Home Blog Page 15394

Gatot Diminta Copot Kabiro Binsos

MEDAN- Massa yang tergabung dalam Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Lembaga Penyalur Aspirasi Rakyat (Lempar) berdemo di Kantor Gubsu Jalan Diponegoro Medan, Rabu (18/5). Mereka menuntut agar Pelaksana Tugas (Plt) Gubsu Gatot Pujo Nugroho mencopot Kepala Biro Keuangan Muhammad Syafi’i dan Kepala Biro Binsos Provsu Hasbullah Lubis, karena diduga terlibat kasus dugaan korupsi Dana Bantuan Sosial (Bansos) di Pemprovsu Tahun Anggaran (TA) 2009 sebesar Rp215,17 miliar.

Selain itu, massa juga meminta Gatot Pujo Nugroho untuk mencopot Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Pemprovsu, yang terindikasi korupsi serta melakukan kocok ulang usulan Sekretaris Daerah (Sekda) Provsu.
“Sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Gubsu, harusnya bisa mengambil sikap atas bawahannya yang telah melakukan korupsi. Kita ingin Sumut ini bersih dari para koruptor,” ungkap Rahman Sirait, koordinator aksi dalam orasinya.

Tuntutan lainnya yang dikemukakan massa Lempar, meminta Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejatisu) mengusut tuntas kasus dugaan korupsi penyelewengan dana Bansos tersebut. “Apabila Kejatisu kurang mampu dalam waktu semaksimal mungkin, untuk mengusut tuntas kasus dugaan korupsi tersebut, kami akan mendesak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk turun secepatnya ke Sumut guna menuntaskan kasus korupsi itu,” tegas Rahman lagi. (ari)

Produksi 200 Butir Sehari

Polresta Medan Gerebek Home Industri Pil Ekstasi di Glugur

MEDAN- Sebuah rumah kontrakan di kawasan Jalan Pembangunan III Glugur Medan yang dijadikan tempat home industri narkoba jenis ekstasi digerebek Sat Narkoba Polresta Medan, kemarin. Dalam penggerebekan tersebut, petugas menyita barang bukti berupa 3.000 butir ekstasi siap edar, dua mesin cetak dan bahan baku pembuatan pil ekstasi.

Sedangkan penghuninya atau pembuatnya, Andika alias Ationg (34) asal Bagan Siapiapi ditangkap di rumah makan siap saji di Jalan Sumarsono dengan barang bukti 2.000 butir pil ekstasi.

Kapolresta Medan Kombes Pol Tagam Sinaga didampingi Kasat Narkoba Kompol Amry Siahaan, Rabu (18/5), kepada wartawan koran ini di ruang kerjanya mengatakan, penangkapannya berawal, petugas mendapat informasi dari masyarakat bahwa ada seorang peracik pil ekstasi berada di rumah makan siap saji di Jalan Sumarsono untuk menyerahkan ribuan butir pil ektasi agar diedarkan.

Berdasarkan laporan tersebut, petugas langsung turun ke lokasi untuk melakukan pengecekan. Setibanya di lokasi, petugas yang melihat tersangka sedang duduk di salah satu meja yang berada dipojok dengan memegang bungkusan plastik merasa curiga. Kemudian petugas langsung menghampirinya dan menangkapnya. Saat diperiksa, ternyata bungkusan plastik yang dipegang pria tersebut berisi 2.000 butir pil ekstasi. Sedangkan kurirnya tidak berhasil ditangkap karena keburu kabur.

Tersangka langsung diboyong ke komando untuk diperiksa. Saat diintrogasi, tersangka mengaku membuat pil ekstasi sendiri di rumah kontrakannya di kawasan Jalan Pembangunan III Glugur Medan. Berdasarkan pengakuan tersangka, petugas langsung menuju ke rumah kontrakannya tersebut. Di rumah kontrakan itulah petugas berhasil menemukan mesin pembuatan pil ekstasi dan sebanyak 3.000 butir pil ekstasi yang telah siap edar.

