Home Blog Page 14513

Ibu dan Balitanya Tewas Dibunuh

Terinspirasi Adegan Porno, Pelaku Ngaku Niat Memperkosa

PALAS-Seorang ibu, Ermida Boru Harahap (40) dan anaknya Putri Jamilah (2 tahun 6 bulan) ditemukan tewas di sekitar lokasi kebun korban di kebun Sumuran tepatnya 150 meter dari lokasi kebun cabe korban yang berada di Desa Sibuali- Buali, Kecamatan Sosopan, Kabupeten Padang Lawas (Palas), Jumat (21/10) malam lalu.

Keduanya diperkirakan korban pembunuhan karena luka disekujur tubuh yang diperkirakan terjadi sekira pukul 18.00 WIB.

Menurut keluarga korban, Fajar Harahap (38), pembunuhan diperkirakan terjadi Jumat ( 21/10) sore. Kejadian berlangsung saat Ermida menjalankan aktivitas keseharian di kebun cabe merek sambil menggendong dan mengasuh Putri Jamilah.

Di ladang yang berjarak sekitar 2 kilometer dari kampungnya, Ermida selalu menjaga kebunnya dari gangguan hama seperti kera.

Karena tak kunjung pulang, keduanya sempat dicari Addin Sihombing, suami korban Ermida, yang bingung dan resah.
Curiga terjadi sesuatu, Addin menyusul ke kebun, tetapi tak menemukan istri dan anaknya. Addin pulang dan mengabarkannya serta meminta rekan-rekan sekampungnya untuk ikut mencari Ermida dan Putri.

“Karena sudah magrib, Addin Sihombing dan warga mencari korban bersama-sama. Ternyata kecurigaan Addin benar. Istri dan anaknya ditemukan bersimbah darah dan tidak bernyawa lagi dengan posisi terlentang di pinggir jalan menuju kebun mereka, 150 meter dari kebun cabe,” terangnya kepada METROTAPANULI (grup Sumut Pos).

Tangan sebelah kanan Ermida nyaris putus dan kuping sampai batas batok kepala mengalami luka robek diduga akibat bacokan benda tajam. Kuping sampai batas batok kepala mengalami luka robek diduga akibat bacokan benda tajam. Sementara Putri, diduga dipukul dengan kayu karena tengkuk sebelah belakang memar dan lebam.

Addin yang sempat meraung-raung lalu ditenangkan warga. Kedua korban kemudian dibawa ke RSUD Sibuhuan untuk divisum untuk keperluan penyelidikan pihak Kepolisian Sosopan.

Fajar menduga, keduanya dihabisi mengunakan benda tajam dan benda tumpul sejenis kayu. Ermida diduga sempat mengadakan perlawanan dengan menangkis ayunan senjata tajam pelaku hingga tangan ibu muda tersebut nyaris putus.

Keluarga dan warga sekitar tentu saja heran dan prihati dengan musibah yang dialami keluarga Addin Sihombing. Apalagi, warga tahu, selama ini korban dikenal baik dan ramah di tengah-tengah masyarakat, mudah bergaul dan dan tidak memiliki musuh.

“Makanya kami bingung dan syok dengan kejadian ini. Apalagi pembunuhan itu termasuk sadis di wilayah kami ini,” terang warga bermarga Harahap.

Warga berharap kepolisian secepatnya mengungkap misteri pembunuhan ini. “Apa motifnya dan siapa pelakunya, agar kami masyarakat tenang. Karena ini adalah pembunuhan sadis yang tidak manusiawi,” tukas warga.
18 Jam, Pelaku Ditangkap.

Menyikapi harapan warga, penyidik Polres Tapsel dipimpin Kasat Reskrim Polres Tapsel, AKP Lukmin Siregar, berhasil mengidentifikasi dan menangkap pelaku pembunuhan terhadap seorang ibu dan anaknya dalam waktu 18 jam. Tersangka pelakunya, Rahmat (18) warga Desa Sosopan, Kecamatan Sosopan, Kabupaten Palas.

