Home Blog Page 15417

Kuyt Perpanjang Kontrak

DIRK Kuyt mendapat suntikan moral kala Liverpool bersua Arsenal, Minggu (17/4) malam. Bagaimana tidak, kontrak penyerang asal Belanda akhirnya diperpanjang hingga 2013.
Striker enerjik ini bergabung dari Feyenoord sejak 2006 lalu.

Perpanjangan kontrak ini adalah penghargaan bagi performanya musim ini, termasuk kala mencetak hattrick saat bertemu Manchester United, beberapa waktu lalu.
“Saya sangat gembira. Kami menghabiskan waktu lama tetapi dengan maksud meraih persetujuan, dan dijalani dengan suasana bersahabat,” tuturnya.

“Hal ini sangat sesuai dengan perasaan saya pada klub ini.
Sejak hari pertama saya bergabung, saya merasa diterima. Perasaan ini tidak pernah hilang dalam ingatan saya,” tambahnya. (net/jpnn)

Taufik Kecam Regenerasi Pemain

PONTIANAK- Pebelutangkis Profesional Taufik Hidayat di Pontianak, Sabtu, menyatakan regenerasi atlet cabang olah raga bukutangkis di Indonesia sedikit terlambat sehingga sempat vakum. “Regenerasi cabang olah raga bulutangkis sedikit agak terlambat,” kata Taufik Hidayat.

Ia tidak mengetahui pasti penyebab keterlambatan itu. “Karena saya bukan pelatih sehingga tidak mengetahui secara pasti penyebab keterlambatan regenerasi atlet olah raga bulutangkis di Indonesia,” ujarnya.

Oleh karena itu Taufik menyambut baik langkah-langkah seperti dilakuan MILO dalam memajukan bulutangkis Indonesia yang rutin melakukan turnamen bulutangkis seperti “MILO School Competition”.

“Mudah-mudahan dengan diadakannya kejuaran seperti ini akan menciptakan atlet-atlet baru bulutangkis yang tangguh sehingga membawa nama baik Indonesia di dunia internasional,” katanya.

Grand Manajer MILO Rosita Taher mengatakan, jumlah peserta yang mengikuti “MILO School Competition” di Pontianak sejak 11-16 April memperebutkan Piala Taufik Hidayat sebanyak 607 siswa dari SD hingga SMP.
“Mudah-mudahan dengan penyelanggaraan ini akan tercipta bibit – bibit atlet bulutangkis baru selain di Pulau Jawa, karena selama ini penjaring atlet cenderung baru di Pulau Jawa,” katanya. (net/jpnn)

Makan tak Teratur Bikin Tubuh Melar

Sudah berusaha mengurangi makan, tetapi tubuh masih juga melar? Bisa saja hal ini dipicu kebiasaan makan asal makan tanpa aturan jam makan. Ternyata, jam makan sangat berbubungan erat dengan berat badan. Jadi ada baiknya mulailah mengatur jam makan lebih tertib.

Kesibukan kerja sering membuat orang melupakan jam makan. Makan sambil bekerja atau makan setelah larut malam atau makan asal kenyang. Cara makan yang sembarangan ini ternyata turut mempengaruhi pencapaian berat badan ideal.

Inilah yang dibuktikan oleh riset yang dilakukan Northwestern University. Mereka menemukan bahwa makan sembarangan berpengaruh pada berat badan. Misalnya, makan saat tengah malam menjelang tidur, tubuh perlu istirahat akan mengacaukan metabolisme tubuh yang berakibat pada kenaikan berat badan.

Soal seseorang mencapai berat badannya merupakan hal yang cukup rumit. ‘Tetapi masalahnya bukan hanya soal kalori yang masuk dan keluar saja,’  jelas Fred Turek, Professor di Weinberg College of Arts and Sciences dan direktur Center for Sleep and Circadian Biology.

Turek menduga ada faktor jam biologis tubuh yang ikut berpengaruh pada berat badan.  ‘Makan teratur memang menuntut perubahan kebiasaan, tetapi bisa membuat berat badan terkendali,’ demikian tegas Turek.
Riset memperlihatkan bahwa makan tak teratur bisa langsung mempengaruhi berat badan. Seperti yang diamati pada tikus yang diberi makanan tinggi lemak  pada jam tidur terbukti  berat badannya meningkat  hingga 48 persen. Sebaliknya  tikus yang makanan yang sama tetapi pada jam makan yang teratur berat badannya stabil.

