Home Blog Page 14983

GCC: TVI Ekspress Bukan Money Game

Kapolsek Percut: Penyidikan Ipda Megawaty Serahkan ke Poldasu

MEDAN- Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Percut Sei Tuan Kompol Maringan Simanjuntak menyerahkan sepenuhnya proses hukum terhadap anggotanya, Panit Lantas Polsek Percut Sei Tuan Ipda Megawaty yang disinyalir melakukan penipuan terhadap belasan nasabah dengan modus Multi Level Marketing (MLM) TV1 Ekspres kepada Polda Sumut.

“Saya tidak bisa mengomentari itu, karena masalahnya terlepas dari tugas yang bersangkutan. Dan laporannya ada di Polda Sumut. Jadi, kita serahkan semua proses penyidikannya ke Polda Sumut,” tegas Kompol Maringan Simanjuntak ketika dikonfirmasi Sumut Pos, Minggu (7/8).

Sementara Wakil Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan Muslim Muis SH yang dimintai pendapatnya mengenai masalah ini menegaskan, Ipda Megawaty harus segera diperiksa dan bila perlu ditahan jika dugaan sebagai pelaku penipuan kuat terhadapnya. “Kalau dugaannya kuat, yang diduga pelaku itu harus segera ditangkap dan ditahan serta diproses sesuai hukum yang berlaku,” tandasnya.

Dalam kasus ini, lanjutnya, proses penyidikan atau proses pidana terhadap Ipda Megawaty telah bertentangan dengan Pasal 6 huruf J serta Peraturan Pemerintah (PP) No 2/2003 tentang displin dan kode etik kepolisian. Dalam proses pemeriksaannya, Ipda Megawaty bisa dikenakan PP No 3/2003 tentang mekanisme peradilan pidana anggota polisi. “Dalam kasus ini pasal yang disangkakan adalah Pasal 372.378 KUHP tentang penipuan, dengan hokuman kurungan selama 4 tahun,” terangnya.

Diketahui, Ipda Megawaty dilaporkan belasan nasabah TVI Ekspres ke Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK) Polda Sumut, Selasa (26/7) lalu, dengan bukti lapor No.STPL/494/VII/2011/SPK Poldasu tanggal 26 Juli 2011. Disinyalir, Ipda Megawaty melakukan penipuan tersebut dengan modus mengajak kerja sama bisnis, dengan keuntungan yang berlipat ganda di perusahaan TVI Ekspres.

Sementara, menanggapi isu yang berkembang belakangan ini, para member TVI Express Medan melalui Garuda Care Community (GCC) sebuah support edukasi untuk para member menegaskan, TVI Express bukanlah perusahaan money game atau penggandaan uang.

Menurut Benny Matondang, seorang leader TVI Express, saat ini banyak sekali oknum yang mengatasnamakan bisnis TVI Express dengan setor sejumlah uang tertetu dan menjanjikan, tanpa bekerja bisa dapat uang 10.000 dolar. Karenanya, bila ada yang menawarkan tanpa bekrja dapat uang segera lapor ke indonesia@tviexpress.com, sebutkan namanya: usernamenya, agar perusahaan TVI Express Indonesia bisa bertindak sesuai dengan Kode Etik perusahaan lanjut Benny Matondang, seorang leader TVI Express akhir pekan lalu dalam temu pers dengan wartawan.

Disebutkannya, GCC dan leader-leader TVI Expres di Medan, sangat setuju dan mendukung aparat kepolisian untuk menindak secara hukum terhadap oknum-oknum yang melakukan praktek money game dengan mengatasnamakan TVI Express. “Kami mengharapkan media massa dapat terus mengikuti dan melaporkan sesuai dengan kebenaran kepada masyarakat hasil pemeriksaan dari pihak ber wenang terhadap tersangka yang sebenarnya bukanlah Pimpinan (Bos) TVI Express namun telah melakukan praktek money game dengan mengatas namakan TVI Express,” katanya.

Untuk mendalami dan memahami tentang TVI Express, lanjutnya, masyarakat bisa mengikuti pertemuan, seminar dan pelatihan yang selalu dilakukan GCC secara periodik (mingguan dan bulanan). Untuk melihat jadwal pertemuan TVI Express Internatinal di seluruh dunia dapat dilihat di http://www.tviexpress.com/events.php.

Bagi masyarakat yang ingin memahami TVI Express lebih detil bisa datang lansung di Wadah GCC yang berlokasi di Ringroad Setiabudi Jalan Gagak Hitam No 40 Medan. Pada kesempatan itu, Benny juga mengatakan, GCC akan mengadakan acara buka puasa bersama sekaligus pemaparan TVI Expres hari ini, Senin (8/8) di Wong Solo Jalan Gajah Mada No 80 M Medan. Bagi masyarakat yang ingin memahami TVI Express bisa langsung datang ke tempat acara atau mendaftar pada Bapak Suriono (0812 6573 117), Bapk Puta (0852 6142 3495), Bapak Taber (0852 7063 5333), dan Bapak Sitinjak (0852 6281 0290). (ari)

Papan Reklame di Jalan AR Hakim Tumbang

MEDAN- Hujan deras disertai angin kencang yang melanda Kota Medan pada Sabtu (6/8) malam, mengakibatkan papan reklame di Jalan AR Hakim, tepatnya di simpang Jalan Halat/Megawati, tumbang. Akibatnya, arus lalulintas di kawasan tersebut macet hingga 500 meter.

