27 C
Medan
Friday, April 17, 2026
Home Blog Page 14128

BNI Dibobol Rp129 Miliar, Boy Terindikasi Disembunyikan

MEDAN-Upaya pencairan tersangka pembobol Bank BNI 46 Cabang Jalan Pemuda Medan sebesar Rp129 miliar, Boy Hermansyah belum menuai hasil. Saat ini keberadaan pria yang masuk dalam DPO interpol itu belum terlacak.

“Upaya pencarian masih dilakukan. Saat ini belum bisa dipastikan keberadaannya dimana. Ada yang bilang dia di Malaysia. Tapi, terus kami upayakan,” jelas Kasi Penerangan Hukum (Kasipenkum) Kejatisu, Marcos Simaremare, Senin (23/1).

Marcos menambahkan, pihaknya terus melakukan koordinasi dengan interpool terkait pencarian Boy Hermansyah. Namun, belum menuai hasil diharapkan.  Tidak hanya pencarian Boy Hermansyah saja belum menuai hasil. Berkas keempat tersangka lainnya sekarang menjadi tahanan kota yakni Radiyasto selaku pimpinan Sentra Kredit Menengah BNI Pemuda Medan, Bahrul Azli, pimpinan Kelompok Pemasaran Bisnis BNI Pemuda Medan, Mohammad Samsul Hadi, Pimpinan Rekanan dan Kantor Jasa Penilaian Publik dan Titin Indriani, Relationship BNI SKM Medan belum dilimpahkan ke Pengadilan Tipikor Medan.

Pasalnya, ada beberapa dokumen yang dibutuhkan belum didapat. Untuk mendapatkan dokumen itu harus mendapat persetujuan dari Gubernur Bank Indonesia.
“Dalam waktu dekat ini akan dilimpahkan. Dokumen yang kami minta sedang diproses di Bank Indonesia. Jadi, sudah tidak ada masalah,” ucap Marcos.
Sementara itu, Wakil Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan Muslim Muis SH mengatakan, diduga kuat keberadaan Boy Hermansyah sengaja dilindungin kekuatan besar atau oknum tertentu sementara waktu. Diduga Boy akan dikeluarkan begitu empat tersangka pembobol Bank BNI Cabang Jalan Pemuda itu divonis.

Alasannya, keterangan Boy dan empat tersangka lainnya tidak bisa dikonfrontir atau apa yang terjadi sebenarnya tidak terkuak.
“Kami menduga dia disembunyikan oleh kekuatan besar sampai waktu yang ditentukan,” jelas Muslim Muis, Senin (23/1).

Dia menambahkan, apabila Boy ditangkap diduga akan berpengaruh pada bank bersangkutan. Dimana, bank dianggap memudahkan pencairan dana pinjaman. Padahal agunan digunakan sudah dipakai untuk pinjaman lain.

Dia juga menduga ada permainan dengan dugaan pihak dalam membantu pencairan dengan kesepakatan yang dibuat dua belah pihak. Untuk itulah ada dugaan penundaan penangkapan Boy agar hasil persidangan tidak ketahuan adanya kelemahan bank dalam mengeluarkan pinjaman.
Selain itu, kesalahan bisa dilimpahkan ke bank.  Mengingat Boy hanyalah pemohon. Tidak ubahnya pemohon lain. Pihak bank yang menentukan apakah mencairkan atau menolak.

“Diduga ada permainan dalam pencairan dana ini sehingga terlalu mudah diproses untuk peminjaman sebesar itu. Pihak bank tidak memeriksa dokumen yang diagunkan dan sebagainya,” katanya.

Dia mencontohkan perkara ini sama seperti kasus travel cek pemilihan Deputi Senior BI. Dimana, beberapa anggota DPR yang menerima disidangkan lebih dulu. Setelah semua disidangkan baru Nunun Nurbaeti ditangkap. Tentunya bila interpol punya kemauan tidak susah menangkap Boy Hermansyah.
Sekadar mengingatkan, Kejatisu sudah menyita beberapa aset milik tersangka Boy Hermansyah yakni 19 hektar lahan HGB 02, 1 unit Pabrik Kelapa Sawit (PKS) di Aceh Tamiang. Kejatisu juga telah menyita uang Rp60 miliar milik Boy dari rekeningnya di Bank BNI. Selain itu, sebesar Rp1,5 miliar milik PT Atakana di Bank Mandiri.

