24 C
Medan
Wednesday, January 14, 2026
Home Blog Page 14966

Kajari Heran Terdakwa Bisa Bawa Pemutih

LBH Medan: Kinerja Pengawal Tahanan Lemah

MEDAN- Asal pemutih pakaian yang digunakan terdakwa kasus narkoba Arif Firmansyah, dalam percobaan bunuh diri di ruang sidang kemarin, masih menyisakan tanda tanya. Pengawal tahanan yang menjaga Arif pun tidak tahu dari mana Arif mendapatkan cairan pemutih tersebut.

“Kita sudah konfrontir pada pengawal tahanan, dari mana asal pemutih pakaian diperoleh terdakwa. Namun, mereka juga tidak tahu dari mana,” kata Kepala Kejaksaan Negeri Medan Radja Nofrijal kepada wartawan, Selasa (28/6).

Berdasarkan pengakuan pengawal tahanan, lanjut Radja, sebelum mereka (tahanan, Red) dibawa dari Rutan, semua diperiksa satu per satu. “Kita heran juga dari mana asal benda itu? Kita juga tidak tahu, apakah ada teman atau orang lain yang dikenalnya membawa pemutih pakaian itu, bisa saja terjadi,” katanya lagi.

Karenanya, untuk menindaklanjuti kasus percobaan bunuh diri ini pihak kepolisian sedang menyelidikinya.
Sedangkan kondisi terdakwa, saat ini masih dalam perawatan intensif di RSU Malahayati Medan.

Ketika disinggung masalah biaya perobatan terdakwa, Radja mengaku masih bingung memikirkan dari mana biayanya. “Kita belum tahu dari mana anggaran untuk biaya perobatan itu. Kita saja tidak tahu dari mana biaya untuk perobatan bagi terdakwa. Pening saya. Harus dari mana biaya perobatan terdakwa,” keluh Radja.

Aksi percobaan bunuh diri ini mendapat perhatian serius dari Wakil Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan, Muslim Muis. “Kita heran, apa saja kerja aparat keamanan yang bertugas mengawal tahanan itu? Kok bisa terdakwa mendapatkan cairan pemutih pakaian sebagai alat percobaan bunuh diri? Pimpinan Kepolisian, Kejaksaan dan Pengadilan Negeri Medan harus menanggapi masalah ini secara serius dan memanggil sejumlah petugas yang saat itu melakukan penjagaan. Kenapa barang itu bisa ada di tangan terdakwa?” tegas Muslim.

Muslim menilai, penjagaan petugas pengawal tahanan ini sangat lemah sehingga dapat berdampak buruk. “Itu baru cairan pemutih, kalau sempat senjata api ataupun bom, apa tidak kacau semua. Nah, inilah bentuk lemahnya pengawasan terhadap barang-barang bawaan milik tahanan yang dibawa keluarganya tanpa diperiksa secara teliti,” tegas Muis.

Diketahui, Arif Firmansayah (26) terdakwa kasus narkoba warga Jalan Beringin Komplek Wartawan No 45 A, Kelurahan Pulo Brayan Darat II, Kecamatan Medan Timur, nekat menenggak cairan pemutih pakaian di depan majelis hakim, sebelum sidang putusan digelar, Senin (26/6) pukul 16.30 WIB. Aksi nekat itu dilakukannya diduga karena depresi jelang mendengarkan pembacaan putusan oleh ketua majelis hakim Wahiddin SH.

Untuk menyelamatkan nyawanya, Arif diboyong petugas pengawal tahanan Kejari Medan ke IGD Rumah Sakit Umum (RSU) Malahayati Medan, guna mendapatkan pertolongan pertama. Hingga kemarin (28/6), Arif masih menjalani perawatan di rumah sakit yang tak jauh dari Pengadilan Negeri Medan itu.(rud)

Pedagang Daging Jangan Berspekulasi

Pemerintah berjanji untuk menjaga harga daging sapi agar tidak menjadi permainan spekulan, di mana saat ini harga daging terbilang melonjak. Di pasaran, harga daging sapi naik berkisar 15 persen, dari Rp65 ribu per kilo menjadi Rp75 ribu per kilo.

