Home Blog Page 26

New Zone dan Phantom Digerebek Polisi, Kadipar: Jika Terbukti, Izin Dicabut

Kadis Pariwisata Kota Medan, Odi Anggia Batubara. (Markus Pasaribu/Sumut Pos) 
Kadis Pariwisata Kota Medan, Odi Anggia Batubara. (Markus Pasaribu/Sumut Pos) 

Kepala Dinas Pariwisata Kota Medan M Odi Anggia Batubara, mengaku bahwa pihaknya masih menunggu hasil penyelidikan kepolisian pasca penggerebekan Tempat Hiburan Malam (THM) New Zone (NZ) di Jalan Kolonel Sugiono dan Phantom di Jalan Adam Malik.

Dikatakannya, pihaknya juga sudah turun ke lokasi melakukan Berita Acara Pembinaan (BAP) ke dua THM tersebut.   “Pasca digerebek kemarin kita langsung turun ke lokasi melakukan BAP. Pastinya kita menunggu hasil dari penyelidikan kepolisian dulu, kalau terbukti akan kita rekomendasikan cabut izinnya ke Provinsi Sumatera Utara (Sumut),” ucap Odi saat dikonfirmasi, Senin (25/5/2026).

Odi menjelaskan, saat ini THM NZ dan Phantom sudah dipasang garis polisi (line police) dan tidak ada aktivitas atau tutup. “Terus kita pantau dan kita ingatkan kepada manajemen agar jangan ada dulu aktivitas apapun selama masih berproses,” jelasnya.

Soal adanya dugaan peredaran narkoba di THM, Odi mengaku imbauan selalu disampaikan pihaknya ke semua THM yang ada di Kota Medan.  “Sosialisasi soal narkoba, senjata tajam (sajam) hingga anak di bawah umur jangan diperbolehkan masuk selalu kita sampaikan. Makanya dengan adanya temuan ini akan menjadi bahwa evaluasi kita ke depan. Nanti akan kita data dan periksa daftar tamu di semua THM untuk memastikan semua imbauan yang kita sampaikan benar-benar dijalankan,” tegasnya.

Disinggung adakah atensi khusus ke Phantom (dulu Dragon KTV) mengingat ini merupakan penggerebekan kedua yang dilakukan Polrestabes Medan, Odi menyebut bahwa pihaknya tidak memiliki kewenangan dalam menerbitkan izin THM.

“Setahu saya izin THM itu bisa diurus ketika nama usaha dan perusahaannya berbeda dari sebelumnya. Kalau perhatian khusus sepertinya tidak ada, hanya saja penekanan akan kembali kita sampaikan kepada semua pengusaha THM di Kota Medan agar mematuhi aturan yang berlaku,” pungkasnya.

Seperti diketahui, Bareskrim Mabes Polri menggerebek THM New Zone dan mengamankan 34 orang termasuk manajer hingga pengunjung, Sabtu (23/5/2026) kemarin.

Sehari berselang, Phantom juga digerebek Satres Narkoba Polrestabes Medan dan mengamankan seorang Customer Service (CS) berinisial IR bersama barang bukti 8 butir pil ekstasi. (map/ila)

Proyek Tower B RS Haji Senilai Rp484 Miliar, Gubsu Tolak Teken Kontrak

Gubernur Sumatera Utara Muhammad Bobby Afif Nasution mengaku menolak menandatangani dokumen proyek pembangunan Tower B Rumah Sakit Haji yang disebut menelan anggaran hingga Rp484 miliar. Alasannya, karena menilai prosesnya tidak transparan dan memunculkan sejumlah kejanggalan.

Menurut Bobby, sejak awal dirinya tidak pernah menerima paparan resmi maupun penjelasan rinci terkait rencana pembangunan gedung 10 lantai tersebut.

Bobby menilai, proyek dengan nilai fantastis seharusnya melalui tahapan yang jelas dan terbuka, bukan justru langsung meminta persetujuan tanpa informasi memadai.
“Saya tidak pernah lihat dipresentasikan, tidak pernah ditunjukkan detail perencanaannya. Tiba-tiba diminta langsung tanda tangan. Ini kan tidak masuk akal,” tegas Bobby dalam keterangannya, Senin (25/5/2026).

