31.8 C
Medan
Saturday, April 18, 2026
Home Blog Page 15157

Selalu Riset terhadap Anak-anak untuk Menilai

Muhammad Zuhdi, Tokoh Penting di Balik Tayangan Serial Jalan Sesama

Jika di Amerika ada boneka-boneka lucu Sesame Street, untuk versi Indonesia-nya, ada Jalan Sesama. Selama tiga tahun terakhir, serial yang diputar di salah satu stasiun televisi swasta itu menjadi alternatif tayangan pendidikan bagi anak-anak. Sosok penting yang memberikan sentuhan edukatif pada Jalan Sesama itu adalah Muhammad Zuhdi.

M. Hilmi Setiawan, Jakarta

PENCINTA serial Jalan Sesama pasti sudah bertanya-tanya, kapan tayangan tersebut kembali diputar. Penikmat serial edukasi itu mungkin sudah kangen kepada Tatan, Jabrik, Momon, dan Putri. Mereka adalah karakter utama serial Jalan Sesama.

Serial edukasi sekaligus menghibur tersebut merupakan hasil kerja sama Sesame Workshop, si pemilik lisensi Sesame Street, dengan PT Creative Indigo Production.
Ditemui di kantor Indigo pada Rabu lalu (22/6), Zuhdi langsung menyapa dengan senyum khas. Pria yang hingga kini aktif menjadi PNS dosen di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, itu tidak menampakkan raut muka lelah, meski bekerja di dua tempat.

Ngobrol ringan sambil ditemani teh hangat, Zuhdi menuturkan bahwa produksi Jalan Sesaman
sudah masuk tahun atau season keempat. Tiga musim pertama sudah ditayangkan di salah satu stasiun televisi swasta nasional. Penayangan perdana dimulai 2008. Untuk season keempat, produksinya sudah rampung. Tapi, sementara disimpan dulu karena Zuhdi bersama timnya masih mencari kerja sama dengan stasiun televisi yang cocok untuk penayangannya.

Zuhdi menjelaskan, dalam setiap musim, tema utama pendidikan yang ingin disampaikan kepada anak-anak sasaran Jalan Sesama selalu berbeda. Dalam satu musim ada 52 episode. Dia menuturkan, untuk musim pertama dulu, tema utama yang ingin disampaikan adalah tentang keragaman. “Lahir di Indonesia, anak-anak harus mulai diberi wawasan bahwa kita hidup beragam,” jelas pria kelahiran Jakarta, 4 Juli 1972, tersebut.
Tahun berikutnya, Zuhdi menjelaskan, tema utama Jalan Sesama adalah pembentukan karakter. Dia menuturkan, tidak perlu memberikan contoh yang muluk-muluk kepada anak untuk menanamkan karakter yang baik dan mulia. Membiasakan anak untuk mengucapkan terima kasih kepada siapa pun, termasuk kepada pembantu rumah tangga, sudah menjadi bagian dari penanaman karakter.

Sementara itu, untuk musim ketiga yang ditayangkan tahun lalu, Jalan Sesama mengambil tema utama kesadaran menjaga lingkungan hidup. Tema tersebut berkaitan dengan isu pemanasan global yang sudah menjadi isu dunia.
Musim keempat yang belum ditayangkan mengambil tema utama inclusiveness atau keterbukaan. Menurut dia, anak-anak terlahir dengan fitrah bisa bergaul dengan siapa pun. ”Peran keluargalah yang akhirnya membuat anak-anak cenderung bersifat eksklusif,” ucap alumnus pesantren Al Masthuriyah, Sukabumi, tersebut.

Dalam setiap episode yang terdiri atas beberapa segmen, kata Zuhdi, pesan-pesan atau muatan pendidikan dibuat sevisual mungkin. Pria yang bergelar doktor dan menekuni disiplin ilmu pendidikan itu menjelaskan, pada fase anak-anak, pesan bisa tersampaikan dengan optimal jika banyak visualisasinya. Sebaliknya, jika disampaikan secara lisan atau pitutur oleh karakter-karakter Jalan Sesama, pesan pendidikan tersebut bakal sulit diserap anak-anak.
Saking bersemangatnya menggarap visualisasi Jalan Sesama untuk menanamkan pesan pendidikan, pernah suatu ketika pesan yang diterima anak-anak salah. Saat itu, jelas Zuhdi, pesan yang ingin disampaikan dalam salah satu segmen Jalan Sesama adalah pelajaran huruf P. Supaya pemirsa anak-anak cepat paham, tim menentukan pisang sebagai contoh benda yang berawalan huruf P.

Nah, visualisasi adegan tersebut berlebihan hingga pesan belajar huruf P itu tidak tersampaikan kepada pemirsa. Saat itu, ceritanya, si Tatan (sosok orang utan betina) menunjukkan sekaligus berteriak: ini pisang! Selanjutnya, Tatan mengupas lalu memakan pisang itu. Kemudian, kulit pisang ia lempar begitu saja. Akibatnya, teman Tatan terpeleset. ”Saya kira adegan tersebut tidak akan membuat anak-anak berpaling,” ucap Zuhdi.

