31 C
Medan
Saturday, April 4, 2026
Home Blog Page 5693

Suami Tewas Dibantai Selingkuhan Istri

PERLIHATKAN BARANG BUKTI: Kapolres Asahan AKBP Faisal Napitupulu SIK (kiri) memperlihatkan tersangka dan barang bukti kepada media.
PERLIHATKAN BARANG BUKTI: Kapolres Asahan AKBP Faisal Napitupulu SIK (kiri) memperlihatkan tersangka dan barang bukti kepada media.

ASAHAN, SUMUTPOS.CO – Pelarian Mahyarudin Siregar (35) kandas di tangan petugas Jahtanras Polres Asahan, Jumat (7/12). Pelaku pembunuhan Rudi Selamat (45) itu diringkus di areal perkebunan kelapa sawit, Kabupaten Rokan Hulu Provinsi Riau.

AKSI itu bermula saat korban bersama putrinya Novi, mendatangi rumah tersangka di Dusun XI Aek Polan, Desa Buntu Pane, Kecamatan Buntu Pane, Kabupaten Asahan, Senin (3/12) lalu. Kedatangan korban untuk mencari istrinya bernama Susilawati.

Benar saja, istrinya ternyata sedang bersama tersangka. Adu mulut berujung perkelahian tak dapat dielakkan di depan putrinya. Novi melihat kepala bapaknya dipukuli oleh tersangka. Bukan itu saja, tersangka juga menikami korban menggunakan senjata tajam.

Korban berusaha melarikan diri. Namun, tersangka terus mengejar korban hingga tersungkur ke dalam parit.

Tersangka kemudian kembali menghujamkan senjata tajam ke tubuh korban. Akhirnya, korban pun tewas di lokasi kejadian.Tak sampai di situ, tersangka kemudian mengejar Novi anak korban. Ia juga diancam akan dibunuh.

Beruntung, anak korban dapat melarikan diri. Kemudian, tersangka bersama istri korban juga melarikan diri menggunakan sepeda motor milik korban.Peristiwa itu kemudian dilaporkan warga sekitar ke Mapolres Asahan. Setelah empat hari, petugas Unit Jahtanras Sat Reskrim Polres Asahan berhasil mengendus jejak keduanya.

Berdasarkan informasi, pasangan selingkuh itu melarikan diri dan bersembunyi di perkebunan kelapa sawit Kabupaten Rokan Hulu, Provinsi Riau.

Dalam perburuan tersangka, petugas lebih dulu meringkus Susilawati di rumah saudara tersangka di Kecamatan Kepenuhan Hulu Kabupaten Rokan Hulu. Berbekal keterangan Susilawati, petugas melanjutkan pengejaran terhadap tersangka Mahyarudin.

Akhirnya, Mahyarudin berhasil dibekuk di areal sungai perkebunan kelapa sawit. Saat ditangkap, tersangka melawan dan coba melarikan diri.

Petugas terpaksa menyarangkan timah panas di kaki tersangka. Selanjutnya, tersangka diboyong menuju Polres Asahan, Kapolres Asahan AKBP Faisal F Napitupulu, SIK, MH mengatakan, motif pembunuhan ini berawal dari permasalahan rumah tangga korban.

“Motif kasus pembunuhan ini akibat cinta segitiga, di mana istri korban selingkuh. Istri korban juga ditetapkan sebagai tersangka karena turut membantu tersangka dan melarikan barang milik korban,” kata Faisal didampingi Kasat Reskrim AKP Ricky Pripurna Atmaja di Mapolres Asahan, Sabtu (8/12).

Faisal menyebut, keduanya akan dijerat Pasal 340 subsider Pasal 339 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, dengan ancaman hukuman penjara seumur hidup.“Dari tersangka MS, disita barang bukti satu bilah pisau yang digunakan oleh tersangka, 2 unit handphone dan satu unit sepeda motor milik korban,” pungkasnya.(ala)

Maling Rumah Pensiunan Bank Sumut Ditembak

AGUSMAN/SUMUT POS DIBOYONG: Septian Putra diboyong petugas saat akan dipaparkan kepada media.
AGUSMAN/SUMUT POS
DIBOYONG: Septian Putra diboyong petugas saat akan dipaparkan kepada media.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Tim Reskrim Polsek Medan Barat menembak kaki satu dari dua pelaku pencurian di rumah seorang pensiunan Bak Sumut, Jumat (7/12). Pelaku dikenali karena aksinya terekam Closed Circuit Television (CCTV).

Pelaku adalah Septian Putra (20) warga Jalan Menteng VII, Kelurahan Medan Tenggara, Kecamatan Medan Denai. Kanit Reskrim Polsek Medan Barat Iptu Herison Manullang mengatakan, tersangka merupakan maling di rumah Bambang Lestari (60) warga Jalan Makmur, Kelurahan Silalas, Kecamatan Medan Barat.

Dijelaskannya, pelaku masuk ke rumah korban, Minggu (2/12) sekira pukul 06.30 WIB. Saat itu, korban sedang tertidur. “Sewaktu korban tidur itu, pelaku berhasil melarikan dua unit sepedamotor dengan plat BK 2427 AHI dan BK 4069 ADT yang diparkir di dalam rumah,” ungkapnya Minggu (9/12) sore.

Tak cuma dua unit sepedamotor, pelaku juga berusaha membawa kabur mobil milik korban. “Pelaku juga berniat mencuri mobil, hal ini terungkap lantaran kunci kontak mobil CRV B 1183 BJH beserta STNK mobil atas nama Meidyanto juga hilang. Dari rekaman CCTV dia berusaha untuk membawa kabur mobil,” ungkap Herison.

“Cuma karena terhalang mobil lain yang terparkir, pelaku tak berhasil mendapatkan kuncinya. Cuma kunci dan STNK saja yang dibawa. Satu lagi, modem WIFI juga dibawa kabur oleh pelaku,” ungkapnya. Berkat rekaman CCTV rumah korban yang menujukkan wajah pelaku, polisi kemudian melakukan penyelidikan dan mendapati informasi identitas pelaku.

“Dari rekaman itu, kita lakukan lidik dan berhasil kita dapat namanya. Kita selidiki dan berhasil termonitor dia berada di daerah MMTC Jalan Pancing, Medan. Kita kejar kesana dan berhasil kita amankan,” kata Herison.

Kepada polisi, pelaku mengaku telah melakukan pencurian di rumah tersebut. Ia juga mengaku dibantu oleh temannya berinisial HC untuk melarikan 2 unit sepeda motor hasil curiannya.

Sepeda motor itu sudah dijual di daerah Jalan Meteorologi. Polisi kemudian melakukan pengembangan mencari barang bukti di tempat tinggal pelaku.

Hasilnya beberapa barang bukti ditemukan. Diantaranya, sebuah kunci mobil CRV beserta STNK nya, 1 unit modem WIFI dan sebuah jaket biru yang dikenakan pelaku sewaktu melakukan pencurian.

