BERIKAN: Kapolres Langkat saat memberikan bantuan sembako kepada keluarga miskin Kecamatan Berandan Barat.
BERIKAN: Kapolres Langkat saat memberikan bantuan sembako kepada keluarga miskin Kecamatan Berandan Barat.
LANGKAT, SUMUTPOS.CO – Kapolres Langkat AKBP Edy Suranta Sinulingga SIK didampingi Kapolsek Pangkalan Brandan AKP PS Simbolon mengunjungi Nano (27), seorang warga miskin di Desa Pangkalanbaru Kecamatan Berandan Barat Langkat yang hingga kini masih menderita penyakit kulit yang tak kunjung sembuh, Sabtu (11/7).
Kapolres Langkat dalam kesempatan kunjungan ke rumah warga miskin tersebut sekaligus memberikan santunan uang tunai untuk biaya bekal hidup dan perobatan, sembako dan obat-obatan termasuk juga akan membawa dan menjaminkan perobatan Nano ke salah satu RS di Langkat.
“Saya merasa sangat sedih dan miris sekali menerima informasi ada seorang warga miskin, pedagang kerupuk, lebih-lebih tinggalnya di sebuah gubuk berdinding tepas di Dusun II Desa Pangkalan Baru Berandan Barat Langkat, yang menderita penyakit mulit aneh dan belum sembuh-sembuh,” tutur AKBP Edy.
Kapolres Langkat juga menambahkan, terpanggil karena keluhan warga miskin tersebutlah saya susun sendiri jadwal hari saya untuk dapat berkunjung dan bertemu langsung dengan Nano.
“Semoga apa yang saya lakukan untuk warga Langkat di Wilayah Hukum Polres Langkat ini, akan bermanfaat baginya dan keluarganya.kiranya dengan nantinya Nano dibawa ke RS, sakitnya yang aneh tersebut dapat segera sembuh,” harap Kapolres Langkat
Sementara itu Kapolsek Pangkalan Berandan AKP PS Simbolon yang ikut serta mendampingi Kapolres Langkat, juga memberikan bantuan sembako kepada Nano.
Nano dalam kesempatan tersebut, merasa sangat terharu sekali melihat kehadiran Bapak Kapolres Langkat dan Kapolsek Pangkalan Brandan di gubuk reok tepas yang ditempatinya.
Atas nama anggota keluarga mengucapkan terima kasih kepada Kapolda Sumut, Kapolres Langkat. dan Kapolsek Pangkalan Berandan yang sangat perduli terhadap orang-orang miskin seperti kami.
“Semoga bantuan yang telah bapak berikan kepada kami ini, dicatat Allah sebagai amal kebajikan bagi bapak-bapak, kami berdoa, kiranya Allah melapangkan rezeki bapak-bapak sekalian, dan selalu diberikan kesehatan dan kekuatan dalam menjalankan tugas,” pungkas Nano (yas/azw)
LANGKAT, SUMUTPOS.CO – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Langkat menyalurkan 1.041 bantuan sosial (bansos) berupa lauk pauk siap saji dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI. Bantuan diserahkan Bupati Langkat Terbit Rencana PA diwakili Asisten II Ekbagsos, H Hermansyah, secara simbolis kepada pelaku wisata di Kecamatan Bahorok terdampak Covid 19, di Kantor Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Langkat, Sabtu (11/7).
Asisten II Ekbangsos mengatakan, bantuan ini sebagai wujud peduli dan dukungan pemerintah terhadap para pelaku dan pekerja bidang pariwisata, yang diyakini merupakan sektor andalan dalam pembangunan negara.
Diharapkan, dengan telah dibukanya destinasi unggulan Pemkab Langkat sejak 4 Juli 2020 lalu, yaitu Ekowisata Tangkahan, Pangkal Namu Sirasira, Batukatak dan objek wisata Bukit Lawang, dapat menumbuhkan perekonomian masyarakat kembali serta sektor pariwisata dapat berkontribusi dalam pembangunan daerah. Dan, pengunjung dan pelaku usaha, wajib menerapkan protokol kesehatan,
Sembari menjelaskan, bahwa pengembangan pariwisata yang dicanangkan pemerintah pusat, sesuai dengan visi misi Bupati dan Wakil Bupati Langkat, untuk mendorong percepatan pertumbuhan pendapatan masyarakat Kabupaten Langkat.
“Mari kita semua bergotong royong, potensi wisata ini di kelola dengan baik, agar meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara signifikan, terutama dalam menyambut new normal,” kata Hermansyah
Sementara Kadis Pariwisata Hj Nur Elly Heriani Rambe, menjekaskan, bantuan berjumlah 1.041 paket ini, berupa beras 5 kg, minyak goreng 2 liter, mie telur 2 bungkus, gula pasir 1 kg, tepung terigu 1 kg dan sambal kentang 1 bungkus.
“Untuk kecamatan Bahorok sendiri, total bantuan yang disalurkan berjumlah 717 paket. Sisa 324 pekat bantuan, telah distribusikan sebelumnya ke kecamatan kecamatan se kabupaten Langkat,”imbuhnya
Ketua HPI Langkat, Bahagia Ginting atas nama para pelaku wisata di kabupaten Langkat mengucapkan terima kasih kepada Pemkab Langkat dibawah kepemimpinan Bupati Terbit Rencana PA, yang selama ini telah peduli dengan nasib para pelaku wisata di Kabupaten Langkat.
Hadir dalam acara tersebut Staf Khusus Bupati Sedar Sembiring, Sekdis Pariwisata Rasta, Kabid Wisata Sabarita, Kabid Seni Budaya Muslihin, Camat Bahorok Dameka Putra Singarimbun, Kapolsek Bahorok IPTU P. Hutagaol, KUA Bahorok Ponidi, Sekcam Bahorok Rukun Sinuraya, perwakilan Koramil Bahorok dan undangan.(yas/azw)
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif tengah fokus membangun 10 desa wisata di sekitar Danau Toba. Ke-10 desa wisata ini nantinya akan dijadikan sebagai objek berstandar internasionaln
Pembangunan 10 desa wisata dilakukan serentak dan didukung dua perusahaan besar milik Kementerian Badan Usaha Milik Negera (BUMN), yakni PT Pertamina (Persero) dan PT Pegadaian (Persero). Desa wisata ini diproyeksikan menjadi market khusus untuk mendatangkan wisatawan mancanegara (wisman) dan wisatawan nusantara (wisnus) dengan jumlah besar.
