28 C
Medan
Thursday, April 9, 2026
Home Blog Page 15565

Soal Nurlia, Pelapor yang Jadi Tersangka, Sudah Diserahkan Kepada Kejaksaan

Pada 10 Juli 2010 lalu, bocah sembilan tahun M Alfariji bermain ketapel burung bersama teman-temannya di kawasan Dusun IV Desa Percut Seituan Kecamatan Percut Seituan Kabupaten Deli Serdang. Lagi asyik-asyiknya bermain, batu ketapel salah seorang dari mereka mengenai seng rumah Jumian. Sadar dengan itu, mereka pun langsung kabur.

Tak pelak, Jumian langsung mengejar mereka. Sial bagi Alfariji, bajunya tersangkut di sebuah sepeda motor milik tetangganya. Tanpa banyak kata, Jumian yang sehari-hari sebagai bilal dan pegawai Rumah Sakit Haji Medan itu dengan garangnya langsung menampar keras hingga kuping Alfariji berdarah.

Singkat cerita, mengetahui hal itu sang ibu Nurlia (33) langsung mendatangi Jumain dan menanyakan kenapa anaknya dipukul. Bukannya minta maaf dan mengobati anaknya, Jumian justru menyerang Nurlia dengan membabi buta. Beruntung hal itu dapat dilerai warga.

Karena waktu persoalan menemui jalan buntu atas tindak kekerasan terhadap anak dan dirinya, maka dirinya melaporkan kasus pemukulan ke Mapolsek Percut Seituan pada 12 Juli 2010.Berselang satu bulan kemudian pada 3 Agustus 2010, Nurlia menerima surat panggilan dari Polsek Percut Seituan. Pada awalnya dirinya senang, mendapatkan surat panggilan sebagai saksi atas pemukulan anaknya, tapi kejadiannya dia malah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus penganiayaan terhadap Jumain Dahlan dan Masripa oleh Percut Seituan yang saat itu kapolseknya AKP Josua Tampubolon. Memang dia tidak ditahan namun ia harus menjalani wajib lapor. Di saat wajib lapor, malahan penyidik AIPTU AH Batubara selalu memberikan ancaman dan intimidasi kepada Nurliah.

Terkait dengan itu, Senin (14/3) kemarin sekitar pukul 13.00 WIB di Mapolsek Percut Seituan, Maringan Simanjuntak menyampaikan, kedua pihak yang berperkara akan diserahkan sepenuhnya kepada pihak Kejaksaan. Sebab, kasus yang terjadi pada Juli 2010 lalu telah masuk ke tahap P21. “Sehingga, setelah diperintahkan oleh Kapolresta untuk segera menyelesaikannya, semua berkas perkara sudah kita serahkan kepada pihak kejaksaan,” ujarnya.

Dijelaskannya, kasus ini muncul ke permukaan setelah adanya upaya dari pihak Polresta Medan menggelar sidang perkara. Padahal, sebagai pimpinan di Polsek Percut Seituan, dirinya mengakui belum mengetahui perkara yang ditangani anak buahnya. “Persoalan ini terjadi sebelum saya menjabat menjadi Kapolsek Percut. Akan tetapi, sesuai dengan instruksi Polresta, jika memang ada tindakan pelanggaran yang dilakukan anak buah saya, saya pun akan menindaknya, tidak ada yang saya tutupi,” tegasnya.  Lebih lanjut dikatakannya, sebagai Kapolsek dirinya juga telah memanggil kedua pihak yang berseteru untuk menjelaskan duduk persoalan yang terjadi di Juli 2010 lalu. Akan tetapi, dalam pengakuan yang diterimanya dari kedua pelaku tidak sesuai dengan keterangan yang disampaikan saat membuat pengaduan di Polsek Percut Sei Tuan pada Juli 2010 lalu.

“Anehnya, kedua pelaku tidak mengakui melakukan pemukulan. Padahal berkas kedua pelaku sama-sama mengadu ada tindakan penganiayaan. Sehingga, semuanya ini lebih baik diserahkan ke pihak kejaksaan untuk memprosesnya,” katanya.

