Home Blog Page 5870

Raju Lalai, Letakkan Lilin Dekat Kasur

SUTAN SIREGAR/SUMUT POS LUDES: Seorang anak memperhatikan puing-puing rumahnya yang ludes terbakar di Jalan Mangkubumi, Medan, Kamis (11/10).
SUTAN SIREGAR/SUMUT POS
LUDES: Seorang anak memperhatikan puing-puing rumahnya yang ludes terbakar di Jalan Mangkubumi, Medan, Kamis (11/10).

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Sedikitnya 30 unit rumah di Jalan Mangkubumi, Kelurahan Aur, Medan Maimun, ludes terbakar, Rabu (10/10) malam. Api diduga berasal dari rumah Raju (37), yang berada di dekat pinggir sungai.

Dia pun diamankan ke Mapolsek Medan Kota karena nyaris dihakimi warga yang kesal atas kelalaiannya meletakkan lilin berdekatan dengan tilam dan meninggalkannya.

Menurut warga, peristiwa kebakaran ini terjadi sekira pukul 20.15 WIB. Saat itu, terjadi pemadaman listrik. Tiba-tiba, warga melihat api membakar rumah Raju. Secara spontan, warga yang tinggal di lokasi pemukiman padat penduduk itu berhamburan menyelamatkan diri dan barang-barang mereka.

Dalam waktu yang singkat, api merambat ke rumah warga lainnya. Setidaknya, 20 unit mobil pemadam kebakaran milik Pemko Medan diturunkan untuk menjinakkan si ‘Jago Merah’ yang mengamuk. Api baru dapat dipadamkan sekira pukul 22.00 WIB, setelah membakar sedikitnya 30 unit rumah warga.

Dalam kejadian malam itu, Raju sempat diamankan warga sekitar yang marah. Bahkan, ia sempat akan dihakimi warga atas insiden kebakaran itu. Beruntung dia berhasil melarikan diri dengan melompat ke sungai tak jauh dari rumahnya. Akhirnya, dia pun diamankan petugas ke Mapolsek Medan Kota untuk dimintai keterangan atas insiden tersebut.

Kapolsek Medan Kota Kompol Revi Nurvelani yang dikonfirmasi mengatakan, Raju diamankan warga sekitar karena diduga sengaja membakar rumahnya. Warga menduga, Raju depresi karena ada masalah pribadi dengan pacarnya. Namun, informasi itu dibantah Raju kepada Polisi.

Menurut Kompol Revi, Raju tidak sengaja membakar rumahnya. “Kita amankan Raju sekira pukul 23.45 WIB. Ia diamankan warga di sana. Sempat mau dipukuli, tapi dia kabur dan lompat ke sungai. Warga menuduhnya sengaja membakar rumah. Tapi setelah kita periksa, ia bukan membakar rumah, tapi lalai karena memasang lilin di loteng rumah dan menyebabkan loteng rumahnya kebakaran,” ungkap Revi.

Dibeberkan Revi, saat kejadian itu listrik sedang padam. Lantas Raju memasang lilin untuk penerangan di rumahnya. “Lilin yang dipasangnya itu tak jauh dari tilam tempat tidurnya di atas loteng. Selanjutnya, dia pun turun dan masuk ke kamar mandi. Begitu selesai dari kamar mandi, Raju terkejut dan tiba-tiba melihat api sudah membesar. Kata Raju, mulai dari dia memasang lilin ada sekira 30 menit begitu dia mengetahui telah terjadi kebakaran,” ungkapnya lagi.

Akibatnya, berdasarkan pendataan yang dilakukan Polsek Medan Kota, setidaknya 30 unit rumah hangus terbakar dalam kejadian tersebut. “Kini Raju sudah kita amankan untuk dimintai keterangan. Sementara di lokasi, personel turun untuk membantu warga yang rumahnya menjadi korban kebakaran,” pungkasnya.

Amatan Sumut Pos Kamis (11/10) pagi, raut kesedihan terlihat di wajah warga yang rumahnya ikut terbakar. Mereka mengais-ngais bahan bangunan yang hangus terbakar, mencari barang-barang yang mungkin saja masih bisa dimanfaatkan.

