MEDAN, SUMUTPOS.CO – Tim Khusus Anti Bandit (Tekab) Polsek Medan Area menembak kaki kiri Wira Ananda (27) yang merupakan spesialis pembongkar rumah. Tersangka adalah warga Jalan Antara Gang Dame II No 21 Kelurahan Kota Matsum I, Kecamatan Medan Area.
Sebelum ditangkap dan ditembak pada bagian kakinya, tersangka sudah lima kali melakukan aksinya di wilayah hukum Polrestabes Medan.Terakhir, tersangka berhasil membongkar rumah toko (ruko) dan mencuri barang berharga milik Roesni Warga Jalan Sutrisno Simpang Jalan Amplas Kelurahan Sei Rengas Permata, Kecamatan Medan Area, Rabu (4/3) kemarin.
Dijelaskan Kapolsek Medan Area, Kompol Faidir Chan SH MH membenarkan perihal tersebut. “Benar. Tersangka diamankan lalu diberi tindakan tegas terukur dengan menembak kakinya karena melakukan perlawanan saat dibawa pengembangan kasus,” ujar Kompol Faidir, Minggu, (8/3).
Lebih lanjut dijelaskan mantan Kanit Jatanras Satreskrim Polrestabes Medan ini, saat beraksi, tersangka bersama empat orang rekannya berhasil menggondol pintu besi, mesin pendingin ruangan (AC) dan satu unit mesin pompa air milik korban.
“Nah, korban yang tidak terima kehilangan barang miliknya langsung melaporkan peristiwa tersebut ke Mapolsek Medan Area,” jelasnya.
Kemudian, Faidir menerangkan, personel Tekab Polsek Medan Area yang menindaklanjuti laporan tersebut memperoleh informasi tentang para pelaku.
“Selanjutnya, Panit Reskrim, Ipda PM Tambunan SH MH langsung menuju lokasi dan berhasil meringkus tersangka di seputar kediamannya,” terang mantan Kapolsek Pancurbatu ini.
Namun sayang, sebut Faidir, ketika dibawa pengembangan kasus, tersangka melakukan perlawanan sehingga diberi tindakan tegas terukur setelah tembakan peringatan yang diletuskan tidak diindahkan.
“Dari pengungkapan ini, kita berhasil menyita tali nilon sepanjang 4 meter dan sepeda motor yang digunakan tersangka dalam menjalankan aksinya,” sebutnya.
Usai diamankan dan dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara untuk mendapat perawatan medis, tersangka berikut barang bukti digelandang ke Mapolsek Medan Area untuk diproses.
“Akibat perbuatannya, tersangka dijerat dengan Pasal 363 KUHPidana,” pungkas mantan Wakapolsek Medan Timur ini seraya menambahkan rekan tersangka lainnya masih dalam pengejaran. (mag-1/btr)
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Seorang oknum wartawan terbitan media cetak di Medan RD dilaporkan warga Jalan Parkit 5 Perumnas Mandala Medan, Siharma Silalahi (50) ke Polsek Percut Sei Tuan dengan nomor laporan LP/528/K/III/2020/SPKT Percut.
Alasan Siharma melaporkan oknum wartawan itu karena yang bersangkutan menyerupai petugas kepolisian yang hendak menangkap pelaku kejahatan. RD diduga menodongkan senjata mirip pistol kepada Siharma di kawasan pasar Tradisional Pajak Enggang Jalan Enggang Raya, Perumnas Mandala.
Informasi diperoleh Minggu (8/2), RD dikabarkan tak sendirian. Dia me lakukan bersama tiga rekannya berinisial Ta, Da dan Ab, Senin (2/3) dini hari lalu sekitar pukul 05.00 WIB.
Atik, istri Siharma menjelaskan awalnya, suaminya lagi bertugas jaga malam di pasar tradisional yang berdekatan dengan kios mereka. Dan Atik tidur didalam kios itu. Kios itu jadikan untuk usaha warung kopi. “Kami baru sekitar 3 minggu berjualan dengan membuka warung kopi. Sekitar pukul 05.00 WIB . RD bersama tiga rekannya memaksa pintu kios dibuka,” ungkap Atik melalui sambungan seluler.
Kemudian, RD dan tiga rekannya bertanya kepada Siharma dan Atik tentang keberadaan Rizal, yang diduga pelaku pencurian di pasar tersebut. Lantaran tidak mengenal siapa Zal, keduanya menjawab tak tahu. “Kami enggak tahu pak, kok seperti ini cara bapak mencari seseorang. Lalu, dijawab mereka, ya kami cari maling,” terang Atik.
