26 C
Medan
Friday, April 17, 2026
Home Blog Page 3376

Pengumuman Hasil PPDB Online SMA Diundur

Sekretaris Panitia PPDB Sumut, Suhendri.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Dinas Pendidikan (Disdik) Sumut kembali memperpanjang masa pendaftaran Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) online tahun ajaran 2021/2022 untuk jalur zonasi. Berdasarkan surat nomor: 421.3/4652/PPDB-S/VI/2021, masa pendaftaran untuk jalur zonasi diperpanjang hingga Minggu (20/6). Dengan begitu, pengumuman hasil PPDB Online SMA untuk semua jalur yakni afirmasi, prestasi, dan zonasi kembali diundur.

Sekretaris Panitia PPDB Sumut, Suhendri.

Sekretaris Panitia PPDB Disdik Sumut, Suhendri saat dikonfirmasi Sumut Pos, membenarkan pengunduran jadwal pengumuman PPDB online tersebut. “Betul diundur, karena verifikasi sedang dilakukan saat ini untuk jalur afirmasi, perpindahan tugas orangtua/wali dan jalur prestasi,” kata Suhendri, Selasa (15/6).

Menurutnya, perpanjangan pelaksanaan PPDB online ini sudah disampaikan kepada Kepala Cabang Disdik se-Provinsi Sumut. Suhendri pun menampik anggapan, pengunduran ini disebabkan sistem yang kembali bermasalah. “Untuk sistem berjalan sampai saat ini, tidak ada masalah,” tegas Suhendri.

Kepada masyarakat, Suhendri mengimbau untuk menerima informasi resmi pengumuman PPDB online dari ketiga jalur tersebut, dari Disdik Provinsi Sumut. “Kita berharap untuk menunggu keterangan resmi, ketiga jalur tersebut. Bersiap-siap yang belum masuk jalur tersebut. Kemudian, bisa mengikuti jalur zonasi. Tidak lulus, bisa ikhlas diterima, akan tempat (sekolah) memang sesuai dan membebasarkan,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Ombudsman RI Perwakilan Sumut, Abyadi Siregar menyambut baik dengan diundurnya pengumumanan PPDB dari tiga jalur tersebut.”Diperpanjang waktu pengmumannya,” sebut Abyadi singkat. (gus)

Bulan Depan, 1 Juta Warga Divaksin per Hari

TINJAU VAKSINASI: Wali Kota Medan Bobby Nasution bersama Rektor USU Muryanto Amin meninjau pelaksanaan vaksinasi di Pendopo USU.

JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta vaksinasi diintensifkan. Jokowi bahkan meminta agar bulan ini, vaksinasi bisa menjangkau 700 ribu orang per hari dan bulan depan naik menjadi 1 juta orang per hari.

TINJAU VAKSINASI: Wali Kota Medan Bobby Nasution bersama Rektor USU Muryanto Amin meninjau pelaksanaan vaksinasi di Pendopo USU.

Perintah presiden itu disampaikan Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin dalam keterangan persnya setelah mengikuti rapat terbatas, kemarinn

Budi menyatakan, target vaksinasi 1 juta orang per hari tersebut dibebankan kepada pemerintah daerah (pemda) dan TNI-Polri.

Untuk TNI-Polri, kata Budi, mereka diminta membantu dengan target vaksinasi 400 ribu orang per hari. Sedangkan sisanya, yakni 600 ribu orang, dibebankan kepada pemda. Hingga kemarin pertambahan vaksinasi baru menyentuh 265 ribu orang untuk vaksinasi tahap pertama. Percepatan vaksinasi harus dilakukan agar kekebalan komunitas atau herd immunity bisa segera tercapai.

Kemarin Jokowi memantau vaksinasi massal di tiga tempat, yakni di Stadion Patriot Candrabhaga (Kota Bekasi), Waduk Pluit, dan Rusun Tanah Tinggi (Jakarta). Dalam tiga kunjungannya, Jokowi kembali menekankan pentingnya mengejar ketercapaian herd immunity.

Daerah diberi target untuk mengejar vaksinasi pada 70 persen warga. DKI Jakarta, misalnya, pada pekan depan diberi target 100 ribu orang divaksin per hari. “Untuk akhir Agustus, sebanyak 7,5 juta penduduk Jakarta harus sudah divaksin,” tegasnya.

Jokowi mengakui, target itu memang terkesan ambisius. Namun harus dilakukan untuk melindungi masyarakat dari penularan Covid-19. Mantan wali kota Solo tersebut menyatakan sudah meminta Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan untuk menyusun teknis pelaksanaannya. “Dilihat dari jumlah vaksin dan segi hitung-hitungan, semua lancar,” ungkapnya.

Jakarta merupakan kota yang padat. Mobilitas manusianya pun cukup tinggi. Bahkan, mobilitas itu juga berpengaruh ke kota-kota penyangga. Sehingga percepatan vaksinasi diharapkan dapat mengurangi pertambahan kasus Covid-19.

Kemarin Jokowi juga mengadakan rapat terbatas dengan para menteri. Rapat tersebut membahas kenaikan kasus Covid-19 di beberapa tempat. “Kenaikan kasus di Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Jawa Tengah, ada beberapa langkah yang dilakukan pemerintah,” kata Menko Perekonomian Airlangga Hartarto. Menurut dia, rumah sakit (RS) diminta meningkatkan kapasitas untuk pasien Covid-19 hingga 40 persen. Terutama untuk kota-kota di zona merah.

Jika RS di zona merah sudah penuh, daerah di sekitarnya menjadi penopang. RS disiagakan untuk menampung mereka yang tidak tertangani di daerah asalnya. “Kalau Kudus ke Semarang, Bangkalan ke Surabaya,” ujarnya. Hotel-hotel juga disiapkan sebagai tempat isolasi.

Untuk melihat varian baru Covid-19, pemerintah juga akan mempercepat genome sequencing. Genome sequencing diharapkan bisa mendeteksi dengan cepat jika ada varian baru yang diderita pasien Covid-19. “Waktu pengecekan yang selama ini dua minggu akan ditekan menjadi satu minggu,” tegas Airlangga.