“Begitu kita datang ke rumahnya, tersangka mengakui semua perbuatannya. Saat ini kita masih akan terus memintai keterangan tersangka. Dugaan kita motifnya karena pengaruh film dewasa dari HP-nya,” tegas AKP Lukmin Siregar.
Kepada METROTAPANULI, Rahmat mengaku hanya berniat memperkosa dan tidak bermaksud membunuh ibu dan anak tersebut. Sore itu, saat pulang dari ladang, ia berpapasan dengan Ermida yang menggendong anaknya.
Teringat rekaman video adegan orang dewasa di ladang yang didownload dan disimpan di ponselnya, spontan timbul niat mesum Rahmat.

Ia lalu mengikuti korban yang menggendong anaknya. Selama 5 menit ia memikirkan cara melampiaskan hasrat nakalnya.

Saat itu, di tangan pelaku membawa sebilah parang dan balok sepanjang sekitar 1,5 meter. Diam-diam dari belakang, pelaku mengayunkan kayu ditangannya. Niat ingin memukul Ermida agar jatuh dan dirinya bisa memperkosanya ternyata pelaku salah pukul, yang kena malah putrinya yang langsung menjerit dan menangis.

Karena tertangkap basah oleh Ermida, Rahmat kembali mengayunkan kayunya ke bagian belakang kepala Ermida. Kedua korban langsung jatuh ke tanah, Ermida dalam keadaan berlumuran darah dari kepala sedangkan Putri dibagian tubuhnya dan menangis kesakitan.

Rahmat yang panik malah membacok leher Ermida dan kepalanya, sedangkan Putri dihantamnya lagi menggunakan balok sebanyak dua kali.

Dengan penuh rasa takut, Rahmat meninggalkan kedua korban dan kembali ke rumahnya di Desa Sosopan berjarak sekitar 2 km ke Desa Sibual-Buali.

Sesampai di rumahnya, Rahmat mandi dan pergi mengopi ke kedai dan hingga pagi dirinya masih melakukan aktivitas seperti biasa. Namun sore hari polisi sudah mendatangi rumahnya, dan setelah ditanyai polisi, akhir Rahmat mengakui perbuatannya.

Anak ke-4 dari 5 bersaudara ini, mengaku dirinya tidak begitu mengenal korban. “Saya menyesal,” ujar lajang yang hanya lulusan SD itu. (amr/phn)

Pelayanan Belum Maksimal

RSU Pirngadi Jadi Badan Layanan Umum

MEDAN- Sebagai Badan Layanan Umum Daerah (BLUD), Rumah Sakit Umum (RSU) Pirngadi Medan harus mampu memberikan pelayanan yang maksimal kepada masyarakat. Karenanya, Direktur Utama (Dirut) RSU Pirngadi Medan harus secepatnya memperbaiki pelayanan dan melakukan perubahan manajemen.

“Sebagai BLU Rumah Sakit Pirngadi jangan sampai mengecewakan masyarakat. Karenanya, harus dilakukan perbaikan pelayanan dan manajemen secepatnya,” kata Sekretaris Komisi B DPRD Kota Medan Khairuddin Salim saat dihubungi via ponsel, Sabtu (22/10) siang.

Dikatakannya, saat Komisi B DPRD Kota Medan melakukan kunjungan kerja ke RSU Pirngadi Medan, mereka masih melihat pelayanan yang belum maksimal kepada pasien. Karenanya, dia mendesak Dirut RSU Pirngadi Medan untuk secepatnya memperbaiki kinerja dan pelayanan yang diberikan kepada masyarakat.

“Saat kita melakukan kunjungan ke rumah sakit, manajemen rumah sakit mengaku sudah siap menjadi BLUD dan akan memberikan pelayanan maksimal. Namun, kita masih melihat ada sedikit kekurangan, yaitu pelayanannya masih belum maksimal. Kita meminta agar RSU Pirngadi memberikan pelayanan secara maksimal kepada warga yang membutuhkan pelayanan medis, jangan sampai masyarakat kecewa,” kata politisi Partai Demokrat ini.

