24 C
Medan
Saturday, January 3, 2026
Home Blog Page 15375

Wabub Langkat: Saya Tidak Ada Hak

Terkait Perambahan Hutan Mangrove di Tanjung Pura

LANGKAT-Aksi perambahan hutan mangrove di pesisir Langkat, khususnya di Kecamatan Tanjung Pura, terus berlanjut. Bahkan, aksi perambahan semakin meluas sampai ke kawasan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dan diduga melibatkan oknum pejabat di Pemkab Langkat.

Dari keterangan sejumlah warga di lokasi perambahan tepatnya di Desa Suka Maju, Kecamatan Tanjung Pura, kepada koran ini, Minggu (1/5) menyebutkan, kalau perambahan hutan di daerah mereka, sudah memasuki kawasan BKSDA dan perambahnya sendiri merupakan mantan anggota dewan periode 1999-2004 berinisial BH.

Selain itu, untuk memuluskan penguasaan lahan di hutan larangan itu, BH dikabarkan berlindung dengan Wakil Bupati Langkat, Budiono. Sehingga aksi pengambil alihan lahan dapat berjalan mulus tanpa ada hambatan apapun.
Hal ini terbukti dengan tidak diindahkannya surat peringatan terhadap perambah Hutan Negara di Tanjung Pura yang ditujukan kepada pengusaha bernama Bahri, warga Kelurahan Sido Mulyo, Kecamatan Stabat, Kabupaten Langkat, dengan nomor 522.4-/HUTBUN/2011.

Selain disebut-sebut berlindung kepada Wabup Langkat, Bahri juga pernah mengakui, kalau lahan yang dia garap, sudah mendapat izin dari pihak Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Kabupaten Langkat. “Saya mengerjakan lahan di Dusun Sidomulyo, Desa Karya Maju, Kecamatan Tanjung Pura ini karena sudah ada izin dari BBKSDA Kabupaten Langkat,”urainya saat itu.

Wabup Langkat, Budiono, ketika dihubungi kemarin (1/5) menampik tudingan kalau dirinya ikut terlibat dalam aksi perambahan hutan di kawasan Tanjung Pura dimaksud. Sebab menurut dia, tidak ada dasar pengeluaran izin untuk lahan BKSDA.

“Memang saya kenal dengan pengusaha itu, kan kami pernah sama-sama menjadi anggota dewan, mungkin kedekatan itulah yang dimanfaatkan dengan menyebut-nyebut nama saya, saya rasa itu hal wajar, tapi untuk memberikan izin, saya tidak ada hak,” bantahnya.

BBKSDA Kabupaten Langkat juga membantah keterlibatan mereka dalam aksi perambahan hutan di Tanjung Pura.  “Kita tidak ada hak untuk mengeluarkan izin, jadi darimana kita bisa ikut-ikutan merambah hutan. Memang beberapa waktu lalu kita turun kelokasi meninjau kawasan, tapi bukan berarti kita ikut didalamnya,”bantah Seksi Perlindungan BBKSDA Kabupaten Langkat, Jendri.

Sebelumnya, Bupati Langkat H Ngogesa Sitepu, kembali menegaskan, bahwa pihaknya tetap tidak akan mengizinkan alih pungsi lahan dan perambahan hutan negara di pesisir pantai, seperti di wilayah Kecamatan Tanjung Pura. “Tetap tidak akan saya izinkan,” kata H Ngogesa Sitepu, di ruang kerjanya pekan lalu.  (ndi)

Sergai Wujudkan Program Langit Biru

SERGAI- Memperingati Hari Bumi 2011, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serdang Bedagai (Sergai) melalui Kantor Lingkungan Hidup mengadakan uji coba emisi gas buang pada kendaraan dinas di halaman Kantor Lingkungan Hidup komplek kantor Bupati di Sei Rampah, Selasa (26/4)  lalu.

Dengan mengusung tema “Wujudkan Program Langit Biru” kegiatan tersebut disambut baik, hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Bupati Ir H Soekirman, Sekdakab Sergai Drs H Haris Fadillah, Kepala Kantor Lingkungan Hidup Sergai Drs Burhanuddin SH MH, kepala SKPD dan para staf di jajaran Kantor Lingkungan Hidup Sergai.

