26 C
Medan
Wednesday, January 14, 2026
Home Blog Page 14963

Cuma Rp100 Ribu, Bisa Pilih Film Sesuka Hati

Cinema Club, Nonton Film Tiga Dimensi

Menonton film merupakan salah satu cara yang kerap dilakukan untuk menghilangkan rasa jenuh setelah menjalani rutinitas sehari-hari. Namun, skedul yang padat sering sekali membuat kita menunda menyaksikan film Favorit
Jadwal pemutaran film di teater sudah ditentukan terkadang tidak sesuai dengan waktu luang yang ada. Mau tak mau pengaturan skedul harus dilakukan. Namun trik itu tidak selamanya berhasil mengingat skedul tak terduga yang membuat keinginan tadi kembali tertunda. Jadinya, acara menonton baru terealisasi beberapa hari dari penanyangan perdana dilakukan. Tentunya dalam suasana yang tidak seheboh saat keinginan tadi pertama muncul.

Begitu juga dengan pilihan film yang sudah ditentukan dan terbatas tidak memberikan banyak pilihan. Pengunjung pun datang, membeli tiket sesuai film yang diputar, menyerahkan tiket, kemudian memilih tempat sesuai dengan nomor di tiket. Dengan ramainya penonton, tak banyak bisa dilakukan selama menyaksikan film yang diputar di layar lebar. Seperti saat masuk, pengunjung pun meninggalkan teater tanpa sapaan yang bersahabat.

Berbagai kekurangan tadi lalu ditawarkan Cinema Club, Mini Theatre, DVD Original/Blue Ray di Jalan Setia Budi no 190/8 Medan. Sapaan bersahabat pasti didapat dari pegawai Cinema Club yang beroperasi sejak 1 Juni lalu ini. Diikuti pula dengan kenyamanan yang tak kalah dengan suasana di teater-teater ternama Kota Medan sekalipun.
“Selamat siang, Pak. Silakan,” sapa salah seorang pegawai Cinema Club sembari mempersilakan Sumut Pos memilih koleksi film dalam format DVD Original maupun Blue Ray. Terpajang demikian apik pada rak yang didekor ala Clapboard dan roll film. Untuk memudahkan pengunjung, ribuan koleksi tadi dibagi menurut kategori film, action, drama, horor, hingga animasi atau kartun. Dari film Hollywood, Asia, hingga Indonesia.

Berbagai aksesoris yang terpasang di ruangan ini, seperti hiasan dinding dengan motif buble, lampu hias berwarna silver, dan satu set kursi berwarna hitam-putih. Kontras dengan warna orange dan hijau yang melapis seluruh ruangan. Memberi kenyamanan kepada pengunjung dalam memilih film yang ingin ditonton. Pegawai yang ada juga siap memberi informasi tentang film yang akan diputar. Untuk film tiga dimensi, Cinema Club juga menyediakan perlengkapan yang dibutuhkan yaitu kacamata 3D. Jadi pengunjung tinggal terima tenang.

Namun ada yang menarik disaksikan saat pengunjung memilih film. Tidak seperti di teater dimana calon penonton tidak banyak pilihan, pengunjung Cinema Club justru memiliki banyak pilihan. Karena itu tak jarang pengunjung yang didominasi berkelompok ini saling berdiskusi terlebih dahulu. Berdasarkan kesepakatan bersama pula film diserahkan kepada pegawai untuk disaksikan dalam mini teater yang terdapat di lantai dua.

“Situasi seperti itu yang ingin kita cari sebenarnya. Bagaimana hiburan yang ada tetap mempertahankan semangat kebersamaan. Saling menghargai pendapat orang lain sebelum membuat keputusan secara bersama. Khususnya anak-anak sekolah dan keluarga. Ada juga yang berpasangan tapi beberapa pasang. Dari datang dan saat pulang kita selalu mengucapkan terimakasih kepada pengunjung,” ucap Manager Cinema Club, Amirullah Harahap, Kamis (30/6).
Seperti halnya di teater, pengunjung menyusuri jalan lembut menuju mini teater di lantai dua. Dimana tiga mini teater menawarkan suasana yang berbeda dalam kenyamanan. Seperti di satu ruang mini teater yang kebetulan siang itu belum digunakan. Tiga sofa dimana masing-masing untuk dua orang berjejer tiga baris ke belakang mengarah pada layar 55 inch HD TV yang menggunakan teknologi film 3D. Dekorasi ruangan yang unik dan dilengkapi peredam suara dan pendingin ruangan memastikan suara yang dikeluarkan dari power 71 channel siap memacu jantung.

Dengan kapasitas maksimal enam orang per ruangan, kemewahan itu pun menjadi tidak terlalu mahal. Pasalnya untuk setiap pemutaran film, pengunjung hanya membayar Rp100 ribu. Jadi per orang hanya mengeluarkan uang sekitar Rp20 ribuan. Melengkapi, terdapat pula mini bar yang memberi pengunjung kebebasan untuk memilih cemilan. Bahkan santapan ala kuliner pun dapat dinikmati di sini. Seperti nasi goreng dan kentang goreng dengan citarasa yang khas pula menemani acara menonton film yang disukai. Begitu pula usai menonton, beberapa set kursi disiapkan di depan bagi pengunjung untuk bersantai sejenak sebelum bubar. Selama masa promosi ini, Cinema Club juga menyambut pengunjung dengan Free Welcome Drink.

Semua kemewahan dengan kesederhanaan yang ditawarkan mendapat antusias masyarakat. Sejak beroperasi, ketiga mini teater yang ada selalu penuh. Selain pelajar, remaja, dan keluarga menjadi pengunjung yang paling banyak. Cinema Club juga menerima pemesanan untuk waktu pemutaran. Seperti Adit yang datang bersama ibu dan saudaranya Satria. Usai menonton film Twilight, mereka memesan untuk kembali menonton pukul 20.00 WIB.
“Lebih asyik di sini dari di teater. Nanti malam mau nonton 3 Hornet dan Rumah Darah,” ucapnya.