Arifin, seorang warga yang ditemui Sumut Pos mengaku, rumahnya hangus terbakar. Tak banyak yang bisa diselamatkannya dari puing-puing sisa bangunan rumahnya yang terbakar. “Bagaimanalah kami ini, mau tinggal di mana kami,” ungkapnya.

Ia berharap pemerintah setempat menyiapkan posko bantuan bagi mereka yang tidak memiliki lagi tempat untuk berlindung. “Harapannya pemerintah pedulilah. Kami perlu makanan dan tempat tinggal. Tolong lah kami ini,” ungkapnya.

Menunggu Izin Pinjam Pakai Lahan TNGL

Bupati Karo Terkelin Brahmana, saat meninjau areal jalan yang akan dibuka, Senin (18/3) siang.
Bupati Karo Terkelin Brahmana, saat meninjau areal jalan yang akan dibuka, Senin (18/3) siang.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Pembangunan jalan tembus Langkat-Tanah Karo menjadi prioritas untuk direalisasikan. Namun Dinas Bina Marga dan Bina Konstruksi (BMBK) Provinsi Sumatera Utara masih menunggu izin pinjam pakai kawasan hutan lindung Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) dari pemerintah pusat.

“Selama ini prosesnya terhambat karena lahan yang dibutuhkan merupakan kawasan hutan lindung TNGL. Kalau izin pakai kawasan sudah keluar, pelaksanaan pekerjaan tidak ada masalah,” kata Kepala Bidang Perencanaan dan Evaluasi Dinas BMBK Provsu, Iswahyudi, menjawab Sumut Pos, Kamis (11/10).

Izin pinjam pakai atas kawasan TNGL tersebut sampai sekarang belum turun. Padahal sesuai perencanaan, pembangunan jalan tembus itu akan dimulai tahun ini. “Agustus (2018) kalau saya tidak salah, pelaksanaannya sudah dimulai,” katanya.

Meski masuk dalam rencana prioritas pembangunan, Iswahyudi mengaku tidak mengetahui detil progres pengerjaan jalan tembus tersebut. “Yang saya tahu pengerjaan sudah mulai dilakukan. Lebih baik ditanya ke UPT (Unit Pelaksana Teknis) setempat,” pungkasnya.

Sebelumnya warga Desa Telagah Kecamatan Sei Bingei, Kabupaten Langkat mendesak Dinas BMBK Sumut dan pihak Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL), untuk memproses keluarnya surat perjanjian kerja sama izin masuk alat berat di kawasan hutan TNGL. Sebab selama surat tidak keluar, pembangunan jalan tembus Langkat-Karo tidak dapat dilaksanakan.

“Pembangunan jalan dihentikan karena pihak BB­TNGL belum mengeluarkan surat perjanjian kerjasama izin masuk alat berat,” ungkap Ferdi Purba, tokoh pemuda Kecamatan Sei Bingei didampingi warga Desa Telagah.

BB­TNGL juga melarang kontraktor pembangunan jalan melakukan aktifitas. Alasannya, jalan merupakan kawasan hutan TNGL.

Karena pembangunan jalan tembus terancam tidak dilanjutkan, warga meminta pihak terkait secepatnya memproses segala administrasi. “Pemprovsu menganggarkan pembangunan jalan dalam APBD Sumut 2018. Kementerian Lingkungan Hidup juga telah mengeluarkan izin pembangunan jalan. Namun BBTNGL belum jua mengeluarkan surat perjanjian kerjasama,” bebernya.

Pembangunan jalan tembus Langkat- Karo diharapkan akan menjadi jalan alternatif ba­gi masyarakat Langkat menuju Tanah Karo.

Terpisah, Kepala Satuan Lalulintas (Kasatlantas) Polrestabes Medan, AKBP Juli Prihatini, mengatakan sudah saatnya pemerintah membangun jalur alternatif Medan-Tanah Karo. Setidaknya jalur itu berguna untuk memecah arus. “Seperti kejadian kemarin. Karena tidak ada jalur alternatif lain, begitu ada kecelakaan, arus lalulintas lumpuh total,” ungkapnya kepada Sumut Pos.

Ia menyebut, jalur alternatif sangat diperlukan untuk memecah arus lalulintas di waktu-waktu musim liburan. Kepadatan arus lalulintas di masa liburan dan akhir pekan sangat padat.

“Mudah-mudahan pemerintah setempat segera membuat jalur alternatif Medan-Tanah Karo,” pungkas Juli.

