23.2 C
Medan
Thursday, April 2, 2026
Home Blog Page 15656

Diduga Korupsi 2, 049 M

Baru Sepekan Jadi Kadis, Hanas Dibidik Kejari

MEDAN TIMUR- Tim Pidana Khusus Kejaksaan Negeri (Kejari) Medan telah melakukan proses penyelidikan terhadap dugaan korupsi dalam penggunaan anggaran di Bagian Hubungan Masyarakat (Humas) Sekretariat Daerah Kota (Setdako) Medan 2010 sebesar Rp2,049 miliar lebih. Total anggaran tersebut berasal dari APBD dan PAPBD 2010.
Beberapa pejabat teras di lingkungan Humas Setdako Medan telah dipanggil untuk dimintai keterangan sebagai saksi oleh tim Pidsus Kejari Medan. Hal ini dikatakan Kasi Pidsus Kejari Medan, Dharmabella Timbasz kepada wartawan di Pengadilan Negeri Medan, kemarin. “Memang kita telah memulai proses penyelidikan terhadap adanya dugaan korupsi pada Bagian Humas Pemko Medan tersebut,” katanya.

Namun mengenai siapa yang sudah dipanggil pihak Pidsus Kejari Medan, Dharmabella belum bisa mempublikasikannya. Namun sejumlah pejabat di Bagian Humas Setdako Pemkon Medan sudah diperiksa selama dua pekan terakhir. “Pengaduan dan pemeriksaan ini sehubungan dengan adanya pengaduan dan laporan yang disampaikan elemen masyarakat kepada Pidsus Kejaksaan Negeri Medan,” ujarnya.

Dia kemudian menyebutkan beberapa item penggunaan anggaran yang diduga diselewengkan. Antara lain, anggaran penyediaan bahan-bahan bacaan dan perundang-undangan sebesar Rp910 juta, anggaran penyediaan bacaan buku kliping dari surat kabar, majalah dan tabloid sebesar Rp100 juta dan dinaikkan menjadi Rp 135 juta pada Perubahan APBD 2010.

Lalu anggaran penerbitan buku petunjuk telepon sebesar Rp104.280.000, anggaran peliputan penyelenggaraan kegiatan kepala daerah pada hari kerja dan hari libur sebesar Rp350 juta dan jumlahnya naik menjadi Rp450 juta pada PABPD 2010. “Pembelian buku undang-undang, misalnya. Seharusnya ini tidak perlu dianggarkan di APBD. Sebab kalau Bagian Humas perlu buku undang-undang, cukup memintanya kepada Bagian Hukum karena di Bagian Hukum tentu tersedia buku undang-undang dari buku A sampai buku Z,” tegasnya.

Alasan lain, tidak diperlukannya penganggaran pembelian buku undang-undang, lanjutnya, karena saat ini sudah era digital, Sehingga apabila Bagian Humas membutuhkan buku perundang-undangan tidak perlu lagi repot-repot membeli buku, cukup didownload melalui internet. “Segala yang dibutuhkan bisa langsung didapat, termasuk naskah UU,” tandasnya. Untuk kasus ini Dharmabela menyatakan, pihaknya akan segera menuntaskan pengusutan.
Wartawan koran ini kemarin melakukan konfirmasi kepada mantan Kabag Humas Pemko Medan, Hanas Hasibuan yang baru sepekan dilantik sebagai Kadispora Kota Medan. Hanas menjabat sebagai Kabag Humas sejak Januari 2010 hingga Februari 2011. Saat dikonfirmasi Hanas membantah ada penyimpangan di Humas Pemko Medan saat dipimpinnya.

“Semua pejabat pemerintah yang menggunakan anggaran APBD memang harus diaudit. Begitu pula pers, LSM dan pihak lainnya yang menggunakan anggaran dari APBD. Jadi, semuanya yang ada di Humas telah dialokasikan ke setiap kebutuhan masing-masing,” jelasnya.

Lebih lanjut Hanas mencontohkan, misalnya untuk anggaran bahan-bahan bacaan dan perundang-undangan sebesar Rp910 juta itu adalah untuk biaya pembayaran koran, kliping dan sebagainya.

“Kalau anggaran bahan bacaan itu ya biaya pembayaran koran. Dulu saya pikir juga bukan itu. Kemudian anggaran peliputan penyelenggaraan kegiatan kepala daerah pada hari kerja dan hari libur sebesar Rp350 juta, juga telah dialokasikan. Misalnya uang triwulan wartawan telah saya berikan kepada koordinator wartawan di Pemko.