“Jika 10 desa ini sukses, bisa direplikasi atau diikuti oleh desa-desa lainnya. Tentunya jika wisatawan banyak yang hadir, akan berdampak pada peningkatan perekonomian masyarakat,” ungkap Direktur Utama (Dirut) Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT), Arie Prasetyo, Minggu (11/7).
Arie Prasetyo menjelaskan, ada sekitar 200 desa yang langsung berbatasan di Danau Toba. Dengan meningkatkan fasilitas pariwisata di desa-desa tersebut, —apalagi Danau Toba telah ditetapkan sebagai UNESCO Global Geopark—, akan mendorong pengembangan danau terbesar di Asia Tenggara ini menjadi pariwisata berkelas internasional.
“Desa Wisata nantinya bisa mempopulerkan kearifan lokal atau local wisdom. Kearifan lokal akan menjadi andalan di masing-masing desa. Tujuannya untuk melestarikan kearifan lokal yang kebanyakan sudah mulai hilang,” tutur Arie.
Potensi alam dan budaya dapat digali dari desa-desa tersebut, seperti manabur bonih atau menyemai benih di ladang yang ada di Desa Sigapiton. Tradisi ini sudah sangat lama tidak dilakukan. Selanjutnya kekayaan ulos di sejumlah desa. Situs-situs etnis Batak yang akan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.
“Kearifan lokal akan menjadi modal utama dalam pengembangan desa wisata,” tutur Arie sembari mengajak masyarakat mendukung pemerintah mengembangkan Danau Toba ke arah yang lebih baik.
Pembangunan 10 desa wisata ini juga akan dilaksanakan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dalam penataan fasilitas. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif akan mengkonsep event-event yang menarik kunjungan wisatawan. (gus)
FOTO BERSAMA: Dari kiri ke kanan, Direktur PT MMP, Sutristo, Ketua Peneliti Riset, Imam Bagus Sumantri, Peneliti Farmasi USU, Lia Laila, Wakil Direktur PT AR, Asep Aripin, James Riady, peternak ikan gabus, dan Scientific Affairs Manager PT MMP, Guntur Berlian.
FOTO BERSAMA: Dari kiri ke kanan, Direktur PT MMP, Sutristo, Ketua Peneliti Riset, Imam Bagus Sumantri, Peneliti Farmasi USU, Lia Laila, Wakil Direktur PT AR, Asep Aripin, James Riady, peternak ikan gabus, dan Scientific Affairs Manager PT MMP, Guntur Berlian.
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Berbagai produk yang digadang-gadang bisa melawan virus corona, silih berganti beredar di kalangan publik, di tengah pandemi Covid-19. Setelah minyak kayu putih, teranyar adalah produk farmakologis kombinasi tiga bahan alam, yang diketahui memiliki aktivitas farmakologi potensial sebagai bahan tunggal dalam meningkatkan sistem imun terhadap infeksi Covid-19.
Adalah Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara (FF USU), bekerja sama dengan PT Akar Rimba (AR) dan PT Mega Medica Pharmaceuticals (MMP), yang tengah mengembangkan riset kombinasi produk alam pencegah Covid-19. Riset ini terpilih sebagai salahsatu proposal yang lolos tahapan seleksi program Kementrian Riset dan Teknologi / Badan Riset dan Inovasi Nasional.
“Produk alam pencegah virus corona ini berbahan dari Channa striata, Phyllanthus niruri, dan Curcuma xanthorrhiza. Sedang dikembangkan untuk produk imunomodulator dan dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh,” kata Scientific Affairs Manager PT MMP, Guntur Berlian, didampingi Ketua Peneliti Riset Pengembangan Produk, Imam Bagus Sumantri SFarm MSi Apt kepada wartawan di Medan, Minggu (12/7).
Guntur mengatakan, hasil seleksi pengajuan proposal riset diumumkan tanggal 6 Juli lalu. Dari 902 proposal yang masuk, terpilih 139 proposal termasuk 30 riset penelitian pencegahan, yang akan dikembangkan sebagai bentuk hilirisasi hasil penelitian, pengembangan, pengkajian dan penerapan (litbangjirap). Hasil penelitianselanjutnya akan dimanfaatkan masyarakat untuk penanggulangan Covid-19.
Menurut Guntur, penelitian untuk mengetahui manfaat farmakologis kombinasi tiga bahan alam tersebut, yang selama inidiketahui memiliki aktivitas farmakologi potensial sebagai bahan tunggal dalam meningkatkan sistem imun terhadap infeksi Covid-19. “Tingginya kadar protein, terutama albumin pada ikan gabus, dibutuhkan untuk aktivasi makrofag. Di sisi lain, senyawa filantin dan kurkumin pada meniran dan temulawak, mampu meningkatkan fungsi makrofag serta meningkatkan sintesis antibodi di dalam sistem imun,” sebutnya.
Ketua Peneliti Riset Pengembangan Produk, Imam Bagus Sumantri, menuturkan riset bersama yang dilakukan berjudul ‘Pengembangan Sediaan Kapsul Kombinasi Ekstrak Ikan Gabus, Meniran dan Temulawak sebagai Immunomodulator Pencegahan Covid-19’. Produk dari riset yang dihasilkan sangat potensial sebagai suplemen harian untuk menjaga kekebalan tubuh selama pandemi Covid-19 berlangsung.
Untuk itu, pihaknya akan menguji secara menyeluruh, kombinasi pengaruh ikan gabus, meniran, dan temulawak dalam mengaktivasi makrofag, sel T dan sel B untuk mencegah penularan Covid-19. Selain itu mengakselerasi pemulihan klinis, dan menekan masa rawat pasien penderita virus corona.
“Dengan dukungan alur penelitian yang baik, tim peneliti yang kompeten, dan kolaborasi strategis dengan pihak mitra industri dalam mengembangkan ketersediaan obat yang berkualitas dan terkontrol, penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan produk yang menjanjikan untuk pencegahan Covid-19,” kata Imam Bagus.
