26 C
Medan
Friday, April 10, 2026
Home Blog Page 14172

Beckham Gaya Sherlock Holmes

MASA liburan David Beckham di Inggris telah usai. Kini gelandang LA Galaxy itu kembali ke Amerika Serikat dengan gaya baru.
Kali ini Beckham terinspirasi dengan gaya tokoh fiksi detektif asal Inggris, Sherlock Holmes. Beckham menghabiskan masa libur Major League Soccer (MLS) di Inggris.

Gelandang yang sedang dalam masa free agent itu menyempatkan diri menghadiri ulang tahun adiknya, Joanne, dan menyaksikan laga Manchester United melawan Manchester City di putaran ketiga Piala FA.

Beckham juga menyempatkan diri menyaksikan pertandingan Piala FA antara Arsenal melawan Leeds United di Stadion Emirates, Senin (9/1) lalu. Setelah menghabiskan waktu sekitar dua pekan di London, Inggris, kini Beckham kembali ke Los Angeles bersama tiga anaknya, Brooklyn, Romeo dan Cruz.

Bukan David Beckham namanya jika tidak tampil dengan gaya baru. Kedatangan Beckham di Bandar Udara Internasional Los Angeles, Rabu (11/1) waktu setempat, langsung mendapatkan sorotan banyak kameraapalagi kalau bukan gaya barunya ala detektif Sherlock Holmes.

Super Beckham memang selalu menyajikan gaya-gaya baru, next time gaya apa lagi yang akan di gunakannya nantikan terus.(net/jpnn)

Sama-sama Keras

PSMS vs PERSIWA

MEDAN-Kehilangan poin di Bandung, PSMS kembali dihadapkan pada ujian sulit pada lanjutan Indonesian Super League (ISL) 2011/2012.

Malam ini di Stadion Teladan tamu dari Papua siap menjegal ambisi PSMS meraih poin penuh. Tim yang akan menjajal PSMS itu adalah Persiwa Wamena.

Jelas ini bukan laga yang mudah dalam target mendulang poin. Tim berjuluk “Badai Pegunungan” ini juga datang bukan untuk dipecundangi. Hal itu tak dipungkiri Pelatih kepala PSMS, Raja Isa.

Ia tahu betul bagaimana ngototnya Persiwa jika beraksi. Sebelumnya Pelatih asal Malaysia itu sempat membesut tim asal ujung timur Indonesia ini. “Ini satu partai yang sangat menarik. Kita kedatangan dua tim besar asal Papua. Kita anggap Persiwa punya nama besar di kancah ISL,” bilang Isa.

“Saya berharap stadion bisa membludak.

Sebagai tim kandang tidak ada yg mau main seri atau kalah.

Tapi kita juga pahami Persiwa punya karakter daya juang yang kuat.

Mereka tidak akan mudah dikalahkan,” ujarnya.

Sedikit mengurai keistimewaan lawan, Raja Isa paham betul sayapsayap lawan yang menyayat.

“Kedua sayap mereka berbahaya.

Mereka juga punya Pieter Romaropen yang pengalamannya cukup bisa diandalkan. Ini yang harus kita waspadai. Tapi di lapangan ini panggungnya pemain bagaimana hasilnya kita dapat,” katanya.

Raja Isa cukup yakin dengan perkembangan skuadnya yang terus mengarah positif. Dari tiga laga, Novi Handiawan dkk juga baru mencatat sekali kekalahan.

“Tim ini bisa berkembang dengn materi seadanya. Kita sudah buktikan di empat laga kejutan. Di Bandung kita hanya kurang beruntung. Tapi semuanya secara bertahap.

Tidak bisa serba instan,” ujarnya.

Untuk mengamankan tiga angka, permainan agresif di Bandung sepertinya menjadi opsi. Kali ini kekuatan PSMS kembali lengkap dengan hadirnya Arie Priyatna yang kembali dari akumulasi kartu. Produktivitas Saha diharapkan kembali tajam pasca mencetak gol ke gawang Persib.

Pertahanan juga terbantu karena Zainal Anwar juga sudah bisa diturunkan.

Kali ini kuartet bek akan kerja keras meredam kreativitas Romaroepen dan lincahnya Erick Lewis. Juga ada duet striker berbahaya Jaelani Aray dan Boakay Foday Eddi.

Di kubu lawan Laskar Lembah Baliem, julukan lain Persiwa juga dalam kondisi siap tempur. Manajer Persiwa, Agus Santoso mengatakan dengan kekuatan 18 pemain, ia siap mencecar kemenangan.