Tapi, setelah dilakukan penelitian terhadap beberapa anak usia 3–6 tahun sebagai sampel, Zuhdi tercengang. Ternyata, anak-anak tidak menyerap pesan belajar huruf P. Sebaliknya, mereka seperti mendapat wejangan bahwa boleh membuang sampah sembarangan. Akhirnya, Zuhdi bersama tim kreatif mengolah kembali adegan tersebut.
Dia menjelaskan, pengerjaan Jalan Sesama berbeda dari serial-serial umumnya. Terutama sinetron. Menurut dia, setelah beberapa episode Jalan Sesama diproduksi, dirinya dan tim langsung mengadakan penelitian atau riset formatif.

Riset tersebut dilakuan untuk menguji apakah pesan-pesan atau muatan pendidikan tersampaikan kepada pemirsa. Selain itu, Zuhdi menguji seberapa kuat tayangan tersebut. ”Intinya, pertanyaan anak itu suka atau tidak harus terjawab. Jika sudah tidak suka, percuma ditayangkan,” tegas suami Sri Wijayaningrum tersebut.

Secara teknis, riset itu melibatkan 20–30 anak dari kelas ekonomi yang beragam. Mereka ditempatkan dalam satu ruangan untuk menonton salah satu episode Jalan Sesama. Dalam ruangan tersebut, anak-anak benar-benar bebas. Tidak ada intervensi dari orang tua atau guru. Mereka bebas, apakah mau menonton Jalan Sesama atau tidak. Menurut Zuhdi, jika anak-anak tertarik, berarti tayangan sudah baik. Jika pesan-pesan yang ingin disampaikan sudah dipahami anak, tayangan itu pun siap ditayangkan di televisi.

Zuhdi lantas menceritakan, awal keterlibatan dirinya dengan produksi Jalan Sesama dimulai pada pengujung 2006. Saat itu, dia sedang merampungkan kuliah doktoral di McGill University, Kanada. Dia mendapat informasi bahwa Sesame Street bersiap mengembangkan sayap di Indonesia. ”Saat itu, ada kesempatan bagi para ahli pendidikan,” kenang Zuhdi. Dia pun mengirimkan lamaran dan akhirnya diterima.

Sebelum memulai proses produksi untuk musim pertama, kata Zuhdi, dirinya sempat melakukan riset di beberapa pulau besar di Indonesia. Riset itu diperlukan untuk mengetahui potensi serta kebiasaan sasaran tayangan Jalan Sesama.

Selain itu, riset tersebut digunakan Zuhdi untuk lebih menghidupkan beberapa karakter Jalan Sesama. Contohnya, untuk menghidupkan karakter Tatan, si orang utan, dia dan timnya meluncur ke Sumatera guna mengetahui langsung perilaku orang utan.

Pascariset lapangan tersebut, Zuhdi menggali ilmu sebanyak-banyaknya dari beberapa kali seminar. Salah satu seminar itu diikuti unsur guru, ahli pendidikan, pemerhati pendidikan, orang tua siswa, dan unsur-unsur lain. Tujuan seminar tersebut, Zuhdi mendapat masukan ide-ide dan gagasan pesan pendidikan yang bakal ditanamkan di Jalan Sesama.

Setelah semua terkumpul, produksi season pertama Jalan Sesama dimulai pada 2007 dan kemudian ditayangkan pada 2008. Hingga tiga tahun penayangan, Zuhdi menyebutkan bahwa sambutan pemirsa cukup hangat. Saat ini, kata dia, ketika Jalan Sesama tidak lagi nongol di layar kaca, banyak fans yang menyatakan rindu dan bertanya kapan ditayangkan lagi. ”Unek-unek itu juga terekam di Facebook Jalan Sesama,” jelas bapak dua anak tersebut.
Terkait dengan belum ditayangkannya season keempat Jalan Sesama, Zuhdi menjelaskan, hal itu sudah menjadi PR bagi dirinya dan tim Indigo. Dia optimistis, memasuki paro kedua tahun ini, ada stasiun televisi yang bersedia membeli hak tayang Jalan Sesama.

Keyakinan Zuhdi tersebut didasari sambutan pihak-pihak lain terhadap Jalan Sesama. Selama tayang dalam tempo tiga tahun itu, ada beberapa penghargaan yang berhasil disabet Jalan Sesama. Di antaranya, piala emas dalam World Media Festival di Jerman dan Cine Golden Eagle Award di AS untuk kategori children’s entertainment. Di dalam negeri, penghargaan pernah diberikan Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) sebagai tayangan pendidikan.

