Home Blog Page 14822

Mengancam dan Minta Uang Rp10 Juta

Mantan Pembantu Culik dan Aniaya Adik Anggota Dewan

Rumah anggota DPRD Sumut Budiman Nadapdap dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan didatangi sekelompok pemuda dikomandoi Roberto Silalahi mantan pembantu sang dewan, Jumat (16/9) sekira pukul 23.00 WIB.

Dalam penyerangan ini adik Budiman yakni Marudut Nadapdap sempat diculik dan dianiaya kelompok pemuda yang tergabung dalam Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) setempat.

Informasi dihimpun malam itu di lokasi kejadian, Budiman yang sedang menerima tamu dari Jakarta di rumahnya Jalan Pertahanan Desa Patumbak II Kecamatan Patumbak Deliserdang, didatangi sekelompok pemuda yang berteriak memanggil pemilik rumah keluar menemui mereka.

Marudut yang saat itu berada di luar rumah sedang bermain catur tak senang dengan kedatangan ini dan menegur Roberto Silalahi. Namun bukan permintaan maaf, dia malah diseret keluar dari halaman rumah hingga ke jalan. Disuatu tempat dekat rumah korban, Marudut kemudian disiksa.

Sementara itu Budiman telah memanggil kepolisian dari Polsek Patumbak yang segera meluncur ke TKP. Kedatangan pasukan Polsekta Patumbak ini ke TKP segera membuat kelompok pemuda langsung kocar-kacir melarikan meninggalkan korban Marudut dalam keadaan setengah sadar.

Budiman Nadapdap yang ditemui saat menjalani pemeriksaan atas laporan penyerangan, penculikan dan penganiayaan di Polresta Patumbak enggan memberikan pernyataan. Namun S Boru Ginting ipar Budiman yang menyaksikan langsung kejadian kepada wartawan mengatakan, penyerangan begitu cepat dengan para pelaku membawa korban dan melakukan penyiksaan. “Persoalannya karena si Roberto tak senang dipecat. Dia minta dibayar Rp 10 juta baru mau keluar dari pekerjaannya,” tukas boru Ginting.

Dijelaskan Boru Ginting, sebenarnya dalam pemecetan tersebut Budiman telah berbaik hati membayarkan pesangon tiga bulan gaji. “Tapi dia tak senang dan tetap minta Rp10 juta. Malah dia mengancam, kalau dikeluarkan akan melakukan kekerasan. Kalau tak bisa dari depan dari belakang kukerjai kalian. Begitu ancamannya,” ungkap Boru Ginting menirukan ancaman tersangka Roberto Silalahi.

Tapi informasi dihimpun di lapangan menyatakan, kejadian ini disebabkan rasa tak senang tersangka karena perlakuan kerabat Budiman terhadapnya. Rumah yang diberikan kepada untuk ditempatinya pada Kamis (15/9) malam dilempari batu. Dia juga dicaci maki untuk keluar dari rumah yang ditempati dan juga untuk tidak beredar lagi di kawasan tersebut.

Pada malam kejadian, ditemani seorang temannya dia mendatangi rumah Budiman meminta penjelasan pelemparan rumah. Namun bukan permintaan maaf, dia malah dipukuli oleh Marudut.
Tak senang, Roberto kemudian mengadu ke ketua OKP setempat yang kemudian membawa belasan anggotanya menyerbu rumah Budiman Nadapdap.

Kapolsek Patumbak Kompol Soni W Siregar yang ditemui di lokasi membenarkan kejadian tersebut dan kini pihaknya tengah mengejar belasan pelaku. “Pelakunya mantan pegawai pemilik rumah. Dia yang jadi otak pelaku dibantu oleh kelompok pemuda setempat. Anggota kini sedang mengejar para pelaku,” tukasnya.
Informasi terakhir, petugas Polsekta Patumbak telah berhasil menangkap dua orang pelaku yakni berinisial A dan H.
“Kedua tersangka itu eksekutor yang melakukan penculikan dan penganiayaan. Kita masih mengejar para tersangka lainnya terutama otak pelaku Roberto Silalahi,” tukas SW Siregar yang dikonfirmasi melalui jaringan selular. (min/jpnn)

Johar: Pemecatan Tri Goestoro Hanya Isu

JAKARTA- Kabar pemecatan Sekjen PSSI Tri Goestoro yang santer beredar akhirnya dibantah oleh Ketua umum PSSI Djohar Arifin Husin. Dia menegaskan bahwa kabar pemecatan itu tidak benar dan hanya mengada-ada.
“Kabar itu tidak benar, hanya isu, Tidak benar kalau Tri Goestoro akan diganti, itu mengada-ada dan menyesatkan,” katanya seperti yang disampaikan oleh wakil Sekjen PSSI Tondo Widodo melalui pesan singkat, kemarin (1/9). Tondo  menjelaskan bahwa pernyataan tersebut dsiampaikan secara langsung Djohar setelah dirinya bertanya langsung. Dia sendiri terpaksa menyakan kebenaran tersebut setelah mendapat desakan dari pemain timnas yang sedang berada di Iran.

“Pemain menyesalkan kenapa ditengah perjuangan timnas di Iran, berita itu muncul. Padahal, lanjutnya, pengurus memiliki perhatian besar kepada timnas,” lanjut Tondo dalam tulisannya.
Sebelumnya, Tri Goestoro dikabarkan bakal segera dicopot dari jabatannya karena sering berselisih paham dengan para pengurus Induk sepak bola se-tanah air tersebut.  Kabar itu sendiri dihembuskan oleh anggota Exco PSSI La Nyalla M. Mattalitti.

Menanggapi alasan itu, Tondo kembali memaparkan bahwa ketua umum  PSSI tidak pernah berpikir mengambil tindakan ekstrim tersebut.

