31 C
Medan
Tuesday, April 7, 2026
Home Blog Page 14277

Tolak Permintaan KLB

JAKARTA – Permintaan mayoritas anggota agar digelar Kongres Luar Biasa (KLB) menyikapi kinerja pengurus PSSI saat ini menabrak tembok tebal. Sebab Djohar Arifin Husin (Ketum PSSI) cs mengisyaratkan tidak akan menggubris permintaan KLB itu.

“KLB hanya akan menjadi preseden buruk bagi sepakbola kita,” cetus Djohar dalam press conference di kantor PSSI kemarin siang didampingi Waketum Farid Rahman, anggota exco Bob Hippy dan Sekjen Tri Goestoro,  Djohar menyatakan jika tidak ada alasan untuk KLB digelar. Tidak ada satu pun pasal statuta menurut Djohar yang dilanggar. “Tak ada pasal statuta yang kami langgar. Begitu juga dengan hasil Kongres Bali,” sambungnya.

Tapi Djohar Arifin mengungkapkan mengatakan PSSI akan melakukan verifikasi apakah 452 perwakilan anggota yang hadir di Rapat Akbar Sepakbola Nasional (RASN ) di Jakarta pada 18 Desember lalu benar-benar perwakilan dari anggota sah PSSI. Jika valid PSSI akan menggelar rapat Exco dan akan memutuskan apakah permintaan KLB dipenuhi atau tidak.

“PSSI baru menerima surat (hasil RSAN) hari ini (kemarin-Red). Jadi untuk menuju KLB itu ada prosedurnya. Antara lain harus dilakukan investigasi dan rapat Exco,” “bebernya.
Mantan staf ahli Menpora ini menegaskan, meski begitu ada satu hal yang perlu “digarisbawahi. Yaitu dia dan jajaran kepengurusannya baru bekerja beberapa bulan. “Apa pantas sekarang ada anggota meminta KLB?” tandas Djohar Arifin.

Dalam surat hasil RSAN yang diterima Djohar kemarin itu, ada lima tuntutan yang diberi label Deklarasi Jakarta. Pertama, mosi tidak percaya terhadap Ketum Djohar Arifin Husin, Waketum Farid Rahman, Exco Sihar Sitorus, Mawardi Nurdin, Widodo Santoso, Tuty Dau dan Bob Hippy karena tidak kredibel dan melakukan pelanggaran serta tidak melakukan hasil Kongres Bali.

Kedua, meminta KLB dengan agenda pemilihan Ketum, Waketum dan exco selambatnya 30 Maret 2012. Ketiga, meminta PSSI memberi jawaban selambatnya 28 Desember 2011. Keempat membentuk KPSI (Komite Penyelamat Sepakbola Indonesia ) dengan ketua Tony Aprilliani, salah satu anggota exco PSSI. Tugas KPSI adalah menjalankan roda PSSI sesuai hasil Kongres Bali, termasuk memberi proteksi kredibilitas kepada para anggotanya hingga terbentuk PSSI yang baru.

Dan kelima, jika PSSI tidak member lampu hijau pada KLB, maka para pemilik suara itu mengancam bakal menggelar KLB sendiri sesuai Statuta PSSI pasal 31 ayat 2 yang berbunyi Exco akan mengadakan KLB apabila diminta secara tertulis oleh 2/3 anggota PSSI. Permintaan tersebut harus mencantumkan agenda yang akan dibicarakan. KLB harus diadakan dalam waktu tiga bulan setelah diterimanya permintaan tersebut. Apabila KLB tidak diadakan anggota yang memintanya dapat mengadakan kongres sendiri. Sebagai usaha terakhir anggota bisa meminta bantuan dari FIFA.

a Nyalla Mattaliti, anggota Exco yang pro KLB menegaskan jika rencana KLB harus jalan terus. “Djohar Arifin dan kroninya sudah banyak membuat keputusan yang bertentangan dengan Statuta PSSI dan Kongres Bali. Dia bekerja berdasarkan pesanan orang. KLB adalah harga mati,” tegas La Nyalla Mattalitti.

Menurut Nyalla, diantara pelanggaran berat yang dilakukan PSSI adalah memberikan tiket kepada beberapa klub untuk bermain di kompetisi tertinggi dengan alasan yang dibuat-buat dan tidak ada landasan hukumnya. “Seperti Bontang FC dan Persebaya 1927. (ali/jpnn)

PSSI Terancam Sanksi FIFA

JAKARTA – Sepakbola Indonesia mengulang sejarah buruk. Ancaman sanksi dari otoritas tertinggi sepakbola dunia FIFA kembali membayang. Jika sampai 20 Maret 2012 mendatang, PSSI gagal menyelesaikan konflik terkait kompetisi ISL (Indonesia Super League), kasusnya akan dibawa ke Komite Asosiasi untuk dibahas. Pembahasan itu bisa berbuah sanksi.

Situasi sungguh ironis dan berbalik. Jika sebelumnya, saat kubu ISL berkuasa, pemantik konflik itu adalah kompetisi LPI yang disebut ilegal. Kini saat kubu LPI yang berkuasa, kompetisi ISL yang disebut ilegal.