“Selanjutnya tim melakukan pengembangan terhadap pelaku lain bersama tersangka dan mencari barang bukti lain. Tapi saat pengembangan, pelaku melawan dan mencoba melarikan diri,” tutur Herison.

“Kita diberikan tembakan peringatan namun diabaikan. Kami terpaksa memberikan tindakan tegas dengan menembak kaki sebelah kanan,” sambungnya.

Saat ini, polisi tengah memburu teman pelaku yang membantu pencurian serta melidik penadah sepedamotor tersebut. Akibat perbuatannya, pelaku dikenakan pasal 363 KUHPidana dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara.(dvs/ala)

Uang Hampir Rp200 Juta dan Mobil Plat B Lenyap

PERLIHATKAN: Kapolres Binjai, AKBP Donald Simanjuntak memperlihatkan barang bukti dari ketiga tersangka.
PERLIHATKAN: Kapolres Binjai, AKBP Donald Simanjuntak memperlihatkan barang bukti dari ketiga tersangka.

SUMUTPOS.CO – Dugaan ‘sulap’ berkas perkara Yos Sudarso, bandar 1.500 butir ekstasi yang dilakukan oknum aparat penegak hukum perlahan mulai terendus. Sebab, barang bukti berupa uang tunai hampir Rp200 juta, enam telepon genggam dan satu unit mobil plat B yang ditangkap polisi tidak digelar dalam persidangan.

Dalam sidang yang dipimpin Wakil Ketua PN Binjai Muhammad Yusafrihardi Girsang, Jaksa Penuntut Umum Perwira Tarigan hanya menggelar barang bukti sebuah tas warna loreng hitam, 4 telepon genggam dan 3 bungkus plastik berisi pil ekstasi warna biru merek superman.

Kepala Seksi Tindak Pidana Umum (Kasi Pidum) Kejaksaan Negeri Binjai, Ondo Mulatua Purba menepis kalau disebut pihaknya yang merubah berkas perkara tersebut. Bahkan, dia juga membantah kalau penuntut umum yang memberikan petunjuk untuk mencantumkan Pasal 131 dalam dakwaan lebih subsidair.

“Kasat? Coba bilang dulu. Coba Kasat telfon aku dulu. Mana petunjuknya. Ada rupanya kita rubah berkas perkara polisi itu? Seolah-olah kita yang merubah,” kata Ondo, pekan lalu. Menurut Ondo antara penyidik dengan penuntut umum, sudah tidak ada lagi sifatnya bolak-balik berkas perkara yang dinyatakan tidak lengkap atau  P19.

Pasca digelarnya Forum Grup Diskusi yang melibatkan antara penegak hukum di Kota Rambutan, kata Ondo, dalam menangani perkara penyidik dan penuntut umum sifatnya koordinasi.

“Kalau dibilang petunjuknya, sifatnya bagaimana agar perkara bisa lengkap untuk dilimpahkan ke Pengadilan Negeri. Petunjuk dua arah, saling koordinasi. Tidak ada satu lembar pun berkas P19,” kata mantan Kasi Pidsus Kejari Pematangsiantar ini.

Penuntut umum, sambung dia, tidak dapat sembarangan menuntut terdakwa. Apalagi menuntut di luar fakta persidangan. Bagi dia, berkas perkara polisi sebuah panduan untuk membuat dakwaan oleh penuntut umum.

“Berkas perkara polisi ini, semua keterangan saksi dan tersangka diuji di persidangan. Kita menuntut bukan berdasarkan berkas perkara polisi, (tapi) berdasarkan fakta persidangan. Buktinya hakim juga setuju dengan tuntutan kita,” tambah dia.

Disoal kenapa JPU Perwira tidak dapat menghadirkan saksi yang diminta oleh majelis hakim, Ondo menepis. “Kita hadirkan. Makanya abis itu putusan. Kita hadirkan itu. Siapa yang bilang enggak dihadirkan,” ucap Ondo.

Humas Pengadilan Negeri Binjai, David Sidik Simare-mare pernah menyatakan, JPU tidak dapat menghadirkan saksi terakhir yang diminta oleh majelis hakim. Namun, Ondo menepisnya.

“Sanking hakim belum pas. Padahal sudah tuntutan jaksa. Hakim minta sekali lagi, karena hakim enggak mau salah,” ujar Ondo. Kepentingan saksi dihadirkan agar dapat membuka rekaman percakapan transaksi yang dilakukan polisi karena menyaru sebagai pembeli. Pun demikian, Ondo mengaku tidak tahu.

“Enggak tahu aku kepentingannya apa. Hakim minta sekali lagi,” ujar dia. “Naik mobil. Terus berubah keterangannya naik grab. Naik grab katanya, posisi Yos tergeletak,” tambah dia.

Lantas kenapa Yos tidak disebut kurir? Menurut Ondo, JPU mulanya mengasumsikan hal tersebut.“Itulah yang pertama kita asumsikan. Si Rob bilang, enggak tahu apa-apa. Itu fakta di persidangan. Dasar kita apa? Kecuali dari awal tahu,” bebernya.

Humas PN Binjai, David Sidik Simare-mare tegas menyatakan, barang bukti hanya 4 telepon genggam, 1 buah tas berwarna hitam loreng dan 3 bungkus besar plastik berisi pil ekstasi. “Uangnya tidak ada,” jelas Humas.

Rincian 4 telepon genggam ini adalah, 2 unit merek Samsung warna hitam, 1 unit merek Samsung warna putih dan 1 unit merek Nokia warna hitam. Hanya 3 telepon genggam yang dimusnahkan. Sedangkan 1 telepon genggam Nokia dengan nomor sim card 083876127387 dinyatakan dikembalikan kepada Yos Sudarso.

Terpisah, Kasat Res Narkoba Polres Binjai, AKP Aris Fianto tampak menghindar dari wawancara Sumut Pos. Saat ketemu usai Salat Jumat, Aris mengaku banyak kesibukan. Dihubungi pada Minggu (9/12), Aris tidak menjawab panggilan yang dilayangkan Sumut Pos.

Dia juga pernah tak menggubris panggilan yang dilayangkan Sumut Pos. Bahkan, pesan singkat yang dilayangkan melalui WhatsApp juga sempat tidak direspon. Akhirnya, Aris memanggil Sumut Pos untuk bersedia diwawancarai, kemarin (4/12) petang. Disoal Pasal 131 apakah dari penyidik polisi atau berubah seketika di Kejari Binjai, Aris mulanya enggan menanggapinya.

Berulang kali Sumut Pos menyoal Pasal 131. Pun demikian, akhirnya Aris mengaku, itu merupakan petunjuk dari jaksa yang harus dilengkapi saat pelimpahan berkas. “Petunjuknya dari sana begitu, ya begitu,” ujarnya.

Praktisi Hukum asal Medan, Muslim Muis meminta agar Polres Binjai menanggapi putusan tersebut. Saat ditanya ini, Aris enggan menyoalnya. “Keputusan pengadilan enggak mungkin diintervensi. Kita hargai saja,” ujar mantan Kasat Reskrim Polres Binjai ini.

