24 C
Medan
Thursday, January 8, 2026
Home Blog Page 15364

Mendagri: Tinggal Sekali Sidang Lagi

Bursa Sekdaprovsu

Medan- Dalam waktu dekat, nama calon sekretaris daerah Provinsi Sumut (Sekdaprovsu) akan segera ditetapkan. Mendagri Gamawan Fauzi memperkirakan, penetapan calonn Sekdaprovsu itu hanya butuh sekali lagi sidang di Tim Penilai Akhir (TPA) yang dipimpin Wapres Boediono.

“Mudah-mudahan satu kali lagi sidang TPA sudah ada keputusan,” ujar Gamawan Fauzi di kantornya, Senin (2/5). Hanya saja, dia tidak menyebutkan kapan sidang TPA akan digelar lagi. Mantan gubernur Sumbar itu juga tidak menjelaskan, usulan yang mana yang akan dibahas di TPA; tiga nama yang diusulkan Syamsul Arifin ataukah yang diusulkan Plt Gubernur Sumut Gatot Pujo Nugroho.

Gamawan hanya menjelaskan, penundaan penetapan nama sekdaprovsu ini lantaran ada perbedaan-perbedaan dan masukan terkait pencalonan. “Kalau ada perbedaan-perbedaan dan ada masukan, ya kita pending,” cetusnya, tanpa menjelaskan maksud ‘perbedaan’ itu.

Saat ditanya apa benar Gatot mengajukan tiga nama calon Sekdaprovsu di luar tiga nama yang diusulkan Gatot, Gamawan hanya menjawab dengan senyuman.

Seperti diberitakan, tiga kandidat calon sekdaprovsu yang diusulkan Syamsul Arifin, terganjal di TPA. Ketiga kandidat sudah dibahas di TPA pada 8 April 2011, namun hingga kemarin TPA belum mengeluarkan keputusan siapa yang akhirnya dipilih. Ketiga calon sekda Sumut yang diusulkan Syamsul saat belum dinonaktifkan sebagai gubernur adalah Kadis Pendapatan Daerah Pemprovsu Syafaruddin, Kadis Pendidikan Pemprovsu Saeful Safri, dan Penjabat Bupati Madina, Aspan Sofyan Batubara.

Padahal, pembahasan calon Sekda Sumut bersamaan dengan calon sekda di tiga provinsi lainnya. Sementara, pada 28 April 2011 TPA sudah menetapkan nama sekda untuk ketiga provinsi, yakni Sekdaprov Sumatera Barat, Kalimantan Tengah dan Bengkulu.

Informasi yang didapat koran ini, Gatot juga telah mengajukan tiga kandidat Sekdaprovsu, dua diantaranya adalah Hasiholan Silaen dan Nurdin Lubis.(sam)

Perubahan Arus Harus Dievaluasi

Pasca Dinas Perhubungan Kota Medan dipimpin oleh Kepala Dinasnya Syarif Armansyah Lubis alias Bob, sampai sekarang belum terlihat kinerja yang ditunjukan Bahkan, program rekayasa lalulintas tahap kedua yang telah direncanakan, hingga kini belum menunjukkan perkembangan. Tak hanya itu, evaluasi rekayasa lalulintas tahap pertama juga belum mendapat tindak lanjut dari Dinas Perhubungan. Pasalnya, kemacetan masih tetap terjadi di sejumlah ruas jalan.

Hal ini diungkapkan Ketua Komisi D DPRD Kota Medan Parlaungan Simangunsong kepada wartawan Sumut Pos Ari Sisworo, Selasa (3/5). Berikut petikan wawancaranya.

Bagaimana tanggapan Anda mengenai rencana rekayasa lalulintas tahap kedua yang telah direncanakan, namun sampai saat ini belum ada perkembangan?

Memang sudah ada rencana rekayasa lalulintas tahap kedua, sekaligus kelanjutan rekayasa lalulintas tahap pertama di tujuh titik yang ada. Saya pikir, rekayasa lalulintas tahap kedua adalah sebuah wacana atau rencana yang perlu dan patut ditindaklanjuti. Namun memang sayangnya, belum ada perkembangan yang terlihat. Terlepas dari itu, saya pikir Dishub Medan dalam hal ini kadisnya, perlu melakukan evaluasi terhadap rekayasa lalu lintas tahap pertama.

