Home Blog Page 15143

Ingin Bertemu Presiden dan Menjadi Ilmuwan

Peraih Nilai Tertinggi UN Tingkat SMP se-Kota Medan

Meraih nilai tertinggi se-Kota Medan dan peringkat kedua se-Sumut pada Ujian Nasional (UN) 2011 tingkat SMP Sederajat tentunya sangat membanggakan.

Rahmat Sazaly, Medan

Tapi, bagi Salwa Nadhira hasil tersebut biasa saja dan hanya dijadikan satu motivasi untuk meraih keinginan menjadi seorang ilmuwan dan melanjutkan studi di luar negeri.

Salwa Nadhira namanya. Dilihat dari perawakannya, tak ada perbedaan yang terlalu mencolok antara remaja kelahiran Jakarta 25 Juni 1997 ini dengan teman-temannya yang lain di SMP Yayasan Pendidikan Shafiyyatul Amliyyah (YPSA). Sederhana dan sangat bersosialsisasi dengan guru maupun siswa yang lain.

Salwa, panggilan akrabnya, mengaku tak percaya saat mengetahui informasi dari teman-temannya kalau dia meraih prestasi tersebut. “Awalnya nggak yakin bisa meraih peringkat pertama di Kota Medan dan peringkat kedua se-Sumut. Saat ujian, saya hanya mengerahkan kemampuan maksimal saya dan berharap mendapatkan yang terbaik dari belajar keras yang saya lakukan,” ungkapnya, saat ditemui di acara pengumuman hasil UN 2011 tingkat SMP di YPSA, Sabtu (4/6).

Alhasil, sambungnya, dengan keinginan meraih nilai terbaik dan bersungguh-sungguh dalam belajar serta berdoa, ia dapat meraih keinginannya. “Kalau ditanya keinginan, saya berharap jadi yang terbaik di Sumut atau tingkat nasional. Tapi dengan prestasi yang sudah saya raih saat ini, saya sudah sangat bersyukur,” tutur Salwa.

Prestasi tentunya diraih dari belajar dan kerja keras. Nah, Salwa juga menceritakan bagaimana ia bisa meraih prestasi yang membanggakan bagi daerah, sekolah, orangtua dan dirinya sendiri tersebut. “Selain belajar di rumah, sekolah juga memiliki peran yang sangat penting dan vital bagi keberlangsungan ilmu pengetahuan yang saya terima. Karena, di YPSA ini siswa sangat diintensifkan untuk menerima ilmu pengetahuan sebaik mungkin. Tentunya dengan berbagai cara, seperti proses belajar mengajar, pemberian les dan bimbingan-bimbingan jelang berbagai even seperti olimpiade dan UN,” paparnya.

Harapan ke depan si bungsu dari dua bersaudara pasangan Erwin Alamsyah dan Erlina Panitri ini adalah bisa bertemu Presiden. “Kalau prestasi saya ini bisa membawa saya bertemu Pak SBY, saya sangat ingin sekali,” kata siswa berkerudung ini.

Saat wartawan bertanya, apakah hanya itu keinginannya? Salwa mejawab, selain bertemu SBY, ia ingin melanjutkan studi demi meraih cita-citanya. “Selain bertemu Pak SBY, saya tentunya ingin melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Yakni ke SMA dan perguruan tinggi untuk meraih cita-cita saya menjadi ilmuwan di bidang Bio Teknologi,” jelasnya.

Lantas, alumni SMP YPSA kelas IX A ini melanjutkan jika ia ditanya akan melanjutkan sekolah ke mana hanya dua pilihan yang dimilikinya. Yang pertama SMA YPSA dan yang kedua SMA Negeri 1 Medan.

Saat ditanya jika berkuliah nanti ingin melanjut kemana? Ia menjawab akan berusaha meraih beasiswa dan berkuliah di luar negeri. “Saat kelas X SMA nanti saya akan mencari informasi tentang program beasiswa dari IFS (International Foundation for Science) yang menawarkan beasiswa untuk melakukan penelitian di luar negeri. Jika bisa didapat, tentunya hal ini sangat menunjang cita-cita saya nanti. Dan jika berkuliah nanti, saya ingin berkuliah di luar negeri di universitas yang memiliki program studi (prodi) bio teknologi,” terang Salwa.

Dengan keinginan tersebut, Salwa juga menceritakan, telah membicarakan keinginannya dan kedua orangtuanya sangat mendukung. Di kesempatan sama, sang ibu Erlina Panitri mengatakan, senang sekaligus bangga atas prestasi yang diraih sang anak.

