MEDAN, SUMUTPOS.CO – Pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Deliserdang serta Tapanuli Utara, yang rencananya digelar pada 14 April —sesuai masa berakhirnya periode kepala daerah sebelumnya—, diundur hingga 18 April. Alasannya, 14 April masih masa minggu tenang Pemilu serentak 2019,
Kepala Biro Otonomi Daerah dan Kerja Sama Sekretariat Daerah Provinsi Sumatera Utara, Basarin Yunus Tanjung mengatakan, perubahan jadwal pelantikan ini berdasarkan surat edaran Menteri Dalam Negeri yang mereka terima “Surat edaran Menteri Dalam Negeri sudah kita teruskan kepada pemerintah daerah bersangkutan, perihal perubahan jadwal pelantikan kepala daerah ini. Mendagri berpandangan, karena pada 14 April itu adalah masa tenang Pemilu, makanya (pelantikan) diundur menjadi 18 April,” ujarnya menjawab Sumut Pos, Senin (8/4).
Basarin menjelaskan, sesuai aturan yang ada, memang tidak boleh dikurangi ataupun ditambah masa bakti periode kepala daerah. Namun mengingat hal ini sangat krusial, di mana memasuki masa tenang Pemilu, aktivitas pelantikan dinilai lebih baik dilakukan setelah pemilu berlangsung. “Dasar kita melalui surat edaran yang disampaikan Mendagri. Nantinya pelantikan akan dilakukan di kantor gubernur, dan yang melantik langsung adalah gubernur Sumut,” pungkasnya.
Siketahui, adapun sesuai hasil Pilkada serentak 27 Juni 2018 untuk Deliserdang, dimenangkan pasangan petahana Ashari Tambunan dan Ali Yusuf Siregar, melawan kotak kosong. Sedangkan untuk Pilkada Taput, dimenangkan pasangan Nikson Nababan-Sarlandy Hutabarat dengan perolehan suara 69.375 atau 46 persen. Hasil dari kedua pasangan calon tersebut sudah sah ditetapkan melalui rapat pleno Komisi Pemilihan Umum (KPU) setempat masing-masing. (prn)
istimewa
MAHASISWA PRESTASI: Juliaster Marbun (kanan), Winelda Mahfud Zaidan Haris (tengah) dan Wahid Nurhayat (kiri), ketiganya mahasiswa USU berprestasi di tingkat internasional.
istimewa MAHASISWA PRESTASI: Juliaster Marbun (kanan), Winelda Mahfud Zaidan Haris (tengah) dan Wahid Nurhayat (kiri), ketiganya mahasiswa USU berprestasi di tingkat internasional.
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Kanvas rem berbahan cangkang kemiri, yang diciptakan mahasiswa USU, rencananya akan diproduksi massal di USU. Kanvas rem yang bisa bertahan dalam penggunaan selama 12-14 bulan ini, bakal dibandrol dengan harga Rp35 ribu.
Winelda Mahfud Zaidan Haris selaku Chief Executive Officer (CEO) dan Wahid Nurhayat selaku Chief Techinal Officer (CTO) startup ‘Scandlenut’, dengan pembimbing Juliaster Marbun, berencana memproduksi massal kanvas rem dari kulit kemiri ini.
“Lewat kompetisi itu, kami menerima investasi dengan dana besar untuk melanjutkan penelitian. Kanvas rem ini sudah kami patenkan dan patennya tidak akan dijual,” kata Haris.
Ia menyebutkan, ada sejumlah perusahaan ternama internasional yang bersedia membeli lisensi dan hak paten kanvas rem ini. Mereka mau menjadi investor dalam pengembangan kanvas ini secara komersil.
Tapi tim menolak. “Insyaallah, perusahaan pertama akan diproduksi oleh USU,” sebut Haris.
Keunggulan kanvas rem yang mereka ciptakan, kata dia, bisa bertahan dalam penggunaan dari 12-14 bulan. “Kanvas rem kulit kemiri ini memiliki daya pemakaian dua kali lipat dibandingkan dengan abestos yang dijual di pasaran saat ini. Ketika gaya gesek, suhu ‘kan semakin meningkat. Kalau kanvas rem berbahan asbestos tahan 3-4 bulan, cangkang kemiri tahan 12-14 bulan,” katanya.
Tapi ia mengingatkan kultur pengendara di Indonesia, di mana kalau rem belum bunyi, belum diganti. “Berbahaya itu. Di luar negeri ada regulasi. Dapat didenda jika tidak diganti secara berkala,” jelasnya.
Haris mengungkapkan, penggunaan kanvas rem berbahan asbestos sebenarnya sudah dilarang di puluhan negera di dunia. Karena dinilai berdampak bagi kesehatan pengguna kendaraan bermotor. “Asbestos sudah dilarang di 60 negera. Di Indonesia, kini kami akan menggalakkan pemakaian kanvas rem berbahan cangkang kemiri,” pungkasnya.