“Salah satu yang menjadi perhatian riset kami adalah para pekerja shift, yang cenderung kelebihan berat badan. Jadwal kerja memaksa mereka makan pada jam yang bertentangan dengan jam  tubuh alaminya. Kami terus melakukan pendalaman pada riset ini,” kata  Deanna M Arble, seorang doktor yang terlibat pada penelitian Turek. Inilah sedikit bukti bahwa makan tak teratur akan berakibat pada kenaikan berat badan.

Jadi buat mereka yang ingin tetap ramping dan menjaga berat badan, sebaiknya mulailah makan teratur. Makan pada waktu makan dengan porsi tak berlebihan akan menjaga berat badan tetap stabil. (net/jpnn)

Maria Ditantang Juan Gu

SEMARANG- Pebulu tangkis pelatnas asal PB Djarum Kudus, Maria Febe Kusumastuti, bakal bertemu Juan Gu (Singapura) pada babak pertama Turnamen Bulu Tangkis Sunrise India Open Superseries di New Delhi, India, 26 April hingga 1 Mei 2011.

Ketua PB Djarum Kudus, Yoppy Rosimin ketika dihubungi dari Semarang, Sabtu, mengatakan,ini merupakan batu ujian bagi Maria Febe setelah beberapa waktu tidak turun pada turnamen internasional.
Menurut dia, Juan Gu bukan lawan yang mudah dikalahkan apalagi yang bersangkutan berhasil mengalahkan peraih medali perunggu Olimpiade 2008 Beijing, Maria Kristin Yulianti pada Australia Open Grand Prix Gold beberapa waktu lalu dengan angka, 16-21 dan 15-21.

Turnamen internasional terakhir yang diikuti pebulu tangkis peringkat 32 dunia tersebut adalah Proton Malaysia Open superseries (18-23 Januari) dan Victor Korea Open (25-30 Januari).
Pada dua event tersebut Maria hanya sampai pada babak pertama.

Menurut dia, event di India bakal menjadi ajang ujian bagi Maria Febe.
“Saya sudah bertemu dia dan saya dorong dia supaya melihat ke depan, jangan patah semangat setelah tidak diikutsertakan pada beberapa event internasional termasuk All England,” katanya.
Menurut dia, kegagalan pada dua turnamen yang diikutinya dianggap Maria sebagai hukuman sehingga tidak diikutsertakan pada berbagai event internasional.

Jika menang lawan Juan Gu, Maria Febe bakal menantang unggulan pertama dari India, Saina Nehwal.
“Memang berat tetapi harus dicoba dan tetap berusaha sekuat tenaga,” katanya.
Pada turnamen berhadiah total 200 dolar Amerika Serikat tersebut, Saina Nehwal menempati unggulan pertama sedangkan kedua ditempati pebulu tangkis Denmark, Tine Baun Rasmussen, sedangkan ketiga Bae Youn Joo (Korea), dan keempat Yip Pui Yin (Hong Kong).

Selain Maria Febe, pebulu tangkis Djarum Kudus yang turun pada turnamen ini adalah Dionysius Hayom Rumbaka yang pada babak pertama bertemu  Lee Hyun Il. (net/jpnn)

Dua Gol Cosmin Menangkan Bintang Medan

Bintang Medan menang meyakinkan kontra Tangerang Wolves, Sabtu (16/4) sore dengan skor 3-1. Striker asal Rumania, Cosmin Vansea memborong dua gol pada laga itu plus tambahan satu gol dari gelandang, Gaston Salasiwa. Tamu hanya bisa membalas lewat gol striker Wallace Da Silva.

Kemenangan lantas sangat disyukuri Pelatih Bintang Medan Michael Feichtenbeiner. Pada temu pers usai pertandingan dia menuturkan, kemenangan tersebut berhasil dicapai berkat penguasaan lini tengah selama 90 menit penuh.
“Sepanjang pertandingan kami berhasil menguasai lini tengah.  Setelah unggul di babak kedua, lini tengah semakin bagus,” terang Michael.

Menurutnya, keberhasilan mempertahankan hasil positif di babak pertama menjadi pemicu meningkatnya skema serangan di babak kedua.

Gaston yang  tampil baik pada pertandingan tersebut juga tidak luput mendapat pujian darinya. Kendati mengalami cedera pung gung, penampilan Gaston dinilai cukup dahsat. (ful)

Rosihan Anwar

Pribadi Gabungan Wartawan, Diplomat, dan Politikus

PERTEMUAN saya terakhir dengan tokoh wartawan H Rosihan Anwar yang meninggal dunia kemarin pagi itu terjadi enam bulan lalu. Yakni, ketika saya datang ke rumahnya di Jalan Surabaya, di kawasan Menteng, Jakarta, untuk melayat kematian istrinya. Itulah untuk kali pertama saya ke rumah almarhum. Saya tertegun melihat lokasi rumahnya dan lebih-lebih melihat rumahnya.