“Perbedaan itu menurut ketua umum adalah wajar dalam era demokratisasi seperti sekarang ini. Tapi, yang berbeda tiadak lantas harus diganti. Itu dinilai oleh kami sebagai cara-cara masa lalu,” terangnya.
Selain itu, Djohar ternyata juga membantah jika ada permintaan kongres luar biasa (KLB) dari klub-klub untuk melengserkan ketua umum. Kendati demikian, dia tidak mengelak bahwa pada kenyataannya saat ini memang sedang ada upaya untuk melengserkannya.

“Beliau (Djohar, Red) mengakui mengenai adanya keinginan melengserkannya dari jabatan ketua umum. Namun,  berharap   agar mekanisme KLB yang sduah diatur di dalam statute PSSI dapat dipahami dengan benar,” pungkas lelaki yang berprofesi sebagai pengamat sepak bola nasional tersebut. (aam/jpnn)

PBSI Simpan Pasangan Juara Vietnam Open

JAKARTA- Angga Pratama/Ryan Agung Saputro baru saja mengukir prestasi. Keduanya sukses menjadi juara ganda putra dalam Vietnam Grand Prix 2011 pekan lalu.

Sayang, dalam Taiwan Gold Grand Prix yang dilaksanakan 6-11 September mendatang, keduanya harus absen. PB PBSI tidak memberangkatkan pasangan yang kini menempati peringkat 18 BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) tersebut.
Alasannya menyimpan tenaga setelah keduanya tampil berturut-turut di ajang universiade dan di Vietnam.  “Mereka ini juga bagian dari atlet proyeksi masa depan Indonesia. Masih banyak kejuaraan lainyang harus mereka ikuti, jadi sekarang istirahat dulu, member kesempatan pebuu tangkis muda lainnya untuk menyamai prestasi Angga/Ryan,” kata Kabid Binpres PB PBSI Hadi Nasri saat dihubungi kemarin (2/9).

Di Vietnam, Indonesia meraih dua gelar. Selain Angga/Ryan, posisi terhormat jatuh ke tangan pasangan ganda putri Anneke Feinya Agustin/Nitya Krishinda Maheswari.

Hadi Nasri pun menjelaskan bahwa pihaknya mendapatkan tambahan semangat dan kepercayaan diri seiring raihan prestasi di Vietnam. Terlebih lagi, mereka yang meraih gelar merupakan pebulu tangkis  pelapis tim utama di PBSI.
“Ini cukup bagus buat anak-anak muda. Mereka berusaha menunjukkan dan memulai langkah bahwa mereka siap untuk menggantikan senior mereka kelak. Bermain dengan lawan yang selevel, mereka ternyata berhasil,” ucapnya.
Apalagi, dalam kejuaraan Taiwan Terbuka yang dilaksanakan di Sinjhuang ini, Cipayung, markas pelatnas PB PBSI,  kembali mengirimkan kombinasi pebulu tangkis senior-pelapis. Harapannya, agar terjadinya regenerasi pebulu tangkis bisa terwujud.

Dengan dikirimkan ke kejuaraan ini, pebulu tangkis muda pun semakin matang.  Namun, kali ini PBSI terlihat lebih serius.

Dengan status kejuaraan sebagai Grand Prix Gold (level bergengsi kejuaraan Grand Prix), mereka mengirimkan beberapa pebulu tangkis topnya. Khususnya di nomor tunggal putra, putri, ganda putri, dan ganda campuran.
Nama-nama seperti Simon Santoso, Dyonisius Hayom Rumbaka, Meiliana Jauhari/ Greysia Polii, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, Fran Kurniawan/Pia Zebadiah semuanya diberangkatkan.

“Kami bukan cuma mencari gelar disini. Tapi, bagaimana caranya agar mereka terus bisa bersaing dalam pengumpulan poin untuk bisa turut tampil pada Olimpiade London 2012 nanti,” terang lelaki 62 tahun tersebut.
Menurutnya, saat ini posisi-posisi pebulu tangkis Indonesia masih belum aman untuk bisa menuju London yang mensyaratkan minimal berada pada posisi peringkat 16 besar dunia untuk berangkat.

Itu juga berlaku bagi para pebulu tangkis pelapis. Nama-nama muda seperti Rendy Sugiarto/Afiat Yuris Wirawan, Agripina/Markus, dan Dell Destiara Haris/Sucy Rizky Andini juga dibawa. Tujuannya, agar mereka juga bisa bersaing untuk masuk pada peringkat 16 besar dunia.

“Kalau bisa Indonesia harus mengirimkan sebanyak-banyaknya wakil ke olimpide nanti. Perkara bisa apa tidak, yang penting sudah usaha. Tidak akan sia-sia karena yang muda ini juga mendapatkan banyak pengalaman, semakin matang,” terangnya. (aam/diq/jpnn)

Musdalub PSSI, Masih Registrasi Sudah Ribut

Tahapan registrasi peserta Musyawarah Daerah Luar Biasa (Musdalub) PSSI Sumatera Utara (Sumut) yang berlangsung di Hotel Asean International, Jl H Adam Malik, Medan, diwarnai keributan. Ricuh tak terhindarkan ketika panitia registrasi tidak menerima perwakilan 11 Pengurus Cabang (Pengcab) PSSI dari berbagai daerah.

Ada banyak alasan penolakan yang disebutkan panitia. Antara lain kepengurusannya tidak sah sekaligus tidak memiliki undangan resmi sebagai peserta Musdalub.

Mendapati masalah ini, perwakilan Pengcab PSSI yang datang dari 11 kabupaten dan kota di wilayah Sumut ini, langsung membanting berkas yang mereka bawa ke meja petugas registrasi.

