26 C
Medan
Friday, April 10, 2026
Home Blog Page 14177

Lah Pai Amak dari Siko, Aden Kanai Tangan Liak Mak…

Tentang Ibu yang Dua Anaknya Tewas di Tahanan Polsek Sijunjung

Dua buah hati Yusmanidar tewas mengenaskan di dalam tahanan Polsek Sijunjung, Sumatera Barat (28/12). Polisi mengklaim keduanya meninggal karena bunuh diri. Namun, pihak keluarga tak percaya karena jenazah penuh lebam dan patah tulang.

Yusmanidar terlihat lunglai saat keluar dari gedung Bareskrim Mabes Polri, Kamis (12/1). Perempuan 50 tahun itu tidak terlalu antusias saat melayani wawancara sejumlah wartawan. Dia lebih banyak diam. Sesekali menghela napas panjang. “Ibu masih trauma,” kata Direktur LBH Padang Vino Oktavia yang mendampingi Yusmanidar.

Yusmanidar mendatangi Bareskrim untuk membuat laporan tentang kematian misterius dua anaknya, Faisal Akbar (14) dan Budri M Zen (17). Selain sejumlah pengacara dari LBH Padang, dia ditemani si sulung Didi Firdaus. Lelaki 27 tahun tersebut ikut mendampingi ibunya yang tidak bisa berbahasa Indonesia. Karena itu, Vino dan Didi terkadang harus menjadi penerjemah agar komunikasi lancar.
Yusmanidar memiliki empat anak. Selain Faisal dan Budri, ada Didi Firdaus dan Rilpai Madaud (20). Setelah kematian dua putranya, Yusmanidar lebih banyak diam Perempuan single parent yang bekerja sebagai buruh tani itu belum bisa melupakan dua anak lelakinya tersebut. Yusmanidar kadang tidak percaya dua anaknya itu sudah meninggal Apalagi dengan cara yang tidak masuk akal seperti yang diungkapkan petugas dari Polsek Sijunjung. Yakni, dengan menggantung diri di kamar mandi tahanan. “Itu tidak mungkin,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

“Ibu ingin terus mencari kebenaran tentang bagaimana anaknya bisa meninggal. Tapi, itu justru membuat dia semakin sedih. Kadang-kadang saat kami sedang membahas kasus ini, dia suka menyendiri dan melamun,” tutur Vino.

Faisal mengalami nahas saat bermain ke Desa Nagari Pamatang Panjang pada 21 Desember lalu. Dia tidak mengetahui bahwa warga di kampung tersebut sudah dua kali kemalingan kotak amal. Faisal ditangkap warga dengan tuduhan mencuri kotak amal. Selanjutnya, dia diserahkan ke wali nagari sebelum kemudian dibawa ke kantor polisi.

Lain lagi kasus yang menjerat Budri. Didi menuturkan, Budri awalnya bekerja di sebuah tambang emas di Solok. Namun, melihat banyaknya kecelakaan di tambang, dia merasa khawatir. Suatu ketika Budri curhat kepada Yusmanidar. Dia khawatir mengalami celaka seperti yang sudah banyak terjadi pada teman-temannya. Akhirnya Budri pamit kepada ibunya untuk ganti pekerjaan.
“Dia ganti kerjaan jadi penjual rambutan di Padang. Katanya lebih nyaman dan aman. Dia juga bisa selalu pulang setiap minggu,” kata Didi.

Siapa sangka, bekerja sebagai penjual rambutan itu menjadi pekerjaan terakhir Budri. Hanya sebulan bekerja, dia ditangkap oleh petugas Polsek Sijunjung pada 26 Desember 2011. Dia dituduh terlibat berbagai kasus curanmor.

Kakak-adik itu pernah dibesuk oleh Yusmanidar pada 22 Desember. “Waktu ambo manganta nasi, sesudahnyo ditangkok, Faisal mengaku kanai tangan dek polisi (waktu saya mengantar nasi, setelah dia ditangkap, Faisal mengaku dipukul polisi, Red),” ucap Yusmanidar. Faisal sempat berujar kepada Yusmanidar, “Lah pai amak dari siko, aden kanai tangan liak mak (setelah ibu pergi dari sini, saya akan dipukul lagi, Red)?”