Selama ini saya hanya tahu bahwa Pak Rosihan, begitu biasa kami memanggil beliau, rumahnya di Menteng. Menteng adalah lambang kementerengan dan simbol elitisme kawasan di Jakarta. Kalau disebutkan tinggal di Menteng, konotasi yang muncul langsung “rumah gedongan”, di kawasan yang sangat elite yang teduh.

Tapi, meski di kawasan Menteng, kawasan rumah Pak Rosihan tidak termasuk yang tergambar itu. Kawasan rumah ini terpinggirkan oleh keadaan. Di pinggir jalan rumah itu berderet bangunan setengah permanen untuk pedagang kecil. Di belakang deretan bangunan yang bergandeng-gandeng itu terdapat sebuah sungai yang kotor dan berbau. Rumah beliau ada di sebelah sungai itu. Dengan demikian, kalau dilihat dari “Menteng”, seperti tersembunyi di baliknya.

Bangunan rumahnya sendiri menguatkan kesan terpinggirkan itu. Rumah tua yang kurang lebih hanya tipe 200 m2 yang terlihat tidak pernah disentuh oleh renovasi. Kawasan itu, dan bangunan rumah itu, seperti mencerminkan sikap dan penampilan Pak Rosihan sehari-hari yang tua dan sederhana.

Kalau saja Pak Rosihan memiliki kekuasaan, mungkin saja bangunan-bangunan kaki lima yang berderet di depan rumahnya itu akan digusur habis. Jalan pun menjadi lapang. Bahkan, di pinggir jalan itu, di lokasi pedagang kaki lima, bisa mendapat dari anggaran pemerintah untuk ditanami pepohonan yang rindang nan indah.

Lalu sungai itu sendiri akan selalu dibersihkan, dibuatkan plengsengan dan dirawat menjadi sungai yang indah. Tidak mustahil, kalau dipercantik justru sungai itu menambah kesan elitenya kawasan rumah Pak Rosihan.

Tapi, beliau tidak punya kekuasaan untuk itu. Jadilah kawasan rumahnya menjadi kawasan yang “kalah” dengan kawasan Menteng selebihnya. Jadilah, Mentengnya Pak Rosihan ini menjadi Menteng yang di pinggiran. Tapi, Pak Rosihan teguh untuk tetap tinggal di situ. Sampai akhir hayatnya. Sebuah keteguhan untuk berada di pinggir, sebagaimana sikap hidupnya sendiri.

Memang, “pinggirnya” kawasan rumah Pak Rosihan dan pinggirnya sikap hidup Pak Rosihan masih dalam kategori “pinggir yang dekat ke tengah”. Tepatnya, rumah Pak Rosihan masih sangat dekat dengan pusat kemewahan. Demikian juga posisi dirinya, bukan diri yang sepenuhnya berada di seberang elitisme politik di negeri ini.

Pak Rosihan memang sangat kritis kepada penguasa di sepanjang hidupnya, tapi tidak sampai menjadi pemberontak. Dia mengkritik keras pemerintah, tapi masih mau datang kalau diundang ke istana. Kedatangannya ke istana itu pun tidak untuk mengambil hati penguasa, tapi untuk menjalankan profesionalisme tugas jurnalistiknya.

Karena itu, belum pernah saya melihat Pak Rosihan berubah sikap. Dia memang mau datang ke istana (zaman presiden siapa pun), tapi tidak ada nada berusaha menarik simpati pihak istana. Setiap mendapat kesempatan berbicara, selalu dia lebih dulu memuji sang presiden. Setelah itu dia mengkritiknya dengan keras melalui bahasa yang penuh dengan sinisme, tapi tidak kasar.

Praktis, saya melihat Pak Rosihan merupakan pribadi gabungan antara wartawan, diplomat, dan politikus. Sebagai wartawan beliau telah menjadi tokoh utama, tapi gagal menjadi pemilik media terkemuka di sepanjang zaman. Beliau sempat memiliki harian yang sangat bergensi pada zaman itu, Harian Pedoman. Tapi, koran ini tidak berumur panjang karena diberangus penguasa.

Sebagai diplomat beliau tidak sempat mendapat kepercayaan menjadi duta besar sebagaimana wartawan senior Saban Siagian atau Djoko Susilo. Atau beliau mungkin tidak mau “didutabesarkan”. Sebagai politikus beliau tidak sampai punya panggung di pemerintahan seperti Harmoko, karena beliau memosisikan diri tidak mau seperti itu.

