Home Blog Page 5100

Korupsi Pengadaan Kapal Wisata Senilai Rp395 Juta, Rekanan Disbudpar Dairi Diadili

Wakil Direktur CV Kaila Prima Nusa, Nora Butar-butar (baju oranye).
Wakil Direktur CV Kaila Prima Nusa, Nora Butar-butar (baju oranye).

Wakil Direktur CV Kaila Prima Nusa, Nora Butar-butar menjalani sidang perdana di Pengadilan Tipikor Medan, Kamis (22/8). Dia didakwa melakukan korupsi pengadaan kapal wisata, yang merugikan keuangan negara sebesar Rp395 juta, bersumber dari APBD Kabupaten Dairi TA 2008.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Dawin mengatakan, terdakwa selaku rekanan tidak mengerjakan proyek pengadaan kapal wisata di Ajibata sesuai permintaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Dairi, dengan pagu senilai Rp525 juta.

“Pada saat dilakukan serah terima, kondisi kapal justru berbeda dan tidak sesuai kontrak. Hal itu membuat Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Dairi meminta kepada rekanan untuk bertanggung jawab dengan mengembalikan uang yang telah dibayarkan,” ungkapnya.

Setelah pembacaan dakwaan, majelis hakim yang diketuai Feri Sormin, menunda sidang hingga pekan depan, dengan agenda keterangan saksi.

Sebelumnya, dalam kasus ini terdakwa sempat buron selama 10 tahun dan akhirnya ditangkap Tim Intel Kejari Dairi dikawasan di kompleks Ruko Katamso Square, Jalan Brigjen Katamso, Medan, pada Selasa (7/5) lalu.

Masih dalam kasus ini, Pidsus Kejari Dairi juga telah menetapkan delapan orang dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Dairi sebagai tersangka. Tiga di antaranya Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Dairi, Pardamean Silalahi, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Naik Kaloko, dan pengawas Naik Capah telah divonis bersalah oleh putusan kasasi Mahkamah Agung (MA) dengan hukuman selama 6 tahun penjara dan ketiganya telah dieksekusi.

Sebelumnya, ketiganya dinyatakan bebas oleh Pengadilan Tipikor pada PN Medan tahun 2016. Namun jaksa mengajukan banding dan oleh Pengadilan Tinggi (PT). Ketiganya dikenakan hukuman 5 tahun penjara.

Terkait kasus yang sama, Pidsus Kejari Dairi juga telah melakukan pemanggilan terhadap lima tersangka lainnya yaitu, Ketua Tim Provisional Hand Over (PHO) Tumbul Simbolon, Sekretaris Jamidin Sagalan, anggota Jinto Berasa, Ramles Simbolon serta Parti Pesta Simbolon pada Juli 2018 lalu.

Namun dari lima orang tersebut hanya tiga nama pertama yang memenuhi panggilan penyidik. Usai diperiksa, ketiganya kemudian langsung ditahan di Rutan Klas IIB Rimo Bunga, Dairi. (man)

Edarkan dan Pakai Sabu di Rutan Tanjunggusta, Empat Napi Wanita Divonis Lagi

Agusman/Sumut Pos SIDANG: Empat napi wanita Rutan Tanjunggusta, menjalani sidang putusan di PN Medan, Kamis (22/8).
SIDANG: Empat napi wanita Rutan Tanjunggusta, menjalani sidang putusan di PN Medan, Kamis (22/8).
Agusman/Sumut Pos

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Empat wanita penghuni Rutan Perempuan Klas II A Tanjung Gusta Medan, menunduk saat divonis penjara oleh majelis hakim yang diketuai Jamaluddin. Para terdakwa terbukti bersalah menjadi pengedar dan pemakai sabu, dalam sidang di ruang Cakra 8 Pengadilan Negeri (PN) Medan, Kamis (22/8).

Salah satu terdakwa, Nurmalita Sari dihukum selama 4 tahun penjara dan denda Rp800 juta subsider 2 bulan kurungan, karena mengedarkan narkotika jenis sabu. “Terdakwa Nurmalita Sari terbukti secara sah melanggar Pasal 112 ayat (1) UU RI Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika,” ucap Jamaluddin.

Majelis hakim berpendapat, perbuatan terdakwa tidak mendukung program pemerintah dalam memberantas narkotika. Putusan itu sama dengan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Arta Sihombing.