Ketua PSSI Pengcab Labuhan Batu, Ishak Yusup menyatakan, panitia sengaja menahan sejumlah Pengcab agar tidak terlibat menjadi peserta Mudalub PSSI Sumut, karena berseberangan dengan panitia yang diduga ingin memenangkan salah calon Ketua PSSI Sumut.

“Panitia bersikeras tidak menerima perwakilan Pengcab yang SK-nya ditandatangi Ketua PSSI Sumut Risuddin. Mereka hanya mengakui kepengurusan yang ditandatangani Chairullah. Ini jelas maksudnya untuk memenangkan salah satu calon ketua yang mereka usung,” kata Ishak seperti dilansir salah satu fortal online nasional, Sabtu (17/9) kemarin. (net/jpnn)

Seleksi Pantau PSMS Muda

MEDAN-Dinilai memiliki skill di atas rata-rata, tim pemantau pemain seleksi PSMS mengundang seorang pemain dari PSMS U-21, Antoni.

Roekinoy menerangkan, pihaknya melihat ada potensi permainan yang baik dari Antoni. “Kita melihat ada kelebihan teknik yang dimilikinya, kita tentu tak mau menyia-nyiakannya,” ungkapnya, Jumat (16/9) lalu.
Namun, saat ditanyakan apakah nanti Antoni akan direkrut sebagai pemain di PSMS? Ia menjawab, hal tersebut akan dipantau selanjutnya. “Ya, lihat perkembangan juga. Untuk menjadi seorang pemain PSMS bukan sembarangan,” kata Kinoy lagi.

Kembali ia menegaskan, jika memperlihatkan permainan yang cukup baik, maka siapa saja layak bermain di PSMS. “Tentunya jika mereka menunjukkan permainan yang cukup baik sesuai dengan gaya yang kita inginkan,” tegasnya.
Sementara itu, Antoni saat ditemui mengaku bangga sekaligus termotivasi untuk memperlihatkan kemampuan terbaiknya. “Saya bangga bisa masuk dalam tim seleksi PSMS ini. Saya juga terkejut, tiba-tiba saja saya diajak bergabung untuk ikut seleksi,” katanya.

Atas hal itu, sambungnya, ia akan menunjukkan kemampuan terbaiknya pada hari-hari selanjutnya pada seleksi itu. “Saya juga sangat berharap bisa memperkuat PSMS dalam kompetisi mendatang,” terang Antoni.
Sementara itu, Suharto menjelaskan, materi latihan pada hari kelima (16/9) ini adalah hanya untuk menjaga kebugaran. “Sesi latihan kali ini untuk menempa ketahanan fisik mereka ke depan. Namun, dengan cara perlahan, agar tubuh mereka juga tak terkejut, karena baru melewati masa libur panjang lalu,” katanya. (saz)

Format Kompetisi Musim Depan Kembali Satu Wilayah

JAKARTA – PSSI kembali tidak konsisten dalam menentukan format kompetisi. Sebelumya, organisasi sepak bola nasional itu merancang format kompetisi level satu sebagai kasta tertinggi. Pesertanya adalah 32 klub dan dibagi dalam dua wilayah.

Namun, format itu batal dilaksanakan. Rapat executive committee (exco) PSSI di Hotel Crown Plaza, Jakarta, kemarin malam, sepakat mengembalikan kompetisi level tertinggi musim depan dalam satu wilayah.

“Format kompetisi kembali lagi satu wilayah,” kata Ketua Umum PSSI Djohar Arifin Husin saat jeda rapat pukul 21.30 kemarin malam. Djohar menyatakan, alasan dikembalikannya format kompetisi ke satu wilayah karena PSSI ingin taat azas. Format kompetisi satu wilayah adalah salah satu keputusan dari kongres tahunan PSSI di Bali pada Januari lalu.
“PSSI ingin mematuhi aturan yang ada,” tegasnya. Rapat pleno exco tadi malam juga memutuskan nama kompetisi tetap bertitel Indonesia Super League (ISL). Sedangkan untuk level kedua adalah Divisi Utama. ISL akan diikuti oleh 18 klub, sama seperti musim lalu. Sedangkan Divisi Utama diikuti 44 klub dan dibagi menjadi empat wilayah.

Dalam rencana penerapan format dua wilayah sebelumnya, kompetisi level tertinggi akan diikuti oleh 32 peserta. Sedangkan level kedua akan diikuti 48 klub peserta yang dibagi dalam empat wilayah.
Terkait dengan klub-klub peserta kompetisi musim depan, anggota exco PSSI La Nyalla Mattaliti menyatakan hal itu akan ditentukan lewat verifikasi. “PSSI akan melakukan verifikasi ulang dan klub-klub ISL yang akan menjadi prioritas,” kata Nyalla.

Nyalla mengungkapkan, terjadi perdebatan panjang dalam rapat exco kemarin.
“Tapi setelah kita beberkan pasal-pasal dalam statuta dan juga aturan-aturan dalam PO (peraturan organisasi), akhirnya semua sepakat jika kita tidak boleh melanggar aturan dan kompetisi harus digelar satu wilayah,” ujar ketua Pengprov PSSI Jatim itu.

Untuk Persema Malang dan Persibo Bojonegoro yang status keanggotaannya dicabut lewat kongres di Bali, PSSI akan mencarikan jalan keluar.

“Kalau saya pribadi, status Persema dan Persibo hanya bisa dicabut lewat kongres lagi,” kata Nyalla.
Sementara itu, anggota exco lainnya, Roberto Rouw, menyatakan, rencana kickoff kompetisi tidak berubah. Yakni, 8 Oktober nanti.

“Verifikasi akan dilakukan secepatnya dan itu tidak akan sulit karena parameternya sudah jelas. AFC pasti sepakat dengan keputusan ini karena ini sesuai aturan yang ada,” katanya.

