30 C
Medan
Friday, April 17, 2026
Home Blog Page 14764

Pembangunan Medan Utara, Belum Jalan

Landen Marbun

Buruknya kondisi infrastruktur di kawasan Medan Utara mengundang perhatian serius dari kalangan anggota DPRD Kota Medan dari daerah pemilihan (Dapil) V yang meliputi Medan Deli, Medan Labuhan, Medan Marelan dan Medan Belawan.

Hal ini terungkap dalam reses II anggota DPRD Kota Medan di kawasan Medan Utara, beberapa hari lalu. Seperti apa kondisinya? Berikut wawancara wartawan koran ini Adlansyah Nasution dengan anggota DPRD Kota Medan dari Dapil V yang juga Ketua Fraksi PDS DPRD Medan Landen  Marbun.

Seperti apa hasil reses Anda di kawasan Medan Utara?
Kami telah menyerap aspirasi masyarakat dan melihat langsung kondisi infrastruktur yang ada di Medan Utara. Jadi, selama ini pembangunan sama sekali belum dirasakan warga di Kawasan Medan Utara sejak Indonesia merdeka. Pembangunan hanya berpusat di inti Kota Medan, seperti yang disampaikan warga kepada saya. Mendengar keluhan tersebut, saya langsung melakukan peninjauan di sekeliling kampung dengan didampinggi warga dan tokoh-tokoh agama. Ternyata, di kawasan Pulo Sicanang tepatnya di Blok 12, 13 dan 14, hingga kini belum diaspal dan kondisi lingkungan terkesan kumuh.

Terkesan kumuh, konkritnya seperti apa?
Sebahagian pekarangan warga dipenuhi air yang menggenang, karena tidak bisa dialirkan. Hal itu diakibat tidak adanya drainase di pemukiman tersebut. Sehingga bila air pasang datang, rumah-rumah penduduk tergenang. Kondisi pemukiman kalau pasang datang lebih gawat lagi.

Selain itu, apalagi yang menjadi keluhan masyarakat?
Keluhan yang paling banyak ya masalah jalan rusak. Selain itu, penerangan di sekitar rumah ibadah dan pemukiman warga masih minim karena belum adanya lampu penerangan jalan. Dengan begitu, kami meminta kepada warga untuk bersabar dan berdoa, semoga upaya yang dilakukan membuahkan hasil. Untuk berbagai keluhan warga tersebut akan segera disampaikan dalam laporan reses, serta berharap agar pihak pemko dapat memberikan perhatian serius.

Apa tanggapan Anda terkait keluhan masyarakat tersebut?
Jadi, warga yang meminta untuk insfraktruktur diperbaiki dengan kondisi tersebut, adalah hal yang wajar. Selama ini, jalan di lingkungan yang sama sekali belum diperbaiki sangat menggangu aktivitas warga, karena jalan berlumpur saat hujan datang. Bahkan, anak-anak juga terganggu ke sekolah bila air sudah pasang, karena hampir seluruh wilayah tersebut rusak dan belum dilakukan perbaikan.(*)

Disangka Polisi, Rupanya Perampok

Yusrizal (30), warga Jalan Platina VII, Kelurahan Titipapan, Kecamatan Medan Deli, tak menyangka kalau yang merazia sepeda motornya adalah perampok.

Akibatnya, sepeda motor RX King BK 6815 EM milik tetangganya raib dibawa kawanan perampok yang terdiri dari empat orang itu.

Ceritanya, Senin (22/8) malam pukul 22.00 WIB, Yusrizal memperbaiki sepeda motor tetangganya. Setelah menservise sepeda motor itu, Yusrizal yang sehari-hari bekerja sebagai mekanik tersebut mencoba mengetes sepeda motor milik tetangganya yang bernama Abdul Manan.

Ketika melintasi Jalan Marelan Raya, satu unit mobil Daihatsu Xenia warna hitam langsung memepetnya dan memintanya agar berhenti. Kemudian, empat orang tak dikenal yang mengaku oknum polisi menuduh pria yang masih lajang itu mengantongi sabu-sabu.