Untuk bisa segera tayang, Zuhdi terus menjajaki beberapa stasiun televisi. Selain itu, berusaha meminta pertimbangan ke Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Upaya tersebut dilakukan supaya lebih meyakinkan bahwa Jalan Sesama adalah program edukasi sekaligus menghibur untuk anak-anak.

Usaha tersebut beradu kuat dengan kecenderungan televisi yang lebih mengutamakan penayangan acara-acara bersifat komersial. Celakanya, sulit menemukan muatan-muatan pendidikan, terutama untuk anak-anak, dalam tayangan yang cenderung bersifat komersial tersebut.

Selain bersaing dengan tayangan lain, Zuhdi menegaskan bahwa tim Jalan Sesama butuh sponsor. Selama ini, proses produksi masih ditopang donatur dari AS. Dia menjelaskan, untungnya, tim produksi bisa menghemat. Dengan demikian, anggaran dari donatur yang dialokasikan untuk tiga musim bisa ditekan. Anggaran tersebut masih cukup untuk proses produksi Jalan Sesama satu hingga dua tahun ke depan. (c5/kum/jpnn)

Menanti Nasib LPI

Di bawah Komite Normalisasi (KN) Liga Primer Indonesia (LPI) dinyatakan akan dirangkul. Namun kemana LPI akan dijajarkan oleh pengurus PSSI yang baru nanti?

Wacana yang paling santer terdengar adalah menempatkan LPI di Divisi III yang selama ini dihuni klub berlabel amatir.

Mendapati kemungkinan itu, salah satu CEO klub LPI, Dityo Pramono tampak tak bisa menerima. Dia berharap, ada solusi terbaik untuk Liga Primer Indonesia (LPI) dari PSSI usai kongres di Solo 9 Juli mendatang.
Dityo juga menilai, PSSI nantinya melalui PT Liga Indonesia (LI) harus memisahkan mana klub yang profesional, dan mana yang amatir. “Divisi tiga itu klub amatir, klub kami profesional. Bagaimana bisa digabung. Mana bisa dicampur seperti itu, enggak betul,” ujarnya.

Menurutnya, revolusi PSSI yang digadang selama ini adalah menjadikan klub liga Indonesia bisa berjalan dengan baik. Dia mencontohkan, selama ini yang terjadi, begitu cepatnya klub berubah dari profesional menjadi amatir dan begitu juga sebaliknya.

“Selama ini, tim-tim yang degradasi dari Liga Super Indonesia turun ke divisi utama jadi klub amatir, kemudian klub yang divisi utama begitu promosi labelnya jadi klub profesional. Ya nggak bisa begitu, mau sepuluh kali klub amatir promosi atau degradasi klub tetap amatir atau mau klub profesional promosi atau degradasi beberapa kalipun,  rofesional tetap profesional, paling kastanya yang berbeda,” bebernya.

Untuk itu, dia mengatakan, Badan Liga nantinya melihat kembali kriteria klub yang disebut profesional itu seperti apa.  “Kompetisi selanjutnya bisa dilihat mana klub yang memenuhi masukkan dalam liga profesional, mana yang tidak silahkan di liga amatir,” ujarnya.

Dari standar Badan Liga Indonesia, kriteria klub disebut profesional harus memehuhi sporting infrastructure (kelengkapan infrastruktur keolahragaan), personil dan administrasi, legalitas, financial  dan pembinaan usia dini serta profesionalitas sumberdaya manusia yang mengelola klub. (ful)

Duel dengan Tetangga, Tukang Kue Tewas

MEDAN- Seorang pedagang kue yang biasa mangkal di lokasi biliar Jalan Sekip Medan, tewas setelah duel dengan tetangganya sendiri, Sabtu (2/7) pukul 07.00 WIB. Korban, Burhanuddin (40), warga Jalan Periuk Gang Subur Kelurahan Sei Putih Tengah, Medan Petisah, meregang nyawa setelah kemaluannya diinjak-injak tersangka, Viktor Manalu (30), warga Jalan Pabrik Tenun.

Duel maut ini berawal ketika ayah korban, Rahmat (65) sedang mengendarai sepeda motor di Jalan Cengal. Di tengah jalan, Rahmat berpapasan dengan Viktor Manalu yang masih tetangganya. Viktor tiba-tiba menggeber sepeda motor GL Pro yang dikendarainya di depan Rahmat. Kontan Rahmat tersinggung dan mengherdik tersangka. “Kau bukan imbangku. Kalau kau jago, sama anakku kau main. Ayo ke rumahku,” tantang Rahmat kepada Viktor.

Mendapat tantangan itu, Viktor dengan lantang menerimanya dan mengikuti Rahmat. Sesampai di rumah, Rahmat langsung membangunkan Burhanuddin yang sedang tidur. Rahmat menceritakan kepada anaknya kalau Viktor telah melecehkannya di jalan. Rahmat pun menyuruh anaknya berduel dengan Viktor. Tanpa pikir panjang, Burhan yang sudah emosi bergegas keluar menemui Viktor.

