Home Blog Page 15389

Turnamen Futsal Nurul Hadina Digelar

MEDAN- Sebanyak 24 tim futsal yang berasal dari tingkat sekolah dasar dan SMP tampil dalam Turnamen Futsal Pekan Olahraga yang Diselenggarakan Yayasan Nurul Hadina di Lapangan Futsal MTS/SMP Plus Nurul Hadina, Jalan Pertahanan Kompleks Perumdam, Kamis (19/5).

Ke 24 tim futsal yang tampil tersebut terdiri dari 17 tim futsal tingkat SMP dan 7 tim futsal tingkat SD. “ Ke-24 tim yang tampil tersebut, umumnya berasal dari sekolah asal Medan dan Deli Serdang,” ujar Ketua Panitia  Ahmad Thohir Hasibuan SPd.Dijelaskan Thohir, tujuan dilaksanakan turnamen tersebut untuk meningkatkan bakat siswa dalam berolahraga futsal yang sedang berkembang saat ini. Selain itu juga untuk menjalin silaturahmi antara sesama sekolah yang ada di Sumatera Utara dan kota Medan.

Sementara itu, Kadisporasu Ristanto  SH MPN mengatakan bahwa diharapkan dengan turneman tersebut dapat terlahir atlet futsal yang andal yang akan mengharumkan nama Sumatera Utara. “Untuk terlahirnya atlet tersebut, tentunya harus dilakukan suatu seleksi yang matang dan berkompeten,” ujar Tanto.

Lebih lanjut, Ristanto berharap kiranya atlet yang tampil dalam turnamen tersebut dapat menjunjung tinggi nilai-nilai sportivitas. (omi)

Melukis Hidup tanpa Jari

Sayang Bangun

Tubuh tanpa dua lengan ternyata tidak menghalangi Sayang Bangun untuk menciptakan karya seni rupa kelas internasional. Dengan keterbatasan fisik, karyanya mampu menembus pasar dunia. Bahkan, dari karyanya itu, dia mampu membawa ketiga anaknya menikmati ilmu dari universitas terkemuka.

Kisah dimulai pada 10 Oktober 1952. Seorang bayi laki-laki lahir di Desa Batusanggehen, Sibolangit, Deli
Serdang. Bayi itu tak seperti bayi pada umumnya. Ia lahir tanpa kedua lengan. Bayi itu terus tumbuh menjadi remaja. Ia sekolah di sekolah umum, bukan di sekolah berkebutuhan khusus. Ia habiskan masa sekolah dasarnya di desa kelahirannya. Tentu, tak ada yang menduga, puluhan tahun kemudian bayi tanpa dua lengan itu menjadi pelukis besar. Ya, Sayang Bangun namanya.

Begitulah, seandainya saja ada yang lebih memperhatikan, bukan suatu yang tak wajar jika Sayang menjadi pelukis di kemudian hari. Pasalnya, bakat dan minat yang dimiliki Sayang telah tampak sejak dia duduk di sekolah dasar. Begitu banyak coretan yang telah dia hasilkan. Namun, coretan itu bukan di kanvas dan kertas, dia lebih memilih dinding. “Setelah belajar setiap hari saya sering mencuri kapur tulis dari sekolah, terus kapur tersebut saya torehkan dinding gubuk dekat rumah,” aku Sayang Bangun belum lama ini.

Kegigihannya untuk mengolah diri tersebut menjadikannya seorang anak kecil yang kreatif dan andal di bidang lukis-melukis. Barulah ketika dia duduk dibangku kelas VIII SMP pada tahun 1974, dia mulai beralih menggambar di media lain yakni kertas dan kanvas. Peralihan media itu membuat dia semakin giat belajar. Hasilnya, pada tahun 1976, untuk pertama kali lukisannya terjual. Tidak mengecewakan, Rp15 ribu pun masuk kantong.

Ya, Sayang Bangun terus berkembang dari masa ke masa meski tetap tanpa tangan. Kini lukisannya dibandrol Rp10 juta hingga Rp100 juta. Pelanggannya pun tidak sebatas Kota Medan, Sumatera Utara, atau Indonesia. Tercatat negara-negara Eropa, Jepang, dan lainnya menjadi penikmat karyanya yang memang cenderung menggambarkan keindahan budaya Indonesia.

Sayang Bangun merupakan pensiun Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang bertugas di Kantor Pemerintahan Kabupaten Deli Serdang, Sementara sang istri, S Sisilia Tarigan, adalah PNS yang bertugas di Dinas Sosial Medan. Dari hasil kerjanya sebagai PNS dan tentunya dari lukisan, Sayang Bangun mampu menyekolahkan ketiga anak sampai jenjang Strata 1 (S1); dua di Universitas Gadjah Mada dan satu lagi di Universitas Sumatera Utara. Menariknya, tidak hanya andal melukis, Sayang Bangun pun bersikap persis dengan manusia normal lainnya seperti mengendari mobilnya dan pergi ke sejumlah negara tanpa ditemani sang istri.

Bapak ketiga anak ini menjadi sosok yang menginspirasi banyak orang untuk berbuat lebih dalam kehidupan. Dengan keterbatasan dia terus berusaha, baik secara akademis maupun tidak. Buktinya Sayang juga pernah mengecam bangku kuliah di Fakultas Seni Rupa Universitas Medan (Unimed) tetapi tidak sampai diwisuda. Kemudian dia mendapatkan beasiswa di sebuah akademi seni yang ada di Kota Venesia, Italia, selama delapan bulan. Nah, setelah itu, dia juga membina sejumlah orang cacat sebagai seniman yang terlibat di seni vokal, seni musik, seni rupa khusus patung dan sebagainya.

