30 C
Medan
Thursday, January 29, 2026
Home Blog Page 4572

Turun dari Mobil Dinas, Akhyar Berwefie Ria bersama Camat, Kadis dan Warga di Seni Mural Medan Johor

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Usai menghadiri open house tahun baru Imlek di Jalan Ladang, Kelurahan Kedai Durian, Medan Johor dan beranjak pulang, Plt Walikota Medan Ir Akhyar Nasution seketika turun dari mobil dinasnya saat melintas di Jalan Besar Delitua/Brigjend Zein Hamid untuk melihat seni mural yang terlukis di dinding parit besar tak jauh dari kelenteng.

Di dampingi Camat Medan Johor, Zulfachri Ahmadi dan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Medan, Armansyah Lubis, Akhyar sangat bergembira dan mengapresiasi seni mural hasil swadaya masyarakat di Kelurahan Kedai Durian.

“Terimakasih kami ucapkan kepada seluruh aparatur, baik kecamatan, kelurahan, hari ini di Medan Johor tepatnya di Kelurahan Kedai Durian, Pak Lurah, Pak Kepling di bawah bimbingan Pak Camat telah membuat seni mural, sehingga menambah cantik Kota Medan,” ujar Akhyar, Jumat (24/1/2020) sore.

Manfaat cantik ini, sambung Akhyar, di samping indah dilihat, manfaat lainnya diharapkan ada tidak lagi yang berani mengotori wilayah ini.

“Kalau tidak cantik, malah jadi tempat sampah. Jadi kita menjaga kebersihan Kota Medan, salah satunya adalah dengan membuat cantik Kota Medan (seperti seni mural ini),” ujarnya.

Menurut Akhyar, seluruh kecamatan sudah bergerak dan sudah berbuat untuk mempercantik Kota Medan dengan cara seni mural.

“Tadipun di Denai sudah dibuat. Sekarang semua lingkungan sudah mulai buat mural-mural seperti ini dan semua ini adalah swadaya masyarakat. Saya ucapkan terimakasih untuk ini,” ujarnya.

Akhyar juga kembali mengucapkan terimakasih kepada Camat, Lurah dan kepala lingkungan yang telah berbuat untuk membikin cantik Kota Medan.

“Terimakasih ya Pak Lurah. Harapannya yok bikin cantik Kota Medan,” ucapnya kepada Camat Medan Johor dan Lurah serta Kepling.

Saat di lokasi, Akhyar juga sempat berbincang dengan kepling bahwa membikin cantik Kota Medan ini merupakan upaya agar semakin banyak orang yang datang ke Medan.

“Tentunya, dengan semakin banyaknya orang datang ke Medan, tentunya akan berdampak kepada perputaran ekonomi, orang belanja kemari. Tapi kalau Kota Medan jelek dan kotor, orangpun enggan untuk datang,” tandasnya.

Sebelum beranjak dari lokasi tersebut, Akhyar bersama Camat dan Kadis serta warga turut berwefie ria di seni mural bertuliskan Indonesia Satu Nusa Satu Bangsa dengan bermotifkan angkot dan Istana Maimun. (adz)

Kebersihan Jangan Didebat tapi Dikerjakan, Ini Pesan-pesan Akhyar Nasution di Masjid Al Ikhlasiyah

Plt Wali Kota Medan Akhyar Nasution menyerahkan bantuan kepada pengurus BKM Al Ikhlasiyah Jl Jermal XV Medan Denai.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Pelaksana Tugas (Plt) Wali Kota Medan Ir H Akhyar Nasution menyerahkan bantuan pembangunan untuk Masjid Al Ikhlasiyah di Jalan Jermal XV Gang Masjid Kecamatan Medan Denai, Jumat (24/1) siang. Dirinya berpesan agar soal kebaikan khususnya kebersihan tidak lagi jadi perdebatan, tetapi harus dikerjakan.

“Kehormatan bagi saya bisa hadir dan salat berjamaah di masjid ini. Bantuan ini adalah amanah dari rakyat untuk kita sampaikan kepada rakyat. Di tahun 2020, ini yang pertama kali. Jumlahnya memang meningkat dari tahun lalu, sebelumnya maksimal Rp40 Juta, sekarang Rp50 juta,” ujar Akhyar usai salat berjamaah.

Akhyar menyadari bahwa bantuan yang diberikan Pemerintah itu tidak bisa menyelesaikan pembangunan masjid secara menyeluruh. Namun ia yakin, setiap niat membangun rumah ibadah, pasti akan bisa selesai. Karena di dalamnya ada semangat meningkatkan ibadah.
“Ini sesuai rencana pemerintah, menjadikan Kota Medan religius. Semua warganya taat beribadah, mudah-mudahan. Jadi saya perhatikan, ini akan mudah selesainya,” sebut Akhyar.