Bobby juga mengungkapkan adanya tekanan untuk segera menandatangani dokumen proyek, bahkan sebelum dirinya resmi dilantik sebagai gubernur. Kondisi ini, menurutnya, semakin memperkuat kecurigaan adanya proses yang tidak berjalan sebagaimana mestinya.
“Begitu dinyatakan menang oleh KPW, langsung banyak yang menghubungi, mengucapkan selamat, dan mendorong agar segera tanda tangan. Padahal saya belum dilantik saat itu,” ujarnya.

Selain persoalan transparansi, Bobby menyoroti besarnya nilai anggaran yang diajukan. Ia menyebut angka Rp484 miliar hanya untuk pembangunan fisik sebagai sesuatu yang tidak wajar dan perlu dikaji ulang secara menyeluruh. “Angka Rp484 miliar itu hanya untuk bangunan fisiknya saja. Itu menurut saya gila, tidak masuk akal. Masa proses awal saja sudah semahal itu,” katanya.

Atas dasar itu, Bobby menegaskan penolakannya untuk menandatangani kontrak proyek tersebut. Ia bahkan meminta agar rencana pembangunan Tower B RS Haji dibatalkan sementara waktu hingga seluruh proses dapat diperjelas dan dipastikan sesuai aturan.

“Saya tidak mau tanda tangan. Kalau dari awal saja sudah tidak transparan dan angkanya tidak masuk akal, lebih baik dibatalkan dulu,” tegasnya lagi.

Bobby juga mengingatkan agar tidak ada praktik yang merugikan daerah dengan menyajikan proyek yang tidak jelas namun bernilai besar. Ia menekankan pentingnya akuntabilitas dan keterbukaan dalam setiap penggunaan anggaran publik. “Jangan sampai kita seperti ‘menjual satu telur’ dengan harga yang tidak jelas. Semua harus transparan, masuk akal, dan bisa dipertanggungjawabkan,” pungkasnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Sumut Erwin Hotmansah Harahap menjelaskan,
pembangunan Tower B Rumah Sakit (RS) Haji Medan dengan anggaran sebesar Rp484 miliar, merupakan usulan pinjaman sebelum masa Gubsu Bobby Nasution, dianggap berlebihan.

Pembangunan Tower B RS Haji Medan masuk dalam perencanaan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumut mulai tahun 2023. Tujuannya, membuat RS Haji Medan menjadi RS bertaraf internasional dan punya fasilitas serta SDM yang mumpuni.

Korea Selatan dipilih menjadi investor atas rekomendasi Bappenas dan Kemenkeu. Kemenkeu kemudian meminta Pemprov Sumut untuk mendapat persetujuan dari Kemendagri melalui permohonan Gubernur.

“Penandatanganan permohonan persetujuan oleh gubernur sebelumnya belum selesai karena masalah administrasi, kemudian dilanjutkan ke Pj Gubernur Hasanudin dan Pj Gubernur Agus Fatoni, tetapi Mendagri merekomendasikan lebih baik ke Gubernur terpilih, Pak Bobby Nasution. Namun karena belum mendapat penjelasan secara rinci beliau menolak menandatanganinya,” tegas Erwin Hotmansah Harahap, Sabtu (23/5/2026).

Angka Rp484 miliar adalah nilai estimasi pinjaman pembangunan tower B, ditambah peralatan medis, Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS), desain, peningkatan SDM itu sekitar Rp967,3 milliar (US$ 66.712.000). Hanya saja angka ini belum mutlak karena nilai perencanaan konsultan biasanya berbeda dan bisa lebih murah lagi setelah ditenderkan

“Jadi Rp484 milliar adalah nilai estimasi untuk pekerjaan konstruksi. Angka ini juga bukan angka mutlak karena selalu ada perubahan saat proses tender dilakukan, tergantung dari konsultan dan penawaran peserta tender,” jelas Erwin.