Viktor dan Burhan pun bergumul. Burhan memukul dan mencakar kuping Viktor. Gelap mata, Viktor balik memukuli Burhan hingga tersungkur. Peluamng itu tak disia-siakan Viktor. Dia langsung menginjak-injak kemaluan Burhan. Seketika, Burhan langsung lemas. Melihat Burhan tak berdaya, Viktor bukannya menghentikan serangannya, dia semakin beringas dan kembali memukuli Burhan hingga tewas.

Melihat masyarakat berdatangan, Viktor pun melarikan diri. Warga pun hanya bisa tercengang melihat Burhan tidak bernyawa lagi dengan keadaan seluruh tubuhnya basah akibat air seninya keluar setelah beberapa kali kemaluannya diinjak Viktor. Melihat korban tewas, warga menghubungi Polsekta Medan Baru dan jenazahnya dilarikan ke RSU Pirngadi Medan untuk divisum.

Sementara , Viktor malah mendatangi Mapolsekta Medan baru untuk membuat pengaduan atas luka cakar di kuping dan pelipisnya. Namun, Viktor langsung ditahan dan dijebloskan ke sel Mapolsekta Medan Baru.

“Viktor sudah kita masukkan ke sel, nanti kita periksa,” kata Kapolsek Medan Baru, AKP Dony Alexander SIK ketika dikonfirmasi, kemarin. (mag-7/jon)

Kicauannya Menawan Hati

Memelihara Burung

Sudah sejak lama burung menjadi salah satu binatang peliharaan yang populer di masyarakat, terutama bagi kaum laik-laki. Bahkan dalam budaya Jawa, ada sebuah peribahasa yang mengatakan, belum akan menjadi laki-laki sejati bila tidak punya peliharaan burung.

Lalu apa alasan orang suka memelihara burung? Selain menikmati keindahan bulu dari suatu burung, mereka juga ingin merasakan kemerduan suara dari kicauannya. Bahkan di beberapa tempat, kemerduan suara seekor burung ini sering diadu dengan burung lain dalam suatu lomba burung berkicau. Tapi, tak semua orang yang memelihara burung karena suka akan kicauannya saja. Namun karena keindahan warna bulunya yang mampu menawan hati.
Tapi, disadari atau tidak, akhir-akhir ini banyak kaum lelaki di Kota Medan yang mulai tertarik memelihara burung. Padahal, awalnya mereka sama sekali tak mencintai burung, bahkan tak terpikir untuk memeliharanya. Kesan latah atau ikut-ikutan teman menjadikan mereka tanpa sadar tertarik untuk memelihara burung biar dianggap ikut gaya sebagai lifestyle hingga akhirnya menjadi tren sebagian kaum lelaki di Kota Medan saat ini.

Hal ini diakui Sutrisno, pemilik toko burung di Jalan Bintang. Kata dia, saat ini sebagian kaum pria di Kota Medan mulai berminat memelihara burung, terutama untuk jenis burung tertentu. Seperti, burung Love Bird, Murai Daun dan lainnya.
“Permintaan untuk burung peliharaan mulai dari burung jalak, gelatik dan parkit. Kalau untuk burung perlombaan, biasanya kucer, murai batu dan lainnya. Rata-rata mereka membeli burung untuk dipelihara bukan karena hobi, tapi karena coba-coba ikut-ikutan temannya. Jadi, saat mereka berkumpul bersama teman, mereka membawa burung peliharaan masing-masing,” ujar Sutrisno.

Apalagi, lanjut Sutrisno, peminat burung untuk dipelihara mulai didominasi pria remaja, bukan orangtua lagi. “Ini seperti ajang pertemanan seperti facebook. Mereka berkumpul dalam satu komunitas pecinta burung yang dibuat di kalangan pertemanan mereka sendiri,” ujar Sutrisno yang beberapakali terlibat dalam ajang pertemanan para konsumennya.

Menurut Sutrisno, untuk memelihara burung juga tidak terlalu sulit, cukup membersihkan kandang, tempat makan dan minumnya minimal 1 hari sekali. Jenis makanannya juga tidak sulit, cukup diberikan pisang, milek, padi, atau jagung muda. “Yang penting jangan sampai burung tersebut kekurangan stok makanan dan minuman, juga jangan sering dibuat terkejut karena itu bisa membuat burung merajuk dan tidak berkembang,” lanjut Sutrisno.

