26 C
Medan
Saturday, January 31, 2026
Home Blog Page 4611

Kasus Palsukan Surat Tanah, Apriliani Dituntut 2 Tahun Penjara

PALSU: Apriliani terdakwa kasus pemalsuan surat tanah menjalani sidang tuntutan, Selasa (14/1).
PALSU: Apriliani terdakwa kasus pemalsuan surat tanah menjalani sidang tuntutan, Selasa (14/1).
PALSU: Apriliani terdakwa kasus pemalsuan surat tanah menjalani sidang tuntutan, Selasa (14/1).

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuntut terdakwa Apriliani dengan pidana selama 2 tahun penjara. Dia dinyatakan bersalah, melakukan perbuatan pemalsuan surat tanah seluas 14.910 m2 diatas akta autentik.

Dalam nota tuntutan Jaksa Randi Tambunan, terdakwa terbukti melanggar Pasal 263 ayat (1) KUHP.

“Meminta kepada mejelis hakim yang menyidangkan, menuntut terdakwa Apriliani selama 2 tahun penjara,” ucapnya.

Dalam pertimbangan Jaksa, hal yang memberatkan, perbuatan terdakwa merugikan saksi korban, Anto dan Lina. “Sedangkan hal yang meringankan, terdakwa bersikap sopan,” kata Jaksa.

Usai pembacaan tuntutan, Hakim ketua Tengku Oyong mempersilahkan penasihat hukum terdakwa melakukan pembelaan (pledoi).

“Iya yang mulia, kami akan melakukan pembelaan minggu depan,” tandasnya.

Terpisah, Akhyar Idris Sagala selaku kuasa hukum korban sedikit kecewa dengan tuntutan 2 tahun yang diberikan Jaksa kepada terdakwa. Namun begitu, dia berharap agar hakim menghukum berat terdakwa.

“Karna kerugian korban miliaran rupiah, agar hakim menghukum lebih berat lagi dari tuntutan jaksa. Belum lagi korban lainnya,” tandasnya.

Sebelumnya, kasus ini bemula saat Ng Giok Lan (ibu kandung terdakwa Apriliani) mempunyai warisan tanah yang terletak di Jalan Pancing II Lk II Kelurahan Besar d/h Kampung Besar, Kecamatan Medan Labuhan seluas 14.910 M2.

Terdakwa Apriliani menjual tanah tersebut dasar Surat Keterangan Hak Warisan Ahli Waris Kelas Satu Nomor: 12/NI/N-SKHW/III/2014 tanggal 17 Maret 2014 bertalian dengan Surat Keterangan No 470/971/RP-II/2014 tanggal 19 Februari 2014.

Akibat perbuatan terdakwa, kedua korban merasa keberatan dan melaporkannya ke Polda Sumut. Perbuatan terdakwa diatur dan diancam pidana melanggar Pasal 385 ke-1 KUHP subsider Pasal 263 ayat (1) KUHP. (man/btr)

Anggota DPR RI Daftar Ketua PSMS

TERIMA: Ketua Tim Penjaringan Suherman, menerima berkas pendaftaran Husni Mustafa, yang diserahkan Nyana Pran, dan klub pendukung.
TERIMA: Ketua Tim Penjaringan Suherman, menerima berkas pendaftaran Husni Mustafa, yang diserahkan Nyana Pran, dan klub pendukung.
TERIMA: Ketua Tim Penjaringan Suherman, menerima berkas pendaftaran Husni Mustafa, yang diserahkan Nyana Pran, dan klub pendukung.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Anggota DPR RI M Husni Mustafa mendaftarkan diri menjadi calon Ketua Umum PSMS Medan Periode 2020-2024. Berkas pendaftaran Husni diserahkan perwakilan klub pendukungnya, Selasa (14/1) pagi. Husni mendaftarkan berkas diwakili Nyana Pran (POR Darma Putra), didampingi Yongki Haurisa (Volta), Syahrizal Hasan (Volta), dan Zulkifli (Kurnia). Berkas tersebut diterima Ketua Penjaringan Suherman, bersama Sari Azhar Tanjung.

Nyana mengatakan, dia mewakili menyerahkan berkas pendaftaran, karena Husni sedang berada di Jakarta.

“Tapi Husni memastikan akan maju sebagai Calon Ketua Umum PSMS pada Rapat Anggota Biasa nanti,” ungkap Nyana.

Nyana menambahkan, Husni mendaftar dengan membawa dukungan 3 klub, yakni Kurnia FC, PS Volta, dan POR Darma Putra. “Persyaratan memang hanya satu dukungan, tapi kami bawa 3,” bebernya.

Husni bukan sosok asing bagi PSMS. Sebelumnya dia sempat menjadi pengurus Ayam Kinantan, meski pada akhirnya mengundurkan diri.

Ketua Tim Penjaringan, Suherman mengatakan, Husni mendaftar dengan didukung 3 klub. Pihaknya akan melakukan verifikasi berkas dukungan tersebut.

Suherman menjelaskan, pendaftaran berakhir pada Selasa (14/1) hingga pukul 24.00 WIB.

“Menurut informasi yang saya peroleh, bakal ada lagi calon yang mendaftar. Siapa sosoknya, mari tunggu sama-sama,” imbaunya.

Setelah pendaftaran ditutup, pihaknya akan melakukan verifikasi berkas. Kemudian tim penjaringan akan memutuskan siapa yang berhak bersaing menjadi Ketua Umum PSMS pada RAB nanti. (dek/saz)

Edy Rahmayadi Cup Siap Digelar, PSMS Tak Muluk-muluk

TIBA: Tim Penang FA tiba di Kualanamu International Airport, Deliserdang, Selasa (14/1). Hal ini untuk memenuhi undangan PSMS Medan mengikuti Edy Rahmayadi Cup.
TIBA: Tim Penang FA tiba di Kualanamu International Airport, Deliserdang, Selasa (14/1). Hal ini untuk memenuhi undangan PSMS Medan mengikuti Edy Rahmayadi Cup.
TIBA: Tim Penang FA tiba di Kualanamu International Airport, Deliserdang, Selasa (14/1). Hal ini untuk memenuhi undangan PSMS Medan mengikuti Edy Rahmayadi Cup.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Turnamen Internasional Edy Rahmayadi Cup 2020, siap digelar di Stadion Teladan Medan, pada 16-19 Januari mendatang. Ada 2 tim asal Malaysia Felda United dan Penang FA yang sudah berada di Kota Medan, Selasa (14/1).

Bahkan, Felda United dan Penang FA, sudah melakoni latihan di Stadion Mini Kebun Bunga Medan, Selasa (14/1) sore.

“Ya, Felda dan Penang sudah latihan di Kebun Bunga,” ungkap Ketua Panitia Edy Rahmayadi Cup 2020, Julius Raja, Selasa (14/1).

King, sapaan karib Julius Raja, menjelaskan, turnamen ini diikuti 4 tim. Selain PSMS, Felda, dan Penang, juga ada tim asal Kamboja, Boeung Ket. Ketiga tim asing ini, merupakan peserta kasta tertinggi di negaranya.

Penang dan Felda duluan tiba di Kota Medan. Sedangkan Boeung Ket, tiba di Kota Medan pada Selasa (14/1) malam.

“Kami siap menggelar turnamen ini, dan memberikan hiburan kepada masyarakat Medan,” sebut King.

King juga mengungkapkan, pihaknya sudah mencetak tiket pertandingan.

“Kami berharap, masyarakat Medan datang ke stadion untuk menyaksikan pertandingan ini,” ajaknya.