Kakan Lingkungan Hidup Sergai Drs Burhanuddin SH MH menjelaskan bahwa pengujian emisi gas buang kendaraan ini bukan hanya menyangkut masalah pencemaran lingkungan, tetapi dengan melakukan uji emisi kita dapat mengetahui apakah mesin kendaraan berada dalam kondisi sehat atau tidak. Selain itu kendaraan bisa lebih hemat BBM.
Wabup Ir H. Soekirman sendiri sangat menyambut baik kegiatan tersebut, guna mendukung upaya pelestarian lingkungan hidup Pemkab Sergai menyadari bahwa gas buang kendaraan merupakan salah satu sumber pencemaran udara terbesar. “Oleh karena itu, gas buang kendaraan harus bersih untuk mengurangi pencemaran,” ungkapnya.
Untuk memudahkan dalam menganalisa kondisi mesin, dapat menggunakan suatu alat yang bernama Smoke and Gas Emission Analyzer.

Alat ini  sudah dilengkapi dengan standar gas limit tertentu hingga dapat secara otomatis mendeteksi kondisi mesin kendaraan apakah diambang batas atau tidak. (mag-15)

Bayar Uang Korban Banjir

082167342xxx

Pak Wali Kota mana janji anda yang akan mengganti uang Rp500 ribu buat korban banjir terutama di Kelurahan Kwala Bekala, Kecamatan Medan Johor belum ada yang  dapat. Tolong di cek kembali Muda/Mudi Maju Bersama.

Kami Cek

Kami dari Pemko Medan akan mengecek kembali anggaran yang tersedia, kemudian kami juga mengeceknya di bagian keuangan Pemko Medan untuk memastikan seperti apa kebijakan pembayarannya.

Khairul Buchari
Plt Kabag  Humas Pemko Medan

Toko Papan Bunga Berdiri di Taman Beringin

08192012xxx

Pak Wali Kota mau tanya tentang taman beringin, berdiri kantor partai politik (Parpol) dan toko pembuatan papan bunga apakah taman tersebut sudah di köntrakkan dan juga ada 2 unit tower kepada siapa mereka membayarnya dan ke mana uangnya?

Kami Teruskan

Terimakasih informasinya, kami akan tanyakan ke Dinas Pertamanan terkait informasi ini. Sebab, taman di Kota Medan diawasi dan ditata oleh Dinas Pertamanan.

Khairul Buchari, Plt Kabag Humas Pemko Medan

Berikan Fasilitas Untuk 150 Pendaftar Pertama

Yayasan Pendidikan Timbul Jaya-2 Medan

Menjelang tahun ajaran baru 2010-2011, Yayasan Pendidikan Timbul Jaya-2 Medan membuat trik tersendiri untuk
menggaet siswa baru.

Saat ini, sekolah yang beralamat di Jalan Tembakau Raya, Perumnas Simalingkar ini, kian gencar memperbaiki dan menjaga kualitas. Hal ini ditandai dengan pembenahan infrastruktur bangunan dan kualitas staf pengajar. Yayasan Pendidikan Timbul Jaya-2 Medan mengelola tingkat SD, SMP, SMA dan SMEA. Nixon Roy Situmorang, Kepala Sekolah Dasar Yayasan Timbul Jaya-2 Medan, mengaku selama ini minat para peserta didik terbilang tinggi untuk menimba ilmu di Yayasan Timbul Jaya-2 Medan.

Terbukti yayasan yang berdiri sejak 1990 silam itu, sedikitnya telah menamatkan 2 ribu lebih alumni. Bahkan dari jumlah itu, angka kelulusan mencapai 95 persen terutama dalam tingkatan SMP dan SMA sederajat setiap tahunnya.
“Hampir seluruh sisawa yang telah kita didik di yayasan ini bisa lulus bahkan melanjutkan di beberapa universitas negeri dan swasta yang ada di Medan ataupun luar daerah,” ucap Nixon.

Memiliki status terakreditasi, Yayasan Timbul Jaya Medan optimis jika pada tahun ajaran baru yang akan segera berlangsung mampu menarik minat para siswa untuk bergabung sesuai dengan tingkat lanjutan yang disesuaikan.
Bahkan untuk merangsang minat para peserta didiknya, Yayasan Timbul Jaya Medan memberikan berbagai kemudahan dan keringanan bagi para calon peserta didik. Yang mana diantaranya memberikan gratis uang pendaftaran, uang pembangunan serta baju olahraga terhadap 150 orang pendaftar pertama.