Dengan gelagat seperti oknum polisi, kawanan perampok itu meminta surat-surat kendaraan sambil merogoh kantung celana milik Rizal. Karena tak memilik surat-surat kendaraan, kawanan perampok membawa sepeda motor itu dan langsung kabur ke arah Medan. “Malam itu aku kira mereka polisi, karena tiba-tiba menghadang aku dan langsung menuduh aku menyimpan sabu dan minta surat kereta. Karena tak ada suratnya, kereta itu langsung dibawa dan mengatakan, nanti ambil ke kantor polisi, sambil meninggalkan aku begitu saja,” beber Rizal di kantor polisi.
Kejadian itu langsung diberitahukan Rizal kepada Abdul Manan, pemilik sepeda motor tersebut. Kemudia Rizal pun menemani tetangganya itu membuat laporan ke Polsek Medan Labuhan. (ril/smg)

Data Juni Dipaparkan Agustus

Disperindag tak Pantau Ketersediaan Bahan Pokok

MEDAN- Ternyata, Disperindag Sumut tak melakukan pemantauan secara khusus terhadap ketersediaan bahan pokok di pasar. Disperindag mengaku hanya menerima laporan ketersediaan bahan pokok dari gudang-gudang distributor yang ada di Sumut. Karenanya, dinas ini mengaku tak bisa memberikan gambaran ril terkait stok sembako hingga H-7 Idul Fitri 1432 Hijriyah.

“Ketersediaan stok yang ada kami peroleh dari instansi terkait dan para distributor, kebutuhan tersebut kemudian dibandingkan dengan kebutuhan yang diperoleh datanya dari Badan Pusat Statistik (BPS). Secara teknis, kami memang tidak bisa menjelaskan perhitungan tersebut,” ungkap Kabid Perdagangan Dalam Negeri (PDN) Disperindag Sumut Rouly Tambunan dalam paparan terkait pantauan dan pengendalian harga oleh Disperindag Sumut di Kantor Diskominfo Sumut, Selasa (23/8).

Dengan alasan tersebut, Rouly yang hadir mewakili Kepala Disperindag Sumut Darwinsyah, mengaku tak bisa merinci berapa stok yang tersedia saat ini. Dia hanya menyebutkan, jika perkiraan stok dan kebutuhan tersebut masih sesuai dengan realitas di lapangan dan cukup hingga Idul Fitri nanti.

“Data yang ada pada kami dan kami sampaikan hari ini, adalah hasil pantauan selama Juni yang kemudian dibandingkan dengan kebutuhan berdasarkan analisis BPS. Kondisinya, saat ini masih aman dan cukup terpenuhi, sehingga tidak ada kelangkaan di pasar, stok itu ada di gudang-gudang distributor,” jelasnya lagi.
Sayangnya, Rouly tetap tidak menjawab ketika ditanyakan kondisi stok bahan pokok saat ini. Ia hanya menjelaskan, data ketersediaan kebutuhan pokok masyarakat menjelang Ramadan dan Idul Fitri. Data tersebut, sama dengan data yang dipaparkan Disperindag Sumut pada pertemuan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (FKPD) terkait pengendalian harga awal Ramadan lalu.

Data yang dipublikasikan tersebut, terdiri dari stok gula sebanyak 48 ribu ton dengan kebutuhan konsumsi selama Ramadan dan Idul Fitri sebanyak 23 ribu ton. Kemudian minyak goreng sebanyak 180 ribu ton dengan kebutuhan 24 ribu ton, selanjutnya tepung terigu tersedia sebanyak 18 ribu ton dari kebutuhan 14 ribu ton.
Ketersediaan daging sapi sebanyak 68 ribu ton dengan kebutuhan 45 ribu ton, daging ayam tersedia 800 ribu ton dari perkiraan kebutuhan sebanyak 45 ribu ton dan telur ayam tersedia sebanyak 65.800 ton dari kebutuhan yang diperkirakan sebanyak 42.780 ton. (saz)

Cuma Dua Gepeng yang Terjaring

MEDAN- Dinas Sosial dan Tenaga Kerja (Dinsosnaker) Kota Medan bersama petugas Satpol PP, Polresta Medan dan Dinsos Provsu melakukan penertiban di beberapa titik persimpangan jalan Kota Medan. Dari razia tersebut, tim gabungan hanya menjaring dua pengemis yang sedang menggendong bayi.