Itu adalah pertemuan terakhir Yusmanidar dengan dua anaknya. Pada 28 Desember malam dia dikabari bahwa dua anaknya tewas. Polisi mengklaim bahwa mereka bunuh diri dengan menggantung diri di kamar mandi.

Keanehan terus bermunculan setelah meninggalnya Faisal dan Budri. Dalam kantong mayat Budri ditulis keterangan mayat bernama ‘Gepeng’. Padahal, Gepeng bukan nama Budri. Selama ini Gepeng dikenal sebagai salah seorang pemimpin sindikat pencurian kendaraan bermotor di kawasan Sijunjung. Karena itu, para pengacara yang mendampingi Yusmanidar menduga bahwa Budri adalah korban salah tangkap.

Keanehan lainnya adalah kondisi jenazah Faisal dan Budri. Ditemukan banyak lebam di sekujur tubuh. Juga, leher patah, rahang patah, gigi rontok, tangan patah, paha kanan patah,  pinggul membiru, dan dua jempol kaki pecah.

Setelah mereka dikubur pada 30 Desember 2011, sejumlah polisi, rupanya, berniat ‘membereskan’ perkara tersebut. Caranya, memberikan sejumlah uang kepada Yusmanidar. Mereka mendatangi mamak dan ninik (sebutan untuk pemuka adat di Padang) dan memberikan duit Rp1,5 juta agar diserahkan kepada Yusmanidar. Uang itu, kata polisi tersebut, merupakan uang dukacita. “Kalau masih butuh duit lagi, nanti akan ditambah,” ucapnya.

Yusmanidar mengungkapkan, duit itu tak cukup untuk menghapus kesedihannya. Uang tersebut juga tidak bisa membuat dua anaknya kembali hidup. Karena itu, dia memutuskan untuk terus berupaya membongkar kebenaran penyebab kematian anaknya.
Hasil otopsi dari Rumah Sakit M Djamil, Padang, pada 4 Januari lalu menyatakan bahwa penyebab kematian Faisal dan Budri bukan bunuh diri. “Mereka meninggal karena lemas. Istilahnya asfiksia,” kata Didi.

Didi mengharapkan keadilan akan didapatkan keluarganya. Dia ingin kebenaran penyebab kematian dua adiknya terungkap. Jika memang mereka meninggal karena penyiksaan saat diinterogasi oleh polisi, dia berharap supaya para pembunuh itu mendapat ganjaran yang setimpal. “Kami berharap agar semuanya diusut tuntas. Kalau memang polisi yang bersalah, semoga mereka dipecat dan dihukum sewajar-wajarnya,” tuturnya. (*)

Cuekin Foto Zach Mesra Sama Sheila

Nafa Urbach

Tak cuma banjir kritikan, foto-foto syur terbaru Sheila Marcia juga menyeret suami Nafa Urbach, Zach Lee. Sheila yang sedang mengandung ini terlihat mesra dan menggendong bayi bersama Zach di sebuah tempat tidur. Bagaimana respons Nafa?
Ternyata biduan tenar era 90-an sudah tahu lama tentang foto itu Kendati mendapati sang suami mesra dengan Sheila, nyatanya Nafa tidak marah. Penyanyi asal Magelang itu mengetahui sang suami adalah sosok pria baik. “I love my husband, dia yang terbaik yang Tuhan beri untuk saya :-),” tulis Nafa dalam @nafaurbach15, kemarin.

Nafa pun mengungkapkan harapannya agar keluarga kecil dia selalu dalam lindungan Tuhan. “Jesus save my family,” ujarnya.
Nafa yang telah dikaruniai seorang anak, Michaela, tidak mau banyak berkomentar. Dia meyakini ada waktu untuknya dan Zach membeberkan semua. “Ada waktunya di mana kami akan bicara semuanya,” tandasnya.

Nafa dan Zach, pasangan artis ini memang sudah lama tak muncul di dunia hiburan. Bahkan jauh sebelumnya, sempat terdengar gosip bahwa pernikahannya bermasalah. Tak mau digosipkan pernikahannya renggang, Nafa yang menikah dengan Zach Lee pada 17 Februari 2007 itu, buru-buru berkilah. “Keluarga saya baik-baik saja, bahkan hubungan semakin dahsyat,” ujarnya, sekitar medio 2010.
Sahabat Nova Eliza dan Titi Kamal itu juga mengakui, ia memang tak lagi terlalu banyak ngartis. Coz, dunia entertainment itu menyeramkan.

