Home Blog Page 14063

Jenazah Tersangkut di Pohon Tumbang

SIBOLANGIT-Tiga pelancong yang hanyut setelah ada air bah di Sungai Lau Mentar Desa Durin Sirugun, Kecamatan Sibolangit, Kamis (2/2) lalu akhirnya ditemukan dalam keadaan tewas. Ketiganya ditemukan Tim SAR Gabungan, Jumat (3/2).

Sekitar pukul 10.00 WIB, tim yang melakukan penelusuran di antara bongkahan batu-batuan Sungai Lau Mentar, menemukan sebuah telepon selular (ponsel). Ponsel ini diduga miliki korban. Dan, benar saja, tidak jauh dari penemuan ponsel terlihat sesosok tubuh tanpa nyawa. Setelah diidentifikasi, sesosok mayat itu adalah Samrati (lengkapnya lihat grafis).

Kepala Kantor SAR Medan, Tugiman Hadi di areal Bumi Perkemahan Sibolangit mengatakan, operasi penyelamatan dan evakuasi sudah dilaksanakan secara baik oleh gabungan tim pencari. Sehingga tiga orang yang sejak Kamis ditelusuri keberadaannya telah ditemukan.

Joni Supriadi selaku Kepala Operasi Basarnas Medan mengatakan, setelah berhasil mengevakuasi ketiga korban ke tempat yang lebih aman, tim langsung menerbangkan kedua korban, Samrati dan Gadis dengan helikopter Basarnas. Sedangkan Hadi melalui jalur darat ke Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Haji Adam Malik Medan.

“Karena helikopter yang kita miliki tak bisa menampung lagi untuk korban yang satunya. Makanya untuk korban yang laki-laki kita bawa ke RSUP Adam Malik dengan jalur darat,” jelasnya.

Amatan Sumut Pos di RSUP H Adam Malik, dua jenazah korban wanita yang dibawa dengan helikopter sempat berputar-putar di atas rumah sakit sebanyak dua kali. Helikopter tersebut berputar-putar untuk mencari tempat pendaratan. Namun, karena tak ketemu juga, akhirnya helikopter pun mendarat di Bandara Polonia Medan. Selanjutnya jenazah dibawa dengan ambulans dari Bandara Polonia Medan menuju RSUP H Adam Malik.

Dijelaskannya, tim sempat mengalami kendala dalam mencari ketiga korban. Sebab, kondisi alam yang terjal dengan tebing yang curam dan kedalaman 150 meter, membuat tim kewalahan untuk mengevakuasi korban. “Tetapi, berkat kerjasama dengan masyarakat serta instansi terkait kita berhasil menemukan ketiga korban,” bebernya.

Sementara itu, korban yang selamat dari maut hingga kini masih trauma. Misalnya Suyadi (26), warga Jalan Keramat Indah Gang Harapan. “Maaf bang saya istrahat dulu,” elak Suyadi ketika Sumut Pos menyambanginya.

Terlihat jelas kalau Suyadi tidak ingin menceritakan musibah yang dia dan rekan-rekannya alami itu. Dia pun langsung menghindar dan permisi masuk ke kamar. Sebelum masuk ke kamarnya, Sumut Pos sempat melihat luka lecet di tangan dan di kaki Suyadi.

Selain itu, seperti yang diutarakan Wagiem (42), orangtua dari Ardiansyah Arifin Sinaga, saat ditemui Sumut Pos di kediamannya, Jumat (3/2). “Anak saya sekarang ini masih di RSU Adam Malik. Karena mereka dikumpulkan lagi disana. Memang, anak saya masih trauma. Karena, setiap kali menerima telopon, dia (Ardiansyah, red) pasti menangis,” kata Wagiem.

Seperti diberitakan peristiwa maut itu berawal saat sembilan orang yang diantaranya  karyawan Ace Hardware yang terletak di Jalan Juanda Medan berwisata ke Sungai Lau Mentar. Mereka pun bermandi-mandian padahal kondisi saat itu hujan. Memang hujan tidak begitu deras, namun di puncak hujan ternyata cukup deras. Hingga, tanpa mereka sadari, air bah langsung menghantam.

Kepala Dinas Pariwisata Pemkab Deliserdang, Haris Binar Ginting, ketika dihubungi di Lubukpakam menyatakan kalau kawasan itu termasuk hutan lindung.”Warga setempat mengelolanya karena banyak pelancong datang berkunjung. Lokasi itu masuk wilayah hutan lindung,” bilangnya, kemarin.

Namun, karena tidak ada izin serta tidak dikelola dengan baik, Dinas Pariwisata kesulitan mengkontrol dan melakukan pembinaan terhadap pengelola tempat wisata. Padahal bila ada memiliki izin, tentunya, akan ada pembinaan terhadap pemilik usaha dari istansi terkait.

