Home Blog Page 5019

Liga 3 Zona Sumut, Karo United dan Bhinneka Menang di Leg Pertama

deking sembiring/sumut pos MENANG: PS Bhinneka diabadikan bersama sebelum laga lawan Batak United, Selasa (24/9). Bhinneka menang 3-1.
MENANG: PS Bhinneka diabadikan bersama sebelum laga lawan Batak United, Selasa (24/9). Bhinneka menang 3-1.
Deking sembiring/sumut pos

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Karo United dan PS Bhinneka sukses meraih kemenangan pada leg pertama babak semifinal Liga 3 Zona Sumatera Utara yang berlangsung Selasa (24/9) sore. Keduanya tinggal selangkah untuk lolos ke final dan mengamankan tiket ke Regional Sumatera.

Karo United mengalahkan PDSD Deliserdang dengan skor telak 5-1 di Stadion Samura, Kabanjahe. Tim debutan ini tampil dominan sepanjang laga. Mereka sudah unggul di awal laga melalui 2 gol Dinan Syahbani pada menit 2 dan 5.

Unggul 2 gol saat laga baru 5 menit, para pemain Karo United semakin bersemangat. Willyando kemudian memperbesar keunggulan tuan rumah di menit 18. Tim berjuluk Laskar Simbisa ini, semakin di atas angin, setelah Ahmad Fatoni mencetak gol di menit 24.

PSDS yang gagal mengembangkan permainan di awal laga, mulai bangkit di akhir babak pertama. Mereka kemudian memperkecil ketinggalan melalui Rizki Febri di menit 45.

Pada babak kedua permainan PSDS semakin baik. Mereka mampu mengimbangi permainan tuan rumah. Meski begitu, Karo United masih sempat menambah satu gol melalui tendangan penalti Willyando. Hingga pertandingan berakhir, Karo United unggul 5-1.

Pada pertandingan semifinal lainnya, Bhinneka sukses mengalahkan Batak United dengan skor 3-1 di Stadion Mini Pancing. Bhinneka sempat tertinggal 0-1 berkat gol pada menit 13 melalui gol bunuh diri Theo Markus.

Bhinneka kemudian bangkit dengan 3 gol pada babak kedua. Gol penyeimbang Bhinneka diciptakan Samuel Sitanggang pada menit 53. Azhari Parapat kemudian membalikkan keadaan pada menit 67. Dan, Samuel kemudian memastikan kemenangan Bhinneka melalui gol di menit 87.

Pelatih PS Bhinneka Imam Faisal, mengakui, anak asuhnya tampil terlalu percaya diri dan masih terlena pada babak pertama. Namun, mereka mampu bangkit di babak kedua.

Pertandingan leg kedua babak semifinal akan kembali digelar Kamis (26/9) mendatang. PSDS akan menjamu Karo United di Stadion Baharoeddin Siregar, Lubukpakam. Batak United menjamu Bhinneka di Stadion Tangsi, Tarutung. (dek/saz)

PSMS Belum Menyerah

triadi WIBOWO/sumut pos LATIHAN: Sejumlah penggawa PSMS Medan latihan di Stadion Teladan Medan, sebelum berlaga kontra PSCS Cilacap, belum lama ini.
LATIHAN: Sejumlah penggawa PSMS Medan latihan di Stadion Teladan Medan, sebelum berlaga kontra PSCS Cilacap, belum lama ini.
triadi WIBOWO/sumut pos

Pelatih PSMS Medan, Jafri Sastra mengatakan, harapan lolos ke babak 8 besar masih terbuka. Meski jarak poin antara PSMS dengan PSCS Cilacap di peringkat keempat klasemen sementara Liga 2 2019 Wilayah Barat, sudah 4 poin, Jafri mengaku belum menyerah hingga musim berakhir.

Ayam Kinantan kini masih mengoleksi 28 poin di peringkat kelima. Sementara PSCS sudah mengumpulkan 32 poin, satu poin di bawah Persiraja Banda Aceh di peringkat ketiga. Di posisi kedua ada Persita Tangerang dengan 34 poin. Dan Sriwijaya FC memuncaki klasemen dengan koleksi 37 poin.

Dengan kondisi saat ini, peluang PSMS masuk zona 4 teratas semakin berat. Jika nantinya mereka meraih kemenangan atas Aceh Babel United di Stadion Teladan Medan, Jumat (27/9) mendatang, jumlah poinnya masih belum bisa mengejar koleksi PSCS.

Karena itu, selain wajib meraih kemenangan atas Aceh Babel United, PSMS juga harus bisa menyapu bersih 3 laga sisa dengan kemenangan. Dan tetap masih menunggu hasil pertandingan tim lain yang berada di posisi 4 besar.

“Masih ada 4 laga lagi. Kami tidak boleh putus asa. Sekecil apapun peluang untuk lolos ke 8 besar, harus kami coba untuk dimaksimalkan,” tutur Jafri, Selasa (24/9).

Setelah menghadapi Aceh Babel United, Ayam Kinantan akan menghadapi pertandingan tak kalah berat, yakni bentrok Sriwijaya dan PSGC Ciamis. Dan pada laga pamungkas putaran kedua, PSMS akan melawan Persiraja.

Senada, Kiper PSMS Alfonsius Kelvan, pun mengaku tetap optimistis timnya lolos ke babak 8 besar, bahkan tembus ke Liga 1 musim depan.

Dalam 2 laga tandang lalu, PSMS hanya mampu meraih satu poin. Bermain imbang dengan Blitar Bandung United (1-1), dan kalah di kandang Persita Tangerang (1-0). “Kalah menang itu hal biasa dalam pertandingan,” ujar Alfonsius, Selasa (24/9).

Meski peluang lolos ke babak 8 besar masih terbuka, namun untuk meraih target tersebut tentu cukup berat. Apalagi kompetisi Liga 2 Wilayah Barat tinggal menyisakan 4 pertandingan.

Meski demikian, Alfonsius mengaku masih optimis, timnya dapat berbicara banyak di sisa 4 laga tersebut. “Kedatangan saya ke PSMS tentu mengusung optimistis. Bahkan saya yakin tim ini lolos ke Liga 1. Yakin dan percaya di sisa laga ini, kami mampu meraih hasil maksimal,” tegasnya.

Eks pemain Borneo FC ini, pun meminta dan mengajak rekan-rekan setimnya melupakan hasil pada 2 laga tandang lalu, dan segera bangkit demi menatap 4 laga sisa. “Lupakan kekalahan kemarin (lawan Persita) dan bangkit. Saya yakin dan percaya, PSMS bisa melalui ini semua, dan meraih hasil terbaik di sisa laga,” pungkas Alfonsius. (bbs/saz)

Tolak RUU -KUHP & RUU KPK, Mahasiswa Lempari Gedung Dewan

TOLAK RUU Ribuan mahasiswa dari berbagai universitas di Kota Medan melakukan aksi di depan Kantor DPRD Sumut, Selasa (24/9). Dalam aksi yang berakhir ricuh ini, mereka menolak Rancangan UU KUHP dan RUU KPK disahkan.
TOLAK RUU Ribuan mahasiswa dari berbagai universitas di Kota Medan melakukan aksi di depan Kantor DPRD Sumut, Selasa (24/9). Dalam aksi yang berakhir ricuh ini, mereka menolak Rancangan UU KUHP dan RUU KPK disahkan.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Ribuan mahasiswa dari sejumlah universitas dan organisasi kemahasiswaan di Kota Medan, melakukan aksi unjuk rasa di depan kantor DPRD Sumut, Medan, Selasa (24/9). Aksi digelar menolak Rancangan UU KUHP dan RUU KPK. Menjelang sore, aksi berubah rusuh. Mahasiswa melempari gedung DPRD Sumut dengan batu. Seorang satpam wanita luka, seorang mahasiswa dan seorang anggota DPRD dipukuli oknum diduga polisi berpakaian preman.