Pada tahun 1990 silam, Sayang Bangun pun diakui sebagai anggota Assosiation of Mouth and Foot Painting Artists (AMFP), organisasi yang mewadahi pelukis cacat dunia yang berdudukan di Swiss. Keberadaannya juga sebagai anggota AMFP melambungkan namanya sebagai jagoan lukis di Tanah Air. “Hidup adalah kehormatan dan kehormatan dicapai dengan perjuangan. Tetapi, pernahkah Anda membayangkan kalau kita melukis dengan tidak menggunakan jari tangan yang sempurna? Melukis dengan jari yang sempurna pun, belum tentu hasil lukisannya akan bagus,” ujar Sayang Bangun.

Sayang, Sayang Bangun belum juga memiliki galeri pribadi untuk memamerkan karyanya. Sempat dia dijanjikan oleh pemerintah yang akan membangun sebuah galeri di tanah miliknya di yang berada di Jalan Bunga Sedap Malam Padang Bulan Medan ukuran tanah 10 X 3 meter. Sekali lagi sayang, hal itu belum juga terwujud.
Bukannya putus asa, Sayang Bangun malah tambah giat bekerja di ruang pribadi milikinya yang hanya seluas 5 X 4 meter. Ya, meski bersempit-sempitan dengan seniman cacat binaannya.
“Begitulah Bapak, tidak pernah mengeluh. “Contohnya, jangan pernah rumah itu kotor atau berserak, dia akan langsung membersihkannya,” ucap sang istri SSisilia Tarigan. (mag-7)

Komitmen Telkomsel Melayani 100 Juta Pelanggan

Telkomsel kembali menegaskan komitmen untuk tetap memberikan pelayanan terbaik kepada lebih dari 100 juta pelanggan diseluruh Indonesia. Hal ini kembali ditegaskan Telkomsel paska berhasil menorehkan sejarah memiliki 100 juta pelanggan pada 26 April 2011 yang menjadikan Telkomsel sebagai operator selular ke-7 di dunia yang dipercaya oleh 100 juta pelanggan di satu negara.

VP Area Sumatera – Mirza Budiwan mengatakan, “Telkomsel menjadi operator selular yang paling siap dan memiliki fondasi paling kuat untuk melangkah di era beyond telecommunications, selain itu operator selular yang mampu melayani 100 juta pelanggan merupakan operator yang sudah bisa mentransformasi 100 juta pelanggan menjadi pengguna. Dalam hal ini, apa yang disediakan operator bukan lagi layanan dasar, tetapi layanan-layanan baru yang telah dikustomisasi sesuai kebutuhan masing-masing pelanggan sehingga bersifat lebih personal”.

Upaya transformasi dilakukan demi mewujudkan komitmen Telkomsel untuk mengedepankan peningkatan pelayanan kepada pelanggan, terutama dalam menghadirkan high value customer experience dalam memanfaatkan layanan mobile lifestyle Telkomsel.

Telkomsel akan melakukan peningkatan kapasitas dan kualitas jaringan broadband, skema collaboration and partnership dengan para mitra kerja, sistem support yang handal (sistem penagihan, sistem data base pelanggan, dan lain-lain), serta pengembangan layanan mobile broadband dan new business (mobile wallet, musik, konten, dan mobile advertising).

Produk dan layanan Telkomsel sangat menarik minat masyarakat karena selain tarifnya kompetitif, jaringannya juga dapat diandalkan. Aspirasi masyarakat terhadap layanan telekomunikasi selular sudah bergeser, tidak semata mencari tarif rendah tetapi lebih mencari layanan yang menawarkan kekuatan, kestabilan serta keluasan jangkauan jaringan.

Saat ini pelanggan Telkomsel Area Sumatera tercatat lebih dari 31 juta pelanggan, dan 11,4 juta pelanggan merupakan pelanggan Telkomsel Regional Sumbagut (Sumut dan NAD) dilayani oleh lebih dari 4000 base transceiver station (BTS), termasuk lebih dari 530 Node B (BTS 3G).  Jumlah ini merupakan bagian dari 10.000 BTS dan 1.500 Node B yang tersebar di Area Sumatera yang tersebar dari Aceh hingga Lampung, dan merupakan bagian dari 38.000 BTS, dan 8.000 Node B secara Nasional.

Untuk meningkatkan pelayanan bagi pelanggan, Telkomsel menggelar lebih dari 110 ribu titik pelayanan pelanggan yang tersebar di Regional Sumbagut , seperti GraPARI, GeraiHALO, KiosHALO, hingga outlet dealer, dan m-Kios. Yang merupakan bagian lebih dari 1 Juta titik layanan secara nasional.

Telkomsel juga menjalankan amanat program universal services obligation (USO) yang dipercayakan pemerintah dan Telkomsel telah berhasil membuat lebih dari 25 ribu desa terpencil di seluruh Indonesia menjadi desa berdering. Dalam dunia pendidikan Telkomsel memberi dukungan program pendidikan berbasis ICT untuk guru dan siswa.

Lupakan ISL

Persiba vs PSMS

SAMARINDA-Punggawa Ayam Kinantan harus melupakan tiket lolos ke Indonesia Super League (ISL) musim depan. Pasalnya, jatah ke semifinal yang sudah di depan mata melayang begitu saja. Padahal, Affan Lubis dkk sudah unggul 3-0 di babak pertama, saat melawan Persiba Bantul di pertandingan hidup mati di Stadion Segiri Samarinda, Rabu (18/5) petang. Tapi, Persiba Bantul berhasil menyamakan kedudukan menjadi 3-3 dan hanya menjadi juru kunci di Grup B. Asisten Manajer PSMS Medan, Benny Tomasoa mengatakan tim lawan lebih pantas lolos ke babak semifinal ketimbang PSMS Medan.

