ist
DIABADIKAN: Deputy General Manager TPL Janres Silalahi diabadikan bersama Kepala Dinas Pendidikan Samosir, Ricardo Hutajulu.
ist DIABADIKAN: Deputy General Manager TPL Janres Silalahi diabadikan bersama Kepala Dinas Pendidikan Samosir, Ricardo Hutajulu.
SAMOSIR, SUMUTPOS.CO – Pemerintah khususnya Pemkab Samosir mengapresiasi atas kepedulian manajemen PT Toba Pulp terhadap dunia pendidikan.
Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Pendidikan Samosir, Ricardo Hutajulu, Spd MPd pada acara HUT ke-15 Kabupaten Samosir (27/2) lalu.
Tingginya kepedulian industri pulp (bubur kertas) satu-satunya di Sumut ini, sebagai bagian dari masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan di Kabupaten Samosir. Mulai dari level PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) dan SMP (sekolah menengah pertama).
Saat ini saja, sebanyak 889 siswa SMP di Samosir mendapatkan perhatian melalui program pelatihan, dan 25 PAUD ditingkatkan pelayanannya melalui Alat Permainan Edukatif (APE) Luar dan dalam, meja, kursi, papan tulis serta lemari.
Tak sampai disitu saja, sepanjang tahun 2018, PT TPL memberikan pelatihan tingkat dasar kepada 114 Tutor PAUD dan Guru SMP. Ini dilakukan sebagai salah satu upaya dalam program peningkatan pendidikan di Kabupaten Samosir.
Ricardo mengakui bahwa dunia pendidikan di Samosir saat ini sudah mengalami kemajuan yang signifikan. Menurutnya, tahun 2017 yang lalu hanya seorang SMP yang lolos ke SMA unggulan ITDEL.
Namun setelah bekerjasama dengan PT TPL, ada 21 orang yang lulus ujian akademis di SMA unggulan DEL. “ Ini sangat luar biasa pengaruh bantuan TPL terhadap peningkatan pendidikan Samosir” kata Ricardo.
Menurut Ricardo, dunia pendidikan me megang peranan penting dalam kemajuan satu daerah. “Daerah tidak akan maju bila pendidikannya tidak maju” lanjut Ricardo. “Dengan bantuan yang begitu besar dari TPL, menunjukkan TPL dan Pemkab Samosir memiliki visi pendidikan yang sama” pungkasnya.
Sementara Deputy General Manager TPL Janres Silalahi, mengatakan bahwa perusahaan merasa bahwa pendidikan menjadi salah satu sasaran pembangunan di TPL.
“Kita harap dunia pendidikan di kawasan Tapanuli ,khususnya di Kabupaten Samosir dapat ditingkatkan ke level yang lebih tinggi lagi” tutur Janres. (rel/han)
ISTIMEWA
SILATURAHIM: Ketua Umum PB-Iklas Sumut, Rivai Nasution saat bersilaturahim dengan masyarakat Labusel, Sabtu (2/3).
ISTIMEWA SILATURAHIM: Ketua Umum PB-Iklas Sumut, Rivai Nasution saat bersilaturahim dengan masyarakat Labusel, Sabtu (2/3).
KOTAPINANG, SUMUTPOS.CO – Pemkab Labusel harus mulai memikirkan penyediaan sarana bus sekolah untuk mengangkut siswa pergi dan pulang sekolah. Hal itu diungkapkan Ketua Umum PB-Iklas Sumut, Rivai Nasution di sela-sela kunjungannya di Kabupaten Labusel, Sabtu (2/3).
Menurutnya, bus sekolah perlu disediakan, untuk menjamin keselamatan siswa. Dikatakan, sebagai daerah yang sebagian besar wilayahnya perkebunan kelapa sawit dan karet, banyak siswa harus menempuh per jalanan jauh ke sekolah. Bahkan sebagian besar siswa terpaksa menggunakan sepeda motor atau diantar-jem put orangtua, dengan besarnya risiko menjadi korban kejahatan seperti begal maupun kecelakaan di jalan.
“Saya kalau pulang ke Labusel kadang melihat anak-anak yang naik sepeda motor dipepet bus atau truk. Ini sangat membahayakan. Belum lagi mereka ini rawan menjadi korban kejahatan,” katanya.
Semestinya kata dia, Pemkab sudah harus menyediakan transportasi aman, khusus untuk anak sekolah. Karena selain memberikan rasa aman terhadap siswa, keberadaan bus sekolah juga menghilangkan kekhawatiran terhadap orangtua.
“Kalau ada bus sekolah yang aman juga dapat meringankan beban orangtua sehingga tidak usah menjemput dan mengantar anak sekolah, apa lagi sampai harus memberikan sepeda motor. Bukan hanya anak SMA, bahkan anak SD ada yang bawa sepeda motor,’’ katanya.
Diakuinya, untuk menyediakan bus sekolah dibutuhkan kemauan dari Pemkab dan didukung oleh DPRD. Menurutnya, selain menggunakan dana APBD, pengadaan bus-bus tersebut dapat bekerja sama dengan perusahaan perkebunan dan pabrik kelapa sawit yang ada di Kab. Labusel.
“Keberadaan bus sekolah tersebut sangat urgen untuk segera disediakan. Menggunakan bus sekolah jauh lebih aman jika dibandingkan mengendarai sepeda motor,” katanya. (adz)
ISMED/SUMUT POS
SENAM: Ribuan masyarakat Madina senam bersama pada kegiatan Millenial Road Safety Festival (MRSF) 2019 di Lapangan Pasir Putih Lintas Timur Panyabungan, Minggu (3/3) pagi.