Beliau orang yang tidak acuh terhadap gemerlap dunia seperti itu. Sinis, tak acuh, dan lugas memang melekat sebagai ciri khas beliau. Termasuk kalau sedang mengajar wartawan muda. “Membaca tulisanmu ini,” katanya pada suatu forum pendidikan wartawan, “mata saya sampai berbulu”. Ini untuk menunjukkan betapa ruwetnya tulisan wartawan yang sedang dibaca itu.

Pak Rosihan memang mempunyai kemampuan menulis yang sederhana, lancar, dan warna-warni. Dia sangat benci dengan tulisan wartawan yang muter-muter, berat, seret, dan semrawut. “Tulisan kok seperti ketiak ular begini,” katanya.

Saya sendiri tidak termasuk murid beliau. Saya lebih tepat sebagai muridnya orang seperti Gunawan Mohamad. Namun, saya tahu bahwa Pak Rosihan sangat aktif mendidik wartawan muda. Itu dia contohkan dengan dirinya sendiri yang masih terus aktif menulis sampai usianya yang 89 tahun.

Apa saja beliau tulis: pengalaman perjalanan, pengalaman meliput peristiwa besar di masa mudanya, soal makanan, pariwisata, politik, dan sebagainya. Ini karena beliau memang sudah menjadi wartawan sejak sangat belia. Beliau juga mengalami banyak peristiwa sejarah sejak sebelum kemerdekaan, zaman perjuangan kemerdekaan, Orde Lama, Orde Baru, dan Orde Reformasi ini.
Beliau adalah pencatat sejarah yang penting dan cermat. Beliau tidak melupakan detail-detail sebuah peristiwa. Dengan begitu, beliau juga banyak kenal dengan tokoh-tokoh politik besar di negeri ini.

Karena itu, di hari tua beliau, di saat tokoh-tokoh tersebut satu per satu meninggal dunia, beliau bisa banyak bercerita. Tidak ayal bila ada tokoh meninggal dunia, beliau selalu membuat tulisan obituari mengenai tokoh itu.

Begitu seringnya beliau menulis obituari, sampai-sampai ada yang nyeletuk: kalau Pak Rosihan sendiri yang meninggal, siapa ya yang akan menuliskan obituari beliau? Karena itu, tidak aneh bila ada yang mengusulkan agar Pak Rosihan menulis obituari untuk dirinya sebelum meninggal dan langsung bisa dipublikasikan begitu beliau meninggal.

Saya tidak tahu apakah beliau mendengarkan saran yang bernada gurau dan pujian itu. Kalaupun tidak, saya mencoba menulis obituari ini untuk beliau. Selamat jalan guru wartawan! (*)

Cirus Sinaga Masuk Sel

JAKARTA- Setelah dua bulan menyandang status tersangka kasus mafia hukum dan pemalsuan dokumen rencana tuntutan (rentut), Gayus Tambunan, akhirnya penyidik menangkap dan menginapkan jaksa Cirus Sinaga di kantor Bareskrim Polri, Jakarta, Jumat (15/4).

Penyidik mengeluarkan surat penangkapan, seusai memeriksa Cirus sejak pukul 09.30 WIB hingga 23.00 WIB. Surat penangkapan Cirus langsung ditandatangani oleh Direktur III Tindak Pidana Korupsi Bareskrim, Brigjen Pol Ike Edwin.

Menurut kuasa hukum Cirus, Parlindungan Sinaga yang ikut mendampingi pemeriksaan, kliennya bukan ditahan melainkan hanya ditangkap dan diinapkan sementara. Bahkan, menurutnya hasil kesepakatan dengan penyidik, maka Cirus akan diizinkan pulang pada Sabtu (16/4) besok, seusai menjalani pemeriksaan lanjutan.

Menurutnya, mekanisme seperti ini sesuai KUHAP. “Memang ada surat penangkapan 1×24 jam. Karena itu prosedur. Kalau disuruh tidur begitu saja, itu bisa diprotes, itu pelanggaran,” ujarnya.Di dalam kantor Bareskrim, Cirus tidur di ruang kerja seorang penyidik Direktorat III. “Pak Cirus tidur di ruangan kerja Pak Karyoto (penyidik). Janjinya seperti itu kepada saya. Ini saya dengar sendiri dari penyidik. Ini hasil diskusi. Saya tadinya juga protes, kenapa tidak besok saja diperiksa,” paparnya.