Diberitakan sebelumnya, kecelakaan lalulintas di Jalan Jamin Ginting Km 40, Dusun III, Simpang Pasarbaru, Desa Rumah Sumbul, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deliserdang, Selasa (9/10) sekitar pukul 23.00 WIB.

Truk tronton BB 9014 LY dari arah Medan menuju arah Tanah Karo ditabrak truk trado bermuatan alat berat. Alhasil, terjadi kemacetan parah di jalur lintas Medan-Tanah Karo. Arus lalulintas lumpuh total sekitar 9 jam. (dvs/prn)

Pakar Geofisika: Belum yang Terbesar

.

SURABAYA, SUMUTPOS.CO – Gempa bumi dengan magnitudo 6,3 mengguncang wilayah Jawa Timur (Jatim) dan Bali, Kamis (11/10) pukul 01.57 WIB. Ahli Geofisika menilai, gempa yang berlangsung 5 detik itu tidak berpotensi menimbulkan tsunami.

Ada beberapa faktor kenapa gempa tidak berpotensi menimbulkan tsunami. Pertama, kekuatan gempa bumi masih di bawah magnitudo 6,5. Kedua, harus ada pergeseran lempeng bumi secara vertikal. Ketiga, harus tergolong gempa dangkal.

Pakar Geofisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Ir. Amien Widodo mengatakan, wilayah Jatim memenuhi semua unsur gempa yang berpotensi tsunami. Namun kekuatan magnitudonya masih di bawah magnitudo 6,5.

“Kalau tergolong gempa dangkal, iya. Namun kekuatan gempanya masih 6,3 SR. Tapi tetap harus melihat sejarah. Surabaya sendiri sudah pernah tsunami belum?,” kata Amien, Kamis (11/10).

Menurut Amine, gempa dini hari tadi belum yang terbesar. Meski demikian, masyarakat diimbau tetap waspada. Sebab gempa serupa diprediksi masih akan terjadi lagi.

Jatim masih menjadi wilayah yang tergolong rawan gempa. Karena sering terjadi pergeseran patahan lempeng bumi di wilayah tersebut. Tapi waktu terjadinya gempa belum dapat diprediksi. “Memang daerah potensi di situ. Terutama Selat Madura (Sumenep). Sebabnya, ya ada patahan tadi,” tukas Amien.

Guncangan gempa terasa di seluruh wilayah Jatim. Antara lain di Kabupaten/Kota Situbondo, Jember, Banyuwangi, Lumajang, Kabupaten/Kota Probolinggo, Bondowoso, Sumenep, Pamekasan, Sampang, Bangkalan, Kabupaten/Kota Pasuruan, Kota Batu, Kabupaten/Kota Malang, Blitar, Surabaya, Sidoarjo, Jombang, Kabupaten/Kota Mojokerto.

Berdasarkan analisis peta gempa dirasakan, intensitas gempa dirasakan III-IV MMI di Denpasar, III MMI di Karangkates, III MMI di Gianyar, III MMI di Lombok Barat, III MMI di Mataram, III MMI di Pandaan.

Minum Air Zamzam dan Berdoa Supaya Tampil Tenang

Radja Jiharka Ar Rifa
Radja Jiharka Ar Rifa

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Wajahnya polos. Pembawaannya juga tenang. Tapi melihat prestasinya, sungguh luar biasa. Dia adalah Radja Jiharka Ar Rifa, peserta Musabaqah Tilawatil Quran Nasional (MTQN) XVII/2018 asal Provinsi DKI Jakarta, cabang hifzil 1 juz dan tilawah putra.

Radja kembali menuai prestasi di ajang MTQN yang dihelat di Sumatera Utara. Ia sukses menjadi juara satu dan menyingkirkan dua kompetitornya dengan nilai nyaris sempurna; 99,83. Dengan prestasi ini, Radja mengulang kesuksesan waktu tampil di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada 2016 lalu pada cabang serupa.

Di samping giat berlatih mengulang hafalan, Radja menyampaikan, sebelum tampil selalu memanjatkan doa agar diberikan ketenangan. Selanjutnya membaca shalawat, rajin beristighfar dan juga salat.

