Home Blog Page 14684

Tukang Butut Babak Belur Digebuki Warga

MEDAN-Polsekta Percut Seituan mengamankan seorang tukang butut, Nazaruddin Lubis, Senin sore (19/9), karena mencuri ponsel. Sebelum diamankan polisi, Nazaruddin sempat dibabakbelurkan warga.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, Nazaruddin, warga Jalan Cemara 4 mencuri ponsel milik Winda (20), penjaga grosir di Jalan Medan-Batangkuis. Saat itu Nazaruddin membeli diterjen khusus kendaraan bermotor. Dia berpura-pura bertanya cara menggunakan deterjen itu.

Untuk mempraktikkan cara menggunakannya, Winda menuju ke kamar mandi untuk mengambil air. Nazaruddin yang ditinggal sendiri langsung mengambil ponsel milik Winda dan memasukkan ke saku celananya. Nazaruddin langsung bergegas dan tak jadi membeli diterjen.

Winda kemudian menyadari ponselnya tak lagi berada di  tempatnya. Dia kemudian mengejar Nazaruddin yang belum jauh beranjak. Awalnya Nazaruddin tak mengaku. Sempat terjadi tarik-menarik antara Winda dan Nazaruddin.
Aksi ini menjadi perhatian warga, pengepungan pun dilakukan. Nazaruddin tak bisa berkutik. Saat saku celananyan digeledah, ponsel Winda pun ditemukan. Petugas Polsekta Percut Seituan yang turun ke tempat kejadian perkara (TKP) menyita satu unit HP Nokia dan sepeda motor Mio BK 2852 ABR milik tukang butut tersebut.  (mag-7)

Kamaluddin Lanjutkan Program Pembinaan

MEDAN-Sehari setelah terpilih sebagai Ketua PSSI Sumut periode 2011-2015, Ir H Kamaluddin Harahap MSi segera melakukan gebrakan dengan melanjutkan program pemusatan latihan penuh terhadap tim Pra PON Sumut yang akan berlaga pada putaran kedua nanti.

Pemusatan latihan ini akan digelar di PTPN 4 Bahjambi. “Sengaja pemusatan latihan ini kita pindahkan ke sana, agar para pemain dapat berkonsentrasi penuh, karena fasiltas yang nantinya diberikan kepada pemain adalah fasilitas para staf yang berkerja di sana,” bilang Kamaluddin saat melepas tim Pra PON Sumut di Unimed Medan, Senin (19/8).
Kepada para pemain Kamaluddin berharap membulatkan tekad untuk meloloskan tim Sumut pada PON XVIII mendatang. “Jangan sampai kegagalan yang terjadi pada tahun 2007 lalu terulang lagi. Apalagi tim ini sudah lama terbentuk (setahun lebih, Red) dan tidak pernah dirombak-rombak,” bilang Kamaluddin lagi.

Hal senada juga diungkapkan oleh mantan Plt Ketua Pengprov PSSI Sumut Idrus Junaidi. Bahkan secara tegas Idrus mengingatkan kepada para pemain bahwa kesempatan membela Sumut untuk berlaga di ajang PON tidak dimiliki oleh semua pemain.

“Jadi kesempatan yang langka ini harus benar-benar dimanfaatkan. Merupakan sebuah kebanggan bila mampu memperkuat tim Sumut pada PON nanti, apalagi sejarah telah membuktikan bahwa pemain-pemain yang memiliki nama besar seperti Saktiawan Sinaga, Mahyadi Pangabeam dan Markus Horison adalah produk tim PON Sumut,” imbuhnya.

Sementara itu, pelatih tim Pra PON Sumut Rudi Saari mengatakan bahwa  ini merupakan kesempatan pemain untuk bergabung bersama lagi setelah menjalani liburan Lebaran. Karena itu, mantan pelatih PSMS Medan ini tidak bisa memprediksi stamina pemainnya. “Setelah liburan lebaran ini, stamina pemain pasti sedikit berkurang, tapi kita akan mengembalikannya,” ungkapnya.

Rudi menambahkan, di PTPN 4 Bah Jambi nantinya, kondisi pemain akan dilihat kembali, dengan menggelar  tes awal. Rombongan tim Pra PON Sumut berangkat menuju PTPN 4 Bahjambi Simalungun menggunakan bus dengan membawa 23 pemain. Para pemain tersebut akan menjalani TC disana hingga jelang pertandingan putaran kedua kualifikasi PON 2012 yang diperkirakan berlangsung akhir September ataupun awal November. (jun)

Suporter dan Pemuda Kecam PSSI

MEDAN-Kekisruhan yang diakibatkan kecurangan panitia pada gelaran Musdalub PSSI Sumut yang berlangsung di Hotel Asean Medan, Minggu (18/9), kini melahirkan protes dan kecaman dari kelompok suporter dan pemuda dan mahasiswa yang ada di Sumatera Utara (Sumut).