Tiga terdakwa lainnya selaku pemakai sabu di dalam sel tahanan, yakni Yanti, Siti Rohaya alias Ayu dan Sherly Ulina br Purba divonis masing-masing selama 1 tahun 8 bulan penjara.

Sebelumnya, JPU Arta Sihombing menuntut ketiga terdakwa masing-masing selama 2 tahun 6 bulan penjara. Seluruh terdakwa merupakan residivis karena telah menjalani hukuman dalam perkara lain.

Menanggapi putusan tersebut, keempat terdakwa maupun JPU Arta sama-sama menyatakan menerima. “Terima pak hakim,” ucap keempat terdakwa dengan kompak.

Dalam dakwaan JPU Artha Sihombing, pada Kamis tanggal 14 Februari 2019 sekitar jam 11.00 wib, saksi Helen Modesty Pasaribu dan Dora Theresia Tambunan sedang melaksanakan tugas piket jaga di Rutan Perempuan Klas II A Tanjung Gusta Medan.

Saat patroli saksi Helen melihat di kamar mandi sel strapsel yang dihuni Siti, Sherly dan Yanti keluar asap banyak. “Ketika sel strapsel dicek, saksi Helen dan Dora menemukan satu set bong. Alhasil, kedua saksi menginterogasi Siti, Sherly dan Yanti,” kata JPU.

Ketiga tahanan ini mengaku baru saja mengonsumsi sabu dan mendapatkan barang haram tersebut dari Nurmalita, dengan cara membeli seharga Rp200.000. Atas keterangan itu, kedua saksi juga turut mengamankan Nurmalita.

“Saat diinterogasi, Nurmalita mengaku mendapatkan sabu dengan cara membeli dari seorang tahanan anak laki-laki bernama Udin (DPO). Namun Nurmalita tidak mengenal Udin karena mereka berkomunikasi melalui tembok tahanan perempuan dan tahanan anak laki-laki,” pungkas Arta. Sehingga mereka tidak saling melihat.

Selanjutnya, kedua saksi melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Medan Helvetia. Alhasil, Nurmalita, Siti, Sherly dan Yanti beserta barang bukti diserahkan ke Polsek Helvetia guna diproses secara hukum yang berlaku. (man)

Pergoki Maling, Pasutri Dibacok di Labusel

Ilustrasi
Ilustrasi

LABUSEL, SUMUTPOS.CO – Pergoki seorang pria sedang mencuri di rumah mereka, pasangan suami istri Mistiono (33) dan Fitriani, luka-luka dibacoki si maling, Kamis (22/8) pagi. Kejadiannya berlangsung di Pasar III, Dusun Pasar III C, Desa Persiapan Sumberjo, Kec. Torgamba, Kabupaten Labusel, Sumatera Utara.

Informasi dihimpun, pagi itu sekira pukul 05.00 Wib, Fitriani terjaga dari tidurnya dan mendapati pintu rumah sudah terbuka. Satu unit sepeda motor Honda Supra 125 BK-2807-YAE yang diparkir di ruangan tengah rumah, sudah raib.

“Saya kemudian membangunkan suami,” tutur Fitriani saat ditemui wartawan di IGD RS Nuraini, Kotapinang.

Bersama suaminya, Fitriani pun memeriksa seisi rumah. Tak disangka muncul sesosok pelaku dari bagian belakang rumah, yang langsung menghujamkan parang ke arah mereka.

Mistiono pun terlibat duel dengan pelaku. Hasilnya, dia menderita sejumlah luka bacokan di kepala, lengan, dada, perut, dan paha. Istrinya Fitriani juga terkena bacokan pada bagian tangan. “Pelaku membacok berkali-kali dan terakhir menusuk perut saya. Saya nggak kenal dia, karena pake topeng,” kata Mistiono.

Karena teriakan korban meminta tolong, para tetangga pun berdatangan ke lokasi. Pelaku yang mengenakan sebo (penutup muka) segera kabur dan meninggalkan sepeda motornya Yamaha Jupiter BM-2770-SB tidak jauh dari kediaman korban.

Peristiwa itu kemudian dilaporkan ke Polsek Torgamba. Sementara itu kedua korban dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan.

“Ya, benar pasutri korban pembacokan,” ujar Kapolsek Torgamba, AKP Mulyadi ketika dikonfirmasi.

Polisi turun ke lokasi untuk melakukan penyelidikan. Sejumlah tempat yang diduga menjadi lokasi pelarian pelaku disisir. Polisi juga mengidentifikasi kepemilikan sepedamotor pelaku, berkordinasi dengan pihak Samsat Riau.

