Home Blog Page 15225

Mobil Terbalik di Tengah Jalan, Satu Luka

TEBING TINGGI- Mobil Daihatsu Xenia BK 1783 KQ terbalik di Jalan Sudirman, tepatnya depan Rumah Sakit Sri Pamela, Kota Tebing Tinggi Minggu (22/5) sekira pukul 05.30 WIB. Insiden ini disebabkan sopir mobil asyik bermain handphone sehingga menabrak median jalan.

Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu, tetapi Siti, satu dari lima penumpang mobil carteran yang melaju dari Kota Sibolga menuju Kota Binjai itu harus dirawat di Rumah Sakit Sri Pamela Tebing Tinggi. Keenam penumpang itu adalah, Ronal, Muhammad Eddy Setiawan, Muhammad Lili, Joko, Hendrik, Siti (istri Joko) yang kesemuanya warga Runda, Jati Utomo, Binjai Utara, Kota Binjai. Kemudian ditambah sopir, Maha Raja Aritonang (35) penduduk Kota Sibolga.

Kepada wartawan koran ini, Maha Raja Aritonang (35) mengaku, saat kejadian dia sedang asyik menelepon  ibunya, sementara mobil dalam posisi kencang.

Naas, saat itu Maha Raja Aritonang tidak melihat pembatas jalan terbuat dari beton. Lalu mobil menghantam median jalan sebelah kanan sehingga ban pecah, karena tidak stabil dan posisi kencang, mobil terbalik sebanyak dua kali dan terlempar 20 meter dari lokasi kejadian. Saat kejadian, seluruh penumpang dalam keadaan tertidur.
Sementara itu, Joko mengatakan mobil Xenia itu sengaja mereka carter dari Sibolga menuju rumah mereka di Binjai. Sebab, kontrak pekerjaan mereka di Sibolga telah selesai.

“Tak ada lagi pekerjaan di sana, yah kami putuskan untuk pulang kampung dengan mencarter mobil. Pagi itu kami semua tertidur pulas, terkejut sekali ketika  terbangun dengan posisi mobil sudah terbalik, segera kami semua menyelamatkan diri keluar dari pintu samping,” ujar Joko.

Sementara itu, Siti yang dirawat di Rumah Sakit Sri Pamela dikarenakan terhimpit penumpang lain. Siti sendiri duduk di samping baku tengah.

Kasat Lantas Polres Tebing Tinggi, AKP Juliani Prihatini mengatakan, kejadian tersebut akibat kelalaian sopir yang tidak hati-hati mengemudikan mobilnya. Kini, mobil tersebut ditarik ke Kantor Sat Lantas Polres Tebing Tinggi untuk diamankan.(mag-3)

Dendam, Centeng Kebun dan Istrinya Dibacok

BANDAR TONGAH- Diduga akibat dendam, seorang centeng PTPN IV Kebun Laras Roidan (51) dan Dewi Suhita (48) istrinya, warga Huta Gondang Rejo, Nagori Bandar Tongah, Kecamatan Bandar Huluan, Simalungun di bacok Hendra alias Onong (18), pemuda setempat yang pernah ditangkap korban saat mencuri sawit Oktober lalu. Kasusnya masih diselidiki petugas Sat Reskrim Polsek Perdagangan.

Peristiwa bermula saat korban, istri dan anaknya Rizki Anggara (14) menonton televisi setelah makan malam di rumahnya Sabtu (21/5) sekira pukul 20.30 WIB.

Kala itu, korban baru saja pulang dari pos jaga untuk istirahat dan makan malam di rumahnya. Asyik menonton, secara mendadak mereka dikejutkan dengan kehadiran Hendra alias Onong. Tersangka muncul dari pintu belakang sambil memegang erat golok yang panjangnya sekitar setengah meter.

Tak sempat menanyakan maksudnya, tersangka langsung melayangkan golok ke arah kepala Roidan. Meski sempat berusaha mengelak dan hendak melawan, mata golok pun mengenai kepala, tangan, telinga dan menggores perut Roidan.

Sedangkan Dewi istri korban yang melihat kejadian berusaha melerai aksi kejahatan Hendra, namun ia malah menjadi korban. Bahkan Dewi mendapat luka bacok mulai dari kepala, hidung hingga mengenai bibir dan membuatnya sekarat.

“Udah kukunci semua pintu semalam, entah dari manalah dia masuk. Tapi memang ada suara dobrakan pintu belakang. Kami lagi menonton dan santai setelah habis makan. Rencananya usai istirahat itu aku kembali ke pos jaga untuk tugas. Tapi mendadak, si Onong muncul bawa golok. Tak ada cakapnya, tapi goloknya langsung melayang,” kata Roidan sambil menahan sakit di kepalanya.

