Home Blog Page 14062

Mimpi Kuasai Pasar Sumatera

Lie Ho Pheng, Pengusaha Furniture yang Bangga dengan Produk Lokal

Lie Ho Pheng, pengusaha furniture pemegag merek dagang Lipeng, punya mimpi besar. Dalam 5 tahun, furniturnya akan merajai pasar di Pulau Sumatera.

DUNIA perdagangan dikenalnya sejak masih belia. Tepatnya semasih duduk di sekolah dasar.

Saat itu, Lie Ho Pheng yang akrab disapa Hopeng sudah terbiasa mengayuh sepeda sejauh 50 kilometer sambil menjajakan kue buatan sang mama.

Saat berusia berusia 17 tahun, Hopeng memulai bisnis sendiri, berjualan pakan dan anak ayam di Kota Pematangsiantar. Kegiatan ini dilakoninya pulang balik Perbaungan- Siantar. Setahun kemudian, bisnisnya ‘naik derajat’.

Hopeng menjual ayam potong. “Ngambil dari peternakan di Perbaungan, dibawa dengan bus ke Siantar,” ujar Hopeng saat ditemui di tokonya Toko Lipeng di Jalan Letda Sujono.

Saat usahanya mulai menunjukkan hasil memuaskan, Hopeng malah mengalami kecelakaan. “Waktu naikkan ayam saat bus berjalan, saya dihantam ranting pohon.

Saya trauma, risiko pekerjaan dagang ayam terlalu tinggi,” ujarnya.

Lie Ho Pheng.//dok pribadi

Tahun itu juga, 1980, Hopeng banting setir, menjadi buruh di pabrik perabot Makmur Jaya. Di tempat ini, ia cepat menyesuaikan diri. Baru enam bulan bekerja, Hopeng sudah menjadi orang kepercayaan pemilik usaha. “Saya jadi wakil bos. Cepat kan?” ucapnya tersenyum.

Di Makmur Jaya pula Hopeng banyak belajar dunia usaha furniture. Mulai dari pengolahan bahan baku hingga pemasaran.

Dia mulai dikenal pemasok bahan serta para pemilik toko pelemparan hasil pabrik.

Berbekal pengetahuan itu, Hopeng bersama kakaknya membangun pabrik furniture di Perbaungan. Dimulai dari nol, menerapkan pengetahuan yang diperoleh selama berguru di Makmur Jaya. Sayang, beberapa tahun usaha tempatnya menimba ilmu itu gulung tikar.

Ternyata jiwa dagang Hopeng kembali bergelora. Melihat geliat pasar furniture di Kota Medan, Hopeng memilih menyerahkan pengelolaan pabrik furniture di Perbaungan kepada kakaknya. Meski tetap berstatus sebagai salah satu pemilik usaha di Perbaungan, dia memilih hijrah ke Jalan Medan dan membuka usaha jual beli furniture pada 1988.

Baru dua tahun ditinggalkannya, pabrik furnitur di Perbaungan pailit. Utang menumpuk sementara 17 karyawan tidak gajian selama beberapa bulan. “Hutang lebih dari 100 juta. Waktu itu nilai segitu sudah sangat besar. Sementara pemasok bahan sudah tidak percaya lagi kepada abang saya,” kenangnya.

Tak ingin usaha yang dirintisnya dari awal itu gulung tikar. Hopeng turun gunung membenahinya.

Apa yang dilakukannya? “Pertama, saya kumpulkan karyawan dan saya ajak bicara satu persatu. Saya tanya, apakah mereka masih mau bekerja dengan kondisi prihatin kalau saya yang memegang pabrik. Bagusnya, semua mereka bersedia. Kalau Pak Hopeng yang pegang, kami maulah kerja lagi’. Begitu jawaban mereka,” paparnya megenai langkah awal penyehatan usaha tersebut.

Selanjutnya, dia mengangkat seorang karyawan bernama Surono sebagai pelaksana tugas di pabrik. “Kalau di sekarang, fungsi Surono seperti CEO lah. Ternyata usaha mesti seperti itu. Walau cuma usaha keluarga, kita tetap harus mengangkat orang lain untuk membantu menjalankannya,” ungkap Hopeng lagi.

Selesai urusan karyawan, Hopeng mendatangi tauke-tauke tempat kakanya berhutang dan meminta keringanan penundaan pembayaran. “Mereka setuju dan percaya kepada saya. Tapi itu belum cukup. Usaha belum bisa dijalankan karena tidak ada modal sama sekali. Saya kemudian mengutang bahan baku dan mereka memberikan.

Mungkin mereka melihat kesungguhan saya,” katanya pasti.

Sedikit demi sedikit permasalahan dapat diatasi. Perlahan namun pasti, usaha mulai berjalan dan karyawan mulai tenang bekerja.

“Syukurlah. Setelah berjuang bertahun-tahun, pada 1990 semua utang tertutupi dan usaha mulai untung,” ucapnya lega, seolah hal itu baru saja dilaluinya.

Hopeng lalu mengembangkan usahanya dan terus meningkatkan produksi. Tapi tantangan belum selesai. Delapan tahun menikmati masa kejayaan, pada 1998, usahanya dihantam kesulitan, dampak krisis keuangan di Amerika. Hopeng kembali mengutang, tetapi hasilnya malah makin sulit.

Pasar lokal sekalipun susah ditembus. Furniture mereka tidak terserap pasar yang sedang lesu.

Hopeng hampir putus asa. Hingga sebuah cahaya di kejauhan terlihat olehnya. Waktu itu, dia sedang mendengar siaran radio, membahas masalah krisis. Saat itu ekonom Aviliani sedang menjadi pembicara, membahas topik, bagaimana pengusaha bisa bangkit dari hadangan krisis moneter. Saat itu Aviliani menjabat sebagai Wakil Direktur Pengembangan Bisnis Institute for Development of Economics and Finance (INDEF).

