Home Blog Page 15515

Hari ini, Penembakan A Wie Direkonstruksi

MEDAN- Polresta Medan akan menggelar rekonstruksi penembakan Kho Wie To alias A Wie (34) dan istrinya Lim Chi Chi alias Dora Halim (30), di tempat kejadian perkara (TKP) Jalan Akasia I/Bambu III No. 50, Kelurahan Duriann Kecamatan Medan Timur, hari ini, Selasa (3/4).

“Rencananya besok (hari ini, Red) Polresta Medan akan melakukan rekonstruksi terkait penembakan A Wie dan Dora Halim,” ujar Kabid Humas Polda Sumut AKBP Heru Prakoso melalui Kasubid Dokliput AKBP MP Nainggolan, Senin (2/5). Menurut Nainggolan, rekonstruksi tersebut sangat perlu dilakukan agar jelas dan terang bagaimana peristiwa penembakan itu terjadi. Sehingga penyidik layak mengajukan perkara tersebut ke Jaksa Penuntut Umum (JPU). “Rekontruksi dilakukan untuk membuat jelas dan terang kasusnya, sehingga penyidik layak mengajukan berkas perkaranya ke JPU,” ucap Nainggolan.

Ditambahkannya, proses penyidikan sudah dilakukan terhadap saksi dan tersangka. Hasilnya, lanjut Nainggolan, tersangka diancam Pasal 340 sub 338 Jo 55 dan 56 KUHP dengan ancaman di atas 15 tahun penjara. “Pasal tersebut dikenakan kepada tersangka Sun An als Anlan als Anano als Ayung dan Angko,” ungkap Nainggolan.

Sampai saat ini, lanjut Nainggolan, tim bentukan untuk mengungkap kasus ini terus melakukan pengejaran terhadap eksekutor yang diketahui bernama Awi alias Yosep alias Alim Wijaya alias Jekson.

Sebelumnya, Dir Reskrim Kombes Pol Agus Andrianto pernah mengatakan, untuk menangkap eksekutor dalam kasus itu polisi telah mengirimkan tim ke Malaysia. Tetapi Agus menyatakan pihaknya harus berhati-hati sebab kemungkinan menyangkut warga negara asing (WNA).

Sementara Kapolresta Medan Kombes Pol Tagam Sinaga saat berkunjung ke Polsekta Medan Kota menyatakan, polisi sudah menjalin kerjasama dengan berbagai instansi terkait, di antaranya Imigrasi. “Kita sudah menjalin kerjasama dengan instansi lain, di antaranya Imigrasi. Sebenarnya ini sudah di luar kewenangan kita karena telah berkaitan dengan negara luar. Kita telah bekerjasama dengan Imigrasi,” jelas Kapolresta.(adl)

Menunggu Ketegasan Gatot

Mencuat kabar, tiga nama calon Sekretaris Daerah (Sekda) Provsu akan dirombak. Kabar itu kemudian diikuti munculnya dua nama baru sebagai kandidat, yakni Hasiholan Silaen dan Nurdin Lubis.

Apakah itu bakal terjadi? Dan siapa yang akan menjadi Sekda Provsu definitif terpilih? Berikut wawancara wartawan Sumut Pos Ari Sisworo dengan pengamat politik asal Universitas Sumatera Utara (USU) Ridwan Rangkuti.

Apa pendapat Anda dengan keberadaan Sekda Provsu yang tak kunjung definitif?
Sejauh ini proses pemilihan Sekda Provsu sudah masuk dalam tahap Tes Penilaian Akhir (TPA). Kendati demikian, memang belum ada jaminan setelah proses ini tidak akan ada perombakan. Seingat saya, dalam sebuah aturan ada yang menyatakan, pengajuan nama calon Sekda Provsu ini boleh lima calon. Jadi, seandainya ada dua nama lainnya pada prinsipnya ini bukan kocok ulang. Tapi telah sesuai dengan aturan yang ada.