Pada saat kesepakatan dengan pemerintah Korea, pinjaman juga dihitung berdasarkan kurs saat itu, Rp14.500 per US$. Pinjaman akan berlangsung selama 40 tahun dengan greace period 10 tahun (yang dibayar hanya bunga pinjaman) dan bunga 0.05% per tahun.

“Estimasi nilai pinjaman itu dihasilkan dari perhitungan studi kelayakan tim Korea. Sedangkan nilai pinjaman sebenarnya nanti akan ditentukan nilai tender,” ungkap Erwin.

Mengenai pemberitaan pembangunan tower B ini yang sedang hangat di tengah masyarakat, Erwin berpesan agar disikapi dengan bijak, Sebab menurutnya, akan menimbulkan persepsi berlebihan dan cenderung menjadi informasi yang keliru, jika disampaikan dalam bentuk berita yang tidak disertai dengan fakta dan data. “Mari kita sikapi dengan bijak. Jangan berlebihan, apalagi sampai dikembangkan menjadi informasi tidak benar atau hoaks,” kata Erwin.(san/ila)

50 Peserta Ikuti Pelepasan Pelatihan Makeup dan Hairdo Uly Rias Pengantin, Cetak MUA Profesional dari Berbagai Daerah

PELEPASAN : Uly Rias Pengantin menggelar kegiatan pelepasan siswa kelas pemula gelombang ke-9 khusus makeup dan hairdo di Hotel Grand Mercure, Medan, Senin (25/5/2025).(Dok : Ihsan Syahreza)
PELEPASAN : Uly Rias Pengantin menggelar kegiatan pelepasan siswa kelas pemula gelombang ke-9 khusus makeup dan hairdo di Hotel Grand Mercure, Medan, Senin (25/5/2025).(Dok : Ihsan Syahreza)

Semangat generasi muda untuk meniti karier di industri kecantikan kembali terlihat dalam kegiatan pelepasan siswa kelas pemula gelombang ke-9 makeup dan hairdo yang digelar Uly Rias Pengantin di Hotel Grand Mercure Medan, Senin (25/5/2025).

Kegiatan tersebut diikuti sebanyak 50 peserta dari berbagai daerah di Indonesia seperti Bogor, Majalengka, Pekanbaru, Samarinda, Balikpapan hingga Bangka Belitung. Menariknya, seluruh peserta turut menghadirkan model masing-masing sebagai bagian dari ujian praktik akhir yang menjadi penentu kelulusan mereka dalam program pelatihan intensif tersebut.

Acara pelepasan berlangsung meriah dan penuh antusias. Para peserta tampak sibuk menyelesaikan sentuhan akhir makeup dan hairdo model mereka sebelum memasuki sesi penilaian dari tim penguji profesional.

Program pelatihan ini menjadi salah satu wadah pengembangan keterampilan di bidang tata rias pengantin dan hair styling yang kini semakin diminati masyarakat, khususnya perempuan muda dan ibu rumah tangga yang ingin memiliki keahlian profesional sekaligus membuka peluang usaha mandiri.

Owner sekaligus mentor utama Roida Uli Silitonga mengatakan, kegiatan pelepasan ini merupakan tahap akhir dari proses pembelajaran yang telah dijalani peserta selama beberapa bulan terakhir.

Menurutnya, fokus utama penilaian berada pada kemampuan peserta dalam mengaplikasikan teknik yang telah dipelajari selama pelatihan, baik dari sisi makeup maupun hairdo.

“Untuk makeup, yang dinilai itu mulai dari kerapian alis, pemasangan bulu mata, blending, sampai detail lipstik. Sedangkan hairdo dilihat dari bentuk, keseimbangan kanan dan kiri, serta hasil akhirnya harus rapi,” ujarnya.

Ia menjelaskan, standar pengerjaan rias pengantin lengkap dengan hairdo ditargetkan selesai dalam waktu sekitar empat jam. Standar tersebut diterapkan agar peserta terbiasa bekerja secara profesional dan siap menghadapi kebutuhan klien nantinya.

Roida mengungkapkan, minat masyarakat terhadap pelatihan makeup dan hairdo terus mengalami peningkatan dari waktu ke waktu. Bahkan, jumlah pendaftar di setiap gelombang disebut selalu melebihi kapasitas yang tersedia.