Kemudian, selain itu akan ada penempatan petugas Taruna Tangap Darurat (Tagana) Kabupaten Deliserdang, serta memberlakukan asuransi terhadap pengunjung yang datang ke sana. “Sumber air sungai itu dari air terjung dua warna, di sana kawasan hutan lindung dan tidak boleh dikelola untuk tempat wisata,” tambahnya. (wan/adl/mag-5/btr/gus/dan/jon)

PDS Sumut tak Tahu Soal A Hok

MEDAN-Kemunculan sosok Basuki Tjahaja Purnama atau yang akrab dipanggil A Hok jelang Pilgubsu 2013 sontak menjadi perbincangan. Sayangnya, pihak Partai Damai Sejahtera (PDS) Sumut tidak tahu menahu soal itun
Padahal, kemunculan nama A Hok karena ada pernyataan Sekjen PDS Sahat Sinaga.
“Ini bukan domain saya bos. Coba ke Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PDS saja,” jawab anggota Fraksi PDS DPRD Sumut, Marasal Hutasoit, Jumat (3/2).

Begitu pula ketika ditanya apakah DPW PDS Sumut sudah memilik nama yang akan diajukan menjadi calon Gubsu. “Belum,” katanya.
Sebelumnya, Sekjen PDS Sahat Sinaga di Jakarta mengatakan, PDS mau diajak koalisi oleh Golkar, syaratnya A Hok yang jadi pendamping Chairuman Harahap. “PDS merupakan partai nasionalis-kristiani. Kita mencari calon yang memenuhi kriteria ideologis itu, yakni mengenai komitmen kebangsaannya dan bagaimana komitmennya membesarkan partai,” kata Sahat, yang juga pentolan Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia itu.

Ketum PDS Denny Tewu juga merasa yakin bahwa sikap partainya akan sangat mewarnai peta pergulatan politik menjelang Pilgub Sumut ini. “Kami bukan penentu utama, tapi penentu yang menentukan,” ujarnya.

Sama seperti disampaikan Sahat, Denny juga menegaskan bahwa PDS akan memperjuangkan agar kombinasi pasangan calon ‘berwarna’, yakni mewakili unsur muslim-kristen atau sebaliknya. “Kehadiran PDS akan memberikan warna, warna yang pelangi, indah,” kata Denny.

Sementara itu, analis politik dari Universitas Sumatera Utara (USU), Ridwan Rangkuti menjabarkan, bila antara Chairuman Harahap nantinya benar disandingkan dengan A Hok, peluang untuk kedua sosok tersebut tetap ada dan setaraf dengan pasangan-pasangan lainnya.

“Berbicara peluang, tetap ada. Namun, untuk menang nanti dulu. Karena semuanya sama-sama berpeluang,” ulasnya.
Bagaimana dengan arah koalisi Golkar dengan PDS dalam rangka mengusung Chairuman Harahap-A Hok? Menurutnya, arah koalisi itu bisa dan mungkin saja terbangun. Apalagi, Golkar sebagai perahu politik relatif banyak diminati oleh sosok-sosok yang akan maju pada Pilgubsu 2013 nantinya.

Namun yang mendasar, sambungnya, koalisi partai-partai tengah dan partai-partai kecil, terlihat arahnya adalah mencari keuntungan, bisa dalam hal uang atau sebagainya. “Mereka tidak mengusung calonnya sendiri, tapi mereka dapat keuntungan, misalnya uang dan sebagainya. Partai-partai tengah atau kecil, atau yang tidak ada kursinya di legislatif memilih tidak mengusung calonnya kalau nantinya akan kalah,” urainya. (ari/sam)

Buntut Perbatasan Sumut-Riau Berdarah

Kapoldasu: Kalau Brimob Salah, Saya Proses!

PASIRPENGARAIAN-Kapolda Sumatera Utara Irjen Pol Drs H  Wisjnu Amat Sastro menunaikan janjinya untuk melihat langsung korban bentrokan di Perbatasan Sumut-Riau yang terjadi, Kamis (2/2) lalu. Dalam kunjungannya itun
Wisjnu pun menegaskan akan menindak tegas jika anggotanya berbuat salah.

‘’Dengan adanya korban dari masyarakat, security, anggota Brimob, mari kita menyikapi persoalan yang terjadi dengan kepala dingin. Saya harapkan teman-teman media melihat masalah ini secara utuh. Kalau memang anggota Brimob bersalah, saya proses. Saya undang rekan-rekan media untuk melihat pemeriksaan. Jangan himpun data hanya satu sisi saja,” terang Wisjnu seperti dikutip Riau Pos (grup Sumut Pos).

Dalam kunjungan ke RSUD Pasirpengaraian, Kapolda didampingi Dir Reskrim Khusus Polda Sumut yang menggunakan jalan darat dari Pekanbaru ke Rokan Hulu. Rombongan disambut Kapolres Rokan Hulu AKBP Yudi Kurniawan SIK MSi, Direktur RSUD Pasirpengaraian Dr Arfani Nazli, dan Kasat Reskrim Polres Rohul AKP Antoni Lumban Gaol SH MH.
Kapolda, saat berada di ruang Cempaka Klas III RSUD Pasirpengaraian, menjenguk dan menyalami satu per satu warga Batang Kumu Kecamatan Tambusai Rokan Hulu, yang menjadi korban.