Menghadapi situasi tersebut, pengurus PSSI pusat menggelar press confenrence di kantor PSSI kemarin sore (22/12). PSSI mengungkapkan beberapa poin yang diterima dari departemen media FIFA. “FIFA sangat mengharapkan agar ISL kembali ke PSSI,” kata Edy Elison, juru bicara PSSI.
Jika imbauan tersebut diabaikan, PSSI diminta mengambil tindakan tegas untuk memastikan bahwa semua kegiatan sepakbola masih dibawah kontrol PSSI. Poin tersebut persis sama dengan yang diterima Jawa Pos (Grup Sumut Pos)  sebagai jawaban atas konfirmasi ke FIFA. Jawaban itu ditandatangani Sekjen FIFA Jerome Valcke dan Sekjen AFC Alex Soosay.

CEO PT LI Joko Driyono mengatakan sudah menduga bahwa jawaban AFC dan FIFA akan normatif seperti itu. Untuk itu, Joko berjanji akan terus berkomunikasi dengan AFC dan FIFA secara intens.
Kini, Joko tinggal menunggu keputusan PSSI setelah keluarnya surat itu. “Kami ingin tahu apakah PSSI follow up surat itu dengan nice,” sambung Joko.

Pria asal Ngawi ini mengungkapkan, kalau follow up PSSI tidak nice, dirinya yakin klub-klub yang berlaga di ISL akan serta merta bubar atau balik kembali mengikuti kompetisi PSSI. “Saya kira bukan itu pilihannya. Kami akan melihat apa yang mau dilakukan PSSI,” kata Joko.

Hasil konfirmasi langsung Jawa Pos kepada FIFA, organisasi itu sudah bertemu dengan pengurus PSSI di Tokyo Jepang, 15 Desember lalu. Pengurus yang ditemui adalah Ketum Djohar Arifin, Waketum Farid Rahman, dan Sekjen Tri Goestoro).

Saat itu, FIFA mengingatkan PSSI soal pasal 18 butir 1 statute FIFA. Isinya, liga atau grup sepakbola lainnya yang berafiliasi sebagai anggota FIFA harus tunduk dan diakui sebagai anggota.
FIFA juga meminta perangkat pertandingan terutama wasit tidak ikut serta dalam kegiatan ISL. Yang melanggar akan dikenakan sanksi.

Pemain yang bermain di ISL tidak bisa ditransfer ke luar negeri. TMS (transfer macnhing system) klub-klub ISL akan dicabut. Selain itu, pemain yang berlaga di ISL tidak boleh main di timnas negara masing-masing.

Poin terpenting dari email departemen media FIFA kepada Jawa Pos adalah, jika sampai 20 Maret 2012 situasi ini tidak terselesaikan, FIFA akan membawa kasus Indonesia ke Komite Asosiasi. Pembahasan itu bisa berujung sanksi. (ali/ruk/jpnn)

Amankan 944 Gereja

13 Ribu Personel Diturunkan untuk Natal dan Tahun Baru

MEDAN-Sedikitnya 13.988 personel gabungan dari Polda Sumut, TNI Kodam I/BB, Pemko Medan, Satpol PP, dan Dinas Perhubungan akan dikerahkan untuk pengamanan pengamanan jelang Natal 2011 dan Tahun Baru 2012. Untuk memaksimalkan persiapan tersebut, Polda Sumut dan Kodam I/BB melakukan upacara gelar pasukan di Lapangan Merdeka Medan, Kamis (22/12) pagi.

Berindak sebagai inspektur upacara adalah Pangdam I/ BB Mayjen TNI Lodewijk F Paulus. Dalam arahannya, Lodewijk menjelaskan isi dari UU No 34 Tahun 2004 yang mengatur salah satu tugas TNI yang disebutkannya ada dua, yakni operasi militer perang dan operasi militer selain perang. Salah satu operasi militer selain perang adalah dengan memberikan bantuan pengamanan kepada pemerintah daerah maupun aparat kepolisian.

“SOP-nya sudah jelas, semua pelaksanaannya dibawah kendali Kapoldasu. Sedang kita sifatnya on call, berapapun kekuatan yang diminta kepada kita, kita siap. Itu sudah ada SOP-nya, baik dari pihak kepolisian maupun Mabes TNI, kita tinggal menjalankannya di lapangan,” katanya.

Sementara itu, Kapoldasu Ijen Pol Wisjnu A Sastro mengatakan pengamanan yang dilakukan ini akan berlangsung selama 10 hari. “Ini merupakan operasi kemanusiaan terpadu. Artinya, yang terlibat dalam operasi ini tidak hanya aparat kepolisian saja tetapi juga melibatkan unsur TNI dan (aparat) pemerintah daerah,” ujar Wisjnu kepada wartawan.

Dijelaskannya, operasi yang dilakukan ini akan memberikan rasa aman kepada seluruh warga Nasrani yang merayarakan Natal 2011 dan Tahun Baru 2012. Dengan begitu, dalam operasi ini lebih mengedepankan penanganan secara persuasif, preventif, dan represif yang setelah itu barulah dilakukan penegakan secara hukum.