ISMED/SUMUT POS SENAM: Ribuan masyarakat Madina senam bersama pada kegiatan Millenial Road Safety Festival (MRSF) 2019 di Lapangan Pasir Putih Lintas Timur Panyabungan, Minggu (3/3) pagi.
MADINA, SUMUTPOS.CO – Ribuan masyarakat tumpah ruah mengikuti Millenial Road Safety Festival (MRSF) 2019 di Lapangan Pasir Putih Lintas Timur Panyabungan, Minggu (3/3) pagi.
Kegiatan yang digelar Polres Madina ini mengambil tema, “Mewujudkan Milenial Cinta Lalu Lintas Menuju Indonesia Gemilang” berjalan sukses, aman dan lancar.
Kapolres Madina AKBP Irsan Sinuhaji, SIK, MH dalam sambutannya mengatakan latar belakang digelarnya acara Millennial Road Safety Festival setelah PBB, dalam hal ini World Health Organization (WHO) menyebutkan Lakalantas menempati urutan kelima penyebab kematian tertinggi di dunia setelah penyakit jantung koroner, paru-paru, diabetes dan TBC.
Untuk di Kabupaten Madina, lanjut Sinuhaji, lakalantas pada tahun 2018 sebanyak 76 kasus dengan korban meninggal dunia 48 orang. “Pelaku/korban lakalantas didominasi oleh kaum muda/milenial kurang lebih 54 persen,” ungkapnya.
Berdasarkan kasus tersebut, sambungnya, Polres Madina bersama pihak terkait berupaya menggelorakan tertib berlalu lintas dengan berbagai cara untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya tertib berlalu lintas di jalan raya, guna menurunkan lakalantas oleh kaum milenial.
“Salah satu program kerja Kepolisan yang digagas Perkumpulan Gerakan Kebangsaan bersama Relawan Lalu Lintas yang dilakukan tahun 2019 adalah “Millennial Road Safety Festival”. jelas AKBP Irsan Sinuhaji. Kapolres Madina juga mengajak masyarakat untuk selalu mematuhi peraturan lalu lintas.
Sementara, Wakil Bupati Madina HM Jakfar Sukhairi Nasution mengapresiasi acara yang digelar Polres Madina, dan mengajak para generasi muda untuk mengetahui cara berlalu lintas yang benar.
Adapun rangkaian kegiatan yang dilaksanakan adalah gerak jalan santai, pelepasan burung merpati dan balon lounching MRSF 2019, deklarasi pelopor keselamatan berlalu lintas, senam kolosal millennial, tari tor tor, tarian takki takki, tarian meraih bintang serta gordang sambilan. Selain itu, dilaksanakan Millennial Entrepreneur Expo, Safety Riding dan Driving, penandatanganan deklarasi, donor darah, pengobatan gratis serta servis sepeda motor gratis.
Pada kegiatan ini turut hadir Ketua TP PKK Madina Ny Ika Desika Dahlan Hasan, Pejabat Pemkab Madia, Muspida Plus, Ketua DPRD Madina H. Marganti Batubara, SE, Partai Politik di Madina, Waka Polres Madina Kompol Drs. Tongku Bosar Pane, MM, para Perwira jajaran Polres Madina, OKP, LSM, Mahasiswa, Pelajar dan undangan lainnya. (mag-6/han)
KARO, SUMUTPOS.CO – Bupati Karo Terkelin Brahmana mendapat dukungan pembangunan akses jalan penghubung Kabupaten Karo- Deliserdang, langsung dari Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Utara (Sekdaprovsu), R Sabrina.
Dukungan serta kesepakatan tindak lanjut proses pembukaan jalan penghubung kedua kabupaten, juga diterima Bupati Karo dari Bupati Deliserdang Ashari Tambunan.
Hal ini terungkap dalam pertemuan Bupati Karo Terkelin Brahmana dengan Sekda Provsu R Sabrina, Bupati Deliserdang Ashari Tambunan, saat menghadiri pembukaan Perkemahan Bakti Saka Bhayangkara Daerah (Pertikarada) 2019 di Bumi Perkemahan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Sabtu (2/3).
Sabrina mendukung penuh jika Pemkab Karo dan Pemkab Deliserdang sudah satu persepsi, pembukaan akses jalan penghubung kedua kabupaten. Disebutkannya, akses jalan Karo-Deliserdang sudah sepatutnya segera diselesaikan karena jalan, lalulintas Medan-Berastagi apabila macet berdampak sangat luas bagi pengguna jalan. Dengan adanya jalur alternatif, Karo-Deliserdang, akan mengurai kemacetan.
“Kami, pihak provinsi juga membantu percepatan akses jalan tembus Karo-Deli Serdang, sesuai kewenangan provinsi. Ini yang kami tunggu selama ini. Ada kekompakan, sinergitas kedua daerah. Jangan ibarat, seperti lagu Broery (Broery Marantika); Kau di sana, aku di sini. Ini harus kita hindarkan,” kata Sabrina.
Kepada Bupati Karo dan Bupati Deliserdang, Sabrina menegaskan, Pemerintah Provsu siap menghadiri pembahasan akses jalan tembus Karo-Deli Serdang yang difasilitasi Komisi D DPRD Sumut.
Bupati Karo Terkelin Brahmana menjelaskan, progres pembukaan akses jalan penghubung Karo-Deliserdang, dari Desa Serdang, Kecamatan Barus Jahe ke Desa Rumah Liang, Kecamatan STM Hilir di Kabupaten Deliserdang.
