28 C
Medan
Monday, February 2, 2026
Home Blog Page 4636

Kematian Babi Meluas ke 18 Daerah, Gubsu: Beri Saya Waktu Satu Bulan

DIKUBUR: Petugas BPBD Kota Binjai menguburkan seekor bangkai babi yang ditemukan terapung di aliran Sungai Bingai.
DIKUBUR: Petugas BPBD Kota Binjai menguburkan seekor bangkai babi yang ditemukan terapung di aliran Sungai Bingai.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Merebaknya virus hog cholera (kolera babi) dan African Swine Fever (ASF) atau demam babi Afrika di Sumut terus berkembang. Jika sebelumnya hanya menyerang di 16 kabupaten/kota, kini virus tersebut diduga telah menyebar di 18 kabupaten/kota.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumatra Utara, Muhaimin, menyebutkan, kasus kematian babi karena kedua virus itu juga ditemukan di Kabupaten Batubara dan Mandailing Natal (Madina). Di Kabupaten Batubara terjadi kematian sebanyak 66 ekor dan Mandailing Natal 6 ekor. “Itu di Madina dan Batubara,” katanya, Senin (6/1).

Mengenai virus ASF, mereka mengaku belum mendapatkan surat dari Kementrian Pertanian. Dijelaskannya, salinan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 820/KPTS/PK.320/M/2019 tentang pernyataan wabah penyakit demam babi afrika (African Swine Fever) pada beberapa kabupaten/kota di Provinsi Sumatra Utara diketahuinya melalui aplikasi percakapan WhatsApp.

“Itu ditetapkan Menteri pada 12 Desember 2019, tapi surat resmi dari Kementerian belum kami terima. Hanya dari WA saja. Mungkin itu ditujukan ke gubernur. Belum ada tembusan, belum ada yang resmi dari gubernuran,” ungkapnya.

Karena itu, lanjut Muhaimin, pihaknya masih menunggu arahan dari gubernur untuk penanganan selanjutnya. “(Soal pemusnahan), kita masih menunggu arahan dari gubernur lah,” jelasnya.

Sebelum ini, 16 kabupaten dinyatakan sebagai daerah wabah penyakit demam babi Afrika yakni Dairi, Humbang Hasundutan, Deli Serdang, Serdang Bedagai, Karo, Toba Samosir, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Samosir, Simalungun, Pakpak Bharat, Langkat, Tebing Tinggi, Pematang Siantar dan Medan.

Kepala Balai Veteriner Medan, Agustia mengatakan, 16 kabupaten/kota tersebut merupakan kantong populasi babi di Sumut. Virus hog cholera maupun ASF dapat menyerang dengan cepat.

Menyikapi ini, Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) Edy Rahmayadi, meminta waktu satu bulan kepada masyarakat, sebelum mengeluarkan keputusan terkait persoalan kolera babi di wilayah ini. Edy belum mau menyatakan bahwa virus ini sudah masuk kategori bencana, karena sifatnya menyebar hingga hampir ke seluruh kabupaten/kota di Sumut.

“Ada dilema di situ. Kalau saya iyakan ini bilang bencana, semua babi ini harus dimusnahkan. Kasih saya waktu satu bulan,” katanya menjawab wartawan di kantor Gubsu, Senin (6/1) sore.

Ia mengatakan, saat ini jumlah keseluruhan babi mati terserang virus ini mencapai 42 ribu lebih. Pemprovsu, kata dia, belum mampu menerapkan sistem seperti di negara Tiongkok. Di mana, memusnahkan seluruh hewan ternak agar virus tidak tersebar luas. “China butuh 20 tahun berikutnya tidak boleh memelihara babi sampai dinyatakan tempat itu steril. Mampukah itu dilakukan, saya masih mencari peluang lain,” kata dia.

Saat ini, kata dia, tim antisipasi penyebaran virus sudah diperketat. Di mana, posko-posko terus mengawasi keluar masuknya kendaraan yang membawa hewan ternak ini. Tim ini akan bekerja untuk mengawasi babi-babi agar tidak keluar dan masuk begitu saja di Sumut. Ini dilakukan untuk mengantisipasi penyebaran virus hingga keluar daerah. “Yang kita antisipasi masuknya babi dari luar ke dalam dan sebaliknya, supaya tidak menular ketempat lain,” ucapnya.

Sama seperti keterangan sebelumnya, Gubsu mengatakan, posko juga akan memantau peternak agar tidak membuang babi sembarangan. Nantinya, tim akan melakukan penguburan bangkai ini dengan menggunakan alat berat. “Memperketat pos-pos yang ada babi-babi yang mati ini nantinya dikubur. Nanti masyarakat tidak membuang ke tempat lain,” ujarnya.

Kementerian Pertanian sebelumnya telah menyatakan 16 kabupaten/kota di Sumut sudah terjangkit wabah ASF. Untuk mengatasi wabah virus tidak menyebar luas, Edy mengatakan seluruh babi harus dimusnahkan secara masal. “Iya memang terjangkit ASF, selayaknya itu dimusnakan,” ucapnya.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan, Azhar Harahap mengatakan, pemerintah tidak memiliki anggaran untuk membiayai ganti rugi babi milik peternak ataupun perusahaan, jikalau penanganannya dilakukan dengan cara memusnahkan seluruhnya. Sebab, saat ini masih ada ribuan ekor babi hidup milik masyarakat dan perusahaan. Apabila per ekor babinya dihargai Rp 2 juta, pemerintah harus mengeluarkan anggaran yang besar untuk dapat mengganti ruginya. “Kalau di Sumut tidak ada menganggarkan dana untuk antisipasi penanganan masalah ini,” ucapnya.

Walaupun Kementan sudah menganggarkan Rp5 miliar untuk membantu Pemerintah Sumut mengantisipasi penyebaran virus ini.l, Azhar mengatakan tidak akan menyentuh anggaran yang dikucurkan dari pusat untuk menangani kasus ini. “Anggaran Rp5 M itu pusat yang menggunakannya, tidak kita sentuh itu uangnya,” ujarnya.

Pihaknya seakan tidak mampu untuk memusnahkan seluruh hewan ternak ini, karena tidak memiliki anggaran. Seakan lepas tangan berulangkali dirinya mengatakan akan melakukan rapat terlebih dahulu dengan DPRD Sumut untuk dapat mengatasi masalah ini. “Besok kita rapat dulu untuk mengatasi masalah ini,” ujarnya.

Kemudian, dirinya juga memprogramkan aturan bagi perusahaan peternak babi. Di mana nantinya setiap perusahaan tidak boleh over kapasitas atau kelebihan jumlah. Akan tetapi, dirinya tidak menyebut berapa jumlah setiap perusahaan memelihara babi. “Besok kita akan adakan rapat untuk membahas bagaimana penanganan babi miliki perusahaan. Karena populasi yang ada di perusahaan sudah cukup tinggi,” ujarnya.

Masyarakat Jangan Khawatir

Sementara, Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo meminta pada masyarakat untuk tidak khawatir. “Tidak perlu khawatir lagi,” ujarnya di Rumah Jabatan Gubernur Bali, Denpasar, Sabtu (4/1) lalu.

Pihaknya mengklaim, pemerintah sudah menangani wabah tersebut dengan baik. “Kami sudah tangani dengan baik itu,” lanjutnya.

