Home Blog Page 14551

Andi M Ghalib Pendidikan di India Lebih Murah

DUTA Besar Indonesia untuk India, Andi M. Ghalib, mendorong masyarakat agar melanjutkan studi di India. Sebab, pendidikan di India kompetitif tapi relatif murah.

Karena pesatnya pendidikan di India, pihaknya saat ini berupaya meningkatkan kerja sama antar-negara khususnya di bidang pendidikan dan teknologi informasi sekolah.

“Ini merupakan bagian tindak lanjut nota kesepahaman pengembangan pendidikan antara Indonesia dan India yang disaksikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beberapa waktu lalu,” katanya.

Dia menjelaskan India saat ini termasuk negara yang tercepat pendidikannya di dunia. Beberapa indikatornya antara lain negara itu dalam satu tahun mampu mencetak satu juta sarjana teknik dan mampu menerbitkan 75 ribu-80 ribu judul buku. Kecenderungan penyelesaian tingkat pendidikan juga sangat positif. Menurutnya, rata-rata orang India berpikir mengambil gelar doktor pada usai 20-an tahun “Mereka negara luar biasa sekarang. Ilmu pengetahuan begitu didorong perkembangannya. Kita juga bisa lihat peran India di dunia internasional dari banyaknya penghargaan Nobel yang didapat oleh ilmuwan dan tokoh-tokoh mereka,” katanya.

Atase Pendidikan Indonesia di India, Son Kuswadi, menambahkan saat ini hanya ada 100 orang mahasiswa asal Indonesia di India. Ia mengakui minimnya masyarakat Indonesia menuntut ilmu di negara tersebut sebab upaya promosi pendidikan India masih kurang. (net/jpnn)

Medan Helvetia Dominasi Cabor Kempo

MEDAN-Kecamatan Medan Helvetia juara umum cabang olahraga Kempo pada Pekan Olahraga Kota (Porkot) Medan III Tahun 2011 dengan meraih 5 emas, 3 perak, dan 7 perunggu.

Sementara tempat kedua diraih Medan perjuangan dengan perolehan 2 emas, 2 perak dan 1 perunggu. Dan tempat ketiga diduduki oleh Medan Johor dengan memperoleh 1 emas, 2 perak, 1 perunggu.

Pelaksanaan Porkot Cabang Olahraga Kempo dilaksanakan di Sekolah Josua Medan, dilaksanakan Sabtu dan Minggu (15 s/d 16/10), dibuka oleh Ketua Umum Perkemi Cabang Medan Budi Siregar yang dalam sambutannya mengatakan pihaknya memberia presiasi yang setinggi-tingginya kepada KONI Medan yang telah menggelar Porkor III tahun 2011.
“Dengan digelarnya Porkot kita dapat menjaring bibit-bibit berbakat yang nantinya akan kita bina untuk menghadapi Porwil dan PON,” ujar Budi Siregar.

Berikut hasil perolehan medali cabang olahraga kempo, nomor randori perseorangan putri kelas 42 kg, medali emas diraih Annisa Mutia (Medan Selayang), perak: Andrea (Medan Helvetia), perunggu: Annisa Risyanti dan Balqis (Medan Helvetia). Randori perseorangan putri 54-58 kg: emas: Syafira Rini (Medan Helvetia), perak: Balqis Carissa (Medan Johor), perunggu: Dea M Ananda Medan Helvetia dan Elsa Winanda (Medan Johor).

Randori perseorangan putra kelas 45-50 kg, emas: Agus Mauladi (Medan Helvetia), perak: M Iqbal (Medan Helvetia), perunggu: Iwan Hasan (Medan Helvetia) dan M Farhandika (Medan Helvetia).

Randori perseorangan putra kelas 55-60 kg, emas: Jhon Piter (Medan Belawan), perak: Suroto (Medan Sunggal), perunggu: Aprizal (Medan Perjuangan) dan M Aditya K (Medan Helvetia).

Randori Perseorangan Putra kelas 65-70 kg, emas: Reza (Medan Helvetia), perak: Rudi K (Medan Perjuangan), perunggu: Firman (Medan Petisah) dan Arfian Arifin (Medan Sunggal).

Embu pasangan putra, emas: Arifin Hafiz/Aditya (Medan Helvetia), perak: Anggota/Doni (Medan Perjuangan), perunggu: Fadli/Mirza (Medan Sunggal).

Embu pasangan putri: emas: Cut Reza/Khairunnisa (Medan Perjuangan), perak: Elsa W/Rini (Medan Johor), perunggu: Panca Dwita/Andri (Medan Sunggal).