Diketahui, pemilik awal motor itu seorang warga Kabupaten Siak, Riau. Namun motor tersebut telah berpindah kepemilikan. Namun pihak kepolisian akan terus melakukan penyidikan demi mengejar pelaku. (mag-13)

Cemburu, Pria Tua ‘Martil’ Wajah Kekasih

istimewa DIAMANKAN: Ngiani Purba alias Ucok diamankan karena menganiaya kekasihnya.
DIAMANKAN: Ngiani Purba alias Ucok diamankan karena menganiaya kekasihnya.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Terbakar cemburu buta, pria berusia 55 tahun, Ngiani Purba alias Ucok menganiaya kekasihnya, Inawati Beru Ketaren (42). Pria yang tinggal di Dusun I Desa Kuala, Sibolangit, Deliserdang itu memukul wajah kekasihnya menggunakan martil. Akibatnya, sang kekasih mengalami luka di hidung dan wajah.

Ucok pun ditangkap petugas Polsek Pancurbatu, Selasa (20/8) malam.

Informasi dihimpun Kamis (22/8), kecemburuan Ucok timbul karena seringkali melihat sang kekasih dikunjungi beberapa pria di kediamannya, Jalan Karet IV Perumnas Simalingkar A, Kecamatan Pancurbatu, Deliserdang. Terakhir pada Selasa (4/8) dinihari sekira pukul 01.00 WIB, Ucok kembali melihat seorang pria masuk ke tempat tinggal kekasihnya.

Merasa cemburu, Ucok diam-masuk ke rumah Inawati dengan merusak pintu belakang. Ucok kemudian mencari Inawati dan langsung menghajar kekasihnya itu dengan martil yang telah dipersiapkannya.

“Tersangka memukul wajah korban dengan martil. Tersangka juga sempat bilang mau membunuh korban,” ungkap Kanit Reskrim Polsek Pancurbatu Iptu Suhaily Hasibuan kepada wartawan.

Usai menganiaya korban, Ucok yang sehari-hari bekerja sebagai buruh bangunan lalu pergi meninggalkan sang kekasih yang luka di hidung dan wajah.

Korban kemudian membuat pengaduan ke petugas Polsek Pancurbatu. “Tersangka meninggalkan korban dalam keadaan terluka. Martil yang juga digunakan untuk menganiaya juga ditinggalkan di rumah korban,” terangnya.

Polisi selanjutnya melakukan penyelidikan dengan meminta keterangan saksi-saksi. Setelah 2 bulan berlalu, polisi akhirnya mendapat informasi keberadaan Ucok pada Selasa (20/8) sekira pukul 18.00 WIB.

“Informasi yang kita terima, tersangka berada di rumah. Kita langsung menuju rumahnya dan menangkap tersangka,” bebernya. Saat ini tersangka sudah diamankan dan menjalani proses pemeriksaan penyidik.

Kepada petugas, Ucok tak membantah tuduhan penganiayaan terhadap Inawati. Ucok mengakui dirinya cemburu dan kesal karena sang kekasih bertemu dengan pria lain. (ris)

Usai Serangan di Christchurch, Warga Selandia Baru Banyak yang Jadi Mualaf

Lovelady (warga Selandiabaru)
Lovelady (warga Selandiabaru)

Serangan teroris 15 Maret 2019 lalu di dua masjid Al Noor, Christchurch menjatuhkan korban hingga 51 orang. Bahkan Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Arden turun tangan menunjukan rasa solidaritasnya terhadap umat Muslim di negaranya ini.

Dia pun jadi sorotam publik karena datang mengenakan jilbab hitam kala itu. Sebagai upaya menunjukkan solidaritas kepada umat Muslim.

Setelah kejadian itu berangsur berlalu, akhirnya salah satu warga Selandia Baru yang ikut menyaksikan serangan mematikan itu, Megan Lovelady memutuskan jadi Mualaf. Hal ini ditemukan setelah bertahun-tahun kehilangan rasa spiritualitasnya.

“Allah memanggilku pulang,” katanya seperti dilansir lari laman Abaout Islam.

Dari situ Lovelady terus mencari siapa sebenarnya Tuhan yang telah menyelamatkannya dari berbagai musibah? Mencari tahu tentang Allah dan akhirnya memeluk Islam.

Bukan hanya itu, dia merasa kehilangan arah ketika kejadian buruk menimpa kekasihnnya. Saat itu Lovelady harus melihat dengan mata dan kepala sendiri pacarnya tertabrak kereta, sangat tragis.