Diketahui, perkara ini diduga ‘sarat permainan’ oleh oknum kepolisian dan jaksa. Pasalnya, Yos yang ditetapkan penyidik Satres Narkoba Polres Binjai sebagai pemilik barang haram ini divonis 8 bulan penjara. Sedangkan Robby dan Jimmy masing-masing divonis 16 dan 17 tahun.

Ketiganya ditangkap polisi di Jalan Swadaya, Dusun V, Desa Sei Limbat, Selesai, Langkat, Selasa (15/5) pukul 15.00 WIB. Dari tangan ketiga tersangka, polisi menyita barang bukti 1.500 butir pil ekstasi, uang tunai hampir Rp200 juta dan 6 unit telepon selular. Kasus ini kemudian dipaparkan Kapolres Binjai, AKBP Donald Simanjuntak didampingi Kasat Res Narkoba AKP Aris Fianto kepada awak media. Saat itu, polisi memperlihatkan tersangka dan barang bukti di Mapolres, Rabu (16/5). (ted/ala)

Buron Korupsi BRI Agro Palsukan Identitas

Agusman/sumut pos DIAMANKAN: Mulyono (kedua dari kanan) tersangka korupsi kredit BRI Agro Rantauparapat diamankan di Kejatisu, Sabtu (8/12).
Agusman/sumut pos
DIAMANKAN: Mulyono (kedua dari kanan) tersangka korupsi kredit BRI Agro Rantauparapat diamankan di Kejatisu, Sabtu (8/12).

SUMUTPOS.CO – Tim Penyidik Pidana Khusus (Pidsus) Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejatisu), menjemput paksa tersangka korupsi pemberian kredit BRI Agroniaga Cabang Rantauparapat. Untuk mengelabui petugas dan masyarakat sekitar, Mulyono memalsukan identitasnya.

“YA, kita mengamankan tersangka korupsi pemberian kredit BRI Agroniaga Cabang Rantauparapat kepada 41 debitur pada tahun 2013 hingga 2015 sebesar Rp22.515.000.000,” tutur Kepala Seksi Penerangan Hukum (Kasi Penkum) Kejatisu, Sumanggar Siagian kepada wartawan, Sabtu (8/12). Sumanggar mengatakan, tersangka ditangkap dilokasi persembunyiannya di kawasan Perumahan Harapan Indah, Kelurahan Pejuang Kecamatan Medan Satria, Bekasi, Jawa Barat.

“Penangkapan dilakukan karena penyidik telah mengirimkan surat panggilan sebanyak tiga kali. Namun hal itu tidak digubris tersangka yang berstatus PNS di Kementerian Pertanian,” jelas Sumanggar.

“Padahal penyidik Kejatisu sudah menetapkan yang bersangkutan sebagai tersangka pada pertengahan September 2018 lalu,” sambungnya. Penangkapan tersangka dipimpin langsung Ketua Tim Penyidik Pidsus Kejatisu, Isnayanda. Dalam pelariannya, tersangka coba menghilangkan jejak dari kejaran penyidik dengan membuat identitas palsu.

Itu terbukti, ditemukan Kartu Tanda Penduduk (KTP) atas nama Suwandi asal daerah Tangerang yang digunakan tersangka. “Kita telah mengintai tersangka ini selama tiga bulan. Dan sesuai dengan KUHPidana, kita juga telah melayangkan panggilan sebanyak tiga kali hingga dilakukan penjemputan paksa,” sebut Sumanggar.

Selain Mulyono, ada tiga tersangka yang sudah berhasil ditangkap dan ditahan. Ketiganya masing-masing, dua mantan Kepala Cabang BRI Agro Rantau Prapat, Kukuh Apra Edi dan Wan Muharammis serta Beni Siregar selaku rekanan. “Selanjutnya kita akan titipkan tersangka ke Tanjunggusta selama penahanan 20 hari kedepan,” pungkasnya.

Modus yang dilakukan para tersangka, mengajukan sejumlah dokumen pengajuan pinjaman ke BRI Agro. Saat itu, Mulyono dan Beni Siregar membawa sejumlah dokumen yang bukan atas kepemilikannya kepada pihak BRI Agro Rantauprapat Oleh pihak BRI, pinjaman itu disetujui secara bertahap pada tahun 2013-2015. Jumlahnya kala itu mencapai Rp22,5 miliar.

Saat persetujuan pinjaman, pimpinan cabang BRI Agro Rantauprapat waktu itu dipimpin Kukuh Apra Edi dan Wan Muharammis. Namun pada saat pembayaran, para tersangka justru melarikan diri.(man/ala)

Berpura-pura Mati, Pedagang Molen Selamat Dibantai OTK

DIRAWAT: Surya Widodo mendapat perawatan medis usai dibantai perampok.
DIRAWAT: Surya Widodo mendapat perawatan medis usai dibantai perampok.

LANGKAT, SUMUTPOS.CO –  Surya Widodo (40) dibantai orang tak dikenal (OTK). Beruntung, nyawa pedagang molen itu selamat setelah berpura-pura mati. Pelaku lantas kabur meninggalkan korban di atas tempat tidur.

Pembantaian terjadi dalam kamar kos korban di Jalan Tanjung Pura, Simpang Alur Rejo, Desa Securai Selatan, Kecamatan Babalan, Kabupaten Langkat, Minggu (9/12) sekira pukul 03.00 WIB.  Sejauh ini tidak diketahui secara pasti motif pelaku. Namun dugaan sementara, kasus ini merupakan perampokan.

Sebab, ada beberapa barang korban yang hilang. Antara lain, sepeda motor Honda Beat BK 5517 PBB, uang senilai 7 juta dan handphone. Kasus ini sudah dilaporkan korban ke Polsek Brandan. Laporan diterima dengan nomor LP/179/XII/2018/Su Lkt Sek Pkl Brandan atas nama pelapor Kamijan.

Berdasakan keterangan korban yang sempat dimintai keterangan oleh polisi, dinihari itu, dirinya mendengar suara kamar kosnya terbuka. Naas, saat baru membuka mata, dirinya langsung diserang pelaku menggunakan senjata tajam. Pelaku terus menghunuskan senjata tajam jenis parang.

Korban dibantai terus-menerus dan tidak diberi ampun. Mulai dari tangan, perut dan dagu serta leher dihujani parang. Tidak ingin mati konyol, korban yang awalnya sempat melakukan perlawanan menyerah dan jatuh diatas ranjang. Korban kemudian pura-pura mati agar tidak terus dihujani senjata tajam.

Mengira korbannya tewas, pelaku lantas kabur meninggalkan korban. Sepeda motor dan barang berharga korban dibawa kabur. Saat kondisi aman, dengan sekuat tenaga korban lantas meminta pertolongan kepada masyarakat sekitar.