Menurut Rudi (25), warga Jalan AR Hakim, Kelurahan Tegal Sari II, Medan Area, tumbangnya papan reklame tersebut karena dihantam angin kencang saat hujan deras mengguyur kawasan itu. “Saat itu saya sedang melintas tak jauh dari simpang Jalan AR Hakim dan Jalan Halat itu. Tiba-tiba terdengar suara benda berat terjatuh. Ternyata, papan reklame tumbang. Untungnya tak menimpa pengendara yang melintas di sana,” ungkapnya.

Hal senada juga dikatakan warga lainnya, Anto. “Akibat angin kencang dan hujan deras, reklame produk rokok yang berdiri di pembatas jalan tepat di simpang AR Hakim dan Jalan Halat jatuh menimpa pohon yang berada di pinggir jalan itu,” bebernya.

Untungnya, kata Anto, saat papan reklame itu tumbang, tidak ada pengguna jalan yang melintas di bawah papan reklame tersebut. “Untungnya pas hujan deras, jalanan lengang, sehingga tidak mengenai masyarakat yang sedang melintas,” ungkapnya.(mag-7)

Mau Beli Sepeda Motor hingga Suruh Baca Al Quran

Tangisan keluarga tidak terbendung saat menerima kedatangan jenazah Wahyuni. Setelah disalatkan, jenazah kemudian dimakamkan sekitar pukul 14.30 WIB di pemakaman Muslim Gang Damai, Kampung Lalang, Sunggal, tidak begitu jauh dari rumah duka.

Ratusan pelayat termasuk rekan kerja Wahyuni berdatangan ke rumah duka yang berlokasi di Jalan Medan-Binjai, Desa Paya Geli, Kecamatan Sunggal, Kabupaten Deli Serdang. Jenazah Wahyuni tiba di kediamannya setelah diotopsi sekitar pukul 13.00 WIB. Jenazah Wahyuni langsung disemayamkan di ruang tengah sesaat setelah diturunkan dari ambulansn
Kepergian Wahyuni Simangunsong memang menyisakan duka mendalam bagi keluarga, sahabat dan para kerabat. Apalagi kepergian Wahyuni sangat tragis. Selain itu keluarga juga mengaku tidak merasakan adanya firasat buruk apapun sebelum kepergiannya menghadap Allah SWT.

“Sebelumnya tak ada firasat apa-apa kalau Ayu (sapaan akrab korban) akan pergi selamanya,” ungkap ibu korban, Chainidar Lubis di rumah duka, Sabtu (6/8).

Chainidar mengaku, sebelum kehilangan kontak dengan anaknya pada hari pertama puasa Senin (1/8) lalu, Ayu sempat menghubungi sang bunda melalui telepon selulernya. Dari penuturan sang ibu, Ayu sempat menanyakan mengenai menu masakan dalam menyambut hari pertama berbuka puasa di kediaman kedua orangtuanya, mengingat Ayu selama ini bermukim di Komplek Waikiki, Blok C VIII Nomor 13, Medan Tuntungan.

“Saat itu Ayu juga sempat nanya ke saya bukaannya hari ini (Senin) apa? Lalu saya bilang ke Ayu, kalau saya masak kolak. Ayu juga sempat berbicara dengan ayahnya, (Rusdianto Simangunsong, Red) dan sempat meminta sepeda motor Honda Scoopy karena sepeda motor miliknya sudah sering rusak. Waktu itu ayahnya juga memenuhi permintaan Ayu,” ungkap Chainidar dengan derai air mata.

Chainidar juga mengatakan jika Ayu berencana mengembalikan sepeda motornya yang lama, jika ayahnya sudah membelikannya sepeda motor baru nanti. Namun Tuhan berkehendak lain. Mereka belum sempat memenuhi permintaan Ayu karena Tuhan sudah memanggilnya. Chainidar harus merelakan kepergian sang buah hati untuk selamanya.

Direktur BRI Syariah Cabang Medan Ridwan mengatakan, jika Wahyuni sempat mengajak teman kerjanya membaca tafsir Alquran secara bersama untuk mendapatkan keberkahan saat bekerja.
“Senin (1/8) lalu merupakan hari terakhirnya bersama kami, setelah itu kami semua kehilangan kontak dan tidak mengetahui keberadannya,” ungkap Ridwan.

Sehari setelah dinyatakan hilang, bilang Ridwan, seluruh teman kerja korban sering memanjatkan dia dan membaca Surah Al Fatihah untuk keselamatannya. Ridwan mengatakan, pihaknya akan terus melakukan koordinasi dengan pihak kepolisian agar pelakunya segera bisa tertangkap.