Penyitaan ini sebagai jaminan atas kerugian negara sebesar Rp53 miliar yang dibobol dari BNI dengan mengajukan kredit fiktif. Dalam perkara ini penyidik menemukan 4 pengucuran dana bermasalah dengan total

sebanyak Rp129 milir. Pertama adanya pengucuran kredit take over dari Bank Mandiri sebesar Rp23 miliar. Dimana Direktur PT BDKL, Boy Hermansyah mengajukan pengalihan kredit atau hutangnya di Bank Mandiri ke Bank BNI.

Dalam perkara ini ternyata sisa hutang Boy Hermnsyah hanya Rp 9 miliar. Temuan lain,adanya pengucuran kredit investasi refinancing Pabrik Kelapa Sawit (PKS) senilai Rp20 miliar. Dalam permohonan justru agunan kredit di Bank Mandiri yang diagunkan. Sehingga jaminan yang sama digunakan untuk dua jenis pinjaman. Bentuk dugaan penyimpangan lainya, adanya pengucuran kredit investasi pembelian kebun Sawit milik PT Atakana senilai Rp74,5 miliar. Tidak ada bukti jual beli kebun sawit dari PT Atakana ke PT BDKL. Sedangkan usulan kredit investasi rehabilitasi kebun sebesar Rp14 miliar. (rud)

Reaktualisasi dan Redefinisi Trilogi Pembangunan

Ir H Chaidir Ritonga Jadi Pembicara Dialog Publik Ika PPs UMA

MEDAN-WAKIL Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sumut Ir H Chaidir Ritonga MM tampil sebagai pembicara pada dialog publik Prospek Harapan 2012: Penegakan Hukum dan Ekonomi yang Berkeadilan Dalam Bingkai Stabilitas Politik di kampus Universitas Medan Area Jalan Sei Serayu Medan, Jumat (20/1).

Pembicara lain dalam dialog publik diadakan Ikatan Alumni Pascasarjana Universitas Medan Area (Ika PPs UMA) ini Wakil Rektor I UMA Drs H Heri Kusmanto MA dan Dosen Unimed Drs Mazda El Mukhtaz MSi. Kegiatan yang diikuti sejumlah dosen, mahasiswa dan masyarakat ini juga dihadiri Rektor UISU yang juga Guru Besar UMA Prof Dr Zulkarnain Lubis, Wakil Direktur III PPs UMA Muazzul SH MHum dan Wakil Ketua Ika PPs UMA Yulizar P Lubis.
Chaidir yang juga Ketua Perhimpunan Alumni IPB Sumut mengutarakan dari dialog publik ini para pembicara sepakat mengkaji ‘Trilogi Pembangunan’ yang dikembangkan pemerintahan semasa orde baru. ‘’Stabilitas politik dan keamanan, pertumbuhan ekonomi dan pemerataan serta stabilitas politik jadi kajian,’’ katanya.

Menurut dia, penegakan hukum, ekonomi berkeadilan dan stabilitas politik harus dapat dilaksanakan. Carut-marut kondisi bangsa, lanjut dia, karena kurangnya penegakan hukum, ekonomi yang kurang berkeadilan dan kapitalistik. ‘’Stabilitas politik mana yang bisa dibangun dengan kondisi kebalasan dan tanpa ada landasan hukum. Akhirnya semua sepakat, tiga hal dari trilogi pembangunan harus direaktualisasi dan redefinisi kepada nilai-nilai dasar dalam berbudaya dan berbangsa yakni Pancasila,’’ katanya.

Chaidir berharap kondisi carut-marut bangsa dapat teratasi sehingga demokrasi dan penanganan ekonomi dan penegakan hukum yang kini liberal telah lari dari bingkai Pancasila sebagai falsafah negara san sumber dari segala sumber hukum.

