29 C
Medan
Friday, April 10, 2026
Home Blog Page 15450

Sumur Tercemar, Kaporit Dibagikan

Dampak Banjir

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Medan membagikan kaporit gratis kepada masyarakat  korban banjir. Hal ini sebagai bagian untuk mensterilkan air sumur milik warga yang tercemar akibat banjir.

Sistem penyaluran untuk kaporit ini dilakukan melalui kecamatan masing-masing yang dilanda banjir. Penyaluran ini juga bertujuan supaya warga tidak terserang penyakit diare, akibat mengkonsumsi air yang tidak sehat.
“Kami distribusikan kaporit ke sumur-sumur warga, karena hasil yang ditemukan banjir yang merendam Kota Medan, sumur-sumur warga berubah warna menjadi keruh,” Ujar Kepala Dinkes Kota Medan, Edwin Effendi melalui Kepala Bidang Penanggulangan Masalah Kesehatan, Rumondang Pulungan saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (5/4).

Rumondang menyebutkan, di Kota Medan masih ditemukan sejumlah warga yang masih menggunakan sumur. Tapi, jumlahnya tidak banyak. Seiring inilah, banjir yang melanda Kota Medan, sumur-sumur tersebut diperkirakan tercemar. Seperti perubahan warna dan rasa. Oleh karena itu dalam waktu dekat ini, kaporit tersebut akan didisribusikan.

Lebih lanjut, dia menyampaikan ketersedian kaporit di Dinkes masih mencapai 100 Kg. Jumlah ini diperkirakan masih mencukupi untuk didistribusikan ke warga yang memiliki sumur.

“Kaporit yang didistribusikan tergantung dengan kebutuhan atau kedalaman sumur. Satu sumur, bisa dua sendok. Namun tetap, tergantung lokasi,” katanya saat ditanya soal banyaknya kaporit yang dibutuhkan  untuk satu sumur.
Dia mengingatkan, kepada warga yang menggunakan air sumut sebaiknya jangan menggunakan air yang warnanya keruh. Sebab, airnya bisa saja berbau. Untuk itu, sebaiknya jangan dulu digunakan untuk air minum, karena dikhawatirkan ada pencemaran. “Tapi untuk mandi cuci dan kakus bisa digunakan,” sebutnya.
Terpisah, Kepala Puskesmas Padang Bulan, Rehulina Ginting mengakui pihaknya akan mendistribusikan kaporit tersebut ke rumah warga yang menjadi korban banjir yang memiliki sumur.   (mag-7)

Mereduksi Otak Menjadi Mesin Fotokopi

Penulis sudah lama mengkaji  berbagai visi ujian sekolah, termasuk tentunya UN. Kalau boleh berpendapat, penulis menganggap visi ujian sekolah selama ini cenderung lebih mengukur porsi pengetahuan yang sudah dihapal siswa, tanpa mempersoalkan kemampuan analisa, dan sintesa, dan evaluasinya.

Seolah-olah mengingat pengetahuan itu paling berharga. Jadi prestasi ditentukan oleh kemampuan menghapal.
Padahal secara filosofi, apa yang dinamakan ujian sekolah, termasuk UN, merupakan visi pendidikan yang terakhir.
Jadi seyogyanyalah tidak menggiring siswa, secara langsung atau tidak langsung, memitoskannya sebagai visi pendidikan yang pertama.

Namun dari pencitraan justru ujian sekolah menjadi ukuran prestasi para siswa. Tidak peduli, sejauh mana pemahaman anak-anaknya terhadap materi pelajaran.

Yang penting bagi para orangtua, mereka memperoleh nilai bagus, minimal lulus, saat mengikuti UN. Terlebih bila dikaitkan dengan syarat nilai maksimal yang ditentukan untuk bisa melanjutkan ke jenjang berikutnya pada sekolah tertentu.

Semua itu tak lepas dari pendidikan selama ini yang nyaris merupakan proses penyesuaian siswa selaku objeknya terhadap sejumlah nilai kolektif  yang sudah dimobilisasi oleh pihak birokrasi yang terkait, yang dalam hal ini dipegang oleh Depdiknas, sehingga merupakan proses reproduksi alumnus, sesuai kurikulum yang diidealkan.
Setiap siswa dituntut berakomodasi. Bila selama jangka waktu tertentu dipandang telah memenuhi persyaratan akademis, diwujudkanlah secara tertulis dalam bentuk ijazah. Sebaliknya, akan dicap beragam kalimat yang berkonotasi ketidakdisiplinan atau ketidakmampuan.

Berarti proses pendidikan selama seperti itu  masih jauh dari praktik pembelajaran yang manusiawi, alamiah, dan sesuai jatidiri siswa. Otak yang secara default, berkemampuan luar biasa, modal bagi terciptanya beragam karya ciptan, namun sistem pendidikan telah mereduksi fungsinya sebagai mesin fotokopi.
Pendidikan yang asal-usulnya dijadikan sebagai fasilitas meningkatkan kesejahteraan dan membebaskan kesengsaraan (sumber peradaban), seolah-olah telah didominasi berbagai ritual dan ajang pengumpulan point. Pertanyaan semacam, “Dapat ilmu apa hari ini, nak?”, jarang terdengar dari mulut orangtua saat menyambut anaknya yang pulang dari sekolah.