Kata dia, harga burung beragam. Untuk burung Love Bird mulai dari Rp500 ribu hingga Rp2 jutaan, burung murai daun mulai dari ratusan ribu rupiah hingga jutaan rupiah. Untuk burung jalak harganya mulai Rp50 ribu per ekor. Sedangkan burung parkit harganya Rp200 ribuan untuk sepasang. Kalau burung gelatik harganya sekitar Rp150 ribuan sepasang. “Kalau kita menjual burung paling jutaan saja, tidak pernah hingga puluhan juta,” papar Sutrisno.
Sebab, lanjutnya, harga burung yang mencapai puluhan juta biasanya burung yang asli ditangkap di hutan. “Malah terkadang para pecinta burung tersebut pesan dulu terkait dengan burung yang diinginkannya,” pungkasnya.

Salah satu pemula pecinta burung, Lian mengakui kalau dirinya baru saja coba-cona memelihara burung. Padahal sebelumnya, Lian sama sekali tak tertpikir untuk memelihara burung. “Baru aku tahu dan rasakan kalau burung juga dapat berperan sebagai penenang dan juga mampu menyenangkan hati. Ini karena warna bulu burung yang cerah dan beragam. “Bahkan warna bulu burung dapat berubah sesuai dengan usianya. Misalnya burung gelatik, ketika masih muda bulunya berwana coklat muda, tetapi begitu sudah sedikit tua, warna bulu menjadi coklat tua,” tambah Lian.

Lian mengakui, berkat hobi barunya memelihara burung, membuatnya semakin banyak mendapat teman. Ia bersama teman-temannya sering saling mengunjungi untuk melihat burung peliharaan tersebut. Tak hanya itu, mereka juga sering mendiskusikan masalah yang dihadapi burung peliharaan mereka. “Tapi terkadang kita juga sering ngumpul di suatu tempat dengan membawa burung peliharaan sendiri, pamer lah. Kan bisa bikin bangga,” kata Lian tersenyum. (juli rambe)

Semakin Merdu Semakin Mahal

Suara burung cenderung merdu dan melengking. Semakin merdu dan berirama suara burung, semakin mahal pula harga suatu burung. “Biasanya burung mulai bersuara ketika usianya sudah 1 tahun. Maka harganya semakin mahal,” kata Sutrisno, penjual burung di Jalan Bintang Medan.

Menurutnya, kemerduan dan irama suara burung sering diperlombakan dengan hadiah yang mencapai puluhan juta. “Lomba sering dibuat, tetapi bukan hadiah intinya, melainkan kesenangan dan kebanggaan bagi pemiliknya,” kata Sutrisno lagi.

Jadi tak heran bila harga burung yang telah memiliki suara merdu (burung jadi) lebih mahal dibandingkan dengan burung yang belum memiliki suara jadi. “Burung yang sudah jadi harganya sampai jutaan, minimal Rp2 jutaan,” lanjut Sutrisno.

Sedangkan yang paling sering diperlombakan, lanjut Sutriso, adalah burung berkicau. Untuk merawat burung berkicau memang gampang-gampang sulit.

“Bagi yang tidak telaten, jangankan bisa mendengarkan kicauan burung,
malah-malah burungnya bisa stres atau mati,” kata dia.

Bahkan, sambung dia, mempunyai burung berkicau yang bisa menjadi pemenang dalam suatu perlombaan pasti akan menimbulkan kebahagiaan dan kebanggaan tersendiri. Karena burung yang dimiliki dan dipelihara bisa menunjukan kepintaran dalam olah suara kicauan yang dikeluarkan. (juli ramadhani rambe)

Mak Comblang yang Profesional

Bisnis mencarikan pasangan itu tidak hanya untuk mencari uang. Perlu panggilan jiwa dan kegairahan. Karena panggilan jiwa itulah, Joanne Warsito meninggalkan dunia korporasi yang telah ia lakoni selama 15 tahun, dan merintis dari nol Matchactually-Asia.

Melalui Matchactually-Asia, Joanne tidak hanya mencarikan pasangan bagi klien dari kandidat yang ada dalam database -disusun dari registrasi online. Ia juga ”berburu” kandidat untuk kliennya, antara lain di pameran lukisan, wine-tasting, hingga tempat jamuan makan.

Selain mencarikan calon pasangan, Joanne juga mengajari bagaimana berkencan sesuai dengan kondisi tiap-tiap klien. Misalnya, mulai dari cara mengirim ”sinyal” pada lawan jenis dengan tatapan tak lebih dari tiga detik, hingga soal cara mengomunikasikan persoalan pada pasangan.

”Pacaran itu profitable kalau punya tujuan. Berpacaranlah dengan orang yang memang Anda mau dan Anda punya tujuan dengannya,” kata Joanne, yang amat merahasiakan identitas para klien ini.

Berhadapan dengan klien, Joanne terbiasa dengan pertanyaan seperti, ”Kenapa aku selalu tertarik kepada cowok yang takut berkomitmen?” Atau, ”Kenapa gampang sekali dia dapat pacar, padahal aku lebih cantik?”
Joanne yakin, pria pada dasarnya bukan takut berkomitmen. Mereka hanya memerlukan alasan jelas untuk berkomitmen dengan seorang perempuan. ”Ketika seorang perempuan menyerahkan segalanya saat berpacaran, si pria bisa jadi makin sulit menemukan alasan untuk berkomitmen,” ujarnya.