Dalam sesi tanya jawab langsung, Hopeng segera menghubungi nomor telepon yang disediakan. “Setelah tersambung, nunggunya lama sekali. Habis banyak pulsa juga waktu itu. Ha… ha… ha…,” kata Hopeng sambil memperbaiki posisi duduknya.

Setelah tersambung, Hopeng diminta memperkenalkan diri dan membeberkan masalahnya. Setelah mendengar penuturan Hopeng, Aviliani memberikan petunjuk.

“Katanya, Pak Hopeng, dalam kondisi ekonomi seperti ini, ada dua hal yang bisa Bapak lakukan. Pertama, turunkan mutu demi menurunkan harga jual dan lemparkan produk ke wilayah yang tidak ter imbas krisis.” Nasihat Aviliani dicermatinya dengan baik. Saran pertama mudah dilakukan, Hopeng lalu menurunkan kualitas produk agar harganya lebih murah. Bagaimana dengan saran kedua? Lama mempelajari, Hopeng memutuskan melempar produknya ke wilayah Asahan dan Labuhan Batu, wilayah pemasok kelapa sawit yang justru menangguk untung besar saat krisis terjadi.

Manjur. Dua saran Aviliani berhasil membuat Hopeng membawa usahanya keluar dari masalah. Usahanya kembali bangkit dengan jangkauan pemasaran yang makin luas. Dari Asahan dan Labuhan Batu, pemasarannya merambah ke Padang dan Riau.

“Makanya, saya lebih percaya pada ahli daripada bertanya pada pekong,” ujarnya.

Hingga saat ini, pasar usahanya sudah mencapai Provinsi Aceh, Riau, Padang dan Jambi.

Hopeng lalu memasang target lebih besar lagi.

“Tahun ini saya menjajaki pasar di Sumatera Selatan. Dalam lima tahun kedepan, saya menargetkan sudah mengisi pasar seluruh Pulau Sumatera,” katanya bertekad.

Untuk mencapai mimpi besarnya, Hopeng menjadikan langkah-langkah yang diambil manajemen Air Asia yang berkembang atas bantuan media massa.

“Saya senang membaca kisah pengusaha sukses, termasuk membaca buku tentang Steve Jobs, si pendiri perusahaan Apple yang melegenda itu,” paparnya lagi. (tms)

Punya Merek Dagang Jempolan

MEREK dagang sejatinya berfungsi memudahkan konsumen mengenal suatu produk . Dan merek Lipin yang disematkan pada springbed dan furnitur lain produksi usaha milik Lie Ho Pheng punya cerita sendiri. Merek lokal ini diambil dari perkawian namanya dan istri. “Li dari nama istri saya, Lili. Kalau Pin dari nama saya,” urainya.

Soal makna sepenggal kata yang dipilih, tak pernah diduga kalau itu sebuah ungkapan tentang sukses dan kemapanan. “Dalam bahasa Mandarin, Li berarti kekuatan dan Phin artinya stabil. Kalau digabungkan Lipin berarti kekuatan yang stabil.” Diakui Hopeng, hal itu disadarinya setelah mendapat pemahaman dari beberapa rekannya. Dan ternyata, merek dagang itu diakuinya jempolan. “Saya bangga punya merek dagang sendiri dengan citarasa lokal, tidak meniru merek terkenal yang berbau asing,” ujarnya.

Dengan semangat mempromosikan produk lokal pula, Hopeng aktif mengkampanyekan cinta produk lokal kepada orang-orang, di manapun dan kapan pun. “Bukan hanya produk nasional, tetapi produk lokal,” katanya menegaskan.

Pada 2002 lalu, Hopeng mendaftarkan merek dagangnya ke Kemenkum dan HAM RI. Dengan merek dagang lokal ini pula, Hopeng berani ‘menantang’ furniture sejenis buatan daerah lain, maupun merek-merek internasional.

“Saya bangga dengan produk kami. Semoga masyarakat Sumut juga bangga dan membeli produk-produk buatan Sumatera Utara,” harapnya.

Promosi dari mulut ke mulut dan melalui media massa yang dilakukan sendiri, dirasa lebih tepat dibanding menunggu bantuan promosi dari pemerintah.

Selain itu, Hopeng menjadi salah satu pengusaha kerap menyuarakan antipungli. “Itu karena saya sering bersentuhan dengan masalah pungli yang melibatkan oknum birokrat,” katanya.

Dia mencontohkan ulah petugas sebuah dinas dari Pemkab Deliserdang yang menagih pajak reklame dengan mendatangi tokonya. Petugas meminta Hopeng membayar pajak reklame tahunan senilai hampir Rp3 juta. “Saya cuma bilang, saya hanya akan mau bayar kalau kamu bisa tunjukkan Perdanya. Saya kan tidak bodoh,” ujarnya.

Karena memang Deliserdang tak punya Perda Pajak Reklame, petugas itu akhirnya melongos pergi. (tms)

Bangga Anak cuma Tamat SMA

BERSAMA KELUARGA: Lie Ho Pheng bersama istri dan dua putra dan dua putrinya.//dok pribadi

PUNYA anak yang berhasil menempuh jenjang sekolah tertinggi tentu membanggakan orangtua. Demikian juga Lie Ho Peng. Meski demikian, pengusaha sukses ini sangat bangga dengan anak sulungnya yang hanya lulusan sebuah Sekolah Menengah Atas (SMA).

“Ya bangga lah. Naik berapa tingkat dibanding saya,” sebut Openg, penggilan akrabnya.