Lembaga pendidikan formal seharusnya bercermin pada program pemberantasan buta huruf. Memang sangat sederhana, malah sering dianggap sebelah mata, tetapi mengandung keteladanan mental, itikad, dan antusias. Di sini tertanam kesadaran pada diri terdidik, adanya kesulitan berkomunikasi karena tidak bisa membaca ternyata telah menimbulkan ketidaktahuan, kebingungan, malah kebodohan. Pembicaraan antar siswa lebih banyak dengan pertanyaan, seperti “Kamu sudah dapat membaca koran?” dan “Kamu sudah menghapal berapa huruf?”, sementara  “Kamu tadi siang dapat nilai berapa” atau “Kamu sudah dapat sertifikat dari sekolah?”, nyaris tidak mendapat tempat. Obsesinya cuman satu, segera bisa membaca. Tak peduli, mau diberi nilai berapa.

Visi ujian sekolah seperti itu hanya akan mencetak manusia berwawasan klise dalam berucap, bertindak, dan berbuat. Prof. Dr. Paulo Freire asal Brasil menganggapnya sebagai lembaga pencetak alumnus miskin bahasa, yang gilirannya beresiko timbulnya budaya bisu, corong, atau klise.

Ingat pula, banyak siswa yang memperoleh nilai bagus saat UN, namun justru merasa terasing dengan substansi pelajaran-pelajarannya. Sungguh ironis. Mereka tidak tahu, apa gunanya semua pengetahuan yang dipelajarinya itu untuk kehidupan sehari-hari. Tanpa disadarinya, mereka telah dikondisikan untuk sekedar hapal dalam menghadapi ujian.

Miriplah dengan seseorang yang disuruh menghapal nama hewan. Ketika UN muncul pertanyaan, “sebutkan tiga nama hewan yang berawalan huruf A”. Ia bisa menjawabnya dengan Ayam, Anjing, dan Angsa. Tetapi ketika sudah lulus serta suatu saat mengunjungi Kebun Binatang, ia tidak tahu, mana yang Ayam, Anjing, dan Angsa, sehingga terpaksalah bertanya, “Ini apa?”

Ingat, semewah apapun sarana fisik pendidikan, baru dikatakan moderen bila proses dan hasil belajarnya dirasakan sebagai terhubung kehidupan sehari-hari. Selanjutnya akan memberikan kemampuan memecahkan berbagai problem beserta jalan keluarnya masing-masing.

Itu bisa terjadi bila setiap item pelajaran disertai penjelasannya secara tuntas, yang berarti memberi kesempatan siswa melihatnya dari berbagai sisi, kemudian menanyakannya bila dianggap perlu. Tetapi apa cukup waktu untuk itu bila materi pelajarannya  terlalu banyak, “belum selesai yang satu, sudah muncul yang lain”.
Okelah dilakukan, wong banyak juga guru yang karena panggilan untuk mentuntaskan pengertian, berinisiatiflah melakukannya. Tetapi ingat, hal ini bisa mengancam target kurikulum bila dilakukan setiap hari, karena sebagian materi menjadi tidak sempat diajarkan.

Barulah terasa pada UN. Para siswa dikejutkan dengan soal-soal yang belum pernah diajarkan. Akhirnya rata-rata mereka bernilai rendah. Inilah yang dikhawatirkan. Daripada disalahkan orangtua dan kepala sekolah, mereka mau tidak mau harus bersikap pragmatis, mengikuti target yang sudah ditetapkan.

Hal tersebut bisa dianalogikan dengan seorang guru yang menyatakan botol kecap sebagai tempat kecap kepada setiap siswa, tanpa perlu penjelasan lanjutannya, dalam artian, apakah bisa dipakai untuk barang cair lainnya? Bukankah ini sama saja dengan mengajarkan kebiasaan membuang botol kecap setiap kali isinya habis. Tidak ada inisiatif untuk memberdayakannya. Mental seperti inilah yang telah memberikan kontribusi penumpukan sampah, yang untuk skala masyarakat tertentu telah menciptakan problem lingkungan secara serius.

Itu baru satu macam. Belum lagi berbagai problem lainnya yang terlalu panjang untuk disebutkan di sini, yang bila dirunut ke belakang bisa saja berpangkal dari sistem pendidikan yang menggiring siswa berpikir lateral.
Memang ujian sekolah, termasuk UN, sangat penting untuk mengukur prestasi sekolah para siswa. Tetapi janganlah mereka digiring untuk menganggapnya sebagai visi pendidikan yang pertama.

Nasrullah Idris
acu@bdg.centrin.net.id

Tertibkan Pedagang di Bawah Tol

085277743xxx

Kepada yth Bapak Wali Kota Medan mohon ditertibkan, para pedagang yang menggelar dagangannya di bawah tol Denai, karena sering mengakibatkan kemacetan dan mengganggu para pengguna jalan.
Para pembeli sering sembarangan memarkirkan kendaraan mereka, bahkan sampai menutupi setengah badan jalan mohon segera di tertibkan.

Terima kasih.
Kami Tertibkan
Terimakasih informasinya, kami dari Satuan Polisi Pamong Praja segera menegur para pedagang dan berkoordinasi dengan lurah setempat. Penertiban tetap dilakukan demi keindahan Kota Medan. Selanjutnya, kami beritahukan bahwasannya berdagang di atas trotoar tidak dibenarkan karena melanggar Perda dan SK Wali Kota Medan.

Kriswan
Kepala Sat Pol PP Kota Medan

Belajar Puisi Secara Otodidak

Bagi Rizki Amalia, menulis puisi bukanlah hal yang mudah. Namun, jika puisi tersebut dibutuhkan secara mendadak, siswa kelas IX G SMP Negeri 28 Medan ini akan dengan cepat membuatnya, dan hasilnya tak perlu diragukan.