Bersama Pemerintah Daerah Sumut, pihaknya telah melakukan sejumlah upaya penanggulangan. Penanggulangan dilakukan dengan mengisolasi lokasi yang terjangkit dan memusnahkan babi yang terjangkit. “Kami melakukan isolasi penuh dan melakukan pemeriksaan ketat. Pemusnahan hanya untuk membersihkan,” katanya.

Ia menyebut, ada dampak ekonomi yang dirasakan warga Sumut akibat flu babi. Namun, lanjutnya, dampak tersebut memiliki skala kecil. “Dampaknya tentu ada, tapi skalanya kecil. Jadi tak perlu khawatir,” tegasnya lagi. (prn/bbs)

Pelamaran CPNS, Deliserdang Kabulkan 28 Sanggahan, Dairi 1

Ilustrasi

LUBUKPAKAM, SUMUTPOS.CO – Dari 1.259 pelamar Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) untuk Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Deliserdang yang dinyatakan Tidak Memenuhi Syarat (TMS), sebanyak 465 di antaranya melakukan sanggahan. Dari jumlah itu, sebanyak 28 pelamar sanggahannya diterima.

“Dari 465 pelamar yang melakukan sanggahan, hampir 50 persen di antaranya bermasalah karena tidak mengirimkan berkas lamarannya melalui via kantor pos,” kata Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD)n

Pemkab Deliserdang, Yudi Himawan, melalui Kabid Pengadaan Pegawai dan Mutasi Drs Syahrul MPd, ketika dihubungi melalui telepon selulernya, Senin (6/1).

Menurut dia, seharusnya setiap pelamar yang mengupload lamaran di situs https://sscn.bkn.go.id, juga wajib mengirimkan berkas lamarannya melalui via kantor pos. “Berkas yang diupload adalah dokumen asli. Tapi ada yang membuat dokumen yang dilegalisir. Itu juga bermasalah dan TMS,” bilang Syahrul.

Adapun pelamar CPNS di Pemkab Deliserdang sebanyak 6.647 pelamar, namun yang submit hanya 6.305. Dari jumlah yang submit, yang Memenuhi Syarat (MS) 5.046 pelamar, sedangkan TMS sebanyak 1.259 pelamar.

“Bagi pelamar CPNS yang dokumennya dinyatakan Memenuhi Syarat (MS), diminta agar mencetak sendiri nomor peserta ujian,” kata Syahrul.

Dairi Kabulkan 1 Penyanggah

Masih soal sanggahan pelamar CPNS, seorang pelamar di lingkungan Pemkab Dairi, akhirnya berhak mengikuti seleksi kompetensi dasar (SKD), setelah berkasnya dinyatakan Memenuhi Syarat (MS).

Pelamar yang sempat dinyatakan TMS pada seleksi administrasi secara online, melamar untuk kualifikasi S1 formasi tenaga pendidik jurusan agama Islam.

“Memang ada kesilapan tim saat melakukan seleksi berkas, sehingga ia sempat dinyatakan TMS,” kata SSCN Daerah yang juga Kasubbid Pengadaan, Pemberhentian dan Informasi pada Badan Kepegawaian Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Dairi, Rico R Sihombing, menjawab wartawan, Senin (6/1).

Rico menjelaskan, jumlah pendaftar yang memenuhi syarat (MS) ke Pemkab Dairi sebanyak 19.026 orang. Yang TMS awalnya sebanyak 710 orang. Tettapi karena sanggahan seorang pelamar dikabulkan, maka jumlah pelamar yang TMS menjadi 709. “Dengan demikian, total jumlah pelamar CPNS yang berhak mengikuti SKD di Pemkab Dairi sebanyak 19.735 orang,” katanya.

Mengenai jadwal ujian, menurutnya, panitia masih menunggu petunjuk dari BKN pusat. Awalnya dijadwalkan antara akhir Januari atau awal Februari 2020. “Tetapi sampai sekarang belum ada petunjuk pasti,” ucapnya.

Tentang tempat ujian, pihaknya merencanakan di gedung Bale Karina Jalan Empat Lima Sidikalang. Ujian CAT mempergunakan perangkat komputer SD dan SMP yang ada di Dairi.

“Melihat jumlah pelamar, ujian mungkin akan berlangsung selama 2 minggu, dengan asumsi sekali ujian (per sesi) 300 orang, dikali 5 sesi dalam satu hari,” katanya.

Jumlah formasi CPNS Pemkab Dairi tahun 2019 hanya sebanyak 285, yakni formasi tenaga pendidik (guru) 222 orang dan tenaga kesehatan sebanyak 63 orang.

Jadwal SKD Belum Pasti

Setelah dinyatakan lulus verifikasi berkas, para pelamar CPNS berhak mengikuti Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) tahun 2020. Tapi kapan jadwal SKD?

“Belum ada kepastian tanggal berapa pelaksanaan SKD untuk Pemko Tebingtinggi. Kami masih menunggu jadwal dari pihak Menpan RB,” jelas Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kota Tebingtinggi Syaiful Fachri, Senin (6/1).

Dijelaskan Fachri, untuk provinsi, kabupaten, dan kota, SKD akan dilakukan menggunakan Computer Assisted Test (CAT), rencananya dimulai Februari 2020. Sementara Seleksi Kompetensi Bidang (SKB) pada Maret 2020.

“Dari 277 formasi CASN yang dibuka untuk Pemko Tebingtinggi, pelamar mencapai puluhan ribu,” katanya. Namun hanya 9.911pelamar yang dinyatakan memenuhi syarat.

Adapun formasi yang dibuka yakni tenaga kesehatan sebanyak 71 orang, formasi tenaga pendidikan sebanyak 131 orang, dan formasi umum sebanyak 75 orang. (btr/rud/ian)

Jumlah Penumpang Turun 5 Persen pada Libur Nataru 2020

 RAMAI: Ribuan penumpang memadati Terminal Bandar Deli, Pelabuhan Belawan, Minggu (5/1). Tahun ini, jumlah penumpang pesawat, kereta api dan bus mengalami penurunan 5 persen. 
 Fachril/sumut pos
RAMAI: Ribuan penumpang memadati Terminal Bandar Deli, Pelabuhan Belawan, Minggu (5/1). Tahun ini, jumlah penumpang pesawat, kereta api dan bus mengalami penurunan 5 persen.
Fachril/sumut pos

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Jumlah penumpang selama libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2020 terjadi penurunan dibanding tahun lalu. Padahal, melalui pemetaan yang dilakukan stakeholder terkait, diperkirakan bakal terjadi lonjakan penumpang pada Nataru 2020.

“Jadi memang secara total, jumlah penumpang pada Nataru kali ini dibanding periode sebelumnya itu turun. Totalnya hampir berkisar lima persen. Kemungkinan salah satun

faktornya itu karena ekonomi sedang lesu,” kata Koordinator Tim Angkutan Nataru 2020 Dinas Perhubungan Sumatera Utara, Agustinus Panjaitan menjawab Sumut Pos, Senin (6/1).

Dia mengungkapkan, paling drastis penurunan jumlah penumpang kali ini yakni pada transportasi udara. Disusul penumpang kereta api dan juga bus. Sementara untuk angkutan laut, justru meningkat signifikan jumlahnya.

“Untuk kereta api turun (-2,09 persen). Tetapi yang tertinggi itu turunnya pada penerbangan atau pesawat. Yaitu turun sampai 8,82 persen. Sementara di laut naik hingga 48,95 persen. Kalau dirata-ratakan penurunan penumpang pada Nataru kali ini, sekitar lima persen dibanding periode sebelumnya,” katanya.