Kemudian Pemko juga ada MoU untuk media televisi dan sebagainya. Jadi, tidak ada yang diselewengkan,” tegasnya.
Sementara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Medan Syaiful Bahri yang juga dikonfirmasi Sumut Pos usai menghadiri rapat dengan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) di dalam pintu lift Lantai III Ruang Rapat III Lantai IV Balai Kota Medan menuturkan, jika memang ada penyelewengan dan dilengkapi dengan berkas yang lengkap, hal tersebut akan diajukan pada pemeriksaan secara hukum. “Kita akan telusuri dan diproses secara hukum,” tegasnya.
Bagaimana dengan status dari Kadispora Medan Hanas Hasibuan yang baru menjabat beberapa hari ini? Mengenai hal itu, Syaiful Bahri tidak memberikan jawaban yang signifikan. Dirinya kembali menyatakan, jika dugaan tersebut dilengkapi dengan data yang kuat maka penyelewengan itu akan diproses secara hukum. “Kita akan tindaklanjuti secara hukum. Kita ketahui dulu hasil pemeriksaannya, baru bisa diambil sikap dan tindakan,” tuturnya.

Wakil Wali Kota Medan Dzulmi Eldin di tempat yang sama saat dikonfirmasi Sumut Pos terlihat kaget dengan berita itu. Eldin hanya mengatakan, agar Sumut Pos kembali menegaskan dugaan penyelewengan tersebut kepada oknum terkait. “Haa, betul itu? Coba tanya lagi yang bersangkutan, apa benar dia seperti itu,” tutupnya.(rud/ari)

19 Sekolah Numpang UN di Sekolah Lain

MEDAN-Sekolah atau Madrasah penyelenggara Ujian Nasional (UN) 2011 kali ini harus didasari peraturan operasional standar (POS) yang mengacu pada peraturan BSNP Nomor 0148/SK-POS/BSNP/I/2011. Selain itu pada UN 2011 ini semua peraturannya berdasar dari Permendiknas No 46 Tahun 2010 Tentang Pelaksanaan UN 2010/2011.

Pada peraturan tersebut, mewajibkan penyelenggara UN tingkat kabupaten/kota harus diikuti siswa kelas tertinggi atau akhir. Penyelenggara UN tersebut juga ditentukan
berdasarkan jenjang akreditasi serta aspek-aspek kelayakan satu sekolah. Diantaranya, satu sekolah harus berakreditasi A, B dan C. Juga memiliki peserta UN sedikitnya 20 orang siswa. Sekolah penyelenggara UN harus memiliki

Dari data pokok pendidikan Disdik Sumut periode 2010/2011 terdapat 9.364 sekolah dari tingkat TK hingga SMA sederajat yang tak terakreditasi. Sementara jumlah total sekolah yang berada di 33 kabupaten/kota di Sumut berjumlah 17.790 sekolah. Sisanya 8.426 sekolah telah terdaftar dalam data akreditasi Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (BAN SM).

Ketua Panitia UN 2011 Ilyas Sitorus mengatakan, hal tersebut disebabkan keterbatasan kuota untuk Sumut dalam mengajukan akreditasi sekolah ke BAN SM setiap tahunnya. “Selain banyak yang belum diakreditasi, banyak juga sekolah tak bisa memerpanjang izin akreditasinya. Ini juga disebabkan keterbatasan kuota tersebut,” terangnya Selasa (22/2).


Saat ini jumlah dan jenjang sekolah di Sumut yakni untuk TK/RA berjumlah 723 (negeri 71, swasta 652), 11.108 SD/MI (negeri 9.039, swasta 2.069), 3.537 SMP/MTs (negeri 1.315, swasta 2.222), 1.586 SMA/MA (negeri 417, swasta 1.169) dan 836 SMK (negeri 159, swasta 677). “Khusus sekolah yang telah diakreditasi, masing-masing, 629 TK/RA, 4.212 SD/MI, 1.853 SMP/MTs, 964 SMA/MA, 758 SMK/MAK, dan sembilan SLB,” papar Ilyas.

Lebih rinci lagi, ilyas memaparkan, TK/RA yang memiliki akreditasi A mencapai 16 sekolah, B 346 unit, C 255 unit dan 12 tak terakreditasi. Jenjang SD/MI, sebanyak 48 sekolah berakreditasi A, 1.791 berakreditasi B, 2.222 unit berakreditasi C dan tak terakreditasi mencapai 151 unit.