Lantaran dalam kondisi tanpa busana, pasangan suami istri (pasutri) itu langsung memakai pakaian. Saat mengenakan pakaian dua orang dari rekan RD masuk ke dalam kios .
“Dua orang itu merusak barang-barang yang ada, seperti televisi, dispenser, dan lainnya dengan cara dilemparkan keluar. Tak hanya itu, rolling door pasar juga dipukul-pukul mereka sehingga menimbulkan suara bising,” beber Atik.
Mendengar suara bising, suami Atik yang usai mengenakan pakaian langsung keluar dari kios dan mengejar dua rekan pelaku dengan maksud bertanya.
“Yang anggota polisi yang mana, siapa namanya. Wajar dong bertanya, kalau memang anggota polisi. Tapi, kalau anggota polisi cara kerjanya enggak arogan seperti itu. Jadi, saya pikir mereka itu seperti teroris lah,” papar Atik.
Ketika suaminya bertanya, RD berlagak seperti anggota polisi dan kemudian mengeluarkan senjata mirip pistol.“Pas suami saya bertanya, si RD langsung keluarkan senjata mirip pistol. Kenapa kau tanya-tanya, keberatan kau kami cari maling di sini. Kutembak kau, kutembak kau sampai berulang-ulang diucapkannya. Terus, ditodongkan senjata itu ke kepala suami saya,” jelas Atik.
Beruntung, saat kejadian itu ada teman suaminya di lokasi karena melihat terjadi keributan.“Langsung dilerai oleh kawan suami saya. Setelah itu, suami saya didorong dan dicekik hingga terjatuh. Tak hanya sampai disitu namun dipukuli bahkan diinjak-injak,” tegasnya.
Atik yang baru saja mengenakan pakaian dan langsung bergegas menuju lokasi keributan, terkejut melihat suaminya dianiaya. Secara spontan Atik berteriak histeris sembari berusaha menolong suaminya.
“Saya langsung histeris dan berusaha menolong suami. Akan tetapi, ditarik hingga ke kios saya. Setelah itu, enggak lama RD bersama rekannya langsung pergi meninggalkan lokasi,” katanya.
Tak terima, Atik melaporkan kejadian itu ke Polsek Percut Sei Tuan pada Senin siang. Namun, dengan alasan tidak sinkron laporan pengaduannya sehingga dicabut. Lantas, Kamis (5/3) suaminya membuat laporan ke Polsek yang sama dengan dilengkapi bukti visum dari rumah sakit.
“Kami tidak kenal dengan orang yang dicarinya, kenapa bertanyanya kepada kami. Apa yang dilakukan RD dengan membuka paksa rolling door sudah membuat malu kami. Karena saat itu kami sedang melakukan hubungan suami istri. Kami tidak terima diperlakukan seperti itu, lagian mereka bukan anggota polisi. Wartawan berlagak polisi sampai mengancam dengan menodongkan senjata (mirip pistol). Polisi aja tidak sampai segitunya,” sebut Atik.
Ia berharap polisi secepatnya menindak lanjuti proses hukum dan laporan suaminya itu dengan menangkap pelaku. Hal ini supaya tidak menimbulkan keresahan di masyarakat. “Kami berharap si RD dan kawan-kawannya cepat ditangkap. Kami yakin dan percaya polisi pasti memberikan keadilan hukum kepada masyarakat,” pungkasnya.
Sementara, Kapolsek Percut Sei Tuan Kompol Aris Wibowo yang dikonfirmasi wartawan membenarkan adanya laporan pengaduan tersebut. Kata Aris, laporan pengaduan itu masih dalam proses lebih lanjut. “Sementara masih dalam tahap penyidikan,” kata Aris singkat.
Terpisah, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sumatera Utara Sumut, Hermansjah menegaskan, kasus oknum wartawan yang diduga melakukan pengancaman dengan senjata mirip pistol harus diproses secara hukum. “Polisi harus secepatnya memproses secara hukum,” ucapnya.
Kata Hermansjah, seharusnya wartawan bekerja memberikan informasi kepada masyarakat bukan malah menebar rasa ketakutan dan menganggu Kamtibmas. “Sesuai tupoksinya berdasarkan Undang Undang Pers Nomor 40/1999, wartawan bertugas memberikan memberikan informasi serta mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara,” tegas Hermansjah sembari mengecam aksi koboi oknum wartawan yang telah menyalahi tupoksinya dalam bekerja seakan-seakan sebagai aparat. (ris/btr)
JASAD: Petugas kepolisian sedang memperiksa jasad Jujuaidi yang terbujur kaku karena dipukul pakai kayu, Minggu
(8/3).