Ditambahkannya, saat menjadi bulan-bulanan pembacokan tersebut, ia tak mau tewas sia-sia. Dengan segala upaya perlawanan pun dilakukannya.

“Kalo aku tak sigap kemarin udah habislah. Tapi terus kulawan, memang kena bacoklah aku hingga kayak gini. Yang ku khawatirkan keluargakunya kalau aku sampai mati. Padahal kami tak ada berselisih belakangan ini. Akupun tak tau maksudnya secara mendadak dia begitu,” tambahnya.

Aksi tersangka pun reda setelah korban berteriak dan meminta pertolongan warga. Takut tertangkap, Onong langsung melarikan diri dan menghilang di kegelapan malam. “Sambil melakukan perlawanan, aku berteriak minta tolong. Warga dan tetangga yang mendengar pun mulai berdatangan dan membuat Onong kabur,” ungkap Roidan.
Kapolsek Perdagangan AKP TP Butar-butar yang dikonfirmasi melalui Kasubbag Humas AKP Sulaiman Simanjuntak membenarkan kejadian itu. “Begitu mendapat laporan warga, petugas Pos Kerasaan diback Up Sat Reskrim Polsek Perdagangan langsung terjun dan melakukan pencarian terhadap tersangka. Hingga kini petugas masih memburunya namun belum berhasil ditangkap,” kata Sulaiman.(hez/smg)

Sosialisasikan Donor Darah

LUBUKPAKAM- Ma’had ‘Aly As-Sunnah yang berlokasi di kecamatan Tanjung Morawa Kabupaten Deli Serdang meng gelar penyuluhan donor darah. Kegiatan ini diikuti civitas akademika Ma’had ‘Aly As-Sunnah serta warga sekitar.
Hadir sebagai narasumber Direktur PMI unit donor darah Kota Medan dr H Delyuzar Haris SpPA (K). Selain itu dihadiri juga Kepala Desa Bangun Sari Bambang Herwanto.

Acara ini dibuka Direktur Ma’had ‘Aly As-Sunnah Ustadz Indra Rustam Lc. Hadir juga dalam acara ini Ketua Yayasan Ar-Risalah Al-Khairiyah ustadz Muslim SpdI. Sementara itu jumlah peserta yang hadir dalam kegiatan ini sekitar 150 orang.

Dalam sambutannya Delyuzar Haris menyebutkan, tentang pentingnya masyarakat untuk mendonorkan darahnya, karena Sumatera Utara banyak kekurangan stok darah.

Untuk itu, dia menghimbau para mahasiswa dan warga sekitar agar menyumbangkan darahnya demi kemanusiaan yang sedang membutuhkan. Selain itu, warga juga jangan takut dengan donor darah.
“Kegiatan mendonorkan darah tidak akan menyebabkan seseorang itu akan kekurangan darah, karena sistem peredaran darah dalam tubuh kita akan terus berjalan,”  bilang Direktur PMII unit donor darah yang akrab disapa dengan bang Del itu.

Kepala Desa Bangun Sari, Bambang Herwanto menyambut gembira kegiatan sosial tersebut. Bahkan Bambang berharap, kegiatan ini dapat tersosialisasi dengan baik sehingga membuat warga senang dan berduyun-duyun melaksanakan donor darah. (btr)

Tewas Usai Minum Suplemen

LANGKAT- Diduga minum air mineral dicampur suplemen peningkat stamina, Suheri alias Bandot (41), tewas dalam perjalanan menuju Rumah Sakit. Pria malang itu menghembuskan nafas terakhirnya tak lama setelah bermain bola kaki di Lapangan Bola Kaki Amir Hamzah, Kecamatan Stabat. Kini, pria yang tinggal di Dusun Singlar, Desa Pantaigemi, Kecamatan Stabat itu sudah dimakamkan di TPU Pantai Gemi, Stabat.

Informasi yang diperoleh, korban bermain bola kaki, Sabtu (21/5) pagi di Lapangan Amir Hamzah.  Sebelum tewas, korban diduga sengaja terlebih dahulu mencampur minuman air mineral dengan suplemen peningkat stamina yang banyak dijual di pasaran untuk dikonsumsi.

Tak lama kemudian, korban merasakan pusing dan jatuh pingsan.

Melihat itu, rekan-rekannya yang lain langsung melarikan korban ke Rumah Sakit terdekat untuk diberikan pertolongan medis. Namun, belum sampai di Rumah Sakit, korban sudah menghembuskan nafas terakhir.

