Home Blog Page 15265

Orang Tua Jadi Tempat Curhat

Kompleksnya masalah yang dihadapi remaja di era globalisasi, tidak bisa diabaikan begitu saja. Apalagi remaja saat ini tidak sungkan lagi melakukan hubungan seksual.

arena itu, diperlukan penanganan khusus. Berbagai pendekatan harus dilakukan. Antara lain, pendekatan melalui sekolah dan terpenting pendekatan yang dilakukan orangtua anak itu sendiri. “Agar anak tidak jatuh kedalam pergaulan bebas, khususnya seks bebas, si anak harus dibimbing sejak dini. Karena itu anak butuh tempat curhat. Peran orangtualah yang sangat diperlukan sebagai tempat curhat anak,” begitulah kata Dekan Fakultas Hukum UISU Medan, Dr Dra Hj Laily Washliati SH Mhum saat ditemui wartawan koran ini, Jumat (13/5).

Menurut wanita kelahiran Labuhan Batu, 14 Februari 1959 silam ini, biasanya sahabat atau teman dekat bahkan orang lain yang baru dikenal malah dijadikan sebagai tempat curhat si anak yang baru tumbuh remaja. “Padahal, tidak sedikit orang yang dipercaya memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan,” kata ibu dari tiga anak ini, Balkis, Wardah dan Nadia.

Menurutnya, hubungan emosional antara anak dan orangtua sudah seharusnya dibangun sejak dini. Orangtua harus mampu menempatkan diri tak hanya sebagai orangtua, tapi juga sebagai teman atau sahabat sehingga hubungan emosional antara anak dan orangtua bisa terbangun. “Orangtua jangan terlalu egois dengan mementingkan kesibukannya sendiri, tanpa memperhatikan pribadi anak,” kita Hj Laily Washliati yang akrab disapa Umi ini.
Laily menuturkan, penyebab anak-anak sekarang kebanyakan terjerumus ke dalam pergaulan seks bebas karena kurangnya perhatian orang tua. Bahkan, si anak terlalu diberikan kebebasan tanpa dikontrol dan tanpa dibekali pendidikan agama . “Saya melihat, penyebab utama si anak menjadi terjerumus ke dalam pergaulan seks karena anak sekarang selalu mencari pelarian alternatif untuk bisa membahagiakan hatinya dari problem yang dihadapi. Akhirnya si anak jadi bebas bergaul, bebas melakukan hubungan seks,” tuturnya.

Namun Laily tidak menampik kalau pergaulan bebas anak-anak jaman sekarang tak terlepas dari pengaruh kemajuan teknologi, sehingga anak menjadi sangat mudah mengakses situs porno. “Bukan rahasia umum lagi kalau anak remaja sekarang lebih suka ke warnet untuk main game bahkan nonton film porno dari internet. Tapi, hal ini tak terjadi kalau anak dibentengi agama yang kuat,” kata wanita yang murah senyum ini.

Solusinya, lanjut dia, orangtua harus lebih sering membangun komunikasi dengan anak. Tidak hanya itu, kepada guru dan dosen selaku orangtua pengganti anak-anak juga harus peka terhadap prilaku anak didiknya dan selalu memantau perkembangan mereka.

Bagi Laily yang padat aktivitasnya sebagai pengajar sekaligus Dekan Fakultas Hukum UISU, ia selalu meluangkan waktu untuk anak-anaknya walau sesibuk apapun demi membangun komunikasi terbuka dengan anaknya.
“Anak itu merupakan titipan Allah SWT, jadi harus kita jaga dan berikan pendidikan agama dan pendidikan moral yang kuat. Tidak ada yang kekal dan abadi di bumi ini. Maka dari itu kita haruslah lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT dan jangan sampai melanggar semua perintahnya. Jika kita bentengi anak dengan agama yang kuat, Insya Allah anak kita tidak melakukan hal-hal negatif yang merugikan dirinya,” pungkas dia.(jon)

Sepat Kontrak Jadi Menu Spesial

Warung Mbak Emi

Bagi Anda yang sedang melintas di jalan lintas Sumatera (Jalinsum), jangan lupa makan siang di warung ‘Mbak Emi’. Lokasinya berada di Jalan kebun kacang (menuju SMAN 1), Desa Firdaus, Kecamatan Sei Rampah, Kabupaten Serdang Bedagai.

Warung Mbak Emi, berlokasi sekitar 200 meter dari Jalinsum memiliki arsitektur layaknya khas pedesaan yang ada di wilayah tersebut. Dengan beratapkan  daun rumbia, tiang batang kelapa, meja kayu dan bangku panjang sangat terasa suasana kampung yang nyaman dan asri.

Menu khas yang ditampilkan adalah ikan air tawar salah satunya ikan sepat kontrak, dengan sayur lalap daun ubi serta pepaya. Ditambah lagi sambal belacan, gulai gori dan kacang panjang. Ikan sepat yang disuguhkan berasal dari anak sungai yang ada di sekitar wilayah kecamatan. Begitu juga dengan ikan lele, belut dan badau diambil langsung dari saluran tali air persawahan dengan menggunakan pancing dan bumbu tradisional.