PANTAUAN Sumut Pos, aksi mahasiswa diawali dengan berjalan kaki dari kawasan Lapangan Merdeka Medan, menuju ke kantor DPRD Sumut sejak pukul 13.00 Wib. Sebelumnya, mereka sempat berhenti di depan kantor DPRD Medan sambil meneriakkan tuntutannya, sebelum bergerak kembali menuju kantor DPRD Sumut.

Berorasi menyampaikan tuntutannya selama lebih dari dua jam di depan pintu gerbang kantor DPRD Sumut, mereka sempat diterima oleh dua anggota DPRD Sumut. Kedua anggota DPRD Sumut itu menemui massa di luar gedung dewan. Dari atas mobil komando, dua wakil rakyat itu mengaku sepakat dengan aspirasi mahasiswa yang menolak revisi UU KPK.

“Kami menolak revisi Undang-undang KPK. Dua fraksi di DPR RI menolak revisi itu, Gerindra dan PKS,” ujar Gusnadi dari Fraksi Gerindra.

Namun jawaban Gusnadi tersebut ternyata tidak memuaskan mahasiswa. Massa meminta DPRD Sumut atas nama lembaga menyahuti aspirasi mereka dan membahasnya dalam rapat paripurna.

Merasa kedua wakil rakyat itu tidak dapat menyahuti aspirasi mereka, sekitar pukul 16.00 Wib mahasiswa mulai ricuh. Massa merusak pagar kawat berduri dan saling lempar untuk bisa masuk ke gedung dewan. Massa juga melakukan aksi bakar ban serta melempar botol air mineral dan benda-benda lain ke arah gedung dewan.

Setelah berhasil merusak pagar kawat berduri dan mendekat ke pintu gerbang gedung wakil rakyat. Mahasiswa kemudian melempari kantor DPRD Sumut dengan batu-batu besdar dan kecil yang diperoleh entah dari mana.

Lemparan massa mengenai sejumlah ruangan dan membuat kaca-kaca pecah. Beberapa ruangan yang rusak karena lemparan massa antara lain ruang koridor lantai 1 dan lantai 2, ruang persidangan, ruang Komisi A, dan ruang Komisi D.

Selain merusak gedung dewan, aksi massa juga melukai seorang jurnalis dari media online.

Aksi massa yang mulai anarkis coba diredam aparat kepolisian dengan tembakan water canon. Namun massa masih terus melempari gedung dewan dan semakin tak terkendali. Polisi akhirnya menembakkan gas air mata ke arah pendemo hingga massa terpecah.

Massa tunggang langgang ke sejumlah arah untuk menyelamatkan diri. Seperti ke Lapangan Benteng dan Jalan Pengadilan. Namun masih ada massa yang melakukan perlawanan hingga membuat polisi melakukan pengejaran dengan menembakkan gas air mata.

Satpam Wanita Luka Kena Batu

Tak lama kemudian, ratusan mahasiswa kembali menyerang. Kali ini bukan hanya kantor DPRD Sumut, tetapi juga turut menyerang kantor DPRD Medan. Walau kondisinya tak separah kantor DPRD Sumut, namun kantor DPRD Medan yang letaknya tepat disebelah kantor DPRD Sumut turut mengalami kerusakan disejumlah bagian akibat lemparan batu.

Akibatnya, seorang petugas keamanan wanita (Satpam) di DPRD Medan, Irma Yani Fatha, pingsan terkena batu lemparan dari aksi mahasiswa. Wajah Irma mengalami luka dan mengeluarkan darah. Ia pun segera dibawa masuk ke dalam gedung guna mendapatkan perawatan sementara.

Karena kejadian itu, suasana panik melanda gedung DPRD Medan. Puluhan pegawai dan honorer maupun anggota dewan yang masih berada di gedung dewan berteriak-teriak histeris.

Serangan lemparan batu mengenai mobil yang terparkir di seputaran halaman gedung dewan, juga pintu kaca di depan gedung. Tak hanya itu, mobil polisi yang berada tepat di depan kantor DPRD Medan turut menjadi korban amukan mahasiswa. Sejumlah mahasiswa membalikkan mobil tersebut. Atas kejadian itu, ratusan batu berserakan di seputaran DPRD Medan.

Hingga menjelang Maghrib, para pegawai maupun honorer di kantor DPRD Medan belum berani meninggalkan kantor DPRD Medan akibat suasana yang belum kondusif.

Hingga berita ini diturunkan pukul 19.00 Wib, polisi masih melakukan pengamanan di gedung DPRD Sumut dan disekitar Jalan Imam Bonjol Medan. Sementara sebagian mahasiswa masih bertahan di sekitar Jalan Pengadilan.

Aksi Ditunggangi

Sementara, Kapolda Sumut Irjen Pol Agus Andrianto mengungkapkan, aksi anarkis mahasiswa yang berujung keributan di depan gedung DPRD Sumut, Jalan Imam Bonjol Medan, Selasa (24/9), karena ditunggangi oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. “Elemen mahasiswa ditunggangi oleh salah seorang DPO kasus teror inisial RSL, saat ini yang bersangkutan sudah ditangkap,” ujarnya kepada wartawan di Makodim Kodim 02/01 BS, Jalan Pengadilan, Medan.

Agus menyebut, DPO kasus terorisme tersebut akan diserahkan kepada Tim Densus 88 Antiteror Mabes Polri. “Temen-temen mahasiswa menyampaikan pendapat sesuai dengan list-nya, artinya bahwa kegiatan menyampaikan pendapat dijamin UU,” jelasnya.

“Cuman hati-hati, karena selalu ada potensi ditunggangi pihak-pihak yang punya kepentingan yang tidak tahu. Oleh karena itu hati-hati rawan disusupi. Sampaikan pendapat dengan cara santun mengirim perwakilan dan sebagainya bisa,” paparnya.

Macet Total

Aksi ribuan mahasiswa di depan gedung DPRD Sumut, Jalan Imam Bonjol Medan ini, menyebabkan sejumlah ruas jalan di Kota Medan, macet total. Kemacetan terjadi sejak pukul 12.00 WIB karena sebagian Jalan Imam Bonjol ditutup.

Beberapa ruas jalan yang macet terutama di sekitar gedung DPRD Sumut. Seperti Jalan Imam Bonjol, Jalan Raden Saleh, Jalan Kapten Maulana Lubis, Jalan Pengadilan, hingga Jalan Kejaksaan.

Aksi massa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Kota Medan Bersatu tersebut, juga menuntut agar Presiden Jokowi mundur dari jabatannya. “Turun..turun..turun Jokowi, turun Jokowi sekarang juga,” teriak mahasiswa.

