Home Blog Page 15434

Fans PSMS Serang Bus Persiraja, 5 Luka-luka

MEDAN-Bus yang ditumpangi skuad dan offisial Persiraja Banda Aceh, diserang sekelompok fans PSMS di kawasan Makam Pahlawan, Jalan Sisingamangaraja hingga Jalan Stasiun, tepat di pusat jajanan Merdeka Walk, Selasa (12/4) malam.

Akibat serangan itu kaca kiri mobil pemain pecah dan melukai 5 pemain. Pantauan wartawan Sumut Pos di Pos Polisi Sat Lantas Merdeka Walk, terlihat suasana arus lalu lintas sangat macet dan padat. Puluhan petugas disiagakan di lokasi tersebut. Penuturan Sisgiardi (47), Asisten Pelatih Persiraja Banda Aceh, mereka diserang oleh orang berbaju hijau.

“Kami diserang mulai dari depan Makam Pahlawan saat keluar dari Stadion Teladan saat mau pulang. Kami tidak tahu penyebabnya ,” terang Sisgiardi.

Hal senada diutarakan Sulaiman Abi, Asisten Pelatih, Hendra, pemain Persiraja. “Mana kami tahu Bang, kami mau pulang dan kami diserang sampai ke Pos Polisi Sat Lantas ini. Kami pilih berhenti disini karena kami lihat ada kantor polisi,” tukas Andre dengan luka dibibir di sekitar Merdeka Walk.

Kapten Tim Persiraja Abdul Musawir mengatakan hal sama. Abdul Musawir juga menunjukkan luka di pelipis mata kirinya akibat dilempar batu. “Saya tidak tahu bang dan saya kena karena saya pas duduk di bangku sebelah kiri,” ujar Abdul Musawir sambil memegang lukanya.

Kasubbag Dal Ops Polresta Medan, AKP M Sofian Sinaga mengatakan, pihaknya mengamankan 2 orang dan masih diperiksa. “Yang diamankan hanya 2 orang,” katanya.

Kedua pria tersebut Ardi (13), warga Pasar X, Medan Helvetia, pelajar Kelas III SLTP PAB II dan Sofian (17), warga Jalan Berdikari, Medan Helvetia, pelajar Kelas II SMU Swasta Medan Area. Penuturan Sofian dan Ardi saat ditanyai di Pos Polisi Sat Lantas Polresta Medan, mereka ditunjang kawannya untuk ikut melempar.

“Kami ditunjang kawan kami saat mau pulang dan diajak untuk melempar mobil pemain Persiraja Banda Aceh,” tukas Ardi sambil mengatakan Rabu (13/4) besok mau ujian sekolah dan meminta agar dibebaskan.

Atas kejadian itu, kubu Persiraja yang sedianya masih akan berada di Medan hingga (18/4) memutuskan pulang lebih awal.

“Rencananya, kami akan menginap sampai tanggal 18 April nanti. Tapi karena kejadian ini, sepertinya kami akan mengurungkan niat. Mungkin besok kami kembali ke Banda Aceh. Untuk malam ini, terpaksa kami masih menginap di Hotel Garuda Citra,” kata Manager Persiraja Banda Aceh Adly Tjalok saat dimintai keteranganya.

Menurut Nata Simangunsong, Ketua Suporter Medan Cinta Kinantan (SMeCK) Hooligan, mengaku tidak mengenal kelompok fans penyerang tersebut. “Kami sangat menyayangkan aksi anarkis seperti itu. Kami SMeCK tidak kenal para pelaku. Semoga di lain hari tidak ada lagi kejadian memalukan seperti ini,” beber Nata. (jon/ari)

Waktu Diulur, Korban Berjatuhan

Gencarnya pemberitaan mengenai pembajakan kapal Indonesia, MV Sinar Kudus menjadi pembicaraan di penjuru tanah air. Selama 29 hari dikuasai pembajak Somalia, para Anak Buah Kapal (ABK) seperti tersiksa, bahkan keluarganya hanya bisa meratapi tangis.