Jadi, bagaimana dengan proses yang telah ada?
Kita lihat dari hasil TPA nya nanti. Kalau ketiga nama tersebut pada akhirnya ditolak tim TPA, maka secepatnya harus diganti. Kalau tidak, dan Pelaksana Tugas (Plt) Gubsu hendak memasukkan dua nama lainnya, ya itu tidak masalah. Polemik ini berkepanjangan karena, pengajuan tiga nama calon Sekda Provsu sebelumnya ada muncul pertanyaan apakah telah dikonsultasikan oleh Syamsul Arifin ke Gatot atau tidak. Tapi, sebenarnya persoalan ini tidak usah jadi berlarut. Karena, keberadaan Sekda ini harus segera didefinitifkan. Karena, Sekda ini adalah jabatan strategis dalam pelaksanaan dan pengelolaan pemerintahan. Meskipun demikian, penyelesaian persoalan ini menuntut ketegasan dari Pelaksana Tugas (Plt) Gubsu Gatot Pujo Nugroho.

Kenapa seperti itu?
Karena, Plt Gubsu ini adalah user nya. Jadi, kalau memang tiga nama tersebut telah sesuai dan sejalan dengan dirinya maka secepatnya dilaporkan ke Kemendagri. Agar prosesnya juga semakin cepat. Kalau tidak, Gatot harus segera memasukkan nama lainnya. Dengan begitu, setelah terpilihnya Sekda Devinitif akan secepatnya bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang selama ini berkembang.

Siapa yang paling berpeluang?
Siapa yang berpeluang, mungkin tidak akan terlepas dari sosok yang memiliki kesamaan visi dan misi dengan Pelaksana Tugas (Plt) Gubsu Gatot Pujo Nugroho. Karena dalam hal ini, Gatot kapasitasnya sebagai user atau pemakai. Maka kembali saya tegaskan. Gatot dituntut untuk tegas, kalau memang tidak akan memajukan nama lainnya maka itu segera dilaporkan ke pemerintah pusat. Begitu juga kalau Gatot berupaya untuk mengganti nama-nama yang telah ada, maka secepatnya pula dilaporkan ke pemerintah pusat.(*)

Kantor Disdiksu Dilempari Telur Busuk

MEDAN- Memperingati Hari Pendidikan Nasional, ratusan massa yang tergabung dari beberapa aliansi mahasiswa  menggelar aksi di Bundaran Majestik, DPRD Sumut dan Kantor Dinas Pendidikan Sumut, Senin (2/5). Dalam aksi ini, selain membawa atribut seperti spanduk, poster dan brosur, mereka juga melakukan teatrikal dan pembakaran ban.
Aksi diawali di Bundaran Majestik, Jalan Gatot Subroto Medan. Mereka melakukan orasi dan membagi-bagikan sejumlah brosur berisi pernyataan sikap. Setelah itu, mereka bergerak menuju DPRD Sumut di Jalan Imam Bonjol Medan. Di gedung dewan, massa kembali melakukan orasi dan membacakan pernyataan sikap.

Mereka menuntut pemerintah menghentikan komersial pendidikan dan punggutan liar dalam bentuk apapun dalam dunia pen didikan. Pemerintah juga dituntut menghapuskan kurikulum berbasis kapitalis di dunia pendidikan serta memberikan fasilitas yang layak terhadap peserta didik di sekolah. Massa juga meminta pemerintah untuk segera merealisasikan anggaran 20 persen untuk pendidikan.

Untuk mengundang perhatian para wakil rakyat, mereka menggelar teatrikal di depan gedung baru DPRD Sumut.
Setelah melakukan aksi selama setengah jam, namun tak ada anggota dewan yang menanggapi aksi tersebut. Karena tak mendapatkan tanggapan, massa kemudian menuju Kantor Dinas Pendidikan Sumut di Jalan Cik Tiro Medan.
Di kantor Disdik Sumut, massa juga melakukan orasi. Karena tak mendapatkan tanggapan dari Disdik Sumut, massa kecewa. Secara bersama-sama, mereka melemparkan telur ayam ke plang Disdik Sumut. Mereka mengaku kecewa terhadap Pemerintah karena dinilai telah gagal mencerdaskan anak bangsa.

“Pemerintahan saat ini gagal mencerdaskan anak bangsa. Seharusnya pemerintah memperhatikan dunia pendidikan kalau mau negara ini cerdas dan maju” kata Ronald selaku kordinator aksi.(mag-7)

Plt Gubsu Belum Respon

Sengketa Sari Rejo

MEDAN- Persoalan sengketa tanah Sari Rejo, sedikitpun belum mendapat respon dari Pelaksana Tugas (Plt) Gubsu Gatot Pujo Nugroho. Padahal, Gatot telah menerima berkas terkait sengketa lahan tersebut dari masyarakat pada 15 April lalu.