“Kami datang bukan untuk kalah tapi menang. Walaupun kami tahu itu berat karena PSMS punya pemain berkualitas. Salah satunya Sasa Zecevic mantan pemain kami musim lalu,” tandas Agus.

“ Ia pasti akan mengurai sedikit gambaran kelemahan kami pada timnya. Walaupun tim promosi kami tidak akan meremehkan nama besar PSMS,” ujarnya. (saz)

Hari Ini, Persema tanpa Irfan Bachdim

MALANG – Tenaga Irfan Bachdim sebenarnya sangat dibutuhkan Persema saat menghadapi Bontang FC. Namun, demi menegakkan kedisiplinan pemain dan menciptakan kondisi yang kondusif di ruang ganti, pelatih Persema Slave Radovski dan manajemen akhirnya mengambil sikap tegas. Irfan diparkir saat menghadapi Bontang FC, hari ini (15/1).

Irfan dinyatakan tak profesional setelah meninggalkan training center (TC) selama tujuh hari di Lapangan Agrokusuma, Kota Batu. Dari agenda TC 4-11 Januari, Irfan hanya mengikuti TC pada hari terakhir. Suami dari Jennifer Kurniawan tersebut mangkir dari TC karena lebih memilih ke Kanada untuk kepentingan sponsor pribadinya.

Selain karena dianggap tak profesional, kondisi fisik mantan pemain Utrecht FC tidak maksimal.

Dari segi stamina, kondisinya tak sebaik pemain lain yang mengikuti program TC. Dan selama berada di Kanada, Irfan tak menjalani latihan. “Irfan tidak saya mainkan lawan Bontang karena pertimbangan fisik. Dia cukup lama tidak latihan,” kata Slave, usai latihan di Stadion Gajayana pagi kemarin (13/1).

Pelatih asal Makedonia tersebut juga menegaskan, selama melatih tim, dirinya tak pernah punya rumus anak emas. Pemain yang tak disiplin dan tak siap tampil akan diparkir, tak ada yang diistimewakan.

Untuk menggantikan posisi Irfan sebagai striker, sepertinya Slave akan memercayakannya kepada Reza Mustofa. Itu bisa terlihat saat latihan kemarin.

Dalam latihan game di Stadion Gajayana tersebut Reza yang biasanya berposisi sebagai sayap kanan lebih dimajukan menjadi striker. Sedangkan Irfan sendiri berlatih dengan pemain cadangan.

“Saya sudah siapkan Reza sebagai pengganti Irfan.

Kualitas Reza tidak perlu diragukan lagi,” ucap pelatih berusia 47 tahun ini.

Dari empat gol yang disarangkan pemain Laskar Ken Arok, julukan Persema, selama tiga laga Indonesian Premier League (IPL), satu di antaranya dicetak Reza. Yakni saat Persema meraih poin pertama dengan menahan imbang tuan rumah Persijap Jepara (18/12) lalu. Sedangkan Irfan mencetak dua gold an satu gol lainnya disembahkan Guy Bertrand Ngon Mamaon.

Sementara itu, CEO Persema Didied Poernawan menambahkan, diparkirnya Irfan saat menghadapi Bontang FC merupakan bentuk konsistensi pengurus dan pelatih dalam menegakkan aturan. “Untuk masalah Irfan, kami tetap konsisten dalam memberikan sanksi. Biar ini dijadikan pelajaran bagi pemain lainnya,” ujar Irfan. (yon/fir/jpnn)

Jelang Bentrok Persema, Fabio Genjot Pemain

MEDAN-Tim PSMS Medan IPL terus menggenjot performa jelang laga kontra Persema Malang Sabtu (21/1) mendatang. Sebagai tolak ukur awal kesiapan, hariiniPSMSbakalmenggelar ujicoba kontra PS Sampali Putrahari ini di Lapangan Sampali sore ini.

Pelatih PSMS Fabio Lopez mengatakan, ujicoba merupakan rangkaian rutin yang mengiringi latihan persiapan skuad berjuluk Ayam Kinantan untuk mengetahui seperti apa perkembangan tim. “Setiap persiapan, akan disertakan dengan satu kali uji coba jelang pertandingan untuk memantau seperti apa pemain menerima asupan latihan yang diberikan,” ujar Fabio Lopez kemarin.

Selama ditangani pelatih berpaspor Italia itu, PSMS telah melakoni dua kali ujicoba, namun baru sekali memenangkan dan seri. Namun menurut Fabio lagi, kemenangan bukan hal utama yang ingin diraih dalam ujicoba, namun seperti apa kekompakan tim.