Selain mendapat respon dari Polsek Seituan, Nurliah juga melaporkan kasus penganiayaan yang dilakukan oleh Jumain terhadap anaknya dan dirinya ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah-Sumatera Utara (KPAID-SU).
Kepada wartawan koran ini dia mengatakan, dengan adanya pengaduan ini nantinya melalui KPAID bisa mendesak Kepolisian Medan maupun Sumatera Utara untuk lebih peduli dengan kasus yang dianggap cacat hukum ini. “Kita harap semoga KPAID bisa bekerja profesional dan bisa mendesak polisi untuk perhatian terhadap kasus ini, jangan mentang-mentang kami orang susah bisa ditindas begitu saja,”ujarnya.

Sementara itu Anggota Kelompok Kerja (Pokja) Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah-Sumatera Utara (KPAID-SU), Zahrin Pilliang kepada wartawan koran ini usai mengatakan sangat terkejut akan adanya kasus yang lagi-lagi membuat hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap Polisi.”Kita harap nantinya ini bisa diselesaikan,” katanya. (mag-8)

Ke KPAID Lagi

NurLia kembali mendatangi Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Sumut, Senin (14/3). Didampingi kuasa hukumnya, Nasbi SH, Nurlia menutut kembali ketegasan KPAID mengenai penganiyaan terhadap anaknya, M Alfariji.

Kedatangan Nurlia diterima langsung oleh Zahrin Piliang Ketua KPAID Sumut. “Kedatangan kami ke sini untuk kembali meminta kepada KPAID Sumut untuk kembali membantu proses kasus ini serta menyurati kembali Kapolsek Percut Seituan untuk menangkap Jumian yang menganiaya anak saya,” katanya. Sebelumnya, Nurlia sudah mendatangi KPAID, tepatnya pada Rabu (18/8) silam. Seperti kemarin, Nurlia juga meminta KPAID Sumut untuk turun dalam kasus kekerasan terhadap anaknya yang masih berumur sembilan tahun itu. Namun, hal itu ternyata tak direspon oleh pihak KPAID Sumut.”Kami meminta kedua kalinya kepada KPAID untuk serius dan merespon kasus yang dialami oleh anak saya,” katanya lagi.

Sementara itu kuasa hukum korban Nasbi SH mengatakan tidak puas dengan gelar perkara yang dilaksanakan pada Sabtu (12/3) lalu. “setelah kita menggelar gelar perkara bersama Kapolresta Medan saya tidak sepenuhnya puas. Selanjutnya kami akan tetap menyurati Kapolda Sumut yang baru dan tembusan ke Kapolri mengenai masalah ini,” tegasnya.

Selain itu, Nasbi juga mengatakan Pengadilan Tinggi Labuhan Deli untuk mengkaji ulang berkas P21 Nurlia. Pasalnya, seharusnya adalah korban penganiayaan bukan tersangka penganiyaan. “Saya juga meminta diproses secara hukum penyidik Aiptu AH Batubara dan Kapolseknya M Simanjuntak,” tambahnya.  Menyikapi kedatangan Nurlia, pihak KPAID Sumut melalui Zahrin Piliang berjanji akan menindaklanjuti hal itu. “Berdasarkan fakta yang kita lihat sudah 2 kasus yang ditangani oleh pihak Polsek Percut Seituan mengenai kasus anak. Yang pertama kasus pemerkosaan anak dan yang kedua kasus M Alfariji ini. Namun sampai kini Polsek Percut Seituan tidak bisa menyelesaikan masalah ini,” jelas Zahrin. “Karena itu, kita akan menyerukan Kapolsek Percut Sei Tuan untuk segera memproses kasus ini sesuai hukum yang ada,” tambahnya.(mag-7)

Untung Tidak Meledak

Granat Nenas di Halaman Rumah Warga
BINJAI-Ratusan warga di Jalan Anggur, Kelurahan Bandar Senembah, Binjai Barat, dihebohkan dengan penemuan granat jenis manggis di halaman rumah milik Lina (34), Senin (14/3) sekitar pukul 09.30 WIB.