Menanggapi pertanyaan Taufik dari Unimed tentang kepentingan politik yang kinerja legislatif, Chaidir mengungkapkan Indonesia bukan menganut sistem parlementer dan presidensial. ‘’Artinya negara ini dibuat yang bukan-bukan, sehingga produk yang dihasilkan yang bukan-bukan,’’ katanya mencontohkan.

Wakil Rektor I UMA Drs H Heri Kusmanto MA mengkritisi demokrasi liberal transaksional dan politik pembangunan yang dikembangkan pemerintah termasuk dengan perangkat perundang-undangan yang mengaturnya. Sedangkan Dosen Unimed Drs Mazda El Mukhtaz MSi menyoroti permasalahan Hak Azasi Manusia (HAM). Mazda menilai partai politik (parpol) harus direformasi karena dari parpol banyak menjadi eksekutif. Ke depan, ia mendesak parpol memberi edukasi pendidikan politik pada masyarajat sehingga penegakan hukum dan ekonomi yang berkeadilan dalam bingkai stabilitas politik dapat terwujud. (*)

Sambut Imlek, HDCI Sumut Gelar Touring dan Baksos

MEDAN-Komunitas pecinta motor besar yang bergabung di Harley Davidson Club Indonesia (HDCI) Sumut menggelar touring dan bakti sosial (baksos) dalam menyambut Tahun Baru Imlek 2563.

Para rider Harley Davidson ini memulai touring dari Mabua Harley Davidson (MHD) Medan, di Jalan S Parman, Medan, sebagai dealer  motor besar asal Amerika ini, Sabtu (21/1), dengan dipimpin langsung Ketua HDCI Sumut Ijeck. Tercatat 40-an peserta mengikuti touring menujun Tandem, Hamparan Perak,  Deliserdang, sekaligus pemberian bantuan ke vihara Sariputra, yang berlokasi di Dusun 7, Desa Tandem Hulu II yang berada di sana.
Ketua HDCI Sumut saat penyerahan bantuan mengatakan,  touring dan kegiatan Bakti Sosial  merupakan kegiatan tetap dari HDCI Sumut di setiap menyambut perayaan hari-hari besar keagamaan, dan saat ini etnis Tionghoa sedang merayakan Tahun Baru Imlek. “Semoga bantuan ini dapat diterima dengan baik, dengan harapan semuanya bisa merayakan hari raya lebih baik lagi,” ucap Ijeck.

Sementara Pemimpin Vihara Sariputra, Sugiat menyatakan terima kasih atas kepedulian dari HDCI Sumut, yang mengatakan sumbangan ini dapat meringankan warga kurang mampu dalam merayakan Tahun Baru Imlek mereka.  Etnis Tionghoa yang berdomisili di sekitar lokasi vihara juga antusias menyambut kedatangan rombongan HDCI Sumut, dengan ramai-ramai datang ke lokasi vihara.

Ijeck, usai touring dengan finis kembali ke MHD Medan, menambahkan, pihaknya senantiasa ingin berbagi dengan sesama, terutama di hari-hari spesial seperti perayaan hari raya dan tahun baru. “Bantuan yang disalurkan merupakan sumbangan dari semua anggota HDCI Sumut, yang ingin berbagi dengan sesama di setiap  hari raya ataupun tahun baru. Kita ingin kehadiran HDCI Sumut bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” tandas Ijeck.
Ationg dan Uche dari Seksi Touring dan Baksos HDCI Sumut menyebutkan di Medan kemarin (23/1), touring dan baksos yang digelar pada akhir pekan kemarin, terselenggara atas kerja sama dengan Pengprov IMI  Sumut dan juga Ditlantas Polda Sumut.