Airlangga juga memastikan bahwa PPKM mikro diperpanjang. Di zona merah, work from home (WFH) harus dilakukan untuk 75 persen dari jumlah karyawan. Artinya, yang masuk kantor hanya 25 persen. Airlangga menitikberatkan mereka yang masuk kantor tak boleh itu-itu saja. Harus ada rotasi. “Untuk kegiatan belajar-mengajar, kecamatan yang zona merah 100 persen daring,” tuturnya.

Di zona merah, tempat ibadah akan ditutup selama dua pekan ini. Pemerintah tengah menyiapkan instruksi Mendagri untuk mengatur penutupan itu. “Daerah seperti Kudus dan Bangkalan, diharapkan ada penambahan petugas untuk meningkatkan ketertiban masyarakat,” ujarnya.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam kesempatan yang sama menyatakan, penerapan protokol kesehatan di lapangan harus betul-betul dilakukan. “Penularan di klaster keluarga terjadi karena aktivitas mudik, pariwisata, dan makan bersama,” kata Budi. Presiden, menurut dia, meminta tiga aktivitas yang berpeluang membuka masker itu diawasi ketat. Dia juga mengatakan bahwa Covid-19 varian delta atau B1617 sudah menyebar di beberapa wilayah. Varian asal India itu sudah masuk di Jakarta, Kudus, dan Bangkalan. Varian baru tersebut lebih cepat menular meski tidak mematikan. Karena itu, protokol kesehatan dan vaksinasi menjadi perhatian pemerintah.

Sementara itu, Institute of Tropical Disease (ITD) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya saat ini tengah mengidentifikasi 24 sampel virus dari kasus Covid-19 di Bangkalan, Madura. Tiga sampel berhasil diidentifikasi dan hasilnya telah diserahkan kepada Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Hasil sementara, tiga sampel virus tersebut menunjukkan ciri-ciri yang mirip seperti varian korona Delta India di Kudus.

Rektor Unair Mohammad Nasih menyatakan, varian sampel virus yang masuk di ITD Unair masih kurang sempurna. Jadi, di antara total 24 sampel virus dari Madura yang kini dites whole genome sequencing (WGH), baru tiga sampel yang sempurna diidentifikasi. “Yang lainnya masih dalam proses identifikasi oleh tim di ITD,” katanya kepada Jawa Pos kemarin.

Dari tiga sampel yang berhasil diidentifikasi secara sempurna tersebut, lanjut Nasih, hasilnya sudah diserahkan ke Kemenkes, gubernur Jawa Timur, dan kepala dinas kesehatan yang terkait. “Hasilnya tampaknya tidak jauh-jauh dari varian yang ada di Kudus. Ciri-cirinya menyerupai,” ujarnya.

Nasih menambahkan, 24 sampel yang ada di ITD terus diproses identifikasi. Itu sebabnya, pihaknya belum bisa menyimpulkan secara pasti jenis varian virus dari Madura tersebut. “Tunggu semua sampel yang masuk diidentifikasi secara sempurna,” tuturnya.

Meski begitu, Nasih menjelaskan, persebaran virus yang sangat cepat membutuhkan kebijakan khusus untuk Madura. Begitu juga penanganannya yang harus spesifik. “Dibutuhkan ikhtiar-ikhtiar yang sebaik-baiknya. Mumpung belum kewalahan,” ucapnya.

Rumah Sakit Khusus Infeksi (RSKI) Unair sendiri mengalami peningkatan kasus Covid-19 dari Madura, yakni dari yang sebelumnya jumlah pasien Covid-19 asal Madura 20-an kini menjadi 50-an. “Ini menandakan adanya peningkatan tajam dan persebarannya sangat cepat. Jadi perlu antisipasi,” ungkapnya.

Nasih menambahkan, RSKI memiliki 100 tempat tidur (bed) dan sudah terisi 60-an. Artinya, sudah 60 persen bed occupancy rate (BOR) di RSKI yang terisi. Harapannya, persebaran virus dapat diantisipasi sebaik-baiknya. Pengetatan jalan keluar masuk Madura-Surabaya melalui jalur Jembatan Suramadu adalah salah satu caranya. “Kalau bertambah, rumah sakit bisa kewalahan lagi,” ujarnya.

Unair sendiri, lanjut Nasih, juga sudah mengambil langkah antisipasi. Terhadap seluruh dosen dan pegawai Unair yang rumahnya di Madura, saat ini diterapkan sistem work from home (WFH). Selain itu, Unair siap menerjunkan dokter-dokter yang memiliki kemampuan bahasa Madura untuk membantu memberikan sosialisasi kepada masyarakat Madura. “Dokter-dokter yang diterjunkan dapat memberikan pengertian dengan bahasa Madura yang simpel. Jadi, warga Madura mudah paham dibanding menggunakan bahasa Indonesia,” kata dia. (jpc)

Pemko Medan Gelar Simulasi PTM Pekan Ini, Orangtua Tak Mau, Tak Dipaksa

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Pemerintah Kota (Pemko) Medan akan menggelar pembelajaran tatap muka (PTM) untuk tahun ajaran baru 2021/2022, Juli mendatang. Namun sebelum PTM dilaksanakan, akan digelar simulasi untuk melihat kesiapan yang sudah dilakukan.

WALI Kota Medan, Muhammad Bobby Afif Nasution mengatakan, ada beberapa sekolah yang akan dipersiapkan untuk menggelar simulasi belajar tatap muka. “Minggu ini simulasi sekolah terbuka. beberapa sekolah dipersiapkan,” kata Bobby di Balai Kota, Medan, Selasa (15/6).

Meski diputuskan belajar tatap muka tahun ajaran baru ini, Bobby tidak mau memaksakan apabila ada orangtua yang enggan melepas anaknya untuk belajar tatap muka. “Bagi yang tidak mau, dipersiapkan belajar daring. Akan ditanya kepada orangtua siswa,” jelasnyan

Dinas Pendidikan Kota Medan, lanjut Bobby, juga tengah menyiapkan modul berisikan petunjuk teknis (juknis) tentang pelaksanaan PTM yang harus dipenuhi pihak sekolah. Langkah ini dilakukan agar pelakasanaan PTM nantinya dapat berjalan normal dan aman meski pandemi Covid-19 masih berlangsung.