Khairuddin juga menegaskan, Dirut RSU Pirngadi Medan harus menunjukkan kredibilitasnya kepada semua pegawai di RSU Pirngadi. “Saya melihat, kredibilitas Dirut RSU Pirngadi sampai saat ini belum terlihat. Tidak hanya itu, untuk Dirut RSU Pirngadi harus diperhatikan juga profesinya dan masa kerjanya. Pokoknya Dirut harus memberikan perubahan ke arah yang lebih maju, pelayanan yang maksimal dan terbuka dimana RSU Pirngadi sudah sah menjadi BLUD sekarang,” pungkasnya.

Disinggung mengenai beberapa ruangan yang tidak layak, Kahiruddin mengatakan, pihak rumah sakit harus secepatanya memperhatikan hal itu. “Rumah sakit harus memperbaiki ruangan agar layak digunakan sehingga masyarakat yang berobat ke sana tidak terganggu. Pihak rumah sakit juga harus memperhatikan segala kekurangan dan yang ada,” tegasnya.

Sementara Kasubbag Humas dan Hukum RSUD dr Pirngadi Medan Edison Peranginangin mengatakan, pihaknya saat ini sedang melakukan segala pembenahan. “Pembenahan mulai dari pegawai hingga pelayanan sudah kita lakukan. Mengenai ruangan yang masih kosong karena masih dilakukan perbaikan. Untuk ruangan yang beralih fungsi, itu karena alatnya belum tiba dan sudah dipesan,” terangnya.(jon)

Tersangka Penipuan Ditangkap Bawa Senpi

MEDAN- Petugas Polsekta Percut Sei Tuan meringkus Sugiono (26), warga Jalan Sedar, Kecamatan Batangkuis, di Jalan Aksara Medan, Sabtu (22/10) siang pukul 13.00 WIB. Sugiono diringkus karena diduga melakukan penipuan terhadap Suhartono (36), warga Jalan Percut Sei Tuan, Gang Musyawarah. Dari tangan Sugiono, petugas menyita sepucuk senjata api, soft gun jenis FN beserta sejumlah amunisinya.

Menurut Kapolsekta Percut Sei Tuan Kompol Maringan Simanjuntak, penangkapan Sugiono atas laporan Suhartono yang merasa ditipu dengan modus memesan daging senilai Rp30 juta, untuk pesta pernikahan. “Setelah daging diantar, korban menagih uangnya, namun tersangka berdalih bahwa penyelenggara pesta mengalami bangkrut sehingga tidak sanggup membayar,” terang Maringan.

Selama penyidikan dan penyelidikan, lanjut Maringan, tersangka sudah dua kali dikirim surat panggilan, namun tersangka tidak juga datang. Karenanya, saat  anggota mendapat informasi bahwa tersangka berada di Jalan Aksara, langsung dilakukan penangkapan.

Saat dilakukan pemeriksaan di Mapolsekta Percut Sei Tuan, senjata yang dimiliki tersangka ternyata tidak memiliki izin. Kepada wartawan, tersangka mengaku sebagai pengusaha daging ayam sekaligus dept colector di sebuah perusahaan. “Tersangka dikenakan UU Darurat No XII Tahun 1951, dengan ancaman hukuman 10 tahun penjara dan Pasal 378 subsider Pasal 372 KUHP tentang penipuan dan penggelapan,” ungkapnya.(jon/mag-7)

Laga Kambing, Buruh Bangunan Tewas

MEDAN- Kecelakaan maut terjadi tak jauh dari Kawasan Industri Medan (KIM) Mabar. Surwandi (19), warga Jalan Mangaan II, Gang Ali, Mabar, tewas di tempat saat sepeda motor Vega R yang dikendarainya laga kambing dengan sepeda motor Vario, Sabtu (22/10). Pria yang bekerja sebagai buruh bangunan ini tewas dengan wajah dan badan yang penuh luka.

Menurut keterangan petugas Sat Lantas Polresta Medan Labuhan, Brigadir J Hasibuan yang ditemui di depan ruang instalasi jenazah RSU Pirngadi Medan, saat itu korban yang mengendarai sepeda motor Vega R datang dari arah KIM. Tiba-tiba dari arah depan datang pengemudi sepeda motor Vario. Pengemudi sepeda motor Vario tidak bisa mengendalikan sepeda motornya, sehingga tabrakan tak terhindarkan lagi.