“Iya, tidak ada persiapan khusus. Selalu berdoa dan rajin salat agar tenang saat tampil,” ujarnya kepada Sumut Pos, di Lapangan Istana Maimun, Rabu (10/10) sore.

Saat itu Radja melaju ke babak final dalam cabang hifzil 1 juz dan tilawah.

Dalam babak penyisihan di cabang putra itu, ia memperoleh nilai tertinggi dibanding 31 peserta lain yakni 97.00. Nilai itu disebut exelence oleh Majelis Hakim Maria Ulfah. Karena minimal untuk golongan tersebut biasanya skor 96 juga terbilang sudah bagus. “Alhamdulillah sudah tenang,” kata dia saat ditanya perasaannya seusai tampil.

Dia mengaku, untuk kali kedua mengikuti ajang sekelas MTQN. Menurutnya pada penampilan kedua kalinya tersebut, ia sudah lebih tenang dan fokus. “Alhamdulillah gak ada,” tuturnya. “Kemarin (waktu di NTB) juara satu di cabang hifzh 1 juz,” imbuh Radja.

Remaja yang baru tamat dari Sekolah Dasar Negeri 31 Jakarta Selatan itu mengungkapkan, sebelum tampil dan mengikuti lomba, dirinya meminum air zamzam dan membaca doa supaya tenang. Ia pun tidak mau sesumbar atas kemungkinan dapat mendulang prestasi serupa saat di NTB. “Gak pikirin itu, yang penting fokus diri sendiri aja,” tuturnya.

Ibarat Dejavu, usai tampil di babak final kemarin, skor penilaian Radja mengungguli dua finalis lain. Nilai yang ia peroleh bahkan hampir sempurna. “Saya belum tahu hasilnya,” kata Radja saat diberi tahu bahwa dia menjadi juara satu. “Alhamdulillah, makasih. Belum menyangka dapat juara satu. Sekarang sudah lega,” imbuhnya.

Tidak seperti hari sebelumnya, Radja mengaku waktu tampil di final tidak meminum air zamzam lagi. Juga tidak ada persiapan khusus. Hanya membaca doa, berusaha tenang dan tetap fokus. “Nggak lagi (minum air zamzam). Cuma perbanyak doa dan baca shalawat aja,” imbuhnya.

Dalam babak final, Radja membaca Surat Ali Imran ayat 10 dengan mulus. Ia bahkan mampu menyambungkan ayat yang dibacakan dewan hakim. “Alhamdulillah tidak ada masalah di hafalan dan bacaan. Setelah ini keinginan saya makan-makan,” katanya seraya tertawa.

Sejak masih duduk di Taman Kanak-kanak (TK), ia sudah dilatih membaca dan menghafal Alquran oleh sang ayah, yang juga seorang penceramah. Belajarnya hampir di tiap malam atau habis Salat Subuh. “Kadang habis Zuhur juga diajari Abi membaca Alquran. Setiap hari pasti ada belajar dan membaca Alquran,” tuturnya.

Ke depan Radja ingin menambah hafalan Alquran menjadi lima juz. Sebab saat ini dia baru hafal dua juz, yakni juz 1 dan juz 30. Ia mengaku belum puas dengan capaiannya saat ini. “Insyaallah tambah lima juz lagi, dari yang sekarang baru hafal dua juz,” katanya. “Kuncinya sering-sering mengulang hafalan. Dan sering berdoa juga,” ujar dia memberikan tips.

Babak final MTQN cabang hifzil quran 1 juz dan tilawah dapat diselesaikan sekitar pukul 12.30 WIB, kemarin. Dari hasil rapat dewan hakim diputuskan, selain Radja, juara dua untuk cabang hifzil quran 1 juz dan tilawah putra, atas nama Mulyadi dari Kepulauan Riau dengan nilai 97,66 dan disusul Zayyin al-Munawar dari Provinsi Banten dengan nilai 97,58.

Sementara untuk kategori putri, juara pertama diraih Sisca Wulandari Putri dari Kepri dengan nilai 99, juara kedua dari Sulawesi Utara atas nama Nazila Ibrahim Tahir dengan nilai 98,91, dan juara ketiga Zeliyanti dari Kalimantan Utara dengan nilai 95,91. Berbeda dengan putra, untuk kategori putri ini ada perubahan posisi dari sebelumnya di urutan final. Saat masuk babak final peserta asal Sulawesi Utara menempati posisi pertama disusul Kepri pada posisi kedua dan Kalimantan Utara di posisi ketiga.