Seorang kerabat korban yang enggan namanya ditulis mengaku, Wahyuni adalah sosok yang ramah. “Kami tidak menyangka Wahyuni meninggal dengan kondisi mengenaskan,” kata pria berbaju putih dan menggunakan kopiah putih itu. (uma/jon)

Pelaku Diduga Orang Dekat

Sebelum Hilang Wahyuni Diantar Supir ke Hotel Cambridge

MEDAN- Siapa pelaku yang tega membunuh Wahyuni Ningsih Simangungsong alias Ayu (25), teller BRI Syariah Cabang Jalan S Parman (bukan Jalan Putri Hijau, Red)? Masih dalam penelusuran polisi. Tapi, keluarga yakin pelaku kenal dan dekat dengan korban. Orangtua korban, Rusdianto Simangungsong saat ditemui di rumah paman korban di Jalan Binjai Km 10 Gang Dame, Desa Paya Geli, Kecamatan Sunggal Kabupaten Deli Serdang yang baru tiba dari Kisaran mengatakan, mencurigai kalau anaknya Ayu dirampok dan dibunuh oleh orang yang dikenal korban.

“Tapi begitupun kami serahkan penyelidikan kepada aparat kepolisian. Anak saya itu mengendarai mobil Kijang Innova BK 1356 JH. Informasinya sebelum hilang dan ditemukan tewas, mobilnya dirazia oleh para pelaku berpakaian polisi,” ujar Rusdianto.

Rusdianto juga mengatakan bahwa berdasarkan informasi dari pihak keluarga sebelum korban tewas, uang dalam tabungan ATM BNI senilai Rp15 juta ditarik di ATM di daerah Kabanjahe. Sementara itu pihak keluarga mengetahui kalau korban diculik oleh pelaku berdasarkan pesan yang disampaikan korban di Blackberry Mesengger (BBM) dan Twitter.

Pesan yang disampaikan korban di BBM berbunyi, “Tolong!! Aku butuh pertolongan!!”

Keluarga bisa tahu bahwa korban ditilang polisi, karena up date status korban. Bahkan korban sempat disiksa. Korban ditangkap oleh oknum yang menyaru sebagai polisi di seputaran Bandara Polonia Medan. “Kami yakin orang dekat dengan korban pelakunya karena tahu tabungan milik anak saya,” katanya.

Rusdianto mengaku kecewa dengan pihak kepolisian yang dianggap kurang respon atas pengaduan yang disampaikan pihak keluarga. “Polisi kurang tanggap. Padahal kita telah melaporkan kehilangan anak kita sejak Selasa lalu,” ungkap Rusdianto Simangunsong.

Sementara polisi belum berani berspekulasi soal pelaku. Saat ditanyai wartawan apakah pelakukan orang dekat korban, Kasat Reskrim Polresta Medan AKP Yoris  Marzuki Sik membantah.

“Dia (korban) tidak punya pacar, sudah putus tiga bulan lalu. Aduh, jangan bawa-bawa pacarnya dululah, nanti jadi gamang  penyelidikan kita,” ujar Yoris.

Yoris mengatakan, belum bisa memastikan siapa pelakunya karena masih dalam penyelidikan. Hanya saja, katanya, indikasinya korban dirampok, diculik dan dibunuh karena mobil korban dan uang korban Rp1.002.000 juga hilang.
Hingga Sabtu (6/8) siang masih belum diketahui di mana mobil Toyota Innova warna hitam BK 1356 JH tersebut. Kuat dugaan mobil ini dilarikan pelaku pembunuhan tersebut. “Sampai saat ini mobil korban masih belum ditemukan,” kata Yoris Marzuki.

Polisi masih menyelidiki bagaimana penculikan terhadap korban bisa terjadi. Sejauh ini sejumlah kerabat maupun rekan korban sudah dimintai keterangannya.

Komunikasi korban dengan temannya melalui perangkat Blackberry menjadi salah satu petunjuk yang didalami polisi.
Komunikasi terakhir korban dengan rekannya diketahui pada Senin (1/8/2011) sore. Wahyuni menyatakan dia ditilang polisi di salah satu jalan di Medan. “Kita masih menelusuri informasi ini. Apalagi ada jeda selama 45 menit, korban menyatakan dirinya disekap,” kata Yorris.

Setelah komunikasi pada Senin lalu, tidak ada informasi apapun tentang korban. Keluarga kemudian melaporkan hilangnya korban ke Polresta Medan, dan pada Jumat (5/8) ditemukan tewas mengenaskan di bawah Jembatan Bintongar,Tele, Desa Hariara Pintu, Kecamatan Harian, Kabupaten Samosir.

Hingga kemarin petang, polisi sudah memeriksa sepuluh orang saksi. Sepuluh saksi itu masing-masing dari keluarga korban, teman kerja, dan teman sekitar rumah korban. Belum ada yang ditetapkan menjadi tersangka.
Yoris Marzuki mengatakan pihaknya hingga saat ini masih terus mengembangkan penyelidikan. Semua informasi yang diperoleh diharapkan dapat mengarah pada penangkapan terhadap pelaku.