“Masyarakat tidak perlu dibentak-bentak karena masyarakat perlu pengayoman. Untuk itu aparat kita berikan arahan agar memberikan yang terbaik kepada masyarakat,” jelasnya.

Kepada warga yang menjalankan ibadah Natal dan merayakan Tahun Baru 2012, Wisjnu mengingatkan untuk menjaga keamanan dirinya masing-masing, terutama ketika hendak berpergian. Dengan demikian semua kegiatan yang dilakukan dapat berjalan tertib dan lancar.

Sedangkan untuk melakukan pengamanan di jajaran Polda Sumatera Utara, mendirikan 112 pos pengamanan dan 18 pos pelayanan.

Wisjnu mengatakan, pengamanan tempat ibadah merupakan prioritas utama. Ada 944 gereja yang harus diamankan. Itu sebabnya Poldasu mengajak seluruh masyarakat untuk ikut membantu melakukan pengamanan.

Sedangkan Wali Kota Medan Rahudman Harahap mengatakan untuk menciptakan kondisi kota yang aman tidak bisa hanya dibebankan kepada aparat kepolisian, TNI maupun pemerintah kota tetapi harus melibatkan seluruh lapisan masyarakat.

“Kita ingin mulai dari tingkat kepala lingkungan sampai kecamatan harus ikut bersama-sama menciptakan suasana kondusif dan mendorong masyarakat untuk lebih waspada dan tetap siaga dalam menghadapi setiap ancaman yang mungkin terjadi,” ujarnya. (adl/mag-5)

Tokoh Berinisial ‘B’ Ditangkap

Diciduk tanpa Barang Bukti di Rumah Mewahnya di Medan

JAKARTA-Pasca tertangkapnya dua kurir berinisial Y dan A ketika transaksi paket narkoba seberat 20 kg dari Malaysia dan mengamankan napi perempuan, Mami Medan, sebagai pengendali sindikat narkoba di Medan, Badan Narkotika Nasional (BNN) juga berhasil menangkap seseorang lagi berinisial B.

Setidaknya hal ini diungkapkan Direktur Bidang Penindakan dan Pengejaran, BNN, Brigjen Pol Benny Mamoto.

“Sudah, sudah berhasil kita tangkap.

Oknum B ini ditangkap sore hari di rumahnya, setelah kita menangkap kedua kurir,” kata Benny kepada Sumut Pos melalui ponselnya, tadi malam.

Sayang, Benny tidak merinci detil waktu penangkapan tersebut. Benny pun tidak menyebutkan dimana posisi B diamankan saat ini. Kemungkinan besar, pria yang disebut-sebut sebagai orang yang cukup berpengaruh dalam sindikat narkoba di Medan itu, ditangkap Kamis (22/12) sore. Pasalnya, saat diwawancarai Rabu (21/12) malam, Benny menyebut BNN masih sedang memburu B.

Benny menyebutkan, oknum berinisial B ini ditangkap karena dari pengembangan kasus dan dari keterangan tiga tersangka yang sebelumnya ditangkap, narkoba sebanyak 20 kg itu akan diserahkan kepada B. “Kini kasusnya masih dalam pengembangan. Bisa saja masih ada yang terlibat,” ujarnya.

Sedikit ia menceritakan kronologi penangkapan, yang terbilang sulit. “Oknum B ini punya rumah sangat mewah di Medan. Anggota sedikit kesulitan melakukan penangkapan, karena dia (B, Red) punya banyak mata-mata dan rumahnya dilengkapi dengan CCTV.

Tapi, dengan keuletan dan kesabaran anggota, akhirnya dia berhasil ditangkap tanpa perlawanan,” urai putra Sulut ini.

Saat ini, tambah Benny, seluruh aset dan rekening oknum B ini sedang dilacak.

“Kami tidak temukan narkoba atau bukti lain, seperti uang tunai. Hanya aset dan rekening terkait aliran dana sedang diselidiki,” jelasnya.

Soal tertangkapnya B oleh BNN, jajaran Poldasu mengaku tidak pernah dilibatkan.

Hal ini dikatakan Dir Narkoba Poldasu Kombes Pol Andjar Dewantoro.

“Tak ada laporan dalam bentuk lisan dan tertulis dari BNN terkait penangkapan B. Kalaupun ada, Dit Narkoba Poldasu pasti akan bantu. BBN tak ada berkoordinasi dengan kita. Coba tanyakan saja langsung sama BNN. Sayapun tak kenal mereka,” ujarnya, kemarin.

Salah seorang sumber terpercaya di Poldasu juga mengatakan hal yang sama kalau tidak ada tim dari BNN yang datang ke Dit Narkoba Poldasu untuk melakukan penangkapan B.

Sebab, kata dia, Dit Narkoba Poldasu yang lebih paham dengan situasi daerah di Medan.

“Tak ada tuh Dek, kalaupun ada, saya rasa pasti berkoordinasi dengan Dit Poldasu atau dengan atasan saya. Biasanya, kalau sudah BNN yang turun, mereka bekerja secara rahasia.