Ternyata, hal tersebut pernah dialami Aep Saepudin yang juga Warga Negara Indonesia (WNI). Aep ketika itu bekerja sebagai ABK kapal pancing berbendera Taiwan, Win Far 161. Dirinya bersama 31 ABK lainnya disandera pembajak selama 10 bulan. “Pembajakan itu kejadiannya klise,” katanya, Selasa (12/4).

Dikenangnya, 5 April 2009, terlihat ada sebuah titik di tengah laut, di tengah Samudera Hindia. Tapi, titik itu tak diketahui pasti. Hanya saja titik itu terus mengikuti dari belakang. Aep mengaku curiga dengan adanya titik itu, dibicarakannya ke Kapten kapal. Keesokan pagi, sekitar pukul 06.00 ada kapal berada di depan. “Ada sekitar 6 orang mengeluarkan tembakan dari senjata AK47, mereka menembak radar kami,” sebutnya.

Selanjutnya, kapal dan kru digiring ke perairan Somalia, menempuh perjalanan 14 hari. Kapal lalu melepas jangkar di perairan Somalia, 7 mil dari darat.

Saat itulah, banyak diantara kami akhirnya tak bisa berkumpul lagi dengan keluarga akibat waktu dan negosiasi tebusan senilai dolar US 9 juta. Semakin lama waktunya, rekannya pun hilang satu persatu.
“Saya dan kru WNI lain bilang, kami muslim, sama dengan orang Somalia. Lantas, orang Somali itu bilang don’t worry be happy, kami hanya ingin kapalnya, bukan orang-orangnya,” sebutnya.

Selanjutnya, kapal dan kru digiring ke perairan Somalia, menempuh perjalanan 14 hari. Kapal lalu melepas jangkar di perairan Somalia, 7 mil dari darat. “Sejak 6 April 2009 itu, kami tidak boleh masuk kamar dek. Semua di geladak, tidak boleh membawa pakaian,” sebutnya.

Saat itulah, banyak diantara kami akhirnya tak bisa berkumpul lagi dengan keluarga akibat waktu dan negosiasi tebusan senilai dolar US 9 juta. Semakin lama waktunya, rekannya pun hilang satu persatu. Syukurnya dirinya selamat, ketika bala bantuan datang untuk menebusnya. (*)

Demi Harga Diri Bangsa Indonesia

Pemerintah Upayakan Bebaskan 20 WNI dari Pembajak Somalia

Pembajakan kapal MV Sinar Kudus milik PT Samudera Indonesia di perairan Somalia, hingga 29 hari disandera belum juga bisa dibebaskan. Bahkan, pihak pembajak kembali mengancam akan menghabisi 20 Anak Buah Kapal (ABK) yang ada di kapal tersebut bila tak membayar uang tebusan sebesar dolar US 3 juta atau sekitar
Rp27 miliar.

Kapal MV Sinar Kudus PT Samudera Indonesia Tbk berangkat dari Pemalang, Jawa Tengah menuju Rotterdam, Belanda, Rabu (16/3) lalu. Kapal bermuatan bijih nikel milik PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM) senilai Rp1,7 triliun lebih.

Sesampiannya di Laut Merah, kapal dihadang kawanan bajak laut dan digiring ke perairan Teluk Aden, Somalia, pada Sabtu (9/4). Kini, posisi tepatnya berada di pantai timur Somalia, 400 mil dari Mogadishu. Demikian disampaikan kapten kapal tersebut, Slamet Jauhari.

Para bajak laut ini, sebutnya menaikkan permintaan tebusan kepada pemilik kapal, PT Samudera Indonesia untuk membebaskan 20 awak kapal yang disandera. Nilai tebusan dinaikkan karena pemilik kapal tak kunjung membayar sesuai permintaan bajak laut. Semula, pembajak meminta tebusan dolar US 2,6 juta sekitar Rp22,4 miliar, kemudian dinaikkan menjadi dolar US 3,5 juta sekitar Rp30 miliar.

“Sementara pihak perusahaan hanya mampu membayar dolar US 1.070 sekitar Rp9.223.4000,” ujar Yunita (35), istri Masbukhin (37) seorang awak MV SinarKudus asal Kediri, Jawa Timur.
Upaya negosiasi yang berlarut hingga berujung seorang ABK sakit dan kritis. Menurut Totok Sugiyanto, sahabat Slamet Jauhari, nahkoda Kapal MV Sinar Kudus, awak kapal bernama Slamet Riyadi itu terserang diare sejak beberapa hari lalu tetapi tidak diobati.