Sementara itu, Pelatih PSMS, Philip Hansen mengaku, antusias menghadapi turnamen ini. Dia senang karena lawan yang dihadapi merupakan tim kasta tertinggi di negaranya.

“Ini merupakan pengalaman bagi para pemain PSMS. Jarang-jarang mereka bisa bertanding melawan tim luar negeri,” katanya.

Pelatih berusia 51 tahun ini, tidak memiliki target muluk-muluk pada turnamen tersebut. Dia hanya ingin melihat kelemahan timnya.

“Kami tidak memiliki target muluk-muluk. Hanya ingin melihat kemampuan pemain,” sebut Philip.

Hingga saat ini, PSMS baru mengontrak 7 pemain. Philip pun bakal menjadikan turnamen ini sebagai ajang penentuan.

“Setelah turnamen ini, kami akan lihat siapa yang layak dikontrak,” pungkasnya. (dek/saz)

Man UTD vs Wolves, Peluang ke Ronde 4

ANCAMAN: Marcus Rashford dan Anthony Martial bakal menjadi ancaman bagi Wolves pada putaran ketiga Piala FA 2019/2020 di Stadion Old Trafford, Kamis (16/1) dini hari WIB.
ANCAMAN: Marcus Rashford dan Anthony Martial bakal menjadi ancaman bagi Wolves pada putaran ketiga Piala FA 2019/2020 di Stadion Old Trafford, Kamis (16/1) dini hari WIB.
ANCAMAN: Marcus Rashford dan Anthony Martial bakal menjadi ancaman bagi Wolves pada putaran ketiga Piala FA 2019/2020 di Stadion Old Trafford, Kamis (16/1) dini hari WIB.

SUMUTPOS.CO – Manchester United bakal menjamu Wolverhampton Wanderers pada partai ulangan putaran ketiga Piala FA 2019/2020 di Stadion Old Trafford, Kamis (16/1) dini hari WIB. Dalam laga ini, The Red Devils berpeluang meraih kemenangan pertamanya dalam 5 laga terakhir bentrok Wolves.

Secara head to head, tim besutan Ole Gunnar Solskjaer ini, memiliki rekor yang tak begitu apik melawan Wolverhampton. Dari 5 pertemuan terakhir, United belum pernah menang atas Wolves, bahkan menderita 2 kekalahan.

Kendati begitu, performa mereka di laga terakhir cukup menjanjikan, karena sukses mencetak 4 gol melawan Norwich City. Performa itu pun membuat Solskjaer optimistis Setan Merah mampu melaju ke babak berikutnya, terutama karena kehadiran Marcus Rashford di lini depan.

“Marcus Rashford menjalani latihan fisik yang baik, dia punya mentalitas dan sikap yang benar. Saya yakin, dengan usia yang baru 22 tahun, dia akan berkembang menjadi lebih baik. Musim ini dia menjadi pemimpin, dan dia benar-benar menunjukkan kedewasaannya,” ungkap Solskjaer.

Jika United memiliki kepercayaan diri tinggi karena menang dengan skor telak di laga terakhir, Wolverhampton justru sebaliknya. Kegagalan meraih poin penuh melawan Newcastle United, membuat Ruben Neves dan kawan-kawan mulai frustasi. Pasalnya, itu merupakan laga keempat secara beruntun mereka gagal meraih kemenangan.

“Kami sedang berusaha memperbaikinya, dan semoga semua berjalan lancar. Kami membutuhkan solusi, dan pemain yang bisa menjadi pembeda. Pemain yang dapat mengangkat moral tim di atas lapangan, yang dapat membantu kami menghadapi permainan semacam ini,” tutur Pelatih Wolves, Nuno Espirito Santo.

United diprediksi lebih mendominasi jalannya pertandingan. Berdasarkan statistik Whoscored di laga pertama ronde ketiga Piala FA, Marcus Rashford dan kolega, sebenarnya mampu menciptakan 12 peluang, namun tidak ada satu pun yang berhasil menemui sasaran.

Di lain pihak, Wolves mampu menciptakan 2 peluang on target dari total 12 peluang yang mereka miliki. Adama Traore, menjadi pemain yang paling berbahaya di kubu Wolves, kendati gagal mencetak gol. Namun Traore sukses melakukan 10 drible sukses, dan memenangi satu duel.

Kendati demikian, dukungan dari publik Old Trafford, akan memberi kekuatan tambahan bagi anak-anak asuh Solskjaer. United pun lebih diunggulkan untuk memenangi laga, dan meraih kemenangan pertama mereka melawan Wolverhampton dalam 5 laga terakhir. (tid/saz)

Wisman ke Danau Toba Didominasi Milenial

WISMAN: Sejumlah wisatawan mancanegara (wisman) menaiki kapal fery untuk menyeberangi Danau Toba, belum lama ini.
WISMAN: Sejumlah wisatawan mancanegara (wisman) menaiki kapal fery untuk menyeberangi Danau Toba, belum lama ini.
WISMAN: Sejumlah wisatawan mancanegara (wisman) menaiki kapal fery untuk menyeberangi Danau Toba, belum lama ini.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Event yang digelar di Danau Toba memiliki tujuan utama mendatangkan wisatawan mancanegara (wisman) dengan jumlah besar ke danau terbesar di Asia Tenggara itu. Untuk itu, event mesti memiliki konsep yang baik sebagai magnet bagi turis.

“Dulu wisman ke Danau Toba itu banyak. Ada berbagai faktor yang memengaruhi. FDT dulu juga wismannya ramai. Namun seiring waktu, market pariwisata di Danau Toba berubah. Sekarang, turis yang banyak melakukan kunjungan adalah kaum milenial. Untuk itu, konsep harus diubah untuk menyesuaikan dengan market saat ini,” kata Direktur Utama (Dirut) Badan Otoritas Pariwisata Danau Toba (BPODT), Arie Prasetyo, kepada Sumut Pos, Selasa (14/1).

Ia menolak menanggapi rencana penghapusan event Festival Danau Toba (FDT) yang dilontarkan Gubernur Sumut, Edy Rahmayadi. Ia mengaku, lebih memikirkan cara menciptakan event di Danau Toba yang menjadi daya tarik bagi wisatawan.

“Danau Toba mau di-take off kembali. Kita ingin menjadikan kunjungan ke Danau Toba meningkat. Ini sedang proses. Market wisatawan berubah ke kaum milenial. Pastinya mereka memiliki ketertarikan yang berbeda terhadap pariwisata,” sebut Arie.

Arie mengatakan, dulu wisatawan hanya ingin mengamati pemandangan indah. Kini berubah mencari pengalaman atau experience. Hal ini menjadi catatan untuk menyajikan sebuah event yang dapat menarik kunjungan wisatawan milenial.

Arie kemudian mengulas perjalanan FDT yang sudah berlangsung selama 7 tahun. FDT pertama digelar tahun 2013 di Tuktuk, Kabupaten Samosir. Tahun 2014 di Kabupaten Toba Samosir. Kemudian, tahun 2015 di Kabupaten Karo, tahun 2016 di Kabupaten Tapanuli Utara, tahun 2017 di Kabupaten Humbang Hasundutan, tahun 2018 di Kabupaten Dairi, dan terakhir 2019 di Kabupaten Simalungun 2019.

