangkalan,” ujar Ari Soedjito saat dihubungi wartawan koran ini, kemarin.

Untuk saat ini, lanjutnya, Dahlan diingatkan jangan dulu mengambil sikap merapat ke partai mana. “Belum waktunya. Cukup dengan langkah-langkah gerilya. Politik tak perlu bendera, tapi cukup dengan garam, ada rasa tapi tak terlihat,” saran staf pengajar Fisipol UGM itu.

Meski diakui Ari, untuk bisa melenggang sebagai capres, seseorang perlu masuk gerbong parpol. Tapi untuk menentukan gerbong, juga tidak boleh gegabah. Jika punya prestasi tapi tak punya gerbong, langkah akan berat. “Seperti Sri Mulyani Indrawati, berprestasi tapi tak punya gerbong parpol, ya meredup,” ujarnya.
Yang perlu dilakukan Dahlan agar tidak meredup, lanjut matan aktivis 98 itu, tetap mengikuti kultur yang low profile, tapi dengan gerakan-gerakan politik yang high profile.

Seperti diberitakan, empat partai besar yakni Demokrat, Golkar, PKS dan PAN berebut meminang Dahlan. Partai Golkar mengintip peluang untuk memasangkan Aburizal Bakrie dengan Dahlan Iskan sebagai pasangan bakal kontestan Pilpres 2014.

PKS pun ingin menyandingkan Dahlan Iskan dengan tiga jagoan pilpresnya yakni Luthfi Hasan Ishaaq, Hidayat Nur Wahid, atau Anis Matta. PAN juga membuka peluang menyandingkan Hatta-Dahlan. Sedang politisi Demokrat, Ruhut Sitompul, merasa Demokrat lah yang paling dekat dengan Dahlan. (sam/jpnn)

Rasa Suka Itu Harus Disyukuri

Angelina Sondakh

Politikus Partai Demokrat (PD) Angelina Sondakh terus menjadi sorotan. Beredar foto mesra dia dengan kekasihnya yang bertugas di Mabes Polri, Kompol Brotoseno. Angie yang tengah liburan di luar kota tidak ambil pusing dengan foto itu.
“Dia tidak tertarik membahas kehidupan pribadi, kata Angie biar mengalir saja,” jelas sahabat Angie, Kahfi Siregar,Kamis (29/12).

Kahfi yang juga kolega Angie di Partai Demokrat ini baru berbicara dengan Angie lewat telepon kemarin pagi. Dalam perbincangan itu, Angie sudah mengetahui soal fotonya yang beredar. Angie hanya tertawa terkekeh saja saat ditanya Kahfi soal kebenaran foto itu. “Rasa suka itu harus disyukuri,” jelas Angie yang tengah melakukan kunjungan ke daerah.(net/bbs)

Gatot Ngaku Banyak Kekurangan

MEDAN- 2012, pintu seluruh jajaran pejabat di lingkungan Pemerintahan Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu) harus dibuka alias dilarang untuk ditutup.

Itu dikemukakan Pelaksana Tugas (Plt) Gubsu Gatot Pujo Nugroho, saat menjadi pembina upacara, pada apel terakhir tahun 2011 Pemprovsu, di Halaman Upacara Kantor Gubsu, Jalan Diponegoro Medan, Kamis (29/12).
Gatot mengatakan, agar di tahun 2012 yang tinggal beberapa hari ke depan, seluruh PNS harus melakukan perubahan yakni, dengan menghadirkan pelayanan terbuka dan transparan oleh pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terhadap staf di jajarannya. Hal itu dilakukan sebagai wahana untuk berkonsultasi dalam melaksanakan Tugas Pokok dan Fungsi (Tupoksi) masing-masing.

“Saya ingin, mulai tahun 2012 seluruh ruangan kerja, dari ruang Plt Gubsu, Sekdaprovsu, Asisten dan Kepala SKPD jangan ada yang pintunya tertutup. Ini bertujuan agar memudahkan pimpinan tersebut bisa ditemui stafnya, ketika akan berkonsultasi. Untuk tamu dari luar, tentu akan ada mekanisme dan prosedurnya,” katanya.

Keterbukaan itu, maksudnya, menjadi upaya perubahan untuk memberikan pelayanan lebih cepat serta bisa memangkas jalur birokrasi yang selama ini cenderung tertutup.

“Di sisi lain ini akan menghadirkan pelayanan yang transaparan dan cepat,” tambahnya.
Pada kesempatan itu, Gatot mengakui, ada beberapa kemunduran di Tahun 2011 ini dan itu bukan hal yang menggembirakan alias mengecewakan. Antara lain, pengesahan APBD 2012 yang lebih lambat dibandingkan APBD 2011. Kemudian, masih adanya kegiatan besar yang menumpuk di akhir tahun seperti tahun-tahun sebelumnya.(ari/jpnn)

20 Kabupaten/Kota di Sumut Belum Salurkan BOS

JAKARTA- Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Menkokesra) Agung Laksono mengancam akan memberi sanksi kepada Pemerintah Daerah yang tidak tepat waktu menyalurkan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Bahkan, Agung mengancam akan membawa masalah keterlambatan penyaluran BOS ke ranah hukum.
“Rencananya saya akan minta agar ini dimasukkan pidana,” tegas Agung saat memberikan keterangan pers di kantornya,  Jakarta, Rabu (28/12).