Keterangan yang berhasil dihimpun wartawan koran ini, granat jenis manggis tersebut ditemukan pertama kali oleh Lina, yang tak lain adik ipar Abo, yang saat itu sedang melaksanakan sembahyang seperti biasanya. Begitu mendatangi tempat sembahyangnya, Lina dikejutkan dengan benda aneh yang meirip dengan granat.  Untuk selanjutnya, Lina memanggil abang iparnya serta temannya, yakni Apen melalu via ponsel. Kemudian teman Apen menghubungi Lurah Bandar Senembah, Normaja Sitepu, guna ikut menyaksikan benda yang menyerupai granat tersebut. Setelah melihat benda itu, akhirnya Normaja Sitepu, langsung memanggil petugas dari Polsek dan akhirnya petugas dari Polres Binjai juga ikut turun yang dibantu oleh Satuan Brigade Mobil (Sat Brimob) Kota Binjai, untuk melakukan evakuasi terhadap granat itu.

“Bertahun-tahun rumah itu berdiri, baru kali ini ditemukan granat. Saya rasa baru diletakan oleh sesorang. Tapi untung saja tidak meledak,”ujar Apen. (dan)

Dua Balita Ditelantarkan

KISARAN-Dua orang balita kakak beradik, ditemukan warga terlunta-lunta di Jalan Wiliem Iskandar, tepatnya di pinggiran perkebunan Bakrie Sumatera Pantation (BSP), Senin (14/3) pukul 12.00 WIB. Kuat dugaan, kedua bocah ini sengaja ditelantarkan orangtuanya.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, kedua bocah tanpa identitas yang ditaksir berusia antara 2,5 tahun dan 4 tahun itu pertama sekali ditemukan oleh M Satimin (69), penduduk Gang Perabot, Lingkungan III, Kelurahan Selawan Kisaran Timur, yang ketika itu ketepatan melintas.

Merasa kasihan, Satimin mengaku mencoba mengajak kedua bocah itu berkomunikasi. Namun, meski telah mengajukan sejumlah pertanyaan, tak sepotong kalimat pun yang keluar dari mulut dua bocah laki-laki berkepala plontos itu.
Hingga akhirnya, Satimin memutuskan untuk membawa kedua bocah itu ke rumah Kepala Lingkungan III Kelurahan Selawan. ”Karena mereka tak mau diajak ngomong, makanya saya bawa ke rumah kepling dengan harapan nantinya orangtuanya bisa kita cari bersama-sama,” ujarnya.

Sementara itu, Ngadimin, Kepala lingkungan III Kelurahan Selawan kepada METRO (Grup Sumut Pos, Red) di kediamannya membenarkan bahwa kedua bocah itu diserahkan oleh M Satimin, yang pertama kali menemukannya. Ngadimin juga mengakui, dia dan warga lainnya cukup kewalahan untuk membantu mencari alamat orangtua dari kedua bocah itu. Pasalnya, keduanya hanya terdiam, ketika ditanya nama, dan alamat orangtua mereka.
“Susah kita mencari orangtuanya, karena mereka tak mau ngomong. Begitu pun, akan tetap kita cari,” ujar Ngadimin, yang mengaku akan menyerahkan kedua bocah kepada polisi, andai kata orangtua dari kedua bocah itu tak kunjung ditemukan.  (ing/smg)

Polisi Lamban Tangkap Pelaku Sodomi

POLRESTA MEDAN- Sejak buron dari rumahnya di Jalan Mawar XII Padang Bulan Medan pada 5 November 2010 lalu, hingga kini Martin Harun (39), pelaku sodomi terhadap anak tiri sendiri, belum berhasil ditangkap. Kepala Unit Judisila AKP Aron Siahaan ketika dikonfirmasi wartawan koran ini menyatakan, hingga kini pihaknya masih melakukan upaya pelacakan terhadap Martin.