Andi Sembiring (50) dan Sayuti (45) yang mendengar teriakan korban langsung bergegas. Keduanya terkejut melihat korban bersimbah darah. “Kami tidak mengetahui persis kejadianya, kami hanya mendengar korban minta tolong,” terang saksi.

Melihat kondisi korban sudah bersimbah darah, keduanya segera memberikan pertolongan. Korban lantas dilarikan ke rumah sakit Pertamina, guna mendapatkan pertolongan. “Meski kondisinya bersimbah darah, sejauh ini korban masih hidup dan sudah ditangani pihak medis,” katanya.

Kasus ini kemudian dilaporkan ke pihak kepolisian. Polisi langsung turun untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan meminta keteragan saksi. “Sudah datang polisi dan melakukan penyelidikan,” sebut mereka.

Kapolsek Berandan Iptu Dhaniel Sipayung mengakui, sejauh ini pihaknya masih melakukan penyelidikan. “Begitu mendapatkan laporan, kita langsung turun dan memintai keterangan saksi,” kata Dhaniel.

Dugaan motif sementara, ini merupakan kasus perampokan. Karena ada barang-barang korban yang hilang. “Kita masih terus melakukan penyelidikan, saya masih di rumah sakit ini untuk berkordinasi dengan family korban,” terangnya.

Wilayah hukum Polres Langkat belakangan digegerkan dengan perampokan disertai pembunuhan. Kasus dengan modus serupa pernah terjadi di Jalan Murai komplek Pemda, Lingkungan 13 Beringin, Kelurahan Kwala Bingai, Kecamatan Stabat, Kabupaten Langkat, Jumat (30/11) lalu.

Korbannya adalah pensiunan TNI, Pelda Purnawirawan M Amin Ismail. Namun sampai sekarang, kasus ini tidak kunjung terungkap.(bam/ala)

Ibu dan Anak Kritis Ditabrak Truk di Jalan Raya Pelabuhan Belawan

Korban kecelakaan saat di rawat.
Korban kecelakaan saat di rawat.

BELAWAN, SUMUTPOS.CO – Truk trailer BK 9491 EB menabrak sepeda motor Honda Vario BK 5977 AAR. Peristiwa terjadi di Jalan Raya Pelabuhan, Kecamatan Medan Belawan, Sabtu (8/12) malam.

Akibatnya, Erika Situmorang (43) dan anaknya Cronika Purba (12) mengalami luka serius. Ibu dan anak yang menetap di Lorong 3 Veteran, Bagan Deli, Kecamatan Medan Belawan, menjalani perawatan di RS Martha Friska.

Kecelakaan itu terjadi, saat sopir truk Syahrul mengemudikan truk melintas dari Belawan menuju ke arah Gabion. Diduga kurang hati-hati, truk yang mau masuk ke depo menyebrang ke kanan tak melihat sepeda motor di depannya.

Akibatnya, ibu dan anak yang berada di depannya langsung ditabrak truk tersebut. Warga sekitar mengetahui kejadian itu, mengamankan sopir truk dan melaporkan peristiwa itu ke Polres Pelabuhan Belawan.

Petugas Satlantas Polres Pelabuhan Belawan datang ke lokasi, korban yang mengalami luka serius dibawa ke RS Martha Friska. Kemudian, sopir truk dan kendaraan diamankan polisi.

Kasat Lantas Polres Pelabuhan Belawan, AKP MH Sitorus mengatakan, kasus kecelakaan itu telah mereka tangani. Korban mengalami luka serius patah kali dan luka robek, telah dirawat di rumah sakit.

“Sopir dan kendaraan sudah kita amankan. Kecelakaan itu terjadi, saat truk itu masuk ke depo. Sehingga menabrak sepeda motor yang datang dari arah depannya,” jelas MH Sitorus.(fac/ala)

Pastikan Tol Medan-Berastagi Masuk RPJMD, Komisi D DPRD Sumut Ngotot Ditampung di P-APBN 2019

Kelok Sembilan
Ilustrasi

MEDAN, SUMUTPOS – Upaya menggolkan usulan pembangunan jalan tol Medan-Berastagi tahun depan belum putus. Sebab, meskipun kemungkinan besar baru dapat ditampung di Perubahan APBN 2019, kebijakan Presiden dinilai bisa mengubahnya.

Sekretaris Komisi D DPRD Sumut Sutrisno Pangaribuan mengatakan, untuk langkah awal pihaknya akan memastikan terlebih dahulu bahwa dokumen perencanaan yang tertuang di dalam rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD) provinsi, terdapat di dalamnya usulan tersebut. Maka sebelumnya, perlu ada kepastian dari pemerintah kabupaten/kota yang berkaitan dengan jalur Medan-Berastagi ini.

“Kita pastikan dulu di dokumen perencanaannya berjenjang, mulai dari kabupaten/kota terkait yang terkait jalur itu. Itu dilakukan melalui Musrenbang di tiap tingkatan,” ujar Sutrisno kepada Sumut Pos, Minggu (9/12).

Sementara untuk Pemprov Sumut, dia mengatakan bahwa usulan yang datang dari Ikatan Cendikiawan Karo sebelumnya, sudah disampaikan ke Bappeda Sumut. Hal ini agar rencana itu bisa dimasukkan ke dalam dokumen RPJMD Sumut lima tahun ke depan. “Jadi kalau memang ini menjadi bagian rencana pembangunan, maka bisa diminta ke pusat. Sekaligus kita sampaikan, ini bukan barang baru yang tiba-tiba muncul. Tetapi berasal dari bawah,” sebutnya.

Adapun harapannya, Pemko Medan, Kabupaten Karo, Deliserdang, Dairi, Pakpak Bharat, Humbang Hasundutan dan Samosir, juga bisa serius untuk mendukung usulan ini. Apalagi, selain jalur penghubung antar sejumlah daerah tadi, jalan lintas ini juga digunakan sebagai akses menuju Danau Toba yang menjadi Kawasan Strategis Pariwisata Nasional di Sumut. “Memang ini statusnya jalan nasional, tapi kan ada di Sumut. Makanya kita mau pastikan masuk dalam RPJMD,” katanya lagi.

Politisi PDIP ini pun menyebutkan, pihaknya tetap berupaya agar usulan ini bisa ditampung dan dikerjakan pada 2019, tanpa harus menunggu proses penganggaran di Perubahan APBN 2019 sebagaimana dimasukkan dalam tahapan normal. “Kalau pertimbangan Presiden itu biasanya langsung dituruti Kementerian terkait. Jadi nanti, dokumen awal dari Ikatan Cendikiawan Karo sudah disiapkan untuk bertemu Presiden. Itu sudah cukup. Karena dokumen lain, sudah kita sampaikan ke DPR RI (Komisi V) dan Kementerian terkait,” pungkasnya, yang menargetkan akan menemui Presiden bersama pihak terkait tahun ini juga.

Sebelumnya, kabar tak enak mengemuka dari kunjungan rombongan Komisi D DPRD Sumut dan beberapa kepala daerah ke Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Jumat (7/12) lalu. Kementerian PUPR mengungkapkan, berdasarkan kajian, pembangunan jalan bebas hambatan (tol) Medan-Berastagi belum layak. Apalagi dana APBN tidak cukup.