Menurut keluarga korban, selama ini korban memang menderita penyakit di bagian lambung. Korban merasa yakin kalau kematian korban lebih disebabkan karena penyakit yang dideritanya. Namun, sesaat setelah mengkonsumsi minuman itu korban terlihat pusing dan jatuh pingsan.(mag-1)

Tuangkan Bensin, Alami Luka Bakar

TEBING TINGGI-  Nurlela Br Sitorus (52), mengalami luka bakar di sekujur tubuhnya, Minggu (22/5) sekira pukul 12.00 WIB. Hal ini terjadi saat Nurlela menuang bensin ke botol air mineral yang dibeli pelanggan, sementara di samping Nurlela anaknya sedang menempel ban sepeda motor.

Tak hanya Nurlela yang mengalami luka bakar, bengkel serta rumahnya di Jalan Ir H Juanda, Kelurahan Tanjung Marulak, Kota Tebing Tinggi juga ikut terbakar.

Akibat kejadian ini kerugian ditaksir Rp7 juta dari barang-barang yang terbakar seperti satu televisi, DVD, mesin konfresor, tempat tidur, dua buah HP dan barang-barang lainnya.

Anak Nurlela Saddam Husain (20) yang menempel ban sepeda motor itu juga menderita luka bakar di kedua bagian kakinya, ketika hendak mematikan api yang membakar tubuh ibunya.

Kedua korban langsung dilarikan ke Rumah Sakit Dr Kumpulan Pane, Kota Tebing tinggi untuk mendapatkan perawatan.

“Kejadian itu berlangsung cepat. Tiba-tiba api menyambar botol bensin yang kuisi bensin dan membakar tubuhku bagian depan, kemudian api membesar dan langsung membakar seluruh bengkel,” ucap Nurlela sambil menahan rasa sakit di tubuhnya.

Sementara, Saddam Husain tidak mengetahuinya kalau ibunya menuangkan bensin didekatnya yang saat itu menempel sepeda motor.

“Tak tahu bang kalau ibu menuangkan bensin dekat dengan aku saat menempel sepeda motor yang bocor. Seketika itu api langsung menyambar, kucoba hendak mematikan api yang membakar ibu ku, namum kakiku juga ikut terbakar,” bebernya.(mag-3)

PNS Langkat Diduga Tipu Rekanan Rp120 Juta

BINJAI- Pelaksanaan tender di Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Binjai, sebanyak 44 paket telah selesai dalam satu pekan terakhir ini. Proyek itu dimenangkan rekanan yang telah menggikuti tender Maret 2011 lalu
Meski tender itu sudah usai, tetapi menyisakan persoalan yang melibatkan salah seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) Langkat yang berinisal W. Dimana, W telah melakukan penipuan terhadap Rusdi Lubis, salah satu rekanan dari Langkat.
Keterangan yang berhasil dihimpun wartawan koran ini, Minggu (22/5), penipuan tersebut berawal saat Rusdi ingin ikut dalam tender yang digelar PU Kota Binjai, dengan jumlah tender 44 paket.

Lalu Rusdi bertemu dengan W. Dalam pertemuan itu, W berjanji kepada Rusdi, kalau ia bisa memberikan satu paket dengan syarat menyetor uang terlebih dahulu kepadanya Rp120 juta.

Mendengar janji manis itu, Rusdi yang berparas lugu langsung percaya dan membawa uang yang diminta W. Setelah uang itu diberikan, tetapi Rusdi tetap tidak mendapatkan apa yang telah dijanjikan W sampai dengan tender selesai. Sehingga Rusdi sadar bahwa ia telah ditipu. Untuk itu, ia mencba meminta uang itu kepada W untuk dikembalikan.
Rusdi Lubis saat dikonfimasi via telepon selulernya terkait kejadian yang dialaminya, membenarkan bahwa dia telah menyerahkan uang kepada W  Rp120juta.

“Iya, saya ada menyerahkan uang kepadanya (W-Red). Uang itu, rencananya untuk mendapatkan proyek di Dinas PU, ternyata proyek tersebut tidak ada,” ungkap Rusdi.(dan)

Tertibkan Tambang Emas Ilegal

MADINA- Ketua DPRD Madina, As Imran Khaitami Daulay mendesak pemkab agar segera menertibkan penambangan emas ilegal yang menjamur di daerah ini. Sebab, sejuah ini penambangan emas yang ada sudah menelan sejumlah korban jiwa. Menurut Politisi Partai Golkar (PG) ini, hingga kini Pemkab Madina belum memiliki langkah tepat untuk mengatasi persoalan ini.

Kabag Humas Pemkab Madina M Taufik Lubis SH membenarkan belum ada tindakan khusus yang dilakukan pemerintah mengenai persoalan tambang liar  ini.(wan/smg)

Coke Farm, Kebun Hidroponik di Sekitar Pabrik

MEDAN- Setelah berhasil di Bandung, Semarang dan Surabaya, Coca-Cola Amatil Indonesia–CCAI meresmikan Coke Farm (tanaman hidroponik) di Medan.