“Sementara itu, jenjang SMP/MTs, sekolah yang berkareditasi A berkisar 176 unit, B 1.084 unit, C sebanyak 556 unit dan tak terakreditasi berkisar 37 unit. Pada jenjang SMA/MA, sekolah yang berakreditasi A berkisar 93 unit, B 618 unit, C 251 unit dan tak terakreditasi hanya dua unit. Dan  jenjang SMK, akreditasi A sebanyak 78 unit, B 526 unit dan C sebanyak 154 unit. Untuk SLB, tak ada sekolah yang berakreditasi A, sedangkan akreditasi B sebanyak empat unit dan C empat unit,” tuturnya Ilyas.

Lebih lanjut Ilyas menerangkan, walau tak terakreditasi atau izin akreditasinya belum diperpanjang, siswa di sekolah-sekolah tersebut tetap bisa mengikuti Ujian Nasional (UN). “Namun, mereka harus menumpang ujian di sekolah-sekolah yang masih berakreditasi tentunya sesuai rayonnya masing-masing,” terangnya seraya mengimbau bagi sekolah yang belum diakreditasi ulang, bisa mengajukan surat kepada Disdik Sumut untuk bisa menyelenggarakan  UN di sekolahnya.

Sementara itu, Kepala Disdik Medan Hasan Basri didampingi beberapa Kasi Kurikulum dan Kesiswaan tingkat TK/SD Abdul Johan, SMP Syahrial, SMA Sahrul dan SMK Zulhanif mengatakan, banyaknya peserta UN yang akan mengikuti UN di kategori gabungan menurutnya dikarenakan 3 aspek. Yakni pertama banyaknya sekolah baru yang belum mendafrtarkan diri ke BAN SM, kedua banyaknya sekolah yang memang belum memperpanjang status akreditasinya, ketiga banyaknya sekolah yang tak mampu memenuhi prasyarat kelayakan satu sekolah untuk menjadi penyelenggara UN dan yang terakhir banyaknya sekolah yang pesertanya tak mencukupi jumlah minimal untuk berhak menyelenggarakan UN.

“Jika ditilik dari aspek pertama dan kedua, ini disebabkan kuota yang diberikan BAN SM Pusat setiap tahunnya tak sebanding, atau berbanding jauh dengan jumlah sekolah yang sama sekali belum mendaftarkan diri dan sekolah yang belum memperpanjang akreditasinya,” jelas Hasan.

Sementara untuk aspek yang terakhir, ini disebabkan memang jumlah sekolah yang semakin banyak tak diminati atau tak lagi dipercayai masyarakat. “Ini terbukti dari jumlah siswa yang semakin tahun semakin sedikit jumlahnya di sekolah tersebut. Karena untuk menjadi penyelenggara UN peserta dari sekolah tersebut minimal 20 siswa,” terang Hasan.

Menurut Hasan, aspek terakhir ini juga dipengaruhi aspek ketiga yang memang sangat mempengaruhi penilaian masyarakat terhadap kemampuan sekolah untuk menghasilkan siswa dengan mutu yang diharapkan.

Hasan juga menjelaskan, siswa yang melaksanakan UN di sekolah satu rayonnya atau bergabung, maka ijazah yang dikeluarkan adalah melalui sekolah penyelenggara UN. “Namun, di Ijazah tersebut tetap dicantumkan nama asal sekolahnya,” ujarnya.

Dari masing-masing Kasi Kurikulum Kesiswaan Disdik Medan, dapat dijabarkan secara rinci jumlah sekolah penyelenggara, sekolah bergabung dan jumlah peserta dati tiap satuan pendidikan.

Terapkan Kurikulum Berbasis Life Skill

SMA Swasta Harapan Medan

Mempersiapkan diri dan pengalaman untuk membuka usaha secara mandiri adalah prinsip entrepreneurship. Itu pula yang diterapkan Yayasan Pendidikan Harapan (Yaspendhar) Kampus I SMA Swasta Harapan 1 Medan Jalan Imam Bonjol No 35 Medan.

MEDAN- Kurikulum yang diterapkan di sekolah tersebut, memasukkan muatan lokal yang berbasis entrepreneurship atau kewirausahaan. Hal tersebut dimaksudkan untuk menerapkan lifeskill kepada siswa. “Kurikulum ini sesuai dengan kurikulum pendidikan nasional. Jadi tak hanya di sekolah kejuruan yang mendapatkan lifeskill bagi para siswanya,” terang Kepala SMA Swasta Harapan 1 Medan Drs H Sofyan Alwi MHum, Rabu (23/2).