Nah, ketika menu sepat kontrak disuguhkan, maka lidah akan merasakan gurih dan renyahnya ikan sepat kontrak tersebut. “Rasanya mantaplah..! kata Badrul Helmi salah seorang pelanggan yang berasal dari Kota Tebing Tinggi, usai makan di warung tersebut kepada wartawan koran ini, Jumat (13/5). Pemilik warung, Mbak Emi kepada Sumut Pos mengatakan menu yang disediakannya merupakan  asli hasil dari wilayah kampung sekitar. “Banyak pelanggan yang singgah dari  luar daerah. Biasanya sudah pernah datang, datang lagi dan ingin mencicipi kembali menu sepat kontrak tersebut,” bilangnya. (mag-15)

Vagner Luis tak Jadi Dipulangkan

Bek tengah impor PSMS, Vagner Luis memang sarat kontroversi. Sejak awal musim, Vagner sudah membuat kubu PSMS berang. Masih ingat dibenak fans PSMS Vagner harus absen di laga pembuka karena cedera. Ironisnya ketika kembali di laga kedua kontra Persiraja, Vagner langsung mencetak gol bunuh diri hingga Ayam Kinantan akhirnya takluk 3-0.
Ironis memang. Tapi itu tak lama. Pandangan negatif kepada pemain Brasil itu berangsur punah. Apalagi di pertengahan musim Vagner sukses mencuri hati fans lewat gol-gol penting yang dilesakkannya di Stadion Teladan. Total, Vagner sudah mencetak 4 gol musim ini yang dikemas  lewat sundulan.

Di samping itu, belakangan ini Vagner kerap emosional dan sering melakukan kesalahan tak perlu yang berujung berbuah kartu merah. Musim ini Vagner sudah dua kali meraihnya. Pertama saat melawan Persitara dan terakhir saat melawan PSAP di babak delapan besar lalu.

Kartu merah di babak delapan besar sangat riskan dan sempat membuat murka manajemen PSMS. Bahkan sempat terlontar ancaman akan memulangkan pemain bernomor punggung 33 itu.
“ Setelah memikirkan akibatnya, mungkin Vagner tak jadi dipulangkan. Melawan Persiba Bantul tanpa kehadirannya akan berakibat fatal,” kata pelatih PSMS, Suharto kemarin. (ful)

Seorang Bapak dan Rumah yang Dibagi Empat

Oleh: Ramadhan Batubara

Hatta, berpikirlah seorang bapak yang belum akan meninggal. Dia ingin segera membagikan warisan pada anak-anaknya. Bapak yang masih sehat tanpa penyakit kronis itu pun berpikir, akan dibagi berapakah satu-satunya rumah yang dimilikinya itu.

Sang bapak belum juga menemukan jawaban. Dalam senyap dia memandang foto keluarga. Tergambar di sana tiga anak lelakinya, istri, dan beberapa anak perempuannya. Gambar itu memunculkan senyum riang, sebuah keluarga yang utuh. Menyenangkan.

Si bapak tersenyum. Namun, belum lagi bibirnya mengembang sampai lebar, ia kerutkan lagi. Dahinya pun mengerucut. “Harus segera kubagi, tapi akan jadi berapa rumah ini nanti?”
Sang bapak tak juga bisa menjawab pertanyaan yang diungkapkannya tadi. Memang sempat dia miliki jawaban, membagi rumah itu menjadi tiga; masing-masing satu bagian untuk semua anak laki-lakinya. Tapi, dimanakah istrinya nanti tinggal? Lalu, bagaimana dengan anak-anak perempuannya? Ayolah, lelaki dan perempuan itu semua anaknya, darah dagingnya.

Sayangnya, pikiran bijak soal untuk membagi rata rumah itu untuk semua anak langsung dibantah sang anak laki-laki. “Bapak, menurut adat dan kebiasaaan, laki-lakilah yang dapat,” kata anak pertama. “Bapak, menurut agama dan kepercayaan, anak laki-lakilah yang dapat,” sambung anak kedua. “Bapak, menurut kepatutan dan kebutuhan, anak laki-lakilah yang dapat,” tambah anak laki-laki yang terakhir. Bah!

Sang bapak kembali merenung. Dia sepakat dengan kalimat ketiga anak laki-lakinya itu. Ya, laki-lakilah yang dapat. Perempuan tentunya akan ikut suami dan suaminya pasti dapat bagian dari keluarganya. Bukankah begitu?
Bapak yang tak sakit kronis itu ingin memutuskan, rumah dibagi empat! Ya, satu laki adalah tempat bagi dirinya sebelum mati, sang istri, dan anak perempuannya jika ditinggal suami. Beres!

Sayang hidup memang tak sesederhana sarapan; ceplok telur, selesai. Sang bapak yang segera ingin menyampaikan pengumuman kembali berpikir. Apakah pigura berisi foto bergambar senyum tadi akan kekal? Lalu, terbayanglah dalam benaknya ketika anak-anaknya itu kecil. Ya, dia dan istri dengan penuh cinta selalu memperhatikan kerikil agar sang anak tak tersandung, luka dan berdarah. Kala malam, mereka memasang telinga, mendengar suara nyamuk, sigap mengamankan sang anak dari gigitan yang membuat gatal. Nah, ketika rumah itu dibagi, apakah anak-anaknya akan ingat dengan semua itu?

Ada ketakutan yang tiba-tiba menyergap sang bapak. Dia takut tentang filosofi kacang berlaku pada hidupnya. Ya, lupa kulitnya. Ukh, meski nanti rumah terpisah sekadar dinding, bukankah itu berarti tak sama lagi. Pasti ada sesuatu yang hilang, mungkin ikatan darah. Ah, sang bapak teringat kisah lain, tentang hubungan darah menjadi kering hanya karena harta. Ah, sejauh apa ia mengenal anak-anaknya itu, bukankah tidak hanya dia yang membesarkan mereka? Ayolah, sang anak juga bersekolah yang tentunya memiliki kecenderungan pendidikan berbeda dengan di rumah.
Juga, tentang nasib rumah setelah terbagi nanti. Adakah rumah akan tetap indah seperti sekarang. Sehebat apakah ketiga anaknya itu merawat rumah, bukankah biasanya mereka hanya tinggal menikmati rumah yang dia rawat.