Diakui dia, pada pemetaan sebelum pelaksanaan Nataru, diperkirakan ada kenaikan penumpang sekitar lima persen. Dan kenaikan tersebut dianggap masih mampu diakomodir dari sisi ketersediaan angkutan. “Namun ternyata trennya justru menurun. Dan memang untuk via udara ini, sudah diprediksi juga sama Angkasa Pura II. Sama halnya seperti di Nataru musim sebelumnya. Ya, salah satu pengaruhnya memang faktor ekonomi,” ungkapnya.

Sementara itu mengenai rampcheck atau inspeksi kendaraan yang pihaknya lakukan bersama stakeholder terkait sebelum arus mudik Nataru berjalan, tercatat sebanyak 251 kendaraan. Lalu yang dites urine baik sopir ataupun nahkoda, ada 391 orang, tes kesehatan sebanyak 176 orang.

“Dari jumlah yang kita cek itu, hasilnya tetap tiga orang yang positif narkoba. Di Terminal Pinang Baris ketemu dua orang, satu lagi sopir bus ALS yang langsung dites di pool ALS,” katanya. (prn)

Proyek Tol Trans Sumatera, Tebingtinggi-Siantar Proses Pembebasan Lahan

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Sebagai bagian dari proyek tol Trans Sumatera, jalan tol dari Kota Medan rencananya akan dibangun hingga ke Parapat. Hingga saat ini, pekerjaan jalan tol telah selesai dari Medan hingga Kota Tebingtinggi. Jadwal selanjutnya adalah pembangunan tol Tebingtinggi-Pematangsiantar, yang diproyeksikan dikerjakan tahun 2020 ini.

“RENCANA pembangunan jalan tol Tebingtinggi-Pematangsiantar masih proses pembebasan lahan. Sejauh ini, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara belum ada diajak rapat lagi oleh instansi berwenang, sehingga tidak mengetahui progres terbarunya seperti apa. Namun sekarang ini lahan untuk ruas tol itu belum selesai. Artinya masih tahap pembebasan tanah,” kata Kepala Bidang Fisik Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sumut, Anda Subrata menjawab Sumut Pos, Senin (6/1).

Setelah tol terhubung dari Medan sampai Tebingtinggi, kata Anda, nantinya ada juga ruas tol yang menghubungkan dari Tebingtinggi hingga Kualatanjung.

“Tahun lalu, salahsatu seksinya sudah di-groundbreaking, yakni untuk seksi Tebingtinggi-Serbelawan. Saat ini, ruas itu sudah dikerjakan. Namun untuk tol Tebingtinggi-Siantar masih pembebasan lahan,” ungkapnya.

Pemprovsu, imbuh Anda, sangat berharap dilakukan percepatan pembangunan pada seksi-seksi tol di Sumut di 2020 ini. Sehingga pembangunannya lebih cepat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Sumut. “Kalau kami tentu akan selalu menyupport percepatan pembangunan jalan tol di Sumut. Sebab akan banyak sekali manfaatnya bagi masyarakat kita. Salah satunya jarak dan waktu tempuh yang dilakukan akan lebih singkat dari sebelumnya,” katanya.

Selain itu, sambung dia, integrasi tol sebagai salahsatu upaya untuk meningkatkan pariwisata Danau Toba yang sedang gencar digenjot pemerintah pusat. “Pada prinsipnya pemerintah provinsi tetap memberi dukungan penuh atas PSN yang ada di Sumut. Terutama pembangunan yang bermanfaat untuk rakyat,” pungkasnya.

Anggota Komisi D DPRD Sumut, Jumadi, meminta pemerintah provinsi serius mengawal berbagai PSN (Proyek Strategis Nasional) di Sumut. Ia berharap jangan sampai ada PSN yang terbengkalai, sebab yang akan dirugikan adalah masyarakat Sumut juga.

“Pertama tentu kita harus berbangga bahwa begitu besar perhatian pusat terhadap pembangunan di Sumut. Tinggal lagi bagaimana kita dapat mengawal sampai selesai pekerjaan yang sedang dilakukan saat ini,” katanya.

Percepatan Pelabuhan Kuala Tanjung

Sementara itu, Pemprov Sumut mendukung upaya percepatan pengembangan Pelabuhan Kuala Tanjung menjadi Pelabuhan Hub Internasional. Percepatan itu diyakini akan berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat di daerah ini.

Hal tersebut terungkap dalam rapat percepatan pengembangan Pelabuhan Kuala Tanjung, yang dipimpin Gubsu Edy Rahmayadi, di Kantor Gubsu, Senin (6/1). Hadir dalam rapat Wagubsu Musa Rajekshah, Sekdaprovsu R Sabrina, Bupati Batubara Zahir, Direktur Transformasi dan Pengembangan Bisnis PT Pelabuhan Indonesia I (Persero) Ihsanuddin Usman, dan Perwakilan PT Pertamina, Project Coordinators GRR Kilang Bontang Aiman Tuahta Barus.

Rencananya, di kawasan Pelabuhan Kuala Tanjung juga akan dibangun kilang minyak dan petrokimia. “Saya tahu proyek ini pada tahun 2016. Segera bentuk tim, di mana ada orang Pemprov, Pemkab Batubara dan Pelindo. Lakukan kerja sama dalam bentuk kelompok kerja,” ujar Edy.

Menurutnya, bila kilang minyak ini lekas dibangun di Kuala Tanjung, akan mempercepat tumbuhnya perkembangan pelabuhan tersebut. Salahsatunya dengan mengejar investor dari Korea. “Targetnya, pertengahan tahun 2020 sudah groundbreaking. Karena it, dikerjakan dari sekarang,” katanya.

Gubsu berharap, dengan terselesaikan Pelabuhan Kuala Tanjung menjadi hub internasional, akan meningkatkan taraf hidup masyarakat Sumut. “Saya berharap, Pelabuhan Kuala Tanjung bisa menyejahterakan Sumatera Utara. Karena sangat mungkin membuka banyak lapangan kerja. Karena itu habis rapat ini harus dibuat planning besar, kapan ini semua akan diselesaikan, siapa dan berbuat apa harus jelas,” tegasnya.

Dibangun Bertahap

Pengembangan Pelabuhan Hub Internasional yang terintegrasi dengan kawasan industri sebagai fasilitas penunjang (back bone) pelabuhan, rencananya akan dilakukan secara bertahap. Tahap 1 terminal multipurpose sudah selesai dibangun dan dioperasikan, dengan panjang dermaga 2×500 m dengan kapasitas petikemas 500 ribu Teus dan Tangki Timbun CPO 100 ribu metric ton.

Tahapan selanjutnya adalah pengembangan kawasan industri dan pengembangan pelabuhan sesuai pertumbuhan industri dan transhipment. Untuk itu, Pelindo membutuhkan penetapan lokasi (penlok) seluas 1.700 Ha, di mana 1.128 Ha diperuntukkan untuk kebutuhan lahan kilang dan petrokimia, dan 500 hektare untuk cluster industri lainnya. Ditaksir total dana yang dibutuhkan adalah Rp 9,5 triliun.

Direktur Transformasi dan Pengembangan Bisnis PT Pelabuhan Indonesia I (Persero), Ihsanuddin Usman, mengatakan Pelabuhan Kuala Tanjung akan mampu menyerap banyak tenaga kerja. “Kami berharap dukungan yang optimal dari pemerintah. Bila ini terwujud, akan ada lapangan kerja untuk 25.000 orang. Jika kita bekerja sesuai dengan porsi kita masing masing, awal tahun depan sudah bisa kita lakukan pembangunan konstruksi,” ujarnya. (prn/rel)

Pastikan Tidak Ada Nego dengan Tiongkok Terkait ZEE

SIAGATEMPUR: KRI Teuku Umar-385 melakukan peran muka belakang usai mengikuti upacara Operasi Siaga Tempur Laut Natuna 2020 di Pelabuhan Pangkalan TNI AL Ranai, Natuna, Kepulauan Riau.