Namun, lanjut Sofyan, kurikulum yang diterapkan tersebut tak serupa dengan sekolah kejuruan. Karena, menurutnya, dengan kurikulum tersebut siswa SMA Swasta Harapan 1 Medan dicetak untuk bisa membuka peluang kerja, paling tidak untuk dirinya sendiri. “Mereka dicetak bukan untuk menjadi pekerja,” jelasnya.

Dengan kurikulum berbasis entrepreneutship ini, setelah siswa lulus diharapkan bisa membuka usaha secara mandiri. Namun, tak menutup kemungkinan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. “Karena pembinaan atau proses pembelajaran yang diterapkan untuk meningkatkan mutu pendidikan siswa secara akademik juga tak kalah saing dengan proses pemberian lifeskill ini,” kata Sofyan.

Muatan lokal yang diterapkan pada kurikulum berbasis entrepreneurship ini yakni, tata boga, tata rias, home industry, desain grafis, kaligrafi, cinematography, budidaya tanaman hias, teknisi komputer dan otomotif. “Jadi ini bukan merupakan kegiatan ekstrakurikuler, penilaiannya masuk ke dalam rapor siswa. Jadi, siswa memang dituntut harus serius seperti mengikuti pelajaran lain di kelasnya. Muatan lokal ini juga memiliki jadwal khusus, yakni pada setiap Sabtu selama dua jam pelajaran,” tutur Sofyan.

Karena lanjut Sofyan, pada kegiatan pembelajaran muatan lokal ini pihaknya lebih menitikberatkan pembelajaran pada praktiknya. “Siswa tak terlalu membutuhkan teori yang berlebihan, tapi harus menguasainya secara baik pada saat praktiknya,” ujarnya.

Lebih lanjut Sofyan mengatakan, untuk memberikan hasil terbaik, pihaknya juga bekerjasama dengan pihak institusi pendidikan tinggi sebagai instruktur muatan lokal tadi. “Untuk setiap muatan lokal, kita memberdayakan guru yang ada dulu. Nah, untuk muatan lokal yang kita sendiri tak memiliki sumber daya yang layak, baru kita melakukan kerjasama dengan institusi pendidikan dan para ahli yang kami anggap berkompeten untuk menjadi instruktur pada muatan lokal tersebut,” jelasnya.

Sekolah yang memiliki jumlah siswa 827 orang ini diasuh oleh 47 guru yang telah sarjana dan 7 diantaranya telah berstatus S-2.

SMA Swasta Harapan 1 Medan juga mendapatkan predikat sebagai Sekolah Model (Percontohan) Nasional yang secara langsung ditetapkan oleh Ditjen Dikmen Subdit Pembinaan SMA Kemendiknas. Sekolah dengan predikat ini, hanya terdapat 132 sekolah di seluruh Indonesia. “Predikat ini didasarkan dari pemenuhan delapan standar nasional sekolah,” jelasnya.

Di SMA Swasta Harapan 1 Medan, guru juga wajib memahami informasi teknologi (IT). Untuk panduannya sekolah menanganinya langsung seperti memberikan pelatihan berupa workshop dan seminar-seminar.
Enrichment atau pengayaan juga diterapkan kepada siswa, seperti tambahan uji coba kemampuan, kuis, pembinaan olimpiade sains, aplikasi kurikulum yang bersifat praktik yang dikaitkan dengan dunia nyata. “Program kami ini telah diterapkan selama tiga tahun. Dan ini dimaksudkan untuk fokus menciptakan kemandirian siswa untuk membuka peluang kerja,” kata Sofyan. (saz)

Kera Berjanggut

Spesies kera baru yang berciri janggut merah ditemukan di Amazon, diumumkan para peneliti minggu ini, tapi kera ini juga berada dalam ancaman kepunahan. Kera jenis titi bernama latin Callicebus caquetensis ini berukuran seekor kucing dan memiliki bulu coklat keabu-aban, dan memiliki janggut merah berantakan di sekitar dagunya.
Tak seperti kera lain yang dihubung-hubungkan dengan jenisnya, Callicebus caquetensis tak memiliki garis putih di keningnya.(net/jpnn)

Perusahaan Bangkrut, Bangunan Dihuni Mahluk Halus

Seiring perjalanan waktu, perusahaan Deli Kley mengalami kebangkrutan. Lantas, seperti apa kondisi bangunan dan nasib karyawannya kini?