“Kita belum bisa mencari pelakunya, memang sejauh ini kita sudah berupaya. Tunggu sajalah, nanti hasil lidik kita, atau kalau mau yang lengkap besok main-mainlah ke ruangan saya,” ucap AKP Aron Siahaan kepada wartawan Sumut Pos, Senin (14/3). Sementara Wakil Kepala Satuan Reserse Kriminal Polresta Medan, AKP Ruruh Wicaksono mengatakan, kasus sodomi yang dilakukan Martin Harus terhadap anak tirinya tersebut harus diungkap dengan cara yang tidak gegabah. “Kita yakin bisa menangkap pelakunya, perlu waktu yang tepat mudah-mudahan pelakunya masih di Medan,” kata Ruruh. (mag-8)

Usut Dana Sertifikasi Guru

06177701xxx

Bapak-Bapak wakil rakyat DPD/DPR/DPRD dari dapil Sumut, tolong ditelusuri dana sertifikasi guru tambah pengawas SLTA bulan September-Desember 2010 belum cair, ini sudah Maret 2011 di mana masalahnya. Kami butuh biaya UAS dan UN. Anak-anak kami, apa mungkin tidak ada uang dari pusat? Bapakkan tau pos APBN/APBD Pendidikan bagaimana mungkin seret? usul kami bayarkan perbulan saja waktu pemilu dulu janji Bapak-Bapak menyuarakan hati nurani rakyat buktikan itu. Bravo Sumut Pos

Kami Telusuri

Terimakasih laporannya, kami di Komisi E DPRD Sumut akan menindak lanjuti dan menelusurinya, memang ada kami terima laporan yang sama. Ketika kami tanyakan ke Dinas Pendidikan, jawabannya anggaran dari Pemerintah Pusat belum turun. Kemungkinan pencairannya dalam waktu dekat, tapi tak diketahui waktu pastinya.
Begitupun, kami lakukan penelusuran jika ditemukan penyelewengan dalam anggaran ini, termasuk mengapa terlambat turunnya anggaran ini. Terimakasih.

Nur Azizah
Anggota Komisi E DPRD Sumut

Disetubuhi Pacar Berkali-kali

LANGKAT-Seorang mahasiswi akademi kebidanan (Akbid) sebut saja Maya (20), warga Bukit Selamat, Kecamatan Besitang, Langkat, melaporkan JL (27), warga yang sama ke Mapolres Langkat atas pelecehan seksual, Senin (14/3).
Keterangan yang diperoleh di Mapolres Langkat menyebutkan, peristiwa menimpa Maya itu terjadi, Rabu (26/1) di Desa Bukit Selamat, Kecamatan Besitang, Langkat. Saat itu, korban pamitan pada keluarganya untuk kembali ke asrama Akbidnya di Medan. Tapi langkah korban bukannya ke Medan, ia malah ikut dengan pacarnya JL ke Jambi.

Keluarga korban langsung pergi menjemput korban ke Jambi untuk dibawa pulang. Saat bertemu dengan keluarga, korban langsung cerita kalau dirinya telah berulang kali berhubungan badan dengan pelaku dan tidak diperbolehkan pulang. Mendengar cerita Maya, pihak keluarga langsung kaget dan berupaya menemui pelaku. Sebaliknya, pelaku tak mau bertangung jawab atas apa yang dilakukan kepada Maya, hingga pihak keluarga melaporkan perbuatan bejad pacar Maya itu ke Polisi.(ndi)

Konsisten Hasilkan SDM Andal

Yayasan Taman Siswa Lubuk Pakam

Sejak didirikan tahun 1945 silam, Yayasan Pendidikan Taman Siswa yang berada di Jalan Kartini No 17 Lubuk Pakam konsisten menciptakan sumber daya manusia yang andal serta berkualitas.

Awalnya, Yayasan Pendidikan Taman Siswa hanya menyediakan SD. Selanjutnya sekitar tahun 1980 SD ditutup dan digantikan SMP, SMA dan SMK teknik serta SMK Ekonomi hingga saat ini.

Secara nasional yayasan taman siswa berdiri sejak 3 Juli 1922 atas prakarsa seorang tokoh nasional yang juga Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara. Dengan ajarannya Ing Ngarso Sungtulodo (di depan memberi teladan), Ing Madyo Mangun Karso (di tengah menciptakan peluang berprakarsa) dan Tut Wuri Handayani (di belakang memberi dorongan).

Dengan ajaran itu, Ki Hajar Dewantara bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, melestarikan serta mengembangkan kebudayaan nasional Indonesia sesuai misi perguruan. Demikian dikatakan Kepala Sekolah Taman Siswa Cabang Lubuk Pakam, Ki Ngadiro TA. SPd ketika ditemui Selasa (14/3).
“Banyak lulusan kita sudah menjadi orang besar, pejabat dan pemimpin baik di tingkat kabupaten hingga nasional,” kata Ngadiro.

