Solideo/sumut pos
BERSAMA:
Bupati Karo Terkelin Brahma diabadikan bersama Presiden RI Joko Widodo di sela-sela Temu Karya Nasional, Gelar Teknologi Tepat Guna di Kabupaten Badung, Provinsi Bali.
Solideo/sumut pos BERSAMA: Bupati Karo Terkelin Brahma diabadikan bersama Presiden RI Joko Widodo di sela-sela Temu Karya Nasional, Gelar Teknologi Tepat Guna di Kabupaten Badung, Provinsi Bali.
KABANJAHE, SUMUTPOS.CO – Pembangunan nasional harus dilaksanakan oleh setiap level pemerintahan, harus ada pembagian tugas antar pemerintah pusat, provinsi, kabupaten, desa dan kelurahan. Hal ini dikatakan Presiden RI Jokowidodo dalam Temu Karya Nasional, Gelar Tekhnologi Tepat Guna (TKN-GTTG) XX dan Pekan Inovasi Perkembangan Desa/Kelurahan (PIN Deskel) tahun 2018.
Acara yang dibuka empat hari (mulai 18 Okotober sampai 22 Oktober 2018) di Lotus Font Garuda Wisnu Kencana, Kabupaten Badung, Provinsi Bali itu dihadiri oleh Bupati Karo Terkelin Brahmana.
“Ditargetkan akan ada peningkatan besaran dana desa 2019, direncanakan menjadi Rp70 trilliun, untuk dana desa akan dialokasikan dana operasional 5% dari dana desa, agar penggunaan dana desa tepat sasaran dan untuk pemanfaatan anggaran dana desa diprioritaskan masih di wilayah kabupaten,”ujar Terkelin mengulang sambutan presiden.
Apa yang disampaikan presiden itu menjadi acuan untuk penggunaan dana desa, kiranya tepat sasaran di Kabupaten Karo nantinya. “Oleh sebab itu Dinas PMD, harus peka dan tanggap apa yang harus diperbuat dan berbuat apa serta lakukan sosialisasikan kepada desa-desa di Karo, sesuai materi yang diserap,” sebutnya.
Sementara Kepala Dinas PMD Abel Tarigan mengatakan, akan mensosialisasikan apa yang perlu disampaikan kepada kepala desa dan perangkatnya terkait pesan Presiden RI, khususnya anggaran dana desa dan peruntukannya untuk pembangunan desa yang tepat sasaran.
Bupati sendiri didampingi Ketua TP PKK Kabupaten Karo Ny Saryati Terkelin Brahmana, Kepala Bappeda Nasib Sianturi, Kepala DPMD Abel Tarawi Tarigan, Sekeretaris dan DPRD Karo Petrus Ginting. (deo/han)
solideo/sumut pos
PELAYANAN: Tim penilai akreditasi surveyor dari Komisi Akreditasi Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) Kementrian Kesehatan RI saat berkunjung ke Puskesmas Barusjahe.
solideo/sumut pos PELAYANAN: Tim penilai akreditasi surveyor dari Komisi Akreditasi Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) Kementrian Kesehatan RI saat berkunjung ke Puskesmas Barusjahe.
KARO, SUMUTPOS.CO – Bupati Karo Terkelin Brahmana dana DPRD Karo meminta Puskesmas, khususnya Puskesmas Barusjahe meningkatkan mutu pelayanan. Apalagi, tim Akreditasi Surveyor dari Komisi Akreditasi Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) Kementrian Kesehatan RI akan melakukan penilaian untuk 3 hari kedepan.
Tim Akreditasi ini terdiri dari dr Fia Dewi Auliani, H Amri Madjid, SKM, dr Ahmad Ramadhan, MKM. “Selama 3 (hari mulai hari ini (22/10) tim akreditasi akan bekerja melakukan penilaian di Puskesmas Barusjahe sampai hari Rabu (24/10), “ujar Fia Dewi Auliani selaku Ketua Tim Akreditasi.
Hal ini dikatakan dr Fia Senin (22/10) siang dihadapan Bupati Karo Terkelin Brahmana didampingi Anggota DPRD Karo Firman Firdaus Sitepu, Kepala Bappeda Ir Nasib Sianturi Msi, dr Hartawati Br Tarigan Kepala Dinas Pemberdayan perempuan dan Anak, dr Arjuna Wijaya, SPp, Direktur RSU Kabanjahe, Camat Barusjahe Kalsium Sitepu Muspika barusjahe, Kepala Puskesmas UPTD Barusjahe, dr Tetra Sakti Ginting, para Pegawai Puskesmas Barusjahe.
Sementara Bupati Karo Terkelin Brahmana menyampaikan ucapan selamat kepada tim survei. “Selamat datang kepada para tim survei, sebab kita tahu tim bekerja karena adanya amanat Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 75 Tahun 2014 bahwa setiap Puskesmas wajib untuk diakreditasi secara berkala paling sedikit tiga tahun sekali, inilah dasar sehingga Ibu/bapak sekalian bisa sekalian bertatap muka dengan kami disini semua, “kata Terkelin diawali dengan mengucapkan Mejuah-juah saat memberikan sambutan.
Sambungnya, akreditasi merupakan salah satu persyaratan kredensial sebagai fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama yang bekerjasama dengan BPJS. “Sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 71 tahun 2013 tentang Pelayanan Kesehatan Pada Jaminan Kesehatan Nasional,dibalik itu, berdasarkan penjabarannya tujuan umum dari akreditasi Puskesmas adalah meningkatkan mutu layanan Puskesmas,” tambahnyan
Oleh sebab itu, proses penilaian eksternal oleh Komisi Akreditasi terhadap puskesmas untuk menilai apakah system manajemen mutu dan sistem penyelenggaraan pelayanan dan upaya pokok sesuai dengan standar yang ditetapkan.