Empu pasangan campuran, emas: Esa/Akbar (Medan Johor), perak: Irma/Rizki (Medan Helvetia), perunggu: Faris/Balqis (Medan Area).

Embu beregu, emas: Adi Nurul Irma/Khairunnisa/Cut Reza/Dita (Medan Perjuangan), perak: Dika Ariyanto,M Afri Angga Kessu/M Aditya Maulana/M Dedi Yusuf (Medan Helvetia), perunggu: Doni S Harefa/George/Franciskus/Edi S Barus (Medan Helvetia). (jun)

Drainase Rata dengan Tanah

081268340xxx

Kepada Bapak Wali Kota. Kami warga Kampung Baru Gang Pemuda dan sekitar Alfalah pinggiran rel Pancur Batu. Setiap kali hujan datang rumah kami pasti banjir karena drainase yang lama sudah tidak berfungsi lagi karena sudah rata dengan tanah tolong Pak dilakukan pengorekan kembali.

Kirim Petugas

Terimakasih untuk informasinya. Mengingat keterbatasan petugas yang ada, penataan drainase ini dilaksanakan sesuai dengan skedul sehingga sedikit lamban. Begitu pun laporan ini akan kami tindaklanjuti dengan mengirim petugas untuk mendapatkan gambaran di lapangan.

Gunawan Surya
Kadis Binamarga Kota Medan

Meriah di Bawah Guyuran Hujan

Minggu Sehat Bersama Sumut Pos

MEDAN-Sumut Pos kembali menggelar acara minggu sehat bersama Sumut Pos yang diikuti para peserta, undangan, pelanggan setia dan kerabat kerja sponsor Minggu pagi (16/10). Kegiatan ini dibuka dengan senam sehat dan dilanjutkan dengan pemeriksaan dan konsultasi kesehatan gratis.

Meskipun diwarnai hujan gerimis tak menyurutkan semangat para peserta untuk tetap mengikuti senam pagi yang berlangsung di lapangan belakang Kantor Wilayah I Dinas Perhubungan Sumut, Jalan Kapten Muslim nomor 80 Medan.

Kegiatan senam sehat ini diisin oleh beberapa instruktur yang tergabung dalam ASIAFI (Asosiasi Senam Instruktruktur Aerobik Fitnes Indonesia). Ratusan peserta dari semua kalangan umur itu terlihat antusias mengikuti kegiatan senam pagi yang juga menyuguhkan doorprize sebagai bentuk apresiasi yang diberikan Sumut Pos terhadap para pembaca dan pelanggan setianya.

“Selain peduli kesehatan, kegiatan ini juga kita lakukan sebagai bentuk kepedulian Sumut Pos terhadap pembaa setianya lewat beberapa kegiatan yang kita lakukan. Selain itu, kegiatan ini merupakan rangkaian dari peringatan ulang tahun Sumut Pos yang ke-10,” sebut Ketua Panitia pelaksana Adnan C Nainggolan.

Dalam kesempatan itu, Lurah Dwikora Kecamatan Medan Helvetia, Nasrudin Hasibuan memberikan apresiasi yang cukup tinggi atas kegiatan ini. Menurutnya selain menyehatkan, bentuk kegiatan yang diberikan itu juga dikonsep dengan sangat bagus.

“Kegiatan ini sangat bagus sekali karena berbentuk sosial yang melibatkan masyarakat. Walaupun diguyur hujan tapi warga kita tetap antusias untuk mengikutinya,” ujar Nasrudin.

Selain itu dia juga mengharapkan kegiatan yang bernilai positif ini bisa terus dilaksanakan secara berkelanjutan. “Saya sangat mendukung kegiatan ini dan diharapkan bisa terus berlanjut,”sebutnya.

M Dori Lubis, seorang peserta yang berhasil mendapatkan hadiah doorprize sebuah T-Shirt Sumut Pos mengaku sangat senang. “Selama tiga kali digelar saya tidak pernah absen dan selalu hadir untuk mengikuti kegiatan senam sehat ini. Acaranya juga cukup menarik terlihat dari jumlah peserta yang cukup banyak meskipun cuaca hujan,” ungkapnya. (uma)

Bapak, Anak, dan Ponakan Terbakar dalam Kamar

Api Lahap 8 Unit Rumah di Medan Labuhan, 3 Tewas

MEDAN-Minggu (16/10) siang sekitar pukul 13.30 WIB, warga Jalan Pancing III Gang Mesjid Lingkungan V Kel Besar Medan Labuhan dikejutkan oleh suara ledakan. Asal ledakan tak lain dari rumah Rudi Sinaga (39), seorang karyawan di PT Canang Indah, Belawan.