Siapkan Nelayan Pantura Melaut di Natuna

SIAGATEMPUR: 
KRI Teuku Umar-385 melakukan peran muka belakang usai mengikuti upacara Operasi Siaga Tempur Laut Natuna 2020 di Pelabuhan Pangkalan TNI AL Ranai, Natuna, Kepulauan Riau.
SIAGATEMPUR: KRI Teuku Umar-385 melakukan peran muka belakang usai mengikuti upacara Operasi Siaga Tempur Laut Natuna 2020 di Pelabuhan Pangkalan TNI AL Ranai, Natuna, Kepulauan Riau.

JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Pemerintah menegaskan bahwa Indonesia tidak punya masalah, apalagi berkonflik dengan Tiongkok. Meski begitu, tetap harus tegas terhadap pelanggaran yang dilakukan oleh kapal ikan dan Coast Guard Tiongkok di Natuna Utara. Setelah meningkatkan intensitas operasi dengan menambah KRI, pemerintah akan mengirim nelayan untuk melaut di sana.

Presiden Joko Widodo kemarin angkat bicara terkait klaim Tiongkok terhadap perairan Natuna Utara. Jokowi menegaskan bahwa Natuna merupakan bagian dari wilayah Indonesia yang sah. Sehingga pemerintah tidak akan melakukan upaya tawar-menawar soal kedaulatan negara di kawasan tersebut.

“Tidak ada yang namanya tawar menawar mengenai kedaulatan, mengenai teritorial negara kita,” ujarnya saat membuka sidang kabinet paripurna di Istana Negara, Jakarta Senin (6/1). Dia menambahkan, pernyataan yang disampaikan pemerintah melalui Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) terhadap Tiongkok sudah sesuai.

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mohammad Mahfud MD juga menegaskan hal itu usai bertemu dengan 120 nelayan dari Pantai Utara Jawa di Jakarta. Dia menyebut, pemerintah akan mengirim nelayan untuk melaut di sana. “Kita mau memobilisasi nelayan-nelayan dari Pantura dan mungkin pada gilirannya dari daerah-daerah lain,” ungkap dia kemarin.

Kehadiran para nelayan di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Natuna Utara akan melengkapi operasi yang dilakukan oleh TNI bersama Badan Keamanan Laut (Bakamla). Juga menegaskan bahwa negara hadir dan ada di sana. “Negara hadir itu minimal dalam dua hal. Satu peningkatan patroli, yang kedua aktivitas nelayan kita sendiri,” imbuhnya.

Di hadapan para nelayan, Mahfud menyampaikan bahwa yang dimasuki kapal ikan dan Coast Guard Tiongkok merupakan daerah kaya sumber daya laut. Beraneka macam jenis ikan berkumpul di sana. Tersedia dan melimpah. Dia menegaskan, Indonesia berhak atas kekayaan tersebut. “ Saudara juga berhak atas ikan-ikan dan pemanfaatan sumber daya laut di sana,” ujar dia.

Semua itu sudah tercatat dalam hukum laut (UNCLOS). Bahwa ZEE Indonesia di Natuna Utara bagian dari Indonesia. “Hukum internasional mengatakan bahwa perairan yang mereka (Tiongkok) masuki itu adalah perairan sah kita, Indonesia dan kita berhak mengeksplorasi,” terang pria yang pernah mejabat menteri pertahanan (menhan) tersebut.

Mahfud mengakui, walau sudah ada perintah dari presiden, kehadiran negara di Natuna Utara sempat kurang. Namun demikian, itu tidak berarti ZEE boleh sembarangan dimasuki. “Oleh sebab itu, keputusan pemerintah itu pertama menyatakan siapa pun, negara lain tidak boleh masuk ke situ tanpa izin dari pemerintah kita,” ujarnya.

Apabila masih ada yang berani masuk tanpa izin, apalagi sampai mengambil sumber daya laut di sana, Mahfud menyebutkan bahwa itu sama saja dengan pencuri. “Melanggar hukum dan kita usir,” tegas Mahfud. Dia juga menyebut, hubungan baik antara Indonesia dengan Tiongkok harus tetap berlangsung. Baik terkait ekonomi, perdagangan, maupun kerja sama lainnya.

Hanya, pemerintah tidak tinggal diam bila ada pelanggaran. Dengan tegas Mahfud menyampaikan, langkah-langkah yang dilaksanakan pemerintah tidak lain demi kedaulatan negara. “Jadi, tidak ada perang. Tetapi tidak ada nego. Karena kalau menego berarti kita mengakui itu milik bersama,” tutur mantan ketua Mahkamah Konstitisi (MK) tersebut.

Walau belum dipastikan kapan ratusan nelayan itu berangkat ke Natuna, Mahfud menjamin mereka akan dibantu. Mulai izin, fasilitas, sampai jaminan keamanan. “Kami koordinasikan terus mulai hari ini (kemarin) dengan instansi terkait, dengan KKP, dengan pemda, dengan Kemendagri, nanti tingkat ini, koordinasi umum akan dilakukan oleh pak sesmenko,” bebernya.

Dalam kesempatan yang sama, perwakilan nelayan asal Tegal, Riswanto menyampaikan bahwa dia bersama rekan-rekannya siap melaut ke Natuna Utara. Namun demikian, masih perlu pembicaraan dan persiapan teknis untuk keberangkatan mereka ke sana. Termasuk di antaranya soal kapal dan izin yang dibutuhkan.

Berdasar pengalaman nelayan-nelayan Pantura yang pernah melaut ke Natuna Utara, Riswanto menyampaikan bahwa kapal yang memungkinkan untuk mencari ikan di Natuna Utara adalah kapal dengan gross tonnage atau GT di atas 150. “Karena jaraknya (dari Pantura ke Natuna) jauh,” ungkap dia kemarin.

Selain kapal besar, pria yang juga ketua DPC Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Tegal itu menyampaikan bahwa untuk melaut di Natuna Utara dibutuhkan operasional yang besar. Mengingat pencarian ikan bisa sampai dua atau tiga bulan. “Kalau dua sampai tiga bulan itu (biaya operasional) hampir Rp 500 juta,” imbuhnya.

Karena itu, pihaknya berharap besar pemerintah membantu perizinan agar lebih mudah. Sebab, izin untuk kapal di atas 30 GT ada di pemerintah pusat. Mereka juga berharap ada kebijaksanaan terkait bahan bakar minyak (BBM). Subsidi BBM yang saat ini hanya berlaku untuk kapal di bawah 30 GT, dia harapkan bisa berlaku untuk kapal yang akan melaut ke Natuna.

Riswanto mengakui, harapan itu sudah disampaikan langsung dalam pertemuan yang dilaksanakan di Kemenko Polhukam. “Harapannya (ada BBM subsidi) kalau memang kami mau ke sana,” bebernya. Secara prinsip, lanjut dia, nelayan-nelayan dari Pantura juga siap bekerja sama dengan nelayan lokal dari Natuna.