Diakuinya, PSMS bisa menerima hasil imbang yang didapat timnya pada pertandingan tersebut. Kegagalan mempertahankan keungggulan lebih disebabkan oleh kelengahan yang dibuat oleh para pemain. Dan itu adalah hukuman yang pantas diterima.

“Kami akui, Bantul tampil lebih baik, lebih ngotot di pertandingan ini. Bantul lebih pantas lolos dari PSMS Medan,” pungkasnya.

Sementara hasil yang direngkuh Laskar Sultan Agung itu dinilai luar biasa, karena di babak pertama anak asuh Sajuri Shahid sudah tertinggal 0-3. Selain itu 3 peluang Persiba Bantul juga gagal bersarang di gawang PSMS. Bahkan, 2 peluang itu sempat mengenai tiang gawang. Persiba Bantul juga seolah tak akan bisa mengejar ketertinggalan menyusul gol Gaston Castano (14’), Donny F Siregar (35’), dan Rinaldo (42’).

Namun, di babak kedua semuanya berubah. Fortune Udo menjadi pahlawan Persiba Bantul, dengan hattricknya di menit ke-53’, 75’, dan 83’. Hasil imbang 3-3 itu sudah cukup bagi Persiba Bantul ke semifinal, karena di saat yang bersamaan Mitra Kukar unggul 1-0 atas PSAP Sigli.

Lolosnya Persiba Bantul ke lolos semifinal di sambut gembira oleh pemain dan offisial tim. Termasuk Paser Bumi, suporter Persiba Bantul yang sengaja hadir mendukung timnya di Babak 8 Besar.

“Permainan tim mengalami peningkatan. Beberapa kesalahan yang dilakukan pada pertandingan melawan Mitra Kukar dan PSAP coba dikurangi. Salah satunya adalah penyelesaian peluang akhir. Tertinggal 3 gol, anak-anak tetap bermain sabar. Dan ketika Fortune mencetak gol pertama, kami sudah yakin tim ini akan membuat gol-gol berikutnya,” kata Asisten Manajer Bidang Teknik Persiba Bantul, Briyanto.

“Kami ke semifinal juga menjadi akhir dari anggapan bahwa kami hanya menjadi spesialis Babak 8 Besar,” imbuh pria berkaca mata itu. (er/obi/jpnn)

15 Dugaan Korupsi Disdik Medan Diungkap

Aliansi Masyarakat Peduli Pembaharuan Demo Kajatisu

MEDAN-Puluhan massa mengatasnamakan Aliansi Masyarakat Peduli Pembaharuan (AMPP) mendatangi Kantor Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejatisu) di Jalan AH Nasution Medan, Rabu (18/5). Membawa berbagai atribut berupa spanduk bertuliskan kecamanan terhadap Kepala Dinas Pendidikan (Kadis Pendidikan) Kota Medan, Hasan Basri (HB).

Untuk menarik perhatian, massa juga membawa serta seperangkat alat-alat musik berupa band. Di halaman depan kantor penegak hukum itu, pengunjuk rasa membawakan lagu-lagu sindiran tentang perilaku korupsi.

Usai membawakan sejumlah lagu, Ketua AMPP Medan, Feri Nofirman Tanjung SSos berorasi. Dengan lantang, Feri Nofirman meminta Kepala Kejatisu, AK Basuni, segera mengusut dugaan korupsi di Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Medan yang diduga melibatkan Hasan Basri selaku kepala dinas.

“Kenaikan anggaran APBN dan APBD dalam bidang pendidikan sebesar 20 persen, Disdik Medan menjadi ajang tempat memperkaya diri sendiri oleh oknum-oknum pejabatnya,” beber Feri Nofirman.

Secara khusus, Feri Nofirman menuding Hasan Basri menyelewengkan anggaran di Disdik Kota Medan yang seharusnya diperuntukan untuk dunia pendidikan.

Feri Nofirman lantas membacakan 15 item dugaan korupsi di lingkungan Disdik Medan dengan nilai lebih dari Rp23,4 miliar sepanjang 2007 hingga 2009.

“Untuk itu kami minta KPK di Jakarta untuk memeriksa Kadis Pendidikan Kota Medan atas dugaan korupsi dalam penggunaan uang negara,” ucap Feri.

Orator itu juga meminta Kejagung RI agar menurunkan timnya untuk melakukan pemeriksaan dugaan korupsi di Disdik Medan, sekaligus memeriksa oknum jaksa-jaksa nakal yang dituding dengan sengaja mengendapkan kasus dugaan korupsi HB.

“Kami minta pada Kajatisu agar tidak janji-janji muluk dalam mengeluarkan statemennya, yang pada akhirnya hanya dongeng belaka,” ujar massa.

Massa kemudian meminta kehadiran Kajatisu AK Basuni untuk berdialog. Kepala Seksi Penerangan dan Hukum (Kasi Penkum), Kejatisu Edi Irsan Tarigan SH, yang menerima massa menegaskan, AK Basuni sedang tidak di tempat.
“Bapak Kajatisu tidak berada di tempat. Namun aspirasi teman-teman akan kita sampaikan pada pimpinan, untuk ditindak lanjuti,” tegas Edi Irsan kepada kelompok massa.

Sebelumnya massa AMPP Kota Medan juga melakukan aksi unjuk rasa di Kejaksaan Negeri Medan Jalan Adinegoro Medan. Massa juga menuntut hal yang serupa, penuntasan kasus dugaan korupsi di Disdik Kota Medan.