Tim mengucapkan banyak terima kasih kepada Rektor USU, Prof Runtung Sitepu, dan jajarannya, Pemerintah Indonesia, dan Keduataan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk Rusia, dan seluruh masyarakat Indonesia, yang mendukung mereka melakukan penelitian dan pengembangan.
Di mana selama tim mengikuti ajang kompetisi tingkat internasional, mulai tingkat di Asean, Asia, hingga Eropa, seluruh biaya ditanggung pihak kampus. Juga mendapat support dari Rektor USU dan Wakil Rektor USU. “Baik transportasi, akomodasi, dan uang saku, semua ditanggung USU,” ucap Wahid.
Sebagai ungkapan terimakasih, mereka tidak akan pernah menjual hak paten dari kanvas rem karya tersebut ke perusahaan lain. Tapi akan dikembangkan sendiri dengan memproduksi secara massal di USU.
“Kami memiliki juang tinggi untuk mengharumkan nama USU. Karena yang diberikan USU sangat banyak, maka pengembangan karya kami ini akan dilakukan di USU,” kata Wahid Nurhayat,
Mereka berencana mengembangkan kanvas rem untuk berbagai jenis roda dua yang digunakan di Indonesia ini. “Pasar tanah air saat ini sangat potensial, karena banyak warga yang mengendarai sepeda motor,” katanya.
Untuk tahap awal, rencananya akan diproduksi sebanyak 2.000 batang kanvas pada empat bulan pertama. Sumber dana dari Calon Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi (CPPBT) Kemenristek.
“Untuk rencana pemasaran, akan menargetkan dari bussines to bussines. Oleh karena itu kami berharap kerjasama dengan perusahan-perusahaan yang bergerak di bidang sparepart,” ungkapnya.
Rencananya, kanvas ini akan dibandrol di pasar sebesar Rp35 ribu. Segmen pemasaran di Indonesia. “Arab Saudi dan Thailand juga tertarik dengan inovasi ini,” cetusnya bangga.
Mengenai bahan produksi, mereka tidak khawatir bakal kurang. Karena stok cangkang kemiri si Sumut banyak. Juliaster sendiri selaku pembimbing, telah melakukan pengecekan langsung ke 33 Kabupaten/Kota di Sumut. Hasilnya, ada 21 daerah yang memiliki perkebunan kemiri dan panen dilakukan secara bertahap. “Jadi, kanvas rem ini bisa diproduksi massal,” katanya.
Rektorat Ikut Bangga
Wakil Rektor (WR) I USU, Prof. Rosmayati, mengungkapkan rasa bangga atas prestasi yang diraih mahasiswanya di ajang internasional. “Bonus dalam waktu dekat akan diberikan pihak rektorat kepada mereka,” katanya.
Rosmayati mengatakan, USU juga tertarik dengan kanvas rem yang diciptakan para mahasiswa. Namun soal produksi massal, menurutnya, akan dibicarakan bersama rektorat USU. “Pada intinya, inovasi tersebut diminati banyak pihak. Namun jangan sampai patennya dijual,” ucap Rosmayati.
Ia menegaskan, akan terus mengembangkan penelitian dan riset sesuai kebutuhan masyarakat dan kebutuhan industri. Sedangkan mahasiswa berprestasi akan didukung dengan memberikan beasiswa untuk melanjutkan perkuliahan ke Strata 2.
“Untuk Juliaster Marbun, Pak Rektor sudah meminta dirinya menjadi dosen di USU. Saat ia sedang menyelesaikan S2. Bila dia di USU, tentu dapat membimbing adik-adiknya untuk terus melakukan penelitian,” kata Rosmayati. (gus/mea)
ISTIMEWA
MOU: Senior Manager Niaga dan Pelayanan Pelanggan PLN IUW Sumut, Rino Gumpar H dan jajarannya foto bersama dengan GM PTPN IV masing-masing distrik usai melakukan perjanjian kerja sama Layanan Prioritas, di Heritage Aston, Medan, Senin (8/4).
ISTIMEWA MOU: Senior Manager Niaga dan Pelayanan Pelanggan PLN IUW Sumut, Rino Gumpar H dan jajarannya foto bersama dengan GM PTPN IV masing-masing distrik usai melakukan perjanjian kerja sama Layanan Prioritas, di Heritage Aston, Medan, Senin (8/4).
MEDAN, SUMUTPOS.CO – PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah (UIW) Sumatera Utara (Sumut) akan memberikan layanan prioritas kepada PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV, guna meningkatkan produktivitasnya, terutama dalam pengelolaan perkebunan kelapa sawit.
Hal tersebut ditandai dengan dilakukannya penandatanganan perjanjian kerja sama Layanan Prioritas sebanyak 989 unit kerja dengan total daya 1.647.008 VA antara PLN (Persero) UIW Sumut dengan PTPN IV yakni Distrik II Kebun Laras, Distrik III Kebun Timur, dan Distrik IV Kebun Panai Jaya, di di Heritage Aston, Medan, Senin (8/4).