Ada pula gosip, para penggemar Nafa banyak yang menghujat dan meninggalkannya, serta menilai Nafa plin-plan soal agama. Hal itu berkaitan dengan berpindahnya ia ke agama lain. Namun, apakah benar hal ini yang membuat pamornya kini makin meredup”
“Saya belum tertarik berbicara soal karier, jadi kemungkinan besar kalau ada yang merindukan saya, bisa melihat saya di berbagai rumah ibadah,” papar Nafa.

Terlihat cukup jelas, kini Nafa lebih religius. Apalagi ia menganggap karier ibarat ‘bonus’ dalam kehidupan.
“Jadi, masalah karier biar Tuhan saja yang ngatur. Kalau Tuhan ijinkan saya untuk kembali ke dunia ini, saya nanti akan kembali, tapi dengan cara yang berbeda. Saya akan menerima pekerjaan seijin Tuhan,” tegasnya. sambil tersenyum.

Selain itu, ia mengaku tak peduli dengan banyaknya artis baru yang mungkin jadi sebab pamornya meredup. “Yang saya pedulikan adalah soal pelayanan. Kalau soal itu, saya sudah nggak peduli lagi dan nggak usah tanya lagi ke saya,” pungkasnya. (bcg/net/rm/jpnn)

Sabu 2,45 Kg untuk Medan

Kurir Narkoba Antarnegara Ditangkap

BATUAMPAR  – Petugas Bea Cukai Batam menangkap MS, 42, kurir narkoba antarnegara di Pelabuhan Internasional Batam Center, Jumat (13/1) sekitar pukul 08.00 WIB. Dari tangan tersangka petugas mengamankan sabu sebanyak 25 bungkus dengan berat 2,46 kilogram dengan harga sekitar Rp5 miliar. Narkoba golongan I tersebut dimasukkan tersangka dalam tas ransel dan juga air cooler.

MS, ditangkap petugas bea cukai setelah dilakukan X-Ray terhadap barang bawaannya. Petugas Bea Cukai langsung menghentikan tersangka karena ada barang mencurigakan di dalam tas dan air cooler miliknya. Setelah diperiksa, dari dalam tas tersangka ditemukan lima bungkus sabu yang dibalut dengan pakaian tersangka, sementara dari dalam air cooler ditemukan sebanyak 20 bungkus sabu yang dibungkus dengan kertas karbon.

Paket sabu tersebut dibungkus dengan berat yang berbeda setiap bungkusnya. Ada yang hanya 26 gram satu bungkus, 57gram, 92 gram, 100 gram, 102 gram, tetapi kebanyakan paket tersebut dibungkus dengan berat 104 gram.

Tersangka merupakan warga negara Indonesia yang tinggal di Malaysia. Ia masuk ke Batam dengan menumpang kapal Pintas Samudra 9 dari Stulang Laut, Johor Baru Malaysia. Ia mengaku disuruh seseorang berinisial B untuk membawa narkoba tersebut dan akan diedarkan di Medan, Sumatera Utara. Ia mengaku hanya mendapatkan upah senilai Rp5 juta jika berhasil membawa barang haram tersebut sampai ke Medan.

Tersangka tidak banyak berkomentar seputar kasus yang membelitnya. Ia hanya terdiam dan berusaha membelakangi sejumlah wartawan yang hendak mewawancarainya. “Saya dibayar lima juta, pak. Uang itu belum dibayarkan sama saya, pak. Barangnya mau dikirim ke Medan, pak,” katanya.