Terkelin juga mengungkapkan saran dari Komisi D DPRD Sumut, agar Pemkab Karo dan Pemkab Deli Serdang menyatukan persepsi soal akses jalan tersebut. “Atas penyampaian saya tadi , Bupati Deli Serdang menyambut baik penegasan Komisi D DPRD Sumut. Bupati Deli Serdang pun setuju, dan sepakat ke depan Pemkab Deli Serdang dan Pemkab Karo satu persepsi agar semuanya tuntas,” tegas Terkelin.
Bupati Deliserdang Ashari Tambunan menyatakan dukungannya dan menyepakati saran Komisi D DPRD Sumut, satu persepsi. “Iya, kami juga setuju. Kalau Komisi D DPRD Sumut sudah menegaskan agar harus satu persepsi terkait jalan tembus Karo-Deli Serdang,” kata Ashari. Ashari berjanji akan menghadiri undangan Komisi D DPRD Sumut untuk lanjutan pembahasan akses jalan Karo-Deli Serdang. “Kita akan hadir jika Komisi D DPRD Sumut sebagai mediator mengundang kami, Pemkab Deli Serdang dan Pemkab Karo untuk mendeklarasikan satu persepsi agar tahun ini, mudah-mudahan jalan tembus Deli Serdang-Karo dapat terhubung,” imbuh Ashari.
.Dengan adanya komitmen Sekda Provsu dan Bupati Deli Serdang, Terkelin Brahmana berharap Komisi D DPRD Sumut mengundang kedua Pemkab untuk pembahasan.
“Saya berharap hasil kesepakatan kami ini, menyatukan persepsi, tinggal menuggu Komisi D DPRD Sumut untuk membuat undangan rapat di Komisi D DPRD. Kami berdua sepakat hadir jika ada undangan tersebut,” pungkas Bupati Karo Terkelin Brahmana. (deo/han)
Istimewa
LANTIK: Ketua Dewan Pembina MCM, Budi Karya Sumadi melantik PW MCM Provinsi Sumut di pelataran Masjid Baitussalam Jalan Bandar Labuhan, STM Hilir, Deli Serdang akhir pekan lalu (2/3).
Istimewa LANTIK: Ketua Dewan Pembina MCM, Budi Karya Sumadi melantik PW MCM Provinsi Sumut di pelataran Masjid Baitussalam Jalan Bandar Labuhan, STM Hilir, Deli Serdang akhir pekan lalu (2/3).
DELISERDANG, SUMUTPOS.CO – Menteri Perhubungan RI sekaligus Ketua Dewan Pembina Masyarakat Cinta Masjid (MCM), Ir H Budi Karya Sumadi melantik PW MCM Provinsi Sumatera Utara, di pelataran Masjid Baitussalam Jalan Bandar Labuhan, STM Hilir, Deli Serdang, Sabtu (2/3). Adapun PW MCM Sumut yang dilantik yakni Ketua Syafrizal dan M Hakim HZ sebagai Sekretaris.
Pada pelantikan itu, Budi Karya dalam kapasitasnya sebagai Ketua Dewan Pembina PP MCM mengajak warga semakin meningkatkan sikap perang terhadap hoaks. Sikap tersebut diperlukan menjelang semakin dekatnya hari pencoblosan Pileg dan Pilpres 17 April mendatang. “Seluruh masyarakat harus semakin kritis dengan berbagai informasi-informasi yang penuh muatan hoaks,” ujarnya.
Dengan wadah MCM, lanjut Budi diharapkan para aktivis masjid dapat menangkal sedini mungkin penyebaran berita bohong dengan interaksi masyarakat di masjid. Sehingga masjid tidak hanya sebatas fungsi ritual, namun bisa lebih dari pada itu, yakni wadah interaksi umat Islam dalam berbagai sisi kehidupan.
“Sebagai sesama umat Islam, sudah sepatutnya kita saling mengingatkan akan bahayanya informasi hoax yang dapat merusak kebersamaan sebagai anak bangsa,” tegas Budi.
Sementara, Ketua Umum MCM Indonesia, H Wishnu Dewanto meminta agar jaringan MCM di seluruh Indonesia termasuk di Sumut menjadi garda terdepan mengantisipasi penyebaran informasi bohong yang saat ini sudah sangat membahayakan.
“Saya tidak mau dengar masjid dijadikan area politik praktis dan bahkan dijadikan medan penyebaran informasi bohong hanya demi kepentingan politik sesaat,” ujar Wishnu kepada pengurus PW MCM Provinsi Sumatera Utara yang baru dilantik.
Selain pelantikan PW MCM Sumut, jamaah juga mendapat tausiah dari Ustad KH Fikri Haikal MZ. Dalam tausiahnya, Ustad Haikal mengajak seluruh jamaah menggunakan hak politiknya pada 17 April nanti. Karena memilih pemimpin juga termasuk kewajiban umat. (ris/han)
Foto: BAMBANG/SUMUT POS
PUKUL GONG: Kadis Pendidikan Langkat Saiful Abdi memukul gong tanda dibukanya pekan pelajar Langkat 2019, di Taman Budaya T Amir Hamzah, Stabat, Sabtu (2/3).
Foto: BAMBANG/SUMUT POS PUKUL GONG: Kadis Pendidikan Langkat Saiful Abdi memukul gong tanda dibukanya pekan pelajar Langkat 2019, di Taman Budaya T Amir Hamzah, Stabat, Sabtu (2/3).
LANGKAT, SUMUTPOS.CO – Bupati Langkat Terbit Rencana PA diwakili Kadis Pendidikan Langkat DR H Saiful Abdi SH SE MPd, membuka pekan pelajar Langkat 2019, di Taman Budaya T Amir Hamzah, Stabat, Sabtu (2/3).
Pekan pelajar yang diselengarakan oleh Himpunan Mahasiswa Langkat (Himala) USU ini ditandai dengan pemukulan gong oleh Kadis Pendidikan Langkat.