Karena tak kunjung menemukan alasan, ada pria mapan yang mudah berkencan, tetapi kesulitan menemukan calon istri. Sebaliknya, ada juga pria yang sukses berkarier, tetapi merasa tak mampu menggaet satu perempuan pun.
Hampir semua klien Joanne datang dengan membawa daftar panjang kriteria yang mereka inginkan. Seorang perempuan, misalnya, bisa mensyaratkan pasangan dengan tinggi badan minimal, rambut tidak botak, pembaca setia koran berbahasa Inggris, pencinta kucing, dan lain-lain.

Namun, bila daftar panjang ini diperas jadi syarat utama saja, ”top list”-nya adalah mapan bekerja, sayang kepada pasangan, bisa menghargai mertua, dan baik kepada teman-temannya.

Pada klien pria, syarat tampilan fisik hampir selalu menempati urutan teratas daftar yang panjang. Namun, ketika disusun ”top list” yang paling kerap muncul ada lah: perempuan yang bisa jadi ibu terbaik buat anak-anak dan sayang kepada si pria.

”Kita semua bisa menyusun daftar panjang kriteria yang kita inginkan dari pasangan kita, tetapi bisa jadi dengan orang yang hanya memenuhi 30-40 persen saja dari daftar kriteria itu, kita sebenarnya sudah bisa bahagia lahir batin,” ujar Joanne.

Joanne selalu haus dengan keingintahuan terhadap hal-hal baru. Karena itu, ia gemar belajar berbagai hal. Ia sempat asyik melakoni beragam pekerjaan, mulai dari membuat kue ulang tahun hingga menyanyi. Ia juga belajar lima bahasa asing, lalu merangkap kuliah di dua perguruan tinggi. Kemudian, digelutinya dunia pemasaran dan komunikasi korporasi di Jakarta, Biella (Italia), dan Shanghai (Cina).

Ternyata, hal-hal baru yang tak pernah berhenti menyedot perhatian dan membuatnya paling tertantang adalah ”misteri” relasi laki-laki-perempuan. Tanpa “atribut” bisnis pun, urusan pertautan lawan jenis ini sudah ia geluti sejak remaja.

Joanne remaja sempat merasakan pahitnya tersisih dari pergaulan. Ketika itu, dari SD di pinggiran Yogyakarta, Joanne melanjutkan ke SMP 12, kawasan Blok M, Jakarta, yang saat itu populer sebagai ”sekolah selebriti”.
Joanne kemudian mengembangkan keterampilan interpersonal hingga jadi populer di SMA. ”Di SMA, aku yang dulunya pemalu banget jadi jago ngomong. Waktu itu aku udah hobi jodohin teman sekolahku dengan anak-anak SMA lain yang suka hang-out di Blok M,” ujarnya.

Pengalaman masa remaja mengajarkan kepada Joanne, perjodohan tak akan sukses hanya karena kesesuaian profil fisik dan kesamaan hobi atau minat. ”Mesti ada kesesuaian personality dan nilai-nilai pribadi,” katanya.
Pada usia 21 tahun, Joanne menikah setelah pacaran amat singkat, hanya satu bulan, atas saran kedua orangtuanya. Kini, ia menjadi ibu dua anak dan mensyukuri dukungan Philip -suaminya yang berdarah Belgia- untuk terus mengembangkan diri.

Tumbuh dewasa, berumah tangga, berkarier, dan tinggal berpindah-pindah dari Jakarta, Spanyol, Italia, dan China, menambah pula ”keterampilan” Joanne dalam urusan perjodohan. Pada 2004, ia membuat observasi, wawancara survei, dan mengumpulkan bahan studi untuk menulis buku yang ia rencanakan berjudul Flirting Sophisticatedly.
Namun, buku itu tak pernah selesai ia tuliskan. ”Selalu ada saja hal baru yang kurasa perlu kutambahkan. Dunia dating itu amat dinamis. Akhirnya, aku putuskan buku itu tidak untuk kuterbitkan, tetapi aku akan jadikan dating coach dan buku itu bagian dari manualnya,” kata Joanne.

Kembali ke Indonesia, Joanne pun mempersiapkan konsep bisnis perjodohan profesional yang ia idamkan. Tahun 2010, ia mengikuti pelatihan bisnis biro jodoh di Singapura dan awal tahun ini lahirlah Matchactually-Asia.
Menurut Joanne, tidak ada yang salah dengan pilihan untuk melajang sejauh itu membahagiakan. ”Aku cuma enggak ingin melihat para single yang menuliskan statusnya, ’galau dan galau lagi….” (ila/net)

Gara-gara Rp50 Ribu, Pria Lajang Bunuh Diri

TEBING TINGGI- Junimen Sihombing (34), warga Jalan Jalak, Kelurahan Pinang Mancung, Kota Tebing Tinggi, tewas setelah menenggak racun serangga di rumahnya, Jumat (1/7) pukul 18.30 WIB. Pemuda lajang ini nekat mengakhiri hidupnya setelah bertengkar dengan abangnya, hanya gara-gara abangnya itu menghabiskan uang Rp50 ribu yang dititipkannya.