“Semua ini kami serahkan kepada tim yang ada, untuk menentukan kelayakannya, kami tahu tim akreditasi Puskesmas merupakan komisi yang memang sudah dilatih kusus menjadi penilai apakah sebuah puskesmas lulus akreditasi atau tidak,”ujarnya
Kadis Kesehatan Kabupaten Karo, drg Irna Safrina Meliala mengatakan, memaparkan sekilas tentang tujuan akreditasi sebenarnya.
Adapun tujuan utama akreditasi Puskesmas adalah untuk pembinaan peningkatan mutu, kinerja melalui perbaikan yang berkesinambungan terhadap sistem manajemen, sistem manajemen mutu dan sistem penyelenggaraan pelayanan dan program, serta penerapan manajemen risiko, dan bukan sekedar penilaian untuk mendapatkan sertifikat akreditasi. Sedangkan tujuan khususnya antara lain, memacu puskesmas untuk memenuhi standar yang ditetapkan.
Menetapkan strata akreditasi puskesmas yang telah memenuhi standar yang ditentukan. Memberikan jaminan kepada petugas Puskesmas bahwa pelayanan yang diberikan telah memenuhi standar yang ditetapkan, Memberikan jaminan kepada pelanggan/masyarakat bahwa pelayanan yang diberikan oleh Puskesmas telah sesuai standar. Terbinanya Puskesmas dalam rangka memperbaiki sistem pelayanan, mutu dan kinerja.
Anggota DPRD Karo Firman Firdaus Sitepu angkat bicara, jika ditelisik keberadaan Puskesmas seperti yang diutarakan diatas akan diakreditasi dan memacu pelayanan dan mutu.
“Harapan saya, utamakan pelayanan kepada masyarakat dalam penanganan kesehatan, apalagi yang datang berobat yang sudah usia lansia, kasihan jika tidak dilayani, kalau dilihat dari tujuan khusus dan tujuan umumnya memang sangat mulia sekali, tugas puskesmas, jadi tidak ada alasan pelayanan tidak baik, harus baik dan masyarakat puas,” tegas Firdaus.
Bisa dikatakan ini sebagai perbaikan lini pelayanan kesehatan pertama yang berhadapan dengan masyarakat. Karena saat ini Puskesmas masih menjadi tempat layanan umum yang diminati masyarakat luas. “Semoga dengan adanya akreditasi ini akan membuat kelas Puskesmas menjadi lebih baik dari sebelumnya,”harapnya. (deo/han)
BAMBANG/sumut pos
JUMPA PERS: Pemkab Samosir dan BPODT pada keterangan pers Samosir Jazz Season 2018 di Medan.
BAMBANG/sumut pos JUMPA PERS: Pemkab Samosir dan BPODT pada keterangan pers Samosir Jazz Season 2018 di Medan.
LANGKAT, SUMUTPOS.CO – Bupati Langkat H Ngogesa Sitepu SH mengajak seluruh lintas sektoral, untuk mensukseskan kampanye imunisasi Campak dan Rubella (MR) 2018, agar generasi masa depan Langkat hidup sehat dan hebat.
Ajakan itu sampaikan Ngogesa pada pertemuan Mid Term Review kampanye imunisasi MR fase II tingkat Kabupaten Langkat, di Ruang Pola Kantor Bupati Langkat, Senin (22/10).
Tal hanya seluruh lintas sektoral, turut juga seluruh organisasi kemasyarakatan dan keagamaan. “Untuk itu saya mintakan, agar semuanya dapat mengajak para orangtua dan wali, agar membawa anak-anak mereka ke tempat pelayanan imunisasi MR sesuai dengan jadwal yang ditetapkan,”ujarnya.
Menurut Bupati, meski waktu imunisasi MR berakhir pada akhir Oktober, masih ada waktu untuk melingdungi anak-anak Langkat, agar terhindar dari penyakit campak dan rubella serta komplikasinya yang mematikan dan menimbulkan kecacatan. “Saya berharap melalui pertemuan ini, kita semua dapat bersama- sama mengumpulkan semangat dan menyusun strategi dan langkah-langkah untuk mensukseskan kampanye imunisasi MR.
Sehingga mendapat kekebalan kelompok atau herd immunity, yang baru akan dioptimalkan jika cakupan imunisasi mencapai 95% di seluruh kecamatan,” sebutnya, sembari mengucapkan terimakasih.
Kadis Kesehatan Langkat, dr Sadikun Winato mengatakan, sasaran kampanye imunisasi MR ini, adalah anak berusia 9 tahun bulan sampai dibawah 15 tahun, tanpa mempertimbangkan stastus imunisasi sebelumnya.
Berdasarkan data, lanjut Sadikun menunjukkan, bahwa 70 persen sampai 80 persen virus campak dan rublla beredar pada kelompok usia dibahwah 15 tahun. Maka dengan imunisasi, diharapkan dapat memutus penularan pada kelompok usia dewasa, termasuk ibu hamil.
“Sebab Indonesia telah berkomitmen untuk mencapai eliminasi campak dan pengendalian cacat akibat rubella atau Congenital Rubella Syndrome (CRS) pada tahun 2020,” sebutnya.
Subdit Imunisasi Kemenkes RI Reza Ispan yang hadir sebagai narasumber, mengatakan agar imunisasi MR sukses, perlu adayan pemahaman dari seluruh pemangku kepentingan dan masyarakat. “Bahwa imunisasi MR ini bertujuan untuk menjaga kesehatan anak,” terangnya.
Diterangkan Reza, kesterilan vaksin ini tidak perlu diragukan, karena di buat oleh tenaga ahli serta suhunya selalu dijaga. (bam/han)
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Penolakan terhadap penetapan kenaikan UMP 2019 sebesar 8,03 persen terus disuarakan elemen buruh. Bahkan untuk menolak kebijakan Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) ini, para buruh bakal melakukan aksi turun kejalan dan siap melakukan gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN).
Dewan Pengurus Pusat Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia melalui Sekretaris Wilayah I Sumatera DPP (K), Arsula Gultom SH menegaskan, mereka tetap menolak tegas kenaikan UMP 8,03 persen. Menurutnya, penetapan itu membangkitkan kembali rezim upah murah yang mengacu pada PP Nomor 78 Tahun 2015.