Sementara itu, Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Medan, Raja Nofrizal, mengaku dugaan kasus korupsi Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan Dana Alokasi Khusus (DAK) mulai tahun 2007 hingga 2009 mencapai Rp8.761.900.000, di Dinas Pendidikan Kota Medan memang sudah lama ditangani oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) Medan.

“Memang ada laporan itu di tahun 2007 lalu. Mungkin sekarang masih di Bagian Intel kami. Tapi nanti kita lihat lagi, karena itu sudah lama. Saya sendiri jadi Kajari masih enam bulan ini,” kata Raja Nofrizal saat ditemui wartawan Sumut Pos di sela-sela acara pembukaan Perkemahan Pramuka se-Kota Medan di Lapangan Cadika, Jalan Karya Wisata, Medan Johor, Sabtu (14/5) lalu.

Raja menegaskan, persoalan itu saat ini sudah ditangani oleh pihak Kejatisu. “Itu sudah pernah diekspos Seksi Penerangan dan Hukum Kejatisu. Mungkin sudah diambil Kejatisu penanganannya,” bebernya.

Rp6 Juta pun Diembat

Kepala Dinas Pendidikan Medan Hasan Basri sedang sakit. Hal itu dikemukakannya saat dikonfirmasi Sumut Pos, untuk mempertanyakan temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI atas dugaan penyelewengan yang dilakukannya pada Tahun Anggaran (TA) 2007-2008 senilai Rp28,5 miliar serta mengenai Ujian Nasional (UN), Senin (16/5).
“Kalau mengenai BPK itu, ke kantor saja lah. Biar saya kasih datanya. Kalau UN nanti saya SMS kan datanya,” katanya menjawab pertanyaan Sumut Pos melalui telepon, Senin (16/5).

Ketika wartawan koran ini mengungkapkan keinginan untuk menemuinya di kantor, Hasan Basri buru-buru mengungkapkan dirinya tengah berada di rumah sakit untuk berobat. “Kalau sekarang saya tidak di kantor. Saya istirahat di rumah sakit,” jawabnya.

Hasan Basri mengaku sakit karena banyak kegiatan yang menyita waktunya. “Bukan karena itu (hasil temuan BPK). Karena banyak kali kegiatan,” bebernya.

Berdasarkan Temuan BPR RI diketahui, Jasa Giro dari Dana Safeguarding Dinas Pendidikan Kota Medan sampai 31 Desember 2008 tidak disetor ke kas negara sebesar Rp6.244.701.

Penjelasan dari temuan BPK RI tersebut yakni, untuk menjamin keberhasilan Program Bantuan Operasional Sekolah (BOS), dalam Daftar Isian Pelaksana Anggaran (DIPA) BOS telah dialokasikan dana safeguarding yaitu dana untuk biaya operasional Tim Manajemen BOS kabupaten/kota yang disalurkan ke rekening masing-masing Tim Manajemen BOS kabupaten/kota untuk menampung dana tersebut, Tim Manajemen BOS Kota Medan telah membuka rekening pada Bank Sumut No.100.02.04.035917-6 dengan nama rekening PKPS BBM DIKNAS KOTA MEDAN.

Dari hasil pemeriksaan atas mutasi tersebut di atas diketahui, bahwa rekening penampungan dana safeguarding tersebut mendapat jasa giro dan dikenakan pajak tahun anggaran (TA) 2007 dengan jasa giro Rp3.163.036 dan pajak 383.910, TA 2008 dengan jasa giro senilai Rp3.081.665 dan pajak Rp915.377.  Jumlah total jasa giro  Rp6.244.701 dan pajak Rp1.299.287.

Pemeriksaan bukti-bukti pertanggungjawaban dana safeguarding menunjukkan bahwa, penerimaan jasa giro atas rekening penampungan dana safeguarding tersebut tidak disetor ke kas negara tetapi masih disimpan di rekening Bank Tim Manajemen BOS Kota Medan.

Dalam rekomendasinya, BPK RI meminta agar Wali Kota Medan memberikan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku kepada Kepala Dinas Pendidikan Kota Medan dan segera menyetorkan jasa giro ke Kas Negara sebesar Rp6.244.701 dan memerintahkan Manajer BOS melakukan koordinasi dengan pihak Bank Sumut supaya mengenakan pajak atas jasa giro yang diterima.(rud/ari)

Dugaan Korupsi

  1. Nilai Rp3 miliar
    Penarikan uang pelicin dana BOS dari setiap Kacabdis sebesar 17 persen pada 2006-2007.
  2. Nilai Rp1 miliar
    Penunjukan percetakan salah satu rekanan Hasan Basri. Hal ini tidak sesuai dengan Permen Disdik No 26 tahun 2005.
  3. Nilai Rp2 miliar
    Pengerjaan soal LJU, UAS tahun ajaran 2004/2005 penggunaan APBD 2004 sebesar Rp4 miliar melanggar Keppres No 80 tahun 2003.
  4. Nilai Rp2 miliar
    Menerima dan memotong uang sebesar 17 persen untuk dana adminitrasi dari kepala sekolah tahun 2005/2006 anggaran BOS.
  5. Nilai Rp2 miliar
    Penyelewengan dana bantuan program Bantuan Terarah untuk siswa putus sekolah TP 2005/2006 yang melibatkan lurah dan camat se kota Medan.
  6. Nilai Rp5 miliar
    Penyelewengan APBD 2009 pembuatan kartu pelajar Rp10 ribu per siswa dan kartu kendali siswa Rp20 ribu persiswa.
  7. Nilai Rp5 miliar
    Pencetakan jargon pendidikan prima dan pengutipan biaya Rp250 ribu per sekolah padahal anggaran tersebut sudah ada dalam APBD Medan.
  8. Nilai Rp2 miliar
  9. Penyelewengan dan BOMM tahun 2009
    Nilai Rp1,4 miliar
  10. Penyelewengan pembangunan gedung kelas internasional SMU Negeri I Medan, dana dialokasikan tumpang tindih.