Korban luka tembak, yang disalami oleh Kapolda, sempat berbincang-bincang dan menceritakan permasalahan yang terjadi. Kepada wartawan, jenderal bintang dua itu menyebutkan, bentrok yang terjadi antara masyarakat Batang Kumu dengan security dan anggota Brimob yang menjaga pengamanan di PT MAI jangan dilihat dari sisi penembakan saja. Tapi, lihat awal permasalahannya.

Wisjnu menjelaskan, bentrokan terjadi antara PT MAI dengan masyarakat Batang Kumu di daerah perbatasan Riau-Sumut, Kamis (2/2) soal klaim kepemilikan tanah. Warga dan PT MAI sama-sama mengklaim. Akhirnya bentrok. Pegawai PT MAI juga menjadi korban, termasuk pihak keamanan yang bertugas. ‘’Tiga anggota Brimob terkena luka bacok, satu lagi terkena lemparan botol. Mari kita lihat masa secara utuh, tidak separuh-separuh. Kita lihat, sudah benar nggak SOP anggota Brimob ini. Kita ada aturannya kalau tidak benar, nanti kita akan proses,’’ terangnya.

Sebagai bentuk rasa kepedulian dan tanggungjawab terhadap korban luka tembak, Kapolda menyebutkan, lima warga Batang Kumu Kecamatan Tambusai yang kini dirawat di RSUD Pasirpengaraian, seluruh biaya perawatan dan pengobatan di RSUD, ditanggung oleh Polda Sumut.

Termasuk selama dirawat, Polda Sumut memberikan uang pendapatannya sehari-hari bila bekerja, dikarenakan untuk sementara ini korban tidak bisa mencari untuk menafkahi keluarganya. ‘’Bila korban itu harus dirawat selama satu bulan, oleh dokter, seluruh biaya perawatan dan pengobatan di RSUD ini, kita tanggung seluruhnya. Selama dirawat, korban kita beri uang, misalnya pendapatanya 50 ribu sehari, kita beri mereka 100 ribu per hari. Itu artinya, kita ikut memikirkan kehidupan keluarganya.’’jelasnya.

Sebelum meninggalkan RSUD Pasirpengaraian pukul 18.30 WIB, Kapolda Sumut dan Kapolres Rohul AKBP Yudi Kurniawan melakukan silaturrahmi dengan Direktur RSUD Pasirpengaraian Dr Nazli Arfani, di ruang kerjanya. Pertemuan ini membahas biaya pengobatan. ‘’Lima pasien untuk saat ini, masih butuh perawatan medis di RSUD Pasirpengaraian.Seluruh biaya pengobatan selama di rumah sakit, di tanggung sepenuhnya oleh Kapolda Sumut, yang nantinya disampaikan ke Polres Rokan Hulu.’’ jelas Nazli.(epp/rpg/mag-5)

Anggie jadi Tersangka

Setelah 363 Hari Menjanda

JAKARTA-Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akhirnya menetapkan Angelina Sondakh sebagai tersangka korupsi. Penetapan ini tepat setelah 363 hari dia ditinggal sang suami, Adjie Massaid. Ya, Adjie Massaid meninggal dunia pada 5 Februari 2011 lalu.
Sebelum ditetapkan sebagai tersangka, Angelina juga sudah dimasukkan dalam daftar cegah di Imigrasi agar tidak bepergian ke luar negeri Wakil Sekjen Partai Demokrat itu disangka menerima sogokan terkait pembahasan anggaran untuk proyek Wisma Atlet SEA Games.

Penetapan Angelina sebagai tersangka diumumkan oleh Ketua KPK, Abraham Samad dalam jumpa pers di KPK, Jumat (3/2). Abraham mengatakan, ada perkembangan baru dalam proses penyidikan kasus Wisma Atlet, termasuk adanya bukti-bukti untuk menjerat Angelina Sondakh.“Ada tersangka baru, AS. Seorang perempuan yang tadinya saksi,” katanya.

Oleh KPK, anggota Komisi Olahraga DPR itu dijerat dengan pasal 5 ayat (2) atau  atau pasal 11 atau pasal 12 huruf a UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Ancaman hukuman maksimalnya adalah lima tahun penjara.
“Sprindiknya (Surat Perintah Penyidikan, Red) sejak kemarin (Kamis, 2/2),” sebutnya. “Yang bersangkutan juga sudah kita lakukan pencekalan bersama seseorang berinisial WK (Wayan Koster),” tambah Abraham.

Seperti diketahui, nama Angelina dan Wayan Koster pada persidangan kasus suap Wisma Atlet disebut mendapat uang Rp5 miliar dari perusahaan Nazaruddin. Uang dari Nazaruddin itu dimaksudkan untuk meloloskan anggaran proyek Wisma Atlet SEA Games di Palembang yang tengah dibahas di Banggar DPR.