Adalah William Atapary menghadirkan Cinema Club untuk memberikan hiburan dengan suasana berbeda. Melihat antusias masyarakat, Willi pun menambah mini teater di lantai tiga. Satu ruangan bahkan dibuat eksklusif. “Saya masih memikirkan konsep sehingga pengunjung betul-betul merasakan kemewahan tersendiri namun terjangkau,” pungkasnya. (*)

Khitanan Massal Warnai HUT Bhayangkara

SERGAI- Polres Serdang Bedagai menggelar khitanan massal Kamis (30/6) di rumah dinas Kapolres Serdang Bedagai di Sei Rampah.  Dalam kesempatan itu, 62 anak usia baliqh dikhitankan.

Acara itu tersendiri telaksana berkat kerjasama Polres Serdang Bedagai dengan Lasykar Cinta Sergai. Khitanan itu dipimpin tim medis dr  Jon Yi.

Menurut Kapolres Sergai AKBP Arif Budiman SH MH kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan sosial berkaitan dengan HUT Bhayangkara ke- 65 di wilayah hokum Polres Serdang Bedagai.

“Polisi merupakan pelayan dan pengayom masyarakat, sehingga aktivitasnya harus selalu menyentuh dengan masyarakat itu sendiri,” bilangnya.

Sementara itu, keluarga peserta yang mengikuti sunat massal mengaku gembira dan bersyukur karena tertolong dari segi pembiayaan.

Apalagi dari sisi ajaran agama Islam, dimana khitan sangat dianjurkan bagi setiap umat Islam yang sudah baligh. Secara terminologis arti sunat rasul ini adalah memotong kulit yang menutupi alat kelamin lelaki. Dalam bahasa Arab khitan juga digunakan sebagai nama lain alat kelamin lelaki.(mag-15)

Terdakwa-Saksi Tawar Menawar

Sidang Lanjutan Pungli di Jembatan Timbang Sibolangit

MEDAN-Sidang lanjutan pungutan liar (pungli) terhadap sejumlah truk yang melintas di Jembatan Timbang Sibolangit, yang dilakukan tiga pegawai Dishub Sumut, kembali digelar Pengadilan Negeri Medan, Kamis (30/6).
Jaksa penuntut umum (JPU) menghadirkan saksi dari bidang Intel Kejatisu dan ketiga terdakwa yang melakukan pengutan liar di Unit Pelaksana Penimbangan Kendaraan Bermotor (UPPKB) Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Panal Simamora (54), Ahmad Sofyan Batubara (42), dan Marlon Sinaga (51).

Sidang dipimpin Ketua Majelis Hakim Acmad Guntur SH dengan agenda mendengarkan keterangan saksi Frangki Manurung, yang bertugas di bidang Intel Kejati Sumut, yang ditugaskan untuk meringkus dan memantau ketiga terdakwa.

Di depan persidangan saksi mengatakan, saat ia melakukan penyamaran dan penyelidikan, dirinya  menyamar dam berpura-pura sebagai kernet truk pengangkut jagung.

“Di jembatan timbang Sibolangit, saya melihat lebih kurang 150 mobil truk yang mengantre, untuk menyetor pada petugas jembatan timbangan itu,” ujar Frangki Manurung.

Manurung juga mengatakan kalau dirinya melihat salah seorang terdakwa yakni, Panal Simamora menerima uang dari kernet truk dan memberikannya pada kedua terdakwa lainnya.

Saksi juga membeberkan kalau terdakwa  langsung dimintai uang Rp150 ribu. “Apa bila kami tidak memberikan uang sebesar Rp150 ribu, kami dipaksa menurunkan muatan separuh di pinggir jalan.Yang membuat kami heran, mereka kok tahu kalau truk kami melebihi tonase, sementara monitor timbangan itu mati,” tegas saksi.
Lebih lanjut dikatakan Frangki, untuk menjebak ketiga terdakwa dirinya mencoba melakukan negosiasi dengan tawar menawar harga.

“Saya juga mencoba memberikan uang sebesar Rp50 ribu, pada terdakwa. Terdakwa Panal Simamora menolak dan berusaha meminta tambahan dari uang yang saya kasih. Setelah uang saya kasih, terdakwa  memberikan uang tersebut ke terdakwa lainnya yakni Sofyan,” ucap Manurung lagi. (rud)

Langgar Kode Etik, 3 Polisi Gagal Dilantik

MEDAN- Tiga personel polisi di jajaran Poldasu gagal dilantik karena masalah kode etik. Ketiga personel polisi tersebut berasal dari Polres Tobasa dan Sekolah Polisi Negara (SPN) Sampali.

“Pelantikan hari ini (kemarin) terlambat, bukan salah saya. Tapi karena masalah lain yaitu tiga polisi ditunda kenaikan pangkatnya, karena menjalani sidang kode etik tanggal 28 Juni 2011 ini,” ungkap Kapoldasu, Irjen Pol Wisjnu Amat Sastro, saat memberikan pengarahan usai melantik 1.540 personel polisi yang naik pangkat di Aula Kamtibmas Mapoldasu, Kamis (30/6).