Bisa saja si B sudah ditangkap dan diendapkan di hotel. Ini karena BNN bekerja secara tertutup,” ujar pria berkulit cokelat.

Sedangkan Kepala BNN Sumut Aguswan yang dikonfirmasi melalui telepon seluler juga membantah adanya penangkapan B di Kota Medan. “Dari tadi banyak wartawan yang menghubungi saya, tapi itu tak benar. Biar saya jelaskan ya, saya ini lagi rapat di Jakarta.

Kalau tidak percaya, boleh cek ke kantor BBN pusat. BNN Sumut belum ada menerima perintah dari BNN pusat untuk melakukan tugas itu.

Sabarya, kalauadainformasiakansaya beritahu,” ujarnya.

Pun dengan penggerebekan di LP Wanita Tanjung Gusta yang merupakan kerja BNN pusat. Namun, bukan berarti tidak ada keterlibatan dari BNN Sumut dalam hal itu. “Itu BNN pusat langsung dengan Wamenkumham.

Bukan berarti tidak ada koordinasi dengan BNN Sumut. Tetap ada. Di Sumut ini kan baru terbentuk dan kantornya juga belum ada. Jadi, kami tidak bisa berstatement lebih jauh. Karena itu langsung BNN pusat,” jawab Aguswan.

Sementara itu, untuk mencari dugaan adanya keterlibatan oknum petugas terkait kasus ini, Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Hukum dan Ham Sumut, Baldwin Simatupang terus melakukan penyelidikan dan menggelar pemeriksaan terhadap para penghuni dan pegawai LP. “Kita sudah berusaha untuk menekan peredaran narkoba di LP. Aksi yang kita lakukan dengan melakukan pemeriksaan dan penggeledahan pada setiap kamar di dalam,” ujar Baldwin.

Selain melakukan pemeriksaan, pihaknya juga melakukan tes urine pada seluruh penghuni warga binaan. “Bukan hanya warga binaan, tapi kita juga melakukan pemeriksaan tes urine pada petugas. Apabila kita temukan adanya pemakaian narkoba, maka oknum itu akan kita tindak tegas berupa pemecatan,” tegasnya.

Terkait kasus yang menghentak Kota Medan ini, anggota Komisi A DPRD Sumut Syamsul Hilal langsung buka suara. Menurutnya, tidak mungkin petugas LP tidak mengetahui adanya peredaran narkoba di kawasan yang menjadi wilayah ‘kekuasaan’ mereka. “Bisa jadi, memang ada permainan antara pengedar narkoba dengan petugas. Kemungkinannya, ada petugas LP yang tidak dapat bagian dari peredaran narkoba itu, kemudian dia membongkarnya. Makanya, langsung Wamenkumham dan BNN menggerebek itu,” ungkapnya, Kamis (22/12). Jadi, sambungnya, persoalan ini harus segera diusut tuntas.

Selain itu, keberhasilan BNN mengungkap peredaran narkoba tersebut tanpa diketahui pihak lokal, dalam hal ini Poldasu dan Polresta, dianggap Syamsul Hilal sebagai titik lemah.

“Ada dua hal. Pertama, polisi tahu tapi tidak mau tahu. Kedua, sudah jadi rahasia umum kalau ada juga polisi yang jadi pemasok narkoba.

Terlepas dari persoalan itu, dengan kejadian ini menunjukkan kepolisian itu lemah dalam memberantas peredaran narkoba di Sumut,” tegasnya. (fir/jpnn/sam/rud/ari/ adl)

Bawa Pakaian Dalam ke Kantor Gubernur

Massa Lempar Tuntut Gatot Mundur

MEDAN-Momen Hari Ibu dimanfaatkan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Lembaga Penyalur Aspirasi Rakyat (Lempar) untuk mengkritik Plt Gubsu Gatot Pujo Nugroho. Jenis pakaian yang identik dengan ibu atau wanita mereka usung pada aksi di halaman depan Kantor Gubsu Jalan Diponegoro Medan, Kamis (22/12).

“Kita tidak ingin Sumut dipimpin oleh kepala daerah yang pengecut, tidak berani menindak tegas kepala-kepala dinas yang terindikasi korupsi,” tegas Ketua LSM Lempar Picky Fadly Pardede dalam orasinya.

Aksi Lempar ini ditujukan kepada Plt Gubsu Gatot Pujo Nugroho.

Selain berorasi, massa menghadiahkan pakaian dalam wanita yakni, celana dalam (CD) dan bra.

Hadiah pakaian dalam wanita kepada Gatot itu melambangkan bahwa Pemprovsu di bawah roda kepemimpinan Gatot merupakan pemerintahan lembek dan tak benar. “Masyarakat Sumut juga tidak mau punya pemimpin yang tidak baik karena dipecat sebagai PNS secara tidak hormat,” tambah Picky Fadly.