Tak hanya sampai di situ, ledakan yang diduga dari tabung gas 3 kg itu langsung menyemburkan api hingga menghanguskan delapan rumah. Dari kebakaran tersebut, Rudi sang pemilik rumah beserta anaknya, anaknya Riska Sinaga (5) serta keponakannya Rose Tarihoran (9) ditemukan tewas di kamar tidur belakang. Sementara istri Rudi Sinaga, yakni  Juliana Manurung, mengalami luka bakar parah dan langsung dilarikan ke RS Martha Friska, Jalan Yos Sudarso Medan, sekitar lima kilometer dari lokasi kejadian.

Saat ledakan Rudi sedang istirahat di kamar belakang pada rumahnya yang berukuran 10 x 5 meter. Rudi memang dalam keadaan kurang sehat. Dirinya baru saja keluar dari rumah sakit setelah dirawat selama 7 hari karena mengidap typus. Bersama Rudi, Riska dan Rose pun tiduran di kamar belakang tersebut.

Karena itu, saat warga yang melakukan evakuasi, jasad ketiga korban sudah hangus dan susah dikenali. Menurut warga, saat ditemukan ketiganya dalam posisi telentang di dalam kamar. Ketiga jenazah akhirnya dibawa ke RS Pirngadi untuk di outopsi. “Aku baru sekitar setengah jam dari situ,” ujar adik ipar Rudi, Ramlan Manurung (37), ketika ditemui di instalasi jenazah RS Pirngadi, Minggu (16/10).

Dia juga menuturkan, saat dirinya datang api masih marak dan rumahnya sudah roboh. “Pukul 3 api udah dipadamkan,” tambah Ramlan.

Muhammad Idris (44) tetangga korban saat dikonfirmasi Sumut Pos di lokasi kejadian menuturkan api berasal dari ledakkan tabung gas dari rumah Rudi Sinaga.

“Saya saat itu mendengar ledakkan seperti tabung gas, saya keluar sudah mengepul asap dari rumah Rudi Sinaga,” ujarnya.

Namun warga tidak bisa menyelamatkan Rudi, Riska dan Rose. “Anna (Juliana Manurung; istri Rudi, Red) saat saya tolong sempat menolong suami, anak dan keponakkannya di dalam kamar. Namun api sudah membesar dan seng rumahnya sudah berjatuhan. Saya lihat membahayakan diri, saya dan warga langsung mengangkatnya, sehingga kulit tangan terbakat terkupas,” jelas Idris sembari menjelaskan anak Anna yang selamat adalah Joahanes (9) dan Tasya (7).
Anna saat ditemukan warga dengan kondisi mengenaskan. Baju dan celana Anna sudah tidak berbentuk lagi karena ikut terbakar. “Tinggal BH dan celana dalam yang tidak terbakar” ungkapnya.

Menurut Idris, Rudi sekeluarga baru menempati rumahnya sekitar 4 tahun belakangan ini.
“Rudi bersama anak dan keponakkan saat kejadian sedang tidur siang. Anak-anak mereka bandel dan tidak mau tidur siang, Anna mengkunci kamar dari luar,” ungkapnya.

Abdul Sufi kepala lingkungan V Kelurahan Besar Kecamatan Medan Labuhan Menuturkan saat kejadian tersebut Rudi Sinaga, anak dan keponakkannya ditemukan didalam kamar dengan kondisi terpagang di dalam kamar.

“Rudi, anak dan keponakkan sedang tidur siang dan posisi kamar terkunci dari luar, setelah dilakukan evakuasi terhadap korban, ketiga jenazah ini dibawa Ke RS Pirngadi Medan,” ungkapnya.

Menurut Sufi, rumah yang menjadi korban kebakaran berjumlah delapan unit. Kedelapan rumah yang dimaksud dihuni oleh keluarag Rudi Sinaga, Joko, Syahputra, Hendi, Raden Imam Suriono, Johan Sinaga, Gultom, dan Surioyono.
Sufi menjelaskan, setelah mendapatkan laporan warga, mereka langsung menghubungi petugas pemadaman kebakaran Kota Medan. Selang beberapa menit Dinas Pencegah dan Pemadam Kebakaran Kota Medan langsung menurunkan 4 unit armadanya untuk menjikkan api di lokasi. Petugas pemadam dibantu warga berhasil menjinakkan api dari 8 rumah yang terbakar dengan menelan waktu sekitar 90 menit.