Seperti yang diungkapkan Nata Simangunsong, Ketua SMeCK Holligan, apa yang terjadi kemarin akan berdampak buruk terhadap sistem pembinaan sepak bola yang ada di Sumut.

“Sungguh memalukan PSSI yang seharusnya menjadi wasit dan bersikap adil pada Musdalub itu justru bertindak curang guna memenangkan salah satu calon ketua umum. Tindakan ini harus dilawan karena kita tidak ingin sepak bola Sumut semakin tertinggal dari daerah lain,” bilang Nata.

Selanjutnya Nata juga meragukan keabsahan Musdalub yang digelar PSSI dengan menunjuk Bernhard Limbong sebagai caretaker. “Setahu saya, yang berhak menjadi caretaker dan memimpin jalannya Musdalub adalah Ketua PSSI ataupun salah seorang anggota executive committee (Exco). Nah, Bernhard Limbong tidak termasuk di antara kedua persyaratan tadi. Jadi, bila dia bukan Ketua PSSI dan anggota Exco, maka Musdalub itu cacat hukum. Itu tertera pada pedoman organisasi PSSI,” bilang Nata.

Bukan hanya Nata yang bersuara lantang dan menyesalkan kekisruhan yang terjadi pada Musdalub PSSI Sumut kemarin.

Beberapa elemen pemuda dan mahasiswa juga menyuarakan hal yang sama.
Itu diungkapkan oleh Sugiat Santoso (Wakil Ketua KNPI Sumut) beserta rekan-rekannya Zefrizal (Ketua DPD IMM Sumut), Hasan Basri (Sekum PKC PMII Sumut) Alimnur Nst (Ketua PW Himmah Sumut) dan Andika Syahputra (Ketua Badko HMI Sumut).

Menurut mereka, apa yang terjadi kemarin membuktikan jika revolusi sepak bola yang selama ini didengung-dengungkan ternyata tidak berjalan sesuai harapan, bahkan cenderung lebih parah dari pada yang lalu.
“Biasanya dalam sepak bola kecurangan terjadi di tengah lapangan, kini justru terjadi di luar lapangan. Ini sungguh memalukan. Jika sudah begini, kami tak yakin PSSI yang sekarang mampu menghasilkan produk (kompetisi, pemain, wasit dan pelatih, Red)  yang lebih baik dari pada yang sebelumnya,” tandas Sugiat. (jun)

Ketua DPRD Langkat Bisa Dipenjara 7 Tahun

Juga Didenda Rp2,5 Miliar

MEDAN-PLN sudah bertekad untuk melanjutkan kasus pencurian listrik di kediaman Ketua DPRD Langkat Rudi Hartono Bangun, di Komplek Mutiara Indah No 3 Jalan Kapten Muslim Dalam, Kelurahan Dwikora, Kecamatan Medan Helvetia ke ranah hukum.

Manager PT PLN (Persero) Medan, Wahyu Bintoro mengaku, Rudi Hartono Bangun dijerat sanksi perdata dan pidana. Sebab, berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia, Nomor 30 Tahun 2009, tentang Ketenagalistrikan, Pasal 51 ayat 3 bahwa  setiap orang yang menggunakan tenaga listrik yang bukan haknya secara melawan hukum dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 tahun dan denda paling banyak Rp2,5 miliar.

“Pencurian listrik dan perusakan peralatan milik PLN juga dapat diancam pidana berdasarkan beberapa Pasal di dalam KUHP,” bilangnya.

Wahyu menyadari, tim Penertiban Pemakaian Tenaga Listrik (P2TL) Medan dalam melaksanakan tugasnya di lapangan sering kali terancam diadukan oleh pelanggan kepada penyidik dengan tuduhan melanggar Pasal 335 ayat (1) KUHP atau Pasal 551 KUHP. “Adanya beberapa laporan atau pengaduan dengan persangkaan menurut Pasal 335 ayat (1) ke-1 KUHP atau Pasal 551 KUHP tersebut perlu disikapi dengan sangat hati-hati baik oleh penyidik maupun penuntut umum. Hal ini berkaitan dengan adanya kontrak atau surat perjanjian yang telah disepakati antara pelanggaan dengan PT PLN (Persero),” paparnya.

Sebab, menurut ketentuan perdata isi perjanjian kontrak atau surat perjanjian yang telah disepakati antara pelanggaan dengan PT PLN berlaku sebagai Undang-undang bagi para pihak yang menyepakatinya. “Surat perjanjian atau kontrak tersebut antara lain meliputi pemeliharaan, perbaikan, perluasan dan rehabilitasi instalasi/peralatan listrik serta penertiban pemakaian listrik,” jelas Wahyu.