Adapun bantuan yang diserahkan berupa beras 100 goni, minyak makan 100 bungkus, mie instan 100 karton, dan 50 lusin sirup.
Touring dan Baksos menyambut perayaan Imlek ini, lanjut Ationg, adalah kegiatan kedua di awal tahun 2012, setelah pekan lalu, para rider HDCI Sumut sukses melakukan touring dengan rute Medan- Pekanbaru – Medan, yang diikuti 15 peserta. “Ke depannya, kegiatan dari HDCI Sumut akan semakin banyak, seiring dengan semakin meningkatnya jumlah anggota dari komunitas pecinta motor besar ini,” ungkap Ationg. (jun)

Tiga Daerah Rawan Perampokan

Tinggi angka perampokan membuat Polresta Medan memperketat pengawasan di sejumlah tempat. Seperti apa? Berikut wawancara wartawan Sumut Pos, Bagus Syahputra dengan Kasat Reskrim Polresta Medan, Kompol M Yoris Marzuki.

Apa yang sudah dilakukan polisi?

Untuk mengantisiapasi perampokan Polresta Medan sudah membentuk personel gabungan dari Unit Reskrim Polsek di jajaran Polresta Medan dan Satuan Intel Polresta Medan. Kemudian  memetakan lokasi yang rawan kejahatan.

Dimana saja lokasi yang rawan?

Lokasi rawan tindak kriminal ada tiga yakni Polsekta Percut Sei Tuan, Polsekta Medan Kota dan Polsekta Medan Sunggal. Nah untuk daerah ini kita akan melakukan patroli untuk memantau situasi lokasi tersebut sehingga tindakan bisa langsung dilakukan.

Apa lagi yang dilakukan?

Pendataan terhadap kepala lingkungan di Kota Medan. Hal ini dilakukan agar kepala lingkungan berkordinasi dengan polisi, sehingga tindakan kriminal yang terjadi di masing-masing lingkungan bisa langsung diketahui. (*)

Bos PT Inatex Ngaku tak Salah

MEDAN-Direktur Utama PT Inatex, Lusiana br Nadeak membantah keterangan empat satpam PT Inatex, Sofyan, Abdullah, M Taufik dan Hotmer Siahaan yang mengaku mendapat perintah darinya atas pengrusakan lapak pedagang ikan.
“Nggak ada saya memberi perintah kepada satpam untuk melakukan pengrusakan terhadap lapak pedagang ikan,” kata Lusi Nadeak saat dihubungi, Senin (23/1).

Menurut Lusi, tindakan yang dilakukan oleh satpam sudah benar, karena lapak pedagang yang dirusak itu adalah milik PT Inatex yang disewakan kepada pedagang.

“Lapak pedagang ikan punya kita (PT Inatex), kenapa harus pedagang yang keberatan. Masa sewa mereka kan sudahn habis dan saya juga sudah memberikan surat peringatan sampai ketiga kalinya,” ujarnya.

Terkait pemanggilan pertama oleh penyidik Polsekta Medan Kota kepadanya dan Presiden Direktur PT Inatex, Sutan Mulia Nadeak, Lusi mengaku tidak bersalah. “Saya kan nggak ada salah, kenapa saya kok dipanggil polisi. Sudahlah, nanti telepon lagi,” cetusnya.
Kuasa Hukum PT Inatex, Irfan Harahap yang dikonfirmasi tak tahu menahu persoalan itu.

“Nggak tahu menahu aku dengan persoalan itu. Nggak ada orang itu (Bos PT Inatex) minta aku untuk mendampinginya. Jadi yang aku tahu hanya masalah pertemuan ditingkat DPRD Sumut saja,” ucapnya melalui telepon selulernya.

Irfan juga mengaku pusing berurusan dengan kliennya. Dimana, pihak PT Inatex seperti tidak mengambil pusing dengan urusan laporan pedagang ke Polsekta Medan Kota yang sedang dalam tahap penyelidikan.

“Saya sudah bilang ke pimpinan PT Inatex. Tetapi sampai saat ini belum ada tanggapan dari mereka. Lagi pula kawasan itu kan milik orang itu, jadi mana bisa aku memaksanya. Jadi apalagi yang mau aku bilang,” jelasnya.