Sedangkan pihak Kepolisian dari Polres KP3 Belawan melakukan identifikasi di lokasi dan memasang police line. Kebakaran ini membuat warga silih berganti berdatang ke lokasi untuk melihat rumah yang sudah ludes dilalap si jago merah serta menelan korban tewas hingga 3 orang. Kapolres Belawan AKBP Hendro Kiswanto mengungkapkan rumah yang terbakar 8, meninggal 3, luka bakar 2 yaitu Juliana Manurung dan anaknya, Joahanes Sinaga. Penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan dan kerugian ditaksir mencapai ratusan juta. (mag-7)

SBY Anugerahi Raja Malaysia Tanda Kehormatan

JAKARTA-Di tengah isu pencaplokan wilayah perbatasan Indonesia oleh Malaysia, pemerintah memberikan bintang kehormatan kepada kepala negara Negeri Jiran itu. Kemarin, Minggu (16/10), Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memberikan bintang kehormatan Republik Indonesia Adipurna kepada Yang Dipertuan Agung ke-XIII Malaysia Tuanku Mizan Zainal Abidin di Istana Merdeka.

Pemberian tanda jasa kepada Raja Malaysia itu berdasarkan Keppres Nomor 80/TK/Tahun 2011 bulan Agustus lalu. Sejumlah penerima tanda kehormatan dari dalam negeri sudah lebih dulu disematkan dalam seremonial yang dilakukan beberapa hari jelang peringatan HUT RI. Antara lain Ani Yudhoyono, Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, dan Taufik Kiemas.

Presiden SBY mengatakan, pemberian tanda kehormatan itu karena jasa-jasa yang bersangkutan dalam menjaga hubungan kedua negara. “Jasa-jasa beliau yang sangat besar dalam menjaga dan meningkatkan persahabatan, hubungan baik, dan kerja sama antara Indonesia dan Malaysia,” tutur SBY.

Usai acara, sejumlah menteri enggan berkomentar panjang terkait pemberian tanda kehormatan dengan masalah perbatasan dengan Malaysia. “Pertimbangannya kan tidak hanya itu. Banyak,” kata Menko Polhukam Djoko Suyanto sembari bergegas.

Senada, Menlu Marty Natalegawa juga singkat menanggapi pemberian tanda kehormatan itu. “Saya kira peranan beliau selama ini seperti yang disampaikan bapak presiden tadi,” kata Marty. Menurutnya, ada prosedur dalam pengusulan seseorang mendapatkan tanda kehormatan dari pemerintah. “Ada prosesnya ya,” ucapnya. (fal/nw/jpnn)

55 Persen Calhaj Medan Berpotensi Tersesat

MEDAN-Potensi tersesat di Tanah Suci sangat besar bagi jamaah calon haji (calhaj) asal Medan. Pasalnya, banyak calhaj yang ‘hanya’ mengenyam pendidikan sekolah dasar (SD).

Hal ini diungkapkan Koordinator Humas PPIH Embarkasi Medan Sazli Nasution. Sazli menjelaskan hal ini menjadi faktor utama pemicu tersesatnya para jamaah saat berada di Tanah Suci. Ada sebanyak 247 jamaah dari 455 jamaah atau 55 persen yang hanya berpendidikan SD. “Sekali lagi, tidak punya niat untuk melecehkan para jamaah. Saya harapkan para petugas haji bisa terus mengontrol keberadaan para jamaahnya, terutama yang berasal dari kloter X Embarkasi Medan,” ungkap Sazli, Minggu (16/10).

Di tiap kloter juga memiliki jumlah jamaah calhaj yang berpendidikan SD cukup tinggi. “Seperti di kloter I ada 217 jamaah, pada kloter II hanya 97 jamaah, kloter III 76 jamaah, kloter IV 117 jamaah kloter V 199 jamaah, kloter VI 206 jamaah, kloter VII 131 jamaah. “Untuk kloter VIII sedikit, kloter IX 247 jamaah, kloter X paling banyak 247 jamaah, di kloter XI 191 jamaah, dan 148 jamaah di kloter XII,” papar Sazli.

Soal tersesat ini mengemuka setelah seorang calhaj Embarkasi Medan asal Kota Medan memberikan informasi mengenai adanya seorang jamaah calhaj asal Indonesia tersesat selama dua hari. Menurutnya jamaah tersebut telah berusia lanjut sehingga kebingungan mencari hotel tempat pemondokannya.