Wahyu menambahkan, pencurian aliran listrik melalui cara apapun merupakan tindak kejahatan yang tidak hanya merugikan PT PLN (Persero) sebagai pemasok tenaga listrik, namun juga sangat merugikan pelanggan yang baik dan masyarakat setempat.

“Misalnya, tegangan menjadi turun dan mengakibatkan peralatan rumah tangga yang menggunakan listrik sebagai sumber energinya akan cepat rusak karena tidak dapat berfungsi dengan baik bahkan rentan terjadi korslet hingga kebakaran,” pungkasnya.

Menurutnya, PT PLN Medan melalui tim P2TL juga akan membongkar rampung jaringan listrik di kediaman kader partai Demokrat tersebut. “Rabu atau Kamis pekan ini tim P2TL akan memutus dan membongkar rampung jaringan listrik di kediaman Rudi Hartono Bangun,” ujar Wahyu.

Dikatakan Wahyu, petugas P2TL Medan akan membawa aparat hukum, mulai dari polisi militer maupun kejaksaan untuk melakukan tindakan pemutusan dan pembongkaran jaringan listrik di kedimanan Rudi Hartono Bangun.
“PLN juga sudah mengantisipasi jika Rudi Hartono Bangun membawa-bawa aparat TNI dan polisi untuk menghalau anggotanya. Makanya kami tidak tinggal diam, kita juga membawa aparat. Ini semata-mata demi menjalankan prosudur kerja yang kita lakukan,” tegas Wahyu lagi.

Jika nantinya PLN dihalau oleh Rudi Hartono Bangun saat melakukan pemutusan, lanjutnya, maka PLN akan menyerahkan sepenuhnya kepada aparat hukum yang mereka bawa. “Jadi kalau mereka bawa aparat hukum, kita juga bawa aparat hukum. Kami menyerahkan sepenuhnya kepada aparat hukum yang kami bawa nanti,” kata Wahyu.
Sebelum dilakukan pemutusan PT PLN sudah melayangkan dua surat dengan Nomor 3585/152/MED/2011 yang ditujukan kepada Rudi Hartono Bangun perihal pemberitahuan pelanggaran tagihan susulan, kemudian surat Nomor 3793/152/MED/2011 perihal pemberitahuan pemutusan sambungan listrik.

Kabid Humas Poldasu Kombes Pol Heru  yang dikonfirmasi wartawan mengatakan tak ada laporan yang tak ditanggapi. “Laporannya belum saya terima. Semua laporan dari masyarakat kita tanggapi. Besok (hari ini,Red) saya cek laporan pengaduan PLN dan siapa yang menangani,” ujar Heru.
Lebih Sering Pulang ke Langkat

Kemarin (18/9), wartawan Sumut Pos mendatangi rumah Hartono Bangun di Komplek Mutiara Indah No 3 di Jalan Kapten Muslim Dalam, Kelurahan Dwikora, Kecamatan Medan Helvetia.

Penjaga komplek bermarga Silalahi mengaku, Rudi memang orang sibuk sehingga jarang di rumah. “Perginya pagi, pulang malam. Di rumah ini, lebih banyak keluarganya. Kalau dia kemari, biasanya untuk istirahat. Dia lebih sering di Stabat,” paparnya.

Nah, saat Sumut Pos melintas kediaman berlantai 2 bercat warna krem tersebut, terlihat seorang perempuan keluar dari dalam rumah dan tampak membersihkan kotoran di depan pintu rumah Rudi Hartono Bangun. Tapi, perempuan itu buru-buru masuk ke dalam.

Beberpa kali dipanggil tetap tak ada orang yang keluar. Di depan rumah tersebut, tampak dua unit mobil warna hitam dan satu di antaranya berplat merah. Di tengah-tengah kedua mobil yang terparkir tersebut, terdapat sebuah sepeda motor matik. Mengenai perempuan yang keluar dari kediaman Rudi Bangun tersebut, Silalahi mengaku, perempuan yang keluar dari rumah Rudi Bangun tadi adalah adik dari istri Rudi Bangun. Ketua DPRD Sumut Saleh Bangun, orangtua Rudi Hartono Bangun berulang-ulang  kali ditelepon di-SMS tak membalas. (ari/ila/mag-5)

SPBU Milik Pengusaha Medan Meledak

2 Tewas, 8 Luka-luka

RANTAU PRAPAT- Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) 12.214.280 di Jalan SM Raja, Simpang Mangga, Rantau Prapat meledak dan terbakar, Sabtu (17/9) petang. Akibatnya, dua orang tewas. Sementara korban luka bakar 8 orang.

Kedua korban tewas masing-masing Sudarno (31) dan Andika (28) yang merupakan petugas di SPBU tersebutn
Korban Sudarno tewas di lokasi kejadian setelah terpental pompa pengisian BBM. Sementara Andika tewas dalam perawatan di ruang Intensif Care Unit (ICU) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Rantau Prapat.