Ketakutan lebih hebat lagi muncul ketika sang bapak menyadari kalau anak perempuannya bisa saja turut menuntut. Atas nama darah, bukankah mereka juga anaknya? Ya, sebagai bapak dia memang harus adil. Baiklah, jika rumah tetap dibagi empat, namun bisa saja anak perempuan minta rumah yang dia tinggali dengan istri untuk dibagi lagi.
Sang bapak kembali mengerutkan dahi. Soal pembagian memang berat. Unsur peran, kekuatan, dan sebaginya sangat berpengaruh. Masing-masing anak (baik laki-laki dan perempuan) tentunya memiliki peran dalam rumah induk itu. Ya, meski hanya menyapu halaman, bukankah itu bisa membuat rumah menjadi bersih. Belum lagi ketika ada yang sampai membenarkan genteng. Sekali lagi, sang bapak merasa pembagian yang harus dia lakukan adalah sebuah pekerjaan yang tidak menyenangkan.

Lalu, muncul pertanyaan dalam otaknya yang lain; kenapa harus membagi rumah? Ya, bukankah dia belum mati dan tidak memiliki penyakit kronis hingga divonis akan kehilangan nyawa? Woi, sang bapak tersenyum, dia merasa masih sehat. Dan, dia memiliki pikiran bijak secara tiba-tiba, dia ingat kalimat yang dikeluarkan Kahlil Gibran: Engkau adalah busur-busur tempat anak-anakmu menjadi anak-anak panah yang hidup diluncurkan. Sang bapak tertawa, dia berpikir untuk tetap menjadikan satu rumah, tanpa membaginya. Biarkan anaknya membangun rumahnya sendiri, di sana, di tempat yang diinginkan anaknya.

Ah, sayang, sang bapak sadar. Selama ini dia kurang memberikan modal pada anak-anaknya itu; tak ada pelajaran yang dia berikan soal tanah, bangunan, hingga cita-cita. Anak-anaknya kurang daya, asupan gizi tak terkendali. Lalu, bagaimana mereka bisa mandiri, pikir sang bapak lagi.

Begitulah, hingga kini sang bapak masih duduk di beranda. Berkain sarung, menatap halaman berumput. Dia belum juga memutuskan. Dia ingin memutuskan. Dia bingung memutuskan. “Ah, kenapa pikiran ini soal membagi ini muncul,” lirihnya. (*)

Toko Sepatu

Cerpen : Sunlie Thomas Alexander

Tentu, bagaimana bisa ia lupakan kenangan itu: usianya ketika itu masih begitu belia, sesegar pucuk dedaunan. Baru saja ia tamatkan SMA di kota kecilnya. Belum ada uang untukmu kuliah, kata bapaknya seperti tercenung. Ia tahu pasti, bapaknya tak sampai hati mengucapkan “tidak ada”. Toh, ia hanya tertawa, sudah bisa menerka semua ini saat ia mati-matian mengerjakan soal-soal dalam ujian kelulusannya.

Di sanalah, di toko sepatu itu, ia kemudian seolah menggenapi kata-kata ibunya yang ibarat nujum: “Nanti jangan ikut melaut, jadi pegawai toko saja di pasar!” Terdengar sedikit sinis, tapi ia ingat benar betapa muramnya wajah perempuan itu. Bapaknya yang baru pulang dari bagan dan sedang mengulung jaring pukat terbatuk. Tentu ia dan sang bapak paham sebab musabab: adik bungsu ibunya yang baru tamat STM dulu ikut melaut dan tak pernah pulang. Tak pernah ditemukan. Itu terjadi tujuh tahun sebelumnya.

Masa depan belumlah tercatat, ia tahu. Tapi toh ia mesti berada di sana, di antara deretan sepatu yang tersusun rapi pada rak-rak tinggi memanjang itu dengan gaji beberapa puluh ribu sebulan…
***
BEGITULAH. Setiap hari ia harus membuka toko tepat jam tujuh pagi, menyapu teras toko, membersihkan kaca etalase, dan membenahikan posisi sepatu-sepatu di rak sebelum karyawan yang lain datang. Istirahat siang hanya dua jam, dari pukul dua belas hingga pukul dua. Toko sepatu itu baru tutup jam sembilan malam, bisa lebih jika sedang banyak pengunjung.  Ia mencoba bersabar untuk semua yang begitu menjengkelkan itu. Tentu saja, ia selalu merasa tak seharusnya berada di sana. Kadang-kadang ia merasa kesabarannya sudah di ambang batas. Terutama tatkala ditinggalkan sendirian menutup toko bersama sepatu-sepatu berbagai merk yang tertata rapi tanpa pasangan—ah, begitulah kelaziman, untuk menghindari pengutil yang celaka! Di matanya, entahlah, sepatu-sepatu sebelah kanan itu seolah-olah bernasib serupa dirinya. Diedarkannya pandangan ke sekeliling ruang toko yang sunyi. Hanya ada suara jarum jam bergerak, terdengar begitu bergegas seperti memburu usianya.

Lalu ia akan berjalan ke bagian muka toko, memeriksa sekali lagi apakah rolling door sudah terkunci dengan benar. Setelah yakin kunci pintu gulung itu telah beres dengan mengguncangnya, kemudian membungkuk untuk memeriksa gembok di bagian bawah dan mematikan saklar lampu, barulah ia bisa kembali ke kamarnya di lantai tiga.

Sang pemilik toko, pamannya—tepatnya paman jauhnya—seorang yang selalu was-was, mungkin sedikit paranoid karena ketelitian. Segala pekerjaan harus tampak rapi di mata lelaki tambun itu, sebagaimana keamanan semua harta bendanya harus dipastikan terjamin. Setiap sore pamannya itu selalu memeriksa sendiri pembukuan toko, terutama catatan barang yang keluar. Jika ada sedikit saja yang tampak tak beres, misalnya saja harga sepasang kaos kaki yang menurutnya dikorting terlalu murah, alamat buruk meledaklah kemarahannya yang khas. Kata-kata dungu dalam bahasa Hakka bakal terlontar bersama segala cacimaki dalam bahasa Melayu yang tak pernah berhasil dilafadz dengan sempurna.