Hadir pada agenda Safari Jumat tersebut diantaranya, Kapolsek Medan Area Kompol Faidir Chaniago, Danramil 03 dan tokoh masyarakat setempat. Sementara mendampingi Plt Wali Kota, hadir Kadis Pariwisata Agus Sutiyono, Kabag Agama Adlan, Camat Medan Denai dan Lurah se Medan Denai.

Selain soal pembangunan masjid, Plt Wali Kota juga menyampaikan perkembangan pembangunan Kota Medan yang tidak kalah dengan kota-kota besar di Indonesia, termasuk infrastruktur jalan. Hanya saja, yang masih menjadi persoalan diantaranya kebersihan, dimana diperlukan kesadaran tinggi seluruh warga untuk membuang sampah pada tempatnya.
“(Kebersihan) Itu didapat dari gotong royong. Kalau tempat sampah, saya yakin warga bisa swadaya menyediakannya. Tidak perlu mahal, yang penting tidak berserakan,” sebutnya.

Begitu juga keberadaan mural di sejumlah tembok. Menurutnya itu adalah satu cara agar orang enggan membuang sampah, khususnya di lahan kosong seperti pinggiran jalan tol. Karena itu, Akhyar terus mengingatkan warganya, untuk ikut menjaga kebersihan dan tidak perlu ribut.
“Dimana pun ini saya sampaikan. Jadi yang ini tak perlu didebatkan, tinggal kerjakan saja. Karena kalau sudah bersih, kan enak dilihat,” sebut Akhyar lagi.

Pesan berikutnya dari Akhyar adalah bagaimana menangkal bahaya narkoba di lingkungan masing-masing. Cara paling ampuh menurutnya, tingginya kesadaran diri, kepedulian kepada keluarga, tetangga dan lingkungan. Sebab, mengharapkan peran aparat hukum saja, tidak akan kuat.

“Kuncinya jangan pakai. Jaga diri, keluarga dan tetangga. Jangan pernah senang mendengar (kasus) begitu. Jangan juga merasa aman, belum tentu keluarga kita bisa dijamin. Kita harus jihad untuk ini. Menyelamatkan anak, bangsa dan umat dari kerusakan yang bersifat permanen ini,” jelasnya usai menyerahkan secara simbolis bantuan masjid kepada Ngadi selaku perwakilan BKM Al-Ikhlasiyah.

Soal menangkal bahaya narkoba jelas Akhyar, masyarakat harus menggunakan prinsip suplay and demand (penyediaan dan permintaan). Sehingga tidak perlu terlalu dipikirkan darimana dan bagimana masuknya narkoba ke tengah masyarakat. Tetapi bagaimana mengurangi ‘permintaan’.

“Nggak usah berdebat dari mana barangnya. Kalau tak ada yang beli, itu barang (narkoba) tidak akan laku. Jadi intinya, jangan pakai. Ini misi penyelamatan, untuk keluarga dan tetangga kita,” pungkasnya. (adz)

Demokrat Siapkan Burhanuddin, Meilizar, dan Parlaungan Sebagai Calon Wali Kota Medan

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Demokrat Sumatera Utara (Sumut) siap menyodorkan kader potensial yang dianggap dapat memajukan Kota Medan pada Pilkada Medan 2020. Tiga nama siap direkomendasikan ikut meramaikan bursa kontestan di antara para ‘jagoan’ yang sudah menge muka dari partai lain sejauh ini.

“Demokrat menganggap, Pilkada Medan 2020 secara politik tak mungkin kami sia-siakan. Momen ini tentu harus dimanfaatkan apalagi kita punya sejumlah kader militan dan potensial,” kata Plt Ketua DPD Demokrat Sumut, Herri Zulkarnain Hutajulu kepada Sumut Pos, Kamis (23/1).

Ketiga kader itu disebut Herri antara lain Burhanuddin Sitepu (Ketua DPC Demokrat Medan), Meilizar Latief (Sekretaris Demokrat Sumut), dan Parlaungan Simangunsong (Anggota DPRD Sumut), yang dianggap potensial untuk maju dalam kontestasi Pilkada Medan kali ini.

“Apakah dicalonkan sebagai wali kota, wakil wali kota ataupun bersanding dengan (calon) parpol lain, kami terbuka untuk itu. Jika ada calon wali kota yang meminang (kader/calon) dari kami, silahkan. Demokrat Sumut siap mengusung Burhanuddin Sitepu, Ibu Meilizar Latief, dan Parlaungan Simangunsong,” katanya.

Hemat dia, ketiga figur dimaksud sejatinya sudah memiliki kualitas dan familiar di tengah-te ngah masyarakat Kota Medan. Burhanuddin Sitepu misalnya, adalah anggota DPRD Medan aktif tiga periode. Burhan juga pernah menjabat wakil ketua DPRD Medan periode sebelumnya. Lalu Meilizar Latief, merupakan anggota DPRD Sumut dua periode (2009-2014 dan 2014-2019) serta sudah sangat dikenal di kalangan kaum perempuan Kota Medan.