“Ya, dari setiap latihan yang kami buat tentunya tujuannya untuk melihat kerjasama dan kekompakan mereka. Taktik yang kami buat seperti apa aplikasinya di lapangan.

Tentunya kami sadar, pasti akan dibutuhkan evaluasi. Jadi ujicoba dilakukan untuk mengetahui kelemahankelemahan yang ada,” beber mantan pemandu bakat tim liga Italia Serie A Fironetina FC dan Atalanta FC itu.

Dari latihan yang digelar, PSMS memang cukup berkembang. Beberapa pemain yang baru bergabung pada laga kontra Persiraja Banda Aceh seperi Heri Suwondo, gelandang Korea Ahn Hyo Yeon, Sutrisno, Safrudin Tahar yang langsung dipercaya sebagai starting-eleven terlihat cukup padu.

Selain itu, materi latihan yang diberikan mantan pelatih Taktik untuk pelatih yang ingin memperoleh sertifikat Lisensi B UefA asosiasi sepak bola Lithuania itu cukup diterima dengan baik. Hal itu diakui asisten pelatih PSMS M Khaidir yang mengaku baru kali ini melihat metode latihan yang cukup detail ala Fabio Lopez. “Dia melatih dengan memperhatikan hal sedetail mungkin. Ini adalah hal yang positif untuk tim,” aku pelatih yang pernah membesut persiraja, PSMS, PSDS Deliserdang dan Persigo Gorontalo itu. (saz)

Katya, adalah Tentang Pagar

Cerpen Restu Ashari Putra

1992, Cerita-cerita di depan pagar, sebelum petang menjelang.

Demi menghargai perasaan cinta yang semakin bunga bermekaran, aku rela mendengarkanmu. Di suatu sore di depan pagar. Mengapa kamu begitu percaya padaku, Katya. Apa pun yang kamu ceritakan, aku rela mendengarkanmu.

Tentang luka-lukamu. Tentang kemuakan-kemuakanmu. Tentang apa yang kamu anggap omong kosong. Betapa menyenangkan mendengarkan cerita-ceritamu.

Semisal saat kamu menanyakan padaku, mengapa kita harus mengikuti aturan-aturan, sedang sejak lahir kita bebas menangis dan tertawa. Atau saat kamu dengan girangnya menceritakan padaku bagaimana cara-cara ayahmu mengkhianati pimpinannya, bawahannya, sahabat-sahabatnya, orang-orang kepercayaannya di kantor dinas tempat ayahmu mengabdi dan bekerja. Juga ibumu.

Kamu belum tahu politik, Katya! kata-kata itu yang selalu terngiang di telingamu, bukan? Lalu lagi-lagi kamu menceritakan segala lukalukamu di rumah, di kamar, di ruang makan, di dapur, di halaman belakang, di garasi. Luka ketika tiba-tiba belakangan ini ayahmu kerap marah-marah tanpa alasan yang jelas. Dan aku semakin harus menyiapkan telinga untuk mendengar semua itu. Di suatu sore di depan pagar rumahmu. Sebelum petang menjelang.

Bukankah kita memiliki banyak tempat?

****

“Antonio, apa alasanmu mencintaiku?” “Aku tak pernah punya alasan.” “Berarti kamu tak punya tujuan.” “Apa salahnya.” “Sepertinya kamu lebih senang terombangambing di lautan.” “Bukankah itu menarik?” “Berarti kita berbeda.” “Bukankah itu menarik?” “Aku tidak suka.” “Kamu berharap kita sama?” “Ya.” “Sosialis!” “Ah, masa iya?” Satu minggu. Dua minggu. Satu bulan. Setengah tahun. Aku mencintainya. Dan ia mencintaiku. Lalu apa perlu mencintai dengan teori-teori, dengan alasan-alasan? Tanpa teori-teori pun perasaan-perasaan kita sudah kadung mencintai. Apa perlu kita mengurekurek Marx, Hegel atau Kant demi perasaanmu kepadaku. O Katya, sudahlah, kita lupakan alasan-alasan. Aku sudah cukup nyaman bersamamu. Dan kamu pun begitu tentunya.

Bedakanlah pengalaman-pengalaman lukamu, kemuakanmu dengan perasaan mencintaiku, Katya. Cukuplah teori-teori yang kamu dapatkan itu hanya untuk menghadapi ayahmu.

Kenyataanmu. Bukan aku.

“Bukankah dengan teori kita bisa tahu benar tidaknya pengalaman?” Katamu suatu waktu di depan pagar, pada pertemuan keseribuduapuluh.