Penandatangan kerja sama tersebut dilakukan Manager PLN UP3 P.Siantar dengan GM PTPN IV Distrik II Kebun Laras, Mahdi Al Haris, Manager PLN UP3 Padangsidimpuan dengan GM PTPN IV Distrik III Kebun Timur, Fauzi Omar, dan Manager PLN UP3 Rantauprapat dengan GM PTPN IV Distrik IV Kebun Panai Jaya, Agustinus Simanjuntak, dan disaksikan GM PLN UIW Sumut diwakili Senior Manager Niaga dan Pelayanan Pelanggan Rino Gumpar H.
GM PLN UIW Sumut diwakili Senior Manager Niaga dan Pelayanan Pelanggan Rino Gumpar H mengatakan, PTPN IV merupakan salah satu perusahaan BUMN yang mengelola perkebunan sawit terbesar di Sumut. Apalagi, sawit merupakan salah satu komoditas yang dibanggakan untuk diekspor ke luar negeri yang cukup tinggi permintaannya.
Belum lagi akhir-akhir ini Pemerintah Indonesia juga sedang canangkan pengembangan Biofuel atau B20, B30 bahkan B100 di Indonesia, yang sempat menjadi isu hangat di moda transportasi Indonesia.
“Tentunya dengan adanya perjanjian kerja sama ini, PTPN IV sebagai produsen kelapa sawit semakin produktif dalam meningkatkan produksinya, yang tentunya juga membutuhkan kehandalan listrik dalam setiap proses produksi yang dilalukan,” katanya.
Selain itu, katanya, melalui penandatanganan kerja sama ini, PLN berharap tentunya tidak hanya pasokan listrik saja yang dapat dinikmati, tetapi juga pelayanan Prioritas kepada seluruh 989 unit kerja perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan dan pengolahan komoditas kelapa sawit dan teh tersebut, tanpa pengecualian termasuk beberapa unit rumah pekerja PTPN IV.
“Kami berharap melalui Sinergi BUMN ini, produksi kelap sawit di Sumatera Utara semakin meningkat sehingga memperkuat komoditas ekspor andalan Indonesia ini,” harapnya.
Sementara itu, PTPN IV merespon positif inisiatif PLN dalam rangka memberikan Layanan Prioritas kepada 989 unit kerja tersebut. Dengan 16 Unit Pabrik Kelapa Sawit (PKS) dengan kapasitas total 635 ton Tandan Buah Segar (TBS) perjam dan 2 unit Pabrik Pengolahan Inti Sawit dengan kapasitas 405 ton, PTPN IV yakin produktivitas kerja akan semakin meningkat dengan adanya Layanan Prioritas yang diberikan ini.
“Selama ini di Distrik III Kebun Timur, belum ada layanan listrik dari PLN dan masih mengandalkan mesin genset. Kalau pakai genset hanya bisa kerja 12 jam, sedangkan kalau PLN bisa 24 jam, sehingga bisa meningkatkan produktivitas dan menghemat biaya solar genset, jadi lebih efisien dan menguntungkan semua pihak yang bekerja sama,” ujarnya. (ila/ram)
ist/SUMUT POS
KUNJUNGAN: Wakil Wali Kota Medan, Akhyar Nasution menerima kunjungan Head Of Sumatera Region Grab, Anindita Rangkuti dan rekan.
ist/SUMUT POS KUNJUNGAN: Wakil Wali Kota Medan, Akhyar Nasution menerima kunjungan Head Of Sumatera Region Grab, Anindita Rangkuti dan rekan.
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Wakil Wali Kota Medan, Akhyar Nasution sangat mendukung gagasan yang dilakukan Grab untuk mensuport program kerja Pemerintah Kota (Pemko) Medan menuju kota smart city. Hal tersebut diungkapkannya saat menerima kunjungan kerja dari Grab ke Kantor Wali Kota Medan, Jumat (5/4) kemarin.
Wakil Wali Kota Medan, Akhyar Nasution menyatakan apresiasinya dan mendukung dengan sepenuh hati niat dan tujuan Grab yang ingin membantu dan mendukung Kota Medan menjadi lebih baik.
“Saya sangat mendukung niat baik dari Grab untuk dapat mendukung kegiatan Pemko Medan dan dapat mewujudkan Kota Medan menjadi kota smart city tentunya,” ucap Akhyar didampingi Assisten Umum Rendward Parapat.