Kepala Bidang Penindakan dan Penyidikan (Kabid P2) Bea Cukai (BC) Batam Kunto Prasti, mengatakan petugas bea cukai yang bertugas di Pelabuhan Batam Center sudah curiga dengan gelagat tersangka yang terlihat pucat saat menuju mesin X-Ray. Tersangka pun terkesan menjauh dari petugas bea cukai sesaat sesudah memasukkan tas dan barangnya ke dalam mesin X-Ray.
“Biasalah kalau orang membawa barang berbahaya, kan mimiknya agak lain. Ia terlihat sangat pucat saat hendak berhadapan dengan petugas kami di pelabuhan. Lagian dalam X-Ray sudah terlihat ada barang yang mencurigakan dalam tas dan mesin air cooler, ternyata setelah diperiksa ternyata benar,” katanya.

Kunto Prasti mengatakan pengamanan ketat di sejumlah pintu masuk Batam termasuk Bandara Hang Nadim dan pelabuhan akan terus diberlakukan. Ia mengatakan petugas akan memeriksa setiap penumpang jika dicurigai ada barang yang mencurigakan yang dibawa para penumpang.

Selanjutnya penanganan kasus ini akan dilimpahkan ke pihak Kepolisian Polda Kepri. Kepada tersangka sendiri dikenakan  pasal 113 ayat 1 dan 2 Undang-undang nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika. Dengan ancaman hukuman penjara minimal lima tahun dan denda paling banyak Rp10 miliar.

“Penanganan kasus ini, kami menyerahkan ke Polda Kepri. Biar ini menjadi tugas dari Polda Kepri. Kami juga tetap berkoordinasi dengan kepolisian di pintu masuk Batam guna mencegah pelaku lainnya,” katnaya. (jpnn)

Malaysia Produsen Kondom Terbesar

NEW DELHI – Industri karet terbesar memprediksikan,Malaysia akan menjadi negara produsen kondom terbesar di dunia pada tahun ini, mengalahkan Thailand.”Kami bisa menjadi produsen kondom nomor satu di dunia pada 2012 in dan mengalahkan Thailand. Produksi kondom buatan Malaysia pada tahun lalu juga mencapai miliaran,” ujar marketing dari Dewan Promosi Ekspor Karet Malaysia, Low Yoke Kiew, seperti dikutip Bernama, Jumat (13/1).

Dewan Promosi Ekspor Karet Malaysia juga melaporkan, saat ini Malaysia sudah memproduksi miliaran alat kontrasepsi. Pada 2010 lalu, Malaysia memang dinobatkan sebagai urutan keempat dari produsen alat kontrasepsi. Kondom-kondom yang diproduksi  Malaysia bisa ditemui berbagai ukuran. (net/jpnn)

Tak Punya Potongan Jadi Presiden

Anas Urbaningrum

KETUA Umum Partai Demokrat (PD) Anas Urbaningrum merasa tak punya potongan jadi capres. Ia juga menilai pemilihan presiden juga tak perlu dipikirkan dari sekarang.

“Anas itu nggak punya potongan jadi Capres, dah gitu aja,” ujar Anas kepada wartawan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (13/1).
Menurutnya, sampai tahun 2013 bagi PD masih tahun kerja. Ia juga meminta semua kader PD fokus pada slogan tahun kerja. “2012 kok ngomong capres. Kita konsentrasi mengurus partai dulu,” tuturnya.

Namun demikian Anas tetap berharap kasus mantan bendahara umum Partai Demokrat M Nazaruddin dapat segera selesai. Tujuannya, agar nama baik PD tidak terus runtuh. (net/jpnn)

Diculik lalu Dianiaya

MEDAN-Dituduh mencuri harta tetangga, Syaiful Bahri (43) warga Jalan Eka Rasmi Gang Eka Rasmi 4, Kelurahan Gedung Johor Medan Johor diculik lima orang tak dikenak (OTK). Syaiful dibawa kabur pelaku dengan menggunakan mobil Avanza lalu disiksa di tengah-tengah hutan Dairi. Untungnya penarik becak bermotor (betor) ini berhasil kabur. Kasus ini telah dilaporkan korban ke Polresta Medan, Kamis (12/1) kemarin.

Awal kisah penculikkan yang dialaminya Syaiful saat ia keluar dari rumah untuk menarik betor nya, Rabu (11/1) pagi sekitar pukul 06.30 WIB. Seorang pria kemudian menghampiri Syaiful meminta untuk diantarkan ke Kebun Binatang di Simalingkar. ” Kemudian dia meminta diturunkan di sebuah warung dekat kebun binatang,lalu saya memberhentikannya,” kata Syaiful saat membuat laporan ke Polresta Medan.