“Sudah sepuluh orang saksi yang diperiksa, itu berasal dari keluarga dan rekan kerja korban. Nanti juga akan diperiksa saksi yang lainnya, ada beberapa saksi,” kata Yoris.

Menurut Yoris, berdasarkan keterangan para saksi tersebut, Wahyuni saat ini tidak memiliki kekasih. Wahyuni hanya memiliki mantan pacar yang tidak berdomisili di Medan.
Polisi juga sudah mengumpulkan sejumlah bukti lainnya melalui otopsi mayat korban di RSU dr Pirngadi Medan. Tapi, Yoris belum bisa memastikan apakah korban diperkosa atau tidak. “Belum bisa kita pastikan, hasil otopsi baru bisa keluar hari Senin mendatang,” beber Yoris lagi.

Rekan kerja korban Ijal mengatakan, Senin (1/8) sore sekitar pukul 16.00 WIB tepatnya sepulang kerja, Ayu sempat meminta tolong kepada salah seorang rekannya, Sofyan (supir Bank BRI Syariah yang juga temannnya) untuk diantarkan ke Cambridge.

“Saat pulang kerja dia minta tolong ke Sofyan diantarkan ke Cambridge karena dia selalu parkir di sana,” ujar pria yang akrab disapa Ijal. Setelah mengantarkan korban, kata Ijal, selanjutnya Sofyan meninggalkan korban di depan gedung dan tidak mengetahui lagi kejadian setelah itu.

Beberapa jam setelah diantarkan ke Cambridge, korban sempat menghubungi rekan kerjanya, Ani melalaui telepon seluler. Kepada Ani, korban mengabarkan kalau dirinya ditilang oleh oknum yang mengaku polisi.
Ani yang juga memiliki teman petugas kepolisian selanjutnya menghubungi teman polisinya itu.

“Oknum polisi yang menilang Ayu bahkan sempat ngomong dengan petugas kepolisian yang merupakan teman si Ani. Namun apa isi pembicaraannya tidak disinggung,” ujar teman korban lainnya yang enggan identitasnya ditulis.
Bahkan beberapa jam setelah kejadian penilangan, Ayu sempat mengirimkan pesan singkat melalaui BlackBerry Massanger (BBM) kepada teman kerjanya Tri, yang berisikan, “Aku Butuh Pertolongan.”

Hanya saja, setelah menyampaikan pesan singkat itu, telepon seluler milik korban sudah tidak aktif saat coba dihubungi kembali. Dan keesokan harinya atau tepatnya Selasa (2/8) keluarga melaporkan kejadian itu ke polisi.

Dibunuh Sejak 3 Hari Lalu

Tim kedokteran forensik Rumah Sakit Umum (RSU) Pirngadi selesai melakukan otopsi terhadap jenazah Wahyuni Simangunsong. Hasil otopsi menunjukkan, pada bagian kepala perempuan muda tersebut terdapat beberapa trauma benda tumpul.

Salah seorang dokter forensik yang melakukan otopsi, Surjit Singh menyatakan, berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan terhadap jenazah, ditemukan banyak trauma benda tumpul. Terutama di bagian wajah dan leher.
“Ada bekas benturan benda tumpul pada pipi kiri atas dan kanan atas, juga di sekitar bola mata kiri dan kanan. Ada tanda-tanda kekerasan juga pada leher sebelah kiri dan sebelah kanan,” kata Surjit Singh kepada wartawan di RSU dr Pirngadi Medan, Sabtu (6/8).

Selain itu, kata Surjit, ditemukan juga tanda-tanda perlawanan di bagian lengan korban. Dengan semua kondisi itu, diperkirakan korban sudah meninggal dunia dua atau tiga hari yang lalu. Namun Surjit menyatakan pihaknya tidak bisa menyampaikan informasi penyebab pasti kematian korban, karena hal itu menjadi kewenangan penyidik.
“Yang pasti, kematiannya memang tidak wajar,” kata Surjit Singh.

Surjit Singh juga menjelaskan, sejauh ini belum diketahui pasti mengenai tanda-tanda perkosaan. “Belum bisa kita pastikan tanda-tanda perkosaan karena masih kita lakukan pemeriksaan, apalagi hamil, tak ada. Kita masih melakukan pemeriksaan dan berkoordinasi dengan pihak kepolisian,” ujarnya.

Proses otopsi yang dilakukan dokter forensik ini belum selesai secara keseluruhan, sebab ada beberapa jaringan tubuh yang harus diperiksa secara lebih teliti di bagian Patologi Anatomi. Pasalnya telah terjadi proses pembusukan terhadap tubuh korban.