“Pengalaman-pengalaman tidak mencari pembenaran, Katya. Pengalaman hanyalah pembebasan dari dirimu sendiri. Seperti deretan pagar ini,” Aku tiba-tiba menyaksikkan jajaran jeruji pagar yang tinggi-tinggi ini seperti menyimak pembicaraanku yang bertahan limabelas menit berdiri di depan pagar rumahnya. Pagar- pagar tinggi dengan ukiran bagai arca candi-candi. Aku percaya orang-orang tak mungkin tahu ada sepasang kekasih yang sedang asik berbicara di antara deretan pagar yang jangan aku, rumah tinggal sebesar istana ini pun aku berani bertaruh orang-orang tak akan tahu seperti apa bentuknya.

“Deretan pagar? Apa Maksudmu?”

****

1993, Surat-surat yang terselip di jeruji pagar.

Dan alasan mengapa kita saling mencintai tak pernah ada. Hanya suratsurat.

Aku hanya menjalani hari-hari bersamamu. Di taman. Di rumah. Di pusat perbelanjaan. Di perpustakaan. Kedai kopi. Trotoar. Jembatan penyeberangan. Kamar tidur. Ranjang. Sampai semuanya berakhir dengan ketiadaan.

Padahal aku hanya percaya pada yang “ada”.

Namun semua itu ternyata omong kosong belaka. Tak ada lagi deretan pagar. Tak ada lagi kebersamaan. Tak ada lagi dia. Katya. Aku kehilangannya.

Aku meyakini ketiadaan. Tapi sungguh, dengan amat terpaksa. Ada apa gerangan dengannya. Apakah ayahnya kini telah memingitnya dariku. Atau mengungsikannya ke negeri lain. Atau, membunuhnya? Antonio, kamu berjalanlah menuju rumahku.

Maka kamu akan menemukan aku ada.

Kali ini percayalah akan keberadaanku walau di sana kamu akan menemukan ketiadaan.

Tapi, kamu tahu kan, jeruji-jeruji pagar itu.

Ukiran-ukiran pagar yang pernah kamu ceritakan itu. Bagai arca candi-candi. Mungkin menceritakan kita. Ah, tapi tidak mungkin.

Ayah sangat membenci kita, tepatnya, pikiran- pikiran kita, perasaan-perasaan yang tumbuh di hati kita. Aneh ya, ia juga seperti kamu. Hampir mempercayai ketiadaan. Tapi ya begitulah. Sudah saatnya kita tak selalu berpikir pada materi. Lalu secarik surat yang kali ini akan selalu terselip di sela-selanya, saat matahari tenggelam, percayalah bahwa aku ada. Menjauhlah dari teriakan ayah.

Oh, aku membaca lagi surat-surat yang terselip di sela pagar rumahnya. Surat yang kesembilanpuluhtujuh.

Ia menceritakan luka-lukanya lagi, kemuakan-kemuakannya, sebagaimana ia bercerita padaku di depan pagar, berhadap-hadapan, sebelum petang menjelang. Padahal, selama sembilanpuluhtujuh kali aku membaca isi surat yang sama.

Maksudku, ia selalu membuka ceritanya dengan kalimat pembuka yang sama seperti di atas. Seakan ingin meyakinkanku bahwa ia ada dan akan selalu aku temui, meskipun dalam surat-suratnya, meskipun aku tak pernah membalasnya. Tepatnya ia melarangku membalasnya. Aku hanya dipaksa rela membaca dan menyimak kisah-kisahnya. Bahkan untuk sekedar ingin tahu mengapa aku tak boleh menemuinya pun ia melarangku. Bayangkan, betapa menyakitkannya bukan? Pernah aku ingin nekat masuk ke dalam rumahnya yang besar itu namun sehari sebelum rencanaku berjalan, surat yang terselip di sela pagar rumahnya seakan tahu isi kepalaku.

Antonio, kalau kamu percaya aku ada, bertahanlah! Surat yang teramat singkat dari sekian surat-surat yang pernah ia buat. Surat ketujuhpuluhlima. Sial!.

1993, Surat-surat di penghujung tahun.

Aku hampir mual hanya berurusan dengan surat-surat ini. aku butuh sesuatu yang riil.

Bukankah hidup ini tindakan nyata. Bukan sebatas teori atau cerita-cerita. Bukankah itu yang selama ini kupelajari dan mantap kuyakini.

Tiada sesuatu selain yang kuanggap nyata dipandang mata. Keadilan, kebenaran, penindasan, penderitaan adalah manifestasi dari kenyataan. Kenyataan! Lalu kali ini, surat kesembilanpuluh delapan.