Padahal dari pantauan wartawan koran ini, dalam penertiban itu, tim gabungan tersebut berpencar ke beberapa titik ruas jalan dan persimpangan. Dua unit truk dari Satpol PP dan Polresta Medan serta bus Balai Pelayanan Sosial Keliling (BPSK) Provsu mulai melakukan penertiban di simpang Jalan Brigjend Katamso-Mariendal dan Deli Tua. Tim hanya menurunkan beberapa petugas Satpol PP untuk berjaga-jaga. Melihat hal itu, sejumlah gepeng melarikan diri.

Saat melakukan penertiban di simpang Jalan Aksara-Williem Iskandar, tim hanya mengangkut dua gepeng yang membawa bayi dan balita. Dua gepeng yang terjaring tersebut langsung diangkut ke truk Satpol PP untuk dibawa ke Balai Sosial Pemprovsu.

“Kita bersama tim gabungan menertibkan gepeng musiman yang bukan penduduk Medan. Gepeng yang terjaring akan kita kirim ke panti Dinas Sosial Sumut di daerah Binjai. Sedangkan untuk titik-titiknya sudah kita tentukan dan akan dijaga petugas yang berjumlah tujuh orang,” ujar Plt Kepala Dinsosnaker Medan, Marah Husni Lubis.

Di tempat terpisah, Kasatpol PP Kota Medan Kriswan sesaat sebelum turun ke lapangan, dalam arahannya mengatakan, penertiban sudah pernah dilakukan sebelumnya oleh petugasnya. Selain itu, dalam penertiban kali ini petugas diminta hanya mengingatkan pada gepeng dengan cara persuasif jika perlu diambil tindakan saat menemukan gepeng di jalanan.
“Kalau menemukan ada gepeng, ya bisa saja diangkut. Tapi kita minta pada petugas khususnya Satpol PP untuk memberikan tindakan persuasif pada gepeng jangan dengan tindakan diskriminatif,” kata Kriswan.(adl)

Pemko Sediakan 172 Mobil Bak Terbuka

Malam Takbiran

MEDAN- Guna menghindari iring-iringan sepeda motor pada malam takbiran, Pemko Medan menyediakan 172 unit mobil bak terbuka. Penyediaan 172 unit mobil bak terbuka ini juga dimaksudkan untuk memeriahkan malam takbiran dengan pawai keliling Kota Medan.

“Pelaksanaan takbiran ini akan difokuskan di Jalan Pulau Pinang, seperti tahun lalu. Guna mendukung kelancaran takbiran, tidak dibenarkan adanya iring-iringan kenderaan roda dua. Untuk mencegah hal itu, setiap kelurahan dan kecamatan harus menyediakan satu mobil terbuka. Mobil itu harus dihiasi dan dilengkapi bedug untuk menambah kemeriahan takbiran,” kata Wali Kota Medan Rahudman Harahap saat memimpin rapat koordinasi terakhir jelang Hari Raya Idul Fitri 1432 H yang dihadiri Kapolresta Medan Kombel Pol Tagam Sinaga, Dandim 0201/BS Letkol Inf  Doni Hutabarat, Danlanud Kolonel (Pnb) A Rasyid Jauhari, Dandenpom Mayor CPM Hendra serta pejabat Pemko Medan, Selasa (23/8).

Selain persiapan malam takbiran, Rahudman juga menyoroti pos pengamanan yang ada di sejumlah titik di Kota Medan. Dia mengatakan, untuk mendukung pos pengamanan tersebut, setiap Camat di wilayahnya masing-masing harus menjalin kerjasama dengan aparat kepolisian dan TNI dalam rangka memberikan rasa aman dan nyaman bagi warga yang hendak merayakan Hari Raya Idul Fitri 1432 H.