Usai diotopsi, jenazah Wahyuni Simangunsong seterusnya dibawa ke rumah duka dengan menggunakan ambulans. Sejumlah keluarga korban mengiringi saat jenazah yang sudah dikafani dan diselubungi kain batik itu dinaikkan ke ambulans. (jon/rud/mag-7/rud/uma)

 Pacar Korban Bekerja di Bank Sumut

Hasil wawancara wartawan POSMETRO MEDAN (grup Sumut Pos) di tempat kerja korban di Jalan S Parman Medan dengan petugas sekuriti Nalda menceritakan, Wahyuni br Simangunsong bekerja di Bank BRI Syariah sejak tahun 2008 lalu.

“Ayu sudah bekerja sejak tahun 2008 lalu, pertama kerja dia sebagai teller, namun sejak 8 bulan lalu dia diangkat menjadi fanding officer (FO),”ucap pria bertubuh tinggi itu

Nalda mengatakan korban pernah mengaku mempunyai pacar yang bekerja di Bank Sumut.
“Ayu bercerita kepada teman-temannya, dia mempunyai pacar yang bekerja di Bank Sumut tapi tidak bekerja di Medan melainkan di luar kota,”ujarnya.

Nalda mengungkapkan walaupun korban mempunyai pacar, tapi korban tidak pernah membawa pacarnya dalam acara-acara pesta yang dilakukan oleh teman-temannya.

“Kalau kami melakukan kegiatan seperti karoke dan rekreasi seperti di pantai daerah Namorambe, dia tidak pernah membawa pacar, akan tepai hanya membawa adiknya.

Nalda mengaku korban orangnya selalu tertutup dan selalu memilih-milih teman dalam bergaul.
“Dia orangnya selalu memilih teman dalam bergaul, tidak sembarang orang yang mau ditemaninya,”tambahnya. (ris/smg)

Bukan Hipnotis

Pengamat Hukum Pidana Umum dan Kriminolog dari Fakultas Hukum UMSU Nursarini Simatupang kepada Sumut Pos mengatakan, kejadian yang dialami korban sangat sadis. Dia menduga korban dibunuh oleh orang dekat korban

Pelaku, katanya, hanya ingin menguasai harta korban seluruhnya.
“Saya melihat kejadian ini ada keganjilan dimana laju kendaraan korban sempat dihentikan saat ia pulang ke rumah dari kantor yang mengaku seorang polisi berpakaian preman serta meminta menunjukkan surat-surat kendaraan,” kata Nursarini.

Sedangkan jarak rumah dan kantor masih dalam kota yakni Kota Medan. “Mungkin itu yang menghadang pelakunya orang yang dikenalnya. Tidak mungkin ia mau menghentikan laju mobil yang tidak ia kenal apalagi mengaku oknum polisi,” ujarnya.

Ia berharap, polisi harus bisa mengungkap peristiwa pembunuhan ini karena pelaku sudah berpindah-pindah untuk menhindari pengejaran polisi dan menghilangkan sejumlah barang bukti.
“Trik pelaku pun cukup baik untuk melakukan siasat menghindari dari pengejaran polisi. Tapi saya sangat yakin 100 persen pelakunya adalah orang terdekat korban, bukan hipnotis atau oknum polisi,” pungkasnya. (mag-7/jon)

Gelar Awal

MANCHESTER CITY vs MANCHESTER UNITED

LONDON – Manchester United dan Manchester City mencatat hasil sama kuat musim lalu. Di Premier League, United lebih superior. Setelah menang 2-1 di kandang sendiri, United kemudian hanya mampu bermain seri 0-0 di kandang lawan. Namun, di semifinal Piala FA di Stadion Wembley, City membalas dengan kemenangan 1-0.

Lantas, siapa yang lebih perkasa musim ini –  Sinyal itu bisa terlihat ketika keduanya bentrok di ajang FA Community Shield di Wembley malam nantin (siaran langsung MNCTV pukul 20.30 WIB). Dari hasil pramusim, keduanya sama-sama mencatat hasil sempurna alias memenangi lima laga masing-masing.

Hanya, dari sisi venue, kendati di tempat netral, City jelas memiliki memori lebih baik.  Ini mengacu hasil pada semifinal Piala FA. United bahkan dua kali keok di Wembley musim lalu. Setelah kalah dari City (16/4), tim besutan Sir Alex Ferguson itu menyerah 1-3 dari Barcelona di final Liga Champions (28/5).

Ferguson pun tidak menampik apabila City memiliki motivasi lebih besar. “City sangat berkepentingan dengan pertandingan ini dan mereka butuh gelar untuk legitimasi mereka,” ungkapnya kepada Daily Mail.
“Sedangkan bagi kami, Community Shield adalah tentang bagaimana mematangkan tim menghadapi start kompetisi. Hanya, melihat tipe pertandingan yang kami hadapi, saya mungkin harus mengubah kebijakan,” imbuhnya.
Sebelumnya, Ferguson juga tidak lagi menyebut City sebagai noisy neighbours atau tetangga berisik lagi. Dengan kata lain, The Citizens “ sebutan City “ telah berubah menjadi klub yang hanya bisa royal dalam belanja pemain menjadi tim penantang gelar.

