28 C
Medan
Monday, January 12, 2026
Home Blog Page 3067

Perkara Dugaan Penelantaran Istri Terkesan Dipaksakan, Terdakwa Minta Hakim Berlaku Adil

Ilustrasi.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Perkara dugaan penelantaran istri dengan terdakwa Hendra Gunawan dinilai seperti dipaksakan. Pasalnya, perkara saksi korban Meli Isfenti yang telah berstatus mantan istri terdakwa, telah berkekuatan hukum tetap (inkrah) berdasarkan Putusan Pengadilan Agama (PA) Medan Kelas I-A No 1360/Pdt/G/2019/PA.Mdn tertanggal 2 September 2019.

Ilustrasi.

Hal ini disampaikan Andy Rinaldy SH MH selaku kuasa hukum Hendra Gunawan, kepada Sumut Pos, Sabtu (25/9).

“Sudah ada putusan pengadilan (Agama) bahwasannya hak si Meli itu tidak bisa dipenuhi oleh Hendra sebagai suaminya. Kenapa masalah pidana itu dipersoalkan, dan klien kami duduk sebagai terdakwa,” ungkapnya, didampingi Wendy Meilanda SH, Erry Afrizal SH dari Kantor Hukum Bintang Abadi Law Firm.

Menurutnya, dalam putusan PA Medan, hak-hak Meli mengenai nafkah lampau tidak dikabulkan lantaran ia masuk dalam kategori istri yang nujus (durhaka) dalam kompilasi hukum islam.

“Pertimbangan hakim, dalam peraturan undang-undang, istri yang durhaka tidak berhak mendapatkan harta lampau dari suami. Makanya dari kompilasi hukum Islam, klien kami ini tidak ada kewajibannya,” jelasnya.

Andy heran, kenapa kemudian perkara ini bisa naik ke persidangan, dengan dugaan penelantaran istri. Pada hal, mantan istrinya ternyata tidak mengajukan banding atas putusan di PA Medan.

“Artinya dia (Meli) menerimakan. Inilah yang kami nilai perkaranya seperti dipaksakan. Dan yang membingungkan, apakah putusan yang terdahulu tidak dihormati. Dimana rasa keadilan untuk terdakwa?,” katanya. Dilihat dari laporan, penelantaran itu terhitung dari bulan Mei sampai September 2019.

“Berarti sama hitungannya, mantan istrinya juga tidak memberikan nafkah batin terhadap klien kami. Yang kami heran, kenapa perkara itu bisa naik, pada hal sudah pernah di uji di Pengadilan Agama.

Atas hal itulah, dia menduga perkara ini terkesan dipaksakan sewaktu menerima laporan mantan istri terdakwa di Polrestabes Medan. “Berarti penyidik tidak menghargai putusan pengadilan agama. Hargailah putusan itu, karena itukan juga langkah hukum yang ditempuh kedua belah pihak,” tuturnya.

Menurutnya, perkara ini dimajukan lantaran ada keraguan penyidik hingga dimintakan keterangan saksi ahli. Namun, katanya, setelah melihat dari berita acara pemeriksaan (BAP) saksi ahli tersebut hanya menceritakan keahliannya tanpa ada dasar-dasar hukum.

“Ini sangat membingungkan buat kami. Inilah yang kami uji tentang keahliannya, karna yang dia (saksi ahli) buat bertentangan dengan aturan-aturan hukum, sebagaimana putusan pengadilan agama,” terangnya.

Untuk itulah, tambahnya, dia meminta kepada majelis hakim Pengadilan Negeri Medan, yang menyidangkan perkara kliennya untuk berlaku adil.

Terpisah, Hendra Gunawan mengisahkan pada bulan Mei 2019, menggugat cerai Meli lantaran dinilai telah melakukan kekerasan terhadap anak semata wayang hasil perkawinan mereka. Ditambah lagi, mantan istrinya itu dinilai tidak mau lagi hidup bersamanya.

“Di bulan Mei 2019 saya ajukan gugatan cerai, di bulan September jatuhlah putusan pengadilan agama yang isinya memang hak asuh anak sama dia (Meli), tapi anak di saya. Yang kedua segala tuntutan dia, termasuk nafkah masa lampau itu digugurkan. Karena hakim sudah mengkaji dan menguji bahwa ini tergolong istri yang nujus (durhaka),” jelasnya.

Dari putusan itu, lanjutnya, Hendra hanya diperintahkan membayar kenang-kenangan berupa emas murni 3 gram. “Itu saya penuhi, sama biaya anak 700 ribu sebulan. Tapi karna anak sama saya, cuma sekali itu saja saya kasi,” bebernya.

Kemudian, lanjutnya, pada bulan Oktober 2019, mantan istrinya datang kerumah, lantas mengambil paksa anaknya. Namun pada saat itu, anaknya yang telah berusia 5 tahun, berontak dan meminta tolong.