Ari Sisworo, Medan

Sejak perusahaan tersebut mengamali pailit di Tahun 1982. Secara perlahan, pabrik dan bangsal yang ada juga lenyap dan saat ini hanya tersisa cerobong asap tersebut.

“Tinggal cerobong asap itu saja yang tersisa. Dulu, cerobong asap itu dipergunakan saat lampu listrik mati. Fungsinya untuk menyalurkan asap ke udara. Kalau lampu listrik hidup, asapnya tidak melalui cerobong asap tersebut,” ingatnya.

Sudarto kembali mengenang, seingat dia, saat itu dia bekerja bersama sebanyak 80 orang pekerja lainnya selain staf dan krani. Setiap pekerja diberi fasilitas rumah yang ukurannya 3×8 meter, yang berlokasi tidak jauh dari lokasi pabrik tersebut. Sementara untuk gaji yang mereka terima, hanya sebesar Rp30 ribu sebulan.

“Ya kalau dipikir-pikir, kami dulu juga karena mengejar rumah ini sebagai tempat tinggal. Kalau gaji sih nggak cukup. Gaji segitu hanya bisa memenuhi kebutuhan setengah bulan saja. Makanya, dulu juga harus pandai-pandai cari pekerjaan sampingan. Kalau mengenai status karyawan, kami ini karyawan borongan. Dan itu sampai sekarang. Kalau staf atau kraninya pegawai negeri,” katanya.

Meskipun terbiang menjadi karyawan di perusahaan tersebut, namun saat ini para pekerjanya tidak mendapatkan pensiun. Dan itu telah mereka upyakan meminta kepada pemerintah, namun hasilnya nihil.

Apa yang diutarakan Sudarto, juga dibenarkan Mujiono yang juga pernah bekerja di pabrik pembuatan batu bata tersebut sejak 1978 hingga 1982.

Namun, saat Mujiono yang notabene juga merupakan adik kandung dari Sudarto masuk menjadi pekerja di pabrik tersebut, Deli Kley sudah mulai mengalami kemerosotan. Jumlah pekerja yang awalnya sebanyak 80 pekerja, saat Mujiono masuk hanya tinggal sebanyak 22 pekerja saja.

“Waktu jaya-jayanya, hasil produksi sampai diekspor ke Singapura, Malaysia dan negara-negara lainnya. Tapi, lama kelamaan mengalami kebangkrutan. Kebangkrutan itu dikarenakan biaya pembuatan tidak sebanding dengan biaya jualnya. Sementara bahan bakunya mesti didatangkan dari luar daerah,” terang pria berusia 50 tahun yang masih tetap menempati rumah No 122 di Jalan Bromo pemberian dari Deli Kley tersebut.

Layaknya bangunan bersejarah peninggalan zaman Belanda yang biasanya terkesan seram dan “berpenghuni”. Begitu pula sekarang yang terjadi di lokasi keberadaan cerobong asap tersebut.

Menurut keterangan Sastra, kakek berusia 72 tahun ini, dirinya sempat bermimpi ditemui seorang kakek berjanggut mengenakan jubah putih dalam mimpinya. Kedatangan kakek berjanggut dengan mengenakan jubah putih itu, dalam mimpi Sastra menyatakan, Sastra boleh mendirikan rumahnya di areal bekas pabrik tersebut.

“Sebelum menetap di sini, saya tinggal di Gang Seto. Pada tahun 2000, saya berniat pindah rumah dan membangun rumah di dekat bekas pabrik ini. saat hendak membangun rumah inilah, saya mimpi didatangi kakek berjanggut dan berjubah putih. Kakek itu memperbolehkan saya untuk mendirikan rumah di tempat ini. Kata kakek itu, yang menjaga cerobong asap itu adalah makhluk sejenis kuda dan anjing. Tapi, kedua makhluk itu tidak jahat. Dan tidak mau mengganggu orang-orang di sini,” ungkapnya.

Selain itu, di puncak cerobong asap tersebut, sambung Sastra, ada beberapa Burung Hantu yang tinggal di dalamnya. Selain itu pula, dulunya cerobong tersebut dilengkapi dengan besi yang melingkari. Namun sayangnya, besi yang melingkar itu sudah tidak ada lagi karena dicuri para tangan-tangan jahil.