Dugaan Kebijakan Menyimpang

  1. KKN dalam pengangkatan Kepala Sekolah SD,SMP, dan SMU se kota Medan.
  2. Dugaan penggelapan uang koreksi LJU sebesar Rp2400 per siswa tidak dilakukan dengan semestinya. Dana pendataan sekolah untuk penggandaan naskah ujian sebesar Rp4.200 tanpa tender bersumber APBD Kota Medan 2005/2006 melanggar keppres No 80 tahun 2003 UU No 31 tahun 1999.
  3. Melakukan kecurangan pada UN tahun 2007 di Kota Medan, mendapat respon Mendiknas tahun 2007 yang berisi pembebasan jabatan kepala dinas pendidikan Medan dan kasubdis dalam kasus Air Mata Guru.
  4. Pemalsuan Surat Keterangan Hasil Ujian (SKHU) dari SDN Medan Labuhan ke SDN 45 Helvetia diperuntukan Penerimaan Siswa Baru (PSB) pada SMPN 18 Helvetia tahun 2005.
  5. Pengerjaan pembuatan soal dan lembar jawaban ujian (LJU) untuk SD sekota Medan tahun 2011 melanggar keppres No 80 tahun 2003.
  6. Dana Bantuan Khusus Murid Miskin (BKMM) dana tersebut tidak disalurkan, namun hanya memberikan barang yang tidak sesuai dengan harganya.

Sumber: Aksi AMPP

Jaksa Hanya Pelajari Laporan

Dugaan Korupsi di Pemkab Deli Serdang

LUBUKPAKAM- Hingga saat ini Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejatisu) belum juga bergerak mengumpulkan data dan bahan keterangan (pulbaket) atas dugaan korupsi di Pemkab Deli Serdang yang melibatkan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Jaksa terkesan lamban, karena hingga kemarin belum ada tim khusus yang bergerak ke Pemkab Deli Serdang.

Hasil penelusuran wartawan koran ini, belum ada jaksa yang mendatangi SKPD di Pemkab Deli Serdang untuk melakukan pengumpulan data dan bahan keterangan. Alasan jaksa juga klasik masih dalam tahap mempelajari.
“Kita masih mempelajari laporan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM),” tegas Kasi Penerangan Hukum Kejatisu, Edi Irsan Kurniwan Tarigan SH MH, Rabu (18/5).

Menurut Edi Irsan Tarigan, langkah awal yang mereka lakukan menindaklanjuti laporan tersebut. “Kita melakukan penelitian berkas laporan dan minta klarifikasi dari yang dilaporkan,” ucap Edi.

Langkah pengumpulan bahan dan keterangan serta klarifikasi itu untuk melihat kelayakan perkembangan kasus. “Dalam penelusuran tersebut apabila ditemukan bukti yang kuat dan temuan bukti yang cukup beserta saksi yang diperoleh, maka kasusnya bisa naik ke penyidikan,” tegasnya.

Seperti diketahui, dugaan korupsi di SKPD di Kabupaten Deli Serdang meliputi Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Perhubungan, Dinas Kesehatan, Dinas Cipta Karya dan Pertambangan dan Dinas Perikanan sudah dilaporkan ke Kejatisu. Dalam laporan tersebut, terjadi penyalahgunaan dana sebesar Rp224.718.971.319 pada pekerjaan peningkatan dan pemeliharaan jalan serta jembatan pada APBD tahun 2007 lalu.

Dinas Perhubungan juga diduga ikut terlibat korupsi pada pembangunan dermaga Pantai Labu. Selain itu dugaan korupsi pada proyek di Dinas Cipta Karya dan Pertambangan di antaranya pembuatan drainase di kawasan Kecamatan Patumbak, Percut Sei Tuan, renovasi Kantor Camat Beringin dan Kantor Bapeda Deli Serdang. (rud/btr)

Juara Kelas Itu Telah Pergi…

Terbawa Air Bah Sei Bingai, 2 Bocah Dimakamkan Pasangan Pengantin Masih Hilang

Mendung duka menyelimuti kediaman Abidin Sitinjak (39) yang berada di Dusun 4 (bukan dusun 2) Desa Pagar Jati, Lubuk Pakam, Rabu (18/5). Abidin didampinggi istrinya Serina Br Sianturi (38) duduk tertegun lemah menyaksikan jasad putrinya Randa Br Sitinjak (7) terbujur kaku di peti mati.

Batara Sidik, Lubuk Pakam

Jasad Randa tiba dirumah duka sekitar pukul 01.00 WIB, Rabu (18/5) diantar mobil ambulan RSU DR RM Djoelhan Binjai bertuliskan Medical Emergency Car. Berselang sebelas jam, tepatnya pukul 12.00 WIB, Rabu (18/15) kembali mobil ambulan RSU DR RM Djoelhan Binjai tiba di depan kediaman Abidin Sitinjak. Kali ini, mobil ambulan membawa jasad Tito  Sitinjak (11) .

Kali ini tangisan langsung pecah seiring tibanya jasad siswa kelas IV SD HKBP Desa Pagar Jati. Bahkan Abidin dan istrinya Serina langsung jatuh pingsan. Suasana bertambah haru dan beberapa keluarga dan warga langsung menolong keduanya. Setelah sadar, pasangan suami istri itu menagis sejadinya.