“Dulu namanya Pesta Danau Toba, sekarang festival Danau Toba. Dulu difokuskan di Parapat Simalungun yang dianggap ibu kotanya Danau Toba. Kemudian, FDT digilir. Artinya, 7 kabupaten sudah kebagian menjadi tuan rumah FDT. Sekarang pertanyaannya, FDT mau diapai? Mau diputar kembali atau menjadi event tetap?” jelas Arie.

Ia mengakui, nama FDT sudah memiliki nama besar. Namun market pariwisata sudah berubah. Karena itu, konsep event tahunan milik Pemprov Sumut itu juga harus berubah mengikuti pasar pariwisata saat ini. “Orientasi kita kan wisatawan mancanegara. Dengan Danau Toba sebagai destinasi berkelas dunia, wisman diharapkan banyak datang. Untuk itu, event dan promosinya harus lebih baik lagi. Ini kita diskusikan. Namun konsep dan waktunya belum diputuskan,” kata Arie.

Mengenai waktu, Arie mengatakan, harus dicari waktu yang pas mengikuti musim liburan bagi wisatawan dalam negeri maupun mancanegara. “FDT biasanya dilakukan di akhir tahun, karena ada karnaval di tengah tahun. Tetapi event akhir tahun menjadi sulit di penganggaran, karena pemerintah tutup buku di akhir tahun,” tutur Arie.

Dengan seluruh evaluasi itu, menurut Arie, FDT tidak perlu dihapuskan. Namun dikelola dengan konsep yang baik, melalui promosi yang baik. Tidak perlu digelar setiap tahun, bisa saja sekali dua tahun.

“Ada event-event yang tidak perlu dilakukan setiap tahun. Agar lebih greget, persiapan dilakukan lebih matang, sehingga eventnya ditunggu-tunggu. Kita tunggu aja keputusannya bagaimana. Kita membaca komentar-komentar publik, dan kita kompilasi dan sama-sama kita rembukkan,” jelas Arie.

Ia mengakui, saat ini event yang baik di Danau Toba adalah Samosir Music Internasional. Karena wisatawan mancanegara jelas mempersiapkan diri untuk datang ke Danau Toba, sesuai jadwal event musik internasional tersebut.

“Event Samosir Music Internasional, turis bisa menjadwalkan perjalanan datang ke Danau Toba sesuai event. Itu artinya bagus,” pungkasnya.

Dairi Minta FDT Jangan Desember

Sementara itu, aparat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Dairi menyatakan tidak setuju event Festival Danau Toba (FDT) dihapus atau namanya diganti. Menurut mereka, yang perlu diganti dan diperbaiki adalah kualitas konten FDT, untuk menarik wisatawan.

“Nama FDT sudah dikenal masyarakat secara luas. Sebab sudah dihelat sejak 2013. Bahkan Kabupaten Dairi pernah menjadi tuan rumah FDT ke 6 tahun 2018. Nama FDT sudah akrab. Memang ada kekurangan, tetapi jangan dihapus. Yang perlu dikaji itu kualitas dan konten. Persiapan harus maksimal dengan konsep yang bagus,” ucap Sekda Dairi, Leonardus Sihotang, Selasa (14/1).

Mantan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Dairi itu menjelaskan, ide awal FDT digagas pemerintah pusat, direspons Pemkab se-kawasan Danau Toba, dengan Samosir sebagai tuan rumah pertama.

“Menurunnya kualitas penyelenggaraan FDT, pertama karena kurangnya kepedulian pemerintah daerah. Kedua, pihak luar tidak dilibatkan. Ketiga, konsep dan persiapan tidak matang. Keempat, penetapan jadwal FDT kurang pas. Masyarakat di kawasan Danau Toba mayoritas Kristen. Penyelenggaraan FDT di Bulan Desember bertabrakan dengan persiapan perayaan Natal. Desember juga belum masuk masa liburan wisman. Jadi tidak tepat,” katanya.

Selain itu, kata dia, orientasi kegiatan harus diubah agar jangan kegiatan rutin saja. (gus/rud)

Ketua TP PKK Kota Binjai, Hj Lisa Andriani Lubis, Sosok Emak yang Perfect

Ketua TP PKK Kota Binjai Hj Lisa Andriani Lubis siap bersaing meraih kursi Binjai 1 pada Pilkada Serentak September 2020 Mendatang.
Ketua TP PKK Kota Binjai Hj Lisa Andriani Lubis siap bersaing meraih kursi Binjai 1 pada Pilkada Serentak September 2020 Mendatang.

BINJAI, SUMUTPOS.CO – Seorang ibu memiliki peranan strategis dalam keluarga. Mulai dari manajemen, membina, mengayomi hingga memberi kasih sayang yang tulus kepada anak-anaknya. Alquran, kitab suci umat Islam, juga menuliskan kalau surga di bawah telapak kaki ibu. Ya, ibu.

Di Sumut, seperti Binjai atau Medan, ragam sebutan anak-anak milenial untuk memanggil ibu kandung yang melahirkannya. Bisa ibu, mama, bunda. Juga emak. Terkadang omak.

Belakangan ini, beranda media sosial warga Binjai ramai dipenuhi tulisan emak kerap dibubuhi tanda pagar (tagar) #emak. #emak diketahui, dipakai oleh simpatisan pendukung Hj Lisa Andriani Lubisn

Sebab, Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga Kota Binjai ini ikut bersaing meraih kursi Binjai 1 yang pemungutan suaranya dilakukan pada September 2020 Mendatang.

Sejumlah nyinyiran tak terlewatkan. Salah satunya soal dinasti. Pun demikian, yang mendukung agar Lisa maju tetap ada.

Pilkada 2018 kemarin saja, ada 14 kepala daerah tingkat kota/kabupaten maupun provinsi yang berjenis kelamin perempuan, terpilih di Indonesia. Satu di antaranya Kabupaten Purwakarta.

Anne Ratna Mustika, salah seorang kepala daerah terpilih. Anne merupakan istri Bupati Purwakarta dua periode (2010-2015/2015-2020), Dedi Mulyadi.

Selama sang suami menjabat, Anne kerap ikut terjun langsung ke masyarakat. Sematan Ambu Anne pun diberikan kepadanya.

Tak ubahnya dengan Hj Lisa. Wanita kelahiran Medan 8 Agustus 1976 ini pun begitu. Terus mendampingi sang suami hingga Kota Binjai terkenal dengan smart city. Alhasil, sebutan Emak Binjai melekat padanya.

Selama 10 tahun kurang lebih memimpin TP PKK Kota Binjai, Lisa dikenal sebagai sosok emak yang perfect (sempurna) di mata kader. Kepiawaiannya mencatatkan prestasi untuk organisasi yang bergerak di bidang kesejahteraan perempuan dan keluarga tersebut. Baik tingkat provinsi maupun pusat.

Data dari TP PKK Binjai, tercatat 52 penghargaan tingkat provinsi sudah ditorehkan. Sementara tingkat pusat, ada 5 penghargaan.

“Ibu Lisa adalah sosok ibu di keluarga kami, TP PKK. Ibu itu orangnya tertib sekali administrasi, beliau itu sangat perfect orangnya. Selain administrasi tertib, penampilannya juga. Perfect dari segala bidang. Disiplin juga. Dia maunya tertata semua sesuai dengan prosedur di setiap bidang kami yang ada di TP PKK,” ujar Wakil Ketua I TP PKK Binjai Timur, Rosniar Zahira membuka obrolan kepada Sumut Pos di ruang kerja Camat Binjai Timur, Hardiansyah Putra Pohan, belum lama ini.