Menurut informan tersebut, calhaj itu tetap bertahan di Masjid Nabawi. Yang kemudian pada akhirnya bertemu dengan calhaj Embarkasi Medan dan ditampung di hotel mereka.

“Jamaah itu terlihat panik dan ketakutan ketika ditanyai mengenai penyebab tersesatnya. Bahkan, ketika dimintai mengeluarkan surat-surat keterangan identitasnya pria tersebut tidak bersedia menunjukkannya,” ungkap informan yang tak mau disebutkan namanya, Minggu (16/10).

“Tidak hanya jamaah asal Indonesia saja yang mengalami tersesat saat berhaji, namun calhaj yang berasal dari negara lain juga mengalami hal sama. Tidak tanggung diperkirakan ratusan jamaah kehilangan jalan pulang setiap harinya,” timpal Sazli.

Dengan begitu panitia haji Indonesia telah disediakan untuk stand by mencari para jamaah yang kehilangan dan kebingungan tak bisa kembali ke hotelnya. Para petugas itu mengenakan pakaian berwarna coklat dan dilengkapi warna bendera Indonesia, merah dan putih. Maka pekerjaan para petugas itu, selalu berkeliaran ketika mendapatkan laporan kehilangan jamaah oleh ketua regu di tiap kloter Indonesia.

“Nantinya para petugas akan melihat dan mencocokkan melalui gelang yang dipakai jamaah calh. Nah, terlihatlah jamaah yang hilang tersebut berada di kloter berapa, embarkasi mana,” terang Sazli.

Lebih lanjut Sazli mengharapkan, kepada calhaj tidak melepaskan sesekali gelang diberikan sebagai identitasnya. Karena keberadaan gelang yang dikenakan jamaah akan sangat membantu ketika jamaah kehilangan dan sesat mencari jalan pulang menuju hotel.

Kemudian disarankan kepada para ketua regu di setiap kloter agar proaktif dalam mengontrol keberadaan calhaj yang dipimpinnya. Sehingga angka kehilangan dan sejenisnya bisa diminalisir. “Apalagi perempuan, janganlah memberanikan diri mengerjakan ibadah sendirian cuma karena mencari amal ibadah ketika berhaji. Di samping akan membahayakan diri sendiri juga dikhawatirkan jamaah berpeluang kebingungan ketika akan kembali ke hotel,” ujar Sazli.

Sementara itu, tiga calhaj Embarkasi Medan kloter XIV dipastikan gagal berangkat pada musim haji 2011. Pasalnya mereka telah menuliskan surat pembatalan tertulis kepada PPIH Embarkasi Medan karena alasan sakit dan menundanya hingga tahun depan.

Sazli menjelaskan ketiga jamaah tersebut atas nama, Nurmaulina Saribun Siregar Binti Saribun Siregar mengalami sesak napas dan diabetes. Sehingga jamaah tidak melanjutkan perjalanannya, bahkan jamaah belum memasuki Asrama Haji Medan.

Jamaah calhaj berikutnya, Yusniar Binti Muhammad Saleh Lubis menuliskan pernyataan membantalkan keberangkatan ibadah hajinya dengan alasan stroke. “Yang terakhir Azimar Binti Paman, dilaporkan mengalami stroke juga sama seperti Yusniar. Ketiga jamaah yang gagal berangkat itu belum ada yang memasuki Asrama Haji Medan,” terang Sazli, Minggu (16/10).

Menurut Sazli ketiga calhaj tersebut tidak mengambil kembali Biaya Penyelenggaraan Ibadah Hajinya dan berhak berangkat pada 2012 mendatang.

Calhaj Asal Sidimpuan Meninggal di Makkah

Data Siskohat Kemenag menyebutkan, calhaj yang meninggal dunia di Makkah adalah Parluhutan Siagian Janagari Siagian, 67, asal Kota Padang Sidimpuan, Sumatera Utara.

Almarhum dengan nomor paspor A0764161 yang tergabung di kloter 2 embarkasi Medan, meninggal pada 15 Oktober pukul 15.30 waktu setempat dan dimakamkan di Syaraya.

Sedangkan Slamet Riadi, calon jamaah haji kloter 44, embarkasi Solo asal Majenang, Jawa Tengah, meninggal dunia empat jam sebelum mendarat di Bandara King Abdul Azis, Jeddah, Minggu (16/10).

Usai dimandikan dan disalatkan di Masjid Palestine, jenazah dimakamkan di pemakaman umum dan haji di kawasan Harajat, timur Jeddah. Sekitar pukul 11.00 waktu setempat, jenazah dibawa ambulans ke Masjid Palestine. Demikian dilaporkan Media Center Haji (MCH), Minggu (16/10).