Menurut mantan ketua DPR itu, selama triwulan IV 2011, sebanyak 276 kabupaten/kota belum menyalurkan dana BOS. Termasuk 20 kabupaten/kota di Sumut. DKI Jakarta merupakan satu-satunya provinsi yang telah menyalurkan dana BOS 100 persen.

Agung memperingatkan kepada Pemda kabupaten/kota agar dana BOS disalurkan tepat waktunya. Dikatakanya, ada macam-ma cam alasan Pemda menolak menyalurkan dana BOS. (kyd/jpnn)

Dipantau, Tentara Syria Tembaki Demonstran

DAMASKUS – Tim pemantau Liga Arab melanjutkan tugasnya memonitor proposal perdamaian di tiga kota Syria kemarin (29/12). Tetapi, di Damaskus tim justru disuguhi rentetan tembakan yang dilancarkan tentara pemerintahan Presiden Bashar al-Assad kepada demonstran.

Sedikitnya, 13 orang dilaporkan tewas dalam penembakan tersebut.
Tim pemantau Liga Arab itu memulai misinya dengan pernyataan kontroversial. Ketua delegasi yang berasal dari Sudan, Letnan Jenderal (Letjen) Mohamed Ahmed Mustafa al-Dabi, mengaku tidak melihat sesuatu yang menakutkan saat kunjungan pertamanya di Kota Homs pada Selasa lalu (27/12). Kemudian, dia menyatakan memerlukan waktu tambahan untuk membuat kesimpulan soal kota tersebut.

Pemilihan Mustafa al-Dabi memicu protes dari oposisi Syria. Dia memegang jabatan kunci dalam pemerintahan di Sudan. Padahal, pemerintah negara di Afrika itu terlibat dalam pembantaian di wilayah Darfur.
Tim pemantau melakukan kunjungan singkat ke Kota Homs pada Selasa lalu dan langsung kembali ke ibu kota keesokan harinya (28/12). Dalam perjalanan pun, mereka dikawal tentara. Hal itu membuat demonstran marah dan menyerbu mobil mereka.

Tim Liga Arab akhirnya kembali ke Distrik Baba Amr, salah satu wilayah terburuk terkena dampak konflik militer dan demonstran antipemerintah, untuk melihat bangunan yang rusak akibat serangan tentara pro-Assad. Tim Liga Arab mendengar kesaksian orang-orang yang kehilangan teman dan sanak keluarganya. Saat itulah sebuah keluarga memperlihatkan kepada anggota tim satu jenazah korban.

Kemarin pasukan keamanan Syria kembali menembaki puluhan ribu demonstran di luar sebuah masjid di wilayah Douma, pinggiran Damaskus. Lokasi penembakan dekat dengan kantor pemerintahan yang sedang dikunjungi anggota tim Liga Arab. Empat orang tewas dalam insiden tersebut.

Kekerasan juga terjadi di wilayah lain pada saat hampir bersamaan. Misalnya, di kota dan Provinsi Idlib yang ada di utara Syria, Hama di bagian tengah, serta Provinsi Daraa di selatan. Total tercatat sedikitnya 13 orang tewas dalam insiden bentrok di berbagai wilayah itu.

Kekerasan dan pelanggaran HAM yang terus berlanjut saat tim monitor Liga Arab tiba di Syria tersebut membuat oposisi kecewa. Mereka menilai bahwa kerja sama terbatas antara rezim Assad dan tim pemantau tidak lebih dari upaya mengulur waktu dan upaya menghambat penjatuhan sanksi maupun kecaman dari dunia internasional.
Langkah pencitraan rezim Assad juga terlihat dari upaya pembebasan 755 orang yang ditahan selama sembilan bulan dalam demonstrasi antipemerintah. Pengumuman kebijakan itu disiarkan televisi Rabu (28/12) waktu setempat.
Sebuah laporan menyebutkan, para tahanan itu terlibat dalam sejumlah insiden kekerasan terakhir dengan militer. “Namun, tangan mereka sama sekali tak berlumur darah,” ujar sebuah seumber.

PBB menyatakan, lebih dari 14 ribu orang ditangkap dan ditahan di Syria karena ikut dalam demonstrasi. Lalu, lebih dari 5 ribu orang tewas akibat represi tentara Assad dalam menghadapi demonstran. (rtr/afp/cak/dwi/jpnn)