Oh please, aku hampir gila! Antonio, maukah kamu menjawab pertanyaanku? Kali ini aku memperkenankanmu untuk membalas suratku, dan aku akan menunggumu untuk membalasnya. Selipkan saja pada deretan pagar rumahku.

Masih mendekam dalam ingatanku filosofi pagar yang pernah kamu utarakan padaku saat itu, satu tahun lalu, saat kita bicara alasan dan teori mengapa kita saling mencintaimu dan kamu menafikannya. Tapi sungguh aku belum memahaminya sampai saat ini. mengapa kamu menganalogikan begitu? Aku menunggumu Antonio, kekasihku.

****

Kamarku berantakan. Dengan sungguhsungguh aku menuliskan surat balasan untuknya.

Baru kali ini aku diberi kesempatan menulis surat untuknya. Maka bagai seorang penyair yang sedang kalap aku menulis sebuah surat dengan perasaan seperti menyala.

Gairahku terbakar. Seisi kamar ikut terbakar.

Isi kepalaku muntah. Dan pada kertas keduapuluh aku bisa benar-benar menyelesaikan surat untuknya. Setelah kertas-kertas sebelumnya berakhir di keranjang sampah.

Perutku mual. Mataku mau pecah. Sebab seharian ini nyaris lambungku tak terisi apa-apa kecuali seteguk kopi yang hingga detik mala mini mulai dingin. Aku seperti kerasukan nyawa Shakespeare. Aku tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku benar-benar ingin melampiaskan segalanya. Aku ingin kenyataan.

Pagar rumahnya sudah dekat. Jalanan sepi.

Aku seperti dikepung kastil-kastil tua. Rumah- rumah yang kulewati di komplek ini menyalakkan matanya kepadaku. Aku memang sudah terbiasa melewati jalanan sesepi ini menuju rumah Katya. Tapi tak pernah sedingin ini. apa sebenarnya yang dilakukan penghuni rumah malam-malam begini hingga suara seriuh pun tak kudengar sama sekali.

Dan di depan mataku itu. pagar rumah Katya. Bagai ukiran arca candi-candi. Apakah aku harus masuk ke rumahnya. Lewat jendela kamar mungkin, seperti lelaki muda yang tengah jatuh cinta lalu menjemput kekasih hatinya untuk dibawa lari. Tapi, tunggu, tunggu! Kenapa ada secarik surat lagi di sela pagar rumahnya. Bukankah ia katakan hanya ingin menunggu balasan dariku? Antonio, kamu sudah menulis surat balasan untukku kan? Aku yakin itu. Tapi maaf, kamu tidak akan pernah bertemu aku lagi. Dan yang kamu kunjungi saat ini juga bukanlah aku.

Biarlah aku yang akan mengunjungimu selalu.

Kamu sudah mempercayai ketiadaan, bukan. Apa-apa yang kamu yakini, seperti surat ini, percayalah aku ada. Ayo, sudahlah, memang benar kita tak perlu banyak berteori untuk urusan perasaan. Aku mencintaimu.

Titik. Itu saja.

Makin mual aku dengan surat-surat ini! Lalu kutatap surat balasan yang kubuat. Tak ada artinya. Surat itu kuremas. Kulempar jauhjauh dan entah jatuh di mana. Apa maksud semua ini. Apa maksudmu, Katya.

Malam semakin gelap. Gelap. Gelap. Komplek ini seperti kuburan. Sangat gelap. Dan sepi. Dengan segera aku pulang bersama amuk amarahku. Meninggalkan rumah itu, juga pagar di situ. Katya seperti telah mempermainkanku.

Kenyataannya membuatku gila. Persetan aku dengan ketiadaan. Ia memang benar-benar tiada.

Tiba di kamar. Kubakar semua surat-suratnya.

Habis. Hangus. Menjadi arang. Menjadi abu. Dan tak kan pernah kulihat lagi wajahnya.

Surat-suratnya. Tiada. Semua hangus terbakar.

Seperti pagar, Katya. Kamu harus punya prinsip kuat seperti pagar, yang bisa melindungi rumah melebihi pagar itu sendiri. Kita nyaman karenanya. Pagar yang kokoh meskipun hanya bilahan bambu terpotongterpotong dan diikat serabut. Oia Katya, aku prihatin membaca luka-lukamu, kemuakannmu.

Kalau kehidupanmu memang nyata, surat-surat yang kau kirimkan padaku ini akan kujadikan bukti untuk menolongmu Katya.

Juga tentang ayahmu.

—Antonio, kekasihmu

****

1994, di depan pagar, setelah surat-surat.