Dijelaskannya, tujuan dari pertemuan ini adalah silaturahim dengan Pemko Medan, selain itu Grab akan mensuport berbagai program pemko menuju smart city, diantaranya adalah medan great sale dan Pekan Raya Sumatera Utara
Seiring berjalannya program kerja pemerintahan kota Medan terkait Smart City, Pekan Raya Sumatera Utara menjadi event yang sudah diimplementasikan digitalisasi oleh pemerintah, mulai dari digitalisasi pemasaran, penjualan tiket, transportasi, dan peningkatan kulaitas UMKM, Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) adalah agenda tetap pemerintah yang diselenggarakan setiap tahunnya, dengan menampilkan segala kearifan lokal dari seluruh Sumatera Utara.
Sementara itu, Head Of Sumatera Region, Anindita Rangkuti menyatakan Grab bersama pemerintah terus bersinergi menyukseskan program Medan Smart City, diantaranya Medan Great Sale yang menjadi gerbang destinasi wisata dan kuliner kota Medan, berkolaborasi dengan Angkasa Pura II yang mendorong program Smart Airport , Grab juga bersinergi dalam penyelenggaraan PRSU 2019 sebagai Official Mobile Platform Partner
Pada event yang ke 48 yang berlangsung selama satu bulan (8 Maret – 8 April 2019), PRSU menawarkan konsep serta berbagai konten acara yang kreatif. Dibalik kesuksesan dan kemeriahan PRSU ke 48 itu ternyata tak lepas dari partisipasi Grab Indonesia sebagai official mobile platform partner yang bekerja sama dengan Pemerintah Kota Medan. Masyarakat kota Medan dimudahkan dengan berbagai macam layanan yang tersedia di aplikasi seperti fasilitas smart transportasi, GrabExpress, GrabFood, dan juga pembayaran cashless melalui Grab QR Code.
Untuk menyukseskan acara ini, Grab memberikan layanan smart transportasi dalam bentuk memberikan shelter khusus untuk memudahkan penumpang mengakses layanan Grab, bentuk layanan yang diberikan mulai dari antar dan jemput juga pembelian tiket masuk.
“Dengan aplikasi Grab kita fasilitasi transportasi masyarakat kota Medan mulai dari kedatangan dan kepulangan dengan kemudahan dan kemurahan pemberian potongan harga atau diskon hingga 50 persen,” ungkapnya.
Bentuk layanan lainnya yang diberikan juga pemberian potongan harga tiket masuk sebesar 30 persen dengan menggunakan QR code aplikasi Grab termasuk pembelian makanan atau minuman di stand-stand UMKM yang berada dalam binaan Grab. Grab sebagai super apps mengakomodir sekitar 1000 transaksi tiap harinya baik dalam bentuk layanan transportasi , dan pembelian tiket
“Partisipasi itu kami lakukan sebagai bentuk turut peduli dan mendukung program pemerintah dalam hal pariwisata dan ekonomi kreatif kota Medan,” tutupnya. (gus/ram)
ISTIMEWA
JELASKAN: Bendahara Umum Gerakan OK OCE Millineal Indonesia, Emil Malik Ibrahim menjelaskan kepada Sandiago Uno, program-program Rumah Siap Kerja saat diresmikan di Jalan Gaperta Ujung, Minggu (7/4).
ISTIMEWA JELASKAN: Bendahara Umum Gerakan OK OCE Millineal Indonesia, Emil Malik Ibrahim menjelaskan kepada Sandiago Uno, program-program Rumah Siap Kerja saat diresmikan di Jalan Gaperta Ujung, Minggu (7/4).
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Bendahara Umum Gerakan One Kecamatan One Center of Entrepreneurship (OK OCE) Millineal Indonesia, Emil Malik Ibrahim mengajak seluruh generasi milenial yang ada di Kota Medan dan Sumut, ikut bergabung di Rumah Siap Kerja. Sebab, di tempat itu generasi milenial akan mendapatkan pelatihan bagaimana menjadi pengusaha atau enterprenuer. Bahkan, Rumah Siap Kerja ini akan tetap eksis apapun hasil Pilpres 2019.
“Kita mengajak siapapun itu, khususnya generasi milenial. Tidak ada perbedaan di sini, semua akan dibimbing menjadi pengusaha,” kata Emil usai mendampingi Sandiaga Uno meresmikan Rumah Siap Kerja, Minggu (7/4).
Rumah Siap Kerja yang ada di Kota Medan, kata Emil, yang juga Caleg DPR RI Nomor Urut 10 Partai Gerindra Daerah Pemilihan Sumut 1, berisikan ruangan yang diberi nama garasi inovasi, ruang bimbingan karir, ruang diskusi, workshop, serta tempat olahraga. “Tujuan Rumah Siap Kerja ini 90 persen di antaranya mempersiapkan pengusaha baru agar bisa membuka lapangan pekerjaan. Selain itu juga bekerja sama dengan perusahaan untuk menyalurkan tenaga kerja,” ungkap Emil.