“Sebagai bentuk apresiasi yayasan terhadap para pendaftar pertama, maka kita berikan beberapa fasilitas gratis terhadap 150 pendaftar pertama,” ujarnya.

Sementara untuk sistem pendidikan yang diterapkan, lanjut Nixon tak jauh beda dengan sekolah lain yang ada di kota Medan.

Hanya saja Yayasan Timbul Jaya-2 Medan, sejauh ini tidak membatasi siswa nya  dalam berkreasi namun tetap dibawah koridor disiplin yang diterapkan yayasan.
Sedangkan staf pengajar, Yayasan Timbul Jaya-2 Medan menyiapkan para staf pengajar profesioanal dan memiliki kemampuan di bidangnya. (uma)

Aktif Kegiatan Ekstrakurikuler

Memiliki kegiatan ekstrakurikuler dalam setiap jenjang pendidikan mulai SD, SMP, SMA, dan SMEA  merupakan bentuk kepedulian dalam menunjang kreatifitas siswa.

Tidak hanya menunjang prestasi di bidang akademik, namun juga berbagai bidang seperti olahraga, kesenian dan lainnya.

Pola program inilah yang saat ini masih tetap diterapkan Yayasan Timbul Jaya-2 Medan dalam meningkatkan kualitas dan prestasi siswanya.

Memiliki arena yang cukup luas berkisar 1000 meter, menjadi penunjang yayasan tersebut dalam mengembangkan kegiatan ekstrakurikuler di bidang program pendidikan sekolah.

Beberapa  contoh kegiatan ekstrakurikuler yang kini diminati para siswa adalah kesenian, olahraga dan pramuka.
Untuk olahraga, seperti futsal dan basket, selain sebagai program pelajaran, namun saat ini sudah menjadi program ekstrakurikuler yang rutin dilakukan.

Nixon Roy Situmorang mengatakan, kegiatan ekstrakurikuler yang diikuti siswa adalah pramuka dan bidang kesenian seperti paduan suara dan tari.(uma)

Kelola Pendidikan TK

Sebagai bentuk eksistensi dalam mengambangka program pendidikan, Yayasan Timbul Jaya-2 Medan kini membuka program pendidikan baru.

Seiring berjalannya waktu, yayasan yang telah berdiri selama 21 tahun itu, membuka program Taman Kanak-kanak (TK) dalam upaya mengembangkan kualitas yayasan.

Yayasan yang memiliki tiga lantai itu kini tengah mempersiapkan segala keperluan infrastrukur sebagai penunjang kualitas program pendidikan yang sedang dikembangkan.

Selain itu, yayasan juga menyiapkan beberapa kelas belajar yang baru dan tempat bermain sebagai sarana penunjang bagi anak-anak yang ingin bersekolah di yayasan tersebut. Nixon Roy Situmorang, mengatakan kesiapan yayasan dalam membenahi infastruktur mencapai 90 persen lebih. Sementara sisanya merupakan penerapan dalam proses belajar mengajarnya ke depan.

“Sejauh ini telah dipersiapkan segala keperluan untuk membuka program TK, tinggal menjalaninya saja,” sebut Nixon.
Untuk maksimal jumlah pendaftarnya sendiri, berhubung program pendidikan baru, Nixon mengaku tidak membatasi jumlah peserta.

Mengingat untuk tahun ini program Taman Kanak-kanak yang akan dibuka belum banyak dikenal. Bahkan kedepan diharapkan mampu menyerap pendaftar dalan jumlah yang banyak. (uma)

TBM Keliling Dira’s Hadir di Pameran Pendidikan dan Book Fair

MEDAN- Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Dira’s ikut ambil bagian dalam Pameran Pendidikan dan Book Fair 2011 yang digelar Dinas Pendidikan Kota Medan di Kompek Tapian Daya (PRSU)  Jalan Gatot Subroto Medan, (29/4) hingga (2/5).