“Salah seorang pencuri besi itu sempat hampir naas, jatuh. Untungnya tersangkut di bagian bawah besi-besi yang belum sempat dibongkar. Tapi sekarang sudah raib semua,” ungkapnya.(*)

Kejar Target Empat Angka Boyong 17 Pemain

MEDAN- PSMS menargetkan empat angka dari lawatan tur perdana putaran kedua Divisi Utama Liga Indonesia, melawan Persipasi Bekasi (25/2) dan Persita Tangerang (28/2).  Tim akan berangkat membawa 17 pemain pukul 13.00 Wib via Bandara Polonia.

Target tersebut bukan perkara mudah sebab PSMS punya catatan buruk di laga tandang. Setidaknya dua musim belakangan di Divisi Utama. Musim ini di putaran pertama lalu, PSMS hanya bisa meraih dua angka di laga tandang. Dan partai tandang di putaran kedua ini lebih berat karena PSMS harus melawat ke tiga klub Pulau Jawa. Selain Bekasi dan Tangerang, PSMS juga harus ke Persikabo Bogor. Sungguh laga yang bakal menyita tenaga ekstra untuk bisa membawa poin.

Manajer PSMS Idris tak menampik kalau target itu cukup berat. “Kami harap tim bisa maksimal di dua pertandingan perdana nanti. Memang berat, untuk itu, kami rasa, kalau bisa meraih empat poin saja itu sudah bagus,” katanya.
PSMS harus mawas diri jika ingin meraih target. Terlebih bakal lawan sudah banyak berubah. Persipasi kini dikabarkan tengah mengurus kepindahan mantan striker Sriwijaya FC Christian Leng Lolo dan mantan striker Persiman Manokwari asal Perancis Ali Talluk. Kalau kedua pemain ini jadi bergabung, maka PSMS harus ekstra waspada.

Namun begitu, optimisme tetap menjadi modal yang cukup baik bagi PSMS. Rekor buruk di laga tandang mampu dilupakan dan dibenahi dengan lolos ke peringkat empat besar putaran pertama meski terseok di awal musim.
Asisten Manajer PSMS Benny Tomasoa juga berharap, tim bisa mengawali putaran kedua dengan baik. “Yang jelas kami harap bisa dapat empat angka di dua laga. Mau itu melawan Persipasi atau Persita, satu di antaranya harus bisa dimenangkan. Kami yakin itu,” tegas Benny.

Arsitek PSMS, Suharto yang ditemui di Mes Kebun Bunga kemarin mengaku optimis dengan amunisi yang dimiliki The Killer-julukan lain PSMS-menghadapi skuad berjuluk Laskar Patriot yang akan tampil di hadapan pendukungnya.
“Kalau ditanya optimis, kami tetap optimis dengan kondisi tim yang ada saat ini. Kami juga harapkan dukungan dan doa warga  Medan bagi keberhasilan PSMS,” katanya.

PSMS belum tentu bisa diperkuat tiga pemain barunya, Ade Chandra, Nopianto dan Almiro Valadares karena ketiganya belum mendapatkan pengesahan dari PT Liga Indonesia. Di samping itu, dua pemain lokal Zulkarnaen dan Tri Yudha Handoko juga dipastikan absen. Zul masih cedera engkel. Sedangkan Yudha harus menggelar resepsi pernikahannya. (ful)

Kontrak Duo Singapura Rp2,8 Miliar

Mantan pemain Persib Bandung, Shahril Ishak dan Baihakki Khaizan, dipastikan akan memperkuat Medan Chiefs Deli Serdang. Duo pemain asal Singapura itu dikabarkan menerima kontrak cukup besar, Rp2,8 Miliar untuk dua musim.
Rincian soal kontrak tersebut memang belum dijelaskan oleh manajemen Medan Chiefs. Namun dari pengakuan CEO Medan Chiefs, Sihar Sitorus keduanya memang dikabarkan menerima Rp2,8 miliar dari Konsorsium Liga Primer Indonesia (LPI).

Masing-masing menerima US $200 ribu yang kalau dirupiahkan dengan kurs saat iniberkisar Rp1,4 miliar. Tingginya nilai kontrak ini membuat keduanya rela hijrah dari Persib ke Medan Chiefs. “Iya, saya dengar memang sekitar Rp2,8 miliar untuk dua musim. Masing-masing dibayar 200 ribu dolar. Saya pribadi tidak bisa komentar terlalu banyak,” kata Sihar yang dihubungi kemarin malam. Jumlah ini tentu saja fantastis, mengingat ketika keduanya bermain di S-League Singapura, gaji tertinggi pemain hanya berkisar 10 ribu dolar atau sekitar Rp88 juta.
Namun dengan hadirnya kedua pemain tersebut di LPI, Baihaki dan Shahril terancam tidak bisa memperkuat Timnas Singapura, sebab PSSI tidak mengakui LPI sebagai kompetisi resmi.