Karenanya, TP PKK pernah meraih penghargaan Pakarti Utama Satu dalam Lomba Tertib Administrasi kategori kota pada 2019 kemarin. Bagi dia, Lisa disebut sebagai sosok pengayom ke para kader.

“TP PKK Kelurahan Sumber Karya yang mendapatkan itu (penghargaan tertib administrasi). Prosesnya dari 2018 kemarin waktu dievaluasi dari tingkat kelurahan yang kemudian naik ke kecamatan, kota hingga provinsi. Bahkan ke nasional. Prestasi ini tak terlepas dari peran Ibu Lisa, yang mampu mendorong agar dinas terkait yang ada mendukungnya. Kami sangat terbantu dengan langkah Ibu Lisa (dan dukungan dinas terkait),” sambung Ketua TP PKK Kelurahan Sumber Karya, Heni Windayati di tempat yang sama.

Sejumlah prestasi yang bergengsi tadi membuat TP PKK dari provinsi, kabupaten dan kota lain di Indonesia datang ke Kota Rambutan. “Dari Provinsi Sumbar kemarin yang terdiri dari kabupaten atau kota, Solok, Agam dan Sawah Lunto datang kemari untuk studi banding. Yang dari Sumut juga tak ketinggalan, seperti Batubara, Nias dan Simalungun. Bahkan dari Riau dan Aceh juga sudah,” tambah Rosniar yang akrab disapa Ibu Ros.

Menurut Ros, tamu dari daerah luar termotivasi setelah mendengar sejumlah terobosan maupun inovasi dari TP PKK Binjai. “Karena mereka membandingkan kalau mereka punya anggaran. Sementara kami di sini, tidak ada anggaran khusus. Makanya heran, kok bisa,” urai ibu anak 4 ini yang mulanya sempat menolak bergabung dengan Organisasi TP PKK tersebut.

“Saya kenal dengan Ibu Lisa bukan di lima tahun belakangan ini. Dari kemarin-kemarin, Ibu Lisa selalu mengajak saya untuk bergabung. Tapi saya menolak terus. Akhirnya Pak Camat yang baru menjabat sebulan, membujuk saya untuk bergabung,” beber wanita berusia 43 tahun ini.

“Ternyata asyik. Karena apa yang dilakukan kami ini untuk masyarakat. Sejalan dengan Ibu Lisa, artinya ada nilai ibadah yang diperoleh. Bukan materi (didapat), tapi ada kepuasan tersendiri dari dalam hati,” sambungnya menjelaskan dengan nada semangat.

Kepada seluruh kader PKK, menurut dia, Ibu Wali Kota Binjai HM Idaham kerap menanamkan semua yang dilakukan adalah ibadah. Bukan mencari materi.

“Beliau merupakan perempuan tangguh di sebuah keluarga PKK. Selalu memberikan pendidikan ke kader,” ujar dia.

Di matanya, Bacalon Wali Kota Binjai periode 2020-2025 yang sudah memberikan keturunan 2 anak laki-laki itu adalah sosok yang berjiwa sosial tinggi dan ringan tangan. “Jangan ada dusta di antara kita. Itu pesan Ibu. Artinya begini, kalau mau ada penilaian, yang ditimbulkan atau ditunjukkan ke tim penilai sesuai fakta saja. Jangan dibuat-dibuat atau rekayasa, jangan ada sulapan,” sahut Camat Binjai Timur tiba-tiba.

“Ya itu,” kata Ros mengamini. “Ibu Lisa sangat peduli sekali dengan warga yang sakit, apalagi kanker. Karena korbannya paling banyak perempuan,” beber dia.

“Ibu Lisa tidak suka bersosialita (bermewah-mewahan), enggak suka banyak aksesoris,” tambah dia.

“Kita harus selalu dapat dekat dengan masyarakat. Kalau kita sudah berpenampilan wah, masyarakat tentu menolak untuk dekat,” sambung Ros menirukan ucapan Hj Lisa.

Tahun 2020 ini, Hj Lisa memberi motivasi kepada kader untuk tidak berhenti berprestasi. Sebab, mempertahankan memang lebih sulit daripada merebutnya.

“Pernah suatu ketika ada kegiatan terkait sampah, kalau ga salah untuk menjaga sampah plastik. Kami kaget kalau saat itu, Ibu Ketua PKK sudah punya sampah plastik rumah tangga yang dikumpulkannya. Seorang Ibu wali saja tidak sungkan untuk mengumpulkan botol kosong. Itu bukti nyata salah satunya. Saya dan ibu-ibu lainnya malu melihat Ibu Wali yang sudah berbuat,” kenang Heni sebelum menutup obrolan.

Bukti nyata TP PKK Kota Binjai selama kurang lebih 10 tahun belakangan adalah melahirkan program satu-satunya di Indonesia. Adalah, program calon pengantin yang harus diperiksa dulu air seninya sebelum menikah.

Langkah ini diambil untuk melahirkan sebuah keluarga muda yang beriman dan takwa kepada Tuhan yang maha esa. Paling penting, mengurangi angka penceraian pada usia pernikahan yang masih seumur jagung.

Pejabat tingkat pusat pun kagum terhadap program tes urin sebelum nikah. Hingga kini, program tersebut masih berjalan.

Hj Lisa membawa visi dari kepala daerah terdahulunya. Adalah, terwujudnya Binjai Cerdas menuju Kota Mandiri.

“Terima kasih, semua yang dilakukan hanya sebagai tanggung jawab sebagai pemimpin dan untuk kemaslahatan. Semoga yang baik menjadi ibadah,” pungkas Hj Lisa menanggapi.

Sejumlah parpol di Kota Binjai yang meraih kursi berdasarkan hasil Pileg 2019, sudah mulai melakukan proses penjaringan bacalon wali kota. Hj Lisa, Sarjana Psikologi lulusan Universitas Medan Area tahun 2014 lalu ini, sudah mengikuti proses penjaringan yang dilakukan oleh parpol. (ted)

Demi Stempel Kartu Ujian CPNS 2019, Ribuan Pelamar Berdesakan di GOR Sidikalang

MENDAFTAR: Sejumlah calon peserta ujian CPNS mendaftarkan diri, beberapa waktu lalu.
MENDAFTAR: Sejumlah calon peserta ujian CPNS mendaftarkan diri, beberapa waktu lalu.

SIDIKALANG, SUMUTPOS.CO – Para pelamar CPNS 2019 di Kabupaten Dairi mengeluhkan sistem penerimaan pelamar oleh BKPSDM Kabupaten Dairi. Pasalnya, informasi yang diberikan tidak jelas dan membingungkan.

Awalnya panitia menyebutkan, seluruh peserta ujian yang telah lulus administrrasi harus menstempel kartu ujian untuk seleksi kompetensi dasar pada Selasa (14/1), kemarin. Akibatnya, seluruh peserta yang lulus administrasi yang jumlahnya mencapai 19.026 orang, memadati Kantor Badan Kepegawaian dan pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) di Jalan Ki Hajar Dewantara, Sidikalang.

Karena lokasi kantor tidak mampu menampung seluruh pelamar CPNS yang ingin menstempel kartu ujian, pihak BKPSDM memindahkan lokasi penstempelan ke GOR, Jalan Rumah Sakit Umum yang jaraknya berkisar 2 km dari kantor BKPSDM Dairi.