Di ruang kerja itu, Cirus masih disibukkan untuk mengoreksi 20 pertanyaan dan jawaban dari hasil pemeriksaan malam ini. “Dia tidur di sofa, bukan geletak begitu saja,” imbuhnya. (net/bbs/jpnn)

Target Utama Petinggi Polri

Serangan bom bunuh diri di Masjid Adz-Dzikra, Kompleks Mapolres Kota Cirebon, diduga identik dengan bom Bali II dan bom di Hotel Ritz-Carlton pada 2009. Pelaku juga terdoktrin dengan baik, tenang, sadar, dan menarget pimpinan tertinggi di lokasi kejadian, yakni Kapolres Kota Cirebon AKBP Herukoco. Pelaku mengambil posisi terdekat dengan Kapolres.

“Serangan terhadap masjid memang bukan hal yang baru. Namun, serangan dengan metode bunuh diri di dalam masjid baru pertama. Dari bomb signature (jejak bom), rangkaian identik dengan bom Bali II dan bom Ritz-Carlton 2009. Ada paku, mur, dan baut,” kata sumber Jawa Pos di kalangan kepolisian.

“Kekuatannya low explosive, tapi ditargetkan untuk membunuh. Soal low explosive itu, memang akses peledak kelompok tersebut sudah habis dan sulit,” imbuhnya.

Bahan pembakar tidak bersifat combustive (membakar) dengan bukti karpet masjid masih utuh. “Tidak ada black powder atau TNT. Ini lebih mirip serbuk mercon,” jelasnya.

Detonator bom sabuk itu menggunakan sistem self trigger atau harus dipicu sendiri oleh pelaku. “Tidak ada ponsel yang ditemukan. Artinya, tidak bisa dipicu dari luar,” ujarnya.

Meski begitu, penyidik tetap yakin bahwa ada tim pemantau, minimal satu orang, yang memastikan serangan tersebut berhasil. “Itu yang juga kami kejar. Termasuk, melihat data CCTV apakah pelaku pernah survei sebelumnya atau belum,” ungkapnya.

Beberapa saat setelah ledakan itu, Kapolri Jenderal Timur Pradopo langsung menuju Cirebon. Dia pun menargetkan dalang di balik bom yang mengorbankan banyak anggota polisi tersebut segera ditangkap. “Anggota harus meningkatkan pengawasan kamtibmas,” katanya saat datang ke tempat kejadian kemarin.

Timur juga langsung memerintah Densus 88 Mabes Polri, Puslabfor, serta Pusat Identifikasi Sidik Jari Inafis Polri untuk bergerak. Petugas diminta mengecek data sidik jari dan mencocokkan wajah pengebom dengan database Densus 88 Mabes Polri.

Hingga pukul 22.00 tadi malam, pemeriksaan identitas itu masih berlangsung. Sebagian anggota tim penyidik Densus 88 membawa foto wajah pengebom yang diperkirakan berusia sekitar 24 tahun tersebut ke penjara-penjara teroris. Polisi mencocokkannya dengan para pentolan teroris yang sekarang masih menjalani masa hukuman.

“Dimulai dari sel Amman Abdurrahman,” kata sumber Jawa Pos (grup Sumut Pos) tadi malam. Amman Abdurrahman lebih dikenal di jaringannya sebagai Singa Tauhid. Dia pernah ditahan dalam kasus bom Cimanggis pada 2004. Setelah bebas, Amman ditangkap lagi dengan tudingan terlibat dalam pelatihan ala militer di Aceh. Pada 20 Desember 2010, PN Jakarta Barat memvonis Amman dengan hukuman penjara sembilan tahun. Amman mengajukan banding.

Mengapa Amman? Sumber itu menyebut, kelompok Amman adalah pihak yang selama ini meyakini paham masjid dhiror, yakni masjid sesat milik pemerintah atau polisi yang dianggap boleh diserang atau dihancurkan. Faksi lain berpendapat, masjid adalah tempat suci yang diharamkan untuk diserang. “Kita mulai dari sana (Amman), tapi semua juga akan kita tanya,” tambahnya.

Secara terpisah, Kepala Densus 88 Mabes Polri Brigjen M Syafii membenarkan bahwa Densus Mabes Polri memimpin penyidikan. “Ya, perintah Kapolri,” katanya. Namun, mantan Kapolresta Tangerang itu menolak menyebutkan perkembangan penyidikan. “Masih dini, belum 24 jam. Perkembangannya lewat humas saja,” ujarnya.

Serangan bom bunuh diri itu memakan 28 korban, termasuk Kapolresta Kota Cirebon AKBP Herukoco. Kabag Sumda Kompol Suhadi yang saat itu berdampingan dengan Kapolres juga terluka parah. Karena kondisinya kritis, dua perwira itu langsung dilarikan ke Rumah Sakit Pertamina, Kelayan.