Ucapan Hopeng ternyata didasari perjalanan pendidikannya yang tak sampai memegang ijazah Sekolah Dasar (SD).

“Saya Cuma tamatan SDTT,” ucapnya lantas tertawa.

Ternyata singkatan itu bermakna Sekolah Dasar Tidak Tamat. “Saya memang tak lulus SD, karena memilih bekerja daripada sekolah,” sebutnya memberi alasan.

Ia kemudian mengisahkan bagaimana kehidupan keluarganya kala itu yang digambarkannya sebagai keluarga miskin di sebuah kampung di Perbaungan. Dan sedari kecil sudah dipaksa mencari uang. Mulai membantu ibunya berjualan kue, bekerja serabutan hingga memutuskan tidak ikut ujian akhir SD demi mengejar harapan dengan ‘merantau’ ke sejumlah kota hingga berlabuh di Kota Medan.

Pria yang selalu tampil ceria ini lebih berbangga. Meski si sulung hanya bertahan tiga bulan di bangku kuliah, anak keduanya, Indriyani, sudah diwisuda setahun lalu dari sebuah sekolah tinggi bisnis dan manajemen komputer di Medan.

Sedangkan dua anak kembarnya, Ferdyanto dan Silfanny saat ini masih duduk di bangku SD.(tms)

Rumah Murah Diusulkan Bebas Biaya

KEMENTERIAN Perumahan Rakyat (Kemenpera) mengusulkan penghapusan sejumlah beban biaya dalam pembangunan rumah bagi kalangan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Hal itu dimaksudkan untuk mengurangi jumlah backlog (kekurangan) perumahan yang saat ini telah mencapai 13,6 juta unit.

“Saat ini pemerintah sedang mengupayakan penurunan harga jual rumah sejahtera bagi MBR,” ujar Menteri Perumahan Rakyat Djan Faridz, dalam rapat kerja dengan Komisi V DPR RI terkait pelaksanaan kebijakan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) kemarin. Penurunan harga jual rumah itu diharapkan dapat terlaksana melalui sejumlah pengurangan beban biaya.

Djan merinci usulan pembebasan bebab biaya itu antara lain terkait dengan biaya sertifikasi tanah dimana surat resmi dari Menpera sudah selesai dibuat dan dikirimkan kepada Badan Pertanahan Nasional (BPN). “Selain itu juga sejumlah beban biaya lain seperti SIPPT (Surat Izin Penunjukan Penggunaan Tanah), IMB (Izin Mendirikan Bangunan) dan PPn (Pajak Pertambahan Nilai),” terangnya.

Bukan hanya itu, Kemenpera juga mengusulkan agar rumah sejahtera dibebaskan dari biaya penyambungan listrik dan gambar instalasi listrik.

Lantas juga diharapkan ada pembebasan beban biaya untuk pengembangan air minum. “Dengan dihapuskannya sejumlah beban biaya itu kita harapkan harganya lebih terjangkau bagi masyarakat berpenghasilan rendah,” tegasnya.

Djan juga akan mengupayakan penurunan harga jual rumah sejahtera melalui pemberian bantuan prasarana, sarana, dan utilitas (PSU) kepada pengembang.

Bantuan PSU tersebut berupa pembangunan jalan lingkungan, drainase, jaringan air minum, jaringan listrik, persampahan, dan air limbah yang akan dilaksanakan dengan sistem “reimbursement”.”Surat untuk itu sudah dikirim ke LKPP (Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah),” katanya.

Menpera meyakini bahwa pada pekan pertama bulan ini akan ada suku bunga KPR baru untuk FLPP yang disetujui bersama-sama antara pemerintah dengan pihak perbankan. Menurutnya, kebijakan penurunan suku bunga tersebut akan meningkatkan kemampuan masyarakat dalam membeli rumah.

“Sehingga hal itu juga akan mengurangi jumlah backlog (kekurangan perumahan) yang jumlahnya mencapai 13,6 juta unit pada 2011,” tuturnya.

Deputi Bidang Perumahan Formal Kemenpera, Pangihutan Marpaung mengaku berniat menaikkan batas nilai rumah bebas pajak pertambahan nilai (PPN) dari sebelumnya Rp 70 juta menjadi Rp 88 juta per unit. Kenaikan batas rumah bebas PPN ini sebagai solusi kewajiban batas luas minimal rumah sebesar 36 meter persegi. (wir/kim/jpnn)

SSB SPM dan Generasi Medan Jumpa di Final

MEDAN- SSB Surya Pratama Marendal (SPM) melaju ke babak finalpadaPialaEutagMabarPutra2012.

Keberhasilan ini setelah mengalahkan SSB Hendra Delitua di babak semifinal di Lapangan Mabar Jalan Mangaan Medan Deli, Sabtu (4/2).

Hasil itu diperoleh dari adu penalti setelah kedua kubu menyelesaikan pertandingan pada dua babak dengan skor 0-0. Pertandingan semi final tersebut berlangsung aman dan sportif.

Dari Awal babak pertama, SSB SPM besutan Hendri Dinal ini sudah menunjukkan kualitas yang cukup baik, ditandai dengan forsi serangan yang lebih dominan dan hampir mengecohkan pertahanan lawan.

Begitu juga dengan SSB Hendra Delitua yang tidak tinggal diam melihat situasi itu. Dengan sigap SSB ini berusaha membalas semua serangan yang mengarah ke daerah pertahanannya.

Namun semua tindak-tanduk kedua kubu yang bertanding belum juga merubah kedudukan. Sehingga babak pertama hanya dihiasi dengan angka kacamata 0-0.

Masuk babak kedua, kedua tim mulai melakukan tempo pertandingan cepat. Serangan bertubi-tubi berbalasan juga mewarnai pertandingan.