Tak lama kemudian,sebuah mobil Avanza dengan nomor polisi BK 1163 RI, berhenti tepat di warung, Syaiful dan penumpangnya berada.  “Kulihat empat orang turun dari mobil itu lalu mendatangiku,dan penumpang yang bersamaku memintaku menggembok becaku untuk masuk ke dalam mobil, ternyata penumpang saya itu kawanan empat orang di dalam mobil Avanza itu, “ kata Syaiful.

Dengan rasa takut Syaiful mengikuti perintah OTK itu. “Sambil menjalankan mobilnya mereka menuduh saya mencuri empat HP, dua laptop dan dua sepeda motor milik tetangga saya bernama Sri. Tuduhan itu kata mereka berdasarkan petunjuk delapan dukun bahwa saya pelakunya. Karen saya tidak mencuri saya tidak mengakuinya,” ketus korban.

Singkat cerita mereka tiba di Dairi. Syaiful kemudian digiring ke dalam hutan. Di tengah-tengah hutan itu, Syaiful dicekik, disepaki hingga diancam ditembak. Hingga akhirnya Syaiful berhasil kabur dari sekapan lalu melapor ke Polresta Medan. (gus)

Merampok di Taput Didor di Tangerang

JAKARTA- Pelarian John Tamba, tersangka perampokan bersenjata di Sumatera Utara berakhir di tangan Resmob Polda Metro Jawa, Jumat (13/1) dinihari kemarin. John Tamba yang masuk daftar pencarian orang (DPO) Poldasu ini merupakan aktor baku tembak di Jalan Sibolga-Tarutung Km 19, Desa Dolok Nauli, Dusun Lobu Pining, Kecamatan Adiankoting, Tapanuli Utara, awal Desember lalu, antara kawanan perampok dengan pihak kepolisian.

Dari Tapanuli Utara, John Tamba melarikan diri ke Jakarta. Tepatnya di Tangerang, John Tamba membentuk basecamp di sebuah rumah. “Keterangan sementara, sebagian ada yang sudah melakukan berulang kali kejahatannya. Dan salah satu pelakunya, yang merupakan kaptennya, John Tamba berusaha kabur, dia pernah baku tembak dengan polisi Sumatera Utara,” papar Direktur Reskrimum Polda Metro Jaya Kombes Gatot Edy Pramono, Jumat (13/1).

John Tamba dkk dibekuk di Jalan Mohamad Husni Thamrin, Kebon Nanas, Tangerang pada Jumat (13/1) pukul 01.30 WIB. John Tamba ditembak kakinya oleh aparat kepolisian saat berusaha kabur dari kepungan aparat. Selain John Tamba, polisi juga membekuk lima pelaku lainnya yakni PS(31), JS (37), BP (21), AT alias Kopral (36) dan TS (37).
“Sasaran mereka adalah pabrik, perkantoran, dan selalu mencari brankas. Sebelum membuka brankas, pelaku selalu mengancam korban dengan senjata yang dibawanya,” ungkap Gatot.

Pelaku juga selalu melumpuhkan terlebih dulu petugas keamanan yang menjaga, seperti mengikat tangannya, ditembak, ataupun ditusuk dengan senjata tajam. Aksi komplotan ini, diakui Gatot, cukup sulit terlacak. (bbs/jpnn)

Untuk Menyelesaikan Konflik Tanah DPD RI Bentuk Pansus Agraria

MEDAN- Ketua Tim RUU Pertanahan DPD RI Rahmat Shah menilai, bahwa negara tidak akan bangkrut bila memberikan dan mengembalikan tanah yang sejatinya milik dan hak rakyat. Seharusnya solusi permasalahan pertanahan adalah masalah yang sangat sederhana.

Hal ini diungkapkan Rahmat Shah ketika memimpin kelompok anggota DPD RI dari Provinsi Riau, Lampung, NTT dan Papua, saat menerima perwakilan dari Sekretariat Bersama Pemulihan Hak-hak Rakyat Indonesia.

