Home Blog Page 15330

Baliho Calon Wali Kota Ditertibkan

TEBING-TINGGI- Panitia Pengawas Pemilukada Kota Tebing Tinggi bekerjasama dengan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) menertibkan, puluhan baliho dan spanduk gambar pasangan calon Wali Kota Tebing Tinggi di sejumlah tempat strategis, Sabtu (28/5).

”Dalam dua hari ini, sudah 50 baliho dan spanduk gambar calon Wali Kota Tebing Tinggi yang diturunkan, diantaranya di gedung sekolah, Kantor Dinas, Kantor Lurah, rumah sakit umum, dan tempat umum lainnya,” ucap Ketua Panwaslu Tebing Tinggi, Sufriadi ST didampingi anggota Suarno Arifin SE.

Penurunan spanduk tersebut atas laporan masyarakat tentang banyaknya spanduk dan baliho salah satu pasangan calon Wali Kota terpajang, karena dalam pemungutan suara ulang yang 28 Juni 2011 ini tidak ada masa kampanye, maka seluruh spanduk dan baliho gambar pasangan calon Wali Kota harus dibersihkan, walau dalam baliho dan spanduk tersebut tidak ada bertuliskan calon Wali Kota, namun berbau kampanye.

“Walaupun dikatakan bermaksut untuk sosialisasi program pemerintah  atau  program KPU, sosialisasi pilkada hanya dilaksanakan KPUD atau Panwaslu,” tegasnya. (mag-3)

Sering Permisi Saat Rapat Pembahasan Anggaran

Sekda Langkat Surya Djahisa Pasca Ditetapkan Tersangka oleh Kejari Stabat

LANGKAT- Sejak ditetapkan tersangka kasus dugaan korupsi penghitungan Pajak Penghasilan (PPh) 21 PNS tahun 2001-2002 dengan kerugian negara Rp1,1 miliar, kinerja Sekda Langkat Surya Djahisa dinilai terus merosot.
Bahkan, mantan Kadis PU dan Kabag Keuangan Pemkab Langkat itu nyaris kehilangan wibawa di kalangan pejabat SKPD Pemkab Langkat. Tak hanya itu, Surya Djahisa juga sering tidak hadir saat rapat anggaran di DPRD Langkat. Padahal Surya merupakan ketua tim anggaran eksekutif.

Surya yang juga Ketua Korpri Langkat, belum lama ini memberikan  instruksi kepada seluruh SKPD agar melaksanakan tugas secara baik dan dapat menjadi contoh yang baik bagi stafnya dalam pelaksanaan disiplin kehadiran, disiplin pelaksanaan tugas serta disiplin pertanggung jawaban anggaran.

“Bapak Bupati telah menginstruksikan kepada saya untuk mengambil langkah tegas terhadap tindakan disiplin bagi PNS yang mengabaikan tanggung jawabnya”. Pernyataan tersebut disampaikan Surya Djahisa  saat memimpin apel harian di sekretariat halaman Kantor Bupati, Selasa (24/5).

Ketua DPRD Langkat, Rudi Hartono Bangun mengaku sangat prihatin atas kasus dugaan korupsi yang melibatkan Sekda Langkat Surya Djahisa. Dirinya berharap agar Kejari Stabat dapat secepatnya menyelesaikan perkara itu sesuai prosedur hukum berlaku.

Sehingga, nantinya tidak dapat menimbulkan polemik yang berkepanjangan dan juga dapat mengganggu stabilitas pemerintahan. Kedepan, sambung Rudi pejabat di lingkungan Pemkab Langkat dihimbau agar lebih fokus bekerja dan berhati-hati dalam melaksanakan tugasnya, sehingga tidak terjadi kesalahan sampai terseret kasus dugaan korupsi.
“Perkara ini sedang diproses di Kejari Stabat, biarkan pihak kejaksaan yang bekerja dan mengambil langkah-langkah yang terbaik guna mengusut kasus dugaan korupsi tersebut sampai tuntas, nantinya proses hukumlah yang memutuskan apa bersalah atau tidak,” kata Rudi Hartono Bangun.

Ketika ditanya apa tanggapannya soal status dugaan korupsi yang melibatkan Sekda Langkat, Rudi Bangun menjelaskan, sejak ditetapkan sebagai tersangka, Surya Djahisa memang sering meminta izin untuk tidak dapat menghadiri rapat sidang paripurna di DPRD Langkat.  Sehingga, tentu saja hal ini dirasa sangat mengganggu berlangsungnya rapat itu.