Tapi semua usaha yang dilakukan kedua kubu juga tidak dapat menunjukkan perubahan yang signifikan yang berakhir dengan skor 0-0.

Untuk penentuan siapa yang bakal maju ke babak final, Minggu (5/2) pertandingan ditambah dengan adu penalti. Wasit menentukan masing-masing SSB diwakili oleh empat orang penendang.

Tendangan pertama diawali oleh SSB SPM dan berhasil dieksekusi oleh David dengan nomor punggung 8 yang juga bertindak sebagai kapten.

Demikian juga tendangan kedua hingga ketiga berhasil diselesaikan SSB SPM oleh Singgih dengan nomor punggung 9 dan Aziz dengan nomor punggung 10.

Tapi sayang, tendangan keempat Robi dengan nomor punggung 2 mengalami kesalahan dan tidak berhasil menyelesaikannya.

Tetapi tendangan terakhir berhasil dilaksanakan P Aziz yang menjadi gol terakhir dan penentu kemenangan SSB ini. Sementara SSB Hendra Delitua gagal pada tendangan kedua dan ketiga.

Maka dengan berakhirnya sesi adu penalti itu, SSB SPM tercatat sebagai pemenang dengan skor 4-3 dan berhasil masuk ke babak final.

Dengan demikian SSB Hendra Delitia harus puas sebagai juara ranner- up pada turnamen kali ini.

Sementara di partai sebelumnya SSB Generasi Medan telah mengalahkan SSB Medan Utara dengan skor 4-3 sehingga untuk babak final SSB SPM akan berhadapan dengan SSB Medan Utara.

“Sebagai pelatih tentunya saya bangga terhadap hasil sementara ini, dan formasi permainan akan kami sesuaikan lagi untuk final besok,” tutur Hendri kepada wartawan.

Surya Darma sebagai Ketua Umum SSB SPM mengatakan, semua pengurus akan terus memberikan perhatian yang lebih lagi demi kemajuan para pemain.

Di tempat yang sama, Ruslan mengucapkan penghargaan yang setinggi- tingginya kepada setiap peserta dan pendukung yang ikut ambil bagian pada pertandingan musim ini.

“Mudah-mudahanpertandinganfinal berlangsung baik dan lancar,” tambahnya.

(mag-10)

Gelar 120 Even dan Maksimalkan Sirkuit Multifungsi

MEDAN- Pengprov Ikatan Motor Sumatera Utara (IMI Sumut) telah mengagendakan 120 kegiatan sepanjang tahun 2012 nanti. Dari jumlah tersebut, tiga diantaranya merupakan event kejurnas serta tiga kejuaraan reli, seperti yang pernah digelar pada tahun 2011 lalu.

Demikian antara lain paparan Ketua Pengprov IMI Sumut Ijeck di hadapan peserta Rapat Kerja Daerah (Rakerda) IMI Sumut 2012 di Royal Room, Hotel Danau Toba, Medan, Sabtu (4/2).

Hadir dalam Rakerda IMI Sumut 2012 antara lain Gubsu yang diwakili Kadispora Sumut Ristanto SH, Dirlantas Poldasu Kombes Pol Drs. Bambang S mewakili Kapoldasu, Kadis Pertamanan Kota Medan Erwin Lubis mewakili Wali Kota Medan, Kabid Organisasi PP IMI Billy Marbun, dan Ketua KONI Sumut Gus Irawan Pasaribu.

Diungkapkan bahwa even kejurnas yang bakal bergulir di Sumut, nanti antara lain road race, drag race dan drag bike, sementara tiga seri kejuaraan reli Sumatera Utara 2011 masing- masing dijadwalkan pada April di Langkat, Juli di Sergai dan di Medan yang berlangsung Oktober mendatang.

“Pada tahun 2012 ini kita mentargetkan even yang lebih baik lagi dari tahun sebelumnya, dengan fokus kepada roda dua baik road race ataupun motocross. Apalagi sekarang ini sudah ada sirkuit road race dan sirkuit motocross sedang dalam persiapan,” sebut Ijeck.

“Mudah-mudahan dengan adanya sirkuit ini atlet-atlet kita bisa lebih berprestasi, karena keberadaan sirkuit itu memang untuk menggairahkan olah raga otomotif di Sumatera Utara. Hal ini dibuktikan dengan minimnya biaya yang dikenakan kepada pihak-pihak yang ingin menggelar kegiatan di sirkuit mutifungsi IMI Sumut tersebut,” tambah Ijeck lagi.

Ketua KONI Sumut Gus Irawan dalam sambutannya mengatakan, dengan 120 event yang digelar setiap tahun, maka Pengprov di Sumut yang paling banyak kegiatannya dan juga paling teratur adalah IMI Sumut.

Di kesempatan ini, Gus Irawan meminta IMI Sumut untuk lebih fokus membina tiga atlet balap motor yang lolos ke PON 2012, dengan harapan bisa meraih prestasi di Riau nantinya.

“Kita tentu berharap IMI Sumut bisa mensupport langsung atlet-atlet yang berlaga di arena PON nantinya,” ucap Gus Irawan.

Ketua Panpel, Kisharyanto Pasaribu menyebutkan, Rakerda IMI Sumut 2012 diikuti 31 klub.

Sebelum Rakerda, pagi harinya IMI Sumut bekerja sama dengan Bank Sumut menggelar bhakti sosial Peduli Sekolah, yakni menyerahkan bantuan buku kepada 1.000 anak di Belawan.

(jun)

Rp300 M untuk Bina Usia Muda

BOGOR- Dari dana Rp 900 miliar yang dianggarkan oleh PSSI untuk membangun sepak bola Indonesia, sekitar sepertiga bagiannya akan dialokasikan untuk pembinaan usia muda. Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum PSSI, Djohar Arifin Husin, di sela rapat kerja PSSI di Hotel Poencer, Cisarua, Bogor.