Tangisan diiringi andung (ratapan berirama seperti bersenandung) dari pasutri itu.
Dalam andungnya, Abidin Sitinjak mengungkapkan rasa kehilangan mendalam dan kepada kedua anaknya itu. Sebagai ayah, Abidin mengingatkan kembali tugas-tugas harian kedua anaknya yang tidak akan bisa dilakukan lagi. “Ise ma na ma pature kamar oppung (siapa yang merapikan kamar nenek),” bilang Abidin dalam ratapannya dengan nada meninggi.

Sebaliknya, Serina Br Sianturi tanpanya sudah kehabisan energy untuk magandung. Soalnya, tangisan Serina tertumpah di lokasi sejak peristiwa kelabu itu terjadi.

Tak lama berselang, puluhan murid SD HKBP didampingi guru-gurunya datang melayat. Di sana murid-murid SD dan gurunya mengadakan kebaktian dan mengucapkan kata-kata perpisahan.
Menurut, br Saragih guru SD HKBP yang datang melayat, bahwa bocah itu adalah murid-murid yang pintar. Bahkan Titoh menjadi langgan juara kelas. “Kami sangat terpukul atas peristiwa ini,” katanya.
Menurut pihak keluarga, setelah disemayamkan dirumah duka kedua korban abang adik itu dimakamkan di pemakaman Kristen Desa  Pagar Jati, petang kemarin.

Sehari pasca banjir Bandang yang terjadi di kawasan Pemandian Alam Pantai Pai atau Batako di Kelurahan Namu Ukur, yang terjadi sore Selasa (17/5) sekira pukul 14.30 WIB lalu, petugas Tim Sar dan Polsek Sei Bingai dibantu Polsek Selesai, terus mencari dua korban lainnya.

Dari empat korban jiwa yang terbawa arus, dua diantaranya sudah ditemukan yakni, Tito Sitinjak (10), yang ditemukan saat itu juga sekitar pukul 18.00 WIB. Jenazah Tito ditemukan tersangkut di tumpukan sampah tepat di Dusun IV, Desa Nambiki, Kecamatan Selesai, Kabupaten Langkat. Selanjutnya jenazahnya dibawa ke RSU dr Djelham Binjai, Jalan Sultan Hasanuddin, Kecamatan Binjai Kota. Di rumah sakit itu, keluarga korban langsung menangis histeris. Untuk selanjutnya, keluarga jenazah korban dibawa ke kampung rumah duka di Dusun IV, Pagar Jati, Lubuk Pakam.
Sementara, satu mayat lainnya yang berhasil ditemukan yakni, Randa Sitinjak (7), adik perempuan Toto Sitinjak. Jenazah Randa ditemukan di dekat jenazah abangnya, di wilayah Dusun IV, Desa Nambiki, Kecamatan Selesai, Kabupaten Langkat, Rabu (18/5) sekitar pukul 06.00 WIB.

Keterangan yang berhasil dihimpun wartawan koran ini, jenazah Randa Sitinjak ditemukan dalam kondisi tertutup pasir. Petugas mengetahui keberadaannya karena tangannya masih kelihatan dan langsung saja diangkat Polisi, Tim Sar dan dibantu masyarakat.

Untuk selanjutnya, jenazah korban langsung dievakuasi ke daratan dan dibawa ke Rumah Sakit (RS) Delia, Kecamatan Selesai.s etelah itu, pihak keluarga langsung membawa jenazah ke rumah duka.

Sementara itu, pasangan pengantin baru Abdon Nugroho Silaban (24) dan Nova Br Ringgoringo (26) hingga kemarn masih dicari Tim Sar dan bekerjasama dengan pihak kepolisian dan masyarakat.

Tim Sar yang dibantu Polsek Sei Bingai serta Polsek Selesai, tampak terus menelusuri Sungai Bingai. Mulai dari lokasi hanyutnya korban, sampai ke Desa Nambiki, Kecamatan Selesai. Namun, Tim Sar dan aparat kepolisian tampak masih kesulitan untuk melakukan penyisiran. Pasalnya, arus Sungai Bingai terlihat masih cukup deras.

Di sela-sela kesibukan, Serma Hermanto dari Tim Sar Bingai Resque menyampaikan, banjir bandang yang terjadi secara tiba-tiba di lokasi Wisata Pantai Pai atau Batako Namu Ukur, Kecamatan Sei Bingai, Kabupaten Langkat sore kemarin itu, mengakibatkan empat warga dari Kecamatan Lubuk Pakam, menjadi korban. “Kita tetap berupaya semaksimal mungkin, untuk mencari sisa dari korban yang sudah ditemukan, dan kami juga mengharapkan do’a dari masyarakat agar dalam pencarian tidak ada kendala, serta dua korban yang beum ditemukan, dapat ditemukan dengan secepatnya,”ujar Hermanto.

Pantauan wartawa koran ini di lokasi, ratusan masyarakat tampak terus menyaksikan jalannya pencarian dua korban yang belum ditemukan. Padatnya warga, juga tak luput atas penasaran dengan kejadian itu. Sementara itu, saat jenazah korban sudah di RSU dr Djoelham, kondisinya terlihat trgais, dimana di bagian kepala serta tubuhnya didapati sejumlah luka gores akibat hantaman batu alam yang ada di Sungai Bingai.