Massa juga sempat menyinggung dan mengutuk keras adanya oknum pejabat, oknum PNS, dan oknum kepala daerah di Sumut yang melakukan poligami. Hal tersebut, menurut massa Lempar, sangat bertentangan dengan peraturan dan perundang- undangan yang ada tentang PNS dan kepala daerah. Atas beberapa hal tersebut, massa Lempar mendesak agar Gatot secara profesional dan legowo turun dari jabatan Plt Gubsu. “Dan masyarakat Sumut tidak mau dipimpin oleh pejabat, PNS atau pun kepala daerah yang poligami. Kami meminta Gatot rela turun dari kursi Plt Gubsu,” kata Picky Fadly lagi.

Dalam aksi kemarin, ‘borok-borok’ Gatot terus dikumandangkan. Mulai dari kebijakan mutasi 110 pejabat, hingga Gatot mendapat teguran keras dari Menteri Dalam Negeri (Mendagri). Selain itu, mengenai sosok Gatot yang pada prinsipnya bukan seorang yang mutlak baik, karena Gatot sendiri merupakan mantan PNS yang pernah diberhentikan secara tidak hormat berdasarkan, Keputusan Menteri Pendidikan Nasional (Kepmendiknas) No.32451/ A4.6/KP/2007 Tanggal 1 Agustus 2007, tentang pemberhentian secara tidak hormat Gatot Pujo Nugroho sebagai PNS.

Dalam surat yang ditandatangani Mendiknas saat itu, Prof Dr Bambang Sudibyo MBA di Jakarta berisi tiga poin.

Inti dari isi surat tersebut tak lain soal pemberhentian tidak dengan hormat kepada Ir Gatot Pujo Nugroho karena melanggar Pasal 3 ayat (1) jo Pasal 9 ayat (1) dan (2) Peraturan Pemerintah (PP) No 37 Tahun 2004.

Setelah melakukan aksi sekira satu jam, massa membubarkan diri. Dari awal hingga akhir aksi tak terlihat satu pun pihak Pemprovsu menyambut aksi Lempar tersebut. Akibatnya, hadiah berupa pakaian dalam untuk Gatot pun mereka bawa pulang kembali. (ari)

Pemprovsu Fokuskan Honorer Kategori I

MEDAN- Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu) sampai saat ini masih menunggu Peraturan Pemerintah (PP), mengenai pengangkatan tenaga honorer dari pusat. Karenanya, Pemprovsu belum bisa memastikan kapan 223 tenaga honorer kategori I yang sudah diajukan saat saat Rapat Kerja (Raker) di Bali beberapa waktu lalu akan diangkat.

“Kita belum bisa memastikan kapan pengangkatannya, karena belum ada keputusannya dari pusat. Kita tunggulah,” ungkap Kepala Bidang (Kabid) Pengadaan Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Provsu Kaiman Turnip kepada Sumut Pos, Kamis (22/12).

Dijelaskannya, tenaga honorer kategori I adalah tenaga honorer yang digaji dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), yang selama ini masih tercecer.

Nah, Kaiman juga menyatakan, untuk 16 orang tenaga honorer kategori II, dimana penggajiannya tidak dari APBD/ APBN tidak masuk dalam rencana pengangkatan menjadi CPNS. “223 tenaga honorer itu kategori I, yang masih tercecer per Januari 2005 dan tahun-tahun sebelumnya.

Untuk rencana pengangkatannya, kita fokuskan ke yang kategori I dulu. Kalau yang kategori II sebanyak 16 orang,” terangnya lagi. Kaiman mengaku, sering ditelepon masyarakat menanyakan waktu pengangkatan tenaga honorer tersebut.

Anggota Komisi A DPRD Sumut Syamsul Hilal menegaskan, sebaiknya pemerintah pusat mengeluarkan peraturan pengangkatan tenaga honorer tersebut. Karena semakin lama aturan itu dikeluarkan, bukan tidak mungkin akan menimbulkan konflik sosial.

“Harusnya secepat mungkin. Karena ini sangat erat kaitannya dengan masalah sosial. Apalagi para tenaga honorer ini, telah mengabdi kepada pemerintah dan masyarakat,” tegasnya.(ari)

Pernah Disarankan Menjual Bayi oleh Pihak Rumah Sakit

Tifani Sembiring, Ibu yang tak Mampu Lunasi Biaya Persalinan

Pengorbanan seorang ibu kepada anaknya tak dapat dinilai dengan apapun. Hari Ibu yang jatuh pada 22 Desember harusnya diperingati dengan suka cita. Namun, tidak begitu halnya dengan Tifani Sembiring (22), warga Jalan Titi Papan No 56, Medan Petisah.

FARIDA NORIS RITONGA, Medan

SEDIH dan murung terpancar di wajah perempuan muda itu. Betapa tidak, setelah melahirkan bayi keduanya di RSU Bina Kasih, ia tidak diizinkan oleh pihak rumah sakit untuk melihat bayi laki-lakinya.