Pemindahan lokasi tersebut sempat dikeluhkan para pelamar CPNS yang sudah mengantri sejak pagi. Namun demi stempel kartu ujian mereka terpaksa membubarkan diri dan berlomba menuju GOR Sidiakalang. “Sistem informasinya membingungkan, katanya hari ini seluruh peserta ujian yang telah lulus administrrasi harus menstempel kartu ujian untuk seleksi kompetensi dasar. Namun sesampainya di sini pihak panitia malah bilang kartu ujian bisa di stempel sewaktu akan melaksanakan ujian,” ujar Jaya Samosir (27), pelamar CPNS asal Balige, Kabupaten Toba Samosir.

Disebutkannya, sejak pagi dirinya sudah mengantre untuk mendapatkan stempel, tetapi sampai sore belum siap juga. Padahal dirinya harus kembali lagi pulang ke Balige. “Mudah-mudahan nggak sampai malam selesainya biar aku bisa lansung pulang sore ini,” ucap Jaya.

Hal senada juga diungkapkan Wati, pelamar CPNS asal Kabupaten Labuhanbatu. Menurutnya, pihak penyelenggara tidak siap menghadapi pembeludakan ribuan pelamar yang datang. “Berjubel pelamarnya, sampai nggak muat lokasi GOR menampung para pelamar. Nampak kali sistemnya enggak bagus,” ucap pelamar yang mengincar posisi Guru Ekonomi ini.

Sementara Kepala BKPSDM Dairi, Dapot Hasudungan Tamba menjelaskan, para pelamar tidak seharusnya berdesak-desakan untuk mendapatkan stempel, karena kartu ujian sebetulnya bisa dilakukan saat hari pelaksanaan ujian nantinya.

“Sebelumnya sudah kita umumkan bahwa bisa melakukan registrasi karu ujian saat hari H ujian dilakukan. Pengumuman telah kita buat di mading kantor dan situs resmi. pun begitu, kedatangan para pelamar tetap kita layani pada hari ini,” kata Dapot Hasudungan Tamba.

Disebutkan Dapot, jadwal penstempelan kartu ujian sudah dijadwalkan selama empat hari, 13 Januari sampai hingga 17 Januari mendatang. “Sejak kemarin juga pelamar sudah ramai berdatangan, tetapi baru hari ini pembeludakan,” ujarnya.

Perlu diketahui, Pemkab Dairi dalam tahun ini membuka lowongan 285 formasi pada rekrutmen CPNS tahun ini. Dengan rincian, 222 untuk tenaga pendidik (guru) dan 63 tenaga kesehatan. Untuk jumlah pelamar yang lulus seleksi berkas mencapai 19.026 orang.

Pemprovsu Tenderkan 300 Unit Komputer

Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu) terus mematangkan persiapan ujian seleksi kompetensi dasar (SKD) untuk para calon pegawai negeri sipil (CPNS) 2019. Selain sudah menyediakan lokasi ujian, Pemprovsu juga telah menenderkan perangkat komputer sebanyak 300 unit.

“Untuk lokasi ujian, di BPSDM (Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia) Jalan Ngalengko Medan. Komputer melalui vendor sudah kita tenderkan. Informasinya 300 unit,” kata Pelaksana Tugas Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Setdaprovsu, Syahruddin Lubis menjawab Sumut Pos, Selasa (14/1).

Menurutnya, secara teknis, ujian akan dibagi dalam sembilan gelombang. Artinya, ujian SKD akan berlangsung selama sembilan hari. Masing-masing gelombang ujian akan diikuti 300 peserta. “Jumlahnya kan banyak, 12 ribu lebih peserta. Jadi kita bagi sembilan gelombang nanti,” ujarnya.

Syahruddin juga menyebut, sekaitan kartu ujian dapat dicetak sendiri oleh peserta yang lulus dari tahap seleksi administrasi. Pencetakan kartu dilakukan melalui akun SSCN atau BKN, di mana sebelumnya peserta mendaftarkan diri. “Sekarang sudah zaman digital, mereka langsung cetak sendiri. Iya, via online semua (akun SSCN/BKN),” katanya.

Meski demikian, ihwal kapan dilaksanakan ujian SKD, pihaknya masih menunggu arahan dari BKN. Pihaknya meminta peserta rajin-rajin mengecek website Pemprovsu agar tidak ketinggalan informasi. “Nanti akan diinformasikan melalui website kita,” katanya.

Pihaknya menekankan, kelulusan peserta adalah prestasi dan hasil kerja peserta itu sendiri. Jika ada pihak yang menjanjikan kelulusan dengan motif apapun, baik dari pegawai di lingkungan Pemprovsu atau dari pihak lain, maka hal tersebut adalah tindak penipuan. “Kepada peserta, keluarga maupun pihak lain dilarang memberi sesuatu dalam bentuk apapun sesuai perundangan-undangan yang berlaku,” katanya.

Sebagaimana diketahui, berdasarkan pengumuman Nomor 800/39768/BKD/II/2019 tentang Ralat Hasil Seleksi Administrasi Pelamar CPNS di Lingkungan Pemprov Sumut Formasi Tahun 2019 tertanggal 31 Desember 2019, disebutkan 50 peserta yang berubah status hasil seleksi administrasinya, dimana 42 peserta yang sebelumnya dinyatakan tidak lulus (Tidak Memenuhi Syarat/TMS), menjadi lulus (Memenuhi Syarat/MS). Sementara 8 peserta lain yang sebelumnya dinyatakan lulus menjadi tidak lulus alias gagal.

Dengan pertambahan 42 yang lulus dan 8 yang gagal tersebut, maka total jumlah yang lulus seleksi administrasi CPNS Pemprov Sumut 2019 menjadi 12.203 peserta.

Selengkapnya 42 peserta yang lulus dan 8 peserta yang tidak lulus seleksi administrasi itu, bisa mengunjungi https://drive.google.com/file/d/1F27cwDKqG421R7F8ocWS7-LBqO1Skljf/view atau dapat juga dilihat di website resmi Pemprov Sumut; www.sumutprov.go.id. (mbc/prn)

Pembunuh Hakim Jamaluddin Dijanjikan Umrah dan RP100 Juta

TERTUNDUK: Reza Fahlevi (29), salahsatu dari tiga tersangka pembunuh Hakim Jamaluddin tertunduk saat digelandang petugas untuk melakukan rekonstruksi, Senin (13/1). Reza menuduh Zuraida pembohong karena tak menepati janji untuk memberinya upah Rp100 juta dan membiayai umrah. triadi wibowo/sumut pos

Tak Ditepati, Eksekutor Tuduh Zuraidah Pembohong

TERTUNDUK: Reza Fahlevi (29), salahsatu dari tiga tersangka pembunuh Hakim Jamaluddin tertunduk saat digelandang petugas untuk melakukan rekonstruksi, Senin (13/1). Reza menuduh Zuraida pembohong karena tak menepati janji untuk memberinya upah Rp100 juta dan membiayai umrah. 
triadi wibowo/sumut pos
TERTUNDUK: Reza Fahlevi (29), salahsatu dari tiga tersangka pembunuh Hakim Jamaluddin tertunduk saat digelandang petugas untuk melakukan rekonstruksi, Senin (13/1). Reza menuduh Zuraida pembohong karena tak menepati janji untuk memberinya upah Rp100 juta dan membiayai umrah. triadi wibowo/sumut pos

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Reza Fahlevi (29), salahsatu dari tiga tersangka eksekutor pembunuh Hakim Jamaluddin (55), menuduh istri kedua korban, Zuraida Hanum tidak menepati janji untuk membiayai dirinya berangkat umrah berikut upah sebesar Rp100 juta. Padahal, misi pembunuhan telah berhasil ditunaikan.