“Kenapa aku, kenapa aku harus melalui itu? Jika Tuhan begitu perkasa, Dia selalu menyelamatkanku dari kejadian itu (kecelakaan dan penembakan di masjid),” ujar Lovelady.

Pada Jumat setelah Lovelady mendapatkan serangan aksi penembakan brutal di masjid tersebut, ia menghadiri salat di Masjid Al Noor. Padahal saat itu kondisi masih berbahaya, dan dalam pengamanan polisi.

Ketika menyambangi masjid tersebut, saat itu Lovelady belum memeluk agama Islam. Rasa solidaritasnya yang tinggi terhadap perbedaan, membuat ia ikhlas ikut menjaga masjid dari orang yang ingin menghancurkannya.

“Saya ingin bergabung untuk melakukan gerakan (salat) tetapi saya tidak tahu bagaimana – jadi saya hanya berdiri di sana dan saya menangis,” katanya.

Setelah kejadian tersebut, ternyata bukan hanya Lovelady yang terpanggil hatinya untuk jadi mualaf. Namun, beberapa warga lainnya pun banyak yang akhirnya Mualaf.

Mereka banyak yang tersentuh oleh keindahan dan ketabahan umat Muslim saat mendapatkan cobaan yang sangat menyedihkan.

Imam Thanvi mengatakan, dalam beberapa minggu setelah serangan itu, tiga hingga lima orang dalam sehari telah megucapkan dua kalimat syahadat di sebuah masjid Wellington. Setelah itu, hampir setiap bulannya sekitar satu atau dua hari juga ada yang jadi Mualaf.

Di Manawatu, Ketua Asosiasi Muslim setempat, Zulfiqar Buton, juga bertemu enam orang mualaf bahkan lebih. Sedangkan di Otago, juga terjadi hal serupa.

Menurut Tahir Nawaz, presiden Asosiasi Muslim Internasional Selandia Baru, jumlah Muslim Selandia Baru telah mencapai hampir 60 ribu orang. (okz/ram)

Masjid Raya Djenne di Afrika Barat, Terbuat dari Lumpur

Masjid Raya Djenne
Masjid Raya Djenne

TERLETAK di sebelah barat Sungai Bani, Djenne jadi kota paling penting di wilayah Afrika Barat. Di kota satu ini dikenal arsitektur bangunannya yang unik, salah satunya adalah Masjid Raya Djenne yang didirikan pada abad ke 13, atau sekitar tahun 1220 dan dibangun kembali pada 1907.

Ada yang menarik dengan bahan baku untuk membangun Masjid Raya Djenne ini. Masyarakat setempat menggunakan lumpur untuk membangunnya. Selain itu, tempat ini menjadi situs warisan Dunia UNESSCO yang diakui pada tahun 1988.

Tapi perlu Anda tahu, jika masjid ini tidak seutuhnya dibangun dengan lumpur. Sebagai strukturnya, masjid ini menggunakan bahan dasar kayu, kemudian dilapisi lumpur sebagai bahan lapisannya.

Dilansir dari laman Kabar Muhammadiyah, cara menjaga bangunan unik ini biasanya masyarakat Djenne melakukan tradisi khusus yang sudah dijalan sejak turun temurun, yaitu dengan rutin mereserpasi atau memperbaiki masjid dengan lumpur yang baru setiap satu tahun sekali.

Melalui tradisi La Crespissage atau disebut pemelsteran yang biasa dilakukan setiap April, atau sebelum musim hujan tiba yang bisa mengacaukan proses perbaikannya. Masyarakat Djenne berkumpul untuk menambal bagian rusak yang teerletak di bagian masjid tersebut.

Tradisi ini tidak sembarang dilakukan. Tapi memerlukan komando, yaitu oleh ahli arsitektur di daerah setempat. Dibagi ke dalam beberapa tim, dimana setiap orang akan diberikan ember berisi lumpur. Kemudian masing-masing orang akan diberi tugas untuk memperbaiki bagian yang rusak.

Selain itu, kota Djenne juga dikenal sebagai wilayah pusat penyebaran Islam di masa lalu. Pertumbuhannya sangat kuat, terlebih di kawasan Afrika Barat lainnya. Khususnya Djenne, pertumbuhan Muslim di kota ini sangat pesat ditambah dengan banyaknya bagunan-bangunan unik terbuat dari lumpur. Masjid Raya Djenne salah satunya.(okz/ram)

Guru Jenderal Sudirman, Kiai Subchi Parakan (2/habis), Pencetus Perang dengan Bambu Runcing

Seperti dilansir NU Online, salah satunya pejuang Muslim yang ikut membela Tanah Air adalah Kiai Subchi Parakan. Ia dikenal dengan Kiai Bambu Runcing .