JASAD: Petugas kepolisian sedang memperiksa jasad Jujuaidi yang terbujur kaku karena dipukul pakai kayu, Minggu
(8/3).
BELAWAN, SUMUTPOS.CO – Jujuaidi (72) penjaga tambak kepiting tewas dipukul pakai kayu saat berada di pondok dilokasi tambak, Canang Kering, Kelurahan Sicanang, Kecamatan Medan Belawan, Minggu (8/3) pukul 08.00 WIB. Pria tua itu warga Griya Martubung, Kelurahan Besar, Kecamatan Medan Labuhan.
Informasinya, tersangka pemukulan korban berinsial PS alias Lian. Dimana sebelum peristiwa pemukulan itu terjadi, tersangka mendatangi korban yang saat itu berada di pondok. Tersangka marah dengan korban yang telah melepas bubuh atau jaring kepiting yang telah dipasangnya di tambak yang dijaga korban.
Lantas korban menjawab, jaring itu telah dibukanya dan diserahkan ke rumah pemilik tambak. Mendengar itu, tersangka emosi memukul korban dengan tangan kosong. Perkelahian itu dilerai saksi Karnaen yang saat itu berada di pondok tersebut.
Tak puas memukul pakai tangan. Tersangka melanjutkan pemukulannya menggunakan kayu yang ada di lokasi. Tersangka langsung memukul kepala korban hingga terjatuh. Kemudian, tersangka kabur.
Karnaen melihat penjaga tambak itu jatuh, dan sudah tewas. Saksi Karnaen meminta pertolongan kepada warga, dan peristiwa itu dilaporkan ke Polsek Belawan.
Petugas yang datang ke lokasi melakukan olah TKP, sejumlah saksi dimintai keterangan berikut barang bukti diamankan. Untuk memproses kasus tersebut, petugas membawa jenazah penjaga tambak ke RS Bhayangkara Medan untuk divisum.
Kanit Reskrim Polsek Belawan, Iptu AR Riza mengatakan, pihaknya turun ke lokasi setelah mendapat informasi dari masyarakat, dari hasil keterangan saksi, korban dibunuh seseorang yang sudah diketahui identitasnya.
“Kakek ini sehari – harinya tinggal di pondok dan bekerja sebagai penjaga tambak. Korban sering melarang pelaku meletakkan bubuh kepiting di tempatnya bekerja dan setiap bubuh kepiting pelaku ditemukan diangkat korban dipindahkan ke pinggir jalan,” kata Riza.
Tersangka menghabisi korban menggunakan kayu yang dihempaskan ke leher korban hingga tersungkur dan tewas. Belum diketahui pasti motif tersangka menghabisi nyawa korban, dugaan sementara faktor sakit hati.
“Mungkin sakit hati, kita masih melakukan penyelidikan. Dan sudah kita kantongi identitas pelaku, saat ini masih kita lakukan pengejaran,” pungkasnya. (fac/btr)
FOTO BERSAMA: Anggota DPR RI dari Fraksi PKS, Hidayatullah yg juga Dewan Pembina Formad foto bersama pengurus Formad yang baru dikukuhkan.
FOTO BERSAMA: Anggota DPR RI dari Fraksi PKS, Hidayatullah yg juga Dewan Pembina Formad foto bersama pengurus Formad yang baru dikukuhkan.
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Forum Masyarakat Adat Deli (Formad) resmi dikukuhkan Sultan Deli XIV, Tuanku Sultan Mahmud Arya Lamantjiji Perkasa Alam, di Amaliun Food Court Jalan Amaliun, Sabtu (7/3). Dengan dikukuhkannya kepengurusan Formad ini, diharapkan dapat melestarikan adat dan budaya yang ada di Sumatera Utara.
Sultan Deli XIV berharap, pengurus Formad yang baru dikukuhkan dapat menjaga kebhinekaan yang ada di Kota Medan, karena Kota Medan merupakan kota yang multikultur atau terdiri dari banyak etnis, seperti Melayu, Jawa, Mandailing, Karo, Batak, Aceh, Nias, Tionghoa, dan lainnya. Sultan juga mendoakan agar Formad diberi keberkahan oleh Allah SWT.