“Di facebook saya juga ada komentar mengenai hal itu (sengketa lahan Sari Rejo, Red). Tapi saya belum mendapatkan informasi yang detail, maka saya belum bisa berkomentar mengenai hal itu. Nanti akan kita konsultasikanlah,” katanya saat dikonfirmasi Sumut Pos di lantai 9 Kantor Gubsu Jalan Diponegoro Medan, Senin (2/5).

Saat ditanya, apakah Pemprovsu maupun Pemko Medan belum bisa memberi kepastian mengenai sengketa tersebut, meski masyarakat Sari Rejo telah memiliki kepastian hokum melalui putusan Mahkamah Agung (MA)? Gatot malah balik bertanya, “Apakah sudah ada eksekusi yang dilakukan? Ini kan sedang dipelajari, agar tahu kasusnya lebih dalam,” katanya.

Apakah ada niat dari Pemprovsu untuk melakukan komunikasi dengan pihak masyarakat Sari Rejo? Terkait hal itu, Gatot berkilah dan mengatakan, sejauh ini sudah ada upaya penyelesaian yang dilakukan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI. “Setahu saya sudah ada upaya dari DPD,” katanya.

Saat kembali disinggung mengenai putusan MA tersebut, Gatot menjelaskan, dirinya akan mempertanyakan eksekusi dari putusan MA itu, siapa yang melakukannya. Kalau memang Pengadilan Negeri (PN) Medan, maka dirinya akan mempertanyakan hal itu ke PN Medan apakah telah dilakukan atau belum.(ari)

Dengan Modal Kecil, Bisa Jadi Pengusaha

Dari Pelatihan dan Pengenalan Produksi Sablon untuk Industri Kreatif

Modal kecil bukan menjadi alasan untuk tidak memulai satu usaha. Untuk itu, perlu sedikit perubahan mindset mahasiswa dalam melihat sebuah kesempatan. Apalagi potensi besar ada di sekitar.

Indra Juli, Medan

Hal itu yang terungkap pada kegiatan “Pelatihan dan Pengenalan Produksi Sablon untuk Industri Kreatif” oleh Blue Motion Indonesia (BMI) di Universitas Pembangunan Panca Budi Jalan Gatot Subroto Medan, Senin (2/5). Dimana dengan kemauan dan kreatifitas yang tinggi, lapangan pekerjaan bukan lagi hal yang harus dikhawatirkan.

Salah satu peluang yang ada seperti usaha sablon masih memiliki peluang yang cukup besar. Apalagi usaha sablon ini memiliki beberapa kelebihan yang memungkin siapapun untuk mulai menggelutinya. Seperti modal yang dibutuhkan terbilang minim tapi memiliki margin keuntungan yang menjanjikan.

Peserta kegiatan pun terlihat antusias menyaksikan proses kerja dari menyablon yang diperagakan Foren Ardiansyah Siregar, seorang pengusaha sablon Kota Medan. Turut pula diperkenalkan bagian-bagian peralatan untuk menyablon seperti screen, cater, emulsi, unit afdrak, tinta dan lain-lain. Peralatan-peralatan tadi pun tidak selalu harus dibeli sehingga dapat menghemat biaya produksi nantinya. Begitu juga pengenalan terhadap usaha sablon yang disampaikan dalam dialog dua arah.

“Untuk peralatan memang sih ada yang menjual komplit dan pasti harganya mahal. Makanya sengaja saya bawa mesin sablon ini untuk memperlihatkan kita juga bisa membuat sendiri. Untuk membuat mesin seperti ini saya hanya mengeluarkan dana Rp3,5 juta. Sangat murah dibanding bila saya membeli hampir bahkan lebih dari sepuluh juta,” ucap Foren.

Tahapan demi tahapan penyablonan pun mendapat perhatian seluruh peserta. Beberapa pertanyaan yang disampaikan tak urung membuat Foren harus menghentikan kegiatannya. “Untuk segmen pasar juga sangat beragam. Perusahaan, organisasi, sekolah, perusahaan pakaian, perorangan, juga merek pakaian. Tinggal kita memilih untuk fokus dimana. Jadi usaha sablon ini tidak sekecil yang di pinggir-pinggir jalan itu,” tegasnya.