Kiai Subchi sering membagikan hasil pertanian, maupun menyumbangkan lahan kepada warga yang tidak memilikinya. Inilah kebaikan hati Kiai Subchi, hingga disegani warga dan memiliki kharisma yang sangat kuat.

Ketika barisan Kiai mendirikan Nahdlatul Ulama pada 1926, Kiai Subchi turut serta dengan mendirikan NU Temanggung. Beliau kemudian menjadi Rais Syuriah NU Temanggung. Kiai Subchi juga sangat mendukung anak-anak muda untuk berkiprah dalam organisasi.

Menurutnya, regenerasi sangat penting, karena usia dan maut tidak ada yang bisa melawan. Bukan hanya itu saja, melibatkan anak muda dalam organisasi juga akan berdampak postif bagi mereka karena waktu luang akan diisi dengan berbagi dan saling bertukar pikiran.

Tidak heran, bila inilah yang akhirnya membuat Kiai Subchi sangat disegani sekaligus dikagumi oleh kaum muda pada masa itu.

Kiai Subchi juga dikenal sebagai sosok sederhana, zuhud dan sangat tawadhuk. Ketika banyak pemuda pejuang yang sowan untuk minta doa dan asma’, Kiai Subchi justru menangis tersedu-sedu.

Dalam memoarnya ‘Berangkat dari Pesantren’, Kiai Saifuddin Zuhri (1919-1986) menceritakan bahwa KH Wahid Hasyim, KH. Zainul Arifin, dan KH Masjkur pernah mengunjungi Kiai Subchi. Dalam pertemuan tersebut, Kiai Subchi menangis karena banyak yang meminta doanya. Padahal ia merasa tidak layak dengan maqam tersebut.

Kiai Saifuddin Zuhri juga menuliskan bahwa, Kiai Subchi menjadi rujukan laskar-laskar yang berjuang di garda depan revolusi kemerdekaan. Berbondong-bondong barisan-barisan laskar dan TKR menuju Parakan, hanya untuk meminta doanya agar mereka mampu berperang melawan penjajah.

Dalam ajarannya, Kiai Subchi menganjurkan agar Jenderal Sudirman berperang dalam keadaan suci, yaitu setidaknya harus berwudhu terlebih dahulu sebelum berjihad. Bukan tanpa alas an anjuran tersebut diberikan oleh Kiai Subchi, dengan bersuci ini, bila maut datang, setidaknya dia sedang dalam suci, tidak ada najis di tubuhnya.

Jenderal Sudirman sering berperang dalam keadaan suci. Beliau juga mengamalkan doa dari Kiai Subchi yang merupakan teladannya. (okz/ram)

Registrasi DSC|X Resmi Ditutup, 12.500 Proposal Wirausaha Rintisan Diterima

istimewa PENGGAGAS: penggagas DSC, Edric Chandra, saat berbicara di Ajang DSCX Roadshow.
PENGGAGAS: penggagas DSC, Edric Chandra, saat berbicara di Ajang DSCX Roadshow.

Sebanyak 12.500 proposal bisnis rintisan telah masuk ke Dewan Komite Diplomat Success Challenge hingga batas waktu masa penyerahan proposal resmi berakhir tepat pukul 24:00, hari Sabtu, 17 Agustus 2019.

Perhelatan besar kompetisi kewirausahaan Diplomat Success Challenge ke-10 tahun 2019 / (DSC|X) yang digagas oleh Wismilak Foundation kemudian bersiap menggelar ajang selanjutnya yaitu Regional Selection yang akan dihelat di 5 kota besar.

Ajang Diplomat Success Challenge yang terbukti berhasil meraih antusiasme tinggi kepesertaan dari para wirausahawan muda nasional sejak dibuka pendaftarannya secara daring pada 15 Mei lalu ini akan membawa 750 proposal & peserta terpilih untuk melakukan audisi tatap muka dan presentasi ide bisnis di lima kota.