Amel, panggilan akrabnya, adalah remaja kelahiran Medan 15 Februari 1997. Amel memiliki bakat menulis puisi secara dadakan. Karena pada tahun 2009 lalu, saat Ia masih duduk di kelas VIII Ia sempat mengikuti even O2SN Kota Medan dan langsung menjadi juara 2 lomba cipta puisi di tingkat SMP. “Waktu itu saya didaftarkan teman, dan saya tidak tahu kalau saya didaftarkan. Jadi, mau tak mau saya harus menciptakan puisi yang pada waktu itu bertema ‘Sumut.’ Jadi saya menulis puisi tentang keindahan Danau Toba,” katanya, Selasa (5/4).

Menurut anak tunggal pasangan Agus Suprianto dan Endang Sugiartati ini Ia mempelajari tulis puisi secara otodidak. “Gak ada yang ngajarin, keluar begitu aja inspirasi-inspirasi yang ada di kepala,” ujarnya.

Atas prestasi yang tiba-tiba tersebut, kedua orangtua Amel juga terkejut. “Namun, seperti biasa, mereka tak pernah terlalu menunjukkan kebahagiaan mereka. Karena mereka takut saya jadi besar kepala atau sombong. Mereka berpesan kepada saya untuk lebih meningkatkan prestasi saya,” ungkap Amel.

Ternyata selain jago tulis puisi secara otodidak, Amel juga memiliki kelebihan di bidang hitung-menghitung. Karena Ia juga sempat meraih juara sempoa pada saat Ia masih duduk di bangku SD. Amel mengkau, pada kelas 2, 3 dan 4 Ia sudah ikut ls sempoa di satu bimbningan sempoa di Kota Medan. Alhasil, kelas 2 Ia meraih juara kedua, kelas 3 meraih juara pertama dan kelas 4 Amel juara ketiga tingkat Kota Medan. “Hingga saat ini dasar-dasar menghitung cara sempoa sudah saya kuasai, walau tak lagi ikut les sempoa,” tuturnya.(saz)

Kesiapan Mental dan Fisik Jadi Penentu

Untuk menghasilkan regenerasi yang berkompeten dan mapan, harus ada seleksi ketat kepada setiap calon anggota. Itu pula yang dilakukan PMR 066 SMP Negeri 28 Medan dalam menjaring juniorannya.
Pada penerimaan anggota baru Tahun Pelajaran (TP) 2010/2011 ini dari ratusan siswa kelas VII yang mendaftar, hanya menyisakan 20 orang.

“Kami bersama guru pembimbing memang menyeleksi calon anggota dengan cukup ketat. Karena ke depan kami ingin menghasilkan prestasi yang lebih banyak lagi untuk sekolah,” ungkap Ketua PMR 066 SMP Negeri 28 Medan Arini Fitri, Selasa (5/4).

Siswa kelas VIII F ini juga mengaku, banyak faktor dan kriteria yang harus dipenuhi para calon anggota. Seperti kesiapan mental dan fisik mereka yang utama, serta pemahaman mereka tentang PMR. “Dengan begitu, mereka akan lebih mudah menyamakan persepsi dengan para seniorannya nanti. Jadi, kami juga lebih mudah memahamkan mereka tentang visi dan misi PMR 066 SMP Negeri 28 Medan ke depannya,” tutur Arini.

Pembimbing PMR 066 SMP Negeri 28 Medan Sarliani Damanik SPd mengatakan, PMR 066 SMP Negeri 28 Medan baru saja memberangkatkan 2 anggotanya dalam mengikuti Jumpa Bhakti Gembira (Jumbara) Daerah II di Siantar pada Desember 2010 lalu. “Dengan mengikuti kegiatan tersebut, mereka meraih piagam penghargaan. Dan ini satu prestasi juga bagi PMR 066 SMP Negeri 28 Medan,” katanya.

Di sana, lanjut Arini menambahkan, yang berangkat sebagai kontingen Kota Medan ada 40 orang. Dan 2 diantaranya adalah anggota PMR 066 SMP Negeri 28 Medan. “Saya dan Rahmat Syah siswa kelas VIII G mewakili sekolah untuk bergabung di Kontingen Medan ke Jumbara Daerah itu,” jelasnya.(saz)

Gunakan Kurikulum Berbasis Sekolah

SMP Negeri 28 Medan

MEDAN- SMP Negeri 28 Medan memiliki visi mewujudkan atau menghasilkan lulusan yang berprestasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) serta iman dan taqwa (Imtaq).

Kepala SMP Negeri 28 Medan, Horas Pohan SPd didampingi Wakil Bidang Kesiswaan Wiwik Widayanti SPd mengatakan, untuk mewujudkan visi tersebut pihaknya menerapkan beberapa indikator yang berfungsi untuk menginformasikan visi yang telah tercapai.

“Indikator ini terdiri dari capaian prestasi di bidang keagamaan, akademik, teknologi, seni budaya bangsa, karya tulis ilmiah dan olahraga. Jadi setiap bidang ini memiliki syarat untuk mencapai prestasi dan subjeknya adalah siswa,” ungkapnya, Selasa (5/4).

Sementara itu, misi SMP Negeri 28 Medan satu diantaranya adalah penerapan kurikulum berbasis sekolah. “Jadi kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) disusun berdasar silabus yang telah diatur dalam Permendiknas No 23 Tahun 2006 tentang standar kompetensi lulusan (SKL). Nah, kurikulum ini juga dapat disesuaikan dengan kebutuhan yang ada di setiap satuan pendidikan untuk mencapai SKL tadi,” tutur Horas.