“Sementara dari aspek pasangan pelangi, ada namanya Parlaungan Simangunsong. Inilah yang kami unggulkan, kader Demokrat yang militan dan kami siap dukung memenangkan ketiga sosok ini,” katanya.

Momen Pilkada Serentak 2020 ini, sambung mantan DPRD Medan dua periode terkhusus di Pilkada Medan, agar partai besutan Susilo Bambang Yudhoyono tersebut tidak sekadar menjadi penonton. “Jadi kalau parpol lain ingin berpasangan, pilihlah ketiga orang dari kami ini,” pungkasnya.

Burhanuddin Sitepu saat dikonfirmasi belum bersedia menanggapi wacana yang dihembuskan pimpinannya tersebut. Namun jika ada dukungan yang kuat dari partainya dan juga masyarakat Kota Medan, tentu dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan tersebut.

Sementara Parlaungan Simangunsong malah mendukung balik Herri Zulkarnain yang menurutnya lebih cocok diusung dari Demokrat. Ia menilai, sosok Herri sudah dikenal luas di kalangan masyarakat Kota Medan.

“Pak Herri itu secara pribadi sudah berhasil membangun dirinya. Dia dulu seorang satpam sampai akhirnya sukses sebagai pengusaha dengan membangun geliat ekonomi masyarakat khususnya di Kecamatan Medan Helvetia dan sekitarnya. Di organisasi dia juga telah menjadi pimpinan tinggi partai daerah. Semua aspek ini menurut saya sudah beliau miliki. Terlebih Pak Herri dapat berdiri di atas semua suku, agama dan golongan,” katanya. (prn/azw)

Rekrutmen PPPK Tahun 2020 Dibuka

DEMO: Massa Honorer dan K2 menggelar aksi demontrasi didepan Istana di Jakarta, berapa waktu lalu. Mereka menuntut diangkat men jadi PNS.
istimewa
DEMO: Massa Honorer dan K2 menggelar aksi demontrasi didepan Istana di Jakarta, berapa waktu lalu. Mereka menuntut diangkat men jadi PNS.
istimewa

JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Pemerintah bakal membuka rekrutmen PPPK (pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja) tahap dua. Tahap pertama sudah dibuka pada Februari 2019. Sekitar 51 ribu honorer K2 yang dinyatakan lulus dan saat ini menanti turunnya Perpres tentang Jabatan PPPK untuk persyaratan penetapan NIP.

“Insyaallah dibuka lagi tahun ini. Instansi pusat dan daerah bisa mengajukan usulan kebutuhan PNS dan PPPK,” kata Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN) Bima Haria Wibisana kepada JPNN.com, Kamis (23/1).

Dia mengungkapkan, masih ada kesempatan bagi honorer K2 terutama usia 35 tahun ke atas yang belum lulus untuk ikut tes PPPK. Jangan sampai kesempatan ini dilewatkan honorer K2.

Ditanya formasi apa saja yang akan dibuka, Bima mengungkapkan, masih sebatas pada guru dan tenaga kesehatan. Sedangkan tenaga administrasi sementara ini belum dibuka.

“Tenaga administrasi kita 1,6 juta orang. Jadi sudah kebanyakan, yang dibutuhkan sekarang tenaga teknis fungsional,” ujarnya.

Dia menegaskan, dalam rekrutmen PPPK tetap diberikan formasi khusus bagi honorer K2. Sebab, dalam PP Manajemen PPPK, masa transisi berlaku hingga 2023 sehingga honorer K2 tetap mendapatkan prioritas ikut tes.

“Tesnya enggak sulit kayak CPNS. Makanya dari sekarang persiapkan diri sehingga ketika dibuka rekrutmen sudah siap,” ucapnya.

Pernyataan ini senada dengan Deputi SDM Aparatur Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPAN-RB) Setiawan Wangsaatmaja ketika menjawab pertanyaan anggota Komisi II DPR RI dalam raker 20 Januari. Saat itu 90 persen anggota dewan meminta agar sisa honorer K2 yang belum diangkat PNS atau PPPK diperjelas statusnya.

Sesuai data base BKN 2018, jumlah honorer K2 sebanyak 438.590 orang. Kemudian dari jumlah itu yang lulus CPNS 2018 sebanyak 8 ribuan. Lulus PPPK 2019 sebangak 51 ribuan sehingga bila dikurangi totalnya kira-kira 379 ribu.