Jumlah tenaga medis yang mengikuti vaksinasi, diakuinya telah mencapai 80 persen. Dengan vaksinasi yang dilakukan tersebut, Bobby Nasution mengatakan, tidak hanya untuk melindungi tenaga pengajar, juga melindungi siswa agar tidak tertular Covid-19 saat belajar tatap muka.

Di samping itu, jelas Bobby, Pemko Medan melalui organisasi perangkat daerah terkait akan gencar melaksanakan patroli penerapan protokol kesehatan. “Jika selama ini di tempat-tempat umum, patroli ke depan akan dilakukan di angkutan-angkutan umum. Hal ini dilakukan untuk melindungi peserta didik baik saat berada dalam maupun luar sekolah dengan mengerahkan dan menggerakkan seluruh perangkat mulai dasar. Artinya, secara prinsip Pemko Medan siap melaksanakan kegiatan belajar mengajar secara tatap muka,” kata Bobby.

Meski telah melakukan sejumlah persiapan untuk melaksanakan KBM secara tatap muka, namun Bobby Nasution masih tetap menunggu arahan dari Pemprov Sumut. “Apabila nantinya ada indikator atau kriteria yang harus dipenuhi sebagai syarat dimulainya PTM, kita siap penuhi,” ungkapnya.

Kadis Pendidikan Kota Medan Adlan mengamini apa yang disampaikan Bobby Nasution soal kesiapan Pemko Medan menggelar KBM secara tatap muka. Dikatakan Adlan, sebagai persiapan melaksanakan PTM, Dinas Pendidikan (Disdik) saat ini tengah mempersiapkan modul pelaksanaan PTM. Di modul ini, jelasnya, berisikan petunjuk teknis tentang penyelenggaraan PTM yang akan menjadi pedoman bagi sekolah, seperti sarana dan prasarana protokol kesehatan yang harus disiapkan sekolah, diantaranya wastafel untuk mencuci tangan, hand sanitizer thermo gun maupun penjadwalan belajar siswa.

“Insya Allah, Rabu (16/6), modul rampung. Setelah itu modul langsung kita simulasikan ke sejumlah sekolah, baik SD maupun SMP. Dalam simulasi yang dilakukan, kita ingin melihat kesiapan sekolah untuk melaksanakan KBM secara tatap muka sesuai petunjuk teknis yang ada dalam modul. Apabila tidak ada kendala, modul akan kita sosialisasikan ke seluruh SD dan SMP di Kota Medan sehingga nantinya siap untuk melaksanakan KBM secara tatap muka,” kata Adlan.

Selanjutnya mengenai jadwal pembelajaran, Adlan mengaku mengikuti arahan yang disampaikan Presiden Joko Widodo. “Jadwal pembelajaran, kita lakukan 2 jam/hari. Pembelajaran akan dilakukan dua hari dalam seminggu. Sedangkan tingkat kehadiran siswa dalam KBM secara tatap muka maksimal 25%,” jelasnya seraya menambahkan, jumlah tenaga pengajar di Kota Medan saat ini sekitar 19.000 orang, sedangkan yang sudah mengikuti vaksinasi sebanyak 17.000 orang. “Artinya, capaian vaksinasi yang telah dilakukan terhadap tenaga pengajar sebesar 80%,” imbuhnya.

Didukung PGRI

Ketua PGRI Kota Medan, Sriyanta sangat menyambut baik keinginan Bobby Nasution untuk melaksanakan kembali PTM di Kota Medan. Sebagai organisasi yang menaungi para guru, kata Sriyani, PGRI siap mendukungnya. Sebab, para guru menilai pelaksanaan belajar yang dilakukan secara during yang telah berlangsung 1 tahun lebih sejak pandemi Covid-19 terjadi dinilai tidak maksimal. Bahkan, terangnya, banyak guru yang minta kepada PGRI untuk menyampaikan langsung kepada pemerintah agar PTM dilaksanakan kembali.

“Banyak guru yang mendatangi kita dan minta agar PTM dilaksanakan kembali. Intinya, semua guru siap melaksanakan PTM. Sebagai bukti keseriusan, tak ada guru yang menolak mengikuti vaksinasi, terkecuali yang ada penyakit bawaan sehingga vaksinasi tidak dapat dilakukan. Yang penting bagi guru, ada tatap muka. Walau pun waktunya terbatas namun guru dapat memberikan penjelasan, barulah anak didik selanjutnya mengerjakan di rumah. Cara ini lebih baik dan efektif dibandingkan dengan pembelajaran secara during,” jelas Sriyanta.

Selain itu, jelas Sriyanta, PGRI pun melihat tidak semua orang tua siswa yang mampu membeli handphone maupun pulsa untuk mengikuti pembelajaran secara during. Walau pun jumlahnya tidak banyak, ungkapnya, tapi sangat memprihatinkan karena mereka tidak dapat mengikuti pembelajaran secara during. “Bahkan, ada siswa yang harus yang menunggu orang tuanya sampai pulang kerja baru bisa belajar karena handphone dibawa,” ungkapnya miris.

Di samping itu lagi, terang Sriyanta, orang tua siswa juga banyak yang mengeluh dengan pembelajaran secara during tersebut. Selain tidak maksimal, terangnya, para orang tua juga sudah jenuh karena mereka pun sulit membagi waktu untuk bekerja dan harus mendampingi anak mengikuti pembelajaran during.

“Jadi, PGRI sangat mendukung penuh keinginan Wali Kota untuk melaksanakan PTM. Apa yang menjadi persyaratannya, siap kita laksanakan. Kita ingin pelaksanaan PTM dapat dilaksanakan kembali, sehingga kita dapat meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan. Ditambah lagi sekolah-sekolah kita lihat sudah mempersiapkan protokol kesehatan dan apabila masih kurang, pihak sekolah siap memperbaikinya kembali. Artinya, semua ingin agar pelaksanaan PTM dapat dilakukan kembali,” harapnya. (map)

Zona Hijau Bertambah Jadi 7 Daerah, Sumut Bebas Zona Merah Covid-19

dr Aris Yudhariansyah.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Di tengah semakin melonjaknya kasus Covid-19 di Pulau Jawa, kabar gembira datang dari Satgas Penanganan Covid-19 Sumut. Saat ini, Provinsi Sumatera Utara (Sumut) kembali keluar dari zona merah (risiko tinggi) penyebaran Covid-19.

dr Aris Yudhariansyah.