Keluarga Junimen mengetahui kalau korban telah tewas setelah seorang tetangga mereka bernama Herry (17), memberitahukan kalau Junimen mengelupur dengan mulut berbusa di bawah pohon nangka di belakang rumah korban. “Kata Herry, mulut Junimen mengeluarkan busa dan menggelupur di belakang rumah. Kami langsung menuju belakang rumah dan membawanya ke rumah sakit,” kata adik korban, Rapijon kepada wartawan koran ini, Sabtu (2/7).(mag-3)
Namun sayang, meski sempat menjalani perawatan dari tim medis, nyawa Junimen tak tertolong lagi. “Mungkin dia sudah banyak minum racun serangga, sampai saat ini kami belum mengetahui jenis racun serangga apa yang diminum korban,” kata Rapijon lagi.

Dijelaskan Rapijon, Junimen nekat bunuh diri diduga karena masalah sepele. “Kemarin sebelum dia tewas, dia menitipkan uang kepada saya sebesar Rp50 ribu, tak jelas untuk apa dia menitipkan uang itu. Keesokan harinya, dia meminta kembali uang tersebut. Namun karena uang itu sudah habis kupakai untuk beli rokok, aku minta waktu beberapa hari untuk menggantinya,” jelas Rapijon lagi.

Namun, saat itu Junimen tak terima dan marah-marah meminta agar uang itu segera dikembalikan. Setelah itu, dia pergi sambil mengomel menuju kedai tuak. “Sore harinya, baru saya mendapat kabar bahwa adiku itu nekat bunuh diri,” jelasnya. (mag-3)

Menangis Bikin Pria Lega

Perempuan  menangis sekitar 5,3 kali tiap bulan, sedangkan pria hanya menitikkan air mata sekitar 1,4 kali, ungkap ahli neurologi, William Frey.

Tetapi, boleh percaya boleh tidak, laki-laki lah yang paling mendapat keuntungan setelah puas menangis! Menurut Anne Kreamer, penulis buku It’s Always Personal: Emotion in the New Workplace, setelah menangis, “Perempuan justru merasa tidak bahagia, seperti telah melakukan sesuatu yang tabu.” Di lain pihak, pria ternyata merasa lebih baik.
Dalam bukunya, Kreamer menjelaskan bahwa  saluran air mata perempuan secara anatomis juga berbeda dari saluran air mata pria, sehingga menghasilkan volume air mata yang lebih besar. Wanita yang menangis selalu disebut wajar, sedangkan pria yang menangis sering dikatakan lemah karena menunjukkan perasaannya yang terdalam.

Kreamer juga mendapati, penyebab utama wanita menangis adalah kritik. Dalam hal ini, menangis merupakan manifestasi dari emosinya yang sebenarnya: marah. Nah, kesadaran bahwa kita sering tak mampu mengontrol emosi inilah yang menyebabkan kita merasa bersalah setelah menangis.

Di lain pihak, para responden pria yang disurvei mengatakan, setelah menangis, “Pikiran mereka terasa lebih tajam, masa depan menjadi lebih cerah, dan mereka merasa lebih rileks secara fisik, dan lebih mampu mengontrol sebelum insiden terjadi,” ujar Kreamer. (net/jpnn)

Harga Tiket KA Masih Normal

MEDAN- Masa liburan sekolah, jumlah penumpang di Stasiun Besar Kereta Api Medan hanya mengalami kenaikan sebesar 30 persen dari hari biasanya. Meski demikian, harga tiket kereta api tidak berubah.

“Lonjakan penumpang tidak signifikan, hanya naik 25 hingga 30 persen saja dari hari biasanya,” ungkap Kepala stasiun KA Medan, Imron Badari, Sabtu (2/7) siang. Imron mengaku, pihaknya juga sudah melakukan antisipasi dalam menangani lonjakkan penumpang pada musim liburan tahun itu.

“Gerbong sudah kita tambah, seperti di kelas eksekutif kita tambah satu gerbong, kelas bisnis kita tambah dua gerbong dan kelas ekonomi kita tambah satu gerbong,” terangnya. Dia menambahkan, demi keselamatan dan kenyamanan penumpang, pihaknya melakukan pengecekkan rel setiap hari secara rutin.(jon)

Saling Klaim, Pengurus GTDI Nyaris Bentrok

MEDAN- Dua kubu yang mengkalim sebagai pimpinan Gereja Tuhan di Indonesia (GTDI) Jalan Bambu Runcing Medan, nyaris bentrok, Sabtu (2/7) pukul 11.45 WIB. Peristiwa ini berawal saat kubu Pendeta P Zebua didampingi Pendeta Selamat Siagian dan Pimpinan Departemen Kepemimpina GTDI Pendeta Fasa Aru ingin memasuki GTDI Jalan Bambu Runcing Medan.

