29 C
Medan
Tuesday, January 13, 2026
Home Blog Page 4342

Bekerja dari Rumah di Tengah Wabah Covid-19, Grab Bagikan 5 Tips Kerja Efektif dan Produktif

Seorang wanita memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan menggunakan aplikasi Grab di Smart Phone.(ist)
Seorang wanita memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan menggunakan aplikasi Grab di Smart Phone.(ist)
Seorang wanita memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan menggunakan aplikasi Grab di Smart Phone.(ist)
Seorang wanita memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan menggunakan aplikasi Grab di Smart Phone.(ist)

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Grab terus mengkampanyekan antisipasi dan pencegahan penularan virus corona atau Covid-19. Hal itu, dalam bentuk dukungan ke Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Daerah ‎yang mengimbau masyarakat bekerja dari rumah atau work from home (WFH).

Kemudian, ‎kian populer sejalan dengan arahan dari pemerintah untuk melakukan physical distancing demi melandaikan kurva penyebaran COVID-19 di Indonesia. WFH memang menjadi salah satu cara untuk memutus mata rantai penyebaran COVID-19 yang kini mencapai lebih dari 1.400 kasus positif di Indonesia.

Begitu juga, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumut menaikan status siaga menjadi tanggap darurat ‎berlaku hingga 29 Mei 2020, mendatang. Tidak dipungkiri bagi mereka yang menjalani seluruh kegiatan di rumah terutama dalam jangka waktu yang lama tentu akan timbul rasa bosan.

Menyikapi hal tersebut, Managing Director Grab Indonesia, Neneng Goenadi mengatakan bahwa bekerja dari rumah bukanlah hal yang mudah dan membutuhkan empati, kepercayaan dan kesiapan diri. Namun, harus dilakukan untuk mencegah diri terpapar virus mematikan itu.

“Kita tahu masa ini penuh dengan tantangan karena situasi serba tidak pasti dan menimbulkan tekanan bagi banyak orang. Grab berharap para pekerja yang diharuskan atau memilih untuk bekerja dari rumah dapat tetap bekerja secara optimal, produktif dan efektif demi kebaikan kita semua. Sebagai aplikasi serba bisa terkemuka di Indonesia, Grab ingin memberikan beberapa tips sederhana untuk menciptakan pengalaman kerja dari rumah yang lebih efektif,“ sebut Neneng, Kamis (2/4).

Neneng pun, membagai ‎tips ala Grab Indonesia untuk Kerja Efektif dari Rumah. Dimana mulai Hari dengan Benar. Hal ini termasuk mandi dan menggunakan baju kerja, walaupun tidak ada yang akan melihat. Anda juga bisa berjalan mengitari rumah untuk membuat seakan-akan mereka pergi bekerja. Anda juga melakukan hal ini setelah selesai bekerja pada sore hari.

Neneng mengungkapkan Jangan lupa untuk memulai hari dengan sarapan yang bergizi dan memastikan minum air putih yang cukup. “Ketiga kegiatan ini membuat kita sudah siap secara mental dan menyalakan ‘mode bekerja’ kita. Saat bekerja dari rumah, ‘mode bekerja’ ini sering hilang. Mereka yang biasanya bangun dan langsung bekerja biasanya akan sulit beradaptasi karena belum terhubung ke mode ini,“ jelas Neneng.

Berikutnya, ia mengatakan masyarakat perlu memiliki sebuah tempat tetap yang bisa membantu kita terus fokus bekerja. Cobalah bekerja di tempat yang sama setiap hari, misalnya di ruang belajar, dengan meja dan lingkungan yang mendukung pikiran Anda untuk bekerja dengan efektif. Tak kalah penting juga untuk memilih tempat yang paling nyaman dan jauh dari gangguan seperti suara TV, ruang main anak dan tumpukan barang yang berantakan.

“Tips berikutnya adalah atur jadwal kerja yang konsisten. Pastikan memiliki jam kerja yang konsisten dan teratur sehingga dapat membantu dalam mengatasi permasalahan susah untuk mulai bekerja atau susah untuk berhenti bekerja, serta membantu pikiran untuk lebih mudah berpindah antara ‘mode kerja’ dan ‘mode santai’,” jelas Neneng.‎

Kemudian, manfaatkan teknologi sebaik-baiknya terutama teknologi video conference yang mampu membantu kita dalam melakukan interaksi dengan orang lain dalam masa isolasi diri ini. Salah satu cara untuk memaksimalkan interaksi adalah dengan mengadakan pertemuan secara online dimana setiap orang menyalakan kamera mereka, sehingga setiap orang bisa melihat wajah dan ekspresi masing-masing peserta. Ini akan membantu meningkatkan hubungan emosional kita dengan orang lain.

Terakhir, jangan lupa jaga kesehatan dengan makan tepat waktu dengan gizi yang seimbang, minum air putih yang cukup dan jaga kebersihan. Selanjutnya Jika Anda sudah merasa lelah dan tidak bisa fokus, berhentilah sejenak. Ngobrol dengan keluarga, berjalan di halaman rumah, bermain dengan hewan peliharaan, sebelum kembali bekerja dan penting juga untuk atur waktu untuk berinteraksi dengan teman untuk berdiskusi mengenai hal lain di luar pekerjaan.