Keputusan ini tentu saja menohok Ketua Komite Kompetisi PSSI Sihar Sitorus yang dari awal getol menggolkan format baru kompetisi dengan dua wilayah. Apa komentar Sihar? “Itu sesuai kongres tahunan di Bali,” ujarnya.
Sihar mengatakan, PSSI akan memanggil 18 klub ISL untuk menyerahkan berkas-berkas yang diperlukan pada 21 September nanti.

“18 klub itu belum tentu lulus verifikasi. Jika ada yang tidak lulus, mereka akan digantikan klub-klub di bawahnya,” katanya.

Setelah rehat sekitar satu jam, rapat exco kembali dilanjutkan mulai pukul 22.30 WIB. Di antara agenda yang dibahas adalah dualisme kepengurusan beberapa klub. Yaitu, Persebaya Surabaya, Persija Jakarta, dan Arema Indonesia. (ali/ca/jpnn)

Rambut Keriting Tiru Tahun 60-an

Rambut keriting yang bervolume akan memberikan kesan dewasa, sexy dan dinamis bagi
si pemilik. Bahkan dengan memiliki rambut yang keriting dapat menambah kesan rambut terlihat lebih tebal dan indah. Jadi tidak heran, bila sebagian wanita memilih untuk melakukan penggeritingan pada rambutnya yang tipis.

ewasa ini, para pria dan wanita metropolis mulai melirik gaya rambut keriting yang kesannya menjadi lebih sexy. Model rambut keriting yang akan ngetrend ini, bukan keriting sosis yang beberapa tahun lalu sempat di minati oleh masyarakat, dimana para pemilik rambut harus memiliki rambut panjang.

Justru trend saat ini melainkan rambut keriting dengan model tahun 1960-an, hanya saja untuk saat ini perbedaannya terletak pada cutting atau potongan rambut yang akan memberi kesan modis dan dinamis.

“Tahun 60-an, rambut keriting dengan gaya bob atau pendek, tetapi untuk saat ini, rambut keriting dengan potongan yang dinamis dan sebagian rambut yang diberi dan dibiarkan untuk tetap lurus alami,” ujar Arie Hidayat, Brand Technical Ambassador L’Oreal Professional sekaligus pemilik salon Arie and Harry, Salon and Bridal.
Kata dia, tahun ini rambut keriting dengan rambut pendek dari trend tahun 60-an ini dipadu dengan trend rambut ikal atau keriting wanita Korea. “Kita tidak dapat menjauhkan trend Korea saat ini. Terbukti dengan entertaiment kita yang masih menggunakan Korea sebagai kiblatnya, baik mulai dari fashion hingga rambut,” ujarnya.

Potongan rambut pendek dengan model bob, dengan keriting besar merupakan ciri khas rambut keriting tahun 60-an, sedangkan kesan Koreanya diambil dari jenis potongan rambut. “Penggeritingan akan terlihat bagus dengan potongan yang bagus pula, jadi jangan lupakan potongan rambut,” ujarnya.

Arie Hidayat, Brand Tehnical Ambassador, L’Oreal Professional dan pemilik Arie dan Harry Salon and Bridal di Surabaya mengatakan pengeritingan dalam pembuatannya tidak semudah saat pelurusan.
Untuk penggeritingan diperlukan pengalaman. Karena tidak semuanya dapat melakukan penggeritingan dengan hasil yang maksimal. “Penggeritingan membutuhkan pengalaman, ada tekhnik khusus untuk penarikan rambut penggulungan dan lainnya.” ujar Arie.

Selain itu, dalam merawat si keriting juga tidak terlalu sulit. Si pemilik rambut cukup menyesir rambut saat masih basah dan bila sudah kering, rambut cukup remas-remas dari ujung rambut hingga ke atas.
“Jangan menyisir rambut saat kering, karena itu dapat membuat tekstur keriting akan rusak, usahakan hanya meremas rambut dari bawah ke atas,” tambah Arie.

Pada dasarnya, banyak yang bilang bahwa rambut keriting dapat membuat kesan wajah terkesan dewasa, karena rambut yang memiliki volume. Tetapi hal ini dapat diantisipasi dengan penampilan yang total bagi si pemilik rambut keriting.

“Usahakan total look, biar tidak terlihat tua, mulai dari make-up, fashion dan aksesoris. Semuanya harus diperhatikan untuk dapat mengantisipasi kelihatan tua,” ujar nya. (juli ramadhani rambe)

Pilih Model Sesuai Bentuk Wajah
Tren rambut saat ini tidak lagi dikuasai dengan rambut lurus ala model iklan shampo. Rambut bertekstur keriting tak kalah eksisnya dan mampu bersaing dengan rambut lurus yang selama bertahun-tahun menjadi pilihan utama kaum hawa.

Rambut keriting kembali menjadi tren di kalangan perempuan karena mampu menampilkan kesan yang lebih dewasa dan eksklusif. Tak heran jika rambut keriting menjadi favorit perempuan di atas 25 tahun dan berada di kelas atas. Lihat saja selebriti atau sosialita yang datang di acara-acara bergengsi. Jika tidak menyanggul rambutnya, pasti mereka memilih gaya keriting atau bergelomban. Sedangkan rambut lurus yang diurai sangat jarang mereka tampilkan.
Sama seperti rambut lurus, rambut keriting bisa didapatkan dengan dua cara, secara alami yang merupakan bawaan sejak lahir atau keturunan serta buatan dengan bantuan produk obat keriting, produk styling dan alat-alat pembentuk gelombang rambut. Cara kedua ini biasanya dilakukan dengan bantuan ahli di salon.