Untuk mengasah keterampilan 377 pelajar se-Kabupaten Langkat ini, rangkain perlombaan dipertandingkan, seperti cerdas cermat, vocal solo, puisi, pidato bahasa inggris, tari kreasi melayu. Kadis Pendidikan Langkat mengapresiasi digelarnya pekan pelajar oleh Himala USU ini, karena sudah membantu terwujudnya visi dan misi Bupati Langkat dalam bidang Pendidikan.
“Semoga kegiatan ini dapat memotivasi pelajar Langkat untuk terus mengasah kemampuannya, sehingga para pelajar Langkat akan menjadi pelajar cerdas dan berkompeten,” harapnya sembari mengungkapkan dalam waktu dekan akan melauncing Literasi, serta berkomitmen untuk terus berbenah dalam bidang pendidikan.
Mewakili Kapolres Langkat, Iptu Joko Sempeno SPd I berharap pelajar Langkat menjauhi narkoba. Joko juga mengingatkan agar pelajar dalam menjelang Pemilu serentak pada 17 April 2019, tidak termakan berita Hoax. “Para pelajar harus mampu dan pandai untuk memilih berita yang benar di Medsos, hal ini untuk menghindari berita yang mengandung ujaran kebencian dan adu domba,” terangnya.
Sementara itu, Ketua Plt Sekjen Himala USU, Juari juga mengapresiasi para guru yang mendampingi muridnya untuk mengasah kemampuan dan menjadi contoh kepada pendidik lainnya. “Dengan begitu, harapannya dapat melahirkan generasi milenial yang cerdas dan tangkas,”imbuhnya.
Terpisah, Ketua Himala Langkat Ami Prartama dan Ketua Panitia Yoga Prasetio berharap kegiatan ini menguatkan tali silaturahmi antara Himala dan pelajar Langkat. “Semoga kegiatan ini dapat memotivasi pelajar Langkat, untuk terus melanjutkan Pendidikan ke perguruan tinggi, setelah tamat dari SMA sederajat,”sambung Yoga. (bam/han)
BATARA/SUMUT POS
BERSAMA: Menteri ATR/BPN Sofyan Djalil disaksikan Wabup Deliserdang Zainuddin Mars, Ka Kanwil BPN Sumut Bambang Priono, dan Ka BPN Deliserdang Hiskia Simarmata, membagikan sertifikat tanah kepada masyarakat, di Tanjungmorawa, kabupaten Deliserdang, Minggu (3/3).
BATARA/SUMUT POS BERSAMA: Menteri ATR/BPN Sofyan Djalil disaksikan Wabup Deliserdang Zainuddin Mars, Ka Kanwil BPN Sumut Bambang Priono, dan Ka BPN Deliserdang Hiskia Simarmata, membagikan sertifikat tanah kepada masyarakat, di Tanjungmorawa, kabupaten Deliserdang, Minggu (3/3).
DELISERDANG, SUMUTPOS.CO – Menteri Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) RI, Sofyan Djalil mengatakan, program bagi-bagi sertifikat yang dilakukan Presiden RI Joko Widodo ke daerah-daerah, untuk memastikan hukum kepemilikan tanah rakyat dan pemanfaatannya.
“Presiden bagi-bagi sertifikat bukan untuk pencitraan. Kalau pencitraan, seharusnya memanggil rakyat dengan pembagian sebanyak 500.000 sertifikat setiap daerah yang dikunjungi. Tetapi ini kenyataan kan tidak, Presiden membagi sertifikat tidak sampai 10 persen dari total yang dikeluarkan kantor tanah yang dituju,”terang Sofyan didampingi Wakil Bupati Deliserdang Zainuddin Mars, Kepala Kanwil BPN Sumut Bambang Priono, dan Kepala BPN Deliserdang Hiskia Simarmata, di sela-sela pembagian 1.200 sertifikat kepada rakyat dan penyuluhan Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) di Gedung Puri PTPN II, Tanjungmorawa, Deliserdang, Minggu (3/3).
Disebut Sofyan, program Presiden Jokowi pada tahun 2017 telah keluarkan sebanyak 5,4 juta sertifikat. Sedangkan tahun 2018 menargatekan 7 juta, namun yang dikeluarkan 9 juta sertifikat. Dan tahun 2019 dengan target 9 juta sertifikat, diharapkan dapat menembus 11 juta sertifikat.
Sementara BPN biasanya hanya mengeluarkan dibawah 1 juta sertifikat dalam setahun. “Kita punya target menjadikan BPN lebih baik dan akan menyertifikan seluruh tanah milik masyarakat Indonesia. Kami punya target 2025, kalau Tuhan mengizinkan Insya Allah seluruh tanah di Indonesia akan didaftarkan dan disertifikatkan,” ungkap Menteri itu dalam sambutannya.
Sofyan juga menegaskan pentingnya kepemilikan sertifikat, yaitu untuk menghindari terjadinya sengketa tanah. Kemudian, untuk meminimalisir sengketa. Presiden juga memerintahkan BPN, agar secepat mungkin memproses pengeluaran sertifikat dan mendaftarkan seluruh tanah milik masyarakat.
Sebelumnya, Wabup Zainuddin dalam sambutannya mengapresiasi program Presiden Jokowi dalam pembagian sertifikat. “Progran sertifikat ini sangat baik bagi masayarakat. Mohon sampaikan salam kami ke pak Presiden, kami mendukung percepatan dan hendaknya lebih ditingkatkan pengeluaran sertifikat. Karena hak legal sertifikat tanah sangat bermanfaat bagi kehidupan masyarakat,” kata Zainuddin Mars singkat.