Dari beberapa kesaksian di persidangan atas M Nazaruddin, uang untuk Angelina dan Wayan diantar pada hari yang sama pada 5 Mei 2010. Kiriman dibagi dalam dua tahap, yakni Rp2 miliar di pagi hari dan Rp3 miliar pada sore harinya.
Penetapan ini tidak hanya menyebabkan jabatannya sebagai wakil sekretaris jenderal (Wasekjen) DPP Partai Demokrat dicopot. Status Angelina sebagai kader Demokrat juga akan segera hilang.

Penegasan itu disampaikan Sekretaris Departemen HAM DPP Partai Demokrat, Rachland Nashidik. Menurutnya, kode etik Demokrat jelas akan mencopot kadernya yang menjadi tersangka seperti mantan Bendahara Umum DPP Partai Demokrat, M Nazaruddin.
“Iya dong, kode etik kami bilang begitu. Jadi partai akan menghentikan setiap kadernya yang menjadi tersangka.

Apalagi kasusnya korupsi. Ini berlaku kepada setiap kader, fungsionaris termasuk juga kepada ketua umumnya,” katanya.
Lanjut Rachland, beda halnya dengan status Anas Urbaningrum yang hingga saat ini tidak tersangkut dengan hukum tapi didesak mengundurkan diri.

“Selama tidak ada sangkaan, siapa pun kader dan fungsionaris itu tetap punya hak penuh untuk tinggal sebagai keluarga besar Partai Demokrat. Anas tetap sebagai ketua umum, makanya desakan (mundur) orang-orang itu tidak berdasar,” pungkasnya. (ara/awa/jpnn)

KA vs Pedagang, Win-win Solution

Oleh : Dame Ambarita
Pemimpin Redaksi Sumut Po

Berdagang di ‘rumah’ orang lain, etikanya tentu permisi dulu. Kalau dikasih izin, barulah boleh berjualan. Lebih enak jika ada kesepakatan yang saling menguntungkan. Kalau di kemudian hari, pemilik ‘rumah’ keberatan rumahnya dipakai sebagai lokasi berjualan, itu jelas hak dia.

Begitu juga dengan PT Kereta Api Indonesia Divre I Sumut. Di awal tahun ini, PT KAI menerapkan aturan baru tapi lama Pedagang asongan dilarang berjualan dalam gerbong kereta. Tujuannya jelas, agar kereta api lebih aman dan kenyamanan penunpang tidak terganggu.

Kebijakan ini kontan menuai reaksi dari para pedagang asongan yang merasa sumber nafkahnya selama ini terganggu. Reaksi tajam muncul di Stasiun KA Perbaungan. Pedagang menggelar aksi demo bahkan blokade jalur kereta, hingga perjalanan kereta api sempat lumpuh. Usai aksi blokade, esoknya pedagang mendirikan tenda dan dapur umum di depan stasiun. Semua aksi itu demi memproklamirkan keberatan mereka akan larangan berjualan dalam gerbong KA.

Pedagang, jelas punya argumentasi kuat soal keberatan mereka. Jualan di gerbong kereta api adalah penghasilan mereka selama bertahun-tahun. Bahkan ada yang mengaku sudah 20 tahun mencari nafkah di gerbong KA. Kalau sekarang dilarang berjualan, ke mana kami mencari nafkah? Kira-kira begitu isi argumentasi para pedagang.
Tapi PT KAI juga punya argumentasi yang tak kalah kuatnya. Pertama, larangan berjualan asongan di atas KA adalah peraturan yang harus ditegakkan.

Kedua, kenyamanan penumpang terganggu. Maklum, pedagang yang riuh-rendah hilir mudik menawarkan jualannya, bisa mengganggu penumpang yang ingin relaks. “Pusing… Bising!” kata seorang penumpang tentang aktivitas pedagang di dalam gerbong.
Meski demikian, soal kenyamanan penumpang ini masih bisa diperdebatkan lagi. Soalnya, ada juga sebagian penumpang yang happy-happy saja dengan keberadaan pedagang asongan di atas gerbong. “Itulah seninya naik KA Ekonomi. Pedagang makanan banyak dan harganya murah-murah. Tinggal milih,” kata seorang teman yang kerap naik KA rute Medan-Kisaran.

Ketiga, terkait keamanan penumpang. Keamanan di sini maksudnya bukan rawan kecelakaan. Tetapi keamanan soal harta benda. Kecopetan misalnya. Kadang ada penumpang yang kecopetan. Hanya saja, kita juga tak bisa serta-merta menuduh pelakunya adalah para pedagang asongan, Bisa saja pelakunya sesama penumpang, bukan?
Yah, apapun itu, yang pasti sebagai pemilik ‘rumah, PT KAI berhak membuat peraturan ‘ di rumahnya’. Apalagi jika aturan itu untuk kepentingan publik yang lebih luas.

Sekarang tinggal bagaimana KAI tetap menegakkan peraturannya, tanpa harus membuat pihak lain kehilangan nafkah. Solusinya tentu mencari win-win solution. Istilahnya sama-sama enak.
Sebenarnya, pihak KAI telah menawarkan solusi yang cukup enak. Yakni, KAI menyediakan gerbong khusus pedagang, dan jumlah pedagang asongan dibatasi per kereta api, yakni 30 orang. Pedagang juga harus mengenakan seragam dengan identitas, dan harus membayar tiket.