“Sudah satu bulan lebih saya menjalani perawatan di rumah sakit ini. Tapi hanya karena tidak bisa membayar biaya persalinan, kami dipisahkan. Saya tidak diizinkan melihat bayi saya. Saya hanya bisa terduduk dan menunggu kapan bisa melihat wajah bayi saya,” ujar Tifani, Kamis (22/12) Tifani masuk ke RSU Bina Kasih pada 22 November lalu sebagai pasien umum. Setelah melahirkan dengan persalinan normal, pihak rumah sakit meminta agar Tifani membayar uang persalinan tersebut.

“Awalnya, saya memang izinkan melihat bayi saya. Namun, setelah menyusukannya, bayi saya dibawa lagi ke ruang rawat bayi.

Beberapa hari kemudian, perawat bilang saya harus melunasi biaya persalinan,” jelasnya.

Tifani tak bisa berkata lagi. Biaya memang menjadi masalah. “Uang kami belum ada.

Suami saya hanya seorang sopir dan penghasilannya pas-pasan. Bukannya saya nggak mau bayar, kita juga tahu kewajiban kita sebagai pasien,” tambahnya.

Setelah itu, tepatnya 17 Desember, Tifani malah tidak diizinkan berjumpa dengan bayinya.

Ketika dia tanya alasan larangan itu, yang didapat hanya jawaban tak jelas. “Saya tidak dikasih melihat bayi saya. Kata perawat bayi saya sakit jadi nggak boleh dibawa keluar. Terus saya bilang, kalau memang sakit, kenapa saya nggak boleh melihat darah daging saya sendiri. Jumpakan saya dengan bayi saya. Tapi mereka bersikeras dan mengatakan saya nggak bisa bertemu bayi karena direktur melarang saya bertemu dengan bayi saya,” jelasnya.

Bahkan, lanjut Tifani, untuk keluar dari ruang perawatan saja, dia mendapat pengawasan yang ketat dari para perawat. “Saya mau ketemu dengan bayiku, tapi tidak dikasih jumpa, sempat saya menjerit di luar ruangan, dia bilang anak saya sakit. Mau ke kamar mandi saja, sampai diawasi. Mereka takut kalau saya pergi tanpa melunasi biaya perawatan,” urai TIfani.

Bukan itu saja, karena biaya persalinan belum dilunasi, Tifani tidak pernah diberi obat lagi untuk pemulihan kesehatannya. “Saya nggak dikasih obat lagi. Cuma nasi saja yang tetap diantar. Nggak tahu kenapa, padahal kondisi saya nggak begitu pulih. Sebelumnya pihak rumah sakit sempat mengatakan biaya persalinan Rp2 juta. Namun saat saya mau membayar satu juta, mereka tidak menerima.

Lalu uangnya kami gunakan untuk beli susu bayi saya,” katanya.

Kenyataan ini tak pelak membuat sang suami, Putra Budianto Tarihoran (26), merasa malu datang ke rumah sakit. “Pernah, direktur datang ke ruangan saya dirawat. Itu sekitar pukul 1 pagi, saat semua orang sudah terlelap dan suami saya nggak ada. Sambil marah-marah, direktur bilang, karena saya nggak bayar biaya persalinan, perawat tidak gajian,” ucap Tifani.

Tambah miris, di malam itu, pihak rumah sakit malah menyarankan dia untuk menjual bayinya. “Dan juga terketus dari mulut supervisor Ernawati Tarigan agar saya menjual anak saya untuk membayar biaya perawatan,” lirihnya.

Kini, harapan Tifani hanya dapat keluar secepatnya dari rumah sakit dan membawa bayi laki-lakinya tersebut. “Saya hanya ingin keluar dari sini bersama bayi saya. Kenapa mereka tega memisahkan saya dengan darah daging saya sendiri. Biaya persalinan ini pasti saya lunasi, tapi kita sebagai orang susah minta keringanan sama pihak rumah sakit,” beber Tifani.

Terpisah, Direktur Utama RSU Bina Kasih Dr A Ginting SpOG MARS membenarkan bahwa pasien atas nama Tifani hingga kini belum juga melunasi biaya persalinannya.

Tapi Dr A Ginting membantah pihak rumah sakit sengaja memisahkan Tifani dengan bayinya karena belum membayar biaya persalinan.

“Kita nggak ada menahan pasien apalagi tidak memberi izin si pasien melihat bayinya. Sudahlah, nggak ada apa-apa.

Mereka nggak ada minta keringanan biaya sama kita. Malah, katanya, masih menunggu ibunya datang untuk membayar.

Tapi setelah kita tunggu, ibu si pasien nggak datang juga. Kalau mereka memang nggak mampu, nanti bisa kita arahkan ke program jaminan persalinan gratis. Nggak ada kita tahan, nggak benar itu,” ungkapnya. (*)

Mei 2011 Ramai Teror Bom

1 Mei

Lima perampok bersenjata api beraksi pukul 06.00 WIB membawa kabur emas, perhiasan lain, uang dolar kontan dan empat unit HP dengan total kerugian diperkirakan Rp1 miliar Korbannya, Haris Sukanto (33), warga Jalan Hang Tuah Nomor 5B, Kelurahan Madras Hulu, Kecamatan Medan Polonia. Pelaku beraksi setelah menyekap dengan mengikat lima penghuni rumah.