Di sesi sebelumnya, peserta diberikan pandangan bagaimana pentingnya jiwa enterpreneur untuk memecahkan masalah pengangguran di tengah-tengah masyarakat. Untuk itu, panitia pun menghadirkan narasumber seperti Ir AH Maruzar sebagai pengembang Sumber Daya Manusia (SDM), Eko Wahyu Hidayat sebagai Manager Marketing Dunkin Donat Wilayah Sumatera Utara (Sumut), M Thoyib Daulay sebagai Kepala UKM Centre Universitas Panca Budi, dengan moderator Drs H Indra Jaya Lubis Ak yang juga Rektor IV Universitas Panca Budi. Turut hadir Ketua Umum BMI Chris Andriaz Panggabean didampingi Wakil Ketua Hermansyah Pulungan dan Sekretaris Jenderal Aslam Asyura
Menurut Ir AH Maruzar, mahasiswa harus menghemat waktu untuk mengembangkan potensi yang dimiliki.

Mahasiswa juga diingatkan akan hilangnya jiwa enterpreneur yang melahirkan pemikiran sulit mencari pekerjaan. Bahkan angka yang cukup besar juga tercatat di tingkat Strata 2. Semua itu sejalan dengan data BPS 2010 yang menyebut angka pengangguran mencapai 116 juta. Begitu juga Eko Wahyu Hidayat yang mengingatkan mahasiswa untuk merubah mainset yang ada.

Begitu pun setiap usaha yang dijalankan juga dituntut jaringan yang baik. Di samping menjaga kepercayaan dengan selalu membuka diri untuk semua masukan dan keluhan konsumen. “Jadi sekarang waktu menjadi sangat berharga. Semakin cepat kita memulai, semakin banyak waktu yang kita miliki untuk belajar. Mahasiswa pun harus mulai merubah mindset yang ada. Tidak lagi bagaimana mencari pekerjaan melainkan bagaimana membuka lapangan pekerjaan.

Seperti yang disampaikan Ketua Pelaksana Afin, kegiatan ini merupakan agenda dari BMI di bidang pendidikan. Pelatihan itu sendiri akan berlanjut, Selasa (3/5) di salah satu Yayasan Sosial di Jalan Halat Medan. “Kita berharap dari kegiatan ini, mahasiswa tidak lagi kebingungan setelah tamat nanti. Bahwa dengan kemauan dan kerjakeras mereka juga bisa menciptakan sumber penghasilan dan mandiri. Itu yang menjadi visi dan misi dari BMI,” ucap Afin.(*)

Kapolsek Medan Baru Bungkam

Perampokan Bersenpi

MEDAN– Sikap antipati terus ditunjukkan Polsekta Medan Baru terhadap wartawan. Kapolsekta Medan Baru Kompol Dony Alexander dan Kanit Reskrim Iptu Andik Eko Siswanto bungkam saat ditanya soal perampokan bersenjata api di Jalan Hang Tuah No.5 B, Kelurahan Madras Hulu, Kecamatan Medan Polonia yang terjadi Minggu (1/5) lalu.

Dony Alexander yang dikonfirmasi beberapa kali melalui telepon selulernya tak bersedia menjawab. Sedangkan, Andik Eko terus menghindari kejaran wartawan. Padahal sebelumnya, Andik dengan menyakinkan menegaskan, pelaku perampokan akan segera ditangkap tidak sampai satu hari. Namun, hal itu tak terealisasi. Sementara, informasi yang berhasil dihimpun dari kepolisian, identitas para pelaku perampokan sudah diketahui. Untuk mengejar para pelaku, polisi membentuk Tim Khusus (Timsus) Polresta Medan yang dipimpin AKP Yorris Marzuki. “Semalam (pasca kejadian), setelah melakukan olah TKP dan keterangan saksi-saksi, langsung dilakukan pengejaran,” ucap sumber tersebut. Namun, hasil pengejaran tersebut belum membuahkan hasil apa-apa.

Disebutkannya, tim yang melakukan pengejaran sudah sam pai ke Sidakalang. “Berdasarkan informasi dan kita mempunyai data dari seluruh pelaku curas (pencurian dengan kekerasan, Red), sudah melakukan pengejaran ke Sidikalang. Namun, tidak juga membuahkan hasil. Kita akan tetap berupaya mengungkapnya,” bebernya.