“Sisa honorer K2 silakan daftar PPPK yang tahun ini akan kami buka lagi,” tandasnya.(esy/jpnn)

Gerakan Sumut Mengajar Siap Berkolaborasi dengan Bobby

PENJELASAN: Bobby Nasution (kaos putih) memberikan penjelasan tentang konsep Kolaborasi Medan Berkah saat berdiskusi dengan para aktivis Gerakan Sumut Mengajar (GSM) di Warung Masbrow Kopi Jalan Asrama Medan, belum lama ini.
PENJELASAN: Bobby Nasution (kaos putih) memberikan penjelasan tentang konsep Kolaborasi Medan Berkah saat berdiskusi dengan para aktivis Gerakan Sumut Mengajar (GSM) di Warung Masbrow Kopi Jalan Asrama Medan, belum lama ini.
PENJELASAN: Bobby Nasution (kaos putih) memberikan penjelasan tentang konsep Kolaborasi Medan Berkah saat berdiskusi dengan para aktivis Gerakan Sumut Mengajar (GSM) di Warung Masbrow Kopi Jalan Asrama Medan, belum lama ini.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Hastag Kolaborasi Medan Berkah ala Bobby Nasution menjadi tagline yang mulai banyak dibahas di Kota Medan. Atas hal itu, kader Gerakan Sumut Mengajar (GSM) pun menyambut baik dan mengajak Bobby berdiskusi tentang hal apa saja yang bisa dikolaborasikan bersama saat bertemu di Warung Masbrow Kopi Jalan Asrama, Medan, belum lama ini.

Dalam pertemuan itu juga, mendiskusikan banyak hal, terutama persoalan sosial dan pendidikan Kota Medan. Ketua Umum GSM Fauza Qadriah mengapresiasi konsep kolaborasi yang digagas Bobby yang juga menyangkut program sosial dan pendidikan.

“Kalau programnya di bidang sosial dan pendidikan tentu saja kita setuju, bila berkolaborasi ke depan bisa terkonsep dengan baik,” katanya.

Fauza menerangkan GSM memiliki program di bidang pendidikan sosial, agama, ekonomi kreatif, serta lingkungan. “Gerakan Sumut Mengajar merupakan gerakan dan usaha untuk mengajak semua pihak, untuk ambil bagian menyelesaikan masalah pendidikan di Sumatera Utara. GSM juga wadah berkumpulnya semua mahasiswa yang punya cita-cita sama, yaitu ingin membenahi Sumatera Utara khususnya bidang pendidikan dan sosial,” ungkap Fauza.

Harapan mereka, semua lapisan masyarakat bisa bergerak dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. “Ini sesuai cita-cita bangsa kita juga,” ungkap Fauza.

Dalam kesempatan itu Fauza juga menjelaskan awal mula terbentuknya Komunitas GSM. Awalnya pada tahun 2000 komunitas itu bergerak pada bidang keagamaan saja. Namun dalam perjalanannya diperluas pada bidang sosial dan pendidikan.

Fauza mengatakan GSM merupakan salahsatu Program Pengabdian yang dilaksanakan Lembaga Pendidikan dan Dakwah (LPD) Ad-Dakwah Sumatera Utara. “Gerakan Sumut mengajar ini menyatukan lembaga hukum dengan LPD Ad-Dakwah agar tidak berpisah-pisah surat izinnya, maka LPD Ad Dakwah menaungi semuanya termasuk, taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah Menengah, dan Atas,” tukas Fauza.

Sementara itu, Bobby Nasution menjelaskan konsep Kolaborasi Medan Berkah. “Kolaborasi Medan Berkah sudah menjadi tagline kita. Diharapkan mampu menggaet komunitas dan kaum muda, dewasa, sebaya, teman semua etnis dan alim ulama untuk bersinergi bersama melakukan hal-hal baik, seperti sosial dan pendidikan,”ungkap Bobby.

Jebolan Pascasarjana Agribisnis IPB itu pun setuju dengan konsep pengentasan sosial dan pendidikan yang ditawarkan Komunitas GSM dalam perbincangan itu. “Saya sangat setuju sekali apa yang disampaikan oleh teman-teman. Pengertian kolaborasi teman-teman GSM dengan tagline kita juga hampir sama. Dari itu kita ingin mengkolaborasikan seluruh segmen yang ada, kita ingin mendengar dan nantinya bisa menjadi satu frekuensi serta bersama-sama berbuat,” ujar pria kelahiran Medan 5 Juli 1991 itu.