Dari pengakuan tersangka Ationg, ia sudah beroperasi selama 6 bulan. Dirinya hanya sebagai pembuat, sedangkan yang mengedarkan ada seorang temannya yang sekarang ini masih buron. Dikatakannya, bahan baku pembuatan pil ekstasi ini dibelinya di Medan semuanya. Mengenai peredarannya tidak diketahui karena yang mengedarkan bukan dirinya.

Dari hasil pemeriksaan, kata Kapolresta Medan, diketahui, satu butir ektasi tersebut dijual dengan harga Rp60 ribu sampai Rp80 ribu. “Kami belum bisa memastikan peredaran barang haram ini di mana saja. Karena kami terputus informasi, karena kurirnya belum tertangkap. Maka dari itu kami akan tangkap kurirnya biar mengetahui peredarannya di mana saja dan apakah tersangka ini mempunyai jaringan internasional atau tidak,” ungkap Tagam.
Kemudian diterangkannya, dalam sehari dua mesin cetak tersebut bisa memproduksi 200 butir pil ekstasi. Sekarang ini, tersangka masih menjalani pemeriksaan secara intensif guna menunggu proses selanjutnya sekaligus untuk dilakukannya pengembangan. Saat ini petugas masih terus memburu kurir yang kabur tersebut.(mag-8)

Keterlibatan Razali Terus Ditelusuri

Kasus Pungli Jembatan Timbang Sibolangit

MEDAN- Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara masih terus menelusuri keterlibatan Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) Sumatera Utara Razali terkait pungutan liar di sejumlah jembatan timbangan di Sumut.

“Kasus itu masih bergulir. Saat ini kita masih menelusuri adanya indikasi keterlibatan pejabat itu (Razali, Red). Sedangkan ketiga oknum pegawai Dishub Sumut itu, sekarang BAP hanya tinggal penyempurnaan saja,” kata Kasi Penkum Kejatisu Edi Irsan Tarigan SH kepada wartawan, Rabu (18/5).

Dikatakan Edi Irsan, sejauh ini pihaknya masih menelusuri soal adanya dugaan keterlibatan pejabat di kalangan Dinas Perhubungan Sumut. “Sudah banyak yang kita periksa dalam perkara tersebut. Kalau tidak salah 16 orang yang sudah diperiksa termasuk Kepala Dinas Perhubungan Sumut Razali. Mengenai adanya keterlibatan pejabat yang bersangkutan,” tegas Edi.

Dia juga mengatakan, penelusuran itu guna mencari tahu soal adanya informasi tentang aliran dana sebesar Rp300 juta per bulan pada pejabat yang bersangkutan. “Kita belum dapat membuktikan apakah aliran dana itu masuk ke rekening bank yang bersangkutan atau tidak. Apabila tidak ditemukan, maka yang bersangkutan tidak bisa dilibatkan dalam pungli itu,” bebernya.

Sebelumnya, dua pejabat Dishub Sumut yakni Wakil Kepala Jembatan Timbang Maju Tarigan dan Bendahara penerimaan Reti Meliana diperiksa penyidik Kejatisu.

Keduanya dimintai keterangannya terkait kasus dugaan korupsi di Jembatan Timbang Sibolangit, Deli Serdang.
Pemeriksaan kedua pejabat tersebut untuk mencari tahu aliran dana yang dikutip tiga oknum pegawai Jembatan Timbang Sibolangit. Sebab, ketiganya yang telah berstatus tersangka itu menyebutkan kemana aliran uang tersebut.
Diketahui, tiga pegawai Dishub Sumut yang bertugas di Jembatan Timbang Sibolangit yakni Marlon Sinaga, Ahmad Sofyan dan Panal Simamora tertangkap tangan menerima uang suap dari para sopir truk. Berdasarkan pengembangan penyelidikan, perbuatan tersangka termasuk korupsi. Tim Kejaksaan juga menyita Rp16,4 juta serta uang hasil retribusi sesuai yang tertera dalam buku registrasi senilai Rp1,2 juta. (rud)

Spesialis Pembongkar Brankas Dibekuk

MEDAN- Unit Jahtanras Dit Reskrim Poldasu meringkus seorang tersangka dari kawanan spesialis pembongkar brankas di perkantoran, Rabu (18/5) dini hari.