Kepala Bidang Sinkronisasi Program dan Pembiayaan, Pusat Pemrograman dan Evaluasi Keterpaduan, Badan Pengembangan Infrastruktur Wilayah (BPIW) Kementerian PU-PR Doedoeng Zaenal Arifin mengungkapkan, rencana pembangunan jalan tol Medan-Berastagi sudah pernah dilakukan pengkajian. Hasilnya, pembangunan tol Medan-Berastagi memang belum layak. “Sudah kami bahas di tingkat pimpinan dan Wakil Presiden Jusuf Kalla saat itu juga sudah tahu,” ungkap Doedoeng di hadapan rombongan yang hadir di antaranya Bupati Karo Terkelin Brahmana, Ketua Ikatan Cendekiawan Karo (ICK), Budi Derita Sinulingga, Wakil Ketua DPRD Sumut Ruben Tarigan, Sekretaris Komisi D DPRD Sumut Sutrisno Pangaribuan, anggota Komisi D DPRD Sumut Baskami Ginting dan Leonard Surungan Samosir, Bupati Samosir Rapidin Simbolon, Wakil Bupati Dairi Jimmy Andrea Lukita Sihombing, dan lainnya.

“Seingat saya, waktu itu Wakil Presiden menjelaskan, belum cukup kajiannya, sehingga belum layak dibangun jalan tol Medan-Berastagi. Apalagi dana APBN tidak cukup,” lanjutnya.

Namun begitu, Doedoeng menawarkan solusi, pembangunan jalan tol Medan-Beratagi bisa terealisasi dengan menggandeng investor swasta. “Tapi ini bisa kita tawarkan sementara kepada pihak investor swasta. Karena alasannya belum ada persetujuan dari pimpinan atas (Presiden),” sebut Doedoeng.

Menanggapi pernyataan Doedoeng ini, Ketua ICK Budi Derita Sinulingga dan rombongan lainnya sedikit kecewa dengan pernyataan yang menyebutkan, Wakil Presiden Jusuf Kalla menilai jalan tol Medan-Berastagi belum layak dibangun untuk saat ini. Apalagi juga disebutkan, APBN tidak cukup untuk membangun infratsruktur yang dinilai sangat dibutuhkan mayarakat Karo itu.

Karenanya, Budi mengajak pemerintah pusat untuk adu argumentasi mengenai kajian penting dan mendesaknya pembangunan jalan tol Medan-Karo ini. “Tolong sampaikan ke atas (Presiden), kami siap adu argumentasi dan memaparkan kajian kami. Jangan hanya sepihak, mari undang kami dan kami siap memaparkan pentingnya pembangunan jalan tol Medan-Berastagi. Jika perlu di depan Wakil Presiden pun kami siap,” tegas Budi.

Mengenai solusi yang ditawarkan, yakni menggandeng investor swasta untuk pembangunan tol tersebut, Budi dan yang lainnya belum memberikan sikapnya. (bal)

Dibantai PSM 5-1, PSMS Turun Kasta

istimewa KECEWA: Ekspresi bek PSMS Medan, Reinaldo Lobo usai dibantai PSM dengan skor telak 1-5 di Stadion Mattoangin Makassar, Minggu (9/12).
istimewa
KECEWA: Ekspresi bek PSMS Medan, Reinaldo Lobo usai dibantai PSM dengan skor telak 1-5 di Stadion Mattoangin Makassar, Minggu (9/12).

MAKASAR, SUMUTPOS.CO – Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Seperti itulah nasib PSMS di Liga 1 musim ini. Akhir tragis degradasi ke Liga 2 harus didapatkan setelah dibantai PSM Makassar 5-1 di Stadion Andi Matalatta, Makassar, Minggu (9/12). PSMS finish di posisi juru kunci dengan koleksi 37 poin. Sama seperti PSMS, Sriwijaya dan Mitra Kukar juga degradasi ke Liga 2.

PELATIH PSMS Medan Peter Butler menyebut, ada beberapa faktor yang menyebabkan PSMS terpuruk. “Saya sampaikan atas kegagalan dan degradasinya PSMS, seiring dengan beberapa orang yang menghindar untuk bertanggung jawab atas pencapaian tragis klub, bahwa pelatih sebelumnya, manajemen harus ikut bertanggung jawab,” sebutnya.

Dia mengurai kekalahan timnya atas PSM kemarin sore karena semangat pemainnya melemah. Dan kekalahan lawan PS Tira sebelumnya cukup mempengaruhi semangat tim. “Saya telah memotivasi mereka sepanjang waktu setelah lawan PS Tira. Memberikan mereka waktu istirahat dan hanya sekali official training kemarin. Namun, saya bisa melihat hati mereka tidak bersama pada hari ini. Itu saya lihat di rapat tim dan pemanasan. Mereka terluka dari pertandingan lawan PS Tira,” jelasnya.

Disebutnya, apa yang terlihat pada pertandingan kemarin adalah tim terluka melawan tim yang penuh dengan pengalaman dan kualitas yang seharga jutaan dolar. “Saya sedih dan kecewa, tapi saya juga senang karena membawa sikap positif ke pemain muda PSMS dan membawa permainan menyerang dan melatih kedispilinan di tim. Saya harap para pemain enjoy bekerja sama dengan saya. Karena saya senang bekerja dengan mereka. Ini bukanlah hari kami dengan segala situasi dan politik yang diluar kendali saya. Namun saya selalu berterima kasih kepada publik Medan atas sikap mereka selama saya bekerja di PSMS,” pungkasnya.

Sementara, manajemen mengaku legowo dengan hasil buruk yang dialami Ayam Kinantan di Liga 1. Sekretaris Umum PSMS, Julius Raja mengatakan, gagalnya PSMS bertahan di Liga 1 musim ini, karena materi pemain sangat berbeda kualitasnya dengan kompetitor.

Dengan mengandalkan pemain-pemain muda, menurutnya, PSMS tak bisa bersaing dengan klub lain yang memiliki segudang pemain berpengalaman. “Saya rasa semua sudah dilakukan, dan memang materi kita yang jauh kelas denga peserta Liga 1 lainnya,” ungkap Raja.

Lantas bagaimana nasib tim Ayam Kinantan? Raja menyerahkan kepada Pembina PSMS Letjend Purn Edy Rahmayadi dan Kodrat Shah. “Semuanya kami serahkan ke pimpinan pada Pak Kodrat dan Pak Edy. Tergantung keputusan mereka bagaimana,” tandasnya.

Pada pertandingan kemarin, sejak peluit pertama dibunyikan, tuan rumah yang dalam peluang merebut titel juara langsung tampil menekan. Mencoba menyisir sektor kiri pertahanan tim tamu, M Rahmat mendapatkan peluang pertama di laga ini. Namun bola tendangannya terlalu pelan dan jatuh dalam pelukan Dhika.