“Untuk pelanggan yang bekerja di rumah, Anda juga tetap bisa memanfaatkan rangkaian layanan dari Grab untuk memenuhi kebutuhan harian Anda; misalnya GrabFood untuk pemesanan makanan, GrabMart dan GrabFresh untuk berbelanja kebutuhan harian, serta GrabHealth untuk berkonsultasi tentang kesehatan,” kata Neneng.

Neneng menambahkan ‎bagi para mitra pengemudi, mitra pengantaran dan mitra merchant. Grab juga menyediakan rangkaian dukungan untuk membantu kesejahteraan mereka di tengah situasi ekonomi yang tidak pasti ini.

“Grab akan terus berupaya yang terbaik untuk melayani setiap orang dalam platform kami,” tandas Neneng.(gus)

Lagi, Warga Diimbau Tidak Mudik

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Kebiasaan jelang bulan puasa dan Idul Fitri, masyarakat selalu disibukkan dengan ritual mudik ke kampung halaman. Namun tahun ini, masyarakat diajak tidak mudik, baik dari kota ke desa maupun desa ke kota. Tujuannya, untuk mencegah penyebaran Covid-19.

“Tidak mudik lebaran, bukanlah berarti menghilangkan nilai-nilai ukhuwah lebaran. Yang terpenting adalah menambah nilai ibadah untuk menciptakan kemaslahatan jiwa bersama,” kata tokoh masyarakat Sumut, Dr H Nispul Khoiri, yang juga Ketua PW Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Sumut, kepada wartawan, Kamis (2/4).

Menurut Nispul, butuh kesadaran masyarakat untuk mematuhi imbauan tidak mudik, sebagai wujud perjuangan bersama melawan virus corona. “Pencegahan virus corona butuh andil masyarakat, seperti melakukan social distancing dan psychal distancing,” katanyan

Senada, tokoh agama Tuan Guru Batak, Dr Ahmad Sabbana Elrahmaniy Rajagukguk, mengajak masyarakat Sumut tidak mudik saat Idul Fitri 1441 H. Hal itu sebagai partisipasi memutus mata rantai penyebaran virus corona.

“Dalam waktu yang relatif singkat, puluhan ribu manusia meninggal dunia akibat virus ini. Oleh karena itu, saya mengajak seluruh masyarakat membantu pemerintah dan aparat negara, untuk menahan diri tidak mudik. Itu cara ampuh mengurangi jatuhnya korban corona,” ujarnya.

Menurutnya, khidmat puasa dan lebaran tidak akan berkurang jika pun tidak mudik ke kampung halaman. “Jadikan momen ini sebagai bentuk kasih sayang kita terhadap keluarga, dengan tidak menularkan virus,” tandasnya, sembari mendoakan semoga bencana ini cepat berlalu.

Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Sumut, dr Aris Yudhariansyah meminta masyarakat untuk disiplin menerapkan imbauan pemerintah. Menurutnya, menjaga kampung halaman tetap sehat, itu sangat penting.

“Masyarakat diimbau agar tidak mudik, karena virus corona berpindah karena dibawa manusia. Pergerakan manusia yang tidak terkendali dapat menimbulkan banyak permasalahan. Jadilah pahlawan. Lindungi diri anda, lindungi keluarga anda, lindungi tetangga anda, lindungi bangsa anda. Saya yakin, kami yakin, kita yakin pasti bisa melewati ini semua,” ujar Aris.

Bandara KNIA Tidak Tutup

Terkait pandemi Covid-19, sebagian counter dan kios di Bandara Kualanamu Deliserdang, telah tutup. Meski demikian, KNIA sebagai pintu gerbang pelabuhan udara di Sumut, tidak ikut ditutup.

PT Angkasa Pura II sebagai pengelola Bandara Kualanamu Deliserdang, menegaskan keputusan buka atau tutup bandara, adalah kewenangan Ditjen Perhubungan Udara Kemenhub.

“Dan belum ada informasi yang kami terima terkait penutupan KNIA akibat dampak corona. Kantor Cabang PT Angkasa Pura II (Persero) KNIA sebagai operator dan fasilitator di bandara, patuh dan tunduk dari aturan-aturan penerbangan yang ada di Kemenhub RI selaku regulator penerbangan sipil di Indonesia,” kata Executive General Manager Bandara KNIA, Djodi Prasetyo, Kamis (2/4).

Ia menegaskan, bandar udara merupakan obyek vital yang tidak hanya melayani penerbangan untuk penumpang, tetapi juga melayani angkutan kargo, logistik, dan pos yang dibutuhkan oleh masyarakat Prasetyo.

“Bandara juga mempunyai fungsi sebagai bandara alternatif (alternate aerodrome) bagi penerbangan yang mengalami kendala teknis maupun operasional, melayani penerbangan untuk penanganan kesehatan/medis (medivac evacuation) serta untuk penerbangan yang mengangkut sampel infection substance Covid-19,” katanya.

Ia menyebutkan, keputusan buka atau tutup bandar udara harus diperhitungkan secara matang oleh berbagai pihak, dengan juga melihat peran suatu bandara di suatu wilayah.