“Korban yang sakit bertambah dari 12 menjadi 14,” kata Totok, Selasa (12/4).
Totok mengatakan sekitar pukul 20.50 WIB , Jauhari meneleponnya. Sekitar pukul 10.00 WIB, katanya, keduanya kembali menjalin kontak. “Tok, aku minta tolong, bagaimana cara kami bisa dibebaskan. Kok pemerintah tenang-tenang saja,” ujar Totok menirukan Jauhari.

Menurut Totok, setelah hampir sebulan disandera, karibnya sesama alumni Pendidikan Pelayaran Besar Semarang tahun 1979 ini tetap berusaha tenang.  “Kalau tak sabar saya bisa gila, bisa loncat ke laut,” ujar Jauhari seperti ditirukan Totok.

PT Samudera Indonesia, cerita Jauhari pada Totok, sudah menyatakan tidak sanggup membayar tebusan sebesar Rp27 miliar yang diminta perompak.

Pengamat hubungan international dari Universitas Indonesia,  Hariyadi Wirawan mengatakan Pemerintah perlu mempertimbangkan permintaan pembajak Somalia yang menyandera 20 warga negara Indonesia (WNI). Masalahnya, permintaan USD 3 juta sebagai uang tebusan akan menjadi pertaruhan harga diri bangsa Indonesia.
Menurutnya, banyak pilihan yang bisa diambil Pemerintah sebelum mengerahkan militer ke Somalia untuk membebaskan para sandera. Diantaranya melakukan diplomasi dengan Pemerintah Somalia atau meminta bantuan kepada Amerika Serikat (AS) karena memiliki pangkalan militer di Meditrania. “Tapi dua opsi ini sulit dilakukan karena pembajak itu bukan sebuah lembaga dan tujuan mereka hanya uang tebusan. Sementara Indonesia di hadapan AS selalu lemah sehingga sulit dipenuhi,” katanya.

Hariyadi menjelaskan Pemerintah Indonesia bisa mengikuti jejak yang dilakukan  Korea Selatan (Korsel) dalam membebaskan warganya dari pembajak Somalia. Korsel mengerahkan marinirnya dan berhasil menyelamatkan 21  ABK Samho Jewelry yang mengangkut bahan kimia. Sementara delapan pembajak tewas dalam aksi itu.
“Memang kadang-kadang (negara) harus keras,” katanya.

Sementara itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) angkat bicara soal pembajakan dan penyanderaan 20 WNI awak kapal MV Sinar Kudus di perairan Somalia. Dia menyebutkan, pemerintah sedang bekerja membebaskan sandera tersebut.

SBY menyebutkan, pemerintah menempatkan keselamatan 20 WNI ini sebagai prioritas utama. Berilah kesempatan kepada jajaran pemerintah agar bisa berhasil. “Apakah negosiasi atau upaya lainnya, pemerintah tengah pertimbangkan,” tegasnya. (war/afz/fal/bbs/jpnn)

Dubes Somalia Dukung TNI

PENYANDERAAN 20 Anak Buah Kapal (ABK) MV Sinar Kudus oleh bajak laut Somalia membuat geram Duta Besar Somalia untuk RI, Mohamud Olow Barow.

Uniknya, alih-alih menemui Presiden, Mohamud Olow justru berkeluh kesah kepada Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie terkait penyanderaan tersebut. Dalam pertemuan tertutup, Olow memberikan lampu hijau jika militer Indonesia hendak melakukan intervensi ke wilayahnya demi pembebasan MV Sinar Kudus dari perompak.
“Somalia meminta pemerintah tegas dan aksi militer mereka siap bahu membahu,” ujar Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) DPP Partai Golkar Bidang Hubungan Internasional Happy Bone Zulkarnaen ketika memberikan pernyataan kepada media di Wisma Bakrie I, Selasa (12/4) kemarin.