Menyoal pendidikan di Kota Medan, suami Kahiyang Ayu Siregar itu juga berencana membentuk sistem formal dan non formal, juga pendidikan karakter. “Salah satu contoh konsep kita yaitu socialpreneur. Jadi kaum milenial yang bergerak di bidang sosial dan pendidikan seperti Komunitas GSM bisa kita kolaborasi secara program,” pungkasnya. (ris/azw)

Buruh Sumut Kembali Tolak RUU Omnibus

TOLAK OMNIBUS LAW: Ratusan massa aksi yang tergabung dalam APBD Sumut kembali menyuarakan penolakan RUU Omnibus Law di depan Kantor Gubsu, Jl. Pangeran Diponegoro Medan, Kamis (23/1).
PRAN HASIBUAN/SUMUT POS
TOLAK OMNIBUS LAW: Ratusan massa aksi yang tergabung dalam APBD Sumut kembali menyuarakan penolakan RUU Omnibus Law di depan Kantor Gubsu, Jl. Pangeran Diponegoro Medan, Kamis (23/1).
PRAN HASIBUAN/SUMUT POS

SUMUTPOS.CO – Gelombang penolakan terhadap Rancangan Undang-Undang (RUU) Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja terus disuarakan kaum buruh Sumatera Utara.

“Jadi bisa dipastikan UU itu dibuat sembunyi-sembunyi agar buruh di Indonesia bisa kecelek (tiba-tiba disahkan). Tiba-tiba hak-hak kita yang diatur negara sebelumnya bisa dihilangkan atau dikurangi. UU itu juga dibuat untuk memanjakan investor kapitalis dan rakus di Indonesia kawan-kawan,” teriak Koordinator Aksi Aliansi Pekerja Buruh Daerah (APBD) Sumut, Natal Sidabutar dari atas mobil komando kala berunjukrasa di depan Kantor Gubsu Jl. Pangeran Diponegoro Medan, Kamis (23/1).

Hemat massa aksi, Omnibus Law adalah UU yang dibuat secara sembunyi-sembunyi. Hal ini dibuktikan sampai sekarang RUU tersebut tidak ada diterima kaum buruh se Indonesia. Sampai sekarang juga, kata mereka pihak kepolisian juga tidak mendapat draf RUU tersebut.

Masih dalam orasinya, Natal menyampaikan sejatinya investasi masuk ke Indonesia bisa melahirkan kesejahteraan pekerja buruh. Bukan malah menyengsarakan kaum buruh. “Kalau investasinya membuat kita tetap miskin, untuk apa investasi tersebut ada. Sekali lagi saya tegaskan, bahwa investasi itu harus sesuai pancasila keadilan sosial bagi rakyat Indonesia, bukan memperkaya investor dan elit kawan-kawan,” sambung dia.

Sekitar 15 menit berorasi, perwakilan massa aksi diterima pihak Pemprovsu. Dari pertemuan terungkap, Pemprovsu secara normatif hanya menyampaikan akan meneruskan segala tuntutan dan aspirasi massa APBD Sumut melalui gubernur kepada pemerintah pusat.

Aksi serupa sebelumnya mereka gelar di depan Gedung DPRD Sumut, Jl. Imam Bonjol Medan. Bahkan ratusan kaum buruh sempat memblokade jalan sehingga menyebabkan kemacetan arus lalu lintas. Kondisi serupa juga terjadi kala mereka berorasi di depan Kantor Gubsu.

Saking kerasnya penolakan terhadap regulasi tersebut, mereka menyingkat RUU itu dengan nama RUU Cipta Lapangan Kerja (CiLaKa). Mereka menilai, Omnibus Law Bidang Ketenagakerjaan atau RUU Cipta Lapangan Kerja yang sedang dirampungkan akan bertolak belakang dengan tujuan hukum Ketenagakerjaan itu sendiri. “Salah satunya untuk memberikan perlindungan kepada tenaga kerja dalam mewujudkan kesejahteraan dan meningkatkan Kesejahteraan tenaga kerja dan keluarganya, serta dapat dipastikan akan (mengurangi/memotong) hak-hak pekerja/buruh yang selama ini telah diatur dalam UU Ketenagakerjaan,” kata massa aksi.

Dijelaskannya, selama ini hak pesangon, jam kerja, outsourcing, tenaga kerja asing dan sanksi yang diatur dalam UU Ketenagakerjaan No.13/2003 beserta aturan turunannya menjadi faktor penghambat masuknya investor sehingga perlu dilakukan Perubahan dan atau penghapusan.

“Logikanya jika suatu aturan dianggap sebagai penghambat maka aturan tersebut akan direduksi (dikurangi) atau dihapus. Dengan demikian Omnibus Law yang sedang digodok dapat dipastikan akan mereduksi atau menghapus hak-hak pekerja/buruh, termasuk pengawasan dan sanksi pidana,” kata Sidabutar lagi.

Di sisi lain, ditengah pelayanan BPJS Kesehatan yang masih carut marut, pemerintah justru menaikkan iuran BPJS Kesehatan dengan dalih merugi. Namun anehnya, pemerintah justru menaikkan insentif bagi anggota direksi BPJS Kesehatan hingga mencapai besaran Rp32,88 miliar per tahun atau Rp342,56 juta per bulan/orang dan kenaikan insentif bagi Dewan Pengawas yang mencapai Rp17,73 miliar per tahun atau Rp211,14 juta/bulan/orang.