Menurut Kasatlantas AKP Kurnia, bom tersebut meledak saat jamaah masjid hendak menunaikan salat Jumat. “Setelah khotbah, hendak takbiratul ihram, tiba-tiba ada seseorang berjaket menerobos dari belakang ke barisan saf kedua, persis di belakang Kapolresta. Mungkin Kapolresta menjadi sasaran utama,” katanya.

Kurnia yang saat kejadian berada di saf ketiga menjelaskan, pelaku menggunakan jaket hitam, celana hitam, berkopiah, berusia 20-an tahun, dan wajahnya terlihat perlente. Menurut dia, pelaku membawa sajadah. Tapi, sajadah itu tidak digelar, hanya dipegang. “Pelaku tidak menghadap kiblat saat khotbah, seperti mengawasi,” ungkapnya.

Sang khatib, Abbas Sudinta, juga membenarkan bahwa pelaku berpostur tinggi dan berkulit putih. “Hampir semua jamaah masjid itu anggota polisi.

Hanya beberapa yang sipil,” katanya. Ketika berdiri di mimbar khotbah di depan jamaah, Abbas melihat seseorang yang bukan anggota polisi bersandar di tembok dekat pintu. “Saya sendiri sama sekali tidak menaruh curiga,” ucap penyuluh agama Kemenag Kota Cirebon tersebut.

Dia menjelaskan, sepintas dirinya heran karena orang tersebut tidak menghadap kiblat, tapi ke selatan. “Awalnya saya pikir karena kondisi padat sehingga tidak bisa menghadap kiblat. Apalagi, konsentrasi jamaah di masjid bersiap menunaikan salat Jumat,” beber Abbas yang juga terluka di bagian tangan.

Menurut dia, suara bom tersebut seperti ledakan petasan dalam kotak. “Tetapi, bukan petasan,” lanjut dia. Setelah meledak, asap yang keluar berwarna hitam pekat. Suara dan asap itu berimbas pada telinga, hidung, serta tenggorokan. “Suara ledakannya membuat pilek dan mual-mual. Setelah meledak, para jamaah masjid berhamburan keluar. Kaca pecah, lampu di atas jatuh dan pecah,” ungkapnya.

Kasatintel Polres Kota Cirebon Singgih M. yang juga menjadi korban bom bunuh diri itu menyatakan, pelaku diduga berjumlah dua orang. Seorang menggunakan motor, tetapi berhasil kabur. Insiden tersebut diperkirakan terjadi pada pukul 12.15. “Ada anggota yang sempat melihat,” katanya.

Saksi lain menyebutkan, bom itu meledak tepat saat ikamah berkumandang. “Ketika sang imam mengucapkan takbir, seketika itu juga bom meledak,” tegas Anton, seorang saksi. “Kejadiannya begitu cepat. Pelaku meledakkan bom dan muncul asap tebal di dalam masjid yang membuat panik,” tambahnya.

Bom tersebut diperkirakan berjenis low explosive. Namun, hingga saat ini polisi belum mendeteksi motif bom bunuh diri itu. Bahkan, kejadian tersebut diduga tidak terendus intelijen sehingga pelaku lolos masuk ke mapolres dengan menerobos saf jamaah masjid.

Kasatnarkoba AKP Tri Silayanto menceritakan, sebelum meledakkan diri, pelaku terlihat tenang saat berada dalam masjid. “Awalnya saya perhatikan dia (pelaku, Red) duduk bersandar di tembok samping pintu selatan di barisan ketiga sambil mendengarkan khotbah. Namun, saat ikamah dan makmum berdiri, tiba-tiba dia maju ke baris kedua tepat di belakang Kapolres Cirebon Kota AKBP Herukoco. Saat imam mengucapkan takbir pertama, lalu …ddduuaaarrr… bom meledak,” ungkapnya.

Masih kata Tri, saat bom meledak, terlihat kepulan asap hitam dalam masjid dan terjadi kepanikan. “Setelah meledak, semua lari menyelamatkan diri. Saya lihat para korban tergeletak di lantai penuh darah, termasuk Pak Kapolres. Seketika itu saya langsung menolong Kapolres keluar masjid dan membawanya ke rumah sakit,” katanya.

Para perwira seperti Kasatintel AKP Singgih, Kasatlantas AKP Kurnia, Kanit Provost Ipda Budi Hartono, dan sejumlah anggota Polres Kota Cirebon yang mengalami luka-luka juga langsung dilarikan ke RS Pelabuhan. Dr Nurjati, kepala instalasi rawat inap RS Pelabuhan, menuturkan, sebagian besar korban terluka karena terkena lempengan logam, aluminium, paku, baut, dan mur.