Regional Selection yang digelar mulai dari pertengahan September hingga awal Oktober ini merupakan sebuah fase untuk menyaring para peserta DSC|X yang berhasil lolos proposal, dan berada di wilayah terdekat dari 5 kota penyelenggaraan yang dipilih. Para peserta akan menyampaikan presentasi singkat 10-15 menit dihadapan Dewan Juri. 100 peserta terbaik dipilih dan berhak melanjutkan kompetisi ke babak selanjutnya, National Selection di Jakarta dan Surabaya.

Penggagas DSC|X sekaligus Marketing Community & Event Manager Wismilak, Edric Chandra menyampaikan, 12.500 proposal ide bisnis telah diterima. “Bertepatan dengan perayaan Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-74 tahun, masa registrasi dan penerimaan proposal resmi kami tutup. Inilah wujud 10 tahun komitmen kuat kami untuk turut serta mendukung dan memperkuat ekosistem wirausaha Indonesia,” katanya.

Lanjut Edric, Dewan Komite, Juri dan para Mentor Nasional di DSC begitu bangga dan bersemangat atas partisipasi peserta yang melampaui tahun-tahun sebelumnya. “Kami pastikan ada penambahan kota audisi berdasarkan jumlah pendaftar,” katanya.

Kota-kota penyelenggara audisi Regional Selection akan segera diumumkan melalui website dan social media DSC. Pada penyelenggaraan Diplomat Success Challenge yang ke-10 ini, pihaknya sangat berterima kasih karena ajang ini telah mendapat kepercayaan yang besar dari masyarakat Indonesia.

“Jumlah keseluruhan proposal yang diterima adalah yang terbanyak sepanjang penyelenggaraan, tidak hanya untuk ajang DSC sendiri, namun tampaknya juga untuk program kompetisi kewirausahaan serupa. Bahkan dibandingkan dengan penerimaan proposal di penyelenggaraan DSC tahun 2017 dan 2018, tahun ini penerimaannya meningkat 100%! Tantangan dari kami terjawab, bahwa ternyata kaum Millenial Indonesia dan Entrepreneur Indonesia mampu #BikinGebrakan dalam perhelatan akbar DSC|X ini,” katanya.

Lebih jauh Edric menjelaskan bahwa dari seluruh proposal yang masuk, Dewan Komisioner dan Dewan Juri mengelompokkan kedalam 7 kategori bisnis yaitu Agrobisnis, Food & Beverage, Kriya & Fashion, Startup Digital, Teknologi Terapan, Services dan kategori lain-lain.

Dominasi kaum milenial dalam ajang ini begitu kuat dimana sekitar 80% peserta berasal dari rentang umur 20 – 35 tahun. Sementara asal peserta masih didominasi oleh Pulau Jawa dan Sumatera, di mana prosentasenya hingga 90%. Sekitar 9% peserta di bawah 20 tahun dan 3,9% peserta di atas umur 40 tahun terhitung ikut berpartisipasi.

Kategori Startup Digital dan Teknologi mengalami peningkatan, di mana tahun ini DSC menerima lebih dari 10% dari total proposal yang masuk.

Setelah rangkaian roadshow, ajang DSC|X yang penyelenggaraannya berkolaborasi bersama Coworking Indonesia sebagai Strategic Partner, akan memasuki tahap Regional Selection pada September-Oktober yang dihelat di 5 kota besar. Ajang DSC|X di sepanjang bulan Agustus menghelat Campus Roadshow, sebuah upaya sosialisasi event ini di kampus-kampus di 9 kota, yaitu; Surabaya, Malang, Yogyakarta, Semarang, Bandung, Medan, Makassar, Bali dan Jakarta.

Lepas dari babak Regional Selection, 100 proposal terbaik akan kembali diuji di babak National Selection yang dilaksanakan di Jakarta dan Surabaya di awal hingga pertengahan Oktober. 20 Finalis yang dihasilkan dalam babak tersebut berhak maju dan mempersiapkan dirinya di ajang Incubation Session di Jakarta pada akhir Oktober, sebelum tampil di Final Day yang akan digelar di De Tjolomadoe, Karanganyar, Jawa Tengah pada 16-17 November mendatang.

Incubation Session sendiri adalah sebuah fase pembekalan pengetahuan dan pendalaman kepada peserta terpilih yang lolos dari National Selection.