Saat ini SMP Negeri 28 Medan juga sedang mempersiapkan siswa kelas akhirnya untuk menghadapi Ujian Nasional (UN). Pihak sekolah memberikan les tambahan kepada siswa. “Les ini adalah gratis, dan kami juga menyarankan para siswa untuk mengikuti bimbingan belajar di luar,” papar Horas.

Tak hanya itu, lanjutnya, pihaknya juga memandu para siswa kelas akhir ini untuk melakukan belajar kelompok di kelas maupun di rumah.

Selain itu, menurut Horas, dalam proses pembelajaran, mereka juga telah menerapkan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) di sekolah tersebut. “Walau persentasenya masih kecil, para guru sudah ada yang menggunakan laptop dan infokus dalam menyampaikan materi pembelajaran di kelas. Dan kami akan terus mendukung pencapaian guru dalam mengajar menggunakan TIK di sini,” tegasnya.
Saat ini, SMP Negeri 28 Medan memiliki jumlah siswa 833 orang yang diasuh oleh 60 orang guru yang kesemuanya telah sarjana dan seorang diantaranya sudah S-2 dan seorang diantaranya pula sedang menjalani studi S-2.(saz)

Kemegahan Kualanamu Selevel Soekarno-Hatta

  • Dua Pesawat Bisa Mendarat Sekaligus
  • Kalahkan Bandara Hasanuddin Makassar

JAKARTA-Bandara Kualanamu akan menjadi salah satu bandara kelas wahid di negeri ini. Level kemegahannya hanya tersaingi oleh Bandara Soekarno-Hatta (Soetta), Cengkareng, Jakarta. Seperti halnya Bandara Soetta yang punya landasan model paralel independen, Bandara Kualanamu juga demikian. Dengan model ini, bandara baru pengganti Polonia itu bisa digunakan untuk pendaratan dua pesawat sekaligus dalam waktu bersamaann
“Tapi untuk tahap awal dibangun satu landasan dulu,” kata Direktur Bandara Departemen Perhubungan Bambang Cahyono kepada Sumut Pos kemarin petang (4/4) di Jakarta. Untuk panjang landasan, Bandara Kualanamu malah mengalahkan Bandara Soetta.

Bambang menyebutkan, dua landasan Bandara Soetta masing-masing panjangnya 3.660 kali 60 meter dan 3.600 kali 60 meter. “Sedang Bandara Kualanamu 3.750 kali 60 meter. Jadi lebih panjang Kualanamu,” terang Bambang.
Bagaimana jika dibandingkan dengan bandara lain di level daerah? Bandara Kualanamu tetap unggul. Bandara Sultan Hasanuddin Makassar sudah tergolong megah saat ini. Namun, nantinya tetap lebih megah Bandara Kualanamu. “Lahan bandara di Makassar itu 50 ribu meter persegi, sedang Bandara Kualanamu 120 ribu meter persegi,” sebut Bambang.

Jadi, apakah Bandara Kualanamu nantinya menjadi bandara terbesar di Indonesia? Bambang menjelaskan, besar kecilnya bandara dilihat dari jumlah penumpangnya. Jika ini ukurannya, sulit rasanya menandingi Bandara Soetta. “Untuk saat ini, terbesar Bandara Soetta, disusul Juanda Surabaya dan kemudian Bali,” terangnya. Dijelaskan, masing-masing bandara punya karakteristik penumpang berbeda-beda.

Jika bandara Soetta dan Ngurah Rai Bali seimbang antara penumpang domestik dan internasional, sedang Surabaya lebih banyak penumpang domestik. Sementara, Bandara Hasanuddin Makassar lebih banyak untuk penumpang transit.

Kalau Bandara Kualanamu nanti? “Diharapkan bisa bersaing untuk rute-rute Eropa, atau Korea misalnya,” terang Bambang. “Terlebih nanti Kualanamu ditunjang dengan kereta api,” imbuhnya.

Dijelaskan, penumpang dari Kualanamu nantinya bisa langsung terbang ke Eropa, sehingga bisa bersaing dengan bandara yang ada di negara tetangga Singapura dan Malaysia.

Mengenai pembangunan runway, Bambang menyebutkan, bukan merupakan kendala rencana operasional. Alasannya, pembangunan runway baru dimulai Januari 2011 dan diharapkan kelar Nopember 2012.
Bambang menjelaskan, khusus untuk pembangunan sektor publik lainnya, yang didanai APBN di mana terdapat 11 paket kontrak, posisi hingga pertengahan Maret sudah mencapai 78,1 persen. Delapan kontrak diantaranya sudah mencapai 100 persen. Sedang yang belum beres adalah pembangunan navigasi yang kini mencapai 45,5 persen, mekanik elektrical 82,5 persen, dan landasan yang baru mulai dikerjakan Januari 2011.

Dalam kesempatan yang sama, Bambang menilai, pembangunan sektor privat meliputi terminal penumpang, gedung kargo, jalan ke lokasi bandara, penampungan BBM, jalan dan parkir kendaraan, masih agak lambat. “Sektor privat ini dikerjakan Angkasa Pura II, agak lambat ini,” cetusnya.

Sementara, mengenai masih adanya  34 KK yang masih bermukim di area bandara, Bambang mengatakan, sebenarnya dulu sudah pernah dibayarkan uang ganti rugi. “Yang sekarang ini nggak tahu, mungkin anak-anaknya,” ujar Bambang.

Dijelaskan, pada Senin (11/4) mendatang akan digelar rapat koordinasi di Medan, khusus membahas Bandara Kualanamu. Rapat ini untuk mencari solusi terhadap persoalan-persoalan yang masih tersisa, seperti soal lahan. “Rapat dipimpin Deputy Setwapres di Medan,” ujarnya.