“Kita minta, agar PP Nomor 78 Tahun 2015 segera dicabut, karena dalam peraturan itu, Tripartit penentuan upah hilang. Penetapan itu juga untuk membangkitkan kembali rezim upah murah. Kalau pemerintah tetap berkeras menetapkan UMP 8,03 persen, kita akan melakukan gugatan ke PTUN,” tegas Arsula kepada wartawan, Minggu (21/10).
Dijelaskan aktivis buruh ini, pihaknya masih menagih janji Presiden Jokowi pada kampanyenya 2014 silam, kesejahteraan terhadap buruh yang dijanjikan belum direalisasikan. Karena, kebijakan Menaker telah merugikan buruh secara nasional dan di setiap daerah.
“Secara umum memang naik, tapi kenaikan itu keliru dan merugikan buruhn
Artinya, buruh tetap saja tidak sejahtera. Secara hukum PP 78/2015 telah melanggar Pasal 88 dan 89 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan,” beber Arsula.
Dijabarkan Arsula, permsalahan kenaikan UMP pada tahun lalu, telah diputuskan MA nomor 120 K/TUN/2018 tentang ditolaknya kasasi putusan kasasi Mahkama Agung RI atas Gugatan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) terhadap Gubernur Sumatera Utara tentang upah minimum berdasarkan PP Nomor 78 Tahun 2015.
Dengan demikian, gubernur se-Indonesia tidak serta merta menerima keputusan Menaker untuk mengumumkan kenaikan UMP berdasarkan PP Nomor 78 Tahun 2015. Karena, UMP 8,03 persen tidak masuk dalam tahapan survei pasar mengenai Kebutuhan Hidup Layak (KHL).
Artinya, kata Arsula, pengupahan bukan berdasarkan inflansi nasional dan pertumbuhan ekonomi nasional, karena kenaikan UMP untuk 2019 sangat rendah dibandingkan kenaikan UMP pada 2015 ke 2016. Kenaikan UMP dari 2015 ke 2016 yang menggunakan formula perhitungan pertama kali rata-rata sebesar 11,5 persen di berbagai wilayah Indonesia.
Kemudian di 2017, Menaker kembali menaikan UMP sebesar 8,25 persen, kenaikan itu didapat dengan asumsi inflasi 3,07 peren dan pertumbuhan ekonomi tahun 2017 sebesar 5,18 persen. Selanjutnya kenaikan UMP 2018 sebesar 8,71 persen dihitung berdasarkan data inflasi dan pertumbuhan ekonomi nasional (pertumbuhan PDP) yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS).
Rinciannya, inflasi nasional sebesar 3,72 persen dan pertumbuhan ekonomi 4,98 persen.
Sehingga pada 2019, Menaker hanya menaikkan UMP sebesar 8,03 persen, kenaikan dihitung dari inflasi nasional 2,88 persen ditambah pertumbuhan PDB sebesar 5,15 persen. “Perincian ini yang kita tolak, karena mengacu pada inflasi nasional, harusnya mengacu pada inflasi daerah. Kita lihat sekarang, inflasi nasional turun. Dampaknya, kenaikan upah rendah. Kita tetap ingin kenaikan upah mengacu pada Undang-undang 13 tahun 2003,” jelas Arsula.
Apabila pemerintah mengacu pada UU Nomor 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan, ungkap Arsula, buruh akan memperoleh kenaikan UMP berkisar 15 hingga 20 persen. “Kita juga mengecam Menaker yang telah mengeluarkan surat edaran kepada kepala daerah, agar mengumumkan UMP itu. Apalagi Menaker telah mengintervensi kepala daerah dengan sanksi pemberhentian.
Ini sudah salah, tidak ada kaitan penetapan upah minimum dengan pencopotan kepada daerah. Kami menilai surat edaran Menaker sangat provokatif dalam tahun politik ini, dengan memancing suasana memanasnya suhu politik menjelang Pilpres dan Pileg sehingga menimbulkan tidak kondusif di kalangan buruh di seluruh Indonesia,” tegas Arsula.
Ditegaskannya, sebagai bentuk penolakan kebijakan dari kenaikan UMP yang akan diumumkan pada 1 November 2018, seluruh elemen buruh se Indonesia akan melakukan penolakan besar-besaran dengan melakukan demo turun ke jalan. “Kalau itu tetap diberlakukan, kami akan lakukan gugatan ke PTUN dan melakukan orasi ke jalan, kebijakan itu telah mensengsarakan nasib buruh,” cetus Arsula.
humas pemprovsu for sumut pos
MENINJAU: Gubernur Sumatera Utara, Edy Rahmayadi meninjau lokasi banjir bandang di Desa Muara Saladi, Kecamatan Ulu Pungkut, Mandailing Natal, Senin (15/10).
humas pemprovsu for sumut pos MENINJAU: Gubernur Sumatera Utara, Edy Rahmayadi meninjau lokasi banjir bandang di Desa Muara Saladi, Kecamatan Ulu Pungkut, Mandailing Natal, Senin (15/10).
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu) berjanji turut membantu secara bertahap, guna memulihkan kondisi Kabupaten Mandailing Natal (Madina), paskaditerjang banjir bandang dan longsor, Sabtu (13/10) malam lalu. Selain merelokasi puluhan rumah warga yang terkena dampak, pemprov juga berkomitmen membangunkan sekolah serta memperbaiki infrastruktur yang rusak akibat bencana tersebut.
“Ya, tentu pemprov ikut bertanggungjawab (memulihkan Madina paskalongsor, Red),” kata Gubernur Sumut Edy Rahmayadi kepada wartawan, usai menghadiri acara Rakerwil
PPP Sumut, di Hotel Lee Polonia Medan, Sabtu (20/10) siang.