Kenapa?
Karena sejauh ini, dalam perjalanan rekayasa lalulintas tahap pertama sampai saat ini masih terdapat beberapa titik yang perlu dikaji ulang. Misalnya, di Jalan Ahmad Yani VII menuju Jalan Perdana dan Jalan Hindu. Di titik ini, seolah kemacetan yang terjadi setiap pagi khususnya di pagi hari sudah menjadi pemandangan yang biasa. Anehnya, ini tidak mendapat respon yang berarti.

Selain itu, titik lainnya yang perlu dievaluasi adalah Jalan Merak Jingga. Saya pikir perubahan arus di area ini mubazir dan relatif berbahaya. Karena, dengan seringnya terjadi kemacetan yang panjang, bahkan sampai melintasi rel kereta api. Kalau tiba-tiba tengah macet-macetnya, dan kemudian kereta api melintas, ini bisa menimbulkan kecelakaan dan bukan tidak mungkin bisa menyebabkan korban jiwa. Maka dari itu, rekayasa lalu lintas ini perlu dikaji ulang. Jangan ada kesan, perubahan arus tahap 1 yang lalu karena kepentingan atau pesanan segelintir orang, dengan menepiskan kepentingan umum.

Apa yang harus dilakukan Wali Kota Medan?
Wali Kota Medan sebagai pimpinan tertinggi di Pemko Medan, harus memberi penagasan bahwa SKPD itu harus benar-benar bekerja untuk merealisasikan visi dan misi Wali Kota Medan. Maka dari itu, Kadishub Medan harus mempertanggungjawabkan kinerjanya kepada Wali Kota. Wali kota juga harus memiliki komitmen mengenai apa reward dan punishment.

Jadi, penilaian Anda tentang kinerja Dishub Medan?
Dari sisi program kerja memang belum maksimal. Meskipun demikian, saat ini proses tender dan pengadaan tengah berjalan. Kita lihat nanti apa hasilnya. Ini akan terus kita pantau, untuk terus mengkritisi Dishub Medan.(*)

Kadishub Sumut Bisa Tersangka

Dugaan Pungli di Jembatan Timbang Sibolangit

MEDAN- Berkas Acara Pemeriksaan (BAP) tiga oknum pegawai Dinas Perhubungan Sumut yakni Marlon Sinaga, Ahmad Sofyan, dan Panal Simamora yang tertangkap tangan melakukan pungli di Jembatan Timbang Sibolangit, telah disempurnahkan. Namun begitu, tidak tertutup kemungkinan Kepala Dinas Perhubungan Sumut Razali bisa jadi tersangka atas aliran dana pungli tersebut.

Pernyataan tersebut disampaikan Kasi Penkum Kejatisu Edi Irsan Tarigan kepada wartawan, Selasa (4/5)n
“Bisa saja yang bersangkutan dijadikan tersangka, jika dari penyelidikan ditemukan aliran dana pungli itu mengalir kepadanya. Nah, masalah BAP yang ketiga oknum itu kan bisa saja dipisah,” tegas Edi Irsan.

Sejauh ini, sambung Edi Irsan Tarigan, pihaknya masih terus menelusuri aliran dana hasil pungli yang menurut informasi, Razali menerima Rp300 juta setiap bulan dari jembatan timbang. “Aliran dana Rp300 juta kita sidik kebenarannya, apakah memang ketangan pejabat itu atau tidak. Semua itu proses penyelidikan yang menentukan. Kalau memang terbukti bersalah, yang bersangkutan (Kadishub Sumut) bisa ditetapkan jadi tersangka, walaupun saat ini statusnya sebagai saksi,” tegas Tarigan.

Sebelumnya, Razali diperiksa Kejatisu terkait aliran dana Rp300 juta yang diduga sampai ke tangannya. Bukan hanya Razali yang diperiksa, tiga tersangka oknum pegawai Dishub yang melakukan pungli itu juga kembali diperiksa untuk menyempurnakan BAP.

Sementara, Pemprovsu menyerahkan sepenuhnya kasus dugaan penerimaan setoran dari pungli jembatan timbang sebesar Rp300 juta kepada Kejaksaan Tinggi Sumatera (Kejatisu). “Laporan ini kita peroleh dari Kejatisu, maka dari itu sepenuhnya kita serahkan ke Kejatisu dan penegak hukum lainnya yakni, kepolisian,” ungkap Kepala Inspektorat Provsu Nurdin Lubis kepada Sumut Pos, Selasa (3/5).