Dikatakannya, untuk hasil perkembangan pertemuan pedagang dengan PT Inatex di DPRD Sumut sampai saat ini belum ada.
“Sampai saat ini belum ada progres dari DPRD Sumut. Jadi masih gitu-gitu saja. Karena tidak ada tanggapan dari PT Inatex,” ucapnya.
Pantauan wartawan pedagang ikan yang sudah tidak dizinkan oleh PT Inatex berjualan di dalam kawasan PT Inatex, kini berjualan di sepanjang Jalan Tanjung Bunga, Medan Kota.

“Lihatlah pedagang masih berjualan di sini. Penyelesaian di DPRD Sumut juga belum ada perkembangan yang jelas. Padahal ini sudah masuk minggu keempat. Janji  wakil rakyat itu hanya tiga minggu saja,” ungkap Ketua Persatuan Pedagang Pasar Tradisional (P3T), Rusli Tanjung.
Dijelaskannya, proses hukum yang sudah berjalan di Polsekta Medan Kota akan tetap diperjuangkan pedagang sampai ke pengadilan. “Kami tidak akan mundur. Biar hukum yang memproses mereka,” cetusnya.(adl)

Wajah Hitam, Mulut dan Hidung Berdarah

Tukang Tempal Ban Tewas dalam Bengkel

MEDAN-Bonar Sihombing (51) ditemukan tewas di kios tambal ban miliknya di pinggir Jalan Sisingamangaraja Km 7,5, Tanjung Morawa, Senin (23/1) sekira pukul 11.00 WIB.

Saat ditemukan, mayat Bonar dalam posisi telanjang dan jongkok di atas papan tempat tidur yang ada di dalam bengkel tempel ban miliknya. Dari mulut dan hidung korban mengeluarkan darah dan wajah korban sudah menghitam.

Informasi yang dihimpun, mayat Bonar pertama kali ditemukan anaknya Tono. Saat itu, Tono hendak mengantarkan teh manis untuk Bonar. Tono berulang kali memanggil ayahnya dari luar, namun tidak ada sahutan. Merasa curiga, Tono pulang ke rumahnya yang ada di belakang bengkel dan memberitahukan ibunya boru Rajagukguk.

Tono kembali ke bengkel yang hanya berjarak 50 meter dari rumah mereka. Bersama dengan ibunya, Tono kembali memanggil ayahnya dari samping bengkel sambil melihat ke dalam bengkel yang terbuat dari papan dan seng.

Karena tak kunjung menyahut, Tono langsung mendobrak pintu dan melihat kondisi ayahnya sudah tidak bernyawa. Seketikan itu juga Tono dan ibunya menjerit sehingga mengundang perhatian warga sekitar. Polisi yang mengetahui kejadian ini langsung turun ke lokasi kejadian melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).

Dari hasil olah TKP tidak ditemukan adanya tanda-tanda mencurigakan atau penganiayaan terhadap korban.
Kanit Reskrim Polsekta Patumbak, AKP P Samosir mengatakan tak ditemukan tanda-tanda mencurigakan di tubuh korban.
Dibantu warga, korban yang tidak memakai busana langsung diboyong ke rumah. Di dalam rumah isak tangis keluarga pun terdengar.
Istri korban berulang kali memeluk jasad suaminya sambil menangis. Warga pun berdatangan.

Istri korban Rostamar br Rajagukguk (50) mengaku terkejut saat melihat suaminya telanjang tak bernyawa.
“Waktu ku pegang sudah dingin badannya, sudah gitu telanjang pula,” ujar Rostamar.
Keluarga meminta agar tak dilakukan visum terhadap jasad Bonar.

“Ngapain visum-visum, orang kata polisi nggak ada apa-apa kok. Ngabis-ngabisi duit lah kalau visum-visum lagi, kesana-kemari capeklah,” ujar salah seorang kerabat korban. (mag-5)

Pemko Rekayasa Arus Lalulintas

Antisipasi Kemacetan Pembangunan Fly Over Simpang Pos

MEDAN-Untuk mengantisipasi macet di Simpang Pos selama proses pembangunan fly over awal bulan Februari, Pemko Medan berencana akan melakukan rekayasa arus lalulintas di beberapa titik jalan untuk menghindari kemacetan.