Informasi yang diperoleh dari pihak keluarga, Serina beserta dua anaknya Titoh dan Randa pergi bersama Avdon Nugroho Silaban (24) dan Nova Siringo-ringo (26) yang baru sepekan melangsungkan pernikahan. Turut pula Randho Sihite, paman Titoh, ada 11 orang dalam rombongan. Mereka pergi kesana untuk memenuhi acara “dipio”, ke rumah paman Novi Br Siringo-ringo. Dipio adalah kebiasaan menjamu penganting baru sekaligus berkenalan lebih dekat dengan pihak keluarga. “Kan biasa orang Batak, bila usai pesta pernikahan paman dari pihak perempuan wajib didatangi untuk acara adat,” bilangnya. (btr/dan)

Cedera Punggung

Agnes Monica

Untuk menunjang penampilannya sebagai penyanyi, Agnes Monica rutin melakukan latihan fisik. Dari dance, gym, sampai muay thai. Tak jarang, ketika berlatih, Agnes mengalami kesalahan yang mengakibatkan anggota tubuhnya cedera. Seperti sekarang ini, cewek kelahiran 1 Juli 1986 itu mengaku tengah merasakan sakit di punggungnya.
Perempuan cantik tersebut menjelaskan, cedera punggung itu sudah dialami sejak lama. “Cederanya pas latihan. Dulu, tapi,” ujarnya saat ditemui setelah mengisi acara Dahsyat kemarin (18/5). Namun, dia tidak memeriksakan cedera tersebut ke dokter.

Akhirnya, rasa sakit itu sembuh dengan sendirinya. Nah, enam bulan belakangan, jadwal pelantun Teruskanlah tersebut sedang gila-gilaan. Rasa sakit itu pun datang lagi.

“Jadi, pas latihan agak ngilu. Sejauh ini sih pakai obat oles buat keseleo aja. Tapi, sampai dua bulan ini, ternyata enggak sembuh-sembuh,” terangnya. Setelah mengetahui rasa sakit punggung yang dialami Agnes, keluarga pun menyarankan dia untuk cek ke dokter. “Rencananya sih hari ini (kemarin, Red) mau ke dokter. Keluarga dan kakakku bilang kalau back pain itu enggak main-main,” lanjutnya.

Sejauh ini sakit yang dirasakan Agnes tidak mengganggu kegiatannya. Dia juga mengaku tidak takut atau kapok berlatih fisik lagi. Hanya, sekarang frekuensinya dikurangi. Dia harus mengalah dulu terhadap badannya. Sebab, jika diforsir, itu justru memperparah rasa sakit. “Lebih hati-hati aja sih. Seharusnya saat cedera kami bisa lebih wise untuk pergi ke dokter,” katanya.

Sebagai entertainer, Agnes memang profesional. Ketika tampil di Dahsyat kemarin, dia masih energik menari. Padahal, punggungnya sedang sakit. “Kalau di panggung sih tidak masalah. Pas turun (panggung) aja rasanya nyut-nyutan,” ujarnya.

Rasa sakit memang belum cukup kuat untuk mengalahkan kemauan penyanyi yang berduet dengan Michael Bolton itu. Dia masih saja berlatih. Apalagi menari atau beladiri adalah aktivitas yang disenangi. “Saya senang dengan gerakan yang energik. Belajarnya harus total. Kayak mau tanding aja. Tandingnya memang cuma sejam, tapi latihannya kan harus berbulan-bulan,” ucap bungsu dua bersaudara tersebut.

Belum lagi dia berencana kembali ke Amerika Serikat Juni mendatang. Sementara itu, di sini masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Karena itu, fisik harus benar-benar dipersiapkan. “Iya nih, sebentar lagi berangkat ke Amerika. Juni nanti ke sana lagi,” beber penyanyi yang sekarang tampak lebih hitam daripada biasanya tersebut. Ketika ditanya tentang itu, dia justru mengatakan semoga kulitnya tidak kembali putih. “Lebih suka begini deh,” jawabnya, lalu tertawa kecil.

Agnes mengaku betah tinggal di Amerika Serikat. Sebab, orang-orangnya pekerja keras. Tapi, kadang dia kangen masakan tanah air seperti sambel. Dia juga kangen pijat tradisional. (jan/c3/any/jpnn)

FPKS Sumut Dukung Pemekaran

MEDAN-Fraksi PKS DPRD Sumut tidak akan mengganjal pemekaran, selama pemekaran yang direncanakan itu tidak melanggar aturan yang ada yakni, UU No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah dan Peraturan Pemerintah (PP) No 78 Tahun 2007 tentang Pemekaran Daerah. Hal itu dikemukakan anggota Fraksi PKS DPRD Sumut Taufik Hidayat yang ditemui Sumut Pos, Rabu (18/5).

“Anggota DPR dimana pun level kita, baik DPRD kabupaten/kota, provinsi dan pusat tidak akan mengganjal proses pemekaran, selama memenuhi UU dan peraturan yang ada. Jadi, kalau tidak memenuhi syarat ya kita belum bisa,” tegasnya.

Dijelaskan Wakil Ketua Panitia Khusus (Pansus) Pemekaran DPRD Sumut ini, beberapa hal yang belum dilengkapi ketiga provinsi pemekaran baik Sumatera Tenggara (Sumtra), Provinsi Tapanuli (Protap) dan Kepulauan Nias (Kepni) antara lain, untuk Sumtra belum adanya rekomendasi dari Gubsu. Artinya, sebelum diparipurnakan sebenarnya harus terlebih dahulu ada rekomendasi dari Gubsu dari hasil kajian yang dilakukan oleh tim dari provinsi.
Untuk Provinsi Tapanuli (Protap) yang paling mencuat adalah tiga dari tujuh wilayah cakupan menarik dukungannya yakni, Nias Selatan (Nisel) Bupatinya menarik dukungan, Tapanuli Tengah (Tapteng) DPRD kabupatennya yang menarik dukungan dan Sibolga juga DPRD Kota nya yang menarik dukungannya.