“Setiap gelombang kita batasi sekitar 50 peserta karena menyesuaikan kapasitas ruangan. Tapi peminatnya selalu lebih banyak, sehingga sebagian harus menunggu gelombang berikutnya,” katanya.

Ia menambahkan, tingginya minat tersebut menunjukkan bahwa industri tata rias masih memiliki peluang besar untuk berkembang sebagai bagian dari sektor ekonomi kreatif.

Tidak hanya berasal dari Medan atau Sumatera Utara, peserta yang mengikuti pelatihan juga datang dari berbagai daerah di Indonesia. Hal itu menjadi bukti bahwa pelatihan yang diselenggarakan Uly Rias Pengantin mulai dikenal secara luas dan dipercaya mampu melahirkan makeup artist (MUA) yang kompeten.

Dalam proses pelatihan, pihaknya juga menghadirkan narasumber profesional untuk memberikan materi makeup, sementara teknik hairdo diajarkan langsung oleh Roida sebagai mentor utama.

Lebih dari sekadar pelatihan keterampilan, Roida menegaskan bahwa program tersebut juga membawa misi sosial, yakni membantu memberdayakan perempuan dan mengurangi angka pengangguran melalui pengembangan skill di bidang kecantikan.

“Bagaimana talenta yang kita miliki bisa berdampak baik bagi orang lain, khususnya perempuan. Harapannya mereka bisa mandiri dan membantu mengurangi angka pengangguran lewat skill makeup dan hairdo,” ungkapnya.

Sementara itu, penguji kegiatan, Okky Chandra, memberikan apresiasi terhadap konsistensi program yang dinilai berhasil melahirkan banyak penata rias baru di Indonesia.

Menurutnya, industri tata rias saat ini memiliki peluang yang sangat besar karena menjadi bagian penting dalam pengembangan UMKM dan industri kreatif nasional.

“Program ini luar biasa karena mampu menciptakan banyak MUA baru yang punya kemampuan dan semangat untuk berkembang. Dunia kecantikan sekarang membutuhkan generasi muda yang kreatif dan inovatif,” ujarnya.

Okky menilai antusiasme peserta menjadi salah satu indikator bahwa profesi penata rias kini semakin diminati sebagai pilihan karier masa depan. Meski demikian, ia menekankan bahwa kemampuan teknis dan kedisiplinan tetap menjadi hal utama yang harus dimiliki seorang MUA profesional. “Kerapian itu wajib. Cantik itu relatif, tapi hasil kerja seorang MUA harus rapi dan sesuai porsinya,” tegasnya.

Ia mengakui bahwa peserta pemula tentu masih memiliki kekurangan dalam teknik maupun pengalaman. Namun melalui proses pelatihan yang intensif, mereka diyakini akan mampu berkembang dan bersaing di dunia kerja.

“Setelah dilatih, mereka mulai memahami teknik dan porsi makeup yang benar. Itu menjadi modal penting untuk masuk ke dunia profesional,” ujar Okky.

Salah satu peserta, Olin Manalu, mengaku rela merantau dari Cibinong, Bogor, demi mendalami dunia tata rias di Medan. Selama empat bulan terakhir, ia fokus mengikuti pelatihan untuk mengejar cita-citanya menjadi makeup artist sukses.

“Saya datang dari Bogor dan sudah sekitar empat bulan di Medan. Target saya ingin menjadi penata rias profesional dan sukses di bidang ini,” ujar Olin.

Olin mengaku terinspirasi oleh sosok MUA terkenal “Cikgu Bogomi” yang dianggap berhasil membangun nama besar di industri kecantikan. “Saya ingin seperti Cikgu Bogomi, dikenal luas dan punya karya sendiri. Saya percaya kalau kita punya ilmu, jalan menuju sukses akan lebih mudah,” harap Olin.

Menurutnya, suasana pelatihan yang ramai dan dinamis membuat proses belajar terasa lebih hidup dan menambah semangat peserta untuk terus berkembang.