Dan sampai saat ini, KNIA masih beroperasi normal dalam melayani penerbangan. “Tetapi apabila ada kebijakan terbaru dari Kemenhub terkait operasional bandara, sudah pasti kami akan menjalankannya,” jelas Djodi Prasetyo. (ris/btr)

RSU Martha Friska Multatuli Jadi Rujukan Corona, Tampung Pasien Sedang & Berat

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Rumah Sakit Umum (RS) Martha Friska Multatuli, Medan, resmi dioperasikan menjadi rumah sakit rujukan pasien yang terpapar virus corona atau Covid-19 di Sumut, Kamis (2/4). Gubernur Sumut, Edy Rahmayadi, langsung meninjau proses pengoperasian rumah sakit, yang ditandai dengan simulasi penanganan pasien Covid-19.

Edy mengatakan, rumah sakit ini memiliki daya tampung 110 kamar pasien. Tenaga kesehatannya terdiri dari dokter spesialis, dokter umum, perawat, dan lainnya. Para tenaga medis tersebut telah diseleksi oleh tim Gugus Tugas Covid-19 Sumut, untuk menangani pasien Covid-19.

“Saya berharap tidak ada lagi pasien yang terpapar corona di tempat lain, karena rumah sakit ini dapat menampung mereka. Saat ini tersedia 110 kamar pasien,” ujar Edy.

Menurut Edy, RSU Martha Friska Multatuli diperuntukkan untuk pasien dengan indikasi kondisi berat dan sedang. Sementara pasien dengan kondisi ringan ditampung di RS GL Tobing, Tanjung Morawa, Deliserdang. “Para tenaga medis dan semua yang bertugas di dalam rumah sakit dilengkapi APD (Alat Pelindung Diri),” ucap Edy.

Edy mengatakan, saat ini pemerintah juga sedang menyiapkan RSU Martha Friska di Pulo Brayan Jalan KL Yos Sudarso. Rumah sakit ini juga sudah lengkap dengan APD, dan segera dioperasikan.

“Nantinya akan dibuka lagi 120 kamar di RS Martha Friska Brayan untuk menangani pasien kondisi sedang hingga berat. Total kamar yang tersedia di rumah sakit dan tempat lainnya mencapai 1.500 kamar pasien,” katanya.

Diutarakan Edy, pihaknya sudah memesan APD untuk rumah sakit rujukan pasien corona. Saat ini, APD dimaksud sedang dalam proses distribusi. “Rumah sakit dan tempat lainnya yang menjadi rujukan, nantinya akan dilengkapi APD yang dibeli secara impor dan sedang dalam proses menuju Indonesia. Sebab kita tahu banyak negara yang lockdown,” sebutnya.

Edy menambahkan, hingga sekarang sudah sekitar 23 Pasien Dalam Pengawasan (PDP) Covid-19 yang sembuh di Sumut. Hal ini berkat penanganan tenaga kesehatan yang merawat pasien dengan baik dan diberi vitamin yang cukup.

“Pada dasarnya virus corona ini menyerang paru-paru. Untuk itu, diminta kepada tenaga medis bisa menjaga kondisi pasien, agar berpeluang sembuh,” tandasnya.

Koordinator Medis dan Paramedis Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sumut, dr Restuti Hidayani Saragih SpPd, menuturkan, ruang isolasi di RSU Martha Friska Multatuli bertekanan negatif sesuai dengan standar pelayanan penyakit Covid-19. “Selain itu, terdapat fasilitas lainnya yang juga sesuai standar, di antaranya rontgen, ventilator, obat-obatan, dan sebagainya,” imbuh Restuti.

RS Sari Mutiara Belum Punya APD

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Sementara itu, RSU Sari Mutiara Medan yang juga menjadi rujukan evakuasi cadangan pasien Covid-19 di Sumut, hingga saat ini belum memiliki APD lengkap. Rumah sakit tersebut juga belum menerima alat tes cepat atau rapid test Covid-19.

Wakil Penanggung Jawab RSU Sari Mutiara Medan, dr Iskandar mengatakan, APD yang disediakan Pemprovsu ada enam jenis, yaitu baju (hasmet), masker, hand sanitizer, sepatu boot, kacamata pelindung dan penutup wajah. Namun baru sebagian APD yang diterima. “Dari enam APD itu, untuk RS Sari Mutiara belum lengkap,” ujarnya kepada wartawan, kemarin.

Iskandar mengaku, APD yang sudah diterima dari pemerintah yakni masker, baju, sepatu boot, dan hand sanitaizer. Sedangkan penutup wajah dan kacamata pelindung, pihaknya dapat bantuan dari pihak swasta. “Rapid test Covid-19 juga belum ada kami terima,” ucap dia.

Ia juga mengaku, tidak mengetahui alasan dari Pemprovsu memberikan APD ke pihaknya belum lengkap. “Mungkin karena kami sebagai rumah sakit evakuasi cadangan, makanya belum diberikan lengkap,” tanya Iskandar.

Menurutnya, meski RSU Sari Mutiara Medan sebagai rumah sakit cadangan penanganan Covid-19, tetapi pihaknya tetap membutuhkan APD sebagai standar operasional prosedur pelayanan pasien Covid-19. “Apabila si pasien terpapar virus, sudah pasti statusnya PDP dan dirujuk ke rumah sakit lain. Makanya, dalam kondisi seperti itu tenaga media kami juga perlu APD lengkap,” tukasnya.