“Dia (Zuraida) adalah wanita pembohong. Janji yang dia ucapkan tidak ada diberikannya. Setelah selesai membunuh sampai akhirnya ditangkap, janji itu tidak terpenuhi. Dia wanita pembohong,” kata Reza melalui kuasa hukumnya, Dedi, kepada wartawan, Selasa (14/1/2020).

Menurut Dedi, kliennya melakukan aksi pembunuhan karena mendapatkan tekanan dari tersangka Zuraida Hanum (41) dan M Jefri Pratama (42). Dengan kata lain, ada paksaan.

“Sebetulnya klien kami ini tidak terlibat. Tapi karena adanya doktrin dan karena Jefri adalah abangnya, dia ini (Reza) dipaksan

Hal itu terungkap

dalam rekonstruksi adegan ketiga sampai keenam. Dia dijanjikan. Bahkan Jefri dan Zuraida juga minta tolong kepada klien kami ini,” sebut Dedi.

Karena itu, Dedi mengatakan, pihaknya akan mengajukan pengujian pernyataan maupun materi di PN Medan dalam persidangan. Sebab, ada dugaan kebohongan yang disampaikan Zuraida.

“Ada kebohongan besar yang dilakukan (Zuraida). Dari setelah membunuh sampai ini terungkap. Dia juga tidak menepati janjinya. Klien kami sepertinya dalam paksaan melakukan aksi pembunuhan itu. Makanya nanti kasus ini akan kita minta untuk diuji di pengadilan,” tukasnya.

Zuraida Ajukan Penangguhan

Sementara itu, tersangka otak pembunuhan hakim PN Medan yang juga istri korban, Zuraida Hanum (41), berencana mengajukan penangguhan penahanan. Alasannya, tersangka masih memiliki anak di bawah umur atau berusia kurang dari 17 tahun.

“Anaknya (Zuraida) ‘kan masih ada yang kecil-kecil. Anaknya dua. Lantas kalau dia ditahan, bagaimana anaknya itu? Tentu menimbulkan kasus hukum yang baru,” ujar Onan Purba, kuasa hukum Zuraida kepada Sumut Pos, kemarin.

Karena itu, sambung Onan, pihaknya segera mengajukan permohonan kepada penyidik untuk penangguhan penahanan terhadap Zuraida. “Soal dikabulkan atau tidak, itu wewenang penyidik,” kata dia.

Disinggung mengenai pernyataan Zuraida dalam rekonstruksi adegan pertama pada Senin (13/1), di mana Zuraida mengaku nekat membunuh suaminya sendiri karena tak tahan diselingkuhi, Onan mengaku tidak pernah mendengar pernyataan tersebut.

Mengenai hubungan kliennya dengan tersangka Jefri, Onan juga mengaku tidak tahu. “Saya tidak sampai ke sana (hubungan antara Zuraida dengan Jefri),” akunya.

Onan menjelaskan, pihaknya mengetahui status Zuraida sebagai tersangka terhitung sejak tanggal 8 Desember 2019. “Sejak dikeluarkan surat perintah penahanan,” kata dia.

Selama proses penyidikan, kliennya dinilai kooperatif. Semua pertanyaan dijawab dan tidak pernah menyulitkan penyidik. Karenanya, Onan membantah kalau kliennya tidak pernah mengaku dalam kasus tersebut. “Semua pertanyaan penyidik dijawabnya (Zuraida). Sepanjang saya dampingi, tidak ada dibantah oleh klien kami. Jadi, enggak mungkin kami keberatan, itu kan kerjanya polisi. Saya analisis dulu apakah cukup alasan menetapkan dia sebagai tersangka atau tidak,” cetusnya.

Kepala Satuan Reskrim Polrestabes Medan, AKBP Maringan Simanjuntak, yang dikonfirmasi mengenai rencana pengajuan penangguhan penahanan Zuraida, menjawab pendek. “Silahkan saja diajukan, itu adalah haknya tersangka,” tandas Maringan.

Diberitakan sebelumnya, tim penyidik Direktorat Reskrimum Polda Sumut dan Satuan Reskrim Polrestabes Medan menggelar rekonstruksi kasus pembunuhan Hakim PN Medan, di beberapa lokasi, Senin (13/1). Dalam rekonstruksi yang menghadirkan tiga tersangka yakni Zuraida Hanum, M Jefri Pratama, dan Reza Fahlevi itu, ada 15 adegan perencanaan pembunuhan.

Reka ulang dimulai di di Cafe Everyday Jalan Ringroad, Medan, awal November 2019 lalu. Di cafe itu, tersangka Jefri bertemu Zuraida sekira pukul 11.00 WIB. Saat itu, Zuraida curhat kepada Jefri mengenai permasalahan rumah tangganya. Pengakuan Zuraida, dia sering diselingkuhi korban.

“Suami saya (Jamaluddin) terus-menerus berselingkuh dengan perempuan-perempuan lain, dan dari pertama pernikahan saya, dia selalu mengkhianati saya. Saya lagi hamil pun dia bawa perempuan ke rumah. Saya sudah mengadu ke keluarganya dan mengadu ke kakak-kakak kandungnya, adik kandungnya, tapi mereka tidak berdaya apa-apa,” ucap Zuraida sembari menangis dalam adegan itu.

Kata Zuraida, ia sempat meminta cerai kepada suaminya. Tetapi suaminya menolak dengan alasan malu karena profesinya sebagai hakim. “Tetapi, dia (korban) menyakiti saya dengan perempuan-perempuannya,” sebut Zuraida.

Karena itu, istri korban ini meminta tolong kepada Jefri untuk membunuh korban. Jefri awalnya menyarankan Zuraida agar bercerai saja. “Rasanya mau mati saja karena banyak permasalahan yang dihadapi selama bersama dia (korban). Lebih baik dia mati atau saya yang mati,” cetus Zuraida.

Akhirnya Jefri menyetujui membunuh korban.

Selanjutnya, Jefri menemui tersangka Reza Fahlevi, adik tirinya, di sebuah warung di kawasan Jalan Setiabudi Ujung, Simpang Selayang, pada 24 November 2019 sekira pukul 19.00 WIB. Jefri menceritakan keluh-kesah Zuraida atas suaminya. Selanjutnya, Jefri meminta Reza untuk bertemu Zuraida, guna menjelaskan permasalahan rumah tangga yang dihadapi.

Pada 25 November 2019 sekira pukul 11.00 WIB, tersangka Jefri menghubungi Reza dan menyuruhnya untuk datang ke The Coffee Town Jalan Ngumban Surbakti guna bertemu dengan Zuraida. Zuraida juga meminta Reza datang ke kafe tersebut.

Di sana, tersangka Zuraida datang bersama Jefri untuk bertemu tersangka Reza. Saat itulah, Zuraida menjelaskan persoalan rumah tangganya kepada Reza, sekaligus meminta bantuan untuk membunuh korban.

Reza awalnya tidak langsung menuruti permintaan tersebut. “Betul itu kak (Zuraida)? Nanti kakak cuma manfaatin Bang Jefri? Setahu saya (Reza), Bang Jefri orangnya lurus, enggak neko-neko dari dulu. Kakak serius enggak nyuruh kek gitu (membunuh),” ujar Reza.

Zuraida menjawab dirinya serius. “Iya serius, memang rencana kami mau nikah sama Bang Jefri bukan main-main. Selama ini, kakak sudah enggak tahan, sudah lama kakak pendam. Sudah cukup sakit hatilah, Reza memang betul mau bantuin Bang Jefri sama kakak untuk bunuh dia (korban)? Nanti kalau sudah siap bunuh, kakak kasih uang Rp 100 juta dan setelah itu kita umrah,” sebut Zuraida.