Seperti apa langkah yang diambil Pemko Medan dalam mengatasi melonjaknya harga daging ini? Berikut wawancara wartawan Sumut Pos Adlan Nasution dengan Kepala Dinas Pertanian dan Kelautan Wahid, kemarin.

Sebenarnya, apa yang menyebabkan harga daging melonjak?
Penyebab melonjaknya harga daging, salah satu diantaranya terputusnya import sapi dari Australia ke Indonesia. Hal ini menyebabkan kita kesulitan mendapatkan daging sapi. Namun begitu, kita telah mencari solusi untuk mengatasi masalah ini. Saya harap masyarakat jangan khawatir, karena kenaikan harga daging ini hanya sementara.

Sampai Kapan?
Saya belum bisa memprediksi sampai kapan. Namun saya yakin, hal ini tidak lama.

Bagaimana dengan para spekulan yang mengambil keuntungan dalam kondisi ini?
Saya belum bisa berasumsi, ini merupakan hukum pasar. Jadi begitu diketahui daging sudah mulai sulit, pedagang mulai bermain dengan harga. Diharapkan pedagang jangan berspekulasi dengan harga.
Kita akan melakukan pengawasan dengan turun ke lapangan. Bila ada ditemukan pedagang melakukan sepekulasi terhadap harga, akan kita berikan tindakan. Pedagang pun janganlah mempersulit masyarakat dengan menaikkan harga sesuka hati.

Bagaimana dengan persiapan di Bulan Ramadan?
Saya rasa tidak ada masalah. Pemerintah pusat telah mencari solusi dengan membuat kebijakan mengimport sapi dari Selandia Baru dan Brazil. Jadi, tidak ada masalah jika sapi dari Australia distop.(*)

Ayah Pukuli Anak Hingga Kritis

BINJAI- Ayah mana yang tahan melihat tingkah laku anaknya yang kerab buat masalah. Apalagi, anak itu tega memukul ibu yang telah melahirkannya ke dunia ini.

Hal itulah dirasakan Sartono (50), warga Pasar I Sei Remban, Desa Tanjung Jati, Kecamatan Binjai, Kabupaten Langkat, ketika melihat perlakuan Asfendi (28), anak sulungnya, memukuli adik serta ibunya, Selasa (28/6) sekitar pukul 04.30 WIB.

Tak tahan melihat perlakuan anaknya itu, Sartono pun pitam dan menghajar Asfendi hingga babak belur. Akibatnya, Asfendi mengalami luka robek di bagian kepala sebalah kiri, dan mendapat 22 jaitan, hidung dan kuping sebelah kanan, mengeluarkan darah, serta mata sebelah kanan memar dan membengkak.

Asfendi terpaksa dilarikan ke RS Artha Medica, Jalan Samanhudi, Kecamatan Binjai Kota, guna mendapat perawatan atas luka yang dideritanya.

Menurut Sartono, saat ditemui di Mapolresta Binjai mengatakan, perbuatannya itu dilakukan karena idak tahan melihat perlakuan Asfendi aterhadap istri dan anaknya yang sudah kelewat batas.

“Saya sudah tidak tahan melihat tingkah laku dia (Asfendi-red). Sudah tidak ada kerjaan, tiap hari makai sabu, abis itu, dia pukuli pula ibu dan adiknya,” kesal Sartono. Sartono menerangkan, emosinya tidak terkendali, ketika anaknya itu ingin keluar rumah meminjam sepeda motor adiknya. Tapi, adiknya tidak memberi. Lantas, Asfendi marah dan memukuli adiknya membabi buta.

“Siapa yang nggak marah kalau seperti itu, makanya saya hajar dia menggunakan alu sampai tiga kali,” akunya saat ditemui di Mapolresta Binjai.