Keterangan yang dihimpun, sebelum peristiwa ledakan terjadi para karyawan melakukan aktivitas mengisi bahan bakar seperti biasa. Tiba-tiba, terdengar suara ledakan dari lantai SPBU. Suara ledakan itu, disusul dengan terbelahnya lantai sepanjang 50 meter hingga merusak sejumlah pompa dan langit–langit bangunan. Tak hanya itu, percikan api yang tidak diketahui asalnya semakin membesar dan membakar bangunan SPBU. Korban yang tewas karena terkena serpihan yang berterbangan.

Peristiwa itu sontak membuat karyawan dan warga yang sedang mengisi bahan bakar panik dan berlarian menyelamatkan diri. Namun, naas bagi Sudarno (31), warga Lingga Tiga, Siderejo itu tewas seketika begitu terkena serpihan batu lantai.

Salah seorang karyawan mengatakan, kala itu Sudarno sedang mengisi BBM kendaraan pada pompa nomor dua. Saat mengisi, tiba-tiba ledakan terjadi, lalu lantai terbongkar dan terbang ke arah korban, sehingga korban terpental dan terkena plat besi pompa.

Mandor SPBU, Sugianto, yang masih terlihat syok atas kejadian itu, menambahkan, sebelum terjadi ledakan, terlebih dahulu terjadi getaran aneh dari lantai SPBU.

Beberapa warga di sekitar lokasi juga mengatakan hal senada. Menurut mereka, sebelum ledakan terjadi mereka merasakan getaran yang cukup kuat berasal dari bawah lantai.

“Tadi saya duduk di depan ada getaran. Tiba–tiba lantai meledak, kami menduga berasal dari bunker tanki penampung bahan bakar di bawah tanah. Setelah itu kami lihat seorang karyawan terpental, jatuh dan tidak bernyawa,” kata Licad (37), warga sekitar.

Diceritakan Licad, setelah ledakan terdengar kemudian terlihat api mulai merambat ke bangunan gedung SPBU dan perlahan membakar galon. “Ku lihat banyak karyawan panik dan terluka, sementara ada yang berteriak kalau penyebab ledakan adalah korsleting arus listrik di bawah tanah hingga meledak maka lantainya terangkat,” ungkap Licad.
Pantauan METRO ASAHAN (grup Sumut Pos), ribuan warga yang melihat kejadian tersebut menyulitkan petugas pemadam kebakaran untuk memadamkan api yang berkobar di SPBU. Api berhasil dipadamkan satu jam kemudian.
Di lokasi kejadian, terlihat sejumlah material besi berserakan, api juga memusnahkan ratusan tabung elpiji ukuran tiga kilogram, dua truk dan kijang pick up.

Sebelumnya, SPBU yang diketahui milik Kusbuana, warga Medan ini, pernah terkena sanksi oleh Pertamina akibat terdaftar menjadi SPBU nakal atas laporan warga. Wakapolres Labuhanbatu, Kompol Tetra Darmariawan di lokasi kejadian menyebutkan dugaan sementara ledakan terjadi akibat adanya kebocoran gas yang berada di bawah tanah hingga menyebabkan lantai beton setebal 30 sentimeter terangkat ke atas dan retak.

“Diperkirakan ada bocoran gas dari bawah,  sehingga lantai pondasi terangkat,” ungkap Tetra.
Tetra menyayangkan SPBU itu merangkap menjadi tempat penjualan elpiji. Padahal, aturan tidak memperbolehkannya. “Ini sebenarnya tidak boleh,” katanya.

Ditambahkan Tetra, pihaknya belum bisa menentukan siapa yang dijadikan tersangka atas peristiwa itu, karena masih melakukan penyelidikan dan menunggu hasil penelitian forensik Polda Sumut. Kerugian sementara diperkirakan mencapai Rp1,5 miliar.

Sementara itu, pantauan wartawan di RSUD Rantauprapat, terlihat para medis memberikan perawatan kepada sembilan korban akibat ledakan SPBU. Menurut petugas medis, para korban menderita luka bakar, luka sobek dan patah tulang. Sedangkan Sudarno korban yang meninggal setelah dilakukan visum diserahkan kepada keluarga untuk dimakamkan. (riz/ann/smg)

Hari Ini, Pelunasan Terakhir BPIH

MEDAN- Hari ini (19/9) merupakan kesempatan terakhir Calon Haji (Calhaj) untuk melunasi Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BPIH), bagi yang masuk kategori calon jamaah haji usia lanjut yang diprioritaskan pemerintah untuk mengisi kuota tambahan 10 ribu secara nasional, dan 289 orang untuk Sumatera Utara.

Kepala Kantor Kementerian Agama Sumut (Kakan Kemenagsu)  Syariful Mahya Bandar, Minggu (18/9) mengatakan, sembari mengimbau, calon jamaah haji yang mendapat kesempatan melunasi BPIH tersebut agar memanfaatkan waktu yang tinggal satu hari. “Besok (hari ini, Red) hari terakhir, agar dimanfaatkan sebaik mungkin,” katanya.