Gatot: Rampung Oktober 2012

Penjabat Gubernur Sumatera Utara (Pj Gubsu) Gatot Pujo Nugroho memastikan, Bandara Kualanamu akan rampung pengerjaannya pada Oktober 2012 mendatang. Hal ini merujuk laporan pihak AP kepada Presiden Susilo Bambang Yudoyono.

“Kita akan mengawal realisasinya. Tapi mungkin untuk runningnya (launching, Red), kemudian finishingnya baru akhir tahun atau awal Tahun 2013,” ungkap Gatot di sela-sela acara Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) Provinsi di Aula Martabe Lantai II Kantor Gubsu Jalan Diponegoro Medan, kemarin.
Untuk nama bandara, berdasarkan hasil Program Legislasi Daerah (Prolegda) DPRD Sumut menyatakan, tidak akan memakai nama Kualanamu. “Nama bandara nantinya memang harus sudah dilaunching secara nasional dan intenasional enam bulan sebelum pergantian (nama),” tutupnya.

Wakil Ketua DPRD Sumut HM Affan mendesak penyelesaian bandara pengganti Polinia itu. “Infrastruktur harus segera diselesaikan. Terutama jalur dari Medan ke Tebing Tinggi dan sebaliknya, serta jalur Medan ke Serdang Bedagai begitu pula Medan-Deli Serdang,” tuturnya.

Wakil Ketua DPRD Sumut dari Fraksi PDI-P ini menyatakan, perlu keseriusan untuk mengejar target penyelesaian pembangunan Oktober 2012. Wakil rakyat Sumut sudah menyampaikan hal itu ke pemerintah pusat, dalam hal ini, kementerian perhubungan.

“Kita sudah pernah ke pusat. Kita harus tahu bahwa pembangunan proyek ini gawean pemerintah pusat langsung. Pemprovsu hanya sebagai pendorong penyelesaian pengerjaannya. Maka dari itu, semua pihak harus bahu-membahu,” tegasnya. (sam/ari)

Gedung Ambruk karena Abrasi Sungai

Akbid Membantah Ada Mahasiswa Tertimbun

MEDAN-Ambruknya bagian gedung Akademi Kebidanan di Padang Bulan, Minggu (3/4) malam, memberi pelajaran berharga bagi pemerintah sebagai pemangku kebijakan dan seluruh warga Medan. Pasalnya, ambruknya gedung diduga karena konstruksi bangunan yang berada tepat di bibir Sungai Babura itu tidak mampu menahan abrasi akibat direndam air sungai. Apalagi, banjir besar di Kota Medan Jumat (1/4) lalu, turut merendam bangunan hingga setinggi sekitar tiga meter.

Apalagi, warga sekitar ternyata pernah berencana melakukan unjuk rasa, memprotes bangunan 4 lantai yang dituding menimbulkan banjir di kawasan jalan Bahagia tersebut. “Pondasi bangunan yang didirikan di atas air sebenarnya itu tidak boleh. Mereka sudah membangun di jalur hijau yang seharusnya tidak boleh membangun,” ujar A Ginting yang ditemui di rumahnya di Jalan Bahagia.

Mewakili warga lain, Ginting menuduh pengelola yayasan sangat tidak bermasyarakat dengan warga sekitar. “Di Gereja GBKP (tak jauh dari lokasi gedung) sempat dibahas pendirian gedung tersebut. He…, malamnya sudah runtuh. Itu semua hukuman Tuhan,” tambah Ginting yang malam kejadian turut membantu mengevakuasi mahasiswi ke gereja.

Ginting juga kecewa dengan pihak pengelola yang tidak melakukan pembersihan terhadap bekas runtuhan gedung itu.
Ucapan A Ginting dibernarkan P Ginting (40), warga lainnya. Sebelum kejadian itu mereka sempat menegur pihak yayasan atas pembangunan gedung yang memanfaatkan separuh saluran Sungai Babura. Bangunan dengan panjang 15 m x 8 m yang di sekat dengan beberapa ruangan tersebut dikhawatirkan menjadi penyebab terjadinya banjir di perkampungan Sari Rejo Polonia,  khususnya di pinggiran sungai.

“Kami sudah pernah menegur pihak yayasan itu untuk tidak memperpanjang bangunannya hingga mempersempit saluran air sungai babura itu tetapi tidak ditanggapi,” ujarnya kesal.

Kepala Lingkungan Enam Kelurahan Titi Rante Hamida Hanum (50) juga menguatkan dugaan gedung Akbid yang dibangun hingga bantaran sungai itu menjadi salah satu penyebab banjir di seputaran bantaran sungai di wilayahnya jika hujan turun.

“Warga di sini sudah pernah demo menuntut yayasan kampus itu tidak membangun hingga ke tengah-tengah sungai, tetapi tidak di tanggapi. Mereka, malah mereka bilang, Sepanjang tidak ada yang merasa dirugikan mengapa tidak?” ujar Hamida Hanum menirukan suara pihak yayasan.

Humas Akbid Senior Hasudungan Siahaan membantah tudingan itu. Hasudungan malah menggagap warga sekitar yang bertindak sebaliknya, tidak bersahabat dengan pihak yayasan. “Saya tidak terima, ini membunuh nama baik kami. Masyarakat tidak bersahabat. Kami tidak ada menggangu, seharusnya masyarakat bersyukur dengan adanya sekolah ini. Jualan kerupuk pun mereka laku, jalan sudah kami aspal, paret kami buat. Berterimah kasihlah,” pinta Hasudungan.