Sartono juga mengatakan, kalau dia benar-benar ingin mengahabisi anaknya itu. “Sudah ada niat saya menghabisi dia. Untung ada warga yang memisah. Kalau tidak, saya rasa dia sudah mati di tangan saya,” geramnya.
Asfendi saat di temui di ruang ICU RS Artha Medica, masih meringis kesakitan atas luka lebam dialaminya. Dengan perban melingkar dikepala, dia masih terkulai lemas di tempat tidur rumah sakit tersebut. Kasat Reskrim Polresta Binjai AKP Ronni Bonic, saat dikonfirmasi membenarkan kejadian itu. (dan)

Seminggu Bebas, Masuk Sel Lagi

Mungkin, tak ada kata jera bagi Suyanto (27), warga Jalan Setia Luhur, Gang Ambai, Kelurahan Dwikora, Kecamatan Helvetia. Pasalnya, residivis kambuhan ini harus kembali meringkuk di terali besi. Dia diringkus Polsekta Medan Kota karena melakukan penggelapan sepeda motor, Minggu (26/6) dini hari. Padahal, sang residivis kambuhan ini, baru satu minggu menghirup segarnya udara bebas dari Lembaga Pemasyarakatan (LP) Tanjung Gusta karena kasus jambret.  Tersangka diciduk dari Jalan Garu I, Kecamatan Medan Kota. Dari tangan pelaku, disita satu unit sepeda motor milik Mansyur Syahputra (42).

“Hasil penyelidikan, korban meminta tersangka membelikan rokok. Karena jarak warung lumayan jauh maka Suyanto meminjam sepeda motor Mansyur. Tetapi hingga beberapa hari kendaraan roda dua itu tak kunjung dikembalikan,” ujar Kapolsekta Medan Kota Kompol Sandy Sinurat SiK didampingi Kanit Intel AKP M Yamin, Senin (27/6).

Dijelaskannya, saat Suyanto melintas di Jalan Garu I kebetulan tersangka terlihat di kawasan itu. Seketika korban membuat laporan ke Mapolsekta Medan Kota. Begitu menerima laporan, Polisi langsung melakukan penangkapan. (ari)

PS Tasbi Tebar Ancaman di DANSUP POMAL Cup I/2-1

MEDAN- PS Tasbi bertekad mengukir prestasi apik di ajang Turnamen DANSUP POMAL Cup I/2-1 yang rencananya akan digelar 1-26 Juli 2011 mendatang di Stadion Samura Kabanjahe.

Predikat sebagai tim terbaik sepak bola Kota Medan usai menjuarai Kompetisi Antar PS yang digelar Pengcab PSSI Medan 2010 lalu, jelas menjadikan tim yang dilatih oleh Rizal Dosin ini, menjadi salah satu tim yang pantas untuk diunggulkan dan pantas diwaspadai, meski ajang ini juga akan diikuti oleh PSMS U-21.

Menurut Ketua Umum PS Tasbi, Ricky Fahreza Syafii, bahwa komitmen pembinaan yang terus dilaksanakan secara intens dan berkesinambungan dalam dua tahun terakhir, menjadikan mereka lebih padu dan lebih kompak.
“PS Tasbi tetap menjaga komitmen di jalur pembinaan. Ketika menjuarai Kompetisi Pengcab PSSI Medan 2010 lalu, mayoritas pemain merupakan kelahiran 1992. Dan hingga kini materi pemain tak banyak mengalami perubahan. Mereka telah melewati banyak pertandingan bersama dalam dua tahun belakangan. Hal itu membuat mereka semakin padu dan semakin baik pula. Kami yakin bisa menampilkan yang terbaik,” terangnya.

Selain itu Ricky juga berharap ajang ini bisa lebih mematangkan tim, saat mengikuti Turnamen Piala PSMS yang rencananya bakal digelar Juli mendatang.