“Jangan sampai ada camat yang tidak pernah sekalipun mengunjungi pos pengamanan tersebut. Camat harus mendukung pos pengamanan secara moril. Untuk itu, saya akan cek langsung sehingga diketahui siapa camat yang tidak pernah hadir,” ucapnya.

Selain itu, kata Rahudman, kepada seluruh Puskesmas dan IGD RSU Pirngadi Medan untuk beroperasi 24 jam selama selama seminggu sejak Lebaran tiba.”Ini tidak main-main. Apa yang dilakukan ini sebagai bentuk  tanggungjawab kepada masyarakat. Saya tidak mau ada Puskesmas yang tutup. Begitu juga dengan IGD RSU Pirngadi, jangan sampai tidak ada dokter sehingga warga yang membutuhkan pelayanan kesehatan pada waktu Lebaran terkendala. Saya akan ambil tindakan tegas,” bebernya.

Kapolresta Medan Kombes Pol Tagam Sinaga menambahkan, pihaknya telah siap melakukan pengamanan mulai jelang Lebaran, malam tabiran, pelaksanaan Salat Idul Fitri dan saat merayakan Lebaran. Untuk malam takbiran, Kapolresta  memerintahkan kepada Kapolsekta untuk mengikutsertakan petugasnya dalam mobil yang digunakan untuk pawai takbiran. “Saya yakin Dandim pun akan melakukan hal ini dalam upaya menciptakan keamanan,” kata Kapolresta.
Hal senada juga disampaikan Dandim 0201/BS Letkol Inf Doni Hutabarat, pihaknya telah siap memberikan pengamanan sehingga masyarakat yang merayakan Lebaran merasa aman dan nyaman. Untuk itu, diperlukan sinergitas dari seluruh intansi terkait. “Kalau kita bersatu, tugas seberat apapun bisa dilaksanakan dengan baik,”ungkapnya.

Sedangkan Danlanud Kolonel (Pnb) A Rasyid Jauhari menegaskan pihaknya telah menyipakan mobil pemadam kebakaran yang siap 24 jam untuk membantu Dinas P2K memadam api jika kebakaran terjadi pada waktu Lebaran. Selain itu menyiapkan polisi militer apabila dibutuhkan dalam melakukan pengamanan. “Jadi jika butuh bantuan, hubungi saja. Kita pasti langsung membantu,”pintanya.(adl)

Bandara dan Stasiun KA Padat Penumpang

Arus Mudik Lebaran H-7

MEDAN- Memasuki H-7 Lebaran, arus mudik di Stasiun Kereta Api (PT KAI) Medan dan Bandara Polonia Medan sudah mulai ramai, Selasa (23/8) siang. Calon penumpang mulai berdesakan untuk mengantre beli tiket di loket-loket yang ada.

Ari (28), calon penumpang di Stasiun Kereta Api Medan yang hendak berangkat ke Tanjung Balai mengatakan, dia memilih mudik sekarang agar bisa lebih cepat tiba di kampung halamannya.
“Kan lebih baik sekarang dan tidak perlu berdesak-desakan,” katanya.

Hal senada juga diakui, Rina (28), warga Rantau Parapat yang hendak pulang saat di pintu masuk Stasiun KA Medan. “Lebih awal lebih enak dan terhindar dari desak-desakan dan bisa lebih duluan sampainya di rumah,” ujarnya.
Mengenai tiket, Deasy (26), warga Rantau Prapat mengaku, harga tiket mengalami kenaikan. “Kalau tiket, saya beli di loket tadi. Memang naik, tapi tridak terlalu tinggi lah, hanya naik sekitar Rp25.000 dan itu wajar, karena menjelang Lebaran,” ucapnya.