“Memang yang kategori putri ini ada perubahan. Semalam waktu final yang paling tinggi itu Sulawesi Utara. Tapi di final ini Kepri lebih bagus,” kata Ketua Majelis Hakim Cabang Hifzil 1 dan 5 Juz serta Tilawah, Maria Ulfah.

Para pemenang ini tidak diumumkan oleh dewan hakim di lokasi acara, tetapi dapat diakses di website www.musabaqah.id. Untuk pengumuman sendiri secara resmi akan disampaikan di arena utama MTQN di Gedung Serba Guna, Jalan Pancing/Willem Iskandar bersamaan dengan malam penutupan, hari ini. (*)

Sumut Juara Syarhil Quran Putera

Syahril Quran putra
Syahril Quran putra

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Kafilah Provinsi Sumatera Utara cabang Syarhil Quran Putra meraih juara pada MTQ Nasional XXVII tahun 2018. Kafilah Sumut berhasil unggul dari Riau dan Banten pada babak final yang berlangsung di Kampus UINSU Jalan Sutomo Medan, Kamis (11/10).

Babak final kemarin diikuti enam kafilah yang dibagi atas tiga peserta golongan putera dan tiga peserta golongan puteri. Perolehan skor tertinggi untuk golongan putera ini yakni Provinsi Sumatera Utara perolehan skor 92, kemudian diikuti kafilah Provinsi Riau dengan skor 91,17 dan kafilah Provinsi Banten mendapatkan skor 90,92.

Sementara untuk golongan puteri dimenangkan kafilah Provinsi Aceh dengan skor 93,83, kemudian kafilah Provinsi Jawa Barat dengan skor 93,07 dan kafilah Provinsi Riau perolehan skor 90,89.

M Agung sebagai Pensyarah, Rhaka sebagai Qari dan Zahro untuk saritilawa, menyatakan rasa bahagia dan syukurnya kepada Allah SWT karena telah memberikan hasil terbaik di kancah nasional. “Alhamdulillah kami bisa menang meski saingan kami sangat berat melawan dari Provinsi Riau dan Banten. Pastinya kami sudah memberikan yang terbaik,” ujarnya kepada wartawan usai pengumuman nilai peserta, Kamis (11/10).

Muhajir Ditemukan Tewas Diikat Nilon

batara/sumutpos OTOPSI: Tim Medis RSUD Deliserdang melakukan otopsi terhadap jenazah Muhajir, Kamis (11/10).
batara/sumutpos
OTOPSI: Tim Medis RSUD Deliserdang melakukan otopsi terhadap jenazah Muhajir, Kamis (11/10).

SUMUTPOS.CO – Sesosok mayat pria ditemukan di Sei Belumai, Dusun I Tungkusan, Desa Tadukan Raga, Kecamatan STM Hilir, Deliserdang, Kamis (11/10) sekira pukul 10.00 WIB. Mayat berkaos putih itu, ditemukan warga dalam kondisi kaki dan tangannya diikat tali nilon kuning.

BELAKANGAN, identitas mayat tersebut terungkap. Desy Rahmawati (23) yang melaporkan peristiwa kehilangan orang tua dan adiknya ke Polsek Tanjung Morawa Selasa (9/10) lalu, mengakui mayat tersebut adalah ayahnya. Tak lama, petugas Polsek Telun Kenas, Polsek Tanjung Morawa dan Inafis Satreskrim Polres Deliserdang beserta Desy tiba dilokasi.

Jasad mayat pria yang awalnya belum diketahui identitasnya langsung dilihat warga Dusun III, Gang Gambutan, Desa Bangun Sari, Kecamatan Tanjung Morawa itu.

Anak sulung dari pasangan suami istri (Pasutri) Muhajir (49) dan Suniati (50) itu langsung mengenali ciri ciri spesifik di kaki ayahnya.

Namun begitu, untuk proses pembuktian secara hukum, pihak kepolisian akan lebih dulu melakukan tes DNA.

“Untuk memastikannya harus dilakukan tes DNA,” sebut Kapolsek Tanjung Morawa, AKP Budi Saputro.