Coke Farm dilaksanakan pada lahan tidur di sekitar fasilitas pabrik yang diubah menjadi lahan produktif dan menguntungkan bagi masyarakat di sekitarnya.

Program Coke Farm dilaksanakan pertama kali oleh CCAI pada tahun 2009 di Pabrik Rancaekek Bandung, Jawa Barat. Coke Farm bertujuan untuk memberikan kehidupan yang lebih baik kepada masyarakat sekitar untuk men jadi petani dengan memanfaatkan lahan tidur di area pabrik CCAI.

Dalam melaksanakan aktivitasnya para petani juga diberikan pelatihan tentang pertanian agar program ini dapat dipastikan memberikan perbaikan secara ekonomi bagi para petani dan keluarganya.

“CCAI memberdayakan para petani melalui Coke Farm ini dengan bertanam sayuran dan juga bibit pohon yang nantinya akan dikontribusikan pada program nasional pemerintah One Billion Trees (OBIT)- Penanaman 1 Milyar Pohon. Para petani juga mendapatkan keuntungan dari pembuatan pupuk kompos terbuat dari limbah teh dan dibeberapa lokasi mereka juga kami latih untuk beternak ikan,” ujar Presiden Direktur CCAI Peter Kelly.

Kelly menambahkan program Coke Farm di Medan ini dimulai Februari 2011 dengan mengubah 372 meter lahan tidur di sekitar pabrik Medan menjadi lahan produktif. Lahan tersebut telah ditanami dengan tanaman hidroponik, pembuatan kompos dari limbah teh dan bibit tanaman pohon. Sejauh ini telah dihasilkan 480 kg hasil pertanian dan sekitar 1400 bibit pohon siap tanam.  Beragam sayuran hidroponik juga telah ditanam dan sedang menanti hasil panen nya.

“Kami berharap Coke Farm dan pelatihannya akan dapat membantu masyarakat lokal meningkatkan taraf hidup dan ekonomi mereka melalui penggunaan tehnologi pertanian yang lebih maju. Kami memilih tehnik hidroponik di Medan ini, meski pada awalnya sulit diterapkan namun hasilnya nanti akan lebih menjanjikan,” menurut Kelly di depan para undangan termasuk Wali Kota Medan Rahudman Harahap, dan para undangan perwakilan pemerintah daerah.

Di Coke Farm Medan, beberapa petani telah dipilih untuk terlibat pada program awal dan telah diberikan pelatihan pertanian oleh Universitas Medan. Sejauh ini mereka telah belajar mengenai bertani organik dengan menggunakan media hidroponik, tehnik pembuatan kompos dan pembibitan pohon dari beragam jenis pepohonan seperti mahogani, kayu manis, nangka, dan durian.(dra)

SIM Melambung Tinggi

Keharusan Sertifikat dari MSDC Dipertanyakan

Surat Izin Mengemudi (SIM) bagi seorang pengendara adalah wajib. Karena itu, pengurusan surat itu pun memancing selera beberapa perusahaan jasa.

Sayangnya, tidak semua warga setuju jika perusahaan jasa pengurusan SIM tersebut memberikan harga yang tak wajar.

Ya, kesemrawutan lalu lintas di Kota Medan tentunya disebabkan oleh sekian banyak faktor. Kedisiplinan berkendara adalah satu dari sekian faktor yang dimaksud. Singkatnya, untuk mencapai kedisiplinan yang dimaksud, butuh sebuah standar dalam berkendara. Nah, semua itu telah ada dalam syarat pembuatan SIM. Seandainya hal itu semua dipahami dan dijalankan dengan benar, maka soal kedispilinan bukan masalah lagi.

Begitulah, SIM begitu berperan dalam kehidupan berkendara. Karena itu, berdirilah sekian banyak perusahaan jasa untuk membantu warga mengurus surat tadi. Sayang, tidak semua perusahaan jasa seperti yang dimaui warga. Contohnya, Medan Safety Driving Centre (MSDC) yang berkantor di Jalan Bilal Medan. Perusahaan ini dikabarkan memiliki peran sangat penting soal SIM tadi. Hingga, untuk mengurus SIM ‘harus’ melalui mereka.

Menyikapi kabar itu, Direktur Lalu Lintas Polda Sumut Kombes Pol Bambang Sukamto langsung membantah. “Tidak ada dialihkan, tidak ada diwajibkan (mengurus SIM melalui MSDC). MSDC itu hanya untuk sekolah mengemudi saja, bukan mengurus SIM,” tegas Bambang di Kantor Polda Sumut, Jumat (20/5) lalu.