Sebelumnya, Juru bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sumut, Mayor Kes dr Whiko Irwan menyatakan, Pemprovsu telah mendistribusikan ribuan APD dan rapid test Covid-19 ke kabupaten/kota se-Sumut. Diharapkan APD dan alat rapid test mampu mempercepat penanganan penyebaran dan pengendalian Covid-19 di Sumut.

APD tersebut adalah sebagian dari jumlah yang dipesan Pemprovsu. APD ini sudah didistribusikan ke kabupaten/kota dan rumah sakit rujukan seperti, RS dr GL Tobing, RSU Haji Medan, RSAL Komang Makes, RS TNI AU Lanud Soewondo, RSU Sari Mutiara dan RS Putri Hijau.

“Sampai saat ini baju coverall box ada 4.650 pieces, sarung tangan karet 4.650 pieces, sarung tangan trasti protect 10, helm 51, goggle (kacamata pelindung) 60, sepatu boot safety 597, masker tipe N95 50 pieces. Ini masih sebagian dari yang dipesan Pemprovsu, sisanya menunggu pengiriman dari produsen,” ujar Whiko, Sabtu (28/3) lalu.

Sementara itu, untuk alat rapid test sendiri sudah sampai di Sumut dengan jumlah 3.600 unit dan sudah didistribusikan ke rumah sakit rujukan. “Untuk rapid test Covid-19 juga sudah disebarkan ke kabupaten/kota dan rumah sakit rujukan dan beberapa daerah sudah melakukan tes dengan alat tersebut,” katanya. (ris)

JPS terhadap PHK Akibat Covid-19, Sumut Mendata 183 Ribu Pekerja Informal

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Kebijakan Presiden Joko Widodo untuk menyalurkan Jaring Pengaman Sosial (JPS) bagi masyarakat kelas menengah ke bawah terdampak pandemi Covid-19, salahsatunya bagi para pekerja yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) oleh perusahaan.

Pemerintah memutuskan, anggaran Kartu Prakerja dinaikkan dari Rp10 triliun menjadi Rp20 triliun, guna mengcover sekitar 5,6 juta pekerja informal, pelaku usaha mikro dan kecil. Penerima manfaat juga mendapat insentif pasca pelatihan Rp600 ribu, dengan biaya pelatihan Rp1 juta.

Lantas, berapa orang dari Sumut?

Kepala Dinas Ketenagakerjaan Sumatera Utara, Harianto Butarbutar mengatakan, pihaknya telah diminta pemerintah pusat untuk mengirimkan data seluruh pekerja di Sumut yang terkena PHK akibat pandemi Covid-19. Sehingga dapat dihitung berapa anggaran yang dibutuhkan sebelum diguyur ke Sumut.

“Ini program baru Kartu Kerja, namanya semacam BLT (Bantuan Langsung Tunai) kepada pekerja. Tapi pakai by name by address. Kalau dia pekerja formal, dia harus terdaftar di BPJS Ketenagakerjaan. Namun tidak tertutup kemungkinan juga untuk pekerja informal, misalnya driver transportasi online dan lainnya,” katanya kepada Sumut Pos, Kamis (2/4).

Karenanya, mulai hari itu pihaknya sudah mendata para pekerja untuk segera disampaikan ke pusat. “Nanti tim verifikatornya langsung dari Jakarta. Kami hanya mengirimkan datanya saja,” katanya.

Menurut asumsi Disnaker, para pekerja di kedua sektor tersebut berjumlah 183 ribu orang. Nantinya, data lengkap termasuk Nomor Induk Kependudukan (NIK) para pekerja ini akan dikirim ke Kemenko Perekonomian.

Adapun mekanisme pencairan program ini mirip dengan kartu Program Keluarga Harapan (PKH). “Pengambilannya bisa langsung melalui kantor pos. Bukan uang langsung. Apabila dia kerja di Medan, tapi KTP dia di Sergai, kita sarankan dia mengambil di Sergai,” katanya.

Secara teknis dan detil, pihaknya mengaku belum begitu memahami program baru ini. Kemenaker masih menggodok finalisasi program dimaksud. “Sejauh ini masih data yang mereka minta. Program ini salahsatunya untuk meredam supaya tidak ada penjarahan akibat dampak sosial corona. Sekitar Rp20 triliun dikucurkan ke seluruh Indonesia,” terangnya.

Bantuan melalui program ini juga akan diarahkan buat seluruh TKI yang baru pulang dari Malaysia. Sejak Januari 2020, TKI asal Sumut yang kembali ke kampung halamannya terhitung sebanyak 4.000-an orang.

“Kami tengah mendata para pekerja yang paling berdampak wabah ini di sektor pekerja formal yang terkena PHK. Data awal, yang paling terdampak adalah usaha perhotelan. Hotel tak laku sejak wabah ini terjadi. Lantas kemana pekerjanya itu,” terang dia.

Kemudian bidang usaha jasa seperti transportasi, ikut terdampak. Pihaknya akan bekerjasama dengan instansi terkait guna pendataan orang-orang yang bekerja di sektor ini.

“Sopir dan kernet transportasi ‘kan ikut berimbas juga. Bus mereka tidak jalan lagi saat ini lantaran tak ada penumpang. Begitu juga dengan karyawannya, paling tidak ada 10-15 orang. Ini perlu kita perhatikan juga,” katanya.