Happy mengatakan, awalnya pertemuan itu sebatas membahas aksi perompak Somalia. Namun, menanggapi penyanderaan 20 awak kapal MV Sinar Kudus, Mohamud menegaskan bahwa pemerintahnya siap membuka pintu bila militer Indonesia masuk ke baik dengan jalur laut maupun udara. “Mereka juga bersedia membantu jika Indonesia butuh kerjasama atau bantuan  militer,” kata dia.

Salah satunya intervensi serupa adalah ketika militer India, Korea Selatan dan Malaysia melakukan penyergapan kepada pembajak di wilayah Somalia. Menurut Mohamoud negara-negara tersebut menempuh aksi militer demi membebaskan sandera warganegaranya masing-masing dari pembajak. Somalia menyarankan pemerintah RI tidak kompromi dengan permintaan pembajak. “Jadi tebusan yang diminta pembajak, jangan dibayar tapi jadi tanggung jawab perusahaan PT Samudera Indonesia. Sebab pemerintah sudah turun tangan,” ujar Happy Bone mengutip Mohamud.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI, Michael Tene mengatakan, pemerintah masih membuka komunikasi dengan pemerintah Somalia. Salah satunya melalui KBRI Addis Ababa, Ethiopia yang merangkap hubungan diplomatik RI-Somalia. (zul/jpnn)

Uang Tebusan Untuk Pesta Seks dan Narkoba

Pemuda Somalia Anggap Bajak Laut sebagai Karir

Perairan lepas pantai Somalia adalah titik rawan pembajakan sekarang ini, bila dahulu pembajak dikenal dari Kolombia. Sejak 2008 lalu, pembajak Somalia mulai ganas. Apalagi, warga Somalia menganggap bajak laut adalah lapangan pekerjaan baru.

Anggapan sebagai lapangan pekerjaan dan bisa hidup mewah, seks dan pesta pora itulah yang menjadi incaran setiap pemuda Somalia. Sebab, pemerintah transisi saat ini masih kesulitan kerepotan menghadapi pergolakan kekuasaan dan tindakan anarkis massa, sejak panglima-panglima perang menggulingkan diktator militer Mohamed Said Barre pada 1991. Pembunuhan, penculikan jadi kejadian lumrah di negara itu.

Pergolakan itulah yang membuat pembajak kapal adalah lapangan kerja baru bagi para generasi muda Somalia. Seperti pengakuan salah satu perompak, Abdulrashid Muse Mohammed kepada Al Jazeera.

“Saya ingin mengatakan pada media dan komunitas Internasional bahwa kami melakukan ini karena kebutuhan dan kondisi tanpa pekerjaan. Kehidupan kami hancur, penyebabnya adalah runtuhnya pemerintahan Somalia,” sebutnya.

Tak bisa ditampik, menjadi perompak adalah jalan menuju hidup mewah bergelimang harta.  Misalnya, Adani (19) ia punya rumah megah dan truk besar karena jadi bajak laut.

Padahal dua tahun sebelumnya, ia hidup di jalanan Kota Bossaso. “Kalau kau tak punya apa-apa, orang akan membencimu. Tapi kau akan dihormati kalau punya uang,” katanya kepada AP.

Kiriman jutaan dolar uang tebusan telah mengubah kehidupan di komunitas muslim di pesisir Somalia. Kesenjangan baru tercipta, antara golongan perompak yang kaya raya dengan golongan non-perompak yang makin miskin.
Inilah gaya hidup perompak Somalia: rumah besar, mobil keren, perempuan cantik, dan narkotika – yang dikecam baik tokoh agama maupun penduduk desa. “Penggunaan obat terlarang seperti ganja, minum alkohol, seks, dan perilaku menjengkelkan lain jadi hal biasa untuk para bajak laut. Ini menimbulkan problem sosial,”kata Sheikh Ahmed, pimpinan masjid di Kota Galkayo, seperti dimuat AP.

Uang mengubah wajah Somalia. Sebuah jalan beraspal membelah kota Bossaso, hotel-hotel baru, dan bangunan anyar berbaris di pinggir-pinggirnya. Mobil SUV dan kendaraan mewah buatan Asia lalu lalang di jalanan. Lagu Amerika, Somalia, dan India menderu dari tape mobil.