Dalam pameran itu, PKBM Dira’s menghadirkan kreasi menarik berupa Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Keliling Dira’s, yakni berupa becak yang dilengkapi dengan rak buku berisi buku-buku yang menarik dan layak untuk dikonsumsi semua lapisan.

Pimpinan PKBM Dira’s Dra Hj Dewi Iriani MPd mengatakan, ide dasar kreasi ini bermula dari komitmen dan buah karya para pengurus untuk mewujudkan keinginan masyarakat sasaran di sekitar lokasi PKBM Dira’s Jalan Bajak IV Ujung, Medan Amplas.

Masyarakat menghendaki adanya perpustakaan keliling yang mampu menjangkau masyarakat yang berada dalam jalan maupun gang-gang sempit di sekitar lokasi kegiatan yang sulit ditempuh oleh kendaraan roda empat.
Lebih lanjut Dewi mengatakan, kreasi ini adalah bentuk konkritisasi dari visi TBM Dira’s yakni “Menciptakan Masyarakat Sekitar TBM DIRA’S Berbudaya Baca (reading society) yang Sehat, Terampil, Terdidik, dan Berdaya Guna.

Atas komitmen yang gigih dan bukti nyata ini, dalam kegiatan Pameran Pendidikan Pameran Pendidikan dan Book Fair 2011 tersebut, stand PKBM Dira’s mendapat sambutan dan apresiasi hangat dari kalangan pemerhati maupun penggiat pendidikan yang berkunjung dalam pameran tersebut.

Selain itu momen Hardiknas 2012 ini, PKBM Dira’s juga  mengadakan Lomba Baca Puisi yang bertemakan tentang pendidikan. Perlombaan Puisi ini berlangsung Minggu, (1/5) di komplek TBM Dira’s Jalan Bajak IV Ujung No 28A Medan Amplas. Perlombaan puisi ini diikuti oleh kelompok ibu dan anak-anak.
Lomba baca puisi kelompok ibu menghadirkan Juara III (Ibu Rindi), Juara II (Ibu Yus) dan Juara I (Ibu Erna) sedangkan Juara Favorit (Ibu Jernih). Sedangkan untuk kelompok anak, juara sebagai berikut: Juara III (Lisa), Juara II (Alfi), dan Juara I (Nisa). (dra)

Rekaman Lengkap Kesaksian Korban Penganiayaan

Kejadiannya saya berangkat dari kantor jam 2 menuju Jalan Ayahanda mau pergi rapat. Karena belum makan siang saya singgah dulu di Jalan Adam Malik di rumah makan di dekat rel kereta api itu. Begitu saya turun kira-kira baru melangkah enam langkah begitu, tiba-tiba arah belakang mobil Eskudo muncul orang sambil berlari kecil menyemprotkan air baterai ke saya ke muka saya. Jadi saya mengelak sedikit begitu, kenaklah wajah bagian kanan begitu. Air keras…

Kemudian mungkin merasa belum puas dia semprotkan juga sekali lagi, saya tahan pakai tangan muka saya, kena tangan. Kemudian dia lari. Ee.., sudah ada temannya menunggu dengan sepeda motor begitu.

Berapa orang pelakunya?
Dua orang naik sepeda motor.

Kenal kamu pelakunya?
Pelakunya nggak-nggak kenal karena pergerakannya cepat sekali begitu.

Kira-kira apa sebab mereka melakukan itu?
E…e.., sejauh ini sih kalau dengan orang itu sendiri sih saya nggak pernah ada permusuhan. Tapi, yaa kebetulan, e…e…

Apakah pernah bermasalah dengan seseorang?

E…e.., ya saya pernah bermasalah dengan wali kota.

Wali kota siapa, pak, namanya?

Rahudman.

Bagaimana masalahnya?