“Saya tak pernah memaksakan Salwa untuk belajar keras dan meraih prestasi yang sangat mengagumkan. Saya hanya membimbingnya agar memaksimalkan kemampuan yang dimilikinya untuk meraih yang terbaik baginya,” kata psikolog yang bekerja di Wilmar International ini.

Jadi, saat mengetahui sang anak ingin melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi nantinya ke luar negeri. Erlina menyambut baik dan sangat mendukung penuh keinginan si bungsu itu.
Sebagai seorang psikolog, lanjutnya, Erlina juga selalu menekankan kepada Salwa untuk tidak tegang saat meghadapi segala sesuatu termasuk ujian. “Saya memotivasinya melalui hal ini. Dengan melakukan segala hal setenang mungkin, pasti akan memberikan hasil terbaik,” ujarnya. (*)

Kapoldasu Masih Bungkam

Polisi Terima Uang Judi Sudah Berlangsung Lama

MEDAN-Kapolda Sumut, Irjen Pol Wisjnu Amat Sastro masih bungkam soal temuan adanya keterlibatan sejumlah oknum perwira di Polsek jajaran Polres Binjai yang diduga menerima uang dari bandar judi. Bukan itu saja, hingga kemarin (4/6), Kapolda Sumut belum memanggil anak buahnya yang diduga terlibat untuk dilakukan pemeriksaan.
Kapolda Sumut, Irjen Pol Wisjnu Amat Sastro yang dihubungi wartawan koran ini berkali-kali kemarin, enggan mengangkat teleponnnya. Begitu juga saat di SMS, orang nomor satu di jajaran Polda Sumut itu tak membalas SMS wartawan koran ini. Begitu juga dengan Dir Reskrimum, Kombes Pol Agus Andrianto dan Kabid Propam, Kombes Pol Edi Napitupulu. Kabid Humas Polda Sumut, AKBP Raden Heru Prakoso yang dihubungi mengaku, masih menunggu hasil perkembangan pemeriksaan terhadap tiga tersangka masing-masing Rudi, Johan serta Aliung alias Kamboja yang berhasil diamankan bersama barang bukti.

“Untuk kebenaran keterlibatan empat Kapolsek dan Kanit Reskrimnya, Poldasu masih menunggu perkembangan penyelidikan terhadap ketiga tersangka yang diamankan,” ujar Raden Heru Prakoso, Sabtu (4/6). Dikatakan Heru, bila hasil penyelidikan terbukti ada ditemukan unsur suap (setoran) terhadap empat Kapolsek dan Kanit Reskrimnya yang membiarkan praktik judi di wilayah hukumnya, Kapoldasu akan mengambil tindakan tegas.“Bila terbukti ada ditemukan keterlibatan anggota, maka Kapoldasu akan melakukan penindakan terhadap anggota tersebut,” ucap Heru.

Apakah keempat Kapolsek dan Kanit Reskrim sudah diperiksa? “Sejauh ini tidak ada,” cetusnya.
Tapi, menurut informasi yang dihimpun wartawan koran ini, Kapoldasu bersama seluruh pejabat utama di jajaran Poldasu langsung menggelar rapat mendadak di tempat yang tidak diketahui lokasinya.

Sementara itu menurut sumber wartawan koran ini mengatakan, upeti dari bandar judi yang ada di Brahrang, Kecamatan Binjai Barat kepada petinggi polisi sektor di Binjai itu sudah bukan menjadi rahasia umum lagi.
“Kalau setoran atau upeti kepada oknum perwira atau petugas di jajaran Polres Binjai sudah berlangsung sejak lama. Bahkan, sudah sampai bertahun-tahun. Tapi yang jelas, semasa saya bertugas di Binjai, saya tidak berani menerima,” ungkap sumber itu, Sabtu (4/6).

Menurutnya, menerima upeti dari bandar judi togel di Brahrang seperti memakan buah simalakama. Dimana, kalau uangnya diambil takut kena tindak, kalau tidak diambil sejumlah oknum polisi banyak yang mengambilnya.
“Memang susah juga, kita tidak ikut arus tak enak dengan teman-teman. Tapi kalau kita ikut, takut ketehauan oleh pimpinan,”cetusnya.

Sumber ini juga membeberkan, kalau dia sendiri tidak pernah mengetahui seperti apa Acien dan teman-temannya. “Saya nggak tahu kali tentang Acien. Sebab, saya tidak pernah ketemu, hanya kenal nama dan tak pernah berhubungan,” ujarnya.