Tidak cuma itu, zona hijau (tidak ada kasus) di Sumut juga mengalami penambahan. Sebelumnya hanya 3 daerah, kini meningkat menjadi 7 daerah yakni, Nias Barat, Nias, Padanglawas Utara, Gunungsitoli, Nias Utara, Humbang Hasundutan, dan Nias Selatan

Sedangkan zona oranye (risiko sedang) terdapat pada 13 kabupaten/kota, berkurang 4 daerah dari minggu sebelumnya. Daerah zona oranye tersebut, Pakpak Bharat, Tanjung Balai, Deli Serdang, Dairi, Labuhanbatu Selatan, Padang Lawas, Labuhanbatu Utara, Medan, Padangsidimpuan, Tapanuli Selatan, Karo, Simalungun, dan Tapanuli Utara.

Sementara zona kuning (risiko rendah), ada 10 kabupaten/kota, Samosir, Tebing Tinggi, Tapanuli Tengah, Toba, Sibolga, Serdang Bedagai, Batu Bara, Labuhanbatu, Mandailing Natal, Binjai, Pematangsiantar, Langkat, dan Asahan.

Zonasi tersebut berdasarkan hasil pembobotan skor dan zonasi risiko daerah seluruh Indonesia yang disampaikan pada website https://covid19.go.id/peta-risiko tanggal 15 Juni. Sebelumnya, Sumut pada pekan lalu terdapat satu daerah zona merah yaitu Kota Medan.

Peta zonasi risiko daerah dihitung berdasarkan indikator-indikator kesehatan masyarakat dengan menggunakan skoring dan pembobotan. Indikator yang digunakan adalah epidemiologi, yaitu penurunan jumlah kasus positif, suspek dan sebagainya.

Kemudian, indikator surveilans kesehatan masyarakat, seperti jumlah pemeriksaan sampel diagnosis meningkat selama 2 minggu terakhir. Selanjutnya, indikator pelayanan kesehatan, yakni jumlah tempat tidur di ruang isolasi rumah sakit rujukan mampu menampung sampai dengan lebih dari 20% jumlah pasien positif Covid-19 yang dirawat.

Jubir Satgas Penanganan Covid-19 Sumut dr Aris Yudhariansyah menyebutkan, sesuai data perkembangan terbaru kasus Covid-19 Sumut, tercatat akumulasi kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di Sumut mencapai 33.626 orang. Jumlah ini setelah bertambah 120 kasus baru dari 7 kabupaten/kota. “Penambahan kasus baru positif paling banyak dari Medan yaitu 56 kasus. Kemudian, Deli Serdang 18 kasus, Karo 15 kasus, Tapanuli Utara 14 kasus, Padangsidimpuan 10 kasus, Dairi 6 kasus, dan Tanjung Balai 1 kasus,” ungkap Aris Selasa (15/6) sore.

Aris menyebutkan, terkait akumulasi kematian akibat terinfeksi virus corona, saat ini berjumlah 1.116 orang. Jumlah tersebut bertambah 5 kasus baru dari Medan 3 kasus dan Deli Serdang 2 kasus. Sedangkan total kesembuhan Covid-19 berjumlah 29.927 orang, setelah bertambah 116 kasus baru dari Medan 61 orang, Deli Serdang 22 orang, Tapanuli Utara 16 orang, Karo 13 orang, dan Dairi 4 orang.

“Dengan demikian, dari data-data tersebut maka jumlah kasus aktif Covid-19 di Sumut 2.583 orang. Angka ini sedikit berkurang dari hari sebelumnya yang berjumlah 2.584 orang. Untuk kasus suspek juga berkurang sebanyak 28 kasus, sehingga jumlahnya menjadi 586 orang,” sebut Plt Kepala Dinas Kesehatan Sumut ini.

Dia menambahkan, diimbau kepada masyarakat untuk tetap waspada dan konsisten melaksanakan protokol kesehatan Covid-19 dalam aktivitas kehidupan sehari-hari. “Protokol kesehatan harus melekat dalam setiap aktivitas kita. Tidak boleh lengah menjalankan 5M, memakai masker, mencuci tangan pakai sabun/hand sanitizer, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan mengurangi mobilitas,” tandasnya. (ris)

Gubsu Dorong Palas Jadi Lumbung Ternak

RESMIKAN: Gubsu Edy Rahmayadi bersama Ketua TP PKK Sumut Nawal Lubis, didampingi Wakil Bupati Padang Lawas Ahmad Zarnawi Pasaribu meresmikan instalasi pembibitan ternak sapi potong dan penyerahan bibit pertanian, di Desa Tanjung Beringin, Kecamatan Barumun Selatan, Kabupaten Padang Lawas, Selasa (15/6).Dinas Kominfo Sumut for sumut pos.

PALAS, SUMUTPOS.CO – Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Edy Rahmayadi meresmikan instalasi pembibitan ternak sapi potong di Desa Tanjung Beringin, Kecamatan Barumun Selatan, Kabupaten Padang Lawas (Palas), Selasa (15/6). Hal ini diharapkan dapat meningkatkan produksi sapi dan mendorong Palas menjadi salah satu lumbung ternak di Sumut.

RESMIKAN: Gubsu Edy Rahmayadi bersama Ketua TP PKK Sumut Nawal Lubis, didampingi Wakil Bupati Padang Lawas Ahmad Zarnawi Pasaribu meresmikan instalasi pembibitan ternak sapi potong dan penyerahan bibit pertanian, di Desa Tanjung Beringin, Kecamatan Barumun Selatan, Kabupaten Padang Lawas, Selasa (15/6).Dinas Kominfo Sumut for sumut pos.

Peresmian instalasi pembibitan ternak sapi yang memiliki kandang seluas 6 hektare dan mampu menampung 300 ekor sapi tersebut, ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Gubernur Sumut, Edy Rahmayadi.

Instalasi ini juga memiliki lahan pengembangan rumput atau pakan ternak seluas 16 hektare, yang mampu memenuhi kebutuhan pakan ternak sapi yang ada. Jenis sapi yang diternak baragam, mulai dari Brahman hingga Limosin. Begitu juga dengan jenis rumput yang ditanam, mulai dari odot, kingres hingga pakcong.