Sebelum berangkat ke Natuna, kata dia, pemerintah juga akan mengundang nelayan-nelayan lain dari seluruh Indonesia untuk membicarakan hal serupa terkait pemanfaatan sumber daya laut di sana. Siapa saja dan dari mana saja yang berangkat lebih dulu, akan dibicarakan lebih lanjut. “Teknisnya nanti dari KKP,” imbuhnya.

Kemarin, Kepala Bakamla Laksdya Bakamla A. Taufiqoerrochman juga menyampaikan bahwa saat ini yang perlu dilakukan oleh pemerintah adalah mengirim kapal-kapal ikan besar dari Pantura ke Natuna Utara. “Sambil kita gaungkan bahwa China telah melanggar hukum internasional,” ungkapnya. Dia pun memastikan, Bakamla akan mengawal kapal-kapal ikan itu.

Terpisah, Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Mayjen TNI Sisriadi mengungkapkan, pihaknya sudah melaksanakan bagian dan tugas pengamanan di Natuna Utara.”Urusan TNI adalah urusan pengamanan laut, perbatasan di wilayah laut, urusan pengamatan, dan pengintaian di wilayah kedaulatan dan ZEE kita,” bebernya.

Tugas itu sudah dilaksanakan dengan mengirim prajurit maupun alat utama sistem persenjataan ke Natuna Utara. Semuanya digerakan oleh panglima TNI melalui Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) 1. Perkara lain terkait upaya diplomasi agar situasi dan kondisi di Natuna membaik, disebut Sisriadi, sudah menjadi urusan diplomatik.

Menteri Luar Negeri Retno L.P. Marsudi menyampaikan, arahan presiden sangat jelas. Pemerintah akan terus berkomunikasi dengan Tiongkok. Retno optimistis upaya tersebut akan berakhir baik. Mengingat sikap Indonesia dipastikan di dukung dunia Internasional. “Karena prinsip tersebut diadopsi UN Convention dan merupakan kewajiban untuk tunduk,” ujarnya.

Retno menambahkan, dalam komunikasi Indonesia tidak menuntut apa pun terhadap Tiongkok selain meminta mereka mematuhi hukum internasional, termasuk di UNCLOS. “Nine dash line yg diklaim Tiongkok, sampai kapan pun juga Indonesia tidak akan mengakui dan apa yang disampaikan Pak Presiden bahwa itu bukan hal yang harus dikompromikan,” tuturnya.

Sementara itu, PB NU mendesak Pemerintah Tiongkok berhenti melakukan tindakan provokatif atas kedaulatan wilayah perairan Indonesia yang telah diakui dan ditetapkan oleh Konvensi Hukum Laut PBB, UNCLOS 1982. Ketua Umum PB NU Said Aqil Siroj menyebut, Kepulauan Natuna masuk dalam 200 mil laut Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) yang telah diratifikasi sejak 1994.

“Karena itu, tindakan Coast Guard Tiongkok mengawal kapal nelayan berbendera Tiongkok di perairan Natuna sebagai bentuk provokasi politik yang tidak bisa diterima,” terang dia saat konferensi pers di kantor PB NU Jalan Kramat Raya kemarin. NU mendukung sikap tegas Pemerintah RI terhadap Tiongkok.

Di antaranya yang dilakukan oleh menlu dan Bakamla. Termasuk untuk mengusir dan menenggelamkan kapal-kapal asing yang melakukan aktivitas illegal, unreported, unregulated fishing (IUUF) di seluruh perairan RI sebagai manifestasi dari Archipelagic State Principle yang dimandatakan oleh Deklarasi Djuanda 13 Desember 1957.

Meski Tiongkok merupakan investor terbesar ketiga di Indonesia, PB NU meminta Pemerintah Indonesia tidak lembek dan tidak menegosiasikan perihal kedaulatan teritorial dengan kepentingan ekonomi. “Keutuhan dan kesatuan wilayah NKRI, di darat, laut, dan juga di udara adalah harga mati yang tidak bisa ditukar dengan kepentingan apa pun,” tegasnya.

Dalam jangka panjang, NU meminta pemerintah mengarusutamakan fungsi laut dan maritim sebagai kekuatan ekonomi dan geopolitik. Menurut tokoh asal Cirebon itu, kedudukan laut amat strategis sebagai basis pertahanan. Karena itu, pulau-pulau perbatasan, termasuk yang rawan gejolak di Laut Selatan China, tidak boleh lagi disebut sebagai pulau terluar, tetapi terdepan.

Dia menyampaikan, ketidaksungguhan pemerintah dalam melaksanakan konsep pembangunan berparadigma maritim, termasuk dalam geopolitik, ekonomi, dan pertahanan, akan membuat Indonesia kehilangan 75 persen potensinya untuk maju, sejahtera, dan memimpin dunia sebagai bangsa bahari seperti amanat founding fathers.

Dalam pandangan NU sebagaimana dinyatakan oleh sang pendiri Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari bahwa hukum membela keutuhan tanah air adalah fardhu ‘ain, yaitu wajib bagi setiap orang Islam. “Dan barang siapa mati demi tanah airnya, maka ia mati syahid,” jelas Said. (far/lum/syn)

Plt Wali Kota Medan Minta Pimpinan OPD: Dalami Hasil Reses Anggota DPRD

HADIRI: Plt Wali Kota Medan, Akhyar Nasution menerima berkas hasil reses dari Ketua DPRD Medan, Hasyim, Senin (6/1).
HADIRI: Plt Wali Kota Medan, Akhyar Nasution menerima berkas hasil reses dari Ketua DPRD Medan, Hasyim, Senin (6/1).
HADIRI: Plt Wali Kota Medan, Akhyar Nasution menerima berkas hasil reses dari Ketua DPRD Medan, Hasyim, Senin (6/1).

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemko Medan harus mendalami secara seksama hasil-hasil reses yang disampaikan anggota DPRD Medan mulai Daerah Pemilihan (Dapil) I sampai V.

Penegasan itu dikatakan Pelaksana Tugas (Plt) Wali Kota Medan, Ir H Akhyar Nasution MSi dalam Rapat Paripurna Penyampaian Laporan Pelaksanaan Kegiatan Reses Pertama DPRD Kota Medan tahun 2020 di Gedung DPRD Medan, Senin (6/1).

Kemudian, lanjut Akhyar, dipadukanserasikan dengan hasil-hasil musyawarah perencanaan pembangunan (musrenbang), sekaligus menjadi masukan utama penyusunan prioritas program pembangunan Kota pada masa mendatang.

Dikatakan Akhyar, perlunya OPD melakukan pendalaman karena hasil reses yang disampaikan anggota DPRD Medan, banyak bermuatan saran masukan penting dan strategis, bail yang bersifat alternatif kebijakan maupun program-program pembangunan kota yang menggambarkan kebutuhan pokok masyarakat.

“Pelaksanaan reses DPRD Medan merupakan salah satu tugas dewan yang cukup penting dan strategis, terutama dalam rangka membangun komunikasi pembangunan secara timbal balik, guna lebih menyelaraskan arah kebijakan dan program pemabngunan kota dengan aspirasi masyarakat,” kata Akhyar.

Akhyar mengungkapkan, Medan sebagai kota yang terus berkembang, tentunya banyak masalah dan tantangan pemabngunan yang harus dihadapi, bahkan sifatnya cenderung semakin multi kompleks.

Tidak hanya tuntutan pelayanan public yang semakin berkualitas, tapi juga melibatkan dimensi yang lebih luas. Termasuk, upaya mempercepat dan memperluas pembangunan kota, seperti menjadikan Medan sebagai tujuan berinvestasi, wisata, pusat pendidikan dan kesehatan berkualitas.