Dijelaskannya, setelah nantinya Razali terbukti dan telah menerima putusan pengadilan secara incraht, barulah Pemprovsu bisa mengambil sikap. Sikap yang diambil, disesuaikan dengan Peraturan Pemerintah (PP) 53 Tahun 2010 mengenai disiplin Pegawai Negeri Sipil (PNS).

“Untuk persoalan disiplin PNS, kita memiliki payung hukumnya yakni, PP 53 Tahun 2010. Maka, dari aturan ini baru bisa kita lihat kategori kesalahannya. Kalau kesalahannya berat, bukan tidak mungkin dikenakan sanksi pemberhentian. Kalau nantinya hanya kesalahan kecil atau sedang, sanksinya pun harus disesuaikan. Untuk itu, kita serahkan ke penegak hokum dan kita lihat perkembangannya,” terangnya.

Ditambahkannya, ini juga akan disinkronkan dengan putusan pengadilan nantinya. “Apakah nantinya tuntutannya di atas lima tahun atau di bawah lima tahun. Kalau di atas lima tahun, bisa diberikan sanksi pemberhentian. Kalau tuntutannya kurang lima tahun, tidak sampai pemberhentian. Tapi, kita akan telusuri dulu,” bebernya.

Untuk saat ini, sambung Nurdin, pihak Inspektorat Pemprovsu akan berkoordinasi dengan pihak Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Pemprovsu serta pihak terkait lainnya, untuk membentuk tim terpadu guna mengetahui detil terlibat atau tidaknya Kepala Dinas Perhubungan Sumut (Kadishubsu) Razali S Sos.

“Nanti akan ada koordinasi membentuk tim, guna menelusuri persoalan ini. Agar secepatnya membuahkan hasil,” tegasnya.(rud/ari)

DPRD Medan Punya Dana Sosial Fraksi Demokrat Bantu Masjid

MEDAN- Sejumlah anggota DPRD Medan menerima dana bantuan sosial dari dana APBD Kota Medan untuk disalurkan kepada masyarakat. Jumlahnya sekitar Rp250 juta, dana itu digunakan kepada konstituennya di masing-masing daerah pemilihan.

Seperti diamini Ketua Fraksi Partai Demokrat DPRD Kota Medan, Herri Zulkarnaen Hutajulu, Selasa (3/5). Dalam penyalurannya, bantuan sosial itu diserahkannya untuk renovasi Masjid Alfurqan Jalan Kamboja Raya Perumnas Helvetia Medan.

Bantuan tersebut diserahkan untuk masjid tersebut melalui Ketua Badan Kenaziran Masjid, Sangkot Siregar,  didampingi perwakilan tokoh agama H Syahruddin Nasution, Ketua Pimpinan Anak Cabang Partai Demokrat Kecamatan Medan Helvetia, Ir H Lilik Ismadi.

Kepada pengurus kenaziran masjid, Herry Zulkarnaen mengatakan, sebagian anggota DPRD Medan menerima bantuan sosial  yang disalurkan kepada masyarakat.  Dana ini untuk konstituen yang membutuhkan, termasuk bantuan ke rumah ibadah.

Herri memaparkan, dirinya menerima bantuan sosial dari Pemko Medan senilai Rp250 juta. Kesemuanya telah disalurkan dan langsung diterima perwakilan masyarakat di daerah pemilihannya. Khusus untuk Masjid Alfurqan biaya yang disalurkan senilai Rp15 juta, selanjutnya secara pribadi dirinya membantu sebesar Rp1 juta.
Dengan adanya penyaluran dana bantuan ini, politisi Partai Demokrat itu berupaya menyokong Pemko Medan untuk terus memperhatikan masyarakat melalui dana-dana sosial. Sehingga setiap dana sosial ini bisa dimanfaatkan masyarakat banyak.

Menyambut adanya bantuan tersebut, tokoh agama Kecamatan Medan Helvetia H Syahruddin Nasution menyebutkan, kini Masjid Alfurqan sedang melakukan renovasi. Karenanya sangat diharapkan perhatian dari sejumlah pihak. Terkhusus menjelang menjelang Ramadhan ini. “Kita akan berusaha bagaimana umat dekat dan betah dengan masjid,” sebutnya didampingi, Sangkot Siregar. (uma) (uma)

Dewan Panggil Syaiful Syafri

Realisasi Anggaran Masih 15 Persen

MEDAN- Pada triwulan kedua 2011, diketahui realisasi anggaran Dinas Pendidikan Sumut (Disdiksu) baru 15 persen dari total seluruh Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Sumut 2011 sebesar Rp263.290.372.443. Hal ini dikemukakan oleh Sopar Siburian Anggota Komisi E DPRD Sumut kepada Sumut Pos, Selasa (3/5).