Direktur PT MMP, Sutristo, mengaku bangga dengan keberhasilan FF USU, PT MMP dan PT AR. Menurutnya ini prestasi yang sangat luar biasa. “Ini karya anak Medan. Banyak hasil alam dari Sumatera Utara yang berpotensi diolah menjadi obat namun belum banyak diriset. Oleh karena itu, kolaborasi ini menjadi sangat penting agar produk hasil riset dapat digunakan oleh masyarakat terutama pasien Covid-19”, kata Sutristo.
Diutarakannya, pandemi Covid-19 menjadi trigger banyak negara untuk inovasi mengembangkan berbagai obat, vaksin, alat pelindung diri, sanitizer dan supplemen meningkatkan imun tubuh. Indonesia memiliki 30.000 spesies tumbuhan maupun sumber daya laut, harusnya dapat menjadi pengekspor produk obat herbal terbesar di dunia.
Namun faktanya, sekitar 9.600 spesies tanaman dan hewan yang diketahui memiliki khasiat obat belum dimanfaatkan secara optimal sebagai obat herbal. Penelitian obat asli Indonesia perlu terus didorong agar bisa mandiri dalam penyediaan obat dari bahan alam.
“Ikan gabus banyak digunakan para praktisi kesehatan sebagai terapi ajuvan untuk penderita terindikasi hipoalbuminemia, luka bakar, dan diet setelah operasi. Ekstrak ikan gabus secara nyata dapat meningkatkan kadar albumin, dan mempercepat proses penyembuhan luka,” paparnya.
Ia menambahkan, ikan gabus juga sumber albumin yang potensial. Formulasi kombinasi ekstrak ikan gabus, temulawak dan meniran adalah kombinasi sinergis untuk mempercepat penyembuhan pasien Covid-19. “Kombinasi ini memiliki khasiat untuk menaikkan kadar albumin, mencegah inflamasi dan koagulasi yang sering ditemukan pada pasien Covid-19. Mudah-mudahan riset ini berjalan dengan cepat dan lancar atas dukungan semua pihak dan dapat dilanjutkan riset-riset lainnya,” tandas Sutristo. (ris)
Sekretaris Dinas Pendidikan Dairi, Besli Pane.Rudy Sitanggang/Sumut Pos.
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Sesuai jadwal kalender pendidikan, Senin (13/7) hari ini adalah awal memasuki tahun ajaran baru 2020/2021 nasional. Di Sumatera Utara, sejumlah kota/kabupaten yang berstatus zona merah memutuskan tetap melanjutkan sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ) dengan metode dalam jaringan (daring). Di antaranya, Kota Medan dan Kabupaten Dairi. Adapun sejumlah sekolah di Kabupaten Deliserdang memberi sinyal akan mengaktifkan kembali pembelajaran tatap mukan
“Memasuki tahun ajaran baru, Pemerintah Kota (Pemko) Medan melalui Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Medan memilih untuk tetap melanjutkan sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ) bagi para siswa sekolah, mulai dari tingkat TK, SD hingga SMP yang menjadi kewenangan Disdik Kota,” ucap Kepala Disdik Kota Medan, Adlan SPd MM kepada Sumut Pos, Minggu (12/7).
Keputusan itu diambil berdasarkan imbauan pemerintah pusat, dalam hal ini Kementerian Pendidikan, yang hanya mengizinkan wilayah zona hijau Covid-19 untuk melakukan sistem belajar mengajar dengan metode tatap muka di sekolah. Adapun Kota Medan yang terdiri dari 21 Kecamatan, masih berada dalam status zona merah pada setiap Kecamatannya. Karena itu, sistem PJJ harus dilanjutkan.
“Memaksakan proses belajar mengajar di sekolah hanya akan memperbesar kemungkinan penularan Covid-19 satu sama lain. Saat ini, prioritas kita adalah menyelamatkan anak-anak generasi bangsa,” katanya.
Belum diketahui hingga kapan sistem belajar mengajar lewat sistem PJJ berlaku. Semua bergantung dengan kondisi penyebaran Covid-19 di Kota Medan. “Bila kondisinya sudah memungkinkan, tidak tertutup kemungkinan akan kembali menggunakan sistem belajar tatap muka di sekolah,” ujarnya.
Disdik saat ini fokus meningkatkan mutu proses belajar mengajar menggunakan sistem PJJ, agar kualitas pendidikan di Kota Medan tidak menurun. “Di satu sisi, kita menyadari sistem belajar daring memiliki kekurangan. Makanya kita berusaha mencari metode-metode yang baik untuk menutupi kekurangan tersebut. Saat ini, kita minta agar siswa atau wali hanya datang ke sekolah untuk mengambil bahan pelajaran ataupun tugas. Pengerjaaannya dibimbing lewat sistem PJJ,” terangnya.
Meski demikian, ia yakin Disdik dapat tetap menjaga kualitas materi yang diberikan dengan sistem kontrol dan bimbingan yang baik lewat sistem daring. Adapun siswa yang tidak memiliki fasilitas belajar daring, misalnya tidak memiliki android, sistem belajarnya akan dikoordinasikan.
“Apakah gurunya yang datang, atau siswanya yang datang ke sekolah mengambil bahan dan diberikan waktu untuk menjelaskan materi. Fleksibel saja, walaupun kita yakin bahwa saat ini hampir semua siswa ataupun orangtua/wali sudah memiliki android,” jelasnya.
Adlan mengimbau, para siswa ataupun orangtua wali yang datang ke sekolah mengambil bahan materi pelajaran, tetap menerapkan protokol kesehatan seperti mencuci tangan, memakai masker dan menjaga jarak.
Di samping itu, Adlan juga meminta para siswa untuk tetap semangat menimba ilmu, sekalipun harus belajar lewat sistem daring. “Ini bukan keinginan kita bersama. Memang kondisinya yang mengharuskan kita menggunakan metode belajar PJJ. Kami harapkan para siswa tetap semangat belajar di tahun ajaran baru ini. Tetap ikuti protokol kesehatan. Selamat memasuki tahun ajaran baru,” tandasnya.