Yakni, tergabung dalam sebuah aliansi dari kurang lebih 100 organisasi petani, buruh, masyarakat adat, perempuan, pemuda-mahasiswa, perangkat pemerintahan Desa dan NGO se-Indonesia. Pertemuan anggota DPD RI dengan perwakilan Sekretariat Bersama ini berlangsung di Gedung DPD RI, Senayan, Jakarta (12/01).

Dikatakan anggota DPD RI asal pemilihan Sumut ini, DPD RI sendiri jauh sebelum eskalasi demonstrasi masyarakat menuntut hak-hak mereka akhir-akhir ini, telah mempersiapkan pembentukan Panitia Khusus Agraria (Pansus Agraria DPD RI). “Pansus ini diharapkan secepatnya dapat bekerja untuk menjadi bagian dari solusi masalah pertanahan dan agraria di Indonesia,” bilang Rahmat.

Dikatakan Rahmat, DPD RI memahami kesulitan dan penderitaan yang dirasakan masyarakat akibat pola kebijaksanaan pertanahan yang tidak pro rakyat dan dimanfaatkan oleh sebahagian oknum dan segelintir pemegang kekuasaan untuk mencari kekayaan di atas penderitaan rakyat.

Oleh karena itu, DPD RI mendukung penuh upaya Reformasi Agraria yang seharusnya mencakup kepada reformasi peraturan dan perundangan, reformasi kelembagaan serta reformasi mental dan moral para pejabat penyelenggara negara dan pemegang amanah rakyat.

Dalam kesempatan tersebut, Rahmat merupakan pihak yang pertama kali menandatangani dukungan Lembaga Perwakilan Daerah untuk tujuan-tujuan yang diharapkan masyarakat.

Selanjutnya, Rahmat mengingatkan bahwa sorotan luar negeri atas keberhasilan suatu negara adalah keberhasilan pemerintah negara tersebut menyelesaikan dan mengelola permasalahan-permasalahan pertanahan yang ada. “Ini berarti, bahwa bukan berarti di negara lain tidak ada permasalahan pertanahan, hanya saja, kasus dan masalah pertanahan di negara lain, umumnya dapat diselesaikan secara tuntas dalam waktu yang tidak begitu lama, bisa dalam hitungan minggu,” kata Rahmat.

Dalam hal ini Rahmat mencontohkan lambat dan berlarut-larutnya penyelesaian pengembalian hak rakyat atas tanah dalam kasus tanah eks HGU PTPN II yang telah berlangsung sejak tahun 2002 hingga sekarang.

Namun dengan minimnya moral para pemegang kekuasaan dan kewenangan dalam permasalahan ini, yang terjadi adalah berlarut-larutnya permasalahan hak masyarakat. Pada akhirnya, kondisi ini mengakibatkan jatuhnya korban yang tidak sedikit dan berpotensi memecah  belah bangsa.

Di tengah bangkitnya kesadaran dan perlawanan masyarakat di seluruh Indonesia untuk menuntut hak-hak mereka sejak awal Januari 2012 lalu , DPD RI tetap mengimbau masyarakat agar dalam seluruh aksi perjuangan tidak mengedepankan anarkisme dan kekerasan.

Dan sebaliknya, pihak keamanan (Kepolisian RI) dihimbau agar tetap dapat menjaga profesionalisme dan kenetralan mereka.  DPD RI menekankan agar tidak ada aparat negara  dari kesatuan manapun yang dapat dibeli oleh kelompok tertentu untuk kepentingan mereka. Kepolisian RI adalah milik masyarakat, untuk itu mereka harus bekerja untuk kepentingan masyarakat. (*/ila)

Jaga Kesehatan dengan Donor Darah

MEDAN- Dalam menjaga kesehatan tubuh, donor darah menjadi solusi penting dalam hal tersebut. Begitulah kata Wakil Ketua PMI Provinsi Sumatera Utara dr Horas Rajagukguk SpB FInaCS.
“Dengan mendonorkan darah berarti mengencerkan darah. Khususnya masyarakat yang mengonsumsi ikan, daging, sehingga tidak merasa kepala pening, darah tinggi dan sebagainya. Darah yang encer dapat masuk melalui pembuluh darah otak.