Waktu itu tanggal 19 saya, e…e.., pertama ada undangan dari Bupati Labuhan Batu Selatan. E…e.., untuk makan malam pada tanggal 19, kemudian sampai jam 10 malam saya, e…e.., makan sama beliau, kemudian ada juga, e…e.., teman saya juga waktu itu, e…e.., anaknya menerima antaran untuk perkawinan. Ya, karena sudah diundang rasanya saya sih tidak enak begitu, nggak datang, lalu saya kejarkan juga kesana sebentar. Nah, kemudian setelah sampai di situ, e…e.., isteri Rahudman bawa teman saya, saya dan Pak Rahudman ini juga saya awal-awalnya baik, baiknya, karena saya berteman juga sama istrinya, lalu dia waktu pulang,  saya sampai di situ tempat teman yang antaran untuk pesta tadi, dia minta tolong antar dia pulang, pake mobil, itu malam 19 itu juga. Malam minggu itu, jadi dia berdua dan temannya, karena temannya itu mau turun di PRSU, saya antarlah mereka ke PRSU, kemudian ibu wali kotanya sendiri saya antar pulang, nah, e…e.., karena macet di PRSU, akhirnya kan agak terlambat pulang, saya antar ke rumah dinas begitu. Nah begitu sampai saya antar di rumah dinas, nah itu pun pada saat mereka saya antar itu, mereka duduk di posisi belakang, belakang mobil, seolah, dari muka seolah-olah saya itu supir begitu.

Waktu  saat sampai di sana, nah terus begitu saya mau keluar dari komplek perumahan dinas wali kota, disuruhnya tutup pintu gerbang, oleh satpam di situ ditutup, dipanggilnya saya, setelah dipanggilnya saya. Yang manggil, e…e.., Rahudman. Ya, karena saya merasa tidak bersalah, saya datangi saja, setelah saya datangi, pas dia pun berdiri dari tempat duduknya, dia memang lagi santai-santai duduk di luar rumah, dia pun agak mendatangi saya juga, nah begitu mendatangi saya, langsung dipukulnya muka saya dua kali.

Nah cuma ya karena saya merasa ya itu di halaman rumah dia, saya tidak mau bereaksi, saya diam aja. Kemudian ditarikkan oleh ajudannya saya, ditarikkan ajudannya, e…e.., kemudian saya naik mobil lagi. Udah naik mobil, saya mau keluar lagi. Begitu mau keluar disuruh tutup lagi, merasa dia belum juga puas, dipukulnya. Disuruhnya turun lagi saya, oleh Brimob yang menjaga di situ disuruh turun, suruh turun begitu saya turun. Dipukulnya saya lagi begitu, nah sekali lagi saya nggak berontak-berontak, nggak bereaksi begitu, saya diam aja. Nah kemudian waktu itu, e…e.., isterinya pun keluar, udah keluar istrinya kan dilihatnya ribut-ribut, ditarikkannya lah suaminya itu. Kemudian juga, apa itu namanya, e…e.., oleh ajudannya, siap itu kan saya langsung pulang, nah kemudian selang tiga hari kemudian anak dia yang perempuan datang ke rumah. Datang ke rumah e…e.., memanjat, jam 12 malam.

Anaknya siapa, tau pak, kenal?

Lina Mora. Nah datang jam 12 malam ke rumah, begitu, kemudian Mora ngetok-ngetok malam-malam kek gitu. Saya buka pintu, saya lihat anaknya, ada apa? saya bilang kek gitu, e…e.., saya mau nagih utang kata dia. Nagih utang saya, saya merasa nggak punya utang, saya bilang. Buka aja pintu dulu, saya ingin bertamu, kita bicara di dalam. Ini bukan jam bertamu lagi saya bilang, besok aja lah saya bilang, ini bukan jam bertamu saya bilang. Terus saya masuk, saya masuk ke dalam rumah, pulang aja kalian saya bilang, saya masuk ke rumah. Nah setelah saya masuk dalam rumah, dia panjat, dia panjat pagar rumah, kemudian, e…e.., dia dobrak rumah, dia tendang pintu rumah saya itu sampai jebol, buat keributan lah dia di dalam rumah saya, buat keributan dia di rumah saya, nah buat keributan, ya maki-maki lah dalam rumah saya itu. Entah apa-apa dia bikin maki-maki. Kemudian e…e.., tetangga pun ada sempat keluar, dilarang oleh tetangga kan begitu.