“Sekitar Rp 200-300 miliar itu ke usia muda,” ungkapnya.

Djohar menegaskan, pembinaan usia muda harus diutamakan karena akan menjadi cikal bakal pemain timnas senior. Untuk memenuhi pencapaian kebutuhan dana itu, Komite Keuangan dan Pemasaran PSSI mempersiapkan penggalangan sumber dana dari pihak luar.

PSSI sendiri, lanjutnya, harus bekerja keras. Pasalnya, PSSI tak bisa terlalu berharap kepada pemerintah untuk memenuhi semua kebutuhan dana tersebut.

“Kalau dari pemerintah kan tidak mungkin kami harapkan semua. Jadi fund rising harus kerja keras, karena dana yang diperlukan tidak sedikit. Prestasi itu mahal, karena itu fund rising harus bekerja keras menggandeng apapun yang bisa digandeng untuk mencari dana untuk pembangungan sepak bola Indonesia,” katanya. (net/jpnn)

8 Pegulat Sumut Siap Tampil

MEDAN- Sebanyak delapan pegulat Pusat Pembinaan dan Latihan Pelajar (PPLP) Sumatera Utara siap tampil di Kejuaraan Nasional (Kejurnas) antar PPLP yang berlangsung di Jambi Mei 2012 mendatang.

Kedelapan pegulat pelajar Sumut itu adalah Ikbar Surya (50 kg), Oktavianus (54 kg), Muhammad Muksid Reda (58 kg), Efraim Ginting (54 kg), Febrianto Ginting (58 kg), Almario Naibaho (42 kg), Husaini Barus (50 kg) dan Ferry (80 kg).

“Sekarang kedelapan pegulat ini masih dalam pengemblengan intensif guna memberikan bekal latihan yang maksimal,” bilang Mangasi Simangunsong Pelatih Gulat PPLP Sumut, Sabtu (4/2) di PPLP Sumut Jalan Sekolah Pembangunan/Sunggal Medan.

Dilanjutkannya, materi latihan yang diberikan itu berupa latihan fisik dan teknik. Dimana latihan fisik dilakukan dengan cara menyuruh atlet lari keliling lapangan dan mengangkat beban.

“Selain itu, kita juga selalu memberikan latihan berenang kepada atlet guna mengoptimalkan organ tubuh,” sebutnya.

Kemudian untuk latihan teknik dasar gulat meliputi teknik mengunci lawan supaya tidak bergerak.

“Kalau lawan sudah berhasil dikunci dengan genggaman kedua tangan. Tentunya, lawan baru bisa dibanting keluar arena. Dimana, skor yang diperoleh sangat tinggi bila lawan berhasil dibanting keluar arena,” terang Mangasi.

Selain itu, pihaknya juga melakukan try out ke beberapa dearah Sumatera Utara. Dimana try out dilakukan guna mengetahuai perkembangan atlet dalam menerapkan latihan yang diberikan.

Terkait atlet yang mampu meraih hasil terbaik saat di Kejurnas antar PPLP nanti, sambung Mangasi semua atlet yang di PPLP Sumut ini mempunyai potensi yang baik.

Hanya saja, ada dua pegulat seperti Almario Naibaho dan Husaini Barus yang potensi lebih baik, ketimbang rekan-rekannya. Pasalnya, kedua tersebut telah berhasil meraih medali perak dan perunggu saat Kejurnas antar PPLP 2011 lalu.

“Diharapkan pegulat Sumut lainnya juga dapat termotivasi untuk merebut medali,” katanya.(omi)

Timnas Pra Piala Dunia (PPD) 2014 Saring 12 Pemain

JAKARTA- Timnas Pra Piala Dunia (PPD) 2014 telah usai melakoni pemusatan latihan (TC) dan seleksi tahap pertama. Mulai kemarin (4/2), Pelatih Aji Santoso mengembalikan ke-30 pemain yang mengikuti ke klub masing-masing untuk mengasah penampilannya pada level kompetisi.

“Kami akan panggil mereka lagi pada 16 Februari nanti untuk menjalani TC tahap kedua. Setelah itu baru kami umumkan siapa yang akan kami pilih untuk dibawa ke Bahrain,” katanya, kemarin (4/2).

Dari 30 pemain itu, Aji menyebut hanya akan memanggil sekitar 12 pemain saja ke TC tahap II di Batu, Jatim. Namun, dia masih belum bisa membocorkan nama- nama pemain tersebut hingga hari H pemanggilan.

“Kami masih akan pantau terus di pertandingan liga yang mereka jalani sebelum akhirnya kami panggil lagi. jadi nanti dilihat saja di Batu,” tutur mantan pemain Nasional tersebut.

TC tahap II sendiri lebih cepat dari yang sebelumnya direncanakan pada 19 Februari. Menurut Aji, hal itu dilakukan agar proses adaptasi dari para pemain dengan para pemain yang sebelumnya telah dipastikan mulai bergabung pada TC di Batu bisa berjalan dengan baik.

Dengan demikian, TC tahap kedua di Batu nantinya akan diikuti oleh 12 pemain yang mengikuti TC tahap pertama di Sentul, Jawa Barat dan 11 pemain yang sebelumnya telah terdaftar ke FIFA dan AFC. Dari TC ini, nantinya akan dipilih 18 pemain yang akan menjalani pertandingan tandang melawan Bahrain pada 29 Februari mendatang di Bahrain.