Dalam kesempatan itu, Anggota DPR RI dari Fraksi PKS Hidayatullah SE yang diamanahkan sebagai dewan pembina, mengaku akan mendukung sepenuhnya program-program Formad. “Dalam kapasitas saya sebagai anggota DPR RI, banyak program yang dapat kita sinergikan,” katanya.
Sedangkan Ketua Formad, Tengku Muhammad Fauzi dalam sambutannya mengatakan, Formad adalah organisasi masyarakat yang tidak bersinggungan dengan suku dan agama apapun. “Justru kamilah penjaga adat Negara,” jelasnya. Hadir dalam acara ini Gubernur Sumut yang diwakili Asisten Administrasi Umum Pemprovsu, mantan Gubsu HT Erry Nuradi, Ketua DPRD Medan, kesultanan dari berbagai daerah termasuk utusan dari Aceh, dan lainnya.
Adapun susunan pengurus Formad yang dikukuhkan Sultan Deli XIV Tuanku Sultan Mahmud Arya Lamantjiji Perkasa Alam yakni Ketua T Muhammad Fauzi SKom, Wakil Ketua T Bobby Lesmana SE, Sekretaris OK Muhammad Mukhlis, Wakil Sekretaris M Zulfadhli, Bendahara OK Ardiansyah, dan Wakil Bendahara Wan Okri Ananda.
Sedangkan bidang-bidang yakni Bidang IT dan Humas T Adri, Bidang Kaderisasi dan SDM, T Moharsyah. Bidang Hukum dan HAM, T Fitri Yuvina MHum dan OK Dedek Kurniawan SH. Bidang Kesra Nurul Ilmi MH dan Abdul Aziz ST, dibantu pengurus lainnya. (adz)
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Pelaksana tugas (Plt) Wali Kota Medan, Ir H Akhyar Nasution MSi menjadi ‘fotografer keliling’di arena Car Free Day dan Kawasan Kota Tua Medan. Hal itu dilakukannya demi mengikuti perlombaan hunting foto keliling (Foto On The Spot) dalam peringatan hari ulang tahun (HUT) ke 16 Pewarta Foto Indonesia (PFI) Kota Medan.
Pemerintah Kota Medan sejak lima tahun silam rutin melaksanakan Car Free Day setiap hari Minggu. Pelaksanaan Car Free Day sering dijadikan para komunitas menjadi ajang berkumpul antar sesame komunitas, bersosialisasi tentang program social kemasyarakatan, olahraga, dan pertunjukkan. Beragamnya perkumpulan di tempat itu, membuat panitia HUT ke 16 PFI Medan tertarik menggelar lomba hunting foto dengan teman Foto On The Spot pada moment Car Free Day dan foto Kawasan Kota Tua Medan.
Lomba Foto On The Spot PFI Kota Medan dibuka Akhyar Nasution gelar pada Minggu (8/3/2020) di Jalan Pulau Pinang. Cara Akhyar membuka lomba hunting foto on the spot FPI Medan ini sangat berbeda, bahkan meninggalkan kesan bagi peserta lomba. Akhyar meminta seluruh peserta bergabung, dalam hitungan ketiga diambil fotonya dan disitulah tanda dibukanya lomba hunting foto ini.
“Saya bukanya dengan cara saya foto ya, satu, dua, tiga, jeprett. Lomba sudah dibuka, silahkan foto secantik-cantiknya Kota Medan,”katanya sambil mengarahkan kameranya mengabadikan moment foto Bersama peserta lomba foto di Jalan Pulau Pinang.
Kepada peserta foto, Akhyar mengatakan foto adalah menceritakan masa kini yang nantinya dapat diceritakan untuk masa yang akan datang. Fotografi adalah hobinya sejak masih usia sekolah dasar, dan dulu masa SD dan SMP pernah membantu orangtuanya menjadi foto keliling.
“Semua kawan-kawan (Pewarta Foto Indonesia), yok bikin cantik Medan. Kawan-kawan pewarta bisa menggambarkan bahwa Kota Medan ini sesungguhnya cantik, hanya saja kita belum mengeksplore secara keseluruhan,” jelasnya.
Di akhir kesempatannya, Akhyar mengucapkan terimakasih kepada PFI atas terselenggaranya kegiatan ini.
“Kalau ada kekurangan, akan kita perbaiki. Tapi sesungguhnya kota kita tidak kalah dengan kota-kota lainnya di Indonesia,” tandasnya.