Bagi Medan Chiefs sendiri, kehadiran duo legiun asing ini menjadikan kuota pemain asing terpenuhi. “Iya, kita sudah tidak bisa lagi merekrut pemain asing tambahan,” kata Sihar.
Keduanya juga sudah bisa tampil ketika Medan chiefs menjamu Real Mataram di Stadion Baharoeddin Lubuk pakam Minggu (27/2).

Kehadiran kedua pemain ini sangat tepat karena di saat bersamaan Medan Chiefs  kehilangan pemain belakang Mone Lohy, akibat cedera. Hal ini dikatakan Pelatih Fisik Medan Chiefs, Joseph Ronald D’Angelus  kemarin. Joseph mengakui selain Mone Lohy seluruh pemain dalam keadaan fit dan siap menghadapai laga selanjutnya.
“Hanya Lohy yang cedera dan mungkin belum bisa turun di laga selanjunya. Selebihnya skuad kondisi baik. Namun dengan masuknya Baihakki, lubang di lini belakang bisa ditambal dengan baik,” kata Yosefh di sela-sela latihan kemarin. (uma/ful)

Lelang Kapal Malaysia dan Tangkapannya

Keberhasilan Direktorat Kepolisian Perairan (Ditpolair) Sumut melakukan penangkapan terhadap kapal ikan berbendera Malaysia yang sudah dua kali berhasil dilakukan Polair dalam bulan ini merupakan sebagai kinerja yang baik. Namun sampai saat ini, hasil tangkapan tersebut belumn diketahui akan dilelang atau tidak.
Apa tanggapan Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) terkait kinerja Ditpolair saat ini? Berikut petikan wawancara wartawan Koran ini, Nopan Hidayat dengan Ketua DPC HNSI Kota Medan, Zulfahri Siagian SE belum lama ini.

Baru-baru ini, Dirpolair Sumut menangkap kapal ikan berbendera Malaysia, apa tanggapan Anda?
Saya memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Ditpolair yang sudah berhasil menangkap kapal asing yang masuk ke perairan Indonesia. Berarti, dalam bulan ini Ditpolair sudah manangkap dua kapal asing berbendera Malaysia. Ini merupakan sebagai kinerja yang baik dan Ditpolair sudah menjalankan tugasnya dengan baik untuk menjaga perairan Indonesia terhadap kapal asing yang melakukan penangkapan ikan secara ilegal di laut Indonesia.

Lalu, bagaimana dengan ikan hasil tangkapan kapal asing tersebut?
Setelah penangkapan kapal ikan tersebut, harusnya Ditpolair melakukan pelelangan ikan hasil tangkapan kapal ikan tersebut kepada nelayan kita. Namun, sampai saat ini kita belum mengetahui hasil tangkapan ikan tersebut akan dilelang atau tidak. Jika dilelang, kepada siapa ikan tersebut akan dilelang? Seharusnya hasil tangkapan ikan tersebut dilelang kepada nelayan yang selama ini sulit mendapatkan ikan saat melaut. Dengan pelelangan tersebut nelayan bisa lebih mudah untuk mendapatkan ikan. Dan kami dari HNSI siap untuk bekerjasama kepada Ditpolair untuk melakukan pelelangan ikan tersebut.

Bagaimana dengan kapal berbendera Malaysia tersebut?
Ya harus diproses sesuai hukum yang berlaku. Namun berdasarkan pengalaman, proses hukum memakan waktu yang lama sehingga kapal tersebut rusak. Kita mendorong pemerintah dan Ditpolair sebagai penyidik agar kapal tersebut dilelang di tangan penyidik, jangan menunggu proses pengadilan. Karena terlalu lama bila ditangani pengadilan.Kami sudah meminta kepada Mentri perikanan agar kapal tersebut dihibahkan kepada nelayan, namun sampai saat ini belum keluar keputusannya.

Apa harapan Anda ke depan?
Saya berharap apabila ada tangkapan kepada kapal asing agar ikan hasil tangkapannya dilelang secara transparan dan kalau bisa dilelang kepada nelayan kita dan juga terhadap kapal asing agar diproses secara hukum, jangan dibiarkan begitu saja sehingga kapal tersebut menjadi rusak.(mag-11)

Tiga Baliho Diturunkan

MEDAN- Kepala Dinas Pertamanan Kota Medan Erwin Lubis menepati janjinya, untuk melakukan penertiban terhadap reklame yang tak memiliki izin. Hal itu dibuktikannya saat memimpin anggotanya merubuhkan tiga baliho berukuran 4×6 meter di tiga titik berbeda di Medan, Senin (21/2) malam.