Hingga berita ini diturunkan, massa masih memadati Jalan Imam Bonjol Medan, dan belum ada satu pun anggota dewan yang keluar menemui massa. Aksi massa tersebut juga mendapat pengawalan ketat aparat kepolisian dari Polrestabes Medan. (ris/map)

Mahasiswa & Anggota DPRD Dipukuli

Agusman/Sumut Pos AMANKAN: Polisi berpakaian preman mengamankan warga yang diduga mahasiswa, Selasa (24/9).
AMANKAN: Polisi berpakaian preman mengamankan warga yang diduga mahasiswa, Selasa (24/9).
Agusman/Sumut Pos

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Unjukrasa ribuan mahasiswa yang berujung bentrok dengan aparat kepolisian, membuat suasana di Jalan Kejaksaan dan seputaran Pengadilan Negeri (PN) Medan, mencekam, Selasa (24/9) sore. Pasalnya, polisi berpakaian preman bertindak brutal menangkapi warga yang diduga mahasiswa.

Amatan Sumut Pos, polisi berpakaian preman yang terlihat masih muda-muda, melakukan penyisiran di sejumlah titik berkumpulnya mahasiswa. Bahkan, warga yang sedang duduk di warung kopi (warkop) belakang PN Medan, turut diamankan.

“Kau mahasiswa yang demo tadi ya? Kenapa ada putih-putih di muka mu, kau salah satu dari mereka (mahasiswa) ya?” bentak polisi yang mengerumuni warga tersebut.

Tanpa mendengarkan penjalasan pemuda tersebut, kerumunan polisi langsung memiting leher pemuda itu dan mengamankannya. Sesekali, kawanan polisi memukuli wajah dan tubuh pemuda naas itu.

Kontan saja, pemilik warkop dan pelanggan mendadak ketakutan. Sementara, warga yang tidak mempunyai tanda putih di wajahnya, disuruh bubar oleh polisi tersebut.

“Bubar-bubar kalian. Ngapain di sini,” senggak polisi tersebut.

Tak cukup sampai disitu, penyisiran juga dilakukan oleh polisi hingga ke Jalan Candi Prambanan. Setiap pemuda yang dicurigai sebagai mahasiswa, langsung diamankan. Mereka mengintimidasi dengan pukulan-pukulan membabi buta.

“Kau mahasiswa, ngapain kalian di situ. Mana dompetmu? Pasti mahasiswa kalian,” ucap puluhan petugas kepada dua pemuda yang mengendarai sepedamotor.

Keributan kembali muncul, manakala puluhan polisi berpakaian preman menyebut anggotanya dipukuli oleh sejumlah orang. “Woy…woy anggota (polisi) dipukuli itu,” celetuk polisi, yang kemudian beramai-ramai menuju lokasi yang dimaksud.

Walhasil, dua warga sekitar yang berkumpul melihat-lihat demonstrasi menjadi sasarannya. Bogem mentah pun melayang, hingga dua pemuda naas itu tersungkur dipijak-pijak polisi.

Lantas, rekan-rekan kedua pemuda yang diamankan tadi, langsung menjemput untuk membebaskannya. “Kami tidak ikut dalam demo ini, bebaskan rekan kami,” ucap seorang pemuda kepada kerumunan polisi tersebut.

Anggota Dewan Dipukuli Polisi

Tak hanya mahasiswa, seorang diduga anggota DPRD pun ikut kena pukul oknum diduga aparat.

Berawal ketika aparat kepolisian yang bersiaga mengawal aksi demo mahasiswa, berhasil membubarkan massa, Selasa sore. Setelah massa kucar-kacir karena disiram dengan water cannon dan tembakan gas air mata, satu per satu mahasiswa yang tidak berhasil kabur, terlihat mulai ditangkapi aparat.

Kurang lebih pukul 16.50 WIB, petugas kepolisian terlihat menarik paksa seseorang berpakaian safari coklat lengan panjang. Kerah bajunya ditarik dan dipiting erat dari sisi kanan. Dari arah basement hendak dimasukkan ke tempat penampungan para tertangkap yang berada di ruang kaca di sebelah box ATM Bank Sumut.

Dalam kondisi dipiting, sebelum disatukan dengan mahasiswa, oleh Intel yang menangkapnya, anggota DPRD yang kemudian diketahui bernama Pintor Sitorus (dari Partai Gerindra), dihujani pukulan.

Sekretaris Fraksi Gerindra, Gusmiyadi, yang menyaksikan pemukulan, berusaha menghentikan. Dijelaskannya bahwa yang ditangkap dan dipukuli itu adalah anggota DPRD Sumut.

Seketika intel yang memukuli Pintor menghentikan tindakannya. Sejumlah sekuriti juga datang melerai.

Namun oknum diduga intel itu balik memukuli salah seorang sekuriti. Namun oleh sekuriti lain, si oknum berusaha diserang.

Melihat gelagat bahwa dia akan dikeroyok, si oknum berusaha melarikan diri dibantu temannya sesama intel.

Anggota Fraksi Gerindra lainnya, Benny Harianto Sihotang, yang menyaksikan usaha si oknum melarikan diri, segera berteriak: “Tangkap…, tangkap dulu.. Itu ‘kan anggota dewan, kok dipukuli,” teriaknya memerintahkan para sekuriti .

Benny sempat berusaha mengejar Intel tersebut hingga ke bagian belakang gedung DPRD. Namun kemudian terhenti.

Pintor kemudian dibawa ke ruang fraksi. Namun saat hendak diwawancarai tidak lagi terlihat.

Disebutkan, dia ditangkap intel akibat merekam peristiwa penangkapan oleh kepolisian terhadap para mahasiswa. Para anggota DPRD Sumut yang coba diwawancarai perihal penangkapan Pintor enggan menanggapi.

“Enggak tahu saya siapa orangnya dan bagaimana peristiwanya,” kata Sekretaris Fraksi Nusantara, Zeira Salim Ritonga. (man/bbs)

Rp1,6 Miliar Hilang di Kantor Gubsu, Enam Pelaku Kebagian 200-300 Juta per Orang

Ilustrasi.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Kasus raibnya Rp1,6 miliar lebih milik Pemprovsu dari dalam mobil yang diparkir di halaman Kantor Gubernur Sumut, 9 September 2019 sore lalu, mulai menemukan titik terang. Polrestabes Medan dikabarkan telah menangkap sejumlah pelaku. Uang pun sudah dibagi-bagi di antara pelaku.

Informasi diperoleh dari lapangan, Selasa (24/9), pelaku berjumlah 6 orang. Dari keenam pelaku, 4 di antaranya berhasil ditangkap. Keempatnya yakni NS (36) warga Jalan Sigalingging Desa Parbuluan IVn

Kecamatan Parbuluan, Dairi, NDS alias Niko (41) warga Jalan Lintas Duri Pekanbaru Kecamatan Bengkalis, Riau, MHS alias Musa (22) warga Jalan Lintong Ni Huta Kecamatan Siborong-borong, Humbahas, dan IHN alias Irvan (39) warga Jalan Beringin 9 No. 2 B, Medan Helvetia. Sedangkan dua tersangka lainnya yakni T dan P masih buron.

Penangkapan berawal pada Jumat (20/9) sekitar pukul 17.00 WIB. Awalnya polisi mendapat informasi, komplotan pelaku pencurian tersebut sedang berada di seputaran Pekanbaru, Riau. Tim lalu bergerak menuju Pekanbaru. Sesampainya di sana, polisi menyelidiki keberadaan para pelaku.