Keterangan yang diperoleh, tersangka Santoso (40), diringkus dirumahnya di Desa Pegajahan, Serdang Bedagai. Penangkapan ini berdasarkan hasil pengembangan atas keterangan tersangka lainnya, Teguh (36) yang telah diringkus duluan.

Menurut Kasubid II Krim Um, Kompol Andri Setiawan, tersangka sudah empat kali melakukan aksi pembongkaran brankas di Medan. “Dari pengakuannya di Jalan Kapten Sumarsono dan Padang Bulan, sedangkan dua lagi dia sudah lupa. Karena, selain di Medan, tersangka juga melakukan aksinya di Kalimantan. Dan tersangka juga pernah menjalani hukuman di Kalimantan,” ucap Andri.

Dalam menjalankan aksinya, lanjut Andri, tersangka bersama kompolotannya berjumlah delapan orang, menjalankan aksinya setelah melakukan perencanaan yang matang. “Sampai saat ini untuk membongkar yang lainnya kita masih melakukan pengejaran,” beber Andri. (adl)

Protes Doorsmeer, Warga Demo Camat

MEDAN – Masyarakat Jalan Halat Gang H Syafiah, Kelurahan Kota Matsum III, Kecamatan Medan Kota, berunjuk rasa ke Kantor Camat Medan Kota, Rabu (18/5) pagi. Mereka menuntut peninjauan ulang keberadaan Doorsmeer Perdana Ekspress Service, di lingkungan mereka karena dianggap telah mencemari lingkungan dan mengganggu kenyamanan warga sekitar.

Dalam aksi itu, massa juga meminta Wali Kota Medan mencopot Camat Medan Kota Irfan Syarif Siregar, Lurah Kota Matsum III dan Kepala Lingkungan 18. Pasalnya, menurut warga, mereka dinilai memanfaatkan jabatan untuk melakukan tindakan kolusi dan intimidasi terhadap warga yang memprotes keberadaan doorsmeer tersebut.

Camat Medan Kota Irfan Syarif Siregar yang dikonfirmasi malah mempertanyakan, mengapa baru sekarang warga protes. Padahal, doorsemeer tersebut telah dibangun empat tahun lalu. Namun begitu, dia berjanji akan menindaklanjuti keluhan warga itu.(adl)

Penimbunan Distop, Aktivitas Tetap Jalan

MEDAN- Sudah tiga hari truk pengangkut tanah timbun tak masuk ke areal pembangunan komplek ruko yang rencananya akan dijadikan showroom distributor kendaraan bermotor di Jalan SM Raja, Medan Amplas. Namun, aktivitas di dalam lokasi area pembangunan tetap berjalan.

Camat Medan Amplas Edliyati Siregar yang dikonfirmasi wartawan koran ini mengungkapkan, pihaknya tidak melarang aktivitas yang ada di dalam areal pembangunan tersebut.

Namun yang dilarang adalah aktivitas keluar masuknya truk yang mengangkut tanah timbun, karena dapat mengganggu kenyamanan masyarakat.  “Aktivitas masuknya truk tidak diizinkan, tapi aktivitas di dalam areal dipersilahkan saja. Karena dasarnya mereka sudah memulai pembangunan,” ujar Edliati Siregar yang dikonfirmasi melalui ponselnya, Rabu (18/5).

Dikatakan Eldiati, aktivitas keluar masuknya truk tidak dizinkan hingga izinya diurus ke Dinas Bina Marga.
Sementara Kapolsek Patumbak, Kompol S W Siregar menuturkan, pihaknya tetap menjalankan perintah dari Muspika Medan Amplas untuk menutup aktivitas penimbunan sampai pihak pembangunan mengurus izinnya ke dinas terkait.