Seperti diketahui, kawanan perampok bersenjata api (senpi) beraksi di rumah Haris Sukanto (33) Warga Jalan Hang Tuah Nomor 5B, Kelurahan Madras Hulu, Kecamatan Medan Polonia, tepatnya di depan sekolah Yayasan Pendidikan Gereja Methodist Indonesia, Minggu (1/5) pagi pukul 06.00 WIB. Pelaku yang diketahui berjumlah lima orang, salah satunya memakai sebo dan membawa dua pucuk senpi dan golok, berhasil membawa kabur emas, uang dolar kontan dan empat unit hp dengan total kerugian diperkirakan Rp1 miliar. Keterangan yang diperoleh di lapangan, Martini (43) yang baru sebulan bekerja sebagai pembantu di rumah tersebut, keluar rumah pukul 06.00 WIB untuk membuang sampah.

Setelah menggasak harta korban, pelaku meninggalkan rumah itu. Seorang korban mampu melepaskan tangan dari ikatan dan bergegas melapor ke Polsek Medan Baru. (adl)

Rusak Warung Tetangga, Perwira Poldasu Dipolisikan

POLRESTA MEDAN- Oknum perwira berpangkat Ajun Komisaris Polisi (AKP) pejabat Identifikasi Poldasu terpaksa berurusan dengan Sat Reskrim Polresta Medan. Pasalnya, oknum polisi tersebut dilaporkan tetangganya sendiri karena melakukan pengancaman dengan senjata tajam (kelewang) serta merusak warung milik tetangganya tersebut.

Dari informasi yang dihimpun di Mapolresta Medan, Senin (2/5), oknum polisi berinisial AKP JP tersebut mengancam Brinawati Br Manurung (41), warga Jalan Menteng 7, Medan Denai dengan klewang hingga korban trauma berat. Brinawati mengatakan, saat itu dia didatangi pelanggannya bernama Mak Horas Br Sinaga di warungnya. Mak Horas menanyakan keberadaan Debora Aritonang istri perwira Poldasu itu. Pasalnya, Mak Horas hendak menagih utang. Lantas, Brinawati memberitahukan keberadaan Debora.

Ternyata, hal itu memicu kemarahan AKP JP dan mendatangi warung korban dengan membawa sebilah kelewang. Dia mengancam dan merusak warung korban.

“Saat itu aku takut sekali melihatnya wajahnya yang sangat garang saat membawa kelewang dan mengacungkanya sama saya. Dia juga merusak warungku hingga berantakan begini,” kata wanita separuh baya ini. Atas perlakuan pelaku itu, akhirnya korban mengadukan kejadian itu ke Sat Reskrim Polresta Medan dengn Nomor STPL/1078/IV/SU/Resta Medan tertanggal 30 april 2011.

Wakasat Reskrim Polresta Medan AKP Ruruh Wicaksono Saat dikonfirmasi mengaku belum mendapat lapora dari anggotanya. (mag-8)

Lakalantas di Jalan Tol Menurun

Jasa Marga Terapkan sistem 3E

BELAWAN- Sejak diberlakukannya system 3E (Enginering, Education dan Enforcement) oleh PT Jasa Marga, jumlah kecelakaan lalulintas (Lakalantas) di jalan tol Balmera (Belawan-Medan-Tanjung Morawa) mulai berkurang.

Menurut data yang diterima wartawan koran ini, Senin (2/5), jumlah kecelakaan lalulintas yang terjadi di jalan tol Balmera mulai dari Januari hingga awal Mei 2011, terjadi tujuh kali lakalantas atau 1,12 persen. Sementara itu, pada 2010 lalu, terjadi 20 kali kecelakaan lalu lintas.

Kepala Sub Bagian Manajemen Lalu Lintas PT Jasa Marga Persero Cabang Belawan-Medan-Tanjung Morawa (Belmera) Nurmawan mengatakan, menurunnya tingkat lakalantas di jalan tol Balmera karena pihaknya sudah memberlakukan sistem Enginering, Education dan Enforcement (3E).

“Pemberlakuan Enginering seperti membangun jembatan penyebrangan di jalan tol,” ujarnya.
Sementara itu, Education, memberikan imbauan berupa pemasangan spanduk-spanduk di pintu-pintu gerbang tol dengan tulisan seperti “pergunakan sabuk pengaman bagi pengemudi”.