Keesokan harinya pada Sabtu (21/9), tim mendapat informasi pelaku sudah kabur ke arah Jambi. Tim pun melakukan pengejaran. Sesampainya di Jambi, tim mendapat kabar pelaku telah kembali lagi ke Pekanbaru, sehingga tim mengejar ke Pekanbaru.

Di Pekanbaru, polisi berhasil mengamankan NS dari kediamannya pada Minggu (22/9) sekitar pukul 21.00 WIB. Pengakuan NS kepada polisi, dirijya beraksi bersama dengan 5 orang rekannya yaitu NDS, MHS, IHN, T dan P.

Tim kemudian mendapat informasi keberadaan NDS dan MHS di Kabupaten Duri, Riau. Polisi mengejar ke Duri. Pada Senin (23/9) sekitar pukul 08.00 WIB, kedua pelaku ditangkap dan dibawa ke Medan.

Sesampainya di Medan, polisi melanjutkan pengejaran dan berhasil menangkap pelaku IHN pada Selasa (24/9) pukul 03.00 WIB. Tetapi saat akan ditangkap, IHN mencoba melarikan diri dan melawan petugas. Oleh karenanya, polisi menembak kakinya.

Selanjutnya, IHN dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Medan untuk mendapat perawatan.

Dari hasil penangkapan keempat pelaku, disita sejumlah barang bukti. Pertama, dari NS uang Rp3,4 juta, 2 unit ponsel, pakaian dan dompet. Kedua, dari NDS 1 unit mobil Avanza BK 1417 IC beserta STNK dan BPKB, 1 unit sepeda motor Sonic BK 5771 PBC, ATM BRI berisi uang Rp15 juta. Ketiga, dari MHS uang Rp105 juta, 3 unit ponsel, 1 jam tangan merek Alexander Cristie. Keempat, dari IHN berupa kuitansi uang muka pembelian tanah Rp50.000.000, uang tunai Rp8 juta, 2 unit ponsel.

Adapun peran masing-masing pelaku, NS dan P berada di mobil Avanza hitam bertugas menutupi ke arah pandangan mobil korban Xenia silver pada saat rekannya melakukan aksi pencurian. Sedangkan MHS, NDS dan T yang berada di mobil korban bertugas memantau dari Bank Sumut, lalu mengikuti sampai ke kantor Gubsu. Mereka bertiga ini juga sebagai eksekutor, di mana pelaku T turun dari mobil kemudian mengecek posisi tas korban di dalam mobil.

T merusak kunci pintu mobil dan selanjutnya menyuruh NDS mengambil tas korban. Sementara, pelaku IHN bertugas memantau security yang berada di pos dengan menggunakan sepeda motor. Masing masing pelaku mendapat bagian berbeda sesuai perannya. NS mendapat Rp200 juta, NDS Rp300 juta, MHS Rp210 juta, IHN Rp200 juta, T Rp350 juta dan P Rp350 juta.

Dikonfirmasi perihal informasi penangkapan ini, Kapolrestabes Medan Kombes Pol Dadang Hartanto belum mau membeberkan secara detail. Tetapi ia mengakui ada perkembangan kasus tersebut. “Perkembangan kasusnya baik,” ujarnya saat diwawancarai wartawan ketika berada di Gedung DPRD Sumut, Selasa (24/9) siang.

Disinggung berapa pelaku yang ditangkap, Dadang enggan menjelaskan secara pasti. “Jadi, sudah mengarah ke sana (pelaku ditangkap),” ucapnya.

Apakah pelakunya dari internal atau eksternal? Kata Dadang, hal itu nanti diekspos. “Pokoknya nanti kita ekspos pada rekan-rekan wartawan,” tukasnya.

Diketahui, uang tunai Rp1,6 miliar lebih milik Pemprovsu tersebut hilang di pelataran parkir Kantor Gubernur Sumut pada Senin 9 September 2019 sekitar pukul 17.00 WIB. Uang itu disebut-sebut untuk membayar honor TAPD.

Sebelum hilang dicuri, uang itu dibawa oleh ASN Pemprovsu bernama Muhammad Aldi Budianto (40) yang tiga di parkiran sekitar pukul 15.40 WIB. Selanjutnya, korban bersama seorang rekannya Indrawan Ginting memarkirkan mobil tersebut dalam keadaan pintu terkunci.

Kemudian, korban dan rekannya melaksanakan sholat Ashar sekitar pukul 17.00 WIB. Usai sholat, keduanya kembali ke mobil dan terkejut mengetahui uang yang mereka tinggalkan di mobil telah raib. Uang Rp1,6 miliar lebih itu disimpan dalam tas dan diletakan di jok paling belakang. Selain uang, jam tangan merek Expedition juga hilang.

Gubsu Diminta Segera Aktifkan Tiga Pejabat

Terkait informasi ditangkapnya pelaku pencurian uang Pemprovsu senilai Rp1,6 miliar itu, Gubernur Sumut Edy Rahmayadi diminta untuk mengembalikan jabatan tiga pejabat BPKAD yang dinonaktifkan pasca raibnya uang tersebut.

“Kewenangan memang sepenuhnya ada di tangan gubernur. Namun demi nama baik pejabat yang bersangkutan, beliau juga harus pertimbangkan agar segera memulihkan jabatan mereka,” ujar pengamat hukum, Adamsyah Koto menjawab Sumut Pos, Selasa (24/9).

Menurutnya langkah Gubsu Edy Rahmayadi menonaktifkan tiga pejabat terkait dalam kasus ini sudah tepat. Agar mereka fokus menghadapi proses hukum yang tengah berjalan sampai nanti kasusnya benar-benar terungkap. “Dan juga tergantung proses penyidikan polisi sejauh mana.

Tentu mereka akan tetap dimintai keterangan sewaktu-waktu diperlukan. Namun tetap diingatkan ketika kasus ini nanti sudah duduk, Gubsu juga segera mempertimbangkan pemulihan nama baik pejabat yang dinonjobkan sebelumnya,” katanya.

Apalagi, imbuh Ketua Lembaga Lembaga Bantuan Hukum Warga Indonesia (LBHWI) ini, polisi dikabarkan sudah menangkap pelaku pencurian. “Namun ini masih panjang prosesnya. Intinya, ketika sudah duduk masalahnya, kewenangan kembali ke Gubsu dan pihak kepolisian,” terangnya.

Pihaknya berharap ada sanksi atas keterlibatan oknum Pemprovsu dalam kasus ini. Apalagi diketahui bahwa Inspektorat telah melakukan pemeriksaan internal mengenai standar operasional prosedur dari segala aspek sesuai ketentuan berlaku.

“Iya, kami sangat mendorong kiranya ada perbaikan ke depan di jajaran Pemprovsu dalam hal penarikan uang tunai sebesar itu dan tanpa pengamanan ekstra pula. Selain itu, tentu harus dilakukan ekspos mengklarifikasi bahwa uang itu bukanlah sebagai ‘upah ketok’ kepada anggota dewan, supaya isu-isu yang sebelumnya berkembang dapat terjawab secara terang,” pungkasnya.

Raja Indra Tetap Beraktivitas

Salah satu pejabat BPKAD Setdaprovsu yang dinonaktifkan, Raja Indra Saleh, kemarin terlihat masih menjalankan aktivitas seperti biasa di kantor gubernur. Indra tampak tenang ketika disapa sejumlah wartawan, sembari menapaki tangga menuju ruang kerjanya di lantai II.