Namun pedagang mengaku berat kalau harus membayar tiket setiap kali mau naik. Mereka menawarkan retribusi bulanan, sekitar Rp100 ribu per pedagang. Mereka juga berat dengan peraturan 30 orang per KA, karena jumlah mereka ada sekitar 216 orang.
Kemarin, PT KA akhirnya setuju menambah jumlah pedagang menjadi 45 orang per KA. Dan tetap membayar tiket per kepala. Tentu saja harganya tidak sama dengan penumpang. Cukup 6.500 per kepala, dengan rute terbatas. Inilah yang namanya win-win solution. Situ enak, sini enak. (*)

Siang-siang di KTV Stroom, Selecta Building Medan (3/Habis)

Yang Bukan Polisi Saja Bisa Tahu

Siang di Karaoke Televisi (KTV) Stroom ternyata memang menyenangkan. Ruang 6×8 meter yang kami kuasai bak dunia tersendiri. Tidak ada yang mengganggu dan tidak ada yang mau tahu.

Penulis bersandar di sofa, sendirian. Cindy dan sang kolega di sofa tengah. Sedangkan Donny dan si ‘David Beckham’ berbisik di sofa yang ada di pojok lainnya. Karaoke tidak juga dinyalakan.

“Kalau kurang bilang…” cetus sang kolega.
Penulis hanya tersenyum. Donny dan si ‘David Beckham’ pun tersenyum. “Tapi, Bang, tempat ini kenapa tak tercium dengan polisi?” tanya penulis pada sang kolega.

Sang kolega terbahak. Cindy langsung duduk bersandar. Sofa empuk berwana gelap itu terasa sangat pas dengan perempuan berkulit putih yang memakai blazer warna gelap. Apalagi ketika dia mengubah letak kakinya, paha putih yang dimilikinya begitu mencolok di antara properti yang berwana hitam itu.
“Begini aja… dari jam 3-an lah kau udah di sini kan? Nah, kekmana kau lihat, aman kan?” jawab sang kolega.
“Berarti polisi tak tahu?”

“Bukan kekgitu,” timpal si Donny. “Aman bukan berarti polisi tak tahu dan aman bukan berarti polisi ikut membantu… intinya gak usah dipikir,” tambah Donny.
Entah apa yang dimaksud dengan kalimat Donny. Tapi, penulis merasa pasti ada sesuatu yang terjadi di Stroom ini hingga polisi terkesan tidak tahu, pura-pura tidak tahu, dan tidak mau tahu?

Belum sempat penulis menemukan jawaban atau sekadar penenang dari pertanyaan itu, si Cindy kembali mengganti posisi kakinya. Tidak itu saja, dia pun malah menyadarkan kepalanya di badan sang kolega; mukanya kini mengarah penulis.

Entah tahu penulis memperhatikan si Cindy, sang kolega langsung memberikan pertanyaan mengejutkan. “Mau kau?” katanya. Lucunya, Cindy bukan marah dengan kalimat tawaran sang kolega pada penulis, dia malah tersenyum manis; malah sangat manis.
Melihat itu penulis hanya tersenyum. “Nantilah itu, Bang. Aku cuma makin penasaran dengan Stroom yang terkesan aman-aman saja beroperasi seperti ini tanpa terendus pihak polisi,” jawab penulis berusaha mengelak tawaran yang menggiurkan itu.

Sang kolega tak menjawab, pandangannya malah dialihkan ke Donny. Ya, seakan memberi sinyal agar Donny saja yang menjelaskan pertanyaan tadi. Maka, dengan posisi duduk tegak, Donny mulai membuka mulut. “Sebenarnya semua tahu. Persis dengan waitress, pasti tahu dengan peredaran narkoba di sini. Bahkan, waitress termasuk ujung tombaknya,” jelas Donny.

Lalu, tanpa diminta Donny menerangkan seperti apa kerja waiterss dalam menawarkan narkoba. Posisi waitress menjcari pelanggan. Tapi, waitress kerjanya bukan seperti jual kacang goreng; teriak-teriak hingga merayu jalan pembeli. Untuk di KTV, waitress cenderung lebih cool. Mereka bertugas seperti waitress kebanyakan. Tapi, setelah ada sinyal atau kode dari pembeli, barulah mereka beraksi.

“Misalnya ada tamu baru yang masuk ke bilik. Tamu itu mulai berkaraoke dan memesan minuman dan makanan. Tak lama kemudian, tamu minta housemusic. Nah, jenis musik ini lah yang dianggap sinyal oleh waitress. Ya sudah, langsung saja dia tawari si tamu,” jelas Donny dengan kalem.

Sambil membakar rokok, Donny kembali menjelaskan peran waitress. Katanya, kebanyakan waitress sekadar menawarkan saja. Setelah si pembeli berniat, maka si BD (bandar) yang langsung turun tangan. “Kayak ekstasi tadi, kan BD-nya yang langsung ngantar kan?”
Penulis tersenyum. Tambah tersenyum ketika mendapati Cindy kini mulai merangkul sang kolega. “Mau gak kau?” tanya sang kolega lagi.“Nggak lah Bang,” spontan penulis menjawab.