Disampaikan Gubernur, produksi daging sapi di Sumut berkisar 23 persen dari kebutuhan masyarakat Sumut. “Sumut kekurangan daging, untuk itu, kehadiran instalasi pembibitan ternak sapi potong ini diharapkan dapat menggenjot produksi daging sapi kita,” ujar Gubernur yang hadir bersama Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Provinsi Sumut Nawal Lubis.

Kabupaten Palas, kata Gubernur, sangat cocok sebagai lahan peternakan. Apalagi dahulu daerah ini juga pernah dijadikan sebagai wilayah ternak oleh pemerintah kolonial Belanda.

“Kalau kita belajar sejarah Riau, dulu daging itu datangnya dari sini (Palas), bahkan Aceh dari sini. Apalagi Tabagsel semua dari sini. Daerah ini (Palas) didesain oleh Belanda memang untuk pertanian dan ternak, “ kata Edy Rahmayadi.

Edy juga mengharapkan, agar daerah kabupaten/kota dapat mengembangkan wilayahnya masing-masing sesuai dengan potensinya. Jadi, Kepala Daerah harus memahami potensi wilayahnya masing-masing, sehingga dapat dikembangkan menjadi keunggulan daerah.

Kepala Seksi Pengembangan dan Produksi Unit Pelayanan Teknis (UPT) Pembibitan Ternak Unggas dan Sapi Sihitang, Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumut Yunas menambahkan, selama ini Sumut kesulitan mendapatkan bibit sapi unggul. Sehingga bibit sapi terpaksa diambil dari luar Sumut.

“Instalasi ini diharapkan dapat memenuhi ketersediaan bibit juga, selama ini kita kesulitan mendapatkan bibit unggul, kita harus dari luar mendapatkannya,” kata Yunas.

Selain itu, instalasi tersebut juga berfungsi sebagai tempat edukasi dan pelatihan bagi masyarakat yang ingin mempelajari pembibitan ternak sapi. Untuk itu, kata Yunas, pihaknya akan menggandeng kelompok peternak sapi guna memberdayakan masyarakat. Instalasi tersebut juga bisa menjadi tempat agrowisata.

“Kita menargetkan hasil dari bibit sapi di sini bisa kita sebar ke masyarakat, sehingga di masyarakat akan tersebar bibit sapi unggul yang lebih baik, kita juga menargetkan ini dapat menghasilkan PAD bagi Pemprov Sumut, “ kata Yunas.

Wakil Bupati Padang Lawas, Ahmad Zarnawi Pasaribu mengapresiasi pembangunan instalasi pembibitan ternak sapi potong di Palas. Menurutnya hal tersebut akan membuat Palas sebagai lumbung pangan ternak di kawasan Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel).

“Terima kasih Bapak Gubernur yang telah membangun instalasi pembibitan ternak sapi potong yang manfaatnya untuk menunjang masyarakat Palas, sehingga Palas kembali sebagai lumbung ternak Tabagsel, mudah-mudahan ini bermanfaat,” katanya. (prn)

Diduga Terlambat Ditangani, Janin Ibu Hamil Meninggal di Kandungan

TERANGKAN. Egi Pranata Pinem (23) warga Tigalingga, Kecamatan Tigalingga, Kabupaten Dairi, suami dari Sritega Ginting (24) saat menerangkan janin yang meninggal dalam kandungan istrinya karena diduga terlambat penanganan medis di RSU Sidikalang, Selasa (15/6).RUDY SITANGGANG/SUMUT POS.

DAIRI, SUMUTPOS.CO – Diduga terlambat mendapat penanganan, janin yang ada di kandungan Sritega Ginting (24) warga Desa Tigalingga, Kecamatan Tigalingga, Kabupaten Dairi, meninggal sebelum dioperasi di Rumah Sakit Umum (RSU) Sidikalang, Selasa (15/6).

TERANGKAN. Egi Pranata Pinem (23) warga Tigalingga, Kecamatan Tigalingga, Kabupaten Dairi, suami dari Sritega Ginting (24) saat menerangkan janin yang meninggal dalam kandungan istrinya karena diduga terlambat penanganan medis di RSU Sidikalang, Selasa (15/6).RUDY SITANGGANG/SUMUT POS.

Suami Sritega, Egi Pranata Pinem (23) didampingi kerabatnya, Merliana Manik (42) kepada wartawan ditemui di RSU Sidikalang, sangat menyayangkan pelayanan di RSU Sidikalang terhadap pasien bersalin, Sritega Ginting.

Egi Pranata Pinem mengaku, istrinya tidak mendapat pelayanan dari para medis di RSU Sidikalang. Pasalnya, sejak pagi hari pukul 07.00 WIB, mereka sudah tiba di RSU Sidikalang. Namun, pasien tidak dilayani karena urusan administrasi belum selesai.

Egi Pranata menjelaskan kronologis kondisi istrinya, sebelum dibawa ke rumah sakit, sejak malam istrinya sudah merintih kesakitan bahkan ngak bisa tidur. Melihat kondisi istrinya terus kesakitan, ia pun melarikan istrinya ke RSU Sidikalang. Namun terlebih dahulu ke klinik dokter Bonar Sinaga di Kota Sidikalang.

Egi menyebut, istrinya memang sebelumnya rutin 1 kali 2 bulan membawa istrinya cek kehamilan di klinik dokter Bonar. Selanjutnya, pas di klinik petugas medis di klinik menyuruh mereka membawa pasien itu ke rumah sakit, dan dijanjikan operasi melahirkan dilaksanakan pukul 09.00 WIB oleh dokter Bonar.

Setiba di UGD RSU Sidikalang, lanjut Egi dan Merliana, mereka langsung disuruh mengurus administrasi. “Sementara, tindakan terhadap pasien tidak ada, sebut Egi. Kami hanya ditanya, sudah ada reaksi mau melahirkan?, sebut Egi menirukan pertanyaan tenaga medis.

Setelah urusan administrasi beres, pasien ibu hamil baru dibawa dari UGD ke ruang VK.