Syariful Mahya Bandar juga menjelaskan, dalam mengisi porsi yang tersedia dimana diperuntukkan 50 persen bagi calon jamah usia lanjut sebanyak 145 orang, dan 50 persen bagi calon jamaah yang akan bergabung dengan suami/istri, anak dengan orangtua yang telah melunasi maupun mendampingi calon jamaah uzur sebanyak 144 orang, pihaknya mengakui, tidak mampu mengakomodir semuanya.

Meski demikian, sambung Syariful, pihaknya telah mengerahkan tenaga semaksimal mungkin guna memanfaatkan waktu yang tersedia, untuk dapat mengisi porsi tambahan tersebut agar jangan ada yang tidak terisi.
Syariful juga mengatakan, pihaknya terpaksa mengerahkan staf untuk menghubungi calon jamaah usia lanjut per orang, bahkan didatangi ke alamat masing-masing sesuai nama yang tertera dalam data base Sistem Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) mulai 111 tahun sampai 81 tahun dan bila ada yang batal, langsung mengisinya dengan calon jamaah pada usia berikutnya agar semua kuota dapat terisi.

Dikatakannya lagi, menurut rencana Pelaksana Tugas (Plt) Gubsu Gatot Pujo Nugroho akan melantik Panita Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Medan yang terdiri dari berbagai instansi terkait.

Kegiatan tersebut juga akan dirangkai dengan Qur’ah (undian, Red) Kelompok Terbang (Kloter). Sementara itu, Qur’ah maktab sudah dilaksanakan tanggal 14 September 2011 yang lalu di Jakarta.
Acara yang rencananya akan dihadiri Dirjen PHU dari Jakarta, juga akan dilaksanakan meal test makanan jamaah di penerbangan selama musim haji 1432 Hijriyah.(ari)

Ngebet Punya Momongan

Justin Warner dan Indah Kalalo

Justin Warner dan Indah Kalalo telah resmi menikah, Minggu (18/9). Indah pun mengaku ingin segera dikaruniai momongan.

Sebelum menikah keduanya memang mempunyai beberapa rencana. Salah satunya untuk tak menunda punya anakn

“Saling bahu-membahu dalam berumah tangga, yang paling pengin sih punya momongan,” ungkap Indah, usai upacara akad nikah di Jalan Bangka, Jakarta Selatan.

Jika kelak punya anak, perempuan 31 tahun itu pun akan sepenuhnya mengurus sang anak. Indah pun tampaknya akan berhenti berkarir untuk sementara.

“Kalau sudah punya, aku rencana untuk nggak kerja dulu biar Justin yang kerja dulu,” tuturnya. (net/jpnn)

Jadi Tukang Ojek pun Siap

Sibuk Syuting dan Mengaku Capek, Alasan Briptu Norman Mundur dari Kepolisian

KETIKA nama Briptu Norman Kamaru populer setelah aksi jogetnya ala India banyak disaksikan melalui YouTube, dia kala itu menegaskan akan tetap menjadi polisi, meski banyak ditawari menjadi artis.

ROY TILAMEO, Gorontalo

Tapi, Jumat lalu (16/9), secara mengejutkan dia menyatakan akan mundur dari kepolisian. Gara-gara sering ditangkap karena kerap tak mengantongi izin saat syuting?

“Jiwa saya adalah seorang prajurit sehingga saya tetap memutuskan untuk menjadi prajurit.” Seperti itulah kalimat yang meluncur dari mulut Briptu Norman Kamaru setelah namanya terkenal saat aksi lipsync-nya menyanyikan lagu India Chaiyya Chaiyya ngetop melalui situs YouTube pada Februari lalu.

Kala itu, di depan wartawan, dia mengungkapkan, dirinya memutuskan untuk tetap menjadi prajurit karena merasa tidak cocok dengan kehidupan sebagai artis. “Capek dan sibuknya luar biasa kalau jadi artis,” ungkap Norman saat itu.
Namun, baru beberapa bulan berlalu, tekadnya untuk tetap menjadi seorang prajurit luntur juga. Jumat lalu (16/9), Norman menyatakan mundur dari anggota Brimob Polda Gorontalo. Keputusan kontroversial Norman itu pun menyimpan pertanyaan besar.

Berdasar beberapa informasi yang dirangkum Gorontalo Post (Grup Sumut Pos) dari orang-orang dekatnya, Norman memutuskan untuk mundur lantaran dirinya kecewa karena merasa terkekang untuk mengekspresikan jiwa seninya. Hal itu tak lepas dari beberapa kejadian yang menimpa dirinya ketika mengekspresikan bakat seninya.