Edy mengungkapkan, lahan sebagai relokasi rumah warga sudah tersedia seluas 2,5 hektar. Proses relokasi sendiri baru akan dilakukann paskapembangunan rumah warga selesai dikerjakan. Untuk lokasi relokasi sendiri, sambung dia, masih berada di Kecamatan Ulu Pungkut, Madina.
“Sekitar 3 kiloan (dari pusat lokasi bencana) relokasi sudah kita siapkan. Lahannya itu sudah ada 2,5 hektar. Saat ini sedang disiapkan (upaya relokasi),” kata mantan Pangdam I/BB dan Pangkostrad itu.
“Kalau bukan pemerintah, siapa lagi yang bangun? Rencana kita juga akan bangun SMK perkebunan di sana,” pungkasnya.
Pernyataan Gubsu Edy ini memperkuat apa yang sebelumnya disampaikan Kepala Badan Penanggulangan dan Bencana Daerah (BPBD) Sumut, Riadil Akhir Lubis. Kata Riadil, sesuai instruksi Gubsu, Pemkab Madina diminta segera menyiapkan lahan sebagai pengganti pemukiman warga korban banjir bandang. Lahannya sendiri ujar dia sudah ada, seluas 1,5 hektar sampai 3 hektar.
“Kemudian kita juga akan menyiapkan fasilitas umum seperti sekolah, jalan dan infrastruktur pendukung lainnya,” katanya kepada Sumut Pos, pekan lalu.Lokasi relokasi menurut dia sebagian diambil di luar kawasan hutan atau lahan milik Pemkab Madina, dan sebagian lagi akan bermohon ke menteri kehutanan untuk pembebasan kawasan hutan lindung negara.
“Jadi nanti seperti di Siosar, Kabupaten Karo kita minta supaya bisa diberikan untuk lahan pemukiman warga. Apalagi inikan memang untuk kepentingan rakyat, yang jumlahnya sekitar 22 KK atau terdiri dari 325 jiwa,” katanya.
Setelah lahan tersedia dan sudah tidak ada kendala lainnya, maka pembangunan rumah laik huni bagi 22 KK tersebut akan mulai dikerjakan. “Teknisnya ini yang akan segera dibahas. Bagaimana memindahkan rumah, kapan waktu dipindahkan dan lainnya. Pengungsi tidak mungkin berlama-lama mengungsi makanya hal ini perlu disegerakan,” katanya.
Sampai kini, ungkap Riadil, proses evakuasi desa-desa yang terisolasi di wilayah itu masih intens dilakukan. TNI, Polri, Tim SAR, BPBD dan para relawan masih berada di Kecamatan Ulu Pungkut guna membersihkan material dan puing-puing paskabandang. Bahkan untuk pengoptimalan tanggap darurat di Madina, status bencana diperpanjang satu minggu kedepan.
“Apalagi pengungsi kan masih berada di tenda-tenda pengungsian, sembari kita siapkan relokasi bagi mereka. Jadi masih berlangsung kegiatan evakuasi di Ulu Pungkut, membersihkan kayu dan batu mulai dari atas hingga kebawah,” katanya.
Mengenai infrastruktur jalan terutama di Kecamatan Natal, kata dia, sudah ditangani langsung oleh pihak Balai Besar Jalan Nasional. “Dan alhamdulilah jalan provinsi yang ada di sana sudah terhubung semua akibat longsor,” pungkasnya.
Pemprov juga sebelumnya sudah mengantisipasi daerah-daerah rawan longsor dengan menyiapkan alat berat. Bahkan disetiap Unit Pelayanan Teknis (UPT) Dinas Bina Marga Bina Konstruksi (BMBK) Sumut, sudah didirikan posko siaga bencana.
“Iya, ada di beberapa lokasi rawan longsor kita tempatkan beberapa alat berat di sana,” kata Kabid Perencanaan dan Evaluasi Dinas BMBK Sumut, Iswahyudi.
Adapun titik alat berat yang sudah disiapkan tersebut, kata dia, seperti di wilayah UPT Medan, Kabanjahe, Dolok Sanggul, Rantauprapat dan Mandailing Natal. “Saya tak ingat persis (jumlah alat berat yang disiagakan). Nanti saya cek lagi. Tapi setahu saya ada pos siaga bencana di BMBK kita seperti yang tadi saya sebut. UPT-UPT tersebut siap meng-cover wilayah-wilayah sekitarnya,” pungkasnya. (prn)
DPW PKS SUMUT for SUMUT POS
KONSOLIDASI: Pengurus DPW PKS Sumut foto bersama pengurus DPD se-Sumut usai rapat konsolidasi yang bertujuan memantapkan barisan partai demi pemenangan Pemilu 2019 di Hotel Kailani Inn, Minggu (21/10).
DPW PKS SUMUT for SUMUT POS KONSOLIDASI: Pengurus DPW PKS Sumut foto bersama pengurus DPD se-Sumut usai rapat konsolidasi yang bertujuan memantapkan barisan partai demi pemenangan Pemilu 2019 di Hotel Kailani Inn, Minggu (21/10).
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Usai dilantik pada Rabu (17/10) lalu, Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sumatera Utara langsung menggelar rapat konsolidasi perdana bersama unsur Dewan Pengurus Daerah (DPD) PKS se-wilayah Sumatera Utara.
Konsolidasi yang bertujuan untuk memantapkan barisan partai demi pemenangan Pemilu 2019 ini dilaksanakan di Aula Hotel Kailani Inn, Jalan Kenanga Medan, Minggu (21/10).
Dalam sambutannya, Ketua DPW PKS Sumut Dr Hariyanto optimistis PKS Sumut tetap solid menghadapi Pileg dan Pilpres 2019. “Insya Allah kita akan menang dan lanjutkan perjuangan dakwah ini. PKS akan menang dengan izin Allah, sehingga kita harus tetap solid dan mari kita sandarkan setiap usaha-usaha yang kita lakukan hanya kepada Allah demi terciptanya kemenangan dakwah yang penuh berkah,” kata Dr Hariyanto.