Tentu ia tak mau kena damprat. Meskipun, ia yakin gajinya tak akan sampai dipotong seperti teman-temannya yang lain. Awen, temannya sesama penjaga toko pernah nyaris dipecat gara-gara lupa mencatat sepatu Adidas yang terjual. Awen waktu itu bahkan dituduh sang paman sengaja hendak menggelapkan uang.

Kamarnya yang disediakan buatnya, tiga kali empat, cukup luas untuk ia sendirian. Ada kamar mandi kecil di dalam. Dulu sebelum dirinya, kamar itu ditempati oleh seorang famili jauh yang bekerja untuk perkebunan jeruk sang paman. Kadangkala Awen yang kecapekan diam-diam menumpang tidur di sana. Jika ketahuan, tentu bakal menyembur lagi kemarahan pamannya.  Ruko besar itu memang ada banyak kamar. Walau demikian, tak seorang pun karyawan toko yang diijinkan menginap. Orang kikir itu takut ada karyawan yang mengutil barang. Sang paman memang tak percaya pada siapapun. Hanya yang masih terhitung saudaralah yang diperkenankan berdiam di sana. Termasuk dua pembantu rumah tangga yang sudah bekerja puluhan tahun.
***

SEKARANG, jika diingat-ingatnya lagi semua pengalamannya di toko sepatu itu, seringkali ia tak habis pikir bagaimana ia sanggup bertahan di sana hingga lebih setahun lamanya. Beberapa kali ia nyaris berputus asa dan berpikir masa depannya akan berakhir di sana. Membusuk di antara deretan sepatu. Jika demikian, ia kerap tenggelam dalam lamunan. Hal mana yang menyebabkannya tiga kali ditegur oleh Bibi Nie, adik bungsu sang paman yang tak menikah dan sering diserahi tanggungjawab toko. Kalau pegawai lain barangkali sudah dicacimaki perawan tua yang judes itu, pikirnya kecut.

Ah, siapa sangka justru dialah yang bertahan lebih lama dibandingkan kawan-kawan yang lain. Awen yang dua bulan lebih dulu masuk darinya, memutuskan berhenti setelah bekerja tujuh bulan. Untuk seorang tamatan SD seperti Awen, tidaklah mudah mencari pekerjaan yang lebih baik. Tapi tampaknya nasib bagus berpihak pada teman barunya itu, lantaran Awen pernah belajar mengemudi pada seorang tetangganya yang sopir truk kaolin. Tentu saja, ditawari bekerja sebagai sopir pick up toko mebel, jauh lebih menyenangkan daripada harus berdiri terus-terusan di toko sambil memasang senyum kaku.

Setelah Awen pergi, ia nyaris tak punya teman akrab. Dua bulan kemudian, Rudi juga berhenti. Menyusul Yeni. Sementara itu, tugasnya di toko semakin berat. Ia tak hanya menjaga toko, tetapi juga disuruh sang paman menyalin ulang catatan penjualan untuk memanipulasi pungutan pajak.
Mula-mula ia berpikir bekerja di toko sepatu pamannya itu tentu lebih baik daripada jadi pegawai toko di pasar kota kecilnya. Paling tidak di kotamadya satu-satunya di pulau kecil itu ia bakal peroleh pengalaman yang lebih luas. Jika saja ia tahu ruang gerak dan waktunya bakal terkungkung begitu rupa di toko itu, barangkali ia akan memilih melaut bersama ayahnya.

Ah, laut yang terbentang luas, meski badan terkurung riak ombak!
Ia jadi kangen pada rumah, pada kawan-kawan sekolahnya, pada mantan pacarnya, dan terutama perpustakaan kesayangannya di kota kecilnya.
***
TERKADANG, dibayangkannya rak-rak sepatu memanjang yang memenuhi keempat dinding toko seperti deretan rak-rak buku di perpustakaan kecil milik Dharma Wanita perusahaan timah itu. Hampir setiap siang sepulang sekolah, ia mampir ke perpustakaan itu. Penjaganya, Bu Sofyan, perempuan separoh baya yang selalu murah senyum. Di sanalah ia mengenal novel-novel Kawabata, Max Havelaar, Burung-burung Manyar Romo Mangun, dan cukup banyak buku-buku sastra lain terbitan Balai Pustaka. Ia juga mendapatkan majalah Horison, Kartini, Selecta, dan Aktuil. Kecuali majalah Stannia milik perusahaan timah, semua majalah itu edisi lama tahun 70-an sampai 80-an.
“Kita tak ada dana sekarang, Dik,” kata Bu Sofyan dengan senyum getir suatu ketika. Kendati belum memiliki KTP, perempuan itu mengijinkannya membuat kartu perpustakaan dan meminjam buku. Biasanya ia menghabiskan waktu sekitar dua tiga jam membaca di sana, sebelum akhirnya membawa pulang buku-buku. Itulah alam semestanya yang pertama.

Ah, jauh hari kemudian ia pun membaca peribaratan ini dari Borges dalam kisah “The Library of Babel” yang berjudul asli “La Biblioteca de Babel”1. Ia tahu, hanya perpustakaan dengan pustakawan baiklah yang bakal menjelma alam semesta mahaluas bagi para pecinta buku. Beberapa perpustakaan telah dikunjunginya saat itu dan banyak di kemudian hari: perpustakaan sekolahnya, perpustakaan-perpustakaan kampus, dan sejumlah perpustakaan kota. Namun hanya segelintir yang menyamai, sedikit lebih buruk, dan melampaui perpustakaan kecilnya. Bu Sofyan pustakawati yang baik, meski tentu saja takkan sebanding seorang Borges—sang direktur Perpustakaan Nasional Argentina yang konon nyaris buta karena ketekunan membaca. Isteri karyawan perusahaan timah itu selalu menyusun buku-bukunya yang tak terlalu banyak dengan teratur, menata letak rak, bangku, dan meja dengan rapi kendati ruangan tak besar. Sehingga terciptalah suasana yang nyaman untuk membaca.