Jadi pak, menurut bapak ini ya, luka yang bapak alami ini kira-kira bisa, akibat itu juga?
Aaa..aaa…kita, dalam rangka hal seperti ini, saya belum bisa menuduh, menuduh begitu, kan begitu ya, tapi yang saya tahu saya selama ini saya tidak pernah punya musuh selain dia saya tidak pernah punya musuh. Nah kemudian pada hari itu juga, waktu pas malam itu juga saya langsung telepon si anu, si Rahudman. Waktu saya telepon Rahudman itu, ee.., itu didengar oleh ketua komplek saya, saya speakerkan, saya bilang sama dia, saya nggak bang, saya bilang sama dia, saudara tahu, saya bilang, kalo anak saudara sudah menyerang rumah saya, saya bilang begitu. Sekalian nanti saya mampuskan kamu katanya.

Harapan bapak dengan kejadian yang seperti ini apa pak? Bagaimana? Harapan Bapak?

Yah tentu saya, e…e.., harus mencari keadilan lah, nah yang pertama harapan sekarang adalah kita mencari pelakunya, nah mencari pelakunya dan cari siapa dalangnya, kan begitu. Meskipun dugaan kuat mengarah ke dia pak ya? Kalau selama ini sih, e…e.., saya saya tidak pernah punya musuh. (*)

Sebelumnya: Rahudman Aniaya Korban di Rumah Dinas

Rahudman Aniaya Korban di Rumah Dinas

MEDAN-Meskipun polisi belum melakukan pengusutan, wartawan Sumut Pos akhirnya mendapatkan rekaman video wawancara dengan Ir Masfar, korban penganiayaan yang dilakukan oleh Wali Kota Medan, Rahudman Harahap. Dalam wawancara berdurasi 9 menit 37 detik itu terungkap kalau korban dianiaya Rahudman di rumah dinas Wali Kota Medan.

Dalam wawancara itu korban masih terbaring di tempat tidur. Dengan kondisi terbata-bata, korban mengungkapkan kronologis kejadian yang menimpa dirinya. Menurut Masfar, awalnya bermula saat dia bertemu dengan istri Rahudman di acara antaran anak Bupati Labuhan Batu Selatan. “Karena sudah diundang rasanya saya sih tidak enak nggak datang, lalu saya kejarkan juga ke sana sebentar,” katanya.

Kemudian, katanya, yang punya hajatan meminta dia mengantar pulang istri Rahudman dan temannya. Karena Rahudman dan istrinya dianggap teman, Musfar mengantarkannya. Tapi, karena teman istri Rahudman mau turun di PRSU, Musfar mengantarkan ke PRSU, kemudian ibu wali kota diantarnya pulang. Karena macet di PRSU, agak terlambat sampai ke rumah dinas wali kota.

“Nah begitu sampai saya antar di rumah dinas, dia duduk di posisi belakang mobil, seolah dari muka saya supir,” katanya. Sampai di rumah dinas Masfar pun berniat keluar dari komplek perumahan dinas wali kota. Tapi, Rahudman menyuruh satpam menutup pintu gerbang. “Satpam kemudian memanggil saya, katanya dipanggil Rahudman. Ya, karena saya merasa tidak bersalah, saya datangi saja, setelah saya datangi, pas dia berdiri dari tempat duduknya yang lagi santai di luar rumah, dia pun mendatangi saya. Nah begitu mendatangi saya, langsung dipukulnya muka saya dua kali,” kata Musfar dalam rekaman itu.

Tapi, karena merasa berada di halaman rumah Rahudman, Masfar tidak mau bereaksi.

“Saya diam aja. Kemudian ditarikkan oleh ajudannya saya, kemudian saya naik mobil lagi. Udah naik mobil, saya mau keluar lagi. Begitu mau keluar disuruh tutup lagi, merasa belum juga puas, dipukulnya lagi. Disuruhnya turun lagi saya, oleh Brimob yang menjaga di situ. Begitu turun dipukulnya saya lagi. Lagi-lagi saya nggak berontak, nggak bereaksi, saya diam aja,” katanya.

Kemudian, lanjutnya, isteri Rahudman keluar. Dilihatnya ada ribut-ribut, ditariknya suaminya Rahudman. Kemudian oleh ajudannya Masfar disuruh pulang. Nah, berselang tiga hari kemudian, anak Rahudman yang perempuan datang ke rumahnya jam 12 malam. “Anak perempuannya berteriak-teriak di depan rumah saya sembari mengatakan, kalau dia mau menagih utang,” beber Masfar.