“Kita tetap menjalankan perintah dari Muspika setempat untuk menutup aktivitas penimbunan,” beber Soni.
Sementara pantauan wartawan koran ini, mobil patroli Polsek Patumbak tetap melakukan penjagaan di sekitar lokasi dengan memarkirkannya di pinggir Jalan SM Raja. Personil yang memakai pakaian sipil terlihat duduk disekitar warung yang berdiri didepan lahan area pemabngunan untuk mengantisipasi akan adanya penimbunan yang dilakukan secara diam-diam. Sedangkan aktivitas didalam araea tetap tidak dilakukan. Kita disini menjaga bukan melakukan pengawasan dari adanya aktivitas penimbunan di area,” ujar petugas patroli yang berjaga.(adl)

Nuklir Tidak Habis Pikir

Setahun Hanya Mati Lampu 3 Menit

SAYA tidak habis pikir: Tetangga terdekat Jepang ini sama sekali tidak terpengaruh oleh heboh pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Fukushima. Korea Selatan tetap bersemangat, bukan saja menjalankan PLTN yang sudah ada, melainkan juga terus membangun PLTN baru. Gempa dan tsunami hebat yang menghancurkan PLTN Fukushima pada Maret lalu ternyata sebatas membuat Korsel lebih waspada.

Tidak ada satu pun PLTN di Korsel yang berjumlah 20 unit itu yang dihentikan operasinya. Bahkan, yang sedang dibangun pun tetap dikebut penyelesaiannya. Akhir bulan lalu, setelah memeriksakan liver baru saya di rumah sakit di Tianjin, saya mampir ke Korsel. Jarak ke negara itu, dari Tianjin, hanya satu jam penerbangan. Saya ingin menyaksikan benarkah pemerintah Korsel tidak terpengaruh tekanan antinuklir yang dengan kejadian di Fukushima mendapat momentum yang tepat.

Ternyata benar. Saya dibawa ke pantai tenggara Korsel yang posisinya menghadap ke arah Fukuoka, Jepang. Korsel memiliki 20 PLTN dan semuanya di pantai. Praktis, sepanjang pantai timur dan selatan Korsel padat dengan PLTN.

Di lokasi yang saya tinjau ini, misalnya. Bukan hanya PLTN yang sudah ada sebanyak 4 unit tetap beroperasi, bahkan akan ditambah lagi dua unit baru. Dua unit baru ini saya lihat sedang giat-giatnya diselesaikan. Terlihat begitu banyak pekerja di kedua proyek itu. Korsel yang dikenal disiplin pada jadwal proyek itu memang ingin menyelesaikan dua proyek PLTN itu satu bulan lebih cepat dari jadwal seharusnya: akhir tahun ini juga.

Dua unit yang sedang dalam penyelesaian itu salah satunya dibangun grup Samsung. Rupanya, Samsung pun sudah merambah ke bidang pembangunan PLTN. Ini bukan kunjungan saya yang pertama ke PLTN. Tahun lalu saya ke PLTN Genka di Kyushu, Jepang. Namun, baru kali ini saya melihat proyek PLTN yang sedang dikerjakan. Inilah kesempatan baik bagi saya untuk melihat “jantung?-nya PLTN yang tidak mungkin bisa dilihat lagi setelah proyek itu selesai.

Kebetulan tahap pembangunan PLTN oleh Samsung ini sudah mencapai titik menjelang akhir. Bangunan fisik reaktornya sudah jadi, namun masih bisa dimasuki untuk melihat dalamnya. Bagian-bagian yang berada di bawah air sudah dipasang. Tapi, karena airnya sangat jernih, bagian tersebut masih bisa dilihat samar-samar. Reaktornya sendiri yang kelak diisi uranium itu belum dipasang, tapi sudah siap di sebelah “kolam” itu. Tinggal mengangkat dan memasukkannya ke kolam, disatukan dengan bagian bawahnya yang sudah berada di dalam air.