“Sewaktu kejadian itu, ada orangtua perempuan saya, anak dan adik perempuan saya. Sewaktu pengambilan paksa itu, orangtua dan adik saya tidak bisa berbuat apa-apa. Waktu itu saya lagi diluar kota ada kerjaan,” urainya.

Tak senang dengan perbuatan mantan istrinya, setelah tiba di Medan Hendra langsung membuat laporan polisi, pada November 2019. Setelah laporan diterima, ia dimintakan untuk melakukan visum fisik dan psikis terhadap anaknya. Dari hasil visum psikis, katan Hendra, anaknya menderita stresor (trauma berat) atas tingkah laku ibunya.

“Di satu sisi dia membuat laporan tandingan, dia melaporkan saya dengan laporan saya tidak menafkahinya dari bulan Mei sampai September 2019. Sementara sudah jelas putusan pengadilan agama, hak dia itu gugur semua. Jadi saya sebagai warga yang baik menjalani apa yang diputuskan pengadilan agama,” pungkasnya seraya mengatakan, perkara kekerasan terhadap anak dengan terdakwa Meli, masih berlangsung di PN Medan. (man/azw)

Tersinggung Diungkit Masa Lalu, Kuping Pengurus Masjid Nyaris Putus Disabet Jamaah

BUKTI LAPORAN: Seorang marbot Masjid Raudhatul Islam, Syawal Syah (kanan) didampingi Ketua BKM, Asmui Parinduri tunjukkan bukti laporan dugaan penganiayaan yang dilakukan jamaah bernama M Romadona kepada wartawan, di Medan pada 24 September kemarin. PRAN HASIBUAN/SUMUT POS.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Jamaah Masjid Raudhatul Islam di Jalan Peringatan, Kelurahan Silalas, Kecamatan Medan Barat, sempat heboh. Kuping seorang pengurus masjid tersebut nyaris putus disayat senjata tajam jamaah, Senin pekan kemarin, (20/9).

BUKTI LAPORAN: Seorang marbot Masjid Raudhatul Islam, Syawal Syah (kanan) didampingi Ketua BKM, Asmui Parinduri tunjukkan bukti laporan dugaan penganiayaan yang dilakukan jamaah bernama M Romadona kepada wartawan, di Medan pada 24 September kemarin. PRAN HASIBUAN/SUMUT POS.

Adalah M Syawal Syah, korban yang diduga dianiaya seorang jamaah bernama M Romadona. Saat ditemui wartawan, Syawal menceritakan kronologi kejadian tersebut. Awalnya usai Salat Magrib, ia bersama seorang rekannya hendak menyiapkan makan malam.

“Begitu kami makan, si Romadona membantingkan piring di sebelah saya. Dibilang Ustadz Fattah, itu sentimen pribadi, diamkan saja,” ungkapnya, Jumat (24/9) sore.

Pelaku lantas keluar dari ruang makan. Sambil keluar, pelaku mengeluarkan pernyataan negatif tentang dirinya.

“Dia bilang saya bukan orang situ, tapi sok mau berkuasa. Terus menyinggung masa lalu saya soal narkoba. Dia bilang saya disitu modus saja, padahal penjahat. Modus saya di situ, dia bilang cuma mau tutupin perbuatan saya menjual narkoba, saya sudah lama tinggalkan itu setelah saya keluar penjara 2 tahun lalu,” urai Syawal.

Terprovokasi dengan pernyataan Romadona, Syawal lantas mendatangi pelaku. “Saya bilang ke dia, itu masa lalu, saya mau bertobat, apa tak ada kesempatan bertobat, Allah saja mau pengampun dan pemaaf,” ujarnya.

Merasa tak terima dengan ucapannya, pelaku lantas menyerang dengan mendorong Syawal hingga ke dinding masjid.

“Tapi dia nggak terima dan serang saya, ditarik saya, didorong ke dinding, gelas yang saya pegang jatuh dan pecah. Kawan yang kompak sama dia pegangin saya sampai nggak bisa berbuat apa-apa,” beber Syawal yang juga muazin di masjid tersebut.

Nggak tahu dari mana (tiba-tiba dia pegang pisau kater), 3 kali saya bisa menghindar (ketika hendak ditikam). Percobaan keempat kenalah kuping saya dan saya mendapatkan 39 jahitan,” sambung dia.

Tak senang dengan perbuatan pelaku, Syawal melaporkan hal tersebut ke Mapolsek Medan Barat. Laporan Syawal itu, tercatat dengan nomor: LP/216/IX/2021/SPKT/RESTABES MDN/SEK MDN BARAT tertanggal 20 September.