Ketua Forum Honorer Indonesia (FHI) Kota Medan, Fahrul Lubis mengatakan, pihaknya masih melakukan sistem mengajar sistem daring dengan tetap berusaha mempertahankan bahkan meningkatkan mutu pendidikan di Kota Medan.
“Koordinasi tetap kami lakukan dengan para siswa dan orangtua/wali. Perbaikan demi perbaikan tetap dilakukan terus bila ada kekurangan. Kami juga berharap agar pemerintah dapat membantu meningkatkan kesejahteraan para guru, agar bisa fokus dalam memberikan yang terbaik untuk para siswa. Kepada para siswa kami harapkan tetap semangat dalam mengikuti tahun ajaran baru,” ungkap Fahrul kepada Sumut Pos, Minggu (12/7).
Anggota Komisi II DPRD Medan, Afif Abdillah, memberikan dukungannya kepada Dinas Pendidikan Kota Medan untuk tetap melanjutkan sistem belajar daring di tengah pandemi Covid-19. “Memang kondisi sekarang, kita masih harus menjalankan sistem daring ini,” kata Afif, Minggu (12/7).
Afif mengakui, sistem belajar daring menjadi tantangan tersendiri bagi Disdik untuk mempertahankan kualitas pendidikan. Namun tetap memungkinkan dengan metode-metode yang tepat. “Yang paling utama adalah memastikan semua siswa mengerti pelajaran yang diberikan oleh gurunya. Mungkin dengan memberikan soal setiap selesai memberikan materi mata pelajaran, atau dengan cara lain yang lebih efektif,” sebutnya.
Yang paling utama, menurut Afif, orangtua/wali para siswa proaktif menjadi pendamping siswa selama jam belajar daring. “Karena waktu guru terbatas, mereka hanya bisa memonitor dari jauh. Sedangkan orangtua siswa memiliki peran yang jauh lebih krusial untuk memastikan murid mengerti mata pelajaran tersebut,” jelasnya.
Pihak sekolah juga diminta meng-update apa saja yang diajarkan. “Dinas pendidikan harus membuat program untuk mengedukasi dan melakukan orientasi kepada orangtua atau pendamping siswa. Termasuk program edukasi, monitoring, dan evaluasi,” pungkasnya.
Dairi Tetap Belajar dari Rumah
Tak hanya Kota Medan, Kabupaten Dairi yang masih berstatus zona kuning Covid-19, juga memilih melanjutkan proses belajar dari rumah, pada awal tahun ajaran baru.
“Karena Dairi belum zona hijau, proses pembelajaran tahun ajaran baru tetap dilanjutkan belajar dari rumah, baik dalam jaringan (daring) maupun luar jaringan (luring). Hal itu sesuai SK bersama Mendikbud, Menteri Agama, Menteri Kesehatan dan Menteri Dalam Negeri tentang panduan penyelenggaraan pembelajaran tahun ajaran 2020-2021 di masa pandemi corona,” kata Sekretaris Dinas Pendidikan Dairi, Besli Pane kepada wartawan, Jumat (10/7).
Selama pandemi, proses pembelajaran di Dairi masih didominasi belajar luring, di mana materi pembelajaran dan tugas diantarkan guru ke rumah siswa. Pasalnya, masih banyak daerah yang sinyal internetnya belum bagus. “Sekolah yang memungkinkan bisa belajar daring hanya sekitar 30 persen,” ungkapnya.
Dengan belajar luring, guru harus bekerja ekstra mengantarkan materi dan tugas ke rumah siswa, dan mengakibatkan pengeluaran tambahan. “Dana bantuan operasional sekolah (BOS) dimungkinkan untuk biaya transportasi guru,” katanya.
Sebelumnya diberitakan, satu orang warga kecamatan Sumbul berjenis kelamin laki-laki berusia 24 tahun hasil test Swab dinyatakan positif covid-19. Pemuda itu kini sedang menjalani perawatan di rumah sakit Bina Kasih Medan. Karena itu, Dairi masih zona kuning.
Deliserdang Beri Sinyal Aktif
Berbeda dengan Kota Medan dan Kabupaten Dairi, sejumlah sekolah swasta di Kabupaten Deliserdang, baik jenjang Taman Kanak-kanak (TK) sampai Sekolah Menengah Atas (SMA) sederajat, sudah memberi sinyal akan mengaktifkan kembali belajar mengajar tatap muka di sekolah.
“Apa (sekolah) swasta lain kali ya dengan negeri? Anakku yang paling besar yang udah SMP itu bilang, mereka sudah masuk dan belajar tatap muka di sekolah mulai 13 Juli,” ungkap Iswandi, seorang orangtua murid di Deliserdang, kepada Sumut Pos pada pekan.
Setau dia, belum ada kebijakan Gubernur Sumut maupun Dinas Pendidikan Sumut yang memperbolehkan anak-anak kembali sekolah secara tatap muka. “Di Deliserdang kok dibolehkan pula ya? Apa sudah zona hijau makanya boleh?” tanyanya bingung.
Saat diberitau bahwa Deliserdang masih berstatus zona merah, ia kaget. “Jadi kok berani kali ya sekolah itu? Kata anakku, mulai 13 Juni mereka sudah belajar lagi di sekolah. Cuma tidak lama-lama, paling sekitar 15-20 menit pertemuan di kelas, setelah itu pulang,” kata warga Kecamatan Sunggal, Deliserdang itu.
Hal senada disampaikan Ismail, yang anaknya bersekolah di wilayah Deliserdang. Kata dia, anaknya yang masih duduk tingkat TK itu, telah diumumkan akan kembali belajar di sekolah mulai 13 Juli. “Anakku di TK swasta dekat rumah. Sekolahnya bilang sudah masuk lagi, aktif belajar di sekolah. Tapi tak kukasihlah. Kubilang, biar aja absen,” kata warga Kecamatan Batangkuis itu.
Kedua orangtua murid ini mengaku bingung mengapa kebijakan dan imbauan pemerintah daerah tentang sekilah tatap muka di tengah pandemi Covid-19, tidak seragam.