Bambang menambahkan, wewenang kepengurusan SIM, mutlak dilakukan oleh Satuan Lalu Lintas Polres/Polresta di masing-masing daerah. “Pengurusan SIM adalah wewenang penuh Polisi,” tegasnya lagi.
Ketika disinggung, soal harga pengurusan SIM melalui MSDC, yang harganya mencapai tiga kali lipat, Bambang juga membantahnya. Katanya, biaya yang dikenakan pada pemohon SIM sesuai dengan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).

Dalam hal ini, biaya resmi yang ditetapkan pemerintah hanya Rp120.000 untuk SIM A, SIM B Rp 120 ribu dan Rp 100.000 untuk SIM C. Sedangkan, perpanjangan SIM A dan B Rp120 ribu dan untuk SIM C Rp Rp80 ribu.
Untuk memperoleh SIM A dan C tersebut, jelas Bambang, tidak diwajibkannya memiliki sertifikat mengemudi khusus. Namun, untuk memperoleh atau naik tingkat SIM A ke SIM A Umum, atau B1 ke B2 Umum, Bambang menegaskan, diwajibkannya penyertaan formulir kelulusan mengemudi. “Selain SIM A dan C, SIM lainnya harus disertakan formulir lulus mengemudi dari sekolah mengemudi. Mau dimana sekolah mengemudinya, terserah. Mau di Jakarta atau dimana pun. Tapi bukan berarti formulir tersebut kita luluskan SIM nya. Karena akan kita uji lagi. Otoritas Polri soal SIM,” jelas Bambang.

Fakta dilapangan, sejak dilibatkannya MDSC, biaya pembuatan SIM A mencapai Rp640.000 dan SIM C Rp520.000. Sementara, biaya kenaikan tingkat golongan SIM A ke SIM A Umum atau B1 ke B2 Umum biaya pengurusan mencapai Rp715.000. Rinciannya, pemohon harus membayar Rp500.000 untuk biaya sertifikat, Rp120.000 ke loket bank dan Rp20.000 untuk periksa kesehatan. Pemohon juga wajib mengikuti ujian psikologi dan membayar Rp25.000. “MSDC tidak berkaitan dengan kepolisian. Itu hanya sekolah mengemudi, bukan tempat pengurusan SIM,” tegasnya lagi.

Di sisi lain, Kasat Lantas Polresta Medan Kompol I Made Ary Pradana mengakui mendukung program dengan adanya MSDC itu sebelum pengurusan SIM. Namun, Ary enggan menjelaskan mengapa meningkatnya harga pengurusan bimbingan belajar dan pelatihan mengemudi di MSDC tersebut. “Memang itu harus didukung, tapi kalau itu masalah harga dan pembiayaan saya enggak bisa menjelaskan rincinya, karena memang bukan kapasitas saya,” terangnya usai salat Jumat di Mapolresta Medan, (20/5).

Ketika ditanyakan mengenai program biaya MSDC yang meningkat dan membuat warga tidak mampu mengurus SIM tersebut, Ary enggan berkomentar lebih lanjut. “Ya sudahlah, kita juga hanya berharap bisa berjalan sesuai jalur programnya, saya enggak bisa berkomentar lebih banyak,” ujarnya.

Dalam hal ini, Anggota Dewan Komisi A akan mempertanyakan Kepala Polda Sumut Irjen Pol Wisjnu Amat Sastro soal biaya SIM yang mengangkangi peraturan dan kewajiban pemohon melalui MSDC Jalan Bilal Ujung yang dikelola warga keturunan Tionghoa, Jimi, tersebut.

Meski dalam Undang-Undang (UU) No 22/2009 tentang Lalu Lintas disebutkan, setiap masyarakat pemilik SIM harus patuh terhadap peraturan dan rambu-rambu lalu lintas. Namun, biaya yang meningkat tiga kali lipat dan diwajibkannya pemohon melalui MSDC patut dipertanyakan. Pertanyaan tersebut, akan dilontarkan dalam dengar pendapat di Gedung DPRD Sumut, hari ini, Senin (23/5).