Dijelaskannya, karena persoalan itu makanya pelantikan yang seyogianya digelar pukul 14.00 WIB akhirnya baru dimulai pukul 14.30 WIB. Lebih lanjut jenderal bintang dua ini menjelaskan, bagi para pimpinan di jajaran Poldasu untuk tidak ragu, ketika ada anggotanya yang melakukan kesalahan dan tidak bisa dinaikkan pangkat serta sebaliknya. Tapi, ketika memang personel itu berprestasi dan layak maka layaklah dia untuk dinaikkan pangkat.
“Pimpinan jangan ragu untuk menindak anak buahnya. Kalau memang salah, katakan salah dan jelaskan dimana salahnya. Jangan seperti mengapik di ketiak harimau. Dari pada ditanya-tanya bawahan, makanya diusulkan naik pangkat,” tegasnya.

Dijabarkannya, kenaikan pangkat terhadap personel polisi tersebut bukan merupakan hak pribadi bagi para polisi, melainkan karena prestasi yang telah diraihnya. Sesaat sebelum Wisjnu Amat Sastro naik ke lantai II Mapoldasu menuju ruang kerjanya, Wisjnu sempat menuturkan, persoalan yang dihadapi oleh ketiga personel polisi yang gagal naik pangkat tersebut, salah satunya karena masalah perselingkuhan.

Saat memberikan pengarahan, Wisjnu sempat berang dengan salah satu personel polisi dari Polisi Perairan (Polair) yang mendapat kenaikan pangkat. Keberangan itu dikarenakan, baret yang digunakan anggotanya itu kucel.(ari)

Ibu Beranak 4 Gantung Diri

MEDAN LABUHAN-Salmi (50), warga Tangkahan, Medan Labuhan ditemukan tewas gantung diri dengan menggunakan tali nilon di WC rumah keponakannya Sudiarti (49), di Jalan Rawe III, Lorong Rubino, Tangkahan, Medan Labuhan, Kamis (30/6) sekitar pukul 14.30 WIB.

Aksi nekat yang dilakukan ibu beranak 4 itu diduga karena penyakit yang dideritanya bertahun-tahun tak kunjung sembuh. Jenazah Salmi pertama kali ditemukan keponakannya, Sudiarti. Salmi yang baru seminggu menginap di rumah keponakannya itu ditemukan telah gantung di ruang WC dengan menggunakan tali nilon dengan posisi kaki cecah ke tanah dan kepala menengada ke arah belakang lehernya.(ril/smg)

Tiga Kapal Nelayan Dirompak

BELAWAN- Tiga kapal nelayan masing-masing milik Gudang SBU dan Gudang JHL Belawan menjadi korban perompakan penjahat di Perairan Selat Malaka, Kamis (30/6) dini hari. Awak kapal juga disandera para perompak. Informasi yang diperoleh, para perompak dilengkapi dengan senjata api meminta kepada pemilik kapal untuk menebus kapal.

Ketua HNSI Kota Medan, Zulfahri Siagian meminta kepada polisi agar bisa lebih meningkatkan patroli agar keamanan nelayan di laut agar lebih terjamin. “Perompakan terhadap sudah sering terjadi namun sangat disayangkan kepada instansi terkait yang kurang melakukan pengawasan terhadap keselamatan para nelayan sehingga kejadian seperti ini terulang lagi,” ujarnya. (mag-11)

SPBU-Pertamina Main Mata

BBM Bersubsidi Langka, Diduga Dijual ke Pengusaha

MEDAN-Langkanya bahan bakar bersubsidi, khususnya solar, di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di berbagai daerah di Sumut diduga sarat permainan antara oknum di Pertamina dan pemilik SPBU nakal. Keduanya pihak ditengarai terlibat jaringan mafia penjual BBM bersubsidi ke pengusaha, memanfaatkan disparitas harga.
Hasil penelusuran wartawan koran ini dalam beberapa hari terakhir menunjukkan indikasi permainan para mafia tersebut. Seperti yang terjadi di SPBU Nomor 14.205.1139 di Kecamatan Firdaus, di Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum). Di stasiun BBM di Km 58 itu, ribuan liter BBM jenis solar bersubsidi dijual kepada pengusaha tiap harinya.
Beruntung, polisi berhasil mengamankan ratusan derigen di lokasi SPBU. Polisi juga mengamankan sebuah truk BK 9169 YM untuk mengangkut puluhan derigen tersebut. Rencananya, BBM solar dalam derigen berbagai ukuran itu akan dijual kepada sejumlah pengusaha di Sergai.

Modus penyelewengan solar bersubsidi seperti ini dibenarkan pemilik salah satu SPBU di Kota Tebing Tinggi. Pria yang namanya minta dirahasiakan mengatakan, kelangkaan solar karena ada permainan pengusaha baik pabrik maupun transportasi dengan SPBU. Salah satu dampaknya, pasokan solar di SPBU-nya berkurang. Biasanya dalam sepekan truk tangki pengangkut solar empat kali masuk, sekarang dibatasi cuma dua kali masuk. Dan itu berlaku bagi seluruh SPBU di Sumut.

“SPBU kami sekarang dalam sebulannya hanya dipasok 144 ton solar dari Pertamina, sementara dulunya 188 ton per bulan,” jelasnya.

Menurutnya, spekulan atau agen pengusaha yang bermain biasanya terlebih dahulu melobi pihak pemilik SPBU. Nah, setelah terjadi kesepakatan, pengelola SPBU melobi supir tangki yang selalu membawa BBM dari depo Pertamina ke SPBU. Untuk mengelabui masyarakat, mobil tangki yang biasanya memuat 18 ton menurunkan BBM di SPBU sebanyak 10 ton saja. Sedangkan 8 ton akan dijual pengelola SPBU ke pengusaha.

“Ciri-ciri pengelola SPBU yang melakukan kegiatan tersebut, biasanya mobil tangki pembawa solar sengaja datang malam hari, saat sepi. Biasanya lampu listrik SPBU akan dipadamkan supaya jangan terpantau. Bahkan biasanya sang supir diberi uang untuk membawa minyak tersebut menuju pabrik. Rata-rata supir tangki menerima Rp400.000 sekali membawa dari pihak pengelola SPBU,” jelas sumber itu.