“Kita juga mengharapkan PS Tasbi bisa memetik pelajaran berharga dari keikutsertaannya di ajang Turnamen DANSUP POMAL Cup I/2-1 kali ini, sebelum mengikuti Turnaman Piala PSMS. Dan meski di Turnamen Piala PSMS nantinya diperuntukkan bagi bebas usia, PS Tasbi akan tetap mengandalkan pemain U-21 nya, karena komitmen kita tetap pada pembinaan pemain U-21,” sambung Ricky.

Selain sukses mejadi tim terbaik di Medan 2010 lalu, PS Tasbi juga sempat mengukir prestasi sebagai Juara I PSLB Cup 2010, Juara IV dan Tim Fairplay di ajang Danlantamal I Cup 2011, serta sempat pula mengikuti ajang Rao Jaya Cup di Pasaman Sumatera Barat beberapa waktu lalu.

Sebagai bentuk persiapan, PS Tasbi juga rutin menggelar berbagai laga uji coba. Bahkan beberapa waktu lalu PS Tasbi sempat pula menghajar PS AD dengan skor 2-0 pada laga persahabatan. Sebuah hasil yang bisa jadi jaminan bahwa PS Tasbi akan mampu menebar ancaman serius di Bumi Turang, Tanah Karo nantinya. (ful)

Sumut Gagal Pertahankan Gelar

PARAPAT-Setelah kontingen Sumut yang berlaga di ajang Porwil Sumatera di Kepri gagal mempertahankan gelar juara umum, kini giliran tim tinju Sumut mengalami hal serupa di ajang Kejurnas Tinju Junior dan Youth 2011 dalam rangka Lake Toba Eco Tourism Sport VII yang  berakhir,Senin (27/6) di Open Stage Parapat.

Tampil sebagai juara umum pada Kejurnas Tinju Junior dan Youth 2011 adalah Sulawesi Utara dan Riau Sulawesi Utara tampil sebagai juara umum setelah merajai di nomor Junior putra-putri dengan merebut 5 emas dan 2 perunggu, sementara Provinsi Riau menjadi yang terbaik di nomor Youth dengan merebut 6 eamas dan3 perunggu.
Secara keseluruhan kontingen Riau menjadi pengumpul medali terbanyak dengan 9 emas, 1 perak dan 6 perunggu. Di kelompok junior Riau mengoleksi 3 emas, 1 perak dan 3 perunggu lewat aksi Roberto Ermando (46 kg),Amrizal Manalu (48kg) dan Jeki Rezeki Manalu, sementara medali perunggu diperoleh Teo Pilus Simbolon (44) ,Mardius (50kg) putra.

Seementara Sulut di kategori Youth hanya mampu menambah satu medali emas dari kelas Melfiani Niomba(45kg) Youth putri. Sulut secara keseluruhan meraih 5 emas dua perunggu.
Lima medali emas Sulut diraih petinju mereka yang turun di kategori Junior putra-putri masing-masing Jhon Engkeng (44kg) putra,Teddy Manolong Sengke (52 kg) putra,Orlando ((54 Kg )putra,Stella Ma’ala (48 kg)dan Novita di kelas 50 kg junior putri.

Sementara kontingen tuan rumah Sumatera Utara  berada di posisi ketiga. Di nomor Junior putra putri Sumut hanya meraih  satu emas ,enam perak dan 2 perunggu,sedngkan di npomor Youth putra putri Sumut meraih 3 emas 4 perak dan 7 perunggu.