Perpustakaan, pikirnya ketika itu, seperti mesin waktu, atau pintu ke mana saja milik Doraemon. Tinggal mengulurkan tanganmu ke rak, maka kau pun melintasi ruang dan waktu. Demikianlah ia mengunjungi Rusia di jaman Revolusi Bolshevik dalam Dr. Zhivago, bersama Huck Finn, Tom Sawyer dan Joe Harper bertualang menyusuri mississippi2, menyambangi rumah gadis tidur bersama Eguci tua3 atau menghadiri beragam upacara festival di Kyoto dalam Ibukota Lama4. Atau ke masa-masa yang lebih tua, ke peristiwa-peristiwa besar dan heroik dalam sejarah, terkadang melenting ke masa depan yang belum terjadi.

Ai, ingatan pada perpustakaan kesayangan itu membuatnya jadi agak sentimentil. Buku-buku telah membuat hasratnya meninggalkan pulau kecil itu tak tertahankan, pun di tengah rasa kangennya pada rumah.
***
YA, begitulah. Kian hari, ia merasa toko sepatu itu semakin membuatnya terasing dengan dirinya sendiri. Ia tak mau membuang masa mudanya dengan sia-sia di antara rak-rak sepatu itu. Masa depan memang belum tercatat, tapi mesti segera diselamatkan. Atau ia bakal benar-benar menjelma jadi kutu sepatu. Pelan-pelan membusuk bersama gaji puluhan ribu.

Ia telah jenuh menghadapi para pembeli yang cerewet, satu dua preman yang sering meminta uang, kawan-kawan pegawai perempuan yang memakai parfum kelewat wangi, atau orang-orang menjengkelkan yang kadang-kadang datang menanyakan barang-barang yang tak mungkin dijual oleh sebuah toko sepatu: jas, panci, buku tulis…
Jika ada hal yang bisa disyukurinya selama bekerja di toko sepatu itu, barangkali hanyalah ia peroleh kesempatan untuk mengenal banyak orang dengan tabiat mereka yang unik. Jauh lebih kompleks daripada yang didapatkannya di bangku sekolah. Dan semua itu menambah pembendaharaannya dalam menggambar.

Di toko sepatu itu, tak ada yang bisa dibacanya selain surat kabar langganan sang paman. Tak ada toko buku di kotamadya itu. Kerapkali ia melewatkan jam istirahat siangnya dengan menyusuri lapak-lapak kakilima atau kios-kios koran-majalah. Ada banyak novel pop picisan dan cerita silat. Tapi nyaris tak ada yang berharga untuk ia baca.
Ketika ia sudah hampir putus asa dengan hidupnya yang monoton dan terkungkung, dua buah karikaturnya dimuat oleh sebuah tabloid olahraga. Dan itu memberinya sedikit semangat. Pada saat-saat membosankan di toko, ia diam-diam memang membuat banyak karikatur di buku gambar yang dibelinya.

Tentu, ia lalu ingat pada majalah dinding sekolahnya. Selama dua tahun, ia menjadi ilustrator majalah dinding yang nyaris tak punya pembaca itu. Maka suatu hari, berdua dengan Laura, ia pun membuat sejumlah karikatur yang agak vulgar. Tepat sebagaimana bayangan mereka, keesokan harinya saat ditempel, majalah dinding itu ramai dikerumuni oleh anak-anak. Seluruh sekolah heboh. Tentu saja kepala sekolah naik pitam.

“Kalian pikir ini di mana? Apa yang dipikirkan otak jongkok kalian sampai membuat gambar-gambar gila ini!” Pak Piet meledak. Itu seminggu sebelum mereka berpacaran.
Ai! Ia selalu tertawa jika teringat semuanya. Kenang-kenangan di masa SMA itu, bagaimana pun agak menghiburnya, seperti halnya terkadang satu dua gadis berpenampilan modis yang datang ke toko. Ia tahu, tak perlu lagi memikirkan Laura. Mereka berpisah baik-baik dan telah memiliki dunia sendiri. Begitulah, sambil melayani gadis-gadis itu mencari sepatu atau sandal, terkadang ia iseng menggoda mereka.  Kemudian ia mengenal Rini. Ah, nama itu awalnya ia baca pada badge di dada kanan baju seragam si kepang kuda. Waktu itu Rini yang baru pulang sekolah datang mencari sepatu olahraga bersama dua orang temannya. Ia ingat, bagaimana sambil mencocokkan ukuran sepatu Rini, ia curi-curi menikmati wajah cantik gadis itu dari samping. Juga bagaimana kawan-kawan Rini kemudian menangkap basah ulahnya itu, dan wajah gadis itu bersemu merah. Tapi Rini datang lagi, dan lagi. Membeli kaos kaki, tali sepatu, sandal gunung, sampai pita rambut. Ah, tidak. Tak pernah terjalin hubungan apapun di antara mereka. Gadis itu datang sebagai pembeli yang terlalu sering, dan ia harus jadi pelayan toko yang baik. Itu saja. Mereka menjadi cukup akrab hanya lantaran seringnya bertemu.