“Kami siap menerima tantangan dari City di musim ini. Selalu menerima tantangan sangat penting karena menghindarkan Anda dari kepuasan sehingga Anda selalu berusaha lebik baik dan lebih baik,” jelas Ferguson.
Di pihak lain, entah bagian dari psywar atau realistis, tactician City Roberto Mancini merendah ketika ditanya tentang perbedaan kualitas antara timnya dengan United. Mancini mengatakan apabila United masih berada di atas City.
“United adalah sebuah tim yang kuat, mereka memenangi liga musim lalu, dan membeli empat sampai lima pemain bagus setahun terakhir. Saya kira kami sudah mendekati mereka, tapi mereka memang masih di atas kami,” ungkapnya di Sky Sports.

Dari skuad yang bisa ditampilkan malam nanti, kedua tim tidak akan full team. City minus bintang penyerang Argentina Carlos Tevez yang baru kembali dari liburan sehari setelah Community Shield. Striker senegara Tevez sekaligus bintang baru City, Sergio “Kun” Aguero, belum sepenuhnya pulih dari cedera telapak kaki.
Sedangkan United kehilangan Javier “Chicharito” Hernandez dan Antonio Valencia. Kedua pemain itu sama-sama mencetak satu gol saat United mengalahkan Chelsea 3-1 di Community Shield tahun lalu. Michael Carrick juga absen, tapi Rafael Da Silva dan Darren Fletcher siap ditampilkan. Juga trio pemain baru, David de Gea, Phil Jones, dan Ashley Young yang selama pramusim sudah cukup menyatu dengan tim. (dns/bas/jpnn)

Puasa, Makan Kue Kampung

Ade Yunita Hutagaol

Bagi Ade Yunita Hutagaol di bulan suci Ramadan selain menunaikan ibadah juga saatnya untuk menikmati kue kampung yang banyak di jual sebagi menu berbuka puasa.

“Kue kampung agak sulit ditemukan kalau hari biasa, jadi kalau Ramadan puas-puasin makan kue kampung,” ujar Ade Yunita Hutagaol.

Selain itu, kata bintang iklan layanan masyarakat HIV/AIDS tahun 2011 itu di bulan penuh rahmat itu biasanya ada Tunjangan Hari Raya (THR).

“THR paling seru, karena dapat uang sekalian bisa beli baju baru,” ujar gadis yang biasa disapa Ade itu. Baginya, Ramadan selain menahan lapar juga sebagai untuk ngumpul dengan teman-teman lama sekalian  untuk reunian.

Juga sebagai ajang untuk ngumpul bareng keluarga, terutama di saat sahur dimana seluruh keluarga berkumpul untuk makan bareng.

“Kalau sahur, semua keluarga ngumpul, lucu kan lihat anggota keluarga yang baru bangun,” ujar dara kelahiran Medan 3 Juni 1996 itu.

Tetapi, bulan Ramadan juga membatasi ruang gerak gadis berkulit putih itu terutama untuk keluar rumah. Karena sang Mama tidak memberikan kebebasan padanya untuk buka puasa di luar, hanya beberapa momen dia diberi izin untuk keluar.

“Mama lebih posesif bila puasa, jadi aku keluar rumah tidak bebas, jadi hanya momen tertentu, seperti buka bareng teman SMP, atau kuliah dan lainnya yang diberi izin sama Mama,” ujar anak ke-3 dari 4 bersaudara itu.
Walaupun dibatasi tetapi hal ini bukan menjadi masalah. Karena sifat sang Mama yang lebih posesif saat Ramadan membuat Ade merasa memiliki waktu lebih banyak bersama keluarga. Selain itu, Ade juga menganggap hal ini untuk istirahat dari berbagai kegiatannya.

“Hitung-hitung sebagai istirahat dari kegiatan lain,” ujar gadis yang tinggal di Kompleks Perumahan Dosen Unimed itu.
Karena itu, setiap Ramadan, Ade selalu menyempatkan diri untuk melakukan kegiatan bersama dengan orangtua. Baginya sekalian untuk menggantikan waktu di hari-hari yang lalu, karena berbagai kegiatan yang dilakukannya sebagai model dan siswi sekolah, “Ramadan juga untuk mengganti waktu yang hilang, kan hari biasanya aku sibuk sendiri,” tutupnya. (mag-9)

Selamatkan Perusahaan dari Kebangkrutan

Sahur Bersama Dirut PDAM Tirta Bulian Kota Tebing Tinggi, Ir Oki Doni Siregar

Memasuki hari kedua Ramadan lalu Tim Sahur Sumut Pos berkesempatan sahur bersama di rumah Dirut PDAM Tirta Bulian Kota Tebing Tinggi, Ir Oki Doni Siregar.