Tapi, Aji memastikan jika pengurangan hanya akan dilakukan kepada 12 pemain yang mengikuti TC tahap I.(aam/jpnn)

Perempuan Sepi, Purnama dan Melati

Cerpen: Intan Hs

Ia melirik bulan. Kelam tertutup awan. Angin berdesir, menyebarkan wangi bunga melati. Malam kian pekat, namun matanya tak hendak pejam. Ia resah. Orangorang menganggap cerita itu benar. Beberapa hari belakangan ini terasa seperti malam, yang menghadirkan hitam pekat kehidupan. “Ada yang tak bisa dijelaskan. Ada yang tak mengerti atau memang tak mau mengerti.” Begitu ia mengeluh.

Dan ia masih saja mengeluh, mengadu pada pekat malam. Sesekali ia menceracau tentang orang-orang kampung yang menyebutnya perempuan celaka. Jika ada yang mati dalam bulan begini, malam ini, disertai wangi bunga melati yang meruap bersama angin, pasti ia yang disalahkan. Dia, ilmu dan dendamnya.

* Seorang ibu kehilangan bayinya tadi malam. Semua orang kampung tahu jika ia tengah hamil tua, tetapi ngidamnya aneh tadi malam. Ia minta suaminya menemaninya mandi.

Mulanya suami menolak, namun ia meraung-raung dan menjerit tak karuan seperti kesetanan. Pasrah.

Suami mengalah. Mau saja menuruti ngidam istrinya. Di bawah bulan yang tertutup awan, ia mandi. Entah karena sial atau sudah nasib, ia terpeleset.

Bercak darah mengaliri kakinya terus-menerus, ada gumpalan sekepal tangan berwarna kehitaman jatuh di lantai kamar mandi. Sorot mata kehilangan. Sorot mata penuh kesumat, siapa lagi jika bukan karena perbuatannya. Dia, ilmu dan dendamnya pada orangorang kampung.

** Gelap pekat malam hablur karena nyala obor. Di seberang terdengar teriakan orang-orang kampung. Ia cepat-cepat masuk dan mengunci pintu. Hanya dapat menahan gigil tubuhnya di sudut rumah.

“Perempuan celaka, keluar kau!” Ia tak mau menuruti perintah itu.

Hanya diam dengan gigil semakin hebat di tubuhnya. Sesaat ia mengingat kematian, mati diterkam harimau seperti ayahnya, mati dimangsa buaya seperti ibunya, mati dibakar orang-orang kampung mungkinkah nasib dirinya.

“Ibu, tolong.” Aneh, tiba-tiba hening. Ia tahu orang- orang kampung belum pergi, masih di depan rumahnya karena nyala obor belum padam, belum hilang.

Tentu ada rencana. Apa? “Bakar, Bakar!” teriak dari luar Dengan sengaja obor di lempar ke atap rumbia. Ia menatap api.

“Aku belum mau mati,ibu. Aku belum menikah.” Api semakin menjalar, nyalanya tampak membesar. Panas api membuatnya terkesiap. Ia menjadi berani untuk keluar daripada mati dilahap api.

“Keluar juga kau.” Ucap pria berseragam “Tetapi apa salahku Pak Kades?” “Kau, ilmu, dan dendammu pada orang kampung ini.” Tak adil. Ia akan dibunuh karena suatu tuduhan, ilmu dan dendamnya.

Ia dianggap sebagai dukun yang berilmu dengan menumbalkan siapapun yang dikehendakinya. Memang sudah dua orang mati secara misterius di kampung. Korban pertama pemuda yang diidamkannya selama ini, mati dengan mengeluarkan darah dari hidung, dan mulutnya.

Korban kedua calon bayi dari pemuda yang selalu mengejeknya “Jelek.” Semula hal ini belum pernah terjadi di kampung sebelumnya. Kematian aneh, beruntun sejak dua purnama belakangan ini.

Ia hanya perempuan biasa karena kesepian sepeninggal ibunya. Semua berawal dari kebiasaan anehnya menyepi diri. Ia tak pernah mau bergaul dengan siapapun setelah ibunya meninggal. Ia kerap menghindar dari kegiatan apapun yang dilakukan orang-orang kampung. Bahkan ia mendirikan pondok yang jauh dari pemukiman warga, agak menjorok ke hutan.

Entah mengapa anak-anak kampung menyebutnya “orang gila.” Sewaktu remaja pekerjaannya hanya macul dan menanam kembang, terutama melati kembang kesukaannya.

Sebelum meninggal, ibunya sudah berusaha mencarikan suami untuknya, tetapi lelaki normal bahkan tidak sekalipun tak sudi memperistrinya.

Mungkin wajah dan fisiknya yang menjadi kendala. Wajahnya tak terlihat proporsional, berambut ikal, berkulit gelap. Terlihat jelek, dan pendek. Menginjak umur empat puluh tahun, kelakuannya semakin aneh, setiap hari pekerjaannya hanya keluar – masuk hutan, menatap purnama berlama-lama sambil menceracau tak karuan seperti berkomat-kamit membaca mantera.

Kelakuannya benar-benar tak lazim, diluar kewajaran.

Ia dendam pada pemuda kampung yang tak sudi memperistrinya hanya karena melihat penampilan dari luar semata. Kesumatnya pun membara pada semua orang di kampung karena memandangnya gila. Ia tahu satu hal, tentu orang tua yang membisikkan ke telinga anak-anaknya kalau ia gila, jika tidak, anak-anak tidak akan menyebutnya gila tanpa sebab. Dendam membuat hidupnya kelam.

Sorot mata dendam. Mata melotot orang-orang kampung. Beradu.

“Bunuh dukun itu!” teriak kompak orang-orang kampung Ia mengalihkan pandanganya pada purnama. Orang-orang kampung berusaha menyembunyikan sebersit ketakutan.