Menurut sumber itu, kaki tangan bandar judi togel itu kerap kumpul di Kelurahan Kebunlada, Kecamatan Binjai Utara. “Kalau saya dulu sering membuat laporan terkait judi togel itu. Namanya orang yang membuat laporan itu jambatannya kecil, kalau tidak ada tindakan dari atasan ya sudah, yang penting sudah kita laporkan,”pungkasnya.
Untuk sistem pembagian uang setoran, sambungnya, biasanya diambil oleh anggota setiap oknum polisi yang menerima. “Yang saya tahu seperti itu, uang itu diambil oleh anggota oknum polisi yang mendapatkan setoran. Bahkan, sejumlah anggota kepolisian di jajaran Polres Binjai juga ada yang menerima upeti,” jelas sumber itu seraya menambahkan ada juga yang diantar langsung.

Sumber itu juga sempat kaget setelah mendengar adanya oknum perwira yang menerima upeti dari bandar judi togel. “Tapi saya dengar dari anggota saya, judi togel di Binjai sudah tidak ada lagi. Tapi saya nggak tahu pastilah, soalnya anggota saya bilang sudah tidak ada lagi. Mendengar hal itu saya bersyukur juga,” kata sumber itu.

Kapoldasu Harus Terbuka

Wakil Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan, Muslim Muis mengatakan, hal itu merupakan bukti nyata kalau Kapoldasu tidak taat terhadap transfaransi dan hak memperoleh informasi bagi masyarakat. “Pemberantasan judi merupakan atensinya, karena sangat merugikan masyarakat. Tak ada masyarakat yang kaya karena judi kecuali bandarnya. Tetapi bila ada terbukti anggotanya menikmati uang setoran judi, Kapoldasu harus lebih transfaran dan mengerti akan hak masyarakat untuk memperoleh informasi,” cetus Muslim.

Menurut Muslim, Kapoldasu Irjen Pol Wisjnu Amat Sastro tidak seperti Kapolda sebelumnya yang mudah diajak untuk berdialog dan transfaransi dalam memberikan informasi. “Apa salahnya ada keterbukaan dalam informasi. Kan sudah ada UU Keterbukaan Informasi Publik (KIP),” bebernya.

Polisi sebagai pelindung dan pengayom masyarakat, lanjut Muslim, jangan menutupi kalau ada informasi kasus judi yang sudah menjadi musuh masyarakat. “Kasus judi adalah atensi dari program kerja 100 hari  Kapolri,” katanya.
Harapan Muslim, bila terbukti Kapolsek dan Kanitnya menikmati setoran dari bandar judi harus segera dicopot dari jabatannya dan diproses sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku. “Kalau bisa dipecat,” katanya.

Front Pembela Islam (FPI) Binjai, juga langsung berkomentar. “Untuk apa polisi dibentuk kalau tidak menindak kemungkaran yang dapat merusak akhlak setiap insan. Kalaulah memang benar sejumlah perwira itu menerima upeti, handaknya diproses sesuai  hukum dan bila perlu dipecat saja sekalian,” tegas Heri, Pengurus FPI Kota Binjai.
Untuk itu, Heri meminta kepada Kapolres Binjai, agar segera mengerahkan anggotanya untuk segera mengamankan bandar judi togel yang dimaksud. “Kalau sudah begini, segera cari bandar judi yang diduga memberikan setoran kepada perwira di jajaran Polres Binjai. Agar, semua persoalan ini dapat terungkap dengan jelas,” katanya.

Heri juga menegaskan, bahwa sebelumnya sudah ada kesepakatan bersama terkait  pemberantasan judi, miras, narkoba, prostitusi, premanisme dan hiburan yang meresahkan  masyarakat. “Kami dari FPI juga tidak tertutup kemungkinan akan melakukan aksi, jika masalah ini tidak ada penyelesaiannya,” ancamnya.

Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Binjai, Dr HM Jamil MA mengatakan, setiap pelanggaran harus ditindak secara hukum yang berlaku. “Kalau kasus dugaan terima upeti itu, saya tidak tahu. Yang jelas, siapapun yang telah melakukan pelanggaran harus ditindak secara hukum,”ujarnya.