Seperti diketahui sebelumnya, salah seorang pemohon SIM, Haris Iskandar (38) warga Padang Bulan, Medan menuturkan, dirinya mengajukan untuk pembuatan SIM A di Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polresta Medan. Awalnya dirinya mengurus sendiri SIM tersebut. Ini dilakukan, atas dasar biaya yang murah, dibandingkan melalui jasa calo, yang harus membayar ekstra.
Ia mengetahui, biaya Rp120 ribu untuk SIM A dan Rp100 ribu untuk SIM C baru. “Namun, setelah mengikuti ujian teori, saya dinyatakan kalah sehingga harus mengulang kembali seminggu kemudian,” ungkap Haris, Senin (16/5), lalu.
Karena terdesak membutuhkan SIM untuk pekerjaannya sebagai supir, akhirnya dia pun mengurus melalui jasa calo. Dirinya pun harus mengeluarkan uang Rp 640.000, tanpa harus melalui proses yang rumit. “Saya langsung ujian teori dan praktek dan langsung foto,” jelas Haris.Atas jasa calo tersebut, dirinya memberikan uang imbalan sebesar Rp50.000. Sehingga, total uang yang dikeluarkannya untk pembuatan SIM A, berkisar Rp 690.000.
Begitu juga dengan Br Nainggolan (34) yang sedang mengurus SIM A di Satlantas Polresta Medan. Kepada wartawan Sumut Pos wanita ini mengakui mengeluarkan uang Rp520.000 untuk biaya seluruh pengurusan SIM.”Kalau ngurus sendiri susah Bang memang murah Rp120 ribu, jadi saya ngurus sama calo saja walaupun biayanya Rp520 ribu, neh sekarang tinggal ambil SIM-nya,” bebernya kepada wartawan koran ini Jumat kemarin.
Kata Nainggolan lagi uang Rp520 ribu yang dikeluarkannnya itu sudah termasuk sertifikat mengemudi. “Walaupun udah pakai sertifikat, saya tetap di tes praktik tadi, tapi sebentar saja,” ungkapnya lagi.
Sementara itu, Jimi pengelola MSDC kepada wartawan koran mengatakan, pihaknya sama sekali tidak terlibat dalam hal penekanan kepada masyarakat yang mengurus SIM harus memiliki sertifikat dari MSDC. “Sebelumnya kan saya sudah beritahu MSDC itu adalah sarana pembelajaran kepada masyarakat dalam hal mendidik keselamatan berkendara,” jelasnya Jimi.
Jimi mencontohkan beberapa sarana yang disediakannya dalam hal mendidik masyarakat dalam berkendara, seperti di Jalan Bilal Medan. Di areal yang seluas hampir satu hektare itu dibuat taman lalu lintas untuk anak-anak yang ingin mengetahui lalu lintas. Kemudian beberapa ruang kelas juga dibangun untuk pelajari teori. Selain itu sebagai sarana praktik MSDC menyediakan tiga unit mobil dan puluhan sepeda motor. “Nah bagi yang lulus dididik di sini ada sertifikat yang diberikan dari MSDC, sertifikat ini yang bisa dijadikan catatan bagi masyarakat yang ingin mengurus SIM,” imbuhnya.
Jadi naiknya harga SIM itu menurut Jimi tidak ada kaitannya dengan berdirinya MSDC. “Kalau memang sertifikat untuk pengurusan SIM harus dari MSDC mungkin murid saya sudah ramai di sini, buktinya setiap hari hanya 5 dan 6 orang saja yang mendaftar di sini,” katanya.
Sebagai catatan, sebelum berdirinya MSDC, Jimi pernah bekerja sama dengan Satlantas Polresta Medan untuk menjual sertifikat sekolah mengemudinya kepada masyarakat. Itu mendapat restu dari pejabat kepolisian yang bersangkutan. Artinya, masyarakat yang mengurus SIM di Satlantas Polresta Medan harus memiliki sertifikat Jimi dengan harga Rp175 ribu. (adl)

Perlu Revolusi Mental Tahap Kedua

Perjalanan Penuh Nikmat tanpa SPPD

TIDAK terasa “puasa perjalanan dinas sebulan penuh” di PLN sudah berjalan 20 hari. Setelah dijalani dengan sungguh-sungguh, ternyata tidak juga terlalu berat. Seluruh jajaran PLN, tampaknya, akan mampu menjalani “puasa perjalanan dinas” hingga akhir Mei 2011 ini. Toh tinggal sepuluh hari lagi. Ini berarti pegawai PLN yang melakukan perjalanan dinas yang sebulan mencapai 28.200 orang itu kini tidak ada yang meninggalkan posnya.

Apa sajakah pengalaman berat selama dua minggu dilarang melakukan perjalanan dinas? Adakah kejadian mahaberat yang sampai membuat batal puasa” Adakah yang sampai kelaparan yang tidak tertahankan?

Ternyata baik-baik saja. Memang ada tanah longsor di Aek Sibuan, nun di luar kota Padang Sidempuan, Sumut, yang membuat delapan tiang listrik roboh sekaligus. Tetapi, Sudirman, kepala PLN cabang Padang Sidempuan, yang baru sebulan bertugas di sana (pindahan dari Jatim) bisa mengatasi tanpa mengeluarkan SPPD (surat perintah perjalanan dinas).

Pimpinan Wilayah PLN Sumut Krisna Simbaputra juga tetap bisa menegakkan integritas anak buahnya di bulan puasa SPPD ini. Minggu kedua Mei 2011, seorang kepala ranting di kawasan yang jauhnya hampir 100 km dari Medan dilaporkan menerima suap dari pelanggan. Meski nilainya tidak sampai puluhan juta rupiah, yang beginian tidak bisa ditoleransi lagi di PLN. Tindakan untuk kepala ranting itu tetap bisa dilakukan tanpa terhambat oleh program puasa SPPD.