Mendengar jawaban Zuraida, Reza pun menurut. Namun Reza kembali mempertanyakan keseriusan Zuraida atas hubungannya dengan abang tirinya tersebut, Jefri. “Iya kak (Reza) mau, tapi kakak seriuskan sama Bang Jefri? Nanti cuma manfaatin kami aja,” ucap Reza.

Zuraida kemudian meminta Jefri untuk bicara. Dikatakan Jefri, apa yang disampaikan Zuraida benar adanya. Setelah itu, Zuraida menyampaikan akan menjemput Jefri dan Reza sekitar pukul 19.00 di Pasar Johor dan selanjutnya menuju ke rumah di Perumahan Royal Monaco Blok B No. 22 Kelurahan Gedung Johor, Medan Johor.

“Aku jemput jam 7 malam, terus terus habis itu kalian ku bawa ke rumah. Nanti sampai di rumah kalian sembunyi di lantai 3, dan nanti akan ku miss call baru kalian eksekusi. Kamar enggak aku kunci, lalu kalian masuk. Kain sudah aku siapkan di atas pinggir tempat tidur, nanti satu orang yang bekap mulut dan hidung pakai kain. Sedangkan satu orang lagi pegang tangan dan badan, nanti aku menahan kakinya. Jadi, kita buat seakan-akan kematiannya itu dikarenakan sakit jantung,” jelas Zuraida. (ris)

Buntut Kerusuhan di Desa Tanjung Lenggang Bahorok, Polisi Tetapkan 13 Tersangka

TSK: Wahyu mahasiswa asal Kota Medan jadi tersangka
TSK: Wahyu mahasiswa asal Kota Medan jadi tersangka
TSK: Wahyu mahasiswa asal Kota Medan jadi tersangka

STABAT, SUMUTPOS.CO – Satuan Reserse Kriminal Polres Langkat bergerak cepat dalam menanggapi kerusuhan yang terjadi di Desa Tanjung Lenggang, Bahorok, Kabupaten Langkat.

Kapolres Langkat, AKBP Doddy Hermawan menyatakan penyidik menetapkan 13 tersangka terkait kerusuhan hingga dilaporkan seorang tewas atas nama Efendi Sinuraya (36) warga Dusun I Lambhouk, Desa Timbang Jaya, Bahorok, buntut kejadian tersebut.

Efendi mengembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Delia, Selesai, Langkat. “Kami harap, seluruh masyarakat dapat mematuhi segala aturan yang berlaku. Percayakan penanganan (kasus ini) kepada kami,” ujar Kapolres, Selasa (14/1).

Saat ini, mantan Kapolres Pematangsiantar tersebut masih di Bahorok. Ini dilakukan perwira menengah dengan pangkat 2 melati emas di pundaknya tersebut untuk memastikan rasa aman dan nyaman di tengah masyarakat.

“Kami berupaya maksimal untuk menjaga seluruh wilayah Langkat dalam keadaan aman bagi seluruh masyarakat,” beber dia.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Langkat, AKP Teuku Fathir Mustafa menjelaskan, 13 tersangka ditetapkan berdasarkan hasil pemeriksaan yang dilakukan penyidik. Menurut dia, 12 orang tersangka di antaranya yang melakukan pengrusakan dan pembakaran, rentetan dari kejadian kerusuhan tersebut.

“Sementara seorang tersangka lagi yang melakukan pemerasan dan pengancaman atas laporan Septiana (korban penyekapan). Tersangka dimaksud adalah Gojo Tarigan (31) warga Dusun Bandar Sakti, Desa Tanjung Keriahan, Serapit,” kata mantan Kasat Reskrim Polres Deliserdang ini.

Dia menguraikan penyekapan yang dilakukan Gojo. Bermula dari utang yang dimiliki oleh suami pelapor, Dedek Ardika alias Memet Rp20 juta, tersangka mencarinya ke rumah, Desa Tanjung Lenggang, Bahorok.

Namun, yang dicari tak ketemu. Tak ayal, Gojo yang disinyalir bersama teman-temannya sebanyak 2 orang, cekcok mulut dengan pelapor.

Oleh pelapor lari ke rumah kepala desa untuk meminta pertolongan.

“Tersangka mengejarnya dengan datang ke rumah kepala desa untuk meminta uang tersebut kepada korban. Namun korban menyampaikan tak mampu membayar. Tersangka mengeluarkan kata-kata paksaan terhadap korban untuk membayar. Korban merasa dirugikan dan membuat laporan,” beber mantan Kasat Reskrim Polres Labuhan Batu ini.

Terhadap 13 tersangka, sambung dia, terancam kurungan pidana penjara yang berbeda. “Ada yang 9 tahun kurungan penjara ancamannya. Ada juga yang di atas 10 tahun penjara,” tambah Fathir.

Perwira kelahiran Banda Aceh ini menambahkan, kasus tersebut diambil oleh Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Sumut. “Semua ditahan di Polda. 12 tersangka yang merupakan dari kejadian pembakaran, penganiayaan yang semua kejadian dari rentetan kejadian tersebut. Sudah 20 orang saksi yang diperiksa,” beber dia.

Penyekapan Septiana dan Saidah (2 bulan) diduga diotaki oleh seseorang berinisial A. Namun hingga kini, A belum ditangkap oleh polisi. Diduga A bersama Gojo dan seorang tersangka lain. Namun hingga kini, polisi belum mengetahui identitas 2 orang lain yang bersama Gojo saat melakukan penyekapan.

“Ada kemungkinan muncul tersangka lain,” tambah Fathir.

Oleh polisi, Gojo disangkakan Pasal 368 ayat (1) KUHPidana Jo Pasal 53 KUHPidana Subsider Pasal 334 ayat (1) KUHPidana tentang Tindak Pidana Pemerasan dan Ancaman dan atau Pemaksaan atau Pengancaman yang dilakukan di Desa Tanjung Lenggang, Bahorok, Kamis (9/1) malam. Diketahui, kerusuhan yang terjadi mengakibatkan sebuah gubuk terbuat dari kayu atap rumbia dan 1 mobil Daihatsu Taft GT warna hitam BK 118 ZO terbakar.

Romi Andika Syahputra Damanik alias Ahmad (41) warga Dusun IV Pantai Sampah, Desa Tanjung Lenggang, Bahorok juga dianiaya. Setelah penganiayaan, perusakan dan pembakaran kembali dilakukan hingga sebuah genset terbakar di Pantai Okor, Desa Tanjung Lenggang.

Wabup Langkat Minta Agar Masyarakat Tenang

Sementara itu Wakil Bupati Langkat Syah Affadin meminta agar masyarakat agar tenang menyikapi adanya kerusuhan yang terjadi di Desa Tanjung Lenggang, Bahorok. Disebut pria yang akrab disapa Ondim ini sudah mendapat laporan terkait situasi terakhir di Bahorok.

Jaga kedamaian di Bahorok. Sebab, Bahorok adalah destinasi wisata yang kerap dikunjungi oleh wisatawan asing atau turis mancanegara.

“Saya meminta agar masyarakat tetap tenang dan tidak melakukan tindakan anarkis lagi,” kata dia ketika dihubungi, Selasa (14/1) petang.