Kepada polisi, Desy mengaku kenal dengan ciri-ciri spesifik yang ada di kedua kaki kaki ayahnya. Ada luka bekas gerenda.

Selain itu, Desy juga menyebut, dari pakaian bertuliskan Dess Collection yang melekat di tubuh mayat pria itu merupakan merek konveksi usaha keluarga mereka.

“Menurut keterangan Desy itu merek usaha konveksi keluarga mereka. Saat ini Desy masih diperiksa penyidik,” kata AKP Budiono Sahputro kepada sejumlah wartawan.

Terpisah, Kasat Reskrim Polres Deliserdang AKP Bayu Samura menyebut, jika sosok mayat pria yang ditemukan di sekitaran Sungai Belumai diduga kuat merupakan korban pembunuhan.

Namun pihaknya belum bisa memastikan motif dan pelakunya. Sedangkan terkait keterangan Desy Rahmawati yang mengaku mengenali jasad itu adalah orangtuanya, polisi masih mendalaminya.

“Untuk sementara, diduga itu korban pembunuhan,” kata AKP Bayu Samara.

Diberitakan sebelumnya, pasangan suami istri Muhajir (49) dan Suniati (50) bersama seorang anaknya M Solihin (12), mendadak dinyatakan hilang dari rumahnya di Dusun III Gang Gambutan Desa Bangun Sari, Kecamatan Tanjungmorawa. Peristiwa terjadi Selasa (9/10) sekira pukul 15.00 WIB.

Peristiwa itu pertama kali diketahui Desy Rahmawaty (23), anak kandung pasangan Muhajir dan Suniati. Desy tinggal tak jauh dari rumah orangtuanya.(btr/ala)

Berdalih untuk Uang Pelatihan Staf, Pengawas Sekolah Pungli Guru

SURYA/SUMUT POS PAPARKAN: Kapolres Sergai AKBP Juliarman Pasaribu didampingi Kasatreskrim AKP Alexander Piliang dan Kasubag Humas AKP Nelita Isma, memaparkan kasus pungli yang dilakukan AR di Mapolres Sergai.
SURYA/SUMUT POS
PAPARKAN: Kapolres Sergai AKBP Juliarman Pasaribu didampingi Kasatreskrim AKP Alexander Piliang dan Kasubag Humas AKP Nelita Isma, memaparkan kasus pungli yang dilakukan AR di Mapolres Sergai.

SERGAI, SUMUTPOS.CO – Berdalih untuk uang pelatihan, seorang guru berinsial AR (59) nekad melakukan pungutan liar terhadap guru lainnya. Alhasil, Aparatur Sipil Negara (ASN) yang bertugas sebagai Staf Pengawas Sekolah di Dinas Pendidikan Kecamatan Perbaungan itu dibekuk.

“Ya, tersangka ini (AR) sebagai Kordinator Wilayah Dinas Pendidikan Kecamatan Perbaungan,” ungkap Kapolres Sergai AKBP H Juliarman Eka Putra Pasaribu, SIK, MSi di Mapolres Sergai, Rabu (10/10) siang.

Tersangka ditangkap melalui Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dilakukan Satreskrim Polres Sergai, Selasa (18/9) lalu.

Dari tangan tersangka, petugas mendapati uang sebesar Rp21.600.000. Uang tersebut diduga hasil pengutipan dari para guru.

“Sebanyak Rp3.000.000 ditemukan di dalam laci meja. Sedangkan sisanya di dalam tas ransel milik tersangka,” jelas kapolres didampingi Kasatreskrim AKP Alex Piliang dan Kasubbag Humas AKP Nelita Isma.

Kepada polisi, tersangka berdalih pengutipan dilakukan untuk dana pelatihan guru. Oleh tersangka, per guru dikutip Rp600.000.

“Tersangka dijerat Pasal 12 E UU RI no 31 tahun 1999 yang dirubah UU RI Nomor 20 tahun 2001, tentang pemberantasan tindak pidana korupsi. Dengan ancaman hukuman kurungan maksimal 20 tahun dengan denda maksimal Rp1 milyar,” pungkas kapolres. (sur/ala)

Didakwa Lakukan Suap Rekanan Bupati Labuhanbatu Diadili

AGUSMAN/SUMUT POS SIDANG: Efendy Sahputra alias Asiong, rekanan Bupati Labuhanbatu jalani sidang perdana, Kamis (11/10).
AGUSMAN/SUMUT POS
SIDANG: Efendy Sahputra alias Asiong, rekanan Bupati Labuhanbatu jalani sidang perdana, Kamis (11/10).