Untuk permainan pengusaha dengan pembelian menggunakan derigen dengan cara datang pada malam hari menggunakan truk pengangkutan seperti colt disel yang di dalamnya telah disusun derigen kosong. Lampu SPBU akan dimatikan semua dan hanya di bagian depan yang menyala, langsung pekerja SPBU mengisi derigen tersebut.
“Biasanya pihak pengelola  akan mendapat rata-rata Rp2.000 per derigen, model permainan ini sengaja dilakukan malam hari menjelang pagi sekitar pukul 03.00 WIB,” kata sumber itu.

Sementara permainan di tingkat Pertamina Region I Sumut dengan pihak pengelola SPBU adalah dengan pekerja yang membukakan kran saat mengisi tangki mobil. Menurut sumber pihak SPBU akan membayar Rp300.000 per mobil tangki dengan muatan 18 ton. Hal tersebut untuk melebihkan kadar susut dalam perjalanan.
“Untuk mendapatkan jatah terlebih dahulu pihak Pertamina bagian kran pengisiaan rata-rata diminta Rp300.000 per mobil tangki,” jelasnya.

Madus yang sama juga terjadi di daerah Medan Utara. Tapi, di kawasan ini BBM ditimbun dulu di gudang sebelum dijual ke pengusaha pabrik. Gudang-gudang penimbunan itu ada di Jalan Pelabuhan Raya Kelurahan Belawan Dua, Jalan Platina 1 sebelum pintu masuk pintu tol Belmera Medan Deli, Jalan Kapten Rahmad Buddin, Jalan Andan Sari kawasan lahan perkebunan PTPN II Kelurahan Terjun, kawasan Siombak Jalan Nippon Kelurahan Paya Pasir Medan Marelan, Jalan KL Yos Sudarso Martubung dan di samping Kelurahan Besar Kecamatan Medan Labuhan.
Modus yang dilakukan para pelaku adalah mendirikan gudang untuk melakukan aktivitas penimbunan. Hampir rata-rata gudang tersebut hanya berdindingkan tepas untuk mengelabui petugas.

Seorang sumber yang namanya tidak mau dikorankan mengatakan, setiap harinya mulai dari pagi hingga malam, puluhan mobil tangki secara bergantian masuk ke dalam gudang. Setelah sebagian muatannya dikeluarkan mobil tangki tersebut keluar lagi. Lebih lanjut sumber itu mengatakan, umumnnya jumlah minyak yang dikeluarkan dari setiap mobil tangki seperampat drum. Seluruh minyak tersebut ditampung dan setelah cukup dikirim ke pabrik untuk dijual.

Sumber itu menjelaskan diduga aksi penimbunan minyak tersebut berjalan mulus karena mendapat dukungan dari sejumlah oknum aparat dan supir mobil tangki itu sendiri. “Para supir tangki akan mendapatkan uang tambahan,” jelasnya.

Seorang karyawan SPBU yang namanya minta tak ditulis mengatakan kelangkahan BBM juga disebabkan karena penyaluran minyak oleh Pertamina tidak lancar.

“Mobil tangki Pertamina sering datang terlambat untuk mengantarkan pasokan minyak sehingga SPBU sering kehabisan stok,” ujarnya.

Menurutnya, selain penyaluran yang tidak lancar kelangkaan BBM juga karena banyak pengusaha  yang membeli minyak di setiap SPBU. Mereka membeli minyak dengan menggunakan jerigen bahkan ada juga yang sampai mengakutnya dengan mobil dan becak.

“Banyak juga yang mengambil minyak dengan jerigen, kalau tidak dikasih mereka mempunyai surat keterangan sebagai pengecer. Jadi kita serba salah juga kalau tidak memberikan,”jelasnya.
Belum lagi, truk-truk yang melintas yang melakukan pengisian hingga penuh.

External Relation Pertamina Region I Sumbagut, Fitri Erika, mengakui adanya permainan pengusaha SPBU. Menurutnya, ada 14 SPBU tak lagi mendapatkan pasokan BBM dari Pertamina karena melanggar aturan seperti yang diinstruksikan pemerintah. Seperti memberikan BBM bersubsidi jatah usaha-usaha kecil, nelayan dan pelayanan-pelayanan publik kepada kepada pengusaha pemilik pabrik besar.
“Jadi usaha-usaha atau masyarakat dengan taraf ekonomi menengah ke atas tak boleh memakai BBM bersubsidi. Hal ini tentunya sudah menjadi perhatian serius bagi kita. Kita juga telah melakukan pengawasan ketat terkait hal ini. Kita juga sudah memberikan imbauan keras kepada seluruh SPBU untuk tak lagi mengisi jerigen. Kita juga sudah mengawasi adanya pengisian BBM berulang-ulang oleh mobil dan pengisian BBM dengan mobil tangki besar. Mengenai hal ini kita akan mempertanyakan kegunaan BBM tersebut,” ujarnya.

Selain itu, pihaknya juga telah mengimbau industri atau kapal kargo berbendera asing atau rute luar negeri, untuk membeli BBM non subsidi. “Kita juga mengajak masyarakat untuk hemat BBM bersubsidi dengan membeli Pertamax dengan promo hadiah,” kata Erika.

Lebih lanjut Erika mengatakan, pihaknya juga mengajak masyarakat untuk melaporkan jika menemukan kecurigaan adanya penyalahgunakan BBM bersubsidi di saluran informasi dengan nomor telepon 500000.