“Kami temukan banyak benda keras yang menempel di tubuh korban. Ada 28 korban di RS Pelabuhan. Sementara itu, Kapolres dirujuk ke RS Pertamina. Lima orang menjalani rawat jalan dan 21 orang rawat inap,” jelasnya.

Di bagian lain, Menko Polhukam Djoko Suyanto mengatakan, peristiwa peledakan bom di masjid Polres Cirebon mendapatkan perhatian serius Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Presiden bersama jajaran pemerintah mengutuk keras kejadian yang tidak berperikemanusiaan itu.

SBY, kata Djoko, memerintah Kapolri, kepala BNPT, kepala BIN, dan aparat terkait menemukan siapa orang-orang di balik peledakan tersebut. “Temukan jaringan pelakunya,” kata Djoko dalam keterangan di kantornya kemarin.
Presiden meminta seluruh elemen masyarakat bersama-sama menanggulangi kejahatan seperti itu. Peran pemuka agama, pimpinan daerah, dan LSM juga dinilai penting. “Berikan informasi apa pun yang diterima, sekecil apa pun, kepada aparat terdekat untuk ditindaklanjuti,” imbaunya. “Sungguh tidak terduga, sasaran sudah berubah kepada tempat ibadah.?

Kepala BNPT Ansyad Mbaai menduga, pelaku pengeboman di polres merupakan kelompok lama. Dugaan tersebut mengemuka bila melihat kelompok yang biasa melakukan pengeboman dengan modus seperti itu. “Siapa kelompok yang biasa melakukan seperti itu. Tapi, ini baru dugaan,” katanya.

Bom dengan sasaran masjid tersebut, lanjut dia, bukan yang pertama. Sebelumnya pernah ada masjid yang menjadi target, yakni Masjid Istiqlal pada 1998 dan Masjid Agung Jogjakarta (2000). “Bukan hal baru. Itu sudah menjadi MO (modus) kelompok-kelompok yang selama ini melakukan itu. Tapi, ini bukan kesimpulan akhir,” ungkapnya.

Kepala BIN Sutanto mengatakan, hingga saat ini polisi masih menyelidiki siapa pelaku dan jaringan yang berada di balik bom masjid Polres Cirebon tersebut. Namun, berdasar pengalaman sejak 2000, jaringan teroris memang itu-itu saja. “Tapi, pelakunya (eksekutor, Red) yang berbeda,” ujar Sutanto.

Menurut mantan Kapolri tersebut, hal itu bisa terjadi karena masih ada pemimpin-pemimpin di jaringan tersebut yang bisa memberikan pengaruh kepada rekrutan-rekrutan baru. Sutanto mengungkapkan, memang banyak di antara anggota jaringan teroris yang berhasil ditangkap atau digagalkan sebelum melakukan perbuatannya. “Dia belajar juga menghindari petugas sehingga semakin ke sini semakin hati-hati. Tingkat kesulitan semakin tinggi,” paparnya.

Terkait dengan ancaman tersebut, kata Sutanto, sebenarnya dibutuhkan perangkat hukum yang lebih kuat. Aturan yang ada saat ini sulit digunakan untuk menjerat mereka yang menganjurkan kebencian atau perbuatan teror. Bahkan, setidaknya dibutuhkan dua alat bukti sebagai permulaan untuk memprosesnya.

Pernyataan itu sepertinya merujuk pada UU Intelijen yang saat ini masih dalam tahap pembahasan di DPR. Namun, Sutanto mengelak saat ditanya aturan tersebut akan sama dengan Internal Security Act (ISA) di Singapura dan Malaysia. “Tidak seperti ISA. Yang penting, rumusan undang-undang bisa mencakup kelompok yang melakukan teror, merangsang orang untuk melakukan teror,” tuturnya. (rdl/fal/hns/abd/jpnn)

30 Paku Nancap di Tubuh Kapolresta

Bom Bunuh Diri Pertama di Masjid

CIREBON-Kapolres Cirebon Kota AKBP Herukoco mengalami luka paling parah di antara 28 korban bom bunuh diri di Masjid Adz-Dzikra, Kompleks Mapolres Kota Cirebon, kemarin (15/4). Banyak serpihan logam besi ditemukan di tubuhnya. Karena itu, dia harus menjalani operasi besar di RS Pertamina Cirebon.