Dijelaskan Ngadiro, pihaknya masih tetap menerapkan  sistem tri pusat pendidikan yang meliputi pendidikan di lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan masyarakat.

Setiap pelajar yang menimba ilmu di yayasan taman siswa, disarankan kepada orang tuanya  dibina serta diajari bersopan santun. Setelah dari keluarga pelajar dididik ilmu pengetahuannya dan selanjutnya diajarkan cara bergaul di lingkungan masyarakat.

“Setiap anak diberikan cara bertanggung jawabkan kepada dirinya, serta memberikan manfaat kepada bangsa dan negara,” lanjut Ngadiro.(btr)

Menerapkan Sistem Among

Salah satu upaya meningkatkan kualitas para peserta didik, Yayasan Pendidikan Taman Siswa menerapkan sistem pendidikan among.

Sistem ini merupakan cara mengajarkan peserta didik dengan sistem kekeluargaan melalui kekerabatan serta pendekatan dengan  tujuan memerdekan jiwa.

Dengan demikian, diharapkan para pelajar paham akan tanggung jawabnya sebagai pelajar. Bahkan, pelajar diajarkan untuk menuntut haknya sebagai pelajar. Soalnya selama ini, banyak siswa tidak mengetahui haknya sebagai  pelajar. Sehingga banyak di antara mereka, mandek bersekolah. Tetapi bila sejak awal diajarkan haknya, maka banyak pelajar akan bergiat belajar.

Selain itu, sistem ini diharapkan mampu menghasilkan pelajar yang memiliki jiwa kemandirian.
Perguruan Taman Siswa Lubuk Pakam juga memiliki kegiatan ekstra kurikuler. Mulai Volly, Sepak Bola, Marching Band, Pramuka, PBB serta paskibra dan karate. “Setiap siswa diwajibkan mengikuti satu kegiatan ekstra kurikuler. Bahkan kegiatan itu mendapat bimbingan dari guru-guru bersangkutan,” terang Kepala Sekolah Perguruan Taman Siswa Cabang Lubuk Pakam, KI Ngadino TA.SPd.

Tak jarang melalui prestasi ekstra kurikuler itu, para peserta didik kerap mengharumkan nama sekolah. Bahkan bila ada kejuaran tingkat pelajar se-Kabupaten Deli Serdang tim bola volley selalu unggul dari lawan-lawannya.
Dengan pretasi ekstra kurikuler yang dihasilkan para pelajarnya, Yayasan Taman Siswa dapat menjadi contoh soal manajemen kegiatan ekstra kurikuler.

Meski berhasil membina ektras kurikuler di sekolahnya, KI Ngadino TA.SPd tidak melupakan kualitas akademik. Bahkan untuk meningkatkan prestasi di bidang itu, tak jarang digelar try out yang menggandeng lembaga bimbingan tes.

“Untuk akhir bulan ini seluruh siswa akan mengikuti try out. Upaya tersebut, dalam tiga tahun terakhir ini berhasil meningkatkan kelulusan seratus persen,” kata Ngadino. (btr)

Belum Setahun Diaspal, Rusak Lagi

TEBING TINGGI-Meski telah menghabiskan dana hingga puluhan miliar rupiah, kondisi Jalan AMD, Kelurahan Bulian, Kecamatan Bajenis, Kota Tebing Tinggi, masih sangat memprihatinkan. Pantauan wartawan koran ini, Senin (14/3), ratusan lubang mirip kubangan kerbau terserak di sepanjang jalan itu. Padahal jalan tersebut pada tahun 2010 lalu telah diaspal ulang, namun kini telah hancur.

Menurut warga, hancurnya jalan itu diduga akibat kualitas pengerjaan proyek yang tak sesuai bestek, sehingga cepat hancur saat dilintasi truk pengangkut hasil bumi. “Belum sampai setahun diperbaiki jalan ini sudah rusak dan berlubang lagi, bahkan sekarang kondisinya semakin parah. Lubang menganga di mana-mana, jalan yang dulunya beraspal kini jadi seperti jalan tanah, mungkin karena aspal hotmiknya kurang tebal ya bang,” ujar Lian, warga setempat.
Masih menurut Lian, rendahnya kualitas proyek jalan tersebut diduga akibat kurangnya pengawasan yang dilakukan oleh instansi terkait yakni Dinas Pekerjaan Umum, sehingga pihak pelaksana proyek seenaknya saja mengerjakan pengaspalan jalan tanpa mengacu pada bestek yang telah ditentukan.