Setelah para peserta berjalan hunting foto, AKhyar pun berjalan menyalurkan hobinya sejak Sekolah Dasar (SD) dulu, dengan memotret anak-anak muda dari komunitas parkour yang beratraksi di pintu utama Lapangan Merdeka. Dari sana, Akhyar berjalan menuju ke sisi Jalan Stasiun Kereta Api. Tapi, langkah Akhyar terhenti ketika melihat seorang ibu dengan 2 anaknya sedang asyik menggambar di dekat parkirnya mobil perpustakaan keliling.
Akhyar langsung mengarahkan kameranya dan membidik seorang anak laki-laki yang sedang ‘mencoret-coret’ kertas putih. Saat asyik mengambil foto, persis di belakang Akhyar, terdapat sekumpulan pelajar yang diketahui dari MTSN 4 Medan meminta Akhyar memfoto mereka. “Pak wali, foto kami lah pak, pak wali,” teriak salah seorang siswi.
Akhyar pun menoleh ke belakang dan langsung menghampiri. “Dari sekolah mana kalian?,” tanya Akhyar dan dijawab dari MTSN 4 Medan. “Fotolah kami pak,” ucap salah seorang siswi lainnya.
Usai mengambil foto para pelajar itu, siswi MTSN 4 Medan meminta Akhyar untuk foto bersama dan selanjutnya Akhyar kembali hunting foto untuk memeriahkan HUT PFI Kota Medan.
Berjalan menuju Jalan Ahmad Yani VII, Akhyar membidik sekumpulan komunitas sepeda dengan berlatar belakang Gedung London Sumatra (Lonsum). Lagi-lagi, kehadiran Akhyar mendapat perhatian dari warga yang asyik berolahraga.
“Ihh.. difoto kita ma Pak Akhyar. Makasih Pak, foto dulu kita Pak,” ungkap salah seorang komunitas sepeda Cluster Rumah Pondok, Surya.
Dari sana, Akhyar berjalan di Jalan A Yani VII dan sembari melihat kondisi kota tua yang sesungguhnya. Seketika Akhyar membidikkan kameranya ke arah drainase persimpangan Jalan Mesjid. Akhyar menoleh ke dalam parit dan melihat tiang listrik milik PLN berdiri tegak di dalam parit.
Tak hanya itu, Akhyar juga melihat pipa pembuangan yang terlalu panjang keluar yang dapat menghalau jalannya air. “Yang seperti ini yang gak boleh. Apalagi di depan Nomensen, ada 8 yang melintangin drainase kita di sana,” cetus Akhyar sembari mengajak untuk lebih peduli dengan Kota Medan.
Di dampingi Kepala Pariwisata Agus Suriyono, Camat Medan Barat Rudi Faisal Lubis dan Lurah Kesawan, Akhyar berjalan ke Gedung Waren Huis yang berada di Jalan A Yani VII persimpangan Jalan Hindu. Politisi PDI Perjuangan ini membidikkan kameranya di depan gedung swalayan pertama berdiri di Sumatera dan selanjutnya masuk ke gedung yang berdiri pada 1919. (adz)
Plt Wali Kota Medan Akhyar Nasution menghadiri Dialog Kerukunan dan Pembinaan Kelurahan Percontohan Kerukunan Umat Beragama (KUB) Kota Medan di Kantor Camat Medan Belawan, Jalan Cimanuk, Sabtu (7/3).
MEDAN,SUMUTPOS.CO – Pelaksana tugas (Plt) Wali Kota Medan Ir H Akhyar Nasution MSi membuka Dialog Kerukunan dan Pembinaan Kelurahan Percontohan Kerukunan Umat Beragama (KUB) Kota Medan di Kantor Camat Medan Belawan, Jalan Cimanuk, Sabtu (7/3). Tujuannya, guna menyamakan persepsi, tindakan, visi dan misi dalam menciptakan rasa aman, nyaman, rukun, dan tentram dalam kehidupan masyarakat Kota Medan khususnya di Kecamatan Medan Belawan.
Dialog kerukunan yang digelar Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Medan ini diikuti para tokoh pemuda serta tokoh lintas agama di Medan Belawan. Selain itu, unsur Muspika, Ketua FKUB Ilyas Halim, Camat Medan Belawan Ahmad, lurah dan kepling se-kecamatan Medan Belawan juga hadir dalam kesempatan tersebut.
Mengawali sambutannya, Akhyar lebih dulu mengucapkan terima kasih kepada semua stakeholder dan elemen masyarakat yang telah berperan aktif menciptakan kerukunan antar umat beragama. Apalagi bilang Akhyar, kerukunan menjadi hal penting yang harus tercipta dan terjaga demi stabilitas kota dan kenyamanan bersama.