“Korban meninggal di tempat akibat laga kambing dengan pengemudi Vario. Korban saat itu hendak berangkat kerja dan korban ditabrak dari arah depan oleh pengemudi sepeda motor lainnya. Pengemudi yang menabrak korban saat ini sudah diamankan dan berada di Sat Lantas Polresta Labuhan,” terang J Hasibuan.

Sementara itu, Iswandi (47), ayah korban mengaku kaget atas peristiwa yang dialami anaknya itu. Menurut Iswandi, anaknya pagi itu hendak pergi kerja di Komplek KIM sebagai buruh bangunan. (jon)

Pedagang Dikelewang Perampok Bersenpi

LABUHAN- Japar Ali (61), warga Dusun 9, Pematang Johar, Kecamatan Labuhan Deli, dikelewang dua kawanan perampok bersebo dilengkapi senjata api (Senpi) di rumahnya, Sabtu (22/10) dini hari pukul 04.30 WIB. Walaupun perampok gagal menjarah harta bendanya, namun bapak empat anak ini mengalami luka lima jahitan di bagian bibirnya.

Keterangan yang disampaikan Japar ketika membuat laporan ke Polsek Medan Labuhan menyebutkan, kejadian itu terjadi ketika Japar bangun dan hendak belanja ke pasar untuk membeli kebutuhan barang dagangannya.

Ketika keluar dari kamar menuju kamar mandi, dua kawanan perampok langsung mengarahkan pistol dan kelewang ke arah kepalanya, aksi pelaku membuat Japar tak berdaya. Tak berapa lama, istri Japar keluar dan menjerit melihat Japar telah diancam pistol dan kelewang oleh orang tak dikenal.

Jeritan itu membuat kedua perampok bersebo itu kebingungan dan berusaha menyerang istri Japar, namun dihadang Japar hingga terjadi pergumulan. Jeritan istrinya semakin keras membuat kedua pelaku yang masuk dari arah pintu belakang rumahnya, langsung melayang kelewang ke arah bibir Japar hingga berdarah.

Merasa kebingungan, akhirnya kedua pelaku itu kabur dari pintu belakang dan melompat pagar, lari ke arah persawahan tanpa sempat mengambil harta benda pedagang kelontong tersebut.

“Pokoknya saya sempat ditodong pistol dan diarahkan kelewang ke saya, rupanya istri saya menjerit mereka kabur,” kata Japar menceritakan kejadian dengan polisi. (ril/smg)

Medan Kota Pertahankan Juara Umum Porkot

MEDAN-Setelah melalui perjuangan tak kenal lelah, akhirnya juara bertahan Pekan Olahraga Kota (Porkot) Medan sukses mempertahankan gelarnya.

Kontingen Medan Kota mempertahankan gelarnya setelah merebut medali terbanyak usai acara penutupan yang berlangsung di Stadion Teladan, Medan, Sabtu (22/10).

Pada Porkot Medan III kali ini Medan Kota menjadi yang terbaik dengan mengumpulkan 36 medali emas, 24 medali  perak dan 30 medali perunggu. Di tempat kedua diraih Medan Helvetia dengan 29 medali emas, 31 medali perak dan 37 medali perunggu.

Sementara di posisi ketiga diraih Medan Denai, 27 medali emas, 25 medali perak dan 28 medali perunggu, disusul posisi keempat, Medan Timur, 27 medali emas, 24 medali perak dan 24 medali perunggu.

Sedangkan, di posisi kelima ditempati Medan Amplas, 24 medali emas, 24 medali perak dan 25 medali perunggu.
Wali Kota Medan Rahudman Harahap dalam kata sambutan, sebelum menutuk kegiatan mengatakan, ke depan Medan butuh atlet yang memiliki fanatisme dan semangat juang yang tinggi, bukan yang lebih mengejar materi.
Untuk itu, ia meminta kepada KONI Medan dan induk cabang olah raga agar lebih intensif melakukan pembinaan kepada atlet binaannya masing-masing. Dengan demikian atlet juga akan lebih terpacu untuk meningkatkan prestasinya.