Owner Sunflower Salon, Hardini ST mengatakan, keriting alami secara umum dibagi menjadi tiga tipe, frizzy atau kribo, botticeli curls atau keriting sedang dan wavy curls atau yang dikenal dengan rambut gelombang. Sedangkan keriting buatan memiliki tipe yang lebih beragam, seperti keriting kribo, kepang, kabel, akar, body wave, sosis, spiral dan pelintir.

“Untuk mendapatkan keriting buatan, ada beragam teknik yang bisa dilakukan oleh stylish. Mulai dari teknik body perms untuk hasil gelombang besar, spiral perms yang merupakan pengeritingan berbentuk spiral, hingga pin curl perms yang merupakan pengeritingan dengan menggunakan jepit rambut,” terang perempuan yang akrab disapa Dini itu.

Kata dia, keriting buatan pada dasarnya bersifat sementara. Namun untuk styling yang hanya memanfaatkan alat pengeritingan dan hair spray biasanya bertahan lebih cepat, yakni sekitar 1-2 hari. Sedangkan untuk penggunaan obat-obat berbahan kimia bisa lebih tahan lama, yakni 6-7 bulan.
Tidak semua jenis rambut keriting tampak trendi diaplikasikan saat ini. Menurut Dini, hanya beberapa jenis rambut keriting yang menjadi favorit kaum hawa.

“Lain bentuk muka, tentu saja lain jenis keriting. Seperti potongan rambut, kalau salah menentukan jenis keriting, maka hasilnya tidak bagus untuk penampilan,” lanjut Dini. (ila/net)

PH Hilang, Wajib Dirawat

Setelah mendapatkan hasil rambut keriting sesuai dengan harapan, bukan berarti seseorang bisa mempertahankannya dengan mudah.

Agar rambut keriting idaman tetap terlihat cantik, perlu dilakukan perawatan yang kontinyu. Perawatan kontinyu ini tidak hanya membuat tampilan rambut keriting tetap indah, tetapi juga mengembalikan kesehatan rambut.
Pasca dilakukan pengeritingan, rambut akan kehilangan PH karena prosesnya memanfaatkan bahan-bahan kimia dan panas. Sehingga bisa dipastikan kondisi rambut akan cenderung lebih kering dari sebelumnya. Hal ini tidak boleh dibiarkan begitu saja karena akan membuat rambut mudah rusak.

Perawatan pasca pengeritingan dapat dilakukan dengan dua cara, yakni perawatan sendiri di rumah dan perawatan di salon oleh ahlinya. Pada perawatan yang dilakukan di rumah, antara lain keramas dan pengaplikasian kondisioner yang dilakukan seminggu dua kali. Bila perlu setelah keramas diberi leave-in conditioner untuk melemaskan rambut.
Setelah keramas, jangan buru-buru dilakukan penyisiran rambut. Sebaiknya tidak dilakukan penyisiran saat rambut basah dan melakukan penyisiran dengan menggunakan sisir bergigi besar atau tangan. Pengeringan rambut setelah keramas disarankan dengan cara alami dan tidak menggunakan bantuan hair dryer. (ila/net)

Beri Perhatian Super Ketat ke Anak

dr Elrina

Sebagai wanita karier, bukan berarti harus alpa memperhatikan buah hati. Sesibuk apapun seorang wanita karir, tapi harus tetap optimal memberikan perhatian kepada anaknya. Begitulah kata Kepala Puskesmas Sentosa Baru
dr Elrina di ruang kerjanya.

Apalagi, bila sang anak memasuki usia remaja sehingga perlu diberikan curahanan perhatian secara ketat. “Anak saya saat ini sedang beranjak dewasa, jadi saya harus memberikan perhatian lebih ketat lagi agar anak-anak tak salah arah. Makanya pendidikan moral, agama serta perhatian dari kedua orang tua sangat diperlukan dalam memantau perkembangan anak kita,” kata  wanita kelahiran 1969 ini.

Tapi tidak cukup dengan itu saja. Kata Elrina, anak juga harus perlu dipantau dalam perkembangan IPTEK yang sudah semakin maju seperti sekarang ini, jika tidak diperhatikan maka si anak bisa kebablasan dalam mengkonsumsi Iptek.
“Semua keinginan si anak harus tetap diperhatikan. Orangtua juga harus pintar dalam hal IPTEK agar bisa memantau anaknya. Saya sendiri selalu melakukan pengawasan ketat kepada kedua anak saya termasuk memeriksa ponsel dan isi dari komputer dan laptopnya. Saya tidak ingin ada hal-hal yang tidak diinginkan seperti film porno di komputer, laptop atau di ponsel anak,” terangnya.

Menurutnya, pergaulan anak yang beranjak dewasa juga harus diperhatikan sehari-hari. Ini agar anak tidak terjerumus sex bebas yang sudah tidak aneh lagi dilakukan anak-anak sekarang. “Makanya saya juga mengajarkan pendidikan seks kepada anak saya bahwa seks bebas itu mempunyai dampak negatif. Dampak negatif dari pergaulan bebas (sex bebas) itu antara lain penyakit kelamin, kanker rahim dan kehamilan usia dini,” tambahnya.

Perhatian lebih lainnya diberikan Erlina dengan mengarahan dalam memilih teman atau pacar. “Orangtua itu harus bisa menjadi sahabat, teman sekaligus tempat curhat anaknya. Orangtua harus tetap mengontrol segala gerak-gerik anaknya agar tidak terjerumus ke sisi negatif. Pengawasan terhadap anak yang beranjak dewasa memang harus lebih aktif,” pungkasnya. (jon)

Selalu Dihadiahi Makanan dan Buah-buahan

MENJADI tenaga kesehatan, tentu punya pengalaman unik dan berkesan. Begitu juga dialami Kepala Puskesmas Sentosa Baru dr Elrina ini.