Ia memang tak bisa mengingkari perasaan debarnya setiapkali Rini datang. Tetapi debaran itu—yang demikian nikmat—apalah beda dengan ketika suatu hari Yeni menariknya ke belakang tumpukan kotak sepatu dan menciumnya, atau tatkala sebelah paha putih Bu Metty tersingkap saat perempuan setengah baya pelanggan lama pamannya itu meminta bantuannya memasangkan sepatu hak tinggi yang agak sempit di tumit.
Toh, suatu malam ia sempat membuat sketsa wajah gadis itu. Ia bermaksud menghadiahkan sketsa itu pada Rini sebagai kenang-kenangan sebelum ia pergi. Tetapi, entahlah, gadis itu ternyata tak pernah bertandang lagi. Hingga ia berhenti dari toko tiga bulan kemudian. Tanpa sepengetahuan siapa pun, diam-diam dibawanya sepasang sepatu kulit dan kaos kaki, juga sepotong dasi milik pamannya.

Tak lama setelah itu, dengan sedikit uang yang ia sisihkan setiap bulan, juga bantuan tabungan bapaknya, ia pun meninggalkan pulau kecilnya dan ikut UMPTN. Pertengahan 1997, sebulan sebelum ia menyirap kabar Awen meninggal dalam kecelakaan mobil…

Ya, ketika itu ia masih begitu belia, sesegar pucuk dedaunan.***
Gaten, Yogyakata, Februari 2010

Catatan:
1. Cerita Borges ini pernah diterjemahkan oleh Hasif Amini dalam kumpulan “Labirin Impian” (Yogyakarta: LKiS, 1999). Saya juga membaca versi bahasa Inggrisnya yang diterjemahkan oleh Andrew Hurley dalam “Jorge Luis Borges: Collected Fictions” (London: Allen Lane The Penguin Press [Penguin Grup], 1999). Edisi Inggris terjemahan Hurley ini dibuka dengan kalimat: “The universe (which others call the Library) is composed of an indefinite, perhaps infinite number of hexagonal galleries.”

2. Mark Twain, “The Adventures of Tom Sawyer”. Sempat diterjemahkan oleh Pustaka Jaya.
3. Yasunari Kawabata, “Nemureru Bijo”. Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Asrul Sani dari versi Inggris “The House of The Sleeping Beauties” terjemahan Edward G. Seidensticker (Pustaka Jaya)
4. Yasunari Kawabata, “Koto”. Saya membaca novel ini saat mengeditori terjemahan seorang kawan, Nurul Hanafi, yang akan diterbitkan Parikesit Press. Nurul menerjemahkan novel ini dari terjemahan Inggris Martin J. Holman, “The Old Capital”.

BIODATA
Sunlie Thomas Alexander lahir di Belinyu, Pulau Bangka, 7 Juni 1977. Bergiat di Parikesit Institute, Yogyakarta. Buku cerpennya adalah Malam Buta Yin (Gama Media, 2009).

Makanan Berlemak yang Baik Untuk Tubuh

Menghindari makan telur dan daging karena takut gemuk? Telur, daging, dan susu memang mengandung lemak dan bisa menambah bobot tubuh. Tapi lemak-lemak ini juga berfungsi menjaga kesehatan organ-organ tubuh.
Berat badan yang terus melambung memang bikin repot. Segala jenis makanan khususnya yang mengandung lemak langsung dijauhi. Padahal, lemak yang diduga sebagai penyebab utama meningkatnya berat badan justru dapat meningkatkan HDL ( kolesterol baik) dan membantu menghilangkan plak dari dinding pembuluh darah arteri.
Berikut ini adalah jenis-jenis makanan berlemak yang baik untuk kesehatan Anda:

Daging
Daging kalkun, daging sapi, ayam, dan ikan seringkali menjadi pilihan sebagai pengganti daging sapi. Karena banyak yang mengatakan kalau daging mengandung lemak jenuh yang tidak baik untuk jantung. Padahal di dalam daging justru terdapat lemak tak jenuh tunggal yang disebut dengan oleic acid yang sama seperti di dalam olive oil. Selain itu, daging merupakan sumber protein hewani yang sangat baik, mengandung zat besi, zinc, dan juga vitamin B yang dibutuhkan oleh tubuh.

Telur
Telur utuh mengandung lebih banyak vitamin dan mineral penting dibandingkan jenis makanan lain. Telur juga menjadi sumber kolin, zat yang dibutuhkan tubuh untuk memecah lemak menjadi energi. Selain itu, telur juga mengandung lutein dan zeaxanthin, antioksidan yang membantu mencegah katarak dan degenerasi makula. Dalam penelitian di Wake Forest University, terbukti tidak ada hubungan antara konsumsi telur dan penyakit jantung.

Keju
Meskipun keju mengandung lemak dan protein yang tinggi, tetapi justru baik untuk diet. Karena lemak dan protein bisa menjaga lambung dalam keadaan kenyang. Keju juga dapat dimakan sebagai pendamping salad, atau sebagai camilan tanpa harus makan makanan lainnya.

Kelapa
Kelapa mengandung lemak jenuh yang lebih jika dibandingkan dengan mentega. Banyak orang menghindari makanan berbahan dasar kelapa atau santan agar terhindar dari penyumbatan pembuluh darah arteri. Hal ini justru berdampak baik untuk kesehatan jantung. Karena lebih dari 50% kandungan lemak jenuh dalam kelapa adalah asam laurat. Penelitian di American Journal of Clinical Nutrition menunjukkan bahwa meskipun asam laurat meningkatkan LDL(kolesterol jahat) kolesterol, tapi HDL (kolesterol baik) juga turut meningkat. Hal ini justru mengurangi resiko terkena penyakit jantung.