Turut hadir unsur pimpinan Wilayah Dakwah Sumut Ir Tifatul Sembiring dan Anshori Siregar. Tifatul mengingatkan untuk merapatkan barisan dan ukhuwah harus semakin dijaga. “Mulai saat ini kita harus rapatkan barisan, ukhuwah kita harus semakin dijaga. Karena kita sadari, ada pihak yang ingin memecah dan menghancurkan partai ini. Dan saya katakan itu tidak berhasil dan tidak menggoyahkan partai ini karena partai ini masih tetap solid seperti dulu,” ujar Tifatul.
Menyikapi beredarnya isu yang menyatakan, DPP melakukan pemecatan terhadap pimpinan wilayah tidak sesuai aturan, Tifatul menegaskan, hal itu tidak benar. “Isu yang selama ini beredar luas mengenai pemecatan penzaliman kader tidaklah benar. Saya rasa ini hal yang biasa. Pergantian pengurus biasa. Karena hal ini bisa saja terjadi dan selalu bergilir untuk menyegarkan dan memberi semangat baru untuk partai. Semua sudah sesuai aturan,” bebernya.
“Kita masih solid dan harus tetap solid untuk memenangkan partai dakwah ini. Jikalau ada yang ingin memecah belah umat, kita jangan terikut. Kita sesama ikhwan dan sesama internal harus saling menguatkan. Fokus kita 2019 ini dan kita harus menang,” tutup Tifatul.
Pasca konsolidasi ini, dalam waktu dekat unsur pimpinan DPW akan lakukan kunjungan ke DPD-DPD se-Sumut untuk meningkatkan kesolidan dan strategi pemenangan.(rel/adz)
fachril syahputra/SUMUT POS
SEDIH: Ardiles Marnatha Sinulingga bersama ibunya Thabitha Br Ginting sambil memegang foto ayahnya Aiptu (Anm) Baik Sinulingga.
fachril syahputra/SUMUT POS SEDIH: Ardiles Marnatha Sinulingga bersama ibunya Thabitha Br Ginting sambil memegang foto ayahnya Aiptu (Anm) Baik Sinulingga.
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Tragedi penyerangan Mapolsek Hamparanperak, tak bisa dilupakan Ardiles Marnatha Sinulingga seumur hidupnya. Ayahnya, Aiptu (Anm) Baik Sinulingga tewas bersama dua personel Polri lainnya, setelah diberondong sekelompok teroris di Mapolsek itu. Meski gagal mewujudkan cita-cita sebagai personel Polri seperti sang ayah, namun Ardinles tetap ingin mengabdi kepada bangsa dan negara, seperti yang diamanahkan ayahnya.
SAAT penyerangan yang dilakukan kelompok bersenjata ke Mapolsek Hamparanperak, 21 September 2010 lalu terjadi, Ardiles duduk di bangku SMA. Karenanya, dia sangat mengingat betul peristiwa yang menewaskan ayahnya itu. Kini, di usianya 25 tahun, anak semata wayang pasangan Aiptu (Anm) Baik Sinulingga dan Thabitha Br Ginting ini, tetap menjadikan sang ayah tercinta sebagai panutan masa depannya.
“Mengingat kejadian itu, sedih sekali rasanya. Walaupun bapak tidak ada lagi, saya masih yakin, bapak adalah panutan bagi masa depan saya. Semasa hidup, bapak selalu memberikan motivasi untuk masa depan saya,” kenang Aridiles di rumahnya, Jalan Lembaga Pemasyarakatan, Kecamatan Hamparanperak, Sabtu (20/10).
Semasa ayahnya masih hidup, Ardiles selalu diberi motivasi untuk mecapai apa yang dicita-citakan. Dia juga sangat meneladani kepribadian sang ayah yang tegas dan selalu bersyukur kepada Tuhan.
“Mengingat masa itu, sedih kali kurasa. Saya saat itu masih SMA. Seakan tak percaya, peristiwa itu terjadi, tapi mungkin sudah kehendak Tuhan. Kini, semua tinggal kenangan yang tidak bisa saya lupakan seumur hidup,” sebut Ardiles yang ditemani ibu kandungnya, Thabitha Br Ginting.
Setelah kepergian ayahnya, Ardiles bercita-cita meneruskan profesi alamrahum ayahnya.
Namun cita-cita itu kandas, karena kondisi matanya yang rabun. Walaupun jaminan untuk masuk Polri telah diberikan, tidak menjadi jaminan untuk bisa lulus seleksi Polri. Bagi Ardiles, kegagalannya masuk Polri bukan menjadi penghalang. Dia tetap ingin menggapai cita-cita menjadi orang yang berguna bagi bangsa dan negara. Setelah tamat dari bangkus SMA, Ardiles mengikuti tes aparatur sipil negara (ASN) di Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham). Namun lagi-lagi ia gagal seleksi.
Kembali, kegagalan itu bukanlah menjadi penghalang bagi Ardiles. Petuah dan nasihat dari alamarhum ayahnya masih menjadi motivasi baginya. “Jujur saja, Bapak Kapolri sewaktu bapak saya meninggal, telah menjajikan saya untuk masuk Polisi.
Tapi, mata saya rabun. Makanya, saya coba masuk PNS dari jalur Menkumham, tapi saya gagal seleksi. Begitu juga di Kementrian Perhubungan, saya juga gagal. Tapi, saya tidak putus asa dan terus berusaha, karena kepribadian bapak saya seperti itu,” kenang pria berkacamata ini, sambil membuka lembaran kliping koran dan foto-foto almarhum Aiptu Baik Sinulingga.
Karena gagal menjadi ASN dan Polri, Ardiles pun melakoni berbagai pekerjaan untuk membiayai kuliahnya. Dia bahkan rela menjadi sopir taksi online sehingga bisa menamatkan kuliahnya (D3) di AMIK Imelda jurusan komputer.