“Katya! Katya! Ayo kita berangkat sebelum ketinggalan pesawat. Cepat kemasi barang-barangmu. Celaka kalau kita terlambat, mereka akan menangkap kita!” Dari pintu garasi Ayah memanggilku sambil menyeret-nyeret koper ke bagasi mobil.

Aku melihat wajah ketakutannya, menyaksikan kebusukan-kebusukannya. Kita tidak akan ke mana-mana, Ayah. Kita tetap akan di sini, bersama kenyataan.

Biarkan saja gerimis mengguyurku sampai kuyup, asal jangan surat-surat ini. Aku membayangkan wajahnya. Antonio. Mengapa kamu tak pernah datang. Aku menunggu jawaban-jawabanmu. Apa kamu tidak melihat surat-suratku, hah? Haha, mengapa aku begitu bodohnya. Aku sudah menghitungnya sampai tiga kali, tidak ada yang kurang. Surat-suratku masih lengkap. Masih sembilanpuluhsembilan.

Oh salah, ini ada surat yang keseratus.

Keseratus? Loh, bukankah sudah kubuang jauh-jauh entah ke mana.

Bulir-bulir gerimis menimpaku terus-menerus.

Semakin kencang. Menembakiku.

Menjadi hujan. Dengan tergopoh-gopoh aku menuju pintu rumah. Meninggalkan pagar. Dan, oh tidak! surat-suratku tercecer, terlepas dari tangan. Termasuk surat yang keseratus. Aku tak bisa menyelamatkannya.

Ia terlanjur kuyup tertimpa air langit.

Kata-kata di dalamnya luntur, merembes ke tanah. Mengapa kamu tidak datang, Antonio, mengambil surat-suratku? Atau kamu memang benar-benar tidak ada? Aku berlari. Terus berlari. Menembus hujan.

Menembus ketiadaan.(*) Restu Ashari Putra. Lahir di Jakarta, 31 Desember 1985. Alumnus (S-1) Fakultas Dakwah&Komunikasi, UIN SGD Bandung.

Pakai Penis Palsu, Karyawan Dipecat

MOOSIC – Seorang perempuan mengklaim, dirinya dipecat dari pekerjaannya di sebuah pabrik makanan kudapan karena mengenakan alat bantu seks berupa penis buatan saat bekerja.

Pauline Davis, perempuan asal Pennsylvania, Amerika Serikat (AS) mengajukan dakwaan terhadap Perusahaan J&J Snack Foods karena melakukan pemecatan terhadapnya.

Pada awalnya, Davis mengenakan alat bantu seks itu karena dirinya hendak menjalani operasi kelamin. Alat bantu seks itu pun disembunyikan di dalam pakaiannya, namun karena penis buatan itu, Davis yang bekerja sebagai petugas inspeksi makanan, terpaksa dipecat dari pekerjaannya.

Menurut pengacara Davis, Lalena J. Turchi, penis buatan milik Davis disembunyikan di dalam pakaiannya dan hal itu tidak akan mengganggu dirinya atau orang lain yang bekerja.

Keluhan pertamanya dilontarkan kepada Equal Employment Opportunity Commission di Philadelphia. Davis mengklaim mengalami diskriminasi gender saat bekerja di J&J Snack Foods.

Davis langsung menuntut pembayaran kompensasi atas pemecatan yang dilakukan oleh perusahaan itu. Demikian seperti diberitakan Daily Mail, Sabtu (14/1). Perempuan berusia 45 tahun itu juga mempertanyakan akan adanya petugas pria yang melakukan terapi hormon dengan mengenakan pakaian perempuan. Namun, pria itu tidak pernah didakwa.(net/jpnn)

Boediono Kalahkan Wartawan

WAKIL Presiden Boediono menghabiskan akhir pekan bersama dengan para wartawan di Istana Cipanas, Jawa Barat. Boediono yang didampingi Ibu Herawati melakukan jogging bersama wartawan di areal Kompleks Istana Cipanas tepat pukul 06.00 WIB.

Dalam kegiatan tersebut, Boediono tampak mengenakan baju olah raga warna biru.

Saat jogging keliling gedung utama Istana Cipanas, Boediono mengalahkan para wartawan dengan mengelilingi track sebanyak delapan kali.

Boediono melakukan kegiatan jogging selama 51 menit 37 detik. Sedangkan wartawan, sebelum Boediono usai berolahraga,mereka sebagian sudah banyak yang kembali ke ruang utama untuk berisitirahat.

“Bapak tadi jogging selama 51 menit 37 detik.

Delapan kali putaran,” ujar salah seorang petugas Paspampres di Cipanas, Sabtu (14/1).