“Kita kan tahu selama pembangunan fly over pasti pengguna jalan akan terganggu dengan pengerjaan itu. Sudah jelas pasti akan macet,” kata Sekda Kota Medan, Syaiful Bahri.

Untuk beberapa titik jalan yang akan dilakukan perubahan selama pembangunan berjalan, Syaiful belum bisa menjelaskannya. Pemko Medan akan melakukan koordinasi dengan instansi terkait untuk membahasnya.

“Rekayasa lalulintas yang dilakukan belum bisa di jelaskan titik jalan mana saja yang akan dipakai selama pembangunan. Pemko Medan akan melakukan pembahasan terlebih dahulu dengan instansi terkait dengan menggelar rapat,” ungkapnya.

Kasatker Metropolitan Balai Jalan dan Jembatan Kementrian PU Wilayah Sumut, Simalatua Sinaga menuturkan kalau dalam bulan ini pihaknya akan berkordinasi dengan pihak yang berhubungan langsung dengan lalulintas. Hal itu untuk mengantisipasi kemacetan selama proses pembangunan fly over Simpang Pos. (adl)

Berutang, Dikeroyok Tetangga

MEDAN-Hulman Silaen (34), warga Jalan Trikora, Medan Denai harus menjalani perawatan di RSU dr Pirngadi Medan, Senin (23/1). Pasalnya, Hulman Silaen dikeroyok tetangganya karena tak mau membayar utang.
Pengakuan Hulman,dirinya mempunyai  utang  dengan keluarga Sitorus, tetangganya.  Dia mengaku, bukannya tak mau membayar tapi sedang tak punya uang.

“Saya memang berutang tapi saya memang lagi tak punya uang saat ini,” katanya ditemani istrinya, Ester Simangunsong (38).
Menurutnya, tetangganya itu tak mempunyai itikad baik saat menagih utang.  “Saya sudah bilang  akan membayar tapi  anaknya  Hendra  tiba-tiba saja memukul  saya. Tak hanya itu  keluarganya yang lain ikut juga memukul saya,” ujarnya.

Menurut Hulman, akibat pengeroyokan itu dirinya mengalami luka lebam dan jari  tangan kanannya hampir putus.
“Mereka ramai-ramai memukul saya sementara saya sendiri dan istri saya saat itu  sedang keluar.  Saya belum ada  lapor polisi  menunggu  saya sembuh dulu,” ucapnya.

Ester, istrinya menuturkan, perlakuan tetangganya sudah di luar batas kewajaran.
“Siapa yang terima dipukul satu keluarga. Utang pasti dibayar,  tapi kami tidak  terima perlakukan mereka. Jelas-jelas ini tak manusiawi dan pasti kami  lapor ke polisi,” katanya. (jon)

Harga Jagung Tembus Rp2.500 per Kilo

MEDAN- Di tahun 2012 ini, harga jagung naik dari Rp1.800-Rp1.900 per kilogram menjadi Rp2.500 per kilogram. Kenaikan harga jagung ini dikarenakan adanya penghentian impor jagung untuk sementara waktu oleh pemerintah.

“Adanya penghentian impor jagung ini, membuat harga jagung lokal naik, ini yang kita harapkan agar pemerintah mengerti dan memahami keinginan petani,” ujar Ketua Himpunan Petani Jagung Indonesia (Hipajagi) Sumut Jemat Sebayang, ketika dikonfirmasi, Senin (23/1).

Jemat menyadari, impor jagung pada waktu-waktu tertentu sangat dibutuhkan, karena produksi Sumut yang belum mampu menutupi kebutuhan jagung, terutama untuk pabrik. Harapan petani, impor jagung jangan dilakukan bila masa panen tiba yang biasanya terjadi pada bulan Juli hingga September. Kebutuhan Sumut akan jagung sekitar 1,5 juta ton per tahun, sedangkan produksi jagung Sumut berkisar 1,3 juta ton per tahun dengan luas lahan sekitar 45 ribu hektare. Dengan produksi 8 hingga 10 ton per hektare. “Jadi yang ditutupi itu seharusnya 200 ton, tapi jangan semuanya, karena itu akan mematikan kita sendiri,” tambah Jemat.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Hipajagi Charlie Hutasoit menyatakan, jagung lokal memiliki kelebihan dibandingkan dengan jagung impor, salah satunya pada kandungan minyak jagung itu sendiri. “Kandungan minyak kita lebih tinggi, perbedaannya sekitar 2 sendok teh untuk rendemennya,” ungkap Charlie.