“Kami telah menanyakan ini kepada Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD), dan realisasi anggaran sejumlah SKPD masih banyak yang rendah. Padahal ini sudah triwulan kedua. Memang, kita tahu dalam anggaran ada belanja langsung dan tidak langsung. Meskipun demikian, itulah laporan yang kita terima,” ungkap politisi Fraksi Demokrat Sumut ini.

Ditambahkannya, dari informasi yang diperolehnya, pihak Disdiksu menargetkan realisasi anggaran pada triwulan kedua ini hingga Juni mendatang, sudah 30 persen atau 40 persen. Untuk itu, sambung Sopar lagi, Komisi E DPRD Sumut berniat memanggil Kepala Dinas Pendidikan Sumut (Kadisdiksu) Syaiful Syafri dalam rangka mempertanyakan ini. Namun sayangnya, waktu tepatnya belum diketahui.

“Waktu memang masih tentative tapi kemungkinan pada Mei ini. Dalam rapat nantinya, kita akan mempertanyakan kenapa realisasi anggarannya masih kecil. Dan kita juga akan pertanyakan mengenai target itu. Apa yang dilakukan, sehingga bisa memenuhi target 30 atau 40 persen di tri wulan ke dua ini,” tambahnya.

Hal senada juga diungkapkan anggota Komisi E DPRD Sumut lainnya Nur Azizah Tambunan. “Perkembangan yang saya dapatkan, memang hampir semua SKPD realisasi anggarannya masih rendah tanpa terkecuali Disdiksu. Ada alasan yang menyatakan, Dokumen Penggunaan Anggaran (DPA) baru disahkan Februari lalu. Meskipun demikian, kita tetap akan mempertanyakan itu pada jadwal rapat Komisi E dengan Disdiksu bulan ini,” tegasnya.
Sementara itu, Kadis Pendidikan Sumut (Kadisdiksu) Syaiful Syafri saat dikonfirmasi Sumut Pos mengenai hal itu, enggan menjawabnya. “Y sudah, nanti saja kita ngomongnya. Saya sedang ada acara,” jawabnya.(ari)

Kurikulum Sesuai Kebutuhan Industri

Politeknik LP3I Jalan SisingaMangaRaja

MEDAN- Pertumbuhan industri dari hari kehari semakin pesat. Tentunya, hal ini akan berdampak pada penerimaan karyawan yang profesioal di perusahaan tersebut. Fenomena inilah yang ditangkap, Politeknik LP3I.

Indra Hermawan ST, Kepala Kampus Politeknik LP3I SM Raja, mengatakan, kampus yang belum lama berdiri di kawasan Jalan SM Raja, Simpang Limun Medan ini optimis jika LP3I akan tetap diminati calon pendaftar, pada musim tahun ajaran baru yang sebentar lagi digelar.

“LP3I di kawasan Jalan SM Raja ini merupakan kampus ketiga yang ada di Medan. Pada tahun ini, LP3I Jalan SM Raja membuka pendaftaran untuk calon peserta didik dengan tiga pilihan program,” sebutnya. Ketiga pilihan program itu adalah Business Administrasi, Teknik Komputer dan Akuntansi.

Meskipun masih terbilang kampus baru, namun sesuai target LP3I yang ingin terus memperluas cakupan wilayah dan jumlah peserta didik, LP3I tetap eksis dalam memajukan kampusnya.

Berawal dari pendidikan profesi yang mempelopori pendidikan link and match di Indonesia sejak 22 tahun lalu, LP3I mewujudkan pendidikan yang berorientasi ke dunia kerja tanpa meninggalkan kaidah-kaidah akademis. “LP3I terus menerus meningkatkan kualitas pendidikan dan menyesuaikan kurikulum dengan mengikuti perkembangan yang terjadi di dunia kerja. Itulah yang menyebabkan daya saing lulusan LP3I di mata perusahaan selama ini tetap tinggi dan sulit untuk ditiru oleh lembaga lain,” sebut Heri.

Kebutuhan akan studi lanjutan mulai dirasakan sebagai penyelarasan peningkatan jenjang pendidikan, yang menjadi inspirasi LP3I untuk membuka Politeknik LP3I di Medan sejak tahun 2003.