“Aneh-aneh aja pemerintah ini memang. Gubernur bilang tak boleh, tapi faktanya sekolah swasta sudah membolehkan siswa belajar lagi di sekolah. Ada yang bilang zona merah belum boleh, tapi zona hijau boleh. Gimana sih pengawasannya?” katanya.
Pemprov Sumut melalui Dinas Pendidikan sebelumnya menegaskan, Gubernur Edy Rahmayadi belum memberi izin sekolah dibuka kembali. Seluruh murid diminta belajar daring/online untuk sementara waktu.
“Kebijakan pelarangan belajar secara tatap muka itu berlaku untuk semua zona di Sumut, baik zona hijau, orange, kuning dan merah. Belajar dari rumah dengan metode pembelajaran dalam jaringan (online) maupun luar jaringan,” kata Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Sumut, Arsyad Lubis, Sabtu (11/7).
Teknis belajar daring dan di luar daring itu dimulai pada 13 Juli 2020, atau sesuai kalender pendidikan. “Pak Gubernur belum mengizinkan belajar secara tatap muka di SMA dan SMK, baik negeri dan swasta di Sumut,” tegasnya.
Soal kapan belajar mengajar secara tatap muka di SMA/SMK diberlakukan, menurut dia, menunggu keputusan lebih lanjut. “Nanti kita informasikan kemudian,” katanya.
Begitupun, lanjut Arsyad, para kepala SMA dan SMK di Sumut diinstruksikan untuk mempersiapkan strategi pembelajaran dari rumah dengan metode pembelajaran daring/online maupun luar jaringan. (map/prn/rud)
RAPID TEST: Petugas medis sedang mengambil sampel darah pasien untuk rapid test Covid-19 (ilustrasi). Lion Air Group menyediakan fasilitas rapid test murah bagi calon penumpangnya.
RAPID TEST: Petugas medis sedang mengambil sampel darah pasien untuk rapid test Covid-19 (ilustrasi). Lion Air Group menyediakan fasilitas rapid test murah bagi calon penumpangnya.
LUBUKPAKAM, SUMUTPOS.CO – Mendongkrak pertumbuhan penumpang pesawat terbang di masa pandemi Covid-19 , maskapai Lion Air Group menyediakan lokasi rapid test Covid-19 berbiaya murah, hanya Rp95 ribu, di dua lokasi Kota Medan.
Fasilitas itu disediakan bagi calon penumpang yang ingin mendapatkan surat kesehatan rapid test.
Management Lion Air mengumumkan pengembangan jaringan layanan pelaksanaan uji kesehatan skrining awal dan cepat Covid-19 tersebut, sebagai kemudahan bagi penumpang dalam mempersiapkan persyaratan naik pesawat udara bersama Lion Air Group.
“Pelaksanaan rapid test Covid-19 yang dijalankan Lion Air Group memiliki masa berlaku selama 14 hari. Kegiatan ini diharapkan akan mendorong percepatan pemulihan ekonomi melalui perjalanan udara,” kata Corporate Communications Strategic of Lion Air Group, Danang Mandala Prihantoro, Sabtu (11/7).
Pengembangan fasilitas ini merupakan kelanjutan kerjasama dengan Klinik Lion Air Medika, Dompet Dhuafa Republika, dan fasilitas kesehatan lainnya. Lokasi pertama layanan rapid test Covid-19 ini tersedia di Teratai (Lotus) Medical Center Medan di Jalan Brigjen Katamso No 585A, Kampung Baru, Kecamatan Medan Maimun, Kota Medan, Sumatera Utara 20158. Klinik ini melayani pada Senin – Sabtu pukul 08.00 – 20.00 WIB, Minggu dan hari libur pukul 08.00 – 13.00 WIB. \
Lokasi kedua di Rumah Sakit Umum Siti Hajar, di Jalan Jamin Ginting No.2, Merdeka, Kecamatan Medan Baru, Kota Medan, Sumatera Utara. Rapid test yang efektif mulai 10 Juli kemarin, dilayani selama 24 jam pada Senin-Minggu, dengan biaya Rp95.000.
“Layanan rapid test Covid-19 ini akan terus dilanjutkan dan dikembangkan di kota-kota lain di seluruh wilayah Indonesia,” ucap Danang.
Penumpang akan mendapatkan nilai lebih dengan penambahan titik lokasi layanan rapid test Covid-19. Adapun ketentuan pelaksanaan rapid test Covid-19 yakni khusus untuk penumpang yang mempunyai tiket pada penerbangan Lion Air Group. Voucher rapid test Covid-19 dapat diperoleh secara langsung pada saat melakukan pembelian tiket (issued ticket),
Bagi penumpang yang sudah memiliki tiket pesawat Lion Air Group dan belum melaksanakan rapid test Covid-19, dapat membeli voucher rapid test Covid-19 dengan menunjukkan kode pemesanan (booking code) melalui sales channel, seperti call center, kantor penjualan Lion Air Group. (btr)
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Dinas Kesehatan Sumatera Utara (Dinkes) Sumut memastikan. virus penyebab penyakit flu babi baru dari China jenis Genotype 4 (G4), belum ditemukan di Sumut.
Meski demikian, ia meminta seluruh pihak yang terlibat tetap waspada.
“Sejauh ini kasusnya belum ditemukan di Sumut. Namun kita tetap mewaspadai dan mengantisipasinya,” kata Sekretaris Dinkes Sumut, dr Aris Yudhariansyah, kemarin.
Langkah antisipasi yang sudah dilakukan, kata dia, yakni melakukan sosialisasi terkait penyakit tersebut, meskipun belum ditemukan. “Sumut memiliki peternakan babi yang cukup banyak (sekitar 1 juta lebih). Oleh sebab itu, sosialisasi akan dilakukan kepada masyarakat, terutama yang beternak babi,” ujarnya.
Sosialisasi juga bisa dilakukan di fasilitas layanan kesehatan khususnya puskesmas. Yakni mengenai informasi terkait upaya-upaya untuk mencegah ataupun menginformasikan tentang virus flu babi G4, serta bagaimana mengatasi atau melakukan pencegahan lebih dini.