Sedangkan Enforcement, pelaksanaan berupa tindakan. “Dengan upaya pemberlakuan 3E tersebut, maka tingkat kecelakaan yang terjadi pada tahun ini bisa berkurang, dan kedepannya akan kami tingkatkan kembali,” katanya.
Selain itu, upaya yang dilakukan pihaknya untuk mengurangi angka lakalantas di jalan tol Balmera dengan melakukan bina lingkungan kepada masyarakat, seperti memberikan bantuan ke sekolah-sekolah yang membutuhkan. Pihaknya juga memberikan sosialisasi berupa penyuluhan tentang larangan-larangan yang ada di jalan tol.

Lebih lanjut, Nurmawan menambahkan, fasilitas lain yang akan dibangun guna memperlancar arus lalu lintas di jalan tol, maka akan didirikan tempat istirahat yang rencananya akan terealisasi pada tahun 2011 atau 2012.
“Pendirian tempat istirahat sangat penting, mengingat hal tersebut bisa mengurangi tingkat kecelakaan yang faktor dominannya disebabkan supir yang mengantuk,” tambahnya.

Penanganan lakalantas secara cepat dan tepat terhadap korban merupakan langkah dan tindakan yang sangat di dambakan bagi masyarakat khususnya para pengguna transportasi jalan tol sehingga korban lakalantas bisa mendapatkan penanganan secara dini dan mengurangi tingkat cedera yang lebih parah.(mag-11)

Istimewa dengan Panel Surya

Institut Sains dan Teknologi TD Pardede (ISTP)

Medan-Berdiri sejak 1961, Institut Sains dan Teknologi TD Pardede (ISTP), tak mau tertitnggal dalam upaya mencerdaskan bangsa. Sekian usaha pengembangan telah dilakukan oleh institusi yang sebelum 1987 bernama Akademi Tekstil Pardede tersebut. Satu diantaranya adalah memiliki fasilitas yang lengkap.

“Mendiang TD Pardede ingin mendirikan ITB di Medan, lalu idenya muncul untuk mendirikan ISTP ini,” buka Rektor ISTP, Ir Rudolf Sitorus MLA, Kamis (28/4) siang lalu di rektorat.

Fasilitas unik, menarik dan menjadi satu-satunya di Medan yang dimiliki ISTP adalah panel surya. “ISTP mempunyai panel surya. Tenaga listrik yang dihasilkan panel surya ini sudah kita pergunakan di ruangan Tata Usaha dan Biro Administrasi. Tidak hanya itu, di Medan, perguruan tinggi yang mempunyai panel surya baru ISTP,” tambah Rudolf yang didampingi Wakil Rektor III, Ir PHP Siabarani Msi.

Dijelaskan alumni ITB ini, panel surya merupakan pemberian dari negara Jerman. “Panel surya yang kita miliki ada 16 uit, satu unit Rp4 juta. Arus yang dihasilkan panel surya ini 800 s.d 900 watt,” jelasnya.
Pihak ISTP juga selalu mengundang pihak tertentu untuk berbagi ilmu. Misalnya, mengundang pelajar SLTP sederajat dan SMU sederajat termasuk STM. “Kita juga membuat Kelas Kreatif Desain yang tercipta berdasarkan ide-ide kecil namun kreatif,” ucapnya.

Soal akademis, ISTP kini memiliki 7 program studi S1 dan 2 program studi D3. ISTP memiliki program untuk mencetak tenaga siap pakai. “Setiap program studi dilengkapi dengan laboratorium standar fisika, matematika dan kimia. 9 program studi itu diantaranya S1 Informatika, S1 Teknik Elektro, S1 Teknik Perencanaan Wilayah Kota & Kota, S1 Teknik Pertambangan, S1 Teknik Geologi, D3 Desain Interior dan D3 Manajemen Informatika,” katanya.
Rudolf Sitorus mengatakan, di Medan sendiri baru ITM dan ISTP yang mempunyai program studi Teknik Geologi. “ISTP ini mempunyai program studi yang bisa diandalkan yaitu Teknik Geologi. Tidak hanya itu, jurusan ini hanya ada dua perguruan tinggia swasta yang memilikinya,” ujarnya.

Untuk menjadikan tenaga siap pakai, pihak ISTP sadar tak sekadar memberikan teori di kelas.