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Direktur PT Binivan Konstruksi Abadi, Efendy Sahputra alias Asiong menjalani sidang perdana di Pengadilan Tipikor Medan, Kamis (11/10). Dia didakwa menyuap Bupati Labuhanbatu, Pangonal Harahap untuk beberapa proyek pekerjaan di Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat (PUPR) Kabupaten Labuhanbatu TA 2016, 2017 dan 2018.

Dalam persidangan yang diketuai majelis hakim Irwan Effendi, tim JPU dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dipimpin Dody Sukmono dalam surat dakwaannya menuduh terdakwa memberikan suap kepada bupati sejak 2016 hingga 2018 sebesar Rp38,882 miliar.

Dengan rincian Rp10,38 miliar pada 2016, Rp11 miliar pada 2017 dan Rp17,5 miliar di 2018.

Pemberian uang tersebut dilakukan secara bertahap kepada Pangonal Harahap. Suap itu diberikan melalui perantara Baikandi Harahap (anak Pangonal), Abu Yazid Anshori Hasibuan (adik ipar Pangonal) dan Umar Ritonga (tersangka yang melarikan diri).

Dijelaskannya, 2016 terdakwa memberi uang kepada Pangonal. Uang itu merupakan fee proyek pekerjaan di Pemerintah Kabupaten Labuhanbatu pada tahun itu juga yang akan dikerjakan terdakwa.

Pada 2016 dari proses permainan lelang, akhirnya terdakwa mendapatkan proyek peningkatan Jalan Aek Buru-Padang Laut, senilai Rp8 Miliar, peningkatan Jalan Mahilil-Padang Rapuan senilai Rp5 miliar, peningkatan Jalan Urung Kompas-N2, senilai Rp5 miliar, peningkatan Jalan Padang Matinggi-Tanjung Harapan senilai Rp4 miliar dan Peningkatan Jalan Padang Matinggi-Perlayuan senilai Rp2 miliar.

Kemudian, pada 2017 terdakwa kembali memberikan uang kepada bupati untuk memudahkannya mendapatkan pekerjaan proyek yang sudah dijanjikan Pangonal Harahap.

“Terdakwa akhirnya mendapatkan 11 proyek sesuai arahan Pangonal Harahap ke jajarannya di Dinas PUPR Labuhanbatu,” sebutnya.

Ternyata, perbuatan terdakwa memberikan fee kepada bupati terus berlanjut hingga proyek 2018. Ada 9 proyek di tahun 2018 yang dimenangkan terdakwa melalui permainan lelang yang dibuat bupati.

“Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dalam Pasal 5 Ayat (1) huruf A juncto Pasal 13 Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2001, tentang Perubahan Atas Undang-Undang RI Nomor 31 Tahun 1999, tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 64 ayat (1) KUHPidana,” urai JPU.

Menanggapi dakwaan JPU tersebut, terdakwa melalui penasihat hukumnya Fadli Nasution, Asban Sibagariang dan Pranoto, menyatakan menerima dakwaan JPU dan tidak mengajukan eksepsi.

“Kami meminta sidang dilanjutkan pada pokok perkara dengan pemeriksaan saksi-saksi,” ucap Fadli.

Hakim kemudian menunda persidangan hingga Kamis mendatang.(man/ala)

Empat Kepala Dinas Diperiksa Jaksa

.

SAMOSIR, SUMUTPOS.CO – Soal dana Rp5 miliar yang dianggarkan untuk biaya pencarian korban KM Sinar Bangun, Kejaksaan Negeri (Kejari) Simalungun telah memanggil organisasi perangkat daerah (OPD).

Kejari Simalungun telah memeriksa empat kepala dinas (Kadis), mantan Dirut RSU Rondahaim dan Camat di Tigaras. Sebelumnya, Kejari juga sudah memeriksa bendahara BPBD Simalungun.