“Habisi Perempuan gila itu!” teriak seseorang dari tengah kerumunan dengan keras. Ia adalah lelaki yang selalu mengejeknya jelek, dan ia juga yang baru saja kehilangan bayi dalam kandungan istrinya.

Sungguh, ia tak tahu persis apa yang akan terjadi. Tangan dan kakinya terikat, hanya tiba-tiba ia merasakan tubuhnya berlubang mendengar teriakan lelaki yang menyebutnya perempuan gila. Lubang itu semakin membesar, berwarna hitam pekat seperti malam. Tubuhnya bergetar, saat ia melihat purnama di langit.

Di langit tampak bulan purnama, perlahan mulai terselubung awan.

Tiba-tiba semua orang bergidik ngeri. Ia melihat ke langit, terdiam dan lama, seolah-olah tak ada orang lain disekelilingnya. Mulutnya mulai menceracau tak karuan. Seperti mengeluh, mengadu entah pada siapa.

Suasana seperti mati tiba-tiba. Ia menangis. Akh entahlah, hanya terlihat sudut matanya mengandung air.

Orang-orang kampung serentak meremas dadanya kencang-kencang, membelalakan mata selebarnya berusaha meyakinkan penglihatannya.

Bulan purnama perlahan redup tertutup awan.

“Hentikan perempuan celaka. Jangan kau buat lagi untuk yang ketiga!” ucap Pak Kades Ia menggeleng.

“Hentikan, jangan!” pinta orangorang kampung hampir serentak Terlambat. Angin berhembus, menyisipkan wangi bunga melati.

Orang-orang kampung yang berkerumun gemetar, gentar tanpa sebab. Entah siapa yang memulai berlari, tetapi yang pasti Pak Kades terlihat tergopoh-gopoh berjalan paling belakang, dan dalam hitungan detik ia hanya tinggal sendiri di depan rumahnya, masih terikat.

Sepi. Hanya tangisnya yang terdengar.

Ia bersyukur orang-orang kampung menganggap cerita itu benar.

***

Remon Punya Lukisan dari Abad ke-17

Oleh: Miftah

BAGI para pecinta koleksi barang antik, memilik benda-benda kuno merupakan suatu kebanggan sendiri.

Ibaratnya uang gampang dicari, tapi barang antik susah didapat. Ini juga yang dilakoni kolektor benda kuno, Remon Biti.

Pria berambut gondrong ini tengah memegang kuas dan kain lap halus, membersihkan satu pe rsatu di antara puluhan keris kuno dan lukisan lawan koleksi pribadi di rumahnya yang beralamat di Gang delima, RT02/03 Durenjaya Bekasi Timur.

Seperti itulah cara pria kelahiran Bekasi 27 April 1976 ini ketika mengisi waktu senggangnya. Dengan penuh kesabaran dan kasih sayang, ayah dari duaoranganakiniselalumembersihkan koleksi benda kuno kesayangannya.

“Ya paling Cuma dilap saja. Tidak ada perawatan khusus untuk benda-benda kuno ini. Biasanya sebulan sekali dilap. Tapi ada juga yang dibiarkan begitu saja, semakin berdebu semakin unik,”• tuturnya kepada Radar Bekasi.

Di ruangan sederhana berukuran 3 x 3 meter, Remon menyimpan barangbarang kesayangannya, seperti keris, pedang kerajaan, lukisan kuno, guci antik, baju-baju bekas pejuang serta berbagai benda kuno lainnya.

Ayah dari Kevin Selendra (14) dan Alyandro Laksana Nusantara (8) ini menuturkan, ketertarikannya dengan benda-benda kuno sejak tahun 1990.

Saat itu dirinya diberi sebuah keris oleh kerabatnya, keris tersebut merupakan peninggalan dari kerajaan mataram.

Karena benda tersebut merupakan saksi sejarah kerajaan, maka keris berwarna coklat itu lalu dirawat dengan baik. Sejak saat itu ketertarikan terhadap keris pun semakin bertambah, dia pun lantas berburu keberbagai daerah di Indonesia.

Tidak hanya keris, suami dari Rafika (33) ini juga mengkoleksi berbagai jenis pedang, rencong, guci, serta berbagai lukisan kuno. “Saya suka dengan barang kuno karena yakin akan bernilai sejarah dan masyarakat Indonesia membutuhkan benda benda itu,”• tuturnya.

Keris-keris koleksi miliknya merupakan peninggalan dari kerajaan Majapahit, Mataram, Segalu dan Pajajaran.

Sementara pedang merupakan peninggalan dan rencong didapat dari Kalimantan dan Aceh. Semuanya merupakan peninggalan dari abad 17 hingga 18 Masehi.

Untuk mengetahui benda tersebut merupakan peninggalan dari kerajaan, ataupun usia dari benda tersebut, pria yang juga Ketua Komunitas Pengamen Kalanan (KPJ) Kota Bekasi ini melihat dari struktur besi dan ukirannya.

Karena kata Remon, setiap kerajaan ataupun setiap tahun, cara pembuatan pedang maupun keris berbedabeda.

“Kita bisa melihat dari struktur besinya, kalau yang ini dibuat dari tahun 1800 an,”• katanya sembari menunjukan pedang yang didapat dari Kalimantan Selatan.

Hingga saat ini Remon telah memiliki 30 keris, 10 pedang dan 3 rencong.

Remon mengaku, sebenarnya dia memiliki koleksi lebih dari itu, namun benda-benda tersebut ada yang dijual dan diberikan ke kerabatnya.

Dari sekian koleksi benda kuno miliknya, dalah satu benda yang paling dibanggakan yakni sebuah lukisan karya G Rasmussen, yang dibuat pada tahun 1883. Lukisan yang bersudul Fjallforsen ini merupakan karya dari seniman asal Noerwegia yang hidup pada tahun 1842-1914.