Semangat serupa juga datang dari Mei Hutasoit yang sengaja datang dari Balikpapan, Kalimantan Timur, untuk mempelajari teknik makeup khas Batak yang dinilai memiliki karakter kuat dan berbeda. “Saya sengaja belajar di Medan karena ingin mendapatkan ciri khas makeup Batak yang kuat di sini,” ujar Mei.

Meski baru menekuni dunia tata rias selama sekitar empat bulan, Mei mengaku memiliki target besar untuk mengembangkan usahanya di bidang kecantikan.

Mei mengaku bahwa saat ini dirinya sudah memiliki usaha salon perawatan di Balikpapan, namun belum menyediakan layanan makeup pengantin. Karena itu, pelatihan ini menjadi langkah awal untuk memperluas bisnis yang dimilikinya.

“Saya sudah punya salon di Balikpapan, tapi belum ada layanan makeup. Setelah selesai belajar nanti saya ingin membuka jasa rias pengantin juga,” kata Mei.

Mei berharap keterampilan yang diperolehnya selama pelatihan dapat menjadi bekal untuk memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan di masa depan. “Harapan saya, setelah selesai belajar saya bisa merias pengantin dengan baik dan membuat klien puas,” katanya.

Kisah Olin dan Mei menjadi gambaran semangat generasi muda Indonesia dalam mengejar peluang di industri kecantikan. Dengan keberanian merantau, kemauan belajar, serta komitmen untuk terus berkembang, mereka optimistis mampu membangun masa depan melalui profesi penata rias. (san/ila)

Wujudkan Festival Bunga dan Buah 2026 Berkelas Internasional, Bupati Karo Tekankan Sinergi Lintas Sektor

RAKOR: Bupati Karo memimpin rakor persiapan Festival Bunga dan Buah 2026
RAKOR: Bupati Karo memimpin rakor persiapan Festival Bunga dan Buah 2026

KARO — Bupati Karo Antonius Ginting menegaskan pentingnya sinergi seluruh perangkat daerah dalam mempersiapkan Festival Bunga dan Buah Tahun 2026 agar dapat menjadi ajang berskala nasional bahkan internasional.

Penegasan tersebut disampaikan saat membuka Rapat Koordinasi (Rakor) Persiapan Awal Festival Bunga dan Buah 2026 yang digelar di Aula Rakoetta Brahmana, Kantor Bupati Karo, Jumat (22/5). Rakor ini menjadi langkah awal pemerintah daerah dalam mematangkan konsep dan pelaksanaan agenda strategis tersebut.

Dalam arahannya, Bupati Karo menyebutkan bahwa sektor pariwisata merupakan salah satu unggulan utama pembangunan Kabupaten Karo. Menurutnya, potensi alam yang indah, lanskap pegunungan yang menawan, kekayaan budaya, serta hasil pertanian dan perkebunan yang melimpah harus dikelola secara maksimal sebagai daya tarik wisata.

“Festival ini harus mampu menampilkan keunggulan daerah dan memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat, khususnya pelaku UMKM, petani, serta pelaku industri kreatif di Kabupaten Karo,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa Festival Bunga dan Buah tidak boleh sekadar menjadi agenda seremonial tahunan, melainkan harus menjadi instrumen strategis dalam mendorong pertumbuhan sektor pariwisata, budaya, dan ekonomi kreatif daerah.

Rakor tersebut juga menjadi wadah untuk menjaring berbagai ide, gagasan, serta masukan dari seluruh pihak terkait guna merumuskan konsep festival yang lebih inovatif, kompetitif, dan menarik bagi wisatawan.

Selain itu, Bupati Karo menekankan pentingnya keterlibatan aktif seluruh perangkat daerah, mulai dari tahap perencanaan, penyusunan konsep acara, penyediaan fasilitas, keamanan, pelayanan, hingga promosi dan kerja sama lintas sektor.