Fokus utamanya, lanjut pengusaha muda yang punya hubungan kekeluargaan dengan mantan Presiden BJ Habibie itu, menyiapkan enterprenuer yang bisa membuka lapangan pekerjaan. Di Jakarta, lanjut cucu mantan Ketua DPRD Sumut Raja Syahnan itu, Rumah Siap Kerja bisa menciptakan 30.000 pengusaha baru. Di Kota Medan, ia menargetkan bisa menghasilkan 5.000-10.000 enterprener baru tahun ini. “Melalui Rumah Siap Kerja, kita bertekad akan menekan angka pengangguran, khususnya bagi generasi milenial,” ungkapnya.
Sebelumnya, Sandiaga Uno berharap akan muncul Rumah Siap Kerja yang lain. Ia ingin ada lebih dari satu Rumah Siap Kerja di Medan. Setelah menggunting pita pertanda peresmian Rumah Siap Kerja, Sandiaga Uno, didampingi Emil Malik Ibrahim, mengunjungi satu persatu tempat yang ada Rumah Siap Kerja itu.
Ia juga sempat menyicipi kopi dari pengusaha muda yang sudah mendapat bimbingan dari Rumah Siap Kerja. “Setelah dilihat-lihat, Rumah Siap Kerja yang di Medan sepertinya yang terlengkap,” ujarnya.
Sandi berharap Rumah Siap Kerja menjadi tempat berkumpul generasi milenial. “Rumah siap kerja di DKI Jakarta sudah menghasilkan lebih dari 30 ribu pengusaha baru. Rumah Siap Kerja di Medan juga harus bisa menghasilkan enterprenuer (pengusaha baru),” pungkasnya. (adz/ram)
ist
GOLD for Work: Pimpinan PT Pegadaian (Persero) Kanwil I Medan, Hakim Setiawan bersama rekan berfoto bersama saat kegiatan bersih-bersih di Kecamatan Medan Denai Jalan HM Joni. Kegiatan ini bertema ‘Gold for Work’.
ist GOLD for Work: Pimpinan PT Pegadaian (Persero) Kanwil I Medan, Hakim Setiawan bersama rekan berfoto bersama saat kegiatan bersih-bersih di Kecamatan Medan Denai Jalan HM Joni. Kegiatan ini bertema ‘Gold for Work’.
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Sejalan dengan program “Menuju Indonesia Bersih” PT Pegadaian (Persero) menggelar kegiatan bersih-bersih lingkungan dengan tema ‘Gold for Work’. Kegiatan tersebut merupakan program sosial perusahaan berupa program padat karya pemerintah yang berkolaborasi dengan Pegadaian, Sabtu (6/4).
Kegiatan tersebut diadakan secara serentak di 12 lokasi yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, dengan melibatkan 6.000 orang. Untuk di Kantor Wilayah (Kanwil) I Medan, PT Pegadaian (Persero) kegiatan Gold for Work dipusatkan di Kecamatan Medan Denai tepatnya pinggiran Sungai Denai Jalan HM Joni ini, dimana sekitar 600 peserta terlibat.
Bahkan para peserta yang berasal dari masyarakat Kecamatan Medan Denai mendapatkan imbalan berupa tabungan emas. Program tersebut ditetapkan sebagai rekor Leprid (Lembaga Prestasi Rekor Indonesia Dunia) yang dihitung berdasarkan pembukaan tabungan emas dari hasil Gold for Work di 12 Kota.
Pimpinan PT Pegadaian (Persero) Kanwil I Medan, Hakim Setiawan mengatakan, program Gold for Work ini adalah bentuk kepedulian Pegadaian terhadap lingkungan, serta terhadap ekonomi masyarakat di Indonesia. Ini merupakan program pemerintah yang dikolaborasikan dengan program sosial Pegadaian, memilah sampah menjadi tabungan emas.
Setiap peserta yang ikut pada Gold for Work akan diberikan upah berupa tabungan emas. Kemudian masyarakat dapat menambah saldo tabungan emas di outlet-outlet Pegadaian. Melalui ATM atau menggunakan aplikasi Pegadaian Digital, dan ini merupakan rangkaian memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) BUMN dan Pegadaian sebagai wujud kepedulian BUMN.
“Dengan cara ini lingkungan kita akan menjadi lebih bersih dan tidak hanya itu, ekonomi kita akan meningkat karena memiliki tabungan emas yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan,” katanya.
Turut hadir para Deputi PT Pegadaian (Persero) Kanwil I Medan, diantaranya Suhadi (Deputy Bisnis Area Medan 1), Iswandy, Jansen Siahaan (Profesional Utama), Anhar Nasution (Deputi Bisnis Area Medan 2), Susatya Pramana (Manajer Bisnis Analis), para Asmen PT Pegadaian (Persero) Kanwil I Medan dan Walikota Medan diwakili Kepala Dinas Kebersihan Kota Medan Muhammad Husni maupun para tokoh masyarakat.