Lukisan dengan panjang sekitar 90 cm dan lebar 70 cm ini bergambar sebuah pemandangan sungai dengan bebatuan. Di dalam lukisan yang dibalut dengan bingkai dari kayu jati ini ditandatangani langsung oleh sang maestro.

Remon mengaku, mendapatkan lukisan ini dari seorang tukang sampah yang biasa mengangkut sampah di perumahan Kemang Pratama. Melihat lukisan tersebut tergeletak di tempat gerobak sampah, Remon pun lantas memungut dan menggantikan uang kepada tukang sampah tersebut sebesar Rp170 ribu.

Pasalnya Remon tahu kalau lukisan tersebut merupakan lukisan karya pelukis terkenal.

Bahkan beberapa kolektor lukisan dan barang antik pun pernah menawar lukisan tersebut seharga Rp30 juta. Namun tidak diberikan, karena karya pelukis tempo dulu tidak ternilai harganya. Hingga saat ini, lukisan miliknya sebanyak 15 buah, yang merupakan karya sebelum tahun 1940 an.

Untuk berburu barang-barang antik, biasanya Remon menyambangi berbagai kota dan daerah yang ada di Indonesia.

Selain itu juga ada yang hasil barter dengan sesama pecinta barang kuno.

Untukmempermudah mendapatkan benda-benda kuno, Remon bergabung dengan perkumpulan yang diberi nama Kumbara (kumpulan mencari barang antik). Kelompok tersebut merupakan perkumpulan orang yang gemar mengkoleksi benda kuno yang ada di Kota Bekasi.

Remon pun mengatakan, terkadang banyak orang awam memandang miring dan aneh pada sejumlah orang yang memiliki kecintaan berlebih pada sesuatu benda. Apalagi jika benda itu seringkali dianggap sebagai sebuah benda yang remeh dan tak bernilai.

Juga jika upaya memiliki dan menyimpan benda-benda itu identik dengan menghambur-hamburkan uang, tenaga dan waktu untuk sesuatu yang tidak berguna. “Namun jangan salah.

Di balik fanatisme• yang seakan mubazir itu, sebenarnya tersimpan banyak sekali makna atau falsafah hidup, juga tujuan dan visi serta misi yang sangat mulia,”• tandasnya. (*)

Sempat Titipkan Kartu ATM kepada Ibu

Kesedihan menyelimut rumah duka Yuanita Isabela Saragi (26) alias Gadis di Jalan Balam Gang Pribadi Keluruhan Sei Kambing kecamatan Medan Sunggal. Gadis tak lain adalah korban tewas yang berhasil ditemukan kemarin.

Gadis, anak bungsu dari empat saudara dari pasangan Jambonar Saragi dan Farida Boru Samosir di mata keluarga adalah anak baik, ramah terhadap kerabat dekat, dan tetangganya Saat Sumut Pos menyambangi rumah duka terlihat silih berganti keluarga dan kerabat dekat hadir. Tak pelak, raut wajah sang ibu, Farida, terpaku. Air matanya seakan tak berhenti dihadapkan jasad Gadis yang disemayamkan di ruang tamu di rumah ukuran 5×10 meter itu.

“Gadis pamit waktu pergi, katanya mau jalan sama teman-temannya. Namun sebelum berangkat biasanya pamitan saja, kini Gadis juga menitipkan Kartu ATM dan Jamsosteknya kepada ibu,” ungkap Yudi, abang kandung Gadis, Jumat (3/2) malam.
Semasa hidup, Gadis bekerja sebagai karyawan di Hotel Polonia Medan. Sebelum bekerja di hotel tersebut, dia sempat sekolah di SMK Negeri 8 Medan Jurusan Pariwisata dan Massa setelah itu duduk di bangku kuliah di Universitas Triguna Darma.

Yudi menambahkan, pihak keluarga tidak ada firasat terhadap apa yang dialami Gadis. Karena itu, ketika mendapat kabar adiknya hanyut dan belum ditemukan pada pukul 21.00 Kamis (2/2) lalu, dia sangat terkejut. “Datang dari Basarnas dan pihak rumah sakit mengabarkan kejadian yang dialami adikku, saat itu aku sedang di kawasan Jalan Ring road dan ditelepon ibu suruh cepat pulang. Setiba di rumah ibu menceritakan hal yang dialami adik,” sebutnya dengan nada sedih.

Kecemasan pun tergambar saat Yudi berkata kepada Sumut Pos. Mereka tak sabar mencari kabar. Kemarin, Yudi bersama anggota keluargnya pun berangkat ke lokasi kejadian. Akhirnya adiknya pun ditemukan tim evakuasi gabungan. Selanjutnya dengan menumpang helikopter Basarnas jenazah adiknya diangkut menuju RSUPH Adam Malik untuk dilakukan otopsi. Setelah pukul 17.00 WIB, jasad Gadis dibawa ke rumah duka.

Gadis akan dikebumikan di Pemakaman Umum Kristen di Jalan Abdullah Lubis Medan, hari ini (4/2) sekitar Pukul 13.00 WIB.
Setelah ke rumah Gadis, Sumut Pos menyambangi rumah duka Samrati (30) di Jalan Kiwi Gang Enam Medan. Namun, ketika sampai di lokasi, jasad Samrati sudah dikebumikan di Pemakaman Muslim di Jalan Gatot Suboroto Medan.
“Saya tidak memiliki firasat atas kematian anak saya, hanya dia pamit dengan saya mau jalan karena libur kerja saja,”ungkap bapak kandung Samrati, Samsul Surbakti. (gus)