Sementara untuk Kepulauan Nias (Kepni) memiliki banyak persyaratan yang belum lengkap antara lain, ibu kota, kajian akademis serta dukungan anggaran dari kabupaten/kota pendukung belum ada.

“Dalam hal ini, pemerintah pusat dan DPR RI tengah merevisi peraturan tentang pemekaran. Jadi, dari hasil revisi itu daerah-daerah pemekaran tinggal menyesuaikan saja. Dari ketiga rencana provinsi pemekaran, Sumtra memiliki syarat yang mendekati lengkap namun belum secara keseluruhan. Sementara yang lain juga memiliki beberapa hal yang tidak lengkap. Jadi, dengan kondisi ini kita mengetahui layak atau tidak layak sebenarnya pemekaran itu dilakukan. Maka dari itu, pemekaran seharusnya jangan hanya jadi ajang kepentingan segelintir orang saja, yang kemudian nantinya menjadi parasit dalam pembagian kue APBN,” tegasnya.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Gubsu yang berupaya dikonfirmasi Sumut Pos terkait hal itu, di Lantai 9 Kantor Gubsu Jalan Diponegoro Medan dengan wajah masam dan tampak terburu-buru enggan memberikan keterangannya.
“Belum saya terima itu,” jawabnya dan langsung meninggalkan Sumut Pos.

Sebelumnya, ajudan Gatot, Ridwan Panjaitan sempat memberi penjelasan kalau Gatot sudah terlambat untuk mengikuti Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Bank Sumut. “Jangan wawancara ya, bapak lagi sibuk. Sudah terlambat mau mengikuti rapat di Bank Sumut. Di Bank Sumut saja wawancaranya,” katanya.(ari)

Alat Perang Kadhafi Hancur 80 Persen

TRIPOLI- Kekuatan perang pasukan pemimpin Libya, Muammar Kadhafi mulai melemah. Hal itu diakibatkan adanya serangan bom yang dilakukan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) di dekat kediaman Kadhafi dan di gudang penyimpanan  pesawat-pesawat perang.

Sebagian besar atau sekitar 80 persen pesawat perang yang dimiliki pasukan pemimpin Libya itu membuat Angkatan Udara Libya hanya bisa dengan helikopter saja. “Angkatan udara Libya tampaknya telah hancur,” kata Menteri Gerard Lenguet, kepada AFP, Rabu (18/5).

Dia menyebutkan, militer itu telah menderita kehilangan sangat besar atau sepertiga peralatan beratnya hancur dan sekitar separuh dari persediaan amunisinya. “Sekarang ini hanya angkatan laut yang bisa terhindar dari serangan NATO, kehadirannya bukan bahaya besar dan kapal-kapalnya telah tinggal di pelabuhan tempat kapal-kapal itu tidak menimbulkan ancaman. Pertahanan anti-udaranya juga telah diserang dengan serius,” sebutnya.

NATO mengambilalih komando operasi yang dimulai pasukan Inggris, Prancis dan Amerika Serikat (AS) yang ditujukan untuk mengekang serangan Kadhafi, dalam upaya untuk melindungi warga sipil, dalam perangnya dengan pemberontak yang didukung Barat dan berusaha untuk menjatuhkannya.

Tekanan bertambah besar pada Kadhafi, Selasa, ketika menteri perminyakannya Shukri Ghanem tampaknya telah membelot, Moskow mengeluarkan kecaman dan jet-jet NATO menggempur Tripoli, sementara seorang penuntut mengupayakan surat perintah penangkapannya karena kejahatan terhadap umat manusia.

Pemerintah Kanada operasi udara NATO di Libya, telah mengusir lima diplomat dari kedutaan besar Libya di Ottawa karena mereka melakukan kegiatan yang tak layak.

Kanada menyatakan negara itu belum memutuskan hubungan diplomatik antara kedua negara, tapi operasi di kedutaan besarnya di Tripoli, ibu kota Libya, telah dibekukan.

“Semua kegiatan yang dilakukan di Kanada oleh kelima diplomat Libya dipandang tak layak dan tidak sejalan dengan fungsi diplomatik normal,” kata Departemen Urusan Luar Negeri Kanada di dalam satu pernyataan singkat.
Sementara itu, Rusia yang menerima utusan pemimpin Libya, Muammar Kadhafi untuk mematuhi resolusi PBB. Hal itu dikemukakan seiring Moskow yang berusaha memposisikan diri sebagai mediator dalam konflik tersebut.

Kunjungan ke Moskow tersebut dilakukan Muhammad Ahmed al-Sharif, Sekretaris Jenderal World Islamic Call Society, kelompok Libya yang dibentuk oleh Kadhafi.
“Kami mengangkat isu-isu yang langsung dari posisi utama kami dan ditujukan pertama dan terpenting untuk segera mengakhiri pertumpahan darah di Libya,” kata Menteri Luar Negeri, Sergei Lavrov setelah pembicaraan dengan al-Sharif.

Adapun resolusi yang diminta, sebutnya setiap penggunaan kekuatan militer yang menentang kedamaian warga sipil harus dihentikan. Moskow, yang sangat kritis terhadap kampanye internasional terhadap rezim Kadhafi, setuju untuk berbicara dengan utusan kedua belah pihak.

Lavrov mengatakan bahwa utusan itu mengatakan kepada Moskow jika Tripoli siap bekerja sama, maka oposisi dan NATO juga menghentikan permusuhan. (bbs/jpnn)