Selain itu, Jamil juga berharap, agar kasus ini segera ditindak lanjuti, dan dalam proses hukumnya jangan ada tebang pilih. “Kalau memang ada yang terlibat, segera lakukan tindakan tanpa memperdulikan siapa oknum yang terlibat itu,”tegasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Tim Khusus Kepolisian berhasil menangkap tiga anggota bandar judi toto gelap (togel), Selasa (31/5) sore. Dari ketiga tersangka polisi menyita uang puluhan juta rupiah serta puluhan amplop berisi uang bertuliskan nama-nama perwira polisi.

Para tersangka yang bertugas sebagai tukang rekap, pengumpul rekap dan pembagi duit ini, diamankan dari rumah Ac, di Brahrang, Binjai. Ac adalah kaki tangan A, bandar besar togel di Binjai. Keduanya saat ini masih buron.
Uang, amplop bertulis nama-nama perwira serta listing nama-nama perwira penerima setoran itu ditemukan di jok sepeda motor milik salah satu tersangka yang diparkir di rumah Ac. Pembongkaran jaringan penjudi togel yang dilakukan Timsus itu dilakukan berdasarkan informasi dari masyarakat yang diterima langsung oleh Kapolres Binjai AKBP Dra Rina Sari Ginting. (adl/dan)

Untuk Apa Ada Polisi Kalau tak Bertindak…

Wakil Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan, Muslim Muis mengatakan, hal itu merupakan bukti nyata kalau Kapoldasu tidak taat terhadap transfaransi dan hak memperoleh informasi bagi masyarakat. “Pemberantasan judi merupakan atensinya, karena sangat merugikan masyarakat. Tak ada masyarakat yang kaya karena judi kecuali bandarnya. Tetapi bila ada terbukti anggotanya menikmati uang setoran judi, Kapoldasu harus lebih transparann
dan mengerti akan hak masyarakat untuk memperoleh informasi,” cetus Muslim.

Menurut Muslim, Kapoldasu Irjen Pol Wisjnu Amat Sastro tidak seperti Kapolda sebelumnya yang mudah diajak untuk berdialog dan transfaransi dalam memberikan informasi. “Apa salahnya ada keterbukaan dalam informasi. Kan sudah ada UU Keterbukaan Informasi Publik (KIP),” bebernya.

Polisi sebagai pelindung dan pengayom masyarakat, lanjut Muslim, jangan menutupi kalau ada informasi kasus judi yang sudah menjadi musuh masyarakat. “Kasus judi adalah atensi dari program kerja 100 hari  Kapolri,” katanya.
Harapan Muslim, bila terbukti Kapolsek dan Kanitnya menikmati setoran dari bandar judi harus segera dicopot dari jabatannya dan diproses sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku. “Kalau bisa dipecat,” katanya.

Front Pembela Islam (FPI) Binjai, juga langsung berkomentar. “Untuk apa polisi dibentuk kalau tidak menindak kemungkaran yang dapat merusak akhlak setiap insan. Kalaulah memang benar sejumlah perwira itu menerima upeti, handaknya diproses sesuai  hukum dan bila perlu dipecat saja sekalian,” tegas Heri, Pengurus FPI Kota Binjai.
Untuk itu, Heri meminta kepada Kapolres Binjai, agar segera mengerahkan anggotanya untuk segera mengamankan bandar judi togel yang dimaksud. “Kalau sudah begini, segera cari bandar judi yang diduga memberikan setoran kepada perwira di jajaran Polres Binjai. Agar, semua persoalan ini dapat terungkap dengan jelas,” katanya.

Heri juga menegaskan, bahwa sebelumnya sudah ada kesepakatan bersama terkait  pemberantasan judi, miras, narkoba, prostitusi, premanisme dan hiburan yang meresahkan  masyarakat. “Kami dari FPI juga tidak tertutup kemungkinan akan melakukan aksi, jika masalah ini tidak ada penyelesaiannya,” ancamnya.

Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Binjai, Dr HM Jamil MA mengatakan, setiap pelanggaran harus ditindak secara hukum yang berlaku. “Kalau kasus dugaan terima upeti itu, saya tidak tahu. Yang jelas, siapapun yang telah melakukan pelanggaran harus ditindak secara hukum,”ujarnya.

Selain itu, Jamil juga berharap, agar kasus ini segera ditindak lanjuti, dan dalam proses hukumnya jangan ada tebang pilih. “Kalau memang ada yang terlibat, segera lakukan tindakan tanpa memperdulikan siapa oknum yang terlibat itu,”tegasnya. (adl/dan)

Malu Lihat Adegan Porno

Happy Salma merasa malu melihat dunia film dan sinetron tanah air yang semakin ‘murahan’. Dia menyesalkan tidak adanya pesan moral yang penting dalam sebuah film atau sinetron kebanyakan.