Humas Kereta Api Medan, Irwan mengatakan, pihaknya sudah melakukan persiapan jauh hari sebelumnya. “Semua sudah kita persiapkan sesuai prosedur yang berlaku, mulai dari tiket, petugas keamanan serta poskonya. Untuk jumlah pasti penumpang, dia belum bisa memastikan karena masih ada kereta api yang berangkat sore dan malam hari. “Besok pagi baru bisa kita ketahui jumlah pastinya setelah kereta api yang terakhir malam ini berangkat,” katanya.
Sementara di Bandara Polonia Medan, sekira pukul 15.00 WIB, arus penumpang di Terminal Kedatangan Domestik dan Terminal Kedatangan Internasional dipenuhi penumpang yang tiba dari Jakarta, Batam dan Malaysia. Ratusan penumpang yang tiba di Terminal Kedatangan International di antaranya pekerja yang bekerja di Malaysia.

Sri (32), yang tiba dengan menggunakan pesawat Ari Asia mengaku, tidak mengalami hambatan sejak dari keberangkatan sampai tiba di tanah air. “Tidak ada masalah saya jumpai dari awal berangkat dari Malaysia sampai ke Medan ini. Saya mau pulang ke Asahan,” katanya sambil berlalu.

Santi (29), juga mengatakan hal yang sama. “Saya berangkat dari Malaysia tanpa kekurangan sesuatu apa pun dan saya sudah ditunggu keluarga saya,” ucapnya.

Posko Lebaran di Bandara Polonia Medan terlihat di Kantor OIC Angkasa Pura Bandara Polonia Medan. Petugas juga terlihat siaga di posko Lebaran tersebut. Tidak hanya itu, para keluarga yang menunggu keluarga mereka tiba juga terlihat di halaman parkir Bandara Polonia Medan dan di Taman Bandara Polonia Medan depan Terminal Kedatangan Domestik. (jon)

Warga Cemaskan Banjir Kiriman

MEDAN- Tingginya curah hujan di Kota Medan membuat warga yang tinggal di bantaran Sungai Deli dan Babura cemas. Pasalnya, mereka khawatir air sungai meluap karena banjir kiriman dari gunung.

“Kalau masih hujan di Kota Medan, banjir di sungai sudah biasa, paling tingginya mencapai satu meter. Tapi yang kami takutkan, kalau banjir kiriman dari gunung,” kata Sugiono, warga yang tinggal di bantaran Sungai Deli, tepatnya di Kebun Sayur.

Pantauan wartawan koran ini di bantaran Sungai Deli dan Babura, Selasa (23/8) pagi, ketinggian air yang mencapai satu meter sehingga tidak membuat warga terlalu khawatir. “Naiknya air dari pukul 03.00 WIB, jadi kami bersama warga terus memantau kenaikan air,” kata Sugiono lagi.

Sedangkan Lili, warga Jalan Starban yang tinggal di bantaran Sungai Babura juga sependapat dengan warga di pinggiran Sungai Deli. “Yang kami takutkan kalau banjir kiriman dari gunung. Itu baru luar biasa, seperti banjir yang terjadi beberapa waktu lalu,” katanya.

Camat Medan Maimon, Said Reza menuturkan, kecemasan warga langsung ditanggapinya dengan melakukan pemantuan di beberapa bantaran sungai dengan menempatkan petugas dari kecamatan di posko pengamanan banjir. “Mendengar kenaikan air di sungai kami bersama petugas dan masyarakat melakukan patroli mengantisipasi banjir susulan. Tapi banjir seperti ini sudah biasa bagi warga. Karena setiap Kota Medan diguyur banjir pasti sungai naik beberapa centimeter saja. Jadi yang kami takutkan adalah banjir kiriman atau hujan dari gunung yang sangat deras,” cetusnya.