Laporan Hiskia Simarmata menyebutkan, yang hadir dalam acara itu penerima sertifikat sebanyak 1.200 orang dan 300 peserta penyuluh PTSL dengan total hadir 1.500 orang.
Kegiatan PTSL tahun berjalan 2019 sudah keluarkan sebanyak 300 sertifikat, kegiatan redistribusi tanah tahun 2018 sebanyak 16 sertifikat, kegiatan konsolidasi tanah 80 sertifikat dan kegiatan PTSL 2018 sebanyak 804 sertifikat.
Sementara untuk target tahun 2019 terdiri dari, PTSL 45.000 peta bidang, realisasi 13.500 peta bidang. UKM target 900 bidang, redistribusi tanah target 2.000 bidang, realisasi 500 bidang. IP4T target 1.000 bidang, realisasi 100 persen Konsolidasi tanah target 200 bidang. BMN target 31 bidang, realisasi 100 persen dan pengadaan tanah untuk bendungan Lau Simeme 276 hektare.
Usai bagi-bagi sertifikat, rombongan Menteri ATR/BPN itu bersama Wabup Deliserdang meninjau kantor ATR/BPN Deliserdang yang baru diresmikan di komplek perkantoran pemkab, Lubukpakam. Diketahui dana pembangunan kantor itu bersumber dari hibah APBD Pemkab Deliserdang tahun 2018.(btr/han)
SUTAN SIREGAR/SUMUT POS
SUNGAI BATANG TORU: Aliran Sungai Batang Toru yang menjadi sumber utama PLTA Batang Toru terlihat dari udara. Air sungai ini akan tetap mengalir selama 24 jam meski akan dibangun bendungan, karena PLTA ini menggunakan sistem run-of-river hydropower.
SUTAN SIREGAR/SUMUT POS SUNGAI BATANG TORU: Aliran Sungai Batang Toru yang menjadi sumber utama PLTA Batang Toru terlihat dari udara. Air sungai ini akan tetap mengalir selama 24 jam meski akan dibangun bendungan, karena PLTA ini menggunakan sistem run-of-river hydropower.
SUMUTPOS.CO – Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batang Toru 510 MW di Tapanuli Selatan penting untuk ketersediaan energi yang ramah lingkungan bagi Sumatera Utara. PLTA tersebut menerapkan sistem run-of-river hydropower, sehingga tidak perlu menampung air dalam jumlah banyak. Air sungai akan tetap mengalir ke hilir selama 24 jam. Jadi aliran sungai tidak terganggu dengan adanya bendungan, karena air tetap akan dilepas terus-menerus.
BERBEDA dengan PLTA lain yang harus membangun reservoir, PLTA Batang Toru hanya memerlukan kolam harian dengan penambahan areal genangan 66 Ha. Selain itu, pembangunannya menggunakan konsep irit lahan. “Hanya menggunakan lahan seluas total 122 Ha dengan luas bangunan hanya 56 Ha. Lahan yang akan digunakan sebagai tapak struktur permanen tersebut setara 0,07 persen dari keseluruhan kawasan ekosistem Batangtoru,” kata Dr Agus Djoko Ismanto PhD, Senior Advisor Lingkungan PT NSHE, kepada Sumut Pos, Jumat (1/3).
Proyek PLTA Batang Toru, kata dia, secara fundamental akan mempertahankan dan selalu ikut program kelestarian kawasan, yang menghasilkan air sebagai bahan baku operasinya. Karena itu secara alami, pembangunannya tetap mengedepankan pentingnya mempertahankan kelestarian keragaman hayati, termasuk satwa di wilayah Batang Toru. “Kami menyadari bahwa sumber utama pembangkit kami adalah air. Sedangkan ketersediaan pasokan air sangat tergantung pada kelestarian alam sekitarnya. Karena itu, PLTA Batangtoru berkomitmen terhadap kelestarian lingkungan,” kata Agus.
PLTA Batang Toru juga berkomitmen untuk menjadi market leader PLTA. Sejak masa persiapan dan pelaksanaan pembangunan, PLTA Batang Toru mengadopsi dan menerapkan standar-standar nasional dan internasional. “Selain memenuhi AMDAL, kami telah melaksanakan kajian Environmental and Social Impact Assessment (ESIA) yang menjadikan kami PLTA pertama di Indonesia yang melaksanakan Equatorial Principle. Jadi dalam hal ini penanganan lingkungan termasuk satwa liar, seperti orangutan di sekitar ke wilayah pembangunan PLTA mengacu juga pada standar ESIA tersebut,” jelasnya panjang lebar.
Selain itu, lokasi pembangunan PLTA Batang Toru adalah di Areal Penggunaan Lain (APL). Bukan di hutan. Jadi kehadiran PLTA tidak merusak hutan primer maupun hutan konservasi. Hal ini dapat dilihat dari jenis vegetasi yang tumbuh di lokasi yang didominasi pohon karet dan pohon perkebunan lainnya.
“Lahan PLTA yang berupa APL tersebut seluruhnya dibeli dari lahan masyarakat yang secara hukum telah diizinkan oleh negara untuk kepentingan non-kehutanan. Ini dapat buktikan dari sertifikat tanah yang telah kami beli,” beber Agus lagi.
Orangutan Terjaga
Keberadaan PLTA Batang Toru juga dipastikan tidak mengancam habitat orangutan, karena PLTA berada di APL. Berdasarkan kajian PT NSHE bersama Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumut dan Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) AeK Nauli, terungkap bahwa lokasi APL tempat pembangunan PLTA Batangtoru bukan merupakan habitat utama PLTA Batang Toru. Habitat utama orangutan ada di dalam hutan. Ini berdasarkan hasil analisis populasi penemuan sarang dan sebaran pakan yang lebih banyak pada hutan konservasi maupun hutan lindung.