“Kami tidak sabar lagi melihat kondisinya. Saya marah-marah ke petugas di ruang VK itu. Dan sekitar pukul 12.00 WIB, saudari saya dibawa ke ruang USG. Setelah di USG, mereka menyatakan bahwa janin dalam kandungan Sritega, sudah meninggal,”ungkap Merliana.

Padahal, sambung Egi, sampai di rumah sakit menurut pengakuan istrinya, janin dalam kandunganya masih bergerak. Artinya, janin masih hidup. Tetapi sangat disayangkan, karena terlambat ditangani medis RSU Sidikalang, janin dalam kandungan istrinya menghembuskan napas.

Direktur RSU Sidikalang, dr Sugito Panjaitan didamping dr Mey Sitanggang dikonfirmasi, mengaku tidak tahu terkait kejadian ada janin pasien meninggal dalam kandungan.

Sugito mengaku, sedang mengikuti rapat di Kantor DPRD sejak pagi, belum ada memberitahu terkait itu, katanya. Kami cek dulu ya, nanti kami kabari, sebut Sugito. (rud/han)

Bilik Plasma Sterilisasi Tidak Difungsikan, DPRD Dairi: Pengadaannya Buang-buang Anggaran

TIDAK BERFUNGSI: Salah satu ruang plasma yang diletak di Sekretariat Kantor DPRD Dairi tidak difungsikan.RUDY SITANGGANG/SUMUT POS.

DAIRI, SUMUTPOS.CO – Anggota Komisi 3 DPRD Kabupaten Dairi, Markus Sinaga mendesak Dinas Kesehatan, untuk mencabut semua bilik sterilisasi/ruang plasma yang dipasang di semua instansi Pemkab Dairi termasuk di Kantor DPRD Dairi.

TIDAK BERFUNGSI: Salah satu ruang plasma yang diletak di Sekretariat Kantor DPRD Dairi tidak difungsikan.RUDY SITANGGANG/SUMUT POS.

Pasalnya, menurut Markus, bilik ruang plasma yang diklaim bisa mendeteksi Covid-19 hingga kini tidak difungsikan. Padahal, anggaran pengadaan alat itu sangat besar.

Demikian disampaikan Markus Sinaga saat Komisi 3 menggelar rapat kerja dengan Kepala Dinas Kesehatan, Ruspal Simarmata, Direktur RSU Sidikalang, Sugito Panjaitan, Asiten 1, Jonny Hutasoit serta Asisten 3, Sudung Ujung, Senin (14/6).

Markus Sinaga juga mengkritik anggaran untuk penanganan Covid-19 tahun anggaran 2020 yang cukup besar, yakni mencapai Rp72 miliar dan termasuk untuk pengadaan ruang plasma sebanyak 70 unit.

Menurutnya, besaran dana digunakan Satuan Tugas (Satgas) Covid-19, tidak diimbangi kinerja. Dimana, Kabupaten Dairi masuk akhir Mei 2021 lalu, malah mendapat predikat zona merah atau masuk resiko tinggi penyebaran Covid-19.

Dengan predikat melekat itu, masyarakat di kabupaten sangat dirugikan. Misalnya, barang para pedagang dari kabupaten ini tidak laku dijual ke daerah lain. Markus menegaskan, alat itu bukan tidak berfungsi tetapi tidak difungsikan. Menurutnya, perencanaan juga sudah tidak matang. Sosialisasi tidak ada bagaimana penggunaan dan fungsi ruang plasma dimaksud.

“Jika bilik itu bisa mendeteksi virus, buat apa membuat pengadaan masker banyak-banyak. Kita suruh saja rakyat itu termasuk yang di pasar sana masuk ke ruang bilik,” kata Markus.

Selain Markus, hal yang sama disampaikan Ketua Komisi 3, Togar Pasaribu. Dikatakannya, saat ini bilik plasma menjadi icon perkantoran Pemkab Dairi.

“Kita minta, jika tidak difungsikan silahkan diangkat semuanya dari kantor kantor milik Pemkab Dairi termasuk dari Kantor DPRD ini,”pinta Togar dan Markus.

Lamasi Simamora juga mempertanyakan, kelayakan ijin penggunaanya dari Kementerian Keaehatan RI. Begitu juga dengan pihak rekanan tidak tahu siapa pengadaanya. Bagaimana juga tenaga ahlinya, untuk pengoperasian serta ion apa yang ada terkandung dalam bilik tersebut.

Sementara Kadis Kesehatan, Ruspal Simarmata mengatakan, anggaran penanganan Covid-19, tidak semuanya di Dinkes, tetapi ada juga dimasing-masing pokja Satgas. Ia juga membantah, zona merah tidak bisa dikaitkan dengan jumlah anggaran.

Sedangkan tentang bilik sterilisasi, ia mengaku perencanaan dan penganggaran sudah direncanakan dengan baik. Ruspal menyebut, jika ada ruang plasma tidak berfungsi akan ditarik. (rud)

Dua Terdakwa Kasus Zinah Divonis Percobaan

SIDANG: Dua terdakwa kasus perzinahan menjalani sidang putusan di PN Medan, Selasa (15/6).

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Majelis hakim diketuai Jarihat Simarmata menghukum terdakwa Julianna Phan (34) dan Putra Martono (39) dengan pidana 4 bulan penjara percobaan 8 bulan. Kedua terbukti bersalah melakukan perzinaan, dalam sidang di Ruang Cakra 7 Pengadilan Negeri (PN) Medan, Selasa (15/6).

SIDANG: Dua terdakwa kasus perzinahan menjalani sidang putusan di PN Medan, Selasa (15/6).

Majelis hakim menilai kedua terdakwa terbukti bersalah melanggar Pasal 284 ayat (1) ke-1 huruf a KUHPidana yakni seorang wanita/pria yang telah kawin yang melakukan perzinahan.

“Menjatuhkan terdakwa terdakwa Julianna Phan dan Putra Martono oleh karenanya dengan pidana penjara selama 4 bulan dengan masa percobaan 8 bulan,” ujar Jarihat Simarmata. “Menetapkan pidana tersebut tidak usah dijalani kecuali jika di kemudian hari ada putusan majelis hakim yang menentukan lain disebabkan karena terpidana melakukan suatu tindak pidana sebelum masa percobaan selama 8 bulan terakhir,” lanjutnya.