“Bapak Surya Djahisa sebagai Ketua Panitia Anggaran Eksekutif memang diketahui sering meminta izin untuk tidak dapat hadir dalam rapat, alasannya karena dirinya sedang menjalani pemeriksaan di Kejaksaan, secara otomatis kondisi ini dirasakan sangat berdampak sekali dengan rapat yang sedang berlangsung,” ujar Hartono Bangun.(mag-1)

Salah Paham, Ibu dan Anak Aniaya Istri Sopir Angkot

NAGA PITA- Tangan kanan patah tulang, kepala membengkak dan di sekujur tubuh mengalami luka memar. Hal ini yang dialami, Nurhayati Marbun alias mak Bora (30) warga Jalan Bineka, Kelurahan Naga Pita, Kecamatan Siantar Martoba,  akibat dipukul pakai kayu (Andalu Red) dan dijambak tetangganya, Rosdiana br Lubis (40) dengan putrinya Elda Tampubolon (17), Sabtu (28/5) sekira pukul 20.00 WIB.

Kejadian ini berawal karena kesalah pahamam. Malam itu mak Bora dan temannya R Panggabean alias Mak Nando (36) ingin ke rumah tetangganya. Masih 10 meter keluar dari rumah, berpapasan dengan Rosdiana yang saat itu menumpangi sepedamotor.

“Tadinya kami ke rumah teman, di tengah jalan berpapasan dengan Rosdiana.  Saat itu saya dan Mak Nando lagi cakap-cakap. Saya bilang sama mak Nando, copot. Maksudnya mencopot kartu di dalam hape. Nggak tahu kenapa, Rosdiana tiba-tiba berhenti. Rosdiana membentak mengatakan, apanya maksudmu Mak Bora,” ucap istri supir angkot jurusan simpang dua ini, Sarifuddin Siahaan. Saat itu, mak Bora malah kembali bertanya.

“Kenapa rupanya. Nggak ada apa-apa. Malahan kau tadi siang yang mengatakan sarbut (Jambak red),” terangnya.
Hari itu, terjadi pertengkaran mulut sampai mengundang warga termasuk Elda putrinya Rosdiana. Tiba-tiba, Elda meludahi wajah Mak Bora disaksikan banyak orang.

“Wajah saya diludahi Elda disaksikan banyak orang. Saat saya mau meludahi Elda, Rosdiana (ibunya Elda) menjambak dari belakang. Kemudian saya ambil Batu mau lempar Elda, tetapi Elda sudah lari ke rumahnya,”ujar ibu dua anak ini.

Sementara malam kejadian itu, Elda langsung melaporkan Mak Bora ke Mapolresta Siantar dengan tuduhan membuat perasaan tidak senang, karena dibilang perempuan tidak baik (lonte) dengan nomor LP/372/V/2011/SU/STR.
Kapolresta Siantar AKBP Alberd TB Sianipar S.Ik MH yang dikonfirmasi melalui kasubag humas AKP Altur Pasaribu membenarkan telah menerima laporan kedua belah pihak. Elda melaporkan Mak Bora dengan tuduhan membuat perasaan tidak senang.

Sedangkan siang tadi, Mak Bora mengadukan Rosdiana dan Putrinya ke polisi dengan tuduhan melakukan penganiayaan secara bersama-sama. Saat membuat laporan, Mak Bora membawa kayu bulat yang digunakan Elda memukul tangan kanannya sebanyak dua kali. (osi/smg)

Ribuan Bibit Ikan Terancam Mati

HUMBAHAS- Ribuan bibit ikan yang ada di Balai Benih Ikan (BBI) Pusuk I, di Kecamatan Parlilitan, Kabupaten Humbang Hasundutan terancam mati. Pasalnya, saluran air menuju BBI tersebut, tertimbum longsoran tanah seluar 30 meter,  Jumat (27/5). Warga di Dusun Hutanapa, Desa Pusuk I, kini juga terancam kekurangan air bersih akibat peristiwa itu.
Kepala Seksi Produksi Perikanan, Dinas Peternakan dan Perikanan Humbahas, Rudi TH Simamora SPi, Minggu (29/5) saat dihubungi melalui ponselnya mengatakan, saluran air yang tertimbun longsor tersebut seluas 30 meter dengan kedalaman sekitar 25 meter.