“Dalam penanganan orangutan di wilayah APL, PT NSHE berkoordinasi dan mengikuti arahan dari BKSDA Sumut. Secara operasional, tata cara penanganan satwa liar termasuk orangutan yang berada di APL mengikuti ketentuan yang diatur di dalam Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 53/Menhut-II/2014,” katanya.
Wanda Kuswanda Ahli Peneliti Utama di Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) AeK Nauli juga menegaskan bahawa lokasi proyek PLTA bukanlah habitat utama orangutan. Hal ini berdasarkan hasil analisis populasi penemuan sarang dan sebaran pakan yang lebih banyak pada hutan konservasi maupun hutan lindung. Rendahnya orangutan di APL karena kawasan ini telah banyak berubah menjadi lahan perkebunan, pertanian, dan pemukiman masyarakat Tapanuli sejak ratusan tahun yang lalu. Ia menjelaskan bahwa orangutan di wilayah Batang Toru sudah banyak yang hidup di ketinggian 600-900 meter, sedangkan proyek PTLA berada di ketinggian 400 meter.
Energi Terbarukan
Firman Taufick, Vice President of Communications and Social Affairs PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE), mengatakan, PLTA Batang Toru di Tapanuli Selatan, merupakan pembangkit energi terbarukan yang ramah lingkungan. Indonesia memiliki sumber energi terbarukan berupa panas matahari, air, angin, bioenergi, dan panas bumi. Potensi sumber energi dari air mencapai 75 ribu MW di seluruh Indonesia. Pemerintah menargetkan bauran dari energi terbarukan dapat mencapai 23 persen dari total sumber energi pada 2030.
“PLTA Batang Toru berkapasitas 510 MW menjadi salah satu dari pelaksanaan program strategis nasional untuk mencapai target pembangunan pembangkit listrik 35.000 MW di Indonesia,” kata Firman.
PLTA Batang Toru di Tapanuli Selatan yang ramah lingkungan memberikan tiga manfaat besar sekaligus dari sisi energi, ekonomi, dan lingkungan bagi masyarakat, Sumatera Utara, Indonesia, dan Dunia.
Bagi Sumut, ketersediaan energi listrik yang ramah lingkungan karena PLTA Batang Toru untuk mengurangi peran pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) yang memakai energi fosil pada saat beban puncak di Sumut. “Bagi Indonesia, saat memakai sumber energi air maka pemerintah pusat bisa menghemat pengeluaran devisa hingga US$ 400 juta per tahun karena tidak menggunakan bahan bakar fosil. Bagi dunia, PLTA Batang Toru yang merupakan pembangkit energi terbarukan berkontribusi besar mengurangi emisi karbon nasional yang penting untuk mencegah dan memerangi dampak perubahan iklim yang sedang menjadi ancaman dunia,” terangnya.
Hasil Kajian Pustaka Alam menunjukkan PLTA Batang Toru dapat mengurangi emisi gas rumah kaca mencapai 1,6 – 2,2 juta metrik ton CO2 atau 4 persen target sektor energi Indonesia pada 2030.
“Pembangunan PLTA Batang Toru wujud kongkrit untuk menghadirkan green energy di Indonesia khususnya di Sumatera Utara. Kehadiran PLTA Batang Toru mendukung pengurangan emisi karbon Sumut dan nasional sebagai langkah kongkrit implementasi Kesepakatan Paris yang telah diratifikasi Pemerintah Indonesia melalui UU No.16 Tahun 2016,” kata Firman.
Aman
Menjawab tudingan bahwa PLTA Batang Toru dibangun di atas sesar gempa, Didiek Djarwadi, anggota Pusat Studi Gempa Bumi Nasional Kementerian PUPR, Mengatakan bahwa seluruh wilayah Indonesia berada dalam wilayah gempa karena berada di ring of fire. Namun bukan berarti tidak boleh membangun apapun di wilayah Indonesia.
“Dalam hal ini yang kita harus perhatikan dalam membuat suatu bangunan termasuk PLTA adalah kita harus membangun dengan memenuhi standar yang dipersyaratkan,” kata dia.
PLTA Batang Toru, telah memiliki kajian-kajian gempa yang dipersyaratkan seperti geologi dan geofisika, termasuk Seismic Hazard Assessment dan Seismic Hazard Analysis.
PLTA Batang Toru dibangun tidak di atas sesar dan dibangun untuk tahan gempa dengan mengadopsi praktek terbaik dari ketentuan nasional dan internasional terbaru yang berlaku, seperti pedoman untuk desain dan pelaksanaan bendungan beton dari Balai Bendungan, dan International Commission on Large Dams (ICOLD).
“Jika bendungan dibangun sesuai standar dipersyaratkan maka bangunan tersebut akan tahan gempa. Contohnya, PLTA Singkarak yang berjarak 2 km dari sesar aktif dan didesain untuk tahan gempa sesuai besaran potensi gempa di sana, tidak mengalami kerusakan saat terjadi gempa di Sumatera Barat pada 2007 dengan magnitude lebih besar dari prediksi.,” katanya mengakhiri. (mea/adz)
SUTAN SIREGAR/SUMUT POS
SUNGAI BATANG TORU: Aliran Sungai Batang Toru yang menjadi sumber utama PLTA Batang Toru terlihat dari udara. Air sungai ini akan tetap mengalir selama 24 jam meski akan dibangun bendungan, karena PLTA ini menggunakan sistem run-of-river hydropower.
SUTAN SIREGAR/SUMUT POS SUNGAI BATANG TORU: Aliran Sungai Batang Toru yang menjadi sumber utama PLTA Batang Toru terlihat dari udara. Air sungai ini akan tetap mengalir selama 24 jam meski akan dibangun bendungan, karena PLTA ini menggunakan sistem run-of-river hydropower.