Usai berolahraga selama hampir satu jam, Boediono berfoto dan sarapan bersama dengan para wartawan sambil mendengarkan pengumuman pembagian kelompok untuk kegiatan Fun Game yang rencananya juga akan disaksikan oleh Boediono.

Dalam pembagian kelompok tersebut, Boediono tampak ikut tertawa dan bertepuk tangan bersama.

Acara ini merupakan kegiatan yang dilaksanakan oleh Kementerian Sekretariat Negara RI Sekretariat Wakil Presiden yang rencananya akan berakhir hingga 15 Januari 2012.(net/jpnn)

Tabrakan Tugboat di Perairan Johor 57 TKI Selamat, Dua Tewas

JOHOR – Dua orang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yaitu Misnandi,28 dan Saripuddin,27 meninggal dunia saat kapal bermesin standar yang mereka tumpangi dari Johor menabrak tugboat, Kamis (12/1) sekitar pukul 23.30 waktu Malaysia.

“Almarhum Misnandi merupakan warga Surabaya, sedangkan almarhum Saripuddin merupakan warga Makassar,” ujar Konsul Jenderal Republik Indonesia di Johor Bahru, Malaysia, Jonas Lumban Tobing kepada Batam Pos, Sabtu (14/1) kemarin.

Tabrakan tersebut terjadi sesaat setelah kapal bermuatan 59 TKI tersebut berangkat dari Pengerang menuju Batam. “Tabrakan terjadi di Perairan Tanjung Pengelih,” ujar Jonas.

Jonas mengatakan, sebelum diserahkan kepada KJRI atau pihak pemerintah Indonesia di Johor, Agensi Penguatkuasaan Maritim Malaysia (APMM) terlebihdulumemeriksapara TKI korban tabrakan tersebut.

Ada 59 TKI yang menjadi korban tabrakan di perairan Johor tersebut, dua langsung meninggal di tempat, empat luka berat kini dirawat di Rumah Sakit Sultanah Aminah dan Sultan Ismail, Johor, dan lima luka ringan kini dirawat di Rumah Sakit Kota Tinggi, sedangkan 46 TKI selamat termasuk tiga balita, kini berada di rumah penampungan sementara (Shelter) di kawasan KJRI Johor.

Dua korban meninggal, Misnandi dipulangkan (14/1) pukul 8.10 kemarin.

Staf perwakilan KJRI turut serta mengantar jenazah korban menggunakan pesawat Garuda Indonesia, kode GA 819 dari Kuala Lumpur ke Jakarta, selanjutnya pukul 13.45 WIB langsung diterbangkan lagi menggunakan GA 314 ETA ke kampung halamannya di Surabaya.

Sedangkan jenazah Saripuddin baru akan dipulangkan Minggu (15/ 1). Rencananya, hari ini jenazah akan dipulangkan pukul 8.10 waktu setempat menggunakan pesawat Garuda GA 819 ke Jakarta, selanjutnya penerbangan transit menggunakan GA 432 ETA ke kampung halamannya di Makassar.

“Pihak KJRI langsung menyerahkan kedua korban kepada keluarga di kampung halaman masing-masing di Surabaya dan Makassar, sementara korban lainnya sebagian besar berasal dari Jawa akan kita pulangkan lewat Batam dalam waktu dekat,” ujar Jonas.

Saat ditanya apa para TKI yang menjadi korban tabrakan kapal tersebut, Jonas mengatakan ke 59 TKI tersebut masuk dalam kategori TKI PATI (Pekerja Asing Tanpa Izin) yang akan masuk ke Malaysia.

“Mengenai kasus TKI PATI, kita tidak akan pernah bosan menghimbau supaya kalau mencari kerja ke luar negeri seperti ke Malaysia, sebaiknya memakai jalur resmi sesuai arahan pemerintah, supaya kejadian serupa seperti ini, dan berbagai masalah TKI lainnya bisa diminimalisir bersama,” ujar Jonas. (cha/jpnn)

Serangkaian Insiden tak Pengaruhi Perekonomian di Aceh

Investor Enggan Hengkang

BANDA ACEH – Serangkaian kejadian yang terjadi di provinsi Aceh baru-baru ini seperti pengranatan, penembakan dan penumbang tower milik PLN di Aceh tidak berpengaruh bagi para investor yang akan menanamkan modalnya di Aceh. “Meski kondisi keamanan Aceh saat ini terusik, tetapi para investor terus melanjutkan investasinya,” kata Wakil Gubernur Aceh Muhammad Nazar, S.Ag kemarin.

Dikatakan Wagub, ada beberapa investor yang akan masuk ke Aceh seperti Korea yang sudah merealisasi pembagunan jalan raya (Haghway), pada tahun ini akan dilakukan pembebasan lahan.