Atas dasar itulah melalui sidang dewan ini, Akhyar ingin mengajak semua dan sleuruh pmangku kepentingan kota agar terus meningkatkan komitmen membangun kota, bersinergi membangun kota sehingga dapat menjadi modal social yang besar di tengah-tengah masyarakat.

Akhyar optimis, pembangunan kota dapat optimal dilakukan jika sleuruh stakeholder bergandengan tangan, menjabarkan dan melaksanakan visi dan misi pembangunan kota yang telah ditetapkan bersama.

“Di samping itu kita juga harus yakin, Kota Medan sesungguhnya memiliki sumber daya pemabngunan yang dapat dikembangkan secara luas, tentunya melalui kerja keras, keikhlasan dan kemitraan yang kokoh. Saya yakin dengan visi bersama, kitya mampu mewujudkan tujuan besar masyarakat dalam pembangunan, terutama meningkatkan taraf hidup sosial ekonomi masyarakat yang semakin baik sekaligus menjadikan Kota Medan sebagai kota masa depan bagi kita semua,” ungkapnya.

Penyampaian Laporan Pelaksanaan Kegiatan Reses Pertama DPRD Kota Medan tahun 2020 dibuka Ketua DPRD Medan Hasyim SE. Rapat ini turut dihadiri Sekda Kota Medan Ir Wiriya Alrahman MM, tiga Wakil Ketua DPRD Medan yakni Irwan Ritonga,Rajuddin Sagala dan HT Bahrumsyah,a nggota DPRD Medan serta pimpinan OPD dan camat se-Kota Medan.

Dalam rapat itu, masing-masing anggota DPRD Medan yang berasal dari Dapil I sampai V menyampaikan hasil reses yang telah dilakukan. Selain tuntutan perbaikan jalan dan drainase, reses juga menyoroti banyak masalah, diantaranyakurangnya pelayanan BPJS Kesehatan, pemberantasan narkoba, sampah, lampu jalan, peningkatan pelayanan kesehatan serta penertiban pedagang kaki lima yang sangat mengganggu kelancaran arus lalu lintas.

Sebelumnya ketika menghadiri Rapat Paripurna Pengesahan Tata Tertib (Tatib) DPRD Medan, Akhyar dalam sambutannya menyampaikan, Pemko Medan di tahun 2020, fokus membangun peradaban kota melalui jalan budaya untuk mewujudkan kota yang tertib, aman, dan nyaman bagi warga. Kemudian meningkatkan pembangunan maupun pelayanan publik.

Akhyar dalam rapat yang ditandai dengan Penyampaian Laporan Pertanggungjawaban Kelompok Kerja (Pokja) Penyusunan Tatib DPRD, juga menyampaikan selamat dan apresiasi atas selesainya pembahasan dan pengesahan Tatib DPRD Medan ini. Sebab, Tatib penting karena menjadi pedoman bagi legislator dalam menjalankan tugas dan fungsinya.

Kemudian Sekwan DPRD Medan Abd Azis membacakan konsep keputusan DRPD yang kemudian disetujui oleh anggota dewan. Setelah itu dilanjutkan dengan Penandatanganan Keputusan tentang Perubahan Atas Peraturan Tata Tertib DPRD Medan Nomor 1 Tahun 2018 tentang Peraturan Tatib DPRD Tahun 2020 oleh Pimpinan DPRD Medan.

Usai Rapat Paripurna Pengesahan Tatib DPRD Medan dan Penyampaian Laporan Pelaksanaan Kegiatan Reses Pertama DPRD Kota Medan tahun 2020, dilanjutkan dengan Rapat Paripurna Penyampaian Nota Pengantar Walikota Medan terhadap Ranperda Kota Medan tentang Pencabutan Peraturan Daerah kota Medan Nomor 1 Tahun 2013 tentang Pinjaman Daerah dan Ranperda Kota Medan Nomor 13 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Tahun 2011 sampai dengan 2013oleh Plt Wali Kota Medan. Usai menyampaikan Nota Pengantar, Akhar selanjutnya menyerahkan keopada Ketua DPRD Medan untuk selanjutnya dilakukan pembahasan. (map/ila)

PHL Segera Diseleksi, Dipilih Sesuai Keahlian

TRIADI WIBOWO/SUMUT POSBERSIHKAN TAMAN: Pekerja Harian Lepas (PHL) di Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Medan membersihkan taman di Lapangan Merdeka Medan, belum lama ini.
PHL: Beberapa PHL saat membersihkan taman kota. Jumlah PHL akan dievaluasi kembali.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Januari 2020 Pemko Medan akan menggelar Assessment bagi para Pekerja Harian Lepas (PHL) di masing-masing dinas yang ada di Pemerintahan Kota Medan. Hal itu dilakukan guna menyeleksi kembali para PHL yang ada di tiap-tiap dinas untuk bekerja sesuai dengan kemampuan dan keahliannya.

“Assessment itu dilakukan masing-masing OPD, bukan BKD yang melakukannya. BKD sendiri tidak punya tenaga PHL, jadi kami tidak melakukan assessment itu. OPD masing-masing yang akan melakukannya, agar bisa diseleksi kembali siapa-siapa saja PHL yang bekerja sesuai keahliannya dan yang tidak,” ucap Kepala Badan Kepegawaian Daerah dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKDPSDM) Kota Medan, Muslim Harahap kepada Sumut Pos, Senin (6/1).

Nantinya, kata Muslim, para PHL yang tidak sesuai dengan keahliannya akan disesuaikan dengan bidang lainnya, bisa juga diberhentikan atau diganti dengan tenaga PHL lainnya.

“Hal-hal semacam ini kan memang penting, jadi PHL itu dipastikan adalah mereka yang berkompeten dalam bidangnya. Kalau tidak sesuai, tentu tidak akan dipekerjakan lagi atau diperpanjang masa kontraknya,” katanya.

Salah satu Dinas di Pemko Medan yang memiliki tenang PHL terbanyak, yakni Dinas PU Medan telah melakukan hal itu sejak bulan Desember yang lalu. Kepada Sumut Pos, Plt Kepala Dinas PU Kota Medan, Zulfansyah mengatakan, untuk PHL pihaknya justru tidak melakukan assessment, tapi justru melakukan evaluasi secara langsung.

“PHL ini di Dinas PU kan rata-rata pekerja kasar, gak perlu lah assessment seperti ujian tertulis atau rangkaian psikotest. Kita hanya butuh Evaluasi secara langsung, melihat mereka apakah sesuai atau tidak untuk dipekerjakan dibidang itu,” kata Zulfansyah kepada Sumut Pos, Senin (6/1).

Evaluasi yang dimaksud, kata Zulfansyah, dengan melihat secara langsung para pekerja dilapangan. “Jadi dari Desember lalu kita sudah evaluasi langsung para PHL itu. Disaksikan langsung oleh pak Plt (Wali Kota Medan), ada PHL yang tidak ragu untuk masuk parit dalam melakukan tugasnya. Tapi ada juga yang tidak mau masuk ke parit, atau malu-malu. Ini kan jadi penilaian buat kita, mereka yang bekerja harus lah yang terampil dan tidak ragu atau malu dalam melakukan tugasnya,” katanya.