Peralatan-peralatan lain juga sudah dipasang, tapi masih bisa ditinjau dari jarak dekat: proses steam, turbin, generator, dan ruang kontrol. Berada di dalam kubah besar bangunan PLTN yang sudah jadi, kita bisa melihat tebal dan berlapis-lapisnya material yang sangat khusus untuk dinding kubah itu. Kita juga bisa melihat sistem pendingin yang berlapis-lapis yang sudah tidak akan seperti Fukushima yang memang masih menggunakan teknologi 40 tahun lalu itu.

Ketergantungan Korsel akan PLTN memang tidak bisa dihindari lagi. Sudah terlalu besar peran PLTN untuk pasokan listrik di Korsel: sudah 30%. (30 persennya lagi PLTU batubara dan sisanya PLTG). Kalau PLTN di Korsel dihentikan, ekonomi negara gingseng yang lagi ingin mengalahkan Jepang itu bisa langsung ambruk.

Apalagi Korsel telanjur mengandalkan PLTN bukan hanya untuk kecukupan pasokannya, tapi juga untuk menjaga keandalan listriknya, efisiensinya, dan murahnya harga listrik.

Soal murah ini saya hampir-hampir tidak percaya. Sebab, ketika di Jepang tahun lalu saya mendapat keterangan harga listrik dari PLTN masih USD 17 cent/kWh. Rasanya saya tidak salah mendengar saat itu. Rasanya saya juga sudah mengulangi beberapa kali pertanyaan saya itu dan jawabnya sama: USD 17 cent/kWh. (Baru setelah di PLN saya tahu bahwa dalam menulis kWh, huruf W-nya harus besar karena berasal dari nama orang yang menemukan listrik, James Watt).

Tapi, di Korsel ini saya mendapat penjelasan yang sangat mengejutkan. Harga listrik dari PLTN hanya USD 3,9 cent/kWh. Untuk rupiah sekarang, ini hanya sekitar Rp 350/kWh. Bandingkan dengan harga listrik dari PLTU batubara yang kini sudah mencapai Rp 600/kWh. Atau bandingkan dengan harga listrik yang diproduksi dengan minyak solar di Tambak Lorok (Semarang) atau di Muara Tawar, Tanjung Priok dan Muara Karang (semuanya di sekitar Jakarta) yang saat ini mencapai Rp 3.000/kWh. Praktis, 10 kali lipat lebih mahal daripada listrik nuklir Korsel. Apalagi, kalau dibandingkan dengan produksi listrik di pulau-pulau luar Jawa yang mencapai Rp 3.500/kWh.

Saya sungguh mengira salah dengar. Lebih lima kali saya mengulangi pertanyaan saya itu. Khawatir masih salah dengar, saya minta dituliskan di atas kertas. Mula-mula saya yang menuliskannya. Dia pun membenarkan. Lalu saya minta dia sendiri yang menulis. Ternyata sama: USD 3,9 cent/kWh.

Saya masih takut teperdaya. Ketika mengunjungi PLTA (pembangkit listrik tenaga air) pumped storage di Yang Yang, tiga jam naik mobil dari Seoul, saya bertanya ke pejabat tinggi Kepco (PLN-nya Korsel). Ini berarti saya bertanya ke pihak pembeli. Saya ingin membandingkan keterangan pihak PLTN (penjual listrik) dengan keterangan Kepco sebagai pihak pembeli (untuk disalurkan ke masyarakat).

Pertanyaan saya: berapakah Kepco membeli listrik dari pembangkit-pembangkit nuklir? Jawabnya: USD 3,9 cent/kWh.

Bahkan, pejabat tinggi “PLN Korsel” itu menuliskan daftar harga listrik yang dia beli dari berbagai jenis pembangkit. Nuklir 3,9 cent, PLTU batubara: 6,0 cent, PLTA: 13,8 cent, PLTA pumped storage: 20,1 cent.