Sekira pukul 22.30 WIB, sebuah baliho di jalan Diponegoro tepatnya di depan Konsulat Jenderal (Konsul) Jepang diturunkan. Diketahui, baliho milik PT Kreasi Utama tersebut tidak memiliki izin dan juga dianggap mengganggu estetika. Setelah menumbangkan baliho tersebut, tim dari Dinas Pertamanan kemudian menuju lokasi kedua, yakni di Jalan Imam Bonjol tepatnya di depan persimpangan Jalan Listrik.

iketahui baliho tersebut adalah milik Gukguk Advertising yang izinnya telah habis dan tidak diperpanjang. Namun anehnya, baliho tersebut masih tetap dipergunakan dan masih terpampang sebuah iklan.

Lokasi ketiga yang disambangi yakni di Jalan SM Raja Medan, tepatnya di depan PDAM Tirtandi atau lebih tepatnya di dekat Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara (FK UISU).

Untuk baliho yang satu ini, penertiban dilakukan karena baliho tersebut tak bertuan. Namun anehnya, baliho tersebut masih difungsikan untuk memasang iklan.

Menurut Erwin Lubis, Dinas Pertamanan juga akan melakukan penertiban terhadap sebuah baliho di persimpangan Jalan Sudirman-Jalan Dipoengoro. Dimana diketahui, di baliho yang terpasang nama sebuah harian di Medan yang merupakan milik PT Star Indoensia. Dan parahnya lagi, sambung Erwin, baliho tersebut tidak memiliki izin dan telah mengganggu esetetika perkotaan.

“Semua reklame, baliho atau pun bando yang liar, tak berizin maupun yang mengganggu estetika akan kita tertibkan. Saya tidak peduli, baliho atau reklame atau bando itu milik siapa. Ini sesuai instruksi wali kota,” tegasnya saat ditanya Sumut Pos.

Ditambahkannya, saat ini tim dari Dinas Pertamanan Kota Medan tengah melakukan pendataan. Agar diperoleh data yang valid, sehingga penertiban akan terus berjalan. “Kita upayakan setiap malam akan melakukan penertiban. Karena itu, tim pendata dari kami terus akan bekerja mendata reklame-reklame yang tidak ada izinnya itu,” tukasnya.(ari)

Kena Getahnya

Kena getahnya. Ingkapan itu yang pas untuk Akbar alias Roy (24), warga Jalan Keris, Sei Kera Hulu, Kecamatan Medan Perjuangan. Pasalnya, akibat ulah temannya bernama Zefri yang kini buron, Roy babak belur dihajar massa dan kini ditahan di Mapolsekta Medan Kota.
Kisah naas Roy ini berawal dari pertemuannya dengan Zefri di Jalan Pahlawan, Medan Perjuangan. Waktu itu, Zefri meminta Roy untuk mengantarkannya ke Thamrin Plaza Medan. Dengan mengendarai sepeda motor Satria F BK 5739 XC, Roy pun mengabulkan permintaan temannya itu.

Namun Zefri memintanya melintas dari Jalan Madong Lubis. Tak berapa lama, Zefri memintanya untuk mendekati becak bermotor yang ditumpangi Nely Agustina (24) warga Jalan Senangin Medan. Begitu mendekat, Zefri langsung menyambar tas milik Nely yang bekerja sebagai staf administrasi salah satu perusahaan perkebunan itu.
Namun naas, Nely berusaha mempertahankan tas miliknya, sehingga sempat terjadi tarik menarik antara Zefri dengan Nely. Melihat itu, pengemudi becak bermotor yang ditumpangi Nely memepetkan becaknya ke kiri sehingga sepeda motor yang dikemudikan Roy terjatuh.

Tanpa pikir panjang, warga langsung mengejar dan menangkap Roy, sedangkan Zefri lolos dari kepungan masa. Tanpa ampun, Roy dihakimi hingga kedua belah pipinya robek dan harus mendapatkan jahitan.
“Anggota kita melihat keramaian massa di TKP dan diketahui tersangka telah menjambret sehingga langsung diamankan,” jelas Kapolsekta Medan Kota, Kompol Sandy Sinurat. (mag-1)