Selain praktik, ISTP juga memberikan studi banding bagi mahasiswanya seperti ke Puket Thailand dan Malaysia untuk mata kuliah Apresiasi Arsitektur. “Studi banding ini didampingi 2 dosen dan merupakan mata kuliah tiap tahunnya. Ketika melakukan studi banding ke luar negeri, kita juga melakukan penelitian dan melakukan desain rumah. Tidak hanya itu, studi banding ini bertujuan pembelajaran yang lebih mendalam,” tuturnya.

Dijelaskan ayah 4 anak ini, mahasiswa ISTP juga pernah melakukan penelitian di Samosir terhadap rumah ibadah dengan gaya bangunan rumah adat. “Ya, mahasiswa mempunyai ide menggabungkan desain modern dan klasik. Dari situ bisa dilihat bahwa mahasiswa kita yang belum wisuda sudah bisa pakai,” ungkapnya. (jon)

Tuntutan tak Pernah Disahuti Pemerintah

Peringatan Hari Buruh

Sejak lima tahun lalu tuntutan ratusan buruh mengenai penghapusan out sourching belum juga terwujud hingga kini, tapi kini tuntutan itu muncul lagi, namun pihak pemerintah belum juga mengabulkannya.

Seperti aksi unjuk rasa peringatan hari buruh, Senin (2/5) di Kota Medan, ratusan buruh yang tergabung dalam Dewan Buruh Sumatera Utara (DBSU) berunjuk rasa di Gedung DPRD Sumut. Dalam aksinya, massa buruh yang berasal dari Serikat Buruh Seluruh Indonesia (SBSI) 1992 Sumut, Perserikatan Pemberdayaan Organisasi Lokal (TEP-LOK), Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Medan, LP2SU, LBH Medan, Kontras Sumut dan Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia (IKOHI) Sumut menuntut, penghapusan sistim outsourching, menjadikan 1 Mei menjadi hari libur nasional dan menolak kekerasan dan kriminalisasi terhadap buruh dan jurnalis.

Tak hanya itu, buruh juga menuntut agar pemerintah menghentikan praktek-praktek mafia anggaran dan mafia tender yang semakin sistematis dan korup. Selain itu, massa aksi meminta dihentikannya penggusuran terhadap pedagang kaki lima (PKL), alasannya berdagang di kaki lima adalah pilihan terakhir masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup.

“Hari ini kesejahteraan buruh masih jauh dari harapan, karena itu kami mendesak agar hak-hak buruh diberikan,” kata Ketua SBSI 1992 Sumut, Pahala Napitulu.

Aktivisi buruh sejak belasan tahun lalu ini menegaskan, apa yang menjadi tuntutan buruh sejak lima tahun lalu tak akan pernah berubah, sampai adanya itikad pemerintah membela kaum buruh di negara ini. “Memang tuntutan kami dari tahun ke tahu tidak berubah, karena apa yang kami perjuangkan selama ini belum direspon pemerintah,” tegasnya.

Dia menyampaikan, Gubsu hendaknya segera menginstruksikan kepada Disnakertrans Sumut untuk segera menyelesaikan pengaduan buruh yang sudah berlarut-larut di instansi tersebut. Sebab, semakin lama penyelesaian kasus-kasus buruh akan berdampak kepada semakin tidak jelasnya keberadaan buruh dan terus diintimidasi pihak perusahaan.

Para pengunjukrasa di DPRD Sumut diterima dua orang anggota DPRD Sumut, Sopar Siburian dan Salomo Tabah Ronal Pardede. Pada kesempatan itu, Sopar dan Salomo menyatakan, akan menindaklanjuti aspirasi para buruh.
Puas dengan jawaban wakil rakyat, massa kembali menggelar unjuk rasa di Kantor Gubernur Sumatera Utara (Gubsu), Jalan Diponegoro Medan dengan tuntutan yang sama.

Di Kantor Gubsu, massa diterima Kabag Tenaga Kerja Biro Bina Sosial Pemprovsu, Ibnu Saud. Dihadapan massa itu, dia menyampaikan, aspirasi massa ini akan disampaikan pimpinan. “Hal ini akan kami sampaikan kepada pimpinan  untuk disikapi,” katanya menjawab tuntutan massa.

Kabid Humas Polda Sumut, AKBP Heru Prakoso menyatarakan, unjukrasa memperingati hari buruh sedunia di sejumlah titik, seperti Kantor Gubernur, DPRD dan lainnya berlangsung aman tanpa gangguan berarti. Polisi tetap berjaga melakukan pengamanan. (ari/adl)