PLTA pumped storage menjadi paling mahal karena sifatnya yang khusus. Inilah pembangkit listrik yang menggunakan air, tapi hanya dijalankan lima jam sehari, yang disebut waktu beban puncak. Kalau di Indonesia, beban puncak itu terjadi antara pukul 6 sore sampai 10 malam, ketika semua orang menyalakan listrik di rumah masing-masing.

Pada jam-jam seperti itu semua air di waduk yang di atas sana ditumpahkan ke turbin untuk menghasilkan listrik. Setelah pukul 10 malam, ketika rumah-rumah mulai mematikan listrik, operasi dihentikan. Air yang sudah diterjunkan ke waduk bawah tadi dipompa lagi ke atas dimasukkan ke waduk atas. Begitulah terus-menerus sepanjang hari. Airnya diputar dengan cara yang amat mahal.

Untuk kali pertama PLN akan membangun proyek seperti ini di Cisokan, dekat Bandung. Setelah diadakan penelitian, untuk seluruh Jawa hanya satu tempat ini yang bisa dipakai untuk pembangkit listrik sistem khusus ini.

Setelah mendapat keyakinan harga tadi, barulah saya mengerti mengapa industri di Korsel bisa mendapat harga listrik lebih murah dari Indonesia. Padahal, di Tiongkok saja, yang harga-harga barangnya lebih murah, listrik untuk industrinya lebih mahal dari Indonesia.

Dari sini juga saya tahu bahwa mati lampu di Korsel menjadi yang terbaik di dunia. Setahun hanya mati lampu 3 menit. Salah satunya karena pasokan listriknya sangat andal. (Indonesia: 2009 mati lampu 150 kali; 2010 turun jadi 50 kali; 2011 ini ditargetkan hanya 9 kali rata-rata per pelanggan per tahun).

Dari sini pula saya bisa maklum mengapa pemerintah Uni Emirat Arab tidak membatalkan proyek nuklirnya. Samsung juga yang akan mengerjakan empat unit PLTN di Uni Emirat Arab, masing-masing 1.400 MW itu. “Kami terus bekerja di sana,” ujar pejabat tinggi Samsung yang menemani saya.

Tapi, tidakkah rakyat Korsel takut akan terjadi seperti di Fukushima? Itu yang membuat saya bertanya-tanya. Kalaupun pemerintahnya tidak terpengaruh, apakah rakyatnya juga tidak takut” Saya pun mencari kesempatan untuk menanyakan hal itu kepada orang biasa di keramaian Kota Seoul. Ada yang pekerjaannya sopir, ada juga yang pegawai kantor swasta.

Pertanyaan yang saya ajukan sama: apakah tidak takut dengan listrik nuklir? Jawabnya mirip-mirip: ada juga ketakutan itu, tapi tidak seberapa besar. Lalu saya bertanya lagi: seandainya rasa takut itu dibuat skala antara 1 (tidak takut sama sekali) sampai 100 (sangat takut), di skala berapakah ketakutan Anda itu? Jawab mereka juga miri-mirip: di antara skala 15 sampai 20. Wallahualam.

Siswa Dharmawangsa Terperosok di Bawah Truk

LABUHAN- Seorang siswa SMA Kelas II di Yayasan Perguruan Dharmawangsa, M  Surya (17) terperosok ke bawah truk, Rabu (18/5). Akibatnya, pengendara Yamaha Mio BK 4234 AJ kritis.

Peristiwa itu terjadi saat Surya baru pulang sekolah. Tepat di Jalan KL Yos Sudarso KM 10,5, Kelurahan Kota Bangun,  Medan Deli.

Ketika itu, warga Jalan Tangguk Damai, Komplek Griya Martubung, Blok XI  Kelurahan Besar, Medan Labuhan hendak memotong mobil, tapi tiba-tiba truk nomor polisi BK 9615 LB datang dari arah berlawanan. Surya terkejut, dan terjatuh hingga terseret masuk ke bawah kolong truk. Seorang saksi mata, Heni (32) menceritakan pengendara Yamaha Mio itu sangat kencang dan ingin memotong mobil,  namun sampai di tengah mobil ada truk dari arah berlawanan, akibatnya terjadi tabrakan. (mag-11)

Berkah Seni Tradisi

Drs H Fahmi Ahmad

Pengalaman berkeliling dunia menjadi motivasi bagi Drs Fadlin MA (50) untuk bergelut di dunia kesenian khususnya seni tradisional. Meskipun kerap disambut sepi, pemikirannya pun siap disumbangkan untuk kemajuan daerah kelahiran.