Sebaliknya, kalau darah kental, sirkulasi darah menjadi tersendat. Inilah salah satu manfaat dari donor darah,” katanya, Rabu (11/1).
Menurutnya, dengan mendonor darah masyarakat secara tidak langsung juga memeriksa kesehatannya. “Dengan rutin melakukan donor darah, berarti secara rutin pula dia memeriksa kesehatannya. Karena setiap akan melakukan donor darah, pasti akan diperiksa kesehatannya terlebih dahulu. Secara hipotesa, kolesterol dan asam urat akan turun,” ujarnya.

Diterangkan Horas, kegiatan donor darah juga merupakan kegiatan sosial dan amal, dimana tindakan ini merupakan kegiatan ini juga dapat menyelamatkan nyawa banyak orang. “Karena darah tidak ada pabriknya, orang yang butuh darah adalah orang yang sedang terancam jiwanya,” tuturnya.

Ditambahkannya, donor darah juga meningkatkan tali silaturahmidan keakraban. “Itulah manfaat lain dari donor darah. Selain kegiatan sosial, menyehatakan badan, menjaga kesehatan juga meningkatkan tali persaudaraan dengan sesama,” tegasnya.

Untuk Unit Donor Darah (UDD) di Sumatera Utara, lanjut Horas, ada 10 UDD yang tersebar di Tapanuli Selatan (Tapsel), Tanjung Balai, Tebing Tinggi, Deli Serdang, Asahan, Toba Samosir (Tobasa), Balige, Labuhan Batu, Medan, dan Pematang Siantar.
“Untuk kedepannya, kita akan membuat UDD lain seperti di Kepulauan Nias.

Sedangkan untuk tingkat partisipasi masyarakat dalam mendonorkan darah, lanjut Horas, sejauh ini partisipasi dari warga Medan khususnya sudah semakin meningkat. Ini terjadi dengan gencarnya sosialisasi dari berbagai pihak dan manfaat dari donor darah itu sendiri.
“Dengan semakin meningkat aksi donor darah, artinya organisasi kepemudaan, keagamaan, perkantoran sudah mulai rutin melakukan donor darah setelah dilakukannya sosialisasi,” paparnya.

Dalam mendonorkan darah, sambungnya, seseorang harus berumur 17 hingga 60 tahun, tidak menderita diabetes miletus (DM), tidak terinfeksi karena virus seperti malaria, DBD, tidak terinfeksi HIV/AIDS, Hepatitis A, Hepatitis B, dan Hepatitis C positif serta penyakit lainnya. “Intinya dengan berdonor darah, warga secara tidak langsung sudah memeriksakan dirinya apakah ada mempunyai penyakit,” pungkasnya.(jon)

BKKBN Sumut Tingkatkan Lagi Kerja Sama di SKPD Daerah

Medan- Program kerja BKKBN Sumut 2011 lalu berjalan lancar dan tahun 2012 BKKBN Sumut harus menjalankan program KB dan program kerja yang lebih banyak lagi tahun 2012. Hal itu dikatakan, Kasubid Advokasi Penggerak dan Informasi BKKBN Sumut, Anthony SSos, Kamis (12/1) di ruang kerjanya.

“Tugas dan program kerja KB ini sehubungan dengan otonomi daerah, maka BKKBN Sumut akan meningkatkan kembali kerja samanya dengan SKPD masing-masing daerah,” kata Anthony.

Peningkatan kerjasama ini, lanjutnya, harus ditunjang dengan komunikasi dan kordinasi dengan semua pihak dan lintas sektor. Koordinasi ini sangat diperlukan mengingat banyak petugas KB lapangan banyak yang beralih ke instansi lain. “Tidak hanya itu, juga harus didukung dengan SDM yang berkompeten dalam bidangnya,” tambahnya.

Menurutnya, masih adanya satu daerah dimana petugasnya yang bertugas hanya satu orang petugas lapangan KB  menangani hampir keseluruhan masalah program KB dalam satu kecamatan atau kelurahan.

“Ini jelas-jelas tidak maksimal karena petugas lapangannya masih minim. Begitu juga dalam hal sosialisasi KB di lapangan. BKKBN Sumut berupaya agar pemerintah dapat melakukan perekrutan petugas lapangan baru,” pungkasnya. (jon)