Terkait kerusakan, pihak yayasan berjanji akan segera melakukan evaluasi guna perbaikan agar kembali dapat dipergunakan. “Hingga saat ini pihak yayasan belum berencana untuk memindahkan lokasi yayasan,” ujarnya.
Pihak yayasan berjanji mengganti seluruh barang mahasiswi yang tidak dapat diselamatkan akibat musibah tersebut.
Hingga sore, garis polisi masih terpasang di lokasi rubuhnya gedung tersebut. Ini untuk mencegah adanya mahasiswa yang masuk ke dalam gedung untuk mengambil barang-barang mereka.  Hasudungan Siahaan menegaskan, pihak yayasan tidak mengizinkan siapapun memasuki gedung. Sebab, kondisi dinding gedung yang retak, dapat memicu hal serupa dengan kembali runtuh.

Terkait dengan simpang siurnya data korban akibat reruntuhan bangunan, Hasudungan membantah keras ada mahasiswi yang tertimbun. “Tidak ada yang tertimpa bangunan, korban luka-luka saja tidak ada karena sebelum kejadian kami sudah tahu duluan karena ada tanda-tanda retak di gedung itu, makanya kami langsung evakuasi,” ujarnya marah.

Pihaknya meminya pemberitaan di media massa diklarifikasi. “Karena itu tidak betul, maka kami minta kepada media yang memberitakan itu untuk segera mengklarifikasi pemberitaan itu.” katanya.

Dari informasi yang dihimpun wartawan koran ini dilokasi, tidak ada korban jiwa akibat gedung ambruk. Tetapi sejumlah mahasiswi dilaporkan terluka akibat terkena reruntuhan bangunan. Seorang mahasiswi bahkan dikabarkan melompat dari lantai atas ke sungai, karena panik saat insiden tersebut.

“Ada tuh satu mahasiswa yang melompat dari atas ke sungai saat kejadian. Untungnya dia selamat hanya saja kakinya keseleo,” ujar warga yang minta namanya tidak dikorankan.

Sementara itu, kepolisian menduga, runtuhnya gedung utama Akbid Senior disebabkan pengikisan air sungai pada dasar lantai. Kapolsekta Medan Baru Kompol Dony Alexander menuturkan, hasil pemeriksaan sementara runtuhnya bangunan pada sisi kiri gedung disebabkan abrasi. “Dugaan sementara, runtuhnya bangunan sisi kiri gedung disebabkan abrasi. Kan beberapa hari lalu hujan lebat, jadi terjadi pengikisan,” ujarnya.

Ditambahkanya, peristiwa tersebut tidak merenggut korban jiwa. Meski demikian, kejadian tersebut akan tetap diproses. “Tetap akan kita buat dalam bentuk laporan,” jelasnya.

Kanit Reskrim Medan Baru AKP Andy mengatakan, hingga saat ini beberapa korban yang diketahui hanya mengalami luka ringan. “Kalau luka ringan ada dong, beberapa orang itu tadi malam,” ujarnya.

Aktivitas belajar mengajar sendiri tetap berjalan lancar. Namun, pihak yayasan mengambil keputusan dengan mencari solusi kegiatan belajar mengajar mahasiswi. Sebagian mahasiswi terpaksa dipindahkan Kampus 2 yang terletak di Marelan.

Seperti diketahui sebelumnya, gedung Kampus Akademi Kebidanan (Akbid) Senior Jalan Bahagia Gang Pelita Nomor 32, Padang Bulan, Medan ambruk. Gedung yang ambruk terletak dibagian pojok belakang gedung berbentuk huruf U itu, berdekatan dengan Sungai Babura. Gedung yang ambruk dilantai empat merupakan ruang bangsal asrama perempuan. Lantai tiga, ruang belajar mengajar mahasiswa.(adl/mag-8)

Gedung itu Nyaris Merenggut Buah Hati Kami

Kisah di Balik Ambruknya Bangunan Akbid Senior

Klaim pihak yayasan tidak adanya korban jiwa dari ambruknya gedung Akademi Kebidanan Senior Medan, Minggu (3/4) tidak lantas alasan menyelesaikan masalah. Selain bingung akan tidur dimana, beberapa mahasiswi Akbid Senior Medan harus kehilangan tidak sedikit barang.

Meskipun matahari sudah berada di atas kepala, Senin (4/4) lokasi gedung Akbid Senior Medan yang juga kampus Universitas Generasi Medan di Gang Pelita tetap ramai. Baik dari anggota masyarakat, para siswi, hingga orangtua dan keluarga siswi. Kabar ambruknya gedung Akbid Senior bahkan membawa mereka dari daerah terjauh di Sumatera Utara ini.

Sebut saja Pak Tampubolon (43) yang tiba di Kota Medan pukul 09.00 WIB. Sembari duduk di kursi aluminium, dirinya menatap runtuhan bangunan di depannya. Rokok di sela-sela jarinya tak henti diisap, menenangkan pikirannya yang bergejolak mengenai peristiwa mengejutkan itu. “Untunglah anak saya sedang dinas dan baru saja pulang. Jadi dia juga tidak tahu kalau gedungnya ini roboh. Semoga saja isu adanya korban tertimpa itu tidak betul ya,” tuturnya kepada Sumut Pos.

Tak berapa lama, sang putri (sebut saja Susi, Red) yang siswi tingkat II Akbid Senior Medan
itu pun datang. Masih terlihat seragam dinas di balik sweater garis-garis coklat yang dikenakannya. Nada kesal terasa dari jawaban kepada ayahnya. “Semua barang-barang aku gak ada lagi katanya terbawa Sei Babura. Padahal (alat mengukur) tensi aku pun masih di situ semua. Sementara ini kami pun mau diungsikan ke Marindal,” ucap siswi yang tidak ingin disebut namanya.