“Ya, sudah. Kalau gitu kami cabut dululah. Kalian lanjut saja di sini ya….” katanya sambil menggandeng Cindy. Keduanya meninggalkan ruangan melalui pintu dalam.

Jelas, mereka akan pindah ke kamar ‘eksekusi’. Terserahlah, itu kan urusan mereka. “Terus, polisinya kekmana?”
Donny tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Dia menghisap rokoknya dalam-dalam. Lucunya, si ‘David Beckham’ juga melakukan hal yang sama; dia bakar rokok dan menghisapnya dalam-dalam.

“Begini Bos, ini kan sudah kayak judi di sepak bola. Maksudnya, pertandingan diatur oleh judi, siapa yang bilang itu tak ada? Tapi kenyataannya, kasus pengaturan skor malah banyak ditemukan,” kali ini yang menjawab si ‘David Beckham’.

“Kalau kita mau menempatkan posisi polisi untuk Stroom ini, ya mungkin pura-pura tak tahu lah…” sambut Donny.
Donny kembali menjelaskan soal bebas dan gampangnya tamu untuk mendapatkan ekstasi di Stroom. “Jadi, lucu juga kan kalau polisi tak tahu, sementara yang bukan polisi saja bisa tahu…” katanya.

Penulis paham apa yang dimaksud Donny. Penulis pun tak berusaha mengorek lebih jauh soal polisi itu. Melihat penulis yang sudah sedikit tenang, Donny dan si ‘David Beckham’ pun serentak duduk bersandar. “Nanti kuajak kau ke tempat lain, masih banyak tempat seperti Stroom ini. Capek kau nulisnya nanti?” kekeh Donny.

“Ya, sebelum mereka sibuk menutup diri dan menyimpan narkobanya rapat-rapat karena dia tulis,” sambung si “David Beckham’.
Penulis kembali tersenyum. Memang bukan rahasia lagi apa yang dimaksud oleh si ‘David Beckham’. Penulis juga sadar, setelah tulisan ini dicetak, maka Stroom pasti akan ‘tiarap’ dulu. “Jika marak lagi, kan tinggal tulis lagi,” jawab penulis enteng.
Mendengar jawaban spontan penulis, keduanya langsung tertawa. Sinar ruang pun terpancar dari mata mereka. “Ayo hidupkan barang (karaoke, Red) tuh!” teriak Donny.

Si ‘David Beckham’ garuk-garuk kepala sambil mengambil remote control. “Kan gak harus teriak-teriak…” keluhnya.
Penulis tersenyum. Teringat sang kolega dan Cindy, sudahkah ‘eksekusi’ dilakukan? (*)

Melihat Kondisi Bangunan Sekolah di Sergai

Mejanya Lapuk-lapuk, Dindingnya Mau Tumbang

Pememerintah Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) adalah salah satu kabupaten yang mendapatkan penghargaan tingkat nasional “Anugerah Aksara Madya”  dari Menteri Pendidikan RI beberapa waktu lalu.

Tapi, bukan berarti dunia pendidikan di kabupaten pemekaran ini sepenuhnya patut mendapat penghargaan. Soalnya, masih ada bangunan sekolah yang kondisinya amat sangat memprihatinkan, seperti di Sekolah Dasar (SD) Negeri 102036 di Jalan Gempolan Desa Tapian Nauli, Kecamatan Sei Bamban, Sergai.

Pantauan wartawan koran ini, Jumat (3/2) di sekolah tersebut, terlihat tiang penyangga bangunan sekolah sudah patah dan dikwatirkan akan rubuh atau tumbang. Kondisi ini tentunya sangat mengancam keselamat para murid yang tengah menimba ilmu di sekolah milik pemerinah tersebut.

Bahkan, sebagian besar mobiler sekolah, seperti meja dan kursi yang digunakan siswa, juga sudah lapuk alias dimakan rayap. Padahal, Pemkab Sergai juga menerima dana sebesar  Rp2,7 miliar untuk rehabilitasi dan mobiler 91 sekolah dasar.
Dari enam ruang kelas yang ada di sekolah itu, tiga ruang kelas nyaris rubuh, diantaranya ruang kelas IV, V dan VI. Keiga kelas ini, dihuni 64 siswa dari 120 siswa yang belajar di seklah tersebut.

Sepintas, keceriaan ratusan murid yang masih berumur 6 sampai 9 tahun di sekolah ini, seakan menutupi kecemasan para guru akan keselamatan mereka. Padahal, jika dilihat dari kondisi bangunannya, nyawa para murid di sekolah ini setiap saat dapat terancam.
Di sekeliling bangunan yang nyaris runtuh itu, para siswa bermain dan mendapat pengajaran dari guru-guru mereka. Ketika ditanya kepada siswa apakah mereka tidak takut sekolahnya akan runtuh? Mereka menjawab takut dengan serentak. “Katanya mau dibagusi, kapan pak dibagusinya, dari dulu mau dibagusi tapi tidak juga,” teriak polos siswa kepada wartawan koran ini.