Untuk itu, lanjut Zulfan, saat ini pihaknya tengah menyeleksi para PHL tersebut dan akan mengusulkannya kepada Plt Wali Kota Medan pada bulan Januari ini juga. Salah satu alasannya, anggaran untuk tenaga PHL Kota Medan di tahun 2020 telah dipangkas dari 1000 orang menjadi 800 orang, atau sebanyak 200 PHL.

“Harus kita evaluasi, karena memang harus dipangkas sebanyak 200 orang. Anggarannya hanya untuk 800 orang, tentu kita juga gak sembarang pangkas, yang kita pangkas adalah mereka yang kurang berpotensi dalam pekerjaannya. Sedangkan untuk mereka yang bekerja dengan baik, sebisa mungkin pasti akan kita pertahankan,” tutupnya.

Menanggapi hal ini, anggota Komisi I DPRD Medan, Abdul Rani mengatakan, langkah evaluasi tersebut sudah tepat untuk dilakukan di jajaran Pemko Medan. Sebab menurutnya, saat ini begitu banyak para PHL yang tidak bekerja secara efektif hingga hanya menyebabkan pembuangan anggaran secara percuma.

“Ya itu bagus sekali, faktanya memang banyak sekali tenaga PHL yang nyatanya gak bisa kerja atau keahliannya tidak sesuai dengan bidang kerja yang diberikan, akhirnya hasilnya ya tidak maksimal. Kalau PHL tidak bisa bekerja secara maksimal, ya buat apa dipekerjakan, sedangkan di luar sana masih sangat banyak yang lebih berkompeten dan lebih layak untuk dipekerjakan. Jangan buang-buang anggaran untuk hal percuma,” tegas Rani kepada Sumut Posc Senin (6/1).

Evaluasi ini, kata Rani, harus terus dilakukan agar setiap PHL yang ada tiap-tiap OPD adalah mereka yang sudah teruji kinerjanya dan dapat membantu percepatan program kerja OPD itu sendiri. (map/ila)

Konflik Tanah Dapat Diminimalisir Lewat Program PTSL dari BPN

BERSALAMAN: Plt Wali Kota Medan, Ir H Akhyar Nasution MSi bersalaman dengan Kepala BPN Kota Medan Sri Puspita Dewi.
BERSALAMAN: Plt Wali Kota Medan, Ir H Akhyar Nasution MSi bersalaman dengan Kepala BPN Kota Medan Sri Puspita Dewi.
BERSALAMAN: Plt Wali Kota Medan, Ir H Akhyar Nasution MSi bersalaman dengan Kepala BPN Kota Medan Sri Puspita Dewi.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Program Percepatan Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sebagai jaminan bukti sah kepemilikan tanah dan kepastian hukum guna menghindari konflik di tengah- tengah masyarakat.

“Lewat program PTSL ini konflik terkait tanah yang mungkin kerap terjadi di masyarakat dapat diminimalisir. Selain itu juga semakin membantu dan mempermudah pemerintah daerah dalam melakukan penataan kota,” ungkap Plt Wali Kota Medan Ir H Akhyar Nasution MSi menerima audiensi Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kota Medan di Balai Kota Medan, Senin (6/1).

Didampingi Asmum Renward Parapat, Aspem Musadad Nasution, Asisten Ekbang Khairul Syahnan, Kadis DPKPPR Benny Iskandar dan Kepala BP2RD Kota Medan Suherman, Akhyar menerima Kepala BPN Kota Medan Sri Puspita Dewi ini untuk mengenalkan diri sebagai Kepala BPN yang baru menjabat.

Ucapan selamat datang dan selamat bertugas disampaikan Plt Wali Kota kepada Kepala BPN yang hadir bersama sejumlah kepala seksi yang menjabat berbagai bidang di Kantor BPN. Diharapkan, ke depan BPN dapat menunjukkan prestasi kerja serta membantu Pemko Medan dalam menertibkan, mengelola dan menjaga aset sesuai tugas dan fungsinya di bidang pertanahan.

“Sebelumnya atas nama Pemko Medan kami ucapakan selamat bertugas untuk Kepala BPN. Selama ini koordinasi dan komunikasi antar Pemko Medan dan BPN Kota Medan telah berjalan baik dan kami harap ini dapat terus berlanjut. Apalagi banyak hal yang perlu kita koordinasikan bersama khususnya terkait aset-aset milik Pemko Medan yang ada,” kata Plt Wali Kota.

Sementara itu, Kepala BPN Kota Medan Sri Puspita Dewi menyampaikan ucapan terima kasih kepada Plt Wali Kota atas sambutan baik yang diberikan kepadanya dan jajaran. Pihaknya mengaku saat ini terus gencar menjalankan program PTSL sekaligus minta dukungan pada Pemko Medan agar program tersebut dapat berjalan dengan baik.

“Kami mohon dukungan dan bantuan Pemko Medan untuk mensukseskan program PTSL. Ke depan kami menargetkan sebanyak 20000 PTSL akan kami terbitkan. Untuk itu, kami berharap Pemko Medan melalui dinas- dinas terkait dapat ikut mensosialisasikan program ini. Dengan demikian masyarakat akan semakin sadar hukum. Apalagi tujuannya untuk melindungi mereka,” paparnya. (map/ila)

Dewan Minta Dana Kelurahan Terserap Maksimal

Ilustrasi
Ilustrasi

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Wakil Ketua DPRD Medan dari fraksi PKS, Rajuddin Sagala menegaskan agar Pemko Medan tidak lagi bermain-main soal dana kelurahan di tahun 2020. Adanya Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (Silpa) dana Kelurahan tahun 2019 merupakan bukti tidak maksimalnya Pemko Medan dalam menggunakan anggaran itun

“Sekalipun itu tahun pertama, saya pikir tetap bisa dimaksimalkan kalau Pemko serius. Kalaupun Silpa, seharusnya tidak begitu banyak. Walaupun kita belum mendapatkan data akurat tentang serapan dana kelurahan, tapi bila mengingat pencairannya saja sudah di pertengahan Desember, kita yakin hanya sangat sedikit yang dipergunakan,” tegas Rajuddin.

Dilanjutkan Rajuddin, hal itu sungguh sangat disayangkan. Sebab saat ini masih sangat banyak pembangunan Kota Medan yang belum tersentuh di tingkat kelurahan. Dana itu seharusnya dapat membantu percepatan pembangunan, bukan malah terbuag sia-sia seperti yang terjadi di tahun lalu.

“Tahun lalu, dari pemerintah pusat Rp53,2 miliar, lalu Pemko sendiri menyiapkan dana pendamping sekitar Rp46 miliar. Itu totalnya sekitar Rp99 miliar lebih, kalau dibagi 151 kelurahan yang ada di Kota Medan, seharusnya bila pencairannya tepat waktu setiap kelurahan bisa mendapatkan sekitar Rp656 juta,” lanjutnya.

Walaupun nilai Rp656 juta itu juga bukan lah jumlah yang besar untuk sebuah pembangunan sekalipun di tingkat kelurahan.

“Itu saja sebenarnya masih sangat kurang kalau kita melihat masih banyak yang harus dibangun ditiap kelurahan. Tapi begitu pun, setidaknya itu cukup membantu untuk membangun infrastruktur yang belum tersentuh dinas-dinas terkait. Jadi kalau itu saja tidak dimanfaatkan, sangat disayangkan sekali. Dananya ada, tapi gak dipergunakan,” sambungnya.

Untuk itu, Rajuddin meminta, agar kedepannya Pemko Medan tidak lagi mengulangi hal yang sama agar serapan dana kelurahan bisa dipergunakan secara maksimal ditahun 2020.