Utamakan Orang Miskin

Selain program pemerintah pusat, Pemko Medan juga berencana memberikan bantuan 1.000 ton beras kepada masyarakat terdampak Covid-19 di Kota Medan. Saat ini, Pemko sedang mendata penerima bantuan dan melakukan pengadaan beras.

“Insyaallah sudah fix 1.000 ton. Saat ini kita sedang mengadakan proses pembelian. Dinas Sosial juga sedang sibuk mendata masyarakat yang berhak mendapatkan bantuan,” ucap Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Medan, Endar Lubis, kepada Sumut Pos, Kamis (2/4).

Dikatakan Endar, masyarakat yang berhak mendapatkan bantuan harus memenuhi sejumlah kriteria. Karena bantuan beras terbatas. “Tidak mudah mendata penerima agar tepat sasaran, tapi kita upayakan secepatnya. Saat ini, belum bisa kita bilang berapa KK (kepala keluarga) yang akan diberi bantuan,” ujarnya.

Menurutnya, penerima bantuan beras diprioritaskan yang benar-benar miskin dan kesulitan menyambung hidup dalam kesehariannya. Berikutnya, masyarakat yang kesulitan bekerja atau tidak lagi bekerja karena pandemi Covid-19 ini. “Atau penghasilannya yang tidak lagi mencukupi kebutuhan hidupnya,” jelasnya.

Untuk penyaluran bantuan, pihaknya berkoordinasi dengan pihak kecamatan dan kelurahan di Kota Medan. “Soal teknis penyaluran, sedang kita bahas. Intinya, bantuan ini segera kita salurkan melalui setiap kelurahan,” tutupnya. (prn/map)

Work From Home terkait Covid-19, Kalangan Atas Stres, Kalangan Bawah Easy Going

Meningkatnya jumlah warga terpapar Coronavirus Disease (Covid-19), menyebabkan pemerintah memperpanjang masa tanggap darurat di berbagai wilayah di Indonesia, termasuk di Kota Medan. Masyarakat masih diwajibkan Work From Home (WFH). Penelitian memperlihatkan, efek WFH ini lebih rentan bagi masyarakat kalangan atas dibanding kalangan bawah.

PSIKOLOG Kota Medan, Irna Minauli MSi dari Minauli Consulting mengatakan, sebuah penelitian yang dilakukan di Amerika menunjukkan, meski WFH berdampak lumpuhnya perekonomian masyarakat kalangan kelas menengah ke bawah, tetapi ada yang menarik dari sikap mereka. Yakni lebih easy going menghadapi pandemi Covid-19 yang penyebarannya begitu cepat dan berpotensi mematikan bagi orang yang sistem imun tubuhnya rendah.

“Masyarakat kalangan menengah ke bawah lebih easy going, sehingga imun mereka lebih kuat dan lebih mampu bertahan di masa-masa sulit, dibandingkan masyarakat kalangan menengah ke atas. Karena easy going, hanya sedikit pekerja dari kalangan bawah yang WFH. Mereka tetap bekerja secara normal sementara masyarakat kelas menengah ke atas banyak yang bekerja di rumah,” kata Irna, kepada Sumut Pos di Medan, Rabu (2/4).

Dampaknya, tingkat kesejahteraan psikologis mereka yang ‘bekerja di rumah’ lebih buruk dibandingkan mereka yang bekerja secara normal. “Hasil penelitian ini sedikit menggelitik, namun sekaligus bisa membahayakan kebijakan pemerintah agar bekerja dari rumah dan di rumah aja,” ungkapnya.

Hal lain yang menarik untuk dikaji adalah, apakah ada hubungan antara WFH serta stay at home dengan menurunnya tingkat kesejahteraan psikologis?

Ternyata, lanjut Irna, sebagai mahluk sosial, orang yang bertemu rekan kerja menjadi suatu kebahagiaan sendiri. Sementara bekerja di rumah atau tetap tinggal di rumah, lebih mudah bosan dan jenuh, terlebih jika tidak banyak hal yang bisa dilakukan.

Kondisi ini rentan memicu perasaan kesepian, yang mengarah pada depresi. Di sisi lain, kecemasan yang berlebihan dapat menurunkan imunitas tubuh, sehingga lebih mudah terserang penyakit.

“Selain itu, kelompok sosial menengah ke atas tampaknya lebih concern dengan masalah kesehatan dan keselamatan dirinya, sehingga mereka lebih mencemaskan pandemi Covid-19. Sedangkan kelompok menengah ke bawah —seperti yang lebih banyak digaungkan—, lebih takut kelaparan daripada virus corona.

“Sikap easy going yang terkesan tidak peduli ini dapat memperbesar kemungkinan mereka terpapar virus. Namun sebelumnya mereka juga sering terpapar dengan berbagai kuman, sehingga mungkin tubuh mereka lebih tahan terhadap penyakit infeksi,” ungkapnya.

Oleh karena itu, banyak negara yang kemudian bersikap keras terhadap warga negaranya yang tidak peduli, dengan menerapkan berbagai sanksi. Secara kesehatan, ia menilai total lockdown adalah perlu. Namun kondisi perekonomian di Indonesia tampaknya tidak memungkinkan dilakukan lockdown. Karena penerapan lockdown yang terlalu lama dapat membahayakan kondisi psikologis manusia.