“Ini tidak membantu generasi sekarang yang saya lihat agak tragis,” ujar Happy kepada wartawan.
Sikap tidak peduli sineas atau pelaku perfilman tanah air, katanya, terlihat dalam proses pembuatan film yang selalu terdapat sisipan-sisipan atau titipan yang sebenarnya tidak penting. Misalnya, fenomena film hantu tidak ada yang riil hantun

“Hantunya jadi esek-esek atau esek-esek hantu, jadi kayak nggak punya kepribadian,”ujar artis yang main bareng Nicholas Saputra di GIE itu.

Kini, lanjut Happy, justru yang berprestasi adalah sinetron yang mengulas tema tentang Indonesia. “Ya terbukti kan yang sukses itu yang tetap Indonesia,” tandasnya.

Maraknya film horor yang dibumbui adegan porno di Indonesia, tak lantas membuat Happy ikut menerima tawaran adegan syur meski dengan bayaran tinggi.

“Nggak saya ambil. Memang bu­kan karena siapa-siapa. Tapi kita pu­nya tanggung jawab. Terutama terhadap budaya bangsa,” cetus artis pendukung wanita terbaik dalam film 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita ini. (rm/jpnn)

Masya Allah, Bayi Tanpa Batok Kepala

JAKARTA- Umyana (21), warga Kampung Cipay Pageuh, Desa Talok, Kecamatan Kresek, Kabupaten Tangerang melahirkan seorang bayi tanpa batok kepala. Bayi malang berkelamin laki-laki ini masih dirawat di RSUD Tangerang.
“Ketahuannya pas di USG seminggu sebelum melahirkan. Ternyata kata dokter benar. Nggak ada batok kepalanya,” kata kakak Umyana, Kusni saat ditemui di RSUD Tangerang, Banten, Sabtu (4/6).

Menurut Kusni, adiknya melahirkan Sabtu (4/6) sekitar pukul 08.00 WIB. Meski sudah diberitahu oleh dokter, keluarga tetap terkejut saat mengetahui bayi Umyana tak punya batok kepala. Sedangkan kondisi seluruh tubuh bayi ini sama seperti bayi normal lainnya.

“Kita kaget juga. Kalau badannya sih utuh,” ujarnya.

Kusni menceritakan saat bayi ini berusia 2 bulan dalam kandungan, Umyana dan suaminya Abdul Rosyid bercerai. Usia pernikahan pasutri ini hanya berumur 3 bulan. Rosyid diduga berselingkuh dengan wanita lain.

“Ayah ibunya sudah bercerai. Pernikahannya tidak MBA (hamil duluan sebelum nikah),” jelasnya.
Saat ini sang bayi masih dirawat di ruang Pernatologi Infeksi, lantai 2 RSUD Tangerang. Sedangkan si ibu, Umyana dalam kondisi sehat di ruangan Anyelir lantai dasar. Umyana melahirkan bayinya secara sectio sesar.
“Ibunya sehat. Bayinya lagi di atas,” ungkapnya.

Perawatan Umyana dan bayinya menggunakan Jamkesmas. Namun keluarga sudah mengeluarkan biaya Rp200 ribu untuk membeli obat untuk Umyana. Hingga kini belum ada keterangan dokter mengenai kondisi sang bayi. (net/jpnn)

Gantung Diri Karena Utang

LABUHAN- Diduga karena tak sanggup bayar utang, M Riyan (19), warga Jalan Perunggu, Lingkungan VI, Kelurahan Kota Bangun, Medan Deli, nekat gantung diri, Sabtu (4/6). Adalah Rugaya (60), nenek korban, yang pertama kali menemukan jasad Riyan tergantung di kamar mandi. Saat itu, Rugaya hendak mengambil air wudhu di kamar mandi. Ketika hendak menimba, dia menarik tali timba.

Namun alangkah terkejutnya dia, ternyata di tali timba tersebut sudah tergantung jenazah cucunya. Nenek ini pun menjerit sejadi-jadinya, sehingga mengundang perhatian keluarga dan warga sekitar. Saat dievakuasi, terlihat kondisi tubuh korban membiru, dari leher hingga kakinya. Bahkan lidahnya menjulur.