Harapan dan cita-citanya menjadi ASN masih terus diperjuangkannya dengan mengikuti berbagai seleksi. Untuk itu, anak korban aksi terorisme ini sangat berharap adanya bantuan dan dukungan dari institusi Polri seperti yang dijanjikan mantan Kapolri, Jenderal Bambang Henadaso Danuri saat bapaknya gugur di Mapolsek Hamparanperak. “Sekarang saya terus berjuang.
Dulu semasa bapak meninggal, ada jaminan untuk saya masuk Polisi. Tapi, mata saya tidak bisa, saya hanya berharap agar ada jaminan untuk masuk jadi ASN, walaupun ASN di Polri atau di lemabaga lain. Semoga, apa yang saya perjuangkan ini, mendapat dukungan,” harapnya.
Hal senada juga diungkapkan sang ibu, Thabitha Br Ginting. Sebagai seorang ibu yang telah kehilangan suami, ia terus memberikan motivasi kepada anak sematawayangnya itu. Peristiwa 8 tahun silam masih saja menjadi kisah yang tidak bisa dilupakannya. Kini, di usianya 50 tahun, Thabitha juga mengharapkan dukungan dari institusi Polri untuk masa depan anaknya.
Upaya dan usaha untuk meminta dukungan agar Ardiles masuk ASN, sudah pernah dilakukannya. Pasca kematian suaminya, janda anak satu ini sudah tiga kali mendatangi Mapolda Sumut, namun cuma janji yang diterimanya. Bahkan pada 2014 silam, dirinya juga pernah menjumpai Wakapolri masa itu, Letjend Oegroseno, dengan nada yang sama, hanya janji yang diterima.
Walaupun janji itu sudah lama berlalu, impinan dan harapan itu mulai dirasakan oleh Thabitha. Kemarin (17/10), istri dari almarhum telah dipaggil Polda Sumut, dengan tujuan untuk diberi dukungan kepada Ardiles mencapai cita – citanya.
“Saya bersyukur, setelah 8 tahun berlalu, akhirnya anak saya diperhatikan. Semoga anak saya bisa menjadi ASN. Saya sudah disuruh melengkapi semua ijazah anak saya, mudah – mudahan ini jalan dari Tuhan. Agar, apa yang dicita-citakan anak saya, merupakan panutannya kepada almarhum bapaknya,” ungkap Thabitha dengan nada sedih. (*)
istimewa
SIAGA: Polisi siaga saat penggerebekan di rumah terduga teroris di Tanjungbalai, Kamis (19/10).
istimewa SIAGA: Polisi siaga saat penggerebekan di rumah terduga teroris di Tanjungbalai, Kamis (19/10).
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Sumatera Utara belum aman dari aksi terorisme. Apalagi saat menangkapan teroris di Kota Tanjungbalai, Kamis (19/10) lalu, seorang terduga teroris yang disebut-sebut sebagai calon ‘pengantin’, lolos dari penyergapan.
Karenanya, Kapolda Sumut Irjen Pol Agus Andrianto tak menampik jika ancaman aksi teror itu masih nyata. Dia pun mengimbau masyarakat untuk tetap berwaspada. “Salah satu program Kapolri kan mencegah konflik dan antisipasi terror. Bukan hanya di Sumut, sejak (aksi teror) CIMB Niaga, penyerangan Polsek Hamparan Perak (Tahun 2010) terhadap anggota Polda, penangkapan Mei (di Tanjungbalai) lalu dan kemarin yg merupakan DPO pelaku, membuktikan memang ada (ancaman teror),” ungkap Agus kepada Sumut Pos, Minggu (21/10).
Ia mengatakan, perlunya dukungan masyarakat untuk membantu aparat kepolisian dalam menjaga ancaman aksi terorisme di Sumut. “Makanya kita minta masyarakat ikut mendukung untuk menangkal ancaman aksi teror terhadap masyarakat yang tidak berdosa menjadi korban kejahatan mereka (pelaku teror),” harapnya.
Diketahui, pascapenangkapan kemarin di Tanjungbalai, terungkap para pelaku teror menarget penyerangan ke kantor polisi dan rumah ibadah. Sekaitan informasi ini, pengamanan pun kabarnya di tingkatkan.
Kepala Bidang (Kabid) Humas Polda Sumut, Kombes Pol Tatan Dirsan Atmaja menyebut, pengamanan di setiap kantor polisi sudah disesuaikan untuk mencegah aksi teror.
“Pada dasarnya untuk pengamanan di setiap kantor polisi sudah sesuai Protap (Prosedur Tetap) untuk mencegah aksi teror,” katanya.
Dalam Protap pengamanan tersebut, kata Tatan, personel yang bertugas akan terus waspada. “Semisal yang piket tidak boleh meninggalkan tempat selama masih waktu jaga. Kemudian saat bertugas tidak sendiri, teknik buddy system namanya. Setidaknya seperti itu,” ungkapnya.
Ia mengatakan pengejaran satu orang lagi terduga teroris itu dilakukan oleh Densus 88. “Polda Sumut dalam hal ini sifatnya hanya mem-back up,” ujarnya.
Diberitakan sebelumnya, dua terduga teroris ditembak mati oleh Densus 88 Antiteror di Kelurahan Kapias Pulau Buaya, Kecamatan Teluk Nibung, Kota Tanjunbalai, Sumatera Utara (Sumut). Kapolda Sumut, Irjen Pol Agus Andrianto mengatakan, kedua warga Tanjungbalai itu tewas usai mencoba kabur dan memberikan perlawanan terhadap petugas pada saat ditangkap, Kamis (18/10).
“Tersangka yang meninggal dunia karena saat dilakukan penindakan dua pelaku ini melakukan penyerangan kepada petugas menggunakan senjata api dan senjata tajam,” kata Agus di Tanjungbalai, Jumat (19/10).