Adapun ke-14 SPBU yang diberikan sanksi penghentian suplai tersebut yakni dengan nomor 14.201.121 Medan, 14.202.149 Medan Johor, 14.203.163 Lubuk Pakam Deli Serdang, 14.203.1138 Hamparan Perak Deli Serdang, 14.207.182 Langkat, 14.211.237 Karo, 14.211.241 Karo, 14.212.261 Simalungun, 14.212.252 Sei Rengas Asahan, 14.213.264 Asahan, 14.214.246 Labuhan Batu, 14.214.230 Labuhan Batu, 14.214.280 Labuhan Batu, 14.225.311 Sibuluan Sibolga.

Dia mengatakan, sebenarnya tak ada kelangkaan BBM. Menurutnya Pertamina sudah memasok BBM sesuai kuota bahkan berlebih.

“Ngga ada lagi kelangkaan, bahkan kita sudah menyalurkan BBM over kuota di Sumut. Hingga 31 Mei 2011 lalu untuk premium sudah over tujuh persen sedangkan solar lima persen,” ungkapnya.

Erika juga memaparkan, over kuota penyaluran BBM yang tertinggi di Sumut ada di Tebing Tinggi yang mencapai premium 19 persen dan solar 17 persen. Di bawahnya yakni Sibolga dengan premium 17 persen dan solar 16 persen.
“Nah, kemungkinan yang dimaksudkan langka ini karena adanya stop distribusi ke 14 SPBU dari 302 SPBU di Sumut. Kalau di daerah 14 SPBU tersebut tentunya BBM tak ada lagi, dan akan berlangsung seperti itu hingga ke-14 SPBU tersebut mampu memenuhi persyaratan untuk dapat beroperasi kembali,” katanya.

Polisi: Belum Ada Laporan

Sebenarnya dugaan permainan Pertamina dan pengusaha SPBU yang menjual BBM ke pengusaha sudah nyaring terdengar. Namun, polisi tetap tak berhasil membongkarnya. Polisi hanya menangkap pekerja di lapangan tak pernah berhasil menangkap pengusahanya. Alasan polisi belum menerima laporan.

Kasat Reskrim Polres Tebing Tinggi, AKP Lili Astono SiK ketika dikonfirmasi menyatakan begitu pasokan BBM menghilang dipasaran, polisi telah melakukan penyelidikan terhadap spekulan yang coba-coba bermain.
“Kita telah memantau dan melakukan penyelidikan kepada oknum-oknum yang memanfaatkan kesempatan ini, diakuinya pihak polisi belum menerima laporan atapun hasil penyelidikan bahwa ada pengusaha yang membeli solar banyak untuk ditimbun,” tegas Lili.

Kasat Reskrim Polres Serdang Bedagai, AKP TML Tobing juga mengaku belum ditemukan adanya penimbunan oleh oknum pengusaha SPBU. Tapi, katanya, SPBU yang menjual eceran melalui derigen sudah diambil tindakan. “Tindakan yang dilakukan hanya teguran, karena mengganggu konsumen kendaraan,” terangnya.

Kasat Reskrim Polres Pelabuhan Belawan, AKP Hamam mengaku, menurut data kasus yang ditangani Polres Pelabuhan Belawan untuk tahun ini ada 10 kasus. Kasus yang ditangani itu, sambungnya, umumnya menyelewengkan BBM subsidi kepada pengusaha industri.

“Oknum-oknum itu sudah kami tindak tegas,”tandasnya.

Kapolres Tanah Karo AKBP Drs Ig Agung Prasetyoko menjelaskan, dari hasil penyelidikan polisi belum ditemukan adanya pengusaha SPBU yang menjual BBM ke pengusaha indistri. Meskipun demikian, katanya, polisi akan terus melakukan penyelidikan serta pantauan di lapangan. Dia juga meminta segenap lapisan masyarakat  agar saling  menjaga dan memonitoring perjalanan BBM. “Apabila melihat atau menemukan penyelewengan segera melapor kepada polisi terdekat,” katanya. (uma/mag-3/mag-11)

Modus Penyelewengan BBM Bersubsidi

  1. Pengusaha/pemilik pabrik melobi pengelola SPBU.
  2. Setelah terjadi kesepakatan, pengelola SPBU melobi mobil tangki untuk mengurangi pasokan ke tangki SPBU.
  3. Mobil tangki bermuatan 18 ton akan menurunkan 10 ton solarBBM di SPBU. Sedangkan 8 ton lainnya dijual ke pengusaha.
  4. Supir tangki yang membawa minyak menuju pabrik rata-rata menerima fee Rp400.000.
  5. Pengusaha langsung mebeli solar bersubsidi dengan cara datang pada malam hari menggunakan truk pengangkutan seperti colt disel bermuatan derigen kosong.
  6. Ada juga pengusaha SPBU menimbun solar bersubsidi di gudang sebelum dijual ke pengusaha pabrik. Umumnya gudang tersebut berdinding tepas untuk mengelabui petugas.

Sumber: Pengusaha SPBU dan Hasil Investigasi Sumut Pos

9 Juli, Daftar Ulang di USU

Pengumuman SNMPTN, Unimed Sisakan 39 Kursi Kosong

MEDAN-Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) sudah di umumkan sejak Rabu (29/6) pukul 19.00. Namun, bukan berarti siswa yang sudah dinyatakan lulus SNMPTN bisa berleha-leha.

Sebab, mereka masih harus menjalani serangkaian agenda penting lainnya. Salah satunya, proses daftar ulang.
Bagi 3.234 calon mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) yang lulus ujian SNMPTN diminta melapor pada tanggal yang ditetapkan panitia lokal. “Kepada peserta yang telah diterima di USU diwajibkan melakukan pelaporan pada 9 Juli 2011,” terang Rektor USU Prof Syahril Pasaribu melalui Pembantu Rektor II Prof Armansyah Ginting, Rabu (29/6).