Pengusaha Anshud Kamis mengatakan, masuknya jutaan dolar uang haram membuat harga sepatu, baju, dan kosmetik merangkak naik.

Sistem kredit baru berlaku, para bajak laut tak perlu membayar tunai jika membeli barang. Mereka dibolehkan mengambil barang secara kredit, dengan harga tinggi, dan melunasi utang mereka jika uang tebusan sudah di tangan.
“Para bajak laut membayar dalam dolar dan tak perlu repot-repot tawar-menawar,” kata Khadra Abdullahi, seorang penjual di Bossaso.

Tetua terkemuka Bossaso, Suldan Mohamud Aw-nor mengatakan, ulama dan para tetua desa tidak menyetujui gaya hidup bajak laut. Tapi, mereka tak berdaya, kalimat sakti ‘aku akan jadi perompak’ kerap digunakan para remaja untuk mengancam orang tua mereka, jika kemauan mereka tak dipenuhi.

Sistem perkawinan telah dipengaruhi bajak laut dengan kantong tebal. Ratusan mobil mengawal pengantin ke lokasi resepsi, rumah pengantin baru penuh perabot mahal, dan mempelai wanita memakai perhiasan emas mahal.“Para bajak laut tidak membuang-buang waktu untuk merayu perempuan, namun membayar mereka banyak,” kata warga lainnya, Sahro Mohamed. “Mereka melakukan ini untuk beberapa gadis sekaligus,” tambahnya.

Jurnalis harian Spanyol, El Mundo yang berhasil menembus pusat bajak laut di Kota Harardhere juga menyaksikan hal serupa. Kota berpenduduk 6.000 orang itu jadi pusat ‘orgy, uang, penembakan, dan seks. Kebanyakan bajak laut punya tiga atau lebih istri. Jumlahnya tergantung pada jumlah jarahan. (bbs/jpnn)

Dubes Somalia Dukung TNI

PENYANDERAAN 20 Anak Buah Kapal (ABK) MV Sinar Kudus oleh bajak laut Somalia membuat geram Duta Besar Somalia untuk RI, Mohamud Olow Barow.

Uniknya, alih-alih menemui Presiden, Mohamud Olow justru berkeluh kesah kepada Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie terkait penyanderaan tersebut. Dalam pertemuan tertutup, Olow memberikan lampu hijau jika militer Indonesia hendak melakukan intervensi ke wilayahnya demi pembebasan MV Sinar Kudus dari perompak.
“Somalia meminta pemerintah tegas dan aksi militer mereka siap bahu membahu,” ujar Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) DPP Partai Golkar Bidang Hubungan Internasional Happy Bone Zulkarnaen ketika memberikan pernyataan kepada media di Wisma Bakrie I, Selasa (12/4) kemarin.

Happy mengatakan, awalnya pertemuan itu sebatas membahas aksi perompak Somalia. Namun, menanggapi penyanderaan 20 awak kapal MV Sinar Kudus, Mohamud menegaskan bahwa pemerintahnya siap membuka pintu bila militer Indonesia masuk ke baik dengan jalur laut maupun udara. “Mereka juga bersedia membantu jika Indonesia butuh kerjasama atau bantuan  militer,” kata dia.

Salah satunya intervensi serupa adalah ketika militer India, Korea Selatan dan Malaysia melakukan penyergapan kepada pembajak di wilayah Somalia. Menurut Mohamoud negara-negara tersebut menempuh aksi militer demi membebaskan sandera warganegaranya masing-masing dari pembajak. Somalia menyarankan pemerintah RI tidak kompromi dengan permintaan pembajak. “Jadi tebusan yang diminta pembajak, jangan dibayar tapi jadi tanggung jawab perusahaan PT Samudera Indonesia. Sebab pemerintah sudah turun tangan,” ujar Happy Bone mengutip Mohamud.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI, Michael Tene mengatakan, pemerintah masih membuka komunikasi dengan pemerintah Somalia. Salah satunya melalui KBRI Addis Ababa, Ethiopia yang merangkap hubungan diplomatik RI-Somalia. (zul/jpnn)

Oposisi Tolak Gencatan Senjata

TRIPOLI- Perseteruan di Libya belum berakhir setelah pemberontak tidak setuju dengan rancangan gencatan senjata dari delegasi Uni Afrika (UA). Padahal, rezim Muammar Kadhafi sebelumnya sepakat dengan rancangan dari UA. Menurut kantor berita Associated Press (AP), delegasi UA itu dipimpin Presiden Afrika Selatan, Jacob Zuma. Dia didampingi  pemimpin dari Mali, Mauritius, Kongo, dan Uganda. Mereka tengah menjalankan misi damai ke Libya untuk membantu mengatasi krisis sekaligus menghentikan kekerasan antara pasukan Kadhafi dan pemberontak.