“Saya harap dia ditindak, dia selalu buat resah di masjid itu, sebelum saya juga dia beberapa kali ribut sama orang masjid, termasuk sama BKM dan jemaah,” ucapnya didampingi Ketua BKM Masjid Raudhatul Islam, Asmui Parinduri.

Sementara Asmui meminta polisi untuk segera mengusut kasus tersebut. Ia mengaku kecewa kejadian itu bisa terjadi di masjid mereka. Ia juga mewanti-wanti agar penegakan hukum bisa berjalan sesuai prosedur, supaya tidak berdampak luas.

“Harapan kita kepada penegak hukum untuk menegakkan hukum. Penganiayaan dengan senjata tajam di masjid jika tidak ditindak akan menimbulkan 1.000 pelaku lain,” ujarnya seraya menyebut selain ke polisi, kasus ini sudah mereka amanahkan kepada Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Mata Pisau Keadilan, selaku kuasa hukum korban.

Terpisah, Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Pol Hadi Wahyudi saat dikonfirmasi menyebut polisi masih mendalami kasus tersebut. Saat ini, kata Hadi, pihaknya telah menerima 2 laporan dalam kasus tersebut.

“Ada 2 laporan yang kita terima saat ini kasusnya sedang kita dalami kedua laporan tersebut,” katanya menjawab wartawan. (prn/azw)

Cekcok di Kedai Tuak, Warga Dairi Tewas Ditebas Parang

KORBAN. Terlihat jasad Jamson Siburian (56) korban pembunuhan bersimbah darah setelah dibacoki teman sekampung yang juga pemilik kedai tuak di Desa Gomit, Kecamatan Siempat Nempu, Kabupaten Dairi. Humas Polres Dairi for SUMUT POS.

DAIRI, SUMUTPOS.CO – Usai cekcok dengan pemilik kedai tuak, Jamson Siburian (56) warga Dusun IV, Desa Gomit, Kecamatan Siempat Nempu, Kabupaten Dairi, ditemukan tewas bersimbah darah di badan jalan umum didepan rumah korban, Sabtu (25/9). Korban tewas setelah ditebas pakai parang, oleh pemilik warung tuak, Berton Lumbantobing (35) alamat sama, Sabtu (25/9) dinihari. Kapolres Dairi AKBP Wahyudi Rahman melalui Kasie Humas Polres, Iptu Donni Saleh membenarkan pembunuhan dimaksud.

KORBAN. Terlihat jasad Jamson Siburian (56) korban pembunuhan bersimbah darah setelah dibacoki teman sekampung yang juga pemilik kedai tuak di Desa Gomit, Kecamatan Siempat Nempu, Kabupaten Dairi. Humas Polres Dairi for SUMUT POS.

Donni menerangkan kronologis kejadian, kasus pembunuhan berawal, Jumat (24/9) sekira pukul 22.00 WIB. Malam itu korban datang ke kedai tersangka dan minum tuak. Korban diduga hingga mabuk berat, dan ribut-ribut di kedai tuak itu.

Menurut keterangan sejumlah saksi. Karena korban sudah mabuk dan reseh. Lalu, tersangka menasehati dan menyuruh korban pulang kerumah. Korban tidak terima disuruh pulang, dan keduanya cekcok.

Tapi, sekira pukul 00.00 Wib, lanjut Donni, korban meninggalkan warung tuak milik tersangka dan pergi menuju kediamannya. Sebelum korban sampai dirumahnya, mungkin tersangka sudah tersulut emosi akibat percekcokan dengan korban. Kemudian, tersangka menyusul korban dengan membawa sebilah parang.

Sewaktu korban masih berjalan kaki, tiba-tiba dari belakang tersangka membacok kepala korban secara berulang-ulang hingga korban tersungkur dijalan. Punggung korban bagian kiri, juga turut digolok.

“Setelah memastikan korban sudah meninggal, lalu tersangka berangkat ke Sidikalang dan menyerahkan diri ke Polres Dairi,” jelas Donni.

Selanjutnya, pengakuan tersangka diteruskan ke Polsek Bunturaja. Personel Polsek Bunturaja melakukan cek tempat kejadian perkara (TKP).

Di lokasi, ditemukan korban sudah meninggal dunia dengan posisi bersujud dijalan. Kepala bagian belakang, sudah hancur.

Diperkirakan, luka bacokan di kepala sebanyak 6 kali dan di pundak sebelah kiri 1 kali. Saat ditemukan, tangan kanan korban menggenggam sebuah batu. Keterangan sejumlah saksi lanjut Donni, membenarkan sebelum kejadian, antara korban dan tersangka terjadi pertengkaran.

Donni menambahkan, tersangka dan sejumlah barangbukti telah diamankan di Mapolres Dairi.