Dibeberkannya, debit air di kolam BBI Pusuk I, kini sudah mulai berkurang. Sehingga, jika saluran tersebut tidak segera diperbaikai, maka ribuan bibit dan induk ikan yang ada di BBI tersebut terancam mati. “Kita telah meninjau lokasi begitu mendapat laporan dari petugas BBI kita yang ada disana. Longsor pertama hanya seluas 10 meter saja, namun saat ini sudah menjadi 30 meter. Hasil pantauan kami kemarin (sabtu, 28/5), air di kolam BBI sudah berkurang. Sehingga, induk dan bibit ikan yang ada di BBI terancam bermatian,” ujar Rudi TH Simamora. Namun tutur Rudi, hingga kini pihaknya belum melakukan perbaikan saluran air tersebut akibat kondisi longsor yang sangat parah.
“Kita akan segera melakukan perbaikan saluran air itu secepatnya. Ada dua opsi sementara yang akan kita lakukan. Pertama, mengalihkan sementara saluran air dengan pipa, dan kedua mengalihkan saluran air melalui rute baru,” tuturnya. Lokasi longsor tersebut, sebut Rudi, berjarak 300 meter dari lokasi BBI Pusuk I.

, dan sekitar 700 meter dari Dusun Hutanapa. Sementara itu, jenis ikan yang ada di BBI Pusuk I saat ini adalah, ikan mas, ikan nila dan bawal. “Bibit ikan yang ada di kolam BBI itu, ada ikan mas, lele dan bawal. Jadi, kolam BBI saat ini hanya mengandalkan air hujan,” sambungnya.(hsl/smg)

Tubuh Terbakar Disambar Lampu Minyak

Petaka Menjelang Maghrib

Malang nian nasib Matahari Bitcar Br Sihombing (17) warga Desa Serbajadi B, Perdomuanauli, Pondok Batak, Kabupaten Deli Serdang ini. Pasalnya, ia mendapat petaka tepat saat menjelang Maghrib, dimana tubuh bagian kanan anak baru gede (ABG) itu terbakar lampu minyak, Senin (23/5).

Akibat kejadian itu, dengan seketika ia terpaksa dilarikan ke Rumah Sakit Umum (RSU) dr Djoelham Binjai, Kecamatan Binjai Kota, guna mendapat perawatan intensif atas luka bakar yang dideritanya.

Lubuk Sihombing (59) orang tua Matahari, Minggu (29/5), menceritakan awal kejadian yang dialami anaknya tersebut. Dimana, saat hari menjelang Maghrib, anaknya seperti biasa menghidupkan lampu minyak yang ada di rumahnya untuk dijadikan alat penerangan rumah. Sebab, di rumah mereka sampai saat ini belum ada penerangan listrik.

Dengan mengambil mancis, anak bungsu dari lima bersaudara ini, lantas menghidupkan lampu sentir yang terletak di atas meja tepat di ruang tamu mereka. Tanpa ada rasa was-was, ia langsung menghidupkan lampu sentir tersebut.
Namun naas, begitu lampu minyak menyala langsung menyambar sejadi-jadinya. Sehingga, anak ABG itupun kaget dan melemparkannya ke arah dinding rumahnya. Tapi, lampu yang terpental ke dinding rumahnya, kembali terpental ke arahnya dan mengenai tubuh di bagian kanannya. Dikarenakan api yang terpental ke tubuhnya sudah membesar, Matahari tak dapat mengelak dan api mengenai tubuh bagian kanannya serta membakar pakaiannya.
Lantas, Matahari langsung berteriak dan menjerit sejadi-jadinya guna meminta tolong kepada orang tuanya agar api yang telah membakar tubuhnya segara dipadamkan.

Mendengar teriakan tersebut, orang tua Matahari yang berada di belakang rumah, langsung kaget dan berlari mengejar anaknya. “Saya kaget dan saya lihat api sudah besar. Lantas saya berlari dan saya langsung membuka pakaiannya. Untuk selanjutnya saya bawa ke rumah sakit untuk dirawat,” ujar Lubuk Sihombing dengan raut wajah sedih.

Melihat luka bakar di tubuh anaknya itu, Lubuk Sihombing seakan tak kuasa. Apalagi, biaya untuk mengobatkan anaknya sangat besar.

Namun, Lubuk dapat bernafas lega, setelah semua biaya pengobatan anaknya ditanggung melalui Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas).

“Syukurlah, kalau tidak ada Jamkesmas, barang kali nyawa anak saya tidak tertolong. Sebab, anak saya akan menjalani operasi dan membutuhkan biaya yang besar,” ucapnya.