Namun, perundingan antara delegasi UA dan pemberontak tidak berjalan mudah. Pihak pemberontak di Benghazi mengatakan kepada delegasi UA, mereka bersedia gencatan senjata bila Kadhafi sudah turun dari kekuasaan dan keluar dari Libya bersama keluarganya. “Semua rakyat Libya sudah sepakat bahwa Kadhafi dan semua anaknya harus pergi dari Libya sehingga kita bisa menjalankan demokrasi,” kata Jilal Tajouri, anggota kubu pemberontak kepada AP saat menyambut kedatangan delegasi UA. (bbs/jpnn)

Stop Pembangkit Nuklir Baru

TOKYO-Keputusan pemerintahan Perdana Menteri (PM) Jepang Naoto Kan menaikkan status krisis nuklir di PLTN Fukushima Dai-ichi, sekitar 250 kilometer timur laut Tokyo, pada level 7 atau setara dengan bencana Chernobyl di Ukraina pada 1986 menuai berbagai reaksi, Selasa (12/4) Kyushu Electric Power Co (Kyushu Electric), salah satu perusahaan operator reaktor nuklir (PLTN) di Jepang seperti Tokyo Electric Power Co. (TEPCO), membatalkan rencana ekspansi.

Perusahaan listrik swasta itu kini mengoperasikan dua pembangkit nuklir di selatan Pulau Kyushu, pulau terbesar ketiga di Jepang yang terletak di bagian barat daya negeri tersebut. Kyushu Electric saat ini melayani suplai listrik untuk tujuh prefektur di Pulau Kyushu, yakni Fukuoka, Nagasaki, “ita, Saga, Miyazaki, Kumamoto, Kagoshima. Dalam rencana, mereka akan membangun PLTN baru di selatan Prefektur Kagoshima.

“Terkait perkembangan terbaru di (PLTN) Fukushima, kami menghentikan seluruh proses hukum yang sedang kami tempuh untuk membangun PLTN ketiga,” ujar Jubir Kyushu Electric, Minoru Yasueda. (ap/afp/bbc/hep/dwi/jpnn)

Jaksa Berlebihan…

Wali Kota Tomohon Dituntut 13 Tahun

JAKARTA- Wali Kota Non Aktif Tomohon Jefferson Rumanjar, terdakwa kasus korupsi APBD Tomohon hanya tertunduk saat jaksa penuntut umum (JPU) membacakan tuntutuannya dalam sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor, kemarin (12/4). Tuntutan tim JPU dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) itu cukup tinggi. Mereka meminta hakim menghukum Jefferson selama 13 tahun penjara.

Tak hanya itu, Jefferson juga dituntut untuk membayar denda Rp250 juta subsider lima bulan kurungan. Mantan anggota DPRD Kabupaten Minahasa, itu juga diwajibkan membayar uang pengganti sebesar Rp33,76 miliar. Namun, apabila dalam satu bulan tidak bisa membayar, maka seluruh harta terdakwa disita KPK dan selanjutnya dilelang oleh negara. Tapi apabila nilai harta terdakwa tak mencukupi kewajiban pembayaran uang pengganti, maka diganti dengan hukuman penjara selama lima tahun.

“(Meminta majelis hakim) menyatakan terdakwa terbukti bersalah secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana korupsi,” kata salah satu anggota tim JPU, Supardi dalam persidangan.