“Begitu juga jenazaha korban telah diserahkan ke pihak keluarga, setelah sebelumnya dibawa ke RSU Sidikalang untuk dilakukan visum et refertum (Ver),” pungkas Donni Saleh. (rud/azw)

Tiba di Marauke, Kontingen Wushu Sumut Disambut Lagu Anak Medan

MERAUKE, SUMUTPOS.CO – Kelompok terbang pertama kontingen Pekan Olahraga Nasional (PON) Sumut untuk klaster Merauke, mendapat sambutan meriah setibanya di Bandara Mopah Merauke, Minggu (26/9) sore WIT.

TOR-TOR: Kontingen wushu Sumatera Utara disambut tarian Tor-tor ketika tiba di Bandara Mopah Merauke, Minggu (26/9) sore WIT. (ist)

Kontingen dipimpin Sekum KONI Sumut Chairul Azmi Hutasuhut berintikan 25 atlet, pelatih cabor Wushu dan beberapa official dari KONI Sumut. Juga ikut dalam kontingen, dua pewushu Pelatnas Harris Horratius dan Juwita Niza Wazni, yang bergabung saat transit di Jakarta.

Kemeriahan sambutan sudah terlihat sesaat anggota kontingen hendak memasuki ruang bandara. Dari sisi kiri dan kanan terlihat putra putri Papua melakoni tari selamat datang. Selanjutnya perwakilan panitia menyematkan topi khas Papua kepada Chairul Azmi Hutasuhut dan Harris Horratius perwakilan para atlet.

Suasana semakin terkesan meriah. Meski berada di Merauke, namun nuansa Medan/Sumut terlihat disana, ketika masyarakat perantau asal Sumut yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Batak Merauke (IKBM) menyambut kontingen dengan slogan Horasss Horasss Horasss. Perwakilan IKBM tidak lupa menyematkan ulos kepada pimpinan rombongan. Selanjutnya muda mudi IKBM mempertontonkan tari Melayu dan Tortor Batak diiringi Lagu Medan.

Tidak sampai di situ, kumpulan band yang disiapkan panitia di sisi kanan pintu masuk bandara juga menyumbangkan lagi Alusiau khusus buat kontingen Sumut.

Sambutan meriah panitia dan perkumpulan IKBM mendapat pujian Ketua Kontingen Chairul Azmi. “Terimakasih kepada panitia dan Keluarga Besar IKBM. Kami tidak menduga bakal mendapat sambutan semeriah ini, ” ujar Chairul didampingi Fahri Nasution dan Ageng, Tim Aju KONI Sumut untuk klaster Merauke.

Perwakilan Brimob Poldasu pimpinan AKBP Yudi Pinem yang diutus mendampingi kontingen Sumut juga cukup berperan. Koordinasi mereka dengan panitia terkesan baik sehingga pengurusan perlengkapan kontingen keluar dari bandara berlangsung lancar.

Usai bersantap bersama restoran di Merauke, Chairul selanjutnya mengantarkan para atlet wushu ke penginapan kontingen di Permata Harapan.

Kontingen Wushu menjadi cabang olahraga (cabor) pertama yang bertolak ke klaster Merauke karena sudah harus melakoni pertandingan mulai 29 September hingga 3 Oktober. (rel/dek)



Resmikan Masjid Raya Al Musannif di Tabuyung Madina, Musa Rajekshah Tetaskan Air Mata

MADINA, SUMUTPOS.CO – Wakil Gubernur Sumatera Utara (Wagub Sumut) Musa Rajekshah kembali melakukan peresmian Masjid Al Musannif yang telah dirintis oleh almarhum orang tuanya H Anif.Kali ini masjid yang diresmikan adalah Masjid Raya Al Musannif di Desa Tabuyung, Kecamatan Muara Gadis, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Minggu (26/9). Ini merupakan Masjid Al Musannif yang ke-24 dari rencana 99 masjid.

RESMIKAN: Wagub Sumut Musa Rajekshah meresmikan Masjid Raya Al Musannif di Desa Tabuyung, Kecamatan Muara Gadis, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Minggu (26/9). (IST)

Berbeda dengan peresmian yang telah dilakukan sebelumnya, pada peresmian kali ini, Ijeck sapaan Musa Rajekshah tak kuasa menahan haru. Banyaknya kenangan dan perjuangan dari ayahandanya di desa ini, membuat dia tak kuasa menahan air mata saat peresmian dilakukan.

Dalam sambutannya Ijeck bercerita, bagaimana kisah ayahandanya H Anif dan dirinya bisa sampai ke Desa Tabuyung ini. “Memang semuanya, langkah rezeki dan maut adalah rahasia Allah, tidak ada satupun manusia yang memastikannya,” ungkapnya.

Dia mengatakan, kedatangannya pertama kali ke Kecamatan Muara Batang Gadis bersama H Anif berlangsung pada tahun 1992 yang dimulai dari Desa Singkuang. Lalu pada tahun 1997, mereka baru masuk ke Desa Tabuyung ini.