Peluang Sumut untuk meraih gelar juara umum di kategori  Youth sebenarnya sempat terbuka sebab pada pertandingan terakhir  yang berlangsung kemarin malam, Sumut meloloskan empat petinjunya di final.
Namun keberuntungan belum memihak kepada para petinju Sumut. Dari empat petinju yang tampil di babak final hanya Falderama Han yang turun di kelas 56 Kg meraih medali emas.Sementara tiga lainnya, Khairul Nasutition (64kg),Vera Sri Marta Gea (57kg0 dan Erna Saragih (64 kg)  putri kandas di partai puncak.
Dengan hasil ini kontingen Sumut gagal mempertahan juara umum yang diraihnya tahun lalu.
Kejurnas Tinju junior dan Youth 2011 dalam rangka memeriahkan Lake Toba Eco Tourism Sport  VII di tutup secara resmi oleh Wakil Ketua Umum Pengprov Pertina Sumut Dr Donald Panjaitan.Rencananya penutupan kejurnas tinju ini akan di tutup oleh Bupati Simalungun JR Saragih, namun Bupati dan rombongan tiba-tiba pergi meninggalkan areal pertandingan dikarenakan kurang puas atas keputusan wasit dan juri saat petinju Sumut Vera dinyatakan kalah atas petinju Banten Soimah.
“Untuk apa saya menutup kejuaraan ini kalau lah pertandingannya tidak fair,” tandas Bupati seraya pergi meninggalkan lokasi pertandingan.

Terkait hal tersebut Ketua Panitia Edy Sibarani  menjelaskan bahwa wasit dan juri memiliki kewenangan penuh untuk memutuskan hasil pertandingan tanpa intervensi datri pihak manapun. (jun)

Kami Tetap Bertahan…

Pasca Relokasi Warga Pengungsi di TNGL

LANGKAT- Meski relokasi warga gagal, namun Balai Besar Taman Nasional Gunung Lauser (TNGL) Sumut-Aceh dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Langkat, sesuai amanah dan kewenangannya, tetap akan merelokasi warga yang bermukim dikawasan tersebut.

“Aksi penggusuran paksa akan dilakukan Balai Besar (B) TNGL dan pemerintah Kabupaten (Pemkab) Langkat terhadap 450 KK warga eks trasmigrasi korban konflik Aceh yang membuka lahan dan bermukim di area konservasi TNGL dan terus merangsek ke area terlarang,” kata Kepala BB TNGL Sumut – Aceh Andi Basrul ketika ditemui di kantornya, kemarin (28/6).

Ditambahkannya, pengusiran paksa dilakukan Pemerintah, karena wilayah yang dihuni eks korban konflik Aceh itu berada dalam wilayah taman nasional (TNGL).

“Pemerintah telah berulangkali mengimbau warga eks transmigrasi-korban konflik Aceh yang bermukim di kawasan konservasi TNGL,” ujarnya.

Sesuai deklarasi 6 Maret 1980 melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 811/Kpts/UM/1980. Keputusan tersebut diperkuat dengan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 276/Kpts-I I/1997 tentang Penunjukkan TNGL seluas 1.094.692 hektare, maka pihaknya wajib melindungi kawasan hutan tersebut.

Sebaliknya, warga merasa telah memiliki hak atas wilayah yang telah mereka duduki selama 11 tahun tersebut.
“Kok baru ini BB TNGL dan pemerintah Langkat melakukan pengusiran, kenapa saat pertama kali kami masuk ke kawasan ini tidak dilarang. Sekarang, kami sudah 11 tahun hidup disini tanpa bantuan pemerintah. Kami tak pernah mengemis bantuan,” ujar Ngatiman (50), warga Barak Induk yang terkena tembakan petugas dibagian punggungnya saat terjai relokasi Senin (27/6) lalu. Lanjut Ngatiman, mereka tidak ada tempat lain untuk pindah. Sehingga mereka tetap bertahan di kawasan TNGL. “Kalau pindah, mau pindah kemana lagi. Kami sudah tidak punya tempat selain disini, sampai kapan pun kami tetap bertahan,” terangnya.

Ariadi (61), warga Damar Hitam,  mengaku tetap bertahan, karena sudah tidak memiliki tempat. “Rumah dan tempat tinggal satu-satunya adalah tanah transmigrasi di Aceh. Setelah kami diusir, kami tidak tahu lagi mencari tempat kecuali di kawasan,” tambahnya.