Penonaktifan dirinya dan dua rekannya menurut Indra, akan menjadi pelajaran bagi pejabat lain dilingkungan Pemprovsu. “Kita siap bertanggungjawab,” katanya singkat.

Sebelumnya dia membenarkan soal penonaktifan dirinya dari jabatan Plt kepala BPKAD dan juga sekretaris BPKAD, yang memang jabatan aslinya selama ini. “Ini kan bagian dari resiko jabatan, tidak masalah, saya siap dengan konsekuensi dan keputusan atasan,” tuturnya.

Dirinya menegaskan siap bertanggungjawab atas kasus raibnya uang miliaran rupiah tersebut. Di samping itu, dirinya juga mendorong agar pihak kepolisian cepat mengungkap kasus dimaksud.

“Sebagai pimpinan saya tidak akan pernah lari dari tanggung jawab. Biarlah pimpinan nanti yang menilai sejauh mana kasus ini nanti terbuka, siapa yang bersalah dan siapa pelakunya,” katanya. (ris/prn)

35 Hektare Perbukitan Danau Toba Terbakar

RUDY SITANGGANG/SUMUT POS PANTAU: Bupati Dairi Eddy KA Berutu, Kapolres AKBP Erwin Wijaya Siahaan, Dandim 0206 Letkol Arh Hadi Purwanto serta Kepala BPBD, Bahagia Ginting memantau Karhutla di kawasan Danau Toba Silalahi, Senin (23/9).
PANTAU: Bupati Dairi Eddy KA Berutu, Kapolres AKBP Erwin Wijaya Siahaan, Dandim 0206 Letkol Arh Hadi Purwanto serta Kepala BPBD, Bahagia Ginting memantau Karhutla di kawasan Danau Toba Silalahi, Senin (23/9).
RUDY SITANGGANG/SUMUT POS

SIDIKALANG, SUMUTPOS.CO – Dalam dua minggu terakhir, sekitar 35 hektare hutan dan lahan di kawasan perbukitan Danau Toba Silalahi terbakar. Dampak kebakaran ini menjadikan hutan gundul dan berpotensi bencana alam.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Dairi, Bahagia Ginting mengatakan, sudah tiga lokasi perbukitan itu mengalami kebakaran sejak dua minggu terakhir, yaitu di Dusun Sinongnong Desa Silalahi 2 seluas 7 hektare, di Dusun 1 Desa Silalahi 3 seluas 20 hektare, terakhir di Rumah Tanggal Desa Silalahi 3 seluas 8 hektaren

Tahun ini, kawasan perbukitan itu sudah lima kali kebakaran. Dampak kebakaran mengakibatkan polusi udara, hutan gundul dan berpotensi bencana alam.

Bahagia mengimbau masyarakat agar peduli dengan lingkungan dan menghentikan perilaku yang tidak baik, seperti membuang puntung rokok sembarangan. “Sebab, hutan perbukitan kawasan Danau Toba Silalahi dan Paropo rawan kebakaran karena banyak semak-semak mudah terbakar, apalagi seperti saat ini musim kemarau,” ungkapnya.

Kapolres Dairi, AKBP Erwin Wijaya Siahaan menuturkan, pihaknya akan melakukan penyelidikan terkait kebakaran di Silalahi. Dan akan mendirikan Posko di Silalahi. Bila kedapatan sengaja membakar hutan akan dipidana 15 tahun dan denda Rp5 miliar.

Sebelumnya, unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopinda) Kabupaten Dairi terdiri dari Bupati Dairi, Eddy Keleng Ate Berutu, Kapolres AKBP Erwin Wijaya Siahaan serta Dandim 0206 Letkol Arh Hadi Purwanto memantau lokasi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di hutan lindung perbukitan kawasan Danau Toba di Desa Silalahi Kecamatan Silahisabungan, Senin (23/9).

Plt Kabag Humas Pemkab Dairi, Palti Pandiangan mengatakan, lokasi kebakaran yang dipantau tepatnya di Dusun Rumah Tangg Desa Silalahi 3. “Hasil kunjungan, Forkopinda serta Dinas Kesehatan menyepakati pendirian posko penanganan dan pengendalian kebakaran hutan dan lahan dimaksud,” ucapnya. (rud)

Antispasi Dampak Buruk Kabut Asap, Wagubsu Imbau Sekolah Diliburkan

PEKAT Kabut asap terlihat pekat di fly over Amplas, Minggu (22/9). Masyarakat diimbau untuk menggunakan masker jika beraktivitas di luar ruangan.
PEKAT Kabut asap terlihat pekat di fly over Amplas, Minggu (22/9). Masyarakat diimbau untuk menggunakan masker jika beraktivitas di luar ruangan.

DELISERDANG, SUMUTPOS.CO – Untuk mengantisipasi dampak buruk kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu) mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar rumah. Selain itu, Pemkab dan Pemko se-Sumut diimbau untuk meliburkan sekolah, khususnya untuk tingkat TK/PAUD dan SD.

Wakil Gubernur Sumut (Wagubsu) Musa Rajekshah menyampaikan, berdasarkan informasi dari BMKG, kepekatan kabut asap pada Selasa (24/9) pagi, sudah menurun dibandingkan Senin (23/9) kemarin. Namun melihat arah angin dan titik panas (hotspot) yang ada di Provinsi Riau, kabut asap masih berpotensi meningkat lagi dan berdampak buruk terhadap kesehatan.

“Untuk itu, sebagaimana instruksi gubernur, kami mengimbau kepada seluruh masyarakat Sumut untuk mengurangi aktivitas di luar rumah dan senantiasa mengenakan masker jika harus ke luar rumah. Dampak dari bertambahnya kabut asap ini, kemungkinan akan terasa sore atau malam ini,” kata Wagubsu Musa Rajekshah dalam konferensi pers di Ruang VIP, Bandara Internasional Kualanamu, Deliserdang, Selasa (24/9).

Hadir dalam kesempatan itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumut Riadil Akhir Lubis, Kepala Dinas Pendidikan Sumut Arsyad Lubis, Kepala Dinas Perkebunan Sumut Herawaty, Kepala Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (MKG) Wilayah I Medan Edison Kurniawan, dan Executive General Manager Bandara Internasional Kualanamu Bayuh Iswantoro.

Untuk saat ini, kata Wagub, Pemprov Sumut akan mengambil langkah melalui Dinas Pendidikan untuk menginstruksikan libur sekolah di seluruh kabupaten/kota Sumut untuk PAUD, TK dan SD. Juga menginstruksi kepada rumah sakit, klinik-klinik dan Puskesmas di seluruh kabupaten/kota untuk siaga melayani masyarakat, selama 3 x 24 jam.

“Antisipasi sebelum-sebelumnya telah kita lakukan dengan membagikan masker kepada seluruh masyarakat di seluruh kabupaten/kota se-Sumut, kurang lebih 500.000 masker telah dibagikan. Dan ini akan terus kita lakukan,” jelasnya.

Kepala BPBD Sumut Riadil Akhir Lubis menambahkan, selama satu minggu terakhir pihaknya telah berkoordinasi dengan BPBD kabupaten/kota, dinas kesehatan, dan unsur Forkopimda untuk selalu siaga. Posko-posko kesehatan telah dibuat sesuai arahan dari gubernur.