Misalnya, penangkapan dirinya saat manggung di salah satu stasiun TV nasional bebeberapa waktu lalu karena tak mengantongi izin pemimpin. Bahkan, seusai Lebaran, tepatnya 9 September lalu, Norman kembali ditangkap anggota Kepolisian Kota Kotamobagu, Sulawesi Utara, saat syuting klip video lagu Cinta Gila. Lagi-lagi, penangkapan itu dipicu dirinya tak mengantongi izin pemimpin. Padahal, menurut Norman, syuting klip video tersebut dilakukan secara kebetulan ketika dirinya berlibur untuk merayakan Lebaran di Kota Kotamobagu.

Versi lain menyebutkan, keputusan Norman untuk mundur dari anggota Brimob Polda Gorontalo tersebut ditengarai berkaitan dengan faktor ekonomi. Menurut seorang kerabatnya, gaji yang diterima Norman sebagai anggota polisi jauh lebih kecil dibanding honor ketika tampil atau manggung. Disebutkan, gaji pokok yang diterima Norman setiap bulan sebagai anggota Brimob Polda Gorontalo berkisar Rp1,2 juta. Nilai itu sangat jauh jika dibanding honor yang diterima saat tampil atau manggung.

Ketika didatangi di rumah orangtuanya, Norman menampik anggapan bahwa dirinya mundur karena sering ditangkap. Dia juga membantah alasan mundur itu adalah faktor ekonomi. Didampingi sang ayah, Idrus Kamaru, Norman mengungkapkan, tekadnya untuk mengundurkan diri dari anggota polisi tersebut benar-benar sudah bulat. Alasannya tak lain hanya satu. Yakni, dirinya sudah capek menjadi anggota Polri. “Alasannya ya karena hanya ingin berhenti,” ujar pria 26 tahun tersebut.

Bagaimana dengan pernyataan sebelumnya yang tak akan mundur dari kepolisian? “Memang benar, dulu saya mengatakan tetap akan mempertahankan karir saya di kepolisian. Tapi, saat ini saya justru merasa sudah capek jadi polisi. Setelah saya pikir-pikir, mending saya mundur saja. Niat saya sudah bulat, bahkan yakin 100 persen,” tegasnya.
Disinggung mengenai persoalan ekonomi, dia lagi-lagi membantah hal itu. Menurut Norman, yang dia terima sebagai anggota Polri sudah cukup. “Yang jelas, saya sudah capek…,” ungkapnya.

Norman belum memutuskan apakah segera berfokus untuk bergelut dengan kehidupan artisnya pasca pengunduran diri. “Kalau Tuhan mengizinkan hal itu, alhamdulillah. Tapi, terserah bagaimana anti karir saya. Entah jadi tukang ojek, saya terima. Hanya Tuhan yang tahu,” katanya.

Pelantun lagu berjudul Cinta Gila itu menegaskan, orangtua dan seluruh anggota keluarga sudah setuju akan niat dirinya untuk mengundurkan diri itu. Dia menambahkan, keinginan untuk mengundurkan diri tersebut sudah diutarakan kepada atasan, dalam hal ini Kepala Satuan Brimob Polda Gorontalo Kombespol Anang Sumpena, pertengahan bulan puasa lalu.

“Atasan saya menanyakan alasan pengunduran diri tersebut. Terus, saya menjawab, tekad saya hanya satu. Yakni, tidak ingin jadi polisi lagi,” ujarnya.

Di bagian lain, kekecewaan mendalam dirasakan orangtua Norman, Halimah Martinus dan Idris Kamaru, ketika mengetahui anak kandungnya ingin mengundurkan diri dari anggota Brimob Polda Gorontalo. Apalagi, yang mendorong Norman menjadi anggota Brimob dulu adalah Halimah dan Idris. Meski kecewa, mereka tidak ingin dikatakan egois. Mereka lebih berpikir bijaksana. Keduanya lebih mementingkan kebahagiaan Norman daripada keinginan mereka.

“Sebenarnya kami kecewa akan pengunduran diri Norman ini. Sebab, kami yang memasukkan dia (Norman, Red) sebagai polisi. Namun, kami lebih mementingkan kemauan anak. Kami tidak ingin Norman kecewa karena keegoisan kami yang mempertahankan Norman jadi polisi. Jika itu kemauannya, kami tentu mendukung,” tutur Halimah.
Dia juga mengakui bahwa Norman telah membuat surat pernyataan pensiun dini dari anggota Brimob dan sudah diajukan ke Polda Gorontalo. Sayangnya, hal itu tidak disetujui polda. “Insya Allah, kami akan berangkat ke Mabes Polri di Jakarta untuk mengajukan surat permohonan pengunduran diri Norman,” kata Halimah yang didampingi Idris.
Sebetulnya, dia sejak awal khawatir karir anaknya akan kandas di tengah jalan. Setidaknya, perasaan itu muncul pasca penangkapan Norman hingga dua kali berturut-turut oleh petugas propam. Norman ditangkap saat menyanyi dan mengikuti syuting karena meninggalkan tugas tanpa izin atasan. Tapi, Halimah menyerahkan semua kepada anaknya untuk menentukan sikap, apakah tetap bertugas sebagai anggota Brimob atau berkarir di tempat lain.