Melalui persiapan yang matang dan kolaborasi yang solid, Pemerintah Kabupaten Karo optimistis Festival Bunga dan Buah Tahun 2026 dapat menjadi ikon pariwisata unggulan yang tidak hanya membanggakan daerah, tetapi juga memberikan dampak ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat. (deo/ila)

Pelanggan Keluhkan Air Keruh Perumda Tirtasari Binjai

KERUH: Potongan video dari kondisi air keruh yang mengalir ke pelanggan Perumda Tirtasari.( FOTO dari pelanggan Perumda Tirtasari/Sumut Pos)
KERUH: Potongan video dari kondisi air keruh yang mengalir ke pelanggan Perumda Tirtasari.( FOTO dari pelanggan Perumda Tirtasari/Sumut Pos)

BINJAI – Perumda Tirtasari kembali menjadi sorotan setelah sejumlah pelanggan di Kota Binjai mengeluhkan kualitas air yang dinilai tidak layak digunakan. Keluhan datang dari warga di kawasan Jalan Danau Tondano Pasar 2 KM 18, Binjai Timur, yang mengaku harus menghadapi air keruh berwarna kecokelatan hampir setiap hari selama berbulan-bulan.

Kondisi tersebut membuat pelanggan kecewa lantaran pelayanan air bersih yang seharusnya menjadi kebutuhan dasar masyarakat justru dinilai semakin memburuk, terutama menjelang hingga usai perayaan Hari Ulang Tahun ke-154 Kota Binjai.

Dalam video yang beredar, air yang mengalir dari pipa pelanggan tampak keruh pekat berwarna cokelat. Warga mengaku harus membuang air dalam jumlah besar terlebih dahulu sebelum mendapatkan air yang relatif jernih dan bisa digunakan untuk kebutuhan rumah tangga.

“Sudah berbulan-bulan begini. Kalau mau pakai air harus dibuang dulu berember-ember sampai keluar yang bersih,” keluh salah seorang pelanggan.

Tidak hanya mengganggu aktivitas sehari-hari, kondisi tersebut juga berdampak pada membengkaknya biaya tagihan air dan listrik rumah tangga. Menurut pelanggan, meteran air tetap berjalan meski sebagian besar air terbuang percuma karena tidak layak digunakan. “Meteran jalan terus, jadinya bayar makin bengkak. Air banyak terbuang,” ujarnya.

Pelanggan menyebut, kondisi air keruh tersebut sudah berlangsung sekitar enam bulan terakhir. Bahkan dalam beberapa kesempatan, aliran air disebut sempat mati total sehingga semakin menyulitkan warga memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti mandi, mencuci, hingga memasak.

“Setiap hari air kotor terus. Setelah banyak dibuang baru bisa dipakai. Kami sudah melapor dua minggu lalu, tapi belum ada penanganan,” katanya.

Keluhan masyarakat ini muncul di tengah momentum perayaan HUT Kota Binjai, yang semestinya menjadi ajang peningkatan pelayanan publik kepada masyarakat. Namun warga justru mengaku kecewa karena persoalan air bersih tak kunjung terselesaikan.

Menanggapi keluhan tersebut, Direktur Perumda Tirtasari, Azhari, menjelaskan bahwa air keruh terjadi akibat proses pengetesan jaringan air dari off-taker Mebidang dengan tekanan tinggi serta pencucian pipa yang dilakukan dalam proyek pekerjaan PU tahun 2025.

“Ada pengetesan air dari off-taker Mebidang dengan tekanan tinggi dan pencucian pipa dari pekerjaan PU tahun 2025 yang menyebabkan air keruh sampai ke pelanggan,” ujarnya, Minggu (24/5/2026).

Meski demikian, pihaknya memastikan hingga saat ini tidak ditemukan adanya kebocoran pada jaringan pipa distribusi. “Pengetesan dan pencucian pipa masih terus dilakukan sampai dipastikan tidak ada kebocoran pipa,” pungkasnya.