Sementara Kadis Kebersihan Kota Medan, Muhammad Husni memberi apresiasi atas gagasan program PT Pegadaian (Persero) Kanwil I Medan yang peduli dengan kebersihan lingkungan. “Kegiatan ini sangat menarik dan menyentuh dengan melibatkan masyarakat untuk melakukan pembersihan sekitar lingkungan Sungai Deli,” katanya.
Ia berharap, langkah kepedulian PT Pegadaian (Persero) Kanwil I Medan jangan sampai di sini (Kecamatan Medan Denai) aja, tetapi juga ke kecamatan lain.(rel/ram)
KELUHKAN: Sejumlah pedagang sayuran di pasar Bakaran Batu, Lubukpakam diabadikan saat mengeluhkan kenaikan harga bawang merah dan putih beberapa minggu terakhir.
KELUHKAN: Sejumlah pedagang sayuran di pasar Bakaran Batu, Lubukpakam diabadikan saat mengeluhkan kenaikan harga bawang merah dan putih beberapa minggu terakhir.
LUBUKPAKAM, SUMUTPOS.CO – Harga bawang merah dan bawang putih mengalami kenaikan di pasar tradisional Bakaran Batu, Lubukpakam. Diperkirakan, kenaikan ini akan bertahan hingga menjelang bulan suci Ramadan.
Pedagang sayur di pasar Bakaran Batu, Santi mengatakan kenaikan harga bawag merah dan putih sudah terjadi sejak sebulan terakhir. Namun lonjakan tertinggi terjadi dalam sepekan terakhir.
“Kalau menurut saya, kenaikan ini dipicu karena stok menipis. Kan baru siap panen pada bulan Desember kemarin. Kalau adapun pasokan, sedang macat sehingga terjadi kelangkaan,” ujarnya.
Dijelaskanya, kenaikan yang terjdi seminggu terakhir ini cukup signifikan, bawang putih, misalnya, dari Rp20 ribu per kg kini mencapai Rp30.000 per Kg. Sedangkan bawang merah dari harga Rp24.000 per Kg kini menjadi Rp32.000 per kg.
Sementara itu, Frenki, pedagang sayuran di pasar Bakaran Batu menyatakan daya beli masyarakat sudah berkurangkarena harga bahan-bahan yang mahal. Karena itu, pendapatan pedagang pun berkurang secara perlahan karena tidak ada pasokan.
“Akibat mahalnya harga bawang, minat pembeli menjadi berkurang dan pendapatan kami pun menurun dari penjualan bawang. Bapak tahu sendiri omset penjualan kami salah satunya dari penjualan bawang,” tutur Manik.
Para pedagang itu juga memprediksi kalau harga bawang dan harga kebutuhan bahan pokok lainnya akan terus mengalami kenaikan hingga bulan Ramadan, mengingat bulan suci tinggal hanya satu bulan lagi.
“Kalau seperti ini kita lihat, kemungkinan harga bahan-bahan pokok akan mengalami kenaikan terus hingga bulan Ramadan,” papar Manik diaminkan pedagang lainnya.
Hasil pantauan, selain harga bawang kenaikan juga terjadi pada bahan pokok lainnya seperti harga tomat. Sebelumnya Rp7.000 per Kg kini naik menjadi Rp11.000 per Kg. Sama seperti harga cabai juga mengalami kenaikan. (btr/ram)
istimewa
APLIKASI: Warga Tiongkok saat menunjukkan penggunaan aplikasi Wechat Pay.
istimewa APLIKASI: Warga Tiongkok saat menunjukkan penggunaan aplikasi Wechat Pay.
JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Penyelenggara jasa sistem pembayaran (PJSP) asal China WeChat Pay dan Alipay akan bisa digunakan di Indonesia. Bank Indonesia (BI) menyebut kedua PJSP ini harus dan wajib bekerja sama dengan bank dengan kategori bank umum kegiatan usaha (BUKU) IV yang ada di Indonesia agar setiap transaksi tercatat di sistem perbankan nasional.
Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja menjelaskan nantinya layanan hanya bisa digunakan oleh turis China yang melancong ke Indonesia.
“Hanya turis China, jadi kalau mereka datang dan belanja di merchant kita. Maka kita dapat fee dari transaksi itu,” ujar Jahja, Senin (8/4).
Dia mengungkapkan potensi pendapatan dari turis China ini memang cukup besar. Namun ia menyebut bank tak akan merasa tersaingi dengan adanya PJSP tersebut karena kerja sama yang dilakukan.
Sebelumnya Alipay dan WeChat menjajaki kerja sama dengan BCA. Jahja menjelaskan Alipay dan WeChat membutuhkan acquirer atau pihak yang dapat memproses data uang elektronik yang diterbitkan oleh pihak lain.
“WeChat, Alipay, mereka membutuhkan istilah di perbankan kita acquiring business. Merchant-merchant itu harus nge-link ke kita. Karena banyak merchant kita. Kalau nggak kan mereka bingung, nggak bisa salurkan,” kata Jahja.