Menanggapi putusan tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Chandra Naibaho menyatakan pikir-pikir. Putusan majelis hakim lebih ringan dari tuntutan JPU, yang sebelumnya meminta agar kedua terdakwa dijatuhkan hukuman 4 bulan penjara.

Sementara itu di luar persidangan, saksi korban sangat kecewa atas putusan majelis hakim yang tidak berkeadilan. Hal itu diungkapkan saksi ketika dimintai tanggapannya terkait vonis yang dijatuhkan kepada kedua terdakwa.

“Untuk itu saya memohon kepada JPU agar mengajukan banding. Kita sangat kecewa, karena putusan ini sangat tidak adil dan tidak memberi efek jerah kepada kedua terdakwa,” ucap saksi korban kepada wartawan.

Mengutip surat dakwaan, pada Mei 2017, terdakwa Putra Martono yang masih berstatus suami korban dan Julianna Phan yang masih berstatus istri orang berkenalan hingga bertemu di Vista Gym Medan. Keduanya pun saling bertukar nomor ponsel hingga akhirnya melakukan perselingkuhan.

Pada Oktober 2017, keduanya pergi ke Malaysia dan tidur bersama dalam satu kamar. Di kamar itu, Putra Martono dan Julianna Phan melakukan hubungan badan layaknya suami istri.

Lanjut dikatakan JPU, puncaknya pada, 11 September 2020, kedua terdakwa menginap di Hotel Deli dan melakukan hubungan suami istri, lalu disambung pada 19 September 2020, ketika kedua terdakwa berada di Cambridge City, korban datang ke lokasi sehingga terjadi keributan yang membuat Julianna Phan pergi.

“Putra Martono yang merasa khawatir langsung pergi menemui Julianna Phan dan mengajaknya menginap di Hotel Deli. Pada Minggu, 20 September 2020 subuh, pintu kamar hotel yang ditempati kedua terdakwa diketuk oleh room boy atas permintaan korban,” urai JPU Chandra.

Saat pintu dibuka, sambung JPU, terdakwa Julianna Phan terkejut dan berusaha menutup wajahnya dengan rambut. Di mana, posisi Putra Martono berada di atas tempat tidur dengan memakai celana dalam dan baju kaos.

“Sedangkan terdakwa Julianna Phan memakai baju tidur serta pakaian dalamnya terletak di rak. Melihat perbuatan itu, korban langsung melaporkannya ke Polrestabes Medan,” pungkas JPU Chandra Naibaho. (man/azw)

Bocah Tewas Digigit Anjing Tetangga, Dikejar saat Korban Melintas

MELAPOR: Muhammad Reza Aulia (kanan) sempat menunjukkan laporan polisi yang dilayangkan ke Polsek Medan Tuntungan sebelum meninggal dunia RSUP H Adam Malik Medan. 

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Muhammad Reza Aulia warga Jalan Sagu Raya Perumnas Simalingkar, Kelurahan Mangga, Medan Tuntungan, meninggal dunia usai dirawat di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) H Adam Malik akibat digigit anjing tetangga, Minggu (13/6) sore. Tak terima dengan kematian putra kandungnya yang berusia 10 tahun itu, Lia Pratiwi (41) selaku orangtua melaporkan pemilik anjing tersebut ke Polsek Medan Tuntungan.

MELAPOR: Muhammad Reza Aulia (kanan) sempat menunjukkan laporan polisi yang dilayangkan ke Polsek Medan Tuntungan sebelum meninggal dunia RSUP H Adam Malik Medan. 

Laporan dengan nomor : STTLP/54/VI/2021/SPKT/Sektor Medan Tuntungan, terkait akibat kelalaian hingga menyebabkan orang lain terluka atau meninggal dunia.

Menurut kuasa hukum korban, Oki Andriansyah, Reza digigit anjing ketika sedang melintas di depan rumah tetangganya yang berjarak sekitar 10 rumah. Saat itu, korban hendak membeli jajanan di warung, Kamis (10/6) sore sekira pukul 15.00 WIB.

Diduga pagar rumah milik tetangganya itu tidak tertutup rapat. Anjing yang diduga mengandung virus rabies itu keluar lalu mengejar korban. Meski sempat melarikan diri, namun korban tetap dikejar hingga akhirnya digigit paha kanannya setelah terjatuh. Akibatnya, korban menderita luka dua liang bekas gigitan di paha kanannya. “Anjingnya lepas lalu mengejar dan menggigit paha kanan atas korban,” sambung Oki, Selasa (15/6).

Oki menjelaskan, korban kemudian dilarikan orang tuanya ke RSUP H Adam Malik untuk mendapatkan perawatan medis. Namun takdir berkata lain. Setelah beberapa hari mendapatkan perawatan ternyata nyawa korban tak tertolong. “Hari minggu korban meninggal karena luka yang dialaminya semakin parah,” ucap dia.

Disebutkan Oki, sebelum meninggal korban sempat hilang ingatan dan kakinya mengalami kelumpuhan. “Hari Sabtu sudah mulai hilang ingatan. Gejala yang dialami tidak mau makan muntah dan diare,” jelasnya.

Dia menuturkan, jenazah korban sudah dimakamkan. Sedangkan anjing yang menggigit sudah dibawa ke kantor polisi, setelah keluarga korban membuat laporan pengaduan.

Sebelumnya, Lia Pratiwi ibu korban menceritakan, Setelah digigit anjing, Reza tidak berani pulang ke rumah. Dia singgah ke rumah temannya.

“Mungkin dia takut jadi awalnya tidak berani memberitahu kami. Sesampainya di rumah, dia langsung ngomong sama kakeknya bahwa ia baru digigit anjing.

Saya saat itu tidak di rumah, jadi mendapat telepon dari kakeknya kalau anak saya ini digigit anjing,” ungkapnya.

Begitu mendapat kabar itu, Lia memutuskan langsung pulang ke rumah.”Saya langsung pulang dan membawa anak saya ini untuk berobat di Bidan Manurung. Setelah disuntik ia kembali dibawa pulang,” katanya.

Reza yang hari itu seharusnya latihan taekwondo meminta izin kepada ibunya tidak bisa berlatih karena badannya sakit akibat digigit anjing. “Ma adik enggak latihan ya, karena badan rasanya sakit semua karena habis digigit anjing.” kata Lia menirukan perkataan anaknya kala itu.