Kamarnya yang berada di lokasi gedung ambruk tepatnya Ruang Nanas membuat dirinya dan siswi lain dilarang memasuki gedung di sisi kanan. Hal itu membuat dirinya semakin bingung dengan keberadaan barang-barangnya. Apalagi satu minggu ini dirinya masih menjalani dinas di rumah sakit yang sudah ditentukan.

Susi tidak sendiri, Rina (juga bukan nama sebenarnya, Red) juga terlihat bingung dengan kondisi gedung yang menjadi tempat tinggalnya. Karena kondisi gedung yang kini miring, tidak seorang pun diizinkan mendekati lokasi gedung yang ambruk. Apalagi naik ke atas untuk mengambil barang-barang yang ada. Tak pelak, keduanya dan beberapa siswi yang juga menempati kamar di gedung yang runtuh hanya bisa memandangi bangunan yang menimpa kamarnya.

Pantauan Sumut Pos, di dinding gedung Akbdi Senior tepatnya di sisi kanan, bangunan yang menyatu dengan dapur yang runtuh banyak ditemui retakan. Bahkan bangunan tadi seolah terpisah dengan bangunan di sebelahnya. Terlihat celah di dinding gedung yang hingga 10 centimeter. Sangat menyesakkan keluarga siswi mengingat uang pembangunan yang harus mereka bayar di tahun pertama.

Seperti yang disampaikan Siahaan (41), warga Marindal Medan yang putrinya siswi tingkat II di Akbid Senior Medan tersebut. Sebagai masyarakat awam dirinya bahkan terkejut melihat konstruksi bangunan yang ambruk. Padahal uang sebesar Rp12 juta harus dibayar sebagai uang pembangunan di awal putrinya menjalani pendidikan.
“Masak untuk bangunan empat tingkat seperti ini hanya menggunakan besi sekecil itu. Besi yang gitu cocoknya juga untuk bangunan rumah satu lantai. Padahal pertama masuk dulu kita diminta uang pembangunan Rp12 juta. Pardede (sekolah di yayasan milik keluarga Pardede) saja menggunakan besi sebesar batang pohon itu. Dan di situ tidak ada dikutip uang pembangunan,” kesalnya.

Dirinya pun memaparkan bagaimana kutipan-kutipan yang dikenakan kepada putri dan siswi Akbid Senior Medan lainnya. Selain uang pembangunan, uang kamar, uang diktat, uang buku, hingga uang praktek di rumah sakit-rumah sakit. “Kalau ditotal sampai tamat habis juga Rp100 juta-an,” tambahnya.

Apa yang dirasakan Siahaan tidak lah berlebihan. Sebagai orangtua tentu menginginkan yang terbaik untuk masa depan sang putri. Namun siang itu, kenyataan yang ditemui sangat mengejutkan dirinya. Bagaimana jumlah uang yang sudah dia keluarkan justru tidak menjamin keselamatan buah hatinya. Tak heran masyarakat pun turut menyampaikan rasa geram apalagi mereka merupakan saksi pembangunan gedung yang bermasalah itu.

Sebut saja Sembiring (bukan nama sebenarnya, Red) yang merupakan penduduk di Gang Pelita tersebut. Dengan tegas dirinya menuding pihak yayasan sudah mengabaikan nyawa siswinya untuk keuntungan semata. Seperti tahapan pembangunan gedung yang dilakukan secara bertahap tadi. “Ini kan dulu dibangun 2004 dengan dua lantai. Kalau gedung yang ambruk itu merupakan bangunan tahap kedua atau ditempel lah. Tapi karena siswi terus bertambah dibangun dua lantai lagi ke atas. Tapi pondasi tetap yang untuk bangunan dua lantai,” bebernya.

Lebih parahnya lagi lanjutnya, bangunan di sisi kanan gedung bersebelahan dengan aliran Sungai Babura yang beberapa hari lalu meluap hingga membenam dapur Akbid Senior tersebut. Akibad pengikisan air tadi kini pondasi gedung itu terlihat langsung ke dalam sungai sekitar satu meter dasar bangunan bahkan berada di atas sungai.
Seperti yang diberitakan sebelumnya, pukul 21.00 WIB gedung Akbid Senior Medan dan Universitas Generasi Muda Medan ambruk. Bangunan yang ambruk adalah gedung di sisi kanan dimana dapur dan ruang makan berada di bawahnya. Bangunan ini runtuh dari lantai empat hingga lantai dasar. Bangunan yang ambruk lainnya adalah bangunan di sudut kanan yang hanya ambruk hingga lantai dua.

Diberitakan, yang diberitakan ‘menghilang’, oleh beberapa orang disana 9 mahasiswa yang menghilang, disebut tertimbun bangunan. Sampai saat ini, berita menghilangnya 9 mahasiswa itu masih simpang siur, sementara dugaan tertimbun, akhirnya terpatahkan.

Hingga Senin (4/4) siang, evakuasi belum dilakukan. Pihak yayasan menegaskan, tidak ada korban jiwa pada peristiwa tersebut. Senin (4/4) dini hari satu mobil pick up dipenuhi dengan travel bag yang diduga milik para siswi menuju ke rumah mewah di Jalan Bunga Mawar No 66 Medan. Di situ juga para orangtua siswi yang belum bertemu Minggu (3/4) dikumpulkan dengan cara evakuasi diam-diam. (*)

Fee Proyek Mengalir ke Kantong Syamsul

Syamsul Garuk-garuk Kepala, Hakim Marah

JAKARTA-Sidang perkara dugaan korupsi APBD Langkat dengan terdakwa Syamsul Arifin kemarin (4/4) menghadirkan enam saksi yang diajukan jaksa penuntut umum (JPU). Salah satunya adalah Ismiati, mantan Bendahara Pengeluaran Dinas PU Pemkab Langkat. Perempuan berjilbab itu membeberkan modus pemotongan anggaran Dinas  PU sebesar 10 persen, yang disebutkan untuk Bupati yang saat itu dijabat Syamsul Arifin.