Kepala BMKG Wilayah I Medan Edison Kurniawan menginformasikan, berdasarkan hasil pemantauan yang dilakukan menggunakan alat PM 10 di stasiun klimatologi Deliserdang, konsentrasi partikulat di Sumut menunjukkan 116,5 mikrogram/meter kubik. Artinya, masih berada di bawah ambang batas normal yakni 150 mikrogram/meter kubik. “Kondisi ini sebenarnya masih cukup fluktuatif. Saya setuju sekali dengan imbauan Bapak Wagub untuk menghindari aktivitas di luar. Karena partikulat atau PM 10 ini memang sangat mempengaruhi kesehatan pernapasan dan berpotensi untuk menjadi penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA),” tuturnya.

Kabar baiknya, kata Edison, kemungkinan tiga hari ke depan dinamika atmosfir di wilayah Sumut dan sekitarnya termasuk Riau, Jambi dan Sumatera Selatan menunjukkan ada potensi terjadi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat. Hal ini diharapkan bisa mengurangi titik-titik hotspot (titik panas) di provinsi tetangga dapat berkurang.

“Di Riau, BMKG melakukan upaya melalui Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) yang bekerja sama dengan TNI dan Polri, yakni dilakukan penyemaian garam sebagai sumber inti kondensasi untuk terjadinya hujan, diharapkan bisa membantu penurunan titik atau pusat panas, “ papar Edison.

Terkait aktivitas penerbangan di Sumut, diinformasikan oleh Executive General Manager Bandara Internasional Kualanamu Bayuh Iswantoro. Katanya, Senin (23/9) terjadi penurunan batas visibility atau jarak pandang berada di 700 meter. Namun, pagi ini telah membaik dan meningkat, berada pada 1500 meter.

“Alhamdulillah, pada hari ini dilaporkan belum ada gangguan penerbangan akibat kabut asap di Bandara Kualanamu. Untuk antisipasi, kita bekerja sama dengan AirNav Indonsia Cabang Medan konfigurasi membantu proses pelaksanaan pelayaan penerbangan semaksimal mungkin, juga membantu peralatan navigasi khususnya di pendaratan. Fungsi alat-alat pendaratan lainnya juga dimaksimalkan, seperti landasan, marking, sign system, dan lampu-lampu,” ujarnya.

Pemko Tebingtingi Liburkan Sekolah

Menyikapi semakin tebalnya kabut asap di wilayah Kota Tebingtinggi dan sekitarnya pada Senin (23/9) lalu, Wali Kota Tebingtinggi Umar Zunaidi Hasibuan menginstruksikan Dinas Pendidikan Tebingtinggi meliburkan sekolah selama dua hari yakni pada 24 dan 25 September 2019. “Selain diliburkan, juga kita diingatkan agar anak-anak tidak bermain di luar rumah dan banyak minum air,” ungkap Kadis Pendidikan Kota Tebingtinggi, Pardamean Siregar, Selasa (24/9).

Sedangkan untuk tingkat SMP, baik swasta dan negeri se-Kota Tebingtinggi tidak diliburkan dan melaksanakan kegiatan belajar-mengajar seperti biasa. Namun, dihimbau kepada pelajar untuk memakai masker selama sekolah dan perbanyak minum air putih. “Kita harapkan kabut asap cepat hilang dan semua aktivis bisa berjalan lancar, “ harapnya.

Orangtua siswa, Sufendi menyambut positif kebijakan Wali Kota Tebingtinggi ini. Karena kemarin asap yang menyelimuti Kota Tebingtinggi sangat pekat diantara pukul 10.00 WIB, menurutnya asap sangat mengganggu pengeliatan dan nafas terasa sesak. “Anak di rumah mulai batuk-batuk, kami berupaya pencegahan pertolongan pertama dengan membeli obat ke apotik terdekat,” jelasnya.

Akhyar: Masak Libur-libur Saja

Sementara, Pemko Medan tampaknya belum mau meliburkan sekolah. Padahal, Kementerian Kesehatan telah mengimbau agar seluruh daerah yang terkena paparan kabut asap untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan. Khususnya bagi balita dan anak-anak, usia itu dinilai masih begitu rentan atas penyakit ISPA. Apalagi, Pemprov Sumut juga sudah menyampaian imbauannya agar kabupaten kota meliburkan sekolah khususnya untuk TK/PAUD dan SD.

Kepada Sumut Pos, Wakil Wali Kota Medan Akhyar Nasution mengatakan, kondisi untuk meliburkan sekolah saat ini belum harus dilakukan. “Enggaklah, masak libur-libur aja,” kata Akhyar, Selasa (24/9).

Menurut Akhyar, kondisi siswa yang belajar di dalam ruang kelas tidak begitu mengkhawatirkan terkena paparan asap. “Nah kalau libur, lantas anak-anak mau ngapain? Di sekolah kan juga di dalam ruangan,” ujar Akhyar.

Menanggapi kondisi ini, kepada Sumut Pos, Ketua Fraksi PDIP Medan, Robi Barus menyampaikan, pihaknya akan mengimbau Pemko Medan untuk segera meliburkan sekolah apabila kondisi udara memang sudah melewati batas normal. “Ya kalau memang ternyata menurut alat pengukur udara kondisinya sudah tidak sehat, maka tentu siswa sekolah harus diliburkan. Kalau mereka di paksakan untuk tetap sekolah dan nantinya mereka sakit, terus siapa yang mau bertanggungjawab,” ucap Robi.

Untuk itu, Robi berharap, imbauan ini menjadi perhatian serius oleh Pemko Medan. “Pemko harus melihat kondisi udara di Kota Medan dengan lebih teliti sekali lagi, kalau memang ternyata kondisinya semakin parah, maka tentu kami minta kepada Pemko Medan agar memerintahkan Dinas Pendidikan Kota Medan supaya meliburkan siswa sekolah. Tapi kalau membaik, mungkin para siswa bisa tetap sekolah. Dengan catatan, mereka harus diberi sosialisasi agar terus menggunakan masker sampai udara benar-benar normal kembali,” tandasnya.

Alat ISPU Rusak

Kondisi asap yang kian hari kian menebal tidak dapat dilihat secara detail oleh masyarakat Kota Medan secara umum. Pasalnya, alat Indeks Standart Pencemaran Udara (ISPU) di Kota Medan milik Kementerian Lingkungan Hidup hingga kini tidak ada yang berfungsi alias rusak.

Kepada Sumut Pos, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Medan Syarif Armansyah Lubis membenarkan kalau alat ISPU milik Kementerian Lingkungan Hidup di Kota Medan sudah rusak atau tidak berfungsi. “Ada 5 alat ISPU punya Kementerian (Lingkungan Hidup) di Kota Medan, tak ada yang berfungsi lagi atau rusak semua. Bukan cuma rusak, tapi mesinnya pun sudah tak ada,” ucap Armansyah.

Menyikapi kondisi itu, Armansyah mengaku sudah lama Pemko Medan menyurati Kementerian Lingkungan Hidup agar segera mengaktifkan kembali alat ISPU yang ada di Kota Medan. “Sudah lama kita surati, tapi tak ada balasan dan respon. Nanti akan kita coba hubungi lagi, karena ini memang sudah begitu mendesak. Untuk perbaikan harus pihak kementerian, itukan alat mereka bukan Pemko Medan,” terangnya.