Berangkat dari kondisi tersebut, maka APBD-SU menyatakan sikap dan menuntut sebagai berikut: 1. Menolak Omnibus Law Bidang Ketenagakerjaan atau Undang-Undang Cipta Lapangan Kerja (UU CILAKA); 2. Bubarkan BPJS KESEHATAN karena telah gagal menjalankan amanah UU; 3. Segera tuntaskan kasus-kasus Ketenagakerjaan yang telah disampaikan/diadukan SP/SB ke Dinas Ketenagakerjaan Sumut dan/ atau ke Pengawas Ketenagakerjaan yang ada di Sumut; 4. Copot kepala dinas tenaga kerja Provinsi Sumut; 5. Ratifikasi Konvensi ILO No. 177 tahun 1996 Tentang Kerja Rumahan; 6. Agar Gubsu membentuk SATGAS Ketenagakerjaan yang terdiri dari unsur: Pemprovsu, DPRDSU, Disnaker Sumut, serikat pekerja/ serikat buruh, Poldasu dan Kanwil BPJS Ketenagakerjaan dan kejaksaan. (prn/btr)

Penyandang Disabilitas Daftar Calon PPK Medan

DAFTAR: Seorang penyandang disabilitas (tuna daksa) turut mendaftar sebagai calon anggota PPK (Panitia Pemilihan Kecamatan) di Kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Medan di Jalan Kejaksaan Kota Medan, Kamis (23/1).
DAFTAR: Seorang penyandang disabilitas (tuna daksa) turut mendaftar sebagai calon anggota PPK (Panitia Pemilihan Kecamatan) di Kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Medan di Jalan Kejaksaan Kota Medan, Kamis (23/1).
DAFTAR: Seorang penyandang disabilitas (tuna daksa) turut mendaftar sebagai calon anggota PPK (Panitia Pemilihan Kecamatan) di Kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Medan di Jalan Kejaksaan Kota Medan, Kamis (23/1).

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Seorang penyandang disabilitas atau berkebutuhan khusus (tuna daksa) turut mendaftar sebagai calon anggota PPK (Panitia Pemilihan Kecamatan) di Kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Medan di Jalan Kejaksaan Kota Medan, Kamis (23/1).

Kehadiran Elvina Dewi dengan berkebutuhan khususnya membawa berkas lengkap diterima oleh petugas KPU Medan di meja pendaftaran. Elvina bahkan sempat bertanya kepada petugas yang ada saat itu tentang boleh atau tidak orang sepertinya mendaftar sebagai calon PPK.

“Apakah seperti saya ini bisa mendaftar untuk jadi calon PPK,” tanya Elvina saat itu. Diketahui, penyandang tuna daksa adalah cacat gangguan gerak, struktur tulang bersifat bawaan.

Menyikapi hal tersebut, Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Medan, Agussyah R Damanik meyakini tidak akan menjadi halangan bagi penyandang disabilitas atau berkebutuhan khusus untuk mendaftar sebagai calon PPK.

“Untuk disabilitas atau berkebutuhan khusus tak menghalanginya untuk mendaftar. Intinya ada kesamaan hak dan kesetaraan menjadi penyelenggara pemilu,” sebut Agussyah didampingi koordinator divisi teknis Rinaldi Khair di ruang kerjanya.

Namun demikian, ujarnya, proses atau tahapan yang dilalui untuk menjadi petugas di PPK harus juga dilaluinya seperti pelamar lainnya.

“Jadi, proses itu juga harus dijalaninya, di situ akan terlihat motivasi dan kemampuannya,” ujarnya.

Di satu sisi, menurut Agussyah, dengan ma suknya orang seperti Elvina justru akan semakin mempermudah, karena mereka akan menjadi perpanjangan KPU pada kelompok tersebut.

“Untuk itulah, bagi kita disabilitas atau mereka yang berkebutuhan khusus ini tak meng ganggu akses untuk jadi penyelenggara,” tegasnya. Hal senada disampaikan Rinaldi Khair, bergabungnya mereka tidaklah menjadi persoalan, karena untuk menjadi penyelenggara itu syaratnya di antaranya adalah punya kecakapan atau kemampuan dalam bidang kepemiluan.

“Bahkan, pengalaman kita di Pemilu tahun 2019 kemarin, sebagai penyelenggara di KPPS ada kita libatkan dari penyandang disabilitas. Dari 6 orang yang mendaftar ada 4 nama masuk sebagai petugas KPPS,” ungkapnya.

Tidak hanya itu, papar Rinaldi, melalui proses rekrutmen di Pemilu 2019 itu, justru ada penyandang disabilitas atau berkebutuhan khusus ini menjadi ketua KPPS. Dari data yang ada pada Pemilu 2019 lalu, petugas KPPS berkebutuhan khusus ada di Medan Johor, Medan Petisah, dan Medan Helvetia.