Gencarnya tekanan yang dilakukan PSM akhirnya berbuah manis. Sandro mampu membuka pesta gol tuan rumah. Gol Sandro tercipta pada menit 14 setelah memanfaatkan umpan Wiljan Pluim dari luar kotak penalti. Sandro yang lolos dari kawalan pemain belakang lawan, memanfaatkan dengan sontekan kaki kanan.

Tak berselang lama, gawang Dhika kembali bergetar. Menyusul gol Mark Klok di menit 17, memanfaatkan umpan M Rahmat. Kerja sama apik di depan gawang berhasil menggetarkan jala gawang tim tamu. Menit 28 PSMS mencoba menekan. Seperti saat tendangan Rachmad Hidayat dan Felipe Dos Santos yang masih mampu ditepis penjaga gawang muda PSM, Hilman.

Gol kedua PSM tercipta di menit ke-34. Klok lagi-lagi mencatatkan namanya di papan skor. Umpan Pluim dari kiri gawang PSMS, disambut kepala oleh Sandro dan diteruskan dengan sontekan oleh gelandang ‘pengangkut air’ tersebut.

M Rahmat menambah keunggulan tuan rumah pada menit 42 melalui umpan bek sayap Zulkifli Syukur yang merangsek masuk dari sektor kanan. Rahmat yang berhadapan dengan Dhika dengan enteng menyentuh bola hingga masuk ke dalam gawang. Tambahan waktu 2 menit belum bisa mengubah keunggulan sementara 4-0 Juku Eja atas tim tamu Ayam Kinantan.

Memasuki babak kedua, pasukan Ramang kembali langsung menekan. Hasilnya, menit 49, Sandro kembali menyumbangkan gol. Tendangannya nyaris setengah lapangan melengkung masuk ke dalam gawang Dhika.

Sandro mampu memanfaatkan kesalahan yang dibuat Dhika yang keluar dari gawangnya untuk menyelamatkan bola dengan kepala. Sayang, bola terlalu pelan dan jatuh di kaki pemain bernomor punggung 29 itu.

Serangan terus-menerus digencarkan tuan rumah. Felipe untuk pertama kalinya diganjar kartu kuning karena menjatuhkan Asnawi Mangkualam di tengah lapangan. Tim tamu mendapatkan beberapa kali tendangan bebas di paruh kedua.

PSMS mendapat peluang melalui tendangan bebas Legimin Raharjo. Sayang, bola jatuh tepat dalam pelukan Hilman. Tambahan waktu 10 menit dimanfaatkan Dannie Pratama untuk memperkecil ketinggalan di menit 90+8. Peluit babak kedua berbunyi tak mengubah keunggulan tuan rumah atas tim tamu 5-1. “Hari ini benar-benar sangat sedih dan mengecewakan bahwa kami harus mengakhiri musim seperti ini,” ujar pelatih PSMS Peter Butler usai laga. (jpc/don)

Lindswell Kwok dan Achmad Hulaefi Naik Pelaminan, Iwan Kwok: Orangtua Kami Masih Syok

MENIKAH: Pasangan pewushu nasional, Achmad Hulaefi dan Lindswell Kwok resmi menikah, Minggu (9/12).
MENIKAH: Pasangan pewushu nasional, Achmad Hulaefi dan Lindswell Kwok resmi menikah, Minggu (9/12).

Ratu Wushu Indonesia Lindswell Kwok resmi melepas masa lajang, Minggu (9/12). Dia dipersunting sesame atlet wushu nasional, Achmad Hulaefi. Namun, kebahagiaan yang dirasakan atlet asal Medan itu membuat orangtuanya sedih. Kenapa?

RESEPSI pasangan pewushu nasional, Hulaefi dan Lindswell digelar di Grand Ballroom Hotel Ayana Midplaza, Sudirman, Minggu (9/12). Dimulai pukul 19.00 WIB, para tamu tampak sudah hadir di tempat resepsi.

Panitia hanya menyediakan satu bangku untuk kedua mempelai, sementara kursi untuk kedua orang tua masing-masing pengantin tidak ada. Sehingga di atas panggung, hanya ada Hulaefi dan Lindswell.

Di grand ball room itu pula, panitia telah mendesain beberapa meja bundar dekat panggung. Meja bundar itu untuk tamu VVIP, termasuk Ketua PB WI Erlangga Hartato. Sementara, tamu undangan lainnya berdiri.

Nah, saat sesi jabat tangan pengantin, Hulaefi dan Lindswell tak kuasa menahan air matanya. Mereka tampak terharu dengan dukungan keluarga besar wushu dan kerabat-kerabat mereka.

Hualefi tampil serasi dengan blazer berwarna cokelat muda dan dipadu dengan dasi kupu-kupu dan celana berwarna hitam. Sementara, Lindswell tampak anggun dengan gaun berwarna putih dengan hijab berwarna senada. Lindswell dan Hulaefi melempar senyum kebahagiannya saat menuju bangku pengantin di atas panggung pelataran.

Namun, Menpora Imam Nahrawi yang didampingi istri Shobibah Rohmah, mengaku terkejut saat kali pertama melihat Lindswell Kwok, mengenakan hijab yang menjadi tanda bahwa dia sudah memeluk agama Islam. “Waktu Lindswell datang ke rumah pakai hijab, saya kaget banget. Benar-benar kaget. Saya sampai harus tanya langsung ke Lindswell untuk memastikan itu (bahwa dia sudah memeluk agama Islam),” ujar Imam usai menghadiri acara resepsi pernikahan Lindswell dan Hulaefi.

Imam mengaku sudah mendengar kabar kedekatan antara Hulaefi dan Lindswell sebelum digelarnya Asian Games 2018. Meski demikian, Imam tidak tahu kapan ijab qobul keduanya dilakukan. “Hulaefi pernah bilang ke saya bahwa ijab qobul-nya dilaksanakan di KUA dekat rumah dia,” kata Imam.

“Hal terpenting, tentu ini kabar yang sangat istimewa sekali bagi dunia olahraga, bahwa saat mereka punya prestasi luar biasa pada Asian Games, dan sekarang berniat untuk membina rumah tangga,” tuturnya.

Namun, ada kabar tak enak dari Iwan Kwok, kakak Lindswell. Menurut Iwan, hubungan kedua atlet olahraga bela diri asal Tiongkok itu rupanya belum disetujui oleh keluarga Lindswell. Otomatis, Lindswell pun akhirnya berseteru dengan keluarganya sendiri.

Situasi ini kian diperparah dengan tidak diundangnya keluarga Lindswell ke acara pernikahan itu. “Kalau datang, kita datang sebagai apa? Undangannya saja tidak ada, cuma tahu dari media sosial saja,” ujar Iwan.

Menurut Iwan, ketimbang memusingkan perkawinan adiknya, ia lebih khawatir dengan kondisi orangtuanya yang masih belum stabil. “Orang tua kami juga sangat terpukul dan syok. Jadi saat ini saya konsen untuk menjaga kondisi orang tua saja,” kata Iwan lagi.