Kini LP3I memiliki 48 kampus yang tersebar lebih dari 23 provinsi yang ada di Indonesia.
Sejalan dengan kiprah LP3I yang semakin diakui oleh masyarakat luas, pengakuan dari dunia industri juga semakin tercermin dari semakin banyaknya perusahaan yang merekrut lulusan LP3I.

“Untuk Medan sendiri, LP3I setidaknya telah memiliki kerjasama lebih dari 60 perusahaan baik BUMN maupun perusahaan swasta yang ada di Medan. Ini sesuai dengan pendidikan link and match yaitu, pilihan kuliah yang tepat dalam penyediaan lapangan pekerjaan, sehingga para peserta didik tidak harus bingung untuk memperoleh pekerjaan,” sebut Heri.(uma)

Selamatkan Pendidikan dari Game Online

Siswa SD Juara Peringati Hardiknas dengan Aksi Damai
Banyak hal yang dapat dilakukan untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada 2 Mei. Mulai upacara bendera hingga perlombaan antar kelas. Namun, Sekolah Dasar (SD) Juara Medan di Jalan Sunggal Medan, memiliki cara sendiri dalam merayakan Hardikas tersebut. Seperti apa?

Bagus Syahputra, Medan

Usai melaksanakan upacara memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), Senin (2/5), para siswa SD Juara mengikuti berbagai perlombaan permain tradisional seperti lari enggrang batok, gobak sodor dan cerdas cermat yang diikuti siswi kelas I sampai IV SD. Dalam mengikuti perlombaan, anak-anak SD Juara ini sangat bergembira dan menikmati permainan tradisional yang diperlombakan.

Usai mengikuti perlombaan, para siswa berkumpul sembari membentangkan sejumlah poster di depan sekolah mereka. Tak hanya itu, sejumlah siswa dengan pengeras suara (toa, Red) melakukan orasi menyampaikan aspirasi mereka menolak game online.

Para siswa sekolah gratis binaan Rumah Zakat yang diperuntukkan bagi anak-anak yang kurang mampu dan membutuhkannya (mustahik) ini menilai, game online dapat menimbulkan dampak negatif bagi para generasi muda. Karenanya, mereka didampingi para gurunya memperingati Hari Pendidikan Nasional dengan melakukan aksi damai. Aksi ini dimaksudkan untuk menyelamatkan dunia pendidikan dari pengaruh game online.

Kepala SD Juara Medan Sahidan menilai, game online lebih banyak menimbulkan dampak negatif dari pada dampak positif secara sosial. “Otomatis hubungan dengan keluarga, teman dan lainnya akan menjadi renggang. Karena, waktu untuk bersama mereka menjadi berkurang karena anak-anak terus asyik bermain game online setiap harinya. Sulit berhubungan dengan orang lain,” katanya.

Sahidan juga menambahkan, secara psikis anak-anak akan sering bolos sekolah dan malas belajar, sehingga sering melakukan komunikasi satu arah saja dengan komputer, tertutup serta sulit mengekspresikan diri dalam dunia nyata.
“Dampak negatif secara fisik lainnya, anak-anak akan terkena pengaruh cahaya radiasi komputer. Kesehatan juga berkurang akibat bergadang, lupa makan dan minum. Hal ini yang kita coba berikan pemahaman kepada anak didik kita,” ungkapnya.

Disebutkannya, aksi menolak game online ini bukan berarti melarang atau membatasi anak-anak menggunakan internet, tapi hanya untuk menghindari anak-anak dari dampak negatif jika kecanduan game online. “Kita juga tak mau dibilang ketinggal teknologi. Tapi, gunakan internet sepantas dan segunanya saja sehingga kita bisa menghindarkan apa yang ditimbulkan dari kebiasaan bermain game online tersebut. Hal ini sering dilkukan anak sekolah sekarang. Nah, di Hari Pendidikan Nasional ini, kita coba mengembalikan permainan tradisonal yang dulu kita mainkan dan saat ini mulai terlupakan,” tandasnya.(*)

Tempatkan Alumni Terbanyak, LP3I Dapat Muri

Politeknik LP3I semakin membuktikan jati dirinya. Terbukti di usianya yang ke- 22 tahun, 95 persen lulusan LP3I Politeknik telah terserap di pasar kerja.

Dengan tingginya angka kelulusan yang terserap di dunia kerja, LP3I bahkan mendapatkan pengakuan sebagai pelopor pendidikan dan penempatan kerja terbanyak di Indonesia.