Sementara itu terbakarnya tubuh Matahari disebabkan rendahnya ekonomi kedua orang tua yang tak mampu memasukan listrik ke rumahnya.

Meski tidak ada penerangan dari lampu listrik, Matahari dapat dikatakan orang yang gigih untuk melanjutkan sekolah. Buktinya, dengan penerangan seadanya, ABG berkulit putih, berbadan tinggi ini, dapat menamatkan sekolahnya sampai tingkat SMA di SMA Negeri 6, Kelurahan Nangka, Kecamatan Binjai Timur.
Bahkan, Matahari ternyata baru tamat sekolah tahun 2011 ini dan ijazahnya belum sempat diambil. “Baru tahun ini dia tamat dan ijazahnya juga belum diambil. Memang, dia ini mau melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi, tapi saya merasa tidak sanggup,”ucap Lubuk Sihombing.

Lubuk Sihombing juga mengakui, kalau ia pernah berniat ingin memasukan listrik ke rumahnya. Namun, anggaran yang dibutuhkan mencapai Rp15 Juta. “Saya ini hanya tukang becak yang mangkal di Kampung Lalang, Medan. Dapat makan satu hari saja sudah syukur, bagaimana mau masukan listrik sampai Rp15 juta,”pungkasnya. (dan)

Sembilan Tahun Derita Tumor

LANGKAT- Nasib malang menimpa Samini (37). Selama sembilan tahun, ibu rumah tangga yang tinggal di Desa Kwala Mencirim Kecamatan Sei Bingai Langkat itu, harus menderita penyakit tumor ganas dimulutnya.

Meskipun sudah pernah menjalani operasi, namun tumor yang dialaminya tidak juga kunjung sembuh. Segala usaha sudah dilakukan pihak keluarga untuk menyembuhkan penyakit yang diderita ibu beranak dua tersebut. Meskipun begitu, Edi Kabul (40) sang suami tidak pernah putus asa merawat serta menjaga istri tercintanya hingga sembuh.

Edi bilang awalnya istrinya hanya sakit gigi. Tapi lama kelamaan, mulutnya semakin membesar dan divonis menderita tumor ganas.  “Bagaimana mau berobat, untuk cari makan sehari-hari saja kami sulit,” kata Edi.(mag-1)

Tewas Tertimpa Gawang Futsal

TEBING TINGGI- Pelajar Perguruan RA Kartini Jalan KM Yosudarso, Kota Tebing Tinggi, Hasnan Yasril Nasution (10) tertimpa tiang gawang futsal, Sabtu (28/5). Akibatnya, anak semata wayang pasangan Ahmad Maliki Nasution dan Amidah Siregar yang tinggal di Jalan KM Yosudarso, Lingkungan III, Kelurahan Tanjung Marulak ini tewas setelah mendapat perawatan di Rumah Sakit Sri Pamela, Tebing Tinggi.

“Saat mengatar ke rumah, guru sekolahnya hanya mengatakan Hasnan mengalami kecelakaan jatuh dari tiang gawang futsal. Karena saat itu anak saya masih dalam kondisi biasa dan bisa berjalan jadi tidak merasa curiga,” kata Amidah Siregar.

Selang beberapa jam, kemudian Hasnan mengeluh sakit pada bagian dada dan terlihat drop serta tidak bertenaga, langsung ibunya melarikan ke RS Sri Pamela, setelah dirawat beberapa jam, tepat pukul 14.00 WIB, Hasnan Yasril Nasution menghembuskan nafas terakhir. (mag-3)

Ruas Jalan Digenangi Air

TEBING TINGGI- Hujan deras yang mengguyur Kota Tebing Tinggi sekitar satu jam membuat beberapa titik di jalan inti kota tergenang air, Minggu (29/5). Hal ini disebabkan karena buruknya drainase.

Pantauan Sumut Pos, jalan yang digenangi air adalah Jalan Sudirman, Ahmad Yani dan paling parah di Jalan Patimura dengan ketinggian 10 cm sampai 40 cm.

Edi Juardi warga Jalan Patimura, Lingkungan III, Kota Tebing Tinggi mengaku sudah sering rumahnya kebanjiran, apabila datang hujan deras sekitar satu jam sampai dua jam. Warga sekitar sudah sering mengadukan hal tersebut kapada Pemko Tebing tinggi, tetapi belum ada realisasi.