Sebelum bertugas di Medan, dirinya juga mempunyai pengalaman unik dan tidak terlupakan saat pertama sekali bertugas menjadi dokter. Diterangkan Elrina, saat masih PTT, dirinya pertama sekali bertugas di pelosok di daerah Takengon, Aceh Tengah.

Ia pertama sekali bertugas PTT di Takengon, Aceh Tengah, tahun 1995.
Meski bertugas di desa terpencil, dirinya disambut hangat oleh warga sekitar saat melakukan kunjungan dari Posyandu memberikan pelayanan kesehatan.

“Setiap pulang dari rumah warga, warga memberikan makanan dan buah-buahan hasil tanaman mereka untuk dibawa pulang. Tidak hanya itu, saat berkunjung ke Posyandu, warga juga membawa makanan dan buah-buahan yang diberikan kepada kami semua,” tambahnya.

Kata Elrina, dirinya saat itu bertugas juga didampingi suami tercinta yang juga seorang dokter. “Saat bertugas di pelosok Aceh Tengah, suami saya juga mendampingi saya sehingga saya bisa betah dan bertahan saat bertugas di sana,” ucapnya sambil tertawa.

Wanita lulusan Fakultas Kedokteran USU ini menuturkan, dirinya melakukan tugas dan tanggung jawab itu dengan sepenuh hati. “Tidak seperti dokter-dokter saat ini, giliran ditugaskan ke pelosok-pelosok tidak ada yang mau. Kalau saya ditugaskan ke pelosok, saya terima dengan senang hati karena saya bisa membagikan ilmu yang saya terima dari bangku kuliah kepada masyarakat desa,” tuturnya.

Sebagai tenaga medis, Elrina juga mengharapkan agar dokter-dokter muda mau bertugas di pelosok desa. Sebab, bisa menjadi penolong bagi masyarakat desa yang minim tenaga medis.
“Kalau kita bertugas di pelosok, kita bisa menolong orang dengan alat seadanya, mengamalkan ilmu yang kita terima, dan mengamalkan nilai kemanusiaan yang tinggi,” pungkasnya.(jon)

Dapat Support Konglomerat Malaysia, Terkendala Izin Kerja

Safee Sali Berjuang Menembus Klub Inggris

Musim lalu Safee Sali sempat berkiprah di ISL (Indonesian Super League) bersama Pelita Jaya. Kini, striker timnas Malaysia itu sedang mengadu nasib di Inggris. Adakah klub yang tertarik merekrutnya ?

Setelah kontraknya dengan Pelita Jaya berakhir, Safee  Sali sempat diisukan bergabung dengan salah satu klub Jerman. Pemain bernama lengkap itu Mohd Safee Mohd Sali itu juga mengakui, kalau ada salah satu klub Jerman yang tertarik kepadanya. Tapi, hingga bursa transfer musim panas lalu ditutup belum ada ada realisasinya.

Namun, harapan Safee untuk bermain di Eropa belum tertutup. Status konglomerat Malaysia Tony Fernandes sebagai presiden klub Premier League Queens Park Rangers (QPR) memberinya secercah harapan untuk menjajal ketatnya persaingan di Benua Biru. Atas rekomendasi Fernandes pula, Safee mendapat kesempatan trial alias masa percobaan di QPR.

Selama masa percobaan, Safee mampu memikat manajer QPR Neil Warnock. Bahkan, Warnock sempat menyebut Safee sebagai David Beckham-nya Malaysia. Untuk yang satu itu bukan lantaran kemampuannya, tapi karena reputasinya.
“Tanpa diragukan lagi, pemain asal Malaysia itu memiliki teknik yang bagus. Tinggal menunggu waktu saja,” kata Warnock, seperti dikutip Football Everyday.

Sayang, impian Safee menembus skuad QPR akhirnya gagal.  Penyebabnya bukan faktor kualitas.  Tapi, klub yang baru promosi itu sudah memiliki stok yang cukup di lini depan. Karena itu, striker berusia 27 tahun itu harus kembali mencari klub lainnya dan kesempatan pun datang dari Cardiff City.

Ya, klub yang berbasis di Wales itu kebetulan saham terbesarnya juga dimiliki orang Malaysia, Datuk Chan Tien Ghee. Oleh manajer Cardiff Malky Mackay, Safee diberi kesempatan menjajal kemampuannya. Bahkan, dia bukan satu-satunya pemain asal Malaysia yang dapat kesempatan.

Kapten Malaysia Mohd Safiq Rahim pun diberikan kesempatan mencoba peruntungan di Cardiff seusai Piala Malaysia. Sementara Safee sendiri mendapat jatah percobaan di klub yang berkompetisi di kasta kedua Liga Inggris itu sejak 13-27 September.

Ternyata, performa Safee menarik minat Mackay. Selama dua hari masa percobaannya, Safee telah menunjukkan bahwa dirinya layak bersaing. “Dia baru beberapa hari di sini dan dari yang saya tahu, dia pemuda yang menyenangkan,” kata Mackay, seperti dikutip Wales Online.

Hanya, sekarang yang menjadi persoalan bukanlah kemampuan dari sang pemain, melainkan regulasi di Inggris. Tidak mudah bagi pemain dari Asia untuk menembus Inggris. Regulasi tentang izin kerja bisa menjadi kendala.
“Kami akan terbentur kepada izin kerja di Inggris. Park Ji-sung saja tidak bisa langsung direkrut Manchester United seandainya dia tidak pernah membela PSV Eindhoven,” jelas Mackay. (ham/bas/jpnn)

juli lramadhani rambe/sumut pos

Gerimis Malam

Gerimis belum selesai ketika seorang lelaki masuk ke salah satu warung burjo yang tersebar di setiap sudut kota itu.
Rambutnya tampak berantakan, sebagian jatuh ke wajahnya yang hitam kurus. Tetes air sebagian tertampung di cekung pipinya sebelum ikut mengalir ke dagu dan kaos hitamnya. Secepat kilat ia duduk, memperhatikan meja dan pemilik warung segera menyambanginya.