Kedua terduga teroris itu tewas setelah mengalami luka tembak yang dilakukan personel kepolisian saat penangkapan. Kemudian, polisi juga menyita barang bukti, termasuk bahan peledak. “Barang bukti yang dapat kami sita dari pelaku adalah satu buah senjata api rakitan, sebuah selongsong peluru yang sudah diledakkan. Kemudian 20 butir peluru sisa, dan satu senjata tajam serta lima kontainer (kotak) yang berisi bahan peledak,” sebutnya.(dvs)
SUTAN SIREGAR/SUMUT POS
MENYEBERANG: Sejumlah warga melewati titi darurat untuk digunakan sementara selama proses perbaikan jembatan di Jalan Si Canang Medan Labuhan, Minggu (21/10). Jembatan Sicanang kembali ambruk, dan warga sementara menggunakan titi darurat untuk beraktivitas.
SUTAN SIREGAR/SUMUT POS MENYEBERANG: Sejumlah warga melewati titi darurat untuk digunakan sementara selama proses perbaikan jembatan di Jalan Si Canang Medan Labuhan, Minggu (21/10). Jembatan Sicanang kembali ambruk, dan warga sementara menggunakan titi darurat untuk beraktivitas.
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Jembatan Titi Dua Sicanang Kecamatan Medan Belawan kembali putus, Sabtu (20/10). Akibatnya, lebih kurang 11 ribu jiwa masyarakat di Kelurahan Sicanang terisolir. Pantauan di lapangan menyebutkan, jembatan yang sudah masuk tahap perbaikan dari Dinas Bina Marga Kota Medan, tanpa disadari bagian sisi tanah yang menghubungkan jembatan lama untuk melintas kendaraan tiba-tiba amblas.
Akibatnya, jembatan yang menjadi akses satu-satunya perlintasan masyarakat putus total. Peristiwa yang disebabkan faktor alam itu, membuat sejumlah masyarakat panik, karena pejalan kaki dan kendaraan tidak bisa melintas dari jembatan tersebut.
Tokoh Pemuda Belawan, Togu Silaen mengatakan, penyebab dari amblasnya tanah di sisi jembatan, karena masalah human error. Diduga, pihak yang berkompeten tidak paham pola pengerjaan terhadap objek yang akan dikerjakan.
“Peristiwa ini, tahun semalam sudah pernah terjadi, baru-baru ini juga pernah kejadian. Kami masyarakat Sicanang kecewa dengan perbaikan ini, terkesan tidak maksimal. Lihatlah, sekarang jembatan putus total, ada 11 ribu jiwa terisolir. Aktivitas masyarakat pasti terganggu,” ungkap Togu.
Ditegaskan Ketua Laskar Merah Putih Belawan ini, dia pernah menyampaikan kepada dinas untuk perbaikan jalan itu agar dikerjakan tidak terkesan asal-asalan, dan jangan dipercayakan kepada pemborong yang tidak punya kualitas.
“Inilah akibat dari Pemko Medan yang mempercayakan kepada pemenang tender yang gagal di tahun semalam. Jembatan ini jadi terbengkalai, padahal sudah berulang kali terjadi masalah alam, harusnya pemborong punya skala kualitas dalam pengerjaan yang tidak berdampak pada masyarakat,” tegas Togu.
Harapan Togu, kepada Pemko Medan untuk segera membangun kembali jembatan darurat, agar aktivitas masyarakat tidak terganggu. Misalnya, orang kerja, anak sekolah, dan angkutan umum sebagai fasilitas masyarakat bisa melintas di jembatan tersebut.
“Kita sebagai masyarakat setempat, meminta agar jembatan darurat diperbaiki dalam waktu 1X24 jam, karena ada 11 ribu jiwa yang menggunakan jembatan itu. Kami minta, ini segera ditanggulangi,” tegas Togu.
Wakil Wali Kota Medan, Akhyar Nasution turun ke lapangan, meninjau langsung musibah alam yang telah memutuskan akses jembatan itu. Orang nomor dua di Pemko Medan ini berjanji akan memaksimalkan proses pengerjaan agara segera selesai. Dia menegaskan, akan membangun jembatan darurat agar masyarakat dapat melintas.
“Untuk jembatan darurat akan segera dibangun untuk sementara masih kita bangun bagi pejalan kaki, untuk akses kendaraan akan tunggu beberapa hari ini. Menganai kejadian ini, kita akan mendatangkan tenaga ahli, agar tidak timbul masalah lagi ke depannya,’ kata Akhyar di lokasi.
Anggota DPRD Kota Medan dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) HT Bahrumsyah mengaku kecewa dengan Pemko Medan terkesan lambat mengerjakan proyek itu. Kemudian kurang memperhatikan kondisi jembatan Titi Dua Sicanang.
“Ini bukti, Pemko Medan tidak serius memperbaiki jembatan itu. Padahal di 2016 sudah dianggarkan, tapi karena tidak ada keseriusan, makanya perbaikan jembatan itu terkesan asal jadi. Ini bukti kerja wali kota bobrok,” tegas Bahrum.
Sementara, Ketua Komisi D DPRD Medan Parlaungan Simangungsong merasa bingung dan aneh dengan kejadian tersebut. Sebab, bila sudah dikerjakan mengapa tanahnya masih amblas juga. “Ini sudah kejadian yang kedua kali. Seharusnya pihak-pihak terkait harus meneliti penyebab terjadinya abrasi. Kekuatan tanah di masing-masing daerah berbeda, Pemko Medan setidaknya harus meneliti seluruh jembatan yang berada dekat laut terutama daerah Medan Utara,” sebutnya.
Diutarakan Parlaungan, saat ini cuaca cukup ekstrem dan harus ada antisipasi agar hal-hal demikian tidak terjadi kembali.
“Kita mendorong agar Pemko Medan dalam hal ini Dinas PU Medan melakukan analisis rutin dan melihat seluruh jembatan yang ada di Medan Utara. Jangan sampai pas ada musibah dan korban, baru Pemko Medan memberi perhatian. Kasihan masyarakat Sicanang, karena selalu was-was ketika melewati jembatan tersebut, padahal jembatan itu satu-satunya jalan keluar masuknya warga setempat,” cetusnya.