“Karena merasa nggak punya utang, saya bilang bukan jam bertamu, besok ajalah. Terus saya masuk ke dalam rumah, pulang aja kalian saya bilang,” kata Masfar.

Tapi, katanya, anaknya memanjat pagar rumahnya, kemudian mendobrak rumahnya. “Dia menendang pintu rumah saya sampai jebol,” katanya. Bahkan tetangga yang mendengarkan keributan itu sempat keluar rumah menonton aksi anaknya.

“Sejak peristiwa itu saya dan keluarga terus diteror oleh orang-orang suruhannya. Puncaknya penyiraman tepatnya pada Selasa (26/4) pagi, saat itu saya berangkat kerja dengan mengendarai sepeda motor tepat di Jalan H Adam Malik, saya diserempet oleh dua orang yang tidak saya kenal, mereka menaiki sepeda motor dengan memakai helm,” tegas Masfar.

Keduanya menyemprotkan air ke mukanya. “Saya sempat mengelak tapi wajah bagian kanan tetap kena. Seperti air keras,” katanya. Kemudian, mungkin mereka belum merasa puas kembali menyemprotkan sekali lagi. “Saya tahan pakai tangan muka saya, kena tangan. Kemudian dia lari,” katanya.

Akibatnya, wajahnya menjadi perih seperti terbakar dan berteriak minta tolong. “Karena sudah tidak tahan dengan rasa sakit, saya terjatuh tak sadarkan diri,” beber Masfar. Masfar juga tidak tahu siapa yang membawa dirinya ke rumah sakit. Sementara itu berdasarkan keterangan beberapa warga di lokasi kejadian, tak mau berkomentar.
“Tidak ada kejadian penganiayaan di sekitar sini. Kalau pun ada pasti kami tahu,” jawab seorang warga. Tapi, warga lainnya mengakui bahwa kejadian penganiayaan itu benar ada terjadi.

“Pemukulan seorang PNS itu dilakukan oleh beberapa orang laki-laki berpakaian safari. PNS itu dipukuli dan dikeroyok. Akibat pemukulan itu, pegawai PNS itu wajahnya berdarah-darah. Saat itu orang yang dipukuli memakai seragam PNS,” tegasnya.

Yang pasti, Polresta Medan sudah menerima pengaduan resmi dari keluarga korban dengan pelapor atas nama Sri Listrikaningsih (41), istri Ir Masfar. Laporan penganiayaan dan penyiraman soda api tertuang dalam Surat Tanda Penerimaan Laporan (STPL) Nomor: STPL/1033/IV/2011/SU/Resta Medan tertanggal 25 April 2011. STPL ditandatangani penyidik pembantu, Bripka Robert Panjaitan dan diketahui Inspektur dinas B, Aiptu Zul Efendi.
Untuk melengkapi berkas perkara, laporan pengaduan korban telah dilengkapi surat permohonan visum et repertum kepada pihak Rumah Sakit (RS) Columbia Asia Jalan Listrik, Medan dengan nomor R/169/IV/2011/Resta Medan.
Wali Kota Medan Rahudman Harahap yang dikonfirmasi wartawan Sumut Pos, Rabu (27/4) lalu menjawab, “Percaya kau, abang kau ini kayak gitu. Itu kerjaan orang-orang syirik, yang nggak senang dengan abangmu ini,” tegasnya sambil menuju mobil dinasnya.

Kapolresta Medan Kombes Pol Tagam Sinaga tetap menutupi kasus tersebut. Menurut petinggi polisi Kota Medan itu, hingga saat ini polisi belum menerima laporan konkret dari korban yang kini dirawat di Rumah Sakit Columbia Asia di Jalan Listrik Medan. Makanya, polisi belum dapat melanjutkan penyelidikan terhadap pelaku.
“Sekali lagi saya katakan, polisi tidak bisa berandai-andai, harus sesuai dengan bukti-bukti dan fakta hukum. Dalam undang-undang itu tidak ada andai-andai,” kata Tagam.

Menurutnya, dalam membuktikan kebenaran hukum pihak kepolisian perlu adanya alat bukti dan fakta-fakta. “Kita tidak membutuhkan pengakuan atau pernyataan. Dalam penyelidikan untuk membuktikan kebenaran itu kita hanya butuh bukti dan fakta-fakta, nggak perlu ada pengakuan,” lanjutnya.