BEGITULAH, di usia yang setengah abad masih terpancar semangat berkesenian yang tak pernah padam. Seperti saat ditemui Sumut Pos di Kantor Departemen Etnomusikologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara, Rabu (18/5). Dengan menggebu, pengalaman selama tampil di luar negeri diceritakan sebagai buah dari eksistensi di dunia kesenian tradisi yang dilakoninya hingga saat ini.

“Sejak 1983 saya bersama teman-teman di Lembaga Kesenian (LK) USU berangkat ke Australia dengan konsep yang didominasi kesenian tradisional Melayu. Seperti Teater Makyong, Serampang Dua Belas, dan beberapa kesenian etnis lainnya. Artinya saya itu ke luar negeri dari seni tradisional ini,” ucap Fadlin.

Tak lama setelah itu, pada 1985 kegiatan di seni tradisional kembali membawa suami Nazliana ini ke Eropa. Perjalanan yang dimulai di Inggris dan berakhir di Jerman Barat itu pun dikabarkan mendapat antusias yang tinggi di tiap negara yang disinggahi. Sementara untuk negara-negara Asia, sudah tidak terhitung lagi perjalanan yang digelar seperti Malaysia, Thailand, China, dan lain sebagainya.

Tidak cukup hanya menjadi pengisi kegiatan, Fadlin pun menggagas kegiatan budaya yang diberi nama Pesta Gendang Nusantara di Malaka-Malaysia 1995 silam. Kegiatan yang tiga tahun kemudian mendapat perhatian dari dunia internasional ini pun menjadi agenda peringatan HUT Malaka. Begitu juga dengan Pesta Pantun Nusantara yang digagas 2010 lalu.

“Pihak kerajaan sangat mendukung kegiatan kebudayaan seperti itu. Pesta Gendang Nusantara itu bahkan bertambah dengan jemputan antar bangsa dimana China menjadi undangan pertama 1998 silam. Kegiatan ini sudah kali XIV dilaksanakan. Pesta Pantun Nusantara yang dibuat di atas kapal juga menyedot perhatian dunia. Ini membuktikan bagaimana budaya tradisional yang dikemas dengan baik dapat mendatangkan pemasukan dari bidang pariwisata,” beber penerima Anugerah Pewaris Aktivis Seni Budaya Melayu Serumpun dari Perdana Menteri Malaysia kala dijabat Ahmad Badawi 2007 lalu.

Bagi Fadlin keberagaman yang ada di Sumut merupakan potensi yang besar untuk dunia pariwisata. Apalagi sebagai ibu kota, Medan memiliki ruang yang cukup untuk melaksanakannya. Dirinya mengaku prihatin Pekan Budaya Melayu yang tak lagi pernah digelar. “Padahal setiap kita ke luar negeri, banyak yang bertanya kapan Kota Medan jadi tuan rumah,” ketusnya.

Keterlibatan Fadlin dengan kesenian justru terjadi saat menjadi mahasiswa di Jurusan Etnomusikologi USU. Dimulai dari musik, ayah dari Bagaz Albar, Chairanda Savero, dan Nasywa Kamila ini memilih gendang dengan bimbingan Tengku Danil yang merupakan putra dari Tengku Perdana. “Sebagai keturunan Melayu sebenarnya saya sudah kenal dengan budaya tapi cuek. Sejak di Etnomusikologi saya mulai serius,” kenangnya.