Sesaat setelah Herukoco tiba di Unit Gawat Darurat (UGD), beberapa dokter dan perawat memberikan pertolongan pertama dengan membersihkan luka di sekujur tubuh Kapolres Cirebon Kota. “Pada waktu datang, Pak Kapolres dalam keadaan sadar dan stabil. Kami melihat banyak luka robek akibat benda logam yang menancap di bagian punggung, lengan, tangan dan kepala. Kemudian, tim dokter melakukan penanganan,” jelas Direktur RSU Pertamina dr Zaenal A. kemarin.

Tim dokter juga sudah mencabut dan mengambil benda logam berupa paku, baut dan serpihan besi yang menancap di kulit punggung belakang, tangan, dan kepala Herukoco. “Paku 2 inci kami ambil dari kepala sebanyak dua buah, dari punggung lima buah. Kalau sisanya, banyak baut di punggung Kapolresta.

Saya tidak menghitung karena banyak,” katanya.
Tapi dari hasil observasi diketahui ada 30 benda dari serpihan bom yang sudah berkarat menempel di tubuh Herukoco.

Dia menuturkan, benda-benda logam yang menancap di tubuh Kapolres Cirebon Kota AKBP Herukoco itu kebanyakan sudah karatan. Selain membersihkan dan mencabut benda logam di tubuh Kapolres Cirebon Kota, tim dokter memberikan obat. “Kami sudah memberikan obat antiinfeksi kepada Kapolres,” katanya.

Untuk memaksimalkan operasi pembersihan logam dalam tubuh Herukoco, pihak RS Pertamina membentuk tim dokter untuk operasi. “Operasi” dilakukan oleh tiga dokter. Salah seorang di antaranya, dokter saraf. Kami mengharapkan operasi berjalan lancar dan berhasil,” ujarnya.

Menurut salah seorang anggota Polres Cirebon Kota Aiptu Dani, saat ledakan bom bunuh diri itu, dirinya berada di masjid mapolresta. “Waktu itu mau salat Jumat. Setelah takbir pertama, saya mendengar suara ledakan keras di tengah masjid. Saya awalnya mengira itu korsleting listrik.

Ternyata saya melihat di dalam masjid keluar asap besar. Saya sadar, ini bukan korsleting listrik. Makanya saya segera menjauhi masjid. Tapi, saya lihat dari pintu samping keluar, Kapolresta dalam keadaan sempoyongan dengan tubuh penuh luka,” tuturnya.

Melihat pimpinannya terluka, niat Aiptu Dani ingin kabur batal. Bahkan, dia kembali ke masjid untuk menolong pimpinannya. “Saya kembali ke masjid dan menolong Kapolresta bersama anggota Brigadir Rohimi. Kemudian, saya membawa Kapolres ke rumah sakit,” jelasnya.

Kapolri Jenderal Pol Timor Pradopo sesaat setelah membesuk Herukoco di rumah sakit mengungkapkan bahwa pihaknya sangat perihatin dengan kejadian tersebut. “Terus terang kami prihatin. Tadi saya melihat kondisi Kapolres sedang menjalani operasi oleh tim dokter. Jadi saya belum tahu secara pasti kondisi Kapolres. Kami berharap operasi berjalan baik dan lancar,” katanya.(ugi/c4/iro/jpnn)

Melahirkan Bayi Laki-laki

Tahanan narkoba pecah Ketuban

SIANTAR- Rita (24) wanita yang menjadi terdakwa kasus narkotika sudah melahirkan di Poliklinik Pemasyarakatan Kelas II-B Pematangsiantar di Jalan Asahan Km 6, Kecamatan Siantar, Simalungun. Wanita yang kini sudah menjadi ibu melahirkan bayi berjenis kelamin laki-laki dengan kondisi normal Jumat (15/4) sekira pukul 14.30 WIB.

Hingga kini Dokter Lembaga Pemasyarakatan belum memperbolehkan Rita banyak bergerak. Wanita yang tertangkap dari Lokalisasi Bukit Maraja ini masih tetap berada di ruang bersalin untuk beristirahat hingga pulih.

Proses persalinan terhadap Rita berjalan dengan normal. Sejak dibawa pulang dari Puskesmas Perumnas Batu VI dan tidak jadi mengikuti sidang pada Kamis (14/4) kemarin, Rita langsung dipindahkan penahanannya dari ruang Anggrek Lembaga Pemasyarakatan Kelas II-B Pematangsiantar menuju poliklinik yang ada disana.

Pihak Lapas yang sudah mempunyai dokter dan perawat untuk para napi ini pun memanggil Bidan dari luar yang kebetulan juga adalah istri dari Jonni Gultom, Pegawai Lapas, untuk memberikan bantuan tambahan yang mengkontrol perkembangan Rita dan anak yang dikandungnya.(hez/smg)