Meskipun keempat makanan diatas cukup baik untuk kesehatan, namun ada baiknya jumlah yang dikonsumsi tetap dalam keadaan normal agar manfaatnya tetap bisa dirasakan.(net/jpnn)

Pentingnya Standar Penyembelihan Hewan

Standar penyembelihan hewan secara halal merupakan kunci penting yang harus diketahui dan dipahami oleh seorang tukang potong hewan. Sebab proses tersebut bakal jadi penentu apakah suatu produk menjadi halal atau haram. Apa saja yang harus diperhatikan dalam memotong hewan secara halal?

Pentingnya sebuah proses pemotongan hewan membuat LPPOM MUI berupaya mensosialisasikan cara penyembelihan hewan yang halal secara benar. Salah satunya adalah lewat workshop internasional yang digelar bulan April lalu di ICC IPB, Bogor. Selain membahas tata cara penyembelihan yang diterima di Indonesia, dalam workshop tersebut juga menyajikan praktik penyembelihan yang terjadi di Australia sebagai salah satu negara importir daging halal ke Indonesia.

Bagi kaum muslim produk daging memang memiliki titik kritis keharaman yang cukup tinggi. Sebab produk daging dapat menjadi tidak halal, akibat pemotongan hewan yang tidak sesuai syariat Islam serta kontaminasi zat tidak halal dalam proses produksi. Lalu bagaimana cara penyembelihan hewan yang benar?

Menurut workshop ‘Regulation and Standard For Slaughtering’ yang digelar LPPOM MUI, standar penyembelihan hewan yang benar berawal dari perlakuan hewan itu sendiri sebelum disembelih. Sehingga mulai dari proses pengangkutan hewan ke tempat pemotongan, penampungan, pemingsanan, hingga proses penyembelihan harus diperhatikan.

Selain hewan itu sendiri, lokasi, fasilitas penyembelihan, dan orang yang melakukan penyembelihan dan perlakuan hewan saat sebelum disembelih dan sesudah juga penting. Dalam proses pemotongan hewan, agama Islam mensyaratkan agar penyembelih hewan mengucapkan basmalah, lalu memotong saluran nafas dan pembuluh nadi hewan dengan sempurna. Hal tersebut untuk mengindarkan hewan dari stres, termasuk kesejahteranan hewan untuk menjamin mutu daging yang disembelih.

Dr Mohammed Lotfi dari Australian Halal & Food Services mengemukakan, pihaknya menggunakan standar yang sangat ketat untuk melakukan penyembelihan. “Penyembelihan kami lakukan dengan mengikuti syariah Islam dan dengan cara dipingsankan terlebih dahulu sebelum disembelih,” ujarnya di sela-sela workshop.
Dalam sesi kedua workshop yang diselenggarakan LPPOM MUI bekerjasama dengan Universitas Djuanda Bogor ini juga membahas nilai lebih kualitas daging yang dihasilkan melalui penyembelihan halal. Materi tersebut disampaikan Prof Teruyoshi Yanagita dan Prof Nobuyuki Hayashi dari Saga University Jepang. Mereka juga membawakan makalah tentang fungsi makanan dan manfaat kesehatan serta fungsi bahan produksi menggunakan kompresi pelarut panas.

Sedangkan Dr Alison Small dari CSIRO Livestock Industries Australia membawakan makalah tentang efek kualitas daging dilihat dari perlakuan hewan yang disembelih. Yang terakhir Dr  H Martin Roesamy SH, MH  selaku Rektor Universitas Djuanda Bogor tampil sebagai pembicara. Ia mengungkapkan tingginya konsumsi masyarakat Indonesia akan daging.

“Pada tahun 2011 konsumsi daging masyarakat Indonesia telah mencapai 506 juta kg. Dan sebagai negara dengan konsumen muslim terbesar sudah selayaknya pemerintah melindungi konsumen Indonesia dari produk yang tidak halal,” jelasnya dihadapan peserta workshop. (net/jpnn)

Harta Nasabah Bank Kesawan Hilang di Safe Deposit Box

Pelaku tak Mungkin Orang Luar

MEDAN- Pihak Bank Kesawan membantah adanya penggandaan kunci yang dilakukan oleh pihak bank seperti yang diungkapkan oleh polisi.
“Tak mungkin kami melakukan itu, karena kuncinya ada sama nasabah jadi tidak ada kesempatan kami untuk menggandakan kunci,” ujar Ermawadi, Staf bidang SDM Bank Kesawan ketika dikonfirmasi wartawan, kemarin (13/5).

Begitupun, Ermawadi tetap menunggu hasil penyelidikan polisi. “Pada prinsipnya kita siap-siap saja kalau dipanggil oleh polisi untuk mengungkap pelakunya, kalau memang benar barang Ibu Noni itu hilang,” ujarnya.

Sebenarnya, katanya, barang dan uang yang hilang safe deposit box itu bukan menjadi tanggung jawab bank.
“Itu bukan tanggung jawabn kami tapi kalaupun begitu kami siap-siap saja dipanggil polisi,” katanya.

Sumber wartawan koran ini di Bank Kesawan Jalan Pemuda Medan menyebutkan, tidak semua karyawan mengetahui tempat penyimpanan safe deposit box dan kuncinya. “Kami tidak tahu itu dimana disimpan, kuncinya sama siapa dan seperti apa penyimpanannya. Jadi kalau ada kehilangan tidak mungkin pelakunya orang luar,” ujar sumber yang tidak bersedia ditulis namanya.

Sementara itu Wakasat Reskrim Polresta Medan, AKP Ruruh Wicaksono mengatakan, hingga saat ini pihaknya masih mendalami adanya kecurigaan penggandaan kunci oleh pihak bank. “Kita masih mendalaminya dan akan memanggil pihak bank lagi,” ujarnya.