“Alhamdulillah, selama ini Kota Medan dikenal sebagai kota multikultural yang harmonis. Multikulturalisme ini adalah kekayaan kita yang harus kita jaga bersama. Maka dari itu, toleransi, sikap saling menghargai dan menghormati harus senantiasa kita junjung tinggi,” kata Akhyar.
Problematika yang dihadapi saat ini lanjut Akhyar adalah merebaknya berita bohong atau hoax terutama di media sosial. Untuk itu, Akhyar berpesan kepada seluruhnya agar lebih bijak menggunakan media sosial serta mampu memilih informasi yang akan dikonsumsi agar tidak menjadi sumber gesekan di masyarakat apalagi yang menyangkut isu suku, agama, rasa dan antar golongan (SARA).
“Kecanggihan tekhnologi menjadikan informasi ada digenggaman kita. Namun, tidak semua informasi itu adalah benar. Maka sebaiknya kita lebih bijak dalam memilih berita dan informasi di media apalagi media sosial. Biasakan diri untuk saring sebelum di sharing. Sehingga tidak menjadi bias apalagi menjadi faktor keributan dan kericuhan,” pesannya didampingi Kabag Agama Setdako Medan Adlan.
Akhyar berharap esensi dari dialog kerukunan yang menghadirkan sejumlah narasumber dan membahas berbagai topik terkait ini mampu diresapi dengan sebaik-baiknya. “Semoga kita semua mampu menjadi peneduh dan pencipta kerukunan. Sebab, kita semua menginginkan ketenangan dan rasa aman dalam menjalankan keyakinan dan kepercayaan masing-masing. Medan adalah rumah kita, maka mari kita ciptakan, jaga dan rawat kekondusifannya,” bilangnya.
Sebelum mengakhiri sambutannya, Akhyar juga tidak lupa mengajak seluruh masyarakat untuk mendukung program Yok Bikin Cantik Medan. “Jika Kota Medan cantik, maka akan banyak yang datang untuk berwisata dan berbelanja. Kondisi ini tentu berimplikasi pada meningkatnya sektor perekonomian kota kita dan terciptanya lapangan kerja,” pungkasnya optimis seraya berpesan agar masyarakat tidak panik menghadapi wabah virus corona namun harus senantiasa waspada dengan selalu menjaga kebersihan diri dan lingkungan .
Usai dibuka, kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi dari narasumber yang dihadirkan. Salah satunya terkait stabilitas keamanan wilayah kecamatan Medan Belawan yang disampaikan dari perwakilan Polres Pelabuhan Belawan. Kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dan diskusi hingga dialog berakhir. (adz)
LATIHAN: Para penggawa PSMS Medan saat menjalani sesi latihan di Stadion Mini Kebung Bunga Medan, baru-baru ini.
LATIHAN: Para penggawa PSMS Medan saat menjalani sesi latihan di Stadion Mini Kebung Bunga Medan, baru-baru ini.
SUMUTPOS.CO – Usai PT Liga Indonesia Baru (LIB) merilis jadwal sementara Liga 2 2020, belum lama ini, Manajemen PSMS Medan mengaku masih keberatan. Karena, konsep draft jadwal tersebut dinilai sedikit kurang memihak ke PSMS, untuk putaran pertama.
“Berdasarkan draft jadwal putaran pertama, yakni 2 kali home dan selanjutnya langsung 3 kali away,” ungkap Manajer PSMS, Mulyadi Simatupang, baru-baru ini.
Atas hal tersebut, Mulyadi pun mengaku berencana mengajukan perubahan jadwal untuk skuad Ayam Kinantan agar lebih baik, pada manager meeting klub-klub Liga 2, Jumat (6/3).
“Tentu ini sangat kurang berpihak kepada kami. Menurut kami, langsung memainkan laga away 3 kali itu, sangat berat. Kami akan berupaya agar minimal 2 kali home dan 2 away,” harapnya.
Sebelumnya, Mulyadi sempat mengaku siap, terkait regulasi Liga 2 musim ini, meski format kompetisi sedikit berbeda dibandingkan musim sebelumnya. Sebab, seperti diketahui, format kompetisi musim ini tidak lagi memakai format babak 8 besar hingga semifinal. Di musim ini, juara masing-masing grup, baik wilayah barat maupun timur, berhak melangkah ke partai final, dan otomatis promosi ke Liga 1.
Sedangkan runner-up masing-masing grup berhak melaju ke babak play-off, sebagai ajang perebutan tiket terakhir promosi ke Liga 1.