Ujian terberat tentu di Lampung. PLN Lampung memang sedang mendapat tugas darurat dalam skala besar. Tiba-tiba saja PLN harus mengambil alih pelayanan listrik untuk lebih dari 70.000 pelanggan koperasi yang mendadak pindah ke PLN. Izin kelistrikan koperasi itu dicabut pemerintah. Padahal, jaringan maupun meteran milik koperasi yang ada di rumah-rumah pelanggan sebanyak itu sudah dalam keadaan parah yang harus diganti semua. Ada syarat lain: tidak boleh ada gejolak. Peralihan itu harus berjalan mulus.

Jajaran PLN Lampung, terutama di tiga kabupaten sekitar Metro, bekerja sangat keras di bulan puasa SPPD ini. “Tapi, teman-teman PLN Cabang Metro bertekad menyelesaikannya tanpa bantuan dari cabang lain,” ujar Pimpinan Wilayah PLN Lampung Agung Suteja.

Bagi Kepala PLN Cabang Metro Syarbani Sofyan, inilah kesempatan untuk menorehkan sejarah hidup yang berarti: mampu melaksanakan tugas sangat besar dengan risiko politik yang tinggi tanpa harus bersandar kepada cabang lainnya. Padahal, Syarbani baru sebulan menduduki jabatan itu.

Selama dua minggu ini saya sendiri hanya dua kali keluar kota. Pertama, ke Bandung untuk berbicara di hadapan rapat kerja jajaran PT Pos dan Giro se-Indonesia. Saya diminta sharing mengenai pengalaman memimpin perubahan besar di PLN. PT Pos dan Giro bukan BUMN pertama yang minta sharing seperti itu. Sudah banyak. Di forum seperti itu biasanya saya ceritakan apa saja yang dilakukan teman-teman PLN pada masa perubahan seperti sekarang ini.

Keluar kota saya yang kedua adalah ke Ambon, Seram, Saparua, dan Makassar. Semua itu saya lakukan hanya dengan menginap semalam di Masohi, Pulau Seram. Tiba di Ambon pukul 15.00, saya langsung ke proyek PLTU Wai. Saya tidak menduga bahwa ada persoalan di sini. Semula saya ingin menyenangkan diri untuk melihat proyek yang sedang seru-serunya dibangun. Eh, ternyata sedang ada sengketa harga tiang pancang. Mau tidak mau harus saya selesaikan.

Dari proyek ini, kami langsung naik speedboat ke Pulau Seram. Menjelang magrib barulah kami tiba. Langsung melakukan perjalanan darat menyusuri Pulau Seram. Karena harus berhenti di setiap kantor subranting PLN, perjalanan ini memakan waktu empat jam. Menjelang pukul 24.00 kami baru tiba di Masohi. Maka, dialog dengan karyawan PLN Masohi baru bisa dilakukan tengah malam itu di halaman kantor yang diterangi cahaya lampu mercury dan diselingi suara deburan ombak dari pantai Masohi.

Saya melihat betapa banyak PLTD kecil di sepanjang Pulau Seram. Kondisi mesinnya juga sudah sangat tua. Begitu rumit penyediaan listrik di Seram. Karena itu, kami memutuskan segera mengganti diesel-diesel itu dengan membangun pembangkit listrik besar di Seram. Kami putuskan untuk mendayagunakan sumber air terjun di sana sebagai pembangkit listrik yang baru.

Saya melihat, sepanjang sistem penyediaan listrik masih menggunakan diesel-diesel kecil yang berserakan di berbagai tempat seperti itu, pelayanan listrik kepada masyarakat akan sangat ruwet. Misalnya, di salah satu ranting di situ, Ranting Kairatu, yang hanya punya dua penyulang masih megap-megap.

Meski listrik sudah cukup, sebulan terakhir ini jumlah gangguannya masih 63 kali. Itu berarti setiap hari satu kali mati lampu di kawasan Kairatu. Semula saya merasa aneh mengapa kepala ranting PLN Kairatu tidak terlihat gelisah. Lalu, saya pun mengira-ngira: mungkin di dalam hatinya justru bangga. Bisa jadi dia punya pikiran bahwa gangguan yang 63 kali itu sudah merupakan prestasi. Ini terjadi karena dulu-dulunya gangguannya 102 kali sebulan!