“Sia-sia aja pak kami mengadukan masalah banjir ini, soalnya drainase tersumbat. Namun mereka hanya menjawab, kedepan akan kita perbaiki,” jelas Edi. (mag-3)

Razia Hotel, 13 Pasangan Diamankan

SERGAI- Sedikitnya tiga belas pasangan terjaring razia operasi pekat toba I yang digelar Polres Sergai, Sabtu malam (29/5). Dua hotel kelas melati yang menjadi sasaran razia yaitu, Hotel Top Indan Hotel SDI yang berada di Jalan lintas Sumatera (Jalinsum) Medan Tebing Tinggi, persisnya di Dusun Suka Tani, Desa Suka Damai, Kecamatan  Sei Bamban, Kabupaten Serdang Bedagai.

Razia  yang dipimpin Kasat Reskrim Polres Sergai, AKP TML Tobing dimulai dengan  menyisir satu persatu kamar hotel dan penghuninya dibawa keluar serta dibawa ke Mapolres Sergai dengan menumpang truk Dalmas. Diduga puluhan pasangan tersebut telah berbuat mesum, tetapi tiga pasangan adalah suami istri.

Kapolres Sergai, AKBP Arif Budiman Sik  mengatakan kegiatan operasi pekat toba I bertujuan menekan tindak kriminalitas dan melakukan upaya cipta kamtibmas dengan melakukan razia di wilayah hukum Polres Sergai. “Terhadap pasangan yang terjaring dilakukan pendataan, kemudian diberi pembinaan atau ceramah dari tokoh agama. Selanjutnya mereka diperbolehkan pulang,” bilang Kapolres.(mag-15)

Lambat Atasi Hewan Kaki Empat

BINJAI- Tidak adanya tindakan tegas dari aparatur Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Langkat, membuat peternak hewan kaki empat di Dusun I, Desa Pasar VIII Namu Trasi, Kecamatan Sei Bingai merajalela. Akibatnya, kekecewaan puluhan warga setempat semakin menjadi-jadi.

H Sembring, salah seorang warga setempat, Sabtu (28/5), kepada wartawan koran ini mengatakan,  puluhan warga setempat sangat resah atas adanya warga yang beternak hewan kaki empat tersebut, dimana ternak itu sudah ada selama bertahun-tahun.

“Kami warga setempat sangat resah atas adanya ternak hewan kaki empat itu. Sebab, udara menjelang sore akan terasa bau yang diakibatkan limbah hewan kaki empat tersebut, dan lalat semakin hari semakin bertambah, hal itu membuat kami susah untuk makan dan beristirahat. Warga di sini berharap, agar segara ditutup dan tidak lagi meresahkan,”ungkap H Sembiring.

Lebih jauh dikatakan H Sembiring, sedikitnya ada sekitar 26 KK (Kepala Keluarga-red) yang rumahnya berdekatan dengan kandang hewan kaki empat itu. “Kami juga sudah capek membuat tindakan, mulai dari melayangkan surat kepada Kepala Dusun, sampai ke Kepala Desa. Tetapi, sudah berbulan-bulan belum juga ada hasil,”ujar H Sembiring.
Sementara itu, Sekretaris Desa (Sekdes), L Ginting (34), saat ditemui di rumahnya mengatakan,  pihaknya sudah menyampaikan hal ini kepada instansi terkait di Pemkab Langkat, agar segara disikapi. “Kami sudah layangkan surat keberatan warga serta foto hewan kaki empat itu, dan sket peta tempat dimana kandang hewan itu dipelihara juga sudah dilayangkan kepada Badan Lingkungan Hidup (BLH) Langkat, tetapi sampai saat ini belum juga digubris,” ungkap L Ginting.

Untuk itu, dia berharap, agar Pemkab Langkat, segera menyelesaikan masalah ini. “Bantu kami ya, soalnya Pemkab Langkat sendiri seakan tak acuh atas persoalan ini. Jangan sampai warga semakin emosi dan melakukan tindakan anarkis,”tegasnya.

Kepala Dusun I B Sinulingga, saat dikonfirmasi terkait keluhan warga atas ternak hewan kaki empat itu, kepada wartawan koran ini membenarkannya. “Iya, kalau masalah itu warga memang keberatan, tapi saya baru dua hari jadi Kepala Dusun. Namun setahu saya, sampai sekarang belum juga ada tindakan dari Pemkab Langkat untuk menyelesaikannya,”ungkap R Sitepu.(dan)