“Kurangnya pekerjaan yang sering dikaitkan dengan berkurangnya penghasilan, menjadi sumber kecemasan utama. Bagi kalangan menengah atas, keberadaan mereka di rumah saja membuat mereka tidak bisa melakukan banyak hal, yang sebelumnya biasa mereka lakukan,” tukasnya. (mag-1)

Cegah Penularan Covid-19, 9.589 Napi di Sumut Bebas, Tak Ada Koruptor

BEBAS Sebanyak 48 narapidana yang dibina di Lapas Klas 1A Tanjung Gusta Medan, mendapatkan kebebasan melalui program asimilasi dan pembebasan bersyarat terkait Covid-19, Kamis (2/4).
BEBAS Sebanyak 48 narapidana yang dibina di Lapas Klas 1A Tanjung Gusta Medan, mendapatkan kebebasan melalui program asimilasi dan pembebasan bersyarat terkait Covid-19, Kamis (2/4).
BEBAS Sebanyak 48 narapidana yang dibina di Lapas Klas 1A Tanjung Gusta Medan, mendapatkan kebebasan melalui program asimilasi dan pembebasan bersyarat terkait Covid-19, Kamis (2/4).
BEBAS Sebanyak 48 narapidana yang dibina di Lapas Klas 1A Tanjung Gusta Medan, mendapatkan kebebasan melalui program asimilasi dan pembebasan bersyarat terkait Covid-19, Kamis (2/4).

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Sebanyak 9.589 narapidana (napi) dari 39 unit pelayanan teknis (UPT) di Sumatera Utara, dibebaskan melalui program asimilasi dan pembebasan bersyarat terkait Covid-19. Keseluruhan napi yang dibebaskan termasuk dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas), Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA), dan Rumah Tahanan Negara (Rutan) di Sumatera Utara. Tak ada napi koruptor.

“Dari 9.589 orang napi yang bebas tersebut, sebanyak 5.102 orang telah menjalani setengah masa hukuman atau asimilasi per 1 hingga 7 April 2020. Sedangkan yang telah menjalani 2/3 masa hukuman atau Pembebasan Bersyarat, Cuti Bersyarat dan Cuti Menjelang Bebas (CMB), tercatat 4.487 orang,” ungkap Kepala Divisi Pemasyarakatan (Kadivpas) Kanwil Kemenkumham Sumut, Jahari Sitepu, kepada wartawan, Kamis (2/4).

Kebijakan pembebasan napi ini berdasarkan Keputusan Menteri (Kepmen) Nomor M.HH-19.PK.01.04.04 Tahun 2020, tentang pengeluaran Narapidana dan Anak melalui asimilasi dan integrasi. “Langkah yang dilakukan ini sebagai antisipasi penyebaran virus Corona atau Covid 19, mengingat kondisi sel tahanan yang over kapasitas dan sangat rawan bagi para wargabinaan bila terserang virus corona,” jelasnya.

Menurutnya, 39 UPT Lapas, LPKA, dan Rutan di Sumut semuanya over kapasitas. “Selayaknya dihuni 12.574 orang, namun kenyataannya dihuni 35.646, baik itu napi dan tahanan,” sebutnya.

Untuk napi yang bebas, karena telah menjalani setengah dari masa hukuman atau asimilasi, sebanyak 457 orang telah dibebaskan pada 1 April 2020. Para napi yang dibebaskan ini tetap dipantau Tim Kanwil Kemenkumham bersama Kejati Sumut. “Tidak perlu khawatir karena mereka telah melalui seleksi yang sangat ketat,” imbuhnya.

Menurutnya, napi kasus narkoba, teroris, perdagangan manusia, dan korupsi tidak termasuk dalam daftar 9.589 napi yang bebas. “Sejumlah napi koruptor masih dalam pengusulan (bebas), mengingat darurat wabah virus corona,” urainya.

Untuk mencegah penyebaran Covid-19, ia telah menginstruksikan lapas, rutan, dan lapas anak agar disemprot disinfektan, dan ada test suhu tubuh serta wajib mencuci tangan.

Terpisah, Kepala Lapas Klas IA Tanjung Gusta Medan, Frans Elias Nico, mengatakan lapas mendapat kuota 143 napi yang dibebaskan secara bertahap. Saat ini, sebanyak 48 orang napi telah dibebaskan, termasuk 5 orang melalui pembebasan bersyarat.

Menurutnya, pembebasan narapidana terkait surat edaran asimilasi dari Ditjen PAS, bukan hanya terkait dengan pencegahan virus corona. Melainkan karena Lapas Tanjung Gusta juga telah over kapasitas. “Karena satu kamar terlalu sempit, dikhawatirkan berdampak pada penularan,” katanya.

Di Rutan Tanjung Gusta Medan, saat ini terdapat 800 napi yang mendapatkan asimilasi atau bebas secara bertahap.

Napi Lapas Binjai Isolasi Mandiri

BINJAI, SUMUTPOS.CO – Napi bebas juga termasuk dari Lapas Binjai sebanyak 151 orang. Pembebasan diistilahkan dengan isolasi mandiri di rumah terkait Covid-19.