“Pencegahan dini yang harus dilakukan, yakni menghindari kontak langsung dengan babi yang sakit, menggunakan alat pelindung diri ketika bekerja, atau menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Lakukan disinfeksi terhadap kandang, pasar, atau tempat pemotongan. Serta tidak lupa vaksinasi hewan sebagai langkah pencegahan,” jelasnya.
Diutarakan dia, pencegahan-pencegahan itu tidak hanya diterapkan ke peternak babi, namun juga diharapkan dilakukan warga yang memelihara hewan berkaki empat tersebut secara mandiri, demi kebutuhan sehari-hari. “Sosialisasi upaya antisipasi atau pencegahan itu sebagai persiapan jika memang ditemukan. Seandainya ada kasus, penanganan yang dilakukan tentu sesuai SOP (Standar Operasional Prosedur) seperti penanganan pandemi (Covid-19),” tandas Aris.
Akhir pekan lalu, Kemenkes memastikan belum ada laporan terkait flu babi G4 di Indonesia, baik di babi maupun manusia. Flu babi G4 sendiri adalah galur atau strain baru dengan virus penyebabnya disebut G4 EA H1N1 yang menular dari babi ke sejumlah peternak di China.
Galur dari virus itu mirip dengan flu burung di Eropa dan Asia, galur H1N1 pada pandemi 2009 dan galur H1N1 di Amerika Utara. Flu babi G4 sendiri berbeda dengan virus demam babi Afrika atau African Swine Fever (ASF) yang menyerang sejumlah babi Indonesia. ASF tidak dapat menular ke manusia.
Kasus virus flu babi G4 itu bukan ditemukan pada orang yang sakit. Tapi ada pemeriksaan darah dari populasi yang dilakukan surveilans atau penelitian terhadap kemungkinan adanya virus yang sudah menyebar ke sejumlah populasi babi di China. Virus tersebut juga dapat melekat pada reseptor yang ada di saluran pernapasan manusia.
Dengan melekat di reseptor, virus dapat masuk ke sel-sel manusia. Virus G4 juga bisa melekat di jaringan trakea manusia, terutama di sel-sel yang melapisi trakea. Dengan melekat di tabung penghubung saluran pernapasan bagian atas dan bagian bawah serta paru-paru ini, virus dapat menuju ke paru-paru manusia.
Virus ini juga dapat menginfeksi sel epitel saluran napas manusia. Sel-sel yang biasanya melapisi bronkus dan alveoli manusia berhasil diinfeksi dengan virus G4 di laboratorium. Setelah masuk ke sel-sel manusia, virus baru ini berkembang biak dan menyebar di sana.
Perkuat Kolaborasi Lintas Lembaga
Achmad Yurianto menyampaikan, dalam mengantisipasi pandemi flu babi G4 EA H1N1, harus dilakukan penguatan komunikasi, koordinasi, dan kolaborasi antar kementerian lembaga terkait, baik di jajaran kesehatan hewan secara kesehatan satwa liar maupun dalam jajaran kesehatan masyarakat.
“Tentunya ini dilaksanakan bersama-sama masyarakat. Upaya ini merupakan pilar keberhasilan dalam pencegahan dan pengendalian penyakit zoonosis di masa sekarang dan di masa mendatang,” katanya dalam seminar virtual Memahami dan Mewaspadai Ancaman Virus Flu Babi Baru, Jumat (10/7).
Wujud keberhasilan penanggulangan pelaksanaan flu babi yang termasuk penyakit zoonosis terpapar dalam peraturan perundang-undangan terkait, termasuk di dalamnya Inpres Nomor 4 Tahun 2019 tentang Ketahanan Kesehatan Masyarakat.
“Harapan saya bahwa penanggulangan penyakit yang berpotensi Kejadian Luar Biasa (KLB) atau pandemi dapat kita lakukan respons sejak dini, sehingga tidak menjadi masalah nasional, bahkan menjadi masalah global,” ujar Yuri.
Merespons flu babi jenis baru, Kementan membuat surat edaran peringatan, yang berisi meningkatkan kerjasama mewaspadai dan menyiapkan rencana kemungkinan masuk dan munculnya virus tersebut di Indonesia. (ris)
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Tiga profesor yang bertugas di Universitas Sumatera Utara (USU) dinyatakan positif terpapar Covid-19, sesuai hasil swab di Laboratorium Polymerase Chain Reaction (PCR) Rumah Sakit USU. Ketiganya masing-masing Prof. Runtung Sitepu sebagai Rektor USU, Prof Rosmayati sebagai Wakil Rektor (WR) 1 USU, dan suaminya Prof Darma Bakti, anggota Majelis Wali Amanat USU.
“Pak Rektor dan ibu Wakil Rektor 1 USU benar positif berdasarkan hasil swab. Alhamdulillah, kondisi keduanya baik-baik saja dan masih sehat, atau orang tanpa gejala,” sebut Kepala Kantor Humas, Promosi dan Protokoler USU Elvi Sumanti saat dikonfirmasi Sumut Pos melalui pesan Whatsapp, Minggu (12/7).
Elvi menjelaskan, Rektor USU menjalani isolasi mandiri di rumah dengan tetap dalam pemantauan tim medis dari RS USU. Sedangkan Rosmayati dan suaminya, Prof Darma Bakti, menjalani perawatan medis di RS Columbia Asia, Kota Medan. “Kita doakan hasilnya akan negatif selesai isolasi nanti,” ungkap Elvi.
Terkait hal itu, pihak USU melakukan pencegahan penyebaran virus dengan melakukan tracking (pelacakan) terhadap orang-orang saja yang pernah kontak erat dengan orang nomor satu di kampus USU itu. Hal tersebut sesuai instruksi Prof. Runtung kepada jajaran USU dan RS USU. Tujuannya, untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 di kampus tersebut.
“Ya, dianjurkan rapid test,” tutur Elvi.
Elvi menjelaskan, hasil swab para profesor itu keluar pekan lalu. “Hasil swab Pak Rektor keluar kemarin (Sabtu, 11 Juli 2020). Sedangkan hasil swab WR 1 keluar 4 hari lalu,” tutur Elvi.