Empat kepala dinas yang diperiksa masing-masing, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Mudahalam Purba, Kepala Dinas Kesehatan Jan Mourisdo, Kepala Dinas Informasi dan Komunikasi Akmal Siregar, Kepala Dinas Sosial Frans Togatorop, mantan Dirut RSU Rondahaim dr Lidia Naibaho dan Camat Dolok Pardamean Rediana Naibaho.

Kepala Seksi Pidana Khusus (Kasi Pidsus) Kejari Simalungun Rendra Yoki Pardede belum mau terbuka soal pemeriksaan itu. Namun, ia memastikan pemanggilan tersebut terkait anggaran KM Sinar Bangun. “Iya terkait KM Sinar Bangun,” katanya via WhatsApp, Kamis (11/10).

Kepala BPBD Simalungun Mudahalam Purba saat ditemui usai pemeriksaan terkesan menutup diri. Ia mengatakan, Kejari memintanya untuk mengumpul data tentang kegiatan pencarian KM Sinar Bangun yang menggelontorkan anggaran Rp5 miliar.

Mudahalam langsung naik ke mobil saat dicecar pertanyaan lain. Bagaimana soal dugaan pemalsuan kegiatan terhadap anggaran tersebut? Dari dalam mobil, Mudahalam mengaku punya data.

“Kita punya data. Kita ada data. Disuruh kumpulin data,” katanya.

Mudahalam pulang menggunakan mobil avanza hitam bersama rekannya yang turut diperiksa. Meraka masing-masing, Kepala Dinas Kesehatan Jan Mourisdo dan mantan Dirut RSU Rondahaim dr Lidia Naibaho.

Sementara, Camat Dolok Pardamean, Rediana Naibaho lari saat akan diwawancara. Rediana berjalan sembari meletakkan handphone di telinga.

Rediana yang datang menggunakan mobil Pemkab Simalungun, langsung masuk ke dalam mobil. “Tadi diperiksa dari jam 10. Nantilah ya, mau makan siang dulu,” katanya sembari pergi meninggalkan wartawan.

Diketahui, keluarga korban mengharapkan Kejari Simalungun cepat melakukan pemeriksaan terhadap anggaran Rp5 miliar itu. Keluarga korban juga menyayangkan ada oknum-oknum yang memanfaatkan momentum duka KM Sinar Bangun sebagai ajang proyek.(trm/bbs/ala)

Duo Jambret Terkapar Dimassa

Diva/sumutpos BABAK BELUR: Andre dan Bambang babak belur dihajar warga karena tertangkap menjambret.
Diva/sumutpos
BABAK BELUR: Andre dan Bambang babak belur dihajar warga karena tertangkap menjambret.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Dua pelaku jambret nyaris tewas dihajar massa di di Jalan Bilal, Kecamatan Medan Timur. Keduanya terkapar bersimbah darah, Selasa (9/10) malam.

Duo jambret itu masing-masing, Andre Arianto (19) warga Jalan Gaharu, Kecamatan Medan Timur dan Bambang Saputra (32) warga Jalan Harapan Pasti, Kecamatan Medan Timur.

Peristiwa itu berawal, ketika keduanya merampas handphone milik Sella Ramadan warga Jalan Bilal, Kecamatan Medan Timur. Saat itu, korban sedang berdiri di Jalan Bilal, tepatnya di Gang Duku.

“Menurut keterangan korban, pelaku Andre Arianto pura-pura masuk ke dalam kedai yang dekat dengan posisi korban. Begitu Andre keluar, dirampasnya handphone dari tangan korban dan berusaha kabur menaiki sepedamotor Yamaha Mio BK 2980 ACB bersama Bambang,” ungkap Kapolsek Medan Timur, Kompol Wilson Pasaribu, Rabu (10/9).

Tak terima handphonenya dirampas begitu saja, korban berteriak meminta pertolongan. Warga yang mendengar langsung mengejar kedua pelaku.

Apes, keduanya terjatuh. Tanpa pikir panjang, warga yang geram lantas menghakimi keduanya.

“Tim Pegasus yang sedang mobile saat itu langsung meluncur ke lokasi keduanya dianiaya. Saat tiba, kondisi para korban sudah tak berdaya. Mereka langsung dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara untuk mendapat pertolongan,” kata mantan Kapolsek Patumbak.

Polisi kemudian mengamankan sepedamotor yang digunakan pelaku dan handphone seluler korban merk Gionee senilai Rp2,1 juta.(dvs/ala)