“Kami juga meminta KONI Medan agar membuat program pembinaan terpadu dan berkesinambungan. Prestasi tidak bisa diraih dengan instan, melainkan dengan kerja keras dari semua pihak yang terlibat,” katanya dalam acara penutupan yang dihadiri Wakil Wali Kota Medan Drs. H. Dzulmi Eldin, MSi, Sekda Ir. Syaiful Bahri, MSi, Ketua KONI Sumut H. Gus Irawan SE Ak MM, dan undangan lain.

Dalam kesempatan ini, Wali Kota, juga memberikan apresiasi kepada lifter angkat berat Daud Gowasa yang di arena Porkot Medan 2011 ini berhasil melampaui rekor nasional dan rekor dunia di kelas 59 kg. Daud berhasil melewati rekornas atas namanya sendiri di nomor squat dari yang sebelumnya 275 kg menjadi 280 kg. Sedangkan, di nomor deadlift dengan gagah perkasa ayah satu putra dan satu putri ini melampaui rekor dunia kelas 59 kg dari sebelumnya 295 kg menjadi 300 kg.

Ketua Umum KONI Medan Drs. H. Zulhifzi Lubis dalam kata sambutannya mengatakan, secara umum perkembangan olahraga di Medan, dewasa ini sudah cukup merata.Ini terbukti dengan perolehan medali dari setiap kecamatan.
Kepada atlet yang berhasil meraih medali, ia berpesan agar tidak terlalu berbesar hati karena Porkot ini hanya merupakan tahap awal untuk berprestasi ke tingkat yang lebih tinggi.

Bagi atlet yang belum meraih medali diminta juga untuk tidak patah semangat, dan jadikan kegagalan tersebut untuk mengevaluasi kelemahan-kelemahan sehingga kedepan dapat tampil sebagai juara.
“Jalan masih panjang untuk berprestasi, teruslah berlatih dengan lebih intensif tanpa kenal lelah,” kata pria yang akrab disapa Opung Ladon ini. (jun)

Tak Ingin Bangga dengan Dosa-dosa

Ramadhan Batubara

Saya pernah mengatakan kalau ketakutan terbesar dalam hidup saya ketika mengendarai kendaraan adalah bertemu polisi lalu lintas. Kini tidak lagi, saya telah memiliki Surat Izin Mengemudi dan kelengkapan lainnya. Sayangnya, setelah masalah polisi lalu lintas selesai, saya malah menyadari sebuah ketakutan yang lain. Saya takut menyanyi.

Tolong, jangan anggap menyanyi yang saya maksud adalah seperti yang dilakukan Nazaruddin. Ini soal nyanyi yang sebenarnya, seperti Krisdayanti yang fasih memegang microphone di Pendopo Rumah Dinas Walikota Medan beberapa malam lalu. Ya, ini tentang melantunkan nada dan lirik.

Ketakutan saya ini semakin menjadi karena beberapa hari ke belakang ada kecenderungan baru di kalangan kantor. Ya, apalagi kalau bukan soal menyanyi. Tapi sekali lagi, ini bukan nyanyian dalam tanda kutip –seperti pembusukan karakter pimpinan atau lainnya—ini hanya soal nada dan lirik. Tujuannya adalah pesta pernikahan dan karoke, heheheheh.

Hingga, karena terus didesak oleh keinginan untuk menyanyi, saya pun sibuk menyetel mp3 di komputer. Dan yang saya dapati hanyalah lagu Ebiet G Ade. Fiuh, hanya satu lagu pula! Lagu ini berjudul Berita Kepada Kawan. Sebagian liriknya seperti ini:

Barangkali di sana ada jawabnya//mengapa di tanahku terjadi bencana//Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita//yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa//atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita//Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang
Entahlah, kenapa folder musik di komputer saya bisa hancur. Bayangkan saja, sebelumnya folder itu penuh dengan lagu Indonesia lawas hingga era 1990-an (maklumlah, saya hanya bisa menikmati musik Indonesia di era itu) dan musik barat (terutama genre musik rock era 70-an dan 80-an, blues, jazz, dan reagge).
Kenyataan ini sepertinya ada yang merekayasa. Hm, siapa lagi terdakwanya selain istri bukan? Ya, sudahlah. Saya tidak mau mengkonfirmasi hal ini pada istri, ya, takut terjadi perang dingin. Yang saya tahu, dia memang tidak begitu suka ketika saya sudah mendengarkan musik. Pasalnya, ketika kegemaran mendengar musik saya lakukan, durasinya bisa mencapai lima jam. Ujung-ujungnya saya tidak tidur. Sewotlah dia. Hm, meski begitu, rasanya tak mungkin dia menghapus koleksi lagu saya.