Pelaporan dipusatkan di Gelanggang Mahasiswa USU. Untuk Kelompok Eksakta dimulai pukul 08.30 WIB hingga 09.30 WIB sedangkan untuk Kelompok Non Eksakta 13.00 WIB hingga 14.00 WIB.Sedangkan persyaratan untuk melapor, peserta harus datang sendiri, tak boleh diwakilkan. Berpakaian rapi dengan syarat membawa kartu SNMPTN Jalur Ujian Tulis Asli, Ijazah asli/SKHU (Surat Keterangan Hasil Ujian) yang diterbitkan oleh sekolah asal dan dilengkapi pas photo 3X4.

Sementara itu, di Universitas Negeri Medan (Unimed) menyisakan 39 bangku kosong dari jumlah kuota sesuai keputusan Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) yakni berjumlah 2.944 mahasiswa baru.

“Untuk sisa kuota ini nantinya akan kita masukkan ke dalam program reguler dan non reguler, melalui seleksi lokal masuk perguruan tinggi negeri (SLMPTN) yag terbagi dalam 31 program studi,” jelas Rektor Unimed Prof Dr Ibnu Hajar MSi dalam di gedung Biro Rektor Unimed, kemarin.

Seleksi itu sendiri dibuka 30 Juni sampai 8 Juli dari pagi hingga pukul 12.00 WIB, dan pendaftaran online akan berakhir pada 9 Juli hingga pukul 16.00 WIB.

Secara nasional, SNMPTN diumumkan sejak pukul 19.00, kemarin. Peserta yang lulus belum tentu akan diterima langsung di universitas penyelenggara SNMPTN. Calon mahasiswa harus mendaftar ulang sesuai jadwal yang ditentukan masing-masing universitas. “Harus diperhatikan betul jadwalnya. Jangan sampai terlambat karena fatal akibatnya,” ujar ketua Panitia Pelaksana SNMPTN 2011 H Herry Suhardiyanto.

Ketua Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI) Musliar Kasim membenarkan hal itu. Daftar ulang tidak diatur serentak layaknya SNMPTN. Setiap universitas memiliki kebijakan tersendiri terkait proses daftar ulang dan besaran uang pendaftaran. “Termasuk besaran cicilan daftar ulang,” katanya.

Karena kembali ke kebijakan masing-masing universitas itulah menurut Musliar calon peserta harus jeli. Jangan sampai terpengaruh teman yang tidak daftar satu universitas mengenai jadwal daftar ulang. “Sering-sering cari informasi. Termasuk membuka website universitas untuk mendapat jadwal pasti,” imbuhnya.

Vitalnya daftar ulang bukan tanpa bukti. Musliar yang juga rektor Universitas Adalas (Unand) Padang Sumatera Barat itu menyebut angka peserta lolos SNMPTN yang tidak melanjutkan ke proses daftar ulang cukup tinggi. Biasanya, jumlah tersebut mencapai 15 persen. “Termasuk di Unand,” paparnya.

Kalau Musliar menyebut potensi siswa yang tidak mendaftar ulang mencapai 15 persen, berarti dari 118.233 siswa yang lulus, sebesar 17.734 siswa tidak daftar. Kenapa bisa sebesar itu? Dia menyebut ada banyak faktor. Yang paling besar adalah pindah prodi karena saat mendaftar siswa mengisi beberapa prodi.

Disamping itu, fanatisme terhadap satu prodi tertentu juga bisa membuat siswa mundur. Kalau dia tidak merasa sreg dengan prodi yang lolos di SNMPTN, biasanya calon mahasiswa akan mundur dan tidak daftar ulang. “Kalau tidak, biasanya mereka tetap daftar ulang tetapi tahun depan ikut tes lagi,” jelasnya.
Bagaimana yang tidak lulus SNMPTN tetapi tetap ingin masuk universitas favoritnya? Ketua Panitia Seleksi H Herry Suhardiyanto kembali menjelaskan bisa melalui jalur mandiri. Namun, untuk itu siswa juga harus pintar-pintar mencari informasi. “Jadwalnya berbeda-beda tidak serempak,” ucapnya.

Saat ini, beberapa universitas juga sudah mulai memasang pengumuman jalur mandiri tersebut. Unand misalnya, jalur mandiri dibuka mulai 1-8 Juli dan ujian dilaksanakan 11 Juli. Di Unpad prosesi mulai 5 Mei-12 Juli dengan pengumuman 17 juli.

Herry menambahkan, jalur mandiri itu bisa menjadi penting sebab data sebelumnya, terdapat peserta kelompok IPA maupun IPS yang tidak lulus ujian tulis meski nilainya di kisaran 80-90. Dia menjelaskan, banyak calon mahasiswa pintar yang tidak lulus ujian tulis karena tidak cerdas memilih prodi. “Karena ada kecenderungan memilih prodi-prodi yang sedang tren atau populer,” kata rektor IPB itu.

Terkait prodi, Dirjen Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) Djoko Santoso menyayangkan sampai adanya salah memilih prodi. Fanatisme terhadap satu prodi itu menurutnya justru bisa menjerumuskan calon mahasiswa. “Tidak ada prodi yang tidak berguna,” jelasnya.