SUMUTPOS.CO – HAKIM Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Medan diharapkan menolak gugatan Walhi yang ingin membatalkan izin lingkungan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batang Toru yang dikeluarkan Gubernur Sumatera Utara (Sumut). Pasalnya, wilayah Sumut masih mengalami kekurangan pasokan listrik, dan keberadaan proyek itu juga akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Listrik itu kebutuhan dasar bagi rakyat. Kenyataannya sekarang listrik masih sering byar pet di Sumatera Utara,” kata Syaiful Wahyu, Koordinator Warga Peduli Listrik Sumatera Utara kepada wartawan, di Medan, Jumat (1/3).
Disebutkan Syaiful, keberadaan PLTA tidak akan mengorbankan keberadaan hutan. Mereka mengetahui hal ini, karena merupakan warga sekitar dan sudah melihat sendiri dan memahami situasinya. Mereka justru kecewa dengan adanya kelompok yang berupaya ‘mengail di air keruh’, dan menggelar aksi demonstrasi.
Pada Jumat (1/3) siang, warga sempat menggelar aksi unjuk rasa untuk menyatakan dukungan kepada pembangunan PLTA Batangtoru di depan Konsulat Jenderal Tiongkok di Medan. Aksi tersebut sebagai aksi tandingan terhadap demonstrasi yang dilakukan Walhi di tempat yang sama beberapa jam sebelumnya.
Menurut Syaiful, warga yang mengikuti aksi mendukung PLTA Batangtoru mewakili masyarakat Sumut. Warga yang berunjuk rasa juga datang dari Kecamatan Marancar dan Kecamatan Batang Toru, Tapanuli Selatan, yang merupakan lokasi pembangunan proyek PLTA. Mereka memohon hakim yang menyidangkan perkara, dapat melihat kenyataan saat ini bahwa masyarakat Sumut butuh dukungan listrik untuk kehidupannya. Anak-anak sekolah butuh listrik saat belajar. Listrik juga dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. “Tanpa listrik, berarti anak-anak harus menggunakan lampu pelita. Ini kembali ke tahun 1960-an,” katanya.
Teror Verbal
Syaiful menyatakan, semula ada masyarakat yang menolak pembangunan PLTA Batang Toru. Namun hal itu dikarenakan mereka belum mendapat informasi utuh bagaimana proyek tersebut dibangun. “Kini masyarakat mendukung karena paham pembangunan PLTA tidak mengancam kehidupan bahkan bisa mendukung kesejahteraan,” katanya.
Dia mengaku geram dengan adanya tudingan yang menyatakan, warga sebagai ‘pelacur’ karena perubahan sikap dari menolak menjadi mendukung pembangunan PLTA Batang Toru. Tudingan tersebut melukai perasaan masyarakat dan menjadi teror verbal bagi kaum perempuan. “Bayangkan perasaan suami yang istrinya disebut pelacur atau perasaan ayah yang anak perempuannya disebut pelacur. Ini teror,” kata Syaiful.
Dia juga meyayangkan Walhi yang selalu menakut-nakuti masyarakat soal dampak negatif pembangunan PLTA Batangtoru dengan data-data yang keliru. Padahal banyak dampak positif yang akan diperoleh dari pembangunan proyek itu. “Kalau masyarakat ditakut-takuti tiang listrik akan rubuh sehingga bisa menggangu jalan. Apakah lantas tiang listrik tidak boleh dibangun? Apa mau selamanya gelap gulita?” katanya.
Syaiful menyatakan, mereka tahu Walhi didukung LSM asing Paneco, dan punya agenda untuk membatalkan pembangunan PLTA Batangtoru. Namun mengaku tak tahu apa keuntungan yang diperoleh Walhi.
Abaikan Walhi
Pada aksi unjuk rasa, warga juga mendesak Walhi agar tidak berkampanye soal kepunahan orangutan di bentang alam Batang Toru. Menurut Abdul Gani Batubara, yang ikut menyampaikan orasinya, pernyataan, pembangunan PLTA Batang Toru akan membunuh orangutan adalah sesat. “Nenek moyang kami sejak dulu hidup berdampingan dengan orangutan tidak ada yang terganggu,” katanya.
Karenanya, mereka meminta agar Konjen Tiongkok mengabaikan kampanye yang dilancarkan Walhi dan berharap dukungan untuk PLTA Batang Toru tetap dilanjutkan. Abdul Gani menegaskan, kampanye yang dilakukan Walhi adalah demi pendanaan proyek dari asing. “Mereka tidak peduli dengan masa depan anak-anak kami,” katanya.
Surati Konjen Tiongkok
Di sisi lain, Direktur Eksekutif Walhi Sumut, Dana Prima Tarigan bersama rekan-rekannya satu organisasi serta para aktivis lingkungan hidup lain, menyampaikan surat terbuka ke Konjen Tiongkok di Medan yang meminta agar proyek PLTA Batang Toru segera dihentikan. Surat itu mereka antar langsung ke rumah dinas Konjen Tiongkok di Jalan Walikota, Medan, Jumat (1/3) siang.
Sayangnya, meski sudah satu jam lebih mereka berada di luar gerbang utama, tidak ada satupun perwakilan Konjen Tiongkok yang bersedia menemui mereka. “Surat terbuka itu akhirnya kami sampaikan melalui petugas Satpam,” ujar Dana.
Ia berharap, Konjen Tiongkok di Medan membaca dan meneruskan ke pemerintahnya di negeri Tirai Bambu. Dalam surat tersebut, Walhi menganggap Pemerintah Tiongkok, meski secara tidak langsung, terlibat dalam rencana pembangunan PLTA Batang Toru karena proyek tersebut dibiayai Bank of China.