Kadis Pekerjaan Umum (PU) Tebing Tinggi, Drs Nurdin, saat dikonfirmasi menjelaskan, Jalan AMD tersebut adalah jalan lintas luar, kedepan jalan tersebut akan diperbaiki menunggu kucuran dana dari Pemprovsu.  (mag-3)

Sesal Heinze

MAN. UNITED vs Marseille

MANCHESTER-Gabriel Heinze merupakan penggawa Olympique Marseille yang paling familier dengan Old Trafford. Maklum, Heinze pernah membela Manchester United selama tiga tahun (2004-2007). Defender 32 tahun itu pun sulit melupakan kenangan tersebut.

“Saya memiliki banyak kenangan bersama United,” ungkap Heinze sebagaimana dilansir di situs resmi UEFA.
“Momen besar pertama di Old Trafford adalah ketika fans dan rekan setim memilih saya sebagai pemain terbaik (di musim pertamanya, 2004-2005, Red). Saya juga sangat emosional ketika fans meneriakkan yel-yel “Argentina, Argentina”. Hal sama dirasakan keluarga saya ketika saya ajak ke sana,” tambahnya.

Pencapaian terbaik Heinze di Old Trafford adalah mempersembahkan gelar Premier League pada musim 2006-2007. “Saya tidak akan melupakan sukses itu dalam hidup saya,” jelas pemain yang mencatat 82 laga dan empat gol bersama United itu.

Sayang, setelah merengkuh gelar Premier League, Heinze harus meninggalkan United. Perselisihannya dengan pelatih United Sir Alex Ferguson dianggap sebagai pemicu dirinya dilepas ke Real Madrid kala itu.
“Jujur, saya cukup menyesal ketika harus meninggalkan Old Trafford. Apalagi setelah saya pergi, United berhasil meraih gelar di Liga Champions (pada 2008, Red),” jelasnya.

“Saya kira sukses United tidak bisa lepas dari sosok Alex Ferguson. Dia membuat United selalu berada di level tinggi. Juga karena adanya beberapa pemain berkualitas dan sarat pengalaman seperti Ryan Giggs maupun Paul Scholes,” jelasnya lagi.

Heinze bisa jadi masih memiliki ikatan  emosional dengan United. Masalahnya, Heinze kini datang ke Old Trafford sebagai lawan. Sebagai penggawa Marseille, Heinze tentu berharap klubnya tampil sebagai pemenang dan lolos ke babak berikutnya.

“Setiap tim memiliki struktur dan dunianya sendiri. Harus diakui, sekalipun pernah menjuarai Eropa (juara Liga Champions musim 1992-1993, Red), Olympique Marseille masih di bawah United maupun Real. Meski begitu, tim ini penuh bakat dan saya percaya dengan kejutan dalam sepak bola,” tuturnya.

Senada dengan Heinze, bek Manchester United Chris Smalling pun mengungkapkan hal yang sama. “Kami menjadi klub yang sangat luar biasa apabila tampil di Old Trafford musim ini” bilang Smalling.
“Saya bermain di Eropa bersama Fulham musim lalu, tetapi itu di stadion yang lebih kecil dan suara suporter yang lebih kecil. Saya telah melangkah ke depan, tetapi Liga Champions adalah kompetisi terbesar. Saya harap , saya dapat bermain di lebih banyak pertandingan karena setiap pertandingan yang saya lalui membuat  saya menjadi lebih percaya diri,” tambah Smalling.

Menurut Smalling, tak ada yang dapat membalikkan fakta bahwa musim ini Manchester United belum sekali pun menderita kekalahan jika bermain di Old Trafford.
“Kami akan terus meraih hasil maksimal. Ini mutlak dilakukan untuk membalas dukungan fans,” tutup Smalling. (dns/jun)