Parlaungan mengaku, dalam waktu dekat Komisi D DPRD Medan akan turun langsung meninjau ke lapangan. Hal ini dilakukan untuk mengetahui apa masalah yang terjadi hingga jembatan amblas. “Harus diketahui akar penyebab sebenarnya, agar bisa diselesaikan secara bersama,” tukasnya. (ris/fac/azw)
SUTAN SIREGAR/SUMUT POS
PENGERJAAN DRAINASE: Beberapa pekerja menyelesaikan proyek drainase di Jalan Juanda Medan, beberapa waktu lalu.
SUTAN SIREGAR/SUMUT POS PENGERJAAN DRAINASE: Beberapa pekerja menyelesaikan proyek drainase di Jalan Juanda Medan, beberapa waktu lalu.
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Formulasi jumlah Rancangan Anggaran Belanja dan Pendapatan Daerah (R-APBD) tahun 2019 sebesar Rp5,94 triliun lebih telah diajukan Pemerintah Kota (Pemko) Medan. Jumlah anggaran tersebut hanya naik Rp500 miliar lebih dari tahun 2018 sebesar Rp5,4 triliun.
Ketua Komisi D DPRD Medan Parlaungan Simangunsong mengatakan, kondisi pembangunan Kota Medan saat ini kurang maksimal. Seperti penataan parkir, perbaikan jalan, drainase, penanganan banjir dan reklame serta stetika kota masih butuh penanganan serius.
“Nilai yang diajukan dalam R-APBD 2019 sebesar Rp5,94 triliun dinilai terlalu kecil. Pemko Medan harus berani menaikkan jumlah formulasi R-APBD tersebut dan diyakini mampu mencapai Rp8 triliun. Sebab, masih banyak sumber potensi PAD yang belum tergali,” kata Parlaungan akhir pekan lalu.
Karena itu, sebutnya, dia mendorong Wali Kota Medan Dzulmi Eldin melakukan terobosan baru mengatasi semua masalah dengan merangkul seluruh pihak untuk serius mencermati guna mencari solusi. “Ke depan, pihak eksekutif, legislatif, yudikatif dan masyarakat harus bersatu serta sepaham mencari solusi membangun Kota Medan lebih baik,” cetusnya.
Menurut Parlaungan, upaya dalam memaksimalkan atau menggali potensi sumber pendapatan asli daerah (PAD) dapat dilakukan dari sektor pajak dan retribusi seperti parkir, izin mendirikan bangunan (IMB), hotel, restoran dan lainnya. Selain itu, bsia juga dengan memberdayakan lahan tidur atau yang tidak dimanfaatkan dengan baik. “Makanya, diharapkan ASN di jajaran Pemko Medan mampu berinovasi mendatangkan PAD,” tuturnya.
Lebih lanjut Parlaungan mengatakan, ia juga mendorong seluruh organisasi pimpinan daerah (OPD) di satuan unit kerja Pemko Medan untuk melakukan lobi-lobi atau kerja sama ke Pemprovsu dan pemerintah pusat. Hal ini untuk mendatangkan Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK) dan bantuan bagi hasil serta bantuan penyertaan modal lainnya.
“Upaya lain untuk menggali potensi dapat dilakukan Pemko Medan dengan pengawasan Perda sejak dini, seperti terhadap berdirinya reklame menyalah, bangunan tanpa izin dan penataan pedagang kaki lima. Sebab, untuk biaya penertiban pelanggaran Perda itu saja menghabiskan biaya yang cukup besar. Padahal, itu karena kelalaian dan tidak adanya pengawasan,” beber Parlaungan.
Ia menambahkan, diyakini dengan upaya-upaya tersebut dapat menaikkan APBD Pemko Medan pada tahun 2019. “Pasti jumlah APBD dapat ditingkatkan, asalkan pemimpinnya serius,” tandas dia.
Hal senada disampaikan Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Medan Hasyim. Kata Hasyim, R-APBD 2019 yang diajukan dinilai menggambarkan wali kota tidak serius menggali sumber-sumber yang berpotensi sebagai PAD. “Peningkatan anggaran yang diajukan tersebut terlalu kecil. Seharusnya, peningkatan dapat dimaksimalkan lagi dari tahun 2018,” ujarnya.
Sebagaiman diketahui, Wali Kota Medan Dzulmi Eldin mengatakan, R-APBD 2019 sebesar Rp5,94 triliun terdiri dari belanja tidak langsung yang diperkirakan Rp2,07 triliun lebih (34,93 persen) dan belanja langsung Rp3,87 triliun lebih (65,07 persen).
“R-APBD 2019 diformulasikan berdasarkan pendapatan daerah yang diproyeksikan sebesar Rp5,69 triliun lebih. Proyeksi pendapatan ini meningkat 0,02 persen dibanding tahun 2018,” katanya dalam nota pengantar pada sidang paripurna di gedung DPRD Medan, Senin (15/10) lalu.
Menurut Eldin, rancangan anggaran tersebut direncanakan dengan komposisi dan proporsi belanja pegawai dengan belanja pembangunan yang semakin ideal pada tahun depan. Sesuai dengan tema pembangunan kota tahun 2019, maka secara umum keseluruhan belanja daerah diprioritaskan pada upaya beberapa hal.
Antara lain, membangun infrastruktur yaitu merawat dan membangun jalan, jembatan, drainase, sekaligus meningkatkan kebersihan kota. Kemudian, pendidikan dan kesehatan yakni menyediakan akses yang semakin baik bagi masyarakat untuk meningkatkan kualitas.
Selanjutnya, melakukan penataan pasar tradisional sehingga lebih sehat dan nyaman serta memiliki daya saing. Lalu, menjaga secara berkesinambungan kualitas toleransi beragama, pelayanan administrasi kependudukan, keamanan serta kenyamanan warga, iklim investasi dan menata atau menambah fasilitas publik.(ris/azw)