Kakeknya sempat telepon kepala lingkungan (Kepling) untuk menyelesaikan masalah tersebut. “Anak saya dan kepling sempat ke rumah pemilik anjing, tapi sampai di sana setelah ngomong dengan pemilik anjing, wanita itu memberitahukan nanti diberitahukan setelah suaminya pulang. Tapi kami tunggu sampai malam tak ada jawaban,” katanya.

Keesokan harinya, Lia bersama anaknya serta kepling kembali mendatangi rumah pemilik anjing. Tapi, lagi-lagi tak ada respon yang baik soal kasus yang dialami anaknya. “Kita bertemu dan diajak ngomong baik-baik tidak terima, Mereka sempat bilang hanya karena Rp100 ribu kita ribut. Mereka bahkan tidak percaya dengan kwitansi perobatan Reza dan meminta waktu untuk memeriksa kebenaran kwitansi tersebut,” tutur Lia.

Melihat respon yang sedemikian, Lia lalu menantang agar pemilik anjing untuk pergi bersamanya ke klinik tempat anaknya berobat. “Ayo kita ke sana,” tantang Lia. “Tapi mereka bilang tak perlu dan sebut gara-gara Rp100 ribu saja diributkan. Terus suaminya sempat bilang tidak takut mau dibawa jalur hukum sekalipun.

Bahkan mau ngadu ke Wali Kota Bobby Nasution sekalipun kami enggak takut. Kemudian mereka pulang disaksikan kepling,” bebernya. Lia menuturkan, laporan kepolisian ini dilayangkan atas permintaan Reza sendiri, sebelum mengembuskan napas terakhir.

Menurut Lia, putranya itu bahkan tetap bersemangat menuntut keadilan atas kecelakaan yang ia alami. “Jadi anak saya kondisinya itu lemah sekali. Tapi dia tetap semangat. Di dalam mobil sebelum sampai Polsek dia tidur saja. Tapi sesampainya di Polsek Tuntungan dia semangat mengajak, “Ayok Mak, ayok”, kata Lia menirukan ucapan anakanya sebelum meninggal.

Sembari menahan pilu kehilangan putranya, Lia menceritakan saat-saat terakhir bersama anaknya itu. “Saya sempat juga tanya ke dia, kita lanjutkan kasus ini, dek?’. Dengan semangat dia bilang, ‘kita harus maju, Mak! Tetap semangat. Kasus ini harus jalan’, katanya menirukan ucapan anaknya lagi.

Sembari melihat foto di ponsel, Lia terlihat sesekali termenung meratapi foto almarhum Reza.

Saat buat laporan, lanjut Lia, anaknya itu menggunakan baju kaus berwarna merah. “Kan kami didampingi kuasa hukum. Anak saya itu semangat. Minta kasus ini harus terus diteruskan. Ternyata inilah yang menjadi permintaan terakhirnya,” ucap ibu korban dengan mata berkaca-kaca.

Menurut Lia, usai melapor ke kantor polisi, anaknya langsung tidur. “Mungkin ia lemah sekali. Jadi setelah buat laporan itu ia tidur. Setelah digigit, dia yang biasa ceria itu sikapnya berubah drastis. Tidak seperti biasa. Mungkin pengaruh virus rabies yang di dalam tubuhnya itu,” kata Lia.

Ia menambahkan, sebelum menghembuskan napas terakhirnya, ada buih yang keluar di mulutnya. Anaknya juga mengalami kejang-kejang. Usai kritis, dan dalam perawatan RSUP H Adam Malik, Minggu (13/6) sorenya Reza meninggal dunia.

Sementara, Pejabat Sementara Kapolsek Medan Tuntungan Iptu Martua Manik dikonfirmasi wartawan via pesan whatsapp oleh awak media membenarkan kejadian ini. Namun, kata Martua, kasusnya saat ini ditangani Satreskrim Polrestabes Medan. “Iya benar, tapi kasusnya ditangani Satreskrim Polrestabes Medan,” ujarnya singkat. (ris/bbs/azw)

Wanita tanpa Identitas Tewas di Jalinsum

Evakuasi: Anggota Mapolsek Dolok Merawan ketika melakukan evaluasi terhadap mayat MRS X di pinggir jalan raya Tebingtinggi Pematang Siantar.sopian/sumut pos.

TEBINGTINGGI, SUMUTPOS.CO – Polsek Dolok Merawan Resor Tebingtinggi menerima pengaduan masyarakat tentang ditemukannya mayat berjenis kelamin perempuan tergeletak di Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) Tebingtinggi Pematang Siantar tepatnya di Dusun I Desa Gunungpara Kecamatan Dolok Merawan Kabupaten Serdang Bedagai, Senin malam (14/6) sekira pukul 22.00 WIB.

Evakuasi: Anggota Mapolsek Dolok Merawan ketika melakukan evaluasi terhadap mayat MRS X di pinggir jalan raya Tebingtinggi Pematang Siantar.sopian/sumut pos.

Laporan warga tersebut ditindaklanjuti Polsek Dolok Merawan dengan menurunkan petugas ke lapangan dan langsung mengevakuasi jasad korban. “Saat ditemukan kondisi mayat tidak memiliki identitas, diduga korban gelandangan, petugas langsung membawa mayat ke rumah sakit Kumpulan Pane Kota Tebingtinggi untuk proses selanjutnya,” kata Kapolsek Dolok Merawan, AKP Asmon Bufitra.

AKP Asmon juga mendugda korban tewas tewas akibat tertabrak kendaraan, karena di bagian tubuh perempuan itu ditemukan beberapa luka bekas benturan.

“Setelah kita cek di tempat kejadian perkara (TKP) dan hasil pemeriksaan dari Tim Inafis Polres Tebingtinggi terhadap mayat tanpa identitas ditemukan mengeluarkan darah dari mulut dan luka gores di sekitar tulang rusuk yang diduga merupakan korban tabrak lari,” papar Asmon.

Ditambahkan Asmon, kepada sekitar yang merasa ada kehilangan anggota keluarga atau kerabatnya agar menghubingi pihak Polsek Dolok Merawan. (ian/azw)