Oleh sebab itu, dia berhara pada ujian mandiri nanti dan SNMPTN berikutnya tidak ada lagi yang menganaktirikan satu prodi tertentu. Baginya, prodi muncul karena memang dibutuhkan bagi lapangan kerja. Ujung-ujungnya, dia meminta kepada beberapa piha untuk mempopulerkan semua prodi. “Termasuk sekolah dan media,” tandasnya.
Untuk pelaksanaan seleksi mandiri tersebut, dia mengaku sudah pasrah terhadap setiap universitas. Artinya, tidak akan ada lagi pengawasan berlebihan kepada pelaksanaan ujian. Dia cukup yakin jika perguruan tinggi bisa melakukan ujian dengan baik, jujur dan lancar. “Masa saya tidak percaya kepada perguruan tinggi,” urainya. (saz/uma/dim/jpnn)

Sukses, Diikuti 3 Ribuan Anak

Sunat Massal Sumut Pos

MEDAN-Lebih dari 3 ribu anak laki-laki akhirnya dikhitan massal yang tersebar di 30 lokasi di kota Medan, Rabu (29/6). Pelaksanaan khitanan massal yang bertepatan perayaan Isra’ Mi’raj Rasulullah Muhammad SAW yang jatuh pada 27 Rajab 1432 Hijriyah ini berlangsung sukses dan meriah.

Di lokasi utama khitanan massal yangd igelar Sumut Pos beserta sejumlah organisasi keagamaan dan kemasyarakatan berlangsung di Masjid Taqwa Jalan Pertiwi, Kecamatan Medan Tembung. Sebanyak 100 anak terdaftar sebagai peserta. Tetapi karena tingginya peminta, panitia menerima tambahan 20 anak yang mendaftar di hari Hn
Jumlah itu pun terpaksa dibatasi dengan mempertimbangkan jumlah tenaga medis yang memberikan tenaganya dengan sukarela.

“Tetapi itu semua tidak masalah. Panitia akan melayaninya bila kebutuhan obat masih cukup,” ujar Haryono, penangung jawab khitanan massal di Masjid Taqwa Jalan Pertiwi.

Dari 60 tim medis dari Fakultas Kedokteran UISU, terdiri dari 10 Dokter dan 50 lagi coas serta mahasiwa yang bertugas sebagai asisten dokter. “Kami sudah sering, dan menjadi agenda setahun dua kali. Jadi  sudah terbiasa menghadapi anak-anak, namanya juga anak-anak harus dihadapi dengan baik. Selain itu, praktek ini sudah dipelajari dalam pelajaran dikampus kuliah dan sekarang tinggal aplikasinya saja, “ kata dr Efriandi penanggung jawab tim medis.

Proses khitan pun dimulai. Air mendidih yang dipanaskan di kompor sudah disiapkan untuk membersihkan perlatan medis sambil menunggu anak-anak dipanggil panitia untuk masuk ke ruangan.

Anak-anak berbaris di halaman. Awalnya, 10 anak yang sudah mendaftar ulang masuk secara satu persatu ditemani orangtuanya. Setelah mendapat pengarahan dari dokter, anak-anak dibaringkan di meja yang sudah dilapisi karpet.
Khitanan Masal pun dimulai, seorang anak yang bernama Irwansyah menjerit meminta tolong saat disuntik obat bius lokal. “Mak…” jeritnya sambil memegang tangan orangtuanya. Tim medis menghiburnya sambil menyebut sakit akibat suntikan itu hanya seperti digigit semut.

Tidak hanya Irwansayah yang menjerit, Sulaiman ikut-ikutan meminta tolong kepada orangtuanya. Suasana di dua ruangan yang dipakai untuk khitanan massal menjadi gaduh dengan suara jeritan anak-anak yang bermacam-macam jeritan dicampur tangis. “Tolong…, Udah bang sakit… sakit…,” suara jeritan bersahutan.

Padahal, banyak anak-anak tersebut menjerit ketika dokter belum lagi melakukan tindakan apa-apa. “Sakit?” Tanya dokter sambil menempelkan gunting tumpul. “Sakiiitt…,” jawab seorang anak. “Padahal kan belum diapa-apain,” canda dokter yang disambut tawa orangtua peserta sunat.

Suasana menjadi ceria kembali dengan canda tawa dokter bersama orangtua yang mejaganya.
Dokter, juga tidak sembarangan melakukan khitanan terhadap anak tersebut. Bila dalam pemeriksaan ada ditemukan sedang yang sakit, pihak dokter tidak mengizinkannya untuk khitanan. “Maaf ya bu…. Anak ibu sedang sakit cacar air. Jadi belum bisa kita melakukan khitanan,” ungklap dokter itu.

Ketua Pimpinan Wilayah Muhamaddiyah Sumut, Hasmani, yang datang ke lokasi bersama rombongan menyatakan dukungan penuh dengan terlaksananya acara tersebut. “Ini ibadah sosial, ke depan kita akan melaksanakan acara ini agar semakin sukses. Insya Allah,” katanya di sela-sela acara.

Sedangkan di lokasi di SMP Muhammadiyah Tegal Sari Mandala, 60 mengikuti gelaran khitan massal. Dengan sabar menanti acara tersebut dimulai. Mereka tetap ceria meski acara sempat tertunda satu jam dari jadwal semula dan baru dimulai pukul 09.00 WIB.

Ketua Panitia local, Erwin Muslim, membuka acara dilanjutkan sambutan Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Tegal Sari Mandala Ismeth Syah, kemudian dilanjutkan oleh tokoh masyarakat N Rangkuti.
Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Tegal Sari Ismeth Syah menyatakan, seharusnya peserta khitanan massal sebanyak 130 peserta. Namun karena banyak titik khitan massal, peserta berpindah ke lokasi terdekat dari rumah mereka.

Setelah itu, khitanan massal dimulai. Beberapa peserta yang pertama dikhitan adalah Rizky Maulana. Anak berusia 9 tahun ini didampingi ibunya Nurani (39). Rizky terus-menerus membaca ayat-ayat suci Alqur’an. Surat al Fatihah, Al Ikhlas terus-terusan berkumandang dari bibir mungilnya.