Menurut Adi (20), teman korban, Riyan diduga nekat bunuh diri karena tak sanggup membayar hutang. “Kemungkinan, karena dia ada utang mengganti sepeda motor temannya yang dirusaknya,” ujar Adi.(mag-11)

Belajar Berenang, Siswi SMA Pencawan Tewas

KUTALIMBARU- Dua siswi SMA Pencawan hanyut di Pantai Babarsari, Kutalimbaru, Jumat (3/6) sore. Seorang siswi bernama Ely Pratiwi (18), warga Dusun Lima Simpang Gardu Desa Namo Bintang Kecamatan Pancur Batu tewas, sedangkan temannya Emmy Br Kaban (18), warga Kabanjahe,Tanah Karo, berhasil diselamatkan dan langsung dilarikan ke RSUP H Adam Malik Medan.

Menurut Juli, warga Padangbulan, saat itu Ely minta belajar berenang sama dua orang temannya. Nah, saat belajar berenang itulah tubuh Elly terseret arus. Juli sempat mencoba menolong dengan memegang tangan Ely. Namun terlepas. Mengetahui ada pengunjung hanyut, pihak pengelola dan warga mencari dan menemukan Ely di dasar sungai. (mag-3/smg)

Kepala Dipukul dan Dibenturkan ke Tembok

Gara-gara Rp5 Ribu, Ibu Aniaya Anak Kandung

MEDAN- Gara-gara uang Rp5 ribu, Siti Khadijah (29), warga Komplek Arjuna Pasar VII, Percut Sei Tuan, tega menganiaya anak kandungnya Ira Fajira, yang masih berusia enam tahun. Akibatnya, Ira mengalami luka memar pada wajah, leher, telinga dan kepalanya.

Penganiayaan ini berawal ketika Siti menanyakan uang belanja yang tinggal Rp5 ribu pemberian suaminya kepada Ira. Bukan memberi tahu, Ira malah memaki-maki Siti dengan kata-kata yang tak pantas diucapkan oleh anak kecil. Kesal dengan perilaku anaknya, Siti memukul Ira.

“Tinggal Rp5 ribu itulah uang kami. Jadi, saya menanyakan kepada Ira di mana uang itu diletakkannya. Karena, uang itu untuk membeli makanan anak saya yang paling kecil. Bukan menjawab, eh dia malah memaki saya dengan cakap kotor. Lalu saya pukul kepalanya dan saya benturkan ke tembok,” ungkap Siti saat diperiksa di Mapolsekta Percut Sei Tuan, Sabtu (4/6).

Setelah melakukan perbuatannya, Siti mengaku menyesal. Namun, dia tetap tidak terima, karena anaknya selalu melawan dan membandal serta suka memaki dengan cakap kotor. “Saya tidak ada mengajari anak saya cakap kotor. Dia tahu cakap kotor dari lingkungan tempat saya tinggal,” ungkapnya.

Siti juga membantah kalau dia ada melempar anaknya ke atas. “Mana ada saya lempar anak saya ke atas seperti yang dibilang warga. Mereka itu semua sirik lihat saya,” cetusnya sambil menangis.

Kapolsekta Percut Sei Tuan, Kompol Maringan Simanjuntak SH menuturkan, kasus itu ditangani Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA). Maringan juga mengungkapkan, pihaknya sedang berkoordinasi dengan suami tersangka M Ali Lubis, terkait pemukulan ini. “Kita akan koordinasikan dengan suaminya.
Siti sementara ini kita tahan di Polsek guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,” ungkapnya.
Sementara itu, Ira saat ditanyai mengaku, ibunya memukulnya dengan kuat dan mengantukkannya ke tembok rumahnya. “Ibu jahat karena pukul saya,” ujar bocah 6 tahun ini.(jon)

56 Penumpang Selamat dan Dialihkan ke KA Lain

Sri Lelawangsa Tergelincir

MEDAN- Kereta api penumpang Sri Lelawangsa KRDI-30920 tujuan Belawan-Binjai tergelincir di KM 6 lorong 14 Brayan Darat, Kelurahan Tanjung Mulia, Medan Deli, Sabtu siang (4/6) pukul 14.30 WIB. Meskipun belum bisa dipastikan penyebab kejadian, namun akibatnya sejumlah penumpang harus dialihkan menggunakan kereta api sejenis.