Iwan pun juga menegaskan, keluarga sama sekali tidak pernah tahu Lindswell berpacaran dengan Hulaefi. “Kalau isu-isu saja sih ada, tapi saat itu semuanya tidak pasti karena Lindswell sendiri tidak pernah cerita,” ujar Iwan.

Iwan juga secara gambalng menyatakan sangat kecewa dengan sikap adiknya yang dinilai tidak menghargai keluarga lantaran melangsungkan pernikahan dengan Achmad Hulaefi tanpa restu. Iwan juga mengungkapkan beberapa kelakuan Lindswell yang sangat ia sayangkan.

Iwan menceritakan, selama berada di Jakarta untuk mengikuti pelatnas wushu, Lindswell sama sekali tidak pernah menghubungi keluarganya yang berdomisili di Kota Medan. “Komunikasi kami dengan Lindswell hanya berjalan jika ibu yang lebih dahulu menghubunginya,” ujar Iwan.

Dalam setiap obrolan dengan orang tua, Lindswell juga sama sekali tidak pernah menceritakan soal hubungannya dengan Hulaefi. Lindswell juga tidak pernah bicara apa-apa soal keinginannya untuk menikah.

Iwan dan keluarga Lindswell juga bahkan tidak tahu di mana Lindswell berdomisili selama berada di Jakarta. “Jadi, selama ini ibu mengira dia masih tinggal di pelatnas. Memang tinggal di Jakarta, tapi di mananya dia tidak pernah bilang,” papar Iwan.

Dia juga menegaskan, pada dasarnya keputusan Lindswell menjadi mualaf bukanlah hal utama yang membuat keluarga kecewa. “Itu (jadi mualaf, Red) saya tak akan singgung. Tapi yang jadi masalah adalah etika, tata cara, dan niat baik. Itu masalah yang paling mendasar,” ujar Iwan tanpa menyebut secara detail tindakan tidak beretika apa yang dilakukan Lindswell.

Iwan menambahkan bahwa siapapun tidak punya kemampuan untuk menunjuk pasangan yang tepat untuk Lindswell selain Lindswell sendiri. Karenanya, alangkah baiknya jika Lindswell bisa membicarakannya baik-baik dengan orang tuanya. “Kalau atas dasar cinta, siapapun tak bisa melarang. Memang sangat disesalkan. Orang tua manapun pasti akan sedih sekali kalau anaknya seperti itu. Seharusnya pernikahan direstui, dan diketahui. Kita nggak tahu apa-apa, tapi tiba-tiba kita tahu dari media sosial,” tutupnya.

Seperti yang sudah diketahui, keluarga Lindswell dipastikan tidak menghadiri resepsi pernikahan Lindswell dan Hulaefi yang berlangsung malam hari ini karena tengah berseteru. Hubungan Lindswell dan Hulaefi yang sudah terjalin cukup lama rupanya tidak pernah diketahui oleh keluarganya.

Achmad Hulaefi dan Lindswell Kwok dikenal sebagai atlet wushu berprestasi. Pada Asian Games 2018 lalu, Hulaefi sukses mempersembahkan medali perunggu untuk kontingen Indonesia di nomor daoshu dan gunshu. Adapun Lindswell berhasil menyumbangkan medali emas nomor taijijian dan taijiquan. Lindswell sendiri telah memutuskan untuk pensiun sebagai atlet wushu. Menpora Imam Nahrawi berharap dia kelak bisa menjadi motivator atau pelatih bagi para juniornya.(isa/jpc/bbs)

Kurang Persiapan dan Minim Pengunjung, FDT 2018 Terburuk

bagus/SUMUT POS PENUTUPAN: Sejumlah penari tampil di acara penutupan Festival Danau Toba 2018 di Desa Silalahi 2, Kecamatan Silahisabungan, Kabupaten Dairi, Sabtu (8/12).
bagus/SUMUT POS
PENUTUPAN: Sejumlah penari tampil di acara penutupan Festival Danau Toba 2018 di Desa Silalahi 2, Kecamatan Silahisabungan, Kabupaten Dairi, Sabtu (8/12).

SUMUTPOS.CO – Festival Danau Toba (FDT) 2018 di Desa Silalahi 2, Kecamatan Silahisabungan, Kabupaten Dairi, menjadi yang terburuk sepanjang gelaran even tahunan tersebut. Selain minim persiapan, FDT kali ini juga minim pengunjung. Bahkan saat penutupan, tak satupun pejabat Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu) dan bupati se-kawasan Danau Toba hadir di sana.

FDT 2018 yang dimulai 5 Desember, ditutup Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Dairi, Sebastianus Tinambunan, Sabtu (8/12). Penutupan berlokasi di panggung utama, lapangan Desa Silalahi 2. Biasanya, acara penutupan FDT ini selalu mampu menarik minat wisatawan berkunjung. Tapi kali ini tidak.

Bahkan, tak satu pun pejabat Pemprovsu dan bupati se-kawasan Danau Toba. Ketidakhadiran bupati-bupati ini juga terjadi saat pembukaan, kecuali Bupati Dairi Jhonny Sihotang selaku tuan rumah yang hadir. Tamu VIP yang hadir hanya Direktur Utama Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT), Arie Prasetya.

Anehnya lagi, tidak diketahui siapa yang akan menjadi tuan rumah FDT 2019. Pasalnya, saat menyampaikan pidato penutupan, Sekda Dairi Sebastianus Tinambunan sama sekali tidak menyinggung kabupaten mana yang akan menjadi tuan rumah FDT tahun depan. Seperti diketahui, tuan rumah digilir setiap tahun 7 kabupaten se-kawasan Danau Toba.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Dairi, Leonardo Sihotang menyampaikan kekecewaannya. Menurutnya, selaku tuan rumah FDT 2018, mereka tidak dilibatkan sepenuhnya oleh Dinas Pariwisata Sumut. “Ya tidak seperti diharapkan, kurang persiapan. Kalau kami, lama persiapan, tapi panitia dari provinsi. Acara ini melibatkan kementerian. Kami tuan rumah hanya untuk persiapan tempat. Tidak ada koordinasi dan konsep,” ucap Leonardo kepada wartawan.

Leonardo menilai, FDT tahun ini asal tersenggara saja. Jadi, pelaksanaannya asal-asalan. Dengan penyelenggaraan dilakukan dari festival kebudayaan, petunjukan kesenian, musik hingga sejumlah perlombaan dilaksankan biasa-biasa saja. “Kalau jalan konsep, 15 ribu target kami wisatawan datang. Konsep awalnya bertujuan mendatangkan wisatawan. Tapi ini saja masyarakat lokal tidak mau datang. Harusnya masyarakat yang berdagang dapat keuntungan, tapi ini kenyataannya rugi,” kesal Leonardo.