Tapi, siapa yang menghapus? Lalu, kenapa lagu Ebiet tadi saja yang dia tinggali? Adakah ini semacam pesan? Ya, bukankah lirik lagu itu seakan mengambarkan Indonesia kini?

Tak mau pusing memikirkan hal itu, saya dengari juga satu-satunya lagu yang tersisa. Hasilnya, makin lama lagu itu terus berulang, ada kalimat yang nyangkut di kepala saya; ya, yang baitnya saya kutip tadi. Saya terenyuh dengan kalimat yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa. Saya merasa tertusuk. Lirik itu seakan membawa saya ke ucapan-ucapan yang telah saya keluarkan.

Adalah sangat sering saya menceritakan dosa-dosa saya agar lawan bicara terus mendengar cerita yang saya tawarkan. Ukh, di warung kopi, di kantin kantor, mereka tertawa mendengar dosa yang sempat saya buat di masa lalu. Saya bangga. Saya jadi pusat perhatian. Pun, kawan-kawan seakan tak mau kalah, mereka bernyanyi tentang diri mereka sendiri; pernah bercinta dengan si A. Lalu bersama si B pernah ‘main’. Fiuh, langit kantin dan warung kota tebal oleh dosa-dosa kami.

Begitu pun ketika melihat televisi, berita di koran, dan kabar di radio. Ah, saya sadari dosa adalah sesuatu yang laris manis. Maka, dosa pun dikemas sedemikian rupa menjadi sebuah sajian yang menarik, yang ditunggu, dan yang diharapkan. Kadar dosa pun semakin menurun, dia semakin biasa. Persis kata orang bijak, ketika sebuah kata makian terus diulang dari waktu ke waktu, maka maknanya akan berubah. Makian itu pun hilang arti.

Lalu, jika begitu banyak dosa-dosa yang bertebaran, bukankah dosa itu bisa berubah makna? Dia kan menjadi biasa dan yang melakukannya pun semakin tiada beban. Bah, kalau soal ini agak sulit menjawabnya, dia menjadi wilayah kepercayaan dan saya tak mau menyinggungnya.

Hm, kita kembali saja ke soal nyanyi tadi.

Nah, akhirnya, karena menemukan satu lagu saja, saya pun tak jadi menghafal lagu tersebut. Pasalnya, lagu itu terlalu ‘mendayu’ untuk dinyanyikan di pesta pernikahan ataupun di karoke bukan? Maka, tetap saja saya tidak bisa menyanyi dan ketakutan saya masih tetap.

Tapi sudahlah, setiap orang memang memiliki ketakutan tersendiri. Dan, ketakutan itu pasti berkembang. Saya pahami, ketakutan itu tumbuh seiring pertumbuhan kedewasaan manusia. Jadi, ketika hingga kini masih ada yang tidak takut pada apapun, misalnya soal korupsi, suap-menyuap, memeras, atau apalah, maka dia akan menemukan ketakutannya sendiri di kemudian hari. Di sanalah kedewasaannya diuji. Seperti saya saat ini, takut menyanyi. Dan, ketika sisi kedewasaan memilih untuk belajar menyanyi, saya benar-benar diuji dengan hilangnya koleksi musik tadi. Bukankah begitu? (*)

Tim Ditambah, Pelaku Diimbau Menyerah

Polisi Terus Buru Perampok dan Pembunuh WN AS

MEDAN- Perburuan terhadap pelaku perampokan dan pembunuhan turis asing warga negara Amerika Serikat keturunan Korea, Samuel Hyuen Lee terus dilakukan. Bahkan, tim pemburu ditambah untuk mempersempit ruang gerak pelaku perampokan yang berakibat tewasnya turis asal AS tersebut.