Sopian, Tebing Tinggi

Tepat pukul 03.30 WIB, Tim Sahur Sumut Pos menuju rumah Oki Doni Siregar di Jalan Deblod Sundoro, Gang Torop, Lingkungan IV, Kelurahan Bagelen, Kecamatan Padang Hilir, Kota Tebing Tinggi. Sekira pukul 04.00 WIB, Tim Sahur Sumut Pos tiba dan mengetuk pintu pagar. Selang beberapa detik, Ir Oki Doni Siregar keluar dari dalam rumahnya mengenakan baju koko warna putih, peci dan sarung corak kotak-kotak warna kuning. Dengan mengucapakan salam, Doni mempersilakan Tim Sahur Sumut Pos masuk.

Rumah tokoh yang dekat dengan para pemuda itu tak tampak kesan mewah, bangunan rumah dengan cat warna hijau, lantai keramik warna putih dengan luas bangunan sekitar 8×14 meter. Saat itu Ir Oki Doni Siregar ditemani oleh istrinya, Nila Erwita br Harahap dan tiga orang anaknya, Namira Okita Zahara, Sifana Rehana dan Badia Raja.
Pria berkacamata yang juga Ketua Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (NU) Kota Tebing Tinggi itu mengajak Tim Sahur Sumut Pos menuju meja makan. Terlihat hidangan di meja makan ada nasi putih, ikan goreng, sambal, sayur, sop daging, sayur pucuk rotan, sambal ayam goreng, air putih hangat dan beberapa potong buah apel dan semangka.
“Silakan makan sahur jangan segan-segan dan anggaplah rumah sendiri. Beginilah kami setiap makan sahur bersama keluarga, makan dengan apa adanya, yang penting buah untuk menjaga kondisi kesehatan badan saat melaksanakan ibadah puasa keesokan harinya,” kata istri Nila Erwita br Harahap, istri Ir Oki Doni Siregar.

Usai santap sahur Wakil Ketua KNPI dan Ketua bidang Ideologi dan Politik Pemuda Pancasila Kota Tebing Tinggi itu kemudian mengajak Tim Sahur Sumut Pos untuk duduk di beranda depan rumahnya dengan membawa segelas teh manis panas.

“Mari duduk di beranda depan sambil menunggu datangnya azan salat Subuh,” ucap Oki Doni. Doni pun bercerita sedikit tentang keberhasilannya selama memimpin perusahaan PDAM Tirta Bulian yang mulai dipimpinnya tahun 2007 lalu. Prestasi yang sudah diraihnya pernah mendapatkan Sertifikat International Standard Organization (ISO) 9001:2008 dari Sai Global, perusahaan sertifikasi dari Australia tahun 2008. Kemudian, dia mampu menyakinkan Departemen Keuangan Republik Indonesia  untuk menghapuskan hutang non pokok (bunga) sebesar Rp5,8 miliar, serta menyakinkan pemerintah Kota Tebing Tinggi dalam penyertaan modal untuk pembayaran hutang pokok sebesar Rp1,8 miliar.

“Itu saya lakukan untuk memperbaiki serta menyehatkan PDAM Tirta Bulian yang dulunya sebelum saya memimpin sempat hampir bangkrut. Saya berjuang keras untuk menyehatkan kembali PDAM Tirta Bulian ini,” bilang pria berkacamata itu.

Dijelaskannya, setelah dirinya empat tahun memimpin perusahaan air minum tersebut, mampu menyehatkan PDAM Titrta Bulian yang dulunya terpuruk dan kini sudah normal kembali, sehingga, menurutnya, PDAM Tirta Bulian Kota Tebing Tinggi adalah PDAM satu-satunya yang tidak memiliki hutang di Sumatera Utara, serta berdasarkan audit BPKP dan BPP SPAM, PDAM Tirta Bulian adalah PDAM yang paling tersehat di Sumut tahun 2010 sehingga mendapatkan Pepamsi Award.

“Perusahaan kami meraih sertifikat secara pribadi di Indonesia Eksekutive dan Freposional Golden Award tahun 2008 dan International Best Eksekutive Citra Award 2009-2010,” bilangnya.

Ir Oki Doni Siregar berharap kedepan agar PDAM Tirta Bulian Kota Tebing Tinggi mampu secara global memberikan pelayanan khususnya penyediaan air bersih dengan pelayanan prima dan terbaik kepada seluruh masyarakat Kota Tebing Tinggi, dan akan menjadikan PDAM Tirta Bulian menjadi perusahaan air minum terbaik di Sumut.

Bukan itu saja sebagai Ketua Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (NU) Kota Tebing Tinggi dia mengimbau kepada seluruh masyarakat Kota Tebing Tinggi, bagi yang tidak berpuasa agar menghargai orang yang sedang menjalankan ibadah puasa.

“NU Tebing Tinggi bersikap toleran, namun NU berharap kepada  masyarakat untuk menghargai orang yang sedang menjalankan ibadah puasa,” terang Oki Doni.
Menurutnya, NU Kota Tebing Tinggi juga akan melaksanakan safari Ramadan ke beberapa masjid yang ada di Kota Tebing Tinggi.

Tepat pukul 05.02 WIB terdengar azan tanda masuknya waktu Salat Subuh. Tim Sahur Sumut Pos pun beranjak meninggalkan kediaman rumah Ir Oki Doni Siregar. Sambil berjalan Oki mengantarkan Tim Sahur Sumut Pos ke depan gerbang rumahnya.