Jika pihak BB TNGL memaksa melakukan penggusuran, sebut Ariadi, dipastikan akan bertambah korban, karena mereka telah siap mati untuk mempertahankan wilayah tersebut.(mag-1/wis/jok/smg)

BKP: Mari Hidup Sehari tanpa Nasi

MEDAN- Mengkonsumsi beras merupakan kebiasaan, jadi jenis makanan itu bisa digantikan dengan makanan apa saja yang kelasnya sama. Hal ini bukan sebagai bagian menutupi kelemahan, melainkan memanfaatkan seluruh panganan local yang berlimpah ruah di tanah air ini.

Demikian disampaikan anggota Dewan Ketahanan Pangan Kota Medan yang juga pakar diversifikasi pangan, Prof DR Posman Sibuea kepada wartawan, Selasa (28/6) saat ditemui di Kantor Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kota Medan.
Menurutnya, keragaman panganan lokal di Indonesia sebenarnya bisa menggantikan nasi, karena panganan lokal lainnya memiliki kadar protein yang sama seperti nasi. Memang banyak dikenal panganan lokal di Indonesia seperti sagu, jagung dan sikong. Semua jenis panganan itu tak kalah dengan nasi.

“Hanya saja secara pengelolaannya belum memakai teknologi canggih akibat krisis sumber daya manusia untuk pengelolaan makanan tersebut,” ucapnya.

Untuk itu, dia mengajak seluruh masyarakat untuk ikut dalam gerakan satu hari tanpa nasi. Sebab bila tak diberlakukan, ancamannya impor beras akan semakin tinggi ke tanah air. Padahal negeri ini merupakan negeri kaya sumber panganan lokal.

“Gerakan satu hari tanpa nasi bukan karena kegagalan pemerintah, tapi sebagai wujud menghilangkan citra makan itu tidak harus mengonsumsi nasi,” ujarnya.

Kepala BKP Kota Medan, Ir Eka R Yanti Danil MM menyatakan diversifikasi makanan harus digalakkan untuk mengurangi konsumsi nasi. Kini, Indonesia termasuk negara mengonsumsi beras tertinggi di dunia. Negeri ini berlimpah dari sumbeh bahan makanan selain beras.

“Makan nasi ini hanya kebiasaan, sebenarnya masih ada sumber panganan local lainnya yang memiliki kadar protein yang sama,” katanya.

Hal lainnya, Posman menyebutkan, sekarang ini alih fungsi tanaman pangan ke kelapa sawit dan perumahan, membuat pemerintah kesulitan dalam meningkatkan produksi beras. Bahkan, banyak lahan lahan pertanian produktif digunakan untuk membangun berbagai mall tanpa disadari memanjakan masyarakat kota untuk berbelanja. Ancaman inilah yang menyebabkan petani kita menangis melihat keadaan ini.
“Tanpa disadari gerakan konsumtif didukung beramai-ramai, sedangkan gerakan pangan lokal ditinggalkan. Jadi mari kita bersama sehari tanpa nasi,” ajaknya.

Masyarakat harus paham, paparnya gerakan satu hari tanpa nasi adalah upaya pemerintah untuk menyadarkan bangsa yang kaya dengan sumber daya pertanian untuk tak terlalu ketergantungan dengan beras dan terigu. Saatnya bersimpati dan berempati ke petani tanah air dengan mengonsumsi singkong dan ubi jalar. (ril)

Polres KP3 Belawan Bakar 77,34 Kg Ganja

BELAWAN- Kepolisian Resort Pengamanan Pelabuhan dan Pantai (KP3) Belawan memusnahkan barang bukti (barbut) narkotika. Seluruh barang haram yang dimusnahkan itu merupakan hasil tangkapan pada 2010 hingga Juni 2011.
Pemusnahan barang bukti itu dilakukan, Selasa (28/6) di Jalan Ujung Baru, Medan Belawan. Adapun barang bukti narkotika yang dimusnahkan yakni 10.352 botol minuman keras (miras) berbagai merk, sabu-sabu seberat 118 gram, ganja sebanyak 77,34 Kg, dan sebanyak 12 butir ekstasi serta 12 karung pakaian bekas eks luar negeri.