Menanggapi kecemasan warga yang tinggal di bantaran sungai, Sekda Kota Medan Syaiful Bahri mengatakan, Pemko Medan akan melakukan pengerukan sendimentasi yang mengakibatkan pendangkalan sungai. “Setiap hujan, pasti sungai meluap. Jadi Pemko Medan berusaha melakukan pengorekan dan memperbaiki bantaran sungai yang sudah rusak,” katanya. (adl)

Dua Ruko Terbakar

MEDAN- Dua unit ruko yang digunakan untuk usaha jahit dan salon kecantikan di Jalan Beringin, Pasar VII Tembung, terbakar, Selasa (23/8) siang pukul 12.00 WIB. Tidak ada korban jiwa dalam kebakaran yang menelan kerugian ditaksir sebesar ratusan juta rupiah itu.

Asal api diduga dari konsleting listrik yang berasal dari ruko milik Saleh yang berfungsi sebagai tempat usaha jahit. Api terus membesar dan menyambar ke ruko sebelahnya milik Nurasiah yang digunakan untuk usaha salon.

Warga sekitar yang melihat kejadian itu, berupaya memadamkan api dengan alat seadanya. Namun api terus membesar dan menghanguskan kedua ruko tersebut. Usaha warga ini berhasil dan api bisa dipadamkan satu jam kemudian. Pihak Pemadam Kebakaran tiba di lokasi saat api telah berhasil dipadamkan warga.(mag-7)

Dugaan Korupsi di PTKI Terus Didalami

MEDAN- Bagian Tipikor DDitreskrimsus Polda Sumut terus dilakukan penyelidikan dan pendalaman terhadap kasus dugaan korupsi di Perguruan Tinggi Kimia Industri (PTKI) Jalan Menteng VII Medan. Penyelidikan dan pendalaman tersebut, dilakukan dengan cara memanggil dan memintai keterangan ornag-orang yang diduga mengetahui dan terlibat dalam kasus ini.

“Kita tidak pernah menghentikan sebuah kasus yang telah diselidiki. Dan kasus-kasus yang diselidiki, akan terus didalami,” ungkap Direktur Reserse Kriminal Khusus (Dir Reskrimsus) Polda Sumut Kombes Pol Sadono Budi Nugroho melalui Kasubbid PID Humas Polda Sumut AKBP MP Nainggolan yang dikonfirmasi Sumut Pos, Selasa (23/8).
Siapa-siapa saja yang terlibat serta kapan akan dilakukan pemanggilan guna pemeriksaan, MP Nainggolan belum bisa memastikan. “Tetap akan dipanggil, namun waktunya kapan nanti akan kita konfirmasi lagi dengan penyidik. Begitu juga soal-soal siapa saja yang akan dipanggil,” jawabnya.

Dalam kasus ini, diketahui sudah tiga pejabat sudah dipanggil untuk klarifikasi yaitu Mansyur, Tigor Simbolon dan marga Simalango. Pemanggilan dan pemeriksaan tersebut dalam artian klarifikasi untuk mengetahui ada tidaknya proyek di kampus PTKI sesuai laporan yang disampaikan ke Poldasu. Dan Klarifikasi itu juga sifatnya belum dilakukan proses verbal (Pro Justicia, Red).

Berdasarkan informasi, proyek senilai Rp13 milyar di Kampus PTKI Jalan Menteng VII, Medan TA 2010/2011 dibagi menjadi beberapa item antara lain, pembangunan dan rehab serta pengecatan kampus sekaligus penyelenggaraan operasional dan pemeliharaan perkantoran, pendidikan dan pelatihan teknis, belanja barang non operasional dan lainnya.(ari)

Habis Ini, Apa Lagi Yang Baru?

Oleh: Azrul Ananda, Direktur Jawa Pos

Rasanya sulit dipercaya. Jawa Pos, koran yang terbit dari Surabaya, meraih penghargaan tingkat dunia. Tim juri internasional memilih Jawa Pos sebagai peraih gelar tertinggi Newspaper of the Year 2011, di ajang World Young Reader Prize, yang setiap tahun diselenggarakan oleh asosiasi koran dunia, WAN-IFRA.
Rasanya sulit dipercaya.

Jawa Pos, koran yang terbit dari Jawa Timur, menang di tingkat dunia. Mengalahkan koran-koran bernama superkondang seperti Wall Street Journal, Chicago Tribune, South China Morning Post, juga koran dengan oplah terbesar di dunia asal Jepang (lebih dari 10 juta eksemplar per hari) Yomiuri Shimbun.
Rasanya sulit dipercaya.