Humas Divre I PTKAI Sumut, Irwan saat dikonfirmasi mengatakan, kejadian tersebut belum bisa diketahui secara pasti penyebabnya. “Penyebab kejadian masih dalam proses penelitian yang dilakukan oleh tim yang tergabung dalam sarana prasarna serta tim lainnya, untuk hasilnya akan diketahui dalam waktu dekat ini,” sebutnya.
Dia juga mengatakn, tergelincirnya kereta api bermuatan 56 penumpang itu tidak mempengaruhi keberangkatan kereta api penumpang yang lainnya. Mengingat jalur yang digunakan hanya untuk kereta api jurusan Binjai, Medan dan Belawan.

“Berhubung ini hanya keberangkatan jalur pendek, jadi tidak mempengaruhi keberangkatan yang lain. Sedangbkan untuk keberangkatan jarak jauh seperti Tanjung Balai dan Rantauprapat, menggunakan kereta api penumpang Sri Bilah,” ungkapnya.

Irwan juga mengatakan, jika kesalahan yang terjadi merupakan kelalaian, akan ada sanksi tegas yang akan diberikan pimpinan. “Kita tidak bisa menduga-menduga. Bisa saja ini kelalaian dari bagian sarana dan prasarana, masinis ataupun yang lainnya. Namun kita belum bisa mengambil keputusan, sebelum keluarnya hasil penelitian,” ungkapnya.

Sementara Opung Sindi, warga yang berada di lokasi kejadian mengaku sempat mendengar suara benturan keras saat kereta api tergelincir. Dia juga mengatakan, kejadian tersebut sebelumnya pernah terjadi tiga tahun lalu dan menyebabkan terbaliknya kereta api penumpang. “Setidaknya sudah tiga kali kejadian yang sama terjadi. Tapi tidak ada korban jiwa,” ujarnya.(uma)

Diberondong Jarak 5 Meter, Peluru Nihil

Rekontruksi Penembakan Mobil Bupati Bener Meriah

ACEH- Untuk mengungkap kasus penembakan terhadap Bupati Bener Meriah Tagore, aparat Polda Banda Aceh dan Polres setempat melakukan rekontruksi, Sabtu (4/6) pagi pukul 10.00 WIB. Uniknya dalam hal ini Tagore dan supirnya, Gempar, memberikan keterangan berbeda soal insiden kemarin.

Dua versi tersebut menurut Gempar yang menjadi saksi korban, bahwa pelaku mengeluarkan tembakan ke arah mobil, setelah melewati jembatan totor besi Uning Bersah. Sedangkan Tagore menyatakan pelaku melepaskan timah panas sebelum jembatan.

Kata Tagore kepada petugas Kepolisan saat melakukan rekonstruksi mengatakan sebelum OTK memberondongannya, Tagore bersama supirnya tengah berbicara. “Saya santai  ngobrol dan tidak merasakan firasat apapun,”  kata Tagore mengakui.

Bahkan dari hasil rekon, pelaku melepaskan pelor ke arah mobil Bupati Bener Meriah hanya berjarak 5 meter, dari arah semak-semak serta di dalam mobil pelaku. Sedangkan rekonstruksi dipimpin langsung Kapolres Bener, AKBP Hari Aproyono, AKBP T Saladin, Dir Reskrim Polda Aceh dan Kombes Drs Bambang,  berjalan selama tiga jam serta arus lalulintas dari Simpang Tritit Pondok Baru, ditutup sementara.

Sebelumnya, sekitar 70 orang masyarakat setempat melakukan gotong royong yang dipimpin oleh ketua Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Bener Meriah, Rusli M Saleh , dibantu pihak kepolisian Bener Meriah. Hal itu merupakan inisipatif masyarakat setempat untuk mempermudah tugas pihak kepolisian  menemukan sisa selongsong dan proyektil peluru OTK yang hingga saat ini belum ditemukan.

Seusai olah TKP, Kapolres Bener Meriah, AKBP Hari Apriyono  menyatakan, pihaknya melakukan rekonstruksi itu untuk mengambil data dan fakta menurut keterangan saksi khususnya korban, untuk dijadikan analis bahan penyidikan. (ron/jpnn)

Dua DPO Penembak Polisi Tewas

POSO- Pelarian Fauzan alias Ujan alias Carles, dan Hidayat alias Dayat alias Gufron, dua Daftar Pencarian Orang (DPO) tersangka penembak mati dua anggota polisi Direktorat Pengamanan Objek Vital (Obvit) Polda Sulteng Rabu (25/5), berakhir. Sabtu (4/6) sekitar pukul 11.10  WITA, keduanya tewas dalam baku tembak dengan pasukan gabungan Densus 88 Anti Teror Mabes Polri, Brimob Polda Sulteng dan Polres Poso di Pegunungan Buyungkele sebelah barat sungai Desa Tambaro Kecamatan Lage Kabupaten Poso.