“Kami siap saja bagaimanapun regulasinya. Karena kami sudah melakukan persiapan cukup lama. Dan dari sisi biaya, regulasi tahun ini sedikit menguntungkan, karena tidak ada babak 8 besar dan 4 besar,” pungkas Mulyadi. (isc/saz)
DEPAN: Bangunan RSUD Sidikalang tampak dari depan. dalam waktu dekat akan segera diangkat pejabat difinitif untuk menyelesaikan semua masalah di RS daerah ini.
RUDY SITANGGANG/SUMUT POS
DEPAN: Bangunan RSUD Sidikalang tampak dari depan. dalam waktu dekat akan segera diangkat pejabat difinitif untuk menyelesaikan semua masalah di RS daerah ini.
RUDY SITANGGANG/SUMUT POS
DAIRI, SUMUTPOS.CO – Sekretaris Daerah (Sekda) Dairi, Leonardus Sihotang mengatakan, dalam waktu dekat Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sidikalang akan diisi dengan pejabat difinitif, karena saat ini orang nomor satu di RS daerah ini masih dijabat Pelaksana Tugas (Plt).
“Bupati Dairi, Eddy Keleng Ate Berutu tidak mau mengisi posisi direktur rumah sakit dengan buru- buru. Mengingat selama ini, kondisi rumah sakit sangat memprihatinkan. Harus ada orang tepat mengisi jabatan direktur rumah sakit, sehingga perbaikan bisa dilakukan,” ujarnya.
Dijelaskannya, saat ini prinsip kehati-hatian dalam menentukan Direktur sedang dilakukan, sehingga penentuan direktur yang difinitif agak lama. Saat ini, sudah dibentuk tim penilai kinerja yang terdiri dari beberapa unsur, dan tahapannya sudah berjalan dalam penetapan kriteria direktur rumah sakit.
“Perbaikan pelayanan rumah sakit dan lainnya merupakan atensi dari bupati, sehingga proses rekrutmen seteliti mungkin. Jika salah menempatkan, tidak akan bisa menyelesaikan pokok persoalan di rumah sakit,” ungkapnya.
Menurutnya, persoalan RSUD Sidikalang sudah kompleks mulai dari pelayanan, motivasi kerja sudah turun. Sehingga membutuhkan figur yang betul- betul siap memperbaiki kondisi rumah sakit yang sudah buruk.
“Pencopotan direktur yang lama, untuk memperbaiki rumah sakit. Pencopotan direktur juga otomatis pencopotan kepala badan layanan umum daerah (BLUD). Saat ini, posisi direktur dijabat pelaksana, sementa kepala BLUD dalam proses penunjukan,” ungkapnya.
Dikatakan Leonardus lebih lanjut, bahwa sampai saat ini, tidak ada masalah pelaksana direktur RSU Sidikalang berlatar nontenaga medis. “Kalau ada masalah, sudah pasti disampaikan,” tutupnya. (rud/ram)
HUMBAHAS, SUMUTPOS.CO – DPRD Humbang Hasundutan (Humbahas) Provinsi Sumatera Utara diminta untuk memahami tugas dan fungsinya sebagai wakil rakyat. DPRD harus dapat duduk bersama dengan pemerintah untuk memahami fungsi masing-masing.
Pengamat pembangungan di Humbahas, M Roy Simamora mengatakan hal tersebut karena anggaran yang tidak berjalan, sehingga dana milyaran kembali ke pusat.
“ Tugas dan fungsi masing-masing lembaga sudah diatur dalam undang-undang. Jika sampai miliaran uang kembali kepusat, berarti permasalahaan yang muncul tampaknya karena kedua lembaga tidak mau memahami peran masing-masing,” ujar Roy.
Roy mengatakan, terkait anggaran miliaran rupiah yang kembali ke pusat dikarenakan keterlambatan penggunaan ataupun penyusunan anggaran, dan ini merupakan kesalahaan pemerintah. Namun, tetap DPRD juga disalahkan karena ada ruangan sebagai wakil rakyat berupa tugas dan fungsinya.
Roy mengatakan, seharusnya sebelum tahapan penggunaan anggaran berjalan maupun saat penyusunan anggaran, DPRD dan pemerintah saling melakukan koordinasi demi percepatan pembangunan Humbang Hasundutan.
Dan bukan merasa ada batasan-batasan dan keegoan dan pemerintah tidak akan merasa pekerjaanya diganggu oleh DPRD. “ Yang penting adalah memahami peran dan fungsi masing-masing,” ujar Roy.