“Peristiwa itu harus segera dituntaskan aparat kepolisian. Kalau insiden terus menerus terjadi, kita takutkan akan menganggu para investor yang telah menanamkan modalnya di Aceh selama ini,”sebutnya.

Nazar menyebutkan, kalau terus menerus terjadi konflik keamanan tidak akan ada lagi investor yang akan masuk ke Aceh. Untuk itu perlu kearifan, media dalam memberitakan bahwa situasi keamanan Aceh aman dan damai.

“Kalau media terus melakukan pemberitaan bahwa situasi Aceh tidak aman, maka dipastikan para investor tidak akan masuk lagi ke provinsi Aceh,” pinta Nazar yang juga sebagai kandidat calon gubernur Aceh pada pemilukada kali ini.

“Kita harapkan peristiwa yang terjadi dalam beberapa minggu terakhir ini tidak akan terulang lagi, untuk itu saya meminta masyarakat akan dapat memberikan mendukung penuh kepada pihak kepolisian dalam mengusut dan menangkap pelaku.”pintanya.

Selain itu, konflik elite politik yang memanas menjelang pemilihan kepala daerah sudah seharusnya dihentikan. Jika tidak, dikhawatirkan akan merusak perdamaian Aceh dan mengangu pertumbuhan perekonomian masyarakat Aceh,” paparnya.

“Kita mengharapkan agar tidak terjadi perang elite gara-gara pilkada. Ketika ini terjadi masyarakat yang harus menjadi korban,untuk saya mengingatkan kepada masyarakat agar tidak terpengaruh dengan isu politik,”pungkas Nazar. (din/jpnn)

Derby Dulu Baru Tevez

PELUANG Inter Milan mendapatkan Carlos Tevez sangat besar. Itu menyusul keputusan rival sekotanya AC Milan mundur dari perburuan striker Manchester City tersebut. Tinggal Paris Saint Germain (PSG) yang menjadi pengganjal utama.
Namun, urusan Tevez nanti dulu, sekarang Inter lebih fokus untuk mempersiapkan diri menghadapi Derby della Madonnina melawan Milan, dini hari nanti. Setelah derby Milan, baru mereka akan melanjutkan negosiasi.
“Memang masih ada kontak antara kami dengan dia (Tevez). Kami melakukan pembicaraan dengan banyak klub di dunia, bukan hanya City,” kata Massimo Moratti, presiden Inter, seperti dikutip Football Italia.
“City dan kami paham betul akan situasi Tevez, tapi sekarang akan derby. Pikiran saya sekarang terfokus hanya pada pertandingan nanti,” lanjut konglomerat minyak Italia itu.
Sebelum Milan mundur dari perburuan Tevez, Inter sudah mengirim direktur teknik Marco Branca ke Manchester, untuk membicarakan tawaran mereka. Inter mengajukan 25 juta euro atau setara Rp 290 miliar plus bonus 2 juta euro (Rp 23 miliar) sesuai klausul.

Selain Inter, tawaran menggiurkan juga datang dari PSG. Setelah gagal menggaet Alexandre Pato dari Milan, PSG ngotot mendatangkan Tevez. Biaya transfer bukan masalah bagi mereka. Begitu Tevez mengiyakan, PSG siap menggelontor uangnya.
PSG pun sudah melayangkan tawaran gaji yang menggiurkan kepada Tevez. Le Parisien melaporkan, tim asuhan Carlo Ancelotti itu menawarkan 10 juta euro (Rp 116 miliar) untuk gaji Tevez selama satu tahun.
Kalau sebelumnya, Tevez pernah menyatakan bersedia menurunkan gajinya agar bisa keluar dari Etihad Stadium, markas City, maka sekarang dia tidak perlu melakukannya, asalkan bergabung ke PSG. Inter sendiri menyodorkan tawaran gaji.
Soal tawaran gaji, mungkin tidak akan sebesar PSG. Tetapi Inter memiliki beberapa keunggulan lain. Peluang berprestasi lebih besar baik di pentas domestik maupun Eropa. Bandingkan dengan PSG yang belum teruji di Eropa.
Lalu, yang lebih penting bagi Tevez adalah suasana di Inter. Kalau bergabung dengan Nerrazzurri, julukan Inter, maka tidak akan sulit bagi Tevez beradaptasi. Sebab, di sana banyak pemain asal Argentina bercokol, seperti Javier Zanetti, Esteban Cambiasso, Walter Samuel, Ricardo “lvarez, Diego Milito, dan Mauro Zarate. (ham/jpnn)