“Penambahan tim ini untuk membantu tim yang sudah disebar dalam memburu pelaku perampokan WNA tersebut,” kata Kabid Humas Polda Sumut AKBP Heru Prakoso kepada wartawan, Sabtu (22/10).

Menurut Heru, Polresta Medan telah membentuk dua tim, Polsekta Medan Baru satu tim dan Poldasu satu tim.
Tim yang telah disebar, kata Heru, saat ini terus melakukan pengejaran dan memfokuskan pada pengungkapan kasus. “Selain mencari info tentang keberadaan para tersangka, kita juga sedang melakukan perburuan dari tempat persembunyiannya. Ini menyangkut penegakan hukum dan citra Sumut,” tegas Heru.

Heru juga mengatakan, Polresta Medan dalam perkara ini telah melakukan pemeriksaan terhadap beberapa saksi, termasuk penarik betor yang membawa korban saat itu.

Ketika ditanya di mana perkiraan tempat persembunyian para pelaku, Heru hanya mengatakan, pengejaran masih dilakukan di seputar Kota Medan. “Namun, bisa saja pelaku kabur ke luar kota, karena pelaku sudah tahu kalau mereka sedang diburu. Untuk itu, saya imbau agar para pelaku menyerahkan diri,” kata Heru.

Dia juga menyebutkan, saat ini pihaknya juga telah berkoordinasi dengan Kapolres atau Kasatwil yang wilayahnya berbatasan dengan Kota Medan.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polresta Medan AKP Yoris Marzuki SIK ketika dikonfirmasi via ponselnya, Sabtu (22/10) sore mengatakan, jenazah Samuel Hyuen Lee masih di Ruang Instlansi Jenazah RSU dr Pirngadi Medan. “Masih di Pirngadi dan belum diotopsi. Lambatnya otopsi karena pihak konjen belum datang,” terang Yoris Marzuki.
Mengenai pelaku, Yoris mengaku optimis dalam waktu dekat tersangka akan diringkus.

“Nanti ya, kami masih bekerja, pelaku pasti ketangkap dalam waktu dekat ini, dan akan kita ketahui modus pembunuhan WNA tersebut,” ujarnya.

Secara terpisah, Wakasat Reskrim Polresta Medan AKP Ronny Sidabutar mengatakan, belum dilakukan otopsi karena pihaknya masih menunggu izin dari keluarga korban melalui Konjen AS. “Katanya Jumat kemarin mau diambil jenazah korban oleh Konjen AS. Namun kami pun masih menunggu izin dari pihak keluarga melalui Konjen, apakah dilakukan otopsi atau tidak,” tuturnya.(rud/mag-7)

Medan Petisah Raih Emas Sepakbola

MEDAN-Tim sepakbola Kecamatan Medan Petisah memupuskan harapan Kecamatan Medan Kota menyempurnakan juara umum Pekan Olahraga Kota (Porkot) Medan untuk meraih medali emas sepakbola, setelah di babak final menang 2-0 di Stadion Teladan Medan, Sabtu (22/10).

“Ini merupakan prestasi menggembirakan bagi Medan Petisah khususnya cabang sepakbola,” kata Manajer Tim Medan Petisah Aminnurasyid, usai pertandingan. “Anak-anak bermain semangat tidak kenal lelah dan pantang menyerah,” tambahnya.

Tim sepakbola Medan Petisah yang ditangani mantan pemain Pelita Jaya Puspom dan penjaga gawang PSMS Sahari “Ucok” Gultom selama tiga hari terus bertanding mulai dari babak delapan besar, Kamis (20/10), semifinal Jumat (21/10) dan Sabtu (22/10).

Keberhasilan Medan Petisah memperoleh medali emas tidak terlepas dari dukungan Camat Medan Petisah Mohammad Yunus SPT dan unsur KONI Kecamatan yang dipimpin Suria Bakti dan Syaiful Syahputra. Emas sepakbola Medan Petisah sesuai target yang dicanangkan oleh Manajer Tim Aminnurasyid yang juga merupakan Ketua SSB Garuda Di Dadaku.