Tidak hanya kesenian Melayu, kekayaan budaya di masing-masing etnis yang ada di Sumut pun menggelitiknya untuk mempelajari. Ditambah lagi keterlibatan di LK USU menuntut penguasaan tidak hanya dalam bermusik juga bernyanyi dan menari. Dirinya bahkan menjadi salah satu andalan untuk vokal tradisional bersama Basir Tarigan. Fadlin juga menguasai unsur-unsur pada tari daerah Dairi, Taktak Garo-garo yang semakin langka ini.

Ketika dipercaya memimpin LK USU Fadlin pun menawarkan konsep marger sehingga memberi kesempatan yang luas bagi aktivis seni tradisional di dalamnya. Perjuangan dalam pelestarian budaya tradisional tadi membawa jebolan University of Malaysia ini bergabung dengan Alm Tengku Lukman Sinar sebelum mendirikan sanggar Anugerah Seni Medan. Dirinya juga pernah dipercaya menjadi Ketua Seni dan Budaya MABMI periode 2000-2003. (jul)

Terjun di Dunia Seni Harus Kuat Keuangan

Eksistensi dalam berkesenian tradisional diikuti pula dengan sudut pandang yang realistis. Beberapa usaha dibuka untuk menunjang aktivitasnya mengembangkan seni tradisi Sumatera Utara.

“Berkesenian itu untuk dinikmati jadi harus juga kuat di keuangan,” ucap pria yang murah tersenyum ini.
Untuk itu di sela-sela kesibukannya, Fadlin bersama sang istri Nazliana membuka usaha kuliner di kediamannya seputar Jalan Kapten Muchtar Basri No110 Glugur Darat-Medan sejak 1997 silam. Tanpa ada pengetahuan tentang usaha dan keahlian tentang membuat kue, keduanya mencari referensi dari buku dan media cetak bagaimana cara membuat kue yang baik dan benar. Akhirnya kami sepakat dengan membuat donat. Modal awal, keahlian, pengetahuan, peralatan semua serba apa adanya.

Dari proses pencaharian yang tak pernah lelah, usaha itu berhasil menemukan kekhasannya. Sebagai produsen oleh-oleh khas Kota Medan “Nazwa” memiliki ‘bolu pisang’ sebagai andalan di samping seratusan jenis kue lainnya. yang dapat dinikmati mulai Rp50.000 hingga Rp150.000 untuk lapis legit spesial. Ada juga aneka bubur yang pantas untuk dicicipi. Setelah sukses di usaha pembuatan roti, Fadlin mengembangkan usaha itu dengan membuka cafe dan usaha katering.

Perkembangan di dicapai juga turut dirasakan masyarakat. Saat ini Nazwa Aneka Kue memiliki team kerja 26 orang untuk produksi kue dan masak. Team ini terdiri dari sebagian anggota keluarga dan anak anak daerah yang dibimbing mulai dari dasar.

“Usaha kuliner sangat menjanjikan untuk berkembang. Yang penting kita bisa menampilkan sesuatu yang beda dari kebanyakan. Kalau punya cita rasa tersendiri pasti dikejar orang,” bebernya. (jul)

Polsek Medan Area Aktifkan Razia Siang Hari

MEDAN- Maraknya aksi pencurian kenderaan bermotor, perederan narkoba, senjata api dan senjata tajam, Polsekta Medan Area menggelar razia di Jalan Sampali simpang Jalan Gabus, Rabu (18/5) siang 13.30 WIB.
Dalam razia tersebut, 6 unit sepeda motor terjaring tanpa dilengkapi dokumen yang lengkap. Frengki Tampubolon (26) seorang warga yang sepeda motornya terjaring saat razia mengaku, dirinya tak mengetahui kalau di Jalan Sampali simpang Jalan Gabus sedang ada razia petugas.

Wakapolsekta Medan Area, AKP Iskandar, mengatakan, razia ini digelar untuk mempersempit ruang gerak pelaku tindak kriminal. “Razia tak bisa ditentukan dan razia ini rutin dilaksanakan agar wilayah di Polsekta Medan Area kondusif,” ungkapnya. (jon)