Ketika dikonfirmasi Gorontalo Post, Kasat Brimob Polda Gorontalo Anang Sumpena membantah Norman telah mengundurkan diri. “Siapa bilang Norman mengundurkan diri? Saya belum terima surat pengundurannya. Itu nggak benar,” tegasnya sembari menegaskan bahwa hingga saat ini Norman masih aktif menjadi anggota Brimob Polda Gorontalo.

Tapi, Mabes Polri sudah tahu surat permohonan mundur Norman sebagai anggota Brimob Gorontalo. Namun permohanan itu ditolak Polda Gorontalo karena surat permohonan itu dinilai tidak lengkap.

“Permohonannya dikembalikan karena format permohonannya tidak ditandatangani oleh Kepala Satuan Brimob sebagai atasan langsung,” ujar Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Pol Anton Bachrul Alam.
Hingga saat ini, surat tersebut belum juga diserahkan kembali oleh Norman ke Polda Gorontalo. Kedua orangtua Norman yang disarankan berkomunikasi langsung dengan Kapolda Gorontalo terkait pengunduran diri Norman, belum juga muncul.

“Kedua orangtuanya disarankan langsung menghadap Kapolda dengan membawa permohonan Briptu Norman, namun sampai dengan saat ini belum juga menghadap Kapolda,” papar Anton. (jpnn/c5/kum)

Perjuangan Jatah Saham Berbau Politik

JAKARTA-Ketidakkompakan sikap pemda mempersiapkan diri ikut mengelola PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) pasca 2013, disinyalir dipicu perbedaan kepentingan politik. Ada dugaan kuat,  Plt Gubernur Sumut Gatot Pujo Nugroho yang merupakan politisi dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), sudah merasa tidak sreg dengan langkah 10 bupati/wali kota yang bersama Syamsul Arifin sudah pernah membangun kesepakatan dengan PT Toba Sejahtera milik Jenderal TNI (Purn) Luhut Panjaitan.

Luhut dikenal sebagai tokoh yang sangat dekat dengan Ketum DPP Partai Golkar, Aburizal Bakrie, alias Ical. Sumber Sumut Pos yang merupakan tokoh penting dalam perjuangan jatah saham Inalum untuk pemda pasca 2013, menyebutkan, kepentingan Golkar yang sudah masuk ke Inalum itulah yang menyebabkan Gatot ogah-ogahan melakukan koordinasi membahas rencana pembentukan konsorsium daerah.

“Tapi mestinya Gatot menyampaikan saja masalah itu, agar bisa dicarikan titik temunya. Kalau diam saja, ya malah semuanya tak dapat apa-apa,” ujar sumber yang namanya tak mau ditulis, kemarin (18/9).
Benarkah ada aroma politik dalam upaya memperjuangkan jatah saham Inalum itu? Direktur Ekesekutif Indonesian Resources Studies (IRES) Marwan Batubara membenarkannya. Menurutnya, dalam banyak kasus di daerah, elemen pemda sendiri tidak kompak dalam upayanya mendapatkan jatah saham, lantaran masing-masing pihak punya kepentingan.

“Masing-masing pihak biasanya membawa jagoannya sendiri-sendiri. Itu yang membuat mereka tidak kompak, malah disertai intrik-intrik agar jagoannya yang menang,” ujar Marwan Batubara kepada Sumut Pos.

Marwan, mantan anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) yang konsen mengamati pengolahan sumber daya alam daerah itu, juga membenarkan bahwa memang ada permainan politik dalam kasus perebutan saham Inalum. “Tapi saya selalu mengingatkan, 10 kabupaten/kota itu, tak usahlah menggandeng swasta. Percayalah, pada akhirnya si jagoan (PT Toba Sejahtera) itu yang akan lebih banyak menikmati, bukan pemdanya,” ujarnya mengingatkan.

Dikatakan pula, jika 10 kabupaten/kota berani ‘melepaskan diri’ dari ikatan dengan PT Toba Sejahtera, maka langkah pemda akan menjadi kompak. “Pokoknya, tak usahlah menggandeng swasta. Cukup 10 kabupaten/kota dan pemprov saja yang membentuk konsorsium. Sekali lagi, tak usah gandeng swasta,” tegasnya.

Bagaimana soal dana? Marwan meyakinkan, 10 kabupaten/kota tidak perlu takut mengalami kesulitan pendanaan. “Karena prospeknya bagus, tak sulit kok cari pinjaman. Minimal sahamnya 10 persen lah. Itu minimal. Toh kalau banyak-banyak juga butuh dana besar. Daripada banyak-banyak, tapi yang menikmati si jagoan (swasta), ya lebih baik tak banyak tapi optimal dinikmati pemda,” terang Marwan.