Karenanya, jelas Ijeck banyak kesan yang dirasakannya secara pribadi dari sosok orang tuanya almarhum H Anif. Termasuk bagaimana ayahnya ikut berperan dalam memperjuangkan berdirinya Kabupaten Mandailing Natal dari sebelumnya masih menjadi bagian Kabupaten Tapanuli Selatan.

“Alhamdulillah orang tua itu ikut memperjuangkan. Begitu juga dengan berdirinya hutan nasional, karena orang tua itu menginginkan bagaimana agar Madina ini hutannya jangan sampai semuanya rusak,” jelasnya.

Kemudian, terang dia, kampung ini dulunya juga belum ada berdiri pohon sawit, dan usaha yang mereka dirikan saat pertama kali masuk adalah sarang burung walet. Tapi berjalannya waktu H Anif menyampaikan kepadanya, kalau lah seandainya masyarakat di sini tidak beralih mata pencariannya dari nelayan, maka nanti akan susah karena semakin susah mencari ikan.

“Jadi mulai lah beliau mendirikan usaha kebun sawit, walaupun banyak fitnah yang datang. Tapi sekarang masyarakat sudah melihat dan merasakan (hasil perkebunan sawit) bahkan sudah banyak yang mempunyai kebunnya pribadi,” terangnya.

Yang paling membuat Ijeck haru adalah, H Anif selalu berpesan kepadanya, walaupun Tabuyung ini bukan kampung kelahirannya, tapi anggaplah sebagai kampung sendiri. Karenanya, H Anif sudah lama berencana untuk mendirikan Masjid Raya agar bisa digunakan oleh masyarakat.

“Saya sempat bertanya kenapa masjid di Tabuyung itu besar sekali, padahal itu desa bukan kecamatan. Tapi beliau bilang, kau lihat nanti kampung itu akan ramai dan akan banyak orang yang melintas untuk mendirikan sholat dan nanti daerah itu akan maju,” kenangnya.

Untuk itu, Ijeck berharap agar dengan adanya masjid ini bisa menjadi sarana syiar Islam di Muara Batang Gadis ini dan semoga masyarakat bisa memakmurkannya. Selain itu, Ijeck juga menyampaikan akan mengusahakan untuk berdirinya sekolah tahfiz bagi anak-anak di Desa Tabuyung ini.

“Insya Allah apa yang telah menjadi cita-cita orang tua kami akan kami lanjutkan. Mudah-mudahan Allah panjangkan umur untuk bisa memberikan suatu hal sumbangsih kepada masyarakat yang kami kunjungi,” harapnya.

Pada kesempatan yang sama, Bupati Madina M Jafar Sukhairi Nasution secara pribadi dan atas nama Pemerintah Kabupaten Madina berterimakasih sebesar-besarnya atas berdirinya masjid pemberian H Anif ini. Untuk itu dia mengajak, agar mendoakan almarhum untuk ditempatkan di tempat terbaik di sisi Allah SWT.

Dia menyebutkan, dalam agama Islam masjid memang merupakan tempat terbaik. Bahkan pada masa Rasullullah, mesjid ditetapkan menjadi salah satu dari 7 tempat strategis.

“Masjid adalah tempat suci, tempat ibadah dan tempat berbagai kegiatan Islam. Sehingga Insya Allah dengan berdirinya Masjid Raya Al Musannif ini akan memancarkan cahaya Islam di Madina, khususnya di Desa Tabuyung,” tandasnya.

Turut hadir dalam peresmian ini, tokoh masyarakat sekaligus penasihat BKM Masjid Raya Al Musannif, Ishak Buyung Hasibuan, Ketua DPRD Madina Rahmat Risky Daulay, perwakilan Dandim 0210 Tapsel, perwakilan Kapolres Madina, Ketua MUI Madina Mahmudin Pasaribu, Pimpinan Pondok Pesantren Mustafawiyah Mustafa Bakhri Nasution, perwakilan Kemenag Madina, tokoh agama, dan para pimpinan Partai Golkar serta organisasi Islam Kabupaten Madina. (rel/dek)

Telkomsel Dorong Percepatan Adopsi Layanan Digital di Provinsi Sumatera Utara dan Aceh

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Sebagai leading digital telco company terdepan di Indonesia, Telkomsel berkomitmen dalam meghadirkan layanan jaringan yang berkualitas. Di provinsi Sumatera Utara dan Aceh, Telkomsel terus menggelar optimalisasi dan penguatan jaringan yang lebih luas baik melalui penambahan kapasitas ataupun infrastruktur jaringan.