Ketua Tim Lab Pemeriksa covid-19 RS USU, dr Dewi Indah Sari Siregar, MKed (ClinPath), Sp.PK mengatakan ketiga profesor tersebut dalam keadaan sehat. Namun WR 1 USU menjalani perawatan di RS Columbia Asia Kota Medan. “Sampai kemarin (WR 1 USU) masih di RS Columbia Asia, karena ruang rawat di RS USU full pasien,” ungkap Dewi saat dikonfirmasi.
Dewi mengatakan, pihaknya terus memantau perkembangan ketiga profesor tersebut secara optimal. “Alhamdullilah, kondisinya sehat tidak bergejala,” tandas Dewi.
UTBK-SBMPTN Tetap Berlangsung
Meski Rektor USU dan WR 1 USU dinyatakan positif Covid-19, pihak USU tetap menggelar Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) pada Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi (SBMPTN) 2020. Pasalnya, belum ada surat edaran terbaru agar kegiatan di lingkungan USU dihentikan sementara. “Jadi pelaksanaan UTBK SBMPTN di Kampus USU yang tinggal empat hari tetap terus berlanjut,” jelas Kepala Humas USU, Elvi Sumanti.
Saat ini, USU telah melakukan penyemprotan disinfektan ke seluruh ruangan ujian, untuk memberi rasa nyaman peserta UTBK SBMPTN di USU. “Protokol kesehatan diperketat. Sejauh ini masih kondusif. Mudah-mudahan Pak Rektor lekas sehat dan bisa kembali beraktivitas,” pungkasnya.
Pelaksanaan UTBK SBMPTN di USU digelar sejak 5 Juli 2020. Sebanyak 35.794 peserta ujian dibagi ke dalam dua tahap pelaksanaan. Tahap pertama digelar selama 10 hari, UTBK SBMPTN tahap I di USU dijadwalkan berakhir 14 Juli 2020. Empat lokasi UTBK itu adalah Kampus USU, Universitas Sari Mutiara, SMA Negeri 1 Medan, dan SMK Negeri 9 Medan.
USU Harus Tracing Ketat
Juru Bicara (Jubir) Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 Sumut, dr Aris Yudhariansyah, mengaku telah mendapatkan kabar tentang Rektor USU sebagai orang tanpa gejala (OTG) Covid-19.
“Meski OTG, namun dilihat dari segi usia, ketiganya dianggap berisiko tinggi, sehingga menjalani isolasi di rumah sakit,” ungkapnya, Minggu (12/7).
Dalam kasus ini, menurut Aris, USU harus melakukan tracing dan protokol kesehatan yang ketat dalam mengantisipasi penyebaran virus corona di kalangan rektorat. “Tracing sepertinya akan dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kota Medan. GTPP Covid-19 Sumut sifatnya siap membantu bila diperlukan, termasuk penyemprotan disinfektan. Jika USU atau siapapun ingin berkoordinasi, kita akan turunkan tim. Tapi kita yakin USU telah memiliki tim tersendiri (Fakultas Kedokteran dan rumah sakit). Apalagi (yang terpapar) ini Pak Rektor,” terangnya.
Aris kembali mengingatkan masyarakat agar lebih waspada, karena kasus baru makin banyak ditemukan di level pimpinan. “Jangan lengah. Istilah new normal yang rentan salah dimengerti telah dikoreksi menjadi adaptasi kehidupan baru (AKB),” tukasnya.
Medan Hampir 1.500 Kasus
Di Medan, angka penyebaran Covid-19 terus berkembang masif. Data dari GTPP Covid-19 Kota Medan, angka penyebaran Covid-19 di Kota Medan hampir mencapai 1.500 kasus, persisnya 1.475 kasus, Minggu (12/7). Yang sembuh 390 orang, meninggal 76 orang, dirawat 1.009 orang.
Sekretaris GTPP Covid-19 Kota Medan, Arjuna Sembiring, menyebutkan pihaknya terus berusaha memutus mata rantai penyebaran Covid-19 di Kota Medan. Yakni, dengan menyosialisasikan pentingnya penerapan protokol kesehatan sesuai Perwal No. 27/2020 tentang penerapan AKB (Adaptasi Kebiasaan Baru) di Kota Medan, maupun sesuai Perwal No. 11/2020 tentang karantina kesehatan dalam rangka percepatan penanganan Covid-19 di Kota Medan. “Sosialisasi terus, pengawasan juga terus,” ucap Arjuna.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Medan ini mengatakan, pihaknya masih melakukan penyemprotan disinfektan di kawasan-kawasan publik yang terindikasi sebagai klaster penularan Covid-19. “Penyemprotan dibantu pihak kecamatan. Untuk pengawasan Perwal AKB dilakukan masing-masing OPD. Semua sedang fokus menangani,” ungkapnya.
Ketua Pansus Covid-19 Kota Medan, Robi Barus, menilai GTPP Covid-19 Kota Medan belum melakukan pencegahan serta penanganan maksimal. Bahkan sosialisasi Perwal No. 27/2020 juga belum dilakukan.
“Menyosialisasikan protokol kesehatan berbeda dengan mensosialisasikan Perwal, sekalipun Perwal memang tentang protokol kesehatan,” ucap Robi kepada Sumut Pos, Minggu (12/7).
Menurut Robi, menyosialisasikan protokol kesehatan saja tidak cukup. Sebab banyak poin-poin lain dalam Perwal yang harus dijelaskan. Termasuk soal pihak yang berhak dalam melakukan pengawasan hingga penindakan.
“Utamanya soal sanksi. Banyak sekali masyarakat yang tak tahu ada sanksi yang menunggu mereka bila tidak menerapkan protokol kesehatan. Bahkan, masyarakat Kota Medan masih banyak yang tak tahu apa sih itu AKB,” sebutnya.
Untuk itu, Robi meminta GTPP Covid-19 Kota Medan agar lebih serius melakukan sosialisasi. “Jangan hanya tahu bikin Perwal saja, tapi tak serius menyosialisasikannya. Dan jangan main- dalam melakukan penindakan terhadap pelanggaran Perwal,” tutupnya.
Pimpinan DPRD Medan, H Rajuddin Sagala, juga mengatakan hal senada terkait sosialisasi Perwal No.27/2020 atau Perwal AKB. “Libatkan seluruh elemen pemerintahan hingga ke tingkat kecamatan, bahkan kelurahan dan lingkungan. Jangan berhenti hanya di OPD-OPD dan gugus tugas saja,” tuturnya.