Sebelumnya, 10 calhaj yang meninggal di Madinah adalah Fatimah binti H. Jamal (86 tahun, Kota Prabumulih, Sumsel), Kasimun bin Murtijan (77, Kediri, Jatim), Kasiyah binti Ahmad Disan (78, Kabupaten Kebumen, Jateng), Marhadi bin Druno (50, Kabupaten Bangkalan, Jatim), Andi Sutriany Amra binti Andi Mappiara (60, Ujung Pandang, Sulsel).
Dedeh Misyanah binti H.A. Sutia (60, Kabupaten Bandung Barat, Jabar), Muhtar bin Encon (90, Kabupaten Tasikmalaya, Jabar), dan Tamidjah binti Manidjan (64, Jakarta Timur, Jakarta).

Kemudian Arifin bin Umar Usman (50, Indragiri Hilir, Riau) dan Slamet Sudir bin Sudir (74, Tangerang, Banten). Sampai pukul 15.24 WAS, calhaj yang sudah tiba di Arab Saudi sebanyak 93.729 dari 231 kloter. (saz/net/bbs)

Penasaran Mempelai Pria, Warga Menunggu di Regol Magangan

Plangkahan, Awali Prosesi Pernikahan Putri Sultan Hamengku Buwono X

Rangkaian prosesi pernikahan putri bungsu Sri Sultan Hamengku Buwono X GKR Bendara dimulai kemarin. Prosesi pertama adalah plangkahan dan ngabekten.

OLEG WIDOYOKO, Jogjakarta

Upacara plangkahan dimulai sekitar pukul 09.30 WIB di Keraton Kilen. Lima putri Sultan HB X, GKR Pembayun, GKR Condrokirono, GKR Maduretno, GRAj Nurabra Juwita, dan GKR Bendoro, hadir terlebih dahulu. Dengan kebaya warna sama, mereka tiba di Keraton Kilen bersama istri-istri pengageng keraton.

Beberapa saat kemudian Sri Sultan HB X dan Permaisuri GKR Hemas tiba dan memerintah calon pengantin putri menyerahkan uba rampe plangkahan kepada GRAj Nurabra Juwita. Plangkahan merupakan simbol kerelaan kakak yang akan dilewati adiknya yang bakal menikah terlebih dahulu. Di antara lima putri Sri Sultan, Nurabra Juwita dan Nurastuti Wijareni atau Jeng Reni (kini bergelar GKR Bendara) yang belum menikah. Nurabra adalah putri keempat, sedangkan Reni kelima.

Putri sulung GKR Pembayun menikah dengan KPH Wironegoro, GKR Condrokirono menikahi KRT Suryokusumo, dan GKR Maduretno menikah dengan KRT Purboningrat. Selasa besok, GKR Bendara akan menikah dengan KPH Yudanegara yang memiliki nama asli Achmad Ubaidillah.

Dalam uba rampe yang dibawa dengan menggunakan dua nampan dan satu bokor kuningan itu, terdapat pakaian sak pengadeg (bawahan hingga atasan), sepatu, tas, dan dompet. Selain itu, diserahkan satu paket pisang sanggan yang terdiri atas pisang raja dua tangkeb, suruh ayu, gambir, kembang telon, dan benang lawe.

Setelah penyerahan yang disaksikan langsung oleh Sri Sultan HB X, GKR Pembayun selaku cepeng damel keputren (koordinator Keputren) memberikan aba-aba agar GKR Bendara melakukan prosesi ngabekten (menyembah dan meminta restu) kepada Sri Sultan HB X dan Ratu Hemas. Dalam prosesi itu, GKR Bendara atau yang akrab disapa Jeng Reni melakukan laku ndhodhok (jalan jongkok) di atas karpet bertabur bunga melati untuk mencium lutut Sri Sultan, ayahnya. Hingga prosesi berakhir, Sri Sultan yang mengenakan surjan oranye-kuning tidak melontarkan sepatah kata pun.

Setelah upacara ngabekten, GKR Pembayun meminta pendamping calon pengantin putri BRAy Suryadiningrat dan BRAy Suryamentaram membawa putri dari Keraton Kilen ke Keputren. Setelah memasuki kompleks Keputren, GKR Bendara bersama GKR Hemas dan sesepuh keraton lain melakukan transit di Bangsal Sekarkedhaton.

