Peringatan Hari Pers
Lembaga advokasi media di Prancis, Reporters Without Borders (RWB), merilis daftar tahunan para tokoh yang dinilai tidak peduli kepada pers.
Tepat saat peringatan Hari Kebebasan Pers Dunia (World Press Freedom Day) yang jatuh pada Selasa (3/5) lalu. Mereka menyoroti empat pemimpin atau presiden yang kini digoyang revolusi di negeranya.
Keempat presiden yang disebut sebagai predator pers yakni, Presiden Yaman, Ali Abdullah Saleh dan Presiden Syria, Bashar al-Assad disejajarkan dengan Pemimpin Libya, Muammar Kadhafi dan Raja Bahrain Sheikh Hamad Bin Isa Al-Khalifa sebagai predator pers (press predator) tahun ini. Itu bukan “prestasi” baru bagi Saleh, Assad dan Khadafi. Tahun lalu ketiganya juga masuk dalam daftar yang sama.
Bagi Sheikh Hamad, julukan tersebut baru muncul setelah revolusi yang kali pertama lahir di Tunisia menjalar ke negaranya. Apalagi, setelah pemerintah Bahrain menindas oposisi dan memberlakukan status darurat militer.
“Ujung tombak kekuatan represif, para pemimpin politik rezim anti perubahan, dan organisasi yang menghambat kinerja jurnalis layak disebut pemangsa pers. Mereka berusaha membunuh kebebasan media dalam melaporkan fakta,” tutur jubir RWB, Rabu (4/5).
Lembaga yang bermarkas di Kota Paris, Prancis, itu membeber 38 individu dan organisasi kriminal dalam daftar Press Predators 2011. Didomainasi pemimpin negara dan pejabat pemerintah, ada juga rohaniawan.
Tetapi, ada juga rohaniawan dan pebisnis yang masuk daftar tersebut. Salah satunya adalah pebisnis dan tuan tanah Honduras, Miguel Facusse Barjum.
Kembali tercantumnya Bashar, Saleh dan Kadhafi menunjukkan bahwa kesewenangan terhadap media masih terjadi di Syria, Yaman, dan Libya. Padahal, dunia internasional mengecam sejak lama.
“Negara-negara itu terus memusuhi jurnalis. Terutama jurnalis dan koresponden asing,” ungkap jubir yang tidak disebut namanya itu.
Pembunuhan terhadap jurnalis pun marak terjadi di Syria, Yaman, Libya, dan Bahrain. Antara lain, kasus kematian Mohamed Al-Nabous di Kota Benghazi, Libya, pada 19 Maret lalu. Jurnalis Libya itu tewas ditembak pasukan pro-Kadhafi.
RWB juga memberikan penghargaan kepada para fotografer yang tewas saat meliput revolusi di Tunisia dan Libya. Di antaranya, Lucas Melbrouk Dolega, Tim Hetherington, dan Chris Hondros. (ap/hep/dwi/jpnn)