Jadi menurutnya, menjadi penyelenggara pemilu itu hak setiap warga negara termasuk haknya penyandang disabilitas. “Semua warga negara punya hak yang sama, termasuk mereka para penyandang Disabilitas,” pungkasnya.(map/azw)

Peresmian Kantor Baru PT Indo Premier Sekuritas di Medan, Medan Jadi Pengembangan Bisnis

RESMI: Direktur IndoPremier, Alex Widi Kristiono bersama Kepala Bagian Pengawasan Pasar Modal OJK Kantor Regional 5 Sumbagut, Risca Bernadetta Pasaribu saat peresmian kantor IndoPremier Cabang Medan Jalan Iskandar Medan, Kamis (23/1).
BAGUS SP/Sumut Pos

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Perkembangan investor terus meningkat setiap tahunnya di Sumatera Utara. Desember 2018 yang lalu, tercatat ada 37 ribu investor. Tetapi, pad Desember 2019 terjadi pertumbuhan yang signifikan dimana jumlahnya menjadi 50 investor. Hal inilah yang membuat PT Indo Premier Sekuritas melirik Kota Medan untuk dijadikan pengembangan bisnis.

Direktur IndoPremier, Alex Widi Kristiono mengatakan secara keseluruhan Sumut juga sangat potensial untuk pengembangan bisnis investor. Meski pasar modal di Sumut terbanyak berasal dari Medan, diikuti Kabupaten Deliserdang, Kota Pematangsiantar, Kota Binjai dan Kota Tebing Tinggi.

“Karena perkembangan yang cukup bagus, sekaligus memberikan pelayanan yang maksimal kita menempati kantor baru,” ujarnya saat peresmian Kantor IndoPremier Cabang Medan di Jalan Iskandar Muda No. 47C Babura Medan,” ujarnya saat peresmian kantor tersebut, Kamis (23/1).

Sebelumnya, PT Indo Premier Sekuritas terletak di Gedung Uniplaza Lantai 3 West Tower Jalan MT Haryono Medan. Pemilihan kantor baru ini karena memiliki akses bagi nasabah dan masyarakat umum di Medan dalam investasinya. Ia menilai Kota terbesar nomor tiga di Indonesia memiliki potensi dalam pengembangan bisnis.

Alex menjelaskan dominasi golongan milenial di Medan menunjukkan bahwa anak muda Medan sudah makin sadar akan pentingnya investasi dan menjadikan pasar modal sebagai salah satu alternatif dalam berinvestasi.

“Salah satu hal yang kami percaya dapat mengoptimalkan dukungan tersebut adalah optimalisasi infrastruktur kantor dan kemudahan serta kenyamanan akses masyarakat ke IndoPremier. Oleh karena itu pada hari ini kami meresmikan kantor baru IndoPremier cabang Medan,” ungkap Alex.

Dengan kantor baru ini, Alex mengharapkan mampu mendongkrak kinerja didukung dengan fasilitas yang modern dengan tujuan memberikan pelayanan nasabah dengan baik dan profesional.

Kepala Kantor Perwakilan BEI Medan, Pintor Nasution mengapresiasi strategi pengembangan bisnis yang dilakukan IndoPremier Sekuritas. Ia berharap IndoPremier makin lari kencang dengan pembukaan kantor yang baru ini.

“IPOT menambah kemudahan akses kepada masyarakat untuk mengenal lebih dekat dengan Pasar Modal Indonesia dan IPOT Medan juga mendapatkan suasana kerja yang menyenangkan serta bisa lari kencang bersama-sama Kantor Perwakilan BEI Sumatera Utara,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Bagian Pengawasan Pasar Modal OJK Kantor Regional 5 Sumbagut, Risca Bernadetta Pasaribu mengatakan Kantor baru yang dekat dengan lingkungan Pasar Peringan ini dapat memberikan edukasi. “Saya berharap dapat meningkatkan literasi dan inklusi untuk masyarakat setempat,” tandasnya.

Selain itu diselenggarakan Investor Gathering IndoPremier Medan di Hotel Adimulia dengan narasumber Pakar Keuangan dan Investasi, Lukas Setia Atmadja yang akan mengulas topik Market Outlook dan Kepala Kantor Perwakilan BEI, Pintor Nasution.(gus/ram)

Pengamat Politik Sebut Akhyar Nasution Sederhana dan Dicap Manusia Pekerja

WAWANCARA: Plt Wali Kota Medan, Akhyar Nasution saat diwawancarai wartawan, beberapa waktu lalu.
Akhyar Nasution

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Memimpin pemerintahan sekaligus juga menyandang gelar sebagai politisi, nama Akhyar Nasution menjadi sosok yang saat ini dinilai sederhana. Selain berasal dari keluarga yang hidupnya juga sederhana, ‘kader tulen’ PDIP ini banyak dicap sebagai manusia ‘pekerja’.