Sedangkan calon pengantin pria menjalani prosesi nyantri setelah dijemput dari Dalem Mangkubumen menuju Bangsal Ksatriyan. Penjemputan dilakukan KRT Jatiningrat dan KRT Yudahadiningrat. Perjalanan dari Mangkubumen menuju regol Magangan menggunakan tiga kereta. Yaitu, Kyai Kuthakaraharja yang dinaiki Jatiningrat dan Yudahadiningrat, Puspaka Manik yang digunakan pengantin pria, dan Kyai Kus Gading dinaiki keluarga pengantin laki-laki.

Di Regol Magangan, ratusan warga Jogjakarta sudah menunggu. Warga yang rata-rata bermukim di sekitar keraton mengetahui pengantin pria akan tiba di situ sekitar pukul 11.00 dari pemberitaan media massa. “Mumpung liburan, sekalian melihat ke sini. Kepengin lihat Mas Ubai (panggilan KPH Yudanegara, Red) langsung,” ujar Lutfhi Hasan, warga Pugeran yang datang bersama istri dan anaknya.

Setelah tiba di Magangan, Yudanegara yang juga Kasubid Komunikasi Politik Bidang Media Cetak Setwapres diantar menghadap KGPH Hadiwinoto selaku cepeng damel Ksatriyan di Bangsal Ksatriyan. Ubai dan keluarga beristirahat di Gedhong Srikaton dan kembali ke Ksatriyan untuk meneruskan prosesi nyantri.

Menurut GBPH Prabukusumo, tradisi nyantri dilakukan untuk semua calon mantu keraton, baik perempuan maupun laki-laki, sebagai sarana pengenalan kepada anggota keluarga keraton. Dahulu prosesi tersebut dilakukan selama 40 hari menjelang menikah, berbarengan dengan prosesi pingitan.

Namun, karena perkembangan zaman, sekarang dilakukan secukupnya, menjelang hari H pernikahan sebagai simbol adaptasi di lingkungan keraton. “Tujuannya, pengenalan kepada anggota keluarga keraton untuk mengakrabkan supaya keraton bisa mengenali calon mantu,” ujar Prabukusumo di Bangsal Ksatriyan.

Sebelumnya, Nurabra Juwita mengatakan tidak meminta barang istimewa. Sebagian barang merupakan pilihan Jeng Reni dan Ubai serta orang tuanya. Meski begitu, ada juga yang dia pilih sendiri. “Tapi, gak ditentuin kok harus merek apa atau gimana,” ujar Jeng Abra—panggilan Nurabra Juwita.

Dia tidak mempermasalahkan adiknya menikah terlebih dahulu. Putri keempat Sri Sultan yang lahir 24 Desember 1983 itu juga menyatakan merestui pernikahan adiknya dan tidak meminta permohonan khusus. Meski demikian, Jeng Abra tetap harus menjalani upacara plangkahan sebagai ritual di keraton.

“Jodoh orang kan masing-masing, bukan kita yang ngatur. Kerena itu, bagi saya, tidak masalah adik saya duluan menikah. Saya ingin berkarir dulu,” tutur Jeng Abra yang berkarir di Jakarta bidang IT.

Jeng Abra menuturkan, sebelum dilamar, adiknya melakukan pembicaraan pribadi dengan dirinya. Jeng Reni sempat menyatakan rasa sungkan karena harus menikah terlebih dahulu. Namun, sebagai kakak, dia justru tidak mempermasalahkan itu.

“Sebelumnya memang sempat ada pembicaraan tentang persoalan ini. Sebab, jika Reni menikah, berarti tinggal saya yang belum. Sebenarnya dia agak berat, tetapi saya mendorong. Ya memang melangkahi. Tapi, saya tidak masalah karena jodoh orang sendiri-sendiri,” tuturnya.

Dia berpesan agar setelah menikah, Jeng Reni maupun Ubai tidak melupakan keluarga. “Saya tidak bisa memberikan pesan khusus. Kurang lebih sama dengan semua orang, yakni agar semua berjalan baik. Saya hanya mendoakan agar mereka bahagia dan paling penting adalah tidak melupakan keluarga,” pungkas Jeng Abra (*)

Bukan Spesialis Kerudung

Revalina S Temat

Artis Revalina S Temat kembali berperan sebagai sosok berjilbab dalam film terbarunya ‘Mestakung’. Menjadi guru bernama Tari Hayat dalam film tersebut, Revalina S Temat mengaku dirinya tidak bosan dengan peran perempuan berjilbab.