“Rekor Muri diterima LP3I tahun 2010, karena telah mampu menjadi kampus yang bisa menempatkan peserta didik di dunia kerja hingga mencapai angka 95 Persen,” ujar Indra Hermawan ST, Kepala Kampus Politeknik LP3I SM Raja, saat ditemui di ruang kerjanya, kemarin (3/5).

Sementara untuk wilayah Medan, menurut Indra,  Politeknik LP3I Medan sedikitnya telah menamatkan lebih dari 25 ribu peserta didik selama 12 tahun LP3I hadir di Kota Medan . Bahkan sesuai angka kelulusan itu, lebih dari 90 persen telah terserap dalam dunia kerja di lebih dari 60 perusahaan baik BUMN maupun swasta yang ada di Kota Medan dan kota lainnya.

Tak hanya berfokus di bidang akademiknya saja, LP3I juga menyediakan sejumlah program dan kegiatan ekstrakurikuler yang bertujuan mengembangkan kreatifitas bagi para peserta didik.
Yang mana kegiatan tersebut adalah english c curse club, komputer club, soft skill seperti pengembangan kepribadian, futsal, dan berbagai kegiatan lainnya.

“Kegiatan itu sebahagian besar menjadi modal bagi para peserta didik untuk bisa bersaing di dunia kerja, salah satunya dengan menguasai bahasa inggris dan komputer,” ujar Indra.
Bahkan sebagai bentuk kepeduliannya terhadap kegiatan ekstrakurikuler, tak jarang LP3I mengirimkan peserta didiknya di berbagai even perlombaan yang diselenggarakan instansi perguruan tinggi maupun instansi lainnya. (uma)

Sampah Cemari Laut Belawan

BELAWAN- Hingga saat ini persoalan sampah belum bisa diatasi Pemerintah Kota Medan. Bahkan, sampah dari inti Kota Medan sudah mencemari wilayah perairan Belawan. Akibatnya, para nelayan semakin sulit mendapatkan ikan karena air laut tercemar oleh sampah.

Menurut pantauan wartawan koran ini di lapangan, Selasa (3/5), tumpukan sampah memadati beberapa titik di Sungai Deli. Sekitar puluhan ton sampah dan limbah cair mengalir dari inti Kota Medan yang bermuara di Belawan.
“Saya yakin, berkurangnya tangkapan ikan karena banyaknya sampah dan limbah pabrik yang dibuang ke sungai,” ujar Ahmadi (32), seorang nelayan yang ditemui wartawan koran ini.

Menurutnya, hal tersebut sangat berbeda dengan keadaan beberapa tahun lalu. Kalau keadaan ini dibiarkan terus dan Pemko Medan tidak mengambil tindakan, maka tidak bisa terbayangkan apa yang akan terjadi ke depan.
“Laut merupakan tumpuan hidup bagi nelayan di sini. Kalau keadaan terus memburuk, nelayan bakal kehilangan mata pencaharian karena hasil tangkapan terus berkurang,” katanya.(mag-11)

Bayi Tanpa Anus Dirawat di Pirngadi

MEDAN- Bayi tanpa anus (Atresiani) yang baru berumur dua hari dirujuk ke RSUD Pirngadi Medan, Selasa, (3/4) pagi pukul 08.00 WIB. Bayi yang belum diberi nama ini dirawat di Ruang IGD RSU Pirngadi Medan.

Bayi bungsu dari delapan bersaudara buah hati pasangan Arwan Nasution (44) dan Aisyah (39) warga Jalan Yos Sudarso LK VI, Tanjungbalai, Kabupaten Asahan ini terlahir dengan proses persalinan normal dengan berat badan 3,6 Kg.

Sebelumnya, bayi dan ibunya dirawat di klinik setempat. Karena tidak sanggup menangani bayi tersebut, pihak klinik merujuk ke RSUD Pirngadi. Sementara sang ibu masih dirawat di klinik terebut.

Arwan mengatakan, selama masa kehamilan, istrinya jarang memeriksakan kandungannya. Selain itu, istrinya tidak pernah meminum jamu-jamuan. “Selama hamil, istri saya nggak pernah jatuh. Memang kami jarang memeriksakan kandungannya ke dokter. Tapi saat diperiksakan ke dokter, katanya tidak ada kelainan dan masalah sama bayi kami,” jelas Arwan.

Sambungnya, saat melahirkan di klinik, anaknya terlihat sehat. Namun malamnya, bidan memberitahu bahwa bayi mereka tidak mempuyai anus. Oleh bidan, selanjutnya, bayi mereka dibawa ke RSU Tanjungbalai. (mag-7)