Diakuinya, FDT 2018 ini hanya menyisahkan ketidakpuasan. Hal tersebut, membuat Pemkab Dairi malu kepada masyarakat karena dinilai gagal menyelenggarakan FDT. “Kami di Dairi tidak mau bikin malu juga. Beberapa kegiatan sudah kami tambahi seperti lomba kayak, renang, sepeda, dan festival lampion yang di Paropo. Banyak acara yang sebenarnya tidak selaras dengan Danau Toba. Intinya tidak ada persiapan, bahkan bupati-bupati tidak hadir,” kata Leonardo.

Disebutnya, untuk menyukseskan FDT tahun ini, Pemkab Dairi sudah mempersiapkan sejumlah konsep kegiatan. Namun secara umum, perhelatan yang dikomandoi Pemprov Sumut dan melibatkan Kementerian Pariwisata, membuat Kabupaten Dairi selaku tuan rumah tidak bisa berbuat apa-apa. “Kenyataannya tidak. Tidak ada koordinasi, tidak ada perencanaan. Kami posisinya sebagai apa? Kalau memang selaku tuan rumah kami yang menyiapkan konsep, seharusnya dipercayakan kepada kami. Yang diikuti adalah konsep kami. Tapi sampai sekarang pertanyaan itu tidak terjawab,” kesalnya.

Diketahui, FDT 2018 menelan anggaran Rp1,3 miliar bersumber dari APBD Sumut tahun anggaran 2018. Dengan anggaran yang cukup besar, tapi pelaksanaannya terkesan biasa-biasa saja. Sehingga anggaran besar itu, dinilai terbuang sia-sia. “Tidak ada persiapan, makanya bupati tidak ada satupun yang datang. Saya dengar juga, hari Rabu (5/12) acara pembukaan, hari Selasa (4/12) baru sampai undangan (ke para Bupati), gila itu,” sebut Leonardo.

 

Sempat Minta Dibatalkan

Leonardo juga mengaku, sudah pernah meminta agar kegiatan ini dibatalkan. Apalagi persiapannya hanya dua bulan. “Saya nggak mau persiapan dua bulan, tiga bulan. Harus satu tahun. Dua bulan lalu, saya sudah minta dibatalkan, kalau cuma sekadar begitu-begitu saja,” ungkapnya.

Permintaan pembatalan itu dilakukannya karena dia tidak mau even yang bertujuan meningkatkan kunjungan wisatawan ke Danau oba itu digelar biasa saja, karena even ini skala nasional bahkan internasional. Jadi harus berkualitas sehingga dapat menarik minat wisatawan untuk menghadirinya. “Bagaimana mendatangkan orang kalau acaranya tidak menarik. Jangankan orang luar, orang sini saja enggak mau nonton. FDT tidak bisa diharapkan hanya dikunjungi oleh warga setempat,” cetusnya.

Selain itu, FDT juga harusnya bisa mendorong pertumbuhan ekonomian masyarakat sekitar. “Tidak seperti yang terjadi selama empat hari ini, pedagang yang berjualan banyak yang rugi dan tidak banyak jasa-jasa yang bisa dikelola,” sebutnya.

Dia menambahkan, pelaksanaan FDT di Kabupaten Samosir Tahun 2013 lalu adalah yang terbaik dan setelah itu, terus mengalami penurunan kualitas dari tahun ke tahun. Harusnya, ada peningkatkan dan konsep baru dalam pelaksanaan FDT setiap tahunnya. “Provinsi tetap bertahan dengan model-model begini, makanya saya tidak mau ikut acara (penutupan) ini. Saya dipanggil tapi tidak mau (hadir dalam acara) karena sudah marah sekali,” pungkasnya.

 

Pedagang Merugi

Sepinya pengunjung selama gelaran FDT, dirasakan para pedagang. Mereka tidak merasakan dampak signifikan ekonomi selama pelaksanaan FDT. Ali (42) pedagang jam dan aksesoris di seputaran zona A atau kompleks panggung utama mengaku, omzet penjualannya hanya Rp140.000 per hari. Sehingga, jika dihitung selama di gelaran FDT omzet tidak sampai Rp1 juta.

Ali mengatakan, dia datang berjualan ke FDT Silalahi rugi besar. Pasalnya, untung diperoleh dari hasil penjualan tidak cukup untuk biaya makan selama 4 hari di sana. “Termakan modal datang ke sini,” keluh keduanya.

Ali asal Kota Medan itu menerangkan, saat pembukaan pedagang penuh. Usai pembukaan, pedagang pindah ke tempat lain karena sepi pembeli. Menurut Ali, dibandingkan di Silalahi ini, masih lebih baik FDT 2017 di Sipissur, Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas).

Belman Sidabutar (56) penduduk Desa Sialalhi 2 yang berjualan makanan serta minuman dan jasa toilet di lintasan jalan Silalahi-Paropo juga mengatakan hal sama. Menurutnya, sejak FDT dibuka 5 Desember lalu, penjualan di hari pertama Rp400.000. Lalu di hari kedua sampai penutupan, penjualan rata-rata hanya Rp150.000.

Bila dilihat dari jumlah pengunjung, lanjut Belman, pelaksanaan pesta Tugu Marga Silalahi yang digelar setiap tahun, jauh lebih ramai daripada gelaran FDT. Ia menyebutkan, selama berlangsung pesta tugu, kondisi lalulintas di sepanjang lintasan Silalahi-Paropo macet karena banyaknya pengunjung. Begitu juga dengan kunjungan turis ramai.

“Selama 4 hari ini nyaris tidak ada saya lihat wisatawan mancanegara datang. Artinya, kami sebagai warga lokal mempertanyakan kenapa bisa seperti itu. Padahal gelaran FDT adalah skala nasional, tapi kok kalah pamor sama pesta tugu marga Silalah,” ujarnya.

Lasntas, seperti apa pendapat pengunjung tentang gelaran FDT 2018. Sari (19), warga Kota Medan, mengaku sengaja datang ke Dairi untuk menyaksikan FDT. Dia mengaku tertarik hadir, karena ingin melihat langsung pagelaran budaya yang diselenggarakan setiap setahun sekali ini.

Menurut dia, di FDT pengunjung dapat melihat berbagai keanekaragaman budaya di Sumatera Utara. Hal itu pun dapat menambah pengetahuan pengunjung terhadap budaya masing-masing daerah. “Ini momentum yang pastinya menambah pengetahuan tentang Sumatera Utara. Seperti budaya di Sumatera Utara ini, setiap kabupaten di sini berbeda-beda budayanya. Seperti tari tor-tor itu ternyata berbeda antara Batak Toba, Simalungun dan lainnya,” ungkapnya.

Pada Festival Danau Toba 2018 ini, berbagai kegiatan diselenggarakan. Mulai dari pagelaran seni dan budaya, festival kuliner, festival kopi, lomba tenda, lomba hammock, pameran wisata, pameran ekonomi kreatif dan berbagai acara lainnya. Berbagai acara tersebut, digelar dengan pembagian tiga zona. Yakni, zona A di Panggung Utama atas Tugu Silalahi, zona B di Tugu Silalahi dan Zona C di Pantai Silalahi. (gus)