Seperti diketahui, seorang nasabah Bank Kesawan Noni mendatangi Mapolresta Medan, Rabu (11/5). Wanita berusia 36 tahun warga Jalan Murai, Medan Sunggal itu mengaku, uang kontan senilai Rp500 juta dan perhiasan emas yang dititipkan dalam safe deposit box (penitipan barang) di Bank Kesawan, di Jalan Pemuda Medan hilang.

Keterangan korban, Noni kepada wartawan mengatakan, dia sudah puluhan tahun menjadi nasabah di Bank Kesawan Medan. Dia juga selalu menitipkan harta benda miliknya di Bank Kesawan di Jalan Pemuda. Nah, sebulan yang lalu, Noni datang ke Bank Kesawan.

Dia terkejut, saat mengetahui dari pihak bank kalau uang dan emas miliknya hilang. Noni sempat mendatangi bank beberapa kali untuk meminta ganti rugi, namun hingga kemarin tak juga diganti oleh bank. Akibatnya, Noni mengadu ke Mapolresta Medan.

Dijelaskannya, uang yang disimpannya terdiri dari 10.000 Dolar AS, 3.000 Dolar Hongkong, 3.000 Dolar Singapura, 500 Ringgit Malaysia (total sekira Rp500 juta) serta 900 gram emas berbentuk batangan. (mag-8)

Dipecat Sebagai Banker, Bank Dibom

BEIJING – Aktivitas perbankan di Gansu Rural Credit Union, Kota Wuwei, Tianzhu County, Provinsi Gansu, Tiongkok, mendadak terhenti, Jumat (13/5) pagi. Sebuah bom molotov meledak di ruang pertemuan lantai lima gedung tersebut. Akibatnya, tak kurang dari 60 orang terluka. Sebanyak 19 diantaranya berada dalam kondisi serius.

“Pelaku melemparkan bom rakitan ke dalam ruang pertemuan saat para pegawai dan staf bank tersebut meng gelar rapat,” kata seorang pejabat pemerintah dalam wawancara dengan Kantor Berita Xinhua.

Konon, setelah melemparkan bom, pelaku langsung melarikan diri. Bersamaan dengan itu, bom molotov  meledak dan membuyarkan rapat yang sedang berlangsung.

Begitu bom meledak, seluruh peserta rapat berhamburan keluar. Sebagian besar nekat melompat dari jendela lantai lima gedung bank tersebut. Mereka nekat melompat ke atap bangunan tiga lantai di sebelahnya. Karena itu, sebagian korban yang luput dari ledakan justru mendapatkan luka gores atau lebam saat mencoba menyelamatkan diri.

Sementara tim medis berusaha mengevakuasi para korban dan melarikan korban ke rumah sakit terdekat, kepolisian memburu pelaku ledakan. Berdasar keterangan dari pihak bank, polisi berhasil mengantongi identitas pelaku. Dia bernama Yang Xianwen. Pria 40 tahun itu pernah menjadi akuntan di bagian keuangan. Tapi, pihak bank memecatnya bulan lalu yang kedapatan menggelapkan dana. Perburuan selama 8 jam, polisi berhasil meringkus Yang. (ap/rtr/hep/jpnn)

Jibril Tagih Pengakuan AS

Minta Pembekuan Aset Libya Dicabut

TRIPOLI- Kelompok oposisi Libya semakin optimis memenangi perang melawan rezim Muammar Kadhafi. Kepala Biro Eksekutif Dewan Transisi Nasional (NTC) Libya,  Mahmoud Jibril kemarin terbang ke Washington untuk mencari dukungan keungan dan legitimasi diplomasi.

Mahmoud akan bertemu Penasihat Keamanan Nasional Presiden Barack Obama Tom Donilon dan sejumlah pejabat senior lainnya. Dia juga meminta Amerika mencabut pembekuan atas aset Libya sebesar dolar US 180 juta untuk membiayai perang melawan rezim berumur 41 tahun tersebut.

Pertemuan Washington, Jumat (13/5) selang sehari setelah Ketua NTC,  Mustafa Abdel Jalil bertemu Perdana Menteri Inggris, David Cameron di London, untuk memastikan dipenuhinya janji untuk memberikan lebih banyak bantuan.

Pasukan oposisi memerangi tentara pemerintah hampir 3 bulan. Mereka menguasai Benghazi dan bagian timur Libya. Sementara, Kadhafi menguasai pintu masuk ke Tripoli dan hampir seluruh wilayah di barat.

Oposisi manyatakan, saat ini pihaknya memerlukan dana untuk membayar gaji tentara pro-oposisi dan mengontrol wilayah kekuasaannya. Sementara legitimasi NTC oleh dunia internasional diperlukan untuk membuka akses terhadap aset Libya yang dibekukan.

“Kami menghadapi masalah keuangan yang akut, karena aset yang dibekukan,” terang Jibril kepada sebuah lembaga think-tank AS Brookings Institute. “Jadi saya ingin menggunakan kesempatan yang ada untuk meminta pemerintah AS agar membantu kami,” tandasnya yang juga menjabat sebagai menteri luar negeri NTC.

Ditanya CNN tentang apa yang ingin dicapai dalam pertemuan tersebut, Jibril menegaskan kami butuh pengakuan. Tidak seperti Prancis, Italia, Gambia, dan Qatar, Amerika Serikat (AS) belum mengakui adanya NTC. Jibril yakin, dalam waktu dekat, Jordania akan mengakui NTC.

“Yang kami perlukan adalah, dunia memahami persoalan kami dan membantu kami mendapatkan hak legitimasi,” tandasnya.

Juru Bicara Gedung Putih, Jay Carney memberikan sinyal bahwa Washington tidak akan gegabah mengakui NTC sebagai pemerintahan resmi Libya. “Kalau pertanyaannya pengakuan NTC sebagai pemerintahan resmi Libya, saya rasa masih sangat prematur,” katanya. (cak/kim/jpnn)