Kepada masyarakat, dia menyarankan agar memberi kepercayaan kepada Polda Sumut yang kini sudah mengambil alih penanganan kasus tersebut. Dia menambahkan, semua pihak akan merugi termasuk Pemerintah Kabupaten Langkat lantaran kalau kerusuhan terus berlanjut, fasilitas umum dan publik yang dibangun akan jadi rusak atau dirusak.

Pemkab Langkat sendiri, kata Ondim, terus memantau perkembangan kasus tersebut. Setelah kejadian itu, lanjut dia, Pemkab Langkat sudah menggelar pertemuan dengan masyarakat.

“Biarkan polisi bekerja sesuai dengan standart operasional dan undang – undang berlaku. Kita harus tetap tenang dan menjaga ketertiban umum. Jangan sampai terjadi lagi hal seperti ini, apalagi sampai ada yang meninggal dunia,” seru dia. (ted/btr)

Di Mata Tetangga Akhyar Nasution Terkenal Sosok Sederhana dan Apa Adanya

DR H Ardiansyah Lc MA

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Plt Wali Kota Medan Ir H Akhyar Nasution MSi dinilai para tetangga sosok pemimpin yang merakyat, sederhana dan juga pekerja keras.

Seperti penuturan salah seorang ulama Sumut, Ustad DR H Ardiansyah LC MA kepada wartawan, Selasa (14/1). Ustad Ardiansyah merupakan tetangga dekat dengan Akhyar Nasution di Jalan Intertip, Kelurahan Pulo Brayan Barat II, Kecamatan Medan Timur. Dia mengaku, dirinya sudah kenal lama dengan Akhyar Nasution, pada saat kali pertama berdomisili di Jalan Intertip Komplek Wartawan sejak Mei 2012.

Bagi Ustad Ardiansyah yang juga Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumut itu, Akhyar sosok sederhana dan apa adanya.
“Saya pindah dari Marelan membeli rumah di Komplek Wartawan pada Mei 2012 lalu. Kebetulan, rumah yang kami beli itu sama. Namanya Pak Zainal Arifin. Dia punya dua rumah, satu saya beli dan satu lagi Pak Akhyar dan Pak Akhyar sudah lama tinggal di situ,” ungkap Ustadz Ardiansyah.

“Sejak itu Alhamdulillah, kami bertetangga bagus. Secara lahiriah, kami selalu memanggilnya abang, sejak Bang akhyar dilantik menjadi Wakil Walikota hingga saat ini, kami di kampung itu, di Komplek Wartawan di Jalan Intertib itu, tidak ada perubahan dari sikap beliau, tata cara bergaul, tegur sapa, layaknya seperti seorang pejabat apalagi petinggi di kota yang bisa dibilang kota terbesar ini. Itu kami syukuri Alhamdulillah, beliau bertetangga dengan baik,” katanya.

Dirinya mengambil contoh, kalau jiran tetangga minta ikut ngantar pengantin, Akhyar tak sungkan untuk mengikuti. Bukan hanya sekali 2 kali, malahan antar pengantin juga kerap dilakukan Akhyar.

“Dan ngantar pengantin itu bisa seharian. Bisa sampai Ashar dan (pulang bareng) rombongan. Kami di Jalan Intertib itu, kami merasa Bang Akhyar ini tidak ada perubahan layak seorang pejabat, tegur sapanya, kehadiran beliau dalam kegiatan-kegiatan di masyarakat, tetap beliau sempatkan (untuk hadir),” terangnya.

Tak hanya itu, Ardiansyah juga melihat bagaimana sikap Akhyar saat kedatangan dan menyambut tamu yang datang ke rumahnya.

“Apalagi pagi-pagi pulang saya sholat subuh, beliau itu nerima tamu dengan canda, dengan senang hati, walaupun gak tahu saya apa urusan mereka datang, apa melaporkan kondisi mereka atau apa, Allahu a’lam, gak tahu kita. Tapi beliau menyambutnya selalu happy. Kadang-kadang tamu datangnya hari Ahad, itu kan waktunya untuk keluarga, (tapi beliau lapang dada menyambutnya),” jelasnya.

Berbicara kesederhanaan, bagi Ustadz Ardiansyah, sosok Akhyar dinilai unik. Walau banyak orang yang berubah drastis ketika menjadi seorang pejabat, namun hal itu jauh dari sosok Akhyar.

“Bagi saya unik juga, setahu saya, beliau itu gak punya mobil selain mobil yang lama, sampai sekarang. Kalau di garasi rumah beliau itu, gak ada lah setahu saya kecuali mobil dinas, ada mobil beliau model hardtop atau apa namanya saya gak tahu, mobil lama, mobil jeep, itu mobil beliau jauh sebelum menjadi wakil walikota.

Unik juga menurut saya, beliau selalu naik sepeda, kereta. Kadang-kadang saya tengok beliau naik sepeda keliling-keliling sampai Marelan sana, kadang sampai Belawan. Saya lihat sering juga beli koran sendiri. Jadi biasa, gaya perawakannya, gak ada formil layaknya seorang pejabat,” bebernya.

Begitu juga dengan istrinya, Nurul Khairani Lubis atau yang akrab disapa Kak Rani. Dirinya tidak ada melihat perubahan drastis ketika sang suami menjadi pejabat.

“Ya biasalah kalau kebanyakan istri pejabat melakukan perawatan, pakai aksesoris yang serba mewah seperti sepatu, tas, jam dan lainnya. Kalau Kak Rani, gak kelihatan seorang istri pejabat. Tidak ada ajudan yang mengawal, dan pakaian juga biasa saja. Dan setahu saya, beliau (Akhyar_RED) juga tidur di rumah yang sekarang. Kak Rani juga belanja sendiri tanpa ada pengawalan,” urainya.

Sebagai tetangga, dirinya memiliki catatan bahwa keluarga Akhyar adalah keluarga yang harmonis.

“Tidak pernah saya dengar suara dengan nada tinggi seperti marah-marah di rumah itu. Kita sangat berdampingan. Anak beliau juga memahami kondisi kesibukan ayahnya,” ungkapnya.

Sebelum menjabat, sebagai abangan, sosok Akhyar juga termasuk yang sangat peduli dengan jiran tetangga dan lingkungan. Bahkan, mereka juga menginisiasi pembuatan portal untuk mencegah terjadinya kemalingan di lingkungan mereka.

“Sekali rapat di rumah beliau, dan rumah saya. Kemudian, ada juga kita buat kegiatan 17-an. Kadang-kadang juga neliau ikut bakar ikan, kehangatan itu masih sangat terasa gak ada yang berubah. Kalau saya rasa, bagi masyarakat, dari dulu Pak Akhyar sebagai tempat mengadu,” tuturnya.

Tak hanya itu, satu hal yang dilihat Ardiansyah soal sikap dan bahasa tubuh Akhyar, yakni tidak membedakan orang.

“Beliau apa adanya, tidak mengada-ada, misalnya ketika orang bertamu, tidak ada pembedaaan siapa yang datang dan apa yang akan disajikan. Makanya orang suka menjumpai dia. Perlu dicontoh juga sikap beliau ini, kadang baru pulang sudah ada tamu yang nunggu,” tandasnya.

Ardiansyah juga mengakui, jalan tempat mereka itu dulunya kurang terperhatikan. Namun kini sudah semakin bagus, baik jalanannya maupun drainasenya.

“Kawasan kami itu, dulunya orang malas pindah ke situ. Karena rawan pencurian dan lainnya, tapi sekarang tempat kami yang paling nyaman,” tutupnya. (adz)