Menurutnya, impor terakhir yang masuk Sumut pada 5 Januari 2012 lalu dari India. “Total impor pada 2011 hingga 5 januari 2012 sekitar 100 ton,” tambah Charlie.

Charlie juga menegaskan, walau harga jagung saat ini sudah naik, tetapi harga tersebut belum mencukupi kebutuhan dari petani itu sendiri. Dari berbagai sentral penghasil jagung di Sumut, seperti di Tanah Karo, Simalungun, Dairi, Sergai, Deli Serdang, Langkat, dan daerah lainnya, per hektarnya mengahabiskan dana sekitar Rp8 hingga Rp10 juta sekali penanaman. “Kalau dengan perhatian khusus, seperti pupuk organik dan lainnya, biaya yang dibutuhkan sekitar Rp10 juta,” tambah Charlie.

“Kalau dari hitungan Rp2.500 per kilogram, berarti keuntungan yang didapat oleh petani hanya Rp800 ribu per bulannya, itu kan tidak mencukupi,” ungkap Charlie.

Karena itu, ke depannya, Hipajagi akan memberikan refrensi untuk harga jagung. (ram)

Lumbung Gol

Persema vs PSMS

MALANG -Gawang PSMS lagi-lagi menjadi lumbung gol. Giliran Persema Malang yang berhasil menghujani gawang PSMS dengan skor 4-1, dalam lanjutan kompetisi Indonesia Primier League (IPL) di Stadion Gajayana Malang, kemarin (23/1) malam.

Pelatih PSMS, Fabio Lopez mengaku kekalahan anak didiknya karena minimnya konsentrasi. Sehingga pola permainan anak didiknya bisa dibaca para pemian Persema. Hal itu mambuat anak didiknya kesulitan mengimbangai permainan Persema.

“Saya akui pemain Persema cukup cerdik menguasai keadaan, sehingga bisa memenangkan pertandiangn,” tegasnya.
Lopez mengakui, permaina Persema cukup bagus. Sehingga wajar Persema bisa memenangkan pertandingan.

“Banyak hal yang harus saya lakukan untuk memperbaiki tim saya. Karena masih banyak laga yang harus saya jalani,” tegasnnya.
Bagi Persema, dengan hasil tersebut menembus papan tengah klasemen sementara mengantongi tujuh poin menggeser posisi Persiba Bantul. Bagi Persema kemenangan 4-1 atas PSMS Medan ini adalah yang kedua kalinya dalam laga home. Karena sebelumnya Persema juga meraih kemenangan atas Bontang FC di Stadion Gajayana 2-0, Senin (16/1) lalu.

Empat gol kemenangan Persema kemarin dicetak Dennis Kacanovs pada mneit 13 setelah memanfaatkan tendangan pojok Guy Bertrand Ngon Mamoun. Sedangkan tiga gol adalah hat-trick Emile Bertrand Mbamba pada menit 19,38 dan 85. Sedangkan gol tunggal PSMS di cetak Andri Abubakar menit 32
Kemenangan Persema ini sendiri memang sudah terlihat sejak babak pertama. Persema langsung menyerang. Bahkan para pemain PSMS tidak bisa berbuat banyak, karena tidak bisa menembus pertahanan Persema yang digalang Naum Sekulovski.

“Saya akui pemian saya bermain cukup bagus. Meskipun gajian terlambat. Tapi pemain bersikap profesional,” kata Pelatih Persema, Slave Radovski, usai pertandingan kemarin. Slave juga mengatakan, dalam pertandingan kemarin, anak didiknya terlihat bermain sangat lepas. (yon/jpnn)