“Jadilah Anda sebagai seorang jurnalis yang prefosional, berjalan pada koridor yang telah diatur oleh perusahaan. Ke depan akan mendapatkan berkah dari Allah SWT,” katanya. (*)

Tampil Tomboy Lebih Percaya Diri

Kebanyakan wanita ingin tampil anggun dan feminim agar terihat cantik dan sempurna.

Tapi tidak bagi Dini Noviani Tanjung, Manajer House
keeping Garuda Plaza Hotel. Ia justru memilih tampil tomboy dalam kesehariannya.
Ibu dua anak ini memilih untuk tampil tomboy dengan alasan lebih nyaman, dan percaya diri. Bahkan dengan penampilan seadanya, membuat dirinya merasa nyaman dari mata lelaki.

“Dalam Islam, wanita tampil cantik untuk suami, jadi saya tidak merasa rugi dengan penampilan saya, karena suami saya suka,” ujar wanita kelahiran tahun 1975 ini.

Ibu dari Tafsin Bintang Diega dan Tafsin Langit Diega ini bilang, sejak kecil dirinya juga terbiasa tampil tomboy. Apalagi, tampilanya yang tomboy juga tak terlepas dari sifat kemandiriannya yang kuat menghadapi cobaan hidup.
Anak ke delapan dari sepuluh bersaudara ini mengaku, sebelum berkerja sebagai Manajer Houskeeping di Garuda Plaza Hotel, ia terlebih dahulu telah mengadu nasib ke ibukota. Padahal pada saat itu Indonesia sedang mengalami krisis moneter (1998).

Tetapi karena tekadnya, wanita yang bercita-cita ingin menjadi Menteri Sosial ini tetap bertahan, sehingga akhirnya bertemu dengan sang suami dan memutuskan kembali ke Medan.

Menjadi wanita pekerja adalah pilihan hidup yang diambilnya, bukan untuk gaya-gayaan dan pamer. Tapi demi membantu suami dalam menutupi kebutuhan hidup mereka. “Saya sadar, dalam Islam bila suami masih dapat menafkahi keluarga, maka istri tidak perlu bekerja. Tetapi zaman sekarang, biaya pendidikan tinggi dan terpaksa harus suami istri bekerja. Karena itu saya memilih untuk bekerja,” ujarnya.

Dini juga menyadari konsekuensinya menjadi wanita pekerja. Hal ini membuat buah hatinya harus diasuh baby sister. Makanya anak keduanya, Tafsin Langit Diega (1,8 bulan) lebih dekat dengan pengasuhnya ketimbang dirinya.
Meski kenyataannya seperti itu, tapi Dini tak melankolis . Dia tetap berusaha agar dekat dengan buah hatinya. “Ini konsekuensi yang harus saya hadapi. Tapi saya tidak mau cenggeng. Saya berusaha meluangkan waktu buat anak-anak saya,” pungkasnya. (mag-9)

Satu Rumah Ludes

SUNGGAL- Akibat korsleting listrik, satu unit rumah di Jalan Masjid Gang Rezeki, Desa Paya Geli, Kecamatan Sunggal, Kabupaten Deli Serdang, ludes terbakar, Sabtu (6/8) siang pukul 12.00 WIB. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, namun kerugian diperkirakan ratusan juta rupiah.

Menurut pemilik rumah, Horas P Pasaribu (65), saat itu dia sedang menonton televisi di ruang tamu. Saat asyik nonton, tiba-tiba meteran listrik di atas pintu rumahnya meledak dan langsung mengeluarkan percikan api dan membakar asbes serta dinding rumah yang terbuat dari papan.

Namun sayang, api dengan cepat menyambar dan membakar seisi rumah. Bahkan, satu unit angkot yang terparkir di dalam garasi rumah ikut terbakar. Namun, mobil angkot milik Horas ini tidak sempat hangus, karena warga langsung cepat mengeluarkan dengan cara mendorong keluar, sehingga api hanya membakar atap bagian atas mobil angkot itu. Api bisa dipadamkan, setelah lima mobil pemadam kebakaran milik Pemko Medan dan Pemadam milik Pemko Binjai turun ke lokasi.(fit/smg)

Digilas Truk Usai Mengantar Anak

MEDAN- Usai mengantar anaknya bekerja di bengkel, Chapsah (42), warga Jalan Monel Anwar, Kelurahan Terjun, Medan Marelan, tewas ditabrak truk di Jalan Rahmat Budin, Medan Marelan, Sabtu (6/8). Wanita malang ini tewas dengan kondisi kepala pecah akibat tergilas ban truk.

Ali Usman (45), suami almarhum saat ditemui wartawan di depan ruang otopsi RSUD dr Pirngadi Medan menuturkan, saat itu istrinya pergi mengantarkan anaknya, Abu Hanifah (22), dengan menggunakan sepeda motor untuk bekerja di bengkel. (jon)