Saat diwawancarai wartawan, pengamat politik dan pemerintahan, Shohibul Ansor Siregar menyampaikan bahwa nama Akhyar Nasution, dikenal berpikir praktis dan efektif. Bagaimana mendapatkan sesuatu tanpa harus menyusahkan orang lain. Meskipun Plt Wali Kota Medan itu, berangkat sebagai kader dari partai politik sejak puluhan tahun lalu.

“Ada politisi yang ketat, ada juga yang fleksibel. Beliau (Akhyar Nasution) ini ada di nomor satu. Karena sesungguhnya dia kan orang pekerja. Insinyur yang nasionalis dan religius. Itu dapat kita ketahui sejak beliau pernah menjadi anggota DPRD Kota Medan,” ujar Shohibul, Kamis (23/1/2020).

Dengan begitu, berangkat dari kesederhanaan hidup, Shohibul pun melihat bahwa cara memimpin seorang Akhyar Nasution lebih ke arah menyelesaikan tugas secara efektif dan efisien. Apalagi beberapa kolega dan teman-teman memandang Akhyar sejak dahulu sebagai orang/politisi yang jujur apa adanya.

“Dia ini kan selalu masuk di kepengurusan partai politik di hampir setiap tingkatan mulai dari bawah. Bahkan juga menduduki jabatan-jabatan strategis. Karena itu pula, kesetiannya di partai ini hampir dilihat sebagai nilai lebih,” jelas koordinator lembaga Pengembangan Basis Sosial Inisiatif dan Swadaya (nBasis) ini.

Pun begitu, Shohibul menilai, Akhyar sebagai politisi pekerja, nama Plt Wali Kota Medan itu menurutnya sudah banyak belajar dari pengalaman di partai politik, para kolega dan teman-teman yang selama ini memberikan masukan.

“Itu jugalah yang membuat namanya dikenal. Dia hampir tidak pernah membuat sesuatu yang buruk dan berpotensi merusak hubungan. Bahkan saat aktif sebagai Wakil Wali Kota, Akhyar juga seperti memahami bahwa kehadirannya untuk membantu atasan,” tambahnya.

Pendapat Shohibul itu pun kemudian dibuktikan dengan hubungan antara Akhyar dengan koleganya yang selama kepemimpinan sebagai Wakil Wali Kota, hampir tidak terdengar ada wacana ‘tak harmonis’ antara kepala daerah dan wakilnya.

“Yang pasti, dengan kesederhanaannya, Akhyar Nasution kini sudah belajar dari senior-senor dan pendahulunya. Seorang kader di partai Nasionalis, tetapi punya sisi religius yang tinggi. Secara politik agak kurang selaras memang, tetapi itulah Akhyar. Kader yang Nasionalis Religius,” pungkasnya. (adz)

Lima Nama Hakim Agung Pilihan Komisi III DPR

UMUMKAN: Ketua Komisi III DPR Herman Herry mengatakan 5 hakim agung baru hasil pilihan Komisi II.
istimewa
UMUMKAN: Ketua Komisi III DPR Herman Herry mengatakan 5 hakim agung baru hasil pilihan Komisi II.
istimewa

SUMUTPOS.CO – Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) memilih lima hakim agung, dua hakim ad hoc tindak pidana korupsi dan satu hakim ad hoc hubungan industrial. Keputusan diambil dalam rapat pleno Komisi III DPR, Kamis (23/1).

Para hakim agung pilihan Komisi III DPR adalah Susilo, Dwi Sugiarto, Rahmi Mulyati, Bursa, dan Sugeng Sutrisno. Dua hakim ad hoc tipikor adalah Agus Yuniarto, dan Ansori. Satu hakim ad hoc hubungan industrial adalah Sugiyanto. Para calon hakim agung itu sebelumnya sudah menjalani uji kepatutan dan kelayakan di Komisi III DPR pada Selasa (21/1) dan Rabu (22/1).

Ketua Komisi III DPR Herman Herry mengatakan, dalam pengambilan keputusan tentu ada dinamika dari masing-masing anggota maupun kelompok fraksi (poksi) tentang nama-nama calon hakim.

“Akhirnya kami memutuskan secara mufakatnya adalah kami memilih delapan calon (hakim),” kata Herman di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (23/1).

Herman mengatakan, ada dua calon yang ditolak. Menurut dia, penolakan itu terjadi karena hampir semua poksi yang ada di Komisi III DPR tidak menyetujui dua calon tersebut menjadi hakim. “Total seluruhnya delapan orang. Dua tidak disetujui,” ujarnya.

Politikus PDI Perjuangan itu menyatakan, calon hakim yang tidak disetujui Komisi III DPR adalah Sartono dan Willy Farianto. “Saya kira kami tidak perlu sampaikan alasan (kenapa) ditolak,” kata Herman. (cnn)