Cerpen Indrian Koto

Mie rebus tanpa telur,” pesannya ketika ia memastikan ada bakwan yang bersisa di nampan biru. Lalu ia mengelap tetes hujan yang jatuh di wajah dan tangannya. ia tahu, mie instan bukanlah makanan yang cocok untuk perutnya. Tapi selalu, ketika melihat bakwan, perutnya tergoda untuk mencoba makanan kesukaannya; mie rebus tanpa telur campur bakwan.

Buru-buru ia berdiri lagi. Ia melihat tumpukan koran daerah yang tergeletak di depan seorang perempuan dengan blus hitam dan celana ketat. Cantik juga, gumamnya. Sekilas ia melirik, gadis muda dengan rambut lurus yang terikat rapi. Mungkin dia menunggu pesanannya datang, atau seseorang yang akan menjemputnya.
“Permisi, Mbak. Maaf, pinjam korannya,” katanya sambil menunjuk tumpukan koran di samping perempuan itu. Si perempuan tersadar dari lamunannya. Pandangannya berpindah dari sinetron di televisi ke arah lelaki itu.
“Oh, ya. silahkan.”
Di luar gerimis masih turun.

Ia membolak-balik koran dan melupakan perempuan dengan blus hitam di hadapannya. Ia membuka halaman tengah, opini dan surat pembaca. Ada tanggapan atas komplain sebuah opini yang dituduh plagiat. Si plagiat mengaku dan minta maaf sambil dengan gombal mengatakan bahwa ia sering membaca tulisan si pengklomplain, seorang dosen di sebuah kampus, dan ia menyukai tulisannya yang kritis, begitu tulis si penanggap dengan bahasa standar seorang penjilat. Lalu ia membuka halaman seni yang berisi foto-foto artis, launching film dan album rekaman. Ada berita seorang penyair yang suka ribut sedang melakukan pembacaan puisi keliling Jawa. Tulisan lainnya tak membuatnya berminat.

Mie terhidang di depannya.
“Minumnya, Ak?”
“Air putih!” Jawabnya tanpa menoleh. Lalu mengaduk-aduk mangkok mienya. Seketika perutnya melilit. Asem, pikirnya, belum dimakan saja perut ini sudah tahu kalau ia akan menerima mie instan lagi. Lalu diraihnya saos, dituangkannya ke mangkok. Lalu dituangkan pula merica. Tetapi maricanya sudah tak ada isi.
Ia kembali mengaduk mienya. Mengambil bakwan di nampan biru tiga biji. Sekejap, tiga potong bakwan itu menjadi serpihan-serpihan bercampur kuah. Kembali ia mengaduk. Ia menyuap sendokan pertamanya. Pedas. Dan panas. Ia terhenti ketika dirasakan koran yang terhimpit di tangan kanannya ditarik seseorang. Di luar masih gerimis? Dia tak berani menoleh ke samping karena mie di mulutnya tak bisa terpotong oleh giginya. Lama ia menunduk, mencari celah di mulutnya untuk memotong bagian mie yang bisa dilepas dengan gigitan. Ia merasa seseorang memperhatikannya dari tadi.

Ia menoleh. Astaga, seorang perempuan, persis di sampingnya. Dia melirik ke sudut. Bukan perempuan yang tadi. Ia sudah pergi. Hei ke mana dia? Sejak kapan ia tak ada? Dan perempuan di sampingnya ini, sejak kapan pula ia ada di sini? Di luar gerimis telah berganti rintik kecil.
Perempuan itu meliriknya sambil berpura-pura membaca koran yang tadi ditarik agak kasar dari tangan si lelaki. Dilihat dengan tatapan semacam itu membuatnya kehilangan selera pada makanannya. Ia risih dan agak malu. Apakah perempuan itu menganggapnya lucu dengan celana pendek dan kaosnya yang agak ketat ini? atau anting di telinga yang terlihat sok keren tetapi sebenarnya sangat norak?
“Bos, minta air putih.” Ia memanggil penjaga warung untuk mengalihkan rasa gugup.
Pemilik warung bergegas keluar. Mengambil gelas, mengisi air dan mengulurkan segelas air padanya dan segera di munumnya.

“Pesan apa, Teh?”
Ia menoleh ke arah si perempuan. Kesempatannya ketika si perempuan menatap penjual burjo yang masih muda itu. Seorang berwajah tirus dengan sepasang kacamata berbingkai kecil berwarna hitam. Memakai syal serupa taplak meja, t-shirt-nya kuning terbungkus jaket coklat tipis. Sebelah tangannya tertutup sarung. Sebelah sarung tangan yang lain tergeletak di sampingnya.
“Burjo, Mas.”
Rambutnya sebahu, dibiarkan terjatuh. Tetes air membuatnya kaku dan sebagian jatuh ke wajahnya.
“Waduh, kacang ijonya masih dipanasin.”
“Ketan hitam saja juga nggak apa-apa.”
“Oh, ya.”
Perempuan itu berpaling padanya. Pandangan mereka berserobok. Apakah mereka pernah bertemu di suatu tempat, suatu waktu? Apakah ia mengenal si perempuan? Ia mencoba memastikan lagi. Ketika ia menoleh, ia menangkap perempuan itu masih menatapnya. Mereka berpandangan sesaat. Saling gelagapan dan menunduk. Dia kembali menyuap mie-nya. Si perempuan mengeluarkan hp di saku jaketnya. Mulai memencet-mencet tombolnya.
Tidak, kami tidak saling mengenal, jadi tak masalah aku tak menyapanya dan menawarkan makan, pikirnya. Apakah dia tahu nomor hpku? Pikirnya sekali lagi. Ah, tidak, hanya imajinasinya saja yang kelewat besar. Bagaimana mungkin mereka saling mengenal. Di depannya, perempuan itu orang asing meski pun ia merasa begitu akrab. Tapi ia betul-betul tak mengenalinya. Apa dan siapa.
“Dibungkus, Teh?”
Darahnya terkesiap. Jangan dibungkus, jangan dibungkus, jerit hatinya.
“Di sini saja, Mas.”