Menanggapi kondisi asap di Kota Medan saat ini, Anggota DPRD Medan HT Bahrumsyah menjelaskan, kondisi ini sudah sangat memperihatinkan. Ia sangat berharap agar Pemko Meda serius dalam memperhatikan kondisi kesehatan masyarakat. “Ini sudah semakin tebal asapnya, tapi alat ISPU di beberapa jalan di Kota Medan tak ada lagi yang berfungsi. Padahal sekarang alat itu sangat dibutuhkan, tapi malah gak ada,” ucapnya.

Bahrum menjelaskan, tugas Pemko Medan saat ini adalah memberikan edukasi kepada masyarakat atas bahayanya asal ini. Memberikan imbauan agar mengurangi aktifitasnya diluar ruangan dan terus menggunakam masker apabila jadi beras di luar ruangan. “Terkait alat ISPU itu, saya fikir ini jadi pelajaran penting buat Pemko Medan. Jadi, bukan tunggu ada asap begini baru sibuk mau memperbaiki alat itu, tapi seharusnya dari jauh-jauh hari,” tutupnya.(prn/ian/map)

Suspect Difteri, Mahasiswi FK USU Meninggal, 2 Lagi Dirawat di Adam Malik

idris/sumut pos TEMU PERS: Dokter Penanggung Jawab Pasien (DPJP) RSUP Haji Adam Malik dr Restuti Hidayani Saragih SpPD (kiri) memberikan keterangan kepada wartawan, Selasa (24/9).
TEMU PERS: Dokter Penanggung Jawab Pasien (DPJP) RSUP Haji Adam Malik dr Restuti Hidayani Saragih SpPD (kiri) memberikan keterangan kepada wartawan, Selasa (24/9).
Idris/sumut pos

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Tiga orang mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatra Utara (FK USU) yang merupakan warga negara Malaysia, suspect terinfeksi bakteri difteri. Dari ketiganya, satu di antaranya, Nurul Arifah binti Ahmad Ali (NA), mahasiswa semester V meninggal dunia. Sedangkan dua lainnya berinisial LW dan U yang juga teman Nurul, masih dirawat di ruang isolasi Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Haji Adam Malik.

Kassubag Humas RSUP Haji Adam Malik, Rosario Dorothy Simanjuntak menyampaikan Nurul dirawat di RSUP H Adam Malik setelah mendapatkan rujukan dari Rumah Sakit USU pada 19 September 2019 sekitar pukul 18.30 WIB. Sedangkan dua lainnya baru masuk pada Selasa (24/9) siang kemarin, setelah merasakan gejala tertular bakteri difteri. “Saat masuk, pasien NA masuk dengan keadaan umum lemah, sesak napas, sulit menelan, air liur selalu keluar dan ditemukan pembengkakan pada leher kirinya,” ungkapnya.

Lebih lanjut Rosa menjelaskan, pasien kemudian dirawat diruang isolasi infeksius dan dilakukan penanganan suspect difteri, antara lain dengan pemberian antibiotik, vaksin ADS (anti difteri serum), terapi cairan serta pengambilan sampel swab hidung dan tenggorokan. Namun, pada Jumat (20/9) kondisi NA terus menurun, kemudian meninggal dunia, pada Sabtu (21/9) dini hari pukul 02.30 WIB.

“Secara klinis, gejala yang diderita pasien sudah mengarah ke difteri. Akan tetapi hal ini masih harus dipastikan melalui hasil pemeriksaan sampel swab hidung dan tenggorokan pasien yang dikirim ke Litbangkes Jakarta. Diperkirakan hasilnya baru akan keluar dalam 7 hari kerja,” pungkasnya.

Sementara itu, dr Restuti Hidayani Saragih SpPD yang merupakan Dokter Penanggung Jawab Pasien (DPJP) RSUP Haji Adam Malik mengatakan, kedua pasien suspect difteri lainnya juga mengalami demam dan rasa sakit menelan. Namun dari hasil pemeriksaan yang telah dilakukan, satu kasus ada ditemukan selaput putih di langit-lanit mulutnya dan satu lagi hanya kemerahan saja. “Keadaannya saat ini stabil dan keduanya dirawat di ruang isolasi,” ucapnya didampingi sejumlah tenaga medis RSUP Haji Adam Malik.

Restuti menerangkan, dari hasil pemeriksaan sementara, memang dari pasien ada ditemukan bakteri yang bukan difteri dan sifatnya kolonisasi. Kendati begitu, ia menegaskan, hal ini bukan berarti kasus ini tidak menjadi difteri, sehingga harus dipastikan lagi melalui pemeriksaan di laboratorium Litbangkes Kemenkes.

“Jadi masih pemeriksaan klinis. Artinya, begitu didapat tanda-tanda kecurigaan yang tinggi, kami menyebutkan probable difteri, yang lalu akan didiagnosa secara defenitif melalui laboratorium. Tapi pengobatan tetap untuk mengobati difteri,” terangnya.

Penularan bakteri difteri ini, tutur Restuti, umumnya dapat terjadi melalui percikan ludah, dan kontak erat selama 10 hari ke belakang dengan penderita. Namun ia menegaskan, penularan ini bukan berarti tidak bisa dicegah, yakni dengan cara menjalankan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) baik bagi diri sendiri dan lingkungan, serta dengan imunisasi. “Difteri secara umum menciptakan komplikasi radang otot jantung, radang persarafan, dan obstruksi jalan nafas berupa pembengkakan leher. Obstruksi ini lah yang bisa menyebabkan pasien meninggal,” tandasnya.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Sumut dr Alwi Mujahit Hasibuan mengaku, bahwasanya pihaknya telah mendapatkan kabar mengenai adanya WNA Malaysia yang meninggal akibat suspect Difteri. Oleh karena itu, ia mengatakan Dinkes Sumut masih menunggu hasil pemeriksaan sampel swab dari Litbangkes, sebelum menetapkan status KLB untuk penyakit difteri ini.

“Masih kita tunggu hasil laboratoriumnya. Tapi bukan berarti untuk penanganan kita lakukan secara biasa saja, melainkan, penanganan tetap dilakukan secara KLB,” katanya.

Terpisah, Rektor USU Prof Runtung Sipetu membenarkan satu mahasiswanya meninggal dunia diduga akibat terjangkit virus difteri. Sedangkan dua mahasiswa lainnya dicurigai mengalami hal yang sama karena keduanya merupakan teman dekat dan satu kost dengan almarhumah.

Runtung mengaku, pihaknya sudah melakukan kordinasi dengan Dinkes Sumut dan Dinkes Kota Medan untuk penanganan selanjutnya. Saat ini, kata Runtung, ada 260 mahasiswa FK USU dilakukan faksin dan imunisasi. Diantaranya, 10 mahasiswa mengalami demam panas dan 2 mahasiswa mendapatkan rawat inap. “Kita menunggu hasil spesimen swab dari hidung dan tenggorokan yang dikirim ke Jakarta, apakah positif difteri. Karena gejala klinisnya mengarah ke sana. Untuk dua mahasiswi yang dirawat, semuanya sudah ditangani Dinkes Provinsi, “ tutur Runtung.