Jaringan Telkomsel Sumbagut : Di provinsi Sumatera Utara dan Aceh, Telkomsel terus menggelar optimalisasi dan penguatan jaringan yang lebih luas baik melalui penambahan kapasitas ataupun infrastruktur jaringan. Hingga saat ini, Telkomsel sebagai penyedia digital connectivity terdepan, terus memperluas layanan 4G/LTE maupun VoLTE di wilayah tersebut guna semakin mendorong percepatan adopsi layanan berbasis gaya hidup digital. Layanan VoLTE sendiri sudah hadir di 53 kota / kabupaten di wilayah Sumatera Utara dan Aceh.

Hingga saat ini, Telkomsel sebagai penyedia digital connectivity terdepan, terus memperluas layanan 4G/LTE maupun VoLTE di wilayah tersebut guna semakin mendorong percepatan adopsi layanan berbasis gaya hidup digital.

General Manager Network Service Assurance Sumbagut Telkomsel Ardhiono Trilaksono mengatakan “Telkomsel terus mendorong pengembangan serta pemanfaatan digital platform dan digital services oleh masyarakat di wilayah operasional Sumbagut yang meliputi provinsi Sumatera Utara dan Aceh. Upaya tersebut dilakukan sebagai bagian dari penguatan pilar digital connectivity yang merupakan komitmen Telkomsel untuk Indonesia. Selain itu kami juga memastikan jaringan Telkomsel hadir dengan kualitas terbaik untuk mendukung berbagai aktivitas yang memanfaatkan jaringan broadband berteknologi terkini.”

Hingga kuartal tiga tahun 2021 ini, Telkomsel di wilayah operasional Sumbagut telah menggelar lebih dari 4.500 BTS 4G. Jumlah tersebut tumbuh sekira 48 persen dibanding periode yang sama pada 2020. Peningkatan jumlah BTS serta optimalisasi jaringan dilakukan, untuk memberikan kelancaran akses broadband 4G LTE maupun layanan VoLTE dengan cakupan lebih luas dan kualitas yang prima. Pertumbuhan tersebut turut didorong kenaikan trafik layanan data data yang sangat signifikan hingga mencapai 76 persen jika dibandingkan tahun sebelumnya. Sedangkan, untuk layanan VoLTE sendiri hingga kini telah hadir dan melayani pelanggan di lebih dari 53 kota/kabupaten di wilayah Sumatera Utara dan Aceh.

Ardhiono juga menambahkan, teknologi 4G/LTE yang berkembang saat ini telah lebih unggul hingga dapat mendukung teknologi layanan VoLTE. Dengan VoLTE, masyarakat dapat menikmati pengalaman panggilan suara yang lebih jernih serta dapat digunaan secara bersamaan saat melakukan aktivitas internet baik itu browsing, streaming maupun bermain games online.

“Telkomsel secara konsisten terus memperluas dalam menghadirkan teknologi jaringan terdepan untuk masyarakat Indonesia. Inovasi dan pengaplikasian teknologi ini tidak akan berhenti hanya sampai 4G dan VoLTE saja, tapi teknologi 5G pun sudah mulai diterapkan dan akan terus di perluas. Untuk dapat menikmati beragam teknologi jaringan tedepan milik Telkomsel, kami menghimbau agar masyarakat yang belum memigrasikan SIM card-nya menjadi uSIM agar segera melakukan upgrade dengan cara datang ke GraPARI terdekat.” Ungkap Ardhiono.(rel)

Firman Noor Puji Energi Luar Biasa Airlangga Melakukan Komunikasi Politik

JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Kepala Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Prof. Dr. Firman Noor, MA menanggapi manuver Ketua Umum DPP Partai Golkar Airlangga Hartarto.

Peneliti yang juga profesor termuda di LIPI ini menilai Airlangga Hartarto memiliki energi yang luar biasa melakukan silaturahmi konstruktif dengan berbagai tokoh dan elemen bangsa.

Pertemuannya dengan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar biasa disapa Cak Imin membuktikan kesiapannya menjalin dan membangun komunikasi politik yang baik.

“Setelah kemarin perang baliho sekarang sudah perang di darat. Tetapi itu bagus,” ungkap Firman Noor kepada wartawan di Jakarta, Minggu (26/9).

Firman mengakui merupakan hal wajar pertemuan Airlangga dan Ganjar di Klaten Jumat, lalu Airlangga bertemu dengan Ketua Umum PKB Muhaimin berolahraga jalan kaki Sabtu pagi, keduanya sama-sama menepis anggapan bahwa pertemuan tersebut membahas politik menuju Pilpres 2024.

Terkait pertemuan Airlangga dengan Ganjar, Firman Noor menyatakan, memang tak bisa dihindari karena keduanya tengah berada di tengah pusaran politik nasional.