Kehadiran meraka ditolak pendukung Bishop Sorta Lumban Toruan, yang juga mengaku sebagai pimpinan GTDI Bambu Runcing. Sempat terjadi ketegangan saat pendukung Pendeta Zebua memaksa masuk dan menerobos pagar gereja hingga rusak. Adu mulut pun tidak terhindarkan lagi.

Bentrokan berhasil dihindari berkat kesigapan personel Polsekta Medan Timur mengamankan situasi. Para pendukung Pendeta Zebua akhirnya berhasil masuk dan menguasai gereja.

Sementara, kuasa hukum Sorta Lumban Toruan, Emi Sihombing SH, saat dikonfirmasi di luar gereja mengatakan, pihaknya merasa masih berhak untuk menangani gereja karena Pendeta Selamat Siagian telah dipecat oleh almarhum Pendeta RS Simarmata yang merupakan suami Sorta Lumban Toruan dan pimpinan GTDI Bambu Runcing terdahulu.
“Mereka tidak sah, kami yang memiliki surat izin domisili di GTDI Bambu Runcing ini, izin mereka dikeluarkan di Medan, bukan di Bambu Runcing ini,” ungkap Emi.

Di tempat terpisah, Pendeta Fasa Aru, yang merupakan Pimpinan dari Departemen Kepemimpinan GPDI mengatakan, aksi yang dilakukan pihaknya untuk masuk ke gereja secara paksa, dilakukan karena sebenarnya pihak Sorta Lumban Toruan tidak berhak untuk menjadi pemimpin gereja, apalagi mengadakan musyawarah besar GTDI. “Ini bukan kerajaan, dia saja yang mengklaim dirinya sebagai pimpinan GTDI Bambu Runcing setelah suaminya meninggal,” ujar Fasa.(mag-7)

Tawarkan Hunian Nyaman dan Asri

Perumahan Puri Arena Lestari 3

Memilih rumah bisa dikatakan gampang-gampang susah. Karena, biasanya rumah akan digunakan seumur hidup, sehingga diperlukan pertimbangan matang sebelum kita menjatuhkan pilihan kepada salah satu proyek perumahan yang kita incar.

Perumahan Puri Arena Lestari 3 mungkin dapat menjadi pertimbangan bagi Anda yang sedang mencari rumah untuk tempat tinggal bersama keluarga. Pasalnya, perumahan ini menawarkan kenyamanan dan lingkungan yang asri. Karenanya, perumahan yang berlokasi di Jalan Pembangunan, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang ini, sangat cocok bagi Anda yang merindukan udara yang sejuk nan nyaman.

“Lingkungan di Perumahan Puri Arena Lestari 3 ini memang udaranya masih bersih, karena jauh polusi udara. Apalagi, di kompleks perumahan ini banyak ditumbuhi pepohonan,” ujar Rahmad Hidayat Siregar SE, Direktur PT Ruang Inspirasi Lestari di lokasi perumahan, Senin (27/6) lalu.

Dikatakannya, selain memiliki hunian yang nyaman dan asri, perumahan tersebut juga memiliki fasilitas penerangan lampu jalan, air bersih, jalan yang lebar dan listrik menggunakan daya 1.300 Watt.

“Dijamin fasilitas yang disediakan di perumahan kita sangat cocok bagi siapa saja,” terangnya.
Rahmat juga mengatakan, Perumahan Puri Arena Lestari 3 yang dibangun sebanyak 40 unit ini ditawarkan dengan berbagai tipe dan harga yang sangat terjangkau. Untuk tipe 45 dengan ukuran luas tanah 7,5×16,5 meter dan luas bangunan 7,5×6 meter ditawarkan dengan harga Rp146.500.000.

Lalu, untuk tipe 50 dengan luas tanah 7,5×16,5 meter dan luas bangunan 7,5×6,6 meter dibanderol seharga Rp160 juta per unit. Namun tipe Rumah Tinggal Tempat Usaha dengan ukuran luas tanah 4,2×24 meter dan luas bangunan 4,2×10,7 meter dibanderol seharga Rp150 juta.

“Dari 40 rumah yang sedang dibangun, telah terjual 12 unit rumah, sisanya 28 unit lagi,” terang Rahmat. Untuk itu, Rahamat menyampaikan pada konsumen yang hendak memiliki Perumahan Puri Arena Lestari 3 bisa langsung datang ke kantor pemasaran di Jalan Ir H Juanda Nomor 52, telpon 061 4155561.(omi)