Disinggung, apakah sudah ada imbauan agar mahasiswa USU menggunakan masker, menurut Runtung, sejauh ini belum ada. Karena masih menunggu hasil pemeriksaan dan instruksi dari Dinas Kesehatan Sumut. Sebab, yang mengetahui bagaimana dampak secara meluas adalah Dinas Kesehatan Sumatera Utara. “Kita jangan terburu-buru, karena ada SOP-nya, kita menunggu perkembangan bagaimana instruksi dari Dinas Kesehatan,” sebutnya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Kedokteran (FK) USU Dr dr Aldy Safruddin Rambe Sp S (K) menjelaskan, gejela klinis korban mengarah ke difteri. Pihaknya sudah berkoordinasi dengan dinas kesehatan sejak dimulainya perawatan korban di RSUP H Adam Malik Medan, Jumat 20 September 2019. “Termasuk pemulangan jenazah pada Sabtu 21 September, dikordinasikan antara RSUP Adam Malik, Dinkes dan kantor Pelabuhan, “ katanya.

Aldy menambahkan, saat ini belum diperlukan dilakukan isolasi di kampus, karena secara prosedur masih menunggu instruksi Dinas Kesehatan. Hanya saja yang kontak langsung dengan korban dilakukan vaksin. “Difteri ini sangat menular dan mematikan jika tidak ditangani. Penyakit ini merupakan kuman atau virus dari udara. Selama ini hanya anak dibawa 5 tahun yang rentan, tapi kali ini jika hasilnya positif maka baru ini dialami orang dewasa. Kalau sejak awal diketahui bisa ditangani, “ jelasnya.

Aldy menjelaskan kronologis perawatan dijalani Nurul Arifah. Almarhuma mendatangi Poli Klinik USU, Selasa (17/9) dengan keluhan demam tinggi, batuk dan susah menelan.”Dengan dokter klinik USU dirujuk ke rumah sakit USU untuk dirawat inap di sana,” tutur Aldy.

Kemudian, Nurul Arifah dirawat sejak 17 hingga 18 September 2019. Karena, kondisinya terus menurun dan minimnya ruang isolasi. Almarhumah dirujuk ke RSUPH Adam Malik Medan, Kamis (18/9).”Makanya di rujuk ke rumah sakit Adam Malik pada hari Kamis sore. Dirawat dan meninggal Sabtu dini hari,” tandasnya. (ris/gus)

Antisipasi Suplai Pangan karena Kabut Asap, BI dan Pemprov Sumut Berkoordinasi

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Kebakaran hutan yang terjadi di Riau dan Jambi ternyata memberikan dampak pada suplai pangan di Sumatera Utara. Beberapa komoditas diketahui berasal dari dua provinsi tersebut. Oleh karena itu, Kantor Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sumut dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumut melakukan antisipasi bersama.

Kepala Perwakilan BI Sumut, Wiwiek Sisto Widayat mengungkapkan koordinasi antisipasi langsung dibicarakan bersama Wakil Gubernur Sumut, Musa Rajekshah.

“Secara umum, tidak berdampak dengan besar. Tapi, kita sadar memerlukan komoditi-komiditi dari luar Sumatera Utara dari Riau, Padang, Jambi dan Batam dan daerah lain,” ungkap Wiwiek kepada wartawan di Medan, Selasa (24/9).

Kondisi karhutla tersebut, menurut Wiwiek akan berimbas dengan penyuplaian barang-barang komoditi pangan seperti telur, ayam, beras, cabai merah dan rawit, dan sebagiannya. Ia mengharapkan jangan sampai terjadi kelangkaan barang dan melonjaknya harga pangan. “Ini kita khawatirkan kelangsungannya, suplai barang-barang komuditas di luar dari Sumatera Utara ini harus kita antisipasi suplainya,” tutur Wiwiek.

Ia menyebutkan BI Sumut bersama Tim Pengendali Inflasi Provinsi Sumut dan Tim Pengendali Inflasi Kabupaten/Kota di Sumut sudah melakukan pertemuan untuk membicarakan dampak kabut asap terhadap kebutuhan pokok masyarakat.

“Dan mencari alternatifnya dan juga harus siap-siap bila ada terganggu. Bukan dari sisi pendistribusian terganggu, dari sisi produksinya. Karena, kawan-kawan (petani) menggunsikan. Mereka tidak tanam, sampai asapnya membaik. Akan mempengaruhi pasokan,” kata Wiwiek.

Dengan kordinasi yang baik, Wiwiek menambahkan kondisi kabut asap ini tidak memberikan dampak negatif dengan pertumbuhan ekonomi di Sumut atau menyebabkan inflasi pada bulan September 2019 ini.”Saya kira belum untuk bulan ini (inflasi),” pungkasnya.(gus/ram)

Warga Sergai Tewas Penuh Luka, Ditemukan di Pinggir Jalinsum Tebingtinggi-Dolok Masihul

EVAKUASI: Tim Inafis Polres Tebingtinggi mengevakuasi korban dari lokasi, Selasa (24/9).
EVAKUASI: Tim Inafis Polres Tebingtinggi mengevakuasi korban dari lokasi, Selasa (24/9).

SERGAI, SUMUTPOS.CO – Warga yang melintas di Jalinsum Tebingtinggi-Dolok Masihul, mendadak heboh. Sesosok mayat yang sekujur tubuhnya penuh luka ditemukan di jalan Desa Pertapaan, Kecamatan Tebingtinggi, Kabupaten Sergai, Selasa (24/9).

“JENIS kelamin laki-laki dengan tinggi badan 165 cm, kulit kuning langsat, rambut ikal hitam, mengenakan baju kaos lengan pendek warna merah hati lengan putih dan celana jeans warna biru,” ujar Kapolsek Tebingtinggi AKP Sofyan didampingi Kasat Reskrim AKP Ramadani, Selasa (24/9)

Menurut AKP Sofyan, pihaknya mendapat informasi dari masyarakat. Kemudian, bersama tim Polres Tebingtinggi langsung menuju lokasi.

“Korban telah meninggal dunia di pinggir jalan. Korban mengalami luka koyak dan pecah pada bagian kepala sebelah atas,” kata kapolsek.

Selain itu, dagu korban juga koyak. Sedangkan perust sebelah kanan mengalami luka lecet dan memar.

“Luka koyak pada dahi, mengalami luka gores dan luka lecet pada tangan sebelah kiri dan kanan,” sebutnya.

Kemudian, mayat tersebut dibawa ke Rumah Sakit Brimob Medan untuk dilakulan autopsi.

“Kasus ini masih dalam penyelidikan pihak kepolisian. Untuk penyebab kematian korban masih dalam mengumpulkan keterangan saksi, karena di dekat korban di temukan sebuah telepon seluler miliknya,” paparnya.

Aria Eka Putra (24) adalah orang yang pertama menemukan korban tergeletak di lokasi. Warga Dusun Sibaro, Desa Pertapaan, Kecamatan Tebingtinggi, Kabupaten Sergai itu langsung melaporkan temuannya kepada penduduk sekitar.

“Melihat kejadian itu, kita memberikan informasi kepada pihak kepolisian,” ungkap Aria.

Belakangan diketahui, korban bernama Manutur Siahaan (27) warga Dusun II, Desa Huta Nauli, Kecamatan Dolok Masihul, Kabupaten Sergai. Informasi didapat polisi dari pihak keluarga.(ian/ala)