Berkali-kali Marwan mengingatkan bahwa kekompakan pemda sangat penting. Jika belum kompak, maka akan sulit untuk membicarakan pembentukan konsorsium daerah. “Kalau sudah kompak dan konsorsium terbentuk, segera menggalang lobi-lobi ke pusat. Kalau kompak pasti berhasil,” sarannya.

Menurutnya, tiga kementerian strategis yang ‘wajib’ untuk dilobi adalah kementrian ESDM, kemenkeu, dan kemendagri. “Tapi harus solid dulu. Jangan masing-masing membawa jagoan,” ujarnya mengingatkan lagi.
Sebelumnya diberitakan, Juru Bicara 10 Pemkab/Pemko di sekitar Danau Toba, Mangindar Simbolon, semakin terbuka mengungkapkan kekecewaannya terhadap Plt Gubernur Sumut Gatot Pujo Nugroho. Seperti pernah disampaikan sebelumnya, bupati Samosir itu menilai Gatot lambat bergerak.

Menurut Mangindar, jika Gatot tidak serius mengkoordinasi 10 bupati/wali kota untuk mempersiapkan diri ikut mengelola PT Inalum pasca 2013, maka dampaknya bisa sangat buruk. “Kita khawatir dengan persiapan Pemprov yang kita nilai kurang serius, kita khawatir kita kehilangan jatah saham Inalum,” ujar Mangindar Simbolon kepada wartawan di Jakarta, Kamis, 15 September lalu.

Mangindar mengakui, memang pemda sudah pernah membuat kesepakatan yang diteken Pemprov saat itu masih dipimpin Gubernur Syamsul Arifin, dan 10 bupati/wali kota, dengan Jenderal TNI (Purn) Luhut Panjaitan sebagai pemilik PT Toba Sejahtera. Hanya saja, kesepatan pemda dengan PT Toba Sejahtera yang sudah diteken itu belum bisa dikatakan sebagai keputusan final. “Karena itu tingkatannya baru kesepakatan. Karena dulu belum melibatkan DPRD. Kalau sudah ada persetujuan DPRD, setelah matang, baru dituangkan dalam bentuk perda,” terang Mangindar beberapa waktu lalu.

Ke-10 kabupaten/kota yang ada di sekitar danau Toba yakni Taput, Tobasa, Samosir, Humbahas, Simalungun, Karo, dan Dairi. Sedang tiga kabupaten/kota di bagian hilir Danau Toba yakni Asahan, Batubara, dan Kota Tanjung Balai.
Jenderal TNI (Purn) Luhut Panjaitan, pernah menyebutkan, pihaknya melalui PT Toba Sejahtera, telah menyiapkan 700 juta dolar AS atau setara Rp5,95 triliun (kurs Rp8.500 per US$) untuk mengakuisisi 58,88 persen saham PT Inalum. (ari/sam/jpnn)

Korban Tewas Jadi 9 Orang

Hingga kemarin (19/9) sudah sembilan orang yang tewas dan lebih dari 50 orang terluka akibat kecelakaan pesawat pada pameran dirgantara di Reno, Nevada, Amerika Serikat, pada Jumat (16/9).

Wakil Kepala Kepolisian Reno, Dave Evans mengatakan, tujuh korban tewas termasuk pilot meninggal dunia di tempat. Mayat korban ditemukan di permukaan jalan kompleks National Championship Air Show (NCAS) di padang pasir di luar Reno. Adapun dua orang lainnya tewas di rumah sakit setempat.

“Kami membawa 54 pasien dari sini ke beberapa rumah sakit. Dari jumlah itu, rumah sakit melaporkan dua kematian. Kami juga memiliki data tujuh korban tewas yang kami tahu pada waktu ini di permukaan jalan (tarmac) termasuk pilot,” kata Evans. Delapan dari mereka yang terluka masih dalam keadaan kritis dan sedang dirawat intensif di dua rumah sakit penting.

Pameran dirgantara di NCAS tersebut mempertontonkan aksi pilot-pilot yang menerbangkan pesawat era Perang Dunia II. Pesawat yang jatuh berjenis P-51 Mustang yang diterbangkan oleh pilot veteran pameran dirgantara tampak kehilangan kendali. Pesawat itu jatuh dengan kekuatan penuh ke arah penonton.

Sebuah video amatir merekam momen jatuhnya pesawat itu. Pesawat satu kursi berjuluk “Galloping Ghost” dan diproduksi pada 1940-an ini meluncur kencang dan berguling liar di angkasa. Pesawat kemudian menghunjam ke tanah dengan sudut vertikal ke tempat pembatas para penonton dan nyaris mengenai sebuah anjungan besar yang dipenuhi banyak orang.(net/jpnn)