Deputi Direktur Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran (DKSP) Ricky Satria menjelaskan Alipay dan WeChat Pay saat ini sudah melakukan kerja sama dengan perbankan nasional.
“Sesuai dengan ketentuan, mereka harus kerja sama dengan bank BUKU IV dan harus menjalankan kewajiban masing-masing untuk komersial bisnisnya,” ujar Ricky dalam konferensi pers di Gedung BI beberapa waktu lalu.
Dia mengungkapkan saat ini bank sentral sudah memanggil pihak AliPay dan WeChat Pay untuk pembicaraan ketentuan dan sistem di Indonesia.
“Jadi nanti yang menggunakan kedua aplikasi itu adalah turis Chinanya, orang Indonesia tidak boleh. Sebenarnya fenomena ini tak hanya terjadi di Indonesia saja, tetapi juga di Thailand, Vietnam bahkan sampai Jepang,” jelas dia.
Sebelumnya BI menyebut kerja sama itu akan memberikan dampak positif untuk perekonomian Indonesia. Hal ini karena transaksi dilakukan sepenuhnya di Indonesia, baru biaya-biaya lain didistribusikan ke negara asal PJSP tersebut. (dtc/ram)
TEDDY/SUMUT POS
SIDANG: Saksi korban memberikan keterangan di Pengadilan Negeri Binjai dalam sidang dakwaan bentrok IPK Versus FKPPI.
TEDDY/SUMUT POS SIDANG: Saksi korban memberikan keterangan di Pengadilan Negeri Binjai dalam sidang dakwaan bentrok IPK Versus FKPPI.
BINJAI, SUMUTPOS.CO – Sidang bentrok antara kader Ikatan Pemuda Karya dan Forum Komunikasi Putra-Putri Purnawirawan TNI/Polri Kecamatan Binjai Selatan digelar di Ruang Sidang Cakra Pengadilan Negeri Binjai, Senin (8/4). Jaksa Penuntut Umum Perwira Tarigan, membacakan dakwaan untuk keempat terdakwa yang disebut-sebut melakukan penganiayaan.
Sidang dipimpin Ketua Majelis Hakim Fauzul Hamdi Lubis didampingi anggota Dedy dan Tri Syahriawani. Selain keempat terdakwa, JPU Perwira juga menghadirkan dan mendengarkan keterangan saksi.
Selain itu, memperlihatkan barang bukti berupa sebilah parang dan satu bungkusan plastik berisikan baju. Keempat terdakwa masing-masing, Riki Sitepu, Irfandi alias Irfan, Riswanto Ginting dan Hendrik alias Gaboh
JPU kemudian menghadirkan empat saksi. Masing-masing, Wiwi, Halimatusa’dia, Darma dan Irul.
Sebagai korban, Irul menyatakan, keempat terdakwa tidak ada melakukan penganiayaan kepadanya.
“Mereka menyerang (ke TKP) bawa parang sambil mengatakan, cabut-cabut kalian. Saya ingat orangnya kecil-kecil kurus, tapi enggak tahu nama (yang membacoknya). Saya tanda orangnya. Keempat orang ini enggak ada ikut pukul,” kata pria yang mengenakan kaus hitam ini dalam persidangan.
Menurut Irul, pria yang disebutkannya dengan perawakan kecil dan kurus ini menebas parang ke arahnya yang kemudian dihalau langsung oleh tangan kirinya.
“Tangan kiri saya enggak bisa bengkok. Masih dalam perobatan ini,” ujar Irul.
Selanjutnya, Irul berlari ke arah Jalan Padang, Kelurahan Rambungbarat, Binjai Selatan.
“Waktu di pertengahan jalan di SMAN 2 Binjai, mobil Brio warna merah menabrak saya yang kena sini saya (paha),” kata Irul sembari pegang bagian yang dihantam mobil tersebut di hadapan majelis hakim.
“Apakah ada itikad baik meminta maaf dari pelaku penabrakan?” tanya hakim.
Menurut korban, terdakwa tidak ada memohon upaya perdamaian. Lebih aneh lagi, korban mengaku bukan empat terdakwa yang menganiaya dirinya.
“Waktu ngapain lahan, pakai baju FKPPI. Yang menyerang tiba-tiba pakai sebo dan mobil IPK,” ujar Irul.
Tak jauh berbeda dengan Irul, keterangan saksi Darma juga tidak jauh berbeda. Menurut Darma, keempat terdakwa tidak ada menganiaya dirinya.
Namun, Darma tidak ingat secara persis siapa pelaku yang menganiayanya.
“Saya tangkis pakai tangan (kiri), enggak sampai opname. Saya tangkis karena mau diparang ke kepala. Setelah itu saya lari ke rumah, lalu ke Polres,” kata Darma yang mengenakan kaus warna merah.
“Gaboh, Irfan dan Ginting tidak ada melakukan penyerangan,” sambung Darma yang kesehariannya sebagai penggali kuburan.