“Tahun 2020 ini tidak ada alasan lagi bagi Pemko Medan untuk tidak memaksimalkan dana kelurahan. Harus maksimal, jangan lagi terulang kejadian di tahun lalu. Pemko juga harus lebih pro aktif dalam menjalin komunikasi dengan perangkat ditingkat kelurahan,” tegasnya.

Kepala Bagian Tata Pemerintahan Kota Medan, Ridho Nasution mengatakan, mengakui bahwa serapan anggaran Dana Kelurahan Kota Medan 2019 memang tergolong minim. “Itu sedang dipersiapkan oleh pihak BPKAD (Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah), semua laporannya mereka yang pegang. Kita juga sudah minta ke BPKAD, datanya nanti tanggal 16 (Januari) ini baru kita terima. Kalau minim iya, tapi data pastinya belum kita terima,” ucap Ridho kepada Sumut Pos, Senin (6/1).

Dikatakan Ridho, wajar apabila tahun 2019 serapan dana kelurahan tergolong minim, mengingat tahun lalu merupakan tahun pertama Pemko Medan mengelola dana tersebut. Para pihak ditingkat kelurahan juga belum berpengalaman dalam menggunakan dan mengelola dana tersebut untuk keperluan pembangunan di kelurahannya masing-masing.

“Memang minim, tapi kita harapkan kedepannya tidak lagi. Kemarin itu kan masih tahun pertama, banyak yang masih takut menggunakan dananya, itu sebabnya kita cukup lama memberikan sosialisasi. Lalu proses pencairannya juga cukup lama, karena terhalang ini dan itu, salah satunya NPWP bendahara kelurahan,” ujarnya.

Namun dengan selesainya berbagai persoalan itu ditahun 2019, Ridho meyakini di tahun 2020 pihaknya akan dapat mempergunakan dana kelurahan tersebut secara maksimal untuk berbagai keperluan khususnya pembangunan ditingkat kelurahan.

“Harapan kita tahun 2020 program untuk penggunaan dana kelurahan ini dapat dipersiapkan secara matang, masyrakat juga kita harapkan untuk turut bekerjasama dalam hal ini,” katanya.

Belajar dari pengalaman sebelumnya, Ridho menyebutkan akan memperbaiki semua hal yang menjadi kendala penerapan dana kelurahan tersebut. “Saat ini kami sedang mengevaluasi kembali semua yang sudah berjalan, itu semua akan kita perbaiki di tahun 2020 ini. Belajar dari pengalaman sebelumnya, ditahun 2020 ini dana kelurahan kita yakini akan jauh lebih maksimal penerapannya dibanding tahun lalu,” pungkasnya.

Seperti diketahui, tahun lalu Pemko Medan telah mendapat bantuan Dana Alokasi Umum (DAU) dari pemerintah pusat sebesar Rp 53,2 miliar lebih Tahun 2019. Dana tersebut diharapkan mampu memperbaiki infrastruktur skala prioritas melalui swakelola masyarakat. Selain itu, Pemko Medan juga telah ikut mengalokasikan Dana pendamping sebesar Rp46 miliar lebih. (map/ila)

Setelah Terminal Amplas & Pinangbaris Direvitalisasi, Terminal Liar Langsung Ditertibkan

TERMINAL LIAR: Para penumpang sedang menunggu bus di terminal liar di kawasan Simpang Pos. Jika Terminal Amplas dan Pinangbaris rampung direvitalisasi, maka terminal liar segera ditutup.
TERMINAL LIAR: Para penumpang sedang menunggu bus di terminal liar di kawasan Simpang Pos. Jika Terminal Amplas dan Pinangbaris rampung direvitalisasi, maka terminal liar segera ditutup.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Pelaksana Tugas (Plt) Wali Kota Medan, Akhyar Nasution mengaku belum akan menertibkan terminal liar yang ada di Kota Medan.

Penertiban baru akan dilakukan setelah revitalisasi Terminal Amplas dan Pinang Baris yang dilakukan oleh Kementerian Perhubungan (Kemenhub) rampung. “Nantilah siap terminalnya dulu langsung kami tertibkan, kalau sekarang ditertibkan mau di mana orang itu,” ujar Akhyar.

Pendapat yang sama diktakan anggota Komisi IV DPRD Medan, M Rizki Nugraha SE mengatakan, agar pemerintah pusat harus dapat menertibkan para pelaku angkutan yang tetap membandel tidak mau masuk ke dalam terminal apabila terminal sudah selesai dibangun.

“Kalau terminal sudah selesai dibangun, maka segera tertibkan pool-pool busa liar itu. Sebab percuma juga terminal itu dibangun kalau akhirnya masih banyak pool-pool bus liar yang tidak mau masuk ke dalam terminal dengan berbagai alasan. Pembangunan terminal kita harapkan tidak akan menjadi sia-sia dan justru akan mengangkat perekonomian masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) Kota Medan, Mont Gomery Munthe mengatakan bahwa pool bus liar yang ada di sepanjang Jalan Sisingamangaraja Kota Medan atau di seputar Terminal Amplas, itu terpaksa dilakukan. Sebab di dalam terminal yang sudah tidak terurus itu, pihaknya sangat sulit untuk mendapatkan penumpang.

Namun pihaknya berjanji, apabila Terminal Amplas sudah dibangun dan menjadi terminal yang layak, maka pihaknya bersedia ditertibkan untuk masuk kembali ke dalam terminal dan tidak ada lagi pool-pool bus liar di kawasan tersebut.

“Kita sudah sering berkoordinasi. Kalau nanti terminal itu sudah selesai dan jadi terminal yang layak, tanpa harus ditertibkan pun kami siap untuk masuk kembali ke dalam terminal. Para sopir ini bisa kok ditertibkan. Selama ini mereka tidak mau masuk ke dalam terminal bukan karena mereka tidak mau tertib atau membandel tetapi memang tidak ada penumpang lagi di dalam terminal,” tuturnya.

Seperti diketahui, pemerintah pusat berjanji akan merevitalisasi terminal Amplas dan Pinangbaris menjadi terminal dengan fasilitas berkelas dunia hingga membuat kedua terminal menjadi terminal ramah penumpang.

Sebagai salah satu bentuk keseriusan tersebut, Menteri Perhubungan (Menhub) RI, Budi Karya Sumadi datang untuk meninjau langsung Terminal Terpadu Amplas pada Sabtu (4/1) sore yang lalu.

Hal itu dilakukannya mengingat status pengelolaannya yang telah dialihkan dari Pemko Medan ke Kementrian Perhubungan (Kemenhub) RI untuk direvitalisasi menggunakan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). Kedatangan itu juga turut didampingi oleh Direktur Prasarana Kemenhub RI Risal Wasal, Plt Wali Kota Medan Akhyar Nasution dan Wakil Gubernur Sumut Musa Rajeckshah.

Menhub mengungkapkan, tujuan kedatangannya untuk melihat langsung kondisi TTA. Selain itu, untuk melakukan koordinasi lanjutan dengan Pemda terkait. Dari hasil tinjauannya ada beberapa poin yang menjadi perhatiannya ke depan terlebih usai nantinya revitalisasi TTA selesai dilakukan, salah satunya untuk meminimalisir keberadaan loket-loket bus liar agar kembali masuk ke dalam TTA. Terlebih, keberadaan loket bus liar kerap menjadi penyebab timbulnya kesemrawutan jalanan di kawasan Jalan Sisingamangaraja Kota Medan meski telah berulang kali ditertibkan. (map/ila)