Saya merenungkan dalam-dalam situasi seperti itu. Saya hampir tidak bisa tidur di sisa malam yang pendek itu. Saya memang tidak puas akan sikap mental yang tidak gelisah ketika melihat ada gangguan 63 kali sebulan. Apalagi, yang demikian itu menjadi gejala yang luas di luar Jawa. Tapi, di lain pihak saya bisa mengerti mengapa harus gelisah kalau jumlah gangguan itu sudah berhasil diturunkan secara drastis. Dari 102 kali ke 63 kali”

Walhasil PLN memang masih perlu melakukan revolusi mental tahap kedua. Revolusi mental tahap pertama sudah berhasil dilakukan tahun lalu: menyadari gangguan ratusan kali sebulan itu tidak boleh terjadi. Revolusi mental tahap kedua ini harus menghasilkan kesadaran bahwa mati lampu 63 kali itu pun belum bisa diterima masyarakat. Jumlah mati lampu sebanyak itu masih jauh daripada target hanya boleh sembilan kali setahun. PLN memang bertekad untuk membatasi jumlah mati lampu hanya sembilan kali per pelanggan per tahun untuk bisa disebut berhasil mengalahkan Malaysia.

Teman-teman PLN di Jawa/Bali sudah berhasil melakukan revolusi kedua itu. Tapi, saya melihat teman-teman PLN luar Jawa, baik di Indonesia Barat maupun Indonesia Timur, masih harus berjuang untuk menghadapi dan memenangkan revolusi kedua tersebut tahun ini. Termasuk, misalnya, yang terjadi di Palembang. Bagaimana bisa dan bagaimana masih terjadi di Palembang mati lampu, di satu lokasi, di dalam kota, yang sampai sembilan kali selama sebulan.

Saya hampir bisa tidur, tapi pintu kamar sudah diketok: sudah pukul 05.00. Sudah waktunya harus menuju ke dermaga. Pagi-pagi itu kami dari Masohi ingin ke Pulau Saparua. Ini agar tidak telat menghadiri acara pokok di Ambon pukul 10.00. Pagi itu, ketika mulai meninggalkan dermaga, cuaca sangat cerah. Pagi yang indah di Pantai Masohi.

Namun, ketika speedboat sudah meraung selama 15 menit, mulailah gelombang datang. Teman PLN Maluku masih bisa menenangkan hati saya. “Biasa Pak Dis, kalau meninggalkan wilayah teluk mesti bergelombang begini,” katanya. “Inilah gelombang yang diakibatkan bertemunya arus laut terbuka dengan laut di kawasan teluk,” tambahnya.

Ternyata tidak begitu. Ketika speedboat kian ke tengah laut pun, gelombang kian tinggi. Speedboat pun terhentak-hentak keras. Saya sudah mulai melirik di mana pelampung-pelampung diletakkan. Oh, tidak jauh dari jangkauan tangan saya. Kalau?mendadak situasi darurat, saya akan bisa meraih pelampung itu dengan mudah. Cuaca ternyata benar-benar dengan cepat memburuk. Langit gelap. Mendung tebal menggelayut. Hujan pun bresss, turun di tengah laut.

Pengemudi speedboat tiba-tiba menoleh ke belakang. Dia mengucapkan kata-kata dengan nada minta keputusan. “Kian ke depan gelombang kian tinggi. Kita tidak bisa meneruskan perjalanan ke Saparua. Baiknya membelok ke arah Pulau Haruku,” katanya. Yah, apa boleh buat. Niat ke Saparua pun batal. Bahkan, ke Haruku pun tidak mampu. Speedboat membelok langsung ke arah Pulau Ambon. Berarti masih akan menempuh perjalanan 1 jam lagi. Saya lihat dari delapan jeriken bensin masih tersisa dua jeriken. Rasanya masih cukup untuk sampai di Ambon.

Jam 9 pagi kami sudah tiba di Ambon. Acara kami berikutnya adalah dialog dengan seluruh wali kota di wilayah Indonesia Timur di Swissbel Hotel, Ambon. Namun, saya minta disempatkan mampir di Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Tulehu. Pengeboran di sini sudah dimulai, tetapi mengalami hambatan.

Di kedalaman 900 meter mata bornya terjepit batu. Kini pengeboran dihentikan. Minggu depan akan dimulai lagi, mengebor dalam posisi miring. Meski ada hambatan, PLTP ini sudah kelihatan memberikan harapan. Dari kedalaman 900 meter tersebut sudah “tercium” potensi geotermal yang sesungguhnya.

Dalam waktu yang sangat mepet (karena begitu banyak wali kota yang mengajukan pertanyaan) dan dalam keadaan lalu lintas Kota Ambon yang padat, ditambah hujan, kami harus mengejar pesawat Sriwijaya Air yang terbang ke Makassar. Teman-teman PLN Makassar sudah menunggu rapat penting untuk konsep ke depan kelistrikan di Sulawesi Selatan, Barat, dan Tenggara.

Malam itu juga, tanpa SPPD, saya menyelesaikan perjalanan ini dengan penuh nikmat. (*)