JPU menilai Jefferson telah terbukti bersalah. Sebagai wali kota dia telah menginstruksikan pencairan dana anggaran pos belanja bantuan sosial tahun anggaan 2006, 2007, 2008 untuk tujuan lain. Yakni untuk pembayaran tagihan tiket. Padahal, tiket tesebut digunakan untuk tujuan pribadi Jefferson. Totalnya mencapai Rp30.858.180.600.
JPU pun menerangkan hal yang memberatkan Jefferson adalah dirinya tak menunjukkan penyesalan dan tanggung jawab untuk mengembalikan keuangan daerah yang telah terbukti diserahkan padanya. Akibatnya pembangunan di Tomohon menjadi terhambat. Sedangkan hal yang meringankan Jefferson adalah dirinya belum pernah tersangkut masalah dihukum.

Saat ditemui seusai sidang Jefferson mengatakan bahwa tuntutan yang dibacakan JPU sangat berlebihan. “Saya kira jaksa tidak melihat fakta-fakta di persidangan,” kata Jefferson. “Saya justru tertawa dengan tuntutan ini. Mereka berlebihan,” imbuhnya. Padahal, lanjut Jefferson, dari semua saksi yang dihadirkan JPU pada umumnya menyatakan tidak ada aliran dana kepada dirinya.

Karena itu Jefferson akan mempersiapkan semua pembelaannya dalam sidang pembacaan pledoi (nota pembelaan) yang akan digelar pada Selasa (19/4) mendatang. (kuh/agm/jpnn)

Buntu Kejar Jejak Otak Pelaku dan Eksekutor Awie

Pengungkapan pelaku penembak Kho Wie To alias alia A Wie alias Wito alias Suwito dan istrinya Dora Halim mengalami jalan buntu.

Hingga kemarin (12/4), polisi belum mendapat petunjuk lokasi keberadaan otak pelaku Acui alias Halim Winata alias Jakson (36), pemilik UD Melindo Thai, anak Sun An, A Li alias Toni (37) yang membantu mengantar penyeberangan terhadap eksekutor dan eksekutornya.

Polisi juga masih meragukan keterangan Sun An dan Ang Ho, dua tersangka yang sudah ditangkap dan kini ditahan di sel Mapolresta Medan.

Pasalnya, dalam pemeriksaan, kedua tersangka mengaku Acui  lah orang yang mengatur pembunuhan itu karena sakit hati dengan keluarga koban.

Keduanya juga mengatakan, mereka hanya diminta oleh Acui untuk menjemput empat eksekutor di dekat Hotel Asean.

Direktur Reserse Kriminal Poldasu, Kombes Pol Agus Andrianto mengatakan, belum yakin dengan keterangan kedua tersangka soal modus sakit hati. Polisi masih meragukan keterangan itu, sehingga perlu bukti dan saksi lain yang dapat menguatkan keterangan tersebut.

Karena, tentang otak pelaku yang disebut bernama Acui juga masih diragukan polisi. “Bisa saja dia (Acui) terlibat berdasarkan keterangan kedua tersangka, tetapi polisi yakin ada orang lain yang belum disebut namanya oleh kedua tersangka, “ ujar Agus.

Orang lain itu, lanjut Agus, kemungkinan disembunyikan namanya oleh kedua tersangka. Karena itu, polisi masih berusaha menangkap Acui. “Karena dari keterangan Acui itu kemungkinan akan terungkap siapa sebenarnya otak pelaku pembunuhan tersebut dan apa motif sebenarnya,” ucapnya.

Menurut Agus, Acui saat ini kemungkinan besar sudah keluar dari Indonesia. “Kemungkinan dia sudah tidak berada lagi di Medan, tetapi sudah di luar negeri, “ tambahnya.

Menurut Agus, dugaan itu karena salah satu eksekutor pembunuhan sudah terindentifikasi keluar dari Indonesia menuju Malaysia. Hanya saja, polisi belum mengetahui alamat pelaku.

Kesulitan lainnya, polisi tidak mengenal wajah pelaku dan nama pelaku tentu akan berubah selama berada di Malaysia.

Makanya, tambah Agus, penyidik memeriksa seorang wanita bernama Lina (30) warga Tanjungmorawa yang diketahui pernah bertemu dengan empat pelaku.  Saat ini, Lina sudah dipulangkan, karena statusnya hanya saksi.  (adl/mag-8)