Jejak kedua DPO yang diduga teroris itu diendus polisi dari laporan warga Desa Tambaro yang melihat dua orang tak dikenal melintas di lokasi perkebunan warga pegunungan Buyungkele Sabtu pagi, sekitar jam 7.30 WITA. Pasukan gabungan Polri yang sedari pagi melakukan penyisiran langsung mengejar dengan cara mengepung pegunungan dimaksud.

Kapolres Poso, AKBP Pulung R, membenarkan keberhasilan polisi dalam operasi pengejaran DPO Fauzan alias Ujan alias Carles, dan Hidayat alias Dayat alias Gufron, yang telah diburu sejak 10 hari lalu (sejak Rabu, 25/5). “Kedua DPO tewas setelah baku tembak selama hampir 30 menit,” terangnya kepada wartawan di pinggiran sungai Tambaro.
Kapores Pulung ikut langsung dalam operasi pengejaran Fauzan dan Gufron. Diceritakan dia, pengejaran terhadap Fauzan dan Gufron kemarin dilakukan oleh empat tim pasukan bersenjata lengkap gabungan Densus, Brimob, dan Polres Poso. Dua tim bergerak dari arah Desa Tambaro, dan dua tim lain bergerak dari arah Kelurahan Lembomawo.
Tim pasukan dari arah Tambaro adalah tim yang pertama kali melihat dua DPO setelah melakukan pengejaran hasil informasi warga yang melihat dua orang tak dikenal berjalan melintas di perkebunan mereka. Beberapa saat melakukan pengejaran, mereka berhasil melihat dua DPO yang dikejar.

Mereka pun langsung mengeluarkan satu kali tembakan peringatan. “Tapi keduanya lari,” sambung Pulung. Pelarian mereka akhirnya mentok setelah arah yang dituju diblokir tim pasukan yang bergerak dari arah Kelurahan Lembomawo. Kedua DPO ini kemudian diduga bersembunyi. Beberapa saat kemudian, pasukan gabungan dari dua arah berbeda (dari Tambaro dan dari Lembomawo) mengendap mengepung sebuah gubuk (rumah kecil di kebun, red) petani. Saat melakukan pengendapan, tiba-tiba ada salah satu anggota polisi yang batuk.  “Bersyukurlah ada anggota yang batuk. Karena dari suara batuk itu mereka keluar dari gubug dan lari,” ujar Kapolres.

Karena lari, polisi membuang tembakan peringatan. Bukan menyerah, kedua DPO justru melawan dengan melakukan tembakan balik ke arah polisi. Maka terjadilah baku tembak selama kurang lebih 30 menit sebelum akhirnya kedua DPO tewas tertembus timah panas senjata polisi. Tak ada keterangan resmi polisi soal dimana posisi luka tembak mematikan yang dialami Fauzan dan Gufron. Informasi yang diperoleh wartawan menyebut, keduanya tewas setelah kena berondongan tembakan di bagian dada.

Pada aksi baku tembak tersebut, seluruh pasukan gabungan Polri selamat. “Alhamadulillah, semua anggota selamat. Tidak ada yang luka atau terkena tembakan,” jelas Pulung. Dari dua DPO tertembak mati itu, polisi mengamankan sejumlah barang bukti. Yakni, satu pucuk senjata api V2 plus 1 buah magazine dengan sejumlah amunisi, satu bilah parang, air minum dalam kemasan botol air mineral, dua pasang sepatu boad/jenggel, dan tujuh potong daging ayam panggang/bakar.

Setelah dievakuasi dari TKP ke pinggiran sungai Desa Tambaro (jarak tempuh TKP baku tembak ke sungai Tambaro 3 km, red), jenazah Taufan dan Gufron langsung dimasukan ke sebuah mobil ambulance milik Polres Poso langsung menuju ke RS Bhayangkara di Palu. Mobil jenazah yang membawa jasad kedua orang DPO penembak mati polisi tersebut hanya tampak singgah sebentar di Mapolres Poso untuk kepentingan pengisian bahan baker. Dengan dikawal pasukan Densus bersenjata lengkap, sekitar jam 16.00 wita mobil jenazah langsung melaju keluar Mapolres Poso menuju Palu.