“Kalau dibilang bosen sih enggak, aku nggak terbebani dengan jilbab. Karena di hidup aku malah nggak pakai. Pinginnya suatu saat di kehidupan sehari-hari menutup aurat. Ini jadi latihan aku untuk ke depan. Simple kalau pakai jilbab, nggak perlu ke salon,” ucap Revalina S Temat.

Meski terus-terusan mendapat peran perempuan berjilbab, Reva mengaku dirinya tidak mau disebut sebagai spesialis peran berkerudung. “Nggak mau ngecap spesialis kerudung. Tapi cerita yang aku dapat banyak yangn karakternya berkerudung,” tuturnya.

Berbagai karakter telah diperankan oleh Revalina S Temat. Namun kini ada satu peran yang ia cita-citakan, yaitu menjadi orang jahat yang terlihat baik.

“Pengen main jadi orang jahat yang terlihat baik. Selama ini jadi orang baik terus. Kalau jadi orang jahat disebelin kan berarti berhasil karakternya,” pungkasnya. (net/bbs)

Sumut Diyakini Siap Tangani Inalum

Niat Baik Pemerintah Pusat Masih Gelap

MEDAN- Dalam rangka pengambilalihan pusat peleburan aluminium terpadu, PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), pemerintah sudah terlihat melakukan upaya pengumpulan dana. Dana yang dipersiapkan sejauh ini mencapai Rp2 triliun.

Dana sebesar Rp2 triliun tersebut, dari kebutuhan dana pembelian saham Inalum yang diperkirakan membutuhkan investasi senilai 700 juta dollar AS atau sekitar Rp6,3 triliun (dengan asumsi kurs Rp 9.000 per dollar AS). Inalum akan habis kontraknya pada 2013. Rencananya, dana Rp2 triliun itu untuk mengangsur pembelian Inalum.
Persoalannya, sejauh mana kemampuan Pemprovsu yang gencar menginginkan pembagian saham sebesar 60 persen. Apakah nantinya bila disetujui pemerintah pusat, Pemprovsu dan 10 Pemkab/Pemko yang ada sanggup menanamkan dananya untuk share saham yang diinginkan? Dari mana dananya, apakah dari APBD atau dari kerja sama dengan pihak lain semisal pinjaman dari Bank atau lainnya?

Terkait hal itu, Koordinator Panitia Khusus Inalum Chaidir Ritonga kepada Sumut Pos menyatakan keoptimisannya, bahwa Pemprovsu dan 10 kabupaten/kota yang ada sanggup untuk itu. Namun yang jadi pertanyaan, tinggal adakah niat baik dari pemerintah pusat untuk mengabulkan permintaan 60 persen saham tersebut.

“Dana sebesar itu, masih perlu kita pastikan dari hasil audit yang sedang atau akan dilakukan Menteri Perindustrian. Bila memang dibutuhkan dana sebesar Rp2 triliun, dengan rekayasa keuangan (financial engineering) sangat mungkin diperoleh. Bisa melalui pinjaman sindikasi perbankan atau pinjaman pemerintah daerah kepada pemerintah pusat. Penerbitan obligasi atau surat utang daerah. Jaminan APBD Sumut dan 10 kabupaten/kota sudah sangat eligible. APBD Sumut tahun depan diperkirakan lebih dari Rp6 triliun. APBD gabungan 10 kabupaten/kota sekitar Rp6 triliun juga. Jadi, sangat feasible untuk jaminan pinjaman dana sebesar Rp2 triliun. Pertanyaannya, ada tidak kemauan politik pemerintah pusat untuk memberikan kesempatan kepada pemerintah daerah, kemudian apakah pemerintah daerah antusias meraih atau merebut kesempatan baik itu?” tegas pria yang juga Wakil Ketua DPRD Sumut, Minggu (16/10).

Sementara itu, anggota Pansus Inalum Amsal Nasution mengaku, belum bisa berkomentar terlalu jauh. Karena sejauh ini konklusi atau laporan hasil pansus belum diformulasikan. “Konklusinya akan diserahkan Oktober ini, termasuk dari Pansus Inalum. Jadi, setelah ada konklusi itu baru bisa ditentukan langkah-langkah selanjutnya,” terangnya.

Senada dengan itu, Kepala Otorita Asahan Effendi Sirait yang dikonfirmasi Sumut Pos terkait hal itu, juga mengaku tidak bisa memberi asumsi yang berlebihan. “Untuk pengambilalihan itu, Menteri Perindustrian yang bisa menjawabnya. Kalau mengenai saham, perlu pembahasan yang rinci. Tapi intinya, semua ini adalah untuk pencitraan yang lebih baik bagi kita semua,” ungkapnya. (ari)