Sementara itu, warga berharap pihak Perumda Tirtasari segera mengambil langkah konkret agar kualitas air kembali normal dan pelanggan tidak terus dirugikan akibat kondisi tersebut. Mereka juga meminta adanya solusi terkait tagihan yang membengkak karena banyaknya air yang terbuang selama proses mendapatkan air bersih. (ted/ila)

Pastikan Program Makanan Bergizi Gratis Aman dan Tepat Sasaran, Ketua Satgas MBG Dairi Serahkan 10 SLHS untuk SPPG

SERAHKAN: Ketua Satgas Percepatan program MBG juga Wabup Dairi, Wahyu Daniel Sagala, menyerahkan SLHS kepada salahsatu pemilik dapur MBG. (RUDY SITANGGANG/SUMUT POS)
SERAHKAN: Ketua Satgas Percepatan program MBG juga Wabup Dairi, Wahyu Daniel Sagala, menyerahkan SLHS kepada salahsatu pemilik dapur MBG. (RUDY SITANGGANG/SUMUT POS)

DAIRI – Wahyu Daniel Sagala menyerahkan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) kepada 10 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang telah memenuhi syarat dalam mendukung pelaksanaan Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Dairi. Penyerahan dilakukan dalam seremoni di Aula SMKN 1 Sidikalang, Jumat (22/5).

Kegiatan tersebut turut dihadiri Sekretaris Daerah Surung Charles Lamhot Bantjin, Kepala Dinas Kesehatan Henry Manik, serta Korwil Badan Gizi Nasional (BGN) Dairi Pahlawan Nasution.

Adapun 10 SPPG penerima SLHS tersebut yakni SPPG Buluduri, SPPG Tanah Pinem Desa Harapan, SPPG Dairi Lau Sireme, SPPG Tigalingga, SPPG Dairi Batang Beruh 2, SPPG Dairi Huta Rakyat, SPPG Dairi Lae Nuaha, SPPG Dairi Sidikalang 3, SPPG Dairi Tanah Pinem Kutabuluh, dan SPPG Dairi Lau Bagot.

Dalam sambutannya, Wahyu Daniel Sagala menegaskan bahwa Program MBG merupakan program strategis nasional yang bertujuan meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia melalui pemenuhan gizi masyarakat. Menurutnya, aspek keamanan pangan dan higienitas menjadi prioritas utama dalam pelaksanaan program tersebut.

“SLHS bukan hanya sekadar dokumen administrasi, tetapi menjadi jaminan bahwa proses pengolahan makanan dilakukan sesuai standar kesehatan dan keamanan pangan,” ujar Wahyu.

Ia juga mengapresiasi kinerja Dinas Kesehatan Kabupaten Dairi yang aktif melakukan pembinaan, pendampingan, hingga inspeksi kesehatan lingkungan kepada penyelenggara MBG.

Lebih lanjut, Wahyu menyampaikan tantangan ke depan tidak hanya terkait legalitas dan standar pelayanan, tetapi juga peningkatan cakupan penerima manfaat, khususnya kelompok 3B yang meliputi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.

Untuk itu, ia menekankan pentingnya koordinasi lintas sektor antara pemerintah daerah, puskesmas, sekolah, pemerintah desa, dan pengelola SPPG. Selain itu, validitas data penerima manfaat juga harus terus diperbarui agar program benar-benar tepat sasaran.

“Kita juga perlu mendorong inovasi pelayanan serta optimalisasi potensi lokal dalam penyediaan bahan pangan agar program MBG turut meningkatkan perekonomian masyarakat Kabupaten Dairi,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Henry Manik mengungkapkan, hingga saat ini baru 10 dari 36 SPPG yang beroperasi di Dairi telah memperoleh SLHS, termasuk satu SPPG yang sedang disuspend.

Ia menjelaskan, jumlah penerima manfaat Program MBG di Kabupaten Dairi mencapai 72.913 orang, terdiri dari 69.086 anak sekolah dan 3.827 penerima dari kelompok 3B.

Berdasarkan data puskesmas, sasaran kelompok 3B di Dairi meliputi 1.630 ibu hamil, 4.458 ibu menyusui, dan 16.948 balita non-PAUD. Namun, penerima manfaat yang telah terlayani saat ini baru mencakup 303 ibu hamil (18,59 persen), 707 ibu menyusui (15,86 persen), dan 2.817 balita non-PAUD (16,62 persen).

Pemerintah Kabupaten Dairi berharap percepatan penerbitan SLHS bagi seluruh penyelenggara MBG dapat terus dilakukan guna memastikan layanan makanan bergizi yang aman, sehat, dan berkualitas bagi masyarakat. (rud/ila)