“Ganjar terus menjadi sorotan karena kinerjanya yang baik di Jawa Tengah, sehingga sudah disebut-sebut sebagai salah satu tokoh potensial ke depannya. Bahkan sudah ada yang mendeklarasikannya sebagai capres 2024,” kata Firman Noor.

Jika Ganjar Pranowo sudah semakin “cuek” dengan Megawati Soekarno Putri, Ketua Umum PDIP. “Sulit menghindari kesan itu,” tegas Firman Noor.

Mengenai pertemuan Airlangga Hartarto dengan Muhaimin Iskandar, menurut Firman, memang sudah diperkirakan akan terjadi. “Hanya tidak secepat ini. Energi Pak Airlangga berlimpah, seakan tak kenal lelah,” puji Firman Noor.

“Apa saja yang dibicarakan saya kira berhubungan dengan bagaimana membangun komunikasi politik yang baik,” tambah Firman.

“Airlangga sekarang semakin dekat dengan kalangan ulama, Cak Imin dari dulu melekat dengan NU. Jadi ini sangat menarik,” katanya.

Firman meyakini, dari berbagai langkah dan komunikasi politik yang dilakukan oleh Airlangga Hartarto, hal itu akan memengaruhi opini atau pendapat publik, dan meningkatkan elektabilitasnya.
Dia menyatakan, momentum kini berada di tangan Airlangga Hartarto.

“Saya yakin Pak Airlangga Hartarto terus memikirkan bagaimana cara membangun komunikasi yang baik dan konstruktif dengan semua tokoh, khususnya pimpinan partai. Juga mengupayakan bagaimana mendapatkan momentum yang baik untuk meningkatkan performa Golkar ke depannya. Dalam hal ini bagaimana Golkar menjadi pilihan pertama, bukan kedua,” paparnya.(rel)

Rapiddin Simbolon Instruksikan Kader Repdem Harus Punya Sense of Crisis

DELISERDANG, SUMUTPOS.CO– Ketua DPD PDI Perjuangan Rapiddin Simbolon menginstruksikan seluruh kader Partai untuk turun ke bawah, turun ke masyarakat bersama- sama mengambil solusi setiap permasalahan rakyat, apalagi di masa Pandemi Covid-19 ini, seluruh kader harus punya sense of crisis.

“Kita harus punya sense of crisis, bersama pemerintah bantu rakyat untuk pemulihan kesehatan dan pemulihan ekonomi sebagai dampak Pandemi Covid-19” ujar Rapiddin Simbolon saat membuka Raker Relawan Perjuangan Demokrasi (Repdem) Sumut di Monaco Park Sibiru- Biru, Deliserdang, Sabtu (25/9/2021).

Rapidin yang didampingi Sekretaris DPD PDI Perjuangan Soetarto dan beberapa Wakil Ketua diantaranya Mangapul Purba dan Berlian Muktar menyatakan, DPD Partai baru saja melakukan Rakor Konsolidasi internal dengan 33 DPC, Anggota Fraksi Partai DPRD Sumut, sayap dan badan-badan partai telah berkomitmen dan bersepakat untuk terus berkonsolidasi serta senantiasa berada di tengah-tengah persoalan masyarakat sebagai langkah strategis penguatan soliditas dan memadukan gerak langkah, seluruh kader partai untuk pemenangan Pemilu Serentak 2024. “Repdem sebagai salah satu sayap partai memegang peran strategis dan mempunyai energi yang kuat sebagai garda terdepan dalam kemenangan PDI Perjuangan pada Pemilu Serentak 2024” tegas Rapiddin.

Sementara itu, Ketua DPD Repdem Sumut Martua Siadari menyampaikan, Raker Tahunan Repdem Sumut ini, sebagai salah satu agenda organisasi untuk menyusun langkah-langkah strategis dan sistemik dalam kerja-kerja politik kerakyatan yang akan diimplementasi Repdem Sumut ke depan. “Sebagai sayap partai, Repdem akan terus membangun sinergitas dengan partai untuk pemenangan Pemilu Serentak 2024” sebut Martua.

Pelaksanaan Raker Repdem Sumut sebagaimana dilaporkan oleh Ketua Panitia Resky/Cecep, dihadiri seluruh Pengurus Repdem Sumut yang berlangsung dari tanggal 25 – 26 September 2021. Raker akan mendiskusikan dan merumuskan program kerja tahunan dan selanjutnya akan dibawa dan dibahas pada Rakor dengan DPC Repdem se-Sumut. Raker juga menghadirkan para Pemateri baik dari DPD Partai maupun dari Pimpinan Repdem. (adz)

Kopi Pasir Khas Turki, Tawarkan Sensasi dan Cita Rasa yang Unik

MEDAN, SUMUTPOS.CO- Bagi sebagian masyarakat, ngopi sudah menjadi sebuah gaya hidup. Tak heran jika hampir di setiap tempat kini menyediakan kopi dengan berbagai keunikan dalam penyajiannya.