Jawa Pos, koran asal Indonesia, pada 12 Oktober nanti akan tampil sebagai peraih penghargaan tertinggi di World Newspaper Congress dan World Editors Forum, di gelaran WAN-IFRA yang beranggotakan lebih dari 18 ribu penerbitan dan 15 ribu situs online di 120 negara di dunia.

Rasanya sulit dipercaya.
Tingkat dunia Bos!

***
Melalui catatan ini, saya mewakili seluruh teman-teman di Jawa Pos ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya seluruh pembaca. Dukungan Anda terhadap Jawa Pos mungkin melebihi dukungan pembaca koran-koran lain di Indonesia, mungkin di dunia.

Bagaimana tidak. Ketika semua koran pesaing menurunkan harga, Jawa Pos malah menaikkan harga, dan Anda tetap memilih untuk membeli atau berlangganan Jawa Pos.

Kadang saya tidak habis pikir. Kalau melihat di jalan-jalan, harga Jawa Pos itu bisa sampai empat kali lipat koran pesaing. Harga bandrol kami Rp 4.500, harga koran lain hanya Rp 1.000. Tapi survei –dari Nielsen Media Research maupun Enciety Business Consult— terus menunjukkan kalau readershare Jawa Pos jauh di atas yang lain.

Khusus di Surabaya, share kami bisa sampai 93 persen. Berarti sembilan dari sepuluh pembaca koran memilih Jawa Pos.

Dan berkat pembaca setia pula, sudah beberapa tahun ini total pembaca Jawa Pos menjadi yang terbanyak di Indonesia (Nielsen). Malah, saat ini Jawa Pos satu-satunya koran dengan jumlah pembaca yang angkanya “nyaman” di atas satu juta orang per hari.

Dukungan pembaca ini yang terus membuat kami bersemangat. Apalagi, mereka begitu setianya, hingga tak pernah lelah memberi masukan-masukan kepada kami. Terus memberikan tantangan, dengan bertanya: “Habis ini apa lagi yang baru?”

Kami juga mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada agen dan penyalur, serta para relasi dan mitra kerja Jawa Pos. Semua terus memberikan dukungan dan kepercayaan, meski kebijakan-kebijakan kami sebagai perusahaan kadang-kadang sulit dipercaya atau dipahami.

Bagaimana tidak. Ketika yang lain menurunkan harga, kami malah menaikkan. Ketika yang lain melonggarkan ketentuan, kami justru mengetati. Tapi seperti yang saya sampaikan kepada agen-agen iklan baru-baru ini:
“Tolong benar-benar dipahami, bahwa kami siap diomeli saat ini demi kebaikan jangka panjang. Kami siap dihujat masa sekarang demi kesuksesan masa depan. Toh tujuannya jelas. Kalau kami baik, semua relasi dan mitra kerja juga akan baik.”

Saya selalu percaya, market leader yang baik adalah market leader yang mau berkorban (meski jangan banyak-banyak!) demi menjaga industrinya. Harus berani bikin kecewa sebentar demi senyum jangka panjang. Kalau market leader-nya banting harga atau awur-awuran, apa jadinya industri tersebut nantinya?

***
Sebenarnya sulit juga jadi media di Indonesia, tapi sebenarnya hampir sama di industri media di mana-mana. Kalau ada satu yang meraih sesuatu yang luar biasa, yang lain bisa diam saja. Terus terang, Jawa Pos pun kadang juga begitu.
Karena itu, di kesempatan ini, kami ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh media di Indonesia. Kita semua berkompetisi secara sehat, dan kompetisi itulah yang menghasilkan karya-karya hebat.

Kepada media di bawah bendera Jawa Pos Group, yang kini jumlahnya sudah mendekati total 200 koran dan stasiun televisi dari Aceh sampai Papua, saya ingin memberi ucapan terima kasih khusus.