“Isolasi di rumah ini sesuai Keputusan Menkumham Nomor 10 Tahun 2020. Isolasi mandiri di rumah sebagai bentuk kemanusiaan dan mengantisipasi wabah Covid-19 agar tidak meluas. Sekaligus sebagai langkah menanggulangi kelebihan kapasitas di setiap Lapas maupun Rutan di Indonesia,” kata Kalapas Binjai, Maju Amintas Siburian, Kamis (2/4).

Pembebasan wargabinaan disaksikan Kepala Seksi Tindak Pidana Umum Kejaksaaan Negeri Binjai, Fahmi Jalil dan Jaksa Penuntut Umum, Linda.

Menurut Kalapas, meski dibebaskan, wargabinaan tersebut tetap diawasi petugas dari Badan Pemasyarakatan. “Mereka yang menjalani isolasi mandiri ini bukan langsung bebas. Tapi disesuaikan dengan regulasi secara bertahap. “Hari ini sebanyak 32 napi kita asimilasikan kembali ke rumah. Kriterianya, sudah menjalani hukuman minimal setengah sampai dua per tiga pada 31 Desember 2020. Itu untuk napi kasus pidana umum,” urai dia.

Sebelum dilepas menjalani isolasi di rumah, para wargabinaan mendapat pengarahan dari Kalapas. “Para wargabinaan diminta jangan keluar rumah dulu. Itu sebagai bentuk dukungan terhadap upaya pemerintah menangani wabah virus corona. Sepakat ya. Dan yang paling penting, jangan kembali melakukan tindak pidana,” pungkasnya. (man/ted)

Pasien Covid-19 Mulai Sembuh, Kasus Positif Tidak Naik, PDP Turun

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Sumatera Utara memiliki kabar baik terkait pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19). Hingga Kamis (2/4) sore, jumlah orang yang positif virus corona masih bertahan 30 orang, dengan rincian 3 orang meninggal dan 27 orang masih dirawat di rumah sakit rujukan. Jumlah ini sama dengan data Rabu (1/4). Dari 27 pasien positif yang dirawat, sebagian di antaranya mulai sembuh.

“PENDERITA positif Covid-19 masih tetap berjumlah 30 orang dari hari sebelumnya. Dari jumlah tersebut, 25 orang diketahui positif Covid-19 berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium dengan metode PCR (Polymerase Chain Reaction, Red). Sementara 5 orang menggunakan kreativitas,” ujar Jujur Bicara (Jubir) Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Sumut, dr Aris Yudhariansyah, dalam keterangan pers melalui video streaming, Jumat (2/4) sore.

Untuk diketahui, metode PCR adalah suatu metode pemeriksaan yang prinsip kerjanya mendeteksi bahan genetik spesifik di dalam virus. Saat sampel air liur/cairan pernafasan/tinja pasien sudah di laboratorium, peneliti mengekstrak asam nukleat (DNA dan RNA) yang menyimpan genom virus. Virus corona baru memiliki hampir 30 ribu nukleotida (blok bangunan DNA dan RNA). Tes PCR hanya menargetkan 100 nukleotida yang spesifik untuk virus corona, termasuk dua gen dalam genom virus corona. Sampel dianggap positif jika ditemukan dua gen ini.

Kembali ke dr Aris yang juga Sekretaris Dinas Kesehatan Sumut ini, pasien positif corona yang mulai sembuh, masih dalam perawatan. “Sejauh ini, kami belum menerima data pasien yang sudah sembuh setelah dinyatakan positif corona. Sebab seluruh pasien masih dirawat dan dan diisolasi di rumah sakit. Namun kemungkinan tak lama lagi kami akan mendapatkan jumlah pasien yang sembuh dari kasus positif,” katanya.

Adapun jumlah Pasien Dalam Pengawasan (PDP) di Sumut, berdasarkan data yang masuk hingga kemarin sore, jumlahnya telah berkurang menjadi 84 orang, dari sebelumnya 88 orang. Artinya, berkurang 4 orang PDP. “PDP mengalami penurunan 4,5 persen,” katanya.

Tentang jumlah PDP yang meninggal sebelum diketahui konfirmasi positif dan negatif, menurutnya, belum bisa disampaikan ke publik karena pihaknya masih terus melakukan pelacakan dan penyelidikan epidemiologi terhadap PDP dimaksud.

Sementara itu, jumlah Orang Dalam Pemantauan (ODP) meningkat menjadi 3.338 orang dari sebelumnya 2.970 orang. Atau naik 11 persen. ODP adalah orang yang dipantau karena baru pulang dari luar negeri atau kota yang terjangkit Covid-19, atau memiliki kontak dengan pasien positif corona atau PDP.

Tetap Jaga Jarak

Menurut Aris, penularan virus corona di masih terus terjadi akibat sejumlah orang masih mengamabikan imbauan untuk menjaga jarak kontak fisik. Kemudian, mencuci tangan pakai sabun belum dijalankan dengan baik.

“Kami berharap, kita semua bekerja sama dan mampu berperan aktif mencegah penularan virus corona. Dalam kaitan ini, mari kita lindungi orang-orang tua kita, orang-orang yang rentan karena memiliki penyakit dasar sebelumnya, agar tidak tertular. Karena dampaknya berat bagi mereka. Karena itu, kita harus tetap sehat. Jaga jarak aman fisik setidak-tidaknya 2 meter,” paparnya.