3 Mei

Hotel JW Marriott di Jalan Putri Hijau Medan diteror bom, pukul 17.00 WIB. Teror di JW Marriot diawali dengan penemuan kotak berisi rangkaian listrik dibungkus kertas kado dan dimasukkan ke plastik keresek warna merah. Kotak itu diletakkan di pelataran parkir hotel.

4 Mei

Polisi menggelar rekonstruksi pembunuhan pasangan suami istri, Kho Wie To alias Awie (34) dan istrinya Lim Chi Chi alias Dora Halim (30), di dua tempat yaitu di Gedung Rupatama Mapolresta Medan dan di rumah korban Jalan Akasia I No 50, Bambu III Medan, Rabu (4/5) sekitar pukul 09.00 WIB.

10 Mei

Bupati Deli Serdang Amri Tambunan dilaporkan ke Kejatisu atas dugaan penyelewengan Dana Alokasi Khusus Pendidikan (DAK-Dik) Kabupaten Deli Serdang Tahun 2007-2010 senilai Rp93, 2 miliar.

Laporan secara resmi disampaikan Ketua Umum Lembaga Swadaya Masyarakat Peduli Pendidikan Bangsa (LSM-P2B) Jakarta Saidin Yusuf YP SH dan diterima staf bagian tata usaha Kejatisu.

13 Mei

PSMS menahan imbang PSAP Sigli di laga pembuka Grup B Babak Delapan Besar Divisi Utama Liga Indonesia, di Stadion Madya Tenggarong Kalimantan Timur. Hasil tersebut membuka jalan PSMS ke semifinal.

15 Mei

PSMS ditaklukan 1-3 oleh Mitra Kukar pada laga kedua penyisihan Grup B Babak Delapan Besar Divisi Utama. Manajemen PSMS tak terima hasil itu karena merasa dizalimi wasit Prasetya Hadi asal Surabaya yang memimpin laga.

16 Mei

Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Medan merilis pengumuman Ujian Nasional (UN) 2011 pukul 15.00 WIB. Dari data Diknas Kota Medan yang terbanyak tak lulus dari SMK Budi Satria Medan berjumlah 15 siswa. Sementara dari 39.326 peserta UN dari SMA/ MA dan SMK, siswa yang tidak lulus mencapai 109 orang.

17 Mei

  • PSMS bermain imbang 3-3 melawan Persiba Bantul di Stadion Segiri Samarinda pada laga ketiga penyisihan Grup B Babak Delapan Besar Divisi Utama. Sempat memimpin 3-0, Persiba mampu menyamakan kedudukan. Jatah ke semifinal yang sudah di depan mata melayang begitu saja.
  • Sungai Bingai tepatnya di Pantai Pai, Dusun 2 Tanjung Putri, Desa Namu Ukur Utara, Langkat, meluap sekitar pukul 14.30 WIB. Empat orang hilang dibawa luapan air.

19 Mei

  • Sungai Hatupangan, di Desa Sopo Tinjak, Kecamatan Batang Natal, Kabupaten Mandailing Natal, memakan korban jiwa. Empat penambang emas yang memang banyak beraktivitas di sepanjang daerah aliran sungai itu tewas disapu air bah, sekira pukul 17.00 WIB. Sementara 5 penambang lainnya selamat.
  • Lima tahanan Mapolsek Medan Sunggal kabur melalui atap sel tahanan, pukul 04.30 WIB, diduga saat petugas jaga di Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK) tertidur. Kelimanya kabur setelah berhasil membongkar sekrup jeruji besi di atas sel dengan menggunakan kunci pembuka sekrup.

20 Mei

20 mahasiswi Akademi Kebidanan (Akbid) Sari Mutiara di Jalan Bakti Luhur, Medan Helvetia, terkapar karena alergi makanan yang dikelola pihak asrama.

Ke-20 calon bidan itu terpaksa menjalani perawatan intensif di Ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSU Sari Mutiara Jalan Kapten Muslim, Medan.

23 Mei

  • Bupati Nias nonaktif, Binahati Benecditus Baeha menjadi terdakwa pertama yang disidangkan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Medan.
  • Kepala Dinas (Kadis) Kesehatan Pemkab Tobasa, dr Viktor Sitorus, ditangkap Satuan Intel Polres Kabupaten Toba Samosir karena mengumbar peluru dari senjata api miliknya di hadapan tenaga medis honorer.

25 Mei

Kantor wali kota Medan di Jalan Kapten Maulana Lubis diteror bom pukul 17.15 WIB. Kondisi tegang berhasil dicairkan saat Tim penjinakan bahan peledak (Jihandak) dari Gegana Brimob Polda Sumut mengamankan tas hitam dan membawanya labotorium Gegana Brimob Polda Sumut.

26 Mei

Kajari Tanjung Balai, Heri Sunaryo (56), meninggal dunia saat mengikuti acara pelantikan Wakajatisu, Aspidsus, Asdatun dan Kajari Simalungun di kantor Kejatisu di Jalan AH Nasution Medan. Heri meninggal dikarenakan mengalami serangan jantung, pukul 10.00 WIB.