Seperti Warung Kopi Pasir khas Turki, di Jalan Rakyat Medan. Cara penyajian kopinya terbilang unik, karena proses penyeduhannya menggunakan pasir panas.

Ini merupakan cara tradisional masyarakat Turki dalam menyajikan kopi. Mereka menyakini, panas dari pasir akan menghasilkan pemanas yang lebih konsisten daripada langsung dari api.

Ciri khas dari metode seduh kopi ala Turki ini adalah menggunakan pot tembaga bernama cezva atau ibrik. Alat untuk menyeduh kopi khas Turki tersebut berukuran kecil dengan dasar yang lebar, memiliki mulut yang sempit, dan pegangannya lebar.

“Soal rasa, sensasi asam dan pahit kopi terasa lebih khas, dan aromanya pun lebih kuat,” kata Boby Hadinatha, pemilik Warung Kopi Pasir Khas Turki ini.

Boby mengaku, terinspirasi membuka warung kopi khas Turki ini setelah mencoba kopi pasir di luar Kota Medan. Saat itu dia merasa, cita rasa kopi pasir ini begitu unik dan sangat jarang di Kota Medan.

” Saya lihat kopinya sama semua dengan kopi-kopi lain, ada Espreso, Americano dan lainnya. Saya juga lihat-lihat berita-berita dan referensi di internet, kok negara Turki itu punya kopi yang berbeda. Dari situ saya berkeinginan membuka warung kopi pasir khas Turki ini,” ungkap Bobby.

Demi menjaga cita rasanya, Boby sengaja mendatangkan peralatan masaknya dari Turki. Selain itu, tehnik menyeduh kopi menggunakan pasir yang sangat panas ini menambah asyik suasana di warung miliknya, sehingga pengunjung seperti menikmati kopi langsung di Turki.

Tak heran, warung kopi pasir milik Bobby ini banyak digandrungi kaum muda-mudi, apalagi pada saat malam hari. “Saya minum kopi ini tanpa gula, rasa asamnya ada. Setelah pakai gula, rasa asamnya tetap ada cuma tidak begitu terasa. Pokoknya nikmatlah,” kata Ari Irsyad, seorang penikmat kopi.

Soal harga, Anda tak perlu risau. Cukup merogoh kocek Rp15 ribu, Anda sudah bisa menikmati kopi pasir khas Turki yang memiliki rasa dan aroma khas tersendiri serta suasana ala Turki ini. (adz)

Garasi Sedekah Medan Bersama PnE dan PMI Langkat Gelar Donor Darah

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Garasi Sedekah (GSQ) bersama Profesional and Enterpreneur Comunity (PnE) dan Palang merah Indonesia (PMI) Langkat melakukan kegiatan sosial berupa donor darah di kantor Garasi Sedekah Medan Komplek Setiabudi Center C10, Jalan Setiabudi Tanjung Rejo Kecamatan Medan Sunggal Kota Medan, Sabtu (25/9/2021).

Almajidu selaku Founder GSQ Medan mengatakan bahwa kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk sedekah kepada masyarakat dan ini cukup meriah karena menggandeng banyak pihak diantaranya Antangin, Kojima, Indodes, Tessa, Frisian Flag, Bank Muamalat, Safiindonesia, Torabika, Zulaikha, Le London, Ayam Bumbu Giling, Kopi Bg_Bay, Cantik, Pro IHT, Garasi Sedekah, ACT, DT Peduli, Human Initiative, Sahabat Jumat Berkah, Indonesia Motivator Community ( IMC ), Bisnis Sapu Jagad ( BSJ ) dan didukung oleh Sumut Pos, Mediagramindo, Tribun Medan, RRI.

Sementara Koordinator PnE Community Noval Firza kepada Sumut Pos menjelaskan bahwa kegiatan ini rutin dilaksanakan bersama PMI. Kegiatan ini berjalan dengan lancar.

“Iya kegiatan sosial donor darah bersama PMI rutin kita lakukan setiap bulan di beberapa tempat, semoga bermanfaat untuk masyarakat yang memerlukannya,” ujar Noval.

Fatmawati Tanjung selaku penanggung jawab teknis unit donor darah PMI Langkat menjelaskan bahwa sebagai bentuk kepedulian kemanusiaan dan donor darah itu baik untuk kesehatan dan saran buat calon pendonor sebaiknya jika ingin mendonorkan darahnya agar menjaga staminanya dan istirahat yang cukup.

“Kondisi fisik harus dalam keadaan sehat, jasmani maupun rohani. Suhu tubuh 36,6-37,5 derajat Celcius
Tekanan darah harus berada di angka 100-160 untuk sistolik dan 70-100 untuk diastolik,” ujar Fatmawati. (rel)