Menanggapi pertandingan kemarin yang disaksikan 2000-an penonton, Puspom mengakui bahwa kepercayaan diri pemain meningkat ketika unggul satu gol. Pemain berbakat yang menempati posisi striker Genta Surya membuat Medan Petisah leading 1-0 pada menit kesepuluh. Sebaliknya Medan Kota yang tertinggal satu gol, berupaya menyamakan kedudukan.

Namun, justru Medan Petisah yang menambah  gol pada menit ke-55 melalui gol menawan Irpan Lubis dengan mengecoh dua pemain belakang, termasuk penjaga gawang Medan Kota Amos Franco Sinaga. “Anak-anak sudah bermain maksimal. Ada beberapa peluang, namun gagal diselesaikan dengan baik,” kata arsitek Medan Kota Syahril WP yang juga pelatih SSB Patriot.
Perebutan medali perunggu yang digelar, Sabtu pagi di Stadion Teladan, Medan Tuntungan mengalahkan Medan Johor 2-0 melalui gol di babak pertama.
Yendi Sulistianto membuka gol pada menit kesembilan dan ditambah satu gol lainnya oleh Noviandi Syahputra menit ke-28. (jun)

Tuntungan unggul dalam penguasaan bola, dan menyulitkan bagi Medan Johor untuk mengembangkan permainan.
Ketua Umum KONI Sumut H Gus Irawan SE Ak MM yang turut hadir mengalungkan medali emas bagi tim Medan Petisah didampingi Ketua Umum KONI Medan Drs Zulhifzi Lubis. (jun)

Satu dari 13 Perampok Diamankan Dit Polair

MEDAN- Satu dari 13 pelaku perampokan diringkus personel Direktorat Kepolisian Air (Dit Polair) Polda Sumut di kawasan Belawan, Jumat (21/10) malam pukul 19.00 WIB. Tersangka yang diringkus yakni Rahmat Ali (42) warga Kampung Nelayan Belawan, saat akan menjual komputer hasil rampokannya.

Menurut Direktur Polair Polda Sumut Kombes Pol Ario Gatut melalui Kasi Penyelidikan Penegakkan Hukum (Lidik Gakkum) Polair Polda Sumut Kompol Den Martin Nasution, penangkapan tersebut dilakukan setelah pihaknya mendapatkan informasi dan pengaduan dari korban di Polsek Perbaungan, Polres Deli Serdang.
Menurutnya, perampokan tersebut terjadi pada 8 Oktober 2011 pukul 04.00 WIB di PT ATP Desa Nagalawan, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai).

“Perampokan yang dilakukan kawanan ini dengan cara mengikat 19 orang korban yang saat itu berada di lokasi kejadian. Kawanan perampok ini berhasil membawa 6 unit TV, 16 handphone, 3 buah HT, satu set komputer, satu mesin babat dan uang kontan Rp11 juta,” ungkapnya.

Menindaklanjuti pengaduan korban, Dit Polair Poldasu melakukan penyelidikan. Rabu (19/10) lalu, mereka mendapat informasi kalau seorang tersangka bernama Rahmat Ali, warga Kampung Nelayan Belawan akan menjual satu set komputer hasil rampokannya. Mengetahui hal itu, personel Polair langsung melakukan pengintaian dan berhasil menangkap tersangka pada Jumat (21/10) malam pukul 19.00 WIB.

Dari hasil pemeriksaan terhadap tersangka, Sabtu (22/10) dini hari pukul 01.00 WIB, tim memburu para tersangka lainnya di Perairan Belawan, Kampung Nelayan. Dari rumah Rahmat Ali, petugas menyita satu frezer dan satu HP dan sebilah parang.

Sementara itu, tersangka Rahmat Ali mengakui kalau dia melakukan aksinya bersama 12 temannya. “Iya kami ada 13 orang saat melakukan perampokan itu. Delapan orang warga Kampung Nelayan Belawan dan lima orang warga Karang Gading Medan Labuhan,” ujarnya.(mag-7)