Roy menuturkan, kembalinya anggaran ini ada dua hal alasannya, pertama dikarenakan proses pelelangan tidak berjalan sesuai aturan. Dari aturan itu, DPRD tidak memahami tugas dan fungisnya sebagai sifat pengawasan.
DPRD, kata dia, tidak mengawasi perkembangan penggunaan anggaran dengan cara mendampingi dinas terkait, semisal tahapan pelelangan proyek hingga pelaksanaannya.
Kedua, menurut dia, keterlambatan penyusunan anggaran dikarenakan DPRD tidak menunjukan fungsinya sebagai wakil rakyat dalam penyusunan anggaran. Seharusnya, DPRD menyurati pemerintah untuk tepat waktu penyusunan anggaran, jika tidak diindahkan maka harusnya dilaporkan ke Kemendagri. Untuk itu, Roy mengatakan, tugas dan peran masing-masing lembaga yang diatur dalam undang-undang. (des/ram)
Keterangan Pers: Pemerintah Tapanuli Utara saat memberikan klarifikasi terkait 3 warganya terjangkit virus Covid 19. Ketiga warga tersebut sedang dipantau di rumahnya hingga 16 Maret mendatang.
dedi gamael/sumut pos
Keterangan Pers: Pemerintah Tapanuli Utara saat memberikan klarifikasi terkait 3 warganya terjangkit virus Covid 19. Ketiga warga tersebut sedang dipantau di rumahnya hingga 16 Maret mendatang.
dedi gamael/sumut pos
TAPUT, SUMUTPOS.CO – Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara menegaskan, tiga warganya yang sempat menjadi perbincangan di media sosial negatif terjangkit virus Coid 19. Saat ini, ketiga pasien tersebut sedang menjalani karantina di rumahnya hingga 16 Maret mendatang.
TAPUT- Direktur RSUD Tarutung, dr Janri Aeoyogie Nababan menyatakan ketiganya pasien tersebut merupakan keluarga. Salah satunya ditemukan infiltrat atau gambaran infeksi paru.
“Tapi dalam kesimpulan sementara, setelah dilakukan pemeriksaan darah dari salah satu ketiga warga ini negatif,” ucap Janry saat menggelar jumpa pers di kantor Sekretariat Daerah (Sekda) Bagian Kehumasan Tapanuli Utara, Kamis (5/3).
Janry mengatakan, ketiga pasien tersebut berjenis kelamin perempuan adalah PS (62), KRH (26) dan RH (42), akhirnya diisolasi di rumah mereka dengan masa rentangnya berlangsung hingga 16 Maret 2020.
“Mereka menjalani isolasi dan pemantauan d rumah mereka,” ujar janry.
Janry menuturkan, diketahuinya dugaan itu, berawal dari dari salah satu ketiga warga ini mendatangi pihak RS dan mengadukan bahwa dirinya sempat berada di Singapura. Akhirnya, pihaknya melakukan pemeriksaan lebih lanjut ikut bersama kedua keluarganya itu.
“Kitapun langsung melakukan penyelidikan dengan pemeriksaan ke RSU Tarutung sebagai tempat rumah sakit yang sudah dirujuk oleh Kementerian Kesehatan,” timpal Kepala Seksi Surveilen dan imuniasi Dinas Kesehatan, dr Rustam Simbolon.
Dari pemeriksaan itu,sambung Janri, ketiganya dinyatakan negatif, selanjutnya dilakukan observsi dengan isolasi ditempat tingalnya selama 14 hari yang berakhir pada 16 Maret kedepan.
“ Kita juga akan melakukan pemantauan per 8 jam agar kita mengetahui perkembangan kondisi para pasien,” jelas Janry.
Sementara, Kepala Bagian Protokoler dan Komunikasi Setdakab Tapanuli Utara, Donna Situmeang menegaskan, bahwa pihaknya sudah melakukan sesuai SOP terkait ketiga warga tersebut yang sebelumnya beredar isu ditengah masyarakat sudah terjangkit virus Covid 19.
“Jadi supaya tidak ada simpangsiur ditengah masyarakat, bahwa tidak benar ketiga warga kita terjangkit setelah kita lakukan pemeriksaan. Kita minta masyarakat Tapanuli Utara untuk tidak panik dan seluruh pihak juga kita minta tetap menghargai privasi para saudara-saudara kita ini sehingga tidak memperkeruh suasana,” imbuh Donna. (des/ram)