Majelis hakim kembali bertanya kepada terdakwa, apakah ingin meminta maaf atau tidak. Dalam sidang, terdakwa berniat meminta maaf. Sayangnya, Darma dan Irul sebagai korban tidak ingin menerima maaf mereka.
Selanjutnya, JPU Perwira dipersilahkan majelis hakim bertanya. Namun pertanyaan JPU Perwira mengulang apa yang sudah ditanyakan oleh majelis hakim. Akibatnya, majelis hakim berang.
“Yang sudah ditanyakan, jangan ditanya lagi Pak Jaksa,” cetus Ketua Majelis Hakim.
Terdakwa yang mendengarkan kesaksian korban menyangkalnya. Hal ini mengagetkan majelis hakim.
Seperti terdakwa Irfan menyatakan bahwa ada melakukan pemukulan terhadap Irul. “Nyerang juga ada. Kalau Darma sudah lari,” kata Irfan.
Begitu juga dengan terdakwa Riki yang menyebut bahwa dirinya ada melakukan penikaman kepada Irul.
“Satu tikaman. Karena saya turun dari mobil sudah ramai dikerumuni (temannya). Saya geser kawan saya, lalu saya tikam (Irul),” ucap terdakwa Riki.
Sedangkan Gaboh, Ketua Ranting IPK Kelurahan Rambungbarat dan Riswanto Ginting mengaku tidak ada melakukan pemukulan.
“Saya enggak ada mukul, cuma ada datangin,” kata Ginting.
“Saya enggak ada mukul, kalau datangin ada,” timpal Gaboh. Mendengar hal ini, majelis hakim heran. Pasalnya, keterangan yang didengar dari saksi maupun terdakwa jarang terjadi.
“Jarang ada kejadian saksi korban menyatakan tidak ada (menganiaya) tapi terdakwa ada (menganiaya). Hebat itu pengakuanmu Riki,” ujar Hakim Fauzul.
“Agak luar biasa ini. Biasa mengelak. Ini terbalik. Korban (bilang) tidak ada, terdakwa bilang ada,” sambung Fauzul.
Akhirnya, majelis hakim menunda sidang yang dilanjutkan pekan depan, 15 April 2019 dengan agenda masih mendengar keterangan saksi.
“Saksi Irul hadir lagi ya dan dua ini (Wiwi dan Halimah) di minggu depan,” pungkas majelis sembari mengetuk palu tiga kali pertanda mengakhiri sidang.
Diketahui, IPK dan FKPPI bentrok di areal kosong Pabrik Getah Lama yang dijadikan Arena Pasar Malam, Jalan Jamin Ginting, Kelurahan Rambungbarat, Binjai Selatan, 18 Januari 2019 lalu.
Bentrok yang ditengarai karena rebutan lahan parkir Arena Pasar Malam ini mengakibatkan dua korban jatuh. Paling parah, Irul yang mengalami luka bacok di perut sebelah kanan hingga ususnya terburai.
Selain itu, Irul mengalami luka bacok sebelah tangan kiri bagian siku. Sedangkan Darma mengalami luka goresan di tangan sebelah kiri dan punggung.(ted/ala)
BELAWAN, SUMUTPOS.CO – Sejak pisah ranjang dan ditinggal istrinya ke Malaysia, Dedi Ronal Tambunan (37) stres. Pria pengangguran ini pun nekat gantung diri di rumahnya, Jalan Kawat 1, Gang Turi Lorong Toba, Kelurahan Tanjung Mulia Hilir, Kecamatan Medan Deli, Senin (8/4) pagi.
Informasi diperoleh menyebutkan, tewasnya korban pertama kali diketahui anaknya. Pagi itu anaknya, Clara br Tambunan ingin pergi sekolah. Saat ingin ke kamar mandi, Clara terkejut melihat ayahnya telah tewas gantung diri di dapur rumahnya.
Melihat pemandangan ekstrim itu, Clara kontan histeris. Tetangga yang mendengar itu langsung mendatangi rumah korban, peristiwa itu pun dilaporkan warga ke Polsek Medan Labuhan.
Polisi yang datang ke lokasi melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Dari tubuh korban tidak ada tanda kekerasan.
Dari keterangan pihak keluarga, ternyata korban selama ini stres karena ditinggal istrinya yang telah bekerja di Malaysia.
Pihak keluarga keberatan jenazah korban dilakukan visum. Dengan membuat surat tidak keberatan, pihak keluarga menolak divisum dan menyemayamkan jenazah korban di rumah duka.
Kanit Reskrim Polsek Medan Labuhan, Iptu Bonar Pohan membenarkan peristiwa dan keterangan keluarga korban.
“Selain stres, korban selama ini sudah mengalami penyakit paru-paru kronis dan baru pulang berobat dari rumah sakit. Bisa jadi ini faktor korban gantung diri,” jelasnya.(fac/ala)