Kecamatan, kelurahan, dan lingkungan, menurut Rajuddin, memiliki andil besar dalam menyosialisasikan Perwal AKB. “Bayangkan jika setiap kelurahan diwajibkan memberikan sosialisasi berupa banner, spanduk, atau apapun itu hingga ke setiap lingkungan agar dapat dibaca. Maka pasti tidak akan ada masyarakat yang tidak tahu AKB.
Masyarakat, kata dia, harus diedukasi tentang tren kenaikan penyebaran Covid-19 di Kota Medan. Sehingga masyarakat tidak salah paham mengartikan new normal sebagai kondisi telah membaik.
“Faktanya kondisi Kota Medan belum membaik. Malah tren penularan masih meningkat. Di sini, butuh peran besar dari perangkat Pemko Medan hingga tingkat lingkungan,” pungkasnya. (gus/ris/map)
BELAWAN, SUMUTPOS.CO – Seorang Komisioner Panitia Pengawas Pemilihan Umum (Panwaslu) Kecamatan Medan Belawan, Ade Irawan (42), dibegal 3 sekawanan perampok bersajam di Kampung Salam, Kecamatan Medan Belawan, Jumat (10/7), sekira pukul 23.00 WIB.
Akibat perampokan itu, tas milik warga Bagan Deli, Kecamatan Medan Belawan itu, yang berisikan satu unit laptop inventaris milik Panwaslu Kecamatam Medan Belawan, dan handphone, dibawa kabur para pelaku. Kasus itu pun telah dilaporkan ke Mapolsek Belawan.
Malam itu, korban bersama rekannya berboncengan menaiki sepeda motor. Saat melintas di lokasi kejadian, tiba-tiba hujan, mereka pun berhenti untuk memakai mantel hujan.
Pada saat itu, 3 sekawanan perampok menodongkan pisau ke arah mereka bedua. Tas yang dipegang oleh korban langsung dirampas para pelaku.
“Malam itu, kami berhenti mau pakai mantel. Mereka datang langsung todongkan pisau, karena lokasi gelap, kami tidak bisa melawan,” ungkap Ade.
Seorang dari 3 sekawanan pelaku itu, diakui Ade, menandainya. Para pelaku diketahui kabur ke kawasan pemukiman warga, setelah diteriaki rampok, mereka menghilang.
“Aku tanda kali sama pelakunya, kami sudah koordinasi dengan kepala lingkungan dan warga sekitar, pelaku itu tinggal tidak jauh dari Kampung Salam,” beber Ade di Mapolsek Belawan.
Kasus perampokan itu telah dilaporkan Ade bersama temannya ke Mapolsek Belawan.
“Laporannya sudah kami terima, ciri-ciri pelaku sudah diketahui. Anggota di lapangan sedang menyelidiki pelakunya, kami akan lakukan tindakan tegas dan terukur kepada pelaku,” pungkas Kanit Reskrim Polsek Belawan, Iptu AR Riza. (fac/saz)
DIRINGKUS:
Pelaku pencurian kendaraan bermotor saat diamankan bersama barang bukti di Mapolresta Deliserdang.
DIRINGKUS:
Pelaku pencurian kendaraan bermotor saat diamankan bersama barang bukti di Mapolresta Deliserdang.
LUBUKPAKAM, SUMUTPOS.CO – Hanya berselang 3 jam, Sat Reskrim Polresta Deliserdang berhasil menangkap Hendra Pratama (27), setelah mencuri sepeda motor milik korban, Jowanda Pratama (22), warga Dusun I Senayan, Kecamatan Seirampah, Kabupaten Serdangbedagai, Sabtu (11/7) lalu.
Korban Jowanda kehilangan sepeda motor Yamaha Nmax warna merah, dengan nomor polisi BK 296 XAZ dari tempat kerjanya di toko ponsel Xiomi Strore, Jalan Bakaranbatu No 9, Kecamatan Lubukpakam, Deliserdang.
Memanfaatkan kelegahan korban. Tersangka Hendra, warga Dusun II, Desa Jati Seronoh, Kecamatan Percut Seituan ini, pun mencuri sepeda motor korban dari parkiran toko tempatnya bekerja. Situasi toko saat itu, ramai pengunjung. Korban pun tak menghiraukan keberadaan kunci sepeda motornya yang terletak di atas meja.
Melihat ada kunci sepeda motor yang terletak itu, pelaku langsung mengambilnya, dan membawa pergi sepeda motor milik korban.
Korban tersadar sepeda motornya raib, setelah toko sepi pengunjung. Mengetahui kendarannya hilang dari parkiran, korban pun membuka rekaman CCTV toko, dan mengetahui ciri-ciri pelaku. Kemudian berbekal rekaman CCTV, korban membuat laporan ke Mapolresta Deliserdang.
Mendapati laporan pengaduan dari korban. Personel Sat Reskrim bergerak mengejar tersangka, yang diketahui keberadaannya di Jalan Karakatau, Kota Medan. Personel Sat Reskrim langsung mengamankan pelaku, bersama barang bukti Yamaha Nmax warna merah. Saat diamankan, pelaku telah membuka nomor polisi yang terdapat pada sepeda motor tersebut. Dan pelaku pun mengakui perbuatannya.
Kapolresta Deliserdang, Kombes Pol Yemi Mandagi, melalui Kasat Reskrim Polresta Deliserdang, Kompol Muhammad Firdaus, membenarkan telah mengamankan seorang pria berinisial HP, dalam dugaan tindak pidana pencurian sepeda motor.
“Kami telah mengamankan HP, terkait kasus tindak pidana pencurian sepeda motor. HP mencoba mengelabui petugas dengan membuka pelat nomor polisi pada sepeda motor curiannya, agar tidak terdeteksi,” ungkap Firdaus.
Lebih lanjut Firdaus mengatakan, tersangka HP dapat dijerat Pasal 363 dari KUHPidana tentang tindak pidana pencurian, dengan ancaman hukuman 9 tahun penjara. (btr/saz)