27 Mei

Mantan Wali Kota Medan Drs H Ramli Lubis MM sujud syukur di ruangan Sidang Utama Pengadilan Negeri (PN) Medan, setelah dinyatakan tidak terbukti bersalah dalam kasus ruislagh Kebun Binatang Medan (KBM) tahun 2004.

29 Mei

Lima ratusan warga Hutagodang Muda, Kecamatan Siabu, Madina, mengamuk dan membakar camp dan logistik PT Sorikmas Mining (SM) di Tor Sihayo, 10 kilometer dari pemukiman. Dalam peristiwa ini, seorang warga terkapar ditembak. Kemarahan warga ini dipicu sikap manajemen perusahaan pertambangan emas itu yang dianggap tidak kooperatif karena belum juga memenuhi tuntutan warga yang berdomisili di sekitar lokasi pertambangan.

31 Mei

  • Bank Rakyat Indonesia (BRI) Unit Pinangsori di Jalan Sibolga-Padangsidempuan Km 33, dibobol pencuri. Berankas berisi uang Rp1,1 miliar dan receiver CCTV dibawa kabur pencuri.
  • Seorang office boy Kantor Wilayah BRI Sumut, Muhammad Dermawan, tewas tertembak petugas dari Satuan Pengaman Objek Vital (Satpam Ovit) Polresta Medan. Korban mengalami luka tembak pada bagian dada mengenai jantung. Peristiwa ini terjadi sekitar pukul 16.00 WIB.

Jadi Ibu di Hari Ibu

Adelia Wilhelmina

ADELIA Wilhelmina, istri Pasha Ungu, kemarin (22/12) pukul 07.26 WIB, melahirkan bayi laki-laki melalui operasi caesar.

Bayi tersebut diberi nama Dewa Hikari Zaidan Ibrahim. Lengkap sudah kebahagiaan pasangan yang menikah pada 27 Maret 2011 itu. Adel menjadi ibu tepat pada Hari Ibu Adel menjalani operasi caesar di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta Selatan. Operasi dilakukan karena bayi mereka terlilit tali pusar. Adel, kata Pasha, terlihat tegang saat akan menjalani operasi.

Tetapi, Pasha sudah mahir menenangkan hati istrinya.

Bagi Adel, kelahiran anak itu adalah pengalaman pertama. Tetapi, bagi Pasha, dia sudah tiga kali mengalami ketegangan di ruang persalinan dengan mantan istrinya, Okie Agustina. Anak pertama Pasha dari pernikahannya dengan Adel tersebut memiliki berat 3,36 kilogram. (jan/c7/any/jpnn)

Telanjangi Aktivis, 10 Ribu Perempuan Demo Militer

KAIRO- Sekitar 10 ribu perempuan menggelar demonstrasi ke jalanan di Kota Kairo, Mesir. Aksi itu sebagai bentuk amarah perempuan, sekaligus memprotes kekejaman militer terhadap para demonstran di Lapangan Tahrir. Khususnya pendemo dari kaum hawa.

Seorang demonstran membentangkan koran yang memuat foto adegan kekerasan, tiga militer berpakaian hitam, lengkap dengan helm sedang menyeret seorang demonstran perempuan. Dengan kasar mereka menjambak dan menarik baju demonstran itu sampai terlepas. Satu tentara yang lain bahkan dengan kurang ajar menginjak korban.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Hillary ikut mendukung aksi tersebut, sekaligus mengutuk aksi yang menurutnya mencoreng nama Mesir, di mana aparat keamanan dan kaum ekstrimis sengaja mengincar kaum perempuan.

Kegeraman Hillary direspon dengan pernyataan pejabat Mesir. “Penyiksaan tentara terhadap perempuan tidak bisa dianggap remeh,” kata Menteri Luar Negeri Mesir, Mohamed Kamel Amr, seperti dimuat Al-Jazeera , Rabu (21/12). Amr mengeluarkan pernyataan ini untuk merespon pernyataan Clinton yang dikeluarkan sehari sebelumnya.

Secara terpisah, para aktivis perempuan mengatakan, aksi tersebut digelar dengan tujuan mengakhiri kekerasan terhadap wanita. Mereka menuntut agar kekerasan terhadap pemrotes pada umumnya diakhiri.

“Alasan kami protes adalah gambar dan video tentang sebuah insiden yang dipublikasikan di seluruh dunia, di mana Dewan Militer tak ragu menginjak-injak dan menelanjangi para perempuan Mesir, bahkan tak segan memukuli mereka,” kata Islama Thabet, seorang demonstran.

Insiden yang dimaksud Thabet adalah saat seorang demonstran perempuan yang dipukuli hingga bajunya terbuka. Menurut Thabet juga, satu-satunya hal yang dipedulikan pemerintah Mesir saat ini hanyalah masalah kekuasaan.

Demonstrasi besar-besaran ini terjadi beberapa jam setelah militer Mesir bentrok dengan para demonstran di Kairo. Sejak Jumat pekan lalu, 14 orang tewas dan lebih dari 900 terluka. (net/jpnn)