Diceritakan Ismiati, setiap mengambil uang ke Pemegang Kas Buyung Ritonga, Buyung selalu mengatakan, akan dipotong 10 persen untuk bupati. “Lantas saya bilang saya lapor dulu ke Pak Kadis PU (yang saat itu dijabat Surya Djahisa, red). Lantas Pak Kadis bilang, ya sudah kalau itu perintah Pak Bupati,” ujar Ismiati di depan majelis hakim pengadilan tipikor yang dipimpin Tjokorda Rai Suamba.

Hakim yang terkenal ketus saat mengajukan pertanyaan itu lantas bertanya, pernahkah saksi mengantar uang fee proyek ke bupati? Ismiati mengaku pernah, antara lain senilai Rp300 juta dan Rp500 juta. Uang itu diambi dari Kabid Pengairan Dinas PU Rifai dan atas perintah Surya Djahisa diantarkan ke Tukiman, pria yang biasa ‘bekerja’ di rumah dinas Syamsul. “Lantas dihitung uang itu oleh Pak Tukiman,” ujar Ismiati.

Dalam kesaksiannya di persidangan terdahulu, Tukiman mengaku tidak pernah tahu apa isi kiriman pemberian yang ditujukan ke Syamsul. Karenanya, dalam persidangan kemarin, anggota JPU Muhibuddin meminta ketegasan dari Ismiati, apa iya Tukiman menghitung dulu uang itu. “Iya,” jawabnya.

Selain Ismiati, ada lima saksi lain yang kemarin dimintai keterangan. yakni mantan Plt Kabag Keuangan (saat Buyung Ritonga naik haji) dan Kabag Keuangan (2004-2006) Aswan Sufri, staf di bagian Badan Pengelolaan Aset Daerah (BPAD) Ibrahim, mantan Kasubdit BPAD Sumardi, Kepala Dinas Teknis di salah satu kecamatan Siti Khadijah, dan mantan Kabid Anggaran Pemkab Langkat, Aziz Syahrizal.

Aswan Sufri yang paling banyak diajukan pertanyaan. Antara lain dia menyebutkan adanya pengeluaran untuk pimpinan dan anggota DPRD setiap tahun, setiap kali menjelang pembahasan APBD, yang nilainya rata-rata Rp2 miliar. Para wakil rakyat yang terang-terangan minta jatah itu agar pembahasan APBD lancar. Setiap kali menerima permintaan dari dewan, Aswan lantas lapor ke bupati. “Pak Bupati bilang, ‘selesaikan, urus dengan baik wan’. Begitu pak hakim,” kata Aswan.

Untuk pemberian ke anggota dewan ini, lanjutnya, sebagian menggunakan kwitansi penerimaan yang dikosongkan alias tak disebutkan nominal uangnya. Pria kelahiran 1951 yang kini sudah pensiun itu juga membeberkan modus ‘membungkam’ para auditor BPK dan Inspektorat setiap kali datang untuk melakukan pemeriksaan. Hakim Tjokorda sempat geregetan mendengar penjelasan Aswan yang dalam keterangannya sering asal jawab, tidak sesuai dengan materi pertanyaan yang diajukan hakim atau jaksa.

“Jangan asal jawab. Cermati dulu pertanyaan. Saya peringatkan, cermati!” bentak Tjokorda. Dalam keterangannya, Aswan lebih banyak menyebut nama Buyung.

Sementara, Sumardi juga mengaku pernah diperintahkan Buyung untuk mencairkan cek yang selanjutnya diserahkan ke Tukiman di rumah dinas bupati. Dia mengaku, lantaran jumlahnya tidak kecil, dia ke rumah dinas selalu disertai staf. “Saya tak mau ambil resiko,” cetusnya. Seingatnya, ia lima kali menyerahkan cek ke Tukiman, yang nilainya dalam kisaran Rp100 juta, Rp150 juta, Rp250 juta, dan Rp350 juta.

Begitu para saksi sudah selesai memberikan keterangan, Tjokorda memberikan waktu ke Syamsul untuk mengajukan pertanyaan. Hanya saja, sebelum memberikan waktu, Tjokorda bercelutuk,” Terdakwa jangan garuk-garuk kepala terus, tanyalah!”

Seperti pada sidang sebelumnya, Syamsul tak mengajukan pertanyaan. “Kalau saya bantah, panjang lagi ceritanya,” kata Syamsul. Tjokorda menyahut dengan nada tinggi,” Anda punya hak bertanya!”

Syamsul lantas mengomentari kadatangan tim BPK untuk melakukan pemeriksaan tahunan. “Soal kedatangan tim BPK, wajib dibawa ke kepala daerah. Saya disposisi ke sekda. Mau pulang, lapor lagi…,” ujar Syamsul. Kalimat Syamsul langsung dipotong hakim Tjokorda,” Kasih duit?”. Syamsul menjawab, “Tak ada Pak.”

Sebelum mengakhiri sesi jatahnya, Syamsul mengatakan,” Semua saya bertanggung jawab. Saya tak mau anak buah saya jadi korban.” (sam)