Ketua Dewan Komisioner Diplomat Success Challenge (DSC), Surjanto Yasaputera menyampaikan, memberikan penghargaan tinggi kepada seluruh peserta yang berpartisipasi di DSC|X. (rel/mea)

Pascakebakaran puluhan Kios di Pasar Titikuning, Pedagang Sudah Direlokasi

Kondisi Pasar Inpres Titi Kuning setelah api dipadamkan
Kondisi Pasar Inpres Titi Kuning setelah api dipadamkan

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Puluhan kios pedagang hangus terbakar di Pasar Inpres, Jalan Brigjen Zein Hamid, Titi Kuning, Medan, pada Rabu (21/8) sore. Tidak ada korban jiwa dan luka dalam kejadian ini, sementara kerugian diperkirakan mencapai puluhan juta Rupiah.

Dirut PD Pasar Kota Medan, Rusdi Sinuraya yang diminta pendapatnya mengatakan, PD Pasar Kota Medan tidak berkeinginan untuk membangun kembali kios-kios tersebut. Pasalnya, kios-kios tersebut hanya merupakan kios sementara yang lahannya juga merupakan lahan dengan status sewa.

“Tadi pagi saya sudah kesana, itu (terbakar) karena korsleting listrik. Kios yang terbakar yang sekitar 60an. Itu gak kita bangun lagi, karena kan tempatnya juga disewa itu,” ujar Rusdi Sinuraya kepada Sumut Pos, Kamis (22/8) disela-sela rapat paripurna pembahasan Perda PUD Pasar.

Untuk itu, kata Rusdi, pihaknya telah memindahkan sejumlah pedagang atau direlokasi ke lokasi pasar yang memang sudah selesai dibangun. “Itukan sudah kami pindahkan tadi ke gedung yang sudah selesai, sudah aman itu,” ujarnya.

Seperti diketahui, api yang menjadi sumber kebakaran masih belum diketahui pasti. Sejumlah saksi mata menyatakan api sudah mulai terlihat sekitar pukul 17.00 WIB, Rabu (21/8/2019). Saat itu, pasar sudah tutup.

Kondisi sebagian kios pedagang yang terbuat dari material kayu dan plastik, membuat api membesar dengan cepat. Pemadam kebakaran yang mendapat laporan kejadian segera mengirim 13 unit armada, dan berupaya melokalisir api.

Tak hanya dari Medan truk pemadam juga didatangkan dari Kabupaten Deli Serdang. Api akhirnya berhasil dipadamkan sekitar pukul 18.10 WIB. “Kebakaran ini menghanguskan puluhan kios. Saat ini kita dalam proses pendinginan,” kata Huddin Hasibuan, Kasi Pelayanan Damkar, Dinas Pencegah Pemadam Kebakaran Kota Medan.

Hingga pukul 19.00 WIB (kemarin,Red), polisi masih berjaga-jaga di sekitar lokasi. Sementara penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan. (map/ila)

Paripurna DPRD Medan Tak Korum, Ranperda PUD Pasar Batal Disahkan

SEPI: Kehadiran anggota DPRD Medan sepi saat Parupurna Ranperda tentang Perusahaan Umum Daerah (PUD) Pasar, di Gedung DPRD Medan, Kamis (22/8).
SEPI: Kehadiran anggota DPRD Medan sepi saat Parupurna Ranperda tentang Perusahaan Umum Daerah (PUD) Pasar, di Gedung DPRD Medan, Kamis (22/8).

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) tentang Perusahaan Umum Daerah (PUD) Pasar tidak bisa disahkan meski 8 Fraksi di DPRD Medan telah setuju.

Hal ini dikarenakan jumlah kehadiran anggota dewan saat sidang paripurna di gedung DPRD Medan, Kamis (22/8) minim. Karena kehadiran anggota dewan tidak korum, pengesahan ranperda terpaksa ditunda.

Awalnya Wakil Ketua DPRD Medan, Iswanda Ramli menskor sidang paripurna selama 45 menit sekitar pukul 13.30 WIB. Namun hingga pukul 14.40 WIB, sebagian besar anggota DPRD Medan belum menampakan batang hidungnya.

Terlihat Wakil Ketua DPRD Medan, Iswanda Ramli duduk sendirian di kursi pimpinan. Tak berapa lama Wakil Wali Kota Medan, Ahyar Nasution dan Sekda Kota Medan, Wiriya Alrahman hadir di ruang sidang.

Tak berselang lama, Wakil Ketua DPRD Medan, Burhanuddin Sitepu terlihat memasuki ruang sidang. Sejumlah anggota DPRD Medan yang hadir masih berbincang-bincang, sementara sejumlah staff Sekretariat DPRD Medan sibuk menghubungi sejumlah anggota DPRD Medan.