Diakuinya, polisi tidak berwenang memeriksa Rahudman Harahap sebagai Wali Kota kecuali atas persetujuan presiden. “Polisi tidak berhak memeriksa wali kota, tanpa ada persetujuan presiden,” urainya.

Menurut Tagam, polisi sangat responsif dalam menerima informasi dari semua pihak untuk mempermudah penyelidikan terhadap korban. “Pada prinsipnya kita cukup responsif dalam menerima informasi,” lanjutnya. Hingga saat, katanya, pihaknya masih melakukan penyelidikan,” katanya.

“Masih lidik sama seperti kemarin belum ada perkembangan,” katanya.

Saat disinggung soal indikasi dugaan keterlibatan Wali Kota Medan Rahudman Harahap sebagai pelaku penganiayaan? Tagam langsung marah.

Sementara Kabid Humas Polda Sumut AKBP Raden Heru Prakoso mengaku, pelapor masih dalam pemeriksaan. Namun Heru mengelak dan berdalih pelapor belum diperiksa secara lengkap. “Ya, masih pemeriksaan terhadapa pelapor. Pelapornya belum dapat diperiksa secara baik memang sudah dipanggil ke Mapolresta kemarin. Cuma yang bersangkutan belum hadir,” tandasnya.

Terkait pengamanan terhadap korban di rumah sakit, Heru mengaku, polisi tidak ada melakukan pengamanan terhadap korban. “Tidak ada pengamanan dari pihak kepolisian kepada korban,” katanya.

Minta Perlindungan DPD RI

Keluarga Masfar meminta perlindungan dan bantuan dari anggota DPD RI asal Sumatera Utara, Rahmat Shah. Rahmat Shah ketika dihubungi Sumut Pos mengaku, dia memberikan perlindungan bagi Masfar. “Kondisi Masfar sendiri sudah mulai membaik. Dia sudah tidak di ICU lagi tapi sekarang sudah di ruangan rawat inap di lantai 7 rumah Sakit Columbia Asia Jalan Listrik Medan,” tegas Rahmat Shah.

Sementara itu ketika disinggung soal penjagaan ketat yang dilakukan oknum-oknum, Rahmat Shah mengaku mereka itu adalah orang-orangnya. “Tidak ada anggota aparat. Itu orang-orang saya yang ditempatkan di ruangan itu untuk melakukan penjagaan. Hal ini mengingat jiwa korban masih terancam. Penjagaan itu saya lakukan karena keluarga korban datang dan minta perlindungan dari saya, untuk itulah saya lakukan karena nyawa korban terancam,” tegas anggota DPD RI dari Sumut itu.

Rahmat Shah juga mengakui penjagaan yang dilakukannya dengan menempatkan anggotanya, karena saat itu nyawa korban terancam.

“Saat itu belum ada anggota polisi satupun yang melakukan penjagaan. Setelah saya melakukan koordinasi dengan Kapoldasu, akhirnya petugas kepolisian ditempatkan di ruangan itu untuk menjaga korban,” tegas Rahmat Shah.
Siapa pelakunya kok dijaga ketat? “Saya belum bisa mengatakan apakah pelakunya orang-orang suruhan pejabat Pemko Medan atau tidak. Kita serahkan kasus ini pada polisi, biarkan polisi bekerja. Kalau pun memang pelakunya adalah pejabat itu, saya sangat sayangkan dengan perbuatan itu, saya juga meminta pada polisi untuk mengusut kasus itu,” tegas Rahmat Shah.

Sementara itu, Pengamat Hukum dari UMSU Farid Wajedi SH Mhum mengatakan, dalam mengusut pelaku penganiayaan yang diduga dilakukan oleh oknum pejabat teras Pemko Medan, polisi harus transparan dan harus berani tanpa memperdulikan kedudukan, jabatan, pejabat atau tidak. “Ya itu dong polisi harus terbuka tanpa pandang bulu apakah itu pejabat. Harus ditindak sesuai hukum,” ujarnya. (tim sumut pos)

Rekaman Lengkap Kesaksian Korban Penganiayaan