Para guru-guru yang sedang melakukan proses belajar mengajar di sekolah tersebut, tidak banyak berkomentar dengan sekolahnya. “Ya, sekolah ini memang sudah lama kondisinya seperti ini, kadang kalau angin kencang plafon sekolah sudah mulai berbunyi seperti mau runtuh, untuk mengantisipasinya para murid kita suruh keluar,” uangkap para guru disekolah ini minta namanya tidak disebutkan. “Kami hanya berharap adanya perbaikan dengan segera, untuk komentar lebih, kami tidak berani, kami takut,” tambah para guru-guru ini.

Menyikapi hal tersebut, Sekretaris Dinas Pendidikan Sergai Edi Sahputra, yang dikonfirmasi Sumut Pos Jum’at (3/2) mengatakan, sekolah tersebut dalam rehaban, dan itu direhab hanya dua kelas saja. “Untuk rehab selanjutnya, kita harus menunggu anggaran tahun depan,” ketusnya. (mag-16)

Tidak Ada Jarak Antara Staf dengan Pimpinan

Senam Pagi Rutin Bersama Wali Kota Medan

Wali Kota Medan Drs H Raudman Harahap MM mengungkapkan bahwa semua PNS yang ada di jajaran Pemerintah Kota (Pemko) Medan yang jumlahnya sekitar 20.000 orang, termasuk dirinya merupakan satu kesatuan.

“Saya tidak akan bisa berbuat apa-apa di Kota Medan ini tanpa dukungan kita semua, termasuk staf sekecil apapun, tenaga karyawan apapun. Dia merupakan bagian yang ikut mensukseskan pembangunan di Kota Medan,” kata Rahudaman usai menggelar senam kesegaran Jasmani bersama dengan para pegawai Dinas Bina Marga, Dinas Pertamanan, Dinas Perhubungan, Dinas Kebersihan dan Kantor Arsip, di depan halaman Kantor Dinas Bina Marga Kota Medan, Jumat (3/2) pagi.

Dia mengatakan, sebagai pemimpin di Kota Medan dirinya tidak pernah menyepelekan siapapun. Buktinya, senam pagi ini digelar dengan suasana akrab dan sebagai bagian untuk tetap mempererat tali silaturahim diantara sesama staf dan Wali Kota Medan.

“Justru karena itu dengan kehadiran Wali Kota Medan dalam pelaksanaan senam pagi bersama ini adalah untuk membangun silaturahim dengan kita-kita semua. Bila terus ditumbuhkan rasa kasih sayang diantara kita,  baik terhadap pimpinan dan bawahan, maka sinergitas akan mampu terbangun dalam meningkatkan kinerja pada 2012,” ujarnya.

Rahudman menyebutkan, Pemko Medan sudah bertekad pada tahun 2012 harus lebih baik dari tahun 2011. Untuk mewujudkannya, perlu dipupuk dan kebersamaan dipelihara.
“Saya tidak ingin ada pejabat saya mulai dari eselon atas  sampai bawahan ada tekanan di dalam melaksanakan tugas, tapi kita semua harus bekerja, bertanggung jawab. Ini yang perlu dilakukan supaya kita bisa sehat,” cetusnya.

Menurut dia kegiatan senam pagi merupakan kegiatan rutin setiap instansi yang dilakukan dengan berkeliling setiap Jumat. “Ka melakukannya berkeliling setiap Jumat, kegiatan ini untuk membangun silaturahim dengan staf Pemko Medan sehingga terbangun harmonisasi, tidak ada jarak antara staf dengan pimpinan, kita lakukan komunikasi,” ungkapnya.

Untuk itu, Rahudman meminta kepada seluruh pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD)  harus tahu terhadap bawahan, harus bisa melihat apa yang menjadi masalah,  “Kita tidak ingin anak kita tertekan dalam melaksanakan tugas, harus bisa bekerja dengan tenang dan nyaman,” katanya.
Kondisi tersebut, paparnya perlu ditanamkan kepada para pejabat kita termasuk kepada staf untuk selalu ikhlas dalam melaksanakan tugas,.

Akhirnya Wali Kota Medan berharap kepada semua jajaran baik staf maupun pimpianan agar dapat melaksanakan tugas dengan baik, bila ada hal sekecil apapun yang terjadi di lingkungan kerja masing-masing segera cari jalan keluarnya, jangan dibiarkan dan dipermasalahkan, dengan begitu nantinya kita bisa bangun kinerja yang solid di dalam melaksanakan tugas. (adl)

Bekerja Hari Ini Hanya untuk Makan Sehari

Melihat Aktivitas ‘Buruh Pelor’ di Pelabuhan Belawan

Menjadi buruh liar atau sering disebut ‘buruh pelor’ merupakan salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tidak ada yang bisa diharapkan untuk hari esok. Bekerja hari ini hasilnya hanya untuk dimakan sehari.