Kapolres KP3 Belawan, AKBP Endro Kiswanto didampingi Kasat Reskrim, AKP Hamam mengatakan pemusnahan itu dilakukan dalam rangka memperingati hari narkoba se-dunia dan memperingati Hari Ulang Tahun Bhayangkari  ke- 65.
“Kami musnahkan narkoba itu sebagai wujud komitmen kepolisian memerangi barang narkoba dan minuman keras hasil tangkapan 2010 hingga Juni 2011, kami juga berharap seluruh masyarakat perangi narkoba,” katanya.

Dia menyebutkan, sejumlah barang bukti itu memang belum diputuskan di pengadilan negeri. Tapi, sejumlah barang bukti yang telah dimusnahkan ini sudah masuk ke meja persidangan sehingga bisa dimusnahkan.

Lebih lanjut, dia menambahkan narkoba dan miras itu merupakan barang-barang yang di larang beredar, untuk itulah harus segera ditertibkan. Pada komitmennya, Polres KP3 Belawan tetap membersihkan peredaran miras di Belawan.
Tak hanya itu, dia memaparkan Polres KP3 Belawan tetap rutin melakukan razia narkoba dan miras, pasalnya kedua barang haram itu merupakan bom waktu yang siap membunuh siapa saja, jadi setiap orang harus memeranginya. (mag-11)

Kapolsekta Medan Area Sita Senpi Personelnya

MEDAN- Polsekta Medan Area menarik senjata api (senpi) milik Aiptu THS. Hal ini menindaklanjuti pengaduan Dina Ria Simanjuntak (26), warga Jalan Darussalam, Medan Baru, ke Polresta Medan, Sabtu (25/6) lalu.

“Senpinya sudah disita sama Kapolseknya,” tegas Kasi Propam Polresta Medan AKP BP Sidabutar ketika ditemui di ruangannya, Selasa (28/6). Dikatakannya, bila ada oknum polisi yang melakukan tindak kejahatan, apalagi korbannya sampai membuat pengaduan, Propam Polresta Medan akan memprosesnya sesuai hukum yang berlaku.

Kasus penarikan senpi milik personel Reskrim Polsekta Medan Area ini, berawal dari adanya pengaduan Dina Ria Siamanjutak (26) ke Mapolresta Medan dengan nomor STBL/1709/VI/SU/Resta Medan. Dalam pengaduannya itu, korban mengaku kalau telah dianiaya oleh Aiptu THS di depan Diskotek Super dan di Jalan Wahidin simpang Jalan Perak Medan.

Peristiwa ini terjadi ketika Dina Ria ingin menagih utang kepada THS yang kebetulsa sedang berada di Diskotek Super. Kemudian, janda beranak satu inipun menghampiri Aiptu THS dengan maksud menagih utangnya sebesar Rp1 juta.
Merasa tak senang ditagih oleh korban, Aiptu THS langsung mengajak korban untuk membicarakan hal itu di dalam mobil Kijang Inova Biru BK 1814 GF milik Brigadir Ridwan Ginting yang juga personel Reskrim Polsekta Medan Area dengan harapan  adanya penyelesaian pembayaran utang oleh pelaku.

Setelah menuruti kemauan THS, ternyata Dina malah ditampari oleh THS sembari mengatakan kalau dia sedang tidak punya uang. Selama di dalam mobil yang dikemudikan Brigadir Ridwan, korban dan pelaku terus saja bertengkar.
Bukan itu saja, berbagai pukulan dan tamparan menghampiri wajah janda itu. Sesampainya di Jalan Wahidin Simpang Jalan Perak, Medan Area, THS menelepon rekannya
Brigadir Dona. Di tempat inilah Brigadir Dona membayarkan utang THS. (mag-7)