Sementara itu, berulang kali melalui pengeras suara staff DPRD Medan memanggil anggota DPRD dan unsur pimpinan untuk segera hadir di ruang sidang, namun tak juga terlihat anggota DPRD Medan.

Hingga pukul 14.50 WIB mayoritas anggota DPRD Medan belum juga menampakan batang hidungnya, pimpinan sidang akhirnya mengambil keputusan untuk menunda pengesahan sampai penjadwalan kembali di Badan Musyawarah.”Dikarenakan peserta sidang tiak korum, maka rapat kita skors hingga penjadwalan ulang di Badan Musyawarah,” tegas Nanda Ramli.

Sebelumnya, Anggota DPRD Kota Medan, Mulia Asri Rambe mengaku fraksinya bersama Badan Pengawas Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) baru saja mengunjungi Pasar Marelan. Dalam kunjungan itu, Mulia Asri Rambe atau yang akrab disapa Bayek mengungkapkan pihaknya menemukan sejumlah persoalan di pasar tersebut.

“Dalam kunjungan tersebut kami menemukan banyak pedagang mengeluh karena tempatnya berjualan tidak layak,” katanya saat membacakan pendapat Fraksi Golkar terhadap Ranperda tentang Perusahaan Umum Daerah (PUD), di gedung DPRD Medan, Kamis (22/8).

Selain itu, lanjutnya, pedagang juga mengeluh adanya kutipan yang dilakukan oknum-oknum tanpa ada karcis. “Kalau (pedagang) tidak membayar diancam tidak boleh berjualan. Kalau tidak jualan, anak-anak mereka mau makan apa,” cetusnya.

Wakil Ketua Komisi III itu mengaku miris melihat kenyataan tersebut. Ia meminta agar Wali Kota dan Wakil Wali Kota Medan bersikap tegas. Menurutnya, Perusaan Daerah (PD) akan ditingkatkan statusnya menjadi Perusahaan Umum Daerah (PUD). Seharusnya dengan peningkatan status itu berjalan lurus dengan kinerja.

“Peningkatan ini dituang di dalam Perda, sebelum itu ada naskah akademis yang menjadi dasar pembahasan. Tapi, kalau memang SDM (sumber daya manusia) yang tidak mampu harus dievaluasi. Kami minta dilakukan evaluasi terhadap pejabat atau direksi yang ada di PD Pasar,” tegasnya.

Disisi lain, pada rapat lanjutan pengesahan Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) Perusahaan Umum Daerah Pasar Kota Medan, mayoritas anggota DPRD Medan justru tidak hadir dalam rapat itu. Akibatnya, pengesahan Perda PUD Pasar harus diundur.

Sikap tidak terpuji itu kembali ditunjukan mayoritas anggota DPRD Kota Medan, meski sudah di skors lebih dari 45 menit sejumlah anggota DPRD Medan masih belum tampak hadir di ruang sidang Paripurna, Kamis (22/08).

Pantauan Sumut Pos, di ruang sidang hanya ada beberapa orang anggota DPRD Medan. Sesuai kesepakatan skors selama 45 menit pada pukul 13.30 WIB, namun hingga pukul 14.40 Wib sebagian besar anggota DPRD Medan belum juga terlihat.

Terlihat Wakil Ketua DPRD Medan Iswanda Ramli duduk sendirian di kursi pimpinan. Tak berapa lama Wakil Walikota Medan Ahyar Nasution dan Sekda Kota Medan Wiriya Alrahman hadir di ruang sidang.

Tak berselang lama, Wakil Ketua DPRD Medan Burhanuddin Sitepu terlihat memasuki ruang sidang.

Sejumlah anggota DPRD Medan yang hadir masih berbincang-bincang, sementara sejumlah staff Sekretariat DPRD Medan sibuk menghubungi sejumlah anggota DPRD Medan.

Sementara itu, berulang kali melalui pengeras suara staff DPRD Medan memanggil anggota DPRD dan unsur pimpinan untuk segera hadir di ruang sidang, namun tak juga terlihat anggota DPRD Medan.

Hingga pukul 14.50 WIB mayoritas anggota DPRD Medan belum juga hadir, hingga akhirnya pimpinan sidang mengambil keputusan untuk menunda pengesahan sampai penjadwalan kembali di Badan Musyawarah.

“Dikarenakan peserta sidang tiak kuorum, maka rapat kita skors hingga penjadwalan ulang di Badan Musyawarah,” tutup Nanda Ramli. (map/mbc/ila)