Suasana di Pelabuhan Belawan tampak hiruk pikuk. Sejumlah buruh bongkar muat saling bergantian memikul dan menarik barang dari kapal yang akan dipindahkan ke truk pengangkut barang. Dengan bermandikan keringat, B Simatupang (40), seorang buruh liar di Pelabuhan Belawan, juga terlihat sibuk melakukan aktivitas bongkar muat barang di areal dermaga pelabuhan itu.

Meski bermandikan keringar, namun tak banyak bayaran yang diterima pria berkulit gelap ini dalam menjalankan pekerjaannya itu. “Kalaupun besok masih ada nafas, belum tentu juga bisa dapat uang. Bekerja sehari untuk dimakan sehari,” kata B Simatupang kepada wartawan Sumut Pos.

Menurut bapak tiga anak ini, sebelum melakukan pekerjaannya itu, biasanya dia melakukan kesepakatan dulu dengan buruh bongkar muat yang terdaftar di Koperasi TKBM Upaya Karya Pelabuhan Belawan. Pasalnya, yang boleh mengerjakan bongkar muat barang di pelabuhan itu adalah buruh yang terdaftar.

“Tadi, karena buruh yang terdaftar itu tak sempat mengerjakannya, maka pekerjaan ini diserahkan kepadaku, dengan kesepakatan, upah kerja dibagi dua,” ungkap warga Sei Mati Kecamatan Medan Labuhan ini.

Menurutnya, resiko kecelakaan kerja sebagai buruh pelor sangat tinggi. Bahkan, kecelakaan kerja terhadap buruh ‘pelor’ di pelabuhan sudah pernah terjadi. Ketika itu seorang temannya terjatuh dari kapal hingga mengakibatkan nyawa melayang.
“Ya beginilah suasana kerja di pelabuhan, kalaupun ada terjadi kecelakaan kerja pada saat aku bekerja itu ditanggung sendiri. Lain kalau buruh yang terdaftar sebagai anggota koperasi, mereka pastinya sudah mengantongi Jamsostek,” ucapnya.

Dia juga mengungkapkan, aktivitas buruh bongkar muat di pelabuhan ini tak hanya berlangsung dari pagi hingga sore hari, tapi bisa juga hingga malam hari tergantung jadwal kedatangan dan keberangkatan kapal.
“Kalau sandarnya malam, terpaksa kerjanya dari malam sampai pagi. Kalaupun ada razia dari petugas di pelabuhan, kami langsung bersembunyi,” terangnya.

Sementara Ketua Primer Koperasi (Primkop) TKBM ‘Upaya Karya’ Pelabuhan Belawan, Tombang Hutabarat kepada Sumut Pos mengatakan, pihak koperasi telah mengeluarkan larangan kepada anggota melalui surat keputusan (SK) yang juga ditembuskan ke Administrator Pelabuhan Utama Belawan.

“SK yang melarang buruh liar untuk melakukan kegiatan di pelabuhan sudah dibuat, dan diketahui oleh Adpel serta aparat penegak hukum di pelabuhan. Kalaulah sampai saat ini masih ada aktivitas buruh-buruh liar, itu kita serahkan ke aparat kepolisian untuk melakukan penertiban,” ungkapnya.

Tombang, juga menyebutkan beberapa waktu lalu anggota Komisi B DPRD Kota Medan juga pernah mempertanyakan persoalan tersebut, dan meminta pihak koperasi agar melegalkan para buruh-buruh liar dengan merekrutnya menjadi anggota.
“Kita menolak permintaan itu, karena jumlah buruh yang masih produktif dan teregistrasi di koperasi masih banyak, mencapai 2.800 orang dari jumlah keseluruhan 3.400 orang,” jelasnya.(*)

Debut Carrizo

Cesena v Catania

Kiper Catania Juan Pablo Carrizo dituntut untuk bermain baik di ajang Serie A saat menghadapi Cesena, Sabtu (4/2).
Soalnya kiper asal Argentina ini baru dipinjam dari Lazio untuk memperkuat Catania.

Oleh karenannya, Carrizo tidak sabar lagi untuk menghadapi Cesena dan membawa nilai baik kepada Catania.
“Saya tidak memberikan yang terbaik bagi Lazio karena alasan pribadi,” kata Carrizo. “Tapi sekarang saya telah diberi kesempatan lain untuk memulai kembali karir saya dan saya ingin membuat yang terbaik ,” sambungnya.

Catania belum pernah menang di laga Serie A. Buktinya saat berhadapan dengan Lecce mereka kalah dengan skor 0-1 pada 26 November lalu.

Selain itu Catania ditahan imbang 1-1 dengan Parma akhir pekan lalu, hasil yang memperpanjang rekor tanpa kemenangan mereka untuk empat pertandingan.

Pelatih Catania Vincenzo Montella mengatakan pihaknya sudah memiliki persiapan matang sebelum bertanding di Siena. Sementara itu Cesena saat ini dalam situasi penuh sukacita setelah memegang Napoli untuk hasil tanpa gol di Naples pada hari Rabu lalu. (net/jpnn)