Keliling Indonesia, melihat dinamika koran-koran di daerah-daerah, memberi suntikan motivasi dan ide supaya Jawa Pos terus berbenah dan mengembangkan diri. Karena ide-ide terbaik kadang muncul dari tempat-tempat yang tidak pernah kita bayangkan.

Ucapan terima kasih istimewa ingin saya sampaikan kepada teman-teman di Kompas. Bagaimana pun, Anda-lah Gold Standard koran di Indonesia. Dan di Wina, Austria, 12 Oktober nanti, kita bakal bersama membuat Indonesia bangga. Karena Kompas juga meraih penghargaan khusus World Young Reader Prize 2011 dari dewan juri di kategori Public Service.

Ayo bersama kita tunjukkan, kalau koran dari Indonesia bisa lebih hebat dari koran-koran lain di dunia! Dan ayo kita semangati koran-koran lain supaya terus berkreasi dan berkembang. Industri koran masih bisa terus menempuh perjalanan panjang yang menyenangkan!

Satu lagi apresiasi ingin saya sampaikan kepada harian olahraga pertama di Indonesia, Top Skor. Anda hebat. Ada koran harian olahraga yang pembacanya di Jabodetabek mampu mengalahkan koran-koran umum, dan secara overall (Nielsen) pada pertengahan 2011 ini berada di urutan tiga di belakang Jawa Pos dan Kompas.

Dan Top Skor melakukannya dengan harga yang sangat sehat. Harga jual Rp 3.500 dengan 16 halaman per hari? Koran Anda sudah mencapai titik sustainability hebat dan sekarang bisa melangkah cepat dan berkembang!
Saya baru bicara dengan Ketua Umum Serikat Penerbit Surat Kabar (SPS) Indonesia, supaya Top Skor diberi penghargaan khusus. Itu koran telah melakukan gebrakan luar biasa.

***
Sebagai penutup, saya dan barisan manajemen Jawa Pos lain ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh personel Jawa Pos. Sukses kita di ajang dunia ini merupakan hasil kerja bersama.
Kepada seluruh personel DetEksi, sekarang maupun yang dulu, terima kasih tak terhingga harus kami ucapkan. Saya dari dulu percaya, departemen dan halaman khusus anak muda Jawa Pos itu bakal mampu meregenerasi pembaca dan membantu mengamankan pembaca masa depan harian ini.

Sudah ada contoh yang menunjukkan, kalau koran bisa hilang ketika pembacanya terus menua dan kemudian “menghilang.” Harus ada halaman seperti DetEksi yang menjaga supaya itu tidak terjadi pada Jawa Pos.
Tapi, tetap saja tak pernah terbayangkan DetEksi bisa berbuah sebuah penghargaan tertinggi dunia.

Begitu mendapat pemberitahuan menang di tingkat dunia, saya langsung mengutarakan kabar luar biasa itu ke John R. Mohn, ayah angkat saya waktu jadi siswa SMA pertukaran di Amerika Serikat dulu.

Kini berusia 70-an tahun, dia dulu yang mengajari saya banyak sekali tentang basic manajemen koran dan jurnalistik, lewat koran kecilnya, The Leader, di Ellinwood, negara bagian Kansas. Dia yang mengajari saya dan teman-teman di Ellinwood High School, bagaimana sekelompok anak muda bisa menghasilkan produk koran yang lebih baik dari garapan para profesional.

Pelajaran itulah yang berbuntut DetEksi, yang kali pertama terbit 26 Februari 2000.
John R. Mohn langsung membalas kabar baik itu. Dia mengingatkan saya –dan seluruh staf muda Jawa Pos— untuk tidak lupa diri.

Dalam emailnya, John bilang: “Penghargaan ini bukan hanya untuk personel DetEksi. Ini juga sebuah tribute untuk seluruh personel Jawa Pos yang lebih senior, yang selama ini harus bersabar dalam menghadapi dan membantu anak-anak muda di DetEksi yang gila-gila!”
Terima kasih semua! (*)