“Oh, ya… sebentar!”
Mereka kembali saling melirik. Ia tak berani bertatapan langsung. Ia merasa risih dengan anting yang melingkar lucu di telinga kirinya ini. Anting yang baru beberapa hari dipasang di telinga kirinya dengan motif yang dipilihkan oleh pacarnya. Ia merasa malu dengan penampilannya yang berantakan. Oh, apakah perempuan itu melihat ada yang lucu? Astaga, dia ingat, tadi di kontrakan dia baru saja mencukur kumis dengan silet setengah berkarat. Tak ada cermin di kamarnya, juga kamar mandi. Setelah itu ia cuci muka dan segera ke warung ini. Apakah ada yang salah dengan potongan kumisnya?
Ia meraba bagian atas bibirnya. Terasa kasat. Tak ada yang terasa janggal. Ah, gerimis turun lagi. Ia menghabiskan sisa mienya. Perutnya masih melilit. Tadi sore dia sudah minum oralit. Perempuan itu mulai mengaduk bubur ketan hitamnya dan mengabaikan handhphone-nya, membiarkan tergeletak di meja.
Lalu semua sibuk dengan kepentingan perut masing-masing.
Mangkoknya kosong.
“Bos…!” Ia memanggil penjaga warung. Perempuan itu berhenti makan. Menatapnya agak kaget. Apakah buru-buru? begitu ia membaca isyarat di mata yang tertutup bungkai hitam itu.
“Ya, Ak?”

“Tambah minumnya.” Ia melirik si perempuan yang kembali tertunduk dan sibuk dengan bubur ketan hitamnya. Ia memperhatikan cara makannya. Pelan dan hati-hati. Tak seperti semula yang terlihat agak angkuh; menarik koran dari tangannya, memainkan handphone sambil bernyanyi-nyanyi kecil.
Ia meneguk minumnya. Duduk sebentar. Menatap ke luar. Si perempuan ikut mengalihkan pandangan ke luar. Jalan kecil itu basah. Tak ada orang yang lewat. Tak juga kendaraan. Ia berdiri. Perempuan menatapnya dengan pandangan seperti tadi. Kecewa dan tak puas.

Si lelaki menimbang-nimbang sesaat. Perempuan itu masih menatapnya, membiarkan kacamatanya melorot sampai ke hidung, membiarkan sendoknya menggantung begitu saja tanpa jadi masuk ke mulutnya.
“Bos, sudah…”
Ia melirik perempuan itu menunduk. Mengaduk bubur di dengan sendoknya. Seperti seorang yang lama mengidap demam. Kehilangan selera untuk makan.
“Sudah?”

“Mienya sudah. Aku minta rokok…” Ditatapnya si perempuan. Ia tersenyum tanpa menoleh. “… Mild.”
Perempuan itu ikut tersenyum sambil menggeser mangkoknya. Sebagian isinya masih tersisa. Mengambil gelas minumnya. Mereka kembali bertatapan tanpa seorang pun berani saling menyapa.
Ia membakar rokok. Si perempuan kembali mengambil handphonenya. Kembali memencet-mencet tombolnya sambil bernyanyi-nyanyi kecil. Kali ini dengan senyuman yang tak lepas dari bibirnya yang tampak berkilat.
Ia mengusap bibir sendiri. lalu kembali menghisap rokok. Siapakah perempuan ini? Apakah mereka pernah saling mengenal? Teman satu kampus? Bertemu di suatu acara? Kapan? Ia menduga-duga. Tidak! Tidak! Dia bahkan nyaris tak mengenal siapa pun di kampus. Bahkan teman-teman sekelasnya. Ia jarang kuliah, jarang ikut seminar dan tak pernah ikut organisasi apa pun. Lalu bagaimana pula mereka bisa saling kenal? Atau mereka pernah bertemu di sebuah acara? Rasanya tidak juga. Ia merasa tak mengenal wajah perempuan itu dalam acara apa pun. Tapi rasanya betapa begitu akrab?

“Mas, sudah.” Panggil si perempuan dengan muka setengah cemberut.
Ia kaget begitu melihat perempuan itu berdiri.
“Ya,” penjaga warung datang tergopo-gopoh. “Seribu empat ratus, Teh.”
Perempuan itu mengeluarkan dompet. Meliriknya sebentar.
“Dari mana, Teh?”
“Ini, mau ke dokter gigi.” Perempuan itu menunjuk rumah di seberang jalan.
“Oh, mau periksa..”
Perempuan itu mengangguk. Berdiri menunggu kembalian uangnya. Sementara dia terpaku di tempatnya; menyesali banyak waktu dan kesempatan.
Tanpa menoleh perempuan itu meninggalkan warung. Langkahnya terasa lamban. seperti menunggu sebuah panggilan, lalu menyeberang jalan. Di luar gerimis sepertinya sudah dari tadi padam.***
Poetika, 2008-2010

Catatan:
-Ak, aak (Sunda): mas/abang.
-Teh, teteh (Sunda): mbak.