Lain halnya dengan Rasyid Ridho. Anak kelas 1 SMP berusia 13 tahun yang didampingi sang kakek N Rangkuti terus mengerang. Bukan karena kesakitan, melainkan karena ketakutan terhadap jarum suntik.
“Aduh, aduh…sakit,” ungkap Rasyid Ridho saat jarum suntik mulai disuntikan kepada Rasyid. Melihat itu, sang kakek berupaya untuk menenangkannya.

Sedangkan  Anggi Hasonangan Daulay (14) yang juga dikhitan, tampak tenang. “Ini anak kami ketiga dari tiga bersaudara,” kata ayah Anggi, Abdul Kadir Daulay (53) didampingi ibunya Nurmawani Hasibuan (42) kepada Sumut Pos.

Suara tangisan pun pecah di lokasi khitan massal lainnya di Jalan Sekata No 55 Sei Agul Kecamatan Medan Barat.
Junaidi (9), anak Hamdani (43), Ketua Panitia Khitan Massal di lokasi tersebut menangis sejadi-jadinya. Namun, Hamdani sabar memberi semangat kepada putranya.

Mengenai penyelenggaraan khitan massal di lokasi tersebut, Hamdani menjelaskan, gelaran itu diikuti 30 anak. Dokter yang bertugas pada khitan massal tersebut berasal dari Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (FK USU) sebanyak 15 orang.

“Seharusnya 60 orang peserta, tapi ya itu karena banyak titiknya jadi peserta yang telah mendaftar akhirnya khitan di lokasi lainnya,” terangnya.(adl/ari)

Bakal Serap Banyak Putra Daerah

Nasionalisasi PT Inalum 2013

JAKARTA-Pengelolaan PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) pasca 2013 yang akan melibatkan pemda, bukan saja akan menambah pundi-pundi pendapatan Pemprov Sumut dan 10 kabupaten/kota yang ada di sekitar Danau Toba. Perusahaan level internasional itu juga dipastikan akan bermanfaat langsung bagi putra-putri daerah.

Anggota Komisi VI DPR Nasril Bahar meyakini, bakal makin banyak lagi putra daerah yang terserap menjadi tenaga kerja level ahli (skill) di perusahaan yang selama ini dikendalikan konsorsium perusahaan Jepang itu.

Politisi asal PAN itu menjelaskan, ada tiga level tenaga kerja, yakni buruh kasar, tenaga ahli, dan level manajerial. Selama ini, tatkala mayoritas saham Inalum dikuasai Jepang, sudah banyak putra daerah asal Sumatera (tak sebatas Sumut), yang bekerja di level ahli di perusahaan Inalum.

“Ketika nanti 100 persen saham dikuasai pemerintah dan pemda dilibatkan, yang dikelola BUMN dan BUMD, maka otomatis akan banyak lagi putra daerah yang bekerja di Inalum,” terang Nasril kepada koran ini di Jakarta, kemarin (29/6).

Dia juga yakin, pasca 2013 nanti tidak ada lagi tenaga kerja asing yang bekerja di Inalum. Alasannya, sudah terjadi alih penguasaan teknologi, dari tenaga kerja asing, ke tenaga kerja lokal. “Putra bangsa kita sendiri sudah bisa menguasai teknologi yang ada di Inalum,” terangnya.

Terkait berapa porsi tenaga kerja putra Sumut dibanding dengan putra non Sumut, kata Nasril, hal itu sepenuhnya tergantung pembicaraan antara pusat dengan pemda. Yang pasti, untuk tingkat manajerial, baik Pemprov maupun 10 Pemkab/Pemko jika memang nantinya mendapat porsi saham, akan menempatkan orang-orangnya di Inalum.
“Jadi tak perlu khawatir. Putra daerah pasti terserap, tanpa harus melupakan bahwa ini NKRI. Akan lebih mudah dibicarakan jika 100 persen saham sudah dikuasai pemerintah. Tinggal nanti bagaimana sharing sahamnya dengan pemda,” paparnya.

Dia menjelaskan, ketentuan mengenai penyerapan tenaga lokal itu sudah diatur di UU Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal.

Seperti diketahui, keterlibatan pemda dalam pengelolaan Inalum sudah dijanjikan para petinggi di Jakarta. Pemprov dan 10 bupati/wali kota pun dilibatkan menjadi anggota tim pengambialihan Inalum.

Untuk proses keterlibatan pengelolaan Inalum ini, pemda akan membentuk perusahaan konsorsium. Bupati Samosir Mangindar Simbolon, yang juga juru bicara 10 bupati/walikota dimaksud, menjelaskan, kemungkinan pemda akan menggandeng pihak swasta, yang akan menyokong pendaan penyertaan modal sesuai porsi saham yang akan didapatkan.

Sebelumnya diberitakan, Menteri BUMN Mustafa Abubakar mempersilakan pemda membentuk konsorsium. Meski belum dibahas berapa jatah saham Inalum yang akan diberikan ke pemda, Mustafa memberikan sinyal jatah saham itu pasti ada. “Pemerintah terbuka. Kita ingin tetap ada hubungan yang harmonis antara pusat dengan daerah,” kata Mustafa kepada koran ini beberapa waktu lalu.

Menteri Perindustrian MS Hidayat, selaku ketua tim negosiasi yang dibentuk pemerintah RI, juga sudah menyarankan agar 10 kabupaten/kota dan Pemprov Sumut membentuk konsorsium perusahaan daerah.
Ke-10 kabupaten/kota yang ada di sekitar danau Toba yakni Taput, Tobasa, Samosir, Humbahas, Simalungun, Karo, dan Dairi. Sedang tiga kabupaten/kota di bagian hilir Danau Toba yakni Asahan, Batubara, dan Kota Tanjung Balai. (sam)