Bank of China merupakan bank komersial keempat terbesar di Republik Rakyat Tiongkok. Bank ini dibentuk oleh Pemerintah Tiongkok untuk menggantikan Bank Pemerintah Imperial China. Bank of China juga menjadi bank tertua di Tiongkok yang didirikan pada 1912. Bank ini disebut-sebut mengucurkan sekitar Rp27 triliun untuk mendukung pembiayaan proyek Batangtoru.
“Kami meminta Bank of China, melalui Pemerintah Tiongkok, untuk segera menghentikan pendanaan proyek PLTA Batangtoru karena akan berdampak besar terhadap lingkungan,” ujar Dana.
Surat terbuka ini merupakan upaya lain dari Walhi dalam penolakannya terhadap proyek Batangtoru. Sebelumnya mereka sudah mengajukan gugatan ketatausahaan atas izin lingkungan proyek Batangtoru yang akan diputuskan pada 4 Maret nanti. (ila/dvs)
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Rencana pembangunan jalan tol dalam kota di Medan ternyata bukan isapan jempol belaka. Tol dalam kota itu diwacanakan memiliki panjang 30,97 km dan murni merupakan investasi swasta. Rencana pembangunannya akan dimulai pada Juni 2019 dan ditargetkan rampung dalam dua tahun, yakni Juni 2021, terhitung sejak dimulainya pengerjaan nanti.
Total nilai investasi sekitar Rp7 triliun. Adapun tol dalam kota sepanjang 30,97 km itu, terdiri dari 3 seksi. Seksi I Helvetia-Titi Kuning sepanjang 14,28 km, Seksi II Titi Kuning-Pulo Brayan sepanjang 12,84 km dan Seksi III Titi Kuning-Amplas sepanjang 4,25 km.
Demikian diketahui dalam acara Penandatanganan MoU antara Pemprovsu, Pemko Medan, Pemkab Deliserdang bersama PT Citra Marga Nusphala Persada (CMNP) Tbk dan PT Adhi Karya (Persero) tentang kerjasama pembangunannya, telah dilakukan di Kantor Gubsu, Jalan Diponegoro Medan, Jumat (1/3).
Penandatanganan dilakukan Gubsu Edy Rahmayadi, Wali Kota Medan Dzulmi Eldin, Bupati Deliserdang Ashari Tambunan dan Komisaris Utama PT CMNP Tito Sulistio dan Dirut Adhi Karya Budi Harto. Turut menyaksikan penandatanganan, diantaranya Pangdam I/BB Mayjen TNI M Sabrar Fadhilah, Wakil Gubernur Sumut Musa Rajekshah, Sekdaprovsu Sabrina dan Sekda Kota Medan Wirya Alrahman.
Ruas tol dalam kota akan dibangun mengikuti aliran Sungai Deli. Persisnya tol dalam kota itu berada di pinggir Sungai Deli. Kemudian tol dalam kota itu akan juga dilengkapi jembatan layang (fly over). Tidak hanya bagi kendaraan bermotor roda empat ke atas, tol dalam kota itu juga akan menyediakan jalur khusus bagi pengendara sepeda motor. Jika itu terwujud nantinya, maka tol dalam Kota Medan itu menjadi satu-satunya yang memiliki jalur khusus roda dua.
Keseluruhan pembangunan tol dalam Kota Medan itu, akan mengusung konsep estetis, yaitu jalan tol yang selain struktur konstruksinya berteknologi tinggi, juga ditata indah dan ramah lingkungan.
Gubsu Edy Rahmayadi mengimbau masyarakat Sumut, khususnya di Kota Medan dan Deliserdang, agar mendukung pembangunannya nanti. Selain memperlancar aksebilitas, tol dalam kota itu juga untuk memperkuat status Medan sebagai kota metropolitan.
“Kami sendiri dari Pemprovsu mendukung penuh terwujudnya pembangunan tol dalam kota ini. Ini sebenarnya sudah lama kita inginkan dan insya Allah telah kita teken tadi kesepakatan kerjasamanya yang menjadi titik terang memulai pembangunannya,” katanya.
Keberadaan jalan tol yang rencananya berada di sepanjang jalur Sungai Deli itu, juga diharapkan dapat mebangkitkan pariwisata Kota Medan. “Sungai itu dibersihkan, dijadikan wisata, di atasnya jalan tol kanan kiri, ini mimpi besar,” sebut Edy.
Wali Kota Medan Dzulmi Eldin menyebutkan warga yang bermukim di pinggiran Sungai Deli sekitar 118 kepala keluarga (KK), akan direlokasi. Kemudian lahan-lahan warga yang terkena lahan tol, akan dibayarkan ganti rugi sesuai ketentuannya, yang semua dananya berasal dari investor.
Hal senada dikatakan, Bupati Deliserdang Ashari Tambunan. Pihaknya juga akan menyosialisasikan pembangunan itu kepada masyarakat agar turut mendukung pembangunannya.
Sementara pada acara itu, Pangdam I/BB Mayjen TNI M Sabrar Fadhilah turut menyatakan dukungannya. Pihaknya siap bergandengan tangan di lapangan untuk menuntaskan kemungkinan adanya persoalan, seperti relokasi, pembebasan lahan maupu pada masa konstruksi hingga rampung.
“Pada prinsipnya kami mendukung penuh setiap program pembangunan pemerintah, termasuk rencana tol dalam kota Medan ini. Kami akan turut mensosialisasikan kepada warga bahwa pembangunan tol dalam kota ini untuk kepentingan bersama,” katanya. (prn)