Dia menyatakan, sekitar 4.000 rapid test telah didistribusikan ke pemerintah kabupaten/kota dan rumah sakit di Sumut, sebagai upaya screening awal untuk memutus mata rantai penularan Covid-19. Bahkan, saat ini sudah memesan lebih kurang 36.000.

“Dari lebih kurang 4.000 rapid test yang telah didistribusikan, data yang masuk sama kami saat ini baru 5 orang yang terkonfirmasi positif dari rapid test tersebut. Jadi, yang lain mungkin masih dalam proses. Sedangkan spesimen-spesimen yang dikirimkan ke Jakarta, kami sudah mengirimkan lebih dari 100 spesimen beberapa waktu yang lalu untuk pemeriksaan swab menggunakan metode antigen PCR. Tetapi sampai hari ini kami belum dapat hasilnya. Mungkin lantaran banyak provinsi yang mengirimkan swab ke Jakarta,” kata Aris.

Selain rapid test, lanjut Aris, Alat Pelindung Diri (APD) juga telah didistribusikan ke rumah-rumah sakit untuk memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan. “Saat ini masih menunggu pesanan. APD yang telah dipesan salah satunya melalui Sritex di Solo. Dari 6.000 yang kita pesan, yang datang itu baru 2.000. Sisanya, dalam waktu dekat 4.000 sedang dalam perjalanan. Semoga segala sesuatu yang terkait dengan pengiriman APD dari Solo ke Medan tidak mengalami gangguan, sehingga bisa segera dan cepat kita distribusikan kepada rumah sakit yang membutuhkan,” aku Aris.

Ia mengimbau seluruh rumah sakit dan masyarakat di Sumut, agar lebih memperhatikan pengelolaan limbah serta sampah rumah tangga. “Limbah infeksius untuk perawatan ODP maupun PDP, seperti masker, sarung tangan, dan baju pelindung diri, bisa dikumpulkan dan dikemas sendiri menggunakan wadah. Selanjutnya dimusnahkan di tempat pengolahan limbah B3,” paparnya.

Sementara upaya mengurangi dampak timbunan sampah masker, masyarakat yang sehat diimbau menggunakan masker guna ulang yang dapat dicuci setiap hari. Jikapun menggunakan masker sekali pakai, diharuskan untuk merobek, memotong, atau menggunting, dan kemudian mengemasnya sebelum dibuang ke tempat sampah. Tujuannya untuk menghindari penyalahgunaan.

“Oleh sebab itu, kami berharap pemerintah daerah kabupaten/kota untuk menyiapkan tempat sampah masker-masker yang sudah tidak terpakai lagi di ruang-ruang publik,” imbuhnya.

Humbahas Miliki 2.300 OTG Covid-19

HUMBAHAS, SUMUTPOS.CO – Dinas Kesehatan Humbang Hasundutan (Humbahas) mencatat sebanyak 2.300 Orang Tanpa Gejala (OTG) Covid 19. Dari jumlah itu, sebanyak 12 orang telah selesai dipantau, dan 22 ODP.

“Data per 1 April sore, ke-2.300 orang tanpa gejala ini merupakan hasil pemeriksaan Dinkes di empat posko Covid 19 dan yang datang ke RS dan puskesmas, namun tidak ditemukan indikasi gejala Covid 19 berupa demam ataupun flu,” kata Kepala Dinas Kominfo Humbahas, Hotman Hutasoit, dalam keterangan persnya yang diterima, Kamis (2/4).

Sebanyak 12 orang di antaranya dinyatakan selesai pemantauan karantina mandiri selama 14 hari. Sisanya sebanyak 2.288 masih dalam pemantauan karantina mandiri. Di antaranya 436 warga Kecamatan Dolok Sanggul, 64 warga Kecamatan Baktiraja, 376 warga Kecamatan Lintong Nihuta, 534 warga Kecamatan Pollung, 176 warga Kecamatan Onan Ganjang, 174 warga Kecamatan Paranginan, 29 warga Kecamatan Sijamapolang, 253 warga Kecamatan Pakkat, 182 warga Kecamatan Parlilitan yang sebelumnya 194, dan 64 warga Kecamatan Tarabintang.

Sementara, 22 ODP memiliki riwayat perjalanan ke daerah yang terjangkit Covid 19, dan 1 di antaranya dinyatakan selesai pemantauan selama 14 hari. “Sampai saat ini kondisi mereka dipantau melalui via telepon,” terang Hotman.

Ke 22 orang ini, di antaranya 13 warga Kecamatan Dolok Sanggul termasuk yang selesai pemantauan 1 orang, 2 warga Kecamatan Lintong Nihuta, 3 warga Kecamatan Pollung, 1 warga Kecamatan Onan Ganjang, 2 warga Kecamatan Paranginan dan 1 warga Kecamatan Pakkat.

Ditanya tentang jenis kelamin orang OTG maupun ODP, Hotman mengatakan, informasi jenis kelamin tidak disebarkan.

Terkait jumlah ODP yang isolasi mandiri sekaitan PDP meninggal, Lestari boru Purba, Hotman menjelaskan, sebanyak 29 orang diisolasi mandiri selama 14 hari. Di antaranya 17 orang perawat/bidan, 2 dokter, dan 20 orang dari keluarga korban.

